0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan98 halaman

Kebijakan Pemanfaatan Hutan Dompu

Diunggah oleh

widya arzil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan98 halaman

Kebijakan Pemanfaatan Hutan Dompu

Diunggah oleh

widya arzil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nomor : Jakarta,

Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Mohon Kebijakan Pemanfaatan Kawasan Hutan
Untuk Pengembangan Tanaman Pangan

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Nusa Tenggara Barat
di –
Mataram

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Drs. Bambang M. Yasin (Pengadu) selaku Bupati Dompu
Nomor : 522/97/Dishut/2016 tanggal 28 November 2016, yang ditujukan kepada Menteri Lingkungan Hidup
dan Kehutanan Republik Indonesia dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan kepada Saudara, perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini
disampaikan kepada Saudara sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan penyediaan lahan untuk memenuhi target kebutuhan
bahan baku tebu terutama dikarenakan adanya permasalahan, yang mendasar dalam permasalahan tersebut
adalah karena terjadinya sengketa lahan Hak Guna Usaha seluas 2.850 Ha antara masyarakat Dompu dengan
PT. Sukses Mantap Sejahtera terletak di Desa Doropeti, Desa Soritatangan, Kecamatan Pekat, Kabupaten
Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat;
2. Menurut Pengadu sengketa lahan tersebut berawal sejak PT. Bali Anacarcia (pemegang HGU sebelum
dialihkan kepada PT. Sukses Mantap Sejahtera) telah meninggalkan dan menelantarkan lahan HGU seluas
6.500 Ha yang berlangsung selama 26 tahun dan tetap bertahan meskipun kepemilikan HGU telah beralih
kepada PT. Sukses Mantap Sejahtera dan saat ini Masyarakat yang sebelumnya telah menggarap lahan
tersebut kembali mengokupasi lahan seluas 2.850 Ha tersebut;
3. Atas hal tersebut Masyarakat Kabupaten Dompu keberatan, selanjutnya dengan berdasarkan Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. 81/MenLHK/Setejen/ Kum.I/10/2016
tentang Kerjasama Penggunaan dan Pemanfaatan Kawasan Hutan Untuk Mendukung Ketahan Pangan
membutukan perluasan lahan pertanian dan mohon kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Republik Indonesia agar dapat memberikan kebijakan pelepasan kawasan hutan atau ijin pemanfaatan
kawasan hutan untuk pengembangan tanaman pangan guna percapatan pembangunan ekonomi lokal yang
bertumpu pada pembangunan pertanian/perkebunan dengan koditas unggulan tebu dan jagung serta
diharapkan dapat menjadi jalan keluat dalam sengketa lahan antara Masyarakat Kabupaten Dompu dengan
PT. Sukses Mantap Sejahtera tersebut;
Berkenaan dengan hal tersebut, diminta kepada Saudara agar memerintahkan Kepala Kantor
Pertanahan Kabupaten Dompu untuk meneliti kebenaran pengaduan tersebut, mengumpulkan data fisik dan data
yuridis serta melakukan koordinasi dengan Instansi terkait termasuk PT. Sukses Mantap Sejahtera sebagai
pemegang Hak Guna Usaha guna penanganan dan penyelesaiannya;
Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan, hasilnya agar dilaporkan kepada Direktur
Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja
sejak diterimanya surat ini.

DIREKTUR JENDERAL

DR. H.S. MUHAMMAD IKHSAN


NIP. 19620209 198703 1 002
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sebagai laporan);
2. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Dompu, di Dompu.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Pengembalian batas tanah dalam sengketa antara TNI Angkatan Udara Cq. Bandara
Wolter Monginsidi Kendari dengan Warga Masyarakat.

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Drs. Bambang M. Yasin (Pengadu) selaku Bupati Dompu
Nomor : 522/97/Dishut/2016 tanggal 28 November 2016, yang ditujukan kepada Menteri Lingkungan Hidup
dan Kehutanan Republik Indonesia dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan kepada Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Nusa Tenggara
Barat, perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan inti dari pengaduan tersebut sebagai
berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan penyediaan lahan untuk memenuhi target kebutuhan
bahan baku tebu terutama dikarenakan adanya permasalahan, yang mendasar dalam permasalahan tersebut
adalah karena terjadinya sengketa lahan Hak Guna Usaha seluas 2.850 Ha antara masyarakat Dompu dengan
PT. Sukses Mantap Sejahtera terletak di Desa Doropeti, Desa Soritatangan, Kecamatan Pekat, Kabupaten
Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat;
2. Menurut Pengadu sengketa lahan tersebut berawal sejak PT. Bali Anacarcia (pemegang HGU sebelum
dialihkan kepada PT. Sukses Mantap Sejahtera) telah meninggalkan dan menelantarkan lahan HGU seluas
6.500 Ha yang berlangsung selama 26 tahun dan tetap bertahan meskipun kepemilikan HGU telah beralih
kepada PT. Sukses Mantap Sejahtera dan saat ini Masyarakat yang sebelumnya telah menggarap lahan
tersebut kembali mengokupasi lahan seluas 2.850 Ha tersebut;
3. Atas hal tersebut Masyarakat Kabupaten Dompu keberatan, selanjutnya dengan berdasarkan Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. 81/MenLHK/Setejen/ Kum.I/10/2016
tentang Kerjasama Penggunaan dan Pemanfaatan Kawasan Hutan Untuk Mendukung Ketahan Pangan
membutukan perluasan lahan pertanian dan mohon kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Republik Indonesia agar dapat memberikan kebijakan pelepasan kawasan hutan atau ijin pemanfaatan
kawasan hutan untuk pengembangan tanaman pangan guna percapatan pembangunan ekonomi lokal yang
bertumpu pada pembangunan pertanian/perkebunan dengan koditas unggulan tebu dan jagung serta
diharapkan dapat menjadi jalan keluat dalam sengketa lahan antara Masyarakat Kabupaten Dompu dengan
PT. Sukses Mantap Sejahtera tersebut;
Berkenaan dengan hal tersebut, apabila Bapak berkenan bersama ini kami sampaikan konsep surat
keluar kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Nusa Tenggara Barat agar
memerintahkan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Dompu untuk meneliti kebenaran pengaduan tersebut,
mengumpulkan data fisik dan data yuridis serta melakukan koordinasi dengan Instansi terkait termasuk
PT. Sukses Mantap Sejahtera sebagai pemegang Hak Guna Usaha guna penanganan dan penyelesaiannya, serta
melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah
untuk mendapatkan pengesahan Bapak;
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I,

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Pengaduan Masyarakat

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Kalimantan Timur
di –
Samarinda

Sehubungan dengan surat dari Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan
Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Nomor : B-137/Kemensetneg/D-2/DM 05/01/2017
Tanggal 9 Januari 2017, perihal tersebut pada pokok surat, yang antara lain ditujukan kepada kami, dengan ini
disampaikan kepada Saudara sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretaris
Negara Republik Indonesia bermaksud menindaklanjuti pengaduan dari Sdr. Sulaiman, S.H., M.H., dkk
selaku penasehat hukum PT. Gerbang Meranti Agrobisnis/PT. GMA No. 108/PDKH/HSSH&R/XI/2016
tanggal 28 November 2016 yang intinya Pengadu mohon :
a. Bantuan perlindungan hukum atas dugaan tindakan sewenang-wenang oknum penyidik Direktorat
Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, yang menghentikan
kegiatan operasional [Link] dan memasang police line terhadap asset dan alat-alat berat milik
kontraktor perusahaan tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
b. Bantuan penyelesaian sengketa kepemilikan lahan perkebunan di Desa Manamang Kanan dan Manamang
Kiri, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur;
2. Menurut Pengadu, PT. Gerbang Meranti Agrobisnis/PT. GMA adalah pemilik satu-satunya Izin Lokasi
Perkebunan di Desa Manamang Kanan dan Desa Manamang Kiri, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten
Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
No. [Link]/TUN/2011. Akan tetapi sejak putusan tersebut sampai sekarang PT. Gerbang Meranti
Agrobisnis/ PT. GMA belum pernah menikmati hasil kemenangan tersebut karena menurut Pengadu pihak
Kabupaten Kutai Kartanegara selalu menolak, mempersulit dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal
yang seharusnya isi putusan Pengadilan tersebut harus dilaksanakan oleh Bupati Kutai Kartanegara.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara agar melakukan penelitian terhadap
kebenaran putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. [Link]/TUN/2011 tersebut, melakukan
koordinasi dengan Bupati Kutai Kartanegara, kemudian menindaklanjuti surat dari Kementerian Sekretariat
Negara Republik Indonesia Nomor : B-137/Kemensetneg/D-2/DM 05/01/2017 Tanggal 9 Januari 2017
tersebut, dengan memberikan penjelasan mengenai Ketentuan Izin Lokasi sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.2 Tahun 1999 yang telah dirubah dengan
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.5 Tahun 2015.
Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan, hasilnya agar dilaporkan kepada Direktur
Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja
sejak surat diterima.

DIREKTUR JENDERAL

DR. H.S. MUHAMMAD IKHSAN


NIP. 19620209 198703 1 002

Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sebagai laporan);
2. Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan, Kementerian Sekretaris Negara Republik
Indonesia,
d/a. Jalan Veteran No. 17 – 18 Jakarta 10110;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Kutai Kartanegara, di Tenggarong.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Pengaduan Masyarakat

Sehubungan dengan surat dari Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan
Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Nomor : B-137/Kemensetneg/D-2/DM 05/01/2017
Tanggal 9 Januari 2017, yang antara lain ditujukan kepada kami, perihal tersebut di atas, dengan ini
disampaikan sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretaris
Negara Republik Indonesia bermaksud menindaklanjuti pengaduan dari Sdr. Sulaiman, S.H., M.H., dkk
selaku penasehat hukum PT. Gerbang Meranti Agrobisnis/PT. GMA No. 108/PDKH/HSSH&R/XI/2016
tanggal 28 November 2016 yang intinya Pengadu mohon :
a. Bantuan perlindungan hukum atas dugaan tindakan sewenang-wenang oknum penyidik Direktorat
Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, yang menghentikan
kegiatan operasional [Link] dan memasang police line terhadap asset dan alat-alat berat milik
kontraktor perusahaan tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
b. Bantuan penyelesaian sengketa kepemilikan lahan perkebunan di Desa Manamang Kanan dan Manamang
Kiri, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur;
2. Menurut Pengadu, PT. Gerbang Meranti Agrobisnis/PT. GMA adalah pemilik satu-satunya Izin Lokasi
Perkebunan di Desa Manamang Kanan dan Desa Manamang Kiri, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten
Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
No. [Link]/TUN/2011. Akan tetapi sejak putusan tersebut sampai sekarang PT. Gerbang Meranti
Agrobisnis/ PT. GMA belum pernah menikmati hasil kemenangan tersebut karena menurut Pengadu pihak
Kabupaten Kutai Kartanegara selalu menolak, mempersulit dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal
yang seharusnya isi putusan Pengadilan tersebut harus dilaksanakan oleh Bupati Kutai Kartanegara.
Berkaitan dengan hal tersebut, apabila Bapak berkenan bersama ini kami sampaikan konsep surat
keluar kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan Timur agar melakukan
penelitian terhadap kebenaran putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. [Link]/TUN/2011 tersebut,
melakukan koordinasi dengan Bupati Kutai Kartanegara, kemudian menindaklanjuti surat dari Kementerian
Sekretariat Negara Republik Indonesia Nomor : B-137/Kemensetneg/D-2/DM 05/01/2017 Tanggal 9 Januari
2017 tersebut, dengan memberikan penjelasan mengenai Ketentuan Izin Lokasi sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.2 Tahun 1999 yang telah dirubah
dengan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.5 Tahun 2015, serta
melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah
untuk mendapatkan pengesahan Bapak;
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Pengaduan Masyarakat

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sumatera Barat
di –
Padang

Sehubungan dengan surat dari Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan
Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Nomor : B-1885/Kemensetneg/D-2/DM 05/04/2017
Tanggal 12 April 2017, perihal tersebut pada pokok surat, yang ditujukan kepada Kami dan tembusannya
antara lain disampaikan kepada Saudara dan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lima Puluh Kota,
dengan ini disampaikan kepada Saudara sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretaris
Negara Republik Indonesia bermaksud menindaklanjuti pengaduan dari Sdr. Yasrizal (Pengadu) yang
bertindak selaku kuasa dari Sdr. Syamsir [Link]. Taunkeran Nan Bujang selaku Mamak Kepala Kaum
Nomor : 03/SPH Tanah Ulayat tanggal 3 Maret 2017 yang intinya Pengadu mohon bantuan penyelesaian
sengketa tanah ulayat Kaum Syamsir Dt. St. Kueren Nan Bujang di Desa Pakan Sabtu Mungo, Kecamatan
Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat yang dikuasai dan diterbitkan Sertipikat Hak
Pakai atas nama Pemerintah Daerah Tk. I Sumatera Barat Cq. Dinas Perindustrian Daerah Tk.I Sumatera
Barat;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, tanah tersebut merupakan tanah ahli waris yang sah dari Mamak
Kepala Dt. St. Taunkeran Nan Bujang, karena berdasarkan Surat Keterangan dari Sdr. Mestari Dt. Rajo
Malikan selaku Wali Nagari Mungo, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor :
140/367/[Link]-M/III-2017 tanggal 27 Maret 2017 menerangkan bahwa pihak Nagari tidak mengetahui dan
tidak mempunyai dokumen atau data penerbitan Sertipikat Hak Pakai No.1 atas nama Pemerintah Daerah
Tk.I Sumatera Barat Cq. Dinas Perindustrian Daerah Tk.I Sumatera Barat, Surat Ukur No. 83/1993 tanggal
10 Pebruari 1993 seluas 550 M2 yang diterbitkan Kantor Pertanahan Kabupaten Lima Puluh Kota.
Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Instansi Pemerintah agar kiranya dapat menelusuri,
menyelesaikan dan mengembalikan tanah tersebut kepada Pengadu;
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara agar segera menindaklanjuti surat
Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretariat Negara Republik
Indonesia tersebut, dan melakukan penanganan terhadap permasalahan dimaksud, serta menyelesaikannya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hasilnya agar dilaporkan kepada Direktur Jenderal
Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak
surat diterima.
Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan.

DIREKTUR JENDERAL,

Dr. H.S. MUHAMMAD IKHSAN


NIP. 19620209 198703 1 002
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan, Kementerian Sekretaris Negara Republik
Indonesia,
d/a. Jalan Veteran No. 17 – 18 Jakarta 10110;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lima Puluh Kota, di Payakumbuh.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Pengaduan Masyarakat

Sehubungan dengan surat dari Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan
Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Nomor : B-1885/Kemensetneg/D-2/DM 05/04/2017
Tanggal 12 April 2017, yang ditujukan kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan
Ruang dan Tanah dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan
Nasional Provinsi Sumatera Barat dan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lima Puluh Kota
perihal tersebut di atas, dengan ini disampaikan sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretaris
Negara Republik Indonesia bermaksud menindaklanjuti pengaduan dari Sdr. Yasrizal (Pengadu) yang
bertindak selaku kuasa dari Sdr. Syamsir Dt. St. Taunkeran Nan Bujang selaku Mamak Kepala Kaum
Nomor : 03/SPH Tanah Ulayat tanggal 3 Maret 2017 yang intinya Pengadu mohon bantuan penyelesaian
sengketa tanah ulayat Kaum Syamsir Dt. St. Kueren Nan Bujang di Desa Pakan Sabtu Mungo, Kecamatan
Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat yang dikuasai dan diterbitkan Sertipikat Hak
Pakai atas nama Pemerintah Daerah Tk. I Sumatera Barat Cq. Dinas Perindustrian Daerah Tk.I Sumatera
Barat;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, tanah tersebut merupakan tanah ahli waris yang sah dari Mamak
Kepala Dt. St. Taunkeran Nan Bujang, karena berdasarkan Surat Keterangan dari Sdr. Mestari Dt. Rajo
Malikan selaku Wali Nagari Mungo, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor :
140/367/[Link]-M/III-2017 tanggal 27 Maret 2017 menerangkan bahwa pihak Nagari tidak mengetahui dan
tidak mempunyai dokumen atau data penerbitan Sertipikat Hak Pakai No.1 atas nama Pemerintah Daerah
Tk.I Sumatera Barat Cq. Dinas Perindustrian Daerah Tk.I Sumatera Barat, Surat Ukur No. 83/1993 tanggal
10 Pebruari 1993 seluas 550 M2 yang diterbitkan Kantor Pertanahan Kabupaten Lima Puluh Kota.
Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Instansi Pemerintah agar kiranya dapat menelusuri,
menyelesaikan dan mengembalikan tanah tersebut kepada Pengadu;
Berkaitan dengan hal tersebut, apabila Bapak berkenan bersama ini kami sampaikan konsep surat
keluar kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Barat agar segera
menindaklanjuti surat Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretariat
Negara Republik Indonesia tersebut, melakukan penanganan terhadap permasalahan dimaksud dan
menyelesaikannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta melaporkan hasilnya
kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah untuk mendapatkan
pengesahan Bapak;
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.

Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Permohonan Putusan Sengketa Tanah di
Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo,
Provinsi Jawa Timur

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jawa Timur
di –
Surabaya

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Djoko Suprijadi dan H. Wiyadi (Pengadu) yang bertindak
selaku Ketua dan Sekretaris Perkumpulan Mantan Pasrat 45 KKO AL Paskomartu Trikora 1962
No.04/PMP45/III/2016 tanggal 30 Maret 2016, yang ditujukan kepada Presiden Republik IndonesIa dan salah
satu tembusannya ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional,
perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini disampaikan kepada Saudara sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas 39,03 Ha terletak di Blok Melayu
(Blok 001 020) Desa Gedangan, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo yang diperoleh dari para
Pengusaha Leveransir KKO Wilayah Timur di Surabaya dalam kesiapan dan ketulusan mengemban Prajurit
Kasrat 45 KKO AL mengemban tugas Negara Trikora, berupa sumbangan Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah)
sebagai dana musibah kepada Keluarga masing2 Prajurit Pasrat 45 yang diterima oleh Koordinator Keluarga
Kol. KKO AL Mukiyat;
2. Menurut keterangan Pengadu, sesuai amanat Panglima Korps Komando B Kepala Desa Gedangan melalui
pembebasan tanah dengan cara membeli/jual beli dari 37 petani pemilik tanah Gogol, tanaman drigjen KKO
Letjen TNI MarHartono an gubuk berdasarkan dokumen Berita Acara Penyerahan Hak Atas Tanah Model C
No.3 yang diketahui/ditandatangani oleh Anggota Komisi Pembebasan Tanah dan daftar penyerahan hak
serta pada proses Verbal Model C No.3 tanggal 26 September 1962.
2. Bahwa menurut Pengadu tanah seluas 39,03 Ha tersebut adalah milik Keluarga Prajurit Pasrat 45KKO AL
yang di dapat dari para pengusaha leveransir KKo wilayah Timur yang menunjukan simpati dan empati atas
kesiapan dan ketulusan prajurit Pasrat 45 KKo AL dalam mengemban tugas Negara Trikora ….. …4.000
M2 dengan bukti Sertipikat Hak Milik No. 853/Desa Vim, Surat Ukur No. 3805/1991 tanggal 18
Desember 1991, tercatat atas nama Drs. Jonathan Mano, diterbitkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Irian Jaya [Link].449/HM/1992 tanggal 4 September
1992, terletak di Jalan Abepura Jayapura, Desa Vim, Kecamatan Jayapura Selatan, Kapubaten Jayapura,
Provinsi Irian Jaya.
2. Bahwa sepeninggalannya Drs. Jonathan Mano, Sertipikat Hak Milik No. 853/Desa Vim tersebut jatuh waris
dan selanjutnya dibalik nama ke atas nama Ny. Josina Doireno, dkk (7 orang) berdasarkan Surat Keterangan
Kematian No. 474.3/20/V.93 tanggal 26 Agustus 1993 dan Surat Keterangan Warisan No. 474.3/02/V/94,
tanggal 15 Januari 1994 yang diketahui Lurah Vim dan Camat Jayapura Selatan.
3. Bahwa menurut keterangan Pengadu, di atas tanah yang sama Kantor Pertanahan Kota Jayapura pada
tanggal 25 Agustus 1995 telah menerbitkan kembali Sertipikat Hak Guna Bangunan No. 437/Desa Vim
seluas 4.000 M2, Surat Ukur No. 12/1994 tanggal 16 Desember 1994 diterbitkan berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 262/HGB/1995 tanggal 19
Mei 1995 tercatat atas nama PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero), terletak di Desa Vim, Kecamatan
Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Provinsi Irian Jaya.
4. Atas hal tersebut Pengadu keberatan, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional untuk menyelesaikan permasalahan dimaksud dan membatalkan Sertipikat Hak Guna Bangunan
No.437/Kota Jayapura atas nama PT. Perusahaan Listrik Negara tersebut dan mengembalikan tanah
tersebut kepada Pengadu.
5. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian mengenai
kebenaran pengaduan tersebut dan penanganan terhadap permasalahannya sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku, serta melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya surat ini.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.
Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Dr. H.S. Muhammad Ikhsan


NIP. 19620209 198703 1 002
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sebagai laporan);
2. Kepala Kantor Pertanahan Kota Jayapura, di Jayapura.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan Pembatalan Sertipikat Hak Guna Bangunan No. 437. Atas Nama PT. Perusahaan
Listrik Negara Kota Jayapura.

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Drs. Frans Launrens Mano, dkk/7 orang (Pengadu) selaku
ahli waris alm. Frans Laures Mano tanggal 3 April 2017, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan inti
dari pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas 4.000 M2 dengan bukti Sertipikat Hak Milik
No. 853/Desa Vim, Surat Ukur No. 3805/1991 tanggal 18 Desember 1991, tercatat atas nama Drs. Jonathan
Mano, diterbitkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Irian Jaya [Link].449/HM/1992 tanggal 4 September 1992, terletak di Jalan Abepura Jayapura,
Desa Vim, Kecamatan Jayapura Selatan, Kapubaten Jayapura, Provinsi Irian Jaya.
2. Bahwa sepeninggalannya Drs. Jonathan Mano, Sertipikat Hak Milik No. 853/Desa Vim tersebut jatuh waris
dan selanjutnya dibalik nama ke atas nama Ny. Josina Doireno, dkk (7 orang) berdasarkan Surat Keterangan
Kematian No. 474.3/20/V.93 tanggal 26 Agustus 1993 dan Surat Keterangan Warisan No. 474.3/02/V/94,
tanggal 15 Januari 1994 yang diketahui Lurah Vim dan Camat Jayapura Selatan.
3. Bahwa menurut keterangan Pengadu, di atas tanah yang sama Kantor Pertanahan Kota Jayapura pada
tanggal 25 Agustus 1995 telah menerbitkan kembali Sertipikat Hak Guna Bangunan No. 437/Desa Vim
seluas 4.000 M2, Surat Ukur No. 12/1994 tanggal 16 Desember 1994 diterbitkan berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 262/HGB/1995 tanggal 19 Mei
1995 tercatat atas nama PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero), terletak di Desa Vim, Kecamatan Jayapura
Selatan, Kota Jayapura, Provinsi Irian Jaya.
4. Atas hal tersebut Pengadu keberatan, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan dimaksud dan membatalkan Sertipikat Hak Guna
Bangunan No.437/Kota Jayapura atas nama PT. Perusahaan Listrik Negara tersebut dan mengembalikan
tanah tersebut kepada Pengadu.
5. Berkaitan dengan hal tersebut, apabila Bapak berkenan bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar
kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Papua agar melakukan penelitian dan
penanganan terhadap permasalahan tersebut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang beraku, serta
melaporkan hasil penanganan tersebut kepada Direktorat Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah untuk mendapatkan pengesahan Bapak.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I,

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Pengembalian Batas Tanah Dalam Sengketa
antara TNI Angkatan Udara Cq. Bandara
Wolter Monginsidi Kendari dengan Warga
Masyarakat

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sulawesi Tenggara
di –
Kendari

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. H. Arifin T.A. Rahman, dkk/5 orang (Pengadu)
tanggal Agustus 2016, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Saudara dan kepada Kepala
Kantor Pertanahan Kabupaten Konawe Selatan, perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini
disampaikan kepada Saudara sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengakui penerbitan Sertipikat Hak Pakai No. 919/1979 seluas 1.164 Ha,
atas nama TNI Angkatan Udara Cq. Bandara Wolter Monginsidi, terletak di Desa Konda Satu dan
Desa Lamomea, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, TNI Angkatan Udara Cq. Bandara Wolter Monginsidi secara
sepihak telah membangun Pos Keamanan dan membuat Patok batas tanah, yang pada kenyataannya
Patok batas tanah tersebut berada di luar areal lokasi Sertipikat Hak Pakai No. 919/1979 atas nama
TNI Angkatan Udara Cq. Bandara Wolter Monginsidi dan berada pada tanah masyarakat;
3. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan dirugikan, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional agar dapat menfasilitasi dan menyelesaikan
permasalahan tanah dimaksud, sehingga jelas batas dan hak Pengadu serta hak TNI Angkatan
Udara;
Berkenaan dengan hal tersebut, diminta kepada Saudara agar memerintahkan Kepala
Kantor Pertanahan Kabupaten Konawe Selatan untuk meneliti kebenaran pengaduan tersebut,
mengumpulkan data fisik dan data yuridis serta melakukan koordinasi dengan Instansi terkait termasuk
TNI Angkatan Udara sebagai pemegang Hak Pakai guna penanganan dan penyelesaiannya.
Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan, hasilnya agar dilaporkan kepada
Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14
(empat belas) hari kerja sejak diterimanya surat ini.

DIREKTUR JENDERAL,

Dr. H.S. MUHAMMAD IKHSAN


NIP. 19620209 198703 1 002

Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional,di Jakarta;
2. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Konawe Selatan, di Andoolo.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Pengembalian Batas Tanah Dalam Sengketa antara TNI Angkatan Udara Cq. Bandara
Wolter Monginsidi Kendari dengan Warga Masyarakat.

