0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan24 halaman

Pemahaman Integral Tak Tentu dan Aplikasinya

Diunggah oleh

bmovyz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan24 halaman

Pemahaman Integral Tak Tentu dan Aplikasinya

Diunggah oleh

bmovyz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 5 :

INTEGRASI

Capaian Pembelajaran Mata Kuliah :

1. Mahasiswa mampu memahami dan


menyelesaikan persoalan yang
berkaitan dengan integral tak tentu

2. Mahasiswa dapat menerapkan


aplikasi integral dalam kaitannya
dengan permasalahan teknik.

115
Dalam bab ini dibahas mengenai Kalkulus Integral beserta sifat-
sifatnya dan proses perhitungannya secara luas. Pada dasarnya
konsep integral sebagai kebalikan dari operasi differensial yaitu
merupakan bentuk umum dari operasi antiturunan. Dan integral
dapat pula diilustrasikan sebagai bentuk limit jumlahan Riemann yang
merupakan pendekatan dari proses perhitungan luas pada masing-
masing sub luasan.
5.1. KONSEP DASAR INTEGRAL

Turunan atau differensial adalah materi kalkulus yang banyak sekali


diterapkan dalam bidang teknik dan ekonomi. Oleh karena itu,
integral invers atau kebalikan dari turunan juga menjadi bagian yang
tak kalah pentingnya. Penerapannya di bidang teknik dan ekonomi
tidak dapat dipungkiri. Di bidang teknik, integral digunakan untuk
menghitung luas bidang datar dan volume benda putar. Dan tentunya
integral sangat berguna di kehidupan sehari-hari, misalnya banyak
ditemui di bidang-bidang yang tidak teratur yang tidak dapat dihitung
menggunakan rumus yang sudah dikenal sebelumnya, seperti luas
persegi, segitiga, lingkaran dan sebagainya. Pada konsep dasar
integral ini, dibahas mengenai integral dengan pendekatan luas oleh
suatu kurva lengkung.

Fungsi 𝐹 disebut sebagai anti turunan dan anti differensial atau


integral dari fungsi 𝑓 pada selang 𝐼, jika berlaku 𝐹(𝑥) = 𝑓(𝑥) untuk
setiap 𝑥 di 𝐼.

Jika 𝑓 suatu turunan dari 𝐹, maka notasinya adalah 𝐹′(𝑥) = 𝑓(𝑥) atau
dapat juga dituliskan sebagai 𝑑𝐹(𝑥) = 𝑓(𝑥)𝑑𝑥. Sebaliknya, 𝐹 adalah
anti turunan dari 𝑓 dan notasi atau simbol untuk operasi
pengintegralannya adalah ∫. Kita dapat menuliskan sebagai

∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = 𝐹(𝑥) + 𝐶

116
Dengan
 𝐹(𝑥) adalah fungsi integral umum yang bersifat 𝐹 ′ (𝑥) =
𝑓(𝑥)
 𝑓(𝑥) disebut fungsi integral
 𝐶 adalah konstanta real sembarang

MASALAH LUAS
Dalam bagian ini diberikan pengertian mengenai luas yang akan
ditunjukkan dengan cara menghitung luas menggunakan limit dan
dikembangkan dengan menggunakan definisi luas dibawah kurva
tertentu. Diberikan fungsi 𝑓 yang kontinu tak negatif pada selang
[𝑎, 𝑏], tentukan luas antara grafik yang dibatasi oleh fungsi 𝑓 dan
selang [𝑎, 𝑏], pada sumbu 𝑥 seperti ditunjukkan pada Gambar 5.1.

Gambar 5.1. Luas Dalam Pendekatan (limit) fungsi


Pada Gambar 5.1. diatas menunjukkan bahwa luas daerah yang
dibatasi dari 𝑥 = 𝑝 sampai 𝑥 = 𝑞, sedangkan bagian atas dibatasi oleh
kurva 𝑣 = 𝑓(𝑥), dengan 𝑓 kontinu dan tak negatif pada [𝑝, 𝑞].

