0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan18 halaman

Waktu Penyeberangan Laut yang Terbelah

Diunggah oleh

angel korompis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan18 halaman

Waktu Penyeberangan Laut yang Terbelah

Diunggah oleh

angel korompis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

111

DAFTAR ISI

Tema September 2023


IBADAH ADALAH TANDA DAN KESAKSIAN

Minggu, 3 September 2023 ............................................................................................. 113


IBADAH YANG NYATA

Minggu, 10 September 2023 ........................................................................................... 117


FRATERNAL CORRECTION

Minggu, 17 September 2023 ........................................................................................... 120


CROSSING THE OCEAN OF LIFE

Minggu, 24 September 2023 ........................................................................................... 124


YUK, MEMAHAMI KEADILAN TUHAN!

112
PENGANTAR
Minggu, Remaja A:

3
“Guys! Aku kemarin lihat di Youtube, ada
gereja pas lagi ibadah, jemaatnya pada
berantem!”

September 2023 Remaja B:


“Ah iya! Aku juga lihat! Parah sih, lagi ibadah
kok pada berantem!”
IBADAH YANG
NYATA Remaja A:
“Iya, dengar-dengar mereka rebutan jabatan.
ROMA 12: 9-21 Bisa-bisanya, itu ngapain mereka ibadah coba,
kalau sikapnya malah kaya gitu?”
Tujuan:
Remaja mampu Percakapan di atas, nyata adanya.
mengonsktruksikan ulang Pertengkaran dalam gereja, yang diceritakan
kehidupan ibadah mereka. oleh kedua remaja itupun benar-benar terjadi.
Pernahkan teman-teman melihat pertengkaran
Remaja mampu mengidentifikasi
tanda-tanda ibadah yang nyata di dalam gereja? Sedihnya lagi, jika
dalam kehidupan persekutuan. pertengkaran itu terjadi diantara orang-orang
yang tekun dalam beribadah. Jika demikian apa
ibadah itu? Apakah ibadah yang nyata, hanya
ritual dan kebiasaan di hari Minggu yang kita
jalan? Ataukah ibadah yang nyata lebih dari itu, yang artinya harus nampak juga dampaknya
dalam keseharian? Mari kita gumuli bersama!

PENJELASAN TEKS
Bacaan hari ini adalah nasihat Paulus untuk jemaat Kristen di kota Roma. Mari kita
perhatikan ayat 9! Paulus menggunakan kata agape untuk kasih dalam ayat 9, lalu menjadi
lebih spesifik dengan menggunakan phileo di ayat 10 untuk merujuk pada kasih
persahabatan untuk mereka yang hidup dalam komunitas. Kasih macam itu, adalah kasih
yang merendahkan diri, kasih yang penuh semangat karena dibakar oleh Roh untuk
melayani satu sama lain, mengabdikan diri untuk berdoa, berkontribusi dan berpartisipasi
dalam kebutuhan orang-orang kudus, dan mengejar keramahtamahan. Sampai di sini, kita
bisa memahami bahwa kasih yang tulus dan tidak berpura-pura, adalah kasih yang sungguh
kuat, dan tidak kenal lelah.

Paulus bukan hanya membahas kasih bagi mereka yang berada dalam komunitas yang sama,
melainkan juga membahas bagaimana mengasihi mereka yang berada di luar komunitas
Kristen, dengan hidup sedemikian rupa sehingga menumbuhkan perdamaian. Ayat 17 dan

113
21 mengingatkan agar jangan membalas kejahatan siapa pun dengan kejahatan, dan jangan
dikalahkan oleh kejahatan itu sendiri. Paulus agaknya sadar bahwa manusia memang
memiliki kecenderungan dikuasai oleh kejahatan. Atas perintah untuk tidak membalas
kejahatan dengan kejahatan ini, Paulus mengingatkan pada ayat 19, yang kurang lebih
mengingatkan untuk jangan pernah membalaskan dendam, tetapi tinggalkan ruang untuk
murka Allah. Dalam konteks ini, tujuan Paulus sebenarnya sedang mengingatkan orang
Kristen bahwa tugas mereka adalah untuk menunjukkan kasih, bukan untuk bertindak
sebagai hakim. Perhatikan bahwa Paulus tidak meminta pendengarnya hanya untuk melatih
pengendalian diri ketika diprovokasi. Mereka harus melakukan lebih dari sekadar menahan
diri dari membalas kejahatan, mereka harus memulai berbuat baik kepada lawan. Ini jauh
lebih sulit, namun dengan melakukan itu, orang Kristen mengalahkan kejahatan dengan
kebaikan. Dengan melakukan hal yang demikian, mereka menunjukkan bahwa mereka
memegang teguh apa yang baik” (ayat 9), yang merupakan definisi kasih sejati.

