RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN (RPL) KONSELING KELOMPOK
SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2023/2024
Komponen : Layanan Responsif Kelas : XI
Bidang : Belajar Semester : Gasal
Topik : Kecemasan dalam Belajar Durasi Waktu : 50 menit
No. Uraian Waktu
1 Tujuan Layanan
Setelah layanan konseling kelompok selesai (C), konseli (A)
dapat merencanakan solusi terkait kecemasan belajarnya (B)
dengan baik (D) (Merencanakan=C6: HOTS)
2 Teori, Teknik, dan Media
1. Teori: Konseling CBT
2. Teknik: Dispute, dan Kontrak Perilaku
3. Media: Laptop, Video (TPACK)
Link Video: [Link]
3 Langkah-langkah Kegiatan Layanan 5 Menit
1. Tahap Awal (Pertemuan dengan Konseli)
1. 1 Guru BK mengucapkan salam kepada anggota kelompok
1. 2 Guru BK mengajak anggota kelompok untuk berdoa
1. 3 Guru BK menanyakan kabar kepada anggota kelompok
1. 4 Guru BK meminta anggota kelompok untuk saling
berkenalan
1. 5 Guru BK menjelaskan tahapan dan tujuan konseling
kelompok yang akan dilaksanakan
1. 6 Guru BK menyampaikan norma-norma yang harus dipatuhi
oleh seluruh anggota kelompok selama proses konseling
kelompok
2. Tahap Transisi 5 menit
2. 1 Guru BK menanyakan kesiapan anggota kelompok untuk
melaksanakan konseling kelompok
2.2 Guru BK membantu anggota kelompok untuk
mengekspresikan dirinya, lebih terbuka dan mandiri
2. 3 Guru BK mengajak anggota kelompok untuk ice breaking
3. Tahap Inti 35 menit
3. 1 Guru BKmemberikan kesempatankepada
setiapanggotakelompok
/konseli untukmengemukakan masalah yang dialami saat ini
3. 2 Guru BKmelibatkan anggotakelompok/konseli untukmemberikan
pendapatatasskala prioritasmasalah anggota kelompok/konseli
yang akan dibahas
3. 3 Guru BK mengajak anggota kelompok/konseli
menyepakati masalah konseli yang akan dibahas
3. 4 Guru BK meminta konseli untuk bercerita secara terbuka
terkait permasalahannya (peristiwa yang mendahului
permasalahan tersebut)
3. 5 Guru BK menanyakan kepada konseli apa yang membuat
konseli meyakini bahwa apa yg konseli lakukan itu benar
3. 6 Guru BK menanyakan kepada konseli apa saja yang
ditimbulkan akibat dari perbuatannya tersebut
3. 7 Guru BK menanyakan kepada konseli apakah benar yang
sudah dilakukannya tersebut terkait keyakinan irasional dari
diri konseli yang saling bertentangan
3. 8 Guru BK menggunakan teknik disputing untuk merubah
pikiran irasional menjadi pikiran yang lebih rasional konseli
3. 9 Guru BK mengingatkan anggota kelompok untuk aktif
memberikan masukan, saran dan pertanyaan ataupun
memberikan pernyataan selama proses konseling kelompok
3. 10 Guru BK menampilkan video melalui link
[Link] dan
meminta anggota kelompok atau konseli untuk menganalisis
video tersebut
3. 11 Guru BK meminta kepada konseli untuk menuliskan
rencana konseli dalam selembar kertas dan
menandatanganinya
3. 12 Guru BK meminta kepada konseli untuk mengisi lembar
kerja konseli
3. 13 Guru BK meminta konseli untuk menyampaikan
perasaannya setelah proses konseling kelompok selesai
4. Tahap Penutup 5 menit
4. 1 Guru BK meminta kepada konseli/anggota kelompokuntukmengisi
evaluasihasil
4.2 Guru BKmeminta kepada konseli/anggota kelompokuntuk
menyimpulkanhasil konseling kelompok
4. 3 Guru BK memberikan penguatan atas kesimpulan
konseli/anggota kelompok
4. 4 Guru BK mengucapkan terima kasih kepada anggota
kelompok/konseli dan mengajak konseli untuk berdoa
4. 5 Guru BK bersalaman dengan anggota kelompok /konseli dan
mengakhiri proses konseling kelompok
4 Evaluasi/ Asesmen
1. Evaluasi Proses: Guru BK mengamati hasil video rekaman
kegiatan konseling kelompok dengan menggunakan
pedoman observasi
2. Evaluasi hasil: melakukan evaluasi hasil konseling
kelompok dengan menggunakan skala pengukuran
kecemasan belajar yang diberikan kepada anggota
kelompok
Total Alokasi Waktu 50 menit
Mengetahui Makassar, 2024
Guru Pamong
Mahasiswa PPL BK
ALIMUDDIN,[Link] FILSIANI, [Link]
NIP. 19631108 198412 2 007 NPM. 249020485002.
Lampiran 1 : Materi Kecemasan Dalam Belajar
A. Kecemasan
1. Pengertian Kecemasan
Kecemasan atau dalam bahasa inggris “anxiety” berasal dari bahasa latin,
“Angere” yang berarti tercekik atau tercekat. Gangguan kecemasan adalah keadaan
tegang yang berlebihan atau tidak pada tempatnya yang ditandai oleh perasaan
khawatir, cemas, tidak menentu atau takut.
Menurut Soemanto (2003:188) kecemasan yang dialami oleh anak didik, yaitu
kecemasan menggambarkan keadaan emosional yang dikaitkan dengan ketakutan.