DEFINISI LUAS
Teorema 5.1.1. jika suatu fungsi 𝑓 kontinu pada [𝑝, 𝑞], dan jika
𝑓(𝑥) ≥ 0 untuk semua 𝑥 pada [𝑝, 𝑞], maka luas dibawah kurva 𝑦 =
𝑓(𝑥) sepanjang selang [𝑝, 𝑞] didefinisikan sebagai

117
𝑛

𝐿= lim ∑ 𝑓(𝑥𝑘∗ )∆𝑥𝑘


𝑚𝑎𝑥∆𝑥𝑘 →0
𝑘=1

Jadi integral 𝑓(𝑥) pada selang [𝑎, 𝑏] adalah luas di atas selang [𝑎, 𝑏],
tetapi dibawah 𝑦 = 𝑓(𝑥) dikurangi luas dibawah [𝑎, 𝑏] tetapi diatas
𝑦 = 𝑓(𝑥) sehingga dapat didefiniskan dengan Gambar 5.2. berikut ini,
dengan 𝑆 sebagai daerah yang ditanyakan luas daerahnya.

Gambar 5.2. Luas Kurva Dalam Selang [𝑎, 𝑏]

Teorema 5.1.2. Jika fungsi 𝑓 kontinu dalam selang [𝑎, 𝑏] yang bernilai
positif, dan negatif, maka nilai integral tertentu dari 𝑦 = 𝑓(𝑥) pada
selang [𝑎, 𝑏] didefinisikan sebagai
𝑏 𝑛

∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = lim ∑ 𝑓(𝑥𝑘∗ )∆𝑥𝑘


𝑚𝑎𝑥∆𝑥𝑘 →0
𝑎 𝑘=1

Contoh 5.1.
4
Hitunglah ∫2 (1 − 𝑥)𝑑𝑥

Penyelesaian :

118
Integrannya negatif sepanjang selang [2,4], sehingga integral tersebut
merupakan negatif dari luas trapesium yang di arsir pada gambar
berikut ini. Luas Trapesium tersebut adalah 4, sehingga

x
2 4

𝑦 =1−𝑥

Gambar 5.3. Luas Trapesium

5.2. INTEGRAL TAK TENTU


Integral atau anti diferensial merupakan operasi invers atau
kebalikan dari diferensial atau turunan. Oleh karena itu, rumus-
rumus integral dapat diturunkan dari rumus-rumus turunan. Berikut
merupakan rumus dasar integral tak tentu fungsi aljabar.
1
1. ∫ 𝑥 𝑛 𝑑𝑥 = 𝑛+1 𝑥 𝑛+1 + 𝐶
Contoh 5.2. :
Dapatkan integral pada fungsi 𝑓(𝑥) = 𝑥 5
Penyelesaian :
1
𝑓(𝑥) = ∫ 𝑥 5 𝑑𝑥 = 𝑥 6 + 𝐶
6
𝑘
2. ∫ 𝑘𝑥 𝑛 𝑑𝑥 = 𝑛+1 𝑥 𝑛+1 + 𝐶, k= konstanta tertentu
Contoh 5.3. :
119
Dapatkan integral pada fungsi 𝑓(𝑥) = 3𝑥 10 .
Penyelesaian :
3(1) 11 3 11
𝑓(𝑥) = ∫ 3𝑥 10 𝑑𝑥 = 3 ∫ 𝑥 10 𝑑𝑥 = 𝑥 = 𝑥 +𝐶
11 11
3. ∫ 𝑑𝑥 = 𝑥 + 𝐶
Contoh 5.4. :
Dapatkan integral pada fungsi 𝑓(𝑥) = −2
Penyelesaian :
𝑓(𝑥) = ∫ −2𝑑𝑥 = −2𝑥 + 𝐶
4. ∫ 𝑘𝑑𝑥 = 𝑘𝑥 + 𝐶
∫ 𝑘𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = 𝑘 ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = 𝑘𝐹(𝑥) + 𝐶
Contoh 5.5. :
1
Dapatkan anti turunan dari fungsi −
100
Penyelesaian :
1 1
∫− 𝑑𝑥 = − 𝑥+𝐶
100 100

