LAPORAN PENDAHULUAN
DIABETES MELITUS (DM)
STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
RSUD RADEN MATTAHER PROVINSI JAMBI
Di Susun Oleh :
Tasya Isra Salsbilla USN (G1B223057)
DOSEN PEMBIMBING AKADEMIK :
Ners. NurHusna, [Link]., [Link]
Ners. Putri Irwanti Sari, [Link]., M.,Kep
Ners. Andika Sulistiawan, [Link]., [Link]
PEMBIMBING KLINIK :
Ns. Helfiana, [Link]
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2024
KONSEP DASAR
DIABETAS MELITUS (DM)
1. Defenisi
Penyakit Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang
ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat
adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh. Gangguan
metabolisme tersebut disebabkan karena kurangnya produksi hormon
insulin yang diperlukan tubuh. Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit
kencing manis atau penyakit gula darah. Penyakit diabetes merupakan
penyakit endokrin yang paling banyak ditemukan(Susanti, 2019).
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit yang diakibatkan terganggunya
proses metabolisme glukosa di dalam tubuh yang disertai berbagai
kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan
berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah,
disertai lesi pada membran basalis dengan karakteristik hiperglikemia
(American Diabetes Association, 2023).
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa DM
adalah penyakit metabolik ketika tubuh tidak dapat menghasilkan cukup
insulin atau tidak dapat menggunakan insulin yang ditandai dengan
ketidak mampuan tubuh untuk melakukan metabolisme karbohidrat
lemak dan protein sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa dalam
darah yaitu gula darah sewaktu melebihi 200 mg/dl dan gula darah puasa
melebihi 126 mg/dl.
2. Etiologi
Dapat bekerja dengan baik, yang menyebabkan berbagai gejala dan
gangguan kesehatan. Pada penderita diabetes, glukosa dalam darah tidak
dapat masuk ke sel tubuh sehingga kehilangan sumber energi yang biasa.
Tubuh mencoba membuang kelebihan glukosa dalam darah dengan
mengeluarkannya melalui urin, dan menggunakan lemak dan protein (dari
otot) sebagai sumber energi alternatif. Hal ini mengganggu proses tubuh dan
menyebabkan gejala diabetes. Akibatnya, glukosa menumpuk di dalam
darah dan menyebabkan gejala seperti mengeluarkan banyak air seni,
karena tubuh Anda mengeluarkan kelebihan glukosa dengan menyaringnya
ke dalam urin. Karena tubuh Anda tidak dapat menggunakan glukosa untuk
energi, ia menggunakan otot dan simpanan lemaknya, yang dapat
menyebabkan gejala seperti penurunan berat badan. Kadar glukosa darah
yang hanya sedikit.
Penyebab dari penyakit diabetes melitus (Susanti, 2019)
a. Genetik Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor risiko dari
penyakit Diabetes Melitus. Sekitar 50% penderita diabetes tipe 2
mempunyai orang tua yang menderita diabetes, dan lebih dari
sepertiga penderita diabetes mempunyai saudara yang mengidap
diabetes. Diabetes tipe 2 lebih banyak kaitannya dengan faktor
genetik dibanding diabetes tipe 1.
b. Ras atau etnis Di Amerika, Hispanik dan orang Amerika Afrika,
mempunyai risiko lebih besar untuk terkena diabetes tipe 2. Hal
ini disebabkan karena ras-ras tersebut kebanyakan mengalami
obesitas sampai diabetes dan tekanan darah tinggi.
c. Obesitas merupakan faktor risiko diabetes yang paling penting
untuk diperhatikan. Lebih dari 8 diantara 10 penderita diabetes
tipe 2 adalah orang yang gemuk. Hal disebabkan karena semakin
banyak jaringan lemak, maka jaringan tubuh dan otot akan
semakin resisten terhadap kerja insulin
d. Metabolic syndrome adalah suatu keadaan seseorang menderita
tekanan darah tinggi, kegemukan dan mempunyai kandungan gul
dan lemak yang tinggi dalam darahnya. Menurut WHO dan
NCEP-ATP III, orang yang menderita metabolic syndrome adalah
mereka yang mempunyai kelainan yaitu tekanan darah tinggi
lebih dari 140/90 mg/dl,
e. Pola makan dan pola hidup Pola makan yang terbiasa dengan
makanan yang banyak mengandung lemak dan kalori tinggi
sangat berpotensi untuk meningkatkan resiko terkena diabetes.
