0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan29 halaman

Proposal PKL Kehutanan Universitas Mataram

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan29 halaman

Proposal PKL Kehutanan Universitas Mataram

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

i

PROPOSAL KEGIATAN
PRAKTIK KERJA LAPANAN
PROGRAM STUDI KEHUTANAN

Oleh
Kelompok Perhutani 1
Dewi Juliana : C1L016024
Muhammad Harun : C1L016067
Muhammad Ihza Yudha Mahendra : C1L016068
Ni Ketut Ayu Meta Purnami : C1L016075
Rizky Cesare Anggraini : C1L016094

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
ii

2019
iii

HALAMAN PENGESAHAN

Proposal Praktik Kerja Lapang yang diajukan oleh :


Nama Kelompok : Perhutani 1
Program Studi : Kehutanan
Jurusan : Kehutanan
Telah diterima sebagai salah satu syarat untuk melakukan praktik kerja lapang.
Proposal tersebut telah diperiksa, diperbaiki dan disetujui oleh dosen
pembimbing.

Menyetujui:

Panitia PKL Pembimbing PKL,


Ketua,

Dr. Sitti Latifah, [Link]., [Link].F Niechi Valentino, [Link]., [Link]


NIP. 19720923 199512 2 001 NIP. 19831216 200812 1 003

Menyetujui:

Ketua Jurusan Kehutanan, Ketua Program Studi Kehutanan,

Muhamad Husni Idris, SP., [Link]., Ph.D Dr. Andi Chairil Ichsan, [Link]., [Link]
NIP. 19701231 1995512 1 001 NIP. 19831216 200812 1 003

Tanggal Pengesahan : 8 Juli 2019


iv
v

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL....................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................vii
BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Tujuan....................................................................................................2
1.3 Manfaat..................................................................................................3
1.4 Output Kegiatan.....................................................................................3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................4
2.1 Sejarah Kawasan....................................................................................4
2.2 Letak dan Luas.......................................................................................4
2.3 Kelembagaan..........................................................................................4
2.4 Peta Kawasan.........................................................................................5
2.5 Keselamatan Kerja.................................................................................6
2.6 Perencanaan Hutan.................................................................................6
2.7 Produktivitas Hutan/Pembinaan Hutan..................................................7
2.8 Perlindungan dan pengamanan hutan.....................................................7
2.9 Konservasi Sumber Daya Hutan............................................................9
2.10 Pemanenan Hasil Hutan Kayu...........................................................10
2.11 Pemanenan Hasil Hutan Non Kayu....................................................11
2.11.1 Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)..........................................11
2.11.2 Pemasaran................................................................................11
2.12 Pengembangan Masyarakat Desa Hutan (PMDH).............................12
2.13 Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan........................13
2.14 Administrasi Kehutanan.....................................................................14
2.14.1 Kelembagaan dan tata kelola organisasi Perum Perhutani......14
vi

BAB III. METODE PENGAMATAN...................................................................16


3.1 Waktu dan Lokasi Pengamatan............................................................16
3.2 Alat dan Bahan.....................................................................................16
3.3 Metode Pengambilan Data...................................................................16
vii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Term Of Reference Perum Perhutani KPH Madiun........................... 24


viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peta Kawasan Perum Perhutani KPH Madiun................................ 10


Gambar 2.2 Kebijakan K3 Perum Perhutani KPH Madiun................................ 11
Gambar 2.3 Kelembagaan dan Tata Kelola Organisasi Perum Perhutani.......... 19
1

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Praktek Kerja Lapang merupakan salah satu persyaratan akademik yang harus
dipenuhi oleh setiap mahasiswa selama menempuh pendidikan di Program Studi
Kehutanan Universitas Mataram. Melalui praktek kerja lapang diharapkan
mahasiswa dapat memperoleh pengalaman praktis di dunia kerja serta dapat
melakukan pengkajian dan penerapan keilmuan serta teori yang diperoleh
mahasiswa selama proses pembelajaran di perguruan tinggi terutama pada aspek
Pengelolaan Hutan Lestari (PHL). PKL-PHL diharapkan dapat meningkatkan
keterampilan dan kompetensi mahasiswa kehutanan untuk menjawab tantanan isu
kompetensi dan sertifikasi pada SDM pengelola hutan. Melalui PKL ini
diharapkan pula dapat menjadi jembatan antara pendidikan tinggi dengan berbagai
lembaga mitra seperti pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan badan
[Link] Kerja Lapang dapat ditempuh mahasiswa
Program Studi Kehutanan Universitas Mataram sekurang-kurangnya setelah
menyelesaikan 110 SKS. Praktek kerja lapang merupakanimplementasi keilmuan
dan bidang studi yang dimiliki mahasiswa pada dunia kerja yang sebenarnya.
Adapun konsentrasi pratek kerja lapangan mahasiswa Program Studi Kehutanan
Universitas Mataram antara lain bidang Perencanaan hutan, Pemanfaatan hutan,
Perlindungan hutan dan konservasi alam, Rehabilitasi hutan, Pemberdayaan
masyarakat dan administrasi kehutanan.
Praktek kerja lapang memiliki beban kredit sebanyak 3 SKS dan dapat
diambil pada semester ganjil. Peserta PKL merupakan mahasiswa yang terdaftar
dan telah disetujui oleh Ketua Program Studi Kehutanan. Kegiatan praktek kerja
lapang berlangsung selama kurang lebih satu bulan, selama praktek kerja
berlangsung mahasiswa didampingi oleh seorang dosen pembimbing dari Program
Studi Kehutanan. Adapun lokasi PKL ditentukan oleh Program Studi Kehutanan
setelah melalui proses penjajakan dan penetapan bersama lembaga mitra.
Perum Perhutani mempunyai wilayah kerja yang dikelola sebesar 2.566.889
ha yang terdiri atas Hutan Produksi seluas 1.454.176 ha (57%), Hutan Produksi
2

