Pengaruh Poster Kesehatan pada WUS
Pengaruh Poster Kesehatan pada WUS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kebidanan
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Disusun oleh :
Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing dan telah diperkenankan untuk diujikan.
Boyolali, ..
Pembimbing,
iii
HALAMAN PENGESAHAN
PROPOSAL SKRIPSI
Disusun Oleh
Winarsih, [Link]
NIDN 0523078502
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukursaya panjatkan kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa. Karena
atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan proposal Skripsi yang
berjudul Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Media Poster terhadap
Pengetahuan Penggunaan MKJP pada WUS Unmet need di Desa Jangglengan
Nguter Sukoharjo. Penulisan skripsi ini dalam rangka memenuhi salah satu
syarat mencapai gelar (Sarjana / Sarjana terapan) pada Program Studi Sarjana
Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo. Proposal skripsi ini
terwujud atas bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak
dapat penulis sebutkan satu-persatu. Dan pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Sarwoko, [Link]., [Link]., Ns., [Link]., [Link]. sebagai Ketua STIKES
Estu Utomo
2. Ibu Ardiani Sulistiani, [Link] Sebagai Ketua Program Studi Sarjana
Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan STIKES Estu Utomo.
3. Ibu Sri Handayani, [Link], [Link], [Link] sebagai pembimbing utama yang
telah membimbing dengan sabar sampai proposal skripsi ini selesai.
4. Ibu Winarsih, [Link] sebagai penguji I
5. Ibu Rismawati, SST., [Link].,[Link] sebagai penguji II
6. Bapak Hafidh Al Fajri, [Link], [Link] sebagai Kepala Desa Jangglengan
7. Keluarga dan teman teman yang telah memberikan bantuan material dan
moril kepada penulis.
8. Berbagai pihak yang tidak dapat penulis tuliskan satu persatu.
Akhir kata, saya berharap Allah, Tuhan Yang Maha Esa berkenan
membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Tugas
Akhir ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu.
v
DAFTAR ISI
Contents
COVER.....................................................................................................................i
HALAMAN JUDUL...............................................................................................ii
LEMBAR PERSETUJUAN...................................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................iv
PROPOSAL SKRIPSI............................................................................................iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...............................v
KATA PENGANTAR............................................................................................vi
DAFTAR ISI.........................................................................................................viii
DAFTAR TABEL....................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................xi
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................xii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang...................................................................................1
B. Perumusan Masalah...........................................................................4
C. Tujuan Penelitian...............................................................................5
D. Manfaat Penelitian.............................................................................5
E. Keaslian Penelitian............................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................8
A. Tinjauan Teori...................................................................................8
B. Kerangka Teori ..............................................................................32
C. Kerangka Konsep.............................................................................33
D. Hipotesis..........................................................................................33
BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................34
A. Jenis dan Desain Penelitian.............................................................34
B. Populasi............................................................................................35
C. Sampel, dan Teknik Sampling.........................................................35
D. Waktu dan Tempat Penelitian..........................................................35
E. Variabel Penelitian...........................................................................36
F. Definisi Operasional Variabel Penelitian........................................36
G. Jenis dan Teknik Pengumpulan.......................................................37
H. Alat Ukur/Instrument dan Bahan Penelitian....................................38
I. Uji Validitas dan Reliabilitas...........................................................39
J. Analisa Data.....................................................................................40
K. Prosedur Penelitian..........................................................................41
L. Etika Penelitian................................................................................43
DAFTAR PUSTAKA 45
vi
DAFTAR TABEL
vii
DAFTAR GAMBAR
viii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Jadwal Penelitian
2. Permohonan Menjadi Responden
3. Persetujuan Menjadi Responden
4. Kuesioner
5. Kunci Jawaban Kuesioner
6. Poster
7. SAP
8. Lembar konsul
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam rangka menekan laju pertumbuhan penduduk, pemerintah
melaksanakan berbagai program pembangunan salah satunya keluarga
berencana (KB). Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) merupakan
usaha pemerintah dalam menekan pertumbuhan penduduk. Pasangan Usia
Subur (PUS) dapat menentukan pilihan kontrasepsi sesuai dengan kondisi dan
kebutuhannya berdasarkan informasi yang telah dipahami, termasuk
keuntungan, kerugian dan faktor yang mempengaruhi metode kontrasepsi
(Kementerian Kesehatan RI, 2019).
Berdasarkan Laporan BKKBN tahun 2022, jumlah peserta KB di
Indonesia yaitu sebanyak 27.564.662 jiwa. Metode kontrasepsi yang
digunakan yaitu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang total sebanyak
6.041.041 jiwa (21,91%) dan pengguna Metode Kontrasepsi Non Jangka
Panjang sebanyak 21.523.621 jiwa (78,08%). Berdasarkan data tersebut
diketahui bahwa cakupan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang di
Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan penggunaan Metode
Kontrasepsi Non Jangka Panjang. Padahal jika dilihat dari tingkat efektivitas
dalam pengendalian jarak kehamilan, Metode Kontrasepsi Jangka Pendek
lebih rendah dibandingkan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).