5. ∫ 𝑓(𝑥) + 𝑔(𝑥)𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 + ∫ 𝑔(𝑥)𝑑𝑥 = 𝐹(𝑥) + 𝐺(𝑥) + 𝐶


Contoh 5.6. :
Dapatkan anti turunan dari 𝑥 2 + 2𝑥 + 1
Penyelesaian :
1 2 𝑥3
∫ 𝑥 2 + 2𝑥 + 1𝑑𝑥 = 𝑥 3 + 𝑥 2 + 𝑥 = + 𝑥2 + 𝑥 + 𝐶
3 2 3
6. ∫ 𝑓(𝑥) − 𝑔(𝑥)𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 − ∫ 𝑔(𝑥)𝑑𝑥 = 𝐹(𝑥) − 𝐺(𝑥) + 𝐶
Contoh 5.7. :
Dapatkan integral dari fungsi 𝑥 3 − 3𝑥 2 − 3𝑥 − 1
Penyelesaian :

120
1 3 3
∫ 𝑥 3 − 3𝑥 2 − 3𝑥 − 1𝑑𝑥 = 𝑥 3 − 𝑥 3 − 𝑥 2 + 𝐶
3 3 2
1
7. ∫ 𝑥 𝑑𝑥 = ln|𝑥| + 𝐶
Contoh 5.8. :
Dapatkan penyelesaian integral pada fungsi berikut −5/𝑥
5
Penyelesaian : ∫ − 𝑑𝑥 = −5 ln 𝑥 + 𝐶
𝑥
8. (Integral Sebagian / By Part)
Jika 𝑓 dan 𝑔 adalah fungsi fungsi yang terdeferensial, maka
dengan aturan perkalian diperoleh
𝑑
[𝑓(𝑥)𝑔(𝑥)] = 𝑓(𝑥)𝑔′ (𝑥) + 𝑔(𝑥)𝑓′(𝑥)
𝑑𝑥
Dengan mengintegralkan kedua ruas, diperoleh
𝑑
∫ [𝑓(𝑥)𝑔(𝑥)]𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑔′ (𝑥) 𝑑𝑥 + ∫ 𝑔(𝑥)𝑓 ′ (𝑥)𝑑𝑥
𝑑𝑥
Atau
𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) + 𝐶 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑔′ (𝑥) 𝑑𝑥 + ∫ 𝑔(𝑥)𝑓 ′ (𝑥)𝑑𝑥
Atau
∫ 𝑓(𝑥)𝑔′ (𝑥) 𝑑𝑥 = 𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) − ∫ 𝑔(𝑥)𝑓 ′ (𝑥)𝑑𝑥 + 𝐶
Karena integral ruas kanan menghasilkan suatu konstanta integrasi
lain, maka tidak perlu menambah konstanta 𝐶 dalam persamaan
terakhir sehingga diperoleh :
∫ 𝑓(𝑥)𝑔′ (𝑥) 𝑑𝑥 = 𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) − ∫ 𝑓′(𝑥)𝑔(𝑥)𝑑𝑥
Rumus diatas merupakan rumus integrasi sebagian/by part atau
integral parsial. Untuk menyederhanakan penulisan, dengan
pengambilan
𝑢 = 𝑓(𝑥), 𝑑𝑢 = 𝑓 ′ (𝑥)𝑑𝑥
𝑣 = 𝑔(𝑥), 𝑑𝑣 = 𝑔′ (𝑥)𝑑𝑥
Diperoleh bentuk alternatif persamaan sebagai berikut :

