Kurikulum KTSP SMPLB Surya Wiyata
Kurikulum KTSP SMPLB Surya Wiyata
Pendidikan Luar Biasa (PLB) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menyetujui
Dokumen I Kurikulum SMPLB SLB B-C Surya Wiyata Tahun Ajaran 2020 - 2021
Jawa Barat
i
LEMBAR PENGESAHAN
Dibuat di Bekasi
Pada tanggal 9 Juli 2020
Disahkan di Bekasi
Pada tanggal Juli 2020
Mengesahkan
Kepala Dinas Cabang Wilayah III
Kepala Bidang Pendidikan Khusus Dan Pendidikan Layanan Khusus
[Link] M, M. Pd
NIP 1967070611992031009
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur nenantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat
SMPLB B-C Surya Wiyata. Dokumen KTSP ini dibuat sebagai pedoman atau acuan
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-
program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan ciri khas potensi
Terwujudnya KTSP SMPLB B-C Surya Wiyata diharapkan dapat di jadikan acuan
atau pedoman untuk di kembangkan dan diimplementasikan oleh semua pihak baik
tenaga pendidik dan kependidikan di SLB B-C Surya Wiyata dalam memberikan
Dalam Penyusunan KTSP SMPLB ini sekolah melibatkan para pendidik dan tenaga
kependidikan, yayasan serta pengawas PLB Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
yang telah ditetapkan menjadi milik semua warga sekolah sehingga diharapkan dapat
iii
Kami mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada semua pihak yang
telah berperan serta aktif dan memberikan kontribusi positif terhadap seluruh
Murniningsih, [Link]
iv
Sekolah Luar Biasa B-C Surya Wiyata
v
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN i
LEMBAR PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
TIM PENGEMBANG KURIKULUM SLB B-C Surya Wiyata iv
DAFTAR ISI v
GLOSARIUM vi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Dasar Hukum 2
C. Tujuan 4
D. Mekanisme 5
E. Pihak yang Terlibat 12
BAB IIVISI, MISI, DAN TUJUAN PENDIDIKAN
A. Visi 13
B. Misi 14
C. Tujuan Pendidikan 15
BAB III MUATAN KURIKULUM DAN PENGATURAN BEBAN
BELAJAR 23
A. Muatan Kurikulum 32
B. Pengaturan Beban Belajar 33
C. Kriteria Ketuntasan Minimal 35
D. Penilaian Hasil Belajar 38
E. Kenaikan Kelas dan Kelulusan 38
F. Kalender Pendidikan 43
BAB IV PENUTUP
vi
GLOSARIUM
6. Standar Isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan
dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian,
kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh
peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
vii
8. Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus
ditempuh oleh peserta didik pada satuan pendidikan dalam kegiatan
pembelajaran.
15. Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki peserta
didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun indikator
ketercapaian kompetensi.
16. Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh
peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka,
penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk mencapai
viii
standar kompetensi lulusan serta kemampuan lainnya dengan memperhatikan
tingkat perkembangan peserta didik.
17. Pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar
18. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi
antara peserta didik, materi pembelajaran, pendidik dan lingkungan.
20. Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa
pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh pendidik
untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi mata pelajaran atau lintas mata
pelajaran atau kemampuan lainnya yang waktu penyelesaiannya diatur sendiri
oleh peserta didik.
21. Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta
didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar
yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang
berlaku pada satuan pendidikan yang dimaksud.
ix
24. Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran
pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
25. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk
setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
26. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu,
meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk
muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.
27. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan
pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur
dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun
pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum (termasuk hari-hari besar
nasional), dan hari libur khusus.
28. Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat,
prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta
didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik
pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
30. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian Kompetensi
Peserta Didik secara berkelanjutan dalam proses Pembelajaran untuk memantau
kemajuan dan perbaikan hasil belajar Peserta Didik.
32. Kriteria Ketuntasan Minimal yang selanjutnya disebut KKM adalah kriteria
ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan pendidikan yang mengacu pada
standar kompetensi kelulusan, dengan mempertimbangkan karakteristik peserta
didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan.
x
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan aspek penting bagi mengembangkan sumber daya
manusia, pendidikan diyakini mampu menanamkan kapasitas baru bagi semua
orang untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat diperoleh
manusia produktif. Selain itu pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan
akses dan mobilitas sosial dalam masyarakat baik
secara horizontal maupun vertikal.
Diera globalisasi dewasa ini, kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh
kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia bergantung pada
kualitas pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan
masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu,
pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan suatu bangsa. Kemajuan Bangsa Indonesia hanya dapat dicapai melalui
penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan diharapkan
dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia
Sejalan dengan uraian di atas, yang menjadi salah satu komponen penting
dalam melaksanakan pendidikan yang bermutu adalah kurikulum. Kurikulum
merupakan komponen pendidikan yang dijadikan paduan atau acuan operasional
oleh setiap satuan pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara,
khususnya oleh guru dan kepala sekolah.
Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu
pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai
tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan. Dalam sejarah pendidikan di
Indonesia sudah beberapa kali diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum yang
tujuannya sudah tentu untuk menyesuaikannya dengan perkembangan dan
kemajuan zaman. Seiring perubahan kurikulum, SLB B-C Surya Wiyata
melaksanakan Kurikulum 2013 untuk Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Luar Biasa
(SMPLB) untuk semua kelas.
1
Penyusunan KTSP ini merupakan implementasi dari Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2014 tentang
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sebagaimana Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Permendikbud ini
menyebutkan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan
dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan,
potensi daerah, dan peserta didik.
Dengan memperhatikan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku,
diharapkan implementasi kurikulum ini dapat menciptakan pembelajaran yang
bermakna bagi peserta didik untuk meningkatkan kompetensi sikap, pengetahuan,
dan keterampilan sebagai bekal untuk hidup dan penghidupannya
B. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional;
2
7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 63 Tahum 2014 tentang
Pendidikan Kepramukaan sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib pada
Pendidikan Dasar dan Menengah;
10. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 53 Tahun 2015 tentang
Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan;
11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 Tentang
Penumbuhan Budi Pekerti;
16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 tahun 2017 tentang
Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah dan Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan
Pendidikan.
