Pemahaman Integral Tak Tentu dan Aplikasinya
Pemahaman Integral Tak Tentu dan Aplikasinya
INTEGRASI
115
Dalam bab ini dibahas mengenai Kalkulus Integral beserta sifat-
sifatnya dan proses perhitungannya secara luas. Pada dasarnya
konsep integral sebagai kebalikan dari operasi differensial yaitu
merupakan bentuk umum dari operasi antiturunan. Dan integral
dapat pula diilustrasikan sebagai bentuk limit jumlahan Riemann yang
merupakan pendekatan dari proses perhitungan luas pada masing-
masing sub luasan.
5.1. KONSEP DASAR INTEGRAL
Jika 𝑓 suatu turunan dari 𝐹, maka notasinya adalah 𝐹′(𝑥) = 𝑓(𝑥) atau
dapat juga dituliskan sebagai 𝑑𝐹(𝑥) = 𝑓(𝑥)𝑑𝑥. Sebaliknya, 𝐹 adalah
anti turunan dari 𝑓 dan notasi atau simbol untuk operasi
pengintegralannya adalah ∫. Kita dapat menuliskan sebagai
∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = 𝐹(𝑥) + 𝐶
116
Dengan
𝐹(𝑥) adalah fungsi integral umum yang bersifat 𝐹 ′ (𝑥) =
𝑓(𝑥)
𝑓(𝑥) disebut fungsi integral
𝐶 adalah konstanta real sembarang
MASALAH LUAS
Dalam bagian ini diberikan pengertian mengenai luas yang akan
ditunjukkan dengan cara menghitung luas menggunakan limit dan
dikembangkan dengan menggunakan definisi luas dibawah kurva
tertentu. Diberikan fungsi 𝑓 yang kontinu tak negatif pada selang
[𝑎, 𝑏], tentukan luas antara grafik yang dibatasi oleh fungsi 𝑓 dan
selang [𝑎, 𝑏], pada sumbu 𝑥 seperti ditunjukkan pada Gambar 5.1.
DEFINISI LUAS
Teorema 5.1.1. jika suatu fungsi 𝑓 kontinu pada [𝑝, 𝑞], dan jika
𝑓(𝑥) ≥ 0 untuk semua 𝑥 pada [𝑝, 𝑞], maka luas dibawah kurva 𝑦 =
𝑓(𝑥) sepanjang selang [𝑝, 𝑞] didefinisikan sebagai
117
𝑛
Jadi integral 𝑓(𝑥) pada selang [𝑎, 𝑏] adalah luas di atas selang [𝑎, 𝑏],
tetapi dibawah 𝑦 = 𝑓(𝑥) dikurangi luas dibawah [𝑎, 𝑏] tetapi diatas
𝑦 = 𝑓(𝑥) sehingga dapat didefiniskan dengan Gambar 5.2. berikut ini,
dengan 𝑆 sebagai daerah yang ditanyakan luas daerahnya.
Teorema 5.1.2. Jika fungsi 𝑓 kontinu dalam selang [𝑎, 𝑏] yang bernilai
positif, dan negatif, maka nilai integral tertentu dari 𝑦 = 𝑓(𝑥) pada
selang [𝑎, 𝑏] didefinisikan sebagai
𝑏 𝑛
Contoh 5.1.
