0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan5 halaman

Analisis Kapasitas Produksi di PT. XYZ

Diunggah oleh

tri budiyanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan5 halaman

Analisis Kapasitas Produksi di PT. XYZ

Diunggah oleh

tri budiyanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SISTEMIK(Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik)

Vol. 09 No. 02 Desember 2021


P-ISSN : 2337-3636 || E-ISSN : 2527-6425

ANALISIS PERENCANAAN KAPASITAS PRODUKSI DENGAN


MENGGUNAKAN METODA ROUGHT CUT CAPACITY PLANNING
PENDEKATAN CPOF DI PT. XYZ
Angling Sugiatna
Program Studi Teknik Industri
Sekolah Tinggi Teknologi Bandung
anglingsugiatna2020@[Link]

Abstrak
Perencanaan kapasitas merupakan salah satu tahapan dalam rangkaian perencanaan sistem produksi. Perencanaan kapasitas menjadi
penting, karena berfungsi untuk mengetahui, sampai sejauh mana kapasitas yang dimiliki bisa memenuhi kapasitas yang dibutuhkan. Oleh
karena itu perlu dilakukan analisis kelayakan terhadap kapasitas produksi pada semua stasiun kerja yang ada dengan metode rough cut
capacity planning (RCCP). Ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam analisis kelayakan kapasitas. Tahap pertama adalah menghitung
kapasitas tersedia setiap stasiun kerja. Selanjutnya dilakukan perhitungan kapasitas yang dibutuhkan setiap stasiun kerja. Tahapan terakhir
adalah uji kelayakan kapasitas dengan membandingkan kapasitas tersedia dengan kapasitas yang dibutuhkan. Berdasarkan perhitungan
Rough Cut Capacity Planning menggunakan metode CPOF dapat dilihat bahwa berdasarkan MPS tahun 2022, 4 bulan kapasitas tersedia
bisa memenuhi kapasitas dibutuhkan atau sekitar 33%, sedangkan 77%, kapasitas tersedia tidak bisa memenuhi kapasitas dibutuhkan. Hal
ini menunjukkan bahwa kapasitas yang tersedia tidak dapat memenuhi kebutuhan kapasitas atau dengan kata lain kapasitas yang dibutuhkan
jauh lebih besar dari kapasitas tersedia yang dimiliki oleh perusahaan.
Kata kunci : Kapasitas, MPS, RCCP

Abstract
Capacity planning is one of the stages in a series of production system planning. Capacity planning is important, because it serves to
determine to what extent the existing capacity can meet the required capacity. Therefore, it is necessary to conduct a feasibility analysis of
the production capacity at all existing work stations using the rough cut capacity planning (RCCP) method. There are several stages carried
out in the capacity feasibility analysis. The first stage is to calculate the available capacity of each work station. Furthermore, the
calculation of the capacity required for each work station is carried out. The last stage is a capacity feasibility test by comparing the
available capacity with the required capacity. Based on the calculation of the Rough Cut Capacity Planning using the CPOF method, it
can be seen that based on the MPS in 2022, 4 months of available capacity can meet the required capacity or about 33%, while 77%, the
available capacity cannot meet the required capacity. This shows that the available capacity cannot meet the capacity needs or in other
words the required capacity is much greater than the available capacity owned by the company.
Keywords : Capacity, MPS, RCCP

I. PENDAHULUAN
Furnitur merupakan terminologi yang digunakan untuk perabotan rumah tangga yang berfungsi untuk menyimpan barang,
tempat duduk, tempat tidur, tempat untuk menulis sesuatu berupa meja atau tempat meletakkan sesuatu di atasnya. Sebagai
contoh, furnitur yang berfungsi untuk menyimpan pada umumnya dilengkapi dengan pintu, laci dan rak, seperti lemari buku,
lemari pakaian, dan lain-lain. Furnitur biasanya memiliki tekstur dan warna yang indah yang disebabkan oleh proses akhir
yang halus [2]. Industri furnitur merupakan industri yang mencakup pengolahan bahan baku berupa kayu, logam, rotan, atau
bahan baku lainnya yang diproses untuk meningkatkan nilai tambah dan manfaat yang lebih tinggi menjadi produk barang
jadi furnitur [1].
PT. XYZ merupakan salah satu produsen atau pabrik yang menghasilkan produk furnitur berbahan logam. PT. XYZ
termasuk salah satu perusahaan market leader, khususnya dibidang penjualan produk furnitur berbahan baku logam. Hampir
70%, penjualannya untuk memenuhi pasar domestik, dan 30% untuk memenuhi pasar ekspor. Pada tahun 2014, PT. XYZ
berubah bentuk menjadi perusahaan terbuka dan sebanyak delapan kali berturut-turut sejak tahun 2012, telah meraih
penghargaan top brand untuk kategori office chair dan folding chair [4]. Dengan berbagai capaian yang sudah diraih oleh PT.
XYZ sampai saat ini, maka aspek kepuasan pelanggan menjadi salah satu komponen penting yang harus dipertahankan.
Permasalahan yang muncul, pada saat perusahaan menerima pesanan konsumen, sering kali tidak mempertimbangkan
sumber daya kapasitas produksi yang tersedia. Permintaan yang melebihi kapasitas akan mengakibatkan produk yang dibuat
tidak selesai tepat waktu.
Oleh karena itu PT. XYZ perlu membuat jadwal induk produksi sebagai dasar penentuan jadwal proses operasi dan jadwal
alokasi sumber daya untuk mendukung penyelesaian pemesanan tepat waktu. Dengan dibuatnya jadwal induk produksi,
perusahaan dapat melakukan kegiatan produksi dengan terencana dan terkendali sehingga penyelesaian produk tepat waktu
dengan jumlah yang banyak.