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. H. Arifin T.A. Rahman, dkk/5 orang (Pengadu)
tanggal Agustus 2016, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional, perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan inti dari
pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengakui penerbitan Sertipikat Hak Pakai No. 919/1979 seluas 1.164 Ha,
atas nama TNI Angkatan Udara Cq. Bandara Wolter Monginsidi, terletak di Desa Konda Satu dan
Desa Lamomea, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, TNI Angkatan Udara Cq. Bandara Wolter Monginsidi secara
sepihak telah membangun Pos Keamanan dan membuat Patok batas tanah, yang pada kenyataannya
Patok batas tanah tersebut berada di luar areal lokasi Sertipikat Hak Pakai No. 919/1979 atas nama
TNI Angkatan Udara Cq. Bandara Wolter Monginsidi dan berada pada tanah masyarakat;
3. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan dirugikan, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional agar dapat menfasilitasi dan menyelesaikan
permasalahan tanah dimaksud, sehingga jelas batas dan hak Pengadu serta hak TNI Angkatan
Udara;
4. Berkaitan dengan hal tersebut, apabila Bapak berkenan bersama ini kami sampaikan konsep surat
keluar kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulawesi Tenggara
agar memerintahkan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Konawe Selatan untuk meneliti
kebenaran pengaduan tersebut, mengumpulkan data fisik dan data yuridis serta melakukan
koordinasi dengan Instansi terkait termasuk TNI Angkatan Udara sebagai pemegang Hak Pakai
guna penanganan dan penyelesaiannya, serta melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal
Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah untuk mendapatkan pengesahan
Bapak.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I,

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Pengaduan Masyarakat

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi DKI Jakarta
di –
Jakarta

Sehubungan dengan surat dari Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan
Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Nomor : B-803/Kemensetneg/D-2/DM 05/02/2016
Tanggal 18 Februari 2016, perihal tersebut pada pokok surat, yang ditujukan kepada kami dan tembusannya
antara lain disampaikan kepada Saudara dan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur,
dengan ini disampaikan kepada Saudara sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretaris
Negara Republik Indonesia bermaksud menindaklanjuti pengaduan dari Sdr. Madah, S.H., selaku kuasa
hukum ahli waris Alm. Djiih bin Nyaung (Pengadu) Nomor : 216/[Link]/XI/2015 tanggal 23 November
2015 yang intinya Pengadu mohon bantuan penyelesaian sengketa tanah Girik C No. 287 Persil 39C D III
seluas 2.930 M2 atas nama Djiih bin Nyaung terletak di RT. 002, RW. 08 Kelurahan Cipayung, Kecamatan
Cipayung, Jakarta Timur, yang diduga dikuasai oleh TNI AD cq. Kodam Jaya;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, berdasarkan surat-surat tersebut pihaknya telah mengajukan
permohonan sertipikat hak atas tanah kepada Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur,
namun setelah dilakukan pengukuran ternyata bidang tanah milik Pengadu tersebut tumpang tindih dengan
Sertipikat Hak Guna Bagunan No. 241/Cipayung tercatat atas nama Ny. Boedi Ilham, Cs, sehingga gambar
ukur sertipikat milik Pengadu tumpang tindih dengan Seretipikat Hak Guna Bangunan No. 241/Cipayung
milik Ny. Boedi Ilham, Cs;
3. Berdasakan hal tersebut, selanjutnya Pengadu melakukan upaya hukum dengan melakukan gugatan kepada
Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur melalui Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta
yang terdaftar dalam register perkara No. 82/G/2008/PTUN-JKT, dan telah diputus pada tanggal 10
November 2008 No. 82/G/2008/PTUN-JKT, jo. putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta
tanggal 3 April 2009 No. 30/B/2009/[Link], jo. putusan Kasasi Mahkah Agung Republik Indonesia
tanggal 11 April 2011 No. 428K/TUN/2009 yang amarnya antara lain menyatakan : Membatalkan Sertipikat
Hak Guna Bangunan No. 241/Cipayung atas nama Ny. Boedi Ilham, Cs dan memerintahkan
Tergugat/Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur u No. 82/G/2008/PTUN-JKT untuk
memproses permohonan sertipikat Hak Milik para Penggugat tersebut. Namun sampai saat ini Kantor
Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur belum meproses permohonan Pengadu tersebut;
4. Bahwa dengan belum dilaksanakan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta tersebut, kemudian
Pengadu dan Sdr. Muhammad Nur, S.H., mengajukan gugatan terhadap Kepala Kantor Pertanahan Kota
Administrasi Jakarta Timur dan Ny. Boedi Ilham, Cs. melalui Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang
terdaftar dalam register perkara No. 77/Pdt.G/2013/[Link], dan telah diputus dengan amar putusan
antara lain :
- Menyatakan para Penggugat adalah ahli waris alm. Djiih bin Nyaung;
- Menyatakan tanah perkara berupa Girik C No. 287 Persil 39C Blok d III seluas 2.930 M2 terletak di
RT.002, RW.08 Kelurahan Cipayung, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur adalah milik Penggugat;
- Memerintahkan kepada Tergugat I/kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur untuk
melaksanakan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta tanggal 10 November 2008
No. 82/G/2008/PTUN-JKT, jo. putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta tanggal 3 April
2009 No. 30/B/2009/[Link], jo. putusan Kasasi Mahkah Agung Republik Indonesia tanggal 11
April 2011 No. 428K/TUN/2009;
/ 5. Bahwa….
-2-

5. Bahwa saat ini tanah milk Pengadu diakui sebagai tanah milik Kodam Jaya melalui Kepala Bankinkum TNI
Mayor jenderal TNI S Supriyatna, S.H., M.H. dan pada tanggal 8 8 September 2014 di atas lokasi tanah
tersebut telah dipasang papan nama yang bertuliskan Tanah milik TNI AD Cd. Kodam Jaya. Atas hal
tersebut Pengadu keberatan selanjutnya mohon bantuan penyelesaian kepada Presiden Republik Indonesia
dan Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia agar Kodam Jaya menyerahkan tanah tersebut
kepada Pengadu dan diterbitkan sertipikatnya.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara agar segera menindaklanjuti surat
Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretariat Negara Republik
Indonesia tersebut, dan melakukan penanganan terhadap permasalahan dimaksud dan menyelesaikannya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hasilnya agar dilaporkan kepada Direktur Jenderal
Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak
surat diterima.
Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan.

DIREKTUR JENDERAL

DR. H.S. MUHAMMAD IKHSAN


NIP. 19620209 198703 1 002

Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sebagai laporan);
2. Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan, Kementerian Sekretaris Negara Republik
Indonesia,
d/a. Jalan Veteran No. 17 – 18 Jakarta 10110;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur, di Jakarta.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Pengaduan Masyarakat

Sehubungan dengan surat dari Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan
Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Nomor : B-803/Kemensetneg/D-2/DM 05/02/2016 Tanggal
18 Februari 2016, yang ditujukan kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang
dan Tanah dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional
Provinsi DKI Jakarta dan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur perihal tersebut
di atas, dengan ini disampaikan sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretaris
Negara Republik Indonesia bermaksud menindaklanjuti pengaduan dari Sdr. Madah, S.H., selaku kuasa
hukum ahli waris Alm. Djiih bin Nyaung (Pengadu) Nomor : 216/[Link]/XI/2015 tanggal 23 November
2015 yang intinya Pengadu mohon bantuan penyelesaian sengketa tanah Girik C No. 287 Persil 39C D III
seluas 2.930 M2 atas nama Djiih bin Nyaung terletak di RT. 002, RW. 08 Kelurahan Cipayung,
Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, yang diduga dikuasai oleh TNI AD cq. Kodam Jaya;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, berdasarkan surat-surat tersebut pihaknya telah mengajukan
permohonan sertipikat hak atas tanah kepada Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur,
namun setelah dilakukan pengukuran ternyata bidang tanah milik Pengadu tersebut tumpang tindih dengan
Sertipikat Hak Guna Bagunan No. 241/Cipayung tercatat atas nama Ny. Boedi Ilham, Cs, sehingga gambar
ukur sertipikat milik Pengadu tumpang tindih dengan Seretipikat Hak Guna Bangunan No. 241/Cipayung
milik Ny. Boedi Ilham, Cs;
3. Berdasakan hal tersebut, selanjutnya Pengadu melakukan upaya hukum dengan melakukan gugatan kepada
Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur melalui Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta
yang terdaftar dalam register perkara No. 82/G/2008/PTUN-JKT, dan telah diputus pada tanggal 10
November 2008 No. 82/G/2008/PTUN-JKT, jo. putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta
tanggal 3 April 2009 No. 30/B/2009/[Link], jo. putusan Kasasi Mahkah Agung Republik Indonesia
tanggal 11 April 2011 No. 428K/TUN/2009 yang amarnya antara lain menyatakan : Membatalkan Sertipikat
Hak Guna Bangunan No. 241/Cipayung atas nama Ny. Boedi Ilham, Cs dan memerintahkan
Tergugat/Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur u No. 82/G/2008/PTUN-JKT untuk
memproses permohonan sertipikat Hak Milik para Penggugat tersebut. Namun sampai saat ini Kantor
Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur belum meproses permohonan Pengadu tersebut;
4. Bahwa dengan belum dilaksanakan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta tersebut, kemudian
Pengadu dan Sdr. Muhammad Nur, S.H., mengajukan gugatan terhadap Kepala Kantor Pertanahan Kota
Administrasi Jakarta Timur dan Ny. Boedi Ilham, Cs. melalui Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang
terdaftar dalam register perkara No. 77/Pdt.G/2013/[Link], dan telah diputus dengan amar putusan
antara lain :
- Menyatakan para Penggugat adalah ahli waris alm. Djiih bin Nyaung;
- Menyatakan tanah perkara berupa Girik C No. 287 Persil 39C Blok d III seluas 2.930 M2 terletak di
RT.002, RW.08 Kelurahan Cipayung, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur adalah milik Penggugat;
- Memerintahkan kepada Tergugat I/kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Timur untuk
melaksanakan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta tanggal 10 November 2008
No. 82/G/2008/PTUN-JKT, jo. putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta tanggal 3 April
2009 No. 30/B/2009/[Link], jo. putusan Kasasi Mahkah Agung Republik Indonesia tanggal 11
April 2011 No. 428K/TUN/2009;
/ 5. Bahwa….
-2-

5. Bahwa saat ini tanah milk Pengadu diakui sebagai tanah milik Kodam Jaya melalui Kepala Bankinkum TNI
Mayor jenderal TNI S Supriyatna, S.H., M.H. dan pada tanggal 8 8 September 2014 di atas lokasi tanah
tersebut telah dipasang papan nama yang bertuliskan Tanah milik TNI AD Cd. Kodam Jaya. Atas hal
tersebut Pengadu keberatan selanjutnya mohon bantuan penyelesaian kepada Presiden Republik Indonesia
dan Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia agar Kodam Jaya menyerahkan tanah tersebut
kepada Pengadu dan diterbitkan sertipikatnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, apabila Bapak berkenan bersama ini kami sampaikan konsep surat
keluar kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi DKI Jakarta agar segera
menindaklanjuti surat Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretariat
Negara Republik Indonesia tersebut, dan melakukan penanganan terhadap permasalahan dimaksud dan
menyelesaikannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta melaporkan hasilnya
kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah untuk mendapatkan
pengesahan Bapak;
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Surat Klarifikasi

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sulawesi Tenggara
di –
Kendari

Sehubungan dengan surat dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Nomor : 561/K/Mediasi/XII/2016 tanggal 29 Desember 2016, perihal tersebut pada pokok surat, yang ditujukan
kepada Gubernur Sulawesi Tenggara dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, dengan ini disampaikan kepada Saudara sebagai berikut :
1. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia bermaksud menindaklanjuti pengaduan dari
Sdr. La Ode She Ma’ruf, S.H. No. 161/SK/Pdt/XI/2016 tanggal 9 November 2016 yang intinya Pengadu
menyampaikan bahwa masyarakat Perkampungan Tondobulu Lama (Tombulu Gunung), Perkampungan
Lama Pata Limbona, Perkampungan Lama Wasambua (Wasambua Gunung) dan Perkampungan Lama
Komba Kombawolio mengakui dan memiliki lahan kebun jati secara turun temurun warisan dari para
pendahulunya sejak ratusan tahun yang lalu di Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, saat ini masyarakat berencana untuk mengelola lahan kebun lokasi
perkampungan lama mereka yang merupakan hak mereka termasuk pemanfaatan kayu seperti kayu jati, kayu
wola, kayu cendana dan hasil hutan lainnya seperti rotan yang telah ditanam para pendahulunya seratus
tahun silam, namun menurut informasi pada tahun 1980 lahan-lahan perkampungan lama mereka tersebut
dimasukan dalam status Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) oleh Dinas Pengakuan Hutan yang kini
menjadi Desa Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara memerintahkan Kepala Kantor
Pertanahan Kabupaten Buton Selatan untuk segera melakukan penelitian dan penanganan terhadap permasalahan
dimaksud serta berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Buton Selatan dan
menyelesaikannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan, hasilnya agar dilaporkan kepada Direktur
Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja
sejak surat diterima.

DIREKTUR JENDERAL

DR. H.S. MUHAMMAD IKHSAN


NIP. 19620209 198703 1 002

Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Buton Selatan, di Batauga;
3. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia,
d/a. Jl. Latuharhary No. 4B Menteng Jakarta Pusat 10310.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Surat Klarifikasi

Sehubungan dengan surat dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Nomor : 561/K/Mediasi/XII/2016 tanggal 29 Desember 2016, yang ditujukan kepada Gubernur Sulawesi
Tenggara dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional perihal tersebut di atas, dengan ini disampaikan sebagai berikut :
1. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia bermaksud menindaklanjuti pengaduan dari
Sdr. La Ode She Ma’ruf, S.H. No. 161/SK/Pdt/XI/2016 tanggal 9 November 2016 yang intinya Pengadu
menyampaikan bahwa masyarakat Perkampungan Tondobulu Lama (Tombulu Gunung), Perkampungan
Lama Pata Limbona, Perkampungan Lama Wasambua (Wasambua Gunung) dan Perkampungan Lama
Komba Kombawolio mengakui dan memiliki lahan kebun jati secara turun temurun warisan dari para
pendahulunya sejak ratusan tahun yang lalu di Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, saat ini masyarakat berencana untuk mengelola lahan kebun lokasi
perkampungan lama mereka yang merupakan hak mereka termasuk pemanfaatan kayu seperti kayu jati, kayu
wola, kayu cendana dan hasil hutan lainnya seperti rotan yang telah ditanam para pendahulunya seratus
tahun silam, namun menurut informasi pada tahun 1980 lahan-lahan perkampungan lama mereka tersebut
dimasukan dalam status Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) oleh Dinas Pengakuan Hutan yang kini
menjadi Desa Lingkungan Hidup dan Kehutanan;
Berkaitan dengan hal tersebut, apabila Bapak berkenan bersama ini kami sampaikan konsep surat
keluar kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulawesi Tenggara untuk melakukan
penelitian dan penanganan terhadap permasalahan dimaksud serta berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan
Hidup dan Kehutanan Kabupaten Buton Selatan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta
melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah
untuk mendapatkan pengesahan Bapak;
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Permohonan Pembatalan Sertipikat Hak Guna
Bangunan No. 437 Atas Nama PT Perusahaan
Listrik Negara Kota Jayapura

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Papua
di –
Jayapura

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Drs. Frans Launrens Mano, dkk/7 orang (Pengadu) selaku
ahli waris alm. Frans Laures Mano tanggal 3 April 2017, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan salah satu tembusannya disampaikan kepada Saudara dan kepada
Kepala Kantor Pertanahan Kota Jayapura, perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini disampaikan kepada
Saudara sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas 4.000 M2 dengan bukti Sertipikat Hak Milik
No. 853/Desa Vim, Surat Ukur No. 3805/1991 tanggal 18 Desember 1991, tercatat atas nama Drs. Jonathan
Mano, diterbitkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Irian Jaya [Link].449/HM/1992 tanggal 4 September 1992, terletak di Jalan Abepura Jayapura,
Desa Vim, Kecamatan Jayapura Selatan, Kapubaten Jayapura, Provinsi Irian Jaya;
2. Bahwa sepeninggalannya Drs. Jonathan Mano, Sertipikat Hak Milik No. 853/Desa Vim tersebut jatuh waris
dan selanjutnya dibalik nama ke atas nama Ny. Josina Doireno, dkk (7 orang) berdasarkan Surat Keterangan
Kematian No. 474.3/20/V.93 tanggal 26 Agustus 1993 dan Surat Keterangan Warisan No. 474.3/02/V/94,
tanggal 15 Januari 1994 yang diketahui Lurah Vim dan Camat Jayapura Selatan;
3. Bahwa menurut keterangan Pengadu, di atas tanah yang sama Kantor Pertanahan Kota Jayapura pada
tanggal 25 Agustus 1995 telah menerbitkan kembali Sertipikat Hak Guna Bangunan No. 437/Desa Vim
seluas 4.000 M2, Surat Ukur No. 12/1994 tanggal 16 Desember 1994 diterbitkan berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 262/HGB/1995 tanggal 19
Mei 1995 tercatat atas nama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), terletak di Desa Vim, Kecamatan
Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Provinsi Irian Jaya;
4. Atas hal tersebut Pengadu keberatan, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional untuk menyelesaikan permasalahan dimaksud dan membatalkan Sertipikat Hak Guna Bangunan
No.437/Kota Jayapura atas nama PT Perusahaan Listrik Negara tersebut dan mengembalikan tanah tersebut
kepada Pengadu.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara agar memerintahkan Kepala Kantor
Pertanahan Kota Jayapura untuk melakukan penelitian mengenai kebenaran pengaduan tersebut, meneliti data
fisik dan data yuridis penerbitan Sertipikat Hak Milik No. 853/Desa Vim dan Sertipikat Hak Guna Bangunan
No. 437/Desa Vim tersebut, selanjutnya dituangkan dalam Berita Acara sesuai ketentuan Peraturan Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.11 Tahun 2016.
Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan, hasilnya agar dilaporkan kepada Direktur
Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja
sejak diterimanya surat ini.

DIREKTUR JENDERAL,

Dr. H.S. MUHAMMAD IKHSAN


NIP. 19620209 198703 1 002

Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Kepala Kantor Pertanahan Kota Jayapura, di Jayapura.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan Pembatalan Sertipikat Hak Guna Bangunan No. 437 Atas Nama PT Perusahaan
Listrik Negara Kota Jayapura.

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Drs. Frans Launrens Mano, dkk/7 orang (Pengadu) selaku
ahli waris alm. Frans Laures Mano tanggal 3 April 2017, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan inti
dari pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas 4.000 M2 dengan bukti Sertipikat Hak Milik
No. 853/Desa Vim, Surat Ukur No. 3805/1991 tanggal 18 Desember 1991, tercatat atas nama Drs. Jonathan
Mano, diterbitkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Irian Jaya [Link].449/HM/1992 tanggal 4 September 1992, terletak di Jalan Abepura Jayapura,
Desa Vim, Kecamatan Jayapura Selatan, Kapubaten Jayapura, Provinsi Irian Jaya;
2. Bahwa sepeninggalannya Drs. Jonathan Mano, Sertipikat Hak Milik No. 853/Desa Vim tersebut jatuh waris
dan selanjutnya dibalik nama ke atas nama Ny. Josina Doireno, dkk (7 orang) berdasarkan Surat Keterangan
Kematian No. 474.3/20/V.93 tanggal 26 Agustus 1993 dan Surat Keterangan Warisan No. 474.3/02/V/94,
tanggal 15 Januari 1994 yang diketahui Lurah Vim dan Camat Jayapura Selatan;
3. Bahwa menurut keterangan Pengadu, di atas tanah yang sama Kantor Pertanahan Kota Jayapura pada
tanggal 25 Agustus 1995 telah menerbitkan kembali Sertipikat Hak Guna Bangunan No. 437/Desa Vim
seluas 4.000 M2, Surat Ukur No. 12/1994 tanggal 16 Desember 1994 diterbitkan berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 262/HGB/1995 tanggal 19 Mei
1995 tercatat atas nama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), terletak di Desa Vim, Kecamatan Jayapura
Selatan, Kota Jayapura, Provinsi Irian Jaya;
4. Atas hal tersebut Pengadu keberatan, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan dimaksud dan membatalkan Sertipikat Hak Guna
Bangunan No.437/Kota Jayapura atas nama PT Perusahaan Listrik Negara tersebut dan mengembalikan
tanah tersebut kepada Pengadu;
5. Berkaitan dengan hal tersebut, apabila Bapak berkenan bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar
kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Papua agar memerintahkan Kepala
Kantor Pertanahan Kota Jayapura untuk melakukan penelitian mengenai kebenaran pengaduan tersebut,
meneliti data fisik dan data yuridis penerbitan Sertipikat Hak Milik No. 853/Desa Vim dan Sertipikat Hak
Guna Bangunan No. 437/Desa Vim tersebut, selanjutnya dituangkan dalam Berita Acara sesuai ketentuan
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.11 Tahun 2016 dan
hasilnya agar dilaporkan kepada Direktorat Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan
Tanah untuk mendapatkan pengesahan Bapak.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I,

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Sanggahan dan Keberatan

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
di –
Banda Aceh

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Lyonst Sitepu, S.H. selaku kuasa hukum PT. Parasawita
(Pengadu) Nomor : 01/S/LS/I/2016 tanggal 7 Januari 2016, yang ditujukan kepada Bupati Aceh Timur dan
tembuusannyaa antara lain ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional dan kepada Saudara, perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai
berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan penerbitan surat Bupati No. 425/11354 tanggal 28
Desember 2012 perihal perintah kerja pembukaan lahan kebun plasma PT. Padang Palma Permai yang
ditujukan kepada PT. Padang Palma Permai dan surat Koperasi Pentangon Kabupaten Aceh Timur
No. 24/Ist/PTG/II/2015 tanggal 11 Februari 2015 prihal pelaksanaan perkebunan lahan kebun masyarakat
(plasma) seluas 720 Ha, karena tanah tersebut merupakan bagian dari areal seluaas + 3.633 Ha yang diberi
izin pelepasan kawasan hutan sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 741/Kpts-II/1996 tanggal 25
Nopember 1996 dan yang telah diberi izin lokasi sesuai Surat Keputusan Kantor Pertanahan Kabupaten
Aceh Timur No. 08.b/IL.P/BPN/ATIM/1996 tanggal 20 September 1996 oleh Pemerintah kepada
PT. Parasawita.
2. Bahwa pengadu keberatan terhadap penerbitan surat Bupati No. 425/11354 tanggal 28 Desember 2012
tersebut yang intinya atas areal lahan seluas 720 Ha untuk dikerjakan oleh PT. Padang Palma Permai
sebagai kebun plasma, karena selain Pengadu merasa belum pernah mengalihkan/melepaskan areal lahan
tersebut kepada pihak lain juga karena terhadap areal/lahan yang telah diberikan izin pelepasan kawasan
hutan dan diberi izin lokasi statusnya sampai saat ini masih dalam proses perkara antara PT. Parasawita
melawan PT. Padang Palma Perma di Pengadilan yang sampai saat ini masih dalam proses Banding dan
belun ada putusan.
4. Atas hal tersebut pada angka 1 dan 2, Pengadu mohon kepada Bupati Aceh Timur dan kepada Instansi
terkait untuk meninjau kembali surat Bupati tersebut serta jenis-jenis surat lainya yang telah dikeluarkan
berkaitan dengan lahan areal tersebut;
5. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian mengenai
kebenaran pengaduan tersebut dan penanganan terhadap permasalahannya sesuai peraturan perundang-
undangan serta melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan
Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya surat ini.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,


Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Dr. H.S. Muhammad Ikhsan, SH., [Link].


NIP. 19620209 198703 1 002.

Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sebagai laporan);
2. Kepala Kantor Pertanahan Kabuaten Aceh Timur, di Aceh.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan pengembalian tanah hak milik B. Painah Lisem yang dijadikan HGB atas nama
PT. Makarti berdasarkan Putusan Mahkamah Kontsitusi No. 66/PUU-XIII/2015 tanggal 7
Desember 2015

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Budiyono, SH (Pengadu) selaku untuk dan atas
nama para ahli waris pengganti Alm. Wagiat alias B. Painah Lisem tanggal 15 Pebruari 2016, yang
ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, perihal tersebut
pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan inti dari pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas + 38, 5050 Ha yang tercatat dalam buku Leter C
Desa Tegalharjo tahun 1948 dan tahun 1964 serta dalam buku Krawangan Desa Tegalharjo tahun 1858
dengan Pethok No. 382, Persil Nomor : 125, 126, 127, 220, 211, 322, 219 Klas D II, terletak di Desa
Tegalharjo, Kecamatan Glemore, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur;
2. Bahwa menurut Pengadu di atas tanah tersebut telah diterbitkan Sertipikat Hak Pakai No. 1/Desa Genteng
Wetan atas nama para ahli waris Alm. Mr. The Bo Djwan yaitu Tjoa Than Nio, The Lang Hiang, The
Lan Sook, The Lan Ing dan The Lan Hiang dengan luas 211.168 M2 melalui konversi berdasarkan Surat
Keputusan No. 1/Agr/8329/II tanggal 28 Desember 1962 dan setelah Sertipikat Hak Pakai No.1/Desa
Genteng Wetan tersebut berakhir, dimohonkan HGU atas nama PT. Makarti dan terbit Surat Keputusan
Menteri Dalam Negeri No.76/HGU/DA/73 tangga 20 Oktober 1973 kepada PT. Makarti seluas 211, 168 M2
selama 25 tahun yang kemudian terbit sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti
yang telah berakhir haknya tanggal 31 Desember 1998;
3. Setelah Sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti tersebut berakhir, maka diajukan
permohonan pembaharuan HGU tersebut bersama dengan bekas HGU No.2/Desa Karangsari dan bekas
HGU No.2/Desa Tegalharjo oleh PT. Makarti berkedudukan di Surabaya. Selanjutnya berdasarkan Surat
Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Timur No.01/HGU/35/1998 tanggal 4 September
1998 diberikan HGU atas nama PT. Makarti, namun hingga saat ini belum didaftarkan haknya;
4. Atas hal tersebut pada angka 1 dan 2, Pengadu keberatan karena mereka belum pernah mengalihkan tanah
miliknya seluas + 38, 5050 Ha kepada pihak lain, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk membatalkan HGU atas nama PT. Makarti tersebut dan
mengembalikan tanahnya kepada status semula yaitu menjadi tanah milik Pengadu;
5. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
untuk mendapatkan pengesahan Bapak.

Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Permintaan Untuk Menghentikan Aktivitas
Penggusuran Lahan

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sulawesi Tenggara
di –
Kendari

Sehubungan dengan surat dari Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara
Nomor : 0177/SRT/0124.2015/PW.28-02/VII/2016 tanggal 18 Juli 2016, yang ditujukan kepada Bupati Konawe
Selatan dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional dan kepada Saudara perihal tersebut di atas, dengan ini disampaikan kepada Saudara
sebagai berikut :
1. Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara bermaksud menindaklanjuti pengaduan
dari Masyarakat terkait lahan perkebunan produktif petani lada seluas ratusan hektar yang terletak di Desa
Wuura, Desa Rakawuta, Desa Toluwonua, Kecamatan Mowila dan Desa Talumbinga Jaya/Sabulakoa I,
Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan digusur oleh PT. Merbau Indah Raya untuk pembukaan
lahan perkebunan sawit, sehingga mengakibatkan perkebunan lada milik masyarakat tersebut rusak;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, lahan perkebunan lada milik masyarakat tersebut masuk ke dalam
areal Hak Guna Usaha atas nama PT. Merbau Indah Raya sementara masyarakat belum pernah
mengalihkan lahan tersebut ke pihak lain dan sertipikat lahan yang dikuasai masih dipegang oleh masing-
masing masyarakat pemilik lahan, serta sampai saat ini PT. Merbau Indah Raya masih melakukan
pengusuran lahan milik masyarakat tersebut. Atas hal tersebut Pengadu keberatan, selanjutnya mohon
perlindungan hukum dan penyelesaian permasalahan tanah tersebut kepada Bupati Konawe Selatan.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara agar segera menindaklanjuti surat
Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara tersebut, serta melaporkan hasilnya kepada
Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas)
hari kerja sejak surat diterima.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

DIREKTUR JENDERAL

DR. H.S. MUHAMMAD IKHSAN


NIP. 19620209 198703 1 002

Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sebagai laporan);
2. Obudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan, di Kendari;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Konawe Selatan, di Andolo;
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permintaan Untuk Menghentikan Aktifitas Penggusuran Lahan

Sehubungan dengan surat dari Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara
Nomor : 0177/SRT/0124.2015/PW.28-02/VII/2016 tanggal 18 Juli 2016, yang ditujukan kepada Bupati Konawe
Selatan dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional dan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulawesi
Tenggara perihal tersebut di atas, dengan ini disampaikan sebagai berikut :
1. Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara bermaksud menindaklanjuti pengaduan
dari Masyarakat terkait lahan perkebunan produktif petani lada seluas ratusan hektar yang terletak di Desa
Wuura, Desa Rakawuta, Desa Toluwonua, Kecamatan Mowila dan Desa Talumbinga Jaya/Sabulakoa I,
Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan digusur oleh PT. Merbau Indah Raya untuk pembukaan
lahan perkebunan sawit, sehingga mengakibatkan perkebunan lada milik masyarakat tersebut rusak;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, lahan perkebunan lada milik masyarakat tersebut masuk ke dalam
areal Hak Guna Usaha atas nama PT. Merbau Indah Raya sementara masyarakat belum pernah
mengalihkan lahan tersebut ke pihak lain dan sertipikat lahan yang dikuasai masih dipegang oleh masing-
masing masyarakat pemilik lahan, serta sampai saat ini PT. Merbau Indah Raya masih melakukan
pengusuran lahan milik masyarakat tersebut. Atas hal tersebut Pengadu keberatan, selanjutnya mohon
perlindungan hukum dan penyelesaian permasalahan tanah tersebut kepada Bupati Konawe Selatan.
Berkaitan dengan hal tersebut, apabila Bapak berkenan terlampir kami sampaikan konsep
surat keluar kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulawesi Tenggara
untuk menindaklanjuti surat Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara tersebut, serta
melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah
untuk mendapatkan pengesahan Bapak.
Demikian kami laporkan, mohon petunjuk dan arahan lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.

Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Permohonan Penjelasan Tanah Masyarakat
Pedukuhan Suak dan Pedukuhan Kakan, Desa
Gunung Menanti, Kecamatan Tumijajar,
Kabupaten Tulang Bawang, Barat, Provinsi
Lampung yang diklaim oleh PT. Great Gian
Pineaple

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Lampung
di –
Bandar Lampung

Sehubungan surat pengaduan dari Sdri. Dewi Kartika (Pengadu) selaku pendamping Masyarakat
Pedukuhan Suak dan Pedukuhan Kakan, Desa Gunung Menanti, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang
Bawang dan selaku Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria No. 221/Seknas-KPA/XII/2016 tanggal
21 Desember 2016, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Cq. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah, perihal tersebut pada
pokok surat, dengan ini disampaikan kepada Saudara sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah milik umbul Tulung Kakan, Desa Gunung Meranti,
Kecamatan Tulang Bawang Udik seluas 303 Ha Negara seluas 7.4022 M2 yang ia kuasai sejak tahun 1970
dan ditempati sebagai rumah tempat tinggal dan pertanian, yang diperoleh berdasarkan Surat Keterangan
Kepala Desa Sarongan tanggal 13 Oktober 2015 No. 590/99/429.515.03/2015 terletak di Dusun Bayuran,
Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur;
2. Bahwa menurut Pengadu di atas tanah tersebut telah diterbitkan Sertipikat Hak Pakai No. 1/Desa Genteng
Wetan atas nama para ahli waris Alm. Mr. The Bo Djwan yaitu Tjoa Than Nio, The Lang Hiang, The
Lan Sook, The Lan Ing dan The Lan Hiang dengan luas 211.168 M2 melalui konversi berdasarkan Surat
Keputusan No. 1/Agr/8329/II tanggal 28 Desember 1962 dan setelah Sertipikat Hak Pakai No.1/Desa
Genteng Wetan tersebut berakhir, dimohonkan HGU atas nama PT. Makarti dan terbit Surat Keputusan
Menteri Dalam Negeri No.76/HGU/DA/73 tangga 20 Oktober 1973 kepada PT. Makarti seluas 211, 168 M2
selama 25 tahun yang kemudian terbit sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti
yang telah berakhir haknya tanggal 31 Desember 1998;
3. Setelah Sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti tersebut berakhir, maka diajukan
permohonan pembaharuan Hak Guna Usaha tersebut oleh PT. Makarti berkedudukan di Surabaya bersama
dengan bekas HGU No.2/Desa Karangsari dan bekas HGU No.2/Desa Tegalharjo. Selanjutnya berdasarkan
Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Timur No.01/HGU/35/1998 tanggal 4
September 1998 diberikan HGU atas nama PT. Makarti, namun hingga saat ini belum didaftarkan haknya;
4. Atas hal tersebut pada angka 1 dan 2, Pengadu keberatan karena mereka belum pernah mengalihkan tanah
miliknya seluas + 38, 5050 Ha kepada pihak lain, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk membatalkan HGU atas nama PT. Makarti tersebut dan
mengembalikan tanahnya kepada status semula yaitu menjadi tanah milik Pengadu;
5. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian mengenai
kebenaran pengaduan tersebut dan penanganan terhadap permasalahannya sesuai peraturan perundang-
undangan serta melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan
Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya surat ini.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,


Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Dr. H.S. Muhammad Ikhsan, SH., [Link].


NIP. 19620209 198703 1 002.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sebagai laporan);
2. Kepala Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, di Surabaya.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan pengembalian tanah hak milik B. Painah Lisem yang dijadikan HGB atas nama
PT. Makarti berdasarkan Putusan Mahkamah Kontsitusi No. 66/PUU-XIII/2015 tanggal 7
Desember 2015

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Budiyono, SH (Pengadu) selaku untuk dan atas
nama para ahli waris pengganti Alm. Wagiat alias B. Painah Lisem tanggal 15 Pebruari 2016, yang
ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, perihal tersebut
pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan inti dari pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas + 38, 5050 Ha yang tercatat dalam buku Leter C
Desa Tegalharjo tahun 1948 dan tahun 1964 serta dalam buku Krawangan Desa Tegalharjo tahun 1858
dengan Pethok No. 382, Persil Nomor : 125, 126, 127, 220, 211, 322, 219 Klas D II, terletak di Desa
Tegalharjo, Kecamatan Glemore, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur;
2. Bahwa menurut Pengadu di atas tanah tersebut telah diterbitkan Sertipikat Hak Pakai No. 1/Desa Genteng
Wetan atas nama para ahli waris Alm. Mr. The Bo Djwan yaitu Tjoa Than Nio, The Lang Hiang, The
Lan Sook, The Lan Ing dan The Lan Hiang dengan luas 211.168 M2 melalui konversi berdasarkan Surat
Keputusan No. 1/Agr/8329/II tanggal 28 Desember 1962 dan setelah Sertipikat Hak Pakai No.1/Desa
Genteng Wetan tersebut berakhir, dimohonkan HGU atas nama PT. Makarti dan terbit Surat Keputusan
Menteri Dalam Negeri No.76/HGU/DA/73 tangga 20 Oktober 1973 kepada PT. Makarti seluas 211, 168 M2
selama 25 tahun yang kemudian terbit sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti
yang telah berakhir haknya tanggal 31 Desember 1998;
3. Setelah Sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti tersebut berakhir, maka diajukan
permohonan pembaharuan HGU tersebut bersama dengan bekas HGU No.2/Desa Karangsari dan bekas
HGU No.2/Desa Tegalharjo oleh PT. Makarti berkedudukan di Surabaya. Selanjutnya berdasarkan Surat
Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Timur No.01/HGU/35/1998 tanggal 4 September
1998 diberikan HGU atas nama PT. Makarti, namun hingga saat ini belum didaftarkan haknya;
4. Atas hal tersebut pada angka 1 dan 2, Pengadu keberatan karena mereka belum pernah mengalihkan tanah
miliknya seluas + 38, 5050 Ha kepada pihak lain, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk membatalkan HGU atas nama PT. Makarti tersebut dan
mengembalikan tanahnya kepada status semula yaitu menjadi tanah milik Pengadu;
5. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
untuk mendapatkan pengesahan Bapak.

Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Mohon Petunjuk Penolakan Pendaftaran

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jawa Timur
di –
Surabaya

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Drs. H. Agus Iskandar (Pengadu) selaku kuasa Boinah, dkk
(lima belas) orang tanggal 28 Desember 2015, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional dan salah satu tembusannya disampaikan kepada Saudara dan kepada Kepala Kantor
Pertanahan Kabupaten Banyuwangi, perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini disampaikan kepada Saudara
sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah Negara seluas 7.4022 M2 yang ia kuasai sejak tahun
1970 dan ditempati sebagai rumah tempat tinggal dan pertanian, yang diperoleh berdasarkan Surat
Keterangan Kepala Desa Sarongan tanggal 13 Oktober 2015 No. 590/99/429.515.03/2015 terletak di Dusun
Bayuran, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur;
2. Bahwa menurut Pengadu di atas tanah tersebut telah diterbitkan Sertipikat Hak Pakai No. 1/Desa Genteng
Wetan atas nama para ahli waris Alm. Mr. The Bo Djwan yaitu Tjoa Than Nio, The Lang Hiang, The
Lan Sook, The Lan Ing dan The Lan Hiang dengan luas 211.168 M2 melalui konversi berdasarkan Surat
Keputusan No. 1/Agr/8329/II tanggal 28 Desember 1962 dan setelah Sertipikat Hak Pakai No.1/Desa
Genteng Wetan tersebut berakhir, dimohonkan HGU atas nama PT. Makarti dan terbit Surat Keputusan
Menteri Dalam Negeri No.76/HGU/DA/73 tangga 20 Oktober 1973 kepada PT. Makarti seluas 211, 168 M2
selama 25 tahun yang kemudian terbit sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti
yang telah berakhir haknya tanggal 31 Desember 1998;
3. Setelah Sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti tersebut berakhir, maka diajukan
permohonan pembaharuan Hak Guna Usaha tersebut oleh PT. Makarti berkedudukan di Surabaya bersama
dengan bekas HGU No.2/Desa Karangsari dan bekas HGU No.2/Desa Tegalharjo. Selanjutnya berdasarkan
Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Timur No.01/HGU/35/1998 tanggal 4
September 1998 diberikan HGU atas nama PT. Makarti, namun hingga saat ini belum didaftarkan haknya;
4. Atas hal tersebut pada angka 1 dan 2, Pengadu keberatan karena mereka belum pernah mengalihkan tanah
miliknya seluas + 38, 5050 Ha kepada pihak lain, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk membatalkan HGU atas nama PT. Makarti tersebut dan
mengembalikan tanahnya kepada status semula yaitu menjadi tanah milik Pengadu;
5. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian mengenai
kebenaran pengaduan tersebut dan penanganan terhadap permasalahannya sesuai peraturan perundang-
undangan serta melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan
Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya surat ini.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,


Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Dr. H.S. Muhammad Ikhsan, SH., [Link].


NIP. 19620209 198703 1 002.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sebagai laporan);
2. Kepala Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, di Surabaya.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan pengembalian tanah hak milik B. Painah Lisem yang dijadikan HGB atas nama
PT. Makarti berdasarkan Putusan Mahkamah Kontsitusi No. 66/PUU-XIII/2015 tanggal 7
Desember 2015

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Budiyono, SH (Pengadu) selaku untuk dan atas
nama para ahli waris pengganti Alm. Wagiat alias B. Painah Lisem tanggal 15 Pebruari 2016, yang
ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, perihal tersebut
pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan inti dari pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas + 38, 5050 Ha yang tercatat dalam buku Leter C
Desa Tegalharjo tahun 1948 dan tahun 1964 serta dalam buku Krawangan Desa Tegalharjo tahun 1858
dengan Pethok No. 382, Persil Nomor : 125, 126, 127, 220, 211, 322, 219 Klas D II, terletak di Desa
Tegalharjo, Kecamatan Glemore, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur;
2. Bahwa menurut Pengadu di atas tanah tersebut telah diterbitkan Sertipikat Hak Pakai No. 1/Desa Genteng
Wetan atas nama para ahli waris Alm. Mr. The Bo Djwan yaitu Tjoa Than Nio, The Lang Hiang, The
Lan Sook, The Lan Ing dan The Lan Hiang dengan luas 211.168 M2 melalui konversi berdasarkan Surat
Keputusan No. 1/Agr/8329/II tanggal 28 Desember 1962 dan setelah Sertipikat Hak Pakai No.1/Desa
Genteng Wetan tersebut berakhir, dimohonkan HGU atas nama PT. Makarti dan terbit Surat Keputusan
Menteri Dalam Negeri No.76/HGU/DA/73 tangga 20 Oktober 1973 kepada PT. Makarti seluas 211, 168 M2
selama 25 tahun yang kemudian terbit sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti
yang telah berakhir haknya tanggal 31 Desember 1998;
3. Setelah Sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti tersebut berakhir, maka diajukan
permohonan pembaharuan HGU tersebut bersama dengan bekas HGU No.2/Desa Karangsari dan bekas
HGU No.2/Desa Tegalharjo oleh PT. Makarti berkedudukan di Surabaya. Selanjutnya berdasarkan Surat
Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Timur No.01/HGU/35/1998 tanggal 4 September
1998 diberikan HGU atas nama PT. Makarti, namun hingga saat ini belum didaftarkan haknya;
4. Atas hal tersebut pada angka 1 dan 2, Pengadu keberatan karena mereka belum pernah mengalihkan tanah
miliknya seluas + 38, 5050 Ha kepada pihak lain, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk membatalkan HGU atas nama PT. Makarti tersebut dan
mengembalikan tanahnya kepada status semula yaitu menjadi tanah milik Pengadu;
5. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
untuk mendapatkan pengesahan Bapak.

Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Hasil rapat membahas penanganan potensi
Konflik yang diakibatkan tidak dimanfaat-
kannya lahan oleh PT. Adi Tarina Graha Lestari
seluas 106,6 Ha, di Kabupaten Minahasa selama
+ 20 tahun

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sulawesi Utara
di –
Manado

Sehubungan dengan surat dari Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan RI
Nomor : B.203/Menko/Polhukam/De-V/KM.04/12/2016 tanggal 19 Desember 2016, yang antara lain ditujukan
kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan kepada Saudara perihal
tersebut di atas, dengan ini disampaikan kepada Saudara sebagai berikut :
1. Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan RI bermaksud menindaklanjuti pengaduan
dari Sdr. Drs. Jantje W. Sajow, [Link] selaku Bupati Minahasa terkait permasalahan tanah seluas + 106,6 Ha
terletak di Kabupaten Minahasa, Tondano, Provinsi Sulawesi Utara yang masuk dalam kawasan
Pengembangan Pariwisata Nasional dan saat ini dalam penguasaan PT. Adi Tarina Graha Lestari;
2. Bahwa menurut Pengadu di atas tanah seluas + 106,6 Ha tersebut tidak dikelola oleh PT. Aditarina Graha
Lestari dan tidak membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) selama + 20 tahun sejak tahun 1997 sampai
dengan tahun 2007. Lokasi tanah terseut berstektur lumpur dan bilamana terjadi intensitas hujan tinggi akan
menyebabkan danau Tondano meluap, yang bisa mengakibatkan banjir dilokasi tersebut dan saat ini
masyarakat sudah mulai masuk mengusahakan lahan tersebut, sehingga bilamana tidak diambil langkah-
langkah pencegahan maka berpotensi konflik yang menimbulkan permasalahan dikemudian hari;
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk menindaklanjuti surat
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan RI tersebut, serta melaporkan hasilnya kepada
Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas)
hari kerja sejak surat diterima.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,


Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Dr. H.S. Muhammad Ikhsan, SH., [Link].


NIP. 19620209 198703 1 002.

Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sebagai laporan);
2. Menko Polhukam RI, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Minahasa, di Minahasa;
4. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Kabupaten Tomohon, di Tomohon.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Hasil rapat membahas penanganan potensi Konflik yang diakibatkan tidak dimanfaat-kannya
lahan oleh PT. Adi Tarina Graha Lestari seluas 106,6 Ha, di Kabupaten Minahasa selama
+ 20 tahun

Sehubungan dengan surat dari Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan RI
Nomor : B.203/Menko/Polhukam/De-V/KM.04/12/2016 tanggal 19 Desember 2016, yang antara lain ditujukan
kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan kepada Kepala Kantor Wilayah
Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulawesi Utara perihal tersebut di atas, dengan ini disampaikan kepada
Saudara sebagai berikut :
1. Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan RI bermaksud menindaklanjuti pengaduan
dari Sdr. Drs. Jantje W. Sajow, [Link] selaku Bupati Minahasa terkait permasalahan tanah seluas + 106,6 Ha
terletak di Kabupaten Minahasa, Tondano, Provinsi Sulawesi Utara yang masuk dalam kawasan
Pengembangan Pariwisata Nasional dan saat ini dalam penguasaan PT. Adi Tarina Graha Lestari;
2. Bahwa menurut Pengadu di atas tanah seluas + 106,6 Ha tersebut tidak dikelola oleh PT. Aditarina Graha
Lestari dan tidak membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) selama + 20 tahun sejak tahun 1997 sampai
dengan tahun 2007. Lokasi tanah terseut berstektur lumpur dan bilamana terjadi intensitas hujan tinggi akan
menyebabkan danau Tondano meluap, yang bisa mengakibatkan banjir dilokasi tersebut dan saat ini
masyarakat sudah mulai masuk mengusahakan lahan tersebut, sehingga bilamana tidak diambil langkah-
langkah pencegahan maka berpotensi konflik yang menimbulkan permasalahan dikemudian hari;
Berkaitan dengan hal tersebut, apabila Bapak berkenan terlampir kami sampaikan konsep
surat keluar kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulawesi Utara untuk
menindaklanjuti surat Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan RI tersebut, serta melaporkan
hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14
(empat belas) hari kerja sejak surat diterima.

Demikian kami laporkan, mohon petunjuk dan arahan lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.


Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Permohonan pengembalian tanah hak milik B.
Painah Lisem yang dijadikan HGB atas nama
PT. Makarti berdasarkan Putusan Mahkamah
Kontsitusi No. 66/PUU-XIII/2015 tanggal 7
Desember 2015

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jawa Timur
di –
Surabaya

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Budiyono, SH (Pengadu) selaku untuk dan atas nama para
ahli waris pengganti Alm. Wagiat alias B. Painah Lisem tanggal 15 Pebruari 2016 perihal tersebut pada pokok
surat, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, dengan ini
disampaikan kepada Saudara sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas + 38, 5050 Ha yang tercatat dalam buku Leter C
Desa Tegalharjo tahun 1948 dan tahun 1964 serta dalam buku Krawangan Desa Tegalharjo tahun 1858
dengan Pethok No. 382, Persil Nomor : 125, 126, 127, 220, 211, 322, 219 Klas D II, terletak di Desa
Tegalharjo, Kecamatan Glemore, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur;
2. Bahwa menurut Pengadu di atas tanah tersebut telah diterbitkan Sertipikat Hak Pakai No. 1/Desa Genteng
Wetan atas nama para ahli waris Alm. Mr. The Bo Djwan yaitu Tjoa Than Nio, The Lang Hiang, The
Lan Sook, The Lan Ing dan The Lan Hiang dengan luas 211.168 M2 melalui konversi berdasarkan Surat
Keputusan No. 1/Agr/8329/II tanggal 28 Desember 1962 dan setelah Sertipikat Hak Pakai No.1/Desa
Genteng Wetan tersebut berakhir, dimohonkan HGU atas nama PT. Makarti dan terbit Surat Keputusan
Menteri Dalam Negeri No.76/HGU/DA/73 tangga 20 Oktober 1973 kepada PT. Makarti seluas 211, 168 M2
selama 25 tahun yang kemudian terbit sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti
yang telah berakhir haknya tanggal 31 Desember 1998;
3. Setelah Sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti tersebut berakhir, maka diajukan
permohonan pembaharuan Hak Guna Usaha tersebut oleh PT. Makarti berkedudukan di Surabaya bersama
dengan bekas HGU No.2/Desa Karangsari dan bekas HGU No.2/Desa Tegalharjo. Selanjutnya berdasarkan
Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Timur No.01/HGU/35/1998 tanggal 4
September 1998 diberikan HGU atas nama PT. Makarti, namun hingga saat ini belum didaftarkan haknya;
4. Atas hal tersebut pada angka 1 dan 2, Pengadu keberatan karena mereka belum pernah mengalihkan tanah
miliknya seluas + 38, 5050 Ha kepada pihak lain, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk membatalkan HGU atas nama PT. Makarti tersebut dan
mengembalikan tanahnya kepada status semula yaitu menjadi tanah milik Pengadu;
5. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian mengenai
kebenaran pengaduan tersebut dan penanganan terhadap permasalahannya sesuai peraturan perundang-
undangan serta melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan
Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya surat ini.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,


Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Dr. H.S. Muhammad Ikhsan, SH., [Link].


NIP. 19620209 198703 1 002.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sebagai laporan);
2. Kepala Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, di Surabaya.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan pengembalian tanah hak milik B. Painah Lisem yang dijadikan HGB atas nama
PT. Makarti berdasarkan Putusan Mahkamah Kontsitusi No. 66/PUU-XIII/2015 tanggal 7
Desember 2015

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Budiyono, SH (Pengadu) selaku untuk dan atas
nama para ahli waris pengganti Alm. Wagiat alias B. Painah Lisem tanggal 15 Pebruari 2016, yang
ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, perihal tersebut
pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan inti dari pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas + 38, 5050 Ha yang tercatat dalam buku Leter C
Desa Tegalharjo tahun 1948 dan tahun 1964 serta dalam buku Krawangan Desa Tegalharjo tahun 1858
dengan Pethok No. 382, Persil Nomor : 125, 126, 127, 220, 211, 322, 219 Klas D II, terletak di Desa
Tegalharjo, Kecamatan Glemore, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur;
2. Bahwa menurut Pengadu di atas tanah tersebut telah diterbitkan Sertipikat Hak Pakai No. 1/Desa Genteng
Wetan atas nama para ahli waris Alm. Mr. The Bo Djwan yaitu Tjoa Than Nio, The Lang Hiang, The
Lan Sook, The Lan Ing dan The Lan Hiang dengan luas 211.168 M2 melalui konversi berdasarkan Surat
Keputusan No. 1/Agr/8329/II tanggal 28 Desember 1962 dan setelah Sertipikat Hak Pakai No.1/Desa
Genteng Wetan tersebut berakhir, dimohonkan HGU atas nama PT. Makarti dan terbit Surat Keputusan
Menteri Dalam Negeri No.76/HGU/DA/73 tangga 20 Oktober 1973 kepada PT. Makarti seluas 211, 168 M2
selama 25 tahun yang kemudian terbit sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti
yang telah berakhir haknya tanggal 31 Desember 1998;
3. Setelah Sertipikat HGU No.1/Desa Genteng Wetan atas nama PT. Makarti tersebut berakhir, maka diajukan
permohonan pembaharuan HGU tersebut bersama dengan bekas HGU No.2/Desa Karangsari dan bekas
HGU No.2/Desa Tegalharjo oleh PT. Makarti berkedudukan di Surabaya. Selanjutnya berdasarkan Surat
Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Timur No.01/HGU/35/1998 tanggal 4 September
1998 diberikan HGU atas nama PT. Makarti, namun hingga saat ini belum didaftarkan haknya;
4. Atas hal tersebut pada angka 1 dan 2, Pengadu keberatan karena mereka belum pernah mengalihkan tanah
miliknya seluas + 38, 5050 Ha kepada pihak lain, selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk membatalkan HGU atas nama PT. Makarti tersebut dan
mengembalikan tanahnya kepada status semula yaitu menjadi tanah milik Pengadu;
5. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
untuk mendapatkan pengesahan Bapak.

Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Mohon Perlindungan Hukum dan Tindak Lanjut
Laporan serta mohon Audiensi kepada Bapak
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jawa Timur
di –
Surabaya

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Muntomo (Pengadu) selaku koordinator Perjuangan
Bersama Pengembalian Tanah Kavling Milik Warga Ex. Anggota TNI AL di Kelurahan Keputih,
Sukolilo Surabaya Nomor : 349/SP/KPB/IX/2016 tanggal 5 September 2016 perihal tersebut pada
pokok surat, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional dan tembusannya antara lain ditujukan kepada Saudara, dengan ini disampaikan inti dari
pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menjelaskan bahwa terhadap surat pengaduan sebelumnya yang ditujukan
kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional tanggal 16 Nopember
2015 telah ditindaklanjuti oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
cq. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah melalui
Saudara sebagaimana surat Nomor : 2972/25-2-800/VI/2016 tanggal 27 Juni 2016 yang intinya agar
Saudara melakukan penelitian dan penanganan terhadap permasalahan sengketa tanah antara
PT. Araya Bumi Megah dengan Warga Masyarakat Ex. Anggota TNI AL (Pengadu) di Kelurahan
Keputih, Sukolilo, Surabaya, yang sampai saat ini Saudara belum melaporkan hasil penanganan
dimaksud.
2. Bahwa Pengadu merasa kecewa karena selain tindak lanjut terhadap penanganan permasalahan
tanahnya belum kunjung selesai juga karena permohonan penunjukan batas yang diajukan oleh
Pengadu kepada Kantor Pertanahan Kota Surabaya II sejak tahun 2008 sampai saat ini belum ada
realisasinya dan tindak lanjutnya. Atas hal tersebut Pengadu mohon perlindungan hukum dan
tindak lanjut laporan serta mohon Audiensi kepada Bapak Menteri Agraria dan Tata Ruang/
Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk segera menyelesaikan permasalahan sengketa tanahnya
dengan PT. Araya Bumi Megah dimaksud.
3. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk menindaklanjuti surat kami
tanggal 27 Juni 2016 Nomor : 2972/25.2-800/VI/2016 dimaksud dan segera melaporkan hasilnya
kepada Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam
waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya surat ini.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,


Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Dr. H.S. Muhammad Ikhsan, SH., [Link].


