Desain Ulang PCP untuk Optimasi Produksi
Desain Ulang PCP untuk Optimasi Produksi
Abstract
Artificial lift method in an oil well is a production engineering that use the help of surface and Keywords:
downhole equipment in order to achieve optimum production when the well is not suited to use • optimum production
natural flow as the main lifting system. But in many cases, even after artificial lift method have using, • parameter
the optimum production has not achieved yet, thus resulting a redesign of the existing artificial lift is • progressive cavity
needed. This problem exists on E well that is owned by PT XYZ 1 Field Jambi using Progressive Cavity pump
Pump (PCP) as artificial lift. Aim: From the early calculation, it is found that the current production
of 17,16 bfpd has not reached the targetted production that is 48,57 bfpd. This shows a need for the
existing PCP to be [Link] and Results: Before redesigning the artificial lift, the
current value of Productivity Index (PI) is needed in order to make an Inflow Performance Relationship
(IPR) curve that will shows whether the oil well still worth producing or not. According to the results
of this research, the value of PI is 0,47 with the maximum production at 60,72 bfpd and optimum
production 48,57 bfpd. Meanwhile, the current production is only 17,16 bfpd. Conclusions: After the
redesigning completed using R & M Energy Systems calculation methods as the provider of the current
PCP, it is found that the optimal for revolution per minute (RPM), horse power (HP), torque values
and the drive head type are 101,5 RPM, 2,7 HP, 15 ft-lbs and there have to be a change in drive head
type AA4. To get results optimal production.
167
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
I. PENDAHULUAN
Secara umum minyak bumi yang dihasilkan dari suatu sumur, pada awalnya diproduksi
melalui sembur alam (natural flow),artinya minyak bumi keluar ke permukaan bumi secara alamiah.
Hal ini terjadi disebabkan tekanan reservoir yang mendorong minyak bumi masih mampu untuk
mengalirkan minyak secara alami. Sejalan dengan waktu berproduksi terjadi penurunan tekanan
reservoir dan keadaan ini menyebabkan berkurangnya nilai ekonomis sumur tersebut, sehingga
harus segera diatasi agar dapat berproduksi secara optimal. Permasalahan sumur yang telah
mengalami penurunan kemampuan berproduksi yang diakibatkan oleh penurunan tekanan
reservoir dapat diatasi dengan cara metoda pengangkatan buatan (artificial lift) (Brown, 1977).
Tujuannya adalah mengangkat fluida dari dasar sumur kepermukaan dan mencapai laju produksi
yang diinginkan.
Salah satu solusi untuk mengatasinya adalah dengan metoda pengangkatan buatan ini yaitu
menggunakan pompa Progressive Cavity Pump (PCP) (Nelik, 2005). PCP merupakan salah satu alat
yang digunakan untuk melakukan lifting minyak dari sumur-sumur produksi. Permasalahan ini
sesuai dengan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisa dan mengetahui produktivitas
sumur, laju produksi maksimum (Qmaks) sumur dari kurva IPR (Inflow Performance Relationship),
menentukan laju produksi optimal (Qopt) dan laju aliran kritis sumur serta menganalisa kinerja
progressive cavity pump (PCP) yang digunakan agar dapat mengoptimalkan laju produksi pada
Sumur. Analisa kinerja PCP meliputi penentuan Total Dynamic Head (TDH), model pompa, RPM
pompa, HP motor, jenis drive head, ukuran rod, ukuran motor penggerak, sheave dan belt sesuai
dengan data produksi sumur, konfigurasi sumur serta karakteristik fluida (Lake, 2007).
II. METODOLOGI
Untuk mendapatkan hasil yang baik suatu penelitian harus direncanakan sebaik mungkin,
karena metodologi yang menggambarkan jalannya proses penelitian tersebut harus merancang
secermat mungkin. Berikut bagan aliran metodologi penelitian pada Gambar 1.
