delapan
A Letter, A Heart... to
Remember
...Tapi aku bilang sekarang sama kamu bahwa cita-cita kamu
itu tercapai...
kamu adalah orang yang paling baik di hati kita, titik... cita-cita
kamu tercapai.
Dan kamu Qkan selalu kita kenang di hati ke mana pun kita
pergi...
PUKUL TIGA kurang lima. "Beres-
beres dan berangkat"
Zafran dan Genta melipat terpaL Arial dan Ian membereskan
kompor parafin, Riani dan Dinda tampak membereskan sisa-sisa
makan siang. Keheningan menyelimuti mereka berenam, baru saja
mereka merasa dekat sekali dengan Mahapencipta.
Genta berujar ke teman-temannya, "Sampah kita mana?
Masukin di plastik, jangan dibuang di sini, kita bawa aja, gantung
di luar carrier. Jangan pernah ninggalin sampah di gunung."
"Ta....."
"Iya, Yan."
"Berapa lama lagi kita jalan?"
"Kalo sampai puncak ya masih setengah hari lagi. tapi
nanti malam kita ngecamp dulu di Arcopodo"
"Masih jauh banget ya?"
"Masih.....jauh, nggak pakai banget"
Mereka sudah siap beijalan lagi. Treg... srrt\ Arial
mengencangkan carrier nya.
"Siap?"
Sebentar mereka menatap Ranu Kumbolo yang tenang selepas
siang, hanya dalam hitungan jam semuanya telah meninggalkan
sepotong keajaiban hati mereka di sana.
"Berdoa dulu."
Semuanya tertunduk, memejamkan mata. "Yuk.
..............."
"Mahameru Ian datang."
"Hehehe.. . ."
"Mahameru mudah-mudahan Ian kuat."
"Mahameru... mudah-mudahan punya tempat buat Ian yang
gendut. Mahameru, terima kasih Ranu Kumbolo-nya ya."
Mereka mulai melangkah lagi, mulai beijalan meninggalkan
Ranu Kumbolo. Rombongan itu langsung disambut oleh sebuah bukit
tinggi dengan jalan setapak yang menanjak curam membelah
kumpulan ilalang liar yang tumbuh di badan bukit Tampak
beberapa pendaki terengah- engah membawa barang bawaan yang
berat. Sebagian yang lain memilih berhenti sebentar di pinggir
jalan setapak, melepaskan lelah.
"Gilee tinggi juga ya. "
"Agak curam."
"Tanjakan cinta."
"Apaan, Ta?"
"Banyak yang menyebut bukit ini tanjakan cinta."
"Hahaha.....kenapa, Ta?"
"Itu, liat aja, Ple. Kalo dari jauh bentuknya kayak
lambang cinta."
"Iya juga sih."
Genta meneruskan, "Ada lagi mitos satu yang mengatakan kalo
kita terus mendaki tanpa melihat ke bawah lagi maka segala mimpi
tentang cinta kita akan terwujud."
"Hah yang bener?" mata Ian dan Zafran berbinar-binar. "Iya,
tapi ada satu lagi syaratnya. Selama kita mendaki
harus terus mikirin orang yang kita mau itu."
"Hahaha......"
"Serius lo, Ta?"
"Iya nggak tau ya. Itu udah jadi bahan obrolan para pendaki
Mahameru dari dulu, gue nggak tau bener apa enggak."
"Asik. ," Zafran mulai gila lagi.
Ian loncat-loncat, "Hore. kalo gue terus mikirin Happy
Salma bisa jadian dong sama dia."
"Happy Salma.... Happy Salma..." Genta jadi geleng- geleng,
tersenyum kecil, nyesel sendiri udah bikin dua temannya jadi
ugaco dan berlarian ke bawah bukit, menuju awal jalan setapak
tanjakan cinta.
Semua tertawa melihat kapur tulis SD yang ceking dan gajah 1
*impung dari Way Kambas loncat-loncat kegirangan.
Ian dan Zafran sudah berada di awal jalan setapak. Mereka
melambai ke belakang, keempat temannya masih beijalan santai.
Keduanya saling pandang sebelum naik. "Gile,
Ple, tinggi juga."
"Iya, Yan...." Zafran mengencangkan tali carrier-nya, buat gaya
sedikit
Ian mencoba menilaikan Zafran, walaupun sebenarnya dia
nggak tau apa maksud Zafran.
"Siap, Ple?"
"Siap!!!"
Tapi nggak jadi. "Nanti kalo si Genta bohong gimana?
Masa sih?"
"Ah bodo amat, namanya juga mitos." "Kalo
bener gimana hayo?"
"Iya juga ya... Happy Salma, Ple. Gile, mimpi aja nggak."
"Yuk."
"Sip."
Tapi nggak jadi lagi. "Iya ya, kalo Genta bohong gimana ya,
Yan?"
"Happy Salma juga cuma seksi aja, gue nggak tau
orangnya gimana, gue kan maunya yang keibuan."
"Iya juga ya, Yan."
"Tapi Yan, apa pun harus kita coba. Kita kan laki-laki."
"Man gotta do what man gotta do\"
"Iya, apa salahnya nyoba?"
"Nggak ada salahnya, Ple. Yang penting kita usaha." "“tul.
.............."
"Jadi siap nih?" "Siap."
"Yuk."
Keduanya masih terdiam, "Yuk."
"Ya udah, tinggal ngelangkah doang, nggak ada
susahnya.
Lo sih pake didramatisir."
"Eh iya ya, tinggal ngelangkah doang, kayak ngadepin apa aja."
Zafran mulai melangkahkan kakinya.
Mereka melangkah mendaki jalan setapak. "Heh,
dipikirin orangnya, jangan bengong." "Oh iya
lupa. ," Ian masih bengong.
Mereka terus melangkah sambil berpikir keras. Ian memikir-
kan Happy Salma hingga keningnya berkerut, Zafran melakukan hal
yang sama, siapa lagi yang dipikirin kalo bukan Dinda. Bci dua
terus mendaki dan mendaki, barang
bawaan terasa semakin bertambah berat, kaki seperti digantungi
pemberat. Setengah bukit tinggi itu telah mereka lalui, napas kembali
terengah-engah, satu-satu dada mereka tampak naik-turun.
"Fiuh, fiuh, fiuh." Atur napas satu-satu.
"Capek juga ya, Ple."
"Iya, makanya jangan cepet-cepet. Santai aja."
"Gilaa... berat juga mencari cinta."
"Juplee!!!... Ndut!!!. Wooy!!!" "Iya,
Taa................"
Ian dan Zafran refleks menengok ke bawah, melihat Genta yang
memanggil-manggil mereka. Genta, Arial, Riani, dan I >inda
melambaikan tangan. Keempatnya baru mulai mendaki.
"Apa, Ta?"
"Sampai ketemu di atas bukit ya...," Genta berteriak lantang.
IAN DAN Zafran menengok ke bawah, tersenyum dan meng-
urungkan jempol. "Hati-hati ya, Ta."
"Ha... ha... ti ha... ti... ya..., Ta...," suara Ian dan Zafran melemah
seperti walkman kehabisan baterai.
Di mata Zafran, lukisan indah Arinda tiba-tiba lumer cat iilmya,
berganti jadi wanita berbikini ngejreng di stiker hadiah IT”S
bertuliskan "menanti kejujuran". Lalu Arinda berubah jadi Kadis
kalender pompa air yang biasanya pake bikini warna norak,
berpose di depan motor dengan bulu ketek yang lupa dicukur.
Dalam bayangan Ian, Happy Salma tiba-tiba berubah menjadi
bencong taman lawang dengan betis gede, trus jadi Mpok Nori, trus
jadi paranormal wanita menor di tabloid hantu, litis jadi kambing
pake bedak, jadi bebek, jadi kucing, jadi mangga, jadi nanas, jadi
Mpok Ati... Ya Allah towlowng....
Keduanya terduduk lemas saat itu juga, melihat iba ke bawah.
"Udah jauh banget lagi," kata mereka sambil bertatapan.
Keempat teman lain yang masih di bawah terbengong- bengong
melihat mereka berdua.
"Kenapa tuh berdua? Kecapekan?"
Arial, Riani, dan Dinda saling berpandangan dan
tersenyum.
Tiba-tiba tawa ketiganya meledak keras sekali...