Satu hal lain yang penting, ketika membaca nasihat Paulus pada bacaan hari ini, kita tak bisa
melepaskannya dari Roma 12:1-2, di mana Paulus memanggil pendengarnya untuk
mempersembahkan diri mereka sebagai korban yang hidup dan diubahkan oleh pembaruan
budi, sehingga mereka dapat mengetahui apa kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yaitu
kasih itu sendiri. Dari penjelasan bacaan ini, kita diajak untuk memahami tema hari ini,
dengan sebuah kesadaran bahwa ibadah bukan sekedar rutinitas tanpa dampak. Ibadah
yang nyata adalah yang terus menunjukkan kasih sejati pada orang-orang dalam komunitas
Kristen sendiri, maupun mereka yang di luar komunitas Kristen. Itu artinya, ibadah bukan
hanya di hari Minggu di gedung gereja, melainkan keseluruhan kehidupan kita dalam
tindakan kasih. Tindakan yang bukan mencari perpecahan, namun persatuan, bahkan ketika
perpecahan hadir, mereka dengan sekuat tenaga akan mencari cara untuk menciptakan
perdamaian. Demikianlah rupanya ibadah yang nyata!

APLIKASI
Ibadah kadangkala hanya dipahami sebatas menyembah Tuhan di hari Minggu saja. Padahal
tentu saja keseluruhan kehidupan manusia, sejatinya adalah sebuah ibadah. Maka, ibadah
yang nyata adalah ibadah yang mewujud dalam keseluruhan kehidupan remaja setiap
harinya. Melalui firman dari bacaan hari ini, remaja mampu mengonstruksi ulang
pemahaman ibadah bukan lagi sebatas di hari Minggu atau di jam-jam persekutuan saja,
namun dalam keseluruhan waktu yang mereka miliki. Konsekuensi logis dari memahami
bahwa ibadah yang nyata mewujud dalam kehidupan keseharian adalah:
1. Tindakan akan selaras dengan nilai-nilai Kristiani.
2. Ucapan selaras dengan nilai-nilai Kristiani.
3. Pilihan-pilihan kehidupan, juga sikap, berdasarkan nilai-nilai Kristiani.

Jika tiga hal tersebut mampu dihayati dengan sungguh, harapannya, remaja mampu
menghadirkan tanda-tanda peribadahan yang nyata dalam kehidupan dengan sesama.

114
Menunjukkan tindakan, ucapan, pilihan-pilihan yang menghadirkan kasih juga kebaikan,
baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Menghadirkan persatuan dan bukannya
perpecahan.

LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Siapkan tiga pertanyaan yang ditulis pada selembar kertas. Pertanyaan-pertanyaan ini
dibuat dalam rangka mencapai tujuan materi ini. (Pelayan Ibadah Remaja, boleh
menambahkan pertanyaan-pertanyaan diskusi yang mendukung tujuan)
• Berdasarkan pengalaman menjadi jemaat gereja selama ini, apa yang kamu pahami
mengenai ibadah?
• Jika ada orang-orang Kristen yang rajin beribadah, namun kehidupannya tidak
menunjukkan kasih melainkan perpecahan; menurutmu mengapa hal itu terjadi?
• Berapa waktu yang kamu habiskan dalam satu hari untuk beribadah? (Pertanyaan
ini dijawab dengan angka 1-24 jam). Apa kegiatanmu yang lebih menyita waktu?
Pertanyaan ini dijawab dengan angka 1-24 jam (khusus untuk pertanyaan ini, setiap
anak di kelompok ketiga harus memberikan jawaban masing-masing)

2. Bagilah remaja menjadi tiga kelompok, masing-masing kelompok mendapat satu


pertanyaan yang dipilih secara acak. Setelah itu, ajak setiap kelompok untuk berdiskusi
untuk menjawab pertanyaan yang sudah kelompok dapatkan. (Jika ada gereja yang
ibadah remajanya masih dilakukan secara daring melalui Zoom, bisa breakout room.
Atau jika memakai Gmeet, bisa membuat ruang meeting yang baru).

3. Pelayan Firman memakai pertanyaan dalam diskusi untuk menjelaskan teks Alkitab.
• Ajak remaja mengonsktruksikan ulang kehidupan ibadah mereka. Ibadah bukan
hanya soal menyembah Allah di hari Minggu saja. Ibadah yang nyata, adalah
kesanggupan untuk menunjukkan kasih baik dalam pikiran, kata dan perbuatan
adalah bentuk ibadah yang nyata. Nasihat-nasihat Paulus pada penjelasan teks di
bagian ayat 9 dan 10 bisa dijelaskan untuk menjawab pertanyaan yang pertama.
• Ajak remaja mengidentifikasi tanda-tanda ibadah yang nyata dalam kehidupan
persekutuan. Nasihat-nasihat Paulus pada penjelasan teks di bagian ayat 17, 19 dan
21 bisa dijelaskan untuk menjawab pertanyaan yang kedua. Manusia memiliki
kecenderungan dikuasi oleh kejahatan sehingga memegang yang baik adalah sulit
adanya. Selain itu, manusia seringkali lupa bahwa tugas mereka adalah untuk
menunjukkan kasih, bukan untuk menjadi hakim atas kesalahan orang lain.
• Untuk menjawab pertanyaan ketiga, pelayan firman bisa memperbandingkan,
waktu yang dipakai untuk beribadah dan waktu yang dipakai untuk hal yang lain.
Seharusnya, jawaban remaja pada kelompok ketiga akan menunjukkan bahwa lebih
banyak waktu dipakai untuk hal yang lain, dibandingkan untuk beribadah. Di sinilah
kuncinya. Pelayan firman mengajukan sebuah pertanyaan, “Apakah ibadah hanya