Terbatas seluas 428.795 ha (16%), dan Hutan Lindung seluas 683.889 ha. KPH
Madiun merupakan bagian dari Perum Perhutani yang diberikan wewenang
mengelola hutan di Jawa dan Madura oleh pemerintah berdasarkan PP no 72
tahun 2010. KPH Madiun sebagai salah satu KPH yang ditunjuk oleh Perum
Perhutani memiliki komitmen yang kuat dalam rangka implementasi pengelolaan
hutan secara lestari. Luas areal pengusahaan hutan tanaman KPH Madiun sesuai
dengan Peta Fungsi Hutan KPH Madiun yaitu seluas 31.219.7 Ha, terdiri dari
Kelas Perusahaan Jati 27.483.6 Ha dan Kelas Perusahaan Kayu Putih 3.736,1 Ha.
Selama berlangsungnya kegiatan praktek kerja lapang, mahasiswa wajib
memenuhi segala ketentuan yang diberlakukan oleh Program Studi Kehutanan
dan lembaga mitra diantaranya seperti mengisi daftar hadir dan menulis jurnal
harian, selain itu setiap peserta praktek kerja lapang juga wajib membuat tugas
akhir dalam bentuk laporan kegiatan PKL secara kelompok dan Artikel Ilmiah
sebagai tugas individu. Proses penilaian PKL terdiri dari pre-test, nilai di lapangan
oleh Lembaga mitra, seminar PKL, dan ujian oleh dosen pembimbing. Proses
monitoring praktek kerja lapang dilakukan oleh dosen pembimbing melalui
kegiatan supervisi dengan mengunjungi lokasi-lokasi praktik.

1.2 Tujuan
Tujuan dari kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) secara umum adalah sebagai
berikut:
1. Pengalaman dalam mengimplemantasikan ilmu dan teori pengelolaan hutan
lestari dalam dunia kerja, khususnya di bidang manajemen hutan,
produktivitas (silvikultur), pemanenan, perlindungan dan pengamanan hutan,
pengembangan ekowisata, kesehatan dan keselamatan kerja, pemanfaatan
hutan, rehabilitasi hutan, pemberdayaan masyarakat, dan administrasi
kehutanan.
2. Pengalaman kerja dalam kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan sehingga
mahasiswa mengerti, mampu menganalisa, dan mengkomunikasikan konsep-
konsep dan praktek dalam pengelolaan hutan lestari.
3. Pengalaman kehidupan bersama dengan menginterpretasikan nilai-nilai dasar
korsa rimbawan.
3

1.3 Manfaat

Manfaat yang diperoleh setelah mengikuti kegiatan praktek kerja lapang yaitu :
1. Data hasil kegiatan praktek kerja lapang dapat menjadi masukan kepada
lembaga mitra untuk dijadikan dasar pengelolaan hutan lestari agar menjadi
lebih baik lagi
2. Menjadi sarana pengembangan kemampuan dan penguasaan keilmuan
bagi mahasiswa terutama dalam bidang pengelolaan hutan lestari.

1.4 Output Kegiatan

Keluaran atau hasil yang akan diperoleh dengan terlaksananya kegiatan ini
adalah laporan hasil kegiatan PKL, baner dan film dokumenter dari setiap
kelompok mahasiswa, serta artikel Ilmiah yang merupakan tugas individu.
4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Kawasan


Perum Perhutani Induk Mengelola Kawasan hutan di Pulau Jawa dan
Madura seluas 2.445.006 Ha, terdiri dari hutan produksi (HP) seluas 1.806.448
Ha. Luas Hutan yang dikelola Perhutani tidak termasuk Kawasan hutan suaka
alam dan hutan wisata.
KPH Madiun merupakan bagian dari Perum Perhutani yang diberikan
wewenang mengelola hutan diJawa dan Madura oleh pemerintah berdasarkan PP
No. 72 tahun 2010 . Sesudah kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17
Agustus 1945, pengelolaan hutan jati di KPH Madiun sampai sekarang ini telah
mengalami 4 (empat) kali bentuk pengusahaan hutan, yaitu : Masa Jawatan
Kehutanan dari tahun 1945-1961, Masa Perusahaan Kehutanan Negara tahun
1961-1972, Masa Perusahaan Umum Kehutanan Negara tahun 1972-2001, Masa
Perusahaan PT. PERHUTANI (Persero) tahun 2001-2003, Masa Perusahaan
Umum Kehutanan Negara tahun 2003- sekarang ( Perum Perhutani, 2015).