"Hahaha....."
"Bodoh."
"Bego, hahaha......"
"Bodoh, kagak sekolah....." _ j
"Ancur." "Kenapa
sih?"
Genta yang masih bingung ikut tertawa kecil melihat teman-
temannya tertawa gembira sekali. Air mata Arial dan Riani sampai
keluar, bahu Dinda berguncang.
"Wooy kenapa?"
Arial masih tertawa, coba memberi tahu Genta. "Hahaha.
gara-gara lo panggil, mereka berdua nengok ke
bawah kan? Padahal kalo mau keinginannya tercapai
kan nggak boleh nengok ke bawah... hahaha. "
"HAHAHA..," tawa Genta meledak keras sekali sampai ia
terduduk lemas di pinggiran jalan setapak.
"Gue... gue... enggak sengaja. Sumpah! Hahaha... ancur.,..
Gue emang mau manggil mereka berdua,
sumpah nggak sengaja."
Ian dan Zafran di ketinggian melihat keempat teman mereka di
bawah sedang terpingkal-pingkal. Tak kuasa, keduanya ikut
tersenyum dan tertawa keras, menertawai kebodohan mereka
sendiri.
"Hahaha... mana udah jauh lagi ya , Ple. Mau ngulang lagi
udah capek." “
"Lo aja hahaha.. gue mah nggak mau." "Bego
lo, Yan. hahaha."
"Lo juga... hahaha."
"Wooi bego, gue nggak sengaja. Pengen manggil aja... hahaha...,"
Genta jadi geli sendiri.
"Rese!!!" Ian dan Zafran teriak-teriak dari atas.
Mereka meneruskan pendakian. Napas mereka memburu satu-
satu, melawan tanah tinggi dan beban berat di punggung.
Ian dan Zafran sampai paling duluan di puncak bukit. "Wooi
semua! Cepet, cepet!" Zafran dan Ian melambaikan
tangan dari puncak bukit.
"Wooi... cepet!"
"Kenapa sih mereka, Mas lal?" Arinda bertanya heran pada
abangnya.
"Nggak tau, biasa., dua mahkluk itu emang kadang- kadang
suka ajaib."
Teriakan-teriakan itu terdengar lagi. Kali ini makin jelas
karena jarak mereka makin dekat.
"Cepet!!! Cepet, keren nih!!"
Riani mendongak ke atas. Bayangan Ian dan Zafran tampak
meloncat-loncat di atas bukit.
"Ada apa sih, Ta? Mereka kok excited banget."
"Keren, keren... sumpah keren banget." Teriakan Ian dan Zafran
makin jelas di telinga.
Genta tersenyum penuh arti, tau apa yang dimaksud oleh
kedua temannya itu.
"Iya sih emang ada sesuatu yang keren di atas sana," ujar
Genta pelan.
Arial, Dinda, dan Riani berhenti sebentar—menengok ke
Genta. Genta menaikkan alisnya, tersenyum penuh arti.
"Ada apa sih?"
Genta lagi-lagi hanya tersenyum.
Begitu keempat teman tiba, Zafran dan Ian langsung
mengulurkan tangan, membantu Dinda dan Riani yang sudah sampai
di puncak bukit. Genta dan Arial menyusul.
"Hup... ayo sampe juga."
Muka Riani dan Dinda tampak merah menahan lelah. "Fiuh."
Arial dan Genta menginjakkan kaki di puncak
bukit itu.
Semua langsung bengong melihat pemandangan di depan.
"Keren kan?"
"Savanna ya?"
"Bukan! Stepa."
"Savanna!"
"Stepa! Ya udah savanna dan stepa deh."
Debat kusir dihentikan. Di bawah terhampar padang ilalang
luas sekali, dengan beberapa bukit kecil memagarinya.
"Gilee... gue kayak di Afrika."
"Fiuh... Mahameru, Mahameru... banyak banget kejutannya.
Nggak ada yang biasa lagi." Dinda menggeleng-gelengkan
kepalanya.
Angin padang yang kencang tiba-tiba bertiup, membuat ilalang
di padang melambai-lambai bagaikan jutaan rajutan yang menyatu
indah. Waktu seakan beijalan pelan, sepelan lambaian ilalang di
bawah mereka.
"Tinggal ada T-rex aja nih sama Raptor... lengkap deh."
Padang ilalang luas dan bukit-bukit itu membuat Ian jadi ingat
filmnya Steven Spielberg, Jurassic Park. Arial memandang ke
belakang. Ranu Kumbolo masih terlihat dari ketinggian. Arial melihat
ke depannya, padang ilalang yang luas masih melambai-lambai
tertiup angin padang. Arial merasa sedang berada di dua alam
yang berbeda.
Riani mengeluarkan handycam dan mulai merekam. Arial
mencolek pundak Riani dan memberikan tanda ke Riani
dengan Jempolnya, yang artinya "lihat ke belakang”“. Ranu Kumbolo
pun terekam dalam ketinggian. Arial mengarahkan bahu Riani ke
depan, padang ilalang itu pun terekam juga. Riani tersenyum ke
Arial penuh kagum.
"Yuk... jangan kelamaan di sini, kita harus terus jalan," Genta
mengomando teman-temannya.
"Ok Bos!"
"Nah kita lewat mana?" "Ya
turun."
"Ke mana?"
"Itu jalannya......"
"Kita ngelewatin padang?" mata Zafran berbinar-binar. "Atau,
kita bisa lewat sana...," Genta menunjuk ke
sebelah kiri jalan setapak. Pinggiran bukit terlihat memutar.
Di pinggiran padang, beberapa pendaki terlihat sedang
melewati jalan itu.
"Apa bedanya lewat pinggir bukit sama lewat padang?" "Sama
aja sih."
"Lewat padang!" semuanya tiba-tiba teriak. "Tapi
mana jalan setapaknya?"
"Itu, jelas. "
Jalan setapak kecil terlihat jelas dari ketinggian, seperti sebuah
garis membelah padang luas dan bermuara ke hutan di seberang-
nya yang menyerupai tembok hidup, menyambut jalan itu.
"Gila, Indonesia punya Afrika kecil." "Ada T-
rex nggak, Ta?"
"Ada Raptor. " kata Genta tersenyum.
"Ada T-rex tapi doyannya
Teletubbies dikecapin. Krupuknya banyak, karetnya dua,
nggak pedes."
Arial membuat gerakan seperti mau memakan Ian.
"Hahaha......"
"Yuk......"
Rombongan itu menuruni jalan setapak yang mengakhiri bukit
itu. Mereka seperti memasuki dunia lain kala tiba di awal jalan
setapak yang membelah padang ilalang.
"Gilee. gue di alam lain."
Zafran melihat sekelilingnya, merasa seperti berada di antara
benang-benang ilalang raksasa setinggi pinggang. Mereka
menelusuri jalan setapak yang membelah padang. Leher mereka
terus berputar menikmati pemandangan sekitar. Dari atas mereka
mirip enam titik kecil beijalan beriringan di antara keindahan alam
Mahameru, membelah semesta dengan segala keindahan di
sekeliling mereka.
Tak ada yang percaya keindahan telah mendatangi mereka
lagi. Tak hentinya mereka melihat ke langit sambil mengucap syukur.
Angin padang yang keras menghantam wajah mereka, jiwa petualang
seperti merasuki hati mereka tatkala Puncak Mahameru kembali
terlihat megah.
"Now this is something that you didn”t see
everyday. ,7” Zafran berkata ke teman-temannya.
"Titanic, James Cameron, Di caprio en” Winslet," jawab Riani,
langsung melempar senyum ke arah Zafran.
"Gilee.....emang quote itu ada di film Titanic, Ni?"
"Iya, waktu semuanya di sekoci. Titanic tinggal setengah di
atas laut, setengah lagi tenggelam di tengah samudra."
"Padahal gue nggak pemah inget ada quote itu di Titanic."
"Jadi lo tadi cuma ngomong sekenanya aja?" "Iya.
............."
"Bo”ong lo, Ple!"
"Sumpah! Wah berarti gue ada bakat jadi sutradara nih."
"Hahaha.. itu kan cuma dejd vu aja." Ian
ngakak ngeliat Zafran sok tau.