115
beberapa jam dari waktu yang kalian miliki dalam sehari? Ataukah kegiatan yang
lain yang lebih banyak menyita waktu kalian, bisa menjadi bentuk ibadah juga?”
1) Jika waktu lebih banyak habis untuk bermain, maka kesadaran bahwa ketika
bermain pun bisa menjadi bentuk ibadah yang nyata, akan mendorong remaja
untuk tahu waktu dan bersikap dengan baik dalam pergaulan.
2) Jika waktu lebih banyak habis untuk mengakses internet, maka kesadaran
bahwa internet bisa menjadi bentuk ibadah yang nyata, sepatutnya
mendorong remaja untuk tahu waktu dan mengakses situs-situs yang positif.
3) Jika waktu lebih banyak habis untuk belajar, maka kesadaran bahwa belajar
bisa menjadi bentuk ibadah yang nyata, sepatutnya mendorong remaja untuk
belajar dengan sukacita, tanpa memaksakan diri jika tubuh lelah dan percaya
pada pertolongan Tuhan.
4) Jika waktu lebih banyak habis untuk bermalas-malasan, maka kesadaran bahwa
waktu yang dipakai untuk bermalas-malasan sesungguhnya adalah kesempatan
untuk melakukan hal-hal yang baik, sepatutnya mendorong remaja untuk
bersemangat.
5) dll.
6) Berikan penekanan, bahwa ibadah yang nyata bukan hanya di hari Minggu saja,
melainkan keseluruhan kehidupan kita adalah kesempatan untuk beribadah.

• Menutup dengan menyanyikan lagu, PKJ 264: 1-3, “Apalah Arti Ibadahmu”

116
PENGANTAR
Minggu, Gosip? Kata orang, gosip itu berarti digosok

10
makin sip! Paling asyik rasanya, jika tiba-tiba
ada seseorang datang dan kemudian berbisik
penuh antusiasme, “Eh, eh! Udah denger
belum, si anu itu lho, dosa ih dia!” Lebih
September 2023 ekstrim lagi, jika cara kita memperlakukan
mereka yang jatuh dalam dosa dengan
menghakimi dan mengucilkannya.
FRATERNAL
CORRECTION Ironis tidak, jika orang Kristen yang dipanggil
untuk beribadah dalam keseluruhan hidupnya,
MATIUS 18:15-20 namun memperlakukan saudaranya yang jatuh
dalam dosa dengan cara menggosipkannya
Tujuan: atau malah menghakimi dan mengucilkannya?
Remaja mampu memproses Padahal kita sendiri ini adalah orang yang tidak
sesuatu dengan baik ketika ada
sempurna karena dosa, yang dulu berjarak
temannya jatuh pada kesalahan.
dengan Allah, namun didamaikan melalui
Remaja mampu menciptakan iklim Yesus. Sebenarnya bagaimana, sih kita harus
yang merengkuh sesama yang merespon seseorang yang jatuh dalam dosa?
melakukan kesalahan.
PENJELASAN TEKS
Fraternal Correction (koreksi di antara Saudara)
merupakan salah satu pesan penting yang nampak dalam bacaan Injil minggu ini. Yesus
mengajarkan kita agar sikap yang demikian bisa dihidupi dalam kehidupan bersama orang
lain, terlebih ketika seseorang ketahuan berbuat dosa. Ibadah yang nyata, salah satunya
hadir dalam sikap fraternal correction ini. Alih-alih menghakimi atau menggosip mengenai
seseorang yang jatuh dalam dosa, Yesus mengingatkan untuk melakukan koreksi di antara
Saudara di bawah empat mata dan tentunya berdasarkan pada kasih (ayat 15). Jika sikap
yang kita ambil adalah dengan membicarakan keburukannya, kita malah akan memicu
potensi konflik di dalam komunitas Kristen itu sendiri dan semakin menjauhkan seseorang
itu dari kasih Allah.