Jenis yang meng- gambarkan kecemasan berbeda-beda. 1) Takut akan situasi sekolah
secara menyeluruh, 2) takut aspek khusus lingkungan sekolah, guru, teman, mata
pelajaran, atau ulangan dan 3) School phobia, menyebabkan anak menolak untuk pergi
sekolah.
Menurut Leonard’s (2018:11) kecemasan adalah perasaan khawatir dan takut
yang ditandai dengan perasaan tegang dan kekhawatiran berlebihan yang dialami
siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Keadaan ini menyebabkan orang
akan kehilangan penyesuaian. Dari uraian di atas disimpulkan bahwa kecemasan
merupakan manisfestasi emosi yang bercampur baur dan dialami oleh individu sebagai
suatu reaksi terhadap ancaman, tekanan, kekhawatiran yang mem- pengaruhi fisik dan
psikis.
Menurut Daradjat dalam Soemanto (2003:186) Kecemasan adalah suatu
manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur, yang terjadi ketika
seseorang sedang mengalami tekanan perasaan dan pertentangan batin (konflik) . rasa
cemas timbul akibat melihat dan mengetahui adanya bahaya yang mengancam dirinya.
Anxiety adalah kondisi emosi yang buram dan tidak menyenangkan disertai ciri-ciri
takut terhadap sesuatu hal, rasa gentar, menekan dan tidak nyaman.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kecemasan
merupakan pengalaman emosional yang dirasakan sebagai suatu yang tidak
menyenangkan dan sumbernya tidak diketahui dengan jelas. Hal ini di tandai dengan
adanya gejala fisiologis dan psikologis seperti takut tanpa sebab yang jelas, tidak
berdaya, khawatir dan gelisah.
2. Penyebab Kecemasan
Pada dasarnya setiap individu selalu berusaha untuk mengatasi kecemasan dengan
cara melakukan penyesuaain terhadap sebabsebab timbulnya rasa cemas. Reaksi
kecemasan ini menggambarkan perasaan subjektif yang muncul dalam bentuk
ketegangan yang tidak menyenangkan.
Menurut Burnham dalam Supriyantini (2015:44), sumber rasa cemas akan lebih
mudah ditelusuri dengan meneliti 3 penyebab dasar, yaitu: 1) rasa percaya diri yang
mungkin terancam oleh keraguan akan penampilan lahiriah maupun kemampuan. 2)
Kesejahteraan pribadi kita mungkin terancam oleh ketidakpastian akan masa depan,
keraguan dalam pengambilan keputusan dan keprihatinan akan materi. 3)
Kesejahteraan kita mungkin terancam oleh berbagai konflik yang tidak terpecahkan.
Menurut Sudrajat (2008:13) banyak faktor-faktor pemicu timbulnya kecemasan
pada diri siswa. Misalnya, target kurikulum yang terlalu tinggi, iklim pembelajaran
yang tidak kondusif, pemberian tugas yang padat, dan sistem penilaian ketat dan
kurang adil.
3. Ciri-Ciri Kecemasan
Ciri-Ciri Kecemasan menurut Jeffrey dalam Suharman (2010:67) ada beberapa ciri-ciri
pada gangguan kecemasan, yaitu:
a. Ciri-ciri fisik: yang meliputi kegelisahan dan kegugupan, anggota tubuh gemetar,
keluar banyak keringat, kepala pusing, nafas terasa pendek, gangguan sakit perut
dan mual, sering buang air kecil dan lain-lain.
b. Ciri pada prilaku adalah perilaku yang selalu menghindar.
c. Ciri-ciri kognitif, yang meliputi khawatir terhadap sesuatu yang buruk akan terjadi,
merasa tidak mampu mengatasi masalah, sulit berkonsentrasi.
4. Macam-Macam Kecemasan
Sedangkan menurut Freud dalam Thahir, A., & Rizkiyani, D (2016:44) macam-
macam kecemasan dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
a. Kecemasan realistis, yaitu kecemasan terhadap bahayabahaya dari luar.
Kecemasan ini disebabkan oleh hal-hal yang bersifat nyata. Kecemasan ini akan
hilang apabila sumbersumber yang mengancam hilang.
b. Kecemasan Neurotis, yaitu kecemasan kalau-kalau instink tidak dapat
dikendalikan dan menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum.
c. Kecemasan moral atau kecemasan kata hati, yaitu bagi orang yang hati nuraninya
berkembang baik cenderung untuk merasa berdosa apabila dia melakukan atau
bahkan berfikir untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-
norma moral.
Menurut Corey dalam Thahir, A., & Rizkiyani, D (2016:48) bahwa kecemasan terbagi
menjadi tiga hal, yaitu:
a. Kecemasan realistik adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia eksternal dan
taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang ada.
b. Kecemasan neurotis adalah ketakutan terhadap tidak terkendalinya naluri-naluri
yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan yang bisa mendatangkan
hukuman bagi dirinya.
c. Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nurani sendiri. Orang yang hati
nuraninya berkembang baik cenderung merasa berdosa apabila ia melakukan
sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya.
