0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan74 halaman

Pengaruh Poster Kesehatan pada WUS

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan74 halaman

Pengaruh Poster Kesehatan pada WUS

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL SKRIPSI

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA POSTER


TERHADAP PENGETAHUAN PENGGUNAAN MKJP PADA WUS
UNMET NEED DI DESA JANGGLENGAN
NGUTER SUKOHARJO

ANISA NURUL INSANI


NIM 5202302236

PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ESTU UTOMO
BOYOLALI, 2024
PROPOSAL SKRIPSI

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA POSTER


TERHADAP PENGETAHUAN PENGGUNAAN MKJP PADA WUS
UNMET NEED DI DESA JANGGLENGAN
NGUTER SUKOHARJO

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kebidanan

ANISA NURUL INSANI


NIM 5202302236

PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ESTU UTOMO
BOYOLALI, 2024

ii
LEMBAR PERSETUJUAN

Proposal Skripsi berjudul :

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA POSTER


TERHADAP PENGETAHUAN PENGGUNAAN MKJP PADA WUS
UNMET NEED DI DESA JANGGLENGAN
NGUTER SUKOHARJO

Disusun oleh :

ANISA NURUL INSANI


NIM 5202302236

PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ESTU UTOMO

Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing dan telah diperkenankan untuk diujikan.

Boyolali, ..

Pembimbing,

Sri Handayani, [Link], [Link], [Link]


NIDN. 0006057401

iii
HALAMAN PENGESAHAN
PROPOSAL SKRIPSI

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA POSTER


TERHADAP PENGETAHUAN PENGGUNAAN MKJP PADA WUS
UNMET NEED DI DESA JANGGLENGAN
NGUTER SUKOHARJO

Disusun Oleh

ANISA NURUL INSANI


5202302236

Telah dipertahankan didepan Tim Penguji Skripsi Sarjana Kebidanan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Pada :
Hari : .
Tanggal : ..

Penguji II Penguji III

Rismawati, SST., [Link].,[Link] Sri Handayani, [Link], [Link], [Link]


NIDN. 0601018502 NIDN 0006057401
Penguji I

Winarsih, [Link]
NIDN 0523078502

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukursaya panjatkan kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa. Karena
atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan proposal Skripsi yang
berjudul ”Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Media Poster terhadap
Pengetahuan Penggunaan MKJP pada WUS Unmet need di Desa Jangglengan
Nguter Sukoharjo”. Penulisan skripsi ini dalam rangka memenuhi salah satu
syarat mencapai gelar (Sarjana / Sarjana terapan) pada Program Studi Sarjana
Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo. Proposal skripsi ini
terwujud atas bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak
dapat penulis sebutkan satu-persatu. Dan pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Sarwoko, [Link]., [Link]., Ns., [Link]., [Link]. sebagai Ketua STIKES
Estu Utomo
2. Ibu Ardiani Sulistiani, [Link] Sebagai Ketua Program Studi Sarjana
Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan STIKES Estu Utomo.
3. Ibu Sri Handayani, [Link], [Link], [Link] sebagai pembimbing utama yang
telah membimbing dengan sabar sampai proposal skripsi ini selesai.
4. Ibu Winarsih, [Link] sebagai penguji I
5. Ibu Rismawati, SST., [Link].,[Link] sebagai penguji II
6. Bapak Hafidh Al Fajri, [Link], [Link] sebagai Kepala Desa Jangglengan
7. Keluarga dan teman teman yang telah memberikan bantuan material dan
moril kepada penulis.
8. Berbagai pihak yang tidak dapat penulis tuliskan satu persatu.
Akhir kata, saya berharap Allah, Tuhan Yang Maha Esa berkenan
membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Tugas
Akhir ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu.

Boyolali, Maret 2024


Penulis

v
DAFTAR ISI

Contents
COVER.....................................................................................................................i
HALAMAN JUDUL...............................................................................................ii
LEMBAR PERSETUJUAN...................................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................iv
PROPOSAL SKRIPSI............................................................................................iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...............................v
KATA PENGANTAR............................................................................................vi
DAFTAR ISI.........................................................................................................viii
DAFTAR TABEL....................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................xi
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................xii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang...................................................................................1
B. Perumusan Masalah...........................................................................4
C. Tujuan Penelitian...............................................................................5
D. Manfaat Penelitian.............................................................................5
E. Keaslian Penelitian............................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................8
A. Tinjauan Teori...................................................................................8
B. Kerangka Teori ..............................................................................32
C. Kerangka Konsep.............................................................................33
D. Hipotesis..........................................................................................33
BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................34
A. Jenis dan Desain Penelitian.............................................................34
B. Populasi............................................................................................35
C. Sampel, dan Teknik Sampling.........................................................35
D. Waktu dan Tempat Penelitian..........................................................35
E. Variabel Penelitian...........................................................................36
F. Definisi Operasional Variabel Penelitian........................................36
G. Jenis dan Teknik Pengumpulan.......................................................37
H. Alat Ukur/Instrument dan Bahan Penelitian....................................38
I. Uji Validitas dan Reliabilitas...........................................................39
J. Analisa Data.....................................................................................40
K. Prosedur Penelitian..........................................................................41
L. Etika Penelitian................................................................................43
DAFTAR PUSTAKA 45

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Keaslian Penelitian . 6


Tabel 2. Definisi Operasional ... 36
Tabel 3. Kisi-Kisi kuesioner pengetahuan WUS Unmet need tentang
MKPJP 38

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Teori . . 36


Gambar 2. Kerangka Konsep .. .... 36
Gambar 3. Rancangan Penelitian .... 38

viii
DAFTAR LAMPIRAN

1. Jadwal Penelitian
2. Permohonan Menjadi Responden
3. Persetujuan Menjadi Responden
4. Kuesioner
5. Kunci Jawaban Kuesioner
6. Poster
7. SAP
8. Lembar konsul

ix
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam rangka menekan laju pertumbuhan penduduk, pemerintah
melaksanakan berbagai program pembangunan salah satunya keluarga
berencana (KB). Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) merupakan
usaha pemerintah dalam menekan pertumbuhan penduduk. Pasangan Usia
Subur (PUS) dapat menentukan pilihan kontrasepsi sesuai dengan kondisi dan
kebutuhannya berdasarkan informasi yang telah dipahami, termasuk
keuntungan, kerugian dan faktor yang mempengaruhi metode kontrasepsi
(Kementerian Kesehatan RI, 2019).
Berdasarkan Laporan BKKBN tahun 2022, jumlah peserta KB di
Indonesia yaitu sebanyak 27.564.662 jiwa. Metode kontrasepsi yang
digunakan yaitu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang total sebanyak
6.041.041 jiwa (21,91%) dan pengguna Metode Kontrasepsi Non Jangka
Panjang sebanyak 21.523.621 jiwa (78,08%). Berdasarkan data tersebut
diketahui bahwa cakupan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang di
Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan penggunaan Metode
Kontrasepsi Non Jangka Panjang. Padahal jika dilihat dari tingkat efektivitas
dalam pengendalian jarak kehamilan, Metode Kontrasepsi Jangka Pendek
lebih rendah dibandingkan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).
MKJP dapat dipakai dalam jangka waktu lama, lebih dari dua tahun, efektif
dan efisien alat/obat/cara KB yang termasuk MKJP yaitu AKDR/AKDR,
AKBK, MOP dan MOW (Riskesdas, 2022).
Rendahnya penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
dapat disebabkan karena beberapa faktor seperti: ketidaktahuan peserta
tentang kelebihan MKJP, kualitas pelayanan KB dilihat dari segi ketersediaan
alat kontrasepsi dan ketersediaan tenaga yang terlatih serta kemampuan medis
teknis petugas pelayanan kesehatan, biaya pelayanan yang mahal, hambatan

1
2

dukungan dari suami, dan adanya persepsi atau keyakinan yang didasarkan
kepercayaan dan norma-norma dimasyarakat (Prabawati, 2022).
Pemerintah melakukan upaya pengendalian penduduk melalui instansi
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Salah
satu indikator dari sasaran strategis BKKBN dalam program keluarga
berencana (KB) tahun 2020-2024 adalah menurunnya Angka Kelahiran Total
(Total Fertility Rate/TFR) per WUS usia 15-49 tahun. Angka kelahiran
merupakan salah satu komponen dalam pertumbuhan penduduk yang sifatnya
menambah jumlah penduduk. Salah satu kendala dalam menurunkan angka kelahiran
total yaitu adanya kebutuhan KB yang tidak terpenuhi (unmet need KB) pada WUS
(BKKBN, 2015). Unmet need adalah wanita yang subur dan aktif secara
seksual namun tidak menggunakan metode kontrasepsi, sedangkan mereka
menyatakan tidak ingin punya anak lagi atau ingin menunda anak berikutnya
(WHO, 2014).
Kelompok unmet need merupakan sasaran yang perlu menjadi perhatian
dalam pelayanan program KB karena selain dapat meningkatkan fertilitas yang
dikhawatirkan memicu ledakan penduduk, juga dapat meningkatkan kejadian
kehamilan tidak diinginkan (KTD). Kehamilan tidak diiginkan akan mendorong
terjadinya aborsi sehingga berpengaruh juga terhadap tingginya angka kematian ibu
dan anak karena tindakan aborsi yang tidak aman (Ratnaningsih, 2018). Faktor
penyebab unmet need diantaranya kurangnya pengetahuan tentang KB,
kurangnya dukungan suami dan budaya seperti penggunaan kontrasepsi
hanya pada golongan umur tertentu saja. Faktor umur seseorang berpengaruh
signifikan mengalami unmet need KB karena kelompok ini tidak menyadari
bahwa mereka memiliki potensi hamil (Sariyati and Al, 2023).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah pada
tahun 2022 jumlah akseptor KB di Jawa Tengah adalah 4.021.360. Jumlah
tersebut meliputi MOW 183.823 (4,6%), MOP 10.081 (0,3%), AKBK 477.498
(12%), AKDR 340.827 (8,5%), pil 323.898 (8,1%), dan suntik 2.504.208 (62,7%).
Data capaian KB di Jawa Tengah pada tahun 2022 menunjukkan bahwa
persentase peserta KB MKJP masih cukup rendah, yaitu sebesar 28,05%
dibandingkan dengan terget 70%. Rendahnya penggunaan MKJP
3

mengakibatkan masih tingginya drop out (DO) KB yaitu 35,02% sehingga


masih banyak kasus kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) (Riskesdas,
2022).
Data yang didapatkan dari profil kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten
Sukoharjo, capaian peserta KB aktif Kabupaten Sukoharjo tahun 2022
sebanyak 91.897 (73%) terdiri dari MKJP 29,2% meliputi akseptor MOW
6.666 (7,3%), MOP 262 (0,3%), AKDR/AKDR sejumlah 11.966 (13%),
sedangkan AKBK 7.862 (8,6%) dan non MKJP (70,8%) meliputi kondom
7.008 (7,6%), pil 9.989 (10,9%), dan suntik 48.144 (52,4%). Berdasarkan laporan
Kesga Puskesmas Nguter tahun 2023, capaian peserta KB aktif di Kecamatan
Nguter sejumlah 5.169 (67,6%) terdiri dari MKJP (31,70%) meliputi AKDR
461 (8,91%), AKBK 858 (16,59%), MOW 312 (6,03%), MOP 9 (0,17%) dan
non MKJP (68,27%) meliputi pil 746 (14,4%), suntik 2.783 (53,84%).
Dengan capaian KB MKJP terbanyak di Desa Kepuh yaitu 50,2% meliputi
akseptor AKDR/AKDR 50 (13,36%), AKBK 108 (23,63%) dan MOW 30
(8,02%). Sedangkan capaian KB MKJP terendah adalah Desa Jangglengan
dengan peserta KB aktif sepanjang tahun 2023 sejumlah 141 peserta
(46,84%) meliputi KB MKJP 37,5% diantaranya AKDR/AKDR 15 (10,63%),
AKBK 22 (15,6%) , MOW 16 (11,34%), dan MOP 0. Serta KB non MKJP
62,4% meliputi akseptor pil 20 (14,18%), suntik 68 (48,22%). WUS yang
unmetneed di Desa Jangglengan sebanyak 41 (53,16%).
Desa Jangglengan adalah desa yang terletak di Kecamatan Nguter,
Kabupaten Sukoharjo dengan jumlah penduduk 3.180 jiwa. Berdasarkan data
yang diperoleh dari laporan kesga Puskesmas Nguter tahun 2023, didapatkan
Desa Jangglengan merupakan desa dengan capaian KB MKJP terendah yaitu
37,5% dari jumlah PUS sebanyak 301 yang menggunakan kontrasepsi AKDR
15 (10,63%) dan kontrasepsi AKBK 22 (15,6%), MOW 16 (11,34%), dan
MOP 0.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Jangglengan pada
tanggal 15 Januari 2024 dengan melakukan wawancara di Posyandu Desa
Jangglengan kepada 5 WUS yang unmetneed diantaranya Ny Si umur 30
4