MKJP dapat dipakai dalam jangka waktu lama, lebih dari dua tahun, efektif
dan efisien alat/obat/cara KB yang termasuk MKJP yaitu AKDR/AKDR,
AKBK, MOP dan MOW (Riskesdas, 2022).
Rendahnya penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
dapat disebabkan karena beberapa faktor seperti: ketidaktahuan peserta
tentang kelebihan MKJP, kualitas pelayanan KB dilihat dari segi ketersediaan
alat kontrasepsi dan ketersediaan tenaga yang terlatih serta kemampuan medis
teknis petugas pelayanan kesehatan, biaya pelayanan yang mahal, hambatan
1
2
dukungan dari suami, dan adanya persepsi atau keyakinan yang didasarkan
kepercayaan dan norma-norma dimasyarakat (Prabawati, 2022).
Pemerintah melakukan upaya pengendalian penduduk melalui instansi
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Salah
satu indikator dari sasaran strategis BKKBN dalam program keluarga
berencana (KB) tahun 2020-2024 adalah menurunnya Angka Kelahiran Total
(Total Fertility Rate/TFR) per WUS usia 15-49 tahun. Angka kelahiran
merupakan salah satu komponen dalam pertumbuhan penduduk yang sifatnya
menambah jumlah penduduk. Salah satu kendala dalam menurunkan angka kelahiran
total yaitu adanya kebutuhan KB yang tidak terpenuhi (unmet need KB) pada WUS
(BKKBN, 2015). Unmet need adalah wanita yang subur dan aktif secara
seksual namun tidak menggunakan metode kontrasepsi, sedangkan mereka
menyatakan tidak ingin punya anak lagi atau ingin menunda anak berikutnya
(WHO, 2014).
Kelompok unmet need merupakan sasaran yang perlu menjadi perhatian
dalam pelayanan program KB karena selain dapat meningkatkan fertilitas yang
dikhawatirkan memicu ledakan penduduk, juga dapat meningkatkan kejadian
kehamilan tidak diinginkan (KTD). Kehamilan tidak diiginkan akan mendorong
terjadinya aborsi sehingga berpengaruh juga terhadap tingginya angka kematian ibu
dan anak karena tindakan aborsi yang tidak aman (Ratnaningsih, 2018). Faktor
penyebab unmet need diantaranya kurangnya pengetahuan tentang KB,
kurangnya dukungan suami dan budaya seperti penggunaan kontrasepsi
hanya pada golongan umur tertentu saja. Faktor umur seseorang berpengaruh
signifikan mengalami unmet need KB karena kelompok ini tidak menyadari
bahwa mereka memiliki potensi hamil (Sariyati and Al, 2023).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah pada
tahun 2022 jumlah akseptor KB di Jawa Tengah adalah 4.021.360. Jumlah
tersebut meliputi MOW 183.823 (4,6%), MOP 10.081 (0,3%), AKBK 477.498
(12%), AKDR 340.827 (8,5%), pil 323.898 (8,1%), dan suntik 2.504.208 (62,7%).
Data capaian KB di Jawa Tengah pada tahun 2022 menunjukkan bahwa
persentase peserta KB MKJP masih cukup rendah, yaitu sebesar 28,05%
dibandingkan dengan terget 70%. Rendahnya penggunaan MKJP
3
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster
terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need di Desa
Jangglengan Nguter Sukoharjo.
2. Tujuan Khusus
a. Mengindentifikasi karakteristik responden berdasarkan umur,
pendidikan dan pekerjaan di Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo.
b. Mengetahui pengetahuan penggunaan MKJP Pada WUS Unmet need
sebelum diberikan pendidikan kesehatan di Desa Jangglengan Nguter
Sukoharjo.
c. Mengetahui pengetahuan penggunaan MKJP Pada WUS Unmet need
sesudah diberikan pendidikan kesehatan di Desa Jangglengan Nguter
Sukoharjo.
d. Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster
terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need di
Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Manfaat bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat
sehingga dapat menerapkan penggunaan MKJP pada WUS yang Unmet
need di masyarakat.
2. Manfaat bagi Institusi
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah referensi bagi Institusi
pendidikan dalam menyampaikan pembelajaran tentang pengaruh
pendidikan kesehatan dengan media poster terhadap pengetahuan
penggunaan MKJP pada WUS unmet need di Desa Jangglengan Nguter
Sukoharjo.