Fraternal correction adalah bentuk konkret dari sikap merengkuh sesama yang jatuh dalam
dosa. Dia ditegur dalam ranah pribadi, bukan dalam ranah publik, bahkan ketika teguran
pribadi itu masih tak berhasil, dua kali teguran berikutnya masih harus dilakukan dalam
ranah komunitas dan tidak diperluas ke ranah publik yang lebih besar. Langkah yang terakhir
jika semua upaya itu tidak berhasil, adalah, “…pandanglah dia sebagai seseorang yang tidak
mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” (ayat 17b)

117
Ayat 17b ini seringkali dipahami sebagai dasar atas penghakiman dan pengucilan pada
mereka yang jatuh dalam dosa. Itulah mengapa, dalam sejarah gereja, tidak sedikit orang
yang jatuh dalam dosa, sungguh-sungguh dikucilkan dari komunitas Kristen. Apakah spirit
yang demikian yang akan kita hidupi? Terlebih Sinode Gereja Kristen Jawa menghidupi
semangat pastoral transformatif, apakah semangat ini muncul dalam bentuk penghakiman
dan pengucilan? Ayat 17b ini seharusnya dipahami dalam konteks kehidupan dan sikap
Yesus saat itu. Bagaimana Yesus memandang seseorang yang tidak mengenal Allah?
Bagaimana Yesus memandang seorang pemungut cukai? Bukankah Yesus memandang
mereka dengan welas asih? Bukankah Yesus merengkuh mereka yang berdosa itu? Akankah
kita belajar untuk memandang mereka yang sulit untuk ditegur, dengan cara pandang
Yesus? Ataukah sikap yang akan kita pilih adalah dengan bergosip, menghakimi dan
mengucilkannya?

APLIKASI
Tidak dipungkiri bahwa manusia memang rentan untuk jatuh dalam dosa. Umat Kristen juga
tidak kebal dari kecenderungan tersebut, sehingga tidak heran dalam sejarah persekutuan di
gereja manapun, selalu ada saja orang-orang yang jatuh dalam dosa.

Tidak dipungkiri juga, bahwa membicarakan dosa dan kelemahan orang lain, adalah hal yang
cukup populer, sampai-sampai muncul istilah, “gibah is life style.” Ini menunjukkan bahwa
gosip dan penghakiman adalah hal yang lekat dalam kehidupan manusia saat menghadapi
seseorang yang jatuh dalam dosa.

Alih-alih mencoba memahami kenapa seseorang jatuh dalam dosa, manusia lebih cepat
bereaksi dengan komentar-komentar pribadi dan menghakimi seolah ia tahu situasi
keseluruhannya. Dalam istilah etika Kristen, penting bagi kita untuk tahu kejelasan
konseptual dan faktual dalam sebuah peristiwa buruk apapun. Fraternal correction bukan
hanya mengandung dimensi menegur saja, namun sesungguhnya ada ruang untuk
mendengarkan tanpa menghakimi.

Ketika teguran kita tak didengarkan, respon kita berikutnya juga penting. Panggilan kita
adalah untuk menegur, mengasihi dan bukan menghakimi. Pandanglah mereka yang sulit
ditegur itu dengan cara pandang Yesus, yang kasih-Nya tetap merengkuh dan sabar
menantikan perubahan anak-anak-Nya.

LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Pelayan firman membuka penyampaian sabda dengan beberapa pertanyaan yang
mengarah pada tujuan dalam materi ini dan berikan kesempatan untuk beberapa
remaja memberikan jawabannya.

118
• Bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang bergosip atau memberikan
penghakiman pada seseorang yang berbuat dosa?
• Menurut kamu, perasaan apa yang mungkin muncul pada diri seseorang yang
digosipkan dan dihakimi atas kesalahan atau dosanya?
• Menurut kamu, sikap macam apa yang perlu dibangun ketika ada seseorang
yang jatuh dalam dosa?
2. Catat poin-poin penting dari jawaban-jawaban yang sudah diberikan oleh remaja.
3. Masuk pada aktivitas sederhana yang diberi nama “Jangan Gegabah”. Alat yang
dibutuhkan:
• 2 gelas bening (1 gelas berisi air, 1 gelas berisi madu)
• 2 buah kelereng
4. Tanyakan kepada remaja, “Kelereng mana yang akan lebih dahulu sampai ke dasar
gelas?” Setelah remaja menjawab, jatuhkan kedua kelereng ke masing-masing gelas
secara bersamaan.
5. Pelayan firman menjelaskan beberapa poin pembelajaran dari aktivitas, “Jangan
Gegabah” dalam kaitannya dengan jawaban-jawaban remaja pada langkah
penyampaian nomor 1.
• Terlebih dahulu, perkenalkan istilah Fraternal Correction pada remaja.
• Dalam fraternal correction, alangkah baiknya, jika kita tahu ada seseorang
yang jatuh dalam dosa, kita tidak secara cepat menghakimi dan lalu
menyebarkan gosip kemana-mana. Jangan seperti kelereng yang jatuh ke
gelas berisi air, melainkan seperti kelereng yang jatuh ke dalam gelas berisi
madu.
• Kelereng yang jatuh dengan lambat di gelas berisi madu, menunjukkan
pembelajaran pada kita untuk tidak secara reaktif memberikan respon
negatif, melainkan memberi waktu bagi diri kita untuk memahami situasi
seseorang yang jatuh dalam dosanya. Bisa jadi, muncul perasaan malu,
kebingungan dan bahkan rasa takut juga penyesalan.
• Sikap yang perlu dibangun ketika seseorang jatuh dalam dosa adalah dengan
melakukan fraternal correction. Menegur dalam ranah pribadi, bukan public.
Menegur dengan kasih yang lembut sesuai spirit fraternal correction dalam
bacaan Injil. Jika upaya tersebut belum berhasil, maka pandanglah mereka
sebagaimana Yesus memandang orang yang tidak mengenal Allah, atau
pemungut cukai.
6. Menyanyikan KJ 467: 2, “Tuhanku, Bila Hati Kawanku”