tahun, Ny Sr umur 41 tahun, Ny A umur 25 tahun, Ny Su umur 37 tahun dan


Ny P umur 27 tahun. Ny. S umur 30 tahun P5A0 tidak menggunakan
kontrasepsi karena takut perdarahan terus-menerus, dulu pernah KB AKBK
keluhan flek-flek sudah kontrol ke Puskesmas dan RS dapat terapi dari dokter
spOg dan sudah dijelaskan bahwa itu pengaruh hormon tetapi tetap mau lepas
KB akhirnya hamil anak terakhir saat ini berusia 15 bulan, setelah selesai
nifas dikunjungi dari Balai Penyuluhan KB bersama bidan desa untuk
motivasi KB AKDR/MOW/MOP menolak. Ny. S umur 41 tahun P4A0
dengan jarak kehamilan terakhir 18 bulan tidak mau menggunakan kontraspsi
karena tidak diizinkan suami. Ny. A umur 25 tahun P3A0 dengan jarak
kehamilan terakhir 26 bulan tidak mau menggunakan kontrasepsi karena
trauma sebelum ini pernah KB AKDR tetapi gagal. Ny. S umur 37 tahun
P3A0 anak terakhir 9 bulan tidak KB karena kehamilan yang terakhir tidak
terencana, terlambat suntik 3 bulan. Ny. P umur 27 tahun P2A0 anak umur 4
tahun 2 bulan dan 2 tahun 7 bulan akseptor KB suntik 3 bulan, tidak ingin KB
AKBK dan AKDR karena takut berjalan kemana-mana.
Berdasarkan uraian permasalahan di atas, membuat peneliti tertarik
untuk meneliti penelitian dengan judul “Pengaruh pendidikan kesehatan
dengan media poster terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS
unmet need di Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan analisis masalah maka permasalahan dapat
dirumuskan sebagai berikut: Adakah pengaruh pendidikan kesehatan dengan
media poster terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet
need di Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo?
5

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster
terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need di Desa
Jangglengan Nguter Sukoharjo.
2. Tujuan Khusus
a. Mengindentifikasi karakteristik responden berdasarkan umur,
pendidikan dan pekerjaan di Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo.
b. Mengetahui pengetahuan penggunaan MKJP Pada WUS Unmet need
sebelum diberikan pendidikan kesehatan di Desa Jangglengan Nguter
Sukoharjo.
c. Mengetahui pengetahuan penggunaan MKJP Pada WUS Unmet need
sesudah diberikan pendidikan kesehatan di Desa Jangglengan Nguter
Sukoharjo.
d. Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster
terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need di
Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Manfaat bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat
sehingga dapat menerapkan penggunaan MKJP pada WUS yang Unmet
need di masyarakat.
2. Manfaat bagi Institusi
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah referensi bagi Institusi
pendidikan dalam menyampaikan pembelajaran tentang pengaruh
pendidikan kesehatan dengan media poster terhadap pengetahuan
penggunaan MKJP pada WUS unmet need di Desa Jangglengan Nguter
Sukoharjo.
6

3. Bagi Peneliti Lain


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi peneliti lain yang
mengambil judul tentang pengaruh pendidikan kesehatan dengan media
poster terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need di
Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo.
4. Manfaat Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan peneliti
tentang pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster terhadap
pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need sehingga dapat
digunakan peneliti untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.
E. Keaslian Penelitian
Tabel 1 Keaslian Penelitian
Peneliti Judul Penelitian
Metode Hasil Penelitian Perbedaan
Palentar Pengaruh Penelitian ini menggunakan Hasil pnelitian Pada penelitian oleh
i (2021) Pendidikan jenis analitik korelasi menunjukkan bahwa Harini meneliti
Kesehatan dengan design One Group terdapat pengaruh tentang tingkat
Terhadap Tingkat
Pretest and Postest dengan antara pendidikan motivasi penggunaan
Pengetahuan Danpendekatan crossectional kesehatan terhadap MKJP, sedangkan
Motivasi Dalam dan pengambilan sampel tingkat pengetahuan penelitian ini
Penggunaan KB menggunakan metode dan motivasi dalam meneliti tentang
MKJP Pada Systematic Random penggunaan KB tingkat Pengetahuan
Wanita PasanganSampling. Responden yang MKJP pada wanita WUS dalam
Usia Subur digunakan pasangan usia subur. Penggunaan MKJP
sebanyak 80 orang. Data Hal ini dapat dilihat
dianalisis secara bivariat dari nilai
dengan uji Marginal signifikansi yang
Homogenity dan Mc Nemar dihasilkan <0,1.
Luh Identifikasi Jenis penelitian ini adalah Sama sama meneliti Pada penelitian oleh
Mertasa Penyebab Unmet penelitian deskriptif mengenai Unmet Luh meneliti tentang
ri need KB Di Desa dengan pendekatan survey. need KB penyebab Unmet
(2019) Pegayaman Populasi penelitian Hasil penelitian: need KB, sedangkan
Kecamatan berjumlah 200 responden diketahui bahwa penelitian ini
Sukasada dengan tekhnik total usia responden yang meneliti tentang
Kabupaten populasi wanita usia subur tidak terpenuhi tingkat pengetahuan
Buleleng yang tidak tersebar pada WUS dalam
menggunakan alat rentang reproduksi penggunaan MKJP
kontrasepsi. Uji statistik sehat dan tidak
menggunakan. sehat, dengan
Dengan questioner yang jumlah anak 1-4
dibuat peneliti atau lebih dari 4
kemudian dilakukan orang
analisis univariat
Arif, Hubungan Desain penelitian adalah Hasil data survey Pada penelitian oleh
7

Bayu Komunikasi cross sectional. Jumlah dari 151 responden arif meneliti tentang
(2023) Informasi Edukasi sampel 151 dan diambil menunjukkan bahwa edukasi pemakain
dengan secara consecutive tingkat KIE yang MKJP sedangkan
Pemakaian sampling dari wanita usia didapatkan beragam pada penelitian ini
Metode subur (WUS) yang dan tidak merata. meneliti tentang
Kontrasepsi merupakan anggota grup Hasil analisis tingkat pengetahuan
Jangka Panjang di WhatsApp bersama kader- didapatkan nilai WUS penggunaan
Jakenan kader kesehatan Puskesmas p=0,001 (p<0,05) MKJP
Kabupaten Pati Jakenan. Kuesioner yang atau terdapat
telah divalidasi digunakan hubungan yang
untuk pengambilan data signifikan antara
secara online (Google KIE dengan
Form). Data dianalisis keputusan
menggunakan chi square pemakaian MKJP.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
1. Wanita Usia Subur (WUS)
a. Pengertian
Wanita usia subur (WUS) atau bisa disebut masa reproduksi
merupakan wanita yang berusia antara 15-49 tahun dimulai dari pertama
kali menstruasi sampai berhentinya menstruasi atau menopause yang
berstatus menikah, belum menikah maupun janda dan masih berpotensi
untuk hamil. Seorang wanita dikatakan masa reproduksi ketika pertama
mengalami mentsruasi atau haid. Mentruasi ini terjadi karena adanya
pengeluaran sel telur yang telah matang dan tidak dibuahi sehingga sel
telur tersebut akan lepas dari ovariumnya Begitupun sebaliknya ketika
seorang wanita tidak mampu melepaskan ovum karena sudah habis
tereduksi, menstruasi akan menjadi tidak teratur lagi setiap bulan, sampai
kemudian terhenti sama sekali, masa ini disebut menopause (Akbar &
Hidayani, 2021).
b. Tanda-tanda Wanita Usia subur
Tanda-tanda Wanita Usia Subur Menurut (Suprihatin & Indrayani, 2022) :
1) Siklus Haid
Wanita yang mempunyai siklus haid teratur setiap bulan
biasanya subur. Satu putaran haid dimulai dari hari pertama keluar
haid hingga sehari sebelum haid datang kembali, yang biasanya
berlangsung selama 28 hingga 30 hari. Oleh karena itu siklus haid
dapat dijadikan indikasi pertama untuk menandai seorang wanita subur
atau tidak (Suprihatin & Indrayani, 2022).

8
9

2) Pemeriksaan fisik
Untuk mengetahui seorang wanita subur juga dapat diketahui
dari organ tubuh seorang wanita. Beberapa organ tubuh, seperti buah
dada, kelenjar tiroid pada leher dan organ reproduksi. Kelenjar tiroid
yang mengelurkan hormon tiroksin berlebihan akan mengganggu
proses pelepasan sel telur. Sedangkan pemeriksaan buah dada
ditujukan untuk mengetahui hormon prolaktin dimana kandungan
hormon prolaktin yang tinggi akan mengganggu proses pengeluaran
sel telur. Selain itu, pemeriksaan sistem reproduksi juga perlu
dilakukan untuk mengetahui sistem reprosuksi normal atau tidak
(Suprihatin & Indrayani, 2022).
2. Unmet need
a. Pengertian
Unmet need adalah kebutuhan Pasangan usia subur untuk ber KB
tetapi kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Kebutuhan tersebut adalah tidak
ingin anak lagi atau ingin menjarangkan kehamilan berikutnya tetapi PUS
tidak memakai alat kontrasepsi (BKKBN, 2021). Unmet need dilihat dari
sisi demand KB, yaitu keinginan individu atau pasangan untuk mengontrol
kelahiran di waktu yang akan datang. Keinginan mengontrol kelahiran ini
dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu keinginan untuk menunda kelahiran,
keinginan untuk menjarangkan kelahiran, dan keinginan untuk mengakhiri
kelahiran. (Listyaningsih,2021).
Unmet need adalah perempuan yang berstatus menikah yang tidak
menggunakan kontrasepsi, yang subur dan keinginan untuk berhenti
melahirkan anak atau menunda kelahiran yang tidak diinginkan atau tidak
tepat waktu, wanita pasca partum amenore yang tidak menggunakan
kontrasepsi dan ingin menunda atau mencegah kehamilan. Unmet need KB
adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang tidak menginginkan anak,
10

menginginkan anak dengan jarak 2 tahun atau lebih tetapi tidak


menggunakan alat kontrasepsi. Kelompok Unmet need merupakan sasaran
yang perlu menjadi perhatian dalam pelayanan program KB (Handrina,
2021).
Unmet need KB didefinisikan sebagai persentase perempuan usia
subur yang tidak menggunakan kontrasepsi, tetapi tidak menginginkan
anak lagi atau ingin menjarangkan kehamilan. Unmet need menjadi
bahasan yang sangat penting dalam keluarga berencana. Unmet need KB
dapat diartikan sebagai tidak terpenuhinya hak reproduksi perempuan
karena ketidakmampuan menggunakan alat kontrasepsi . Dari berbagai
pendapat dapat disimpulkan bahwa Unmet need adalah pasangan usia subur
yang tidak ingin mempunyai anak lagi atau ingin menjarangkan kehamilan
tetapi tidak memakai alat kontrasepsi (Handrina, 2021).
b. Faktor yang Mempengaruhi Unmet need
Menurut Hartanto (2020), faktor yang memengaruhi terjadinya Unmet need
antara lain:
1) Pendidikan
Pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2020)
yaitu proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok
orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
dan pelatihan (Sisdiknas, 2020). Tingkat pendidikan tidak saja
mempengaruhi kerelaan menggunakan KB, tetapi juga pemilihan suatu
metode (Johana D. Bernadus, dkk, 2023).
11