6
Bayu Komunikasi cross sectional. Jumlah dari 151 responden arif meneliti tentang
(2023) Informasi Edukasi sampel 151 dan diambil menunjukkan bahwa edukasi pemakain
dengan secara consecutive tingkat KIE yang MKJP sedangkan
Pemakaian sampling dari wanita usia didapatkan beragam pada penelitian ini
Metode subur (WUS) yang dan tidak merata. meneliti tentang
Kontrasepsi merupakan anggota grup Hasil analisis tingkat pengetahuan
Jangka Panjang di WhatsApp bersama kader- didapatkan nilai WUS penggunaan
Jakenan kader kesehatan Puskesmas p=0,001 (p<0,05) MKJP
Kabupaten Pati Jakenan. Kuesioner yang atau terdapat
telah divalidasi digunakan hubungan yang
untuk pengambilan data signifikan antara
secara online (Google KIE dengan
Form). Data dianalisis keputusan
menggunakan chi square pemakaian MKJP.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Wanita Usia Subur (WUS)
a. Pengertian
Wanita usia subur (WUS) atau bisa disebut masa reproduksi
merupakan wanita yang berusia antara 15-49 tahun dimulai dari pertama
kali menstruasi sampai berhentinya menstruasi atau menopause yang
berstatus menikah, belum menikah maupun janda dan masih berpotensi
untuk hamil. Seorang wanita dikatakan masa reproduksi ketika pertama
mengalami mentsruasi atau haid. Mentruasi ini terjadi karena adanya
pengeluaran sel telur yang telah matang dan tidak dibuahi sehingga sel
telur tersebut akan lepas dari ovariumnya Begitupun sebaliknya ketika
seorang wanita tidak mampu melepaskan ovum karena sudah habis
tereduksi, menstruasi akan menjadi tidak teratur lagi setiap bulan, sampai
kemudian terhenti sama sekali, masa ini disebut menopause (Akbar &
Hidayani, 2021).
b. Tanda-tanda Wanita Usia subur
Tanda-tanda Wanita Usia Subur Menurut (Suprihatin & Indrayani, 2022) :
1) Siklus Haid
Wanita yang mempunyai siklus haid teratur setiap bulan
biasanya subur. Satu putaran haid dimulai dari hari pertama keluar
haid hingga sehari sebelum haid datang kembali, yang biasanya
berlangsung selama 28 hingga 30 hari. Oleh karena itu siklus haid
dapat dijadikan indikasi pertama untuk menandai seorang wanita subur
atau tidak (Suprihatin & Indrayani, 2022).
8
9
2) Pemeriksaan fisik
Untuk mengetahui seorang wanita subur juga dapat diketahui
dari organ tubuh seorang wanita. Beberapa organ tubuh, seperti buah
dada, kelenjar tiroid pada leher dan organ reproduksi. Kelenjar tiroid
yang mengelurkan hormon tiroksin berlebihan akan mengganggu
proses pelepasan sel telur. Sedangkan pemeriksaan buah dada
ditujukan untuk mengetahui hormon prolaktin dimana kandungan
hormon prolaktin yang tinggi akan mengganggu proses pengeluaran
sel telur. Selain itu, pemeriksaan sistem reproduksi juga perlu
dilakukan untuk mengetahui sistem reprosuksi normal atau tidak
(Suprihatin & Indrayani, 2022).
2. Unmet need
a. Pengertian
Unmet need adalah kebutuhan Pasangan usia subur untuk ber KB
tetapi kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Kebutuhan tersebut adalah tidak
ingin anak lagi atau ingin menjarangkan kehamilan berikutnya tetapi PUS
tidak memakai alat kontrasepsi (BKKBN, 2021). Unmet need dilihat dari
sisi demand KB, yaitu keinginan individu atau pasangan untuk mengontrol
kelahiran di waktu yang akan datang. Keinginan mengontrol kelahiran ini
dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu keinginan untuk menunda kelahiran,
keinginan untuk menjarangkan kelahiran, dan keinginan untuk mengakhiri
kelahiran. (Listyaningsih,2021).
Unmet need adalah perempuan yang berstatus menikah yang tidak
menggunakan kontrasepsi, yang subur dan keinginan untuk berhenti
melahirkan anak atau menunda kelahiran yang tidak diinginkan atau tidak
tepat waktu, wanita pasca partum amenore yang tidak menggunakan
kontrasepsi dan ingin menunda atau mencegah kehamilan. Unmet need KB
adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang tidak menginginkan anak,
10
2) Pengetahuan
Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung
ataupun melalui pengalaman orang lain. Pengetahuan dapat
ditingkatkan melalui penyuluhan baik secara individu maupun
kelompok untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan, perilaku
individu, keluarga dan masyarakat dalam mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan
dengan wawancara atau angket yang menanyakan materi yang ingin
diukur dari objek penelitian atau kedalam pengetahuan yang ingin
diketahui (Notoatmodjo,2020). Pengetahuan tentang segi positif dan
segi negatif dari program KB tersebut akan menentukan sikap orang
terhadap program KB. Secara teoritis bila segi positif program KB
lebih banyak dari segi negatifnya, maka sikap yang positiflah yang
akan muncul. Sebaliknya bila segi negatif dari program KB lebih
banyak dari segi positifnya, maka sikap yang negatiflah yang akan
muncul. Bila sikap positif terhadap program KB telah tumbuh, maka
besar kemungkinan bahwa seseorang akan mempunyai niat untuk
mengikuti 13 program KB. Namun bila sikap negatif yang tumbuh,
maka akan kecil kemungkinan seseorang akan memiliki niat untuk ikut
program KB.