NIP. 19620209 198703 1 002.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (sebagai laporan);
2. Kepala Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, di Surabaya.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan Status Tanah dan Bangunan

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Lukman Effendi dan Sdr. As. Darwanto (Pengadu)
yang bertindak selaku Ketua dan Sekretaris Masyarakat (Tim 5), No. 007/TNH-TE/IX/2016 tanggal
13 September 2016 jo. No. 004/TNH-TE/V/2016 tanggal 20 Mei 2016, yang ditujukan kepada Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, perihal tersebut pada pokok Nota Dinas,
dengan ini disampaikan inti dari pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengajukan keberatan terhadap surat dari PT. Batu Bara Bukit Asam
(Persero), Tbk, No.185/Eks-23100/TN.03/XII Tahun 2015 tentang pemberitahuan untuk
mengosongkan rumah dan tanah di Jl. Raya No.14 Tanjung Enim atas nama Pengadu selaku
Pensiunan Perusahaan Negara Tambang Batubara Unit Pruduksi Bukit Asam (PN. [Link]);
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, sesuai surat dari Direktur Utama Komisaris PT. Batu Bara
Bukit Asam (Persero), Tbk, No.046.J/Q-1000/SRT/V/2005 dalam point 3 ayat (a) berbunyi
“bangunan-bangunan PT. Batu Bara Bukit Asam (Persero) Tbk, sebanyak 109 Unit yang dihuni
sebanyak 398 KK dimana semua unit rumah ini sudah dikeluarkan dari asset PT. Batu Bara Bukit
Asam (Persero), Tbk, sesuai hasil RUPS tahun 1995. Hal tersebut juga dikuatkan dengan
pengakuan dan persetujuan Komisaris PT. Batu Bara Bukit Asam (Persero), Tbk, sebagaimana
suratnya No.15/KOM/V/2005 tentang pelepasan hak atas tanah dan bangunan di Obilin maupun
di seberang Sungai Enim;
3. Berdasarkan hal tersebut, Pengadu selaku ahli waris mohon penyelesaian terhadap permasalahan
tanah dimaksud serta Badan Pertanahan Nasional dapat memproses sertipikat di atas tanah tersebut
kepada pengadu;
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Selatan untuk melaporkan
hasil penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional.

Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Permohonan Status Tanah dan Bangunan

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sumatera Selatan
di –
Palembang

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Lukman Effendi dan Sdr. As. Darwanto (Pengadu)
yang bertindak selaku Ketua dan Sekretaris Masyarakat (Tim 5), No. 007/TNH-TE/IX/2016 tanggal
13 September 2016 jo. No. 004/TNH-TE/V/2016 tanggal 20 Mei 2016, perihal seperti tersebut pada
pokok surat, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional, dengan ini disampaikan inti dari pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengajukan keberatan terhadap surat dari PT. Batu Bara Bukit Asam
(Persero), Tbk, No.185/Eks-23100/TN.03/XII Tahun 2015 tentang pemberitahuan untuk
mengosongkan rumah dan tanah di Jl. Raya No.14 Tanjung Enim atas nama Pengadu selaku
Pensiunan Perusahaan Negara Tambang Batubara Unit Pruduksi Bukit Asam (PN. [Link]);
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, sesuai surat dari Direktur Utama Komisaris PT. Batu Bara
Bukit Asam (Persero), Tbk, No.046.J/Q-1000/SRT/V/2005 dalam point 3 ayat (a) berbunyi
“bangunan-bangunan PT. Batu Bara Bukit Asam (Persero) Tbk, sebanyak 109 Unit yang dihuni
sebanyak 398 KK dimana semua unit rumah ini sudah dikeluarkan dari asset PT. Batu Bara Bukit
Asam (Persero), Tbk, sesuai hasil RUPS tahun 1995. Hal tersebut juga dikuatkan dengan
pengakuan dan persetujuan Komisaris PT. Batu Bara Bukit Asam (Persero), Tbk, sebagaimana
suratnya No.15/KOM/V/2005 tentang pelepasan hak atas tanah dan bangunan di Obilin maupun
di seberang Sungai Enim;
3. Berdasarkan hal tersebut, Pengadu selaku ahli waris mohon penyelesaian terhadap permasalahan
tanah dimaksud serta Badan Pertanahan Nasional dapat memproses sertipikat di atas tanah tersebut
kepada pengadu;
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian
mengenai kebenaran pengaduan tersebut dan penanganan terhadap permasalahannya sesuai
peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak
diterimanya surat ini.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,


Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Dr. H.S. Muhammad Ikhsan, SH., [Link].


NIP. 19620209 198703 1 002.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta (sebagai laporan);
2. Direktur Jenderal Pengadaan Tanah, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Muara Enim, di Muara Enim.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan Status Tanah dan Bangunan

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Lukman Effendi dan Sdr. As. Darwanto (Pengadu)
yang bertindak selaku Ketua dan Sekretaris Masyarakat (Tim 5), No. 007/TNH-TE/IX/2016 tanggal
13 September 2016 jo. No. 004/TNH-TE/V/2016 tanggal 20 Mei 2016, yang ditujukan kepada Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, perihal tersebut pada pokok Nota Dinas,
dengan ini disampaikan inti dari pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengajukan keberatan terhadap surat dari PT. Batu Bara Bukit Asam
(Persero), Tbk, No.185/Eks-23100/TN.03/XII Tahun 2015 tentang pemberitahuan untuk
mengosongkan rumah dan tanah di Jl. Raya No.14 Tanjung Enim atas nama Pengadu selaku
Pensiunan Perusahaan Negara Tambang Batubara Unit Pruduksi Bukit Asam (PN. [Link]);
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, sesuai surat dari Direktur Utama Komisaris PT. Batu Bara
Bukit Asam (Persero), Tbk, No.046.J/Q-1000/SRT/V/2005 dalam point 3 ayat (a) berbunyi
“bangunan-bangunan PT. Batu Bara Bukit Asam (Persero) Tbk, sebanyak 109 Unit yang dihuni
sebanyak 398 KK dimana semua unit rumah ini sudah dikeluarkan dari asset PT. Batu Bara Bukit
Asam (Persero), Tbk, sesuai hasil RUPS tahun 1995. Hal tersebut juga dikuatkan dengan
pengakuan dan persetujuan Komisaris PT. Batu Bara Bukit Asam (Persero), Tbk, sebagaimana
suratnya No.15/KOM/V/2005 tentang pelepasan hak atas tanah dan bangunan di Obilin maupun
di seberang Sungai Enim;
3. Berdasarkan hal tersebut, Pengadu selaku ahli waris mohon penyelesaian terhadap permasalahan
tanah dimaksud serta Badan Pertanahan Nasional dapat memproses sertipikat di atas tanah tersebut
kepada pengadu;
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Selatan untuk melaporkan
hasil penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional dengan tembusan Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang
dan Tanah untuk mendapatkan pengesahan Bapak.

Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Pelepasan Lahan PT. Parasawita/PT. Rapala
seluas 144 Ha untuk Masyarakat

Yth. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah


Kabupaten Aceh Tamiang
d/a. Jalan Ir. H. Juanda
di –
Karang Baru

Sehubungan dengan surat Saudara Nomor : 590/3024 tanggal 14 Desember 2015 yang
ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, perihal seperti tersebut
pada pokok surat, bersama ini disampaikan kepada Saudara sebagai berikut ;
1. Setelah kami pelajari ternyata pengaduan Saudara sudah pernah ditangani dan sudah ditanggapi
sesuai surat Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Cq. Deputi Bidang Hak Tanah,
Pendaftaran Tanah dan Pemberdayaan Masyarakat No. 2345/14.3-300/VII/2014 tanggal 4 Juli 2014
(fotokopi terlampir). Intinya adalah bahwa proses perpanjangan jangka waktu Hak Guna Usaha
PT. Raya Padang Langkat (PT. Rapala) telah memenuhi persyaratan clear dan clean dan seluruh
anggota Panitia B telah menandatangani Risalah Panitia B, serta mengusulkan untuk diberikan
perpanjangan jangka waktu haknya.
2. Kemudian berdasarkan surat Menteri Agraria dan Tata Ruang Cq. Direktur Jenderal Hubungan
Hukum Keagrariaan No. 1886/14.3-400/IV/2016 tanggal 25 April 2016 juga telah ditegaskan
bahwa terhadap permasalahan tersebut sudah pernah dijelaskan sesuai dengan penjelasan pada
angka 1.
Demikian untuk menjadi maklum.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Dr. H.S. Muhammad Ikhsan, S.H., [Link]., M.H.


NIP. 19620209 198703 1 002.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Aceh, di Banda Aceh;
4. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Tamiang, di Karang Baru;
5. Gubernur Aceh, di Banda Aceh;
6. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Aceh, di Banda Aceh;
7. Bupati Aceh Tamiang, di Karang Baru.
8. PT. Rapala Padang Langkat (PT. Rapala)
d/a. Jl. Sei Batanghari No. 92 Medan, di Medan.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Pelepasan Lahan PT. Parasawita/PT. Rapala seluas 144 Ha untuk Masyarakat

Sehubungan dengan surat Ketua DPRD Kabupaten Aceh Tamiang Nomor : 590/3024
tanggal 14 Desember 2015 yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan
Nasional, perihal seperti tersebut pada pokok Nota Dinas, bersama ini disampaikan kepada Saudara
sebagai berikut :
1. Setelah kami pelajari ternyata pengaduan tersebut sudah pernah ditangani dan sudah ditanggapi
sesuai surat Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Cq. Deputi Bidang Hak Tanah,
Pendaftaran Tanah dan Pemberdayaan Masyarakat No. 2345/14.3-300/VII/2014 tanggal 4 Juli 2014
(fotokopi terlampir). Intinya adalah bahwa proses perpanjangan jangka waktu Hak Guna Usaha
PT. Raya Padang Langkat (PT. Rapala) telah memenuhi persyaratan clear dan clean dan seluruh
anggota Panitia B telah menandatangani Risalah Panitia B, serta mengusulkan untuk diberikan
perpanjangan jangka waktu haknya.
2. Kemudian berdasarkan surat Menteri Agraria dan Tata Ruang Cq. Direktur Jenderal Hubungan
Hukum Keagrariaan No. 1886/14.3-400/IV/2016 tanggal 25 April 2016 juga telah ditegaskan
bahwa terhadap permasalahan tersebut sudah pernah dijelaskan sesuai dengan penjelasan pada
angka 1.
Berdasarkan hal tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat jawaban kepada
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Aceh Tamiang terhadap permasalahan dimaksud.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Konsultasi

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Kalimantan Tengah
di –
Palangkaraya

Sehubungan dengan surat Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten
Kotawaringin Barat Nomor : 170.174.3/890/2016 tanggal 4 Oktober 2016 yang ditujukan kepada Sekretariat
Jendral Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, perihal seperti tersebut pada pokok
surat, dengan ini disampaikan bahwa dalam suratnya DPRD Kabupaten Kotawaringin Barat bermaksud
melakukan konsultasi atau Audensi kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN dan
telah diterima oleh Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I pada hari Senin tanggal 10
Oktober 2016 di ruang rapat Direktorat Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Bahwa dalam rapat audensi tersebut Pansus DPRD Kabupaten Kotawaringin Barat bermaksud
menindaklanjuti permasalahan sengketa tanah masyarakat Kelurahan Baru, Sidorejo dan Madurejo, Kabupaten
Kotawaringin Barat seluas 32 Ha yang diindikasikan masuk ke dalam areal Sertipikat Hak Pakai No. 39 atas
nama TNI Angkatan Udara seluas 3006 Ha yang diterbitkan tahun 1993, dan sebagian masyarakat sebanyak 21
orang telah memiliki Sertipikat Hak Milik yang diterbitkan tahun 1997, 1998, 2000 serta sebagian masyarakat
telah memiliki Surat Keterangan Tanah (SKT). Menurut Pansus bahwa secara fisik di lapangan telah terjadi
pergeseran tapal batas tanah Sertipikat Hak Pakai atas nama TNI Angkatan Udara. Atas dasar tersebut dalam
rapat audensi menghasilkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional akan meminta laporan kepada Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan Tengah dan Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten Kotawaringin Barat mengenai permasalahan tersebut termasuk perkembangan penanganannya.
2. Berdasarkan laporan tersebut akan dilaksanakan gelar kasus baik internal maupun eksternal di Kementerian
Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, untuk mengambil langkah-langkah penyelesaian.
Sehubungan dengan hal tersebut diminta kepada Saudara agar dapat melaporkan kepada kami
dengan melampirkan data-data yang berkaitan dengan penerbitan Sertipikat Hak Pakai No. 39 dan Sertipikat
Hak Milik yang ada di atas tanah tersebut.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Dr. H.S. Muhammad Ikhsan, SH., [Link]., M.H.


NIP. 19620209 198703 1 002.

Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Kotawaringin Barat, di Kalimantan Tengah;
4. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kitawaringin Barat, di Kalimantan Tengah.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Konsultasi

Sehubungan dengan surat Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten
Kotawaringin Barat Nomor : 170.174.3/890/2016 tanggal 4 Oktober 2016 yang ditujukan kepada Sekretariat
Jendral Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, perihal seperti tersebut pada pokok
Nota Dinas di atas, dengan ini disampaikan bahwa dalam suratnya DPRD Kabupaten Kotawaringin Barat
bermaksud melakukan konsultasi atau Audensi kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/BPN dan telah diterima oleh Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I pada hari
Senin tanggal 10 Oktober 2016 di ruang rapat Direktorat Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan
Ruang dan Tanah;
Bahwa dalam rapat audensi tersebut Pansus DPRD Kabupaten Kotawaringin Barat bermaksud
menindaklanjuti permasalahan sengketa tanah masyarakat Kelurahan Baru, Sidorejo dan Madurejo, Kabupaten
Kotawaringin Barat seluas 32 Ha yang diindikasikan masuk ke dalam areal Sertipikat Hak Pakai No. 39 atas
nama TNI Angkatan Udara seluas 3006 Ha yang diterbitkan tahun 1993, dan sebagian masyarakat sebanyak 21
orang telah memiliki Sertipikat Hak Milik yang diterbitkan tahun 1997, 1998, 2000 serta sebagian masyarakat
telah memiliki Surat Keterangan Tanah (SKT). Menurut Pansus bahwa secara fisik di lapangan telah terjadi
pergeseran tapal batas tanah Sertipikat Hak Pakai atas nama TNI Angkatan Udara. Atas dasar tersebut dalam
rapat audensi menghasilkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional akan meminta laporan kepada Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan Tengah dan Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten Kotawaringin Barat mengenai permasalahan tersebut termasuk perkembangan penanganannya.
2. Berdasarkan laporan tersebut akan dilaksanakan gelar kasus baik internal maupun eksternal di Kementerian
Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, untuk mengambil langkah-langkah penyelesaian.
Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan Tengah untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Pelepasan Lahan PT. Parasawita/PT. Rapala
seluas 144 Ha untuk Masyarakat

Yth. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah


Kabupaten Aceh Tamiang
d/a. Jalan Ir. H. Juanda
di –
Karang Baru

Sehubungan dengan surat Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Aceh
Tamiang Nomor : 590/3024 tanggal 14 Desember 2015 yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, perihal seperti tersebut pada pokok surat, dengan ini disampaikan
bahwa kami akan segera menindaklanjuti pengaduan dari Masyarakat 4 (empat) Desa Tengku Tinggi, Desa Paya
Rahat, Desa Tanjung Lipat, Desa Seunebok Aceh, Kecamatan Bendahara dan Kecamatan Banda Mulia,
Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh atas tanah seluas 144 Ha yang di indikasikan masuk ke dalam areal
Hak Guna Usaha atas nama PT. Parawasita/PT. Rapala.
Bahwa oleh karena pengaduan tersebut masih bersifat sepihak maka untuk mendalami serta
mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya maka dalam waktu yang tidak terlau lama akan dilakukan
gelar kasus pertanahan dengan memanggil para pihak yang bersengketa.
Demikian untuk menjadi maklum.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Aceh, di Banda Aceh;
4. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Tamiang, di Karang Baru;
5. Gubernur Aceh, di Banda Aceh;
6. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Aceh, di Banda Aceh;
7. Bupati Aceh Tamiang, di Karang Baru.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Pelepasan Lahan PT. Parasawita/PT. Rapala seluas 244 Ha untuk Masyarakat

Sehubungan dengan surat Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Aceh
Tamiang Nomor : 590/3024 tanggal 14 Desember 2015 yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, perihal seperti tersebut pada pokok Nota Dinas di atas, dengan ini
disampaikan bahwa kami akan segera menindaklanjuti pengaduan dari Masyarakat 4 (empat) Desa Tengku
Tinggi, Desa Paya Rahat, Desa Tanjung Lipat, Desa Seunebok Aceh, Kecamatan Bendahara dan Kecamatan
Banda Mulia, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh atas tanah seluas 144 Ha yang di indikasikan masuk ke
dalam areal Hak Guna Usaha atas nama PT. Parawasita/PT. Rapala.
Bahwa oleh karena pengaduan tersebut masih bersifat sepihak maka untuk mendalami serta
mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya maka dalam waktu yang tidak terlau lama akan dilakukan
gelar kasus pertanahan dengan memanggil para pihak yang bersengketa. Dan apabila Bapak berkenan bersama
ini kami siapakan konsep surat kepada Pengadu.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Keberatan atas pengajuan hak atas tanah yang
terletak di Desa Bara’mamase, Kecamatan
Walenrang, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi
Selatan oleh Universitas Andi Jemma
(UNANDA)

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sulawesi Selatan
di –
Makasar

Sehubungan dengan surat dari Sdr. Nanjak dan Sdri. Farida Lai Madaun (Pengadu) yang bertindak
selaku Ketua dan Sekretaris Persatuan Petani Penggarap Tanah Eks. Kebun Karet, tanggal 3 Agustus 2015,
perihal seperti tersebut pada pokok surat, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional, dengan ini disampaikan inti dari pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengajukan keberatan atas permohonan Hak Pakai yang diajukan oleh Yayasan To
Ciung/Universitas Andi Jemma (Unanda) atas tanah seluas 30 Ha, yang terletak di Dusun Lemo Tua, Desa
Bara’mamase, Kecamatan Welenrang, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, permohonan Sertipikat Hak Pakai yang diajukan oleh Yayasan To
Ciung/Universitas Andi Jemma (Unanda) tersebut diperoleh berdasarkan Surat Keputusan Bupati Luwu
No.335/VII/2011 tanggal 13 Juli 2011 atas tanah bekas kebun karet milik Pemerintah Jerman yang telah
dilepaskan kepada Pemerintah Kabupaten Luwu yang selanjutnya oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu
diserahkan kepada Yayasan To Ciung/Universitas Andi Jemma (Unanda).
3. Bahwa lokasi tanah yang dimohon oleh Yayasan To Ciung/Universitas Andi Jemma (Unanda) tersebut
letaknya berada di atas lokasi tanah garapan milik masyarakat yang telah digarap dan dikuasai sejak tahun
1978 secara terus menerus dan turun temurun yang selama ini digunakan sebagai lahan pertanian khususnya
padi dan palawija. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan selanjutnya mohon penyelesaian permasalahan
dimaksud.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Luwu, di Belopa;
4. Sdr. Nanjak dan Farida Lai Madun selaku Ketua dan Sekretaris dari Persatuan Petani Penggarap Tanah Eks.
Kebun Karet, di Jalan SMA PGRI Walenrang, di Walenrang.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Keberatan atas pengajuan hak atas tanah yang terletak di Desa Bara’mamase, Kecamatan
Walenrang, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan oleh Universitas Andi Jemma
(UNANDA)

Sehubungan surat Sdr. Nanjak dan Sdri. Farida Lai Madaun (Pengadu) yang bertindak selaku
Ketua dan Sekretaris Persatuan Petani Penggarap Tanah Eks. Kebun Karet, tanggal 3 Agustus 2015, yang
ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, perihal tersebut pada
pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengajukan keberatan atas permohonan Hak Pakai yang diajukan oleh Yayasan To
Ciung/Universitas Andi Jemma (Unanda) atas tanah seluas 30 Ha, yang terletak di Dusun Lemo Tua, Desa
Bara’mamase, Kecamatan Welenrang, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, permohonan Sertipikat Hak Pakai yang diajukan oleh Yayasan To
Ciung/Universitas Andi Jemma (Unanda) tersebut diperoleh berdasarkan Surat Keputusan Bupati Luwu
No.335/VII/2011 tanggal 13 Juli 2011 atas tanah bekas kebun karet milik Pemerintah Jerman yang telah
dilepaskan kepada Pemerintah Kabupaten Luwu yang selanjutnya oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu
diserahkan kepada Yayasan To Ciung/Universitas Andi Jemma (Unanda).
3. Bahwa lokasi tanah yang dimohon oleh Yayasan To Ciung/Universitas Andi Jemma (Unanda) tersebut
letaknya berada di atas lokasi tanah garapan milik masyarakat yang telah digarap dan dikuasai sejak tahun
1978 secara terus menerus dan turun temurun yang selama ini digunakan sebagai lahan pertanian khususnya
padi dan palawija. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan selanjutnya mohon penyelesaian permasalahan
dimaksud.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulawesi Selatan untuk melaporkan hasil penanganan
tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Tuntutan Ganti Kerugian Hak Ulayat di Area
Pertambangan PT. Freeport Indonesia di Timika
Papua

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Papua
di –
Jayapura

Sehubungan surat Sdr. Janes Natkime, dkk (Pengadu) yang bertindak selaku Perwakilan Suku
Amungme tanggal 11 September 2015 perihal tersebut pada pokok surat, yang ditujukan kepada Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim sebagai pemilik tanah adat dan sebagai ahli waris Tanah Suku
Amugme yang diakui dan didiami secara turun temurun di sekitar lembah Waa, yang pada saat ini telah
menjadi daerah penambangan emas dan tembaga yang dikelola oleh PT. Freeport Indonesia. di
Tembagapura, Timika, Provinsi Papua.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, tuntutan ganti rugi atas tanah miliknya kepada PT. Freeport Indonesia
diajukan sejak tahun 1967 sampai dengan tahun 2015 dengan alasan Pengadu belum pernah mendapatkan
ganti rugi atas tanah tersebut, dan saat ini tanah obyek sengketa telah dikuasai oleh PT. Freeport Indonesia
yang digunakan sebagai pertambangan emas dan tembaga. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan
dirugikan selanjutnya mohon penyelesaian ganti rugi atas tanah tersebut kepada PT. Freeport Indonesia,
namun sampai saat ini belum ada penyelesaian.
3. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Mimika, di Timika;
4. Sdr. Janes Natkime, dkk selaku Perwakilan Suku Amungme,
d/a. Kantor Pertanahan Kabupaten Mimika, di Timika.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Tuntutan Ganti Kerugian Hak Ulayat di Area Pertambangan PT. Freeport Indonesia di Timika
Papua

Sehubungan surat Sdr. Janes Natkime, dkk (Pengadu) yang bertindak selaku Perwakilan Suku
Amungme tanggal 11 September 2015, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional, perihal tersebut pada pokok Nota Dinas , dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim sebagai pemilik tanah adat dan sebagai ahli waris Tanah Suku
Amugme yang diakui dan didiami secara turun temurun di sekitar lembah Waa, yang pada saat ini telah
menjadi daerah penambangan emas dan tembaga yang dikelola oleh PT. Freeport Indonesia. di
Tembagapura, Timika, Provinsi Papua.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, tuntutan ganti rugi atas tanah miliknya kepada PT. Freeport Indonesia
diajukan sejak tahun 1967 sampai dengan tahun 2015 dengan alasan Pengadu belum pernah mendapatkan
ganti rugi atas tanah tersebut, dan saat ini tanah obyek sengketa telah dikuasai oleh PT. Freeport Indonesia
yang digunakan sebagai pertambangan emas dan tembaga. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan
dirugikan selanjutnya mohon penyelesaian ganti rugi atas tanah tersebut kepada PT. Freeport Indonesia,
namun sampai saat ini belum ada penyelesaian.
3. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Barat untuk melaporkan
hasil penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Permohonan pemeriksaan terhadap oknum
pejabat Pemerintah Daerah dan oknum Pejabat
BPN di Kabupaten Lampung Selatan

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Lampung
di –
Bandar Lampung

Sehubungan surat Sdr. M. Yusuf Minak Sahabat, dkk (Pengadu) yang bertindak untuk dan atas
nama Kelompok Tani Desa Tanjungan, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan No.01/LAPSUS/
FLP-LB/01/2015 tanggal 16 Januari 2015 perihal tersebut pada pokok surat, yang ditujukan kepada Kepala
Kejaksaan Agung RI dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional dan kepada Saudara, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mempermasalahkan pemberian Hak Guna Usaha perkebunan milik PT. Daya
Kalianda Raya dan penerbitan Sertipikat Hak Milik terletak di Desa Tanjungan, Kecamatan Katibung,
Kabupaten Lampung Selatan.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, wilayah Desa Tanjungan, Desa Bandar Dalam dan Desa Campang
Tiga, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan dahulu wilayah hutan belantara pada tahun 1939
dibuka oleh nenek moyang penduduk asli Lampung Selatan, namun Pemerintah setempat mengambil alih
tanah tersebut untuk dijadikan lahan perkebunan guna memfasilitasi perusahaan CV. Daya Karya dimana
pihak perusahaan memberikan ganti rugi garapan bukan jual beli.
3. Bahwa berdasarkan intruksi Bupati Lampung Selatan sesuai suratnya tanggal 16 Maret 1970 tentang
pemberian Hak Guna Usaha dan surat izin ini tidak boleh dipindahtangankan kepada orang lain, serta
apabila masa waktu Hak Guna Usaha sudah habis maka perusahaan harus mengembalikan tanah tersebut
kepada warga masyarakat pemilik/penggarap. Setelah masa berlaku sertipikat tersebut berakhir sertipikat
tersebut diperpanjang selanjutnya pada tahun 1998 dialihkan kepada perusahaan PT. Daya Kalianda Raya
yang masa berlakunya berakhir sampai dengan tahun 2032 dan Perusahaan tidak mengindahkan intruksi
Bupati Lampung Selatan. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan selanjutnya mohon penyelesaian
permasalahan dimaksud.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lampung Selatan, di Kalianda;
4. Sdr. Sdr. M. Yusuf Minak Sahabat, dkk bertindak untuk dan atas nama Kelompok Tani Desa Tanjungan,
d/a. Kampung Tanjungan Rt. 03, Rw.03, Desa Tanjungan, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung
Selatan, Provinsi Lampung.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan pemeriksaan terhadap oknum pejabat Pemerintah Daerah dan oknum Pejabat BPN
di Kabupaten Lampung Selatan