28
SISTEMIK(Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik)
Vol. 09 No. 02 Desember 2021
P-ISSN : 2337-3636 || E-ISSN : 2527-6425

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kebutuhan kapasitas produksi pada setiap
work centre dengan rough cut capacity planning di PT. XYZ.

II. TINJAUAN PUSTAKA


1. Kapasitas
Kapasitas merupakan sebagai jumlah output maksimum yang dapat dihasilkan suatu fasilitas produksi dalam suatu
selang waktu tertentu. Kapasitas merupakan suatu tingkat keluaran dalam periode tertentu dan merupakan kuantitas
keluaran tertinggi yang mungkin selama periode itu. Kapasitas dapat disesuaikan dengan tingkat penjualan yang sedang
berfluktuasi yang dicerminkan dalam jadual induk produksi (master production schedule/MPS).
Apabila terjadi kelebihan kapasitas sudah pasti operasional produksi tidak efisien dikarenakan stasiun yang jarang
bekerja penuh atau sering menganggur. Begitu pula apabila stasiun mengalami kekurangan kapasitas maka tentu target
yang diinginkan perusahaan tidak akan dalam suatu periode waktu tertentu[3].
Terdapat dua jenis pengertian kapasitas yang dianggap penting yaitu kapasitas yang tersedia dan kapasitas yang
dibutuhkan. Kapasitas yang tersedia adalah kapasitas dari suatu sistem yang ada untuk memproduksi suatu jumlah keluaran
dalam waktu tertentu, sedangkan kapasitas dibutuhkan adalah kapasitas dari suatu sistem yang dibutuhkan untuk
memproduksi suatu jumlah keluaran dalam suatu waktu tertentu. Istilah ketiga yang erat hubungannya dengan kapasitas
dibutuhkan adalah muatan (load). Load adalah jumlah pekerjaan yang ditugaskan atau dibebankan pada suatu fasilitas
untuk diselesaikan dalam suatu waktu tertentu.