168
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
Studi Literature
Pengumpulan Data
Pengolahan Data
Analisis Data
• Nama Lokasi : E
• Nama Sumur : P
• Daerah/Region : South Sumatra
• Pumping Unit : Progressive Cavity Pump
• Type Pompa : 30-N-045
• Tubing : 2-7/8”
• SuckerRod : 7/8”
• Rpm : 75.0
• Klasifikasi Sumur : Tegak/Vertical
169
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
Data sonolog sumur, merupakan data yang didapatkan dari hasil tes sonolog pada sumur
yang dilakukan secara berkala untuk mengetahui kondisi sumur. Data sonolog sumur yang akan
digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.
170
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
Pemasangan Progressive Cavity Pump (PCP) pada Sumur E dengan tujuan untuk
mendongkrak laju produksi sumur yang mengalami penurunan (Robbins dan Myers, 1989).
Kenaikan produksi yang signifikan ini menunjukkan bahwa PCP merupakan artificial lift yang
mampu untuk mengatasi penurunan produksi Sumur E. Namun, tetap harus dilakukan penilaian
kemampuan produksi sumur agar diketahui ketercapaian nilai produksi optimal produksi dari
suatu sumur adalah 80 % dari produksi maksimal yang dapat diketahui dari kurva IPR. Lalu akan
dilakukan perbandingan dengan produksi aktual, apabila produksi optimal sumur belum tercapai,
maka harus dilakukan perancangan ulang PCP yang terpasang meliputi berbagai parameter PCP.
Hasil dari perancangan ulang ini akan di aplikasikan pada PCP terpasang dengan cara mengubah
parameter yang tidak sesuai dengan hasil perancangan ulang (Robin and Myers, 1989).
Gambar 2. Produksi Aktual Sumur E pada Bulan Agustus sampai Bulan Oktober
Bulan September dilakukan evaluasi dan perhitungan perencaan ulang, dapat dilihat pada
Gambar 2 Dibulan oktober perencaan ulang belum dilakukan dikarena produksi sumur tetap
optimal.
171
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
Kurva IPR merupakan bentuk grafis dari PI sumur yang menunjukkan grafik dari tekanan
aliran dasar sumur terhadap laju produksi sumur. Kurva IPR yang digunakan adalah dua fasa
dengan metode vogel. Penggambaran Kurva IPR dua fasa dilakukan dengan membuat asumsi
Pwf/Ps agar didapatkan produksi sumur dalam berbagai kondisi tekanan di formasi (Saveth and
Klien, 1998).
Melalui Kurva IPR dua fasa ini akan didapatkan laju produksi maksimum dari sumur. Lalu
dapat ditentukan laju produksi optimal sumur yang merupakan 80% dari laju produksi
maksimum. Setelah laju produksi optimal didapatkan, akan dilihat ketercapaian laju produksi
aktual dengan cara membandingkan nilai kedua laju produksi tersebut. Rumus yang digunakan
pada pembuatan kurva IPR dengan masing-masing asumsi Pwf/Pr tersebut adalah sebagai
berikut:
𝑄 𝑃𝑤𝑓 𝑃𝑤𝑓 2
𝑄𝑚𝑎𝑥
= 1 − 0,2 𝑥 ( 𝑃𝑧
)− 0,8 𝑥 ( 𝑃𝑠
) (2)
172
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
1 0,1 0 60,72
2 0,2 21,56 59,02
3 0,3 43,13 56,34
4 0,4 64,7 52,70
5 0,5 86,26 48,10
6 0,6 107,82 42,50
7 0,7 129,39 35,94
8 0,8 150,95 28,41
9 0,9 172,52 19,91
10 0,10 194,08 10,44
11 0,1 215,65 0
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa Qmax dari sumur tersebut adalah 60,72 bfpd, maka
nilai Qoptimum adalah sebagai berikut:
Setelah dibuat kurva IPR dua fasa Gambar 3, nilai laju produksi actual dan laju produksi
optimal dapat di plot untuk menunjukkan perbedaan yang signifikan. Dari data dan perhitungan
di atas, dapat diketahui bahwa laju produksi aktual hanya sebesar 17,16 bfpd dimana laju
produksi optimal sumur adalah 48,57 bfpd.
