PREVENTIVE MAINTENANCE
MULTIFLO
PT. KALIMANTAN PRIMA PERSADA
I. PENGETAHUAN OLI
1. Fungsi Oli Pelumas secara Umum
Sebagai Pelumas
Sebagai Penyekat
Sebagai Pendingin
Sebagai Bantalan
Sebagai Anti Karat
Sebagai Pembersih
Sebagai Pemindah Tenaga
2. Klasifikasi Oil
Engine Oil CA, CB, CC, CD, CE, CF / 0API SAE 10 ~ 50
Hydraulic Oil ISO VG ~ 32 s/d ISO VG ~ 1500.
Gear Oil AGMA, GL-1 s/d GL-8A (SAE 60 ~ 250).
3. Standard Kekentalan Hydraulic Oil
Yaitu ISO - VG (Internasional Soceity of Organization - Viscosity Grade)
4. Standard Kekentalan Engine Oil yaitu : SAE (Soceity of Automatic
Engineering)
5. Multi Grade Oil:
Oli yang mempunyai sifat kekentalannya dapat menyesuaikan dengan
perubahan temperatur :
Contoh. SAE 20 W - 50.
Artinya : Untuk ambient temperatur 200C, oli tersebut mempunyai
kekentalan SAE 20W, tapi pada temp. 100'C, oli tersebut akan
mempunyai kekentalan SAE 50.
6. Pengertian Kontaminasi & Deteriorasi
> Kontaminasi adalah peristiwa rusaknya oli karena pengaruh dari luar.
Penyebab Kontaminasi
Debu
Kotoran
Air, dan sebagainya
> Detiriorasi adalah peristiwa rusaknya oli karena pengaruh didalam oli itu
sendiri.
• Karena proses pembakaran
• Beroperasi pada tempat tinggi
• Reaksi kimia cepat.
• Karena proses pembakaran
7.. Aplikasi OLI terhadap pengaruh temperatur
Contoh :
Untuk Engine Oil Pan
- Ambient Temp. < -10'C
10'C s/d 10'C Gunakan SAE 10 W
- Ambient Temp: 0 - > 30 'C Gunakan SAE 30
- Apabila memakai Multi Grade Oil, daxi kedua Contoh ambient temperatur
tersebut, maka harus memakai Oli SAE 10W - 30. Untuk lebih detail : baca
ba
OMM ( Operation and Maintenance Manual).
8.. Pengertian Oxidasi & Demulsibility.
Oksidasi adalah suatu peristiwa kimia sebagai berikut :
Oli + 02 C02 + H20
panas > 500C.
• Demulsibility adalah Kemampuan oli untuk memisahkan dirinya terhadap
air.
9. Arti Viscosity Index :
Adalah Suatu angka yang menunjukkan ketahanan (kestabilan oli terhadap
perubahan temperatur. Angka Viscositas Index ini bervariasi sebagai
berikut:
Viscositas Index, V I = 1 ~ 29 Rendah
V I = 30 ~ 79 Sedang
V I = 80 ~ 100 Tinggi
V I =100 ~ up Sangatbaik.
Disarankan :
Untuk Standard Industri angka VI berkisar antara 90 ~ 100
10. Mengapa oli harus diganti ?
Sebab, setelah oli dipakai akan mengalami kerusakan (perubahan
kekentalan) akibat adanya:
Oxidasi (tidak dapat dihindari)
TimbuInya Kontaminasi & Deteriorasi, dan
Angka TBN-nya turun.
11. Cara Penanganan 0Ii
• Cara Penyimpanan Oli harus terlindung / tertutup terhadap sinar matahari
dan hujan.
• Cara Pengisian : -jangan membiarkan pipa isap pump (oil pump)
menyentuh dasar drum pada saat mengisi dan pipa outlet
harus betul - betul bersih.
- Pipa & pompa oli harus selalu bersih (kalau bisa jangan di
campur dengan pompa solar).
12. Pengertian & fungsi additive (additive asli dari oli)
Pengertian Additive: Adalah zat carmpuran yang ditambahkan pada Base Oil
untuk mempertinggi ketahanan & kemampuan oli
Fungsi Additive ini bermacam-macam seperti :
Tahan terhadap temperatur tinggi
Oilness
Anti busa, dan sebagainya.
13. Arti & Tujuan TBN
• Arti TBN (Total Base Number)
Adalah Angka yang menunjukkan banyaknya unsur kandungan BASA di
dalarm Oli.
