SIMULASI
PENDAMPINGAN INDIVIDU KE 5
OLEH
KELOMPOK 3
“Coaching untuk Supervisi Akademik”
“
Kelompok 3
1. CACA 4. DEDE MULYANA [Link] ENOH K
2. DARMINI 5, DEDI PURWADI [Link] UMYATI
3. DAROHKIM 6. DENDI IRAWAN 10. EUIS DEWI FATIMAH
7. DEWI WULAN A
Praktik dengan Rekan Sejawat
[Link] akan menjadi supervisor, sedangkan
satu rekan sejawat akan menjadi guru yang
akan diobservas
2. Rekam kegiatan tersebut sebagai bukti
pelaksanaan aksi nyata modul 2.3 ini.
Coaching untuk Supervisi
Akademik”
CGP diharapkan dapat menerapkan model coaching
TIRTA (Tujuan, Informasi, Rencana Tindakan, Aksi) dalam
supervisi akademik rekan sejawat. Model coaching TIRTA
terdiri dari empat tahapan, yaitu:
[Link]
Pada tahap ini, coach membantu coachee untuk
mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai. Coachee dapat
mulai dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
Apa yang ingin saya capai?
Mengapa tujuan ini penting bagi saya?
Apa manfaat yang akan saya dapatkan jika saya mencapai
tujuan ini?
2. Informasi
Pada tahap ini, coach membantu coachee
untuk mengumpulkan informasi yang relevan
dengan tujuan yang ingin dicapai. Coachee
dapat mulai dengan menjawab pertanyaan-
pertanyaan berikut:
Apa yang sudah saya lakukan untuk
mencapai tujuan ini?
Apa yang menjadi tantangan saya dalam
mencapai tujuan ini?
Apa yang saya butuhkan untuk mencapai
tujuan ini?
3. Rencana Tindakan
Pada tahap ini, coach membantu coachee untuk membuat
rencana tindakan untuk mencapai tujuannya. Coachee dapat
mulai dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
Apa yang akan saya lakukan untuk mencapai tujuan ini?
Kapan saya akan melakukan tindakan tersebut?
Bagaimana saya akan mengukur keberhasilan saya?
2
4. Aksi
Pada tahap ini, coachee menerapkan
rencana tindakan yang telah dibuatnya.
Coach dapat memberikan dukungan dan
arahan kepada coachee selama proses
aksi berlangsung
CONTOH NASKAH
DIALOG COACHING
Coach: Selamat pagi, Bu Een . Bagaimana kabarnya hari ini?
Coachee: Baik, Pak. Terima kasih sudah bertanya.
Coach: Apa yang bisa saya bantu hari ini?
Coachee: Saya ingin meningkatkan kompetensi saya dalam mengelola kelas.
Coach: Bagus sekali. Apa tujuan Anda dalam meningkatkan kompetensi tersebut?
Coachee: Saya ingin menciptakan kelas yang kondusif dan
menyenangkan bagi siswa.
Coach: Apa yang sudah Anda lakukan untuk mencapai tujuan tersebut?
Coachee: Saya sudah mencoba berbagai metode pembelajaran, tetapi
belum ada yang benar-benar efektif.
Coach: Apa yang menjadi tantangan Anda dalam mencapai tujuan
tersebut?
Coachee: Saya masih kesulitan untuk mengendalikan siswa yang suka
berbicara saat pelajaran berlangsung.
Coach: Apa yang Anda butuhkan untuk mencapai tujuan tersebut?
Coachee: Saya membutuhkan strategi untuk mengendalikan siswa
yang suka berbicara saat pelajaran berlangsung.
Coach: Baiklah, mari kita bahas strategi untuk mengendalikan
siswa yang suka berbicara saat pelajaran berlangsung.
Coach: Pertama-tama, kita perlu memahami penyebab siswa
suka berbicara saat pelajaran berlangsung. Apakah karena
mereka tidak memahami materi pelajaran? Apakah karena
mereka bosan? Atau apakah karena mereka ingin menarik
perhatian?
Coachee: Saya pikir karena mereka tidak memahami materi
pelajaran.
Coach: Jika demikian, kita perlu memberikan
penjelasan yang lebih jelas dan menarik kepada siswa.
Kita juga bisa menggunakan metode pembelajaran yang
lebih bervariasi agar siswa tidak bosan.
Coachee: Iya, Pak. Saya akan mencobanya.
Coach: Selain itu, kita juga perlu memberikan
penguatan positif kepada siswa yang tidak berbicara.
Kita bisa memberikan pujian atau penghargaan kepada
siswa yang diam dan mendengarkan pelajaran.
Coachee: Iya, Pak. Saya akan melakukannya.
Coach: Bagaimana, Bu Een? Apakah Anda sudah memiliki gambaran tentang
strategi yang akan Anda lakukan?
Coachee: Iya, Pak. Saya sudah memiliki gambaran.
Coach: Baiklah, saya rasa kita sudah selesai untuk hari ini. Silakan Anda
implementasikan strategi tersebut dan beri tahu saya hasilnya nanti.
Coachee: Terima kasih, Pak. Saya akan melakukannya.
Terima kasih!