0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
193 tayangan41 halaman

Desain Awal Struktur Bangunan Gudang

Diunggah oleh

Tasya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
193 tayangan41 halaman

Desain Awal Struktur Bangunan Gudang

Diunggah oleh

Tasya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Preliminary Design

3.1 Prelimary Design

Jarak Antar Kolom (x) :5m


Jarak Antar Kolom (y) :4m
Tinggi Antar Lantai : Lantai 1 sd 3 = 3,8 m , Lantai 4 = 4 m

3.2 Gambar Denah

A. Gambar Denah Struktur Kolom

B. Gambar Struktur Balok


C. Gambar Ring Balok
D. Gambar Potongan A – A
E. Gambar Potongan B – B
F. Gambar Struktur Kuda – Kuda

G. Gambar Detail Kuda – Kuda


3.3 Perencanaan Strukur Atap
Atap direncanakan menggunakan struktur kuda-kuda baja, untuk kuda-kuda
menggunakan Profil Baja WF 150 x 150 x 7 x 10 dan gording menggunakan
Profil Baja Canal 75x40x5x7. Selain itu juga diperhitungkan terhadap beban
yang bekerja, yaitu meliputi beban mati, beban hidup, dan beban angin. Setelah
diperoleh pembebanan, kemudian dilakukan perhitungan dan perencanaan
dimensi batang kuda-kuda tersebut.

Pedoman perhitungan atap :

No. Peraturan Tentang


1 PPIUG 1983 Peraturan Pembebanan Indonesia untuk gedung
1983
2 Tabel profil Konstruksi Baja
3 SNI 03-1729-2002 Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk
Bangunan Gedung

Data bahan perhitungan atap:


Menurut Peraturan Beton Indonesia untuk jenis beton normal kekuatan
karakteristik beton antara 20MPa hingga 40 MPa. (200 kg/cm2 hingga 400
kg/cm2).
Menurut Peraturan Beton Indonesia1971, [9], dinyatakan bahwa untuk mutu
beton normal, kekuatan karakteristik beton antara K125 hingga K225 atau
12.5 MPa hingga 22.5MPa.

a. Mutu Beton (fc’) : 25 MPa


b. Baja :7850kg/m3

Dengan pemodelan atap seperti dibawah ini :


Gambar 3.31Pemodelan Kuda-Kuda

Panjang Kuda-kuda = 16 m
Kemiringan Kuda –kuda = 22°
Jarak antara gording =2m
Tinggi Kuda-kuda = tan ( α ) ( 12 . l )=tan ( 2 2) ( 12 . 16)=3 , 23 m

Data pembebanan atap :

• Direncanakan profil baja WF : 150 x 150 x 7 x 10 (tabel profil baja)


• profil baja gording (baja kanal) :75x40x5x7 (tabel profil baja)

• beban mati :-berat penutup atap genteng 50kg/m2(PPIUG-


1983)

-berat sendiri baja WF150 x 150 x 7 x


10 = 31,5 kg/m
(tabel profil baja)

- berat sendiri gording Canal 75x40x5x7


=6,92kg/m
(tabel profil baja)

• beban hidup :100kg(PPIUG-1983)

1. Beban Mati

Berat atap = berat penutup atap genteng x jarak gordingx jarak antar
kuda2
= 50kg/m2 x 2m x 2,5 m
= 372kg

[Link] baja WF [Link] x jarak antar kuda-kuda


=31,5 kg/m x 2,5m
= 189kg

[Link] gording (baja kanal [Link]) x jarak antar kuda-kuda=


=6,92kg/m x 2,5 m
=41,52kg

Total qDL = 602,52kg

2. Beban Hidup

Beban hidup orang/pekerja + Genangan air hujan


=100kg+ 5kg
=105kg

total qLL= 105kg

lampiran tabel profil baja

Gambar 3.32 tabel profil baja

MODELING STRUKTUR ATAS KUDA – KUDA SAP 2000


3.4 Perencanaan Strukur Bawah

Pedoman perhitungan Kolom,Balok, Plat :