2) Pengetahuan
Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung
ataupun melalui pengalaman orang lain. Pengetahuan dapat
ditingkatkan melalui penyuluhan baik secara individu maupun
kelompok untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan, perilaku
individu, keluarga dan masyarakat dalam mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan
dengan wawancara atau angket yang menanyakan materi yang ingin
diukur dari objek penelitian atau kedalam pengetahuan yang ingin
diketahui (Notoatmodjo,2020). Pengetahuan tentang segi positif dan
segi negatif dari program KB tersebut akan menentukan sikap orang
terhadap program KB. Secara teoritis bila segi positif program KB
lebih banyak dari segi negatifnya, maka sikap yang positiflah yang
akan muncul. Sebaliknya bila segi negatif dari program KB lebih
banyak dari segi positifnya, maka sikap yang negatiflah yang akan
muncul. Bila sikap positif terhadap program KB telah tumbuh, maka
besar kemungkinan bahwa seseorang akan mempunyai niat untuk
mengikuti 13 program KB. Namun bila sikap negatif yang tumbuh,
maka akan kecil kemungkinan seseorang akan memiliki niat untuk ikut
program KB.
3) Dukungan Suami
Dukungan suami merupakan dorongan terhadap ibu secara
moral maupun material, dimana dukungan suami mempengaruhi ibu
untuk menjadi akseptor KB. Tetapi beberapa suami tidak menyetujui
istrinya untuk menjadi akseptor KB. Penggunaan kontrasepsi
merupakan tanggung jawab bersama pria dan wanita sebagai pasangan,
sehingga metode kontrasepsi yang dipilih mencerminkan kebutuhan
serta keinginan suami dan istri. Suami dan istri harus saling
mendukung dalam penggunaan metode kontrasepsi karena keluarga
12

berencana dan kesehatan reproduksi bukan hanya urusan pria atau


wanita saja (BKKBN, 2021).
4) Umur
Penelitian mengenai hubungan antara umur dan kejadian
Unmet need ditemukan signifikan kemungkinan terjadinya Unmet need
cenderung menurun seiring meningkatnya umur wanita. Hasil
penelitian lain menunjukkan adanya penurunan kebutuhan terhadap
KB untuk menjarangkan kelahiran setelah mencapai usia 30 tahun dan
kebutuhan KB untuk membatasi kelahiran mencapai puncaknya pada
usia 35-44 tahun.
5) Riwayat KB
Berdasarkan data BPS (2019) ditemukan secara signifikan
bahwa kejadian Unmet need lebih cenderung terjadi pada wanita yang
belum pernah menggunakan KB sama sekali daripada wanita yang
sudah pernah atau masih menggunakan KB. Pengalaman
menggunakan KB akan membuat wanita lebih mengerti dan dapat
menentukan tindakan yang tepat bagi dirinya dalam mengatasi
permasalahan kesehatan reproduksi dan untuk memenuhi keinginannya
dalam preferensi fertilitas sehingga hal ini akan semakin mengurangi
peluang terjadinya Unmet need. Besarnya angka presentase kejadian
Unmet need pada orang yang belum pernah menggunakan KB dan
orang yang tidak berniat untuk menggunakan KB di masa depan.
6) Pekerjaan
Pada penelitian yang dilakukan oleh Prihastuti (2004),
ditemukan hubungan yang signifikan antara Unmet need dan status
bekerja dari wanita, dimana di daerah perkotaan wanita yang bekerja
memiliki kepentingan untuk membatasi dan mengatur kehamilan atau
kelahiran yang dia inginkan karena hal ini akan memengaruhi karier
dan pekerjaan mereka, sehingga menyebabkan mereka memberi
13

perhatian lebih terhadap pemakaian alat/cara KB tertentu yang


selanjutnya dapat memperkecil kemungkinan kejadian Unmet need.
7) Status Ekonomi
Status ekonomi berhubungan dengan pemilihan kontrasepsi.
Dalam memilih kontrasepsi perlu mempertimbangkan kemampuan
yang dimiliki untuk membeli alat kontrasepsi, sehingga tidak
memberatkan bagi penggunanya. Suatu teori menyatakan status
ekonomi sangat mempengaruhi seseorang terhadap pemilihan
kontrasepsi, karena untuk mendapatkan layanan, sedikit tidaknya
akseptor harus menyediakan dana yang dibutuhkan. Pendapatan suami,
juga sangat berpengaruh terhadap pola pikir untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya dengan cara memanfaatkan potensi dan fasilitas
yang ada.
8) Paritas
Keberhasilan dalam menurunkan angka Unmet need juga
dapat dilakukan dengan cara membatasi paritas. Setiap keluarga
memiliki keinginan untuk mempunyai anak dengan jumlah yang
berbeda-beda, dengan demikian keputusan untuk memiliki sejumlah
anak merupakan suatu pilihan. Setiap orang tua menginginkan untuk
mempunyai seorang anak lebih dari dua, hal ini dipengaruhi oleh nilai
yang dianggap bahwa anak dapat menjadi generasi penerus serta
adanya anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki. Hasil penelitian
Pastuty (2022) didapatkan hubungan antara jumlah anak dengan
penggunaan kontrasepsi. Banyaknya anak yang dilahirkan akan
mempengaruhi keinginan ibu untuk menjarangkan kelahiran.
9) Akses layanan fasilitas
Akses layanan fasilitas kesehatan juga mempengaruhi Unmet
need. Keterbatasan PUS untuk mendapatkan pelayanan KB dan
menjangkau jarak layanan kesehatan menyebabkan
14

banyaknyakebutuhan PUS dalam penggunaan kontrasepsi yang belum


terpenuhi. Hal ini dapat mencermikan kualitas pelayanan KB masih
rendah. Menurut Notoatmodjo (2003), sumber informasi berasal dari
suatu informasi atau sebuah data dan merupakan hal penting yang
harus diperhatikan dalam memberikan layanan KB.
10) Usia anak terakhir
Usia anak terakhir dan pengalaman tidak menggunakan alat
kontrasepsi yang tidak berakhir dengan kehamilan menjadi alasan
tidak menggunakan alat kontrasepsi. Sebanyak 18 persen umur anak
terakhir adalah di atas 15 tahun atau dengan kata lain, PUS tidak
menggunakan alat kontrasepsi sejak 15 tahun terakhir dan selama itu
pula PUS tidak mengalami kehamilan. Hal ini 19 dapat dikatakan
bahwa PUS dalam kondisi infecund atau keluarga tersebut memiliki
strategi untuk mengatur kehamilannya.
11) Agama, Sosial, dan Budaya
Penelitian yang dilakukan oleh Fahrunnisa dan Agus Meilinda
(2020), menyatakan bahwa penyebab PUS tidak menggunakan KB
yaitu adanya larangan agama dengan alasan tidak mengikuti sunnah
Rasul, anak merupakan rezeki dari 15 Tuhan, dan apabila memasukan
benda-benda ke dalam tubuh adalah hal yang diharamkan, merubah
takdir Tuhan dan KB hukumnnya haram. Faktor budaya juga sangat
mempengaruhi kejadian Unmet need, hasil penelitian tentang
Hubungan Budaya Patriarki Terhadap Keputusan WUS menjadi
Akseptor Keluarga Berencana menunjukkan adanya hubungan dan
sebagian besar subjek cenderung menganut budaya patriarki (61,3%),
serta sebagian besar subjek tidak bersedia menjadi akseptor keluarga
berencana (58,1%).
15

c. Dampak Unmeet Need


Program KB ditujukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan
reproduksi salah satunya yaitu dengan menghindari jarak kelahiran yang
dekat, terlalu muda dan terlalu tua untuk mempunyai anak serta terlalu
banyak melahirkan seorang anak, selain itu diharapkan dapat menurunkan
kasus kehamilan yang tidak diinginkan yang berdampak pada tingginya
kasus aborsi. Pengguguran yang dilakukan secara paksa atau tidak aman
akan menimbulkan gangguan kesehatan reproduksi dan meningkatkan
resiko kematian ibu seperti terjadinya perdarahan hebat yang berujung
dengan kematian. Kejadian kehamilan yang tidak diinginkan merupakan
implikasi dari Unmet need, yaitu banyaknya PUS yang tidak 23
menggunakan alat kontrasepsi padahal pasangan sangat membutuhkan.
Penelitian yang dilakukan di Nigeria menunjukkan dari 356 responden,
76% mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, penyebab dari masalah
tersebut yaitu karena tidak menggunakan kontrasepsi dan berdampak pada
tingginya kematian akibat aborsi.
Tingginya kejadian aborsi memberikan asumsi rendahnya pemakaian
dan kualitas kb. Aborsi tidak hanya dilakukan oleh PUS, namun paling
tinggi terjadi pada anak remaja yang belum memahami tentang bahaya seks
dini atau pranikah. Alasan remaja melakukan aborsi yang dilakukan secara
sengaja karena belum siap untuk menjadi seorang ibu atau terlalu dini
untuk mengurus anak dan rumah tangga. Faktor kejadian Unmet need KB
merupakan faktor independen tidak dapat berdiri sendiri dalam
mempengaruhi kejadian kehamilan yang tidak diinginkan.
3. Keluarga Berencana (KB)
a. Definisi keluarga berencana
Pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu strategi untuk
mendukung percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dengan
mengatur waktu, jarak, jumlah kehamilan, sehingga dapat mencegah atau
16

memperkecil kemungkinan ibu hamil mengalami komplikasi yang


membahayakan jiwa atau janin. Keluarga berencana adalah upaya
mewujudkan keluarga berkualitas melalui promosi, perlindungan dan
bantuan dalam hak-hak reproduksi untuk membentuk keluarga dengan
usia kawin yang ideal, mengatur jumlah, jarak kehamilan, membina
ketahanan serta kesejahteraan anak (Cahyani, 2021).
Menurut World Health Organization (2021), Keluarga Berencana
(Family Planning) dapat memungkinkan pasangan usia subur (PUS)
untuk mengantisipasi kelahiran, mengatur jumlah anak yang diinginkan,
dan mengatur jarak serta waktu kelahiran. Hal ini dapat dicapai melalui
penggunaan metode kontrasepsi dan tindakan infertilitas. Jadi, Keluarga
Berencana (Family Planning) adalah suatu usaha untuk menjarangkan
atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan menggunakan
alat kontrasepsi yang bertujuan untuk mewujudkan keluarga kecil,
bahagia sejahtera.
b. Tujuan program keluarga berencana
Tujuan dilaksanakan program KB yaitu membentuk keluarga kecil
sesuai dengan sosial ekonomi keluarga dengan cara mengatur kelahiran
anak untuk mewujudkan keluarga bahagia, sejahtera yang dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya (Cahyani, 2021).
Tujuan program KB lainnya yaitu menjarangkan, menunda dan
menghentikan kehamilan untuk menurunkan angka kelahiran,
menyelamatkan ibu dan bayi akibat melahirkan pada usia muda, jarak
kelahiran yang terlalu dekat dan melahirkan pada usia tua (Cahyani,
2021).
17