Adapun pola hidup buruk adalah pola hidup yang tidak teratur
dan penuh tekanan kejiwaan seperti stres yang berkepanjangan,
perasaan khawatir dan takut yang berlebihan dan jauh dari nilai-
nilai spiritual.
f. Usia Pada diabetes melitus tipe 2, usia yang berisiko ialah usia
diatas 40 tahun.
g. Riwayat endokrinopati yaitu adanya riwayat sakit gangguan
hormone (endokrinopati) yang melawan insulin seperti
peningkatan glukagon, hormone pertumbuhan, tiroksin, kortison
dan adrenalin.
h. Riwayat infeksi pancreas yaitu adanya infeksi pancreas yang
mengenai sel beta penghasil insulin. Infeksi yang menimbulkan
kerusakan biasanya disebabkan karena virus rubella, dan lain-lain
i. Konsumsi obat yang dimaksud ialah riwayat mengonsumsi obat
obatan dalam waktu yang lama seperti adrenalin, diuretika,
kortokosteroid, ekstrak tiroid dan obat kontrasepsi.
3. Patofisiologi
Gambaran patologi pada penderita Diabetes Melitus dapat
dihubungkan dengan salah satu efek akibat kurangnya insulin. Kurangnya
penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh yang mengakibatkan peningkatan
konsentrasi glukosa dalam darah yaitu 300-1200 mg/dl. Peningkatan
pergerakan lemak di tempat penyimpanan lemak yang menyebabkan
metabolism lemak menjadi tidak normal. Penderita yang mengalami
defisiensi insulin tidak mampu untuk mempertahankan kadar glukosa
puasa yang normal. Apabila terjadi hiperglikemi yang melebihi batas
ginjal normal 160-180 mg/ 100 ml, dapat menimbulkan glikosuria karena
tubulus-tubulus renalis tidak mampu menyerap kembali semua glukosa.
Glukosuria dapat mengakibatkan diuresis osmotic yang
menyebabkan poliuri. Dimana poliuri disertai dengan adanya kehilangan
sodium, klorida, potassium dan fosfat. Poliuri dapat menyebabkan
dehidrasi kemudian polidipsi. Selanjutnya glukosa akan keluar bersama
urin sehingga pasien mengalami keseimbangan protein negative dan berat
badan yang menurun. Penurunan berat badan menimbulkan polifagi.
Penderita akan mengalami asthenia atau berkurangnya energy sehingga
penderita akan lebih cepat merasa lelah dan mengantuk, hal ini
disebabkan oleh hilangnya protein dalam tubuh dan pengurangan
terhadap penggunaan karbohidrat unruk energi.
Apabila hiperglikemi dibiarkan dalam jangka waktu yang lama
maka akan mengakibatkan arteriosclerosis, adanya penebalan membrane
basalis dan terjadinya perubahan pada saraf perifer. Hal ini
mengakibatkan terjadinya ganggren pada penderita dengan defisiensi
insulin. Biasanya pasien dengan defisiensi tidak mampu mempertahankan
kadar glukosa normal (A & Wlison, 2006).
4. Pathway
Sumber : SDKI (2017), Deliana,dkk (2018), Padila (2019), Rendy (2019)
5. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari penyandang DM di bagi menjadidua yaitu
gejala klinis klasik dan gejala umum (Widiasari K, Dkk, 2021). Gejala
klasik dari diabetes melitus adalah :
Gejala klasik dari diabetes melitus adalah :
a. Polidipsia yaitu keadaan sering merasa haus
b. Polifagia keadaan dimana sering merasa lapar sehingga
makan berlebihan
c. Poliuria yaitu sering buang air kecil
d. Penurunan berat badan yang penyebabnya tidak dapat
Dijelaskan. Sedangkan gejala umum antara lain :
a. Kelelahan yaitu keadaan pasien yang mengalami DM sering
lelah walaupun tidak beraktifitas.
b. Kegelisahan keadaan pasien sering merasa gelisah walaupun
sedang baik – baik saja.
c. Nyeri tubuh yang dimana biasa pada pasien DM sering
mengalami nyeri sendi dikarenakan neuropati diabetic alias
kerusakan saraf yang dipicu penyakit metabolic tersebut.
