Memorandum of Understanding Antara PT Lab Anak
Bangsa & PT Abimantrana Artha Perkasa Tentang
Proyek Pengembangan Sistem Informasi untuk
Kejaksaan Agung
Nomor : ___________________________
Memorandum of Understanding (MoU) ini dibuat dan ditandatangani pada hari ini, Senin tanggal
10 bulan Juni tahun 2024 oleh dan antara:
• PT LAB ANAK BANGSA, sebuah perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum
Republik Indonesia, beralamat di Jalan Raya Arteri Nomor 2 RT 007/004 Kota Jakarta Barat,
yang diwakili oleh _____________________, dalam jabatannya sebagai
_____________________, yang selanjutnya disebut sebagai "PIHAK PERTAMA".
• PT ABIMANTRANA ARTHA PERKASA, sebuah perusahaan yang didirikan berdasarkan
hukum Republik Indonesia, beralamat di Perumahan Bukit Kencana 1 Jalan Sentosa IIIA
Nomor 20 Kota Bekasi, yang diwakili oleh _____________________, dalam jabatannya
sebagai _____________________, yang selanjutnya disebut sebagai "PIHAK KEDUA".
PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA selanjutnya disebut sebagai PARA PIHAK.
PARA PIHAK sepakat untuk mengadakan MoU tentang proyek pengembangan sistem informasi
untuk kejaksaan agung dengan ketentuan sebagai berikut :
PASAL I
Dasar
MoU ini dibuat dengan mempertimbangkan perlunya pengembangan sistem informasi yang efisien
dan efektif untuk mendukung operasional Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Pengembangan ini
diharapkan dapat meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi kerja dalam lingkup
Kejaksaan Agung. MoU ini disusun berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku di Indonesia, antara lain:
a. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU
ITE);
b. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi
Elektronik;
c. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia terkait standar dan tata
kelola sistem informasi;
d. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang;
e. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa.
PASAL II
Maksud & Tujuan
MoU ini bertujuan untuk menetapkan kerangka kerja kerjasama antara PARA PIHAK dalam
pengembangan sistem informasi untuk Kejaksaan Agung, sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku di Indonesia, termasuk namun tidak terbatas pada:
• Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU
ITE).
• Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi
Elektronik.
• Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia terkait standar dan tata
kelola sistem informasi.
PASAL III
Ruang Lingukp Kerja
PIHAK PERTAMA akan melaksanakan tugas-tugas berikut:
a. Melakukan analisis kebutuhan sistem informasi untuk Kejaksaan Agung sesuai dengan UU
ITE dan peraturan pelaksanaannya.
b. Mendesain dan mengembangkan sistem informasi yang sesuai dengan kebutuhan tersebut,
dengan mematuhi standar yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan
Informatika.
c. Melakukan pengujian dan implementasi sistem informasi, memastikan sesuai dengan
standar keamanan data dalam PP No. 82 Tahun 2012.
d. Memberikan pelatihan dan dukungan teknis kepada pengguna akhir di Kejaksaan Agung.
PIHAK KEDUA akan menyediakan:
a. Menyediakan data dan informasi yang diperlukan untuk pengembangan sistem sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
b. Menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk mendukung kegiatan pengembangan.
c. Memberikan dukungan administratif dan logistik yang diperlukan.
PASAL IV
Hak & Kewajiban
1. Hak dan Kewajiban PIHAK PERTAMA
a. Hak:
▪ Mendapatkan data dan informasi yang diperlukan dari PIHAK KEDUA untuk
melakukan analisis kebutuhan sistem informasi.
▪ Mendapatkan akses yang diperlukan untuk mengembangkan, menguji, dan
mengimplementasikan sistem informasi di lingkungan Kejaksaan Agung.
▪ Menerima dukungan administratif dan logistik dari PIHAK KEDUA selama
pelaksanaan proyek.
b. Kewajiban:
▪ Melakukan analisis kebutuhan sistem informasi sesuai dengan ketentuan dalam UU
ITE dan peraturan pelaksananya.
▪ Mendesain dan mengembangkan sistem informasi sesuai dengan standar yang
ditetapkan dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika.
▪ Melakukan pengujian dan implementasi sistem informasi sesuai dengan standar
keamanan data yang diatur dalam PP No. 71 Tahun 2019.
▪ Memberikan pelatihan dan dukungan teknis kepada pengguna akhir di Kejaksaan
Agung.
▪ Menjaga kerahasiaan semua informasi yang diperoleh selama pelaksanaan MoU ini
sesuai dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.
2. Hak dan Kewajiban PIHAK KEDUA
a. Hak:
▪ Menerima laporan berkala mengenai progres pengembangan sistem informasi dari
PIHAK PERTAMA.
