Proposal PKL Kehutanan Universitas Mataram
Proposal PKL Kehutanan Universitas Mataram
PROPOSAL KEGIATAN
PRAKTIK KERJA LAPANAN
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
Oleh
Kelompok Perhutani 1
Dewi Juliana : C1L016024
Muhammad Harun : C1L016067
Muhammad Ihza Yudha Mahendra : C1L016068
Ni Ketut Ayu Meta Purnami : C1L016075
Rizky Cesare Anggraini : C1L016094
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
ii
2019
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Menyetujui:
Menyetujui:
Muhamad Husni Idris, SP., [Link]., Ph.D Dr. Andi Chairil Ichsan, [Link]., [Link]
NIP. 19701231 1995512 1 001 NIP. 19831216 200812 1 003
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL....................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................vii
BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Tujuan....................................................................................................2
1.3 Manfaat..................................................................................................3
1.4 Output Kegiatan.....................................................................................3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................4
2.1 Sejarah Kawasan....................................................................................4
2.2 Letak dan Luas.......................................................................................4
2.3 Kelembagaan..........................................................................................4
2.4 Peta Kawasan.........................................................................................5
2.5 Keselamatan Kerja.................................................................................6
2.6 Perencanaan Hutan.................................................................................6
2.7 Produktivitas Hutan/Pembinaan Hutan..................................................7
2.8 Perlindungan dan pengamanan hutan.....................................................7
2.9 Konservasi Sumber Daya Hutan............................................................9
2.10 Pemanenan Hasil Hutan Kayu...........................................................10
2.11 Pemanenan Hasil Hutan Non Kayu....................................................11
2.11.1 Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)..........................................11
2.11.2 Pemasaran................................................................................11
2.12 Pengembangan Masyarakat Desa Hutan (PMDH).............................12
2.13 Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan........................13
2.14 Administrasi Kehutanan.....................................................................14
2.14.1 Kelembagaan dan tata kelola organisasi Perum Perhutani......14
vi
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB I. PENDAHULUAN
Terbatas seluas 428.795 ha (16%), dan Hutan Lindung seluas 683.889 ha. KPH
Madiun merupakan bagian dari Perum Perhutani yang diberikan wewenang
mengelola hutan di Jawa dan Madura oleh pemerintah berdasarkan PP no 72
tahun 2010. KPH Madiun sebagai salah satu KPH yang ditunjuk oleh Perum
Perhutani memiliki komitmen yang kuat dalam rangka implementasi pengelolaan
hutan secara lestari. Luas areal pengusahaan hutan tanaman KPH Madiun sesuai
dengan Peta Fungsi Hutan KPH Madiun yaitu seluas 31.219.7 Ha, terdiri dari
Kelas Perusahaan Jati 27.483.6 Ha dan Kelas Perusahaan Kayu Putih 3.736,1 Ha.
Selama berlangsungnya kegiatan praktek kerja lapang, mahasiswa wajib
memenuhi segala ketentuan yang diberlakukan oleh Program Studi Kehutanan
dan lembaga mitra diantaranya seperti mengisi daftar hadir dan menulis jurnal
harian, selain itu setiap peserta praktek kerja lapang juga wajib membuat tugas
akhir dalam bentuk laporan kegiatan PKL secara kelompok dan Artikel Ilmiah
sebagai tugas individu. Proses penilaian PKL terdiri dari pre-test, nilai di lapangan
oleh Lembaga mitra, seminar PKL, dan ujian oleh dosen pembimbing. Proses
monitoring praktek kerja lapang dilakukan oleh dosen pembimbing melalui
kegiatan supervisi dengan mengunjungi lokasi-lokasi praktik.
1.2 Tujuan
Tujuan dari kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) secara umum adalah sebagai
berikut:
1. Pengalaman dalam mengimplemantasikan ilmu dan teori pengelolaan hutan
lestari dalam dunia kerja, khususnya di bidang manajemen hutan,
produktivitas (silvikultur), pemanenan, perlindungan dan pengamanan hutan,
pengembangan ekowisata, kesehatan dan keselamatan kerja, pemanfaatan
hutan, rehabilitasi hutan, pemberdayaan masyarakat, dan administrasi
kehutanan.
2. Pengalaman kerja dalam kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan sehingga
mahasiswa mengerti, mampu menganalisa, dan mengkomunikasikan konsep-
konsep dan praktek dalam pengelolaan hutan lestari.
3. Pengalaman kehidupan bersama dengan menginterpretasikan nilai-nilai dasar
korsa rimbawan.