4
Hitunglah ∫2 (1 − 𝑥)𝑑𝑥
Penyelesaian :
118
Integrannya negatif sepanjang selang [2,4], sehingga integral tersebut
merupakan negatif dari luas trapesium yang di arsir pada gambar
berikut ini. Luas Trapesium tersebut adalah 4, sehingga
x
2 4
𝑦 =1−𝑥
120
1 3 3
∫ 𝑥 3 − 3𝑥 2 − 3𝑥 − 1𝑑𝑥 = 𝑥 3 − 𝑥 3 − 𝑥 2 + 𝐶
3 3 2
1
7. ∫ 𝑥 𝑑𝑥 = ln|𝑥| + 𝐶
Contoh 5.8. :
Dapatkan penyelesaian integral pada fungsi berikut −5/𝑥
5
Penyelesaian : ∫ − 𝑑𝑥 = −5 ln 𝑥 + 𝐶
𝑥
8. (Integral Sebagian / By Part)
Jika 𝑓 dan 𝑔 adalah fungsi fungsi yang terdeferensial, maka
dengan aturan perkalian diperoleh
𝑑
[𝑓(𝑥)𝑔(𝑥)] = 𝑓(𝑥)𝑔′ (𝑥) + 𝑔(𝑥)𝑓′(𝑥)
𝑑𝑥
Dengan mengintegralkan kedua ruas, diperoleh
𝑑
∫ [𝑓(𝑥)𝑔(𝑥)]𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑔′ (𝑥) 𝑑𝑥 + ∫ 𝑔(𝑥)𝑓 ′ (𝑥)𝑑𝑥
𝑑𝑥
Atau
𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) + 𝐶 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑔′ (𝑥) 𝑑𝑥 + ∫ 𝑔(𝑥)𝑓 ′ (𝑥)𝑑𝑥
Atau
∫ 𝑓(𝑥)𝑔′ (𝑥) 𝑑𝑥 = 𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) − ∫ 𝑔(𝑥)𝑓 ′ (𝑥)𝑑𝑥 + 𝐶
Karena integral ruas kanan menghasilkan suatu konstanta integrasi
lain, maka tidak perlu menambah konstanta 𝐶 dalam persamaan
terakhir sehingga diperoleh :
∫ 𝑓(𝑥)𝑔′ (𝑥) 𝑑𝑥 = 𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) − ∫ 𝑓′(𝑥)𝑔(𝑥)𝑑𝑥
Rumus diatas merupakan rumus integrasi sebagian/by part atau
integral parsial. Untuk menyederhanakan penulisan, dengan
pengambilan
𝑢 = 𝑓(𝑥), 𝑑𝑢 = 𝑓 ′ (𝑥)𝑑𝑥
𝑣 = 𝑔(𝑥), 𝑑𝑣 = 𝑔′ (𝑥)𝑑𝑥
Diperoleh bentuk alternatif persamaan sebagai berikut :
121
∫ 𝑢𝑑𝑣 = 𝑢𝑣 − ∫ 𝑣𝑑𝑢
Contoh 5.9 :
Selesaikan ∫ 𝑥𝑒 𝑥 𝑑𝑥
Penyelesaian :
Untuk menerapkan integrasi parsial atau sebagian, persoalan
integrasi pada kasus ini harus ditulis dengan
∫ 𝑢𝑑𝑣
Salah satu cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan
mengambil
𝑢 = 𝑥 dan 𝑑𝑣 = 𝑒 𝑥 𝑑𝑥
Sehingga
𝑑𝑢 = 𝑑𝑥 dan 𝑣 = ∫ 𝑑𝑣 = ∫ 𝑒 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑒 𝑥
Jadi berdasarkan rumus diatas diperoleh
∫ 𝑥𝑒 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑥𝑒 𝑥 − ∫ 𝑒 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑥𝑒 𝑥 − 𝑒 𝑥 + 𝐶
9. Integral Trigonometri
a. ∫ cos 𝑥 𝑑𝑥 = sin 𝑥 + 𝐶
b. ∫ sin 𝑥 𝑑𝑥 = − cos 𝑥 + 𝐶
c. ∫ 𝑠𝑒𝑐 2 𝑥 𝑑𝑥 = tan 𝑥 + 𝐶
d. ∫ 𝑐𝑜𝑠𝑒𝑐 2 𝑥 𝑑𝑥 = −cot 𝑥 + 𝐶
e. ∫ tan 𝑥 sec 𝑥 𝑑𝑥 = sec 𝑥 + 𝐶
f. ∫ cot 𝑥 cosec 𝑥 𝑑𝑥 = −cosec 𝑥 + 𝐶
Contoh 5.10 :
a. ∫ 2 cos 𝑥 − 3 sin 𝑥 𝑑𝑥
b. ∫ 2 𝑠𝑒𝑐 2 𝑥 − 5 tan 𝑥 sec 𝑥 𝑑𝑥
122
Penyelesaian :
Penyelesaian (a)
∫ 2 cos 𝑥 − 3 sin 𝑥 𝑑𝑥
= 2 ∫ cos 𝑥 𝑑𝑥
Penyelesaian (b)
PECAHAN PARSIAL
Sebagai ilustrasi, sebelum sampai pada pokok pembahasan, terlebih
dahulu perlu diperhatikan fungsi berikut :
2 3 2(𝑥 + 1) + 3(𝑥 − 4) 5𝑥 − 10
+ = = 2
𝑥−4 𝑥+1 (𝑥 − 4)(𝑥 + 1) 𝑥 − 3𝑥 − 4
123
Terlihat bahwa sisi sebelah kiri lebih mudah untuk diintegralkan
daripada sisi sebelah kanan.