• Tujuan TBN:
Adalah untuk menetralkan ASAM yang timbul didalam oli karena
pengaruh kadar sulfur pada fuel.
Reaksinya sebagai berikut:
S + 02 S02
S02 + H20 H2S04
H2S04 adalah merupakan ASAM, dan harus dinetralkan sebab akan
menimbulkan proses karat.
Catatan :
Oli yang telah terpakai maka angka TBN-nya akan turun (untuk
Indonesia Angka miniinuin yang diizinkan adalah 12).
14. Pengertian Synthetic Oil
Synthetic oil adalah oli yang menggunakan base oil-nya bukan dari CRUIDE
OIL, minyak nabati / hewani, tapi dibuat khusus secara kimiawi, sehingga
mempunyai ketahanan & kemampuan yang lebih baik !!
Contoh: TOP ONE, POWER UP, OMEGA, DAN LAIN-LAIN.
II. PENGETAHUAN GREASE
1. Fungsi Grease secara umum adalah
- sebagai pelumas padat
- sebagai pelindung karat
2. Standar kekentalan Grease adalah NL-GI 000 – 6 (National Lubricating
Grease Institute)
3. Applikasi Grease.
Adalah berbeda didalam penggunaannya. Grease yang akan dipakai untuk
bagian dalam berbeda dengan grease untuk penggunaan pada bagian luar.
Jadi tidak boleh menggunakan grease semaunya. Untuk penggunaan lebih
lanjut dan benar harus mengacu. pada standar grease yang dianjurkan. Lihat
petunujuk dan saran dari factory-nya.
Contoh : Shell Albida HD2, adalah grease untuk aplikasi high performance
high -
temperature - extreme pressure.
Contoh : Shell Albida HDX2, adalah grease untuk apilkasi high performance -
extreme pressure multi purpose.
Contoh : Shell Maleaus GL, adalah grease untuk aplikasi, free extreme
pressure -
open gear lubrication.
Contoh : Shell Retinax Grease LX, adalah grease untuk aplikasi, high temp -
wheel bearing grease.
4. Cara penanganan grease adalah
o Simpan ditempat yang terlindung dari panas matahari dan hujan.
o gunakan grease sesuai spesifikasi yang direkomen.
o grease drum harus tertutup rapat.
III. PENGETAHUAN BAHAN BAKAR (FUEL)
1. Jenis fuel yang digunakan pada Diesel Engine adalah Fuel Light Oil, ASTM D
975 NO. 2. (ASTM = Association Standard Testing Material).
Fuel oil adalah salah satu group dari oil yang didapatkan dari refining crude
oil pada suatu titik didih tertentu. Ketika crude oil dipanaskan, komponen-
komponen yang mempunyai titik didih rendah menguap terlebih dahulu,
diikuti berurutan oleh komponen-komponen yang berikutnya sesuai titik
didihnya.
Gambar disamping menunjukan suatu proses refining crude oil secara garis
besar. Dibagian dalam tower fractionating berisi rak-rak dengan tingkatan-
tingkatan berbeda.
KEROSENE
Kerosine adalah bahan bakar dengan rentang titik didih dari 170 sampai
2500C, dan digunakan untuk bahan bakar pesawat udara. Jika kerosene
digunakan sebagai bahan bakar engine diesel, akan terjadi problem-
problem sebagai berikut.
1. Fuel bekerja melumasi bagian-bagian dari system fuel yang bergesekan,
seperti plunger dalam pompa injeksi atau injector nozzle. Akan tetapi,
kerosene mempunyai viscosity rendah, sehinggai tidak dapat melumasi
bagian-bagian bergersekan secara sempurna
2. Dibandingkan dengan diesel fuel (light/heavy), output power dengan
menggunakan kerosene turun 5 ~ 10%.
FUEL (Light Diesel Oil)
Fuel ini adalah bahan bakar dengan rentang titik didih dari 240 sampai
3500C, dan di-distilasi setelah kerosene. Dari semua jenis-jenis bahan bakar,
minyak ini mempunyai sifat-sifat yang paling cocok untuk ignition,
combustion, dan viscosity yang diperlukan oleh engine diesel high-speed
yang kecil, sehingga hampir semua engine diesel high-speed, termasuk
engine-engine untuk mesin-mesin konstruksi, menggunakan fuel (light
diesel oil).
FUEL (Heavy Diesel Oil)
Fuel ini mengandung light diesel oil yang masih bericampur minyak residu
(residual oil), dan rentang titik didihnya sama dengan light diesel oil. Minyak
diesel berat ini digunakan sebagai bahan bakar boiler (mesin uap), heating
furnace (tungku pemanas), atau engine diesel medium-speed ukuran besar
atau medium.