d. Kesemutan
e. Mata kabur, gatal yaitu pandangan kabur dan gatal pada
seluruh badan
f. Disfungsi ereksi pada pria, yaitu kondisi penis pria tidak bisa
mendapatkan ereksi atau mempertahankan ereksi untuk
mempertahankan ereksi untuk dapat penetrasi sampai ejakulasi
saat berhubungan seksual dengan pasangan.
g. Serta pruritus vulva pada wanita yaitu gangguan yang ditandai
dengan sensasi gatal dari alat kelamin eksternal perempuan
6. Faktor Resiko
Menurut kemenkes (2019) faktor risiko diabetes melitus
diantaranya sebagai berikut:
a. Kegemukan (Berat badan lebih /IMT > 23 kg/m2) dan Lingkar
Perut (Pria > 90 cm dan Perempuan > 80cm)
b. Kurang aktivitas fisik
c. Hipertensi/ Tekanan darah Tinggi (> 140/90 mmHg)
d. Diet tidak seimbang (tinggi gula, garam, lemak dan rendah
serat)
e. Riwayat penyakit jantung
7. Pemeriksaan Penunjang
Menurut (Paulus Subiyanto., 2019), untuk memastikan seseorang
menderita Diabetes Melitus diperlukan skrining pemeriksaan kadar
glukosa darah dengan nilai satuan yang dinyatakan dalam milligram
per desiliter (mg/ dL) atau milimoles per liter (mmol/ L). Beberapa
cara pemeriksaan kadar glukosa darah untuk menegakkan diagnosis
Diabetes melitus sebagai berikut:
a.
Pemeriksaan glukosa darah puasa 126 mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak ada asup
b.
Pemeriksaan glukosa darah 200 mg/dl 2-jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral
c.
Pemeriksaan glukosa darah sewaktu 200 mg/dl dengan keluhanklasik. d. Pemerik
8. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
Sesuai (Perkeni, 2021) individu dengan diabetes melitus
memerlukan pertimbangan yang sah dalam pemberian klien diabetes
melitus, ada 4 (empat) poin pendukung, untuk lebih spesifiknya:
1) Obat anti hiperglikemik oral
Berdasarkan cara kerja obat dapat dibagi menjadi 5 (lima)
golongan, (perkeni, 2021), yaitu:
a. Pemacu sekresi insuin (Insulin secretagogue)
● Sulfoniluera
Kelas obat ini memiliki dampak mendasar untuk
memperluas pelepasan insulin oleh sel beta pankreas. Efek
super sekunder adalah hipoglikemia dan penambahan berat
badan. Berhati- hatilah dalam menggunakan obat ini pada
klien dengan risiko hipoglikemia yang tinggi (usia lanjut,
gangguan fungsi hati dan ginjal). Contoh obat dalam kelas ini
adalah glibenclamide, glipizide, gliquidone dan gliclazide.
● Glinid
Obat-obatan yang bekerja dengan cara yang hamper sama dengan
sulfonylurea, namun bervariasi di area reseptor, dengan produk
akhir menyembunyikan periode utama dari perluasan emisi insulin.
Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu Repaglinide (derivate
asam benzoate) dan Nateglinide (Derivat fenilalanin). Obat ini
diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan
dieksresi secara cepat melalui hati. Efek samping yang mungkin
terjadi adalah hipoglikemia.
b. Peningkatan sensitivitas terhadap insulin (Insulin Sensitizers)
● Metformin
Metformin memiliki dampak mendasar dalam mengurangi
pembentukan glukosa hepatic (gluconeogenesis) dan lebih
lanjut mengembangkan pengambilan glukosa di jaringan
pinggiran. Metformin adalah keputusan pertama dalam
beberapa waktu dari diabetes melitus tipe 2. porsi metformin
berkurang pada klien dengan gangguan kemampuan ginjal
(GFR30-60ml/menit/1,73 m2).
Metformin tidak boleh diberikan pada keadaan tertentu,
misalnya, kelemahan hati yang serius dank lien dengan
kecenderungan hipoksemia (misalnya, penyakit
serebrovaskular, sepsis, syok, PPOK (Penyakit Pneumonia
Obstruktif Konstan), kerusakan kardiovaskular). Efek sekunder
yang mungkin terjadi adalah masalah sistem usus seperti
dyspepsia, berjalan.