3
1.3 Manfaat
Manfaat yang diperoleh setelah mengikuti kegiatan praktek kerja lapang yaitu :
1. Data hasil kegiatan praktek kerja lapang dapat menjadi masukan kepada
lembaga mitra untuk dijadikan dasar pengelolaan hutan lestari agar menjadi
lebih baik lagi
2. Menjadi sarana pengembangan kemampuan dan penguasaan keilmuan
bagi mahasiswa terutama dalam bidang pengelolaan hutan lestari.
Keluaran atau hasil yang akan diperoleh dengan terlaksananya kegiatan ini
adalah laporan hasil kegiatan PKL, baner dan film dokumenter dari setiap
kelompok mahasiswa, serta artikel Ilmiah yang merupakan tugas individu.
4
2.3 Kelembagaan
Sampai dengan saat ini KPH Madiun dipegang oleh Administratur/KKPH
selaku penanggung jawab Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) dengan struktur
keorganisasian terakhir sebagai berikut :
5
warga masyarakat. Meskipun demikian, tanggung jawab dan tugas ini masih
cukup berat untuk kita emban bersama apalagi kegiatan perlindungan hutan ini
tidak hanya mencakup kawasan konservasi saja, tetapi juga mencakup kawasan
hutan produksi, hutan lindung dan kawasan hutan lainnya. Dengan semua
keterbatasan yang ada, upaya perlindungan dan pengamanan hutan harus tetap
dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.
Upaya perlindungan dan pengamanan kawasan hutan merupakan kegiatan
untuk menjaga dan mempertahankan keberadaan kawasan hutan serta hak-hak
negara atas kawasan hutan, mencegah dan membatasi kerusakan kawasan hutan.
Upaya ini diawali dengan dilakukannya penataan batas terhadap areal hutan yang
telah ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sesuai dengan fungsinya, untuk
dikukuhkan menjadi kawasan hutan. Upaya ini merupakan kegiatan
perlindungan/pengamanan teknis dan yuridis. Kegiatan perlindungan dan
pengamanan selanjutnya diarahkan untuk menjaga serta mempertahankan
kawasan hutan tersebut, antara lain dengan: - Mencegah dan/atau menindak orang
yang memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas
kawasan hutan. - Mencegah dan/atau menanggulangi (termasuk di dalamnya
menindak) orang yangmengerjakan atau menduduki kawasan hutan tanpa izin
Menteri Kehutanan. Termasuk dalam kegiatan ini antara lain pencegahan dan
penanggulangan perambahan hutan, perladangan berpindah/liar, pemukiman liar
dan penambangan liar (oleh masyarakat). - Mengawasi, mencegah dan
menanggulangi terjadinya tumpang tindih peruntukan (penggunaan kawasan
hutan di luar fungsi yang telah ditetapkan oleh Menteri Kehutanan). Yang menjadi
perhatian dalam kegiatan ini antara lain adanya tumpang tindih dengan kegiatan
transmigrasi, pertambangan, pertanian (perkebunan, perikanan, dll) dan
pengusahaan hutan (HPH). - Mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan.
Dalam hubungannya dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, upaya
perlindungan terhadap kawasan hutan ini dapat dikaitkan terutama dengan pasal
14 s/d pasal 19, pasal 29 s/d pasal 35, pasal 39, pasal 40 dan pasal 41 (Sila dan
Nuraeni, 2009).
9
alamnya. Tekanan hutan yang semakin kuat karna terjadi konversi hutan yang
begitu cepat berubah menjadi berbagai macam kepentingan masyarakat untuk
pemukiman, sarana transportasi, dan sarana publik lainnya, dan pertumbuhan
penduduk yang tinggi, maka kawasan hutan di Jawa tinggal 19%, mengingat
kondisi tersebut perlu segera diupayakan pelestarian keanekaragaman hayati agar
tidak mengalami kepunahan. Salah satu tujuan untuk memenuhi kebutuhan setiap
provinsi minimal mempunyai satu Kebun Raya dan menghadapi berbagai
permasalahan tekanan terhadap hutan di pulau Jawa khususnya Jawa Tengah
maka dipilih Baturraden untuk lokasi Kebun Raya sebagai kawasan konservasi
Ex- situ flora pegunungan Jawa (Mandiriati et all. 2016).