NO. PERATURAN TENTANG


1 SNI 2847-2019 Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung
2 SNI 1726-2019 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Bangunan Gedung dan Non Gedung
3 SNI 1727-2019 Beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan
struktur lain
4 SNI 2847-2019 Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung
5 SNI 1727 -1989 Pedoman Perancangan Pembebanan Untuk Rumah Dan Gedung

Data bahan perhitungan plat :


Menurut Peraturan Beton Indonesia untuk jenis beton normal kekuatan
karakteristik beton antara 20MPa hingga 40 MPa. (200 kg/cm2 hingga 400
kg/cm2).
Menurut Peraturan Beton Indonesia1971, [9], dinyatakan bahwa untuk mutu
beton normal, kekuatan karakteristik beton antara K125 hingga K225 atau
12.5 MPa hingga 22.5MPa.

a. Mutu Beton (fc’) : 25 MPa

b. Mutu Baja tulangan geser (fy) : 400 MPa

c. Berat Jenis Beton Bertulang : 2400kg/m3 (PPIUG 1983)

d. Baja :7850kg/m3 (PPIUG 1983)


e. Berat jenis beton :2200 kg/m3(PPIUG 1983)

f. Beban hidup apartemen :250kg/m2(PPIUG 1983)


Dengan pemodelan denah balok seperti dibawah ini :

Gambar 3.4.1. Denah Balok Gedung Kantor

Dengan pemodelan denah Kolom seperti dibawah ini :


Gambar 3.4.2. Denah Kolom Gedung Kantor

Perencanaan Dimensi Balok (menurut SNI 2847.2019)


Untuk perencanaan pendimensian balok induk, maka sebelumnya dimensi balok (h)
dapat di taksir menggunakan rumus( )
l
12
. Maka perencanaan balok dapat ditaksir
dengan:
dikarenakan tertulis bahwa rumus tersebut
adalah untuk menentukan tinggi balok minimum. Artinya, kita boleh menggunakan tinggi
balok lebih dari itu.
Direncanakan :
• Bentang (L) Balok Induk : 5 m

h= ( 12l ) = 600
12
= 41,5 = 50 cm

2 2
b= ( xh ¿= x 50=33 ,3 cm = 30cm
3 3
Maka dimensi Balok Induk (b/h` = 30/50) cm

Perencanaan Dimensi Kolom(menurutPBBI 1989)

Data perencanaan :
Sampel lokasi tinjauan = lantai 1
Dimensi balok induk 45/50
IKolom IBalok

LKolom LBalok
1 3
500 x ( x 35 cmx ( 50 cm ) )
Ikolom= Lkolom x Ibalok 12 = 455729,16cm4
=
Lbalok 400

Dimisalkan bkolom=hkolom
1 3
Ikolom = ( xbkolom x ( hkolom ) )
12
hkolom = √4 12 x Ikolom

=√4 12 x 455729 , 16
=48,35=55cm
bkolom = hkolom
55cmx55cm,
maka dimensi kolom yang digunakan 55cmx55cm

Perencanaan tebal Pelat


Ketentuan ketebalan pelat berdasarkan SNI 03-2874-2013 Pers 9-13
Data Perencanaan :
- Tebal rencana = 12 cm
- Fc’ = 25 MPa
- Fy = 400 Mpa
- Ix= 4m Iy=5m
- ln=ly =5200mm
- β = ly/lx = 5,2/6 = 0,86

Rumus Perencanaan tebal pelat lantai beton minimum (hmin) :


Rumus Perencanaan tebal pelat lantai beton maksimum hmax) :

fy
ln ⁡(0 ,8+ )
hmin = 1500
36+ 9 β
400
4000 ⁡(0 , 8+ )
= 1500
36+9 (0 , 86)
=122,05mm
fy
ln ⁡(0 ,8+ )
hmax = 1500
36+ 9 β
400
5000 ⁡(0 , 8+ )
= 1500
36
=148mm
Maka di ambil hmin dengan tebal pelat rencana 120mm=12cm

Data pembebanan plat lantai :