3) Dukungan Suami
Dukungan suami merupakan dorongan terhadap ibu secara
moral maupun material, dimana dukungan suami mempengaruhi ibu
untuk menjadi akseptor KB. Tetapi beberapa suami tidak menyetujui
istrinya untuk menjadi akseptor KB. Penggunaan kontrasepsi
merupakan tanggung jawab bersama pria dan wanita sebagai pasangan,
sehingga metode kontrasepsi yang dipilih mencerminkan kebutuhan
serta keinginan suami dan istri. Suami dan istri harus saling
mendukung dalam penggunaan metode kontrasepsi karena keluarga
12
kehamilan dengan jangka waktu sampai sepuluh tahun yang meliputi alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR), sedangkan alat kontrasepsi bawah kulit
dengan masa berlaku sampai tiga tahun (Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN, 2020).
b. Macam-macam Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
1) Alat Kontrasepsi Dalam Rahin (AKDR)/ Intra Uterine Device (AKDR).
AKDR atau spiral merupakan suatu benda kecil yang terbuat
dari plastik yang lentur, memiliki lilitan temabaga, dan dimasukan
kedalam rahim melalui vagina dan memiliki benang (Handayani, 2020).
Cara kerja AKDR/AKDR yaitu menghambat kemampuan sperma untuk
masuk ke dalam tuba fallopi, mempengaruhi fertilitas sebelum ovum
mencapai kavum uteri, AKDR bekerja terutama untuk mencegah sperma
dan ovum tertentu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke
dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma
untuk fertilitas, serta memungkinkan mencegah implementasi telur
dalam uterus (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN, 2020).
Efektivitas tinggi dan sangat efektif yaitu 0,6-0,8
kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama, AKDR efektif segera
setelah pemasangan, sebagai metode jangka panjang (10 tahun proteksi
dan tidak perlu diganti), sangat efektif karena tidak perlu mengingat-
ingat, tidak mempengaruhi hubungan seksual, tidak ada efek samping
hormonal, tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI, tidak ada
interaksi dengan obat-obat, dan membantu mencegah kehamilan ektopik
(Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN,
2020)
Efek samping yang umum terjadi pada saat penggunaan KB
AKDR antara lain :
19
3) MOW/MOP
Metode Operasi Wanita (MOW) atau tubektomi pada wanita
adalah tindakan yang dilakukan pada kedua saluran telur wanita yang
mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak akan mendapatkan
keturunan lagi. Kontrasepsi ini untuk jangka panjang dan sering disebut
sterilisasi. Untuk melakukan kontrasepsi ini peserta harus memenuhi
persyaratan. Persyaratan yang dimaksud adalah calon peserta harus
sukarela dalam memilih keputusannya, terikat dalam perkawinan yang
sah dan harmonis, memiliki sekurangnya dua anak yang sehat fisik dan
mental dan calon peserta dalam keadaan sehat oleh dokter dengan
pemeriksaan. Metode ini tidak menimbulkan efek samping, efektivitas
sangat tinggi dan aman bagi ibu menyusui (BKKBN, 2020).
Macam- cacam cara yang dilakukan dalam dunia medis
menurut (BKKBN, 2020) dibagi menjadi 2 yaitu:
a) Penyinaran
Penyinaran merupakan tindakan penutupan pada kedua falopii
wanita yang mengakibatkan yang bersangkutan tidak hamil lagi.
b) Operatif
Pada metode operatif ini dibangi menjadi tiga cara yaitu pada
bagian abdominal, vaginal dan transcervikal. Pada bagian abdomal
biasanya dilakukan dengan cara laparotomi, mini- laparotomi dan
laparoskopi. Pada bagian vaginal biasanya dilakukan dengan cara
kolpotomi dan kuldoskopi. Pada bagian transcervikal biasanya
dilakukan dengan cara histeroskopi, tanpa melihat langusung,
penyumbatan tuba secara mekanis dan penyumbatan tuba kimiawi.
Metode Operasi Pria (MOP) merupakan suatu metode
kontrasepsi operati minor pada pria yang sangat aman, sederhana dan
memerlukan operasi singkat dan tidak memerlukan anestesi umum.