119
PENGANTAR
Minggu, “Sudahlah! Aku gini aja deh! Ngapain susah-

17
susah, sih!”
“Duh! Aku ga berani, aku ga yakin aku bisa,
nanti gimana kalau gini gitu!”

September 2023 Pernahkah mendengar kalimat macam itu?


Atau mungkin pernahkah menjadi sosok yang
mengucapkan kalimat yang demikian? Biasanya
CROSSING THE kalimat ini muncul, saat seseorang harus
melakukan sesuatu yang baru. Nah! Bukankah
OCEAN OF LIFE memang demikian kehidupan ini? Ada
masanya dalam kehidupan, seseorang diajak
KELUARAN 14:19-31 untuk bergerak maju, bahkan tidak jarang
tanpa memiliki pilihan untuk mundur, selain
Tujuan: harus maju.
Remaja mampu mengemukakan
hal-hal berat yang mereka hadapi Istilah yang dipakai hari ini adalah, crossing the
ketika harus crossing the ocean of
ocean of life. Sebuah ajakan untuk
life.
menyeberangi samudera kehidupan, menuju
Remaja mampu menemukan sisi seberang yang lebih baik. Tentu ini proses
mengapa dan untuk apa yang tidak mudah, karena artinya, seseorang
tantangan itu hadir saat mereka harus meninggalkan zona nyamannya, menuju
crossing the ocean of life. zona baru yang kadang berbahaya karena
Remaja mampu mengatasi hal-hal membuatnya takut, ragu, bingung. Mari kita
yang berat dengan pertolongan renungkan bersama!
Tuhan.
PENJELASAN TEKS
Bacaan hari ini berkisah mengenai bangsa
Israel yang baru saja keluar meninggalkan Mesir setelah 10 tulah menimpa bangsa Mesir.
Setelah bangsa Israel pergi, Firaun kembali berubah pikiran dan memerintahkan pasukannya
untuk mengejar Israel. Bangsa Israel yang dikejar itu, akhirnya berada dalam posisi yang
sangat terjepit. Bagaimana tidak! Di belakang mereka ada banyak pasukan Mesir, di depan
mereka terbentang lautan yang sangat luas!

Memang pada bacaan Keluaran 14:19-31 ini nampak mujizat Allah yang luar biasa. Laut
terbelah, menyelamatkan bangsa Israel dan melululantakkan pasukan Mesir yang mengejar
mereka. Banyak orang Kristen yang tentu saja sudah tidak asing dengan salah satu mujizat
yang dikerjakan Allah. Hari ini, kita akan melihat bagian lain dalam kisah mujizat yang luar
biasa ini.
1. Jika kita perhatikan, mujizat tersebut tidak begitu saja terjadi. Laut itu tidak lantas
langsung terbelah. Allah memerintahkan Musa mengulurkan tangannya, lalu semalam-

120
malaman angin diperintahkan oleh Allah untuk menguakkan laut itu. Setelah air laut
terbelah, barulah bangsa Israel bisa menyeberanginya dan akhirnya mereka selamat.
Untuk sebuah hal yang luar biasa, kadang diperlukan sebuah proses.

2. Selain karya Allah yang luar biasa, Allah juga melibatkan Musa untuk mengerjakannya. Itu
artinya, kita juga perlu merespon undangan Allah tersebut dan bukan hanya pasif
menunggu sesuatu berubah.

3. Ada tiga zona yang dialami oleh bangsa Israel.


• Zona nyaman, sedikit cross text, pada Keluaran 14:12, bangsa Israel mengeluh
kepada Musa, “Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah
mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi
kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” Sudah
terlalu lama bangsa Israel hidup di tanah Mesir. Meskipun mereka menjadi budak,
namun mereka terlalu terikat dan terbiasa dengan kehidupan itu.
• Zona peregangan. Zona ini adalah saat mereka pertama kali keluar dari tanah Mesir.
Ini sesuatu yang baru bagi mereka.
• Zona berbahaya. Ini adalah zona yang terjadi pada bacaan hari ini. Mereka
merasakan kepanikan, ketakutan, juga kebingungan.