3
18. Peraturan Daerah Provinsi tentang Penyelenggaraan Pendidikan;
19. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 69 Tahun 2013 tentang Pembelajaran
Muatan Lokal Bahasa dan Sastra Daerah pada Jenjang Satuan Pendidikan Dasar
dan Menengah.
C. Tujuan
Secara umum pengembangan kurikulum ini bertujuan untuk menjadi acuan bagi
pendidik dan tenaga kependidikan dalam mencapai optimalisasi kualitas
perencanaan, pelaksanaan proses pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.
Secara khusus tujuan pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) ini
dapat dijadikan acuan bagi pendidik dalam melaksanakan tugas sebagai berikut:
1. menyusun rencana pembelajaran mencakup: program tahunan, program
semester, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan penilaian hasilbelajar
peserta didik;
2. melaksanakan kegiatan pembelajaran yang bermakna sesuai rencana yang
sudah di buat;
3. melaksankan penilaian dan pelaporan hasil belajar peserta didik;
4. memberikan acuan terhadap pengembangan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan untuk mencapai kompetensi-kompetensi pada setiap kelompok
mata pelajaran melalui pembelajaran aktif, efektif, efisien, dan bermakna.
5. Menentukan pendekatan, metode pembelajaran, sumber belajar dalam
pembelajaran;
6. Membangun dan mengembangkan program kebutuhan khusus untuk
meminimalisasikan hambatan-hambatan yang diakibatkan oleh kelainan/
kekhususan peserta didik.
D. Mekanisme
Penyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMPLB SLB B-C Surya Wiyata
diawali dengan pembentukan Tim Pengembang Kurikulum yang kemudian
melakukan berbagai aktivitas pengembangan KTSP dengan memperhatikan acuan
konseptual, prinsip pengembangan, dan prosedur operasional. Kegiatan
pengembangan ini dilakukan dalam bentuk IHT dan workshop tingkat sekolah.
4
Hasil pengembangan KTSP ini disosialisasikan dan setelah mendapat persetujuan
dari Pengawas PLB kemudian disahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat
dan dilaksanakan oleh seluruh unsur pada satuan pendidikan SMPLB di SLB B-C
Surya Wiyata.
1. Pengembangan KTSP
Pengembangan KTSP di SLB B-C Surya Wiyata dilakukan melalui rapat kerja
satuan pendidikan dan diskusi terpumpun yang diselenggarakan sebelum tahun
ajaran baru.
Tahap kegiatan pengembangan KTSP secara garis besar meliputi: (1)
penyusunan draf berdasarkan analisis konteks; (2) review, revisi, dan finalisasi;
serta (3) pengesahan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Dalam pengembangan KTSP ini Tim Pengembang Kurikulum memperhatikan
hal-hal sebagai berikut.
a. Acuan Konseptual
Acuan konseptual dalam pengembangan KTSP sekurang-kurangnya
mencakup hal berikut ini.
1) Peningkatan Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia
Iman, takwa, dan akhlak mulia menjadi dasar pengembangan
kepribadian peserta didik secara utuh. KTSP disusun agar semua mata
pelajaran dapat meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia peserta
didik.
2) Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama
Kurikulum dikembangkan untuk memelihara dan meningkatkan
toleransi dan kerukunan inter umat dan antar umat beragama.
3) Persatuan Nasional dan Nilai-Nilai Kebangsaan
Kurikulum diarahkan untuk membangun karakter dan wawasan
kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting bagi upaya
memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Oleh
karena itu, kurikulum harus menumbuhkembangnkan wawasan dan
sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan
bangsa dalam wilayah NKRI.
5
4) Peningkatan Potensi, Kecerdasan, Bakat dan Minat sesuai dengan
Tingkat Perkembangan dan Kemampuan Peserta Didik.
Pendidikan merupakan proses holistik/sistemik dan sistematik untuk
meningkatkan harkat dan martabat manusia yang memungkinkan potensi
diri (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) berkembang secara optimal.
Sejalan dengan itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi,
bakat, minat, serta tingkat perkembangan kecerdasan; intelektual,
emosional, sosial, spritual, dan kinestetik peserta didik.
5) Kesetaraan Warga Negara Memperoleh Pendidikan Bermutu
Kurikulum diarahkan kepada pengembangan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang holistik dan berkeadilan dengan memperhatikan
kesetaraan warga negara memperoleh pendidikan bermutu.
6) Kebutuhan Kompetensi Masa Depan
Kompetensi peserta didik yang diperlukan antara lain berpikir kritis dan
membuat keputusan, memecahkan masalah yang kompleks secara lintas
bidang keilmuan, berpikir kreatif dan kewirausahaan, berkomunikasi dan
berkolaborasi, menggunakan pengetahuan kesempatan secara inovatif,
mengelola keuangan, kesehatan, dan tanggung jawab warga negara.
7) Tuntutan Dunia Kerja
Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya
pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai
kecakapan hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu mengembangkan jiwa
kewirausahaan dan kecakapan hidup untuk membekali peserta didik
dalam melanjutkan studi dan/atau memasuki dunia kerja. Terlebih bagi
peserta didik pada satuan pendidikan SMPLB dan peserta didik yang
tidak akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
8) Perkembangan Iptek
Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa
masyarakat berbasis pengetahuan di mana iptek sangat berperan sebagai
penggerak utama perubahan. Pendidikan harus terus menerus melakukan
penyesuaian terhadap perkembangan iptek sehingga tetap relevan dan
kontekstual dengan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum harus
6
dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan
perkembangan iptek.
9) Keragaman Potensi dan Karakteristik Daerah serta Lingkungan
Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan
karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan
pendidikan yang sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman
hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum perlu memuat keragaman
tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan
pengembangan daerah dan lingkungan.
10) Tuntutan Pembangunan Daerah dan Nasional
Dalam era otonomi dan desentralisasi, kurikulum adalah salah satu
media pengikat dan pengembang keutuhan bangsa yang dapat
mendorong partisipasi masyarakat dengan tetap mengedepankan
wawasan nasional. Untuk itu, kurikulum perlu memperhatikan
keseimbangan antara kepentingan daerah dan nasional.
11) Dinamika Perkembangan Global
Kurikulum dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian, baik pada
individu maupun bangsa, yang sangat penting ketika dunia digerakkan
oleh pasar bebas. Pergaulan antarbangsa yang semakin dekat
memerlukan individu yang mandiri dan mampu bersaing serta
mempunyai kemampuan untuk hidup berdampingan dengan bangsa lain.
12) Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Setempat
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial
budaya masyarkat setempat dan menunjang kelestarian keragaman
budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat
ditumbuhkembangkan terlebih dahulu sebelum mempelajari budaya dari
daerah dan bangsa lain.
13) Karakteristik Satuan Pendidikan
Kurikulum dikembangkan sesuai kondisi dan ciri khas satuan
pendidikan.
7
b. Prinsip Pengembangan
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik dan lingkunganya pada masa kini dan yang akan datang
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggungjawab. Untuk
mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi
peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan,
dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi
sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik.
2. Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan
formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan
tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan
manusia seutuhnya.
3. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi (sikap,
pengetahuan, dan keterampilan) bidang kajian keilmuan, dan mata
pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan
antarjenjang pendidikan.
c. Prosedur Operasional
1. Analisis
a) Analisis ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai
kurikulum
b) Analisis kebutuhan peserta didik, satuan pendidikan, dan
lingkungan
c) Analisis ketersediaan sumberdaya pendidikan
8
2. Penyusunan
a) Perumusan visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan
b) Pengorganisasian muatan kurikuler satuan pendidikan
c) Pengaturan beban belajar peserta didik dan beban kerja pendidik
tingkat kelas.
d) Penyusunan kalender pendidikan satuan pendidikan
e) Penyusunan sialbus muatan atau mata pelajaran muatan lokal
f) Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran setiap muatan
pembelajaran.
3. Penetapan dilakukan kepala sekolah berdasarkan hasil rapat dewan
pendidik satuan pendidikan dengan melibatkan komite Yayasan
4. Pengesahan dilakukan oleh pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangannya.
2. Pelaksanaan
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di
masing-masing satuan pendidikan. Oleh karena itu, pelaksanaan KTSP
merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur satuan pendidikan yakni
kepala sekolah, tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya. Para
pendidik di SLB B-C Surya Wiyata menyusun dan melaksanakan KTSP ini
setelah melakukan identifikasi dan asesmen.
Identifikasi yang dilakukan kepada peserta didik pada setiap tingkatan kelas
mencakup area fungsi belajar, sosial emosi, komunikasi, dan neuromotor. Hasil
identifikasi pada area fungsi belajar ditindaklanjuti dengan pelaksanaan
asesmen akademik, sedangkan hasil identifikasi pada area fungsi sosial emosi,
komunikasi, dan neuromotor, ditindaklanjuti dengan pelaksanaan asesmen
perkembangan atau asesmen non akademik.
Hasil Asesmen tersebut secara rinci dijadikan acuan dalam penyusunan buku II
dan buku III dokumen KTSP.
9
3. Daya Dukung
a. Kebijakan Satuan Pendidikan
Pengembangan dan pelaksanaan KTSP merupakan kewenangan dan
tanggung jawab penuh dari satuan pendidikan. Oleh karena itu agar dapat
mengembangkan dan melaksanakan KTSP dengan baik diperlukan
kebijakan satuan pendidikan yang ditetapkan dalam rapat satuan pendidikan
dengan melibatkan unsur yayasan, orang tua/wali siswa
Kebijakan satuan pendidikan SLB B-C Surya Wiyata dalam
mengembangkan dan melaksanakan KTSP sebagai berikut.
1) Pembentukan Tim Pengembang Kurikulum SLB B-C Surya Wiyata.
2) Kewenangan penuh yang diberikan kepada para pendidik dalam
melakukan adaptasi kurikulum dalam menentukan kedalaman dan
keluasan materi ajar serta pola kerja yang diharapkan dapat memberikan
rasa nyaman dan membangkitkan kreativitas yang memadai dalam
menyusun kurikulum yang menyentuh kebutuhan peserta didik.
b. Ketersediaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pengembangan dan pelaksanaan KTSP merupakan proses perwujudan
kurikulum yang sesungguhnya. Oleh karena itu tenaga pendidik merupakan
unsur yang mutlak diperlukan dalam kuantitas dan kualitas yang memadai.
Selain itu, tenaga kependidikan pada masing-masing satuan pendidikan
sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan KTSP.
Pendidik pada satuan pendidikan SMPLB di B-C Surya Wiyata berjumlah 4
orang dengan kualifikasi pendidikan sarjana pendidikan khusus yang
bertanggung jawab atas keberlangsungan proses pembelajaran 5 rombongan
belajar. Program keterampilan pilihan yang diselenggarakan disesuaikan
dengan potensi, minat dan kebutuhan siswa, pada tahun ajaran 2017/2018
Program Pilihan yang di Sselenggarakan oleh SLB B-C Surya Wiyata yaitu
keterampilan Tata Boga, Tata Busana, dan Salon.
Tenaga kependidikan berjumlah 12 orang dengan kualifikasi pendidikan
sarjana PLB sebanyak 1 orang, Sarjana Pendidikan Non PLB 3 Orang,
Sarjana Non Pendidikan 3 Orang, Kualifikasi D3 berjumlah 2 Orang dan
SMA 3 orang.
10
c. Ketersediaan Sarana dan Prasarana Satuan Pendidikan
Pengembangan dan pelaksanaan KTSP memerlukan dukungan berupa
ketersediaan sarana dan prasarana satuan pendidikan. Yang termasuk sarana
satuan pendidikan adalah segala kebutuhan fisik, sosial, dan kultural yang
diperlukan untuk mewujudkan proses pendidikan pada satuan pendidikan.
Selain itu unsur prasarana seperti lahan, gedung/ bangunan, prasarana
olahraga dan prasarana kesenian, serta prasarana lainnya sangat diperlukan
sebagai unsur penunjang yang memberikan kemudahan pelaksanaan KTSP.
11
BAB II
VISI, MISI, DAN TUJUAN SATUAN PENDIDIKAN
A. Visi
Visi SLB B-C Surya Wiyata adalah “ Sebagai social penyelenggara dan
pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang menyeluruh,
terpercaya, inovatif dan berwawasan nasional”.
1. Menyeluruh
keseluruhan merupakan suatu integrasi yang bersifat konperensif. Oleh karena
itu orientasinya dititikberatkan pada jiwa seseorang. Keseluruhan bukanlah
suatu cakupan yang luas melainkan mencakup integritas anak. Peserta didik
SLB B-C Surya Wiyata diharapkan memiliki kemampuan secara menyeluruh.