● Thiazolidinedione
Kelas obat yang mengurangi obstruksi insulin dengan
meningkatkan berapa banyak protein penggerak glukosa,
dengan cara ini memperluas pengambilan glukosa di jaringan
pinggiran.
2) Obat antihiperglikemia injeksi
a. Insulin, insulin digunakan pada keadaan:
●
HbA1c saat diperiksa 7,5% dan sudah menggunakan satu ataudua obat an
● HbA1c saat diperiksa >9%
● Penurunan berat badan yang cepat
● Hiperglikemia berat yang di sertai dengan ketosis
● Krisis hiperglikemia
● Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal
● Stress berat (infeksi, operasi besar, infarkcmiokard
akut, stroke)
● Kehamilan dengan Diabetes Melitus Gestasional yang
tidak terkendali dengan perencanaan makan
● Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat,
kontraindikasi danatau alergi
● Kondisi perioperatif sesuai dengan indikasi.
b. Jenis dan lama kerja insulin:
● Insulin kerja cepat (Rapid-acting insulin) Insulin
kerjapendek (Short-acting insulin)
● Insulin kerja menengah (Intermediate-acting insulin)
● Insulin kerja panjang (Long-acting insulin)
● Insulin kerja ultra panjang (Ultra long-acting insulin)
● Insulin campuran tepat, kerja pendek dengan menengah
dan kerja cepat dengan menengah (premixed insulin)
● Insulin campuran tetap, kerja ultra panjang dengankerja
cepat.
c. Efek samping insulin:
● Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya
hipoglikemia
● Reaksi GLP-1 (Incretin Mimetic
Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar
glukosa darah normal (euglekemia) tanpa terjadinya hipoglikemia
dangangguan serius pada pola aktivitas pasien. Menurut Kemenkes RI
(2020) penatalaksanaan pada pasien DM meliputi :
a. Pengaturan pola makan menyesuaikan dengan kebutuhan kalori
penyandang DM. Pengaturan meliputi kandungan, kuantitas dan
waktuasupan makanan (3J :jenis, jumlah, jadwal) adar berat
badan ideal dangula darah dapat terkontrol dengan baik.
b. Latihan Fisik juga akan meningkatkan kadar HDL-kolesterol dan
menurunkadar kolesterol total serta trigeliserida. Aktivitas latihan
yangdianjurkan adalah akativitas yang dapat membantu
menurunkan kadar gula darah seperti jalan-jalan, senam tubuh
dan senamkaki sesuai kebutuhan dan kemampuan.
c. Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dapat dilakukan
dengan menggunakandarah kapiler. PGDM dianjurkan bagi
pasien dengan pengobatan suntikinsulin beberapa kali perhari.
Waktu yang dianjurkan adalah pada saat sebelum makan, dua jam
setelah makan, menjelang waktu tidur, dandiantara siklus tidur
atau ketika mengalami gejala hipoglikemia (Perkeni, 2021)
d. Terapi Insulin Insulin digunakan antara lain pada keadaan
hiperglikemia berat yangdisertai dengan ketosis, krisis
hiperglikemia, gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat, dan
HbA1C saat diperiksa > 9%.
e. Pengetahuan tentang Diabetes, Pencegahan dan Perawatan diri
Edukasi dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan serta
motivasi bagi penyandang Diabetes Melitus
9. Komplikasi
Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol pada pasien DM akan
menyebabkan berbagai komplikasi. Komplikasi DM terbagi dua
berdasarkan lama terjadinya yaitu: komplikasi akut dan komplikasi
kronik .
1. Komplikasi akut
a. Ketoasidosis diabetik (KAD) KAD merupakan komplikasi
akut DM yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa
darah yang tinggi (300-600 mg/dL), disertai dengan adanya
tanda dan gejala asidosis dan plasma keton (+) kuat
b. Hiperosmolar non ketotik (HNK) Pada keadaan ini terjadi
peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600-1200 mg/dL),
tanpa tanda dan gejala asidosis.
c. Hipoglikemia Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya
kadar glukosa darah mg/dL. Pasien DM yang tidak
sadarkan diri harus dipikirkan mengalami keadaan
hipoglikemia.