Ketidak tercapaian produksi optimal sumur menunjukkan bahwa terdapat kesalahan pada
artificial lift terpasang. Faktor yang mempengaruhi hal ini adalah desain dari PCP terpasang
yang belum tepat, sehingga harus dilakukan perancangan ulang agar produksi optimal sebesar
48,57 bfpd dapat tercapai.
173
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
Perancangan ulang PCP terpasang memerlukan data produksi, data sumur dan nilai laju
produksi optimal berdasarkan kurva IPR (Gambar 3). Setelah data awal tersebut telah didapatkan,
maka perlu dilakukan perhitungan parameter dari desain PCP. Parameter pertama adalah Pump
Setting Depth dan produksi optimal yang diinginkan untuk menentukan seri pompa yang akan
digunakan. Kedua adalah perhitungan Total Dynamic Head (TDH) yang akan digunakan untuk
menentukan nilai RPM, HP dan torsi yang diperlukan untuk menentukan tipe drive head yang
akan digunakan. Setelah keseluruhan parameter telah diperhitungkan, maka dapat dilakukan
perbandingan dari PCP terpasang dengan hasil dari perancangan ulang (Wittrisch and Cholet,
2013).
Pump Setting Depth (PSD) merupakan kedalaman terbaik untuk pemasangan pompa pada
sumur yang dipengaruhi terutama oleh Dynamic Fluid Level (DFL) atau ketinggian dari fluida
formasi saat sedang berproduksi (Noonan, 2011). Dan dalam perhitungan satuan DFL dalam ft
tetapi di kompresi ke meter. Berikut data perhitungan untuk mencari nilai dari PSD Tabel 3.
174
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
Maka Pump Setting Depth di sumur E yang ideal adalah pada kedalaman 492 m. Nilai dari
Pump Setting Depth memiliki pengaruh terhadap penentuan nilai Friction Head yang akan
ditentukan pada perhitungan berikutnya. Nilai PSD tidak mengalami perubahan setelah dilakukan
perancangan ulang sehingga dapat dinyatakan nilai PSD yang digunakan sudah optimal (Nesbitt,
2011).
Pertamina EP Asset 1 Field, maka ditetapkan seri pompa 30-N-045 adalah yang paling tepat
untuk digunakan pada Sumur E dengan kemampuan berproduksi maksimal 45 bfpd/100 rpm dan
kedalaman maksimal untuk lifting 3000 ft atau 914 m. Spesifikasi lengkap dari pompa 30-N-045
dapat dilihat pada Gambar 4. Seri pompa 30-N-045 telah digunakan pada sumur x sehingga
dapat dipastikan bahwa parameter ini telah optimal (Wittrisch and Cholet, 2013).
Perhitungan Total Dynamic Head (TDH) merupakan parameter utama dalam perencanaan
PCP yang akan digunakan dalam penentuan nilai HP dan Torque pompa. Sebelum dilakukan
perhitungan TDH, diperlukan perhitungan pada Tabel 4 beberapa variabel yang berhubungan
langsung dengan TDH, yaitu Friction Head (Hf), Friction Loss (F), dan nilai Head Tubing (Ht). Nilai
dari Dynamic Fluid Level (DFL) juga diperlukan untuk perhitungan TDH (Lobanoff and Ross, 2018).
175
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
176
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
Maka, nilai dari Total Dynamic Head untuk perancangan ulang PCP sumur E adalah 209 m.
Nilai TDH akan digunakan dalam grafik penentuan HP, RPM dan Torque. Ketiga parameter ini
akan digunakan untuk menentukan tipe drive head yang tepat. Hasil dari perhitungan TDH dapat
dilihat pada Tabel 5.
Sumur X -
Laju Produksi 48,5 Bfpd
Pwh 5 psi
DFL 205,11 m
PSD 322 m
Friction Loss 0,341 -
Hf 0,111 M
Ht 3,7 m
177
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
Nilai dari Horse Power (HP) yang digunakan pada pompa dapat ditentukandengan
menggunakan Pump Pefromance Curve atau dengan rumus matematis yang memerlukan TDH
dan laju produksi dari sumur E, plot nilai pada kurva ini dapat dilihat pada Gambar 5. Nilai HP
yang didapatkan dari kurva tersebut harus dikalikan dengan Safety Factor (SF) sebesar 1,5. Dari
hasil perhitungan, untuk produksi gross sebesar 48,57 bfpd diperlukan nilai HP sebesar 1,8 HP.