B. Belajar
1. Pengertian Belajar
Slameto (2010:47) mendeskripsikan belajar adalah suatu proses perubahan
tingkah laku yang dilakukan secara sengaja untuk mendapatkan perubahan yang lebih
baik, misalnya : dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil,
dari belum dapat melakukan sesuatu menjadi dapat melakukan sesuatu dan lain
[Link] adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai pengalaman individu itu
sendiri. Belajar adalah suatu proses dan bukan suatu hasil. Oleh karena itu belajar
berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk
perbuatan untuk mencapai suatu tujuan Slameto (2010:49) juga merumuskan
pengertian belajar menurutnya adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
Menurut Paramitra Tim (2015:43) belajar adalah suatu kegiatan yang
ditandai adanya perubahan sikap pada seseorang dari tidak bisa menjadi bisa dari
tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak trampil menjadi trampil. Perubahan sikap
tersebut mencakup :
a. Perubahan pengetahuan (kognitif) yaitu dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak
bisa menjadi bisa.
b. Perubahan sikap (afektif) dari perilaku negatif menjadi perilaku positif.
c. Perubahan ketrampilan (psikomotor) dari tidak trampil menjadi trampil.
Perubahan tersebut merupakan perubahan yang timbul karena adanya
pengalaman dan latihan. Jadi belajar bukanlah suatu hasil, akan tetapi merupakan
suatu proses untuk mencapai tujuan dalam rangka memenuhi kebutuhan
menuntut ilmu
2. Ciri-ciri Belajar
Hakikat belajar adalah perubahan tingkah laku, maka ada beberapa
perubahan yang dimasukkan dalam ciri-ciri belajar, Menurut Paramitra Tim (2015:59)
ciri-ciri belajar yaitu:
a. Perubahan yang terjadi secara sadar
b. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
b. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
c. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
d. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah f. Perubahan mencakup seluruh
aspek tingkah laku
3. Prinsip-Prinsip Belajar
Menurut Paramitra Tim (2015:64), ada tiga prinsip dalam belajar yaitu:
a. Pertama, prinsip belajar adalah perubahan perilaku. Perubahan perilaku sebagai
hasil belajar memiliki ciri-ciri:
sebagai hasil tindakan rasional instrument yaitu perubahan yang
disadari; kontinu atau berkesinambungan dengan perilaku lain;
fungsional atau bermanfaat sebagai bekal
hidup; positif atau berakumulasi;
aktif atau tetap, sebagaimana dikatakan oleh Wittig, belajar sebagai any
relatively permanen change in an organism’s behavioral repertoire that occurs as a
result of experience;
bertujuan dan terarah
mencakup keseluruhan potensi manusia
b. Kedua, belajar merupakan proses. Belajar terjadi karena disorong kebutuhan dan
tujuan yang ingin dicapai. Belajar adalh proses sistematik yang dinamis,
konstruktif, dan organic. Belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbahai
komponen belajar.
c. Ketiga, Belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah
hasil dari interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.
4. Cara Belajar Yang Baik
Untuk menuju sukses di masa depan, para pelajar berlomba-lomba belajar
untuk mendapatkan nilai yang baik di sekolah. Sesuai dengan pepatah “Belajar
Merupakan Kunci Keberhasilan”. Belajar adalah memahami, merasakan,
mengetahui, mencari, menjelaskan, sehingga dengan belajar orang akan mengetahui
segala yang belum diketahui.
Berikut beberapa tips cara belajar yang baik menurut Slameto (2010:56):
a. Niatkan dalam diri, berikan motovasi belajar terlebih dahulu. Yakin dan berikan
semangat dalam hati. Bahwa, dengan belajar kita dapat mendapatkan nilai yang
baik di sekolah.
b. Mulai belajar dengan membaca terlebih dahulu. Setelah membaca, buat resume
dari buku yang Anda baca. Membaca sambil menulis meningkatkan kinerja
ingatan pada otak Anda.
C. Pengaruh Kecemasan Dalam Belajar
Kecemasan adalah salah satu bentuk emosi individu yang berkenaan dengan
adanya rasa terancam oleh sesuatu, biasanya dengan objek ancaman yang tidak
begitu jelas. Kecemasan dengan intesitas yang wajar dapat dianggap memiliki nilai
positif sebagai motivasi. Apabila intesitasnya sangat kuat dan bersifat negatif, justru
malah akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu terhadap keadaan fisik
dan psikis individu yang bersangkutan. Sudrajat (2008:3) menjelaskan bahwa
banyak faktor-faktor pemicu timbulnya kecemasan pada diri siswa. Target
kurikulum yang terlalu tinggi, iklim pembelajaran yang tidak kondusif, pemberian
tugas yang padat, serta sistem penilaian ketat dan kurang adil dapat menjadi faktor
penyebab timbulnya kecemasan yang bersumber dari faktor kurikulum. Begitu juga,
sikap dan perlakuan guru yang kurang bersahabat, galak, judes dan kurang
kompeten merupakan sumber penyebab timbulnya kecemasan pada diri siswa yang
bersumber dari faktor guru. Penerapan disiplin sekolah yang ketat dan lebih
mengedepankan hukuman, iklim sekolah yang kurang nyaman, serta sarana dan
prasarana belajar yang sangat terbatas juga merupakan faktor-faktor pemicu
terbentuknya kecemasan pada siswa yang bersumber dari faktor manajemen
sekolah.
D. Cara Mengatasi Kecemasan Dalam Belajar
1. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Pembelajaran dapat menyenangkan apabila bertolak dari potensi, minat dan
kebutuhan siswa. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang digunakan
hendaknya berpusat pada siswa, yang memungkinkan siswa untuk dapat
mengkspresikan diri dan dapat mengambil peran aktif dalam proses
pembelajarannya.
2. Mengembangkan “sense of humor”
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru seyogyanya dapat
mengembangkan “sense of humor” dirinya maupun para siswanya. Kendati
demikian, lelucon atau “joke” yang dilontarkan tetap harus berdasar pada etika
dan tidak memojokkan siswa.