2. Komplikasi kronik Komplikasi jangka panjang menjadi lebih
umum terjadi pada pasien DM saat ini sejalan dengan penderita
DM yang bertahan hidup lebih lama.
a. Komplikasi makrovaskular Komplikasi makrovaskular
pada DM terjadi akibat aterosklerosis dari pembuluh-
pembuluh darah besar, khususnya arteri akibat timbunan
plak atheroma.
b. Komplikasi mikrovaskular Komplikasi mikrovaskular
terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah kecil
khususnya kapiler yang terdiri dari retinopati diabetik dan
nefropati diabetik.
c. Neuropati Diabetes neuropati adalah kerusakan saraf
sebagai komplikasi serius akibat DM. Komplikasi yang
tersering dan paling penting adalah neuropati perifer,
berupa hilangnya sensasi distal dan biasanya mengenai kaki
terlebih dahulu, lalu ke bagian tangan
KONSEP TEORI ASUHAN KEPERAWATAN DM
1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Nama, TTL, Nama Penanggung jawab, nomer RM, Jenis
kelamin, Umur Pasien, Agama, Pendidikan, tanggal MRS,
Tanggal Pengkajian, Alamat.
b. Keluhan Utama
Biasanya pasien masuk ke rumah sakit dengan keluhan utama
gatal- gatal pada kulit yang disertai bisul atau lalu tidak
sembuh-sembuh, kesemutan atau rasa berat, mata kabur,
kelemahan tubuh. Disamping itu pasien juga mengeluh poliuri,
polidipsi, anoreksia, mual dan muntah, BB menurun, diare
kadang-kadang disertai nyeri perut, kram otot, sakit kepala
sampai ampai penurunan penurunan kesadaran.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya pasien datang degan keluhan yang dominan adalah
sering buang air kecil (poliuria), sering lapar dan haus
(polidipsi dan polifagia), sebelum pasien mempunyai berat
badan yang berlebih, biasanya pasien belum menyadari kalau
itu merupakan perjalanan penyakit diabetes mellitus. Pasien
baru tahu kalau sudah memeriksakan diri di pelayanan
kesehatan.
d. Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita
Biasanya pasien DM pernah dirawat karna kadar glukosa darah
tinggi. Adanya faktor resiko yang mempengaruhi seperti
genetic, obesitas, usia, minimnya aktivitas fisik, pola makan
yang berlebihan atau salah
e. Pola Kebiasaan
1) Nutrisi dan metabolisme
Efek dari defisiensi insulin akan menyebabkan beberapa
kemungkinan seperti polidipsi, polifagia, poliuria maka
dalam memenuhi kebutuhan nutrisi serta dalam proses
metabolisme akan mengalami beberapa perubahan.
2) Eliminasi
Kadar gula yang terlalu tinggi menyebabkan penderita
diabetes melitus terlalu sering untuk buang air kecil dan
dengan jumlah kencing yang melebihi batas normal
3) Tidur dan istirahat
Pada penderita penyakit diabetes melitus biasanya
mengalami ketidaknyamanan dalam pola istirahat dan
tidurnya karena diakibatkan adanya tanda dan gejal a dari
penyakitnya sehingga harus beradaptasi terkait dengan
penyakitnya.
4) Kebersihan
Upaya klien dan keluarga dalam menjaga kebersihan lingkungan
sekitar rumah.
f. Pemeriksaan Fisik
1) Status penampilan kesehatan
Biasanya yang sering muncul adalah kelemahan fisik
2) Tingkat kesadaran
Biasanya normal, latergi, stupor, koma (terganutng kasar
gula darah yang dimiliki dan kondisi fisiologi untuk
melakukan kompensasi kelebihan gula darah)
3) Rambut
Biasanya kebat, titpi. Kulit kepala biasanya normal
4) Mata
Sklera : biasanya normal dan ikterik
Conjungtivas : biasanya anemis pada pasien kekurangan
nutrisi dan pasien yang sulit tidur karena seing buang air
kecil di malam hari Pupil : biasanya miosis, midrosis atau
anisokor
5) Telinga
Biasanya simteris kiri dan kanan, gendang telinga biasanya
masih bisa berfungsi dengan baik apabila tidak ada
mengalami infeksi sekunder.