"Bukan dong\ Itu
berarti Serendipity,”" Zafran keukeuh sekaligus ngasal.
"lagian kan yang nulis itu ya penulisnya, bukan sutradara,
Ple!"
"Tapi yang paling terkenal di mana-mana kan sutradaranya, gue
kan ada bakat terkenal."
"Gile, keren juga yaa... vokalis sekaligus sutradara, jarang-
jarang ada kayak gitu tuh. Wah keren... iya ah gue mau jadi
sutradara."
Zafran meneruskan, "Rim pertama yang mau gue buat..." "Film
iklan kasur air..v" Genta nggak kuat lagi mau nyela.
Ian menambahkan, "Film iklan barang-barang fitness yang
bo”ong mulu."
"Bukan... film iklan yang buat gedein itu tuh...," Genta melirik ke
perut Ian.
Arial tersenyum geli, lalu menepuk perut Ian. "Iya, yang
produknya Ian salah pake, harusnya dipake di dada tapi dia pake di
perut, jadi perutnya deh yang tambah gede."
"Hahaha..."
"Rese....." Ian tersenyum bego.
Zafran menatap serius temen-temennya, dan berkata agak
keras, "Sialan lo... nggak). Gue mau bikin film judulnya...
"Achilles di Mahameru."
“Jangan ada yang muntah semuanya!"
Mereka tertawa. Tawa mereka terdengar sayup-sayup terbawa
angin padang. Dari atas, canda mereka seolah mengisi keluasan
hati padang ilalang, mengisi keluasan hati mereka yang pastinya jauh
lebih luas dari padang ilalang atau tempat apa pun di dunia ini.
Tanpa terasa, di ujung jalan setapak, hutan lebat terbentang di
depan.
"Fiuh. ada apa lagi di dalam sana? Breatt"
"Fiuh," Ian berdiri di akhir jalan setapak yang membelah
padang. Lehernya agak mendongak, pohon-pohon besar bak sebuah
benteng hijau megah. Dari kejauhan, kedalaman hutan seperti
menolak sinar matahari untuk masuk. Dua pohon besar mengapit
jalan setapak. Sebuah gapura ke alam
lain. Dinda menengok ke belakang, ke jalan setapak yang membelah
gurun.
"Kita masuk ke hutan Bang Genta?" Genta
mengangguk pelan.
"Ada apa di sana, Ta?" Zafran mengeluarkan air mineralnya.
Genta terdiam dan menggeleng, matanya menatap kosong ke
kedalaman hutan. Menyaksikan sikap Genta, semua jadi merasa getir
di hati.
"Fiuh."
Genta mencoba melihat ke jalan setapak padang ilalang,
matanya mengarah ke jalur di atas bukit. Di kejauhan tampak
beberapa pendaki. Mata Genta kembali mengarah ke dalam hutan di
depannya... tatapannya kosong. Sesaat pandangannya beradu
dengan pandangan Arial yang sejak tadi nggak pernah lepas
memperhatikan Genta, Arial memberikan pandangan yang seperti
pertanyaan.
" Waktu itu di hutan ini, Ta?"
Genta yang sepertinya bisa membaca pikiran Arial
mengangguk pelan. Memang cuma Arial yang baru
diceritainGenta.
Sewaktu pertama kali ke Mahameru, Genta pernah tersesat
sendirian hampir satu hari penuh di hutan ini karena salah jalur.
Di hutan ini semua jalur seperti sama sehingga membuat Genta
bingung harus melangkah ke mana. Kejadian tadi membuat dia
sedikit trauma, ingatannya kembali ke tiga tahun yang lalu.
Hutan yang masih persis sama. Waktu itu, entah kenapa ia
tiba-tiba merasa sendirian dan teman sependakiannya yang hanya
beijarak lima meter di depannya, tiba-tiba meng-hilang seperti di
telan bumi. Ia sudah coba berteriak, tapi tak ada jawaban. Hanya
desir angin dan gelapnya hutan yang menjawab teriakannya. Ia
coba mengikuti arah matahari, tapi tetap aja berputar-putar karena
semuanya hampir sama. Genta nggak habis pikir, keanehan-
keanehan yang sering
dialami sesama pendaki gunung ternyata terjadi juga pada dirinya.
Ia terus mencoba mengikuti jalan setapak dan memberi tanda
kecil pada tiap persimpangan—tetap saja ia berputar dan kembali
ke tempat semula.
Genta mencoba tidak panik, terus berteriak memanggil, dan
tetap berdoa hingga malam datang. Malam itu dingin dan sepi sekali,
suara-suara makhluk malam dan djssir angin membuat tengkuknya
terus merinding. Untuk satu malam Genta mencoba bertahan di
hutan yang dingin dan gelap, hanya dengan sleeping bag. Makanan
dan airnya yang sudah menipis akhirnya habis sehingga ia terpaksa
menelan pasta gigi dan daun-daunan guna menghilangkan rasa
lapar yang mencengkeram perutnya.
Di malam itu Genta merasakan takut yang amat sangat, hingga
akhirnya di antara gelapnya hutan dan pohon-pohon raksasa C renta
tertidur. Belum pernah ia merasakan takut yang amat sjingat seperti
malam itu.
Genta melihat ke kedalaman hutan. Tengkuknya merinding,
mengingat kejadian yang pernah dia alami. Hanya Arial yang sudah
tahu, teman-temannya—bahkan kedua orang tuanya—
tidak ada yang tahu.
"Ta, eh bengong. Lanjut nggak?" Zafran berteriak,
membuyarkan lamunan Genta.
"Oh iya, sori,"
"Kenapa, Ta?" tanya Riani lembut.
"Enggak." Genta mencoba menepis keraguan teman-
temannya.
Matanya kembali beradu dengan pandangan Arial yang
langsung menggeleng, yang artinya Genta tangkap sebagai
"jangan diceritain sekarang, Ta".
"Oh iya kita lanjut." Matanya masih tak lepas menatap Arial.
Arial tersenyum, senyum yang membuat Genta seperti tersadar.
"Yuk kita lanjut...!"
"Lo di depan ya, Ta."
Arial menepuk bahu Genta, sambil berbisik lirih, sangat lirih, "Di
antara kita semua, nggak ada yang udahngabisin 24
jam di hutan ini sendirian kecuali elo."
Genta tersenyum kecil.
"Ok...kita masuk hutan. Interval jarak kita masing- masing
jangan sampai lebih dari dua meter ya, jangan ada yang bengong,
jangan ada yang sombong, inget.. sekali lagi jangan ada yang
bengong. Pokoknya ngobrol aja, tentang apa aja."
"Nyanyi boleh?"
Genta tersenyum mendengar pertanyaan Zafran. "Boleh, tapi
jangan keras-keras."
"Iya kan di hutan lindung ada nenek sihir yang terus bertanya
“...di mana anakku, di mana anakku.........................."
Ian menirukan nenek sihir yang suka ada di hutan lindung
dalam film Boneka Si Unyil.
"Eh, jangan bercanda yang enggak-enggak di gunung." Riani
menepuk pundak Ian, "Tau lo, Yan."
Tampang Genta tampak serius melihat Ian. Ian langsung diem,
lehernya mendongak ke langit batinnya berucap lagi, Maap ya.
Sebelum beijalan, Genta melihat lagi ke Arial yang hanya
menanggapinya dengan mengangkat alisnya. Telunjuknya tampak
menyentuh keningnya berulang-ulang.
Iya, apa yang gue takutin kalo gue bilang bisa, gue pasti bisa,
Genta berkata dalam hati.
"Yuk... mari kita kemon, gue di depan, abis itu Riani, Dinda, lan,
Zafran, dan terakhir Rambo. oke?"
"Siip!" Arial memberikan senyum mantapnya ke Genta yang
sedikit membuat semangat dalam diri Genta.
"Yuk berangkat."
"Inget.. jangan bengong, jangan sombong, interval masing-
masing dua meter, jangan lebih," Genta kembali mengingatkan,
dilanjutkan dengan mengayun melangkah tanpa menengok ke
belakang lagi.
Riani sedikit bertatapan dengan Zafran. Mata Riani
memberikan lirikan dan tolehan yang menunjuk ke Genta, yang
ditangkap sebagai "kenapa dia?"
"Iya, nggak biasanya..!," jawab Zafran pendek dan pelan.