3. Melakukan kegiatan selingan
Melakukan kegiatan selingan melalui berbagai atraksi “game” atau “ice break”
tertentu, terutama dilakukan pada saat suasana kelas sedang tidak kondusif.
Dalam hal ini, keterampilan guru dalam mengembangkan dinamika kelompok
tampaknya sangat diperlukan.
4. Pembelajaran diluar kelas
Sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar
kelas, sehingga dalam proses pembelajaran tidak selamanya siswa harus
terkurung di dalam kelas.
5. Memberikan tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat
Memberikan materi dan tugas-tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang
moderat. Dalam arti, tidak terlalu mudah karena akan menyebabkan siswa menjadi
cepat bosan dan kurang tertantang, tetapi tidak juga terlalu sulit yang dapat
menyebabkan siswa frustrasi
6. Menggunakan pendekatan humanistic
Menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas, dimana siswa
dapat mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh
kecintaan dan penghargaan, baik dengan guru maupun dengan sesama siswa.
Sedapat mungkin guru menghindari penggunaan reinforcement negatif
(hukuman) jika terjadi tindakan indisipliner pada siswanya.
7. Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan
Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan, dengan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self assessment) atas
tugas dan pekerjaan yang telah dilakukannya. Pada saat berlangsungnya
pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan tetap menjaga
ketertiban dan objektivitas. Berikanlah umpan balik yang positif selama dan
sesudah melaksanakan suatu asesmen atau pengujian.
8. Menanamkan kesan positif dalam diri siswa
Di hadapan siswa, guru akan dipersepsi sebagai sosok pemegang otoritas yang
dapat memberikan hukuman. Oleh karena itu, guru seyogyanya berupaya untuk
menanamkan kesan positif dalam diri siswa, dengan hadir sebagai sosok yang
menyenangkan, ramah, cerdas, penuh empati dan dapat diteladani, bukan menjadi
sumber ketakutan.
9. Pengembangan menajemen sekolah
Pengembangan menajemen sekolah yang memungkinkan tersedianya sarana dan
sarana pokok yang dibutuhkan untuk kepentingan pembelajaran siswa, seperti
ketersediaan alat tulis, tempat duduk, ruangan kelas dan sebagainya. Di samping
itu, ciptakanlah sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan terbebas dari
berbagai gangguan, terapkan disiplin sekolah yang manusiawi serta hindari
bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis di sekolah, baik yang dilakukan
oleh guru, teman maupun orang-orang yang berada di luar sekolah.
10. Mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Pelayanan bimbingan dan konseling dapat dijadikan sebagai kekuatan inti di
sekolah guna mencegah dan mengatasi kecemasan siswa Dalam hal ini,
ketersediaan konselor profesional di sekolah tampaknya menjadi mutlak adanya.
Lampiran 2 : Konseling Kelompok REBT dengan Teknik Disputing dan Kontrak Perilaku
A. Konseling Kelompok REBT
Tohirin dalam Hirmaningsih, & Minauli, I (2015:43) menjelaskan konseling
kelompok sebagai upaya pembimbing atau konselor membantu memecahkan masalah-
masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing peserta didik melalui kegiatan
kelompok agar tercapai perkembangan yang optimal. Layanan konseling kelompok
akan membuat peserta didik saling bertukar pikiran, sehingga peserta didik secara
tidak langsung melatih diri berbicara di depan umum. Dengan menerapkan
pendekatan REBT maka dinamika dalam proses konseling kelompok terfokus pada
upaya bersama mengubah cara berpikir tidak rasional menjadi rasional. Sebagaimana
dijelaskan oleh Kurnanto (2013:67) bahwa pendekatan Rational Emotive Behavior
Therapy menekankan kebersamaan dan reaksi antara berfikir dan akal sehat
(rational), berperasaan (emoting), dan berperilaku (acting).
Pendekatan ini merupakan aliran psikoterapi yang berlandaskan pandangan
bahwa manusia terlahir dengan potensi untuk berfikir rasional dan jujur maupun
untuk berfikir irasional atau jahat. George & Cristiani (dalam Gantina, 2016: 202- 203)
menjelaskan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) berasumsi
bahwa individu memiliki karakteristik: 1) individu memiliki potensi yang unik untuk
berpikir rasional dan irasional. Pikiran irasional berasal dari proses belajar yang
irasional yang didapat dari orangtua dan budayanya; 2) manusia adalah makhluk
verbal dan berpikir melalui simbol dan bahasa. Dengan demikian, gangguan emosi
yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide dan pemikiran irasional; 3)
gangguan emosional yang disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbalising) yang terus
menerus dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akar permasalahan,
bukan karena kejadian itu sendiri; 4) individu memiliki potensi untuk mengubah arah
hidup personal dan sosialnya; 5) pikiran dan perasaan yang negatif dan merusak diri
dapat diserang dengan mengorganisasikan kembali persepsi dan pemikiran, sehingga
menjadi logis dan rasional. Dalam hal gangguan emosi yang disebabkan oleh
verbalisasi ide dan pemikiran irasional
Menurut Ellis dalam Hirmaningsih dan Minauli (2015:78) irrational adalah
emosi, pikiran, dan perilaku negatif yang secara signifikan dapat merugikan diri sendiri
sampai mengganggu kelangsungan hidup sehari-hari. Jadi irrational belief adalah hasil
dari pemikiran individu yang dapat menumbuhkan masalah dalam kehidupannya. Ellis
dalam juga menambahkan bahwa Irrational belief adalah salah satu sumber yang
dapat menimbulkan masalah-masalah emosional. Hasil dari proses kognitif
meliputi emosi dan perilaku, hal tersebut merupakan konsep mendasar yang
dimiliki oleh teori REBT. Proses berpikir yang tidak tepat mampu menumbuhkan
pikiran yang irrasional yang tidak masuk akal sehingga mampu menimbulkan emosi
dan perilaku yang tidak positif
Corey dalam Kohar (2017:44) berpendapat bahwa manusia lahir membatasi
potensi berpikir yang baik dan rasional maupun pikiran tidak baik dan irrasional.