6) Hidung
Biasanya jarang terjadi po;ip dan sumbatan hidung kecuali
ada infeksi sekunder seperti influeza
7) Mulut
Biasanya sianosis, pucat (apabila mengalami asidosis atau
penurunan perfusi jaringan)
8) Leher
Biasanya jarang distensi vena juguaris dan pembesaran
kelenjar limfe
9) Thorak dan paru-paru
Auskultasi terdengar stridor, wheezing apabila memiliki
riwaya asma
10) Sistem kardiovaskuler
Biasanya perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah,
takikardi atau bradikardi, hipertensi atau hipotensi, aritmia
dan kardiomegalis meupakan tanda dan gejala penderita
diabetes mellitus.
11) Sistem gastrointestinal
Biasanya terdapat polifagia, polidpsi, mual, muntah, diare,
konstipasi, dehidrasi, perubahan berat badan, peningkatan
lingkat abdomen, dan obseritas
12) Sistem muskuloskeletal
Biasanya terjadi penurunan massa otot, cepat lelah, lemah,
nyeri dan adanya ganggren diekstermitas
g. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan gula darah puasa atau fasting blood sugar (FBS)
2) Untuk menentukan jumlah glukosa darah pada saat puasa,
klien tidak makan dan boleh minum selama 12 jam sebelum
test. Hasil normal 80-120 mg/ 100 miserum dan abnormal
140 mg/100 ml atau lebih.
3) Pemeriksaan gula darah postprandial
4) Untuk menentukan gula darah 2 jam setelah makan, dengan
hasil normal kurang dari 120 mg/100 ml serum dalam
abnormal lebih dari 200 mg/100 dl atau indikasi Diabetes
Melitus.
5) Pemeriksaan gula darah sewaktu bisa dilakukan kapan saja,
nilai normalnya adalah 70-20 mg/dl
6) Pemeriksaan toleransi glukosa oral atau oral rolerance test
(TTGO) untuk menentukan toleransi terhadap respons
pemberian glukosa. Pasien tidak boleh makan selama 12 jam
sebelum test dan selama test, pasien boleh minum air putih,
tidak boleh merokok, ngopi atau minum teh selama
7) Pemeriksaan (untuk mengatur respon tubuh terhadap
karbohidrat) sedikit aktivitas, kurangi stress, (keadaan
banyak aktivitas dan stress menstimulasi epinephrine dan
kartisol karena berpengaruh terhadap peningkatan
glukoneogenesis). Hasil normal puncaknya 1 jam pertama
setelah pemberian 140 mg/dl dan kembali normal 2 atau 3
jam kemudian dan abnormal jika peningkatan tidak kembali
setelah 2 atau 3 jam, urine positif glukosa.
8) Pemeriksaan kolesterol dan kadar serum trigliserida, dapat
meningkat karena ketidakadekuatan kontrol glikemik.
9) Pemeriksaan hemoglobin glikat (HbAlc). Tes ini mengukur
presentase glukosa yang melekat pada hemoglobin selama
hidup sel darah merah. HbAlc digunakan untuk mengkaji
kontrol glukosa jangka panjang, sehingga dapat memprediksi
resiko komplikasi. Rentang normalnya adalah 5-6%
10) Urinalisa positif terhadap glukosa dalam keton. Pada respon
terhadap defisiensi intraseluler, protein lemak diubah
menjadi glukosa (glukoneogenesis) untuk energi. Selama
proses pengubahan ini, asam lemak bebas dipecah menjadi
badan keton oleh hepar. Ketoasidosis terjadi ditunjukkan
oleh ketonuria Adanya ketonuria menunjukkan adanya
ketoasidosis
2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis: infeksi,
iskemia, neplasma
b. Resiko infeksi dibuktikan dengan penyakit kronis (mis, diabetes
melitus)
c. Gangguan Integritas Kulit/ Jaringan
d. Ketidak stabilan kadar glukosa darah
3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan Intervensi
1 Nyeri akut b.d Agen
Setelah dilakukan perawatan. 8x24 Manajemen Nyeri (I.08238)
Cedera Biologis
jam diharapkan nyeri pasien dapat
Observasi
berkurang dan menghilang
dengan kriteria hasil:
● Identifikasi lokasi,
1. Tanda-tanda vital dalam
karakteristik, durasi,
rentang normal
frekuensi, kualitas,
2. Mampu mengenali nyeri
intensitas nyeri
(skala, intensitas, frekuensi