Bangsa Israel melewati 3 zona itu. Meninggalkan zona nyaman mereka untuk menyeberang
ke sisi kehidupan yang lain yang dikehendaki oleh Allah. Crossing the ocean of life!
Menyeberangi samudera kehidupan itulah yang sungguh terjadi pada bangsa Israel.
Prosesnya tidak selalu mudah, namun ketika kita ingin bertumbuh, maka kadangkala kita
harus cukup berani untuk memasuki bahkan zona berbahaya sekalipun, dengan pertolongan
Allah.

APLIKASI
Selalu ada “ocean atau samudera” yang harus diseberangi dalam hidup ini untuk beranjak ke
sisi seberang. Diperlukan keberanian, agar tidak kalah atau menyerah. Sama seperti Allah
yang memerintahkan orang Israel untuk maju dan menyeberang, ada masanya Allah juga
meghendaki kita untuk beranjak ke [Link] bukankah tidak sedikit orang-orang
yang lebih nyaman di lingkungan yang sudah dikenal, mempertahankan zona nyaman, takut
untuk mencoba dan seterusnya?

Crossing the Ocean of Life, ini bisa beragam bentuknya. Mulai dari memulai kebiasaan baru
yang lebih positif, berpindah sekolah, memulai tahun ajaran baru, memulai ambil bagian
dalam pelayanan, membangun relasi atau circle pertemanan yang baru, dll. Hal-hal ini bisa
membuat seseorang kewalahan, jadi seseorang bisa saja menjaga semuanya tetap sama
dengan menolak perubahan dan peluang. Seandainya orang-orang Israel tidak maju, mereka
pasti akan binasa di tangan tentara Mesir. Nyatanya, Musa dan orang-orangnya bergerak

121
maju hanya dengan iman. Penyeberangan mereka bergantung pada keyakinan penuh
kepada Tuhan dan kepercayaan kepada Musa untuk memimpin mereka. Mari menyeberang
dan bergerak maju!

LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Pelayan Firman memulai dengan mengajak remaja melakukan aktivitas“LingkaranTiga
Zona”.

Alat yang diperlukan disesuaikan dengan bahan yang dimiliki oleh pelayan firman.
Kurang lebih, pelayan firman akan membuat lingkaran yang cukup besar dengan
panduan gambar, sbb:

Setiap lingkaran memiliki makna khusus:


• Lingkaran Biru, adalah zona nyaman. Di zona ini, seseorang merasa aman dan
juga nyaman. Rutinitas atau kebiasaan harian, orang-orang yang sudah akrab,
lingkungan yang tidak asing, tugas yang sesuai dengan kesukaan dan
keterampilan, dst adalah hal-hal yang dirasakan di zona ini. Zona nyaman kita
biasanya adalah tempat kita menghabiskan sebagian besar hari ke hari.
• Lingkaran Kuning, adalah zona peregangan. Di zona ini, seseorang mulai belajar
melakukan sesuatu yang diluar rutinitas, di luar kebiasaan hariannya. Intinya,
sesuatu yang baru dilakukan di zona ini dan seseorang bersedia untuk belajar.
• Lingkaran Merah, adalah zona berbahaya. Di zona ini, ada banyak ketakutan,
kebingungan, dan penuh dengan tantangan.

2. Teknis Aktivitas
• Mintalah beberapa remaja untuk ikut bermain dan mintalah mereka untuk berdiri
di luar lingkaran 3 zona.
• Jelaskan arti dari 3 zona tersebut

122
• Setelah beberapa remaja memahami arti dari 3 zona tersebut, jelaskan bahwa
pelayan firman akan membaca beberapa skenario situasi dan mereka harus
bergerak menuju ke zona mana yang mereka rasakan atas skenario tersebut.

3. Beberapa contoh skenario situasi:


• Menjadi ketua sebuah acara.
• Memimpin doa.
• Menjadi song leader.
• Sendirian di lingkungan yang baru.
• Ditanya pendapatnya saat sedang rapat.
• Dan lain-lain
(catatan: setiap kali remaja memilih zona nya, tanyakan kepada mereka
mengapamerekamemilih zona itu, hambatan apa yang mereka bayangkan sehingga
memilih zona itu)

