Paper Mata Kuliah:
“Konflik Berkepanjangan di Sudan Selatan: Implikasi terhadap Keadaan
Statelessness”
Nama Penulis
Prodi, Universitas
Konflik di Sudan telah menjadi sorotan internasional yang melibatkan serangkaian
pelanggaran hak asasi manusia yang mengkhawatirkan, ketidaksetaraan sosial, serta
ketidakstabilan politik dan ekonomi, yang jelas bertentangan dengan tujuan Perserikatan
Bangsa-Bangsa, yaitu mempertahankan perdamaian dunia dan melindungi hak asasi
manusia (Gurinda, 2019).
Pemerintahan kolonial Inggris di Sudan berlangsung lama, hingga akhirnya Sudan
memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1956. Setelah merdeka, isu tentang
status dan masa depan Islam tetap merupakan agenda politik, baik bagi kelompok maupun
individu yang berupaya memperjuangkan negara sekuler, multinasional, multireligius untuk
mengakhiri perang saudara antara utara dan selatan yang pecah setelah Sudan merdeka.
Pengelompokan antara Sudan bagian utara dan selatan yang berlatar belakang ras dan
agama yang berbeda menjadi titik awal dimulainya pertikaian dan ketegangan yang
menjadikan Sudan selama beberapa waktu terakhir ini dilanda konflik berkepanjangan.
Penduduk dari wilayah selatan sering kali tidak dilibatkan dalam sistem pemerintahan dan
pengambilan kegiatan politik.
Perang sipil pertama terjadi pada tahun 1955 sampai dengan tahun 1972. Perang
sipil yang pertama disebabkan karena pemerintahan yang berada di utara lebih didominasi
oleh penduduk dari Sudan bagian utara. Perang sipil pertama antara utara dan selatan
sempat terhenti beberapa waktu setelah dikeluarkannya perjanjian Addis Ababa. Perjanjian
Addis Ababa, dinegosiasikan pada bulan februari 1972 antara GoS dan SPLM/A. Suatu
perjanjian penghentian perang yang dikesepakati oleh kedua belah pihak. Ideologi politik
Sudan mengalami perubahan pada masa kepemimpinan Presiden Jafaar Muhammad An-
Numeiry setelah disepakatinya persetujuan Addis Ababa. Persetujuan yang ditanda tangani
1
tahun 1972 ini berisi kewenangan bagi Sudan bagian selatan untuk mendirikan badan
legislatif dan eksekutif secara terpisah dari pemerintah pusat yang ada diutara.
Perang sipil kedua terjadi antara tahun 1983-1005. Akhir dari perang sipil yang
kedua menandai awal era baru bagi perjalanan sejarah kedua wilayah yaitu utara dan
selatan. Perang sipil kedua berhenti setelah terjadi kesepakatan antara pihak SPLM/A
selaku tentara perjuangan dari wilayah selatan dengan wakil presiden pada saat itu yang
mewakili pemerintahan utara. Kesepakatan antara kedua belah pihak tertuang dalam
perjanjian CPA (Comprehensive Peace Agreemen) berisikan 7 poin penting yang salah satu
isinya membolehkan wilayah selatan untuk melakukan referendum setelah 6 tahun masa
interim untuk menentukan apakah Sudan tetap menjadi satu negara atau wilayah selatan
memilih untuk merdeka dan wilayah Sudan dibagimenjadi dua.
Sudan Selatan memperoleh kemerdekaannya pada tanggal 9 Juli 2011 melalui hasil
referendum yang dilaksanakan mulai tanggal 9 Januari 2011. Sebagaian besar rakyat
wilayah selatan memilih untuk memisahkan diri dari pemerintahan pusat Sudan dan
mendirikan negara baru Sudan Selatan. Sebagai negara yang baru merdeka, banyak
tantangan yang harus dihadapi oleh Sudan Selatan.
Pasca Kemerdekaan kondisi pendidikan dan perempuan di Sudan Selatan masih
sangat memprihatinkan. Banyak dari penduduk Sudan Selatan yang masih buta huruf.
Kondisi perempuan lebih miris dengan banyaknya pelecehan seksual, pemerkosaan dan
kekerasan dalam rumah tangga mereka. Selain itu, masalah kehilangan kewarganegaraan,
atau statelessness, merupakan isu serius di wilayah Sudan. Setelah pemisahan wilayah
Sudan menjadi dua negara, ribuan orang ditempatkan dalam situasi tidak memiliki
kewarganegaraan karena masalah administrasi, konflik, atau kegagalan dalam mengakui
hak kewarganegaraan mereka.
Republik Sudan memiliki kebijakan kewarganegaraan yang berlawanan dengan
ketentuan Deklarasi HAM Universal 1948 dan Pasal 1 ayat (2) convention on the reduction
of the statelessness on 1961. Hal ini terlihat dari amandeman Undang-Undang
kewarganegaraan Republik Sudan yang mengatur mengenai penentuan kewarganegaraan.
Tindakan pemerintah berupa penilaian secara sepihak berdasar hak pilih dalam
referendum dalam menentukan kewarganegaraan seseorang, serta pemberlakuan
2
pembatalkan kebangsaan Sudan secara otomatis berdasar penilaian sepihak oleh pemerintah
Republik Sudan sangatlah bertentangan dengan ketentuan perlindungan HAM. Sebab
dengan mengikut sertakan penilaian sepihak oleh pemerintah akan berakibat
menghilangkan jaminan perlindungan terhadap Hak kebebasan untuk Memberikan suara
dan hak kebebasan bergerak.
Selain itu, dalam prakteknya diketahui bahwa ada tindakan pemerintah Republik
Sudan yang berhubungan dengan pemberian kartu identitas biometrik bagi warga negara
Republik Sudan ditujukan untuk menghalangi warga Sudan Selatan di utara untuk
mendapat akses pelayanan sosial, karena layanan masyarakat yang diberikan Pemerintah
Republik Sudan hanya untuk warga negara yang memiliki kartu identitas biometrik
tersebut. Selain itu kepemilikan kartu identitas biometrik berdampak juga pada pemecatan
terhadap warga Republik Sudan Selatan di utara, dikarenakan tidak memiliki ID baru yang
menyatakan sebagai warga Republik Sudan Utara walaupun, orang tersebut disaat
bersamaan telah dilengkapi dengan surat izin dan izin tinggal seperti yang diatur dalam
Amandemen undang-undang kewarganegaraan Republik Sudan. Fakta tersebut
menunjukan bahwa kebijakan pemerintah Republik Sudan mengenai kewarganegaraan
tidak menjamin hak warga Republik Sudan Selatan untuk bebas dari tindakan
pendiskriminasian.
Tentunya isu kewarganegaraan yaang terjadi di Sudan ini tidak sesuai prinsip dalam
Deklarasi HAM Universal 1948 yang menyatakan bahwa setiap orang behak atas
nasionalitas. Serta dalam Pasal 1ayat (2) convention on the reduction of the statelessness on
1961 yang menetapkan bahwa setiap negara berkewajiban untuk menjamin tidak ada
penduduk yang menjadi stateless sebagai akibat adanya suksesi negara. Karena
pengaturannya mengenai penentuan kewarganegaraan yang berubah karena proses suksesi
negara, dilakukan dengan mengutamakan HAM. Dengan menghindari tindakan-tindakan
yang menimbulkan seorang kehilangan kewarganegaraannya yang menyebabkan orang
tersebut Statelessness ataupun sebuah tindakan deportasi masal terhadap beberapa warga
negara di suatu wilayah negara.