Hal ini berarti seseorang memiliki kecenderungan untuk berbuat hal-hal yang positif
maupun negatif, seperti mencintai diri, mengaktualisasikan diri, memelihara diri
dengan baik, menyesali kesalahan berkepanjangan, tidak mau mengaktualisasikan diri,
sampai kecenderungan untuk menghancurkan diri.
REBT mengajak klien untuk memiliki pikiran rasional dan
menghilangkan pikiran irasional. Pikiran irasional perlahan diganti menjadi rasional
karena pemirikan irasional akan berdampak pada diri klien, dapat menumbuhkan
emosi negatif sehingga dapat menimbulkan perilaku yang maladaptif yang nantinya
dapat merusak diri klien. (Dryden & Neenan; Ellis dalam Astuti, Nashori, &
Kumoloh Adi, 2011:77).
Adapun tujuan REBT menurut Ellis dan Benard dalam Thahir & Rizkiyani (2016:32)
yaitu:
a. Agar memiliki self interest (minat diri),
b. Memiliki social interest (minat sosial),
c. Memiliki self directions (pengarahan diri),
d. Mampu bertoleransi (tolerance),
e. Flexibility (fleksibel),
f. Memiliki acceptance (penerimaan),
g. Dapat bertoleransi pada frustasi yang tinggi (high frustation tolerance),
h. Memiliki realistic expectation (harapan yang realistis),
i. Mampu mengambil risiko (risk taking),
j. Mampu menerima ketidakpatian (acceptance of uncertainty),
k. Dapat menerima diri sendiri (self acceptance).
Menurut Corey dalam Kohar (2017:54) REBT memiliki 3 tahapan, yaitu :
a. Membuat klien menjadi sadar bahwa perilaku negatif memiliki dampak
ketidaknyamanan secara psikologis
b. Menyadarkan klien bahwa perilaku negatif tersebut berasal dari pikiran irasional
c. Mengajak klien untuk melawan keyakinan irasional dengan cara
menunjukkan bahwa keyakinan irasional tidak terbukti dengan logika.
Teori ABC Kepribadian Untuk memahami dinamika kepribadian dalam
pandangan terapi rasional emotif perlu memahami konsep-konsep dasar yang
dikemukakan Ellis, ada tiga hal yang terkait dengan perilaku, yaitu Activating Event
(A), Belief (B), dan Consequence (C), yang kemudian dikenal dengan konsep A-B-C.
Setelah A-B-C menyusul Disputing (D) dan Effective new philosophy of life (E) untuk
memasukkan perubahan dan hasil yang diharapkan dari perubahan. Selain itu, huruf
Goal (G) dapat diletakkan terlebih dahulu untuk memberikan konteks bagi ABC
seseorang.
Antecedent Event (A) merupakan segenap peristiwa luar yang dialami atau
memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku,atau
sikap orang lain. Pada terapi REBT therapist mendorong konseli untuk berasumsi
bahwa critical A adalah benar meskipun kenyataannya dengan itu konseli menderita.
Kondisi ini dimaksudkan agar therapist dapat mengidentifikasi penyebab dari konseli
memiliki critical A dan mendorong konseli untuk merasa ada masalah dengan
pikirannya itu sehingga pemaknaan kembali terhadap situasi A dapat dilakukan.
Belief (B) adalah keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu
terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang
rasional(rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief
atau iB). Keyakinan rasional merupakan cara berfikir atau sistem yang tepat, masuk
akal, bijaksana, dan produktif. Sedangkan keyakinan yang irasional merupakan cara
berfikir atau sistem yang salah, tidak masuk akal, emosional dan karena itu tidak
produktif.
Emotional Consequenee (C) adalah konsekuensi atau reaksi emosional
seseorang sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau
hambatan emosi dalam hubungannya dengan (A). Konsekuensi emosional ini bukan
akibat langsung dari (A) tapi disebabkan oleh keyakinan individu (B) baik yang
rasional atau yang irasional. Setelah ABC menyusul Desputing (D) merupakan
penerapan prinsip-prinsip ilmiah untuk menentang pikiran yang cenderung
mengalahkan diri sendiri dan mengalahkan nilai-nilai irasional yang tidak bisa
dibuktikan. akhir dari proses A-B-C-D berupa Effect (E) perilaku kognitif dan emotif.
Menurut Nelson Jones (2015:35) Bilamana A-B-C-D berlangsung dalam proses berpikir
yang rasional maka hasil akhirnya berupa perilaku positif, sebaliknya jika proses
berpikir yang irasional maka hasil akhirnya berupa tingkah laku negatif.
Setelah konsep ABC maka menyusul desputing yang merupakan penerapan
metode ilmiah untuk membantu konseli menantang keyakinan keyakinan irasionalnya.
Menurut Namora (2013:34), desputing merupakan implementasi dari proses terapi
yang dijalankan oleh konselor dan konseli melalui proses belajar mengajar, dimana
konselor menunjukkan berbagai prinsip prinsip logika dan dapat diuji kebenarannya
untuk menyanggah keyakinan irrasional konseli.