121
∫ 𝑢𝑑𝑣 = 𝑢𝑣 − ∫ 𝑣𝑑𝑢
Contoh 5.9 :
Selesaikan ∫ 𝑥𝑒 𝑥 𝑑𝑥
Penyelesaian :
Untuk menerapkan integrasi parsial atau sebagian, persoalan
integrasi pada kasus ini harus ditulis dengan
∫ 𝑢𝑑𝑣
Salah satu cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan
mengambil
𝑢 = 𝑥 dan 𝑑𝑣 = 𝑒 𝑥 𝑑𝑥
Sehingga
𝑑𝑢 = 𝑑𝑥 dan 𝑣 = ∫ 𝑑𝑣 = ∫ 𝑒 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑒 𝑥
Jadi berdasarkan rumus diatas diperoleh
∫ 𝑥𝑒 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑥𝑒 𝑥 − ∫ 𝑒 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑥𝑒 𝑥 − 𝑒 𝑥 + 𝐶

9. Integral Trigonometri
a. ∫ cos 𝑥 𝑑𝑥 = sin 𝑥 + 𝐶
b. ∫ sin 𝑥 𝑑𝑥 = − cos 𝑥 + 𝐶
c. ∫ 𝑠𝑒𝑐 2 𝑥 𝑑𝑥 = tan 𝑥 + 𝐶
d. ∫ 𝑐𝑜𝑠𝑒𝑐 2 𝑥 𝑑𝑥 = −cot 𝑥 + 𝐶
e. ∫ tan 𝑥 sec 𝑥 𝑑𝑥 = sec 𝑥 + 𝐶
f. ∫ cot 𝑥 cosec 𝑥 𝑑𝑥 = −cosec 𝑥 + 𝐶

Contoh 5.10 :

Tentukan integral tak tentu berikut :

a. ∫ 2 cos 𝑥 − 3 sin 𝑥 𝑑𝑥
b. ∫ 2 𝑠𝑒𝑐 2 𝑥 − 5 tan 𝑥 sec 𝑥 𝑑𝑥
122
Penyelesaian :

Penyelesaian (a)

∫ 2 cos 𝑥 − 3 sin 𝑥 𝑑𝑥

= 2 ∫ cos 𝑥 𝑑𝑥

− 3 ∫ sin 𝑥 𝑑𝑥 = 2 sin 𝑥 + 3 cos 𝑥 + 𝐶

Penyelesaian (b)

∫ 2 𝑠𝑒𝑐 2 𝑥 − 5 tan 𝑥 sec 𝑥 𝑑𝑥

= 2 ∫ 𝑠𝑒𝑐 2 𝑥 𝑑𝑥 − 5 ∫ tan 𝑥 sec 𝑥 𝑑𝑥


= 2 tan 𝑥 − 5 sec 𝑥 + 𝐶

10. Integrasi Fungsi Rasional dan Pecahan Parsial

Sebagaimana telah diketahui bahwa fungsi rasional adalah hasil bagi


polinomial. Pada umumnya, fungsi rasional sukar untuk di integralkan.
Pada sub bab ini diberikan suatu metode untuk menyajikan fungsi
rasional sebagai jumlahan fungsi rasional sederhana yang dapat di
integrasikan dengan metode yang telah dipelajari sebelumnya.

PECAHAN PARSIAL
Sebagai ilustrasi, sebelum sampai pada pokok pembahasan, terlebih
dahulu perlu diperhatikan fungsi berikut :
2 3 2(𝑥 + 1) + 3(𝑥 − 4) 5𝑥 − 10
+ = = 2
𝑥−4 𝑥+1 (𝑥 − 4)(𝑥 + 1) 𝑥 − 3𝑥 − 4