Rombongan itu memasuki hutan yang mulai menggelap,
sinar matahari selepas siang seperti enggan menembus dedaunan
lebat. Genta terus beijalan di depan, terus mencoba fokus ke jalan
setapak dan kompas yang di pegangnya. Sesekali ia menengok ke
belakang, melihat apakah teman- temannya masih lengkap. Riani,
Dinda, Ian, Zafran, Arial. Dicermatinya mereka berulang-ulang.
Genta terus melangkah melewati jalan setapak yang semakin
dalam ke hutan, semakin dalam, semakin dalam. Genta tercekat
dalam hati, sepertinya ini jalan udah kita lewatin tadi? Genta
melihat ke belakang lagi, semua di hutan itu tampak sama. Genta
mencoba tetap fokus ke kompasnya, tapi puncak arah sana bener
kok, jalan aja terus, jalan terus fokus... fokus... fokus....
Sama lagi jalannya....
Pohonnya sama....
Sama lagi jalannya, Genta merasakan hal yang
nggak enak di hatinya. Ia nggak peduli pada keadaan, mata dan
hatinya hanya percaya ke kompas, sesekali dia menengok ke
belakang, menghitung teman-temannya.
"Lengkap! Fiuh. "
Dia nggak mau sesuatu yang enggak enak, yang pernah
dialaminya menimpa ke teman-temannya. Sudah hampir satu jam
lebih mereka beijalan, Genta menengok ke belakang, tampak Ian dan
Zafran bercanda. Muka lelah Riani dan Dinda tersenyum. Genta
menghitung lagi. Riani, Dinda, Ian, Zafran, Arial. Riani, Dinda, Ian,
Zafran, Arial. Tapi, tiba-tiba ia membatin heran, kok Teletubbies
bisa ada di belakangnya? Tersenyum manis dengan pipinya yang
tembem.
"Alo Boss... asem amat muke lu, " Ian berujar ke Genta. Genta
tersenyum ke Ian. " Ngapain lo... pindah-pindah? Dibilang
jangan pindah."
"Lo bilang jangan bengong, lo bengong mulu dari tadi.
Diem aja, makanya Ian datang menghibur... hehehe. "
Genta menoleh ke belakang, teman-temannya tampak
tersenyum melihat keduanya. Genta membalas senyum itu.
"Iya yah guenya malah bengong," kata Genta dalam hati
"Alo... saya Ian, marketing Dufan. sekaligus sebuah
branded baru dari Dufan, yaitu gajah bledug warna ungu yang bisa
ngomong, tapi bukan Teletubbies. Untuk diketahui, gajah bledug
merupakan salah satu wahana favorit di Dufan. Membuat gajah
bledug juga gampang, semenjak anak-anak gajah bledug harus
direndem dalam minyak tanah supaya melar dan menjadi besar
seperti saya. Lalu, ulaskan sedikit krim pembesar anu pada perutnya
dan jadilah gajah bledug. Trus kenapa warnanya ungu?
Mudah saja, kasih jus terong tiap pagi Tertarik menikmati
wahana gajah bledug? Datanglah ke Dunia Fantasi, saya ada
penawaran baru bulan ini... masuk dua bayar satu dengan syarat. "
"Apa?" Genta tersenyum nggak bisa menahan tawanya melihat
tingkah Ian.
"Semuanyaaaa...," Ian melihat ke belakang sebentar. "Harus
nyanyi soundtrack- nya Dufan, tapi pelan-pelan. kan
lagi di hutan. Oke?"
Ian menatap ke atas, langit cuma terlihat sedikit karena tertutup
dedaunan hutan. Ian berkata dalam hati menatap ke atas sambil
memelas, Boleh ya? Ian lalu tersenyum.
"Mulai!" Soundtrack Dufan pun terdengar pelan di antara
kerimbunan hutan.
Ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne
Masuki dunia fantasi.. ,
dunia ajaib penuh pesona...
dunia sensasi penuh atraksi..
rekreasi untuk keluarga... marilah
kita pergi sekeluarga
ke dunia fantasi kita... Dunia fantasi kita Ne ne ne ne ne ne ne
ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne ne
Semua tertawa kecil, rombongan ini emang suka mengeksekusi
hal-hal yang nggak mungkin. Genta mulai agak santai sekarang,
hatinya sedikit berteduh di antara panas otaknya. Mereka terus
melangkah. Genta mulai mantap dengan kompasnya, hanya benda
ini yang dia percaya, bukan penglihatannya Soundtrack Dufan
terdengar sayup-sayup di antara lebat hutan Mahameru.
"Edelweis!" "Mana?"
"Itu edelweis... kan?"
"Bunga Abadi....."
"Iya."
"Mana?" Genta berteriak girang, hatinya berteriak, bunga
edelweiss adalah tanda bahwa jalan mereka tidak salah dan mereka
sudah keluar dari hutan.
"Iya... Edelweis... bener. "
Mereka seperti keluar dari sebuah hanggar raksasa, matahari
sore kembali bersinar terang menerangi jalan setapak yang
sekarang penuh dengan ilalang kecil setinggi lutut dan bunga
edelweis di mana mana.
"Wow....."
"Edelweis."
“Jangan dipetik ya...," suara berat Arial seperti
mengingatkan.
"Iya, nggak nggak dipetik." "Satu
boleh?"
Semuanya menggeleng, walaupun gelengan itu
nggak niat, cuma mereka udah janji nggak mau me tik.
"Diperiksa nanti di bawah ya, Ta?" tanya Zafran.
Genta mengangguk. "Iya diperiksa. Tapi biasanya di Ranu Kumbolo
udah diperiksa."
"Trus kalo ketahuan?"
"Ya kayak di mana-mana, harus balikin lagi ke tempat metiknya."
"Kalo di sini, diceburin ke Ranu Kumbolo."
"Hah?"
Genta dan Arial mengangguk.
"Biarpun sudah sampe bawah... harus balikin?"
"Yup."
“Tapi banyak juga yang bandel... yang katanya pencinta alam
malah pamer punya edelweis, pamer bangga ke semua orang bisa
lewat pemeriksaan edelweis."
Genta tersenyum getir. Matanya menatap edelweis yang putih
bersih bergerombol diterpa hangatnya matahari sore.
"Yuk jalan lagi."
"Ntar dulu /cek," Ian masih sibuk motret edelweis, Riani sibuk
merekam.
"Lo mau kemaleman di sini?"
"Nggak."
"Ya udah jalan. Di sepanjang jalan ini semuanya penuh bunga
edelweis... percaya deh."
Mereka berjalan lagi di antara jalan setapak yang penuh dengan
ilalang dan edelweis. Tak henti-hentinya mereka mengagumi
sekeliling yang penuh bunga edelweis... membuat suasana kuning
hangat matahari sore dan putihnya edelweis berpadu indah.
Keindahan taman bunga ini membuat Zafran pengen nyanyi
lagi.
Kulangkahkan kakiku melewati waktu...
Bersama dengan bunga taman hatiku... Yang
selalu menemani... mimpi-mimpi ini... Di dalam
hati dan dalam jiwaku.
Bagaikan bunga bunga ditaman yang sangat indah...
Semerbak wangi tercium dalam cinta, kan kubawa kau terbang
ke atas sana berdua kita raih bulan dan bintang...
[Rindu, Planet Bumi)
Zafran tak lepas melihat sosok Dinda di depannya. Entah kenapa
sesuatu tiba-tiba muncul di kepalanya. Sesuatu yang sangat indah,
yang konsekuensinya harus membuat seorang laki-laki pada
akhirnya harus memutuskan, harus bertanya, harus bilang, apa pun
yang terjadi harus bilang, setiap laki- laki memang punya saat saat
seperti ini...selanjutnya? Belum ada yang tahu. •
Zafran tersenyum mantap melihat Arinda di depannya
tersenyum manis sekali mengaggumi bunga edelweis.
Edelweisku..., batin Zafran dalam hati. (Zafran jadi penyair lagi)
Tak terasa langkah mereka semakin berat kelelahan, pelan-
pelan kembali memasuki rangka dan sendi-sendi mereka.
Keindahan di sekitar membuat mereka lupa akan kekuatan fisik
yang semakin menurun. Keindahan memang salah satu yang
ditawarkan oleh alam pegunungan, tapi bisa juga membunuh pelan-
pelan karena manusia yang terlalu terpesona akhirnya bisa
melupakan batas-batas kelemahan tubuhnya.