Sehubungan surat Sdr. M. Yusuf Minak Sahabat, dkk (Pengadu) yang bertindak untuk dan atas
nama Kelompok Tani Desa Tanjungan, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan No.01/LAPSUS/
FLP-LB/01/2015 tanggal 16 Januari 2015 yang ditujukan kepada Kepala Kejaksaan Agung RI dan tembusannya
antara lain disampaikan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan kepada
Saudara, perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mempermasalahkan pemberian Hak Guna Usaha perkebunan milik PT. Daya
Kalianda Raya dan penerbitan Sertipikat Hak Milik terletak di Desa Tanjungan, Kecamatan Katibung,
Kabupaten Lampung Selatan.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, wilayah Desa Tanjungan, Desa Bandar Dalam dan Desa Campang
Tiga, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan dahulu wilayah hutan belantara pada tahun 1939
dibuka oleh nenek moyang penduduk asli Lampung Selatan, namun Pemerintah setempat mengambil alih
tanah tersebut untuk dijadikan lahan perkebunan guna memfasilitasi perusahaan CV. Daya Karya dimana
pihak perusahaan memberikan ganti rugi garapan bukan jual beli.
3. Bahwa berdasarkan intruksi Bupati Lampung Selatan sesuai suratnya tanggal 16 Maret 1970 tentang
pemberian Hak Guna Usaha dan surat izin ini tidak boleh dipindahtangankan kepada orang lain, serta
apabila masa waktu Hak Guna Usaha sudah habis maka perusahaan harus mengembalikan tanah tersebut
kepada warga masyarakat pemilik/penggarap. Setelah masa berlaku sertipikat tersebut berakhir sertipikat
tersebut diperpanjang selanjutnya pada tahun 1998 dialihkan kepada perusahaan PT. Daya Kalianda Raya
yang masa berlakunya berakhir sampai dengan tahun 2032 dan Perusahaan tidak mengindahkan intruksi
Bupati Lampung Selatan. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan selanjutnya mohon penyelesaian
permasalahan dimaksud.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Lampung untuk melaporkan hasil penanganan tersebut
kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
KONSEP

Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Permohonan Perlindungan Konstitusi

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sumatera Barat
di –
Padang

Sehubungan surat Sdr. R. Hamdani, CH (Pengadu) yang bertindak selaku Ketua Umum Pengurus
Keluarga Besar Komite Kedaulatan Rakyat No. 0076/[Link]/XI-2015 tanggal 2 November 2015 perihal
tersebut pada pokok surat, yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia dan tembusannya antara lain
ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan Surat
No.0075/[Link]/X-2015 tanggal 27 Oktober 2015, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah Adat/Ulayat seluas + 131 Ha yang terletak di Sungai
Aua, Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, tanah Adat/Ulayat berupa sawah milik
mereka tersebut dikuasai secara turun temurun sejak dahulu dan diolah sebagai sumber kehidupan dalam
bentuk bercocok tanam, pertanian, perladangan dan perkebunan sampai sekarang
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, pada tahun 1986/1987 Pemerintah dengan menggunakan Aparat
Negara mengambil secara paksa tanah perladangan/perkebunan miliknya, selanjutnya tanah tersebut
diberikan kepada PT. Karya Agung Megah Utama dan sebagai bentuk ganti rugi Pemerintah memerintahkan
PT. Karya Agung Megah Utama untuk memberikan uang ganti rugi kepada Pengadu dalam hal ini tidak
termasuk sebagai syarat peralihan hak atas tanah dari Pengadu kepada PT. Karya Agung Megah Utama
karena Pengadu tidak pernah mengalihkan atau menjual, menukar, menghibahkan atau memberikan secara
wasiat maupun memberikan secara Adat kepada PT. Karya Agung Megah Utama.
3. Berdasarkan hal tersebut Pengadu keberatan dengan alasan bahwa tanah miliknya tersebut belum pernah
dialihkan atau dijual kepada pihak lain termasuk kepada PT. Karya Agung Megah Utama. Selanjutnya
pengadu mengadukan permasalahan tersebut kepada Bupati Agam namun belum ditindaklanjuti dan
mengadukan kepada Polres Agam pada tanggal 12 September 2015 perihal mohon perlindungan keamanan
dan masyarakat langsung menduduki, memagar dan menanam ditanah masyarakat dalam areal PT. Karya
Agung Megah Utama sampai sekarang berjalan lancar. Selanjutnya masyarakat mohon kepada Presiden RI
untuk membatalkan HGU atas nama PT. Karya Agung Megah Utama tersebut.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Agam, di Lubuk Basung;
4. Sdr. R. Hamdani, CH selaku Ketua Pengurus Keluarga Besar Komite Kedaulatan Rakyat,
d/a. Komplek Chaniago, Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam,
Provinsi Sumatera Barat.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan Perlindungan Konstitusi

Sehubungan surat Sdr. R. Hamdani, CH (Pengadu) yang bertindak selaku Ketua Umum Pengurus
Keluarga Besar Komite Kedaulatan Rakyat No. 0076/[Link]/XI-2015 tanggal 2 November 2015, yang
ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia dan tembusannya antara lain ditujukan kepada Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan Surat No.0075/[Link]/X-2015 tanggal 27 Oktober
2015, perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah Adat/Ulayat seluas + 131 Ha yang terletak di Sungai
Aua, Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, tanah Adat/Ulayat berupa sawah milik
mereka tersebut dikuasai secara turun temurun sejak dahulu dan diolah sebagai sumber kehidupan dalam
bentuk bercocok tanam, pertanian, perladangan dan perkebunan sampai sekarang
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, pada tahun 1986/1987 Pemerintah dengan menggunakan Aparat
Negara mengambil secara paksa tanah perladangan/perkebunan miliknya, selanjutnya tanah tersebut
diberikan kepada PT. Karya Agung Megah Utama dan sebagai bentuk ganti rugi Pemerintah memerintahkan
PT. Karya Agung Megah Utama untuk memberikan uang ganti rugi kepada Pengadu dalam hal ini tidak
termasuk sebagai syarat peralihan hak atas tanah dari Pengadu kepada PT. Karya Agung Megah Utama
karena Pengadu tidak pernah mengalihkan atau menjual, menukar, menghibahkan atau memberikan secara
wasiat maupun memberikan secara Adat kepada PT. Karya Agung Megah Utama.
3. Berdasarkan hal tersebut Pengadu keberatan dengan alasan bahwa tanah miliknya tersebut belum pernah
dialihkan atau dijual kepada pihak lain termasuk kepada PT. Karya Agung Megah Utama. Selanjutnya
pegadu mengadukan permasalahan tersebut kepada Bupati Agam namun belum ditindaklanjuti dan
mengadukan kepada Polres Agam pada tanggal 12 September 2015 perihal mohon perlindungan keamanan
dan masyarakat langsung menduduki, memagar dan menanam ditanah masyarakat dalam areal PT. Karya
Agung Megah Utama sampai sekarang berjalan lancar. Selanjutnya masyarakat mohon kepada Presiden RI
untuk membatalkan HGU atas nama PT. Karya Agung Megah Utama tersebut.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Barat untuk melaporkan
hasil penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Laporan Kinerja Badan Pertanahan Nasional
Kabupaten Padang Pariaman

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sumatera Barat
Di –
Padang

Sehubungan surat Sdr. Yulius (Pengadu) yang bertindak selaku Mamak Kepala Waris
Dalam Kaum yang beralamat di Korong Kabun, Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai,
Kabupaten Padang Pariaman tanggal 20 Januari 2016 perihal tersebut pada pokok surat, yang
ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan
tembusannya antara lain disampaikan kepada Saudara, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut
:
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim sebagai Penggugat sekaligus sebagai pemenang perkara dalam
putusan Perkara Tata Usaha Negara Padang No.29/G/2002/PTUN-Pdg, jo putusan Pengadilan
Tinggi Medan No.72/Bdg/2003/[Link], jo putusan Kasasi Mahkamah Agung Republik
Indonesia No.02.K/TUN/ 2005 yang amar putusannya antara lain menyatakan : Memerintahkan
kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Padang Pariaman untuk menerbitkan sertipikat atas
sebidang tanah yang terletak di Korong Kabun, Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai,
Kabupaten Padang Pariaman seluas + 18 Ha dari luas 28 Ha, dimana seluas 10 Ha telah dibeli oleh
Pemerintah Daerah, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu atas putusan pengadilan tersebut di atas, diajukan bantahan
oleh Sdr. Marah Bakhtiar, Cs. Namun telah tercapai perdamaian dengan diberikannya uang
konpensasi kepada Marah Bakhtiar sebesar Rp. [Link] (semilyar) sesuai Akta Damai No.2
tanggal 15 Desember 2003 yang dibuat oleh dan dihadapan Devi Hasibuan, SH selaku Notaris di
Kabupaten Padang Pariaman, atas hal tersebut selanjutnya Pengadu pada tahun 2005 mengajukan
permohonan sertipikat kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Padang Pariaman. Akan tetapi lima
tahun kemudian Sdr. Marah Bakhtiar mengajukan gugatan kepada Asrul Aziz, SH selaku kuasa
Kaum Marah Bakhtiar di Pengadilan Negeri Pariaman dengan alasan Sdr. Asrul Azis tidak
membagi uang konpensasi kepada Kaum Marah Bakhtiar, perkara tersbut telah diputus oleh
Pengadilan Negeri Pariaman dengan amar putusan menyatakan menerima gugatan Marah Bakhtiar
namun Hakim memutus perkara yang tidak diminta (Ultra Petita) yaitu dengan menghukum
Penggugat untuk menyerahkan tanah seluas 18 Ha sisa kepada Marah Bakhtiar padahal obyek
gugatan hanyalah terhadap uang konpensasi yang tidak dibagi tersebut.
3. Bahwa terhadap putusan Pengadilan tersebut di atas, Pengadu keberatan dengan alasan selain
terdapat dua putusan yang berbeda, Pengadu masih melakukan upaya hukum luar biasa (Peninjauan
Kembali) dan masih dalam proses, belum ada putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.
Serta mohon kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
melakukan pemeriksaan kepada aparat di Kantor Pertanahan Kabupaten Padang Pariaman yang
masih mau tetap melanjutkan proses sertipikat tersebut dan agar kiranya bisa menangguhkan proses
pensertipikatan tanah tersebut dan menyelesaikan permasalahan dimaksud.
/ 4. Berkenaan….
-2-

4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan
penanganan terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta
melaporkan hasilnya kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
melalui Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional,
di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Padang Pariaman, di Padang Pariaman;
4. Sdr. Yulius selaku Mamak Kepala Waris Dalam Kaum,
d/a. Korong Kabun, Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman,
Provinsi Sumatera Barat.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Laporan Kinerja Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Padang Pariaman

Sehubungan surat Sdr. Yulius (Pengadu) yang bertindak selaku Mamak Kepala Waris Dalam Kaum
yang beralamat di Korong Kabun, Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman
tanggal 20 Januari 2016 yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Saudara, perihal tersebut pada pokok Nota Dinas,
dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim sebagai Penggugat sekaligus sebagai pemenang perkara dalam putusan
Perkara Tata Usaha Negara Padang No.29/G/2002/PTUN-Pdg, jo putusan Pengadilan Tinggi Medan
No.72/Bdg/2003/[Link], jo putusan Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia No.02.K/TUN/
2005 yang amar putusannya antara lain menyatakan : Memerintahkan kepada Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten Padang Pariaman untuk menerbitkan sertipikat atas sebidang tanah yang terletak di Korong
Kabun, Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman seluas + 18 Ha dari
luas 28 Ha, dimana seluas 10 Ha telah dibeli oleh Pemerintah Daerah, Kabupaten Padang Pariaman,
Provinsi Sumatera Barat.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu atas putusan pengadilan tersebut di atas, diajukan bantahan oleh Sdr.
Marah Bakhtiar, Cs. Namun telah tercapai perdamaian dengan diberikannya uang konpensasi kepada Marah
Bakhtiar sebesar Rp. [Link] (semilyar) sesuai Akta Damai No.2 tanggal 15 Desember 2003 yang
dibuat oleh dan dihadapan Devi Hasibuan, SH selaku Notaris di Kabupaten Padang Pariaman, atas hal
tersebut selanjutnya Pengadu pada tahun 2005 mengajukan permohonan sertipikat kepada Kantor Pertanahan
Kabupaten Padang Pariaman. Akan tetapi lima tahun kemudian Sdr. Marah Bakhtiar mengajukan gugatan
kepada Asrul Aziz, SH selaku kuasa Kaum Marah Bakhtiar di Pengadilan Negeri Pariaman dengan alasan
Sdr. Asrul Azis tidak membagi uang konpensasi kepada Kaum Marah Bakhtiar, perkara tersbut telah diputus
oleh Pengadilan Negeri Pariaman dengan amar putusan menyatakan menerima gugatan Marah Bakhtiar
namun Hakim menentukan perkara yang tidak diminta (Ultra Petita) yaitu dengan menghukum Penggugat
untuk menyerahkan tanah seluas 18 Ha sisa kepadaMarah Bakhtiar padahal obyek gugatan hanyalah
terhadap uang konpensasi yang tidak dibagi tersebut.
3. Bahwa terhadap putusan Pengadilan tersebut di atas, Pengadu keberatan dengan alasan selain terdapat dua
putusan yang berbeda, Pengadu masih melakukan upaya hukum luar biasa (Peninjauan Kembali) dan masih
dalam proses, belum ada putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Serta mohon kepada Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melakukan pemeriksaan kepada aparat di
Kantor Pertanahan Kabupaten Pariaman yang masih mau tetap melanjutkan proses sertipikat tersebut dan
agar kiranya bisa menangguhkan proses pensertipikatan tanah tersebut dan menyelesaikan permasalahan
dimaksud.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Barat untuk melaporkan hasil penanganan
tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Tanah


dan Ruang Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Klarifikasi Atas Hak Guna Bangunan Yang Di
Duga Tidak Sesuai Prosedur

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sulawesi Selatan
Di –
Makassar

Sehubungan surat Sdr. Mulyadi (Pengadu) yang bertindak selaku Sekretaris Jenderal Dewan
Pimpinan Pusat Lembaga Investigasi dan Monitoring (DPP-LIMIT) No.133/DPP-LIMIT/X/2015 tanggal 28
Oktober 2015 perihal tersebut pada pokok surat, yang tembusannya antara lain ditujukan kepada Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan kepada Saudara, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai
berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas 40.150 M2 dengan bukti Sertipikat Hak Milik
No.43 tahun 1972, atas nama alm. Abdul Halik/orang tua Pengadu, terletak di Kampung Patjerakang, Desa
Daya (dahulu Kabupaten Maros) sekarang Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, lokasi tanah miliknya tersebut saat ini telah diserobot dan dikuasai
oleh PT. United Tractors dan telah deterbitkan sertipikat Hak Guna Bangunan No. 940 tahun 1974, seluas
40.150 M2, Gambar Situasi No.730 tanggal 12 September 1994 atas nama PT. United Tractors yang
diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kotamadya Ujung Pandang.
3. Berdasarkan hal tersebut Pengadu keberatan dengan alasan tanah miliknya tersebut belum pernah dialihkan
atau dijual kepada pihak lain termasuk kepada PT. United Tractors, selanjutnya mohon kepada Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan sengketa
tanah dimaksud dan mengembalikan tanah tersebut kepada ahliwaris alm. Abdul Halik.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
5. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
6. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
7. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Kota Makassar, di Makassar;
8. Sdr. Mulyadi selaku Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Investigasi dan Monitoring
(DPP-LIMIT),.
d/a. Jl. Onta Lama No.95 Makassar, Sulawesi Selatan.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Klarifikasi Atas Hak Guna Bangunan Yang Di Duga Tidak Sesuai Prosedur

Sehubungan surat Sdr. Mulyadi (Pengadu) yang bertindak selaku Sekretaris Jenderal Dewan
Pimpinan Pusat Lembaga Investigasi dan Monitoring (DPP-LIMIT) No.133/DPP-LIMIT/X/2015 tanggal 28
Oktober 2015, yang tembusannya antara lain ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional dan kepada Saudara perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan
hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas 40.150 M2 dengan bukti Sertipikat Hak Milik
No.43 tahun 1972, atas nama alm. Abdul Halik/orang tua Pengadu, terletak di Kampung Patjerakang, Desa
Daya (dahulu Kabupaten Maros) sekarang Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, lokasi tanah miliknya tersebut saat ini telah diserobot dan dikuasai
oleh PT. United Tractors dan telah deterbitkan sertipikat Hak Guna Bangunan No. 940 tahun 1974, seluas
40.150 M2, Gambar Situasi No.730 tanggal 12 September 1994 atas nama PT. United Tractors yang
diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kotamadya Ujung Pandang.
3. Berdasarkan hal tersebut Pengadu keberatan dengan alasan tanah miliknya tersebut belum pernah dialihkan
atau dijual kepada pihak lain termasuk kepada PT. United Tractors, selanjutnya mohon kepada Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan sengketa
tanah dimaksud dan mengembalikan tanah tersebut kepada ahliwaris alm. Abdul Halik.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulawesi Selatan untuk melaporkan
hasil penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Laporan Kantor Pertanahan Kota Kediri
Mempersulit atas Penyelesaian Penerbitan
Sertipikat Tanah

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jawa Timur
Di –
Surabaya

Sehubungan surat Sdr. Imam Misnin dan A. Manan Arfandie (Pengadu) yang bertindak selaku
Pembeli/Eks. Pegawai Kantor Bendahara Negara dan sekaligus Team Penyelesaian Tanah masing-masing
tanggal 10 November 2014, tanggal 22 Januari 2015 dan tanggal 18 Pebruari 2015 perihal tersebut pada pokok
surat, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, dan
tembusannya antara lain disampaikan kepada Saudara, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan permohonan peralihan tanah Sertipikat Hak Milik
No. 169 dan Sertipikat Hak Milik No.242/Kelurahan Sukorame yang diperoleh dari Ir. Ullises Pakpahan
selaku anak tertua dan sekaligus kuasa ahliwaris dari ahliwaris alm. Maroeli Pakpahan berdasarkan Akta
Jual Beli No.51/13/MJRT/III/2013 tanggal 28 Maret 2013 yang diketahui oleh Notaris/PPAT Kota Kediri,
atas tanah yang terletak di Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur.
2. Bahwa permohonan peralihan sertipikat tersebut telah diajukan oleh Pengadu melalui Kantor Pertanahan
Kota Kediri sejak tanggal 23 April 2013, namun sampai saat ini proses permohonan tersebut belum kunjung
selesai dengan alasan di atas obyek tanah yang sama terdapat surat permohonan tentang status tanah menjadi
fasilitas umum dari Ketua RW.02, Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri sebagaimana
suratnya tanggal 14 Mei 2013 No.06/RW.02/Pemb/V/2013.
3. Bahwa secara fisik diatas tanah tersebut sebagian telah berdiri bangunan Masjid dan Balai Anggraini yang
akan diwakafkan dan dihibahkan kepada RW. 02 Kelurahan Sukorame, atas hal tersebut Pengadu keberatan
dan mohon kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk
menyelesaikan permasalahan sengketa tanah dimaksud dan memproses permohonan peralihan sertipikatnya
yang diajukan sejak 23 April 2013.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
9. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
10. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
11. Kepala Kantor Pertanahan Kota Kediri, di Kediri;
12. Sdr. Imam Misnin dan A. Manan Arfandie yang bertindak selaku Pembeli/Eks. Pegawai Kantor Bendahara
Negara dan sekaligus Team Penyelesaian Tanah,
d/a. Jl. Anggraini 1/ 16 Kediri, Provinsi Jawa Timur.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Laporan Kantor Pertanahan Kota Kediri Mempersulit atas Penyelesaian Penerbitan Sertipikat
Tanah

Sehubungan surat Sdr. Imam Misnin dan A. Manan Arfandie (Pengadu) yang bertindak selaku
Pembeli/Eks. Pegawai Kantor Bendahara Negara dan sekaligus Team Penyelesaian Tanah masing-masing
tanggal 10 November 2014, tanggal 22 Januari 2015 dan tanggal 18 Pebruari 2015 yang ditujukan kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, dan tembusannya antara lain disampaikan
kepada Saudara, perihal tersebut pada pokok Nota Dinas dengan ini disampaikan hal-hal sebagai
berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan permohonan peralihan tanah Sertipikat Hak Milik
No. 169 dan Sertipikat Hak Milik No.242/Kelurahan Sukorame yang diperoleh dari Ir. Ullises Pakpahan
selaku anak tertua dan sekaligus kuasa ahliwaris dari ahliwaris alm. Maroeli Pakpahan berdasarkan Akta
Jual Beli No.51/13/MJRT/III/2013 tanggal 28 Maret 2013 yang diketahui oleh Notaris/PPAT Kota Kediri,
atas tanah yang terletak di Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur.
2. Bahwa permohonan peralihan sertipikat tersebut telah diajukan oleh Pengadu melalui Kantor Pertanahan
Kota Kediri sejak tanggal 23 April 2013, namun sampai saat ini proses permohonan tersebut belum kunjung
selesai dengan alasan di atas obyek tanah yang sama terdapat surat permohonan tentang status tanah menjadi
fasilitas umum dari Ketua RW.02, Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri sebagaimana
suratnya tanggal 14 Mei 2013 No.06/RW.02/Pemb/V/2013.
3. Bahwa secara fisik diatas tanah tersebut sebagian telah berdiri bangunan Masjid dan Balai Anggraini yang
akan diwakafkan dan dihibahkan kepada RW. 02 Kelurahan Sukorame, atas hal tersebut Pengadu keberatan
dan mohon kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk
menyelesaikan permasalahan sengketa tanah dimaksud dan memproses permohonan peralihan sertipikatnya
yang diajukan sejak 23 April 2013.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Penyerobotan Asset Lahan Pusat Koperasi
Karyawan Jawa Timur

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jawa Timur
Di –
Surabaya

Sehubungan surat Sdr. Drs. Ec H. Tri Harsono dan Noer Sholeh (Pengadu) yang bertindak selaku
Ketua dan Sekretaris Pusat Koperasi Karyawan Provinsi Jawa Timur No.051/Pusk-Jt/IX/2015 tanggal 18
September 2015 perihal tersebut pada pokok surat, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah milik kurang lebih 2,9 juta karyawan Pusat
Koperasi Karyawan Jawa Timur terletak di Desa Pranti, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi
Jawa Timur yang saat ini menjadi Jaminan di Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Surabaya.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, lokasi tanah miliknya tersebut saat ini telah diserobot oleh mafia
tanah di Jawa Timur dengan cara menggunakan Akta palsu yang dibuat oleh Sdr. Reny Susetyowardani
(anak dari alm. H. Iskandar mantan Kepala Divisi Perumahan Puskopkar Jatim) yang diduga kuat melalui
Kantor Pertanahan Kabupaten Sidoarjo untuk menerbitkan Peta Bidang Tanah, dan berdasarkan Peta Bidang
Tanah dan Akta Pelepasan palsu tersebut, Sdr. Reny Susetyowardani menjual tanah tersebut kepada
PT. Gala Bumi Perkasa menguasai tanah milik Pengadu.
3. Berdasarkan hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan sengketa tanah dimaksud untuk nantinya
bisa dapat dipergunakan untuk perumahan karyawan.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Sidoarjo, di Sidoarjo;
4. Sdr. Drs. Ec H. Tri Harsono dan Noer Sholeharsono dan Noer Sholeh selaku Ketua Umum dan Sekretaris
Pusat Koperasi Karyawan Provinsi Jawa Timur.
d/a. Jl. Wisma Pegesangan Raya No. 103 Surabaya.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Penyerobotan Asset Lahan Pusat Koperasi Karyawan Jawa Timur

Sehubungan surat Sdr. Drs. Ec H. Tri Harsono dan Noer Sholeh (Pengadu) yang bertindak selaku
Ketua dan Sekretaris Pusat Koperasi Karyawan Provinsi Jawa Timur No.051/Pusk-Jt/IX/2015 tanggal 18
September 2015, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah milik kurang lebih 2,9 juta karyawan
Pusat Koperasi Karyawan Jawa Timur terletak di Desa Pranti, Kecamatan Sedati, Kabupaten
Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur yang saat ini menjadi Jaminan di Bank Tabungan Negara (BTN)
Cabang Surabaya.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, lokasi tanah miliknya tersebut saat ini telah diserobot oleh
mafia tanah di Jawa Timur dengan cara menggunakan Akta palsu yang dibuat oleh Sdr. Reny
Susetyowardani (anak dari alm. H. Iskandar mantan Kepala Divisi Perumahan Puskopkar Jatim)
yang diduga kuat melalui Kantor Pertanahan Kabupaten Sidoarjo untuk menerbitkan Peta Bidang
Tanah, dan berdasarkan Peta Bidang Tanah dan Akta Pelepasan palsu tersebut, Sdr. Reny
Susetyowardani menjual tanah tersebut kepada PT. Gala Bumi Perkasa menguasai tanah milik
Pengadu.
3. Berdasarkan hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan sengketa tanah
dimaksud untuk nantinya bisa dapat dipergunakan untuk perumahan karyawan.
5. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Mohon lahan tanah milik HM Adat Marga
Terusan Nunyai, Gunung Batik Udik,
Kecamatan Terusan Nunyai, Lampung Tengah

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Lampung
Di –
Lampung

Sehubungan surat Sdr. H. Fahmi A. Syukri (Pengadu) selaku Ketua Dewan Pimpinan Cabang Bumi
Meccak Batin, Kecamatan Terusan Nunyai No.001/[Link]/IX/GBU/2015 tanggal 25 September 2015 perihal
tersebut pada pokok surat, yang antara lain ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Saudara, dengan ini disampaikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah seluas 1000 Ha terletak di Mesuji,
Lampung dan pada tanggal 14 Juni 1993 tanah tersebut telah dihibahkan keluarga Sinungan yang
diwakili oleh Abdul Aziz Sinungan kepada Yayasan Daar El-Barokah/YDB dan diketahui oleh Kepala Desa
Wiralaga I dan Kepala Desa Wiralaga II serta Camat Mesuji.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu tanah tersebut telah didaftarkan melalui Mujiriyatno AH, SH
selaku Notaris di Kotabumi Lampung Utara, sebelum pemekaran Kabupaten Tulang Bawang dan Kabupaten
Mesuji, namun tidak lama setelah penyerahan itu, di atas lokasi tanah tersebut dipasang patok yang
bertuliskan “tanah Yayasan Daar El-Barokah.
3. Menurut keterangan Pengadu pada tahun 1998 pihak Yayasan Daar El-Barokah/YDB mendapatkan
dokumen rekayasa pembebasan lahan PT. BTLA, rekayasa inilah yang membuat tanah hibah itu
seakan masuk dalam kawasan PT. BTLA, namun nama-nama yang termaktub dalam dokumen
tersebut telah membuat pernyataan bahwa mereka tidak pernah menandatangani dokumen pembebasan tanah
dan pernyataan tersebut dikuatkan lagi dengan surat keterangan dari perangkat Desa dan panitia yang
membagikan uang ganti rugi pembebasan lahan PT. BTLA. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon
penyelesaian permasalahan dimaksud serta pengembalian tanah seluas 1000 Ha yang dihibahkan kepada
Yayasan Daar El-Barokah dengan pesantrennya untuk pembangunan bangsa dalam mencerdaskan anak
bangsa dan Negara.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Mesuji, di Mesuji;
4. Sdr. HA. Rahman HBR selaku Ketua Umum Yayasan Daar El- Barokah
d/a. Jl. Dempo 3 No.29 Rt.06/LK. Labuhan Ratu, Tanjung Karang Bandar Lampung.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Mohon Lahan Tanah Hak Milik Adat Marga
Terusan Nunyai, Gunung Batik Udik,
Kecamatan Terusan Nunyai, Lampung
Tengah Yang dikuasai Oleh TNI AU Lanud
Astra Ksetra Kembalikan Ke Masyarakat
Adat Pemilik Lahan Tanah Milik Adat
Marga Terusan Nunyai, Sesuai Seperti
Semula (awal) Lanud Astra Ksetra Dari KM
103 ke KM 105 Sebelah Timur, sampai
Kali/Way Terusan Nunyai, Seluas 1.200 Ha
Yang diberikan Tokoh-tokoh Terdahulu.