2.2 Letak dan Luas


Luas areal pengusahaan hutan tanaman KPH Madiun sesuai dengan Peta
Fungsi Hutan KPH Madiun yaitu seluas 31.219.7 Ha, terdiri dari Kelas
Perusahaan Jati 27.483.6 Ha dan Kelas Perusahaan Kayu Putih 3.736,1 Ha.
Secara administratif, wilayah kawasan hutan KPH Madiun terletak di 3 wilayah
administratif pemerintah daerah, yaitu Kabupaten Madiun 15.953,8 Ha
Kabupaten Ponorogo 13.405,8 Ha Kabupaten Magetan 1.860,1 Ha (Perum
perhutani, 2015).

2.3 Kelembagaan
Sampai dengan saat ini KPH Madiun dipegang oleh Administratur/KKPH
selaku penanggung jawab Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) dengan struktur
keorganisasian terakhir sebagai berikut :
5

Administrator/KKPH : Ir. Widhi Tjahjanto, MM


Wakil Adm/KSKPH Madiun Utara : Tri Raharjo, [Link]
Wakil Adm/KSKPH Madiun Selatan : Errik Alberto, [Link]
Kepala Tata Usaha : Dardiri, SE
Kasi PSDH : Albert Revy S, [Link], MM
Struktur organisasi KPH Madiun disusun secara dinamis disesuaikan
dengan perkembangan perusahaan. Dalam melaksanakan kegiatan oprerasional
KPH membentuk sub organisasi di lapangan yang dipimpin oleh seorang
Asper/KBKPH yang dibantu beberapa KRPH, sedangkan pekerjaan administrasi
di kantor dibentuk bagian-bagian terkait teknis non teknis kehutanan yang
dikepalai Kss dan Kaur. Berikut disajikan bagan organisasi KPH Madiun
berdasar SK: Direksi No. 007/KPTS/DIR/2014 tanggal 13 januari 2014 (Perum
perhutani, 2015).

2.4 Peta Kawasan


(Sumber : Perum Perhutani. 2015. Profile Perhutani KPH Madiun)

Gambar 2.1 Peta Kawasan Perum Perhutani KPH Madiun


6

2.5 Keselamatan Kerja

(Sumber : Perum Perhutani. 2015. Profile Perhutani KPH Madiun)


Gambar 2.2 Kebijakan K3 Perum Perhutani KPH Madiun
2.6 Perencanaan Hutan
Perencanaan merupakan proses penetapan tujuan, penetuan kegiatan dan
perangkat yang diperlukan dalam pengurusan hutan lestari untuk memberikan
pedoman dan arah guna menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan kehutanan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat berkeadilan dan berkelanjutan.
Tujuan dari perencanaan adalah mewujudkan penyelenggaraan kehutanan
yang efektif dan efisien. Didalam perencanaan terdapat rencana jangka panjang
dan jangka tahunan, rencana jangka panjang berupa RPKH yang dilaksanakan
oleh PHW, KPH Banyuwangi utara Utara direncanakan oleh PHW V Jember
sedangkan rencana tahunan berupa RTT yang dilaksanakan oleh KPH. RTT
dibuat mengacu pada RPKH dan disesuaikan dengan keadaan lapangan. RTT
dibuat dari seluruh komponen dalam pengelolaan hutan dari kelola sosial,
lingkungan hingga potensi SDH.
7

Menurut Rahmawaty (2006) perencanaan adalah suatu upaya dalam


bentuk rencana, dasar acuan dan pegangan bagi pelaksanaan berbagai kegiatan
dalam rangka mencapai tujuan pengusahaan hutan yang bertolak dari kenyataan
saat ini dan memperhitungkan pengaruh masalah. Sedangkan menurut Zaitunah
(2004), perencanaan merupakan tahapan penting dalam mewujudkan tujuan dari
pengelolaan hutan hutan lestari. Perencanaan yang baik menjadikan pengelolaan
hutan terarah dan terkendali, baik dalam awal pengelolaan hutan maupun kegiatan
monitoring dan evaluasi kegiatan. Komponen–komponen Perencanaan Hutan:
Pengelolaan hutan, Penataan hutan, Rekontruksi batas, Pembagian hutan,
Inventarisasi hutan / Risalah hutan.