dan nyeri) ● Identifikasi skala nyeri
3. Nyeri menghilang Nyeri
dengan skala 0-3
● Idenfitikasi respon
nyeri non verbal
● Identifikasi faktor yang
memperberat dan
memperingan nyeri
● Identifikasi
pengetahuan dan
keyakinan tentang nyeri
● Identifikasi pengaruh
budaya terhadap respon
nyeri
● Identifikasi pengaruh
nyeri pada kualitas
hidup
● Monitor keberhasilan
terapi komplementer
yang sudah diberikan
● Monitor efek samping
penggunaan analgetik
Terapeutik
● Berikan Teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi nyeri (mis:
TENS, hypnosis,
akupresur, terapi music,
biofeedback, terapi
pijat, aromaterapi,
Teknik imajinasi
terbimbing, kompres
hangat/dingin, terapi
bermain)
● Kontrol lingkungan
yang memperberat rasa
nyeri (mis: suhu
ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
● Fasilitasi istirahat dan
tidur
● Pertimbangkan jenis
dan sumber nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi
● Jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
● Jelaskan strategi
meredakan nyeri
● Anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri
● Anjurkan menggunakan
analgesik secara tepat
● Ajarkan Teknik
farmakologis untuk
mengurangi nyeri
Kolaborasi
● Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
2 Resiko Infeksi b.d Pencegahan Infeksi (I.14539)
Setelah dilakukan perawatan. 8x24
Penyakit Kronis
jam diharapkan resiko inveksi Observasi
(mis. Diabetes
pasien dapat berkurang dan
Melitus) ● Monitor tanda dan
menghilang dengan kriteria hasil:
1. Demam menurun gejala infeksi lokal dan
2. Kemerahan menurun sistemik
3. Nyeri menurun Terapeutik
4. Bengkak menurun ● Batasi jumlah
5. Kadar sel darah putih pengunjung
membaik ● Berikan perawatan kulit
pada area edema
● Cuci tangan sebelum
dan sesudah kontak
dengan pasien dan
lingkungan pasien
● Pertahankan teknik
aseptic pada pasien
berisiko tinggi
Edukasi
● Jelaskan tanda dan
gejala infeksi
● Ajarkan cara mencuci
tangan dengan benar
● Ajarkan etika batuk
● Ajarkan cara
memeriksa kondisi luka
atau luka operasi
● Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi
● Anjurkan meningkatkan
asupan cairan
Kolaborasi
● Kolaborasi pemberian
imunisasi, jika perlu
3 Gangguan Integritas Setelah dilakukan perawatan. 8x24 Perawatan Integritas Kulit
kulit/jaringan jam diharapkan Kriteria hasil untuk (I.11353)
membuktikan bahwa integritas
Observasi
kulit/jaringan meningkat
● Identifikasi penyebab
1. Kerusakan jaringan
menurun gangguan integritas
2. Kerusakan lapisan kulit kulit (mis: perubahan
menurun sirkulasi, perubahan
status nutrisi,
penurunan kelembaban,
suhu lingkungan
ekstrim, penurunan
mobilitas)
Terapeutik
● Ubah posisi setiap 2
jam jika tirah baring
● Lakukan pemijatan
pada area penonjolan
tulang, jika perlu
● Bersihkan perineal
dengan air hangat,
terutama selama
periode diare
● Gunakan produk
berbahan petroleum
atau minyak pada kulit
kering
● Gunakan produk
berbahan ringan/alami
dan hipoalergik pada
kulit sensitive
● Hindari produk
berbahan dasar alkohol
pada kulit kering
Edukasi
● Anjurkan menggunakan
pelembab (mis: lotion,
serum)
● Anjurkan minum air
yang cukup
● Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi
● Anjurkan meningkatkan
asupan buah dan sayur
● Anjurkan menghindari
terpapar suhu ekstrim
● Anjurkan menggunakan
tabir surya SPF
minimal 30 saat berada
diluar rumah
● Anjurkan mandi dan
menggunakan sabun
secukupnya
Perawatan Luka (I.14564)
Observasi
● Monitor karakteristik
luka (mis: drainase,
warna, ukuran , bau)
● Monitor tanda-tanda
infeksi
Terapeutik
● Lepaskan balutan dan
plester secara perlahan
● Cukur rambut di sekitar
daerah luka, jika perlu
● Bersihkan dengan
cairan NaCl atau
