0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan20 halaman

Rangkaian Decoder dan Encoder Digital

Diunggah oleh

Muhammad Musyaddad
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan20 halaman

Rangkaian Decoder dan Encoder Digital

Diunggah oleh

Muhammad Musyaddad
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DIGITAL

DECODER ENCODER

Disusun oleh:

Nama : Muhammad Musyaddad

NIM : A1C320038

Kelas : Reguler A

Asisten Dosen :

1. Eni Setianingsi Napitu (A1C319027)


2. Yanvito Sillyfan Purba (A1C319031)
3. Dedek Darmatiara (A1C319043)
4. Fadhira Insani Putri (A1C319061)
5. Aldi Muhamat Kurniawan (A1C319069)
6. Adriyan Ardi Rahman (A1C319075)

LABORATORIUM PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2022
I. Judul : Dekoder Encoder
II. Hari/Tanggal : “Kamis/ 31 Maret 2022”
III. Tujuan

Adapun tujuan praktikum dilakukan adalah :

1. Dapat mengenal macam-macam rangkaian decoder dan encoder.


2. Dapat membedakan decoder dan encoder.
3. Dapat menganalisis prinsip kerja decoder dan encoder.

IV. Landasan Teori

Menurut Ahmed (2018) Decoder merupakan suatu bentuk rangkaian logika


yang berfungsi untuk menyederhanakan input yang masuk (berupa biner) supaya
lebih mudah dipahami outputnya dalam bentuk decimal. Lalu menurut
Sugiartowo & Ambo (2018) Decoder merupakan rangkaian yang berfungsi
mengkodekan/mengubah ulang data bilangan-bilangan biner pada masukanya
menjadi data asli pada outputnya. Fungsi rangkaian decoder merupakan kebalikan
dari fungsi rangkaian encoder. Contoh decoder seperti, decoder 2 to 4, decoder
BCD ke desimal atau decoder 4 to 10 yang berarti rangkaian digital yang
berfungsi untuk menafsirkan kode-kode BCD (Binary Coded Decimal) pada
masukanya dan menjadi bilangan desimal (0-9) pada keluaranya.

Sebuah decoder adalah rangkaian logika kombinasional yang menerima


input-input biner dan mengaktifkan salah satu outputnya dengan urutan biner
inputnya. Dekoder mampu menerjemahkan informasi pada n jalur input hingga
maksimum 2n jalur output unik. Sebagai ilustrasi, jika ada tiga jalur input, maka
maksimal delapan jalur output yang unik. Jika, dalam kode input tiga bit,
kombinasi tiga bit yang digunakan hanya 000, 001, 010, 100, 110 dan 111 (011
dan 101 menjadi kombinasi yang tidak digunakan), maka dekoder ini hanya akan
memiliki enam jalur keluaran. Secara umum, jika n dan m berturut-turut adalah
jumlah jalur input dan output, maka m≤2n (Triadi & Nasution, 2019).
Gambar 1. Representasi decoder 2 ke 4, 3 ke 8 dan 4 ke 16

Simbol decoder 2 ke 4 dilihat dari masukan dan keluaran dari sebuah


decoderr 2 to 4, dapat dibuat tabel kebenaran seperti tabel 1 dibawah ini:

Tabel 1. Tabel kebenaran decoder 2 ke 4

Berdasarkan tabel kebenaran pada tabel 1, pada baris ke-1 terlihat keluaran
yaitu 1 dan keluaran lainya 0, jika masukanya adalah 00 (B = 0 dan A = 0). Hal
seperti ini decoder menafsirkan kode 00 biner sebagai 0 desimal. Demikian pula
pada baris ke-2, masukanya adalah 01 (B = 0 dan A = 1), nilai keluaran yang
memiliki nilai 1 adalah 𝑌9 (𝑌9 = 1) berarti decoder menafsirkan kode 01 biner
sebagai 1 desimal. Selanjutnya baris ke-3, masukanya adalah 10 (B = 1 dan A =
0), nilai keluaran yang memiliki nilai 1 adalah 𝑌< (𝑌< = 1) berarti decoder
menafsirkan kode 10 biner sebagai 2 desimal. Untuk masukan berupa kode biner
11 nilai keluaran 1 dimiliki oleh 𝑌= (𝑌= 1). Hal seperti ini decoder menafsirkan
kode 11 biner sebagai 3 desimal (Gayen, 2017).
Gambar 2. Rangkaian decoder 2 ke 4