 Berat jenis beton bertulang : 2400 kg/m3
 Berat jenis beton :2200 kg/m3
 Beban hidup gedung kantor :250kg/m2

PERHITUNGAN PEMBEBANAN PELAT LANTAI 1


(SNI 1727 -1989 Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung )
Beban pada plat lantai dihitung sebagai berikut (menggunakan tebal plat 12cm)
a. Beban Mati
• Berat sendiri pelat = 0,12 x 2400 kg/m3 = 288kg/
2
m
• Keramik (2cm)+ Adukan semen (3cm) = 0,02+0,05 x 2200kg/m3 =110kg/
2
m
qDLtotal = 398
2
kg/m
b. Beban hidup
• Beban hidup pada apartemen =
250kg/m2
qDLtotal = 250
kg/m2

Rencana ukuran pelat lantai 2 typical 3,4 (tebal 12 cm )


a. (SNI 1727 -1989 Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung )
b. Beban Mati
• Berat sendiri pelat = 0,12mx 2400 kg/m3 = 288kg/ m2

• Keramik (2cm)+ Adukan semen (3cm) = (0,02m +0,03)x 2200kg/m3=110kg/


2
m
• plafond dan penggantung = 18kg/m2
• Mekanikal dan elektrikal = 25 kg/m2
qDLtotal =
2
441kg/m
b. Beban hidup
• Beban hidup pada apartemen = 250kg/m2
qDLtotal = 250 kg/m2
Tabel pembebanan plat lantai
Pembebanan plat lantai Berat (kg/m2)
Beban mati lantai 1 398
Beban mati lantai 2 typical 3,4 441
Beban hidup Lantai 1,2,3 dan 4 250

Perencanaan Tangga

Gambar
Gambar
Data Perencanaan Tangga :
 Tinggi anak tangga (Optrade) = 17 cm
 Lebar anak tangga (Antrade) = 30 cm
Optrade 17
 Kemiringan tangga tan α = = = 29,54°
Antrade 30
tebal plat Optrade 12 cm 17 cm
 Tebal Anak tangga = + = + =22,29cm= 0,229m
cosα 2 cos 29 , 54 ° 2

Perencanaan tangga harus memenuhi syarat standard kemiringan tangga, sebagai berikut :
25 ° ≤ α ≤ 40°
25 ° ≤ 29 , 54 ° ≤ 40° (OK )

3.8.1 Perhitungan Pembebanan Pelat Tangga


1. Beban mati / Dead Load (DL)
-Berat sendiri pelat+anak tangga = 0,229 m x 2400kg/m3 =549,6kg/m2 (PPIUG-83)

-Berat Keramik(5cm) = 0,5 m x 24 kg/m2 =12kg/m2 (PPIUG-83)

-Berat Adukan (3cm) =0.3 mx 21 kg/m2 =6,3kg/m2 (PPIUG-83)

-Berat sandaran = 20 kg/m2 =20 kg/m2 (PPIUG-83)

qDL = 587,9kg/m2
2. Beban hidup / Live Load (LL)
-qLL =300kg/m2= 300kg/m2 (PPIUG-83)

3.8.2 Perhitungan Pembebanan Bordes


1. Beban mati / Dead Load (DL)
-Berat Sendiri Pelat = 0,12m x 2400 kg/m3 =288 kg/m2 (PPIUG-83)

-Berat Adukan = 21 kg/m2 x 0,3m =6,3kg/m2 (PPIUG-83)

-Berat Keramik = 24 kg/m2 x 0,5m =12kg/m2 (PPIUG-83)


-Berat Sandaran =20kg/m2 =20 kg/m2 (PPIUG-83)

qDL = 326,3kg/m2

2. Beban Hidup (LL)


-qLL = 300 kg/m2 = 300 kg/m2 (PPIUG-83)

BAB IV

PERENCANAAN GEMPA

4.1 Kriteria Desain


Perhitungan struktur bangunan ini menggunakan referensi sebagai berikut :
 Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2019)
 Perencanaan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung
(SNI-1726-2019)
 Beban minimum untuk perencanaan bangunan gedung dan struktur lain
(SNI-1727-2013)
 Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung (PPURG-1987)