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Lampung
Di –
Lampung

Sehubungan surat Sdr. H. Fahmi A. Syukri dan Utani Mustafa (Pengadu) selaku Ketua dan
Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang Bumi Meccak Batin, Kecamatan Terusan Nunyai
No.001/[Link]/IX/GBU/2015 tanggal 25 September 2015 perihal tersebut pada pokok surat, yang
antara lain ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan
tembusannya antara lain disampaikan kepada Saudara, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan sengketa tanah seluas 1.200 Ha antara
Masyarakat Gunung Batin Udik, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah dengan
TNI AU di Lanud Astra Ksetra, Provinsi Lampung.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu timbulnya permasalahan tanah yang sekarang menjadi obyek
sengketa adalah karena tidak dilibatkannya Pengadu dalam penentuan batas wilayah Lampung
Tengah dan Lampung Utara yang mengakibatkan terjadinya tumpang tindih antara Peta Pengadu
(Masyarakat Adat Marga Terusan Nunyai Gunung Batin) dengan Surat Keputusan Kepala Daerah
Tingkat I Lampung No. G/048/B/I/HK/1991.
3. Bahwa saat ini lahan milik Pengadu tersebut secara fisik telah cukup lama dikuasai oleh TNI AU
Asra Ksetra dengan ditanami Singkong, tebu dan bermitra dengan PT. Gunung Madu Plantations
serta PT. Sweet Indo Lampung bahkan telah diterbitkan Hak Pakai atas nama TNI AU Lanud Astra
Ksetra. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Pemerintah Daerah cq. Badan
Pertanahan Nasional agar dapat melakukan penetapan/ pengukuran ulang lahan tanah yang
diberikan oleh Pengadu kepada TNI AU serta mengembalikan tanah milik Pengadu.

/ 4. Berkenaan....
-2-

4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan
penanganan terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta
melaporkan hasilnya kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
melalui Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di
Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Tulang Bawang, di Tulang Bawang;
4. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lampung Tengah, di Lampung Tengah;
5. Sdr. H. Fahmi A. Syukri dan Utani Mustafa selaku Ketua dan Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang
Bumi Meccak Batin, Kecamatan Terusan Nunyai,
d/a. DesamGunung Bathin Udik, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Mohon Lahan Tanah Hak Milik Adat Marga Terusan Nunyai, Gunung Batik Udik,
Kecamatan Terusan Nunyai, Lampung Tengah Yang dikuasai Oleh TNI AU Lanud
Astra Ksetra Kembalikan Ke Masyarakat Adat Pemilik Lahan Tanah Milik Adat Marga
Terusan Nunyai, Sesuai Seperti Semula (awal) Lanud Astra Ksetra Dari KM 103 ke KM
105 Sebelah Timur, sampai Kali/Way Terusan Nunyai, Seluas 1.200 Ha Yang diberikan
Tokoh-tokoh Terdahulu.

Sehubungan surat Sdr. H. Fahmi A. Syukri dan Utani Mustafa (Pengadu) selaku Ketua dan
Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang Bumi Meccak Batin, Kecamatan Terusan Nunyai
No.001/[Link]/IX/GBU/2015 tanggal 25 September 2015, yang antara lain ditujukan kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan tembusannya antara lain
disampaikan kepada Saudara, perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan sengketa tanah seluas 1.200 Ha antara
Masyarakat Gunung Batin Udik, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah dengan
TNI AU di Lanud Astra Ksetra, Provinsi Lampung.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu timbulnya permasalahan tanah yang sekarang menjadi obyek
sengketa adalah karena tidak dilibatkannya Pengadu dalam penentuan batas wilayah Lampung
Tengah dan Lampung Utara yang mengakibatkan terjadinya tumpang tindih antara Peta Pengadu
(Masyarakat Adat Marga Terusan Nunyai Gunung Batin) dengan Surat Keputusan Kepala Daerah
Tingkat I Lampung No. G/048/B/I/HK/1991.
3. Bahwa saat ini lahan milik Pengadu tersebut secara fisik telah cukup lama dikuasai oleh TNI AU
Asra Ksetra dengan ditanami Singkong, tebu dan bermitra dengan PT. Gunung Madu Plantations
serta PT. Sweet Indo Lampung bahkan telah diterbitkan Hak Pakai atas nama TNI AU Lanud Astra
Ksetra. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Pemerintah Daerah cq. Badan
Pertanahan Nasional agar dapat melakukan penetapan/ pengukuran ulang lahan tanah yang
diberikan oleh Pengadu kepada TNI AU serta mengembalikan tanah milik Pengadu.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Lampung untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Mohon Tindakan Hukum Terhadap PT. Batu
Dewata Alam.

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Lampung
Di –
Lampung

Sehubungan surat Sdr. K.H. Kurnia Rozali, LC. (Pengadu) yang bertindak selaku Ketua Umum
Yayasan Pondok Pesantren Madinah No. 017/YPPM/LPG/X/2015 tanggal 26 Oktober 2015 perihal tersebut
pada pokok surat, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional,
dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah wakaf milik Yayasan Pondok Pesantren
Madinah terletak di Desa Karyatani, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, lokasi tanah milik Yayasan Pondok Pesantren Madinah tersebut
sebagian telah dikuasai, diserobot dan dirampas secara sepihak oleh PT. Batu Dewasa Alam yang sampai
saat ini belum ada penyelesaian dari instansi Pemerintah. Disamping itu [Link] Dewata Alam sudah tidak
memiliki izin usaha, sesuai dengan :
a. Surat Gubernur Lampung Nomor : 540/0781/III.19/2015 tanggal 20 Maret 2015 tentang Penambangan
dan Perjalanan Hasil Tambang Ilegal.
b. Surat Ketua DPRD Lampung Nomor : 160/130.A/13.01/2015 tanggal 30 Januari 2015 tentang Penundaan
Aktivitas dan penambangan pasir PT. Sirtu Sunda Jaya (SSJ) dan PT. Batu Dewata Alam.
c. Surat Pemda Lampung Timur Nomor : 540/322-C/08/SK/2014 tanggal 20 November 2014 tentang
pemberitahuan bahwa di Kecamatan Labuhan Maringgai seluruh pelaku tambang belum memiliki izin
atau memiliki izin namun sudah habis masa berlakunya.
3. Berdasarkan hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan sengketa tanah dimaksud.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lampung Timur, di Sukadana;
4. Sdr. K.H. Kurnia Rozali, L.C. selaku Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Madinah,
d/a. Desa Karyatani, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Mohon Tindakan Hukum Terhadap PT. Batu Dewata Alam.

Sehubungan surat Sdr. K.H. Kurnia Rozali, LC. (Pengadu) yang bertindak selaku Ketua Umum
Yayasan Pondok Pesantren Madinah No. 017/YPPM/LPG/X/2015 tanggal 26 Oktober 2015 yang ditujukan
kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok Nota
Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah wakaf milik Yayasan Pondok Pesantren
Madinah terletak di Desa Karyatani, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, lokasi tanah milik Yayasan Pondok Pesantren Madinah tersebut
sebagian telah dikuasai, diserobot dan dirampas secara sepihak oleh PT. Batu Dewasa Alam yang sampai
saat ini belum ada penyelesaian dari instansi Pemerintah. Disamping itu [Link] Dewata Alam sudah tidak
memiliki izin usaha, sesuai dengan :
a. Surat Gubernur Lampung Nomor : 540/0781/III.19/2015 tanggal 20 Maret 2015 tentang Penambangan
dan Perjalanan Hasil Tambang Ilegal.
b. Surat Ketua DPRD Lampung Nomor : 160/130.A/13.01/2015 tanggal 30 Januari 2015 tentang Penundaan
Aktivitas dan penambangan pasir PT. Sirtu Sunda Jaya (SSJ) dan PT. Batu Dewata Alam.
c. Surat Pemda Lampung Timur Nomor : 540/322-C/08/SK/2014 tanggal 20 November 2014 tentang
pemberitahuan bahwa di Kecamatan Labuhan Maringgai seluruh pelaku tambang belum memiliki izin
atau memiliki izin namun sudah habis masa berlakunya.
3. Berdasarkan hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan sengketa tanah dimaksud.
5. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Lampung untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksan dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Surat pengakuan karet-karet Swandibru dan
keret-keret non Swandibru atas kepemilikan
hak ulayat tanah Bandar udara Frans
Kaisepo Biak di Dataran Swapor Distrik
Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor,
Provinsi Papua.

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Papua
Di –
Jayapura

Sehubungan surat Sdr. Saul Kl Ronsumbre, dkk (Pengadu) yang bertindak untuk dan atas
nama masyarakat Keret Ronsumbre Auk Swandibru dan Non Swandibru tanggal 12 Oktober 2015
perihal tersebut pada pokok surat, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan sengketa tanah antara 17 masyarakat
Keret-Keret Ronsubre Auk Swandibru dan Non Swandibru dengan Bandara Frans Kaisiepo Biak
(PT. Angkasa Pura Biak) yang berlangsung sejak tahun 1957/1958 sampai saat ini dan belum
tercapai penyelesaiannya;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu Masyarakat Moyang-Moyang Keret Auk Swandibru dan
Meokwun Swandibru mengklaim memiliki tanah terletak di Kota Biak dan Bandara Frans
Kaisiepo yang diperoleh dengan cara membuka hutan rimba/semak belukar/tanah bongkar menjadi
lahan perkebunan untuk bercocok tanam guna menghidupi hidupnya, namun saat ini bekas kebun-
kebun/tanah bongkar keret-keret Swandibru dihuni keret-keret menrama/pendatang dari berbagai
wilayah Biak Numfor dan orang-orang asing (non Biak dan non Papua).
3. Bahwa selanjutnya pada tanggal 20 November 2014 dilaksanakan pertemuan di Biak antara Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI dengan Masyarakat Keret Romsumbre yang
intinya menyatakan bahwa akan meminta Masyarakat Keret-Keret Swamdibru dan non Swamdibru
guna memberikan dukungan kepada Masyarakat Keret Romsubre berupa cerita turun temurun
tentang dataran Swapor yang tadinya berupa hutan rimba menjadi kebun dan selanjutnya menjadi
Kota Biak, perumahan, sekolah, perkantoran, perhotelan, lapangan sepak bola, lapangan upacara
dan Bandara Frans Kaisepo Biak.
4. Berdasarkan hal tersebut, Pengadu merasa keberatan dan mohon kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, karena
penanganan permasalahan sengketa tanahnya sampai saat ini belum kunjung terselesaikan,
walaupun 17 masyarakat Keret telah memberikan/menjelaskan secara tertulis yang dituangkan
dalam surat pengakuan terlampir, tentang cerita historis masyarakat Keret yang memiliki hak ulayat
di wilayah tanah yang disengketakan tersebut.

5. Berkenaan….

-2-
5. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan
penanganan terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta
melaporkan hasilnya kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
melalui Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di
Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Biak Numfor, di Biak;
4. Sdr. Saul Kl Ronsumbre yang bertindak untuk dan atas nama Masyarakat Keret Ronsumbre Auk
Swandiru,
d/a. Jl. Raya Bosnik, Kampung Swapodibo, Kota Biak, Provinsi Papua.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Surat pengakuan karet-karet Swandibru dan keret-keret non Swandibru atas kepemilikan hak
ulayat tanah Bandar udara Frans Kaisepo Biak di Dataran Swapor Distrik Biak Kota, Kabupaten
Biak Numfor, Provinsi Papua.

Sehubungan surat Sdr. Saul Kl Ronsumbre, dkk (Pengadu) yang bertindak untuk dan atas nama
masyarakat Keret Ronsumbre Auk Swandibru dan Non Swandibru tanggal 12 Oktober 2015 yang ditujukan
kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok Nota
Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan sengketa tanah antara 17 masyarakat Keret-Keret
Ronsubre Auk Swandibru dan Non Swandibru dengan Bandara Frans Kaisiepo Biak (PT. Angkasa Pura
Biak) yang berlangsung sejak tahun 1957/1958 sampai saat ini dan belum tercapai penyelesaiannya;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu Masyarakat Moyang-Moyang Keret Auk Swandibru dan Meokwun
Swandibru mengklaim memiliki tanah terletak di Kota Biak dan Bandara Frans Kaisiepo yang diperoleh
dengan cara membuka hutan rimba/semak belukar/tanah bongkar menjadi lahan perkebunan untuk bercocok
tanam guna menghidupi hidupnya, namun saat ini bekas kebun-kebun/tanah bongkar keret-keret Swandibru
dihuni keret-keret menrama/pendatang dari berbagai wilayah Biak Numfor dan orang-orang asing (non Biak
dan non Papua).
3. Bahwa selanjutnya pada tanggal 20 November 2014 dilaksanakan pertemuan di Biak antara Komisi Nasional
Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI dengan Masyarakat Keret Romsumbre yang intinya menyatakan
bahwa akan meminta Masyarakat Keret-Keret Swamdibru dan non Swamdibru guna memberikan dukungan
kepada Masyarakat Keret Romsubre berupa cerita turun temurun tentang dataran Swapor yang tadinya
berupa hutan rimba menjadi kebun dan selanjutnya menjadi Kota Biak, perumahan, sekolah, perkantoran,
perhotelan, lapangan sepak bola, lapangan upacara dan Bandara Frans Kaisepo Biak.
4. Berdasarkan hal tersebut, Pengadu merasa keberatan dan mohon kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, karena penanganan
permasalahan sengketa tanahnya sampai saat ini belum kunjung terselesaikan, walaupun 17 masyarakat
Keret telah memberikan/menjelaskan secara tertulis yang dituangkan dalam surat pengakuan terlampir,
tentang cerita historis masyarakat Keret yang memiliki hak ulayat di wilayah tanah yang disengketakan
tersebut.
5. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksan dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Permohonan informasi tentang kebenaran
sertipikat tanah Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan dan sejarah kepemilikan tanah
tersebut.

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sulawesi Selatan
Di –
Makassar

Sehubungan surat Sdri. HJ. Nursijah Mochtar Sjah (Pengadu) yang beralamat di Jl. Bank No.27 A
Rt/Rw. 011/003 Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang bertindak selaku ahliwaris dari alm. Bidasari
Daeng Minne dan Hasan Daeng Rowa Bidasari Rispranowo tanggal 02 Juli 2015 perihal tersebut pada pokok
surat, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, dengan ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas 1,4 Ha berlokasi di No.5 CI Persil 4 D1
Kampung Gaddong No.22 Bontoala, Makassar yang sekarang dipergunakan sebagai SMAN 1 Makassar dan
Gedung GMKI.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, pada tahun 1927 tanah tersebut merupakan kebun kelapa, buah-
buahan dan oleh karena tanah tersebut akan dipakai Pemerintah Belanda untuk mendirikan Sekolah Tehnik
maka kemudian oleh kakek Pengadu tanah tersebut didaftarkan di Kantor Landrente/Ipeda Jaman Belanda
yang akhirnya disebut Tanah Lompo Asang Kampung Gaddang Bontoala, Makassar pada Buku Tanah B,
namun Buku Tanah B tersebut hilang dari Ipeda.
3. Bahwa berdasarkan hal tersebut, selanjutnya tahun 1980-1983 Pengadu mempertanyakan status tanah
dimaksud sampai dengan berkirim surat kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Walikota
Makassar, Gubernur Sulawesi Selatan, namun sampai saat ini belum ada jawaban yang jelas, hingga
akhirnya Pengadu mendapat informasi bahwa di atas tanah yang diklaim sebagai miliknya dan telah dipakai
bangunan SMAN 1 Makassar dan Gedung GMKI tersebut telah terbit sertipikat atas nama Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, atas hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Menteri
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional agar kiranya dapat memberikan informasi penerbitan sertipikat
diatas tanah miliknya tersebut.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
13. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
14. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
15. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Kota Makassar, di Makassar;
16. Sdr. . HJ. Nursijah Mochtar Sjah bertindak selaku ahliwaris dari alm. Bidasari Daeng Minne dan Hasan
Daeng RowaBidasari Rispranowo
d/a. Jl. Bank No.27 A Rt/Rw. 011/003 Pejaten Barat, Pasar Minggu
.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan Informasi tentang kebenaran sertipikat tanah Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan dan sejarah kepemilikan tanah tersebut.

Sehubungan surat Sdri. HJ. Nursijah Mochtar Sjah (Pengadu) yang beralamat di Jl. Bank No.27 A
Rt/Rw. 011/003 Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan bertindak selaku ahliwaris dari alm. Bidasari
Daeng Minne dan Hasan Daeng Rowa Bidasari Rispranowo tanggal 02 Juli 2015, yang ditujukan kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok Nota Dinas,
dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas 1,4 Ha berlokasi di No.5 CI Persil 4 D1
Kampung Gaddong No.22 Bontoala, Makassar yang sekarang dipergunakan sebagai SMAN 1 Makassar dan
Gedung GMKI.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, pada tahun 1927 tanah tersebut merupakan kebun kelapa, buah-
buahan dan oleh karena tanah tersebut akan dipakai Pemerintah Belanda untuk mendirikan Sekolah Tehnik
maka kemudian oleh kakek Pengadu tanah tersebut didaftarkan di Kantor Landrente/Ipeda Jaman Belanda
yang akhirnya disebut Tanah Lompo Asang Kampung Gaddang Bontoala, Makassar pada Buku Tanah B,
namun Buku Tanah B tersebut hilang dari Ipeda.
3. Bahwa berdasarkan hal tersebut, selanjutnya tahun 1980-1983 Pengadu mempertanyakan status tanah
dimaksud sampai dengan berkirim surat kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Walikota
Makassar, Gubernur Sulawesi Selatan, namun sampai saat ini belum ada jawaban yang jelas, hingga
akhirnya Pengadu mendapat informasi bahwa di atas tanah yang diklaim sebagai miliknya dan telah dipakai
bangunan SMAN 1 Makassar dan Gedung GMKI tersebut telah terbit sertipikat atas nama Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, atas hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Menteri
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional agar kiranya dapat memberikan informasi penerbitan sertipikat
diatas tanah miliknya tersebut.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulawesi Selatan untuk melaporkan
hasil penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional.
Demikian untuk menjadi periksan dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan Penghapusan nama Tn. Dono Dihardjo pada arsip kependudukan oleh Pamong
Desa Gendingan, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur.

Sehubungan surat Sdr. H. Rispranowo yang bertindak untuk dan atas nama Keluarga Besar
almarhum Tn. Dono Dihardjo (Pengadu) tanggal 28 Desember 2015 yang ditujukan kepada Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah waris almarhum Tn. Dono Dihardjo seluas
+ 3000 M2 yang merupakan tanah bundel waris keluarga almarhum Tn. Dono Dihardjo dan belum dibagi
waris kepada 6 (enam) orang putra putri anak almarhum Tn. Dono Dihardjo yang sah, namun kenyataannya
tanah tersebut secara sepihak dikuasai oleh keturunan III (Cucu, Cicit dari dua anak saja, yaitu anak No. 3
(tiga) dan anak No. 5 (lima) atas tanah terletak di Desa Gendingan, Kecamatan Widodaren, Kabupaten
Ngawi, Provinsi Jawa Timur.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, di atas tanah tersebut telah diterbitkan dua Sertipikat Hak Milik atas
nama almarhum Suparno Budi Warsito dan atas nama Eko P. bin Suprapto oleh Kantor Pertanahan
Kabupaten Ngawi, berdasarkan alas hak dan data-data yang penuh dengan rekayasa yang dibuat oleh cucu
dari anak ke 3 (tiga) almarhum Tn. Suparno Budi Warsito bersama pihak Pamong Desa Gendingan,
Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur.
3. Atas penerbitan Sertipikat Hak Milik tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Menteri Agraria dan
Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan sengketa tanah ahli
waris dimaksud.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksan dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Permohonan Penghapusan nama Tn. Dono
Dihardjo pada arsip kependudukan oleh Pamong
Desa Gendingan, Kecamatan Widodaren,
Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur.

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jawa Timur
Di –
Surabaya

Sehubungan surat Sdr. H. Rispranowo yang bertindak untuk dan atas nama Keluarga Besar
almarhum Tn. Dono Dihardjo (Pengadu) tanggal 28 Desember 2015 perihal tersebut pada pokok surat, yang
ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, dengan ini disampaikan
hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah waris almarhum Tn. Dono Dihardjo seluas
+ 3000 M2 yang merupakan tanah bundel waris keluarga almarhum Tn. Dono Dihardjo dan belum dibagi
waris kepada 6 (enam) orang putra putri anak almarhum Tn. Dono Dihardjo yang sah, namun kenyataannya
tanah tersebut secara sepihak dikuasai oleh keturunan III (Cucu, Cicit dari dua anak saja, yaitu anak No. 3
(tiga) dan anak No. 5 (lima) atas tanah terletak di Desa Gendingan, Kecamatan Widodaren, Kabupaten
Ngawi, Provinsi Jawa Timur.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, di atas tanah tersebut telah diterbitkan dua Sertipikat Hak Milik atas
nama almarhum Suparno Budi Warsito dan atas nama Eko P. bin Suprapto oleh Kantor Pertanahan
Kabupaten Ngawi, berdasarkan alas hak dan data-data yang penuh dengan rekayasa yang dibuat oleh cucu
dari anak ke 3 (tiga) almarhum Tn. Suparno Budi Warsito bersama pihak Pamong Desa Gendingan,
Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur.
3. Atas penerbitan Sertipikat Hak Milik tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Menteri Agraria dan
Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan sengketa tanah ahli
waris dimaksud.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
17. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
18. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
19. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Ngawi, di Ngawi;
20. Sdr. H. Rispranowo yang bertindak untuk dan atas nama Keluarga Besar almarhum Tn. Dono Dihardjo
d/a. Jl. Merpati 6/231, Rt. 05, Rw.013, Depok Jaya, Provinsi Jawa Barat.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan Penghapusan nama Tn. Dono Dihardjo pada arsip kependudukan oleh Pamong
Desa Gendingan, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur.

Sehubungan surat Sdr. H. Rispranowo yang bertindak untuk dan atas nama Keluarga Besar
almarhum Tn. Dono Dihardjo (Pengadu) tanggal 28 Desember 2015 yang ditujukan kepada Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah waris almarhum Tn. Dono Dihardjo seluas
+ 3000 M2 yang merupakan tanah bundel waris keluarga almarhum Tn. Dono Dihardjo dan belum dibagi
waris kepada 6 (enam) orang putra putri anak almarhum Tn. Dono Dihardjo yang sah, namun kenyataannya
tanah tersebut secara sepihak dikuasai oleh keturunan III (Cucu, Cicit dari dua anak saja, yaitu anak No. 3
(tiga) dan anak No. 5 (lima) atas tanah terletak di Desa Gendingan, Kecamatan Widodaren, Kabupaten
Ngawi, Provinsi Jawa Timur.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, di atas tanah tersebut telah diterbitkan dua Sertipikat Hak Milik atas
nama almarhum Suparno Budi Warsito dan atas nama Eko P. bin Suprapto oleh Kantor Pertanahan
Kabupaten Ngawi, berdasarkan alas hak dan data-data yang penuh dengan rekayasa yang dibuat oleh cucu
dari anak ke 3 (tiga) almarhum Tn. Suparno Budi Warsito bersama pihak Pamong Desa Gendingan,
Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur.
3. Atas penerbitan Sertipikat Hak Milik tersebut Pengadu keberatan dan mohon kepada Menteri Agraria dan
Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk menyelesaikan permasalahan sengketa tanah ahli
waris dimaksud.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksan dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Demi Keadilan Berdasarkan Undang-Undang
Dasar 1945 Pancasila Untuk Memohon Bantuan.