4. Pelayan Firman masuk ke dalam penjelasan firman Tuhan mengikuti bagian penjelasan
teks pada materi ini.

123
PENGANTAR
Minggu, "Sungguh tidak adil!”

24
September 2023
Mungkin kita pernah mengucapkan kalimat
tersebut setidaknya sekali atau dua kali dalam
hidup kita.

Selain kalimat ini, pernahkah kita mengucapkan


“Tuhan, Kau sungguh tidak adil!”?
YUK, MEMAHAMI
Jadi rupanya, yang dianggap tidak adil itu
KEADILAN TUHAN! bukan hanya manusia, bahkan Tuhan pun bisa
dianggap tidak adil oleh manusia. Mengapa itu
MATIUS 20:1-16
terucap? Kalimat-kalimat tersebut, biasanya
diucapkan ketika orang yang mengatakannya,
Tujuan:
merasa bahwa mereka telah diperlakukan tidak
Remaja mampu memperluas
pemahaman mereka mengenai adil, atau ketika orang lain telah menerima
keadilan Tuhan. sesuatu yang menurutnya tidak pantas mereka
terima, atau ketika segala sesuatunya tampak
Remaja mampu mengoreksi tidak seimbang. Menariknya, kalimat ini jarang
pemahaman mereka mengenai diucapkan atas nama orang lain, dan lebih
keadilan Tuhan.
sering digunakan ketika orang atau kelompok
merasa mereka adalah pihak yang
dirugikan. Keadilan seringkali hanya penting
karena berkaitan dengan keuntungan diri sendiri. Namun, sungguhkah Tuhan tidak adil?
Atau sebenarnya, kita ini yang belum memahami konsep keadilan Tuhan? Yuk, memahami
keadilan Tuhan!

PENJELASAN TEKS
Ada seorang pemilik kebun anggur yang akan memanen anggurnya. Dia mencari orang-
orang yang bisa bekerja di kebun anggurnya, sehingga ia pergi dengan pembagian waktu
sebagai berikut:
• Pagi-pagi benar, ia pergi keluar mencari pekerja-pekerja dengan gaji yang pantas
yaitu satu dinar sehari. Pada zaman Yesus merupakan hak yang istimewa bagi
seorang pekerja untuk ditempatkan di dalam posisi untuk mendapatkan gaji. Dengan
menyediakan pekerjaan baginya, tuan tersebut telah menunjukkan kebaikan hati
kepadanya.

• Kira-kira pukul 9, ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang yang menganggur. Ia
meminta mereka untuk bekerja di kebun anggurnya. Perhatikan, tidak seperti proses
yang pertama, ia tidak memberi info mengenai berapa gaji yang akan diterima oleh

124
pekerja pukul 9 ini. Toh demikian, pekerja-pekerja itu pergi juga. Ini mengindikasikan
bahwa reputasi pemilik kebun anggur itu pasti baik dan bisa dipercaya.

• Kira-kira pukul 12 dan pukul 15.00, ia keluar lagi.

• Kira-kira pukul 5 petang, ia keluar lagi dan mendapati orang-orang yang lain lagi lalu
ia bertanya mengapa mereka menganggur saja sepanjang hari. Tentu saja mereka
tidak menganggur, melainkan karena tidak ada orang yang mau mengupah mereka.
Tuan itu berkata: "Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku." Lagi-lagi, tidak
disebutkan mengenai gaji di ayat ini.

Sekarang, mari kita pahami beberapa pembelajaran yang penting.


• Mungkin kita bertanya-tanya, “Ini pemiliki kebun anggur kok aneh bener, apa dia ga
memperhitungkan baik-baik berapa jumlah pekerja yang dibutuhkan, kok malah
bolak-balik nambah pekerja?!”
Kita tidak bisa memahami hal tersebut dengan kacamata bisnis, sebab memang
perumpamaan ini tidak hendak berbicara mengenai hal tersebut. Perumpamaan ini
hendak mengajarkan mengenai praktek kasih karunia. Tuan ini pergi berungkali
untuk mendapatkan pekerja lagi, karena ia melihat ada orang-orang yang
memerlukan pekerjaan dan tentunya uang untuk kehidupan keluarga mereka. Jam
kerja terakhir adalah sebelum matahari terbenam. Maka coba bayangkan kondisi
orang-orang yang sampai pukul 15.00 atau 17.00 belum mendapatkan pekerjaan.
Bisa jadi, jika sampai matahari terbenam, mereka tidak mendapatkan pekerjaan,
keluarganya juga tak memiliki sesuatu untuk dibeli dan dimakan. Jadi, perumpamaan
ini lebih berbicara mengenai kasih karunia.

• Tuan ini adalah sosok yang baik. Perhatikan bahwa ia tidak menahan gaji bagi para
pekerja itu, dan ini adalah perintah yang dikenal dalam Imamat 19: 13 atau Ulangan
24: 15. Lalu, saat tiba pembagian gaji, tuan itu memerintahkan mandurnya untuk
membayar gaji para pekerja, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga
mereka yang masuk terdahulu. Yang mengherankan, pekerja yang masuk terakhir
menerima upah satu dinar. Tentu saja mereka senang sebab rupanya tuan itu bukan
hanya dapat dipercaya tetapi dia juga murah hati. Semakin mengherankan sebab
semua pekerja yang bekerja selama setengah hari juga menerima upah yang sama.