2.7 Produktivitas Hutan/Pembinaan Hutan


Pembinaan hutan merupakan salah satu bagian yang memiliki peran
penting dalam keberlangsungan pengelolaan hutan alam yang berkelanjutan di
areal IUPHHK-HA. Departemen Pembinaan Hutan bertugas merencanakan dan
melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan dengan melakukan tindakan silvikultur,
untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan sehingga memberikan manfaat
ekonomi, ekologis dan sosial. Kegiatannya meliputi pengorganisasian kegiatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pembinaan hutan. Departemen
pembinaan hutan melaksanakan kegiatan antara lain persemaian, penanaman,
pemeliharaan, serta konservasi dan penelitian pengembangan.

2.8 Perlindungan dan pengamanan hutan


Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1985
tentang perlindungan hutan, dinyatakan bahwa tujuan perlindungan hutan adalah
untuk menjaga kelestarian hutan agar dapat memenuhi fungsinya. Untuk itu
dilakukan segala usaha, kegiatan, tindakan untuk mencegah dan membatasi
kerusakan-kerusakan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan
manusia, ternak, kebakaran, daya-daya alam, hama dan penyakit, serta untuk
mempertahankan dan menjaga hak-hak negara atas hutan dan hasil hutan. Upaya
perlindungan dan pengamanan hutan adalah bukan semata-mata tanggung jawab
dan tugas pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab dan tugas seluruh
8

warga masyarakat. Meskipun demikian, tanggung jawab dan tugas ini masih
cukup berat untuk kita emban bersama apalagi kegiatan perlindungan hutan ini
tidak hanya mencakup kawasan konservasi saja, tetapi juga mencakup kawasan
hutan produksi, hutan lindung dan kawasan hutan lainnya. Dengan semua
keterbatasan yang ada, upaya perlindungan dan pengamanan hutan harus tetap
dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.
Upaya perlindungan dan pengamanan kawasan hutan merupakan kegiatan
untuk menjaga dan mempertahankan keberadaan kawasan hutan serta hak-hak
negara atas kawasan hutan, mencegah dan membatasi kerusakan kawasan hutan.
Upaya ini diawali dengan dilakukannya penataan batas terhadap areal hutan yang
telah ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sesuai dengan fungsinya, untuk
dikukuhkan menjadi kawasan hutan. Upaya ini merupakan kegiatan
perlindungan/pengamanan teknis dan yuridis. Kegiatan perlindungan dan
pengamanan selanjutnya diarahkan untuk menjaga serta mempertahankan
kawasan hutan tersebut, antara lain dengan: - Mencegah dan/atau menindak orang
yang memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas
kawasan hutan. - Mencegah dan/atau menanggulangi (termasuk di dalamnya
menindak) orang yangmengerjakan atau menduduki kawasan hutan tanpa izin
Menteri Kehutanan. Termasuk dalam kegiatan ini antara lain pencegahan dan
penanggulangan perambahan hutan, perladangan berpindah/liar, pemukiman liar
dan penambangan liar (oleh masyarakat). - Mengawasi, mencegah dan
menanggulangi terjadinya tumpang tindih peruntukan (penggunaan kawasan
hutan di luar fungsi yang telah ditetapkan oleh Menteri Kehutanan). Yang menjadi
perhatian dalam kegiatan ini antara lain adanya tumpang tindih dengan kegiatan
transmigrasi, pertambangan, pertanian (perkebunan, perikanan, dll) dan
pengusahaan hutan (HPH). - Mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan.
Dalam hubungannya dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, upaya
perlindungan terhadap kawasan hutan ini dapat dikaitkan terutama dengan pasal
14 s/d pasal 19, pasal 29 s/d pasal 35, pasal 39, pasal 40 dan pasal 41 (Sila dan
Nuraeni, 2009).
9

2.9 Konservasi Sumber Daya Hutan


Penataan kawasan hutan di Indonesia berdasarkan pada kebijakan yang
ditetapkan oleh pemerintah dalam hal ini adalah Kementrian Kehutanan.
Penetapan kawasan hutan di setiap provinsi di Indonesia didasarkan pada
kesepakatan antar instansi terkait dan antar pemerintah pusat dan pemerintah
daerah yang menyangkut kawasan hutan dan non hutan yang dikenal dengan Tata
Guna Hutan Kesepakatan. Kebijakan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK)
diawali dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor
680/Kpts/Um/8/81 tentang Pedoman Penatagunaan Hutan Kesepatan (TGHK).
Tata cara penetapan TGHK ini secara operasional diatur dengan terbitnya Surat
Keputusan Menteri Pertanian tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Fungsi
Hutan yaitu: (1) SK Mentan Nomor 837/Kpts/Um/11/80 Tentang Kriteria dan
Tata Cara Penetapan Hutan Lindung; (2) SK Mentan Nomor 683/Kpts/Um/8/81
Tentang Kriteria dan Tata Cara Penmetapan Hutan Produksi; dan (3) SK Presiden
RI Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung Menurut UU
Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 6 (2) bahwa pemerintah
menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokok yaitu fungsi konservasi, fungsi
lindung, dan fungsi produksi. Namun demikian hingga saat ini penetapan kriteria
kawasan hutan masih didasarkan pada SK Mentan Nomor 837/Kpts/Um/11/80
dan SK Mentan Nomor 683/Kpts/Um/8/81 dengan menggunakan faktor penentu
kelerengan, jenis tanah, dan curah hujan (Heryanto, 2017).
Kebun Raya di Indonesia tengah meningkatkan upaya pembudidayaan
spesies langka dan terancam punah. Banyak pula yang mengkhususkan dari tipe –
tipe tumbuhan tertentu. Kebun Raya diharapkan dapat memberikan sumbangan
yang berharga bagi upaya konservasi, karena koleksi tumbuhan hidup dan spesies
merupakan sumber informasi terbaik mengenai penyebaran tumbuhan dan
pengenalan tumbuhan dan penelaahan status konservasi [Link] Raya
Indonesia membutuhkan minimal 45 Kebun Raya. Saat ini ada 16 Kebun Raya
yang sedang dibangun di 14 provinsi, 4 Kebun Raya yang sudah eksis. Kondisi
pulau Jawa yang berpenduduk terpadat di Indonesia sehingga di pulau Jawa
banyak menghadapi masalah dalam mempertahankan kelestarian sumberdaya
10