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jawa Timur
Di –
Surabaya

Sehubungan surat Sdr. Agus Setiawan Jong (Pengadu) selaku Direktur Utama PT. Cahaya Sang
Surya Dwi Sejati No.061/AS/CSSDS/X/2015 tanggal 01 Oktober 2015 perihal tersebut pada pokok surat, yang
antara lain ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, dengan ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah seluas 1000 Ha terletak di Mesuji,
Lampung dan pada tanggal 14 Juni 1993 tanah tersebut telah dihibahkan keluarga Sinungan yang
diwakili oleh Abdul Aziz Sinungan kepada Yayasan Daar El-Barokah/YDB dan diketahui oleh Kepala Desa
Wiralaga I dan Kepala Desa Wiralaga II serta Camat Mesuji.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu tanah tersebut telah didaftarkan melalui Mujiriyatno AH, SH
selaku Notaris di Kotabumi Lampung Utara, sebelum pemekaran Kabupaten Tulang Bawang dan Kabupaten
Mesuji, namun tidak lama setelah penyerahan itu, di atas lokasi tanah tersebut dipasang patok yang
bertuliskan “tanah Yayasan Daar El-Barokah.
3. Menurut keterangan Pengadu pada tahun 1998 pihak Yayasan Daar El-Barokah/YDB mendapatkan
dokumen rekayasa pembebasan lahan PT. BTLA, rekayasa inilah yang membuat tanah hibah itu
seakan masuk dalam kawasan PT. BTLA, namun nama-nama yang termaktub dalam dokumen
tersebut telah membuat pernyataan bahwa mereka tidak pernah menandatangani dokumen pembebasan tanah
dan pernyataan tersebut dikuatkan lagi dengan surat keterangan dari perangkat Desa dan panitia yang
membagikan uang ganti rugi pembebasan lahan PT. BTLA. Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon
penyelesaian permasalahan dimaksud serta pengembalian tanah seluas 1000 Ha yang dihibahkan kepada
Yayasan Daar El-Barokah dengan pesantrennya untuk pembangunan bangsa dalam mencerdaskan anak
bangsa dan Negara.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
6. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
7. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
8. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Mesuji, di Mesuji;
9. Sdr. HA. Rahman HBR selaku Ketua Umum Yayasan Daar El- Barokah
d/a. Jl. Dempo 3 No.29 Rt.06/LK. Labuhan Ratu, Tanjung Karang Bandar Lampung.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Mohon bantuan pengembalian 1000 Ha tanah hibah milik Yayasan Daar El-Barokah
yang diserobot PT. BTLA di Mesuji Lampung

Sehubungan surat Sdr. HA. Rahman HBR selaku Ketua Umum Yayasan Daar El Barokah
No. 021/YDB-VII/2015 tanggal 7 Juli 2015, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/
Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah seluas 1000 Ha terletak di Mesuji,
Lampung dan pada tanggal 14 Juni 1993 tanah tersebut telah dihibahkan keluarga Sinungan yang
diwakili oleh Abdul Aziz Sinungan kepada Yayasan Daar El-Barokah/YDB dan diketahui oleh
Kepala Desa Wiralaga I dan Kepala Desa Wiralaga II serta Camat Mesuji.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu tanah tersebut telah didaftarkan melalui Mujiriyatno AH, SH
selaku Notaris di Kotabumi Lampung Utara, sebelum pemekaran Kabupaten Tulang Bawang dan
Kabupaten Mesuji, namun tidak lama setelah penyerahan itu, di atas lokasi tanah tersebut dipasang
patok yang bertuliskan “tanah Yayasan Daar El-Barokah.
3. Menurut keterangan Pengadu pada tahun 1998 pihak Yayasan Daar El-Barokah/YDB mendapatkan
dokumen rekayasa pembebasan lahan PT. BTLA, rekayasa inilah yang membuat tanah hibah itu
seakan masuk dalam kawasan PT. BTLA, namun nama-nama yang termaktub dalam dokumen
tersebut telah membuat pernyataan bahwa mereka tidak pernah menandatangani dokumen
pembebasan tanah dan pernyataan tersebut dikuatkan lagi dengan surat keterangan dari perangkat
Desa dan panitia yang membagikan uang ganti rugi pembebasan lahan PT. BTLA.
Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon penyelesaian permasalahan dimaksud serta
pengembalian tanah seluas 1000 Ha yang dihibahkan kepada Yayasan Daar El-Barokah dengan
pesantrennya untuk pembangunan bangsa dalam mencerdaskan anak bangsa dan Negara;
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Lampung untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksan dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Peralihan lahan Masyarakat Adat Marga Sanyi
dan Marga Hababuk

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Papua
Di Jayapura

Sehubungan surat Sdr. Paskalis Netep, SH selaku Sekretaris Umum Lembaga Masyarakat Adat
(LMA) Provinsi Papua No. 15/54/LMA-PAPUA/2015 tanggal 1 Juli 2015, yang ditujukan kepada Kapala Badan
Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan pengambil alihan tanah milik masyarakat adat
pemilik hak tanah ulayat masyarakat adat Marga Sanyi dan Marga Hababuk, Provinsi Papua, yang dilakukan
oleh H. Syamsuddin bin Tumpa yang menunjukkan rasa ketidak adilan terhadap keberadaan mereka sebagai
masyarakat adat pemilik hak tanah ulayat masyarakat adat Marga Sanyi dan Marga Hababuk, Provinsi
Papua;
2. Menurut keterangan Pengadu tingkat ketidak adilan yang mereka alami adalah: Kebijakan pemerintah
Provinsi Papua yang langsung berpengaruh kepada akses tanah Marga Sanyi dan Marga Hababuk yaitu
penetapan peruntukan kawasan Gelangang Olahraga dan Pengalihan sebagian lahan seluas 100.000 M2
kepada Pemerintah Kota Jayapura berdasarkan surat berita acara serah terima sebidang tanah Nomor :
593/5918/SET, tanggal 31 Oktober 2013 berserta dokumen lainnya.
3. Bahwa disisi lain terhadap tanah yang dipermasalahkan tersebut telah dimohonkan sertipikat oleh Sdr. H.
Syamsuddin bin Tumpa, dan terdapat kejanggalan-kejanggalan karena tidak sesuai dengan sistim dan
prosedur serta tata cara pelaksanaan hibah, dengan demikian diduga telah melakukan tindakan alih fungsi
lahan asset Daerah yang tidak sesuai Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang
Milik Negara/Daerah dan Pemendagri No. 17 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang
Milik Negara.
4. Atas hal tersebut Pengadu mohon kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional agar kiranya bisa memberikan
perhatian yang serius dalam penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.
5. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

A.n. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 001.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta.
2. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional,
di Jakarta.
3. Kepala Kantor Pertanahan Kota Jayapura, di Jayapura.
4. Sdr. Paskalis Netep, SH selaku Sekretaris Umum Lembaga Masyarakat Adat,
d/a. Jl. Koti No.3 Belakang Kantor Pos Jayapura Lantai 11 Kota Jayapura, Provinsi Jayapura.
NOTA DINAS
Nomor :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Peralihan lahan Masyarakat Adat Marga Sanyi dan Marga Hababuk.

Sehubungan surat Sdr. Paskalis Netep, S.H. selaku Sekretaris Umum Lembaga Masyarakat Adat
(LMA) Provinsi Papua No. 15/54/LMA-PAPUA/2015 tanggal 1 Juli 2015, yang ditujukan kepada Kapala Badan
Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai
berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan pengambil alihan tanah milik masyarakat
adat pemilik hak tanah ulayat masyarakat adat Marga Sanyi dan Marga Hababuk, Provinsi Papua,
yang dilakukan oleh H. Syamsuddin bin Tumpa yang menunjukkan rasa ketidak adilan terhadap
keberadaan mereka sebagai masyarakat adat pemilik hak tanah ulayat masyarakat adat Marga Sanyi
dan Marga Hababuk, Provinsi Papua.
2. Menurut keterangan Pengadu tingkat ketidak adilan yang mereka alami adalah : Kebijakan
pemerintah Provinsi Papua yang langsung berpengaruh kepada akses tanah Marga Sanyi dan Marga
Hababuk yaitu penetapan peruntukan kawasan Gelangang Olahraga dan Pengalihan sebagian lahan
seluas 100.000 M2 kepada Pemerintah Kota Jayapura berdasarkan surat Berita Acara Serah Terima
Sebidang Tanah Nomor : 593/5918/SET, tanggal 31 Oktober 2013 berserta dokumen lainnya.
3. Bahwa disisi lain terhadap tanah yang dipermasalahkan tersebut telah dimohonkan sertipikat oleh
Sdr. H. Syamsuddin bin Tumpa, dan terdapat kejanggalan-kejanggalan karena tidak sesuai dengan
sistim dan prosedur serta tata cara pelaksanaan hibah, dengan demikian diduga telah melakukan
tindakan alih fungsi lahan asset Daerah yang tidak sesuai Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 2006
tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Pemendagri No. 17 tahun 2007 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Negara.
4. Atas hal tersebut Pengadu mohon kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional agar kiranya bisa
memberikan perhatian yang serius dalam penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.
5. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Papua untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksan dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, SH, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Mohon bantuan pengembalian 1000 Ha
tanah hibah milik Yayasan Daar El-Barokah
yang diserobot PT. BTLA di Mesuji Lampung.

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Lampung
Di –
Lampung

Sehubungan surat Sdr. HA. Rahman HBR selaku Ketua Umum Yayasan Daar El Barokah
No. 021/YDB-VII/2015 tanggal 7 Juli 2015, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/
Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai
berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah seluas 1000 Ha terletak di Mesuji,
Lampung dan pada tanggal 14 Juni 1993 tanah tersebut telah dihibahkan keluarga Sinungan yang
diwakili oleh Abdul Aziz Sinungan kepada Yayasan Daar El-Barokah/YDB dan diketahui oleh Kepala Desa
Wiralaga I dan Kepala Desa Wiralaga II serta Camat Mesuji.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu tanah tersebut telah didaftarkan melalui Mujiriyatno AH, SH
selaku Notaris di Kotabumi Lampung Utara, sebelum pemekaran Kabupaten Tulang Bawang dan Kabupaten
Mesuji, namun tidak lama setelah penyerahan itu, di atas lokasi tanah tersebut dipasang patok yang
bertuliskan “tanah Yayasan Daar El-Barokah.
3. Menurut keterangan Pengadu pada tahun 1998 pihak Yayasan Daar El-Barokah/YDB mendapatkan
dokumen rekayasa pembebasan lahan PT. BTLA, rekayasa inilah yang membuat tanah hibah itu
seakan masuk dalam kawasan PT. BTLA, namun nama-nama yang termaktub dalam dokumen
tersebut telah membuat pernyataan bahwa mereka tidak pernah menandatangani dokumen pembebasan tanah
dan pernyataan tersebut dikuatkan lagi dengan surat keterangan dari perangkat Desa dan panitia yang
membagikan uang ganti rugi pembebasan lahan PT. BTLA. Atas hal tersebut Pengadu
keberatan dan mohon penyelesaian permasalahan dimaksud serta pengembalian tanah seluas 1000 Ha yang
dihibahkan kepada Yayasan Daar El-Barokah dengan pesantrennya untuk pembangunan bangsa dalam
mencerdaskan anak bangsa dan Negara.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Mesuji, di Mesuji;
4. Sdr. HA. Rahman HBR selaku Ketua Umum Yayasan Daar El- Barokah
d/a. Jl. Dempo 3 No.29 Rt.06/LK. Labuhan Ratu, Tanjung Karang Bandar Lampung.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Mohon bantuan pengembalian 1000 Ha tanah hibah milik Yayasan Daar El-Barokah
yang diserobot PT. BTLA di Mesuji Lampung

Sehubungan surat Sdr. HA. Rahman HBR selaku Ketua Umum Yayasan Daar El Barokah
No. 021/YDB-VII/2015 tanggal 7 Juli 2015, yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/
Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah seluas 1000 Ha terletak di Mesuji,
Lampung dan pada tanggal 14 Juni 1993 tanah tersebut telah dihibahkan keluarga Sinungan yang
diwakili oleh Abdul Aziz Sinungan kepada Yayasan Daar El-Barokah/YDB dan diketahui oleh
Kepala Desa Wiralaga I dan Kepala Desa Wiralaga II serta Camat Mesuji.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu tanah tersebut telah didaftarkan melalui Mujiriyatno AH, SH
selaku Notaris di Kotabumi Lampung Utara, sebelum pemekaran Kabupaten Tulang Bawang dan
Kabupaten Mesuji, namun tidak lama setelah penyerahan itu, di atas lokasi tanah tersebut dipasang
patok yang bertuliskan “tanah Yayasan Daar El-Barokah.
3. Menurut keterangan Pengadu pada tahun 1998 pihak Yayasan Daar El-Barokah/YDB mendapatkan
dokumen rekayasa pembebasan lahan PT. BTLA, rekayasa inilah yang membuat tanah hibah itu
seakan masuk dalam kawasan PT. BTLA, namun nama-nama yang termaktub dalam dokumen
tersebut telah membuat pernyataan bahwa mereka tidak pernah menandatangani dokumen
pembebasan tanah dan pernyataan tersebut dikuatkan lagi dengan surat keterangan dari perangkat
Desa dan panitia yang membagikan uang ganti rugi pembebasan lahan PT. BTLA.
Atas hal tersebut Pengadu keberatan dan mohon penyelesaian permasalahan dimaksud serta
pengembalian tanah seluas 1000 Ha yang dihibahkan kepada Yayasan Daar El-Barokah dengan
pesantrennya untuk pembangunan bangsa dalam mencerdaskan anak bangsa dan Negara;
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Lampung untuk melaporkan hasil
penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksan dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Penangguhan Penerbitan Sertipikat

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sumatera Barat
Di –
Padang

Sehubungan surat Sdr. ST. M. Sahur, dkk yang bertindak selaku kuasa dari Mamak Kepala Waris
A. Aziz Dt. Basa selaku Urang Gadang Penguasa Tanah Ulayat Kaum Suku Melayu Lareh Piruko (Pengadu)
No. 001/KSM/[Link]/GM/1-2015 tanggal 9 Januari 2015, yang ditujukan kepada Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten Dharmasraya dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Saudara dan kepada Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini disampaikan
hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah Ulayat Kaum Suku Melayu Datuak Basa
terletak di Lareh Piruko yang meliputi Wilayah Kenagarian Gunung Medan, Kenagarian Sungai Duo
di Jorong Koto Daulat dan sebagian di Wilayah Kenagarian Tebing Tinggi yang berbatasan dengan Ulayat
Datuak Gadang di Sikabau, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu di atas tanah tersebut telah diterbitkan kurang lebih sekitar 24 sertipikat
atas nama Ninik Mamak dan Masyarakat Nagari Gunung Medan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten
Dharmasraya melalui Prona. Selanjutnya Pengadu mengajukan keberatan dengan bersurat kepada Kantor
Pertanahan Kabupaten Dharmasraya sebagaimana suratnya No. [Link]/GM-2007 tanggal 5 Nopember
2007 dan No.001/KSM/[Link]/GM/III-2012 tanggal 16 Maret 2012.
3. Bahwa keberatan Pengadu terhadap penerbitan sertipikat di atas tanah Ulayat Kaum Suku Melayu Datuak
Basa terletak di Lareh Piruko yang meliputi Wilayah Kenagarian Gunung Medan, Kenagarian Sungai Duo
di Jorong Koto Daulat dan sebagian di Wilayah Kenagarian Tebing Tinggi yang berbatasan dengan Ulayat
Datuak Gadang di Sikabau tersebut karena tidak ada persetujuan dari Pengadu selaku Urang Gadang
Penguasa Ulayat di Lareh Piruko dan berdasarkan Peraturan Daerah Sumatera Barat No. 6 tahun 2008
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya dalam Pasal 8 huruf ‘e’ menyebutkan terhadap bagian tanah
ulayat yang sudah diberikan izin oleh penguasa dan pemilik tanah ulayat kepada perorangan yang dikerjakan
terus menerus dan sudah terbuka sebagai sumber kehidupan, bila dikehendaki dapat didaftarkan setelah
memenuhi “Adat Diisi Limbago Dituang”.
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan penanganan
terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Dharmasraya, di Tebing Tinggi;
4. Sdr. [Link], dkk selaku kuasa dari Mamak Kepala Waris A. Aziz Dt. Basa selaku Urang Gadang
Penguasa Ulayat Lareh Piruko,
d/a. Jl. Gunung Medan Sei Duo Km.01 Bungo Tanjung Kenagarian Gunung Medan, Kecamatan Sitiung,
Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat.

NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Penanganan Penerbitan Sertipikat

Sehubungan surat Sdr. ST. M. Sahur, dkk yang bertindak selaku kuasa dari Mamak Kepala Waris
A. Aziz Dt. Basa selaku Urang Gadang Penguasa Tanah Ulayat Kaum Suku Melayu Lareh Piruko (Pengadu)
No. 001/KSM/[Link]/GM/1-2015 tanggal 9 Januari 2015, yang ditujukan kepada Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten Dharmasraya dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Saudara dan kepada Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional perihal tersebut pada pokok Nota Dinas , dengan ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah Ulayat Kaum Suku Melayu Datuak Basa
terletak di Lareh Piruko yang meliputi Wilayah Kenagarian Gunung Medan, Kenagarian Sungai Duo
di Jorong Koto Daulat dan sebagian di Wilayah Kenagarian Tebing Tinggi yang berbatasan dengan Ulayat
Datuak Gadang di Sikabau, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu di atas tanah tersebut telah diterbitkan kurang lebih sekitar 24 sertipikat
atas nama Ninik Mamak dan Masyarakat Nagari Gunung Medan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten
Dharmasraya melalui Prona. Selanjutnya Pengadu mengajukan keberatan dengan bersurat kepada Kantor
Pertanahan Kabupaten Dharmasraya sebagaimana suratnya No. [Link]/GM-2007 tanggal 5 Nopember
2007 dan No.001/KSM/[Link]/GM/III-2012 tanggal 16 Maret 2012.
3. Bahwa keberatan Pengadu terhadap penerbitan sertipikat di atas tanah Ulayat Kaum Suku Melayu Datuak
Basa terletak di Lareh Piruko yang meliputi Wilayah Kenagarian Gunung Medan, Kenagarian Sungai Duo
di Jorong Koto Daulat dan sebagian di Wilayah Kenagarian Tebing Tinggi yang berbatasan dengan Ulayat
Datuak Gadang di Sikabau tersebut karena tidak ada persetujuan dari Pengadu selaku Urang Gadang
Penguasa Ulayat di Lareh Piruko dan berdasarkan Peraturan Daerah Sumatera Barat No. 6 tahun 2008
tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya dalam Pasal 8 huruf ‘e’ menyebutkan terhadap bagian tanah
ulayat yang sudah diberikan izin oleh penguasa dan pemilik tanah ulayat kepada perorangan yang dikerjakan
terus menerus dan sudah terbuka sebagai sumber kehidupan, bila dikehendaki dapat didaftarkan setelah
memenuhi “Adat Diisi Limbago Dituang”.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Barat untuk melaporkan
hasil penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Demi Keadilan Berdasarkan Undang-
Undang Dasar 1945 Pancasila Untuk
Memohon Bantuan

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jawa Timur
Di –
Surabaya

Sehubungan surat Sdr. Agus Setiawan Jong yang bertindak selaku Direktur PT. Cahaya
Sang Surya Dwi Sejati (Pengadu) No. 061/AS/CSSDS/X/2015 tanggal 1 Oktober 2015, yang antara
lain ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan kepada
Saudara perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah miliknya seluas + 17.280 M2 yang
terdiri dari 3 (tiga) bidang tanah yaitu Persil 10 seluas 14.200 M2 dan Persil 12 seluas 3.080 M2
terletak di Kelurahan Kebraon, Kecamatan Karang Pilang, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu di atas sebagian tanah Persil 12 seluas 3.080 M2 tersebut
merupakan pengganti tanah ganjaran milik Pemkot Surabaya yang diambil oleh Emanuel Djabah
Soekarno dan dibangun perumahan oleh Emanuel Djabah Soekarno dan terakhir di atas tanah
tersebut telah berdiri bangunan sekolah SMP 24 Surabaya oleh Walikota Surabaya. Atas hal
tersebut Pengadu keberatan selanjutnya melakukan upaya hukum gugatan di Pengadilan Negeri
Surabaya terdaftar dalam register Perkara tanggal 6 Agustus 2009 No.524/Pdt.G/2009/PN Sby,
antara Agus Setiawan Jong selaku Penggugat melawan Departemen Dalam Negeri Cq. Kotamadya
Surabaya cq. Camat Kecamatan Karangpilang selaku Tergugat.
3. Bahwa perkara tersebut telah diputus oleh Pengadilan Negeri Surabaya pada tanggal 13 Oktober
2009 No.524/Pdt.G/2009/[Link]. jo. Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI
[Link]/Pdt/2010 tanggal 30 Nopember 2010 yang amarnya antara lain menyatakan : Tanah
Persil 10 seluas 14.200 M2 terletak di Kelurahan Kebraon, Kecamatan Karang Pilang, Kotamadya
Surabaya masing-masing (Petok D No.1160 atas nama Stany Soebakir dan Petok D No.1227 atas
nama Enggono) adalah sah milik Agus Setiawan Jong/Penggugat dan perkara tersebut telah
dilaksanakan eksekusi berdasarkan Berita Acara Eksekusi No.524/Pdt.G/2009/[Link] tanggal 9
April 2013.
4. Berdasarkan hal tersebut Pengadu menuntut Walikota Surabaya agar kiranya menyelesaikan
penggantian tanah miliknya tersebut pada point 1 (satu) di atas dengan menukarkan lokasi tanah
yang terletak di sebelah barat tembok sekolah SMP AC II dengan ukuran 13 x 63 seluas 819 M2
dan tanah senilai 46 x 300 M2 seluas 13.800 M2 (adalah tanah Persil 12 no urut 10, 11, 12 dan 13)
terletak di sebelah selatan Perumahan Kebraon Indah Permai tahab I Blok E. Sedangkan tanah
seluaas 2.661 M2 digantikan tanah Persil 9 lokasi sebelah Timur dari saluran/lokasi sebelah Timur
Perumahan Kebraon Indah Permai tahab II dengan ukuran 12 x 220 M2.

/ 4. Berkenaan….
-2-

4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian dan
penanganan terhadap permasalahan tersebut sesuai peraturan perundang-undangan serta
melaporkan hasilnya kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
melalui Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.

Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional,
di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kota Surabaya I, di Surabaya.
4. Sdr. Agus Setiawan Jong selaku Direktur PT. Cahaya Sang Surya,
d/a. Jl. Bunguran No. 27A Surabaya, di Surabaya.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Demi Keadilan Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pancasila Untuk Memohon Bantuan

Sehubungan surat Sdr. Agus Setiawan Jong yang bertindak selaku Direktur PT. Cahaya Sang
Surya Dwi Sejati (Pengadu) No. 061/AS/CSSDS/X/2015 tanggal 1 Oktober 2015, yang antara lain ditujukan
kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan kepada Saudara perihal tersebut
pada pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan tanah miliknya seluas + 17.280 M2 yang terdiri dari
3 (tiga) bidang tanah yaitu Persil 10 seluas 14.200 M2 dan Persil 12 seluas 3.080 M2 terletak di Kelurahan
Kebraon, Kecamatan Karang Pilang, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu di atas sebagian tanah Persil 12 seluas 3.080 M2 tersebut merupakan
pengganti tanah ganjaran milik Pemkot Surabaya yang diambil oleh Emanuel Djabah Soekarno dan
dibangun perumahan oleh Emanuel Djabah Soekarno dan terakhir di atas tanah tersebut telah berdiri
bangunan sekolah SMP 24 Surabaya oleh Walikota Surabaya. Atas hal tersebut Pengadu keberatan
selanjutnya melakukan upaya hukum gugatan di Pengadilan Negeri Surabaya terdaftar dalam register
Perkara tanggal 6 Agustus 2009 No.524/Pdt.G/2009/PN Sby, antara Agus Setiawan Jong selaku Penggugat
melawan Departemen Dalam Negeri Cq. Kotamadya Surabaya cq. Camat Kecamatan Karangpilang selaku
Tergugat.
3. Bahwa perkara tersebut telah diputus oleh Pengadilan Negeri Surabaya pada tanggal 13 Oktober 2009
No.524/Pdt.G/2009/[Link]. jo. Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI [Link]/Pdt/2010
tanggal 30 Nopember 2010 yang amarnya antara lain menyatakan : Tanah Persil 10 seluas 14.200 M2
terletak di Kelurahan Kebraon, Kecamatan Karang Pilang, Kotamadya Surabaya masing-masing (Petok D
No.1160 atas nama Stany Soebakir dan Petok D No.1227 atas nama Enggono) adalah sah milik Agus
Setiawan Jong/Penggugat dan perkara tersebut telah dilaksanakan eksekusi berdasarkan Berita Acara
Eksekusi No.524/Pdt.G/2009/[Link] tanggal 9 April 2013.
4. Berdasarkan hal tersebut Pengadu menuntut Walikota Surabaya agar kiranya menyelesaikan penggantian
tanah miliknya tersebut pada point 1 (satu) di atas dengan menukarkan lokasi tanah yang terletak di sebelah
barat tembok sekolah SMP AC II dengan ukuran 13 x 63 seluas 819 M2 dan tanah senilai 46 x 300 M2
seluas 13.800 M2 (adalah tanah Persil 12 no urut 10, 11, 12 dan 13) terletak di sebelah selatan Perumahan
Kebraon Indah Permai tahab I Blok E. Sedangkan tanah seluaas 2.661 M2 digantikan tanah Persil 9 lokasi
sebelah Timur dari saluran/lokasi sebelah Timur Perumahan Kebraon Indah Permai tahab II dengan ukuran
12 x 220 M2.
5. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk melaporkan hasil penanganan
tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.

Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Penanganan permasalahan Tanah Negara
Verponding No.1289 dan No.1290 bekas
Perkebunan Telogorejo antara Warga Desa
Harjokuncaran, Kecamatan Sumbermanjing
Wetan dengan Kodam V/Brawijaya

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jawa Timur
Di –
Surabaya

Sehubungan surat Bupati Kabupaten Malang (Pengadu) No. 590/4681/421.014/2015


tanggal 11 Agustus 2015, yang antara lain ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dan tembusannya antara lain disampaikan kepada
Saudara perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan Tanah Negara bekas Perkebunan Telogorejo
terletak pada Verponding No.1289 dan No.1290 antara Warga Desa Harjokuncaran, Kecamatan
Sumbermanjing Wetan dengan Kodam V/Brawijaya, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu Pemerintah Kabupaten Malang dan Instansi terkait telah
berupaya memfasilitasi penyelesaian permasalahan tersebut melalui jalur musyawarah/non litigasi,
namun sampai saat ini atas permasalahan tersebut belum mendapatkan hasil penyelesaian sesuai
yang diharapkan oleh masyarakat. Adapun data-data yang disampaikan terkait permasalahan
tersebut sebagai berikut :
a. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.263/Kpts/UM/1973 tanggal 2 Juni 1973
tentang penyerahan perkebunan Telogorejo kepada Kodam V Brawijaya dianggap tidak sah.
b. Berdasarkan Surat Keputusan Kantor Pertanahan Kabupaten Malang No.410.353.0-1400 tanggal
8 Juli 2004 tentang Penegasan bahwa di Desa Harjokuncuran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan
terdapat tanah Obyek Landreform yang berasal dari bekas perkebunan Tlogorejo terletak pada
Verponding No.1289 dan 1290 dan ditetapkan sebagai Tanah Obyek Landreform berdasarkan
Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri [Link].190/DJA/1981 tanggal 1 Desember 1981, yang
sebagian sudah diredistribusikan dan telah terbit Sertipikat Hak Milik.
c. Berdasarkan surat Menteri Keuangan No. 5-239/MK.6/2013 tanggal 13 Mei 2013 tentang
permasalahan Tanah Negara bekas Perkebunan Telogorejo antara Warga Desa Harjokuncaran
dengan Kodam V/Brawijaya, bahwa asset tersebut merupakan Barang Milik Negara (BMN) yang
tercatat dalam Sistim Informasi Manajemen Akuntansi (Simak) BMN TNI-AD, dianggap tidak
benar karena obyek tersebut ditetapkan sebagai Tanah Obyek Landreform berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Dalam Negeri No. SK.190/DJA/1981 tanggal 1 Desember 1981.
3. Bahwa atas hal tersebut Pengadu mohon agar kiranya terhadap permasalahan status Tanah Negara
bekas Perkebunan Telogorejo terletak pada Verponding No.1289 dan No.1290 dapat diselesaikan
oleh Pemerintah Pusat.
/ 4. Berkenaan….