Tetapi dibandingkan dengan fuel/ light Diesel oil, heavy oil mempunyai
problem-problem berikut, sehingga minyak ini hampir tidak pernah
digunakan sebagai bahan bakar engine untuk diesel putaran tinggi (hig-
speed):
• Banyak mengandung pengotoran-pengotoran, sehingga system bahan
bakar pada engine mudah menjadi buntu.
• Mempunyai viscosity tinggi, sehingga partikel-partikel dari kabut minyak
yang diinjeksikan ukurannya besar-besar, sehingga mengakibatkan
pembakaran kurang sempurna cenderung menghasilkan partikel-partikel
carbon. Dengan demikian, bagian-bagian yang bergesekan mengalami
keausan lebih cepat, dan exhaust gas berwarna hitam (black smoke).
Kandungan sulfur tinggi, sehingga lebih menambah keausan korosif
2. Kriteria Seleksi Fuel
Kandungan Carbon Residu (Residual Carbon Content)
Kandungan residu carbon secara basic tidak termasuk didalam minyak diesel
light (residu carbon terkandung didalam heavy oil). Sebagai suatu ukuran
kecenderungan untuk deposit carbon dari pembakaran, fuel dikabutkan dan
dibakar dibawah kondisi tertentu untuk menghasilkan carbon, dan
kandungan residu carbon digunakan untuk menunjukan hasil test.
3. CETANE NUMBER (CETANE INDEX)
Cetana number adalah suatu nilai yang digunakan untuk menunjukan
kemampuan penyalaan dari fuel, dan suatu index yang penting pengaruhnya
terhadap kemudahan untuk menghidupkan engine dan pembakaran( output)
pada engine diesel putaran tinggi. Khususnya didaerah dingin, suatu nilai
cetane tinggi diperlukan untuk memudahkan starting, warming up, dan
mengurangi timbulnya gas buang warna putih (white smoke).
3. Pengaruh kadar Sulphur pada fuel terhadap jadwal pergantian oli adalah
sbb:
Apabila kadar Sulphur berkisar antara 0,5 - 1%, maka jadwal pergantian
oli adalah setengah dari jadwal regulernya.
Apabila kadar Sulphur > 1 %, maka jadwal pergantian oli menjadi
seper-empat dari jadwal regulernya.
3. Akibat fuel bercampur Kerosin.
Sifat kerosin tidak bisa berfimgsi sebagai pclumas, oleh sebab itu faktor
gesekan benda-benda yang bersinggungan menjadi lebih besar.
Kerosin memiliki kadar Sufflu. yang sangat tinggi, 1 sehingga bisa
mempercepat proses korosi.
4. Cara penanganan fuel
o Penyimpanan harus terlindung dah panas matahari dan hujan.
o Main tank harus dilengkapi dengan water drain cock.
o Kalau di dalam drum, pemasangan pipa isap pompa (saat memompa
fuel) haruslah ± 20 cm dari dasar drum (jangan sampai menyentuh dasar
drum).
IV. PENGETAHUAN AIR (WATER)
1. Syarat penggunaan air untuk Radiator adalah:
Bersih, bening dan pH = 7
Gunakan City water.
2. Alat untuk mengukur tingkat keasaman air
pH tester / pH meter
kertas lakmus.
3. Fungsi Anti Freeze adalah
Untuk mencegah air menjadi beku saat ambient temperature < 00C.
Anti Freeze yang digunakan adalah Ethylene Glycol Base.
Contoh Anti Freeze: AF-ACL atau AF PTL
4. Pengertian Radiator Penetran : ,
Adalah Suatu zat kimia yang dicampurkan kedalam air radiator untuk
mencegah timbulnya karat pada sistim pendingin. Tapi syarat yang harus
diingat adalah : untuk pencampuran ini harus diketahui dulu berapa pH air
yang dipakai dan jenis dari penetran itu sendiri.
V. PENGETAHUAN FILTER
1. Fungsi dan Klasifikasi filter.
Fungsinya sebagai penyaring.
Klasifikasinya : (Menurut standar ISO)
Platted Paper Element
Wire Mesh Filter
Metal Edge Filter
Menurut Standar SAE:
- Strainer
- Screen
- Filter; fine filter & Coarse filter
-
2. Pengertian Filtering Area adalah luas bidang Penyaringan sebuah filter
3. Arti Mesh dan Mikron
Mesh adalah jumlah pori-pori persatuan inch pangkat dua pada sebuah
filter.