alamnya. Tekanan hutan yang semakin kuat karna terjadi konversi hutan yang
begitu cepat berubah menjadi berbagai macam kepentingan masyarakat untuk
pemukiman, sarana transportasi, dan sarana publik lainnya, dan pertumbuhan
penduduk yang tinggi, maka kawasan hutan di Jawa tinggal 19%, mengingat
kondisi tersebut perlu segera diupayakan pelestarian keanekaragaman hayati agar
tidak mengalami kepunahan. Salah satu tujuan untuk memenuhi kebutuhan setiap
provinsi minimal mempunyai satu Kebun Raya dan menghadapi berbagai
permasalahan tekanan terhadap hutan di pulau Jawa khususnya Jawa Tengah
maka dipilih Baturraden untuk lokasi Kebun Raya sebagai kawasan konservasi
Ex- situ flora pegunungan Jawa (Mandiriati et all. 2016).

2.10 Pemanenan Hasil Hutan Kayu


Volume limbah pemanenan kayu yang berasal di hutan tanaman juga
sangat besar. Muhdi (2013) menyatakan bahwa volume limbah kayu petak
pemanenan kayu di hutan alam sebesar 13,70 m3/ha. Adapun limbah pemanenan
kayu di hutan tanaman di Sumatera Utara rata-rata mencapai sebesar 37,29
m3/ha (Muhdi et all, 2013). Papan partikel merupakan salah satu alternatif dalam
pemenuhan kebutuhan kayu. Papan partikel dibuat dari potongan-potongan kayu
kecil (limbah kayu) maupun dari bahan berlignoselulosa lainnya. Kebutuhan
papan partikel terus meningkat. Tiap bulannya satu pabrik mebel (furniture)
membutuhkan paling sedikit 3.000 m3 papan partikel, yang sebagian besar
diimpor dari China dan Italia karena minimnya pasokan local. Oleh karena itu
pemanfaatan limbah pemanenan kayu akasia menjadi papan partikel merupakan
salah satu alternatif dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumber daya kayu
yang semakin terbatas dan diharapkan dapat memberikan nilai tambah. Data dan
informasi aspek fisis dan mekanis papan partikel dari limbah pemanenan kayu
sangat penting, sehingga diperlukan penelitian pembuatan papan partikel dari
limbah tersebut (Muhdi et all, 2013).
11

2.11 Pemanenan Hasil Hutan Non Kayu


2.11.1 Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)
Keberadaan hutan memiliki arti penting sebagai sumberdaya hayati yang
dimanfaatkan baik secara langsung maupun tidak langsung guna memenuhi hajat
hidup orang banyak. Oleh sebab itu hutan mendapat perhatian khusus terutama
dalam pengelolaan dan pemanfaatannya sehingga diharapkan dapat dinikmati
seoptimal mungkin dengan tetap mengacu pada pemanfaatan yang lestari.
Pemanfaatan hutan yang kurang bijaksana dengan mengabaikan aspek - aspek
pemanfaatan hutan yang berkesinambungan dikhawatirkan dapat mengurangi
fungsi hutan. HHBK berasal dari bagian pohon atau tumbuhtumbuhan yang
memiliki sifat khusus yang dapat menjadi suatu barang yang diperlukan oleh
masyarakat, dijual sebagai komoditi ekspor atau sebagai bahan baku untuk suatu
industri. FAO mendefinisikan HHBK sebagai produk selain kayu yang berasal
dari bahan biologis, diperoleh dari hutan dan pepohonan yang tumbuh di sekitar
hutan. Menurut UU Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, disebutkan bahwa HHBK
adalah hasil hutan hayati maupun non hayati. Menurut Peraturan Menteri
Kehutanan No. 35 tahun 2007, HHBK adalah hasil hutan hayati baik nabati
maupun hewani beserta produk turunan dan budidayanya kecuali kayu yang
berasal dari hutan. Beragam manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan dapat
diperoleh dari keberadaan HHBK ini. Pada tahun 2006 terdapat kurang lebih 558
komoditas HHBK yang menjadi urusan Departemen Kehutanan (Departemen
Kehutanan, 2007).
Perum Perhutani selaku pengelola utama industri hasil hutan non kayu,
senantiasa berupaya meningkatkan hasil dan memperkuat industri ini dari tahun
ke tahun. Gondorukem, minyak terpentin, minyak kayu putih, dan juga lak butiran
adalah hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang tetap menjadi penggerak efektif roda
industri kehutanan di Provinsi Jawa Timur sampai dengan saat ini.