c. Manfaat program keluarga berencana


Beberapa manfaat untuk program Keluarga Berencana (KB) sebagai
berikut (Cahyani, 2021):
1) Manfaat bagi ibu
Ibu dapat memperbaiki kesehatan tubuh, peningkatan kesehatan
mental dan sosial karena mempunyai waktu yang cukup untuk
mengasuh anak, beristirahat dan menikmati waktu luang.
2) Manfaat bagi anak yang dilahirkan
Anak tumbuh dengan baik terpenuhi kebutuhan dasar asah, asih, asuh
3) Manfaat bagi suami
Memperbaiki kesehatan fisik, mental, dan sosial karena kecemasan
berkurang serta memiliki lebih banyak waktu untuk keluarganya.
4) Manfaat bagi seluruh keluarga
Setiap anggota keluarga akan mempunyai kesempatan yang lebih
besar untuk memperoleh pendidikan.
d. Sasaran program keluarga berencana
Sasaran dari program keluarga berencana dibagi menjadi dua yaitu
sasaran utama dan sasaran antara. Sasaran utama adalah Pasangan Umur
Subur (PUS), sedangkan untuk sasaran antara adalah tenaga kesehatan
(Cahyani, 2021).
4. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
a. Pengertian
Keluarga berencana adalah upaya mewujudkan keluarga
berkualitas melalui promosi, perlindungan dan bantuan dalam hak-hak
reproduksi untuk membentuk keluarga dengan usia kawin yang ideal,
mengatur jumlah, jarak kehamilan, membina ketahanan serta
kesejahteraan anak (BKKBN, 2020).
Metode kontrasepsi jangka panjang merupakan metode yang
dikenal lebih efektif karena dapat memberikan perlindungan dari resiko
18

kehamilan dengan jangka waktu sampai sepuluh tahun yang meliputi alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR), sedangkan alat kontrasepsi bawah kulit
dengan masa berlaku sampai tiga tahun (Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN, 2020).
b. Macam-macam Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
1) Alat Kontrasepsi Dalam Rahin (AKDR)/ Intra Uterine Device (AKDR).
AKDR atau spiral merupakan suatu benda kecil yang terbuat
dari plastik yang lentur, memiliki lilitan temabaga, dan dimasukan
kedalam rahim melalui vagina dan memiliki benang (Handayani, 2020).
Cara kerja AKDR/AKDR yaitu menghambat kemampuan sperma untuk
masuk ke dalam tuba fallopi, mempengaruhi fertilitas sebelum ovum
mencapai kavum uteri, AKDR bekerja terutama untuk mencegah sperma
dan ovum tertentu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke
dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma
untuk fertilitas, serta memungkinkan mencegah implementasi telur
dalam uterus (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN, 2020).
Efektivitas tinggi dan sangat efektif yaitu 0,6-0,8
kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama, AKDR efektif segera
setelah pemasangan, sebagai metode jangka panjang (10 tahun proteksi
dan tidak perlu diganti), sangat efektif karena tidak perlu mengingat-
ingat, tidak mempengaruhi hubungan seksual, tidak ada efek samping
hormonal, tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI, tidak ada
interaksi dengan obat-obat, dan membantu mencegah kehamilan ektopik
(Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN,
2020)
Efek samping yang umum terjadi pada saat penggunaan KB
AKDR antara lain :
19

a) Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan


berkurang setelah 3 bulan).
b) Haid lebih lama dan banyak.
c) Perdarahan antar menstruasi.
d) Saat haid lebih sedikit.
2) AKBK
AKBK atau susuk merupakan alat kontrasepsi yang dipasang
atau disisipkan dibawah kulit, efektif untuk mencegah kehamilan,
dengan cara mengalirka secara perlahan – lahan hormone yang
dibawanya. Kemudian hormone akan mengalir kedalam tubuh melewati
pembuluhpembuluh darah. Hormone yang dikandung dalam AKBK
adalah levonogestrel (LNG), yaitu hormone yang menghentikan suplai
hormone estrogen yang berfungsi mendorong pembentukan lapisan
dinding lemak dan dengan demikian menyebabkan terjadinya menstruasi
(Saifuddin, 2020).
Alat kontrasepsi ini mempunyai 2 jenis yang pertama yaitu
norplant yang terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan
panjang 3-4 cm,dan diameter 2,4 mm, yang berisi 36 mg levonogestrel
yang lama kerjanya 5 tahun. Jenis AKBKt yang kedua adalah AKBKon
yang terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kirakira 40 mm
yang berdiameter 2mm, yang berisi 68 mg 3- keto-desogestrel dan lama
kerjanya 3 tahun (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN, 2020).
Cara kerja alat kontrasepsi AKBKt ini adalah lender serviks menjadi
kental, mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit
terjadinya AKBKtasi, mengurangi transportasi sperma, serta menekan
ovulasi (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN, 2020). Efektifitas sangat efektif , kegagalan 0,2-1 kehamilan
20

per 100 perempuan (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana


Nasional (BKKBN, 2020).
Keuntungan penggunaan alat kontrasepsi AKBKt ada 2 yang
pertama keuntungan kontrasepsi seperti daya guna tinggi, perlindungan
jangka panjang (sampai 5 tahun), pengembalian tingkat kesuburan yang
cepat setelah pencabutan, tidak memerlukan pemeriksaan dalam, bebas
dari pengaruh estrogen, tidak mengganggu senggama, tidak
menggangggu ASI, dan dapat dicabut setiap saat sesuai keinginan klien.
Kedua keuntungan nonkontrasepsi yaitu dapat mengurangi nyeri haid,
mengurangi jumlah darah haid, mengurangi dan dapat memperbaiki
anemia, melindungi terjadinya kaanker endometrium, dapat menurunkan
angka kejadian kelainan jinak payudara, melindungi diri dari beberapa
penyebab penyakit radang panggul, dan yang terakhir dapat menurunkan
angka kejadian endometriosis (Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN, 2020)
Keterbatasan alat kontrasepsi ini adalah kebanyakan klien dapat
menyebabkan perubahan pola haid berupa perdarahan bercak,
hipermenorea, atau meningkatnya jumlah darah haid atau amenorea.
Selain itu juga timbul keluhan-keluhan berupa: nyeri pada kepala,
peningkatan atau penurunan berat badan, nyeri payudara, perasaan mual
dan pusing pada kepala, membutuhkan tindakan pembedahan minor
untuk insersi dan pencabutan, tidak memberikan efek protektif terhadap
IMS termasuk AIDS, efektivitasnya menurun apabila menggunakan
obat- 20 obat tuberculosis atau obat epilepsy, dan terjadinya kehamilan
ektopik yang lebih sedikit lebih tinggi (1,3 per 100.000 perempuan per
tahun) (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN, 2020).
21

3) MOW/MOP
Metode Operasi Wanita (MOW) atau tubektomi pada wanita
adalah tindakan yang dilakukan pada kedua saluran telur wanita yang
mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak akan mendapatkan
keturunan lagi. Kontrasepsi ini untuk jangka panjang dan sering disebut
sterilisasi. Untuk melakukan kontrasepsi ini peserta harus memenuhi
persyaratan. Persyaratan yang dimaksud adalah calon peserta harus
sukarela dalam memilih keputusannya, terikat dalam perkawinan yang
sah dan harmonis, memiliki sekurangnya dua anak yang sehat fisik dan
mental dan calon peserta dalam keadaan sehat oleh dokter dengan
pemeriksaan. Metode ini tidak menimbulkan efek samping, efektivitas
sangat tinggi dan aman bagi ibu menyusui (BKKBN, 2020).
Macam- cacam cara yang dilakukan dalam dunia medis
menurut (BKKBN, 2020) dibagi menjadi 2 yaitu:
a) Penyinaran
Penyinaran merupakan tindakan penutupan pada kedua falopii
wanita yang mengakibatkan yang bersangkutan tidak hamil lagi.
b) Operatif
Pada metode operatif ini dibangi menjadi tiga cara yaitu pada
bagian abdominal, vaginal dan transcervikal. Pada bagian abdomal
biasanya dilakukan dengan cara laparotomi, mini- laparotomi dan
laparoskopi. Pada bagian vaginal biasanya dilakukan dengan cara
kolpotomi dan kuldoskopi. Pada bagian transcervikal biasanya
dilakukan dengan cara histeroskopi, tanpa melihat langusung,
penyumbatan tuba secara mekanis dan penyumbatan tuba kimiawi.
Metode Operasi Pria (MOP) merupakan suatu metode
kontrasepsi operati minor pada pria yang sangat aman, sederhana dan
memerlukan operasi singkat dan tidak memerlukan anestesi umum.
Seperti MOW, MOP juga memrlukan syarat yag harus dipenuhi oleh
22

calon peserta yaitu calon peserta harus sukarela dapam memilih, terjalin
dalam hubungan perkawinan yang syah dan harmonis dengan memiliki
paling sedikit 2 anak yang sehat fisik dan mental, mendapat persetujuan
istri, dan dokter menyatakan calon peserta sehat melalui pemeriksaan.
Metode ini tidak menimbulkan efek samping dan efektivitas sangat
tinggi (BKKBN, 2020). (BKKBN, 2020).
5. Pendidikan Kesehatan
a. Pengertian
Pendidikan kesehatan ialah upaya menunjang program kesehatan
guna dinamisasi serta peningkatan ilmu pengetahuan pada periode
tertentu secara efektif (Saputra dkk., 2021; Wiwin dkk., 2022).
Pendidikan kesehatan mengembangkan konsep yang dimulai melalui
pemikiran masyarakat awam menjadi mampu (Yulastini dkk., 2021).
Pendidikan kesehatan dapat berperan untuk merubah perilaku selaras
dengan nilai-nilai kesehatan. Perilaku sehat dapat disebabkan oleh faktor
pengetahuan dan kesadarannya melalui proses pembelajaran (Fitriana dan
Siswantara, 2019).
Pendidikan kesehatan adalah proses yang direncanakan dengan
sadar untuk menciptakan peluang bagi individu-individu untuk senantiasa
belajar memperbaiki kesadaran (literacy) serta meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya (life skills) demi kepentingan
kesehatannya (Nursalam, 2020). Pendidikan kesehatan merupakan suatu
proses perubahan perilaku yang dinamis dengan tujuan mengubah atau
memprngaruhi perilaku manusia yang meliputi komponen pengetahuan,
sikap, ataupun praktik yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat baik
secara individu, kelompok maupun masyarakat, serta merupakan
komponen dari program kesehatan (Suliha, 2019).
23

b. Tujuan Pendidikan Kesehatan


Masyarakat diharapkan dapat memecahkan masalah lalu
mengatasi kebutuhannya melalui pendidikan kesehatan (Ernawati, 2023).
Pendidikan kesehatan bertujuan untuk memperoleh dan memahami secara
optimal guna peningkatan kualitas kesehatan (Rochmawati dan
Novitasari, 2021). Disamping itu, hal ini dilakukan untuk mengubah
kesadaran masyarakat mengenai kesehatan agar mencapai tujuan hidup
sehat (Maolinda dkk., 2022). Dapat disimpulkan bahwa pendidikan
kesehatan bertujuan menumbuhkan kemampuan masyarakat dalam
menjaga kesehatan secara fisik, mental dan sosial. Tujuan pendidikan
kesehatan adalah suatu perubahan sikap dan tingkah laku individu,
keluarga, kelompok khusus, dan masyarakat dalam membina serta
memelihara perilaku hidup sehat juga berperan aktif dalam mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal (Nursalam dkk, 2020). Menurut Suliha
(2019), secara umum tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah
perilaku 2 individu/ masyarakat dalam bidang kesehatan. Sedangkan
secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah:
1) Agar melakukan langkah positif dalam melakukan pencegahan
terhadap penyakit
2) Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi
perubahan system dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan
efisien.
3) Agar mempelajari apa yang dapat dilakukannya secara mandiri.
c. Sasaran Pendidikan Kesehatan
Pendidikan terkait kesehatan menyasar tiga aspek yaitu primer
merupakan upaya pendidikan yang dilakukan kepada individu. Sasaran
sekunder merupakan upaya pendidikan yang dilakukan kepada pemimpin
adat atau pemimpin daerah. Sasaran tersier merupakan upaya pendidikan
kesehatan yang ditujukan kepada para pembuat kebijakan publik
24