Seperti MOW, MOP juga memrlukan syarat yag harus dipenuhi oleh
22
calon peserta yaitu calon peserta harus sukarela dapam memilih, terjalin
dalam hubungan perkawinan yang syah dan harmonis dengan memiliki
paling sedikit 2 anak yang sehat fisik dan mental, mendapat persetujuan
istri, dan dokter menyatakan calon peserta sehat melalui pemeriksaan.
Metode ini tidak menimbulkan efek samping dan efektivitas sangat
tinggi (BKKBN, 2020). (BKKBN, 2020).
5. Pendidikan Kesehatan
a. Pengertian
Pendidikan kesehatan ialah upaya menunjang program kesehatan
guna dinamisasi serta peningkatan ilmu pengetahuan pada periode
tertentu secara efektif (Saputra dkk., 2021; Wiwin dkk., 2022).
Pendidikan kesehatan mengembangkan konsep yang dimulai melalui
pemikiran masyarakat awam menjadi mampu (Yulastini dkk., 2021).
Pendidikan kesehatan dapat berperan untuk merubah perilaku selaras
dengan nilai-nilai kesehatan. Perilaku sehat dapat disebabkan oleh faktor
pengetahuan dan kesadarannya melalui proses pembelajaran (Fitriana dan
Siswantara, 2019).
Pendidikan kesehatan adalah proses yang direncanakan dengan
sadar untuk menciptakan peluang bagi individu-individu untuk senantiasa
belajar memperbaiki kesadaran (literacy) serta meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya (life skills) demi kepentingan
kesehatannya (Nursalam, 2020). Pendidikan kesehatan merupakan suatu
proses perubahan perilaku yang dinamis dengan tujuan mengubah atau
memprngaruhi perilaku manusia yang meliputi komponen pengetahuan,
sikap, ataupun praktik yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat baik
secara individu, kelompok maupun masyarakat, serta merupakan
komponen dari program kesehatan (Suliha, 2019).
23
6. Poster
a. Pengertian Poster
Poster adalah media yang digunakan untuk menyampaikan suatu
informasi, saran atau ide-ide tertentu, sehingga dapat merangsang
keinginan yang melihatnya untuk melaksanakan isi pesan tersebut
(Maolinda dkk., 2022).
Menurut Wikipedia, pengertian poster adaah sebuah karya seni
grafis yang dibuat dengan perpaduan antara huruf dan angka diatas kertas
yang ukurannya relatif datar ditempat-tempat umum yang ramai agar
informasi dan pesan yang ada dalam poster tersebut bisa tersampaikan
kepada masyarakat. Poster adalah salah satu media yang terdiri dari
lambang kata atau simbol yang sangat sederhana dan apada umumnya
mengandung anjuran atau larangan.
Menurut Sudjana dan Rivai poster adalah sebagai kombinasi visual
dari rancangan yang kuat, dengan warna, dan pesan dengan maksud untuk
manangkap perhatian orang yang lewat tetapi cukup lama menanamkan
gagasan yang berarti didalam ingatannya.
Media poster adalah media yang menyajikan informasi dalam bentuk
visual untuk mempengaruhi dan memotivasi siswa yang melihatnya.
b. Tahap Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (dalam Wawan dan Dewi, 2020)
pengetahuan seseorang terhadap suatu objek mempunyai intensitas atau
28
B. Kerangka Teori
Faktor :
WUS 1. Pendidikan
2. Pengetahuan
3. Dukungan Suami
4. Umur
5. Riw KB
WUS Unmet Need 6. Pekerjaan
7. Status Ekonomi
8. Paritas
9. Usia anak teakhir
KB 10. Agama, sosial
budaya
11. Akses fasilitas
Faktor faktor:
1. Predisposisi Pendidikan Kesehatan
2. Enabling (Penguat)
3. Reinforcing
(pemungkin)
Poster
Pengetahuan MJKP
Faktor faktor:
1. Pendidikan
2. Informasi
3. Soasial Budaya
4. Lingkungan
5. Pengalaman Baik Cukup Kurang
Umur
C. Kerangka Konsep
D. Hipotesis
Ha : Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster
terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need di
Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo.
H0 : Tidak terdapat pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster
terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need di
Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo.
BAB III
METODE PENELITIAN
O1 X O2
34
35
B. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau
subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono,
2019). Populasi pada penelitian ini adalah WUS yang unmet need di Desa
Jangglengan Nguter Sukoharjo pada Bulan Mei sejumlah 41 responden.
E. Variabel Penelitian
Variabel adalah sebuah konsep yang dapat dibedakan menjadi dua,
yakni yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Variabel merupakan karakteristik
subyek penelitian yang berubah dari subjek ke subjek lainnya (Hidayat, 2022).
1. Variabel Independen (Bebas)
Menurut Nursalam (2022), variabel independen adalah variabel yang
nilainya menentukan variabel lain. Variabel independen dalam penelitian
ini adalah Pendidikan Kesehatan tentang MKJP.