-2-

4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melaporkan permasalahanya
dan penanganan terhadap permasalahan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional melalui Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan
Ruang dan Tanah.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Menteri Agraria Dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,
Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Deddy Setiady, S.H.


NIP. 19571016 198303 1 004.

Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta;
2. Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional,
di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Malang, di Malang.
4. [Link] Malang, di Malang.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Plt. Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Penanganan permasalahan Tanah Negara Verponding No.1289 dan No.1290 bekas Perkebunan
Telogorejo antara Warga Desa Harjokuncaran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan dengan
Kodam V/Brawijaya.

Sehubungan surat Bupati Kabupaten Malang (Pengadu) No. 590/4681/421.014/2015 tanggal 11


Agustus 2015, yang antara lain ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Republik Indonesia dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Saudara perihal tersebut pada
pokok Nota Dinas, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu menyampaikan permasalahan Tanah Negara bekas Perkebunan Telogorejo terletak
pada Verponding No.1289 dan No.1290 antara Warga Desa Harjokuncaran, Kecamatan Sumbermanjing
Wetan dengan Kodam V/Brawijaya, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu Pemerintah Kabupaten Malang dan Instansi terkait telah berupaya
memfasilitasi penyelesaian permasalahan tersebut melalui jalur musyawarah/non litigasi, namun sampai saat
ini atas permasalahan tersebut belum mendapatkan hasil penyelesaian sesuai yang diharapkan oleh
masyarakat. Adapun data-data yang disampaikan terkait permasalahan tersebut sebagai berikut :
a. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.263/Kpts/UM/1973 tanggal 2 Juni 1973 tentang
penyerahan perkebunan Telogorejo kepada Kodam V Brawijaya dianggap tidak sah.
b. Berdasarkan Surat Keputusan Kantor Pertanahan Kabupaten Malang No.410.353.0-1400 tanggal 8 Juli
2004 tentang Penegasan bahwa di Desa Harjokuncuran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan terdapat tanah
Obyek Landreform yang berasal dari bekas perkebunan Tlogorejo terletak pada Verponding No.1289 dan
1290 dan ditetapkan sebagai Tanah Obyek Landreform berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam
Negeri [Link].190/DJA/1981 tanggal 1 Desember 1981, yang sebagian sudah diredistribusikan dan telah
terbit Sertipikat Hak Milik.
c. Berdasarkan surat Menteri Keuangan No. 5-239/MK.6/2013 tanggal 13 Mei 2013 tentang permasalahan
Tanah Negara bekas Perkebunan Telogorejo antara Warga Desa Harjokuncaran dengan Kodam
V/Brawijaya, bahwa asset tersebut merupakan Barang Milik Negara (BMN) yang tercatat dalam Sistim
Informasi Manajemen Akuntansi (Simak) BMN TNI-AD, dianggap tidak benar karena obyek tersebut
ditetapkan sebagai Tanah Obyek Landreform berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No.
SK.190/DJA/1981 tanggal 1 Desember 1981.
3. Bahwa atas hal tersebut Pengadu mohon agar kiranya terhadap permasalahan status Tanah Negara bekas
Perkebunan Telogorejo terletak pada Verponding No.1289 dan No.1290 dapat diselesaikan oleh Pemerintah
Pusat.
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Timur untuk melaporkan hasil penanganan
tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Plt. Direktur Sengketa dan Konflik Pertanahan Wilayah I

Supardy Marbun, S.H, [Link].


NIP. 19640410 199003 1 002.
Tembusan :
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Sehubungan surat pengaduan dari Lembaga Missi Reclassering Republik Indonesia Badan Peserta
Hukum Untuk Negara dan Masyarakat ([Link])/Pengadu selaku kuasa ahli waris alm.
Amir Puspa Mega Nomor : 0199.10-K/P/[Link]/IV/2017 tanggal 22 April 2017,
yang ditujukan kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan
tambusannya antara lain disampaikan kepada Saudara, perihal tersebut pada pokok surat , dengan ini
disampaikan kepada Saudara hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas 30 Ha, berdasarkan Surat Keterangan
Tanah (SKT) Nomor : 82/Agr/1973 tanggal 2 Maret 1973 dari Kepala Kampung Raja Basa Lama,
terletak di Desa Raja Basa Lama I, Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi
Lampung;
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, tanpa sepengetahuannya di atas tanah miliknya tersebut telah
diterbitkan Sertipikat Hak Pakai No.6/Desa Raja Basa Lama I, atas nama Departemen Agma
Republik Indonesia, seluas 241.910 M2, Gambar Situasi No.4829/1995 tanggal 24 April 1995 yang
diterbitkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lampung Tengah tanggal 6 Mei 1996
berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi
Lampung [Link]/SK/KW.42/SK/HP/1995 tanggal 28 Nopember 1995;
3. Bahwa terhadap penerbitan Sertipikat Hak Pakai No.6 atas nama Departemen Agama di atas tanah
miliknya tersebut Pengadu keberatan, selanjutnya mohon pembatalan Sertipikat Hak Pakai tersebut
serta penyelesaian atas permasalahan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional;
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan
…………….
Hal : Permohonan Ijin Jakarta, 12 Oktober 2015

Kepada Yth.
Bapak Plt. Kasubdit Konflik Tanah
Dan Ruang Wilayah I
di Tempat

Dengan Hormat,

Yang bertandatanggan dibawah ini saya :

Nama : Suharno, SH.


Alamat : Kp. Irian Rt.1, Rw. 4, Kel Teluk Pucung, Kota Bekasi Utara, Provinsi
Jawa Barat.
Jabatan : Plt. Kelapa Seksi Konflik Tanah dan Ruang Wilayah Ib pada
Direktorat Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I,

Bersama ini saya bermaksud mohon ijin tidak masuk kerja pada hari Senin dan
Selasa tanggal 12 dan 13 Oktober 2015 dikarenakan adanya keperluan
keluarga.

Atas perkenan Bapak terthadap permohonan ijin saya haturkan terima


kasih.

Hormat Saya
Plt. Kasi Konflik Tanah
dan Ruang Wilayah I b

(Suharno, S.H.)
Nomor : Jakarta,
Sifat : Segera
Lampiran : 1 (satu) berkas
Hal : Permasalahan Tanah Antara Masyarakat Suku
Anak Dalam (SAD) dengan PT. Asiatic
Persada, Terletak di Kabupaten Batanghari,
Provinsi Jambi

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jambi
di -
Jambi

1. Rujukan : a. Aksi Demontrasi oleh Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945


Provinsi Jambi tanggal 1 November 2014 terkait permasalahan tanah
antara Suku Anak Dalam (SAD) dengan PT. Asiatic Persada di
Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi
b. Berita Acara Pelaksanaan Gelar Kasus Pertanahan tanggal 18 Desember
2014.

2. Berkenaan dengan pelaksanaan Gelar Kasus Pertanahan tanggal 18 Desember 2014 yang
dilaksanakan di Kantor Wilayah BPN Provinsi Jambi terhadap permasalahan tanah antara
Masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) dengan PT. Asiatic Persada, terletak di Kecamatan
Bajubang, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi diperoleh kesimpulan antara lain :
a. Bahwa terhadap upaya penyelesaian permasalahan Suku Anak Dalam (DAS) Kelompok 113
yang diluar hasil verifikasi dan validasi oleh Lembaga Adat Bumi Serentak Bak Regam
Kabupaten Batanghari telah dituangkan melalui Surat Keputusan Bupati Batanghari Nomor 180
Tahun 2014 tanggal 11 Maret 2014 Tentang Penetapan Nama-Nama Serta Peta Lokasi Warga
Suku Anak Dalam (SAD) Penerima Lahan Kompensasi Seluas + 2.000 Ha dari PT. Asiatic
Persada di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari;
b. Tuntutan permintaan pengukuran pada areal 3.550 Ha dan 20.000 Ha areal HGU PT. Asiatic
Persada telah diselesaikan dalam bentuk win-win solution dimana pihak perusahaan telah
menyerahkan areal 2.000 Ha sebagai bentuk kompensasi kepada Suku Anak Dalam (SAD) yang
berada diluar HGU PT. Asiatic Persada dan termasuk yang telah dilepaskan dari kawasan hutan;
c. Apabila Masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) 113 yang didampingi oleh Partai Rakyat
Demokratik (PRD) dan Kelompok Terawang yang didampingi oleh LSM Peduli Bangsa merasa
tidak puas dengan hasil upaya penanganan yang dilakukan oleh Tim Terpadu Kabupaten
Batanghari/Tim Terpadu Provinsi Jambi, dapat menempuh jalur hukum melalui Lembaga
Peradilan;
3. Menindaklanjuti hasil Gelar Kasus Internal tersebut, bersama ini diminta agar Saudara
memerintahkan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Batanghari untuk segera menyampaikan
hasil kesimpulan gelar tersebut kepada Masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) 113 yang didampingi
oleh Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Kelompok Terawang yang didampingi oleh LSM Peduli
Bangsa.
4. Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/


KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL,

FERRY MURSYDAN BALDAN

Tembusan :
1. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Batanghari, di Batanghari;
2. TIM Terpadu Kabupaten Batanghari, di Batanghari;
3. TIM Terpadu Provinsi Jambi, di Jambi.

Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Pelaksanaan hasil pertemuan antara
Ombudsman RI dan BPN dengan warga
masyarakat serta perusahaan PT. Maskapai
Ledong West Indonesia (PT. MLWI) pada
tanggal 14 Maret 2014 terkait penentuan
titik koordinat pada lokasi HGU No.1 atas
nama PT. MLWI

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sumatera Utara
Di –
Medan

Sehubungan surat Ketua Ombudsman Republik Indonesia Nomor : 0362/SRT/


0017.2009/BS-02/V/2014 tanggal 28 Mei 2014, yang tembusannya antara lain ditujukan kepada
Kepala Badan Pertanahan Nasional RI dan kepada Saudara perihal tersebut pada pokok surat, dengan
ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Ketua Ombudsman Republik Indonesia bermaksud menindaklanjuti pengaduan
dari Ny. Masse Priya, SH (warga masyarakat) terhadap hasil pertemuan sebagaimana perihal pokok
surat diatas, bertempat di Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhanbatu tanggal 14 Maret 2014 terkait
tuntutan pelaksanaan penentuan titik koordinat areal lokasi HGU No. 1 tanggal 18 Maret 1996 atas
nama PT. Antari Raya di Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara;
2. Bahwa dalam proses penerbitan HGU tersebut masih menyisakan permasalahan karena warga
masyarakat yang memiliki lahan di dalam lokasi HGU dimaksud merasa belum pernah diganti rugi,
serta jumlah luas lahan yang dikuasai oleh perusahaan saat ini besarannya tidak sesuai dengan luas
yang tercantum dalam HGU No. 1 dimaksud, sehingga terjadi penyalahgunaan lahan. Atas hal
tersebut Ombudsman RI minta agar perusahaan segera melaksanakan hasil pertemuan dimaksud
yang pelaksanaannya dibawah koordinasi Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhanbatu;
3. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta agar Saudara segera melaporkan permasalahan
dimaksud kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia melaui Deputi Bidang
Penanganan Sengketa dan Perkara Pertanahan disertai saran penyelesaiannya dalam waktu yang
tidak terlalu lama.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Kepala Badan Pertanahan Nasional RI


Deputi Bidang Penanganan
Sengketa dan Perkara Pertanahan,

EFFENDI, SH.,MH.
NIP. 19540831 197903 1 002
Tembusan :
5. Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Jakarta;
6. Ombudsman Republik Indonesia, Jl. Rasuna Said Kav. C-19, Lt.5 & 7 Jakarta.
7. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhanbatu, di Cibinong;
8. Ny. Masse Priyadi, SH. Perumahan Bumi Cibinong Endah, Blok A.11/10 Bogor 16913.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Pelaksanaan hasil pertemuan antara
Ombudsman RI dan BPN dengan warga
masyarakat serta perusahaan PT. Maskapai
Ledong West Indonesia (PT. MLWI) pada
tanggal 14 Maret 2014 terkait penentuan
titik koordinat pada lokasi HGU No.1 atas
nama PT. MLWI

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sumatera Utara
Di –
Medan

Sehubungan surat Ketua Ombudsman Republik Indonesia Nomor : 0362/SRT/


0017.2009/BS-02/V/2014 tanggal 28 Mei 2014, yang tembusannya antara lain ditujukan kepada
Kepala Badan Pertanahan Nasional RI dan kepada Saudara perihal tersebut pada pokok surat, dengan
ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Ketua Ombudsman Republik Indonesia bermaksud menindaklanjuti pengaduan
dari Ny. Masse Priya, SH (warga masyarakat) terhadap hasil pertemuan sebagaimana perihal pokok
surat diatas, bertempat di Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhanbatu tanggal 14 Maret 2014 terkait
tuntutan pelaksanaan penentuan titik koordinat areal lokasi HGU No. 1 tanggal 18 Maret 1996 atas
nama PT. Antari Raya di Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara;
2. Bahwa dalam proses penerbitan HGU tersebut masih menyisakan permasalahan karena warga
masyarakat yang memiliki lahan di dalam lokasi HGU dimaksud merasa belum pernah diganti rugi,
serta jumlah luas lahan yang dikuasai oleh perusahaan saat ini besarannya tidak sesuai dengan luas
yang tercantum dalam HGU No. 1 dimaksud, sehingga terjadi penyalahgunaan lahan. Atas hal
tersebut Ombudsman RI minta agar perusahaan segera melaksanakan hasil pertemuan dimaksud
yang pelaksanaannya dibawah koordinasi Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhanbatu;
3. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta agar Saudara segera melaporkan permasalahan
dimaksud kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia melaui Deputi Bidang
Penanganan Sengketa dan Perkara Pertanahan disertai saran penyelesaiannya dalam waktu yang
tidak terlalu lama.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Kepala Badan Pertanahan Nasional RI


Deputi Bidang Penanganan
Sengketa dan Perkara Pertanahan,

EFFENDI, SH.,MH.
NIP. 19540831 197903 1 002
Tembusan :
1. Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Jakarta;
2. Ombudsman Republik Indonesia, Jl. Rasuna Said Kav. C-19, Lt.5 & 7 Jakarta.
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhanbatu, di Cibinong;
4. Ny. Masse Priyadi, SH. Perumahan Bumi Cibinong Endah, Blok A.11/10 Bogor 16913.
Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran :
Hal : Kelanjutan Penyelesaian Status Hak Tanah
yang terletak di wilayah RW.03, RW. 03,
RT. 03 dan RT.04 Kelurahan Tubanan
Surabaya

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Jawa Timur
di –
Surabaya

Sehubungan surat Sdr. Sukardi selaku Ketua Paguyuban Keluarga Besar Masyarakat
Tubanan RW.03, RT.03 dan RT.04 Nomor : 01/PKBMT/VII/2015 tanggal 27 Juli 2015, yang dijutukan
kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dan tembusannya antara
lain ditujukan kepada Saudara perihal tersebut pada pokok surat, dengan ini disampaikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu Ketua Ombudsman Republik Indonesia bermaksud menindaklanjuti
pengaduan dari Ny. Masse Priya, SH (warga masyarakat) terhadap hasil pertemuan sebagaimana
perihal pokok surat diatas, bertempat di Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhanbatu tanggal 14
Maret 2014 terkait tuntutan pelaksanaan penentuan titik koordinat areal lokasi HGU No. 1 tanggal
18 Maret 1996 atas nama PT. Antari Raya di Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara;
2. Bahwa dalam proses penerbitan HGU tersebut masih menyisakan permasalahan karena warga
masyarakat yang memiliki lahan di dalam lokasi HGU dimaksud merasa belum pernah diganti rugi,
serta jumlah luas lahan yang dikuasai oleh perusahaan saat ini besarannya tidak sesuai dengan luas
yang tercantum dalam HGU No. 1 dimaksud, sehingga terjadi penyalahgunaan lahan. Atas hal
tersebut Ombudsman RI minta agar perusahaan segera melaksanakan hasil pertemuan dimaksud
yang pelaksanaannya dibawah koordinasi Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhanbatu;
3. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta agar Saudara segera melaporkan permasalahan
dimaksud kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia melaui Deputi Bidang
Penanganan Sengketa dan Perkara Pertanahan disertai saran penyelesaiannya dalam waktu yang
tidak terlalu lama.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

An. Kepala Badan Pertanahan Nasional RI


Deputi Bidang Penanganan
Sengketa dan Perkara Pertanahan,

EFFENDI, SH.,MH.
NIP. 19540831 197903 1 002
Tembusan :
1. Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Jakarta;
2. Ombudsman Republik Indonesia, Jl. Rasuna Said Kav. C-19, Lt.5 & 7 Jakarta.
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Labuhanbatu, di Cibinong;
4. Ny. Masse Priyadi, SH. Perumahan Bumi Cibinong Endah, Blok A.11/10 Bogor 16913.
BADAN PERTANAHAN NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sisingamangaraja No. 2, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Surat Keluar
Kepada : Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi

Dari : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah

Perihal : Peralihan Lahan Masyarakat Adat Marga Sanyi dan Marga Hababuk

Pengolah : Sub Direktorat Sengketa dan Konflik Pertanahan


Nomor : Jakarta,
Sifat :
Lampiran : 1 (Satu) Lembar
Hal : Permohonan Perlindungan Hukum dan
Gelar Perkara Tanah Pesini Milik Alm.
Danel Kamangi di Kairagi Dua Mapanget
Manado

Yth. Kepala Kantor Wilayah


Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Sulawesi Utara
di –
Manado

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Milka Salindeho, S.H., M.H. dan Puji Restiningsih,
S.H., (Pengadu) selaku kuasa hukum dari Sdr. Stenly Kamagi yang bertindak untuk dan atas nama
43 (empat puluh tiga) ahliwaris alm. Danel Kamagi dan alm. Merry Sigarlaki No. 123/MS &
P/IX/2015 tanggal 25 September 2015, perihal seperti tersebut pada pokok surat, yang ditujukan
kepada kami dan tembusannya antara lain disampaikan kepada Saudara …..Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, dengan ini disampaikan inti dari pengaduan tersebut
sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengajukan keberatan terhadap surat dari PT. Batu Bara Bukit Asam
(Persero), Tbk, No.185/Eks-23100/TN.03/XII Tahun 2015 tentang pemberitahuan untuk
mengosongkan rumah dan tanah di Jl. Raya No.14 Tanjung Enim atas nama Pengadu selaku
Pensiunan Perusahaan Negara Tambang Batubara Unit Pruduksi Bukit Asam (PN. [Link]);
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, sesuai surat dari Direktur Utama Komisaris PT. Batu Bara
Bukit Asam (Persero), Tbk, No.046.J/Q-1000/SRT/V/2005 dalam point 3 ayat (a) berbunyi
“bangunan-bangunan PT. Batu Bara Bukit Asam (Persero) Tbk, sebanyak 109 Unit yang dihuni
sebanyak 398 KK dimana semua unit rumah ini sudah dikeluarkan dari asset PT. Batu Bara Bukit
Asam (Persero), Tbk, sesuai hasil RUPS tahun 1995. Hal tersebut juga dikuatkan dengan
pengakuan dan persetujuan Komisaris PT. Batu Bara Bukit Asam (Persero), Tbk, sebagaimana
suratnya No.15/KOM/V/2005 tentang pelepasan hak atas tanah dan bangunan di Obilin maupun
di seberang Sungai Enim;
3. Berdasarkan hal tersebut, Pengadu selaku ahli waris mohon penyelesaian terhadap permasalahan
tanah dimaksud serta Badan Pertanahan Nasional dapat memproses sertipikat di atas tanah tersebut
kepada pengadu;
4. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, diminta kepada Saudara untuk melakukan penelitian
mengenai kebenaran pengaduan tersebut dan penanganan terhadap permasalahannya sesuai
peraturan perundang-undangan serta melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Penanganan
Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak
diterimanya surat ini.
Demikian untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria,


Pemanfaatan Ruang dan Tanah,

Dr. H.S. Muhammad Ikhsan, SH., [Link].


NIP. 19620209 198703 1 002.
Tembusan :
1. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, di Jakarta (sebagai laporan);
2. Direktur Jenderal Pengadaan Tanah, di Jakarta;
3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Muara Enim, di Muara Enim.
NOTA DINAS
NOMOR :

Yth. : Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah.
Dari : Direktur Sengketa dan Konflik Tanah dan Ruang Wilayah I.
Tanggal :
Hal : Permohonan Status Tanah dan Bangunan

Sehubungan surat pengaduan dari Sdr. Lukman Effendi dan Sdr. As. Darwanto (Pengadu)
yang bertindak selaku Ketua dan Sekretaris Masyarakat (Tim 5), No. 007/TNH-TE/IX/2016 tanggal
13 September 2016 jo. No. 004/TNH-TE/V/2016 tanggal 20 Mei 2016, yang ditujukan kepada Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, perihal tersebut pada pokok Nota Dinas,
dengan ini disampaikan inti dari pengaduan tersebut sebagai berikut :
1. Dalam suratnya Pengadu mengajukan keberatan terhadap surat dari PT. Batu Bara Bukit Asam
(Persero), Tbk, No.185/Eks-23100/TN.03/XII Tahun 2015 tentang pemberitahuan untuk
mengosongkan rumah dan tanah di Jl. Raya No.14 Tanjung Enim atas nama Pengadu selaku
Pensiunan Perusahaan Negara Tambang Batubara Unit Pruduksi Bukit Asam (PN. [Link]);
2. Bahwa menurut keterangan Pengadu, sesuai surat dari Direktur Utama Komisaris PT. Batu Bara
Bukit Asam (Persero), Tbk, No.046.J/Q-1000/SRT/V/2005 dalam point 3 ayat (a) berbunyi
“bangunan-bangunan PT. Batu Bara Bukit Asam (Persero) Tbk, sebanyak 109 Unit yang dihuni
sebanyak 398 KK dimana semua unit rumah ini sudah dikeluarkan dari asset PT. Batu Bara Bukit
Asam (Persero), Tbk, sesuai hasil RUPS tahun 1995. Hal tersebut juga dikuatkan dengan
pengakuan dan persetujuan Komisaris PT. Batu Bara Bukit Asam (Persero), Tbk, sebagaimana
suratnya No.15/KOM/V/2005 tentang pelepasan hak atas tanah dan bangunan di Obilin maupun
di seberang Sungai Enim;
3. Berdasarkan hal tersebut, Pengadu selaku ahli waris mohon penyelesaian terhadap permasalahan
tanah dimaksud serta Badan Pertanahan Nasional dapat memproses sertipikat di atas tanah tersebut
kepada pengadu;
4. Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, bersama ini kami sampaikan konsep surat keluar kepada
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Selatan untuk melaporkan
hasil penanganan tersebut kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional dengan tembusan Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang
dan Tanah untuk mendapatkan pengesahan Bapak.

Demikian untuk menjadi periksa dan mohon petunjuk lebih lanjut.

Direktur Sengketa dan Konflik


Tanah dan Ruang Wilayah I
Supardy Marbun, S.H, [Link].
NIP. 19640410 199003 1 002.

1. Dalam suratnya Pengadu mengklaim memiliki tanah seluas 195.000 M2, yang diperoleh dari nenek
moyangnya sejak tahun 1900 berdasarkan surat waris No. 7171081008/03/VIII/2012 tanggal 3
Agustus 2012 yang diketahui oleh Lurah Kamagi dan Camat Mapanget. Pada tahun 1910 tanah
tersebut telah terdaftar dalam buku register No. 259 filio dan No. 64, terletak di Desa Kairagi,
Kecamatan Deimembe, Kotamadya Manado, Provinsi Sulawesi Utara;

2. Bahwa menurut Pengadu, pihaknya telah membayar Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan
(BPHTB) dan PPH serta menhajukan permohonan hak atas tanah kepada Kantor Pertanahan
Kotamadya Manado, namun sampai sekarang permohonan ha katas tanah tersebut belum ada tindak
lanjut penyelesaian yang pasti.

3. Berdasarkan hal tersebut, Pengadu keberatan selanjutnya mohon kepada Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk dapat membantu menyelesaikan permasalahan
tanah milik Pengadu tersebut.
1. Memerintahkan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Nusa
Tenggara Barat dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Timur untuk segera melakukan
penelitian data fisik dengan meng overlaikan peta, baik peta pendaftaran, peta bidang maupun peta
kehutanan, untuk memastikan apakah bidang tanah tersebut secara keseluruhan masuk dalam
kawasan hutan atau tidak dengan memperhatikan Peraturan Daerah tentang Tata Ruang Kabupaten
Lombok Timur, baik terhadap kelima sertipikat yaitu Sertipikat Hak Guna Bangunan No. 90, 91,
92, 93 dan 205/Desa Sekaroh atas nama PT. Benhur maupun terhadap bidang-bidang tanah atas
nama Masyarakat secara sporadik yang berada di atas area kawasan hutan Sekaroh.

2. Hasil Overlay peta pendaftaran kita dengan Kawasan Hutan agar supaya segera diinformasikan
kepada Disan Kehutanan dan atau dikoordinasikan dengan Dirjen Planologi dengan tembusan
kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.

1. Segera lakukan Overlay tehadap Peta Kawasan Hutan dengan Peta Pendaftaran Tanah yang kita
miliki, bilamana hasil overlay peta kita dengan kawasan hutan agar supaya segera diinformasikan
kepada Dinas Kehutanan dan atau dikoordinasikan dan atau dengan Dirjen Planologi tembusan
kepada Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
2

Anda mungkin juga menyukai