Decoder dapat menghasilkan maksimal 2n kemungkinan dengan kode


biner n-bit. Rangkaian logika ini, seperti yang akan kita lihat,
mengimplementasikan fungsi dekoder baris 3-ke-8. Decoder ini memiliki tiga
input yang ditunjuk sebagai A, B dan C dan delapan output yang ditunjuk sebagai
D0, D1, D2, D3, D4, D5, D6 dan D7. Dari tabel kebenaran yang diberikan
bersama dengan diagram logika, jelas bahwa untuk setiap kombinasi input yang
diberikan, hanya satu dari delapan output yang berada dalam keadaan logika '1'.
Dengan demikian, setiap keluaran menghasilkan minterm tertentu yang sesuai
dengan bilangan biner yang saat ini ada pada masukan (Jayalakshmi & Senthil
Kumaran, 2019). Dalam kasus ini, D0, D1, D2, D3, D4, D5, D6 dan D7 masing-
masing mewakili minterm berikut:

D0= A . B .C , D1= A . B . C , D2= A . B . C , D3 =A . B .C

D4 = A . B . C , D5= A . B .C , D6 =A . B . C , D7= A . B. C

Gambar 3. Diagram logika 3-8 dekoder


Encoder adalah rangkaian yang memiliki fungsi berkebalikan dengan
dekoder. Encoder berfungsi sebagai rangkain untuk mengkodekan data input
mejadi data bilangan dengan format tertentu. Encoder dalam rangkaian digital
adalah rangkaian kombinasi gerbang digital yang memiliki input banyak dalam
bentuk line input dan memiliki output sedikit dalam format bilangan biner.
Encoder akan mengkodekan setiap jalur input yang aktif menjadi kode bilangan
biner (Vazquez‐Gutierrez et al., 2019). Encoder pertama kali digunakan dalam
system kendali digital, bidang telekomunikasi digital, militer, alat alat keamanan
dan lain lain. Sekarang encoder banyak sekali kita temui dalam kehidupan modern
yang penuh fasilitas kenyamanan, contohnya pada tombol telepon digital atau
seluler, timer alat pemasak, atau timer microwave, remote control televise,
keyboard computer, kode bargraph pada barang yang kita beli di swalayan dan
supermarket dan lain lain. Biasanya dalam kehidupan sehari hari encoder decimal
ke biner adalah jenis yang paling banyak dipakai (Shen & Wang, 2019).

Gambar 4. Encoder 4 to 2

Encoder adalah alat yang dapat mengubah suatu sistem (contohnya bilangan
desimal) yang terdapat pada bagian masukan menjadi sistem bilangan biner yang
terdapat pada bagian keluarannya. Proses pengubahannya disebut Encoding
(penyandian atau pengkodean). Pada bagian masukan dari bagian Encoder hanya
terdapat satu jalur (tunggal) yang aktif, sedangkan pada bagian keluarannya, yang
aktif lebih dari satu, tetapi bagian keluaran ini harus berupa system bilangan biner.
Pada hakekatnya, bagian masukan dari encoder adalah sistim bilangan yang biasa
digunakan oleh manusia sehari-hari (0,1,2,…). Sedangkan pada bagian keluaran
dari encoder biasanya berupa kode dengan sistem bilangan biner yang hanya
dimengerti oleh mesin digital atau computer (Shi, 2021). Encoder adalah
multiplexer tanpa saluran keluaran tunggal. Ini adalah fungsi logika
kombinasional yang memiliki 2n (atau lebih sedikit) jalur input dan n jalur output,
yang sesuai dengan n jalur pilihan dalam multiplekser. Jalur keluaran n
menghasilkan kode biner untuk kemungkinan jalur masukan 2n (Kim et al., 2017).

Encoder prioritas adalah bentuk praktis dari encoder. Encoder yang tersedia
dalam bentuk IC semuanya pengkode prioritas. Dalam encoder jenis ini, prioritas
ditetapkan untuk setiap input sehingga, ketika lebih dari satu input aktif secara
bersamaan, input dengan prioritas tertinggi dikodekan (Nguyen et al., 2017).
Encoder paling sederhana adalah encoder biner 2 n ke-n, di mana ia hanya
memiliki satu dari 2n input = 1 dan outputnya adalah bilangan biner n-bit yang
sesuai dengan input aktif.