Mereka terus berjalan dan berjalan, pohon-pohon di sekitar
mereka tampak berdebu tebal dan menghitam. Jalan setapak itu pun
hampir berakhir. Di depan mereka terlihat jalan setapak mulai
memutus.
"Kita beak di sini."
Mereka kini berada di ujung pinggiran bukit, di depan tampak
lembah kecil menganga seperti bekas sungai yang tak berair. Pasir di
mana-mana, potongan pohon besar sekali dengan akarnya yang
masih terlihat tercabut paksa dari tanah, pohon-pohon mati
tampak melintang di jurang dalam seperti bekas sungai tersebut.
Di sebelah kiri, agak jauh
tampak aliran sungai itu berbelok memasuki hutan gelap, dan di
atasnya Mahameru terlihat semakin jelas dengan galir-galir pasirnya.
Pohon-pohon besar tampak bergelayut hampir jatuh, membuat
suasana di bekas aliran sungai itu terlihat menyeramkan, daun- daun
pohon tampak menghitam dan berdebu. Sepilas semua di situ
terlihat hanya hitam putih menambah kesan mistis dan
menyeramkan.
Semuanya menarik napas panjang, bulu kuduk mereka berdiri.
"Tempat ini menyeramkan." "Ih,
tempat apa ini?" "Serem banget.
..................................."
"Sumpah gue merinding!" "Kita
di................Kalimati."
"Di Kalimati, dari sini kita bisa ngerasain Mahameru
bergetar dan ngeluarin...."
Belum habis Genta berbicara... Brr... kreteeek— kreteek...
kreeetek. Brr... kreeteeek. Partikel abu kecil hitam tampak menghitam
jatuh dari langit.
"Tttt.. aa... TaSa...," kelima temannya berteriak panik, wajah
mereka tampak memendam ketakutan.
Daun-daun tampak bergoyang, sebagian jatuh.
"Subhanallah......"
Semua merasa sesuatu seperti abu dan batu kecil menimpa
wajah dan kepala mereka Partikel-partikel abu kecil beradu dengan
badan mereka.
"Hujan. hujan abu?"
Genta memejamkan matanya. mengambil kacamata.
"Gentleman wear your glasses. V
"Hu... hu... jan de... de... bu. , Ta?"
"Iya. Mahameru semakin dekat"
"Nggak apa apa nih, Ta?"
"Ini salah satu petualangan di Mahameru, kita bisa
ngerasain hujan abu, Mahameru masih aktif sampai sekarang. Kita
nggak pernah tau."
Semuanya merinding merasakan hujan abu. Sejenak semua
terdiam menatap Mahameru yang gagah dengan pasir di mana-
mana... sampai sesak memenuhi Kalimati.
"Pantes namanya Kalimati."
"Kenapa?"
"Iya, kalinya kan udah mati."
"Nggak ada airnya ... cuma pasir."
Genta mencoba menjelaskan pernyataan teman- temannya.
"Betul, tapi sebenarnya ini bukan kali untuk air, Kalimati ini
terbentuk karena aliran lahar Mahameru yang dulu meletus dan
terus turun ke bawah hingga membentuk seperti aliran sungai atau
kali."
"Dan sekarang kali itu mati karena laharnya telah
mengendap atau menjadi pasir...," Zafran coba menyimpulkan.
"Betul!"
“Jadi, waktu meletus lahar yang lewat se... se... sebesar
aliran kali ini?"
Genta mengangguk, "Itu yang gue tau." "Gile.
..............."
Semuanya melihat dari pinggir tebing Kalimati yang
tingginya sekitar lima meter dari dasar. Lebar Kalimati di depan
mereka hampir delapan meter lebih dengan banyak pasir di
bawahnya.
"Trus kita nyebrang ke sana?" Zafran menunjuk ke tebing
seberang sungai dengan hutan cemara dan pinus yang
menghitam berdebu.
Genta mengangguk. "Lewat
mana, Ta?"
"Turun ke bawah, ke Kalimati."
"Udah tempatnya seserem ini, namanya Kalimati lagi."
Semuanya bergidik melihat ke bawah kali yang penuh dengan
pasir dan sisa-sisa pohon yang melintang.
"Ih... Kalimati. " Semua merinding.
“Jam lima lebih... hampir setengah enam," Genta berujar kalem.
Keadaan di Kalimati mulai menggelap. Sore yang mistis dengan
angin gunung yang keras dan hujan abu yang menimpa mereka.
“Jalan lagi yuk, jangan sampai kemaleman. Sebelum malam
kita harus udah di camp."
"Yuk."
"Gue juga nggak mau lama-lama di sini, jangan sampai kemaleman
di Kalimati."
Ian merinding lagi melihat sekitarnya, sinar matahari mulai
melemah, langit tampak membiru kehitaman menunggu malam.
Ujung Kalimati yang membelok menggelap menembus
kedalaman hutan.
Sumpah, serem banget, batin Ian.
Mereka mulai menuruni tebing Kalimati yang curam hanya
dengan berpegangan pada akar pohon hingga sampai di dasar
Kalimati.
"Gile banyak amat merindingnya di sini."
Zafran melihat ke sekitar, ia seperti berada di alam mistis di
dasar kali dengan tebing di depan dan belakangnya. Pohon- pohon
besar yang tergeletak mati dengan akar yang masih beriapan. Ia
melihat lebih lama ke belokan alur sungai yang menuju ke hutan
gelap di samping kirinya, Dibayangkannya apabila lahar seperti air
bah datang begitu saja dan memenuhi Kalimati. Zafran jadi malas
meneruskan imajinasinya.
Semua melihat sekeliling. Dari ketinggian mereka berenam
terlihat kecil sekali seperti berada di dalam pipa alam besar terbuka.
Hitam putih penuh dengan aroma mistis. Angin sore perlahan
bertiup.
"Kaki gue\\\? Riani tiba-tiba terjatuh. Berat
carriemya menahan punggungnya jatuh langsung menghantam dasar
Kalimati.
"Riani...!!!"
Riani tergeletak di dasar Kalimati.
"Riani!!!"
Rombongan itu pun mengerubungi Riani. "Kenapa?"
"Kaki gue tiba-tiba sakit banget, sumpah. Ya ampun sakit banget.
Sakiiiiit!"
"Tenang, buka sepatunya...," Zafran cepat membuka sepatu
Riani, membuka kaos kakinya.
"Ihh. " Semuanya bergidik. Riani ikut bergidik.
Kaki putihnya tampak membiru hitam di mana mana. Urat-urat
biru tampak menonjol jelas, bekas-bekas kapalan seperti
menghitam.
"Kaki gue kenapa?" Wajahnya masih meringis menahan sakit.
Riani nggak percaya melihat kakinya yang penuh warna gelap.
"Kebanyakan jalan."
"Nggak apa kok?
"Sakiiiit. " teriakan Riani terngiang pelan di Kalimati.
"Cuma kram. "
Arial mencengkram telapak Riani dan
membengkokkannya ke arah dalam.
"Lurisin, Ni. jangan bengkok."
"Ah... ah. sakit banget"
"Shhh... tenang..., Ni...." Arial terus membengkokkan telapak
Riani.
Aliran darah mulai berjalan lancar, terlihat dari muka Riani
yang tampak tidak kesakitan lagi.
"Ruh... fiuh......"
"Minum, Ni. ," Ian mengacungkan botol air mineralnya.
Riani membasahi tenggorokannya. Sejuk air di
tenggorokannya membuat badannya sedikit lega.
"Fiuh......"
Tarikan napas panjang lega mereka berenam terdengar jelas
di dasar Kalimati.
"Istirahat sebentar aja dulu." "Di
sini?" tanya Ian segan.
Genta menengok ke kiri-kanannya. Hatinya juga malas istirahat
di dasar Kalimati dengan pemandangan yang menyeramkan itu.
Genta mengangkat bahunya sedetik.
"Terpaksa."
Hujan abu turun lagi. Riani masih terduduk lemas. Dinda
memijit-mijit kakinya.
"Kaki gue jelek banget.. . .Sumpah!"