2.11.2 Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu komponen penting dalam pemanfaatan
dan pengembangan produk-produk HHBK. Bagaimanapun juga, untuk
meningkatkan status penghidupan dan ekonomi petani, produk-produk tersebut
12

harus dijual. Tanpa adanya pemasaran, maka HHBK yang dipungut atau
diproduksi oleh petani tidak akan bergerak dan tidak akan pernah maju selain
hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari petani saja (Salaka, 2012). Namun,
aspek pemasaran sering tidak dapat perhatian. Khairida (2012) mengatakan
bahwa kelemahan dalam sistem kehutanan di negara berkembang seperti
Indonesia adalah kurangnya perhatian dalam bidang pemasaran.

2.12 Pengembangan Masyarakat Desa Hutan (PMDH)


Tingkat kesejahteraan masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan
masih terus menjadi pembicaraan hangat karena selama beroperasinya HPH
sebagai pengusaha dan pengelola hutan sejak tahun 1970-an tingkat kesejahteraan
mereka tidak berubah atau masih tetap seperti semula. Rendahnya tingkat
kesejahteraan masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan telah disadari dan
diyakini keberadaannya sehingga Departemen Kehutanan (Dephut) telah
mengeluarkan program HPH Bina Desa yang dimulai sejak tahun 1991 melalui
kebijakan yang berupa keluarnya Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor:
61/Kpts-II/1991.
Sejalan dengan perkembangan pelaksanaan program HPH Bina Desa
selama 5 (lima) tahun dan tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar hutan belum
beranjak dari status kemiskinannya sehingga Dephut merasa perlu merubah HPH
Bina Desanya dengan Program Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) yang
menjadi suatu kewajiban bagi pemegang HPH/HPHTI untuk melakukan
pembinaan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar areal kerja mereka sesuai
dengan SK Menhut Nomor: 69/Kpts-II/95.
Adapun tujuan dari program PMDH adalah membantu mewujudkan
masyarakat desa hutan yang mandiri, sejahtera dan sadar lingkungan sehingga
untuk mencapai tujuan tersebut pemegang HPH/HPHTI diwajibkan menyusun
sebuah rencana pembinaan jangka pendek, menengah dan panjang yang didahului
dan didasari dengan studi diagnostik yang tepat dan benar.
13

2.13 Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan


Pendekatan menyeluruh pengelolaan DAS secara terpadu menuntut suatu
manajemen terbuka yang menjamin keberlangsungan proses koordinasi antara
lembaga terkait. Pendekatan terpadu juga memandang pentingnya peranan
partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS, mulai dari perencanaan,
perumusan kebijakan, pelaksanaan dan pemungutan manfaat. Pentingnya posisi
DAS sebagai unit perencanaan yang utuh merupakan konsekuensi logis untuk
menjaga kesinambungan pemanfaatan sumberdaya hutan, tanah dan air. Kurang
tepatnya perencanaan dapat menimbulkan adanya degradasi DAS yang
mengakibatkan buruk seperti yang dikemukakan di atas.
Dalam upaya menciptakan pendekatan pengelolaan DAS secara terpadu,
diperlukan perencanaan secara terpadu, menyeluruh, berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan dengan mempertimbangkan DAS sebagai suatu unit
pengelolaan. Dengan demikian bila ada bencana, apakah itu banjir maupun
kekeringan, penanggulangannya dapat dilakukan secara menyeluruh yang
meliputi DAS mulai dari daerah hulu sampai hilir.
Dalam rangka memberikan gambaran keterkaitan secara menyeluruh
dalam pengelolaan DAS, terlebih dahulu diperlukan batasan-batasan mengenai
DAS berdasarkan fungsi, yaitu pertama DAS bagian hulu didasarkan pada fungsi
konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar
tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan
vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah
hujan. Kedua DAS bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai
yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan
ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air,
kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada
prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan [Link] DAS
bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk
dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang
diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air,
14

ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta
pengelolaan air limbah.
Keberadaan sektor kehutanan di daerah hulu yang terkelola dengan baik
dan terjaga keberlanjutannya dengan didukung oleh prasarana dan sarana di
bagian tengah akan dapat mempengaruhi fungsi dan manfaat DAS tersebut di
bagian hilir, baik untuk pertanian, kehutanan maupun untuk kebutuhan air bersih
bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan adanya rentang panjang DAS yang
begitu luas, baik secara administrasi maupun tata ruang, dalam pengelolaan DAS
diperlukan adanya koordinasi berbagai pihak terkait baik lintas sektoral maupun
lintas daerah secara baik (Direktorat Kehutanan, 2008).