B. Teknik Disputing dan Kontrak Perilaku
1. Menurut Namora (2013:67), Tujuan Teknik Cognitive Disputation Teknik Cognitive
Disputation dalam pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy memiliki inti
tujuan seperti yang telah tersirat pada pengertian di atas, diantaranya:
a. Untuk mengubah keyakinan irasional konseli
b. Untuk mengkonfrontasi keyakinan irasional konseli
c. Untuk meniadakan pikiran pemicu stress, depresi, dan serangan kepanikan
d. Untuk membantu konseli dalam menemukan, mengeluarkan, dan mendispute
keyakinan irasional konseli
Tujuan Cognitive Disputation dalam pendekatan Rational Emotive Behavior
Therapy ialah untuk menyerang dan mengkonfrontasi pemikiran irasional konseli yang
diharapkan dapat meminimalisir dan meniadakan stress, depresi, dan kepanikan
dalam diri konseli seperti yang terjadi sebelumnya. Selanjutnya dengan diterapkannya
teknik ini dalam proses konseling, diharapkan konseli dapat mematahkan pemikiran
irasionalnya dan membangun filosofi hidup baru melalui proses berpikir baru yang
lebih rasional
Aspek-Aspek Proses Cognitive Disputation Tugas konselor adalah
mengidentifikasi secara tepat jenis-jenis isi yang dikemukakan oleh klien dan
mengidentifikasi alternatifalternatif respons yang dapat dilakukan. Ada beberapa jenis
respons yang bisa digunakan sebagai stimulus untuk menghasilkan isi khusus yang
dinyatakan dalam komunikasi klien. Stimulus yang disampaikan itu dapat digunakan
secara khusus untuk merespons isi kognitif dari komunikasi. Isi kognitif itu berupa ide-
ide yang berhubungan dengan kejadian-kejadian, manusia, dan benda-benda.
Menurut Nurihsan dan Juntika (2006:54) Langkah-langkah Implementasi
Teknik Dispute Kognitif Berikut merupakan langkah-langkah implementasi teknik
dispute kognitif yang dapat diterapkan dalam kegiatan konseling :
a) Tahap pertama Proses dimana konseli diperlihatkan dan disadarkan bahwa mereka
tidak logis dan irrasional. Proses ini membantu klien memahami bagaimana dan
mengapa dapat terjadi irrasional. Pada tahap ini konseli diajarkan bahwa mereka
mempunyai potensi untuk mengubah hal tersebut.
b) Tahap kedua Pada tahap ini konseli dibantu untuk yakin bahwa pemikiran dan
perasaan negatif tersebut dapat ditantang dan diubah. Pada tahap ini konseli
mengeksplorasi ide-ide untuk menentukan tujuan-tujuan cara berpikir secara rasional.
Konselor juga mendebat pikiran irasional konseli dengan menggunakan pertanyaan
untuk menantang validitas ide tentang diri, orang lain dan lingkungan sekitar. Sebelum
mengidentifikasi pikiran negatif, pertama-tama konseli diminta apakah dirinya
menentukan pilihan dalam hidupnya atau membiarkan situasi yang menentukan
hidupnya. Berdasarkan evaluasi konseli terhadap pengalamannya tersebut, konseli
kemudian diajak untuk mengeksplorasi ideide yang rasional serta mengenali reaksi
yang muncul bila berhadapan dengan situasi tersebut. Konseli perlu memahami rantai
pikiran, perasaan serta perilaku pada situasi yang membuat dia cenderung tidak
mampu untuk beradaptasi. Setelah mengetahui pikiran negatif, konselor memberikan
pertanyaan menantang untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif melalui
pertanyaan yang logis, realita dan pragmatis. Dari hasil tersebut diharapkan peneliti
dapat membantu konseli untuk memahami mengapa konseli memiliki pikiran negatif
dan kesulitan dalam menghadapi masalah yang terjadi.
c) Tahap ketiga, ialah tahap terakhir, konselor membantu konseli untuk
mengembangkan pikiran rasional sehingga konseli tidak terjebak pada masalah yang
disebabkan oleh pemikiran irasional.
2. Kontrak Perilaku
Menurut Latipun 2008: 145, Kontrak perilaku adalah persetujuan antara dua
orang atau lebih konselor dan konseli untuk mengubah perilaku tertentu pada konseli.
Konselor dapat memilih perilaku yang realistik dan dapat diterima oleh kedua belah
pihak. Setelah perilaku dimunculkan sesuai dengan kesepakatan, ganjaran dapat
diberikan kepada konseli. Dalam terapi ini ganjaran positif terhadap perilaku yang
dibentuk lebih dipentingkan daripada pemberian hukuman jika kontrak perilaku tidak
berhasil. Pembuatan kontrak adalah mengatur kondisi sehingga konseli menampilkan
tingkah laku yang diinginkan berdasarkan kontrak antara konseli dan konselor
Komalasari, 2011: 172
DAFTAR RUJUKAN
Astuti, R. D., Nashori, H. F., & Kumolohadi, R. R. 2011. Rational Emotive
Behavior Therapy Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Penderita
Diabetes Mellitus. Jurnal Intervensi Psikologi, Vol.3 No.2, 211- 231.
Gantina Komalasari, dkk. 2016. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta Barat: PT
Indeks
Hirmaningsih, & Minauli, I. 2015. Efektivitas Rational Emotive Behavior Therapy
Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Anak Enuresis. Jurnal Psikologi, Vol. 11
No. 2, 64-70
Kohar, M. A. 2017. Bimbingan dan Konseling Dengan Pendekatan Rational
Emotive Behavior Therapy Untuk Penerimaan Manfaat. Al-Balagh Jurnal
Dakwah dan Komunikasi, Vol. 2 No.1, 112-123
Kurnanto. 2013. Konseling Kelompok. Bandung: Alfabeta Tohirin. Bimbingan dan
Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integritas). Jakarta:
Rajawali Pers
Latipun. 2008. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.