Dalam proyek elektronik digital, encoder dan decoder memainkan peran


penting. Digunakan untuk mengubah data dari satu bentuk ke bentuk lain.
Umumnya, ini sering digunakan dalam sistem komunikasi seperti telekomunikasi,
jaringan, dan transfer data dari satu ujung ke ujung lainnya. Dengan cara yang
sama, ini juga digunakan dalam domain digital untuk transmisi data yang mudah,
ditempatkan dengan kode, dan kemudian ditransmisikan. Di ujung penerima, data
yang dikodekan dikumpulkan dari kode dan kemudian diproses untuk ditampilkan
(Liu et al., 2019). Selain itu, menurut Yuhanda et al., (2015) dalam komunikasi
lewat radio, encoder dapat berupa microphone dan decoder adalah earphone.
Dalam komunikasi antarmanusia source dan encoder adalah satu orang sementara
decoder dan destination pada sisi yang lainnya.
V. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan pada praktikum kali ini yaitu:

a. Alat
1. Adaptor
2. Jumper
b. Bahan
1. Breadboard
2. LED
3. IC 7400/7404
4. IC 7432
5. IC7408
VI. Prosedur Percobaan
a. Decoder 2 to 4
1. Pastikan catu daya dalam posisi OFF. Pasangkan IC TTL 7404 (NOT) dan
7408 (AND) pada projectboard. Pasangkan kabel untuk memberi catu daya
pada IC tersebut.
2. Susun rangkaian seperti pada gambar. Sinyal-sinyal masukan dihubungkan
dengan saklar-saklar masukan, dan sinyal-sinyal keluarandengan peraga
LED.

3. Variasikan nilai masukan I0 dan I1 berurutan seperti yang tertera pada


tabel, dan amati keluarannya. Tuliskan hasil pengamatan pada tabel yang
telah disediakan.
b. Encoder 4 to 2
1. Pastikan catu daya dalam posisi OFF. Pasangkan IC TTL 7432 (OR) pada
projectboard. Pasangkan kabel untuk memberi catu daya pada IC tersebut.
2. Susun rangkaian seperti pada gambar. Sinyal-sinyal masukan dihubungkan
dengan saklar-saklar masukan, dan sinyal-sinyal keluaran dengan peraga
LED.

3. Variasikan nilai masukan A3 , A2, A1 dan A0 berurutan seperti yang


tertera pada tabel, dan amati keluarannya. Tuliskan hasil pengamatan pada
tabel yang telah disediakan.
VII. Hasil dan Pembahasan
7.1 Hasil
a. Encoder 4 to 2

A3 A2 A1 A0 Y1 Y2
0 0 0 1 0 0
0 0 1 0 0 1
0 1 0 0 1 0
1 0 0 0 1 1
0 0 0 0 0 0

b. Decoder 2 to 4

I0 I1 D0 D1 D2 D3
0 0 1 0 0 0
0 1 0 1 0 1
1 0 0 0 1 0
1 1 0 0 0 1

7.2 Pembahasan

Komputer digital beroperasi pada sistem biner. Angka desimal dan alfabet
dikenal sebagai karakter alfanumerik. Sebuah encoder adalah perangkat yang
mengubah karakter alfanumerik menjadi kode biner. Seorang pembuat enkode
mungkin desimal ke biner, heksadesimal ke biner, oktal ke BCD dll. Di komputer,
diperlukan kode biner yang dikirimkan untuk setiap pukulan keyboard
alfanumerik (penulis tipe atau teletipe). Keyboard komputer memiliki 26 huruf
kapital, 26 huruf kecil, 10 angka (0 hingga 9) dan sekitar 22 karakter khusus (+,
dll.).

Encoder adalah perangkat yang dengannya setiap karakter atau simbol atau
kunci dapat diubah menjadi kode yang sesuai dan proses konversi tersebut disebut
pengkodean. Informasinya justru sebaliknya. Hanya satu masukan diaktifkan pada
suatu waktu oleh encoder, sedangkan hanya satu output yang diaktifkan dalam
kasus decoder. Encoder adalah rangkaian kombinasional yang fungsinya hanya
kebalikan dari decoder. Encoder umumnya mungkin memiliki n input dan m
output di mana 2m≥n. Untuk encoder normal, hanya dari n input satu input dapat
diaktifkan kapan saja sesuai dengan setiap input yang diaktifkan, kami
mendapatkan kode m bit yang ditentukan pada outputnya. Menurut Li & Tong
(2015) Encoder adalah suatu rangkaian logika yang berfungsi untuk
mengkonversikan kode yang lebih dikenal oleh manusia ke dalam kode yang
kurang dikenal manusia. Encoder adalah rangkaian yang memiliki fungsi
berkebalikan dengan dekoder. Encoder berfungsi sebagai rangakain untuk
mengkodekan data input mejadi data bilangan dengan format tertentu.