2. Rough Cut Capacity Planning (RCCP)


Rough Cut Capacity Planning (RCCP) merupakan metode yang digunakan untuk mengukur kapasitas stasiun
kerja sehingga dapat diketahui apakah suatu jadwal produksi memerlukan kerja lembur, subkontraktor, ataupun strategi
produksi lainnya, untuk memenuhi permintaan yang tepat waktu.
Rough Cut Capacity Planning (RCCP) juga merupakan proses menentukan apakah sumberdaya yang direncanakan
cukup untuk melaksanakan MPS. Kelancaran produksi dalam suatu pabrik sangat penting, karena jika terjadi kemacetan
dalam suatu proses produksi hal ini dapat mengakibatkan penumpukan bahan baku ataupun meningkatnya Work in Process
dalam memproduksi suatu barang.
Keberhasilan perencanaan manufakturing membutuhkan perencanaan kapasitas yang efektif agar mampu memenuhi
jadwal produksi yang telah ditetapkan. Kekurangan kapasitas akan menyebabkan kegagalan memenuhi target produksi,
keterlambatan pengiriman ke pelanggan dan kehilangan kepercayaan dalam sistem formal yang mengakibatkan reputasi
perusahaan akan menurun bahkan hilang sama sekali.
Rough Cut Capacity Planning (RCCP) menentukan apakah sumber daya yang direncanakan cukup untuk
melaksanakan MPS. RCCP bertujuan menghitung beban untuk semua item yang dijadwalkan dan dalam periode waktu
yang aktual. Jika proses RCCP mengindikasikan bahwa MPS layak dilaksanakan maka MPS akan diteruskan ke proses
MRP guna menentukanbahan baku atau material, komponen dan subassemblies yang dibutuhkan.
Teknik-Teknik Dalam Penerapan RCCP
a. Capacity Planning Using Overall Factors (CPOF)
CPOF merupakan perencanaan yang relatif kasar, dengan input yang diperlukan seperti: MPS, waktu total pabrik
yang diperlukan untuk memproduksi satu part tertentu dan proporsi historis yakni perbandingan antar stasiun kerja
mengenai kapasitas produk pada waktu tertentu. Cara erhitungannya relatif mudah, dengan mengalikan proporsi
historis dengan total kuantitas MPS pada periode tertentu untuk masing-masing stasiun kerja. Dari hasil perhitungan
ini nantinya diperoleh waktu total yang diperlukan, total waktu ini kemudian dirata-ratakan dan dibandingkan dengan
waktu kapasitas.
b. Bill of Labor Approach (BOL)
Bill of Labor Approach didefinisikan sebagai suatu daftar yang berisi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk
memproduksi suatu item. Pendekatan dengan teknik ini menggunakan data yang rinci mengenai waktu baku setiap
produk pada sumber-sumber utama. Ada masukan yang dibutuhkan untuk pendekatan BOL, yaitu: MPS dan Bill
of Labor.
c. Resources Profile Approach
Pendekatan ini juga menggunakan data waktu baku. Selain itu membutuhkan pula data lead time yang
diperlukan pada stasiun-stasiun kerja tertentu.

29
SISTEMIK(Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik)
Vol. 09 No. 02 Desember 2021
P-ISSN : 2337-3636 || E-ISSN : 2527-6425

III. ANALISA DAN PEMBAHASAN


Tabel I menunjukkan data Jadwal Induk Produksi (MPS) Periode Bulan Januari sampai Desember Tahun 2022 PT. XYZ.
TABEL 1
DATA JADWAL INDUK PRODUKSI TAHUN 2022 PT. XYZ

Bulan MPS (Unit) Hari Kerja


Januari 17.056 21
Pebruai 14.235 18
Maret 13.987 22
April 13.590 20
Mei 13.618 12
Juni 19.874 21
Juli 26.653 21
Agustus 26.267 22
September 27.642 22
Oktober 26.634 21
Nopember 25.236 22
Desember 26.563 22
Total 250.029 244

Informasi tambahan :
Jam kerja = 8 jam/hari
Jumlah shift = 1 shift
Efisiensi = 95%

Sementara Tabel II menunjukkan data waktu proses untuk setiap stasiun kerja.

TABEL II
DATA WAKTU PROSES SETIAP STASIUN KERJA

No WORK STATION MENIT


1 Bending 1,73
2 Las 1,94
3 Finishing 3,00
4 Nailing 1,02
5 Perangkaan 1,62
6 Assembling 2,27
JUMLAH 11,58

1. Perhitungan Kapasitas Dibutuhkan


Perhitungan kapasitas yang dibutuhkan dengan metode CPOF menggunakan rumus sebagai berikut :
- Kapasitas Dibutuhkan (KD) = Total Waktu Proses x Jadwal Induk Produksi
= TWP x JIP (menit unit) ………………………. (1)
Contoh perhitungan kebutuhan kapasitas total bulan Januari 2022 yaitu:
KDTJan = TWP x JIPJan\
= 11,58 menit x 17.056 unit = 197.511 menit

30
SISTEMIK(Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik)
Vol. 09 No. 02 Desember 2021
P-ISSN : 2337-3636 || E-ISSN : 2527-6425

- Contoh perhitungan kebutuhan kapasitas pada bulan Januari untuk stasiun kerja Bending (BD) yaitu:
KD (Jan) BD = Proporsi x Kebutuhan kapasitas total Bulan Januari
= PJan x KDTJan ………………………………………….………………(2)
= 0,1494 x 197.511 = 29.507 menit
Untuk hasil perhitungan bulan Pebruari sampai Desember 2022, dapat dilihat di tabel III.