Mikro adalah besarnya diameter pori-pori sebuah filter.
4. Model Filter
Cartridge dan element.
5. Jenis-jenis Air Filter
Wet Type dan Dry Type.
6. Penanganan Filter:
- Tidak boleh disimpan pada daerah yang lembab
- Tidak boleh penyok dan jatuh
- Harus terbungkus rapi (jangan terbuka packingan-nya)
VI. PENGETAHUAN COMPONENT
1. Fungsi Water Separator adalah alat untuk memisahkan/mendeteksi antara
air dan fuel.
Gb. Water Separator
2. Fungsi Dust Indicator : adalah untuk mengetahui kebuntuan Air Cleaner.
3. Fungsi Corrosion Resistor : adalah untuk mencegah timbulnya karat (berupa
larutan kimia magnesium) untuk ph air normal.
4. Fungsi Evacuator Valve : adalah unluk membuang debu pada Air Cleaner
Housing saat engine akan mati.
5. Fungsi Ejector Pipe : adalah untuk menyedot debu dan kotoran dari
Pre-Cleaner secara otomatis untuk dibuang ke atmosfir melalui exhaust pipe
saat engine hidup.
6. Fungsi Pre-Cleaner :
adalah untuk menyaring debu yang/partikel
yang besar-besar. (sebagai penyaring awal).
7. Jenis Pre-Cleaner : SikIon dan Multi SikIon (komaclone).
VII. PENGETAHUAN TOOLS
1. Tachometer.
Fungsinya : alat untuk mengukur putaran
Satuan : revolution Per- Minute (RPM)
2. Compression test KIT.
Fungsinya : Seperangkat alat ukur, untuk mengukur tekanan kompresi di
dalarn cylinder.
Satuan :Kg/cm2; PSI
3. Blow By Checker.
Fungsinya : Alat untuk mengukur tekanan didalarn engine crankcase
Satuan : mmH20; M3 /menit.
4. Temperatur Tester Kit
Fungsi : Alat untuk mengukur suhu.
Satuan : OC, OF
5. Handy Smoke Checker
Fungsi : alat untuk mengukur warna exhaust gas.
Satuan : persentase warna, konversi ke bosch index.
6. Pressure Gauge
Fungsi : alat untuk mengukur tekanan
Satuan : Kg/CM2, Bar, PSI.
7. Radiator Cap Tester
Fungsi : Alat untuk mengukur tekanan didalam radiator, untuk mendekati
kebocoran cooling system
Satuan : Kg/cm2, Bar.
8. Anemometer.
Fungsi : Untuk mengukur kecepatan angin, dan mendeteksi kebuntuan fin
radiator.
Satuan : M/ sec.
9. Dial Gauge
Fungsi : [Link] untuk mengukur panjang, dalam dsb
Satuan : mm, Inch.
10. Thermometer / Thermistor
Fungsi : alat untuk mengukur suhu
Satuan : OC, OF.
11. Jangka Sorong Mistar
Fungsi : Sebagai alat ukur panjang lebar dsb.
Satuan : mm, cm, M.
12. Convex Scale
Fungsi : Sebagai alat ukur jarak / panjang.
Satuan : cm, M.
13. Hydro Tester
Fungsi : Untuk mengukur berat jenis Electrolyte (air batere).
14. Flow Meter
Fungsi : Alat untak mengukurjumlah aliran (flow)
Satuan : m3/det, cm3 / det.
15. Multi Tester :
Fungsi : Alat untuk mengukur Arus, tegangan dan tahanan.
Satuan Arus = Ampere
Tegangan = Volt
Tahanan = ohm.
17. Wiring Hardners
Fungsi : alat untuk membantu mempermudah, pengukuran tegangan,
tahanan.
Satuan : -
18. Push Pull Scale
Fungsi : alat /tool yang digunakan untuk mengukur besamya operating
force.
Satuan : -
20. Air Leak Tester.
Fungsi : Alat untuk mengukur kebocoran udara.
Satuan : Kg / CM2.
21. Wear Gauge- Kit.
Fungsi : alat untuk mengukur tingkat keausan komponen undercarriage.
Satuan : mm; cm; M.
22. Harness Checker / Checker Ass'y / Systern Checker
Fungsi : alat untuk mengukur engine rotating speed, pump discharge
pressure; TVC command current & throttle command voltage.
Satuan : Rpm; Kg/CM2; mA; Volt.