Salah satu encoder yang digunakan pada praktikum kali ini adalah encoder
4 to 2. Encoder 4 to 2 memiliki empat input dan dua ouput. Encoder ini
menggunakan IC 7432 (OR). Menurut Nasrollahnejad et al (2019) gerbang ini
adalah salah satu yang paling sederhana dan paling umum digunakan. Ini adalah
sebuah perangkat yang outputnya berlogika '1' jika salah satu atau keduanya
masukan adalah '1'. Gerbang OR terdiri dari dua atau lebih masukan dan keluaran
tunggal. Melalui hasil praktikum, didapatkan hasil berikut ini.

Tabel 2. Hasil percobaan Encoder

A3 A2 A1 A0 Y1 Y2 V
0 0 0 1 0 0 1
0 0 1 0 0 1 1
0 1 0 0 1 0 1
1 0 0 0 1 1 1
0 0 0 0 0 0 0

Encoder prioritas 4 to 2 memiliki empat input A3, A2, A1 & A0 dan dua
output Y1 & Y0. Di sini, input, A3 memiliki prioritas tertinggi, sedangkan input,
A0 memiliki prioritas terendah. Dalam hal ini, bahkan jika lebih dari satu input
adalah '1' pada saat yang sama, output akan menjadi kode biner yang sesuai
dengan input, yang memiliki prioritas lebih tinggi. Dengan menambahkan input
V, untuk mengetahui apakah kode yang tersedia pada output valid atau tidak.

a. Jika setidaknya satu input encoder adalah '1', maka kode yang tersedia
pada output adalah kode yang valid. Dalam hal ini, output, V akan sama
dengan 1.
b. Jika semua input encoder adalah '0', maka kode yang tersedia pada output
tidak valid. Dalam hal ini, output, V akan sama dengan 0.

Maka dapat dituliskan fungsi Boolean berdasarkan hasil pada table yaitu:

Y 1= A 3+ A 2

Y 2= A 3+ A 1

V = A 0 + A 1+ A 2+ A 3

Gambar 5. Implementasi fungsi Boolean menggunakan OR gate

Percobaan yang peraktikan lakukan dapat dikatakan berhasil karena hasil


yang diperoleh telah sesuai dengan table kebenaran pada Encoder 4 to 2. Berikut
adalah penjelasan mengenai tabel hasil percobaan yang telah dilakukan :

1. Saat masukan/inputnya bernilai 0-0-0-1 kedua lampu LED tidak menyala.


2. Saat masukan/inputnya bernilai 0-0-1-0 lampu LED 2 menyala sedangkan
lampu LED 1 tidak menyala.
3. Saat masukan/inputnya bernilai 0-1-0-0 lampu LED 1 menyala sedangkan
lampu LED 2 tidak menyala.
4. Saat masukan/inputnya bernilai 1-0-0-0 kedua lampu LED menyala.
5. Saat masukan/inputnya bernilai 0-0-0-0 kedua lampu LED tidak menyala.
Pengertian Decoder adalah alat yang di gunakan untuk dapat
mengembalikan proses encoding sehingga kita dapat melihat atau menerima
informasi aslinya. Pengertian Decoder juga dapat di artikan sebagai rangkaian
logika yang di tugaskan untuk menerima input input biner dan mengaktifkan salah
satu outputnya sesuai dengan urutan biner tersebut. Rangkaian dekoder
mempunyai sifat yang berkebalikan dengan enkoder yaitu merubah kode biner
menjadi sinyal diskrit. Menurut Li & Tong, (2015) Decoder adalah suatu
rangkaian logika yang berfungsi untuk mengkonversikan kode yang kurang
dikenal manusia kedalam kode yang lebih dikenal manusia. Dekoder memiliki
karakteristik bahwa untuk setiap kemungkinan angka input biner yang dapat
diambil oleh n sel input, matriks akan memiliki salah satu yang unik dari 2 n jalur
output yang dipilih.