5𝑥 − 10 2 3
∫ 2 𝑑𝑥 = ∫ + 𝑑𝑥
𝑥 − 3𝑥 − 4 𝑥−4 𝑥+1
2 3
=∫ 𝑑𝑥 + ∫ 𝑑𝑥
𝑥−4 𝑥+1
= 2 ln|𝑥 − 4| + 3 ln|𝑥 + 1| + 𝐶
Jadi untuk menyelesaikan integral pecahan parsial diperlukan suatu
metode untuk mendapatkan sisi kiri, jika sisi sebelah kanan sudah
diketahui. Untuk itu faktorkan penyebutnya pada sisi kanan dan
diasumsikan ada konstanta yang tidak diketahui misal A dan B
sedemikian hingga
5𝑥 − 10 𝐴 𝐵
2
= +
𝑥 − 3𝑥 − 4 𝑥 − 4 𝑥 + 1
Untuk mendapatkan konstanta A dan B, pertama kalikan dengan (𝑥 −
4)(𝑥 + 1) untuk menghilangkan penyebut.
5𝑥 − 10 = 𝐴(𝑥 − 1) + 𝐵(𝑥 − 4)
Dengan metode substitusi diperoleh 𝐴 = 2 dan 𝐵 = 3.
Metode alternatif untuk mendapatkan A dan B dilakukan untuk
menghasilkan sisi kanan dan 𝑥 dengan pangkat yang sama
dikumpulkan sehingga diperoleh :
𝐴+𝐵 =5
𝐴 − 4𝐵 = −10
Dengan eliminasi atau subsitusi persamaan di atas sehingga diperoleh
nilai 𝐴 = 2 dan 𝐵 = 3.
Suatu teorema dalam aljabar lanjutan menyatakan bahwa setiap
fungsi rasional 𝑃(𝑥)/𝑄(𝑥) dengan derajat pembilang lebih kecil dari
pada derajat penyebut dapat dinyatakan dengan
𝑃(𝑥)
= 𝐹1 (𝑥) + 𝐹2 (𝑥) + ⋯ + 𝐹𝑛 (𝑥)
𝑄(𝑥)
Dengan 𝐹1 (𝑥) + 𝐹2 (𝑥) + ⋯ + 𝐹𝑛 (𝑥) fungsi fungsi Rasional dalam
bentuk
124
𝐴1
(𝑎𝑥 + 𝑏)𝑘
Atau
𝐴𝑥 + 𝐵
(𝑎𝑥 2 + 𝑏𝑥 + 𝑐)𝑘
Dengan 𝑎, 𝑏, 𝑐 ∈ ℝ, 𝑘 = 1,2,3, …
Suku suku 𝐹1 (𝑥) + 𝐹2 (𝑥) + ⋯ + 𝐹𝑛 (𝑥) pada sisi kanan persamaan
pertama disebut pecahan parsial dan semua sisi kanan disebut
dekomposisi pecahan parsial dari sisi kiri.
Contoh 5.11 :
Tuliskan bentuk dekomposisi pecahan parsial dan selesaikan
integralnya!