123
Terlihat bahwa sisi sebelah kiri lebih mudah untuk diintegralkan
daripada sisi sebelah kanan.
5𝑥 − 10 2 3
∫ 2 𝑑𝑥 = ∫ + 𝑑𝑥
𝑥 − 3𝑥 − 4 𝑥−4 𝑥+1
2 3
=∫ 𝑑𝑥 + ∫ 𝑑𝑥
𝑥−4 𝑥+1
= 2 ln|𝑥 − 4| + 3 ln|𝑥 + 1| + 𝐶
Jadi untuk menyelesaikan integral pecahan parsial diperlukan suatu
metode untuk mendapatkan sisi kiri, jika sisi sebelah kanan sudah
diketahui. Untuk itu faktorkan penyebutnya pada sisi kanan dan
diasumsikan ada konstanta yang tidak diketahui misal A dan B
sedemikian hingga
5𝑥 − 10 𝐴 𝐵
2
= +
𝑥 − 3𝑥 − 4 𝑥 − 4 𝑥 + 1
Untuk mendapatkan konstanta A dan B, pertama kalikan dengan (𝑥 −
4)(𝑥 + 1) untuk menghilangkan penyebut.
5𝑥 − 10 = 𝐴(𝑥 − 1) + 𝐵(𝑥 − 4)
Dengan metode substitusi diperoleh 𝐴 = 2 dan 𝐵 = 3.
Metode alternatif untuk mendapatkan A dan B dilakukan untuk
menghasilkan sisi kanan dan 𝑥 dengan pangkat yang sama
dikumpulkan sehingga diperoleh :
𝐴+𝐵 =5
𝐴 − 4𝐵 = −10
Dengan eliminasi atau subsitusi persamaan di atas sehingga diperoleh
nilai 𝐴 = 2 dan 𝐵 = 3.
Suatu teorema dalam aljabar lanjutan menyatakan bahwa setiap
fungsi rasional 𝑃(𝑥)/𝑄(𝑥) dengan derajat pembilang lebih kecil dari
pada derajat penyebut dapat dinyatakan dengan
𝑃(𝑥)
= 𝐹1 (𝑥) + 𝐹2 (𝑥) + ⋯ + 𝐹𝑛 (𝑥)
𝑄(𝑥)
Dengan 𝐹1 (𝑥) + 𝐹2 (𝑥) + ⋯ + 𝐹𝑛 (𝑥) fungsi fungsi Rasional dalam
bentuk
124
𝐴1
(𝑎𝑥 + 𝑏)𝑘
Atau
𝐴𝑥 + 𝐵
(𝑎𝑥 2 + 𝑏𝑥 + 𝑐)𝑘
Dengan 𝑎, 𝑏, 𝑐 ∈ ℝ, 𝑘 = 1,2,3, …
Suku suku 𝐹1 (𝑥) + 𝐹2 (𝑥) + ⋯ + 𝐹𝑛 (𝑥) pada sisi kanan persamaan
pertama disebut pecahan parsial dan semua sisi kanan disebut
dekomposisi pecahan parsial dari sisi kiri.

Contoh 5.11 :
Tuliskan bentuk dekomposisi pecahan parsial dan selesaikan
integralnya!
𝑥
∫ 2 𝑑𝑥
𝑥 − 5𝑥 + 4
Penyelesaian :
Integran diatas dapat ditulis kembali sebagai
𝑥 𝑥
=
𝑥 2 − 5𝑥 + 4 (𝑥 − 4)(𝑥 − 1)
Sehingga bentuk dekomposisi pecahan parsialnya adalah
𝑥 𝐴 𝐵
2
= + (5.11.1)
𝑥 − 5𝑥 + 4 (𝑥 − 4) (𝑥 − 1)
Kalikan silang antara pembilang dan penyebut dari bentuk yang telah
didekomposisi menjadi
𝑥 = 𝐴(𝑥 − 1) + 𝐵(𝑥 − 4)
𝑥 = 𝐴𝑥 − 𝐴 + 𝐵𝑥 − 4𝐵
Masing-masing kelompokkan sesuai dengan variabel dan yang tidak
ada variabelnya menjadi
𝑥 = (𝐴 + 𝐵)𝑥 + (−𝐴 − 4𝐵)
Untuk menentukan nilai 𝐴 dan 𝐵, menyamakan nilai konstanta disisi
sebelah kiri dan sisi sebelah kanan, dengan demikian menjadi
(𝐴 + 𝐵) = 1 dan (−𝐴 − 4𝐵) = 0
125
Dengan eliminasi dan substitusi diperoleh
4 1
𝐴 = ,𝐵 = −
3 3
Masukkan ke soal kembali pada persamaan (5.11.1) menjadi
𝑥 4/3 1/3
2
= −
𝑥 − 5𝑥 + 4 (𝑥 − 4) (𝑥 − 1)