(Aryawati dan Dolores, 2023) . Sasaran pendidikan kesehatan ditujukan


kepada setiap lapisan masyarakat. Hal ini ditujukan untuk setiap individu
dalam masyarakat untuk perubahan serta peningkatan perilaku terkait
kesehatan mencakup jasmani, mental, kehidupan sosial serta ekonomi
(Sari, 2023).
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan kesehatan
Menurut Notoatmojo (2022), ada beberapa faktor yang
mempengaruhi keberhasilan promosi kesehatan dalam melakukan
pendidikan kesehatan diantaranya yaitu:
1) Promosi kesehatan dalam faktor predisposisi
Promosi kesehatan bertujuan untuk menggugah kesadaran,
memberikan atau meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan bagi dirinya sendiri,
keluarganya, maupun masyarakatnya. Disamping itu dalam konteks
promosi kesehatan juga memberikan pegertian tentang tradisi
kepercayaan masyarakat dan sebagainya, baik yang merugikan
maupun yang menguntungkan kesehatan. Bentuk promosi ini
dilakukan dengan penyuluhan, pameran, iklan layanan kesehatan, dan
sebagainya.
2) Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling (penguat)
Bentuk promosi kesehatan dilakukan agar dapat memberdayakan
masyarakat dan mampu mengadakan sarana dan prasarana kesehatan
dengan cara bantuan teknik, memberikan arahan, dan cara-cara
mencari dana untuk pengadaan sarana dan prasarana.
3) Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (pemungkin)
Promosi kesehatan ini ditujukan untuk mengadakan pelatihan bagi
tokoh agama, tokoh masyarakat, dan petugas kesehatan sendiri
dengan tujuan agar sikap dan perilaku petugas dapat menjadi teladan,
contoh atau acuan bagi masyarakat tentang hidup sehat.
25

6. Poster
a. Pengertian Poster
Poster adalah media yang digunakan untuk menyampaikan suatu
informasi, saran atau ide-ide tertentu, sehingga dapat merangsang
keinginan yang melihatnya untuk melaksanakan isi pesan tersebut
(Maolinda dkk., 2022).
Menurut Wikipedia, pengertian poster adaah sebuah karya seni
grafis yang dibuat dengan perpaduan antara huruf dan angka diatas kertas
yang ukurannya relatif datar ditempat-tempat umum yang ramai agar
informasi dan pesan yang ada dalam poster tersebut bisa tersampaikan
kepada masyarakat. Poster adalah salah satu media yang terdiri dari
lambang kata atau simbol yang sangat sederhana dan apada umumnya
mengandung anjuran atau larangan.
Menurut Sudjana dan Rivai poster adalah sebagai kombinasi visual
dari rancangan yang kuat, dengan warna, dan pesan dengan maksud untuk
manangkap perhatian orang yang lewat tetapi cukup lama menanamkan
gagasan yang berarti didalam ingatannya.
Media poster adalah media yang menyajikan informasi dalam bentuk
visual untuk mempengaruhi dan memotivasi siswa yang melihatnya.

b. Kelebihan dan Kelemahan Poster


Dalam setiap media pasti mempunyai kelebihan dan kelemahan
termasuk juga media poster, Menurut Maolinda dkk (2022) berikut ini
kelebihan dan kelemahan media poster:
1) Kelebihan media poster
a) Dalam pembuatan
(1) Dapat dibuat dalam waktu yang relatif singkat,
26

(2) Bisa dibuat manual (gambar sederhana),


(3) Tema dapat mengangkat realitas masyarakat.
b) Dalam penggunaan:
(1) Dapat menarik perhatian khalayak,
(2) Bisa digunakan untuk diskusi kelompok maupun pleno,
(3) Bisa dipasang (berdiri sendiri).
c) Poster berukuran besar, sehingga mudah dan menarik untuk
dibaca dan dilihat.
d) Poster mempunyai bentuk tulisan yang singkat, padat dan tidak
memerlukan waktu yang lama untuk membaca dan memahaminya
e) Poster dapat ditempel atau diletakan dimana saja serta memiliki
kata-kata yang menarik untuk dibaca.
27

2) Kelemahan media poster


a) Dalam pembuatan:
(1) Butuh illustrator atau keahlian menggambar kalau ingin
sebagus karya professional.
(2) Butuh penguasaan komputerr untuk tata letak (lay-out).
(3) Kalau di cetak biayanya mahal.
b) Dalam penggunaan:
(1) Pesan yang disampaikan terbatas.
(2) Perlu keahlian untuk menafsirkan.
(3) Beberapa poster perlu keterampilan membaca-menulis.
7. Pengetahuan
a. Pengertian
Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melalui
proses sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek tertentu.
Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam terbentuknya
perilaku terbuka atau open behavior (Donsu, 2017). Pengetahuan atau
knowledge adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang
terhadap suatu objekmelalui pancaindra yang dimilikinya. Panca indra
manusia guna penginderaan terhadap objek yakni penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan perabaan. Pada waktu penginderaan
untuk menghasilkan pengetahuan tersebut dipengaruhi oleh intensitas
perhatiandan persepsi terhadap objek. Pengetahuan seseorang sebagian
besar diperoleh melalui indra pendengaran dan indra penglihatan
(Notoatmodjo, 2020).

b. Tahap Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (dalam Wawan dan Dewi, 2020)
pengetahuan seseorang terhadap suatu objek mempunyai intensitas atau
28

tingkatan yang berbeda. Secara garis besar dibagi menjadi 6 tingkat


pengetahuan, yaitu :
1) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai recall atau memanggil memori yang
telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu yang spesifik dan
seluruh bahan yang telah dipelajari atau rangsangan yang telah
diterima. Tahu disisni merupakan tingkatan yang paling rendah. Kata
kerja yang digunakan untuk mengukur orang yang tahu tentang apa
yang dipelajari yaitu dapat menyebutkan, menguraikan,
mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.
2) Memahami (Comprehention)
Memahami suatu objek bukan hanya sekedar tahu terhadap
objek tersebut, dan juga tidak sekedar menyebutkan, tetapi orang
tersebut dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang
diketahuinya. Orang yang telah memahami objek dan materi harus
dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menarik kesimpulan,
meramalkan terhadap suatu objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek
yang dimaksud dapat menggunakan ataupun mengaplikasikan prinsip
yang diketahui tersebut pada situasi atau kondisi yang lain. Aplikasi
juga diartikan aplikasi atau penggunaan hukum, rumus, metode,
prinsip, rencana program dalam situasi yang lain.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang dalam menjabarkan
atau memisahkan, lalu kemudian mencari hubungan antara
komponenkomponen dalam suatu objek atau masalah yang diketahui.
Indikasi bahwa pengetahuan seseorang telah sampai pada tingkatan ini
adalah jika orang tersebut dapat membedakan, memisahkan,
29

mengelompokkan, membuat bagan (diagram) terhadap pengetahuan


objek tersebut.
5) Sintesis (Synthesis)
Sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam merangkum
atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen
pengetahuan yang sudah dimilikinya. Dengan kata lain suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang
sudah ada sebelumnya.
6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian berdasarkan suatu
kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku
dimasyarakat.
c. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Budiman
dan Riyanto (2023), diantaranya:
1) Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah proses sikap dan perilaku seseorang atau
kelompok dan merupakan usaha mendewasakan manusia melalui
upaya pengajaran dan pelatihan (Budiman & Riyanto, 2023).
Semakin tinggi pendidikan yang diperoleh seseorang maka semakin
banyak pengetahuan informasi yang didapatkan.
2) Informasi/Media
Massa Informasi merupakan suatu teknik untuk
mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memanipulasi,
mengumumkan, menganalisis dan menyebarkan informasi dengan
tujuan tertentu. Informasi diperoleh dari pendidikan formal dan
nonformal yang dapat memberikan pengaruh jangka pendek sehingga
menghasilkan perubahan dan peningkatan pengetahuan. Informasi
30

juga dapat ditemui di dalam kehidupan sehari-hari karena informasi


ini bisa dijumpai di sekitar lingkungan baik itu keluarga, kerabat, atau
media lainnya. Informasi mempengaruhi pengetahuan seseorang jika
sering mendapatkan informasi tentang suatu pembelajaran yang akan
menambah pengetahuan dan wawasan.
3) Sosial Budaya dan Ekonomi
Kebiasaan dan tradisi ini dilakukan oleh orang-orang tanpa
melalui penalaran apa yang dilakukan baik ataupun buruk. Dengan
demikian, status ekonomi juga akan menentukan tersedianya suatu
fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu sehingga status
sosial ekonomi akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
Seseorang yang mempunyai sosial budaya yang baik maka tingkat
pengetahuannya akan baik tapi jika budayanya kurang baik maka
tingkat pengetahuannya akan kurang baik.
4) Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar
individu, baik itu lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.
Lingkungan juga berpengaruh terhadap proses masuknya
pengetahuan pada seseorang karena adanya interaksi timbal balik
ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh
seseorang.
5) Pengalaman
Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman orang lain
maupun diri sendiri sehingga pengalaman yang sudah diperoleh dapat
meningkatkan pengetahuan seseorang. Pengalaman seseorang dapat
mempengaruhi pengetahuan, semakin banyak pengalaman seseorang
tentang suatu hal, maka akan semakin bertambah pula pengetahuan
seseorang akan hal tersebut.
6) Umur
31

Usia dapat mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir


seseorang. Semakin bertambah usia maka akan semakin berkembang
pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuannya
semakin membaik
d. Pengukuran Tingkat Pengetahuan
Kriteria Tingkat Pengetahuan Menurut Nursalam (2021) pengetahuan
seseorang dapat diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif,
yaitu :
1) Pengetahuan Baik : 76 % - 100 %
2) Pengetahuan Cukup : 56 % - 75 %
3) Pengetahuan Kurang : < 56 %
32

B. Kerangka Teori
Faktor :
WUS 1. Pendidikan
2. Pengetahuan
3. Dukungan Suami
4. Umur
5. Riw KB
WUS Unmet Need 6. Pekerjaan
7. Status Ekonomi
8. Paritas
9. Usia anak teakhir
KB 10. Agama, sosial
budaya
11. Akses fasilitas

Kondom Pil AKBK AKD MOW/MOP Suntik

Faktor faktor:
1. Predisposisi Pendidikan Kesehatan
2. Enabling (Penguat)
3. Reinforcing
(pemungkin)
Poster

Pengetahuan MJKP
Faktor faktor:
1. Pendidikan
2. Informasi
3. Soasial Budaya
4. Lingkungan
5. Pengalaman Baik Cukup Kurang
Umur

Gambar 1 Skema Kerangka Teori


(Notoadmojo, 2022), (Sutarto, dkk,2023), (Supariasa, 2019).
33

C. Kerangka Konsep

Variable Independen Variable Dependen


Pendidikan Pengetahuan Penggunaan
Kesehatan MKJP

Gambar 2 Skema Kerangka Konsep

D. Hipotesis
Ha : Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster
terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need di
Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo.
H0 : Tidak terdapat pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster
terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need di
Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan Pre-
Eksperiment dengan rancangan One Group Pretest-Postest. Penelitian ini
merupakan penelitian Pre-eksperimen Penelitian jenis Pre Eksperimen ini
seringkali dianggap sebagai eksperimen yang belum sungguh-sungguh, karena
masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya
variabel dependen. Metode penelitian pre-eksperimental design ini dilakukan
pada satu kelompok (Sugiyono, 2021).
One group pretest-post test design yaitu salah satu bentuk dari penelitian
pre-eksperimental dimana suatu kelompok diberi pretes, kemudian diberi
perlakuan dan setelah itu dilakukan post tes padanya. Dengan demikian hasil
perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan
keadaan sebelum diberi perlakuan (Sugiyono, 2021). Desain tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut:

O1 X O2

Gambar 3 Rancangan Penelitian


Keterangan:
O1 : Pretest pengetahuan WUS unmet need sebelum perlakuan
O2 : Postest pengetahuan WUS unmet need setelah perlakuan
X : Perlakuan berupa edukasi WUS Unmed need tentang MKJP
(Taufiqurrohman, 2021)

34
35

B. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau
subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono,
2019). Populasi pada penelitian ini adalah WUS yang unmet need di Desa
Jangglengan Nguter Sukoharjo pada Bulan Mei sejumlah 41 responden.