6 7
Keterangan:
1. Engine
2. Transmisi
3. Coupling
4. Bare shaft
5. Impeller
6. Vacuum pump
7. Vacuum tank
ENGINE
TRANSMISSION
1. Oil Temperature ( 390 & 420 )
Mengetahui temperature oil pada saat transmission bekerja, untuk
memastikan oil cooler bekerja normal dan kapasitas oil dalam case
transmission sesuai dengan standartnya.
Prosedure
- Periksa transmission oil level
- Radiator coolent temperature : 70 -90 °C (temperature kerja)
- Periksa oil temperature transmission gauge pada monitor panel.
2. Oil Level
Mengetahui jumlah oil pada case transmission.
Prosedur
- Pemeriksaan oil level dilakukan pada saat engine mati.
- Tarik deep stick, bersihkan oil dan masukkan kembali deep stick kedalam
transmission case.
- Tarik kembali dan pastikan oil level dalam range hi – lo
3. Lever Control Forward & Neutral ( 390 & 420 )
Mengetahui kinerja lever control pada saat posisi Forward (engange) dan
Neutral (disengage)
Prosedure
- Tari Lever control ke posisi neutral pada saat engine mati.
- Hidupkan engine low idle, pastikan out put shaft transmission tidak
berputar.
- Pada kondisi Low idle / 800 rpm, dorong lever control transmission ke
posisi forward (engage).
- Pastikan outpun shaft transmission beputar.
Vacuum Pump
Tipe piston vacuum pump ini digerakkan oleh sebuah electromagnetic
clutch. Clutch ini akan menggerakkan vacuum pump untuk melakukan
proses priming dan clutch ini akan menghentikan proses priming jika wet
end the melakukan priming dan mulai memompa air.
Saat engine pompa mulai bekerja, electric clutch akan mulai berputar
sehingga vacuum pump akan mulai bekerja. Pada saat proses ini terjadi
maka akan tercipta suatu kevakuman atau kekosongan pada vacuum tank
dimana proses ini udara yang ada didalam vacuum tank akan terbuang
keluar melalui saluran hisap dan akan dibuang ke udara bebas melalui
breather yang ada pada vacuum pump sehingga air akan mengisi ruang
pada volute atau rumah pompa.
Ketika aliran air masuk dan mengisi ruang volute maka inilah yang disebut
dengan PROSES PRIMING. Pada vacuum tank terdapat dua sensor yang
dinamakan PROBES dimana sensor ini yang mengatur proses priming pada
pompa, jika ketinggian air didalam vacuum tank meningkat dan menutup
sensor probe atas pada vacuum tank maka pompa dapat
dikatakan sudah melakukan proses priming tersebut. Probe atau sensor ini
terpasang pada
dinding tangki dan akan mengirimkan sinyal ke Multiflo Vactronic Module®
(VT86-33) untuk
segera menghentikan aliran sinyal yang menuju kearah electric clutch dan
menghentikan
proses penghisapan udara pada vacuum pump. Vacuum pump akan bekerja
selama proses
pemompaan berjalan normal.
Ketika ketinggian air pada vacuum tank menurun dan fluida menyentuh
probe atau
sensor pada bagian bawah maka pompa akan melakukan proses priming
kembali . Vactronic
Control Module akan mendeteksi perubahn ini dan sehingga clutch pada
vacuum pump akan
bekerja kembali guna melakukan priming.
Magnetic Clutch (Type Piston)
Mengetahui kemampuan magnetic clutch untuk menggage dan
disenggagekan pulay vacuum pump type piston. Jika tidak bisa enggage
vacuum pump tidak bekerja dan bila tidak bisa disenggage maka vacuum
pump akan bekerja terus pada saat vacuum probe sudah terendam air.
Prosedure:
- Hidupkan engine
- Perhatikan kinerja magnetic clutch;
Pada saat priming, magnetig clutch enggage sehingga meneruskan
putaran puley dengan crankshaft vacuum pump.
Pada saat air didalam vacuum tank menyentuh vacuum probe, Lampu
indictor vacuum prime (lampu kuning) vactronic modul akan mati, pada
saat itu magnetic clutch disenggage.
Pump shutdown sytem
Bare shaft pump protection secara basicly yang terdiri dari probe fiited dalam
vacuum tank dan dan multiflo control module yang terhubung dengan engine
shutdown
Control module dirancang dengan timer waktu 6 menit yang mana akan aktif
ketika level air di vacuum tank turun. Lampu indikator merah akan menyala
sampai kurang lebih 6 menit sebelum mengaktifkan engine shutdown. Bila ini
telah terjadi, maka lampu indikator akan padam.