Dengan mengintegralkan fungsi menjadi

𝑥 4/3 1/3
∫ 𝑑𝑥 = ∫ − 𝑑𝑥
𝑥2 − 5𝑥 + 4 (𝑥 − 4) (𝑥 − 1)
4 1 1 1
= ∫ 𝑑𝑥 − ∫ 𝑑𝑥
3 (𝑥 − 4) 3 𝑥−1
4
4 1 ln(𝑥 − 4)
= ln(𝑥 − 4) − ln(𝑥 − 1) = 3
3 3 1
3 ln(𝑥 − 1)
𝑥−4
= 4 ln ∎
𝑥−1
Note :

Pengurangan fungsi ln 𝑥 sama dengan pembagian fungsinya,


sedangkan penjumlahan fungsi ln 𝑥 sama dengan perkalian fungsinya.

SOAL LATIHAN

1. Hitunglah integralnya dan periksalah hasilnya dengan mencari


turunan dari jawaban yang diperoleh!
1 5 3
a. ∫ 5 𝑑𝑥 b. ∫ 3 𝑑𝑡 c. ∫ √𝑥 2 𝑑𝑥
𝑥
𝑡2
d. ∫ 𝑥 2 (1 + 𝑥 2 )𝑑𝑥 e. ∫(2 − 𝑦 2 )2 𝑑𝑥 f. ∫
1−2𝑡 3
𝑑𝑡
𝑡3
2 )2/3 1 1/3
g. ∫(1 + 𝑥 𝑑𝑥 h. ∫ 𝑡2 − cos 𝑡 𝑑𝑡 i. ∫ 𝑥 (2 − 𝑥 2/3 ) 𝑑𝑥

126
2. Dapatkan turunannya dan nyatakanlah rumus integrasi yang
bersesuaian!
𝑑 𝑑 𝑥 𝑑
j. [√𝑥 2 + 5] k. [ ] l. [sin 𝑥 − 𝑥𝑐𝑜𝑠 𝑥]
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑥 2 +3 𝑑𝑥

3. Tentukan fungsi 𝑓 sedemikian hingga 𝑓 ′′ (𝑥) = 𝑥 + cos 𝑥 dan


𝑓(0) = 1, 𝑓 ′′ (0) = 2. (petunjuk : integrasikan kedua sisi dua
kali)
4. Tuliskan bentuk dekomposisi pecahan parsial (tanpa harus
menentukan nilai numerik dari koefisien)
4𝑥−1 1−3𝑥 2 𝑥+2
a. (𝑥−3)(𝑥+2) b. 𝑥 3 (𝑥2 +4) c. 𝑥 2 (𝑥+2)
1−3𝜃4 2𝑡 3 −𝑡 2𝑡 3 −𝑡 2 +𝑡−3
d (𝜃−2)(𝜃2 e (𝑡 2 +5)2 f
+1)3 𝑡(𝑡−1)(𝑡−2)2

5. Selesaikan integral berikut :


4𝑥−1 1−3𝑥 2 𝑥+2
a. ∫ (𝑥−3)(𝑥+2) 𝑑𝑥 b. ∫ 𝑥 3 (𝑥2 +4) 𝑑𝑥 c. ∫ 𝑥 2 (𝑥+2) 𝑑𝑥
1−3𝜃4 2𝑡 3 −𝑡 2𝑡 3 −𝑡 2 +𝑡−3
d ∫ (𝜃−2)(𝜃2 +1)3 𝑑𝜃 e ∫ (𝑡 2 +5)2 𝑑𝑡 f ∫ 𝑡(𝑡−1)(𝑡−2)2 𝑑𝑡