▪ Meminta perubahan atau penyesuaian pada desain dan pengembangan sistem
informasi berdasarkan kebutuhan Kejaksaan Agung.
▪ Menerima pelatihan dan dukungan teknis dari PIHAK PERTAMA untuk pengguna
akhir di Kejaksaan Agung.
b. Kewajiban:
▪ Menyediakan data dan informasi yang diperlukan untuk pengembangan sistem
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
▪ Menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk mendukung kegiatan
pengembangan.
▪ Memberikan dukungan administratif dan logistik yang diperlukan selama
pelaksanaan proyek.
▪ Menjaga kerahasiaan semua informasi yang diperoleh selama pelaksanaan MoU ini
sesuai dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.
PASAL V
Durasi & Jangka Waktu
MoU ini berlaku sejak tanggal ditandatangani dan akan tetap berlaku selama
____________________, kecuali diakhiri lebih awal berdasarkan kesepakatan bersama antara
PARA PIHAK atau sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
PASAL VI
Kerahasiaan
PARA PIHAK setuju untuk menjaga kerahasiaan semua informasi yang diperoleh selama
pelaksanaan MoU ini dan tidak akan mengungkapkan informasi tersebut kepada pihak ketiga tanpa
persetujuan tertulis dari pihak lain, sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.
PASAL VII
Penyelesaian Sengketa
Segala sengketa yang timbul dari atau sehubungan dengan MoU ini akan diselesaikan secara
musyawarah untuk mufakat. Jika penyelesaian secara musyawarah tidak tercapai, maka sengketa
akan diselesaikan melalui arbitrase di Badan Arbitrase Nasional Indonesia, sesuai dengan peraturan
arbitrase yang berlaku di Indonesia dan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999
tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
PASAL VIII
Keadaan Kahar (Force Majure)
1. Keadaan Kahar adalah keadaan di luar kendali wajar dari PARA PIHAK, yang
menyebabkan salah satu atau kedua belah pihak tidak dapat melaksanakan kewajibannya
secara keseluruhan atau sebagian berdasarkan Nota Kesepahaman ini. Keadaan Kahar
termasuk tetapi tidak terbatas pada bencana alam, kebakaran, banjir, gempa bumi,
peperangan, kerusuhan, huru-hara, pemogokan, gangguan energi listrik, dan peraturan
pemerintah yang menghalangi pelaksanaan MoU ini.
2. Pihak yang mengalami Keadaan Kahar wajib memberitahukan secara tertulis kepada pihak
lainnya dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kalender setelah terjadinya Keadaan Kahar
tersebut. Pemberitahuan tersebut harus mencakup penjelasan tentang Keadaan Kahar, bukti
yang memadai, dan estimasi waktu dampak dari Keadaan Kahar tersebut.
3. Selama periode Keadaan Kahar, kewajiban dari pihak yang terkena dampak akan
ditangguhkan sampai berakhirnya Keadaan Kahar.
4. PARA PIHAK akan berusaha untuk mengambil semua langkah yang wajar untuk
meminimalkan akibat dari Keadaan Kahar tersebut.
5. Pihak yang terkena dampak Keadaan Kahar wajib memberitahukan secara tertulis kepada
pihak lainnya mengenai berakhirnya Keadaan Kahar tersebut dalam waktu 7 (tujuh) hari
kalender setelah keadaan tersebut berakhir.
6. Jika Keadaan Kahar berlangsung lebih dari 30 (tiga puluh) hari kalender berturut-turut,
maka PARA PIHAK akan melakukan perundingan untuk mencari solusi terbaik bagi kedua
belah pihak. Apabila perundingan tidak mencapai kesepakatan dalam waktu 30 (tiga puluh)
hari kalender setelah dimulainya perundingan, maka masing-masing pihak berhak untuk
mengakhiri Nota Kesepahaman ini dengan pemberitahuan tertulis kepada pihak lainnya.
PASAL IX
ADENDUM
Setiap perubahan dalam nota kesepaharnan akan ditetapkan lebih lanjut atas dasar kesepakatan
PARA PIHAK dan bentuk addendum melalui pemberitahuan tertulis dari salah satu pihak kepada
pihak lainnya paling lambat 3 (tiga) bulan sebelumnya, untuk dibahas lebih lanjut dan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari nota kesepahaman ini.
PASAL X
Penutup
MoU ini dibuat dalam dua rangkap, masing-masing rangkap dianggap asli dan memiliki kekuatan
hukum yang sama.
Jakarta, 9 Juni 2024
PIHAK PERTAMA PIHAK KEDUA
Materai 10000
________________________ ________________________