Seharusnya pompa menghisap air sebelum 6 menit setelah diaktifkan, maka
unit akan reset secara otomatis
Waterloos shutdown system
Sistem ini adalah untuk mengatasi engine shutdown dalam 6 menit secara
otomatis saat level air dalam vacuum tank berkurang dengan mengaktifkan
vactronik control module dan akan mereset shutdown otomatis jika level air
dalam vacuum tank cukup dalam waktu 6 menit.
Vactronic module tester
1. Atur kedua switch ke netral dan hubungkan terminal red/black dengan
suplay tegangan 12 – 24 volt
Lampu hijau seharusnya “ON”
Sambungkan module
Lampu merah seharusnya “ON” dan lampu vacuum prime harusnya
“OFF”
2. Atur switch vacuum prime “OFF”
Setelah 4 detik, lampu kuning mulai “ON”
Atur switch vacuum prime keadaaan netral, lampu kuning seharusnya
segera padam
3. Atur switch waterloss “OFF”. Pastikan lampu merah seharusnya tetap
“ON” selama ±6 menit atau sesuai model
Selama waktu berlangsung, lampu merah pada vactronik module
seharusnya berkedip
Setelah 6 menit, lampu ini akan padam
Atur switch waterloss ke posisi netral, lampu warna merah akan “ON”
Catatan:
- jika lampu warna hijau “ON”, periksa terminal baterai terhubung, dan
fuse tidak rusak/putus
- pemeriksaan tiap spare part berbeda
Rubber coupling
Mengetahui rubber coupling dalam keadaan utuh ( tidak retak atau pecah),
sehingga mampu meneruskan putaran dan meredam geratan engine
dengan main pump.
Prosedur
- Engine dalam kodisi mati.
- Buka cover guard vacuum pump dan guard fly wheel
- Lakukan visual inspection pada rubber coupling.
Bare Shaft
Mengetahui keausan diameter luar bar shaft yang bergesekan dengan seal /
packing. Jika terjadi keausan akan menyebabkan kebocoran air dari impeller
meskipun seal / packing sudah diganti baru dan nut gland packing sudah di
torque sesuai dengan strandart.
Prosedure :
- Setelah kita melakukan prosedur pemeriksaan gland packing (no 6.), dan
kondisi gland packing masih dalam keadaan bagus ( keausan normal
pada seal/packing & torque nut glan packing standart) tetapi masih
terjadi kebocoran , maka harus dilakukan penggantian bar shaft.
Bagian shaft yang
mengalami keausan
MAIN PUMP
1. Lubricating
Mengetahui system pulumasan pada baering Bar shaft.
Prosedurnya
- Engine dalam kondisi mati.
- Periksa kebuntuan nipple grease Inner bearing fornt & Rear.
- Periksa kebuntuan nipple grease
2. Mekanical seal / Gland Packing
Mengetahui kebocoran
air dan udara didalam impeler
akibat keausan seal / gland
packing.
Prosedur
- Engine dalam kondisi mati
- Lakukan visual
inspection pada gland packing ( kebocoran air )
- Gerakkan gland ke arah aksial, jika bisa bergerak berarti packing sudah
mengalami keausan, retorque sesuai standart.
- Putar pompa dengan menghidupkan engine.
- Periksa kebocoran air pada gland packing, jika terdapat kebocoran air,
lakukan retorque nut gland packing
- Jika sesudah dilakukan retorque nut gland packing masih terdapat
kebocoran air dari arah impeller, lakukan menggantian Seal / Packing
Hose suction
Mengetahui apakah kebocoran atau kebuntuan akibat terlipat pada hose
suction yang menyebabkan main pump tidak bisa menghisap.
Prosedur :
- Kondisi engine mati
- Naikkan winch hose suction sampi strainer terangkat keatas permukaan
air.
- Lakukan visual check pada hose suction, apakah terdapat kebocoran
atau terlipat.
Non return valve
Mengetahui kenerja non return valve. Apabila rubber flap tidak menutup
dengan rapat mengakibatkan kebocoran pada saat priming. Dan fungsi
rubber flap sebagai check valve untuk menjaga aliran balik discharge main
pump ke impeller.
Prosedure :
- Kondisi engine mati.
- Buka Cover non return valve
- Lakukan visual check pada rubber flap dan seat rubber flap, apakah ada
kotoran yang mengganjal.
- Jika terdapat kotoran, bersihkan kotoran dari rubber flap dan seat
rubber flap.