C. Sampel, dan Teknik Sampling


1. Sampel
Sampel adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat
mewakili populasi disebut sampling. Tehnik sampling merupakan cara-
cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel, agar memperoleh sampel
yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian
(Nursalam,2022). Sampel dalam penelitian ini adalah WUS yang unmet
need di Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo pada Bulan Mei sejumlah 41
responden.
2. Tehnik Sampling
Cara pengambilan sampel dengan cara “Non probability Sampling”
dengan teknik sampel “Total Sampling" yaitu teknik pengambilan sampel
dimana jumlah sampel sama dengan populasi. Alasan mengambil total
sampling karena jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi
dijadikan sampel penelitian semuanya (Notoatmodjo, 2018). Tehnik total
sampling dalam penelitian ini adalah WUS yang unmet need di Desa
Jangglengan Nguter Sukoharjo pada Bulan Mei sejumlah 41 responden,
apabila terdapat responden yang tidak hadir pada saat penelitian maka
peneliti melakukan kunjungan rumah dan membuat WA group untuk
membagikan link posttestnya.
36

D. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2024 di Desa
Jangglengan Nguter Sukoharjo.

E. Variabel Penelitian
Variabel adalah sebuah konsep yang dapat dibedakan menjadi dua,
yakni yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Variabel merupakan karakteristik
subyek penelitian yang berubah dari subjek ke subjek lainnya (Hidayat, 2022).
1. Variabel Independen (Bebas)
Menurut Nursalam (2022), variabel independen adalah variabel yang
nilainya menentukan variabel lain. Variabel independen dalam penelitian
ini adalah Pendidikan Kesehatan tentang MKJP.
2. Variabel dependen (Terikat)
Menurut Nursalam (2022), variabel dependen adalah variabel yang
nilainya ditentukan oleh variabel lain. Dengan kata lain, variabel dependen
adalah faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya
hubungan atau pengaruh dari variabel bebas. Variabel terikat dalam
penelitian ini adalah pengetahuan tentang penggunaan MKJP.

F. Definisi Operasional Variabel Penelitian


Menurut Nursalam (2022) definisi operasional adalah definisi
berdasarkan karakteristik yang damati dari sesuatu yang didefinisikan
tersebut.
37

Tabel 2 Definisi Operasional


N Variabel Definisi Operasional Alat Skala Skor
o Ukur Ukur
1 Bebas : upaya menunjang program - - -
Pendidikan kesehatan guna dinamisasi
Kesehatan serta peningkatan ilmu
tentang pengetahuan pada periode
MKJP tertentu secara efektif
tentang MKJP berupa
AKDR, AKBKt dan
MOP/MOW dalam waktu
30 menit dengan
menggunakan media poster
2 Terikat : Hasil dari tahu, dan ini Kuesione Ordinal [Link] : jika
Pengetahua terjadi setelah orang r jawaban benar 76
n tentang melakukan penginderaan % - 100 %
penggunaan terhadap MKJP yaitu [Link]: jika
MKJP AKDR, AKBKt dan jawaban benar 56
MOP/MOW % - 75 %
[Link]: jika
jawaban benar <
56 %

G. Jenis dan Teknik Pengumpulan


Data Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan
dalam dua jenis yaitu data primer dan data sekunder.
1. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti
secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai
data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date. Untuk
mendapatkan data primer, peneliti harus mengumpulkannya secara
langsung. Teknik yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan
data primer antara lain observasi, wawancara, penyebaran kuesioner.
Peneliti mendapatkan data primer dari data kuesioner pengetahuan.
38

2. Data Sekunder
Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari
berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data
sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik
(BPS), buku, laporan, jurnal, dan lain-lain.
Peneliti mendapatkan data sekunder dari Desa Jangglengan Nguter
Sukoharjo berupa profil dan data WUS yang unmet need beserta data KB
MKJP untuk mendukung latar belakang.

H. Alat Ukur/Instrument dan Bahan Penelitian


Pada penelitian ini instrument yang digunakan dalam pengumpulan
data adalah kuesioner pengetahuan yang diambil dari Palentari (2021) dan
telah dinyatakan valid dan reliabel. Kuesioner ini dilakukan untuk mengukur
tingkat pengetahuan WUS Unmet need tentang MKPJP. Terdapat 24
pertanyaan yang harus dijawab responden dengan memilih jawaban yang
dianggap benar.
1. Jawaban Salah : Nilai 0
2. Jawaban Benar : Nilai 1
Kisi-kisi kuesioner pengetahuan WUS Unmet need tentang MKPJP adalah
sebagai berikut:
Tabel 3 Kisi-Kisi kuesioner pengetahuan WUS Unmet need tentang MKPJP

Nomor soal
Indikator Favourable (+) Unfavourable ( - ) Jumlah

Jenis 2 1 2
AKDR 3,4,5,7, 6,8,9 7
AKBK 11,12,13,14,15 10,16 7
MOW/MOP 18,19,20,21,22,23 17 7
Jumlah 23
39

I. Uji Validitas dan Reliabilitas


Agar kuesioner tersebut memenuhi kriteria sebagai alat ukur, maka
sebelum kuesioner dibagikan kepada responden, dilakukan uji validitas dan
reliabilitas.
1. Uji Validitas
Pertanyaan valid apabila memiliki nilai korelasi positif dan nilai
lebih besar dari dengan taraf signifikansi 0,05. Uji validitas ini
menggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS) 17
for Windows. Kuesioner ini tidak dilakukan uji validitas karena diambil
dari penelitian oleh Palentari (2021) dengan judul Pengaruh Penyuluhan
Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Terhadap Pengetahuan Dan
Sikap Pada Wanita Usia Subur (WUS) DI Wilayah Kerja Puskesmas Batu
Brak Lampung Barat yang sudah dinyatakan valid dengan nilai r hitung >r
tabel (0,361) dengan rentan r hitung 0,364 – 0,958 artinya bahwa 23 soal
tersebut dikatakan valid atau sahih.
2. Uji Reliabilitas
Untuk melakukan pengujian reliabilitas instrumen penelitian ini
digunakan metode koefisien Cronbach Alpha. Setelah uji validitas pada
responden dari item pernyataan yang valid kemudian dilakukan uji
reliabilitas dengan program SPSS (Statistical Package for Social Science)
For Windows versi 17.0 menggunakan rumus Cronbach Alpha.
Kuesioner ini tidak dilakukan uji reliabilitas karena diambil dari
penelitian oleh Palentari (2021) dengan judul Pengaruh Penyuluhan
Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Terhadap Pengetahuan Dan
Sikap Pada Wanita Usia Subur (WUS) DI Wilayah Kerja Puskesmas Batu
Brak Lampung Barat yang sudah dinyatakan reliabel nilai reliabilitas
diperoleh rhitung = 0,923 dengan nilai rhitung tersebut > 0,7, sehingga
40

disimpulkan bahwa instrumen penelitian ini memiliki tingkat reliabitas


yang tinggi.
J. Analisa Data
1. Analisa Univariat
Analisis univariat adalah analisis data untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk analisis
univariat tergantung dari jenis datanya (Notoatmodjo, 2018).
Analisis ini dilakukan dengan distribusi frekuensi untuk mengetahui data
untuk setiap variabel yaitu pengetahuan tentang penggunaan MKJP
sebelum diberikan pendidikan kesehatan, pengetahuan tentang
penggunaan MKJP setelah diberikan pendidikan kesehatan serta
karakteristik responden dalam penelitian ini seperti: umur, pendidikan dan
pekerjaan.
2. Analisa Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis data yang dilakukan terhadap dua
variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmojo, 2018).
Apabila telah dilakukan analisis univariat tersebut diatas, hasilnya akan
diketahui karakteristik atau distribusi setiap variabel dan dapat
dilanjutkan analisis bivariat. Analisis yang digunakan adalah uji Wilcoxon
test karena skala ukur dalam variabel adalah ordinal. Selanjutnya
interpretasi hasil uji statistik sebagai berikut:
a) Menerima H0 (menolak Ha) bila diperoleh nilai p value > 0,05 yang
berarti tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster
terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need di
Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo.
b) Menerima Ha (menolak H0) bila diperoleh nila p value ≤ 0,05 yang
berarti tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan media poster
terhadap pengetahuan penggunaan MKJP pada WUS unmet need di
Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo.
41

K. Prosedur Penelitian
1. Alur penelitian
a. Langkah Perencanaan :
1) Melakukan pengajuan judul dan mengkonsultasikan kepada
pembimbing,
2) Melakukan studi pendahuluan peninjauan atau survey tempat
penelitian di Desa Jangglengan Nguter Sukoharjo,
3) Menyusun proposal dan mengkonsultasikan pada dosen
pembimbing,
4) Dosen pembimbing menyetujui untuk seminar proposal,
5) Melaksanakan seminar proposal.
6) Mengurus surat izin penelitian,
7) Menentukan sampel WUS unmet need yang akan dijadikan
responden,
8) Mempersiapkan inform concent dan instrument penelitian berupa
kuisioner dalam bentuk link google form.
b. Langkah Pelaksanaan
1) Melakukan pengumpulan data responden dengan meminta data
WUS unmetneed desa Jangglengan dari bidan desa Jangglengan,
2) Mengolah data yang diperoleh dari bidan desa untuk membuat
undangan,
3) Mengumpulkan responden di balai desa Jangglengan melalui
undangan dengan bantuan kader yang dijadwalkan pada minggu
pertama bulan Mei. Apabila terdapat responden yang tidak hadir
maka dilakukan kunjungan rumah dengan langkah pelaksanaan
yang sama,
4) Membuat WhatsApp group yang beranggotakan responden guna
untuk membagikan link pretest dan post test,
42

5) Menjelaskan maksud dan tujuan penelitian serta memintakan


informed consent,
6) Membagikan kuesioner pengetahuan pretest ke WhatsApp group
dengan jumlah 23 soal dalam waktu 30 menit dan mempersilahkan
responden untuk mengerjakan,
7) Dilakukan pengecekan agar semua terisi dengan lengkap,
8) Melakukan edukasi kepada WUS 1 kali dengan durasi 40-60
menit dengan media poster dan diskusi,
9) Memberikan jeda waktu 1 jam untuk mengendapkan materi
dengan jumlah 23 soal dalam waktu 30 menit dan mempersilahkan
responden untuk mengerjakan,
10) Membagikan kuesioner post test ke WhatsApp group dengan
jumlah 23 soal dalam waktu 30 menit dan mempersilahkan
responden untuk mengerjakan,
11) Dilakukan pengecekan agar semua terisi dengan lengkap,
12) Data terkumpul dan dilakukan pengolahan data,
13) Menyusun skripsi dan mengkonsultasikan pada dosen
pembimbing,
14) Dosen pembimbing menyetujui untuk seminar skripsi,
15) Melaksanakan seminar skripsi,
16) Melaksanakan revisi menurut arahan dosen pembimbing dan
dosen penguji,
17) Mengumpulkan skripsi.
2. Pengolahan Data
Menurut Notoatmodjo (2018), dalam melakukan analisis data terlebih
dahulu data harus diolah dengan tujuan mengubah data menjadi informasi.
Dalam statistik, informasi yang diperoleh dipergunakan untuk proses
pengambilan keputusan, terutama dalam pengujian hipotesis.
43