2.11.2 Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu komponen penting dalam pemanfaatan
dan pengembangan produk-produk HHBK. Bagaimanapun juga, untuk
meningkatkan status penghidupan dan ekonomi petani, produk-produk tersebut
12
harus dijual. Tanpa adanya pemasaran, maka HHBK yang dipungut atau
diproduksi oleh petani tidak akan bergerak dan tidak akan pernah maju selain
hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari petani saja (Salaka, 2012). Namun,
aspek pemasaran sering tidak dapat perhatian. Khairida (2012) mengatakan
bahwa kelemahan dalam sistem kehutanan di negara berkembang seperti
Indonesia adalah kurangnya perhatian dalam bidang pemasaran.
ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta
pengelolaan air limbah.
Keberadaan sektor kehutanan di daerah hulu yang terkelola dengan baik
dan terjaga keberlanjutannya dengan didukung oleh prasarana dan sarana di
bagian tengah akan dapat mempengaruhi fungsi dan manfaat DAS tersebut di
bagian hilir, baik untuk pertanian, kehutanan maupun untuk kebutuhan air bersih
bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan adanya rentang panjang DAS yang
begitu luas, baik secara administrasi maupun tata ruang, dalam pengelolaan DAS
diperlukan adanya koordinasi berbagai pihak terkait baik lintas sektoral maupun
lintas daerah secara baik (Direktorat Kehutanan, 2008).
Benih.
3. Pembuatan
persemaian
meliputi:
Luas dan
persyaratan
lokasi.
Lay-out
persemaian.
Pembuatan unit
persemaian. Wawancara
Pembuatan
bedeng tabur.
Pembuatan
bedeng sapih.
Kontainer,
selokan dan
jalan
pemeriksaan.
Penaburan dan
penyapihan
bibit.
Pemeliharaaan
Administrasi
persemaian.
4. Sistem pembuatan
tanaman meliputi :
Tumpangsari.
Cemplongan.
Banjar harian
dan borongan.
Sistem
komplangan.
5. Teknik penanaman
dan pengaturan
pola tanam.
4. Perlindungan dan 1. Pengendalian hama Observasi dan 4 hari
pengamanan penyakit. Wawancara
hutan 2. Pengendalian
kebakaran
3. Pengendalian
perladangan
berpindah.
4. Pencegahan
perambahan hutan.
18
5. Pencegahan
pengembalaan
hutan.
6. Pencegahan
pencurian kayu.
5. Konservasi 1. Inventarisasi jenis- Observasi, 4 hari
Sumber Daya jenis kawasan Wawancara, dan
Hutan. lindung dan upaya Analisis
penetapan,
pelestarian, dan
pengendalian
pemanfaatannya.
2. Inventarisasi
keanekaragaman
hayati (flora dan
fauna).
3. Pelestarian spesies-
spesies tumbuhan
langka atau
dilindungi yang
ditemukan di petak
tebangan sesuai
dengan hasil ITSP.
4. Pelestarian satwa
langka dan upaya
pelestarian.
5. Dampak
lingkungan
kegiatan-kegiatan
kehutanan di
Perum Perhutani.
HHBK (alat,
produktivitas,
periode panen).
4. Biaya produksi
HHBK termasuk
upah dan tenaga
kerja HHBK.
5. Penanganan pasca
panen
(pengumpulan dan
pengangkutan).
6. Pemasaran HHBK.
8. Pengembangan 1. Identifikasi dan Observasi dan 4 hari
Masyarakat Desa pendataaan kondisi wawancara
Hutan (PMDH) potensi serta
masalah sosial
ekonomi
masyarakat.
2. Kebijakan dan
program
pemberdayaan
masyarakat oleh
pemerintah desa.
3. Persepsi dan
harapan
Pemerintah Desa
terhadap Perum
Perhutani dan
program
kehutanan yang
ada di Perum
Perhutani.
4. Kelembagaan
kelompok tani
meliputi :
Masalah
kontrak
kerjasama
antara
penggarap dan
Perum
Perhutani.
Organisasi dan
aturan main
kelompok tani.
5. Upaya penguatan
20
kelompok tani.
9. Pengelolaan DAS 1. Pengamatan lahan Observasi dan 3 hari
dan Rehabilitasi kritis. wawancara
Hutan dan Lahan 2. Pemahaman konsep
rehabilitasi hutan
dan lahan (RHL).
3. Analisis aspek-
aspek konservasi
tanah dan air
(KTA).
4. Pemahaman
dinamika sosial
masyarakat tentang
lahan.
5. Pengamatan terkait
kondisi sosial yang
berhubungan
dengan DAS.
6. Pemantauan DAS.
10. Administrasi 1. Kelembagaan dan tata wawancara 3 hari
Kehutanan kelola organisasi Perum
Perhutani.
Tabel 3.1 Term Of Reference Perum Perhutani KPH Madiun
21
DAFTAR PUSTAKA