pembersih nontoksik,
sesuai kebutuhan
● Bersihkan jaringan
nekrotik
● Berikan salep yang
sesuai ke kulit/lesi, jika
perlu
● Pasang balutan sesuai
jenis luka
● Pertahankan Teknik
steril saat melakukan
perawatan luka
● Ganti balutan sesuai
jumlah eksudat dan
drainase
● Jadwalkan perubahan
posisi setiap 2 jam atau
sesuai kondisi pasien
● Berikan diet dengan
kalori 30 – 35
kkal/kgBB/hari dan
protein 1,25 – 1,5
g/kgBB/hari
● Berikan suplemen
vitamin dan mineral
(mis: vitamin A,
vitamin C, Zinc, asam
amino), sesuai indikasi
● Berikan terapi TENS
(stimulasi saraf
transcutaneous), jika
perlu
Edukasi
● Jelaskan tanda dan
gejala infeksi
● Anjurkan
mengkonsumsi
makanan tinggi kalori
dan protein
● Ajarkan prosedur
perawatan luka secara
mandiri
Kolaborasi
● Kolaborasi prosedur
debridement (mis:
enzimatik, biologis,
mekanis, autolitik), jika
perlu
● Kolaborasi pemberian
antibiotik, jika perlu
4 Ketidak Stabilan Setelah dilakukan tindakan Manajemen
Kadar Glukosa darah keperawatan diharapkan hiperglikemia (03115)
ketidastabilan kadar glukosa Observasi :
darah meningkat dengan kriteria
● Identifikasi
hasil :
kemungkinan
1. Koordinasi meningkat
penyebab
2. Mengantuk menurun
hiperglikemia
3. Psuing
● Identifikasi situasi yang
menurun
menyebabkan
4. Lelah/lesu menurun
kebutuhan insulin
5. Keluhan lapar meningkat
menurun mis : penyakit
6. Kadar glukosa dalam darah kambuhan
membaik
● Monitor kadar glukosa
darah, jika perlu
● Monitor intake dan
output cairan
Teraupetik :
1. Berikan asupan cairan
oral
2. Konsultasi dengan
medis jika tanda dan
gejala hiperglikemia
tetap ada atau
buruk
Edukasi :
1. Anjurkan
menghindari
olahraga saat kadar
glukosa darah lebih
dari 250 mg/dl
2. Anjurkan monitor
kadar glukosa
darah secara
mandiri
3. Anjurkan
kepatuhan
terhadap diet
dan olahraga
Ajarkan
pengelolan
diabetes, Mis :
penggunaan
insulin, obat oral
Kolaborasi :
● Kolaborasi
pemberian
insulin, jika
perlu
4. Implementasi
Implementasi adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam implementasi juga meliputi
pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respon klien selama dan
sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilai data yang baru.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah aspek penting proses keperawatan karena kesimpulan
yang ditarik dari evaluasi menentukan menentukan apakah intervensi
keperawatan harus diakhiri, dilanjutkan, atau diubah untuk memperbaiki
kekurangan dan memodifikasi rencana asuhan sesuai kebutuhan
DAFTAR PUSTAKA
ADA,(2020). Classification and Diagnosis: Standars of Medical Care in
Diabetes2020. In Diabetes Care (Vol. 43, pp. S14-S31).
Amaliyah, L. (2022). Hubungan Motivasi Dengan Tingkat Kepatuhan Diet
Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 : Literature Review. Karya
Tulis Ilmiah, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Bickley Lynn S & Szilagyi Peter G. (2018). Buku Saku Pemeriksaan Fisik
& Riwayat Kesehatan.
Doengoes, M. E, Et. Editor Monica. (2018). Nursing Care Plans
Guidelines ForPlanning And Documenting Patient Care, Edisi 8
Walker, R. (2020). The Diabetes Handbook
Priscilla LeMone dkk. (2015). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Gangguan Intergumen, Gangguan Endrokrin, dan Gangguan
Gastrointestinal (EGC).
Perkeni, (2021). Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di
Indonesia: [Link]. PPNI,
Tim Pokja SDKI DPP. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia
(Edisi 1).
Jakarta: DPP PPNI PPNI,
Tim Pokja SIKI DPP. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
(Edisi 1).
Jakarta: DPP PPNI 95 PPNI,
Tim Pokja SLKI DPP. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.