𝑡 2 +1 cos 𝑥 𝑒 𝑥
g. ∫ (𝑡 2 +2𝑡+3)2 𝑑𝑡 h. ∫ 𝑠𝑖𝑛2 𝑥−4 sin 𝑥−5 𝑑𝑥 i. ∫ 2𝑥 𝑑𝑥
𝑒 +4
𝑥 5 +2𝑥 2 +1 𝑡3 5𝜃−4
j. ∫ 𝑑𝑥 k. ∫ 𝑡 2 −3𝑡+2 𝑑𝑡 l. ∫ 2 𝑑𝜃
𝑥 3 +𝑥 𝜃 −4𝜃
2𝑡 2 1 𝑠𝑒𝑐 2 𝜃
m. ∫ (𝑡+1)3 𝑑𝑡 n. ∫ 1+𝑒 𝑥 𝑑𝑥 o. ∫ 𝑡𝑎𝑛3 𝜃−𝑡𝑎𝑛2 𝜃 𝑑𝜃

5.3. INTEGRAL DENGAN SUBSITUSI


Integral dengan teknik substitusi digunakan untuk
mempermudah dalam pengerjaan integrasi. Tidak semua soal dapat
dengan mudah dikerjakan, ada yang membutuhkan teknik substitusi
terlebih dahulu untuk pengerjaan integral selanjutnya.

127
SUBSTITUSI-𝒖
Metode substitusi bergantung pada rumus berikut, dengan 𝑢
merupakan suatu fungsi dari 𝑥 yang diferensiabel.
𝑑𝑢
∫ [𝑓(𝑢) ] 𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑢)𝑑𝑢 (5.3.1)
𝑑𝑥
Untuk memperlihatkan kebenaran dari rumus (5.3.1), maka
dimisalkan 𝐹 sebagai anti turunan dari 𝑓, sehingga
𝑑
[𝐹(𝑢)] = 𝑓(𝑢)
𝑑𝑢
∫ 𝑓(𝑢)𝑑𝑢 = 𝐹(𝑢) + 𝐶 (5.3.2)
Jika 𝑢 adalah fungsi dari 𝑥 yang diferensiabel, maka dengan aturan
rantai
𝑑 𝑑 ′ 𝑑𝑢 𝑑𝑢
[𝐹(𝑢)] = [𝐹 (𝑢)] = 𝑓(𝑢)
𝑑𝑥 𝑑𝑢 𝑑𝑥 𝑑𝑥
Atau
𝑑𝑢
∫ [𝑓(𝑢) ] 𝑑𝑥 = 𝐹(𝑢) + 𝐶 (5.3.3)
𝑑𝑥

Contoh 5.12 :
Carilah ∫(𝑥 2 − 2𝑥 + 1)25 . (2𝑥 − 2)𝑑𝑥
Penyelesaian :
𝑑𝑢 𝑑𝑢
Jika diambil 𝑢 = 𝑥 2 − 2𝑥 + 1, maka = 2𝑥 − 2 → 𝑑𝑥 =
𝑑𝑥 2𝑥−2
sehingga integral yang diberikan dapat ditulis menjadi
𝑑𝑢
∫(𝑥 2 − 2𝑥 + 1)25 . (2𝑥 − 2)𝑑𝑥 = ∫(𝑢)25 (2𝑥 − 2)
(2𝑥 − 2)
= ∫(𝑢)25 𝑑𝑢
1 26 (𝑥 2 − 2𝑥 + 1)26
= 𝑢 +𝐶 = +𝐶 ∎
26 26