• Ketegangan mulai muncul, ketika pekerja gelombang pertama yang memulai bekerja
paling awal berharap juga bisa menerima kemurahan hati tuan tersebut dan
mendapatkan lebih dari satu dinar. Tentu saja hal itu tidak terjadi dan mereka
menerima masing-masing satu dinar seperti yang sudah disepakati sebelum mereka
mulai bekerja. Mulailah mereka protes! Mereka menganggap ini ketidakadilan dan
mulai mengungkapkan keluhan dengan amarah. “Kok bisa gitu lho! Kami yang sudah
bekerja keras sepanjang hari, berpanas-panas, kok gajinya sama dengan mereka

125
yang baru mulai bekerja dari sore!” Begitu mungkin kurang lebih protes mereka.

Mari kita pikir-pikir lagi. Pertama, bukankah memang sudah ada kesepakatan sebelumnya
mengenai 1 dinar sehari? Kedua, bukankah semua pekerja itu menerima kemurahan hati si
tuan? Ingat, mereka ini yang sebenarnya butuh pekerjaan. Melalui perumpamaan ini, kita
diajak untuk memahami bahwa Dia adil dalam kemurahan hati saat melihat kebutuhan
anak-anak-Nya. Kasih karunia Allah tidak dapat dibagi secara matematis menurut jasa yang
telah dilakukan seseorang.

APLIKASI
Terkadang orang berkata "Sungguh tidak adil! Tuhan tidak adil!" ketika mereka bermaksud
menyatakan, "orang lain mendapat lebih dari saya!" Demikianlah rupanya pemahaman
umum mengenai keadilan, bahwa adil berarti sama. Dalam beberapa hal, mungkin bisa
diterapkan, terlebih dalam hal penerapan hukum, bahwa hukum berlaku sama pada status
sosial apapun. Namun adil dalam konteks bacaan Injil hari ini, tidak selalu demikian. Adil
tidak selalu berarti sama. Adil berarti orang mendapatkan apa yang mereka
butuhkan. Dalam kisah para pekerja di kebun anggur, si tuan setuju untuk membayar semua
orang dengan upah yang adil untuk satu hari karena itulah yang dibutuhkan pekerja. Orang-
orang yang bekerja lebih lama berpikir bahwa itu tidak adil, tetapi pemiliknya memenuhi
kebutuhan semua orang.

Tentu saja, materi ini tidak bermaksud mempersempit makna keadilan, melainkan justru
memperkaya dengan memahami keadilan Allah yang berdasarkan pada kemurahan hati-Nya
yang memenuhi kebutuhan anak-anak-Nya. Dalam kehidupan keseharian, remaja
membangun sebuah pemahaman bahwa Allah sungguh adil dalam segala pertimbangan-Nya
yang kadang tak terselami.

LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Pelayan firman bisa memulai dengan 2 pertanyaan:
• Adakah yang pernah mengalami sebuah pengalaman, dimana mereka merasa Tuhan
tidak adil? Ceritakan.
• Apa yang kalian pahami mengenai keadilan?
(catatan: pelayan firman perlu berhati-hati agar diskusi tidak melebar sampai
pembahasan mengenai ketidakadilan sistem, dll. Sebab materi ini berfokus pada
keadilan Tuhan. Manusia bisa tidak adil, tapi Allah adalah adil adanya dalam
segala pertimbangan yang tidak selalu bisa dimengerti)
2. Ajaklah remaja untuk melakukan aktivitas sederhana. Alat yang dibutuhkan:
• Beberapa kertas yang bertuliskan beberapa jenis sakit atau kondisi (tangan keseleo,
jari terkena pisau, sariawan, haus, lapar)
• Minyak gosok atau balsem, betadine atau perban, dan vitamin c atau buah jeruk, air
putih, roti.

126
3. Bagikan kertas yang bertuliskan beberapa jenis sakit dan kondisi tadi pada 5 remaja.
Setelah dibagikan, minta satu persatu untuk mengerang atau mengeluh sesuai jenis
sakit dan kondisi yang dialaminya.
4. Pastikan, yang pertama kali membaca kertas tadi adalah remaja yang tangannya
keseleo. Lalu oleskan balsem atau minyak gosok ke tangannya.
5. Setelah itu, berikan kesempatan pada 4 remaja yang lain untuk mengerang dan
mengeluh sesuai jenis sakit dan kondisi yang dialaminya. Lalu berikan treatment yang
sama seperti yang diterima oleh remaja 1, yaitu dengan mengoleskan balsem atau
minyak gosok. (tentu tidak dilakukan sungguh-sungguh ya, bagi yang sakit sariawan)
6. Setelah selesai, berikan obat atau treatment sesuai yang dibutuhkan remaja.
7. Tanyakanlah pembelajaran apa yang penting dari aktivitas sederhana ini?
• Adil adalah saat seseorang diberikan sesuatu sesuai kebutuhannya.
8. Ajak remaja masuk pada penjelasan teks untuk memahami keadilan Tuhan yang
senantiasa mempertimbangkan kebutuhan anak-anak-Nya.
9. Tutup dengan nyanyian, “Bapa Engkau Sungguh Baik”

127
128

Anda mungkin juga menyukai