2. Terpercaya.
Pendidikan merupakan proses menuju pendewasaan, pencerdasan, dan
pematangan diri serta akurasi yang tepat. Peranan terpenting dalam sebuah
pendidikan merupakan landasan dan dasar dalam mewujudkan sebuah
perubahan positif kehidupanan masyarakat, yaitu tingkat harkat kemanusiaan
sebuah masyarakat. Pendidikan yang diselenggarakan di SLB B-C Surya
Wiyata membentuk peserta didik yang memiliki harkat kemanusiaan dan
berkepribadian sehingga memiliki nilai positif sebagai salah satu unsur dalam
tatanan masyarakat.
3. Inovatif
Sekolah inovatif adalah sekolah yang memberi kebebasan anak untuk berkreasi,
mengekspresikan perasaannya dan sebagainya. Sekolah lebih menekankan
pemahaman, kemampuan tertentu pada peserta didik yang berkaitan dengan
pekerjaan yang ada dimasyarakat. Sekolah yang harus tanggap atas keadaan
dalam memenuhi harapan terhadap kebutuhan lingkungan peserta didik dengan
pembangunan. Menerapkan kurikulum berbasis kompetensi dan sekolah perlu
mengembangkan sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan
yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap
potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan
diberikan oleh lingkungan untuk menjangkau kualitas lulusan yang diharapkan.
12
Sekolah selalu mengembangkan silabus mata pelajaran yang dapat
mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik serta
kebutuhan masyarakat sekitar sekolah. Intinya tidak membebani anak dan tidak
menjadikan sekolah itu seperti penjara. Pengembangan inovasi ditingkat
sekolah harus dilakukan melalui suatu rangkaian kerja atau proses untuk
mengetahui masalah dan kendala yang dihadapi guru. Setelah diketahui
masalah dan kendalanya maka dicari cara-cara yang relatif baru dan padat
dilaksanakan untuk memecahkan masalah dan kendala itu.
B. Misi
Untuk mewujudkan visi tersebut, satuan pendidikan telah menentukan langkah-
langkah strategis yang dituangkan dalam misi sebagai berikut :
1. Memberikan pelayanan yang bermutu
2. Mengembangkan potensi yang ada pada anak berkebutuhan khusus.
3. Mengoptimalkan kompetensi siswa melalui ilmu pengetahuan dan teknologi
terpadu.
4. Memandirikan anak berkebutuhan khusus agar dapat berbaur dalam kehidupan
masyarakat.
C. Tujuan Satuan Pendidikan
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untukberkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara
yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pada tataran operasional, pendidikan yang diselenggarakan di SMPLB bertujuan
untuk memberikan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan
yang bermanfaat bagi peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai
pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara sesuai dengan kekhususan dan
tingkat perkembangannya serta mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia
kerja.
Secara rinci tujuan satuan pendidikan adalah memberikan pendidikan dan
pengajaran agar peserta didik berkebutuhan dapat:
13
o memahami keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial
ekonomi.
o menumbuhkan keyakinan beragama yang kuat sehingga dapat menjalankan
ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangannya.
o melakukan pembiasaan yang mencerminkan nilai luhur karakter dan budaya
bangsa, seperti jujur, disiplin, sopan, dan santun.
o memahami kekurangan dan kelebihan diri sehingga dapat mengembangkan
potensinya sesuai dengan karakteristik dan kekhususannya.
o Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada
tingkat dasar berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya
o menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif sehingga dapat
memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
o memiliki kemampuan berkomunikasi yang memadai sehingga dapat
mengaktualisasikan diri dan bekerja sama dalam kelompok maupun
lingkungannya.
o melakukan aktifitas harian secara mandiri.
o mematuhi aturan sosial yang berlaku di lingkungan masyarakat.
o Memiliki keterampilan yang memadai sebagai bekal hidup dan penghidupannya
kelak.
o memiliki kemampuan interpersonal yang memadai untuk menjalin kerja sama
dan pengembangan usaha.
Tujuan-tujuan yang dicanangkan satuan pendidikan tersebut dalam upaya mencapai
standar kompetensi lulusan sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 20 Tahun 2016 tentang
Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. Permendikbud
tersebut mengamanatkan bahwa peserta didik pada satuan pendidikan SMPLB
memiliki kualifikasi kemampuan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
14
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap: 1) beriman dan bertakwa kepada
Tuhan YME, 2) berkarakter, jujur, dan peduli, 3) bertanggungjawab, 4)
pembelajar sejati sepanjang hayat, dan 5) sehat jasmani dan rohani sesuai
dengan perkembangan anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan
lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.
2. Kemampuan pada Dimensi Pengetahuan
Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada
tingkat dasar berkenaan dengan: 1) ilmu pengetahuan, 2) teknologi, 3) seni,
dan 4) budaya.
a. Pengetahuan faktual, adalah pengetahuan dasar berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri,
keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan
negara.
b. Pengetahuan Konseptual, adalah terminologi/istilah yang digunakan,
klasifikasi, kategori, prinsip, dan generalisasi berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga,
sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.
c. Pengetahuan Prosedural, adalah pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu
atau kegiatan yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan
budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan
lingkungan alam sekitar, bangsa dan negara.
d. Pengetahuan Metakognitif, adalah pengetahuan tentang kekuatan dan
kelemahan diri sendiri dan menggunakannya dalam mempelajari ilmu
pengetahuan, teknologi, seni dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga,
sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa dan negara.
Peserta didik diharapkan mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks
diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa,
dan negara.
15
Memiliki keterampilan berpikir dan bertindak: kreatif, produktif, kritis,
Dalam upaya pencapaian kemampuan pada dimensi sikap, SLB B-C Surya
toleransi dan gemar membaca, dengan kegiatan seperti tertuang dalam tabel
berikut ini.