Salah satu decoder yang digunakan pada praktikum kali ini adalah decoder
2 to 4. Decoder 2 to 4 memiliki dua input dan empat ouput. Decoder ini dapat
dirangkai dengan menggunakan IC TTL 7404 (NOT) dan 7408 (AND) pada
projectboard. Gerbang AND adalah perangkat yang outputnya logika (1) jika
kedua inputnya adalah logika (1). Ini berfungsi perkalian logis. Ini terdiri dari dua
atau lebih masukan dan keluaran tunggal. Fungsi logika AND dari dua variabel
diwakili baik dengan menulis titik antara dua variabel atau dengan menulis yang
berdekatan huruf tanpa titik (Caravelli & Nisoli, 2020). Gerbang NOT (disebut
inverter) melakukan fungsi logika dasar yang disebut inversi atau komplementasi.
Ini memiliki satu input dan satu output. Tujuan dari gerbang NOT adalah untuk
mengubah satu level logika ke level yang berlawanan. Gerbang NOT digunakan
untuk menghasilkan logika yang kebalikan dari inputnya (Taha, 2019).

Melalui hasil percobaan, maka didapatkan hasil sebagai berikut.

I0 I1 D0 D1 D2 D3
0 0 1 0 0 0
0 1 0 1 0 1
1 0 0 0 1 0
1 1 0 0 0 1
Decoder memiliki dua input I0 & I1 dan empat output D3, D2, D1 & D0. Dari
data yang didapatkan bahwa

D0=I 0 . I 1

D1=I 0 ' . I 1

D2=I 0 . I 1 '

D3=I 0 ' . I 1 '

Setiap output memiliki satu istilah produk. Jadi, ada empat istilah produk
yang ada secara total. Kita dapat menerapkan keempat istilah produk ini dengan
menggunakan empat gerbang AND yang masing-masing memiliki tiga input dan
dua inverter. Oleh karena itu, output dari dekoder 2 hingga 4 tidak lain adalah
suku minimum dari dua variabel input I1 & I0. Diagram rangkaian dekoder 2
hingga 4 ditunjukkan pada gambar berikut.

Pada percobaan decoder ini, praktikan gagal mendapatkan data yang


sesuai dengan tabel kebenaran. Saat melakukan praktikum, lampu-lampu LED
yang sudah disiapkan sebagai indikator gagal menyala dan menunjukkan hasil
dari rangkaian yang sudah praktikan rangkai. Oleh karena itu praktikan
menggunakan referensi dari jurnal ataupun hasil dari praktikum praktikan lain
sebagai referensi. Menurut Hamdioui & Van De Goer (1998) ada beberapa
kesalahan dalam menggunakan atau merangai rangkaian decoder. Misalnya adalah
menyambungkan kabel jumper tidak sesuai dengan yang seharusnya sehingga
lampu LED tidak menyala. Kesalahan lain yaitu misalnya terjadi kerusakan pada
adaptor, IC atau gerbang hingga kerusakan pada adaptor atau lampu LED yang
berperan sebagai indikator. Oleh karena itu, setiap peralatan dan rangkain harus
dicek terlebih dahulu agar praktikum berjalan lancar.

VIII. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan


yaitu sebagai berikut.

1. Decoder memiliki berbagai macam jenis sesuai dengan keperluannya.


Decoder terdiri atas decoder 2 to 4, 3 to 8 dan 4 to 16. Begitu juga dengan
encoder. Encoder terdiri atas encoder 4 to 2, 8 to 3 dan 16 to 4.
2. Pengertian Decoder juga dapat di artikan sebagai rangkaian logika yang di
tugaskan untuk menerima input biner dan mengaktifkan salah satu
outputnya sesuai dengan urutan biner tersebut. Rangkaian dekoder
mempunyai sifat yang berkebalikan dengan enkoder yaitu merubah kode
biner menjadi sinyal diskrit. Sedangkan encoder adalah rangkaian yang
mengembalikan kode dan mengubah sinyal diskrit menjadi kode biner.
3. Pemerosesan pada rangkaian decoder dan encoder dapat dilihat pada tabel
kebenaran dan fungsi Boolean. Setiap angka decimal dank ode biner yang
diinput ataupun yang dikeluarkan dapat dianalisis dari tabel kebenaran dan
fungsi Boolean tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, R. (2018). Effects Of Online Education On Encoding And Decoding


Process Of Students And Teachers. MCCSIS 2018 - Multi Conference on
Computer Science and Information Systems; Proceedings of the
International Conferences on e-Learning 2018, 2018-July, 42–48.