1.1 Prosedur Analisis Beban Gempa SNI 1726 2019 pada Bangunan Gedung
Penjelasan prosedur beban gempa dijelaskan pada uraian dibawah ini :

Tentukan Ss dan S1
Ss = Parameter respon spektra percepatan pada perioda pendek
S1 = Parameter respon spektra percepatan pada perioda 1-detik

Ss dan S1 diperoleh dari peta gempa

Tentukan Kelas Situs (SB, SC, SD, SE, SF)


Kelas situs tergantung pada kondisi tanah yang diklasifikasikan
sesuai nilai SPT
Tentukan SMS dan SM1
Parameter respon spektra percepatan untuk gempa tertimbang
maksimum, yang telah disesuaikan dengan kelas situs
SMS = Fa . SS SM1 = FV . S1

Tentukan SDS dan SD1


Parameter respon spektra percepatan desain
SDS = 2/3 x SMS SD1 = 2/3 x SM1
Gambar 3.1 Prosedur analisis beban gempa SNI-1726 2019

a) Kategori Resiko Bangunan (KRB)


Kategori resiko bangunan gedung hotel yang terletak di Jayapura ini, berdasarkan SNI 1726
2019 termasuk kedalam : Tipe 2

b) Faktor Keutamaan Gempa (Ie)


Faktor Keutamaan Gempa dipengaruhi oleh Kategori Resiko Bangunan, sehingga diperoleh
nilai faktor keutamaan gempa (Ie) = 1

Tabel 3.1 Faktor Keutamaan Gempa


c) Parameter Percepatan Tanah dan Spektrum Respon Desain (SS, S1)
Dalam Peta Hazard Gempa Indonesia 2010 yang dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum
meliputi percepatan puncak (PGA) dan respon spektra percepatan di batuan dasar (SB) untuk
perioda pendek 0,2 detik (SS) dan untuk perioda 1,0 detik (S1) dengan redaman 5% mewakili
tiga level hazard gempa yaitu 500, 1000 dan 2500 tahun atau memiliki kemungkinan
terlampaui 10% dalam 50 tahun, 10% dalam 100 tahun, dan 2% dalam 50 tahun.
Gambar 4.1 Peta respon spektra percepatan 0.2 detik (SS) di batuan dasar (SB)
untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun

Gambar 4.2 Peta respon spektra percepatan 1.0 detik (S1) di batuan dasar (SB)
untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun
Daerah Jayapura ditetapkan dalam Wilayah Gempa 6 seperti yang ditunjukan dalam gambar
diatas. Pembagian Wilayah Gempa ini, didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar
akibat pengaruh Gempa Rencana.
Berdasarkan spektrum respons design Peta hazard gempa indonesia yang
dikeluarkan oleh puskim PU, nilai parameter percepatan tanah untuk tanah
sedang adalah :
SS = 1,5
S1 = 0,6201

Gambar 4.3 Nilai spektra percepatan puskim


d) Klasifikasi Situs (SA-SF)
Dalam penetuan amplifikasi besaran percepatan gempa puncak dari batuan dasar ke
permukaan tanah untuk situs, maka situs tersebut harus diklasifikasikan terlebih dahulu.
Berdasarkan hasil klasifikasi, tanah ini berkategori SD (Tanah Sedang).
e) Faktor Koefisien Situs (Fa, Fv)
Untuk penentuan respons spektral percepatan gempa MCER di permukaan
tanah, diperlukan suatu faktor amplifikasi seismik pada perioda 0,2 detik dan
perioda 1 detik. Faktor amplifikasi meliputi faktor amplifikasi getaran terkait
percepatan pada getaran perioda pendek (Fa) dan faktor amplifikasi terkait
percepatan yang mewakili getaran perioda 1 detik (Fv).
Tabel 3.2 Koefisien Situs, Fa

Tabel 3.3 Koefisien Situs, Fv


Sehingga diperoleh nilai :
Fa = 1
Fv = 1,7
Dan
SMS = Fa . SS = 1 x 1,5 = 1,5
SM1 = Fv . S1 = 1,7 x 0,6201 = 1,05417

f) Parameter Percepatan Desain (SDS, SD1)