Setelah dikalikan dengan SF sebesar 1,5 didapatkan nilai HP yang tepat adalah 2,7 HP.
Gambar 5. Pump Performance Curve untuk menentukan Nilai HP dan RPM (R&M Energy Systems, 2005)
Perhitungan RPM pompa didasarkan pada Total Dynamic Head (TDH) dan laju alir produksi
yang diperlukan. Kecepatan putar pompa yang direkomendasikan oleh produsen yakni tidak
lebih dari 300 RPM karena nilai RPM yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan keausan elastomer.
Penentuan nilai RPM yang utama dapat dilakukan dengan menggunakan pump performance
curve atau dengan menggunakan rumus matematis dimana nilai TDH dan Laju Produksi juga
diperlukan untuk mengetahui nilai RPM yang tepat (Gambar 5). Nilai RPM yang didapatkan
178
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
sebesar 101,5 RPM. Sedangkan nilai RPM pada PCP terpasang adalah 75 RPM, hal ini
menunjukkan bahwa nilai tersebut belum optimal.
Penentuan nilai torque dilakukan dengan melakukan plot nilai TDH ke dalam kurva
performance based on torque (Gambar 6). Kurva ini didapatkan dari produsen pompa tanpa
menggunakan rumus tertentu. Hasil plot nilai TDH ke dalam kurva tersebut menunjukkan bahwa
torque yang tepat untuk hasil perancangan ulang adalah sebesar 15 ft- lbs.
Gambar 6. Pump Performance Curve untuk menentukan Nilai Torque (R&M Energy Systems, 2005)
Pemilihan drive head didasarkan pada HP yang diperlukan, torque yang diterima oleh
pompa, dan RPM. Nilai dari parameter yang dijadikan penentuan pemilihan drive head dapat
179
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan drive head yang tersedia, ditetapkan bahwa drive head yang
tepat adalah R&M Energy AA4.
Berdasarkan laju produksi optimal dan aktual (Tabel 6) dan perhitungan untuk desain ulang
PCP, dapat dilakukan perbandingan (Tabel 7).
Qoptimal Qaktual
Qmax (BFPD)
(BFPD) (BFPD)
Perencanaan
Parameter Terpasang Keterangan
Ulang
Laju Produksi 17,16 Belum Optimal 48,57
Seri Pompa 30 N 045 Optimal 30 N 045
PSD 322 Optimal 322
RPM 75 Belum Optimal 101,5
HP 0,7 Belum Optimal 2,7
Torque 15 ft-lbs Optimal 15 ft-lbs
Drive Head AA4 Optimal AA4
Dari data yang telah dikumpulkan dan di analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk
sumur E dengan target produksi sebesar 48,57 bfpd dengan target oil 13,11 bopd, pompa yang
tepat adalah Moyno Down Hole Pump 30-N- 045 dengan kemampuan produksi 45 bfpd / 100rpm
dan dapat mengangkat fluida dari kedalaman maksimal 3000 ft atau 914 m. Sedangkan elastomer
180
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
yang tepat berdasarkan pengalaman di lapangan adalah elastomer Ultra Flex. Kecepatan polished
rod yang dibutuhkan adalah sebesar 101,5 rpm dan tenaga yang diperlukan adalah 2,7 KW
dengan torque 15 ft- lbs. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat digunakan drive head R &
M Energy AA4.
Pada Tabel 8 keterangan belum optimal menunjukkan bahwa harus dilakukan perubahan
nilai parameter tersebut agar mendapatkan hasil produksi yang optimaldengan target 48,57 bfpd
dan mendapatkan oil sebesar 13,11 bopd dengan 2 perforasi menjadi 1 ipr. Lalu dapat
disimpulkan terdapat banyak perubahan yang harus dilakukan pada parameter PCP terpasang,
seperti nilai RPM yang harus ditingkatkan hingga 101,5 RPM. Perubahan lainnya adalah pada HP
yang dibutuhkan menjadi 2,7 KW.