Leonard’s. 2008. Pengaruh Konsep diri, Sikap Siswa pada Matematika dan
kecemasan Siswa terhadap Hasil Belajar Matematika (Survei pada SMP di
Wilayah DKI Jakarta. (online). Tersedia: http//www.
namadomaincom/ndban_big.gif (diakses 24 September 2022).
Namora, L Lumongga. 2013. Memahami Dasar – Dasar Konseling Dalam Teori dan
Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Nelson-Jones, Richar. 2015. Teori dan Praktik Konseling dan Terapi, edisi ke-4. Terj.
Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Nurihsan, Achmad Juntika, 2006. Bimbingan & Konseling Dalam Berbagai Latar
Kehidupan. Bandung : PT. Refika Aditama
Paramitra Tim. 2015. Kumpulan Lengkap Materi Bimbingan Dan Konseling.
Yogyakarta: Paramitra Publishing
Slameto. 2010. Belajar dan faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT.
Rineka Cipta
Soemanto, Wasty. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Upaya Mencegah Kecemasan Siswa di Sekolah. Jakarta:
Rineka Cipta.
Suharman. 2010. Psikologi Kognitif (Edisi Revisi) Surabaya : Srikandi.
Supriyantini. 2015. Perbedaan Kecemasan dalam Menghadapi Ujian Antara Siswa
Program Reguler dengan Siswa Akselerasi. (online). Tersedia:
http//[Link]. [Link]/bitsteam /123456789pdf. (diakses 24
September 2022)
Thahir, A., & Rizkiyani, D. 2016. Pengaruh Konseling Rational Emotif Behavioral
Therapy (REBT) dalam Mengurangi Kecemasan Peserta Didik Kelas VIII
SMP Gajah Mada Bandar Lampung. Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol.3
No.1, 259-270
Lampiran
Lampiran 3:
3 : Media
Gambar 1
Kecemasan bisa saja terjadi pada semua individu dan apabila kecemasan itu terjadi
berlebih akan menimbulkan dampak negatif pada individu tersebut.
Gambar 2
Gangguan kecemasan dapat dialami oleh siapapun tidak memandang usia, baik anak-
anak, remaja,orang dewasa, maupun lansia dapat mengalami kecemasan. Dan kecemasan
tersebut dapat terjadi karena banyak faktor
Gambar 3
Reaksi kecemasan akademik ini mucul pada saat pola pikir individu itu terganggu,
banyak faktor yang mempengaruhi pola pikir tersebut.
LEMBAR KERJA KONSELI (LKK)
LAYANAN KONSELING KELOMPOK
Nama konseli :
Semseter : Gasal 2023/2024
Hari/Tanggal :
Topik : Kecemasan Dalam Belajar
Tujuan Layanan : Konseli mampu memecahkan masalah kecemasan belajarnya
dengan baik
Langkah-langkah kegiatan :
1. Isilah identitas diri Anda dengan benar
2. Jawablah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan apa yang Anda ketahui dan
apa yang Anda rasakan setelah mengikuti proses konseling kelompok
No. Uraian Jawaban
1 Silahkan ceritakan masalah yang Anda
alami dengan terbuka dan jujur
2 Apakah kehadiran Anda dalam layanan
konseling kelompok ini atas keinginan
sendiri atau terpaksa?
3 Apakah Anda mampu menyesuaikan
diri dan terlibat aktif dalam proses
konseling kelompok, Jelaskan?
4 Setelah mendapatkan penjelasan dari
Konselor, apakah Anda mengetahui
konseling kelompok dengan
pendekatan REBT, jelaskan?
5 Ceritakan secara terbuka terkait
permasalahan yang Anda alami/
peristiwa apa saja yang mendahului
permasalahan Anda?
6 Apa yang membuat Anda meyakini
bahwa tindakan yang Anda
lakukan
sejauh ini adalah benar?
7 Apa saja akibat yang ditimbulkan dari
perbuatan Anda tersebut? Jelaskan!
8 Jelaskan keyakinan irasional apa saja
yang ada pada diri Anda yang saling
bertentangan?
9 Perubahan apa yang telah Anda
dapatkan setelah mengikuti konseling
kelompok dengan ancangan REBT ini?
10 Bagaimana pendapat Anda tentang
proses konseling kelompok dengan
ancangan REBT ini?