Parameter percepatan spektral desain untuk perioda pendek, S DS dan pada perioda 1 detik,
SD1, harus ditentukan melalui perumusan berikut ini :
2 2
SDS = SMS = 1 ; SD1 = SM1 = 0,70
3 3

Gambar 3.5 Kontrol hasil perhitungan manual percepatan desain dengan hasil puskim

g) Kategori Desain Seismik (KDS: A-F)


Struktur harus ditetapkan memiliki suatu kategori desain seismik yang
mengikuti pasal ini. KDS ditentukan dengan cara sebagai berikut:
Tabel 3.4 Kategori Desain Seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada
perioda pendek, SDS
Tabel 3.5 Kategori Desain Seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada
perioda 1 detik, SD1

Kategori desain seismik (KDS) menentukan hal-hal berikut pada perencanaan


struktur:
1. Sistem struktur penahan gempa yang akan digunakan

2. Batasan tinggi dan ketidakberaturan struktur

3. Komponen struktur yang harus didesain terhadap gaya gempa

4. Jenis analisis gaya lateral yang boleh digunakan

h) Sistem dan Parameter Struktur Penahan Beban Gempa (R, Cd, Ωo)
Sistem penahan gaya gempa lateral dan vertikal yang digunakan adalah Sistem rangka
pemikul momen Khusus (SRPMK). Metode ini digunakan untuk perhitungan struktur
gedung yang masuk pada zona 5 dan 6 yaitu wilayah dengan tingkat gempa tinggi. Sehingga
berdasarkan Tabel 12 SNI Gempa 1726 2019 diperoleh :

Koefisien modifikasi respons (R) = 8


Faktor kuat lebih sistem (Ω0) = 3
Koefisien amplifikasi defleksi (Cd) = 5,5
Tabel 4.4 Sistem dan Parameter Struktur Penahan Beban Gempa (R, Cd, Ωo)

BAB V
PEMODELAN BANGUNAN BERTINGKAT DAN BEBAN BANGUNAN
PADA SAP 2000 V 22

5.1 Pemodelan Struktur


Pembuatan model dilakukan pada SAP2000 V22

Dipilih Grid Only

Menentukan Denah Bangunan


5.2 Mendefinisikan Material

Membuat Define Material Beton (Concrete)


Membuat Define Material untuk Tulangan

Membuat Penampang Balok


Membuat Penampang Kolom

Membuat Penampang Pelat Lantai


5.3 Mendefinisikan beban yang bekerja (Load Pattern)
Klik Define  Load Pattern
Jenis beban yang bekerja pada gedung meliputi :
a. Beban mati sendiri elemen struktur (Self Weight)
Meliputi : berat sendiri balok, kolom, pelat dan shear wall.
b. Beban mati elemen tambahan (Superimposed Dead Load)
Meliputi : dinding, keramik, plesteran, plumbing, mechanical electrical, dll.
c. Beban hidup (Live Load)
Berupa beban luasan yang ditinjau berdasarkan fungsi bangunan.
d. Beban Angin (Wind Load)
e. Beban Gempa (Earth Quake)
Meliputi : beban gempa statik dan dinamik (arah x dan y)
f. Beban hidup atap (Roof Live)

5.4 Mendefinisikan Kombinasi Pembebanana Sesuai Dengan SNI 1726 – 2019


Komb.1 : 1,4D
Kom.2 : 1,2D + 1,6L + 0,5 (Lr atau R)
Komb.3 : 1,2D + 1,6 (Lr atau R) + (L atau 0,5W)
Komb.4 : 1,2D + 1,0W + L + 0,5 (Lr atau R)
Komb.5 : 0,9D + 1,0W
Kombinasi pembebanan dengan pengaruh beban seismic SNI 1726:2019 pasal [Link]
Komb.6 : 1,2D + Ev + Eh + L
Komb.7 : 0,9D - Ev + Eh
5.5 Input Beban Gempa Dinamik Respon Spektrum
Klik Define  Functions  Response Spectrum  Pilih IBC 2012  Add New
Function
Masukan nilai Ss, S1, Periode waktu, dan kelas situs tanah berdasarkan hasil running online
dari [Link]