2. Variabel dependen (Terikat)
Menurut Nursalam (2022), variabel dependen adalah variabel yang
nilainya ditentukan oleh variabel lain. Dengan kata lain, variabel dependen
adalah faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya
hubungan atau pengaruh dari variabel bebas. Variabel terikat dalam
penelitian ini adalah pengetahuan tentang penggunaan MKJP.
2. Data Sekunder
Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari
berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data
sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik
(BPS), buku, laporan, jurnal, dan lain-lain.
Peneliti mendapatkan data sekunder dari Desa Jangglengan Nguter
Sukoharjo berupa profil dan data WUS yang unmet need beserta data KB
MKJP untuk mendukung latar belakang.
Nomor soal
Indikator Favourable (+) Unfavourable ( - ) Jumlah
Jenis 2 1 2
AKDR 3,4,5,7, 6,8,9 7
AKBK 11,12,13,14,15 10,16 7
MOW/MOP 18,19,20,21,22,23 17 7
Jumlah 23
39
K. Prosedur Penelitian
1. Alur penelitian
a. Langkah Perencanaan :
1) Melakukan pengajuan judul dan mengkonsultasikan kepada
pembimbing,
2) Melakukan studi pendahuluan peninjauan atau survey tempat
penelitian di Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo,
3) Menyusun proposal dan mengkonsultasikan pada dosen
pembimbing,
4) Dosen pembimbing menyetujui untuk seminar proposal,
5) Melaksanakan seminar proposal.
6) Mengurus surat izin penelitian,
7) Menentukan sampel WUS unmet need yang akan dijadikan
responden,
8) Mempersiapkan inform concent dan instrument penelitian berupa
kuisioner dalam bentuk link google form.
b. Langkah Pelaksanaan
1) Melakukan pengumpulan data responden dengan meminta data
WUS unmetneed desa Jangglengan dari bidan desa Jangglengan,
2) Mengolah data yang diperoleh dari bidan desa untuk membuat
undangan,
3) Mengumpulkan responden di balai desa Jangglengan melalui
undangan dengan bantuan kader yang dijadwalkan pada minggu
pertama bulan Mei. Apabila terdapat responden yang tidak hadir
maka dilakukan kunjungan rumah dengan langkah pelaksanaan
yang sama,
4) Membuat WhatsApp group yang beranggotakan responden guna
untuk membagikan link pretest dan post test,
42
BKKBN. (2020). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Cetakan ke5. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan 2.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. (2022). Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2022. Dinkes Jateng, 4201003 (33)
Maolinda, N, Aat Sriati., Ida Maryati. (2022). Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap
Siswa Terhadap Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja. Student e-
journals Vol 1 No. 1[Link]
diakses 7 januari 2020.
45
46
52
Lampiran 2
PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada Yth.
Calon Responden Penelitian
Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : ANISA NURUL INSANI
NIM : 5202302236
Hormat saya,
53
Lampiran 3
Responden
( )
54
Lampiran 4
B. PERNYATAAN
No. Pertanyaan Benar Salah
1. Suntik, pil, dan kondom merupakan jenis jenis
MKJP.
2. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan
alat kontrasepsi yang dipasang dibawah kulit lengan.
3. AKDR tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
4. AKDR sangat efektif karena tidak perlu mengingat-
ingat
5. AKDR membantu mencegah kehamilan ektopik.
6. AKDR mempengaruhi hubungan seksual
7. AKDR tidak ada efek samping hormonal.
8. Wanita yang sedang menyusui tidak disarankan
9. menggunakan AKDR (spiral) karena AKDR (spiral)
mempengaruhi produksi ASI.
10. AKDR terbuat dari besi.
11. AKBK (susuk) adalah alat kontrasepsi yang ditanam
di dalam rahim wanita.
12. AKBK atau susuk merupakan alat kontrasepsi yang
dipasang atau disisipkan dibawah kulit lengan.
13. AKBK merupakan alat kontrasepsi perlindungan
jangka panjang (sampai 5 tahun).
55
No. Pertanyaan Benar Salah
14. AKBK merupakan alat kontrasepsi dengan
pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah
pencabutan.
15. Pemasangan AKBK (susuk) tidak memerlukan
pemeriksaan dalam.
16. AKBK (susuk) tidak mengganggu senggama.
17. Ibu menyusui tidak dapat menggunakan AKBK
karena mempengaruhi ASI
18. Tubektomi (MOW) adalah operasi sederhana untuk
menghentikan kesuburan laki laki.
19. Tubektomi tidak mempengaruhi produksi hormon.
20. Tubektomi (MOW) sifatnya permanen sehingga sulit
dikembalikan kesuburannya.