Riani tersenyum enggan melihat kakinya yang dihiasi bekas
hitam dan biru di mana mana. Semua tersenyum melihat Riani
ngata-ngatain kakinya sendiri.
"Kita kebanyakan jalan, kurang break."
"Iya yah... kemarin kita break mulu,
sekarang nggak berhenti-berhenti."
"Pemandanganya tadi bikin kita terhipnotis. keren
banget di mana-mana."
"Tapi sebenarnya badan kita minta istirahat."
"Gila gue pemah kram, tapi nggak pemah sehebat ini sakitnya,
nggak mau lagi deh gue. Tadi tuh bos-nya kram," ujar Riani.
"Iya, kram karena capek banget.. nggak biasa." “Jangan-
jangan........................" Zafran cepat melepas sepatunya.
"Ih.....ya ampun." Kaos kaki putih Zafran penuh darah.
"Ih.....Juple, lepas."
"Lecet gueV
Udara dingin yang datang dan menerpa lecetnya membuat
Zafran meringis. Ia membuka kaos kakinya pelan sekali. Zafran
meringis menahan sakit kala kaos kakinya melewati bekas lecetnya.
"Ya ampun...," Dinda meringis.
Lecet Zafran tampak melebar dan mengeluarkan sedikit nanah
dan banyak darah.
"Kok nggak terasa ya? Gawat...," Zafran bengong melihat
lecetnya.
"Betadine, perban, cepeL.. cepet." Genta berteriak agak panik
"Untung lo liat, Ple. "
"Bisa nggak kerasa, banjir darah ini di kaki gwe," Zafran
meringis.
Genta bergidik dan memperhatikan teman-temannya satu-
satu, melihat kaki Zafran yang berdarah, hatinya merasa bersalah.
"Yang lain nggak ada yang aneh kan di kakinya?" "Enggak."
"Tapi nanti aja diliat."
Angin sore bertiup kencang sekali.
"Su... su... mpah di... dingin banget, badan gue kayak ditusuk-
tusuk."
Udara menjelang magrib menyapu mereka.
"Ple... lo nggak pa-pa kan? Maksud gue nggak pusing- pusing?
Darah lo banyak yang keluar tuh." Arial memegang bahu Zafran.
"Nggak...\ nggak pa-pa... bener. Gue cuma perlu
istirahat"
"Kita semua... harus istirahat. "
"Kita nggak langsung ke puncak malam ini kan, Ta?"
"Enggak lah, nggak mungkin... dari pertama rencananya emang
kita ng e-camp dulu malam ini,... ngumpulintenaga."
"Dingin apa nih?" Angin sangat dingin kembali melewati mereka.
"Yuk berangkat!" Zafran memakai sandalnya, sepatunya ia
gantung di carrier.
"Mbak Riani gimana?" Dinda masih melihat iba ke Riani. "Udah
kok... yuk berangkat... gue juga enggak mau lama-
lama di sini. Tambah lama tambah serem...," ujar Riani sambil
melihat sekitar, kedalaman hutan di kejauhan makin tidak terlihat,
tersapu gelap.
"Oh iya......Semuanya pegang senter dulu."
"Udah!"
"Yuk."
Rombongan itu melangkah lagi, naik ke tebing Krtlliiiun H HI
memasuki hutan cemara yang sudah mulai menggdiip Mn > l a
lerus beijalan melewati dalam hutan, keluar melcvvHil «fitnah
padang ilalang kecil. Malam pun segera datang niniyrtMibu»
Mereka terus mendaki masuk ke kedalaman hutan.
Treq. Genta menyalakan senternya. diikuti yang liim "Fiuh
udah malam."
Gelap sekali. Pohon-pohon besar dan cemara tampuk [ijritM
Iiitam, sesekali hujan abu turun, ribuan atau bahkan pulutmu
ribu partikelnya tampak jelas berjatuhan terkena lampu WHlrl
Kegelapan hutan dan malam yang dingin membuat bulu kuiliil
berdiri.
"Deket-deket aja ya jalannya dan jangan ada yang ben^«
n*
< Jenta menatap teman-temannya satu-satu.
Mereka melewati padang ilalang yang kecil lagi, pemain
IMMI an di sekitar mereka sangat gelap membuat semuanya
terdlum (“renta jadi ingat kembali kesendiriannya di hutan.
"Ta, liat Ta..." Ian berkata pelan sambil menunjuk ke
bukti
< emara dengan beberapa cahaya kecil di depan mereka
"Arcopodo...!" Genta menunjuk daerah tempat cahaya
cahayu kecil tadi muncul.
"Kita nge-camp di sana, di antara pohon, nggak terlalu dingin,"
Wajah Genta tampak pucat, uap dingin keluar dari mulutnya
"Lo capek, Ta?" Arial menatap Genta tajam.
Genta diam saja. Dia memang mulai merasa lelah sekali, lapi dia
tahu kelima temannya ini mengandalkan dirinya, dia nggak boleh
menurunkan mental mereka. Untuk sekarang Genta adalah
pemimpin di rombongan kecil ini dan pada saat ini dia ngqak
boleh ngeluh, nggak boleh ngomong “ nggak tau”, dan nggak boleh
nggak bisa ngambil keputusan.
"Semakin ke atas semakin tipis udaranya, napas jadi agak
susah."
"Iya....."
"Ya ampun dingin banget"
Mereka mulai mendaki bukit hutan cemara itu. Cahaya- cahaya
kecil senter dan api di punggung bukit membuat mereka merasa
sedikit lega.
Seenggaknya tidak sendirianlah, Zafran berkata dalam
hati.
Mereka terus mendaki dan akhirnya bernapas lega,
melewati beberapa tenda kecil dengan para pendaki yang
bercengkerama mengitari api unggun, menyambut mereka dengan
anggukan dan senyum.
"Fiuh...," semuanya menarik napas lega.
"Ketemu manusia juga."
Entah kenapa, biarpun nggak ada satu pun yang mereka kenal di
situ, semuanya seperti kawan yang lama hilang dan baru ketemu
lagi. Ada kebersamaan di situ. Salah satu pendaki tersenyum
menegur Genta.
"Baru sampai, Mas?"
"Oh iya, Mas," jawab Genta.
Rombongan itu lewat di antara tenda-tenda dengan
beberapa pendaki, kebanyakan berusia muda— memperhatikan
mereka satu per satu. Wajah mereka agak kaget campur salut ketika
melihat Riani dan Dinda—sesuatu yang membuat Riani dan Dinda
merasa senang sekali malam itu.
Seorang pendaki wanita yang sedang merebus air tiba-ti berdiri
dan tersenyum ramah sekali ke Riani dan Dinda.
"Baru sampai, Kak?"
"Iya," jawab Riani dan Dinda pendek.
Genta menarik napas lega. Matanya menangkap sebuah tanah
kosong cukup luas yang dari tadi ia cari. Tanah itu lebih dari
cukup untuk ukuran tendanya yang besar.
"Fiuh... ketemu juga tempat buat ng e-camp*"
Buk! Genta menurunkan carrier- nya, terduduk lemas kelelahan,
entah kenapa kepalanya sedikit pusing malam itu.
Malam itu Arcopodo seperti perkampungan kecil para pendaki.
Malam yang dingin pun menjadi hangat karena banyak pendaki
yang bercengkerama mondar-mandir di antara nyala api unggun
dan pohon cemara. Kehangatan yang tidak biasa mereka temukan di
ketinggian seperti ini. Sesekali mereka mendengar tawa renyah
para pendaki. Setelah mendirikan tenda dan membuat api unggun
kecil mereka pun makan malam.
"Semua harus makan banyak malam ini, kita perlu tenaga
ekstra. Yang nggak doyan makan tetap harus makan," perintah
Genta.
Dengan baju yang berlapis-lapis, malam itu mereka mencoba
melawan hawa dingin yang luar biasa. Untungnya, kehangatan tawa
dan banyaknya pendaki di sekitar mereka sedikit mengurangi
terpaan angin dingin.
"Ki... ki... ta u... u... dah ting... gi ba... nget ya. "
"Udah di bawah lima derajat kali ya?"
"Udah di tiga ribu meter."
Genta mengangguk
"Makanya udah tipis udaranya, mulai susah napas." Zafran
menyalakan api unggun dan mengamati sekitarnya— hutan ccmara
di ketinggian itu yang tampak memberikan aroma alam yang lain.