Dalam proses pengolahan data pada penelitian ini terdapat langkah-langkah


yang harus ditempuh, diantaranya:
a. Editing
Setelah melakukan pengisian lembar checklist, kemudian dilakukan
editing dengan memasukkan semua data yang telah didapat kedalam
master tabel yang bertujuan untuk mengetahui kelengkapan data. Semua
tabel terisi sesuai data yang dibutuhkan peneliti dari kuesioner.
b. Coding
Coding merupakan kegiatan merubah data ke dalam bentuk yang
lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode tertentu, seperti mengubah
data berbentuk kalimat menjadi data angka atau bilangan.
1) Pretest pengetahuan
Benar = 1, Salah = 0
2) Post test pengetahuan
Benar = 1, Salah = 0
c. Entry data
Data yang berasal dari checklist dalam bentuk kode, kemudian
dimasukkan kedalam program atau software computer. Kemudian
disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
L. Etika Penelitian
Menurut Hidayat, (2020) masalah etika penelitian yang diperhatikan adalah
sebagai berikut:
1. Tanpa nama (Anonimity)
Penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau
mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya
menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian
yang disajikan.
2. Kerahasiaan (confidentiality)
44

Memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian baik informasi maupun


masalah-masalah lainya. Semua informasi yang telah dikumpulkan
dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang
akan dilaporkan pada hasil riset.
3. Bermanfaat (Beneficience)
Peneliti melaksanakan penelitian sesuai dengan prosedur penelitian guna
mendapatkan hasil yang bermanfaat semaksiamal mungkin bagi subyek
penelitian dan dapat digeneralisasikan di tingkat populasi.
4. Tidak membahayakan (Non Maleficience)
Peneliti meminimalisasi dampak yang merugikan bagi [Link]
intervensi penelitian berpotensi mengakibatkan cedera atau stress
tambahan maka subyek dikeluarkan dari kegiatan penelitian untuk
mencegah terjadinya cedera, kesakitan, stress, maupun kematian subyek
penelitian.
5. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan menekankan sejauh mana kebijakan penelitian
membagikan keuntungan dan beban secara merata atau menurut
kebutuhan, kemampuan, kontribusi, dan pilihan bebas masyarakat.
Sebagai contoh dalam prosedur penelitian, peneliti mempertimbangkan
aspek keadilan gender dan hak subyek untuk mendapatkan perlakuan
yang sama baik sebelum, selama, maupun sesudah berpartisipasi dalam
penelitian.
DAFTAR PUSTAKA

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2020. Kesehatan


Reproduksi Dan Nikah Dini.

BKKBN. (2020). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Cetakan ke5. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan 2.

BKKBN. (2020). Panduan Siaran Kependudukan Keluarga Berencana dan


Pembangunan Keluarga Untuk Komunitas Baru. Jakarta: Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, (2022). Profil Hasil


Pendataan Keluarga Tahun 2022. Jakarta: BKKBN

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. (2022). Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2022. Dinkes Jateng, 4201003 (33)

DKK Sukoharjo. (2021). Profil Kesehatan Kabupaten Sukoharjo tahun 2021.


Sukoharjo: Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo

Fitriana, H. dan Siswantara, P. (2019). Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja di


SMPN 52 Surabaya. The Indonesian Journal of Public Health, 13(1), p. 110.

Kementrian Kesehatan RI (Kemenkes RI). (2023). Data dan Informasi Profil


kesehatan Indonesia 2017. Jakarta: Kemenkes RI

Maolinda, N, Aat Sriati., Ida Maryati. (2022). Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap
Siswa Terhadap Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja. Student e-
journals Vol 1 No. 1[Link]
diakses 7 januari 2020.

Notoatmodjo, S. (2003). Prinsip-prinsip Ilmu Kesehatan Masyarakat. Penerbit


Rhineka Cipta, Jakarta

Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka


Cipta

Notoatmodjo, S. (2020). Metodologi Penelitian Kesehatan. Penerbit Rineka Cipta,


Jakarta

45
46

Nursalam. (2007). Manajemen Keperawatan dan Aplikasinya. Penerbit Salemba


Medika, Jakarta

Nursalam. (2020). Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktek Keperawatan


Profesional. Edisi 2. Salemba Medika, Jakarta

Nursalam. (2020). Manajemen Keperawatan : Aplikasi dan Praktik Keperawatan


Profesional, Edisi Kedua. Salemba Medika, Jakarta.

Nursalam. (2020). Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktik.


Jakarta : Salemba Medika

Palentari. (2021). Pengaruh Penyuluhan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)


Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Pada Wanita Usia Subur (WUS) DI
Wilayah Kerja Puskesmas Batu Brak Lampung Barat. Jurnal Poltekes Tjk.
.
Rochmawati, L., & Novitasari, R. (2021). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap
Pengetahuan Dan Perilaku Pencegahan Penularan HIV Dari Ibu Ke Anak
(PPIA). Jurnal Kebidanan Unimus, 5(1). Retrieved from
Suliha, Uha. (2019). Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan. Jakarta: EGC
Suliha, Uha. 2019. Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan. Jakarta: EGC
47
48
Lampiran 1

TAHAP Januari Februari Maret April Mei Juni Juli


KEGIATAN
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Sosialisasi
pembuatan skripsi
2. Penyusunan
Proposal
3. UP (Ujian
Proposal) dan
revisi pasca ujian
proposal
4. Pengambilan Data
dan Penyusunan
Hasil Penelitian
5. Menysun laporan
hasil & konsultasi
hasil
6. Ujian hasil

7. Revisi pasca ujian

52
Lampiran 2
PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth.
Calon Responden Penelitian

Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : ANISA NURUL INSANI
NIM : 5202302236

Adalah salah satu mahasiswa Program Studi Sarjana Kebidanan Sekolah


Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo yang sedang melakukan penelitian dengan judul ”
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA POSTER
TERHADAP PENGETAHUAN PENGGUNAAN MKJP PADA WUS UNMET
NEED DI DESA Unmet need Di Desa Jangglengan”
Dengan ini memohon kesediaan ibu untuk menjadi responden dalam
penelitian ini. Kerahasiaan semua informasi akan dijaga dan hanya digunakan untuk
kepentingan penelitian. Diharapkan ibu menjawab dengan jawaban yang jujur tanpa
menutupi hal yang sebenarnya. Apabila ibu menyetujui, maka saya mohon
kesediaannya untuk menandatangani persetujuan dan menjawab pertanyaan yang
saya buat.
Atas perhatian dan kesediaan sebagai responden, saya mengucapkan terima
kasih.

Hormat saya,

ANISA NURUL INSANI

53
Lampiran 3

PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Dengan menandatangani lembar ini, saya:


Nama : ..............................................................................................
Tempat / Tgl Lahir : ..............................................................................................
Memberikan persetujuan untuk mengisi kuesioner yang diberikan peneliti.
Saya mengerti bahwa saya menjadi bagian dari penelitian ini yang bertujuan untuk
mengetahui “PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA
POSTER TERHADAP PENGETAHUAN PENGGUNAAN MKJP PADA WUS
UNMET NEED DI DESA Unmet need Di Desa Jangglengan”.
Saya telah diberitahu peneliti, bahwa jawaban kuesioner ini bersifat sukarela
dan hanya dipergunakan untuk keperluan penelitian. Oleh karena itu secara sukarela
saya ikut berperan serta dalam penelitian ini.

Surakarta, Mei 2024

Responden

( )

54
Lampiran 4

KUESIONER PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA


POSTER TERHADAP PENGETAHUAN PENGGUNAAN MKJP PADA
WUS UNMET NEED DI DESA JANGGLENGAN

Tanggal Pengisian : ____________


Petunjuk Pengisian :
a. Pilih jawaban yang benar sesuai dengan pendapat Anda dengan memberi tanda
centang ().
A. IDENTITAS
1. Nama :.........................................................................................
2. Umur :.........................................................................................
3. Pendidikan :.........................................................................................
4. Pekerjaan : Bekerja Tidak Bekerja
3. Alamat :.........................................................................................

B. PERNYATAAN
No. Pertanyaan Benar Salah
1. Suntik, pil, dan kondom merupakan jenis – jenis
MKJP.
2. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan
alat kontrasepsi yang dipasang dibawah kulit lengan.
3. AKDR tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
4. AKDR sangat efektif karena tidak perlu mengingat-
ingat
5. AKDR membantu mencegah kehamilan ektopik.
6. AKDR mempengaruhi hubungan seksual
7. AKDR tidak ada efek samping hormonal.
8. Wanita yang sedang menyusui tidak disarankan
9. menggunakan AKDR (spiral) karena AKDR (spiral)
mempengaruhi produksi ASI.
10. AKDR terbuat dari besi.
11. AKBK (susuk) adalah alat kontrasepsi yang ditanam
di dalam rahim wanita.
12. AKBK atau susuk merupakan alat kontrasepsi yang
dipasang atau disisipkan dibawah kulit lengan.
13. AKBK merupakan alat kontrasepsi perlindungan
jangka panjang (sampai 5 tahun).

55
No. Pertanyaan Benar Salah
14. AKBK merupakan alat kontrasepsi dengan
pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah
pencabutan.
15. Pemasangan AKBK (susuk) tidak memerlukan
pemeriksaan dalam.
16. AKBK (susuk) tidak mengganggu senggama.
17. Ibu menyusui tidak dapat menggunakan AKBK
karena mempengaruhi ASI
18. Tubektomi (MOW) adalah operasi sederhana untuk
menghentikan kesuburan laki – laki.
19. Tubektomi tidak mempengaruhi produksi hormon.
20. Tubektomi (MOW) sifatnya permanen sehingga sulit
dikembalikan kesuburannya.
21. Vasektomi (MOP) adalah operasi sederhana untuk
menghentikan kesuburan laki – laki.
22. MOW merupakan operasi pada kedua saluran telur
wanita.
23. MOP merupakan operasi minor pada pria yang sangat
aman, tidak memerlukan anestesi umum.

56
Lampiran 5

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA POSTER


TERHADAP PENGETAHUAN PENGGUNAAN MKJP PADA WUS UNMET
NEED DI DESA UNMET NEED
DI DESA JANGGLENGAN
No. Pertanyaan Benar Salah
1. Suntik, pil, dan kondom merupakan jenis – jenis √
MKJP.
2. Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) merupakan √
alat kontrasepsi yang dipasang dibawah kulit
lengan.
3. AKDR tidak mempengaruhi kualitas dan volume √
ASI.
4. AKDR sangat efektif karena tidak perlu mengingat- √
ingat
5. AKDR membantu mencegah kehamilan ektopik. √
6. AKDR mempengaruhi hubungan seksual √
7. AKDR tidak ada efek samping hormonal. √
8. Wanita yang sedang menyusui tidak disarankan
9. menggunakan AKDR (spiral) karena AKDR (spiral) √
mempengaruhi produksi ASI.
10. AKDR terbuat dari besi. √
11. AKBK (susuk) adalah alat kontrasepsi yang ditanam √
di dalam rahim wanita.
12. AKBK atau susuk merupakan alat kontrasepsi yang √
dipasang atau disisipkan dibawah kulit lengan.
13. AKBK merupakan alat kontrasepsi perlindungan √
jangka panjang (sampai 5 tahun).
14. AKBK merupakan alat kontrasepsi dengan √
pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah
pencabutan.
15. Pemasangan AKBK (susuk) tidak memerlukan √
pemeriksaan dalam.
16. AKBK (susuk) tidak mengganggu senggama. √
17. Ibu menyusui tidak dapat menggunakan AKBK √
karena mempengaruhi ASI
18. Tubektomi (MOW) adalah operasi sederhana untuk √
menghentikan kesuburan laki – laki.
19. Tubektomi tidak mempengaruhi produksi hormon. √
20. Tubektomi (MOW) sifatnya permanen sehingga sulit √
dikembalikan kesuburannya.
57
No. Pertanyaan Benar Salah
21. Vasektomi (MOP) adalah operasi sederhana untuk √
menghentikan kesuburan laki – laki.
22. MOW merupakan operasi pada kedua saluran telur √
wanita.
23. MOP merupakan operasi minor pada pria yang √
sangat aman, tidak memerlukan anestesi umum.