21. Vasektomi (MOP) adalah operasi sederhana untuk
menghentikan kesuburan laki laki.
22. MOW merupakan operasi pada kedua saluran telur
wanita.
23. MOP merupakan operasi minor pada pria yang sangat
aman, tidak memerlukan anestesi umum.
56
Lampiran 5
58
Lampiran 6
59
Lampiran 7
I. IDENTIFIKASI MASALAH
Pemerintah melakukan upaya pengendalian penduduk melalui
instansi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN). Salah satu upaya BKKBN adalah membuat pelaporan hasil
Unmet need untuk mendapatkan gambaran pencapaian program KB dan
mengetahui besarnya sasaran potensial yang masih perlu diajak ber-KB.
Unmet need adalah wanita yang subur dan aktif secara seksual namun
tidak menggunakan metode kontrasepsi, sedangkan mereka menyatakan
tidak ingin punya anak lagi atau ingin menunda anak berikutnya.
Kelompok Unmet need merupakan sasaran yang perlu menjadi perhatian
dalam pelayanan program KB. Faktor penyebab Unmet need diantaranya
kurangnya pengetahuan tentang KB, kurangnya dukungan suami dan
budaya yang dipegang teguh oleh pasangan usia subur seperti penggunaan
kontrasepsi hanya pada golongan umur tertentu saja. Faktor umur
seseorang berpengaruh signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan
kontrasepsinya. Kelompok umur usia muda dan usia tua beresiko tinggi
mengalami Unmet need KB karena kelompok ini tidak menyadari bahwa
mereka memiliki potensi hamil (Sariyati and Al, 2023).
II. PENGANTAR
Topik : Penggunaan MKJP pada WUS Unmet Need
Sasaran : WUS yang unmet need Di Desa Jangglengan
Hari/tanggal : / Mei 2024
Jam : 09.30 wib
Waktu : 30 menit
Tempat : Balai Desa Jangglengan
60
IV. TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan ibu dapat menjelaskan kembali
tentang :
1. Menginformasikan mengenai AKDR
2. Menginformasikan mengenai AKBKt
3. Menginformasikan mengenai MOW/MOP
V. METODE
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
VI. MEDIA
1. Materi SAP
2. Poster
3. Laptop
VIII. EVALUASI
Metode Evaluasi : Tanya Jawab
Jenis Pertanyaan : Lisan
IX. MATERI
1) Alat Kontrasepsi Dalam Rahin (AKDR)/ Intra Uterine Device (AKDR).
AKDR atau spiral merupakan suatu benda kecil yang terbuat
dari plastik yang lentur, memiliki lilitan temabaga, dan dimasukan
kedalam rahim melalui vagina dan memiliki benang (Handayani, 2020).
Cara kerja AKDR/AKDR yaitu menghambat kemampuan sperma untuk
masuk ke dalam tuba fallopi, mempengaruhi 14 fertilitas sebelum ovum
mencapai kavum uteri, AKDR bekerja terutama untuk mencegah sperma
dan ovum tertentu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke
dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma
untuk fertilitas, serta memungkinkan mencegah implementasi telur
dalam uterus (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN, 2020).
Efektivitas tinggi dan sangat efektif yaitu 0,6-0,8
kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama, AKDR efektif segera
setelah pemasangan, sebagai metode jangka panjang (10 tahun proteksi
dan tidak perlu diganti), sangat efektif karena tidak perlu mengingat-
ingat, tidak mempengaruhi hubungan seksual, tidak ada efek samping
hormonal, tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI, tidak ada
interaksi dengan obat-obat, dan membantu mencegah kehamilan ektopik
(Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN,
2020)
62
Efek samping yang umum terjadi pada saat penggunaan KB
AKDR antara lain :
a) Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan
berkurang setelah 3 bulan).
b) Haid lebih lama dan banyak.
c) Perdarahan antar menstruasi.
d) Saat haid lebih sedikit.
2) AKBK
AKBKt atau susuk merupakan alat kontrasepsi yang dipasang
atau disisipkan dibawah kulit, efektif untuk mencegah kehamilan,
dengan cara mengalirka secara perlahan lahan hormone yang
dibawanya. Kemudian hormone akan mengalir kedalam tubuh melewati
pembuluhpembuluh darah. Hormone yang dikandung dalam AKBKt
adalah levonogestrel (LNG), yaitu hormone yang menghentikan suplai
hormone estrogen yang berfungsi mendorong pembentukan lapisan
dinding lemak dan dengan demikian menyebabkan terjadinya menstruasi
(Saifuddin, 2020).
Alat kontrasepsi ini mempunyai 2 jenis yang pertama yaitu
norplant yang terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan
panjang 3-4 cm,dan diameter 2,4 mm, yang berisi 36 mg levonogestrel
yang lama kerjanya 5 tahun. Jenis AKBKt yang kedua adalah AKBKon
yang terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kirakira 40 mm
yang berdiameter 2mm, yang berisi 68 mg 3- keto-desogestrel dan lama
kerjanya 3 tahun (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN, 2020).