"Kenapa daerah ini namanya Arcopodo, Ta?" tanya Zafran.
"Asal katanya dari bahasa Jawa Arco atau^4rca yang artinya
patung, dan podo yang artinya sama atau kembar. "
"Maksudnya?"
Sebelum Genta menjawab, Ian langsung menyimpulkan, "Berarti
di sini ada patung atau arca yang kembar atau
sama.
Bener nggak, Ta?"
Genta tersenyum dan mengangguk. "Ooo.
..............."
Genta terus menjelaskan, "Di sini, di Arcopodo, memang ada dua
buah patung atau arca kembar peninggalan kerajaan Jawa tempo
dulu."
"Asik... kita bisa ngeliat dong patungnya." Mata Zafran berbinar-
binar.
"Patungnya ada di mana? Mau dong ngeliat." Kecuali Genta,
yang lain mengedarkan pandangan ke sekitar.
Genta tersenyum sedikit.
"Kita nggak bakal bisa ngeliat patung itu "
"Yaa... kenapa? Udah hilang atau rusak ya?" Kelima
temannya tampak kecewa.
"Enggak, masih ada, masih utuh, masih bagus malah," jawab
Genta.
"Trus kenapa nggak bisa diliat?" Riani makin penasaran.
"Palung arca itu memang ada di sini dari dulu. Tapi sejak
dibuat, patung itu memang hanya diperuntukkan bagi mereka
yang memiliki kelebihan: bisa “melihat” yang orang biasa tidak lihat."
Jari-jari tangan Genta membentuk tanda kutip pada kata, melihat.
"Oh......"
"Tapi beneran kan, kalo ada yang bisa “melihat”, arca kembar
itu bisa tampak?" Riani penasaran dan terus bertanya ke Genta.
"Dari yang pernah gue baca tentang Mahameru, memang ada
beberapa orang yang pernah melihat patung arca kembar itu di sini.
Tapi dari kesaksian mereka, kadang-kadang orang yang tadinya
biasa-biasa aja juga bisa melihat kalo mendadak saat itu diberi
anugerah untuk itu."
"Oh."
"Menurut mereka yang bisa melihat, sebesar apa patung arca
kembar itu?" tanya Zafran.
Genta tersenyum, matanya berputar melihat ke sekitar
Arcopodo. Daun-daun cemara tampak menghitam terbungkus
malam.
"Macam-macam. Ada yang bilang sebesar anak kecil, ada yang
bilang segede manusia dewasa, tapi ada juga yang bilang besar
sekali sampai terlihat dari Kalimati. Dan, saking besarnya ada
yang pernah melihat dari tempat kita ng e- camp sekarang ini. Kita
sedang berada di pangkuannya."
Pori-pori keenam anak manusia di rombongan kecil itu
membesar, tarikan napas panjang jelas terdengar.
"Merinding gue" Zafran mengangkat bahunya sedetik dan
mengedarkan pandangan ke seputar Arcopodo.
"Sama!"
Rombongan kecil itu saling memandang satu sama lain, juga ke
sekitar hutan cemara dan langit malam yang penuh dengan bintang.
Udara dingin menerpa wajah mereka. Rambut-rambut kecil sedikit
beriapan tertiup angin malam Arcopodo. Genta secepatnya mencoba
mengakhiri obrolan yang bernuansa mistis Itu.
"Rebus aja air yang banyak, bikin teh manis untuk nanti malam."
"Nanti malam memang ada apa?"
"Nanti malam kita naik... ke Mahameru." “Jam
berapa?"
"Sekarang jam berapa?"
"Jam delapan kurang sepuluh."
"Berarti kita harus udah tidur sebelum jam sembilan...
nggak ada yang ngobrol-ngobrol lagi, semuanya tidur."
"Kita punya waktu istirahat lima jam lebih. Kita nanti bangun
jam setengah tiga dan langsung naik.... Kita harus istirahat supaya
bisa sampai ke puncak."
Genta diam sejenak, lalu meneruskan, "Tinggal dalam hitungan
jam kita sampai puncak."
"Nanti kita ke puncak bawa back-pack kecil aja kan, Ta? tanya
Arial.
"Iya."
"Ha?" Riani bengong.
“Jadi kita ke atas cuma bawa back-pack aja, Ta?"
"Iya, isi aja sama makanan, air, dan P3K, kamera atau
" handy cam."
"Semua yang lain tinggal di tenda."
"Kenapa, Ta?" tanya Ian.
"Semuanya begitu. Tinggal di tenda. Dari dulu semua pendaki
begitu. Terlalu berat ke atas bawa carrier,medannya juga nggak
mungkin. Beratnya carrier bisa bikin celaka, kecuali kita udah
biasa."
"Segitunya, ya."
“Jadi semua ditinggal di sini? Di tenda, sama tenda- tendanya?"
"Iya."
"Kalo ada yang ngambil barang-barang kita?"
"Siapa yang berani? Di tempat ini, Mahameru membuat
nggak ada orang yang mau berpikiran jadi maling di sini."
"Oh."
“Jadi, track- nya nggak seperti sebelumnya?"
"Nggak). Beda banget, nanti malam kita baru bener-bener
mendaki."
"Bener-bener mendaki?" Ian bengong sendiri sambil menatap
kosong api unggun.
"Yup. Malam ini...," Genta memejamkan mata, sesuatu di hatinya
memberikan suatu kemungkinan terburuk yang semenjak awal
nggak mau Genta bayangkan. Tapi sekarang, setelah di sini, mau
nggak mau kemungkinan terburuk itu pasti ada, dan nggak ada
yang pernah tahu apakah kemungkinan buruk itu akan menimpa
mereka. Ditatapnya langit malam, dikirimnya doa dari dalam hatinya,
" Tonight is the night."
“Jam sembilan harus tidur semua... setuju?" Genta berkata
tegas sambil melihat teman-temannya satu per satu.
"Siiip!"
"Oke Bos!"
"Setelah doa, cuma disiplin yang bisa bikin kita selamat di
sini."
***
Setelah menghabiskan makan malam satu per satu, mereka
mulai masuk ke tenda yang hangat Di dalam tenda mereka
melepaskan lelah, biarpun udara sangat dingin masih terasa
menerpa-nerpa di sela-sela kehangatan itu. Dari dalam tenda,
bayangan api unggun buram, bunyi batang kayu yang terbakar dan
cengkerama para pendaki terdengar jelas di antara suara
; ingin malam yang berembus kencang.
"Fiuhh, lumayan juga bisa selonjoran."
Zafran merebahkan badannya, matanya menghadap ke dinding
parasut tenda yang sedikit bergoyang tertiup angin, bayangan api
unggun kuning kemerahan hinggap tidak jelas di matanya.
Tiba-tiba Zafran mendesis pelan, "Potongan-potongan
kejaiban hati sudah tertinggal di antara keindahan yang telah
terlewati dan menyentuh hati ini. Potongan-potongan itu ada di
Ranu Pane, di Ranu Kumbolo, di indahnya padang ilalang, di
Indahnya padang edelweis, di Kalimati, dan sekarang di sini...
di Arcopodo. Entah nantinya kan di mana lagi, di setiap
potongan itu tertinggal, di setiap bagian dari hati ini akan
mengingatnya, dan diri kita pun tidak akan pemah sama seperti kita
sebelumnya."
"Keren, Ple." Ian menoleh ke Zafran di sebelahnya.
Malam itu, kelelahan membuat mereka cepat terlelap di bawah
barisan cemara berdebu di Arcopodo. Mahameru masih diam dengan
gagahnya.
Pukul 02.20 maiam, dingin di atas tiga ribu meter
Rombongan itu berdiri di depan tenda. Keenam anak manusia
itu tertegun melihat Mahameru dalam gelap malam. Mahameru
seperti berdiri megah di antara ranting-ranting cemara Arcopodo.
Barisan lampu-lampu kecil tampak berbaris seperti semut
bercahaya di jalur pendakian.
"Udah ada yang naik dari tadi." "Ta.
............"
"Iya, Yan."
"Itu cahaya senter pendaki, Ta?" "Iya.
............."