Mengetahui Makassar, 2024
Guru Pamong Mahasiswa PPL BK
ALIMUDDIN,[Link] FILSIANI, [Link]
NIP. 19781103 200411 1001 NPM. 249020485002
EVALUASI PROSES
LAYANAN KONSELING KELOMPOK
A. IDENTITAS
1. Nama :
2. Kelas :
3. Tanggal :
B. PETUNJUK PENGISIAN
1. Beri tanda centang (√ ) pada kolom skor sesuai dengan hasil penilaian dan
pengamatan anda
2. Kolom skor angka 1 = Kurang baik, 2 = Cukup baik, 3 = Baik, 4 = Sangat baik
No. PERNYATAAN SKOR
1 Konseli mengikuti kegiatan konseling dari awal sampai 1 2 3 4
akhir layanan
2 Konseli aktif dalam kegiatan konseling
3 Konseli dapat menceritakan apa yang dirasakannya
4 Konseli menjelaskan masalahnya dengan baik
5 Konseli melihat dan memperhatikan penjelasan
dari Konselor
6 Konseli menyimak pertanyaan konselor dengan baik
7 Konseli tidak melakukan aktivitas lain selain aktivitas
konseling selama proses konseling kelompok
8 Konseli aktif dalam bercerita, memberi masukan dan
memberikan motivasi kepada anggota kelompok yang lain
9 Konseli menghargai kepada anggota kelompok yang
bercerita dan memberikan masukan
10 Konseli menunjukka sikap menerima dan menghargai
anggota kelompok yang lain
11 Konseli merefleksi kegiatan konseling kelompok dengan
baik
12 Konseli memiliki gambaran dan mampu menanalisis terkait
solusi atas permasalahannya
13 Konseli memiliki rencana ke depan atas permasalahan yang
dialaminya
SKOR
Makassar, 2024
Mahasiswa PPL BK
FILSIANI, [Link]
NPM.249020485002
Keterangan Penilaian
Skor 4 : Sangat
baik
Skor 3 : Baik
Skor 2 : Cukup baik
Skor 1 : Kurang
baik Keterangan :
1. Skor minimal yang akan dicapai adalah 1 x 13 = 13
2. Skor tertinggi 4 x 13 = 52
3. Kategori hasil :
a. Sangat baik : 46 – 52
b. Baik : 40 – 45
c. Cukup : 34 - 39
d. Kurang : < 34
Skala Kecemasan Akademik
IDENTITAS
No : Tanggal Pengisian :
Jenis Kelamin : L/P
Kelas :
PETUNJUK PENGISIAN
1. Bacalah pernyataan-pernyataan pada lembar berikut ini secara teliti.
2. Pilihlah salah satu dari empat pilihan jawaban yang tersedia yang
paling sesuai dengan diri anda dengan memberikan tanda silang (X)
pada tempat yang telah tersedia. Adapun pilihan jawaban yang
tersedia adalah :
SS : jika pernyataan tersebut Sangat Sesuai dengan diri anda
S : Jika pernyataan tersebut Sesuai dengan diri anda
TS : jika pernyataan tersebut Tidak Sesuai dengan diri anda
STS : jika pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan diri Anda
Bila hendak mengganti jawaban, coretlah jawaban yang telah dipilih
dansilanglah jawaban yang baru
Contoh : SS S TS STS
3. Anda diminta untuk menjawab dengan jujur sesuai keadaan diri
sendiri. Apapun jawab yang anda berikan, semua dianggap benar,
sejauh hal tersebut sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.
4. Anda tidak perlu merasa khawatir jawaban Anda akan mempengaruhi
penilaian terhadap diri Anda, karena jawaban Anda kami rahasiakan
danAnda tidak perlu menuliskan nama Anda
5. Waktu pengisian tidak dibatasi, oleh karena itu tidak perlu tergesa-gesa.
6. Bila telah selesai, periksa kembali jangan sampai ada nomor yang
terlewati.
TERIMAKASIH & SELAMAT MENGERJAKAN
NO PERTANYAAN JAWABAN
SS S TS STS
1. Saya merasa khawatir ketika menghadapi tahun SS S TS STS
ajaran baru.
2. Saya selalu menghadapi tahun ajaran baru SS S TS STS
dengan optimis.
3. Saya berusaha mencari informasi jika merasa SS S TS STS
ragu atas apa yang sudah saya kerjakan.
4. Saya selalu mengerjakan semua tugas dari guru SS S TS STS
berdasarkan pemikiran saya sendiri.
5. Saya cenderung menyepelakan informasi yang SS S TS STS
diterima sehingga kesalahan tidak terhindarkan.
6. Saya selalu memperhatikan informasi yang SS S TS STS
diberikan dengan sebaik-baiknya, sehingga
sesuai dengan yang diharapkan.
7. Saya suka dengan suasana yang tenang, SS S TS STS
sehingga saya dapat berkonsentrasi dengan baik.
8. Saya selalu fokus pada pekerjaan atau tugas SS S TS STS
yang sedang dihadapi dalam kondisi apa pun.
9. Permasalahan yang belum saya selesaikan, SS S TS STS
kadang menggangu apa yang sedang saya
kerjakan.
10. Saya mampu mengendalikan emosi-emosi SS S TS STS
negatif yang muncul selama melaksanakan
tugas-tugas saya.
11. saya merasa takut menjawab pertanyaan guru SS S TS STS
sehingga lebih banyak diam.
12. Saya suka mengacungkan jari , ketika sesi SS S TS STS
tanya-jawab.
14. Saya senang jika berbicara didepan umum. SS S TS STS
15. Saya merasa detak jantung lebih cepat (deg- SS S TS STS
degan) menjelang pengumuman hasil ujian.
16. Saya selalu tenang menjelang ujian dimulai SS S TS STS
17. Saya berkeringat ketika mengerjakan soal SS S TS STS
didepan kelas.
18. saya selalu bersemangat ketika ditunjuk maju ke SS S TS STS
depan.
19. saya suka mengerjakan tugas bila waktu SS S TS STS
pengumpulan semakin dekat.
20. Saya tidak suka menunda-nunda tugas atau SS S TS STS
pekerjaan.
21. Saya terburu-buru saat mengerjakan ujian. SS S TS STS
22. saya selalu menikmati apa yang sedang saya SS S TS STS
kerjakan.
23. Saya suka berbicara sendiri ketika guru sedang SS S TS STS
menerangkan.
24. Saya selalu memperhatikan guru pada saat SS S TS STS
menerangkan.