Cara kerja alat kontrasepsi AKBKt ini adalah lender serviks menjadi
kental, mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit
terjadinya AKBKtasi, mengurangi transportasi sperma, serta menekan
63
ovulasi (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN, 2020). Efektifitas sangat efektif , kegagalan 0,2-1 kehamilan
per 100 perempuan (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN, 2020).
Keuntungan penggunaan alat kontrasepsi AKBKt ada 2 yang
pertama keuntungan kontrasepsi seperti daya guna tinggi, perlindungan
jangka panjang (sampai 5 tahun), pengembalian tingkat kesuburan yang
cepat setelah pencabutan, tidak memerlukan pemeriksaan dalam, bebas
dari pengaruh estrogen, tidak mengganggu senggama, tidak
menggangggu ASI, dan dapat dicabut setiap saat sesuai keinginan klien.
Kedua keuntungan nonkontrasepsi yaitu dapat mengurangi nyeri haid,
mengurangi jumlah darah haid, mengurangi dan dapat memperbaiki
anemia, melindungi terjadinya kaanker endometrium, dapat menurunkan
angka kejadian kelainan jinak payudara, melindungi diri dari beberapa
penyebab penyakit radang panggul, dan yang terakhir dapat menurunkan
angka kejadian endometriosis (Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN, 2020)
Keterbatasan alat kontrasepsi ini adalah kebanyakan klien dapat
menyebabkan perubahan pola haid berupa perdarahan bercak,
hipermenorea, atau meningkatnya jumlah darah haid atau amenorea.
Selain itu juga timbul keluhan-keluhan berupa: nyeri pada kepala,
peningkatan atau penurunan berat badan, nyeri payudara, perasaan mual
dan pusing pada kepala, membutuhkan tindakan pembedahan minor
untuk insersi dan pencabutan, tidak memberikan efek protektif terhadap
IMS termasuk AIDS, efektivitasnya menurun apabila menggunakan
obat- 20 obat tuberculosis atau obat epilepsy, dan terjadinya kehamilan
ektopik yang lebih sedikit lebih tinggi (1,3 per 100.000 perempuan per
64
tahun) (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN, 2020).
3) MOW/MOP
Metode Operasi Wanita (MOW) atau tubektomi pada wanita
adalah tindakan yang dilakukan pada kedua saluran telur wanita yang
mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak akan mendapatkan
keturunan lagi. Kontrasepsi ini untuk jangka panjang dan sering disebut
sterilisasi. Untuk melakukan kontrasepsi ini peserta harus memenuhi
persyaratan. Persyaratan yang dimaksud adalah calon peserta harus
sukarela dalam memilih keputusannya, terikat dalam perkawinan yang
sah dan harmonis, memiliki sekurangnya dua anak yang sehat fisik dan
mental dan calon peserta dalam keadaan sehat oleh dokter dengan
pemeriksaan (BKKBN, 2020).
Macam- cacam cara yang dilakukan dalam dunia medis
menurut (BKKBN, 2020) dibagi menjadi 2 yaitu:
c) Penyinaran
Penyinaran merupakan tindakan penutupan pada kedua falopii
wanita yang mengakibatkan yang bersangkutan tidak hamil lagi.
d) Operatif
Pada metode operatif ini dibangi menjadi tiga cara yaitu pada
bagian abdominal, vaginal dan transcervikal. Pada bagian abdomal
biasanya dilakukan dengan cara laparotomi, mini- laparotomi dan
laparoskopi. Pada bagian vaginal biasanya dilakukan dengan cara
kolpotomi dan kuldoskopi. Pada bagian transcervikal biasanya
dilakukan dengan cara histeroskopi, tanpa melihat langusung,
penyumbatan tuba secara mekanis dan penyumbatan tuba kimiawi.
a. Metode Operasi Pria (MOP) merupakan suatu metode
kontrasepsi operati minor pada pria yang sangat aman,
65
sederhana dan memerlukan operasi singkat dan tidak
memerlukan anestesi umum. Seperti MOW, MOP juga
memrlukan syarat yag harus dipenuhi oleh calon peserta yaitu
calon peserta harus sukarela dapam memilih, terjalin dalam
hubungan perkawinan yang syah dan harmonis dengan
memiliki paling sedikit 2 anak yang sehat fisik dan mental,
mendapat persetujuan istri, dan dokter menyatakan calon
peserta sehat melalui pemeriksaan (BKKBN, 2020).
X. Daftar Pustaka
66
LEMBAR KONSULTASI
67
7. 22 April 2024 ACC
Keterangan : dapat diisi dengan hal-hal yang akan digunakan sebagai catatan selama
proses konsultasi
68