Semuanya menarik napas panjang, dingin yang amat sangat
menusuk- nusuk lapisan kain yang sudah bertumpuk sekenanya,
mengurangi dingin malam. Riani tersenyum
melihat berbagai macam jaket bertumpuk di badan Ian. Badannya
jadi tidak berbentuk.
"Berapa lapis, Yan?"
"Lima."
"Lo, Ni?"
"Sama."
"Gue tujuh lapis, badan gue ceking gini, nggak ada
lemak."
Zafran bengong melihat badannya yang udah tidak
berbentuk lagi.
Brr... brr... brr... kleteL...
Hujan abu turun lagi.
"Semuanya bawa kacamata?" Genta menatap teman- temannya.
"Bawa....."
"Senter?"
"Consider it donel"
Treq... treq... treq... treq... enam cahaya senter menerangi
wajah mereka masing-masing.
"Air, makanan, P3K."
"Done\n
"Siap!"
"Berdoa. Dipersilakan. "
Semua berkumpul membentuk lingkaran kecil, tangan mereka
saling berangkulan. Semuanya menunduk terdiam.
Suara desis doa terdengar sayup-sayup, mata mereka sedikit
memburam. "Berangkat..!"
Rombongan mulai bergerak, beijalan melewati hutan cemara
yang gelap. Beberapa rombongan pendaki terlihat beijalan di depan
dan belakang mereka dengan bawaan seadanya. Malam dini hari
itu, Arcopodo penuh dengan cahaya kecil dan uap hangat yang
keluar dari mulut para
pendaki yang beijalan menunduk kedinginan, sesekali mencoba
mengucap syukur akan apa yang alam telah berikan kepada mereka.
Angin malam terbang ke langit membawa kedekatan mereka kepada
Sang l”encipta, membuat mereka berani menyusuri ketidakpastian
dan keajaiban alam, serta bahaya yang selalu mengancam kapan saja
di tanah tinggi ini. Semesta dan isinya tidak pernah mengajari
bagaimana mereka berani mati di sini, tapi bagaimana mereka
berani hidup.
Arcopodo seperti penuh dengan hangatnya kebersamaan
;intara sesama anak manusia yang mungkin belum pernah
mengenal satu sama lain. Tetapi, di antara langkah- langkah
pendakian mereka, terasa kehangatan yang membuat setiap bibir
selalu tersenyum kepada siapa saja. Beribu bintang yang
bertebaran indah pun seakan ikut tersenyum, merasakan malam
dingin yang menghangat karena kekuatan hati manusia saat itu. Di
malam ini, di dini hari ini, di negeri yang indah ini, di hari ini., tanggal
tujuh belas Agustus.
Innalillahi wa inna illaihi rojiun.
Di sini bersemayam dengan tenang sahabat terbaik dan saudara
yang akan selalu kami kenang karena keberaniannya, karena
kejujurannya dan keajaiban hatinya yang telah membuat kami
bisa selalu tersenyum apabila
[Link], namamu akan selalu ada di dalam hati kami
Beristirahatlah dengan tenang di tanah air yang selalu kita
cintai ini
ADRIAN. A. SUMARNO
Lahir:
Bandung, 02 Agustus 1978 Wafat:
17 Agustus 2000
Arcopodo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Riani
tertegun menunduk dan berdoa, Genta menahan napas, Dinda
memejamkan matanya, Zafran terdiam, matanya melihat kosong ke
langit Arcopodo. Arial memegang batu nisan berdebu itu, cahaya
senter Ian menerangi tulisan yang
terukir indah di batu nisan. Di antara pohon cemara berdebu,
beberapa bunga pemakaman tampak masih tergeletak segar di
sekitar batu nisan, berserakan di jalur pendakian Mahameru. Angin
malam berembus kencang sekali membawa butir-butir pasir
Arcopodo beterbangan.
"Temennya Deniek," Riani sedikit berbisik ke teman- temannya.
"Iya....."
"Bunganya masih segar, Deniek baru aja lewat sini. Kan kemarin
dia bilang mau ziarah."
"Iya....."
Ian masih melihat dalam diam, baru sekarang dia melihat
namanya sendiri terukir di batu nisan. Angin dingin seperti masuk ke
dalam hatinya, mengelus hatinya dengan berbagai macam cara yang
membuat Ian kembali menarik napas panjang.
"Eh... ada surat" Mata Genta melihat selembar kertas folio
penuh dengan tulisan tangan ditempelkan ke batu nisan.
“Jangan dibaca, Ta."
"Cuma ditempel begini kok\ Jelas bisa dibaca." Genta
mengambil selembar kertas folio yang penuh dengan tulisan tangan
itu.
Keenamnya duduk. Dengan cahaya senter seadanya mereka
membaca tulisan tangan yang rapi di kertas folio.
Mereka berenam tertunduk, Riani dan Dinda tidak bisa
menahan air matanya, bahu Ian berguncang seseggukan, Zafran
tertunduk matanya berair, Genta menggenggam keras pasir
Arcopodo di tangannya. Arial membersihkan debu-debu di nisan itu
dengan tangannya.
"1978. seumuran kita."
"Eh ada fotonya."
Di balik selembar folio itu tampak Deniek, Oscar, dan satu lagi
seorang mahasiswa botak berwajah ceria dengan jaket almamater,
berdiri di depan gedung MPR memegang bendera merah putih.
"Yang pegang bendera pasti Adrian."
"Iya... tampangnya kayak tampang teman-teman kita sendiri."
"Sekarang memang dia udah jadi teman kita. "
Semuanya menunduk dan berdoa untuk Adrian yang dalam
sekejap telah mengisi hati mereka di antara dinginnya Arcopodo.
"Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa
memberikan manfaatnya bagi orang lain."
Deg. Hati mereka seperti menabrak sesuatu yang tidak terlihat
Semuanya menarik napas panjang, melihat ke langit malam, mata
mereka sedikit terpejam.
Pertanyaan-pertanyaan seperti datang menghunjam turun dari
langit malam.
"Kalau kita melihat ke dalam diri sendiri, kita udah jadi manusia
yang seperti itu belum sih?"
"Apakah kita sudah menjadi manusia yang bisa memberi
manfaat bagi orang lain?"
"Bukan manusia yang selalu mementingkan diri sendiri,
manusia yang terlalu mencintai dirinya sendiri."
Suara sesenggukan dan napas satu-satu menahan sesak di
dada mereka, mengisi pendengaran di jalur pendakian Mahameru.
Angin yang dingin semakin menusuk seluruh persendian,
embusannya seperti menampar muka mereka satu-satu.
"Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa memberi
manfaat bagi orang lain."
Beberapa tetes air mata tampak membasahi permukaan pasir
Arcopodo.
"Udah belum ya? Gue punya manfaat buat orang lain."
"Udah belum yaa? Gue bisa ngasih sesuatu dalam diri gue
yang bisa buat orang lain bahagia, bisa membuat orang lain
bernapas lebih lega karena ada gue di situ."
"Ancur banget gue."
"Sepertinya belum."
"Iya, gue mikirin diri gue melulu dari dulu."
"Nggak pernah mikirin orang lain, apalagi ngasih manfaat."
" Gue gue gue dan gue."
"Manfaat?" "Udah
belum?"
"Mudah-udahan belum terlambat."
Mata Dinda tampak berair, ia memandang ke atas langit malam
dan memberikan senyumnya.
"Terima kasih."
Semuanya tertegun melihat Dinda, hati mereka seperti
merasakan yang Dinda rasakan. Dalam hati mereka pun terujar
ucapan yang sama.
"Kalo Tuhan sudah memberikan kebebasan bagi setiap manusia
untuk memilih, gue mau memilih jadi seseorang yang selalu bisa
memberikan manfaat bagi orang lain."
Angin dingin Arcopodo mengembus pelan, membelai wajah
mereka yang mendongak ke langit. Desir-desir suara angin di
dedaunan terdengar seperti alunan keindahan di telinga mereka.
Entah kenapa langit malam dengan beribu bintangnya menjadi
semakin indah di mata mereka, ranting pohon dan dedaunan
bergerak lambat, mencoba menggapai langit malam, membuat
mereka merasa dekat sekali dengan Sang Maha Pencipta. Mungkin
ucapan terima kasih itu terdengar.
"Selamat jalan sahabat, kita nggak pernah kenal kamu, tapi
semangat kamu sekarang ada di hati kami."