𝑥
∫ 2 𝑑𝑥
𝑥 − 5𝑥 + 4
Penyelesaian :
Integran diatas dapat ditulis kembali sebagai
𝑥 𝑥
=
𝑥 2 − 5𝑥 + 4 (𝑥 − 4)(𝑥 − 1)
Sehingga bentuk dekomposisi pecahan parsialnya adalah
𝑥 𝐴 𝐵
2
= + (5.11.1)
𝑥 − 5𝑥 + 4 (𝑥 − 4) (𝑥 − 1)
Kalikan silang antara pembilang dan penyebut dari bentuk yang telah
didekomposisi menjadi
𝑥 = 𝐴(𝑥 − 1) + 𝐵(𝑥 − 4)
𝑥 = 𝐴𝑥 − 𝐴 + 𝐵𝑥 − 4𝐵
Masing-masing kelompokkan sesuai dengan variabel dan yang tidak
ada variabelnya menjadi
𝑥 = (𝐴 + 𝐵)𝑥 + (−𝐴 − 4𝐵)
Untuk menentukan nilai 𝐴 dan 𝐵, menyamakan nilai konstanta disisi
sebelah kiri dan sisi sebelah kanan, dengan demikian menjadi
(𝐴 + 𝐵) = 1 dan (−𝐴 − 4𝐵) = 0
125
Dengan eliminasi dan substitusi diperoleh
4 1
𝐴 = ,𝐵 = −
3 3
Masukkan ke soal kembali pada persamaan (5.11.1) menjadi
𝑥 4/3 1/3
2
= −
𝑥 − 5𝑥 + 4 (𝑥 − 4) (𝑥 − 1)
𝑥 4/3 1/3
∫ 𝑑𝑥 = ∫ − 𝑑𝑥
𝑥2 − 5𝑥 + 4 (𝑥 − 4) (𝑥 − 1)
4 1 1 1
= ∫ 𝑑𝑥 − ∫ 𝑑𝑥
3 (𝑥 − 4) 3 𝑥−1
4
4 1 ln(𝑥 − 4)
= ln(𝑥 − 4) − ln(𝑥 − 1) = 3
3 3 1
3 ln(𝑥 − 1)
𝑥−4
= 4 ln ∎
𝑥−1
Note :
SOAL LATIHAN
126
2. Dapatkan turunannya dan nyatakanlah rumus integrasi yang
bersesuaian!
𝑑 𝑑 𝑥 𝑑
j. [√𝑥 2 + 5] k. [ ] l. [sin 𝑥 − 𝑥𝑐𝑜𝑠 𝑥]
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑥 2 +3 𝑑𝑥
𝑡 2 +1 cos 𝑥 𝑒 𝑥
g. ∫ (𝑡 2 +2𝑡+3)2 𝑑𝑡 h. ∫ 𝑠𝑖𝑛2 𝑥−4 sin 𝑥−5 𝑑𝑥 i. ∫ 2𝑥 𝑑𝑥
𝑒 +4
𝑥 5 +2𝑥 2 +1 𝑡3 5𝜃−4
j. ∫ 𝑑𝑥 k. ∫ 𝑡 2 −3𝑡+2 𝑑𝑡 l. ∫ 2 𝑑𝜃
𝑥 3 +𝑥 𝜃 −4𝜃
2𝑡 2 1 𝑠𝑒𝑐 2 𝜃
m. ∫ (𝑡+1)3 𝑑𝑡 n. ∫ 1+𝑒 𝑥 𝑑𝑥 o. ∫ 𝑡𝑎𝑛3 𝜃−𝑡𝑎𝑛2 𝜃 𝑑𝜃
127
SUBSTITUSI-𝒖
Metode substitusi bergantung pada rumus berikut, dengan 𝑢
merupakan suatu fungsi dari 𝑥 yang diferensiabel.