Gambar 4.7 Definisi Beban Gempa


Dinamik Respons Spectrum

1. Tipe Function ( IBC 2012 = SNI


1726:2019)
2. Add New Function
3. Nilai Ss, S1, periode waktu yang diperoleh dari [Link]
4. Kelas situs tanah ( Tanah sedang = D )
4.5 Kategori Desain Seismik
I
Masukan faktor skala Respon Spektrum dengan rumus : x 9,81 m/s2
R
Dengan : I = 1, R = 8
Klik Define  Load Cases  Add New Load Cases

Gambar 4.8 Definisi kategori desain seismic


1. Definisi nama kategori desain seismic (Dinamik arah x dan y)
2. Mendefinisikan arah gempa U1 (arah x) & U2 (arah y)
I
3. Menginput factor skala respon spektrum dengan rumus : x 9,81 m/s2
R

Gambar 3D Pada Sap 2000

Running Analisis Dinamik


Checklist Analisis Dinamik :
 Masukan Respon Spektrum kedalam SAP 2000
I
 Masukan faktor skala Respon Spektrum dengan rumus : x 9,8 m/s2
R
 Masukan nilai Number of Mode and Participating ratio setup dalam Modal Analisis
a. Klik Define  Load Case  Modal  Modify/Show Load Case
b. Ubah menjadi “Ritz Vectors”
c. Target rasio partisipasi massa 90%
UX dan UY (SNI 1726:2019 pasal 7.9.1)
d. Atur nilai jumlah mode getaran ( 3 Degree of Freedom x Jumlah Lantai )
Gambar 4.15 Target rasio partisipasi massa bangunan
 Definisikan Building Shear Mode Analysis dengan Diaphragm
a. Select semua joint pada model bangunan

Gambar 4.17 Mendefinisikan mode analisis dengan diaphragm

Setelah semua didefinisikan lalu Klik Analyze  Run Analysis  OK


Gambar 4.19 Running analisis

Kontrol Analisis Struktur Dinamik :


 Analisis gaya geser dasar pada pondasi ≥ 100% Gaya geser gempa statik ekivalen
(SNI 1726:2019 pasal [Link] )
 Total participating mode ≥ 90% (SNI 1726:2019 pasal 7.9.1)

4.11 Analisis Gaya Geser Dasar ( Vstatic )


Perhitungan Perioda pendekatan menggunakan persamaan dan berdasarkan tabel dibawah
ini.
Ta = Ct . hnx
Ta = 0,0466 x ( 360,9 ) = 1,172 detik
Keterangan :
hn adalah ketinggian struktur (m), diatas dasar sampai tingkat tertinggi struktur, dan
koefisien Ct dan x ditentukan dari :
Nilai Parameter Perioda
Tabel 4.8.1 Nilai Parameter Perioda
Nilai Parameter Respon Spektra Desain

Tabel 4.8.1 Nilai Parameter Spektra Desain


Cu . Ta = 1,4 x 1,172 = 1,6412 detik
Perioda fundamental struktur (T) yang digunakan :
Jika Tc > Cu . Ta maka gunakan T = Cu . Ta
Jika Ta < Tc < Cu . Ta maka gunakan T = Tc
Jika Tc < Ta maka gunakan T = Ta ; Ta = Ct . hnx
Keterangan :
Tc = Perioda fundamental struktur yang diperoleh dari program analisis struktur

Karena Tc > Cu . Ta maka, Perioda Fundamental struktur (T) yang digunakan adalah
T = 1,6412 detik.
Lalu ubah gaya gempa statik ekivalen dengan Klik Define  Load Patterns  Modify
Lateral Load Pattern
Keterangan :
Masukan nilai Ss, S1, Klasifikasi tanah dan nilai T dari data perhitungan sebelumnya.
Lakukan hal serupa dengan gaya gempa arah Y.

Anda mungkin juga menyukai