Tabel 2.1
Garis Besar Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan Penumbuhan Budi Pekerti
SLB B-C Surya Wiyata
Nilai yang
Waktu Kegiatan
Dikembangkan
Pagi sebelum o Doa bersama, mengisi absen Kemandirian
kegiatan o Peserta didik masuk sendiri tanpa
ditemani orang tua
06.30 - 07.30 o Hari Senin: Upacara bendera Kedisiplinan,
o Hari Jumat: Senam bersama dan kemandirian
kegiatan pramuka sampai dengan jam
09.30
07.30 - 13.10 Kegiatan pembelajaran rutin di dalam Religius,
kelas kedisiplinan,
o Kegiatan Awal/Pendahuluan kemandirian
Berdoa
16
Nilai yang
Waktu Kegiatan
Dikembangkan
Menyanyikan lagu wajib
Membaca buku
o Kegiatan Inti (pecapaian materi ajar
dengan pendekatan saintifik)
o Penutup
Berdoa
Menyanyikan lagu daerah
12.00 – 12.30 Ibadah bersama dan rapat evaluasi Religius dan
mingguan. evaluasi
a. Kegiatan Rutin
Tabel 2.2
Kegiatan Penumbuhan Budi Pekerti melalui Kegiatan Rutin
di SLB B-C Surya Wiyata
Nilai-Nilai yang
Bentuk Pelaksanaan Kegiatan
Dikembangkan
Religius o Berdoa sebelum dan sesudah pelajaran dipimpin
oleh guru kelas
o Setiap hari senin melaksanakan kegiatan
pembinaan rohani bagi peserta didik.
o Setiap awal dan akhir jam pelajaran, peserta didik
memberi salam kepada guru.
17
Nilai-Nilai yang
Bentuk Pelaksanaan Kegiatan
Dikembangkan
dan pulang sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan.
o Pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik
yang hadir tidak tepat waktu diberi teguran
o Bila berhalangan hadir, maka harus ada surat
pemberitahuan ke sekolah.
o Kerapian dan kebersihan pakaian, dicek setiap
hari oleh seluruh guru, menggunakan seragam
yang ditentukan)
o Seragam dipakai sesuai dengan jadwal
pemakaian.
o Membuang sampah pada tempatnya.
o Meminjam dan mengembalikan buku
perpustakaan sesuai jadwal pengembalian.
Peduli Lingkungan o Lingkungan sekolah bersih
o Pemberantasan sarang nyamuk
o Membiasakan membuang sampah pada
tempatnya.
o Pendidik melaksanakan piket secara berkelompok
untuk melihat kebersihan lingkungan.
o Mengambil sampah yang berserakan.
o Piket kelas secara kelompok membersihkan
kelasnya
o Peserta didik secara individu menata meja dan
kursi setiap hari supaya terlihat rapi.
18
Nilai-Nilai yang
Bentuk Pelaksanaan Kegiatan
Dikembangkan
pakai di sekolah dan menyumbangkannya pada
yang membutuhkan, 1 kali setahun.
o Mengumpulkan sumbangan pada waktu-waktu
tertentu untuk menyumbang warga sekolah yang
sakit, terkena bencana seperti gempa bumi,
kebakaran, banjir.
o Mengunjungi warga sekolah yang sakit
Kejujuran o Melaporkan temuan barang hilang
o Trasparansi laporan keuangan sekolah
o Menyediakan kotak saran dan pengaduan
Cinta Tanah Air o Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan
benar
o Menyanyikan lagu kebangsaan setiap upacara
bendera, peringatan hari besar nasional dan setiap
hari sebelum pembelajaran dimulai serta
menyanyikan lagu daerah di akhir pembelajaran
o Memasang lambang negara, foto presiden dan
wakil presiden serta gubernur dan wakil gubernur
o Memajang foto para pahlawan nasional
b. Kegiatan Spontan
Tabel 2.3
Pelaksanaan Kegiatan Penumbuhan Budi Pekerti melalui Kegiatan Spontan
19
di SLB B-C Surya Wiyata
Nilai-Nilai yang
Bentuk Pelaksanaan Kegiatan
Dikembangkan
Religius o Memperingatkan peserta didik yang tidak
melaksanakan ibadah bersama
o Mengucapkan salam bila bertemu/berpapasan
o Meminta maaf bila melakukan kesalahan
Kedisiplinan o Memperingatkan peserta didik yang masih ada
di luar kelas saat belajar (sesuai tata tertib
sekolah)
o Peserta didik yang tidak berpakaian rapi diminta
merapikannya dan diberitahu caranya.
o Apabila menemukan peserta didik yang
rambutnya tidak sesuai dengan aturan yang
ditetapkan, maka diminta untuk mencukur
rambut
Peduli Lingkungan o Meminta peserta didik memungut sampah yang
dibuang sembarangan
o Mengingatkan peserta didik yang punya
kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Peduli Sosial o Mengunjungi warga sekolah yang sakit, melayat
apabila ada yang meninggal dunia
Kejujuran o Memperingatkan peserta didik yang mengambil
barang bukan miliknya
o Memperingatkan peserta didik mengembalikan
yang bukan miliknya
c. Kegiatan Keteladanan:
Tabel 2.4
20
Pelaksanaan Kegiatan Penumbuhan Budi Pekerti melalui Kegiatan
Keteladanan di SLB B-C Surya Wiyata
Nilai-Nilai yang
Bentuk Pelaksanaan Kegiatan
Dikembangkan
Religius o Pendidik berdoa bersama peserta didik sebelum
dan setelah pembelajaran.
o Melaksanakan ibadah sesuai dengan jadwal yang
sudah ditentukan
Kedisiplinan o Jam 07.30 guru petugas upacara sudah berada
di sekolah menyiapkan upacara.
o Pukul 07.30 pendidik dan tenaga kependidikan
sudah berada di sekolah dan pulang paling cepat
pukul 13.00.
o Berbicara yang sopan, menghargai pendapat
orang lain
Peduli Lingkungan o Semua warga sekolah senantiasa menjaga dan
memilihara kebersihan lingkungan sekolah.
Peduli Sosial o Pendidik dan tenaga kependidikan
mengumpulkan sumbangan setiap ada keluarga
siswa yang meninggal dunia sebagai bentuk
kegiatan sosial.