𝑑𝑢
∫ [𝑓(𝑢) ] 𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑢)𝑑𝑢 (5.3.1)
𝑑𝑥
Untuk memperlihatkan kebenaran dari rumus (5.3.1), maka
dimisalkan 𝐹 sebagai anti turunan dari 𝑓, sehingga
𝑑
[𝐹(𝑢)] = 𝑓(𝑢)
𝑑𝑢
∫ 𝑓(𝑢)𝑑𝑢 = 𝐹(𝑢) + 𝐶 (5.3.2)
Jika 𝑢 adalah fungsi dari 𝑥 yang diferensiabel, maka dengan aturan
rantai
𝑑 𝑑 ′ 𝑑𝑢 𝑑𝑢
[𝐹(𝑢)] = [𝐹 (𝑢)] = 𝑓(𝑢)
𝑑𝑥 𝑑𝑢 𝑑𝑥 𝑑𝑥
Atau
𝑑𝑢
∫ [𝑓(𝑢) ] 𝑑𝑥 = 𝐹(𝑢) + 𝐶 (5.3.3)
𝑑𝑥
Contoh 5.12 :
Carilah ∫(𝑥 2 − 2𝑥 + 1)25 . (2𝑥 − 2)𝑑𝑥
Penyelesaian :
𝑑𝑢 𝑑𝑢
Jika diambil 𝑢 = 𝑥 2 − 2𝑥 + 1, maka = 2𝑥 − 2 → 𝑑𝑥 =
𝑑𝑥 2𝑥−2
sehingga integral yang diberikan dapat ditulis menjadi
𝑑𝑢
∫(𝑥 2 − 2𝑥 + 1)25 . (2𝑥 − 2)𝑑𝑥 = ∫(𝑢)25 (2𝑥 − 2)
(2𝑥 − 2)
= ∫(𝑢)25 𝑑𝑢
1 26 (𝑥 2 − 2𝑥 + 1)26
= 𝑢 +𝐶 = +𝐶 ∎
26 26
128
Contoh 5.13 :
Tentukan integral berikut ∫ cos( 3𝑥 + 1)𝑑𝑥!
Penyelesaian :
𝑑𝑢
Misal 𝑢 = 3𝑥 + 1, sehingga 𝑑𝑥 = 3, dengan demikian
𝑑𝑢
∫ cos( 3𝑥 + 1)𝑑𝑥 = ∫ cos 𝑢 𝑑𝑥 = ∫ cos 𝑢
3
1 1
= ∫ cos 𝑢 𝑑𝑢 sin 𝑢 + 𝐶
3 3
1
= sin(3𝑥 + 1) + 𝐶 ∎
3
Contoh 5.14 :
Selesaikan ∫ 𝑐𝑜𝑠 2 𝑥 sin 𝑥 𝑑𝑥!
Penyelesaian :
𝑑𝑢 𝑑𝑢
Misalkan 𝑢 = cos 𝑥 , = (− sin 𝑥) → 𝑑𝑥 = dengan demikian
𝑑𝑥 − sin 𝑥
𝑑𝑢
∫ 𝑐𝑜𝑠 2 𝑥 sin 𝑥 𝑑𝑥 = ∫ 𝑢2 sin 𝑥 𝑑𝑥 = ∫ 𝑢2 sin 𝑥 = ∫ 𝑢2 𝑑𝑢
− sin 𝑥
1 cos 𝑥
= 𝑢3 + 𝐶 = +𝐶 ∎
3 3
Contoh 5.15 :
2𝑡
Selesaikan ∫ (𝑡 2 𝑑𝑡!
+2)50
Penyelesaian :
𝑑𝑢 𝑑𝑢
Misal 𝑢 = 𝑡 2 + 2, 𝑑𝑡 = 2𝑡 → 𝑑𝑡 = 2𝑡
dengan demikian
129
2𝑡 2𝑡
∫ 𝑑𝑡 = ∫ 𝑑𝑡
(𝑡 2 + 2)50 𝑢50
2𝑡 𝑑𝑢 1 1
= ∫ 50 = ∫ 50 𝑑𝑢 = − +𝐶
𝑢 2𝑡 𝑢 49𝑢49
1
=− +𝐶 ∎
49(𝑡 + 2)49
2
SOAL LATIHAN
1. Hitunglah integral dibawah ini dengan memilih substitusi yang
ditunjukkan!