58
Lampiran 6

59
Lampiran 7

SATUAN ACARA PENYULUHAN


(SAP)

I. IDENTIFIKASI MASALAH
Pemerintah melakukan upaya pengendalian penduduk melalui
instansi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN). Salah satu upaya BKKBN adalah membuat pelaporan hasil
Unmet need untuk mendapatkan gambaran pencapaian program KB dan
mengetahui besarnya sasaran potensial yang masih perlu diajak ber-KB.
Unmet need adalah wanita yang subur dan aktif secara seksual namun
tidak menggunakan metode kontrasepsi, sedangkan mereka menyatakan
tidak ingin punya anak lagi atau ingin menunda anak berikutnya.
Kelompok Unmet need merupakan sasaran yang perlu menjadi perhatian
dalam pelayanan program KB. Faktor penyebab Unmet need diantaranya
kurangnya pengetahuan tentang KB, kurangnya dukungan suami dan
budaya yang dipegang teguh oleh pasangan usia subur seperti penggunaan
kontrasepsi hanya pada golongan umur tertentu saja. Faktor umur
seseorang berpengaruh signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan
kontrasepsinya. Kelompok umur usia muda dan usia tua beresiko tinggi
mengalami Unmet need KB karena kelompok ini tidak menyadari bahwa
mereka memiliki potensi hamil (Sariyati and Al, 2023).

II. PENGANTAR
Topik : Penggunaan MKJP pada WUS Unmet Need
Sasaran : WUS yang unmet need Di Desa Jangglengan
Hari/tanggal : / Mei 2024
Jam : 09.30 wib
Waktu : 30 menit
Tempat : Balai Desa Jangglengan

III. TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM (TIU)


Memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi pada WUS yang unmet
need tentang Penggunaan MKJP pada WUS Unmet Need.

60
IV. TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan ibu dapat menjelaskan kembali
tentang :
1. Menginformasikan mengenai AKDR
2. Menginformasikan mengenai AKBKt
3. Menginformasikan mengenai MOW/MOP

V. METODE
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
VI. MEDIA
1. Materi SAP
2. Poster
3. Laptop

VII. KEGIATAN PEMBELAJARAN


No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1 3 menit Pembukaan Menjawab salam
1. Memberi Salam
2. Perkenalan Mendengarkan dan
3. Menjelaskan Tujuan Penyuluhan memperhatikan
4. Menyebutkan materi/ pokok materi yang
bahasan yang akan disampaikan disampaikan
2 15 Pelaksanaan: Menyimak dan
Menit  Menjelaskan materi penyuluhan memperhatikan
secara berurutan dan teratur.
Materi :
 Menginformasikan mengenai AKDR
 Menginformasikan mengenai AKBKt
 Menginformasikan mengenai
MOP/MOW
3 10 Evaluasi : Peserta bertanya
menit Meminta kader menjelaskan mengenai masalah
/menyebutkan kembali tentang : yang belum
A. AKBKt dipahami
Mendengarkan dan
memperhatikan
61
4 2 menit Penutup : Peserta menjawab
Mengakhiri pertemuan dengan salam
mengucapkan terima kasih dan salam

VIII. EVALUASI
Metode Evaluasi : Tanya Jawab
Jenis Pertanyaan : Lisan
IX. MATERI
1) Alat Kontrasepsi Dalam Rahin (AKDR)/ Intra Uterine Device (AKDR).
AKDR atau spiral merupakan suatu benda kecil yang terbuat
dari plastik yang lentur, memiliki lilitan temabaga, dan dimasukan
kedalam rahim melalui vagina dan memiliki benang (Handayani, 2020).
Cara kerja AKDR/AKDR yaitu menghambat kemampuan sperma untuk
masuk ke dalam tuba fallopi, mempengaruhi 14 fertilitas sebelum ovum
mencapai kavum uteri, AKDR bekerja terutama untuk mencegah sperma
dan ovum tertentu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke
dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma
untuk fertilitas, serta memungkinkan mencegah implementasi telur
dalam uterus (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN, 2020).
Efektivitas tinggi dan sangat efektif yaitu 0,6-0,8
kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama, AKDR efektif segera
setelah pemasangan, sebagai metode jangka panjang (10 tahun proteksi
dan tidak perlu diganti), sangat efektif karena tidak perlu mengingat-
ingat, tidak mempengaruhi hubungan seksual, tidak ada efek samping
hormonal, tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI, tidak ada
interaksi dengan obat-obat, dan membantu mencegah kehamilan ektopik
(Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN,
2020)

62
Efek samping yang umum terjadi pada saat penggunaan KB
AKDR antara lain :
a) Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan
berkurang setelah 3 bulan).
b) Haid lebih lama dan banyak.
c) Perdarahan antar menstruasi.
d) Saat haid lebih sedikit.
2) AKBK
AKBKt atau susuk merupakan alat kontrasepsi yang dipasang
atau disisipkan dibawah kulit, efektif untuk mencegah kehamilan,
dengan cara mengalirka secara perlahan – lahan hormone yang
dibawanya. Kemudian hormone akan mengalir kedalam tubuh melewati
pembuluhpembuluh darah. Hormone yang dikandung dalam AKBKt
adalah levonogestrel (LNG), yaitu hormone yang menghentikan suplai
hormone estrogen yang berfungsi mendorong pembentukan lapisan
dinding lemak dan dengan demikian menyebabkan terjadinya menstruasi
(Saifuddin, 2020).
Alat kontrasepsi ini mempunyai 2 jenis yang pertama yaitu
norplant yang terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan
panjang 3-4 cm,dan diameter 2,4 mm, yang berisi 36 mg levonogestrel
yang lama kerjanya 5 tahun. Jenis AKBKt yang kedua adalah AKBKon
yang terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kirakira 40 mm
yang berdiameter 2mm, yang berisi 68 mg 3- keto-desogestrel dan lama
kerjanya 3 tahun (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN, 2020).
Cara kerja alat kontrasepsi AKBKt ini adalah lender serviks menjadi
kental, mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit
terjadinya AKBKtasi, mengurangi transportasi sperma, serta menekan

63
ovulasi (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN, 2020). Efektifitas sangat efektif , kegagalan 0,2-1 kehamilan
per 100 perempuan (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN, 2020).
Keuntungan penggunaan alat kontrasepsi AKBKt ada 2 yang
pertama keuntungan kontrasepsi seperti daya guna tinggi, perlindungan
jangka panjang (sampai 5 tahun), pengembalian tingkat kesuburan yang
cepat setelah pencabutan, tidak memerlukan pemeriksaan dalam, bebas
dari pengaruh estrogen, tidak mengganggu senggama, tidak
menggangggu ASI, dan dapat dicabut setiap saat sesuai keinginan klien.
Kedua keuntungan nonkontrasepsi yaitu dapat mengurangi nyeri haid,
mengurangi jumlah darah haid, mengurangi dan dapat memperbaiki
anemia, melindungi terjadinya kaanker endometrium, dapat menurunkan
angka kejadian kelainan jinak payudara, melindungi diri dari beberapa
penyebab penyakit radang panggul, dan yang terakhir dapat menurunkan
angka kejadian endometriosis (Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN, 2020)
Keterbatasan alat kontrasepsi ini adalah kebanyakan klien dapat
menyebabkan perubahan pola haid berupa perdarahan bercak,
hipermenorea, atau meningkatnya jumlah darah haid atau amenorea.
Selain itu juga timbul keluhan-keluhan berupa: nyeri pada kepala,
peningkatan atau penurunan berat badan, nyeri payudara, perasaan mual
dan pusing pada kepala, membutuhkan tindakan pembedahan minor
untuk insersi dan pencabutan, tidak memberikan efek protektif terhadap
IMS termasuk AIDS, efektivitasnya menurun apabila menggunakan
obat- 20 obat tuberculosis atau obat epilepsy, dan terjadinya kehamilan
ektopik yang lebih sedikit lebih tinggi (1,3 per 100.000 perempuan per

64
tahun) (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN, 2020).
3) MOW/MOP
Metode Operasi Wanita (MOW) atau tubektomi pada wanita
adalah tindakan yang dilakukan pada kedua saluran telur wanita yang
mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak akan mendapatkan
keturunan lagi. Kontrasepsi ini untuk jangka panjang dan sering disebut
sterilisasi. Untuk melakukan kontrasepsi ini peserta harus memenuhi
persyaratan. Persyaratan yang dimaksud adalah calon peserta harus
sukarela dalam memilih keputusannya, terikat dalam perkawinan yang
sah dan harmonis, memiliki sekurangnya dua anak yang sehat fisik dan
mental dan calon peserta dalam keadaan sehat oleh dokter dengan
pemeriksaan (BKKBN, 2020).
Macam- cacam cara yang dilakukan dalam dunia medis
menurut (BKKBN, 2020) dibagi menjadi 2 yaitu:
c) Penyinaran
Penyinaran merupakan tindakan penutupan pada kedua falopii
wanita yang mengakibatkan yang bersangkutan tidak hamil lagi.
d) Operatif
Pada metode operatif ini dibangi menjadi tiga cara yaitu pada
bagian abdominal, vaginal dan transcervikal. Pada bagian abdomal
biasanya dilakukan dengan cara laparotomi, mini- laparotomi dan
laparoskopi. Pada bagian vaginal biasanya dilakukan dengan cara
kolpotomi dan kuldoskopi. Pada bagian transcervikal biasanya
dilakukan dengan cara histeroskopi, tanpa melihat langusung,
penyumbatan tuba secara mekanis dan penyumbatan tuba kimiawi.
a. Metode Operasi Pria (MOP) merupakan suatu metode
kontrasepsi operati minor pada pria yang sangat aman,

65
sederhana dan memerlukan operasi singkat dan tidak
memerlukan anestesi umum. Seperti MOW, MOP juga
memrlukan syarat yag harus dipenuhi oleh calon peserta yaitu
calon peserta harus sukarela dapam memilih, terjalin dalam
hubungan perkawinan yang syah dan harmonis dengan
memiliki paling sedikit 2 anak yang sehat fisik dan mental,
mendapat persetujuan istri, dan dokter menyatakan calon
peserta sehat melalui pemeriksaan (BKKBN, 2020).

X. Daftar Pustaka

BKKBN. (2020). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Cetakan ke5.


Jakarta: Pustaka Sinar Harapan 2.

BKKBN. (2020). Panduan Siaran Kependudukan Keluarga Berencana


dan Pembangunan Keluarga Untuk Komunitas Baru. Jakarta:
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, (2022). Profil


Hasil Pendataan Keluarga Tahun 2022. Jakarta: BKKBN

66
LEMBAR KONSULTASI

Nama : ANISA NURUL INSANI


NIM : 5202302236
Judul Skripsi : PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA
POSTER TERHADAP PENGETAHUAN PENGGUNAAN MKJP
PADA WUS UNMET NEED DI DESA Unmet need Di Desa
Jangglengan
Dosen Pembimbing: Sri Handayani, [Link], [Link], [Link]

No Tanggal Materi Keterangan TTD Dosen


Konsultasi
1. 01 Januari Pengajuan ACC
2024 Judul

2. 06 Februari Pengajuan Revisi


2024 Outline Studi pendahuluan
Rancangan penelitian
Populasi sampel
Analisa data
3 09 Februari BAB I-III Revisi BAB I-III
2024

4. 28 Februari BAB I-III Lengkapi bagian awal


2024 Revisi BAB I-III
Lengkapi kampiran

5. 15 Maret 2024 Proposal Skripsi Revisi bagian awal


Revisi BAB 1-3
Revisi Lampiran

6. 27 Maret 2024 Proposal Skripsi Revisi bagian awal


Revisi BAB 1-3
Revisi Lampiran

67
7. 22 April 2024 ACC

Keterangan : dapat diisi dengan hal-hal yang akan digunakan sebagai catatan selama
proses konsultasi

68

Anda mungkin juga menyukai