Kejujuran o Pendidik memberikan penilaian secara objektif
o Pendidik menepati janji pada peserta didik
Cinta Tanah Air o Pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik
melaksanakan upacara dan peringatan hari besar
bersama peserta didik
Penanggung jawab setiap kegiatan seperti tercantum pada tabel di bawah ini:
21
Tabel 2.5
Penanggungjawab Pelaksanaan Kegiatan Penumbuhan Budi Pekerti
SLB B-C Surya Wiyata
Nilai yang Waktu Penanggung
Kegiatan
Dikembangkan Pelaksanaan Jawab
Pembiasaan Rutin
a. Pemyambutan Peduli sesama Setiap hari Guru kelas
kedatangan (sosial)
peserta didik
b. Memberi Peduli sesama Setiap hari Warga
senyum, salam, (sosial) Sekolah
sapa
c. Upacara Semangat Setiap hari Senin Koordinator
bendera kebangsaan, disiplin kesiswaan
d. Pemeriksaan Disiplin dan Setiap hari Koordinator
kebersihan tanggung jawab UKS
e. Latihan Semangat Setiap hari Jumat Pembina
Kepramukaan kebangsaan, disiplin Pramula yang
memiliki
keterampilan
KMD
f. Senam Disiplin dan Setiap Jumat Guru PJOK
tanggung jawab
g. Doa bersama Religius Setiap awal dan Guru Kelas/
akhir kegiatan Guru Mapel
pembelajaran
h. Menyanyikan Semangat Setiap awal & Wali Kelas
lagu wajib kebangsaan, disiplin akhir
nasional dan pembelajaran
lagu daerah
i. Membaca buku Gemar membaca Setiap awal Wali Kelas/
di luar konteks pembelajaran Guru Mapel
pembelajaran
22
Nilai yang Waktu Penanggung
Kegiatan
Dikembangkan Pelaksanaan Jawab
j. Lingkungan Peduli lingkungan Selasa dan Jumat Guru Piket
bersih/
Pemberantasan
Sarang Nyamuk
k. Kesehatan diri Disiplin dan Setiap hari Warga
tanggung jawab Sekolah
l. Ibadah bersama Religius Setiap hari Senin Koordinator
keagamaan
Pembiasaan Spontan
a. Membuang Peduli lingkungan Setiap hari Warga
sampah pada Sekolah
tempatnya
b. Budaya antri Peduli sesama Setiap hari Warga
(sosial) Sekolah
c. Mengatasi Peduli sesama Setiap ada insiden Warga
silang pendapat (sosial) Sekolah
(pertengkaran)
d. Saling Disiplin, tanggung Setiap saat Warga
mengingatkan jawab Sekolah
ketika ada
pelanggaran
tata tertib
sekolah
e. Kunjungan Peduli sosial Setiap ada kasus Wali kelas
rumah
f. Kesetiakawanan Toleransi Setiap ada kasus Warga
sosial Sekolah
g. Anjangsana Peduli sosial Setiap ada kasus Wali kelas
Pembiasaan Keteladanan
a. Berpakaian rapi Disiplin Setiap hari Warga sekolah
23
Nilai yang Waktu Penanggung
Kegiatan
Dikembangkan Pelaksanaan Jawab
b. Berbahasa yang Cinta tanah air, Setiap saat Warga
baik komunikatif, Sekolah
semangat
kebangsanaan
c. Rajin membaca Gemar membaca Setiap saat Warga
Sekolah
d. Memuji Menghargai Setiap saat Warga
kebaikan dan prestasi Sekolah
keberhasilan
orang lain
e. Datang tepat Disiplin Setiap hari Warga
waktu Sekolah
BAB III
MUATAN KURIKULER DAN PENGATURAN BEBAN BELAJAR
24
A. Muatan Kurikuler
Muatan KTSP terdiri atas muatan nasional dan muatan lokal yang diwujudkan
dalam bentuk struktur kurikulum satuan pendidikan dan penjelasannya.
1. Struktur Kurikulum SMPLB
Struktur kurikulum SMPLB berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal
Pendidikan Dasat dan Menengah Nomor 10/D/KL/2017 tentang Struktur
Kurikulum, KI-KD, dan Pedoman Implementasi Kurikulum 2013 PK
sebagai berikut.
Tabel 3.1
Struktur Kurikulum SMPLB
KELOMPOK A
3. Bahasa Indonesia 2 2 2
4. Matematika 2 2 2
7. Bahasa Inggris 2 2 2
KELOMPOK B
8. Seni Budaya 2 2 2
KELOMPOK C
25
Kelas dan Alokasi
Mata Pelajaran Waktu Perminggu
VII VIII IX
Keterangan
1) Satu jam pelajaran tatap muka adalah 35 (tiga puluh lima) menit.
2) Satuan pendidikan dapat menambah beban belajar per minggu sesuai
dengan kebutuhan belajar peserta didik dan/atau kebutuhan akademik,
sosial, budaya, dan faktor lain yang dianggap penting.
3) Kompetensi Dasar mata pelajaran Seni Budaya terdiri atas empat aspek
yaitu seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni teater. Peserta didik
mengikuti salah satu aspek yang disediakan untuk setiap semester, aspek
yang diikuti dapat diganti setiap semesternya.
4) Mata pelajaran tematik hanya pada SMPLB Tunagrahita dan Autis
adalah PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan Seni
Budaya
5) Mata pelajaran yang tidak tematik pada SMPLB Tunarungu,
Tunagrahita dan Autis adalah Pendidikan Agama dan Budi Pekerti,
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Bahasa Inggris, Program
Kebutuhan Khusus, dan Keterampilan Pilihan.
6) Dalam merancang perencanaan program pembelajaran guru wajib
melakukan asesmen terhadap setiap peserta didik terlebih dahulu.
26
kompetensi keterampilan peserta didik sebagai dasar dan penguatan
kemampuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat.
b. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, dan Keterampilan Pilihan
merupakan program kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan
kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi
keterampilan peserta didik terkait lingkungan dalam bidang sosial,
budaya, dan seni yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat
dan dapat dilengkapi dengan muatan lokal. Muatan lokal dapat berupa
mata pelajaran yang berdiri sendiri. Mata pelajaran Seni Budaya,
Bidang keterampilan pada mata pelajaran keterampilan pilihan
disediakan oleh satuan pendidikan sesuai dengan kondisi satuan
pendidikan dan kearifan lokal. Peserta didik memilih satu bidang
keterampilan yang diharapkan dapat menjadi bekal hidup dan
penghidupannya kelak.
c. Peserta didik di SLB B-C Surya Wiyata menyelenggarakan program
khusus dengan kekhususan tunarungu, tunagrahita, dan autis. Oleh
karena itu program kebutuhan khusus yang diselenggarakan berupa:
o Pengembangan Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama (PKPBI)
o Pengembangan Diri (PD), dan
o Pengembangan Komunikasi, Interaksi Sosial, dan Perilaku.