a. ∫ 2𝑥 2 (𝑥 3 + 1)17 𝑑𝑥 ; 𝑢 = 𝑥 3 + 1
1
b. ∫ sin √𝑥 𝑑𝑥 ; 𝑢 = √𝑥
√𝑥
3𝑥
c. ∫ 𝑑𝑥 ; 𝑢 = 4𝑥 2 + 5
√4𝑥 2 +5
d. ∫ 𝑠𝑒𝑐 2 (4𝑥 + 2)𝑑𝑥 ; 𝑢 = 4𝑥 + 2
e. ∫(2𝑥 + 7)(𝑥 2 + 7𝑥 + 3)2/3 𝑑𝑥 ; 𝑢 = 𝑥 2 + 7𝑥 + 3
f. ∫ 𝑥 2 (1 + 𝑥)1/2 𝑑𝑥 ; 𝑢 = (1 + 𝑥)
g. ∫(1 + cos 𝑡)11 sin 𝑡 𝑑𝑡 ; 𝑢 = 1 + cos 𝑡
h. ∫ cot 𝑥𝑐𝑠𝑐 2 𝑥 𝑑𝑥 ; 𝑢 = cot 𝑥
i. ∫ √sin 𝜋𝜃 cos 𝜋𝜃 𝑑𝜃; 𝑢 = sin 𝜋𝜃
3. Hitung integralnya
𝑦
a. ∫ 𝑑𝑦
√𝑦+1
b. ∫ 𝑠𝑖𝑛 2𝜃 𝑑𝜃 (note : gunakan kesamaan 𝑠𝑖𝑛2 𝑥 + 𝑐𝑜𝑠 2 𝑥 =
3
1
130
5.4. INTEGRAL TERTENTU
Pada bab sebelumnya dibahas mengenai antiturunan
(integral tak tentu) melalui definisi luas. Dalam hal ini akan
ditunjukkan cara menghitung luas dengan menggunakan limit dan
akan dikembangkan suatu definisi luas dibawah suatu kurva.
DEFINISI LUAS
Menunjuk pada definisi pada Teorema 5.1.1 dan Teorema 5.1.2
bahwa integral 𝑓(𝑥) pada selang [𝑝, 𝑞] adalah luas di atas selang
[𝑝, 𝑞], tetapi dibawah 𝑦 = 𝑓(𝑥) dikurangi luas dibawah [𝑝, 𝑞] tetapi
diatas 𝑦 = 𝑓(𝑥) sehingga dapat didefiniskan dengan Gambar 5.2.
berikut ini, dengan 𝑆 sebagai daerah yang ditanyakan luas daerahnya.
(a) (b)
Gambar 5.4. Luas Kurva Dalam Selang [𝑝, 𝑞]
2
Contoh 5.16 : Hitunglah ∫0 (𝑥 − 1)𝑑𝑥 !
Penyelesaian :
𝑦 𝑦 =𝑥−1
𝐿1
𝑥
𝐿2
132
𝑏 𝑐 𝑏
Penyelesaian :
SOAL LATIHAN
1. Hitunglah integral tertentu berikut dengan menggunakan luas
geometri bidang jika diperlukan!
