Mari Ciptakan Defensive Driving Saat Mengemudi
sebagai pengemudi, yakni sebesar 69,70%,
K
“ einginan setiap pengemudi karena sarana sebesar 21,21%, dan
adalah selamat sampai tujuan.” prasarana sebesar 9,09%.
Nilai yang fantastis tersebut
Hal itulah yang menjadi alasan setiap
menunjukkan kesadaran setiap pengemudi
orang mengoperasikan kendaraannya
di jalan masih kurang meskipun persyaratan
dengan hati-hati dan patuh terhadap mengemudi baik surat perijinan,
peraturan lalu lintas.” kelengkapan sarana transportasi, bahkan
persyaratan kendaraan laik jalan telah
Pada kenyataannya, kecelakaan lalu dipenuhi.
lintas masih sering terjadi yang
merugikan si pengemudi, bahkan
pengemudi lain. SAFETY DRIVING VS DEFENSIVE
Kesadaran bahwa jalan adalah milik DRIVING
bersama perlu ditanamkan kepada Safety Driving dan Defensive Driving
siapapun dengan cara Defensive adalah dua hal yang berbeda. Safety Driving
adalah mengemudi dengan selamat. Safety
Driving. Defensive Driving menjadi
driving hanya memikirkan bagaimana si
hal penting untuk mencapai zero pengemudi dalam berkendara selamat
accident di jalan raya. sampai tujuan tanpa memperhatikan
sekitarnya, tetapi si pengemudi masih taat
terhadap peraturan lalu lintas.
ANGKA KECELAKAAN LALU LINTAS
Menurut Bintarto selaku bagian dari
Tidak bisa dipungkiri, kecelakaan tetap Indonesia Defensive Driving Center, Safety
menjadi potensi risiko yang tidak bisa kita Driving adalah perilaku mengemudi yang
hindari. Di tahun 2010-2016, persentase mengacu pada standar keselamatan
investigasi kecelakaan lalu lintas dan berkendara yang berlaku di suatu negara,
angkutan jalan di Indonesia, sebanyak yang dalam hal ini adalah UU No. 2 Tahun
68,29% kecelakaan lalu lintas disebabkan 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
karena tabrakan, 26,83%-nya karena Jalan.
terguling, dan sisanya karena terbakar.
Sementara Defensive Driving adalah
Komite Nasional Keselamatan perilaku pengemudi yang dapat
Transportasi (KNKT) menegaskan bahwa mengidentifikasi, mengantisipasi, dan
faktor penyebab kecelakaan lalu lintas dan menghindari setiap potensi bahaya selama
angkutan jalan karena faktor manusia mengemudi.
Jadi pengemudi tidak hanya 6. Pengemudi Mobil Barang
memikirkan keselamatan dirinya sendiri, Pengangkut Alat Berat
tetapi juga memikirkan keselamatan di 7. Pengemudi Mobil Barang
sekitarnya. Menciptakan pola pikir Pengangkut Peti Kemas
Defensive Riding membuat kita menjadi 8. Pengemudi Mobil Barang
pribadi yang tidak egois atau mengalah saat Pengangkut Barang Khusus
berada di jalan. Jalan adalah milik bersama 9. Pengemudi Mobil Barang
sudah sepatutnya setiap pengemudi Pengangkut B3
memiliki toleransi ketika berkendara.
UNTUK SIAPA DEFENSIVE DRIVING?
Kepmenakertrans nomor 269 tahun
2014 tentang Penetapan Standar
kompetensi kerja Nasional Indonesia
Kategori Transportasi dan Pergudangan
Golongan Pokok Angkutan Daat dan
Angkutan melalui Saluran Pipa Bidang
Mengemudi Angkutan bermotor
menjelaskan bahwa peranan Sumber Daya
Manusia sangatlah penting dan strategis,
khususnya yang mempunyai standar
kompetensi profesi yang diperlukan.
Dalam rangka memperoleh
kompetensi pengemudi, diperlukan Standar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia
(SKKNI) sebagai acuan dalam rangka
membangung dan menentukan profesi
pengemudi yang kompeten.
Mengingat begitu luasnya profesi
pengemusi, SKKNI hanya dibatasi dalam hal
profesi pengemudi sebagai berikut:
1. Pengemudi Taksi
2. Pengemudi Mobil Keluarga
3. Pengemudi Mobil Bus Antar Kota
Antar Provinsi (AKAP)
4. Pengemudi Mobil Bus Pariwisata
5. Pengemudi Mobil Massal dengan
Angkutan Bus Gandeng dan
Tingkat