- Apabila terjadi kerusakan pada rubber flap lakukan penggantian
Strainer.
Mengetahui kebuntuan strainer yang dipasang pada ujung suction hose dan
untuk menyaring kotoran / material yang dihisap oleh main pump. Jika
terjadi kebuntuan, mengakibatkan kerja main pump berat dan vacuum
pump bekerja terus karena vacum tank tidak bisa terisi sampai batas water
vacuum probe maka mengakibatkan pressure vaccum pump terlalu tinggi
sehingga uap air terhisap dan berkontaminasi dengan oil vacuum pump.
Prosedur :
- Kondisi engine mati
- Naikkan winch hose suction
sampi strainer terangkat
keatas permukaan air.
- Lakukan visual check pada
strainer, apakah terdapat
material yang menyumbat
strainer.
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
Keterangan:
1. Oil engine 8. Discharge pressure
2. Transmision temperatur 9. By-pass button (override
3. Vacuum pressure [Link] temperatur
4. Hour meter [Link] light switch
5. Tachometer [Link] switch
6. Vactronik Module [Link] switch
7. Volt meter
[Link] temperatur
Failure to prime
Periksa vacuum gauge
a. High reading (80 atau lebih)
- Posisi static suction naik terlalu tinggi
- Terdapat hambatan di saluran hisap, strainer, dsb
- Saluran hisap tertanam dalam lumpur
- Pipa penghisap terlipat
- Pipa penghisap terlipat di bagian dalam
- Tersendatnya impeler pompa oleh suatu material
b. Low atau No reading (-20 atau kurang)
- Terjadi kebocoran pada saluran hisap
- Discarge non-return tidak rapat
- Ada kebocoran saluran antara pompa vacum dan tank
- Terjadi kebocoran pada seal di gland
- Valve pada volute drain terbuka
- Periksa bola pelampung pada tanki vacuum pum dan valve berfungsi
dengan benar
c. Operasi Normal (bekerja pada pressure antara -20 sampai -40 Kpa)
Pemeriksaan Harian sebelum di start
Transmision (jika : check oli level engine saat idle dan transmisi pada posisi
fitted) netral
Engine oli : Cek oli engine terhadap levelnya antara “add” dan “full”
yang terdapat pada marking dipstick
: Sementara engine running, cek lampu indikator menyala.
Bare Shaft Pump Auto Jika lampu indikator tidak menyala, sistem greasing tidak
bekerja maka cek fuse pump grease
Vacuum pump oil : Cek oli level (tambah jika kurang)
Gland oil tank : Isi oli sampai ketinggian 10 mm
Coolant level : Periksa level coolant dan kebocoran pada sistem
Fuel tank : Cek level, apabila kurang segera tambah
Battery : Cek level air baterai
Perhatian: engine harus stop ketika melepas baterai.
Apabila tidak maka akan menyebabkan vactronik rusak
Drive belt : Cek kekencangan belt
(fan/generator/vacuum
pump)
Water trap : Drain dan bersihkan mangkok kaca pada water trap
: Jika indikator pada posisi maksimal (level merah) maka
Air clean indication
segera bersihkan element air cleaner
: Cek hose isap terhadap kebocoran
Suction strainer Pastikan hose tetap terhubung
Prosedur saat start up
• Jangan menjalankan mekanisme bila belum dihidupkan atau selama
starting
• Hidupkan engine start dan jalankan pada putaran idle 750 – 800 RPM
• Posisikan transmisi pada posisi engage ±800 RPM
• Naikkan RPM sampai 1000 sampai wet end primes (± -20 sampai -40) pada
vacuum gauge.
Start Up Prosedur
1. Cek semua indikator engine (engine gauge)
2. Periksa kebocoran oli atau air disekitar engine
3. Periksa sistem protection engine
4. Lampu indikator vacuum prime akan padam ketika vacuum pump bekerja
Operating Speed
1. Naikkan RPM engine sampai pump mulai cavitasi. Pompa akan bergetar dan
mulai mengeluarkan suara pada saat pompa berputar
2. Turunkan RPM perlahan sampai cavitasi pompa berhenti. Getaran dan
suara akan segera menghilang ini menandakan pengaturan kecepatan
sudah tepat.