0 2 2
a. ∫−2 𝑥 2 𝑑𝑥 b. ∫0 (2 − 4𝑥)𝑑𝑥 c. ∫0 √4 − 𝑥 2 𝑑𝑥
1 3 1 0
d. ∫−2|3𝑥 − 1| 𝑑𝑥 e. ∫1 1 − 2 𝑥 𝑑𝑥 f. ∫−2 √1 + 𝑥 2 𝑑𝑥
𝜋 𝜋 3
g. ∫0 cos 𝑥 𝑑𝑥 h. ∫0 sin 𝑥 𝑑𝑥 i. ∫0 𝑥 2 − 4 𝑑𝑥
133
5.5. TEOREMA FUNDAMENTAL KALKULUS PERTAMA
Dalam subbab sebelumnya, telah dibahas mengenai konsep
integral tertentu tetapi belum dibahas mengenai bagaimana cara
menghitungnya. Untuk menghitung integral tertentu ini, hal
mendasar yang perlu diperhatikan adalah
Teorema 5.5.1. Teorema Fundamental Kalkulus Pertama
Jika 𝑓 kontinu pada [𝑎, 𝑏] dan 𝐹 adalah antiturunan dari 𝑓 pada [𝑎, 𝑏],
maka,
𝑏
∫ 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥 = 𝐹(𝑏) − 𝐹(𝑎)
𝑎
Contoh 5.18 :
2
Hitunglah ∫0 𝑥 2 𝑑𝑥!
Penyelesaian :
1 3
Antiturunan atau integral dari 𝑥 2 adalah 3
𝑥 , jadi sesuai dengan
Teorema 5.5.1
2
1 3 2 1 3 1 8
∫ 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑥 ] = (2 ) − (03 ) = ∎
0 3 0 3 3 3
Contoh 5.19 :
Gunakan Teorema Fundamental Kalkulus Pertama untuk
menyelesaikan
2
a. ∫−1 𝑥 3 − 3𝑥 2 + 3𝑥 − 1 𝑑𝑥
3 1
b. ∫1 𝑥 1/2 + 𝑥 2 𝑑𝑥
Penyelesaian :
Penyelesaian (a).
2 2
1 3
∫ 𝑥 3 − 3𝑥 2 + 3𝑥 − 1 𝑑𝑥 = [ 𝑥 4 − 𝑥 3 + 𝑥 2 − 𝑥]
−1 4 2 −1
134
16 12 1 3 15 15
( −8+ − 2) − ( + 1 + + 1) = (0) − ( ) = − ∎
4 2 4 2 4 4
Penyelesaian (b).
3 1 1 2 3 13
∫ 𝑥2 + 𝑑𝑥 = [ 𝑥2 − ]
1 𝑥2 3 𝑥1
2 3/2 1 2 3 6
= ( (3 ) − ) − ( (12 ) − 1) = √3 ∎
3 3 3 3
SOAL LATIHAN
135
5.6. TEOREMA FUNDAMENTAL KALKULUS KEDUA
Pada Teorema Fundamental Kalkulus Pertama dibahas mengenai
perhitungan integral dengan adanya batas bawah dan batas atas
berupa nilai atau angka. Sedangkan pada Teorema Fundamental
Kalkulus Kedua ini batasnya (salah satunya atau keduanya) berupa
variabel atau peubah.
Untuk menghindari kesalahan dalam perhitungan, maka peubah
dibuat berbeda dengan peubah integrasinya, misalkan
𝑥
∫ 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥
𝑎
dapat ditulis menjadi
𝑥
∫ 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡
𝑎
Contoh 5.20 :
𝑥
Hitunglah ∫0 𝑡 2 − 4𝑡 𝑑𝑡!
Penyelesaian :
𝑥 𝒙
1 𝑥3
∫ 𝑡 2 − 4𝑡 𝑑𝑡 = [ 𝑡 3 − 2𝑡 2 ] = − 2𝑥 2 ∎
0 3 𝟎 3
Misal 𝑓 fungsi kontinu pada selang 𝐼, dan misal 𝑎 sebarang titik pada
𝐼. Jika 𝐹 didefinisikan dengan
𝑥
𝐹(𝑥) = ∫ 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡
𝑎
136
𝑥
𝑑
[∫ 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡] = 𝑓(𝑥)
𝑑𝑥 𝑎
Contoh 5.21 :
SOAL LATIHAN
5
1. Diberikan ∫−1 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥 = 3, dapatkan
5 5
a. ∫−1 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡 b. ∫−1 𝑓(𝑢) 𝑑𝑢
137
DAFTAR PUSTAKA
Anton, H., CALCULUS. A New Horizon, 6th edition. John Wiley & Sons,
Inc. New York, 1999.
138