2. Perhitungan Kapasitas Tersedia


Perhitungan kapasitas yang tersedia dengan metode CPOF digunakan rumus sebagai berikut:
Kapasitas tersedia (KD) = jumlah mesin /manpower x jumlah shift x jam kerja x jumlah hari kerja x utilitas x
efesiensi.
Berikut ini contoh perhitungan kapasitas tersedia pada stasiun kerja Bending (BD) untuk bulan Januari 2022 :
KD = 5 x 1 x 8 x 21 x 95% = 47.880 menit
Untuk hasil perhitungan bulan Pebruari sampai Desember 2022, dapat dilihat di tabel 3.
TABEL III
HASIL PERHITUNGAN KAPASITAS TERSEDIA DAN KAPASITAS DIBUTUHKAN TAHUN 2022
Bulan
No Stasiun Kerja
Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember

1 Bending 29.507 24.626 24.198 23.510 23.559 34.383 46.110 45.442 47.821 46.077 43.658 45.954

2 Las 33.089 27.616 27.135 26.364 26.418 38.556 51.707 50.958 53.625 51.670 48.958 51.532

3 Finishing 51.169 42.705 41.962 40.769 40.853 59.623 79.959 78.802 82.926 79.902 75.708 79.689

4 Nailing 17.397 14.520 14.267 13.862 13.890 20.272 27.186 26.793 28.195 27.167 25.741 27.094

5 Perangkaan 27.631 23.061 22.659 22.015 22.061 32.197 43.178 42.553 44.780 43.147 40.882 43.032

6 Assembling 38.718 32.313 31.751 30.849 30.912 45.115 60.502 59.627 62.747 60.459 57.286 60.298
Kapasitas
Dibutuhkan (menit) 197.511 164.841 161.973 157.369 157.694 230.146 308.641 304.174 320.094 308.422 292.233 307.600
Kapasitas Tersedia
(menit) 268.128 229.824 280.896 255.360 153.216 268.128 268.128 280.896 280.896 268.128 280.896 280.896

Berdasarkan tabel III, terlihat bahwa ada dua kondisi yang berkaitan dengan hubungan kapasitas tersedia dan
dibutuhkan. Pertama, adanya stasiun kerja yang kelebihan kapasitas, kedua, adanya stasiun kerja yang kekurangan
kapasitas.

3. Kelebihan Kapasitas
Pada bulan Januari sampai April terjadi kelebihan kapasitas, rekomendasi yang dilakukan :
a. Menarik pekerjaan yang dilakukan di subkon, untuk menekan cost per unit
b. Memproduksi sesuai kebutuhan pihak sales
c. Mengurangi jam operasional pabrik, sesuai kebutuhan
d. Preventif maintenance dilakukan di jam normal
e. Menurunkan waktu setting mesin

4. Kekurangan Kapasitas
Pada bulan Mei sampai Desember 2022 terjadi kekurangan kapasitas, rekomendasi yang dilakukan :
a. Revisi MPS, dengan melakukan pergeseran dari bulan yang kelebihan kapasitas ke bulan yang kekurangan
kapasitas
b. Melakukan overtime, untuk menutupi kekurangan kapasitas jam regular.
c. Memberlakukan system shift
d. Sebagian pekerjaan dikerjakan disubkon
e. Memanfaatkan stok barang jadi, dengan mensubtitusikan barang yang sama, tapi beda warna
f. Penambahan SDM, jika strategi tersebut memang benar-benar dibutuhkan

31
SISTEMIK(Jurnal Ilmiah Nasional Bidang Ilmu Teknik)
Vol. 09 No. 02 Desember 2021
P-ISSN : 2337-3636 || E-ISSN : 2527-6425

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisa dengan menggunakan Rough Cut Capacity Planning di PT. XYZ, maka
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Kapasitas yang tersedia untuk memenuhi kapasitas dibutuhkan di Tahun 2022 berdasakan hasil perhitungan Rough
CutCapacity Planning menggunakan metode CPOF, terlihat bahwa MPS yang direncanakan oleh perusahaan tidak
layak, karena hanya ada 4 bulan dari 12 bulan, dimana kapasitas tersedia lebih besar dibanding kapasitas dibutuhkan,
atau sekitar 33%.
2. Data permintaan konsumen cenderung naik mulai dari pertengahan tahun sampai akhir tahun.
3. Jadwal Induk Produksi yang dibuat, tidak bisa memenuhi permintaan konsumen

REFERENSI
[1] Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI). (2015). Roadmap Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia “Target Pencapaian Ekspor 5 Milyar
USD”. Jakarta
[2] Bank Indonesia, 2008. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Furnitur Kayu.
[3] Heizer, Jay. Render, Barry. Munson, C. (2017). Operations management: sustainability and supply chain management. Journal of purchasing and
supply management.
[4] Fokus dan kolaborasi. [Link]. 20 Mei 2020. 15 Nopember 2021. [Link]
dan-kolaborasi/

32

Anda mungkin juga menyukai