Pada Gambar 7 kita bisa memilih Drive Head yang dapat kita gunakaan sesuai dengan data
yang di dapat.
181
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
Dari hasil penelitian pada Sumur E PT. XYZ Asset 1 Field Jambi dapat diambil beberapa
kesimpulan, yaitu:
1. Faktor yang perlu diketahui untuk menentukan kemampuan produksi suatu sumur adalah
productivity index (PI), kurva IPR yang meliputi laju produksi maksimum dan laju produksi
optimum. Dari semua faktor tersebut, dapat diketahui bahwa Sumur E memiliki kemampuan
produksi dengan nilai PI 0,47 dan laju produksi maksimal 60,72 bfpd. Namun laju produksi
yang didapat senilai 17,16 bfpd belum tercapai yang ditunjukkan oleh nilai produksi
maksimal sebesar 60,72 bfpd maka pada sumur x dapat dioptimalkan dengan mengganti
beberapa parameter yang sudah terpasang dengan cara menghitung ulang untuk
pergantian beberapa parameter yang diperlukan untuk mengoptimal kan laju produksi yang
didapat.
2. Dari hasil perhitungan ulang dari pompa yang terpasang dengan kemampuan produksi PI
sebesar 0,47 dengan mendapatkan laju produksi aktual sebesar 17,16 bfpd dengan
menggunakan pompa pcp type 30-N-045 dengan rpm sebesar 75 rpm, hp sebesar 1 kw dan
torque sebesar 15 ft-lbs. Dapat dioptimal kan sebesar 48,57 bfpd dengan oil yang didapat
13,11 bopd dengan mengganti beberapa parameter seperti parameter rpm kita naikan
menjadi 101,5 rpm dan hp 2,7 kw.
V. SARAN
Dilakukan penggantian parameter PCP dengan hasil perancangan ulang penelitian, agar
produksi optimal sumur dapat tercapai. Perawatan dan pemeriksaan PCP terpasang secara
berkala akan memberikan manfaat yang besar dikarenakan jika PCP selalu dalam keadaan terjaga,
produksi akan tetap optimal.
Kelebihan dalam perhitungan kali ini adalah dapat meningkatkan dari produksi minyak dan
perusahaan mendapat keuntungan yang lebih dari produksi minyak. Kelemahan dalam
perhitungan kali ini adalah dapat mengurangi umur dari PCP itu sendiri. Karena ketika terjadi
penambahan RPM pada motor, maka motor itu sendiri akan mengalami panas yang berlebihan
dan mengakibatkan umur motor akan berkurang.
182
Penggunaan Peta Soi dalam Optimasi Penentuan Lokasi Sumur
Sisipan dengan Model Reservoir 3-Dimensi: Studi Kasus
Pengembangan Lapangan Cal Lapisan Ca
Limbe, Djumantara, Wibowo
Christian Wittrisch, dan Henri Cholet. 2013. Progressing Cavity Pumps Oil Well Production Artificial
Lift. Paris: France.
Kermit E, Brown. 1977. The Technology of Artificial Lift Method. Petroleum Publishing Co, USA.
Lake, L.W. 2007. Petroleum Engineering Handbook: Production Operations Engineering. Texas:
Society of Petroleum Engineers.
Nelik, L. 2005. Progressive Cavity Pump, Downhole Pumps and Mud Motor. Gulf Publishing
Company: Texas.
Rahmansyah, I. 2012. Perencanaan dan Trouble Shooting Progressive Cavity Pump. Jakarta:
PT Pertamina-Manajemen Produksi Hulu.
Robbins dan Myers. 1989. Moyno Down Hole Pump Manual. Brosur Robbins and Myers. Company:
USA.
Robbins dan Myers. 1989. Material of Cavity Pump Construction Selection Tables. Amerika Serikat:
Brosur Robbins and Myers Company.
Saveth, K.J., dan Klein, S.T. 1998. The Progressing Cavity Pump Principle and Capabilities. SPE
18873.
Val S. Lobanoff, Robert R. Ross. 2018. Centrifugal Pumps: Design and Application. Amerika Serikat.
183