3. Muatan Lokal
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi
yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan
daerah, yang dapat terintegrasi di dalam mata pelajaran yang ada.
Muatan lokal dikembangkan oleh pemerintah daerah provinsi sesuai dengan
kewenangannya dan/atau satuan pendidikan. Mengingat substansi muatan lokal
dapat ditentukan oleh satuan pendidikan, maka muatan lokal yang
dikembangkan di SLB B-C Surya Wiyata terintegrasi dalam mata pelajaran
yang relevan, terutama pada mata pelajaran Bahasa Sunda.
Muatan lokal yang dikembangkan dan terintegrasi pada mata pelajaran Bahasa
Sunda dimana materi ajarnya mencakup tentang kondisi Bekasi dari masa ke
masa, permainan-permaian yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Barat, seni
musik dan tari Jawa Barat.
4. Bimbingan dan Konseling
27
Tujuan layanan bimbingan dan konseling adalah membantu peserta didik
agar dapat mencapai kematangan dan kemandirian dalam kehidupannya
serta menjalankan tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek
pribadi, sosial, belajar, karir secara utuh dan optimal. Layanan bimbingan
dan konseling di SLB B-C Surya Wiyata dilakukan untuk membantu
peserta didik agar mampu:
1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya;
2) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir dan
kehidupannya di masa yang akan datang;
3) mengembangkan potensinya seoptimal mungkin;
4) menyesuaikan diri dengan lingkungannya;
5) mengatasi hambatan atau kesulitan yang dihadapi dalam kehidupannya;
dan
6) mengaktualiasikan dirinya secara bertanggung jawab.
Layanan bimbingan konseling di SLB B-C Surya Wiyata ini dilakukan
berdasarkan beberapa permasalahan yang terjadi pada peserta didik, seperti;
masalah perkembangan individu, perbedaan individual, kebutuhan individu,
penyesuaian diri, kelainan tingkah laku, dan masalah belajar. Pelaksanaan
bimbingan konseling dilakukan oleh wali kelas, hal ini dilakukan karena
sekolah belum memiliki tenaga khusus bimbingan konseling. Wali kelas
membuat program bimbingan, melaksanakan dan mengevaluasi hasil
bimbingan.
5. Ekstrakurikuler
Program ekstrakurikuler terdiri atas ekstrakurikuler wajib berupa
Jumat.
28
Satuan pendidikan mengembangkan kegiatan ekstra kurikuler sesuai
dengan kondisi, potensi, dan kebutuhan masing-masing peserta didik.
6. Gerakan Literasi Sekolah
SLB B-C Surya Wiyata menjalankan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Literasi dalam konteks kemampuan mengakses, memahami, dan
menggunakan informasi secara cerdas. Gerakan ini dilakukan secara
menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi
pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan
publik. Secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa kegiatan literasi
merupakan cara peserta didik mengakses, memahami, dan menggunakan
informasi yang berada di sekitarnya untuk mengatasi berbagai
permasalahan hidupnya.
Gerakan Literasi Sekolah merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan
yang bersifat partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah.
Aktifitas di SLB B-C Surya Wiyata dalam melaksankan Gerakan Literasi
sebagai berikut.
Gerakan Literasi Sekolah di SLB B-C Surya Wiyata melalui 2 jalur:
1) Program pembiasaan
Program pembiasaan dilalakukan oleh seluruh guru dengan
memberikan motivasi, memfasilitasi dan memberi ruang anak untuk
melaksanakan Gerakan Literasi sebelum Jam pelajaran di mulai.
2) Program Literasi yang Terintegrasi dengan Pembelajaran
a) Pendidik mengajarkan menyimak, mengajarkan keterampilan
berbicara, mengajarkan baca tulis menggunakan buku pengayaan
dan strategi membaca di semua mata pelajaran;
29
e) Membimbing peserta didik berdiskusi ringan mengenai karakter dari
tokoh cerita dengan teman sekelas disesuaikan dengan tingkat
hambatan intelektual; dan
f) Mengajak peserta didik secara rutin mengunjungi dan membaca
buku di perpustakaan sekolah.
7. Penguatan Pendidikan Karakter
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan kebijakan pendidikan
dan bertindak menjadi lebih baik. Nilai-nilai utama PPK adalah religius,
yang semakin kompleks dan tidak pasti, namun sekaligus melihat ada
banyak harapan bagi masa depan bangsa. Hal ini menuntut lembaga
dasar PPK menjadi sangat penting bagi kepala sekolah agar dapat
masing.
30
mendukung PPK. Proses pembudayaan menjadi sangat penting dalam
diharapkan dapat mengubah perilaku peserta didik menjadi lebih baik. PPK
mengevaluasi tata tertib atau peraturan sekolah. Budaya sekolah yang baik
sekolah.
31
kehidupan abad ke-21. Sekolah dituntut mampu menyiapkan peserta didik
Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan peserta didik yang harus
untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana
1) Communication
dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi
32
idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun
2) Collaboration
menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri
yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit,
33
9. Higher Order Thinking Skill (HOTS)
21, pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus di SLB B-C Surya
PDBK SLB B-C Surya Wiyata memiliki kemampuan berpikir kritis, logis,
keputusan, penampilan, dan produk yang valid sesuai dengan konteks dari
KATEGORI DESKRIPSI
34
KATEGORI DESKRIPSI
mapping/matching, menjelaskan/constructing model
e.g. cause-effect)
ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku.
35
Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem paket dinyatakan dalam satuan
jam pembelajaran.
Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh
muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri yang tidak terstruktur untuk
peserta didik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada
pembelajaran tatap muka per minggu pada rentang 20 sampai dengan 24 jam
Tabel 3.2
Beban Belajar Kegiatan Tatap Muka Keseluruhan untuk SMPLB
di SLB B-C Surya Wiyata
Minggu
Satu jam Jumlah jam Jumlah jam
Efektif Waktu
pembela- pembelajara per tahun
Kls Tatap Muka pembelajara
jaran tatap n per (@60
per tahun n per tahun
muka minggu menit)
ajaran
51.800
VII 35 menit 40 jampel 37 minggu 863,33 jam
menit
51.800
VIII 35 menit 40 jampel 37 minggu 863,33 jam
menit
65.120
IX 35 menit 40 jampel 37 minggu 863,33 jam
menit
36
2. Beban Belajar Tambahan
Beban belajar tambahan didasarkan atas pertimbangan kebutuhan lain yang
dianggap penting oleh satuan pendidikan, yaitu pengembangan bakat dan minat,
mengacu pada kegiatan festival dan lomba seni serta olimpiade olahraga yang
belajar tambahan tersebut ekivalen 4 jam pembelajaran tatap muka per minggu.
ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan pendidikan yang mengacu pada
dan kondisi satuan pendidikan yang dilakukan oleh pendidik di bawah koordinasi
minimal untuk satuan pendidikan SMPLB di SLB B-C Surya Wiyata sebagai
berikut:
37
Tabel 3.4
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) SMPLB Tunarungu (B)
di SLB B-C Surya Wiyata
3 Bahasa Indonesia 72 73 72 73 72 73
4 Matematika 70 71 70 70 70 70
7 Bahasa Inggris 70 70 70 70 70 70
KELOMPOK B
9 Pendidikan Jasmani, 72 75 72 75 75 75
Olahraga, dan Kesehatan
10 Keterampilan Pilihan 70 70 70 70 70 70
KELOMPOK C
Keterangan :
S = Sikap
P = Pengetahuan
K = Keterampilan
Tabel 3.5
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) SMPLB Tunagrahita (C)
di SLB B-C Surya Wiyata
3 Bahasa Indonesia 70 72 70 72 70 72
4 Matematika 68 66 70 68 70 72
7 Bahasa Inggris 64 62 68 66 70 70
KELOMPOK B
9 Pendidikan Jasmani, 72 74 72 74 72 75
Olahraga, dan Kesehatan
10 Keterampilan Pilihan 66 64 70 70 70 70
KELOMPOK C
Keterangan :
S = Sikap
P = Pengetahuan
K = Keterampilan
34
12. Penilaian Hasil Belajar
Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur
pencapaian hasil belajar peserta didik, sedangkan pembelajaran adalah proses interaksi
antar peserta didik, antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar.
Penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses,
kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan,
sedangkan penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan menilai pencapaian Standar
Kompetensi Lulusan untuk semua mata pelajaran. Kedua penilaian hasil belajar tersebut
mencakup kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan
didik menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu. Penilaian dimensi sikap
merupakan nilai modus atau nilai terbanyak capaian pembelajaran pada ranah sikap.
Penilaian dimensi pengetahuan diambil dari nilai rerata capaian pembelajaran , sedangkan
penilaian dimensi keterampilan diambil dari nilai tertinggi (nilai optimum) capaian
Penilaian yang dapat dilakukan berupa; (1) penilaian harian atau penilaian yang dilakukan
setiap menyelesaikan satu muatan pembelajaran, (2) penilaian tengah semester atau
penilaian yang dilakukan untuk semua muatan pembelajaran yang diselesaikan dalam
paruh pertama semester, dan (3) penilaian akhir semester atau penilaian yang dilakukan
35
Bentuk atau cara Penilaian yang dilakukan dalam menilai capaian pembelajaran peserta
didik, misalnya dengan cara penilaian unjuk kerja, penilaian projek, dan penilaian tertulis.
Sementara instrumen penilaian atau alat yang digunakan untuk menilai capaian
Penilaian yang dilakukan harus berpegang pada pronsip-prinsip penilaian berikut ini.
Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang
diukur;
Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak
Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena
berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat
Terpadu, berarti penilaian merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari
kegiatan pembelajaran;
36
1. Mekanisme Penilaian oleh Pendidik
indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk
tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya
berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
37
Kenaikan kelas dan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan melalui
rapat dewan pendidik. Mengacu pada:
1. Permendikbud 53 Tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Dan
Satuan Pendidikan Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah;
2. Permendikbud nomor 23 Tahun 2016 tentang standar Penilaian Pendidikan; dan
3. Permendikbud nomor 3 tahun 2017 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah
dan Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan.
14. Kalender Pendidikan
Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarkan dengan
mengikuti kalender pendidikan. Kalender pendidikan merupakan pengaturan waktu untuk
kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan
tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur.
38
Penetapan waktu libur dilakukan dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku
tentang hari libur, baik nasional maupun daerah. Waktu libur dapat berbentuk jeda
tengah semester, jeda antarsemester, libur akhir tahun ajaran, hari libur keagamaan,
hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional dan hari libur khusus
Kegiatan khusus sekolah ditetapkan oleh satuan pendidikan tanpa mengurangi jumlah
minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif. Kegiatan khusus tersebut
berupa perayaan hari besar keagamaan, perayaan hari besar nasional, dan program
outing class.
39
11 12 13 14 15 16 17 14-16 Perayaan HUT RI
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
40
15 16 17 18 19 20 21 16-19 Latihan Natal Gabungan
20 Pengambilan Raport Sem.I
22 23 24 25 26 27 28 22 – 31 Libur Smt 1
29 30 31
41
12 13 14 15 16 17 18 13 -14 Libur Paskah
15 - 17 Ujian Sekolah SMPLB
19 20 21 22 23 24 25 23 - 24 Libur Awal Rahmadan
26 27 28 29 30 27 - 30 Ujian Nasional
Murniningsih, [Link]
BAB IV
PENUTUP
42
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini merupakan ruh dari rangkaian program kegiatan
sekolah yang terencana dan akan dilaksanakan pada proses pembelajaran tahun 2019– 2020.
Namun demikian, bilamana terjadi perubahan karena adanya kegiatan insidental yang
mendesak dan harus dilakukan atau bilamana atas dasar pengamatan dan analisis konten yang
dilakukan oleh guru, maka tidak tertutup kemungkinan untuk dilakukan perubahan sesuai
Mengingat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini bersifat fleksibel, maka guru hendaknya
melakukan analisis terhadap kondisi dan karakteristik peserta didik sehingga terjadi
paralelisasi dengan kedalaman dan keluasan materi ajar untuk perbaikan dan pengembangan
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran tahun 2019/2020, para guru akan mengacu pada
kurikulum ini dengan harapan pembelajaran yang dilakukan menjadi suatu pembelajaran
konseptual dan bermakna sehingga menjadi salah satu elemen yang akan memberikan
43
44