2.14 Administrasi Kehutanan


2.14.1 Kelembagaan dan tata kelola organisasi Perum Perhutani

(Sumber : Perum Perhutani. 2015. Profile Perhutani KPH Madiun)


Gambar 2.3 Kelembagaan dan Tata Kelola Organisasi Perum Perhutani
15

Tujuan pengelolaan hutan sesuai Peraturan Pemerintah nomor 72 tahun 2010


Tentang Perusahaan Umum (PERUM) Kehutanan negara adalah:
Menyelenggarakan usaha yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa
penyediaan barang dan atau jasa yang berhubungan dengan pengelolaan hutan dan
hasil hutan yang berkwalitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat
berdasarkan prinsip Pengelolaan Hutan Lestri dan prinsip tata kelola perusahaan
yang baik.
Manfaat Pengelolaan hutan. (i) Bagi Pemrakarsa (Perum Perhutani) a) Sumber
informasi mengenai keadaan lingkungan areal yang dibebani pengusahaan hutan
tanaman, baik komponen fisik kimia, biologi, maupun sosial ekonomi budaya
setempat; b) Sumber informasi mengenai dampak besar dan penting yang
mungkin akan timbul dari berbagai komponen kegiatan pengusahaan hutan
tanaman; c) Masukan untuk penyusunan disain teknis rencana kegiatan
pengusahaan hutan tanaman; d) Sebagai masukan untuk penyusunan Rencana
Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan oleh Perum Perhutani. (ii) Bagi
Masyarakat a) Bahan informasi mengenai perubahan beberapa komponen
lingkungan akibat dilaksanakannya kegiatan pengusahaan hutan oleh Perum
Perhutani; b) Dapat ikut mengetahui dan memanfaatkan dampak positif yang
mungkin timbul oleh rencana kegiatan pengusahaan hutan, serta menghindari
dampak negatif yang mungkin timbul. (iii) Bagi Pemerintah a) Bahan bagi
perencanaan pembangunan wilayah b) Bahan bagi proses pengambilan keputusan
tentang kelayakan lingkungan dari rencana kegiatan yang dilakukan oleh Perum
Perhutani (Perum Perhutani, 2015).
16

BAB III. METODE PENGAMATAN

3.1 Waktu dan Lokasi Pengamatan


Praktek Kerja Lapang ini di laksanakan pada tanggal 22 Juli – 31
Agustus 2019 di Perum Perhutani KPH Madiun Provinsi Jawa Timur.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan untuk mengambil data adalah :
1. Kamera
2. Alat tulis

3.3 Metode Pengambilan Data


No Aspek Lingkup Kegiatan Metode Waktu
.
1. Keselamatan 1. Pengelolaa keselamatan Observasi dan 3 hari
Kerja dan kesehatan kerja (K3) wawancara
2. Perencanaan 1. Penataan dan Analisis dan 7 hari
Hutan Pengorganisasian Wawancara
Kawasan Hutan.
2. Inventarisasi hutan
3. Penghitungan Etat,
Uji jangka waktu
penebangan dan
pembuatan bagan
tebang.
4. Rencana
pengaturan
kelestarian hutan
(RPKH).
3. Produktivitas 1. Perencanaan atau Observasi dan 4 hari
Hutan/Pembinaan persiapan lapangan. Wawancara
Hutan 2. Pengadaan benih Pengamatan
meliputi :
 Kebun benih
dan tegakan
benih.
 Seleksi dan
penyimpanan Wawancara dan
benih. studi literatur
 Kebutuhan
benih.
 Perlakuan
17

Benih.
3. Pembuatan
persemaian
meliputi:
 Luas dan
persyaratan
lokasi.
 Lay-out
persemaian.
 Pembuatan unit
persemaian. Wawancara
 Pembuatan
bedeng tabur.
 Pembuatan
bedeng sapih.
 Kontainer,
selokan dan
jalan
pemeriksaan.
 Penaburan dan
penyapihan
bibit.
 Pemeliharaaan
 Administrasi
persemaian.
4. Sistem pembuatan
tanaman meliputi :
 Tumpangsari.
 Cemplongan.
 Banjar harian
dan borongan.
 Sistem
komplangan.
5. Teknik penanaman
dan pengaturan
pola tanam.
4. Perlindungan dan 1. Pengendalian hama Observasi dan 4 hari
pengamanan penyakit. Wawancara
hutan 2. Pengendalian
kebakaran
3. Pengendalian
perladangan
berpindah.
4. Pencegahan
perambahan hutan.
18