Caravelli, F., & Nisoli, C. (2020). Logical gates embedding in artificial spin ice.
New Journal of Physics, 22(10). [Link]

Gayen, D. K. (2017). All-Optical 2:4 Decoder with the Help of Terahertz Optical
Asymmetric Demultiplexer. Optics and Photonics Journal, 06(07), 184–192.
[Link]

Hamdioui, S., & Van De Goer, A. J. (1998). Address decoder faults and their tests
for two-port memories. Proceedings - International Workshop on Memory
Technology, Design and Testing, MTDT 1998, 1998-August(September
1998), 97–103. [Link]

Jayalakshmi, R., & Senthil Kumaran, M. (2019). Fault analysis of 3to 8 decoder
implemented using quantum dot cellular automata for state configuration.
International Journal of Recent Technology and Engineering, 8(1), 1766–
1769.

Kim, H., Yamakawa, Y., Senoo, T., & Ishikawa, M. (2017). Visual encoder:
robust and precise measurement method of rotation angle via high-speed
RGB vision. Optics Express, 24(12), 13375.
[Link]

Li, C., & Tong, X. (2015). A Modified Successive-Cancellation Stack Polar


Decoder. Proceedings of the 2015 International Conference on Electrical,
Computer Engineering and Electronics, 24(Icecee), 195–198.
[Link]

Liu, H., Liu, Z., Jia, W., & Lin, X. (2019). A Novel Deep Learning-Based
Encoder-Decoder Model for Remaining Useful Life Prediction. Proceedings
of the International Joint Conference on Neural Networks, 2019-July(July),
1–8. [Link]

Nasrollahnejad, M. B., Madani, M. M., Arabi Nowdeh, S., & Ghasemi, S. (2019).
Powerless logical gates based on molecular electronics. Research Journal of
Applied Sciences, Engineering and Technology, 5(2), 510–512.
[Link]

Nguyen, X. T., Nguyen, H. T., & Pham, C. K. (2017). A Scalable High-


Performance Priority Encoder Using 1D-Array to 2D-Array Conversion.
IEEE Transactions on Circuits and Systems II: Express Briefs, 64(9), 1102–
1106. [Link]

Shen, H., & Wang, M. (2019). High-precision magnetic encoder module design
based on real-time error compensation algorithm. Journal of Physics:
Conference Series, 1345(4). [Link]
6596/1345/4/042082

Shi, Y. (2021). J-Net : Asymmetric Encoder-Decoder for Medical. 2021.

Sugiartowo, & Ambo, S. N. (2018). Simulasi Rangkaian Kombinasional Sebagai


Media Pembelajaran Sistem Digital Pada Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Jakarta. Umj, 005, 1–11.
[Link]

Taha, M. Q. (2019). Objectives Basic logic Gates (AND, OR, and NOT gates ).
Journal of Electrical and System Control Engineering, April.

Triadi, A., & Nasution, N. (2019). Implementasi Encoder dan Decoder BCH.
3(1), 1–6.

Vazquez‐Gutierrez, Y., O’Sullivan, D. L., & Kavanagh, R. C. (2019). Study of the


impact of the incremental optical encoder sensor on the dynamic
performance of velocity servosystems. The Journal of Engineering,
2019(17), 3807–3811. [Link]

Yuhanda, B., Nasaruddin, N., & Syahrial, S. (2015). Desain dan Simulasi
Encoder-Decoder Berbasis Angka Sembilan Untuk Transmisi Informasi
Digital. Jurnal Buana Informatika, 6(3).
[Link]
LAMPIRAN GAMBAR

Encoder (1,1) Encoder (1,0)

Encoder (0,1) Encoder (0,0)


LAMPIRAN JURNAL

Ahmed (2018)

(Triadi & Nasution, 2019)

(Jayalakshmi & Senthil Kumaran, 2019)

(Shen & Wang, 2019)

(Kim et al., 2017)


(Gayen, 2017) (Nguyen et al., 2017)

Sugiartowo & Ambo (2018) (Vazquez‐Gutierrez et al., 2019)

Anda mungkin juga menyukai