To shutdown (Untuk mematikan engine)
1. Turunkan RPM engine perlahan sampai idle
2. Dis-engage transmision pada putaran idle
3. Biarkan engine pada putaran idle selama 2 – 3 menit sebelum dimatikan
4. Matikan engine
Cavitation
Cavitasi adalah peristiwa berubahnya air menjadi uap dalam pompa (impeler
pump) yang mana dapat diidentifikasi dengan getaran dan suara yang bising
dari casing pompa. Kejadian seperti ini juga bisa menjadi tanda bahwa
kapasitas discarge kurang
Cavitasi disebabkan oleh:
- Pompa terlalu tinggi dari permukaan air yang dihisap (maksimal head
pump)
- RPM engine terlalu tingi untuk beban berat
Efek dari cavitasi:
- Terjadi pitting
- Terjadi penurunan performance
- Terjadi kerusakan akibat cavitasi
Setiap 10 Jam (Daily)
1. Bare Shaft pump auto lubricating system
Ketika engine bekerja, periksa lampu indikator warna hijau menyala
Point to grease
2. Engine oil
Oli memakai SAE 30
Periksa level oli, apabila kurang segera ditambah
Oil level
Mengetahui jumlah oil dalam case vacuum pump. Jika jumlah oil melebihi
standart mengakibatkan vacuum pump overheat, jika jumlah oil kurang
mengakibatkan keausan pada inner part vacuum pump lebih cepat.
Posedur :
- Kondisi engine mati
- Gunakan deep stick atau side glass untuk mengetahui jumlah oil pada case
vacuum pamp.
Level oli sebaiknya di cek setiap hari
Jika level oli diantara garis pada dipstik (5), bila kurang dari level segera
tambah.
oli sebaiknya diganti setiap 500 jam
Saat mengganti oli, vacuum pump harus di hidupkan 5 – 10 menit untuk
pemanasan .
drain oli lewat plug (4).
3. Vacuum Pump
Periksa level oli, apabila kurang segera ditambah
4. Gland Oil Tank
Isilah sampai (3/8”) dibawah saluran isi.
Memakai oli SAE 30
5. Gland
Periksa dan setel jika diperlukan
6. Coolant level
Periksa level coolant . periksa saat engine berhenti dan dalam keadaan sudah
dingin
7. Fuel tank
Periksa terhadap level fuel, tambah bila habis
8. Baterry
Cek level elektrolit bateraidan periksa juga clam pada terminal baterai
Setiap 250 jam
Engine dan filter : Ganti oli dan filter oli
oli
Pada saat pemasangan catridge berilah oli pada seal
sebelum dipasang
Alternator :
Tekan belt dengan 110 Newton (25 lb), ukur defleksi
15 – 20 mm
Bila kendor maka harus segera dikencangkan
Engine fuel filter : Ganti filter
Bare shaft pump : Periksa level grease
auto grease
Non return valve : Periksa kondisinya, jika terdapat deviasi segera perbaiki
Drive coupling : Periksa kekencangan bolt mounting
Engine air : Periksa, ganti jika perlu
cleaner
Vacuum tank : Periksa dan bersihkan
probes
Mounting bolts : Periksa semua bolt engine, bare shaft dan vacuum pump,
kencangkan bila diperlukan
Vacuum : Periksa kondisi, dan bersihkan
solenoid valve
Fan Drive :
Lumasi dengan grease NLGI No. 2 yg tahan temperature
kerja -34 sampai 1630 C
Crankcase :
breather
Lepas dan bersihkan
Tension V belt : Mengetahui kekencangan V belt yang mengubungkan puley
main shaft dengan puley vacuum pump, jika terlalu
kendor mengakibatkan selip dan vacuum pump tidak bisa
menghisap dengan maximal.
Prosedur:
- Kondisi engine mati.
- Buka cover guard vacuum pump
- Lakukan
pengukuran dengan
menggunakan metode
dan standart pada tabel
dibawah ini
Setiap 1000 jam
Bare shaft pump : Periksa level grease
auto grease
Bare shaft pump : Periksa kondisi impeller, wear plate, volute dan packing
Vactronic : Periksa kondisi kabel dan probes, dll
control
radiator : Bersihkan core finning
Periksa kondisi hose
Auto shutdown : Test shutdown
system Periksa kondisi wirring, hose, dll
Vacuum pump : Ganti oli
Vacuum pump : Lepas saringan dan bersihkan dengan kompresor
inlet flange
screen
Non return valve : Ganti flap (penutup) jika diperlukan
Setiap 2000 jam
Bare shaft pump : Periksa kondisi bearing bare shaft pump dari moisture (embun air)
engine : Periksa operasi dan performanya
Vacuum pump : Periksa rotor blades
rotor blades
Non return valve : Ganti valve seat jika perlu
Parts