5. Pencegahan
pengembalaan
hutan.
6. Pencegahan
pencurian kayu.
5. Konservasi 1. Inventarisasi jenis- Observasi, 4 hari
Sumber Daya jenis kawasan Wawancara, dan
Hutan. lindung dan upaya Analisis
penetapan,
pelestarian, dan
pengendalian
pemanfaatannya.
2. Inventarisasi
keanekaragaman
hayati (flora dan
fauna).
3. Pelestarian spesies-
spesies tumbuhan
langka atau
dilindungi yang
ditemukan di petak
tebangan sesuai
dengan hasil ITSP.
4. Pelestarian satwa
langka dan upaya
pelestarian.
5. Dampak
lingkungan
kegiatan-kegiatan
kehutanan di
Perum Perhutani.

6. Pemanenan Hasil 1. Rencana dan Observasi dan 5 hari


Hutan Kayu pelaksanaan Wawancara
pembukaan
wilayah hutan.
2. Teknik pemanenan
kayu.
3. Manajemen
pemanfaatan hasil
hutan kayu.
7. Pemanenan Hasil 1. Identifikasi jenis Observasi, 4 hari
Hutan Non Kayu HHBK. Wawancara, dan
2. Potensi HHBK Analisis
(vol/ha).
3. Teknik pemanenan
19

HHBK (alat,
produktivitas,
periode panen).
4. Biaya produksi
HHBK termasuk
upah dan tenaga
kerja HHBK.
5. Penanganan pasca
panen
(pengumpulan dan
pengangkutan).
6. Pemasaran HHBK.
8. Pengembangan 1. Identifikasi dan Observasi dan 4 hari
Masyarakat Desa pendataaan kondisi wawancara
Hutan (PMDH) potensi serta
masalah sosial
ekonomi
masyarakat.
2. Kebijakan dan
program
pemberdayaan
masyarakat oleh
pemerintah desa.
3. Persepsi dan
harapan
Pemerintah Desa
terhadap Perum
Perhutani dan
program
kehutanan yang
ada di Perum
Perhutani.
4. Kelembagaan
kelompok tani
meliputi :
 Masalah
kontrak
kerjasama
antara
penggarap dan
Perum
Perhutani.
 Organisasi dan
aturan main
kelompok tani.
5. Upaya penguatan
20

kelompok tani.
9. Pengelolaan DAS 1. Pengamatan lahan Observasi dan 3 hari
dan Rehabilitasi kritis. wawancara
Hutan dan Lahan 2. Pemahaman konsep
rehabilitasi hutan
dan lahan (RHL).
3. Analisis aspek-
aspek konservasi
tanah dan air
(KTA).
4. Pemahaman
dinamika sosial
masyarakat tentang
lahan.
5. Pengamatan terkait
kondisi sosial yang
berhubungan
dengan DAS.
6. Pemantauan DAS.
10. Administrasi 1. Kelembagaan dan tata wawancara 3 hari
Kehutanan kelola organisasi Perum
Perhutani.
Tabel 3.1 Term Of Reference Perum Perhutani KPH Madiun
21

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kehutanan. 2007. Peraturan Menteri Kehutanan No. 35 tahun 2007


tentang Hasil Hutan Bukan Kayu. Departemen Kehutanan, Jakarta.
Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air. 2008. Kajian Model
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu.
[Link]
daerah-aliran-sungai-das-terpadu__20081123002641__16.pdf. [23 November
2008].
Forestry Research and Development Agency. 2010. Rencana Penelitian
Integratif : Keteknikan dan Pemanenan Hasil Hutan. 20. FORDA. Jakarta.
Heryanto. 2017. Arahan Pemanfaatan Lahan Pada Kawasan Lindung Berbasis
Sistem Informasi Geografi Sebagai Upaya Pengakuan Ekonomi di
Kabupaten Semarang. Jurnal Pendidikan Teknologi pertanian. 3(1): 251-
263
Khairida. 2002. Pemasaran Hasil Buah Pohon Serbaguna dengan Pola
Agroforestry di Propinsi Lampung. [Tesis]. Program Pasca Sarjana Institut
Pertanian Bogor. Bogor. Indonesia
Mandiriati H., Marsono D., Poedjirahajoe E., Sadono R. 2016. Konservasi
Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Jawa di Kebun Raya Baturraden di
Kawasan Bekas Hutan Produksi Terbatas. Jurnal Ilmu Lingkungan. 14(1):
33-38.
Perum Perhutani. 2015. Profile Perhutani KPH Madiun. Jakarta.
Salaka FJ. 2012. Strategi Kebijakan Pemasaran Hasil Hutan Bukan Kayu di
Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Jurnal Analisis
Kebijakan Kehutanan. 9(1): 50-65.
Sila M dan Nuraeni S. 2009. Perlindungan dan Pengamanan Hutan. Buku Ajar.
Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Makassar.

Anda mungkin juga menyukai