128
Contoh 5.13 :
Tentukan integral berikut ∫ cos( 3𝑥 + 1)𝑑𝑥!
Penyelesaian :
𝑑𝑢
Misal 𝑢 = 3𝑥 + 1, sehingga 𝑑𝑥 = 3, dengan demikian
𝑑𝑢
∫ cos( 3𝑥 + 1)𝑑𝑥 = ∫ cos 𝑢 𝑑𝑥 = ∫ cos 𝑢
3
1 1
= ∫ cos 𝑢 𝑑𝑢 sin 𝑢 + 𝐶
3 3
1
= sin(3𝑥 + 1) + 𝐶 ∎
3

Contoh 5.14 :
Selesaikan ∫ 𝑐𝑜𝑠 2 𝑥 sin 𝑥 𝑑𝑥!
Penyelesaian :
𝑑𝑢 𝑑𝑢
Misalkan 𝑢 = cos 𝑥 , = (− sin 𝑥) → 𝑑𝑥 = dengan demikian
𝑑𝑥 − sin 𝑥

𝑑𝑢
∫ 𝑐𝑜𝑠 2 𝑥 sin 𝑥 𝑑𝑥 = ∫ 𝑢2 sin 𝑥 𝑑𝑥 = ∫ 𝑢2 sin 𝑥 = ∫ 𝑢2 𝑑𝑢
− sin 𝑥
1 cos 𝑥
= 𝑢3 + 𝐶 = +𝐶 ∎
3 3

Contoh 5.15 :
2𝑡
Selesaikan ∫ (𝑡 2 𝑑𝑡!
+2)50
Penyelesaian :
𝑑𝑢 𝑑𝑢
Misal 𝑢 = 𝑡 2 + 2, 𝑑𝑡 = 2𝑡 → 𝑑𝑡 = 2𝑡
dengan demikian

129
2𝑡 2𝑡
∫ 𝑑𝑡 = ∫ 𝑑𝑡
(𝑡 2 + 2)50 𝑢50
2𝑡 𝑑𝑢 1 1
= ∫ 50 = ∫ 50 𝑑𝑢 = − +𝐶
𝑢 2𝑡 𝑢 49𝑢49
1
=− +𝐶 ∎
49(𝑡 + 2)49
2

SOAL LATIHAN
1. Hitunglah integral dibawah ini dengan memilih substitusi yang
ditunjukkan!
a. ∫ 2𝑥 2 (𝑥 3 + 1)17 𝑑𝑥 ; 𝑢 = 𝑥 3 + 1
1
b. ∫ sin √𝑥 𝑑𝑥 ; 𝑢 = √𝑥
√𝑥
3𝑥
c. ∫ 𝑑𝑥 ; 𝑢 = 4𝑥 2 + 5
√4𝑥 2 +5
d. ∫ 𝑠𝑒𝑐 2 (4𝑥 + 2)𝑑𝑥 ; 𝑢 = 4𝑥 + 2
e. ∫(2𝑥 + 7)(𝑥 2 + 7𝑥 + 3)2/3 𝑑𝑥 ; 𝑢 = 𝑥 2 + 7𝑥 + 3
f. ∫ 𝑥 2 (1 + 𝑥)1/2 𝑑𝑥 ; 𝑢 = (1 + 𝑥)
g. ∫(1 + cos 𝑡)11 sin 𝑡 𝑑𝑡 ; 𝑢 = 1 + cos 𝑡
h. ∫ cot 𝑥𝑐𝑠𝑐 2 𝑥 𝑑𝑥 ; 𝑢 = cot 𝑥
i. ∫ √sin 𝜋𝜃 cos 𝜋𝜃 𝑑𝜃; 𝑢 = sin 𝜋𝜃

2. Hitunglah integral-integral berikut :


2𝑡+2 cos 𝑥 𝑥
𝑒
a. ∫ (𝑡 2 𝑑𝑡 b. ∫ 2 𝑑𝑥 c. ∫ 2𝑥 𝑑𝑥
+2𝑡+3)2 𝑠𝑖𝑛 𝑥−4 sin 𝑥−5 𝑒 +4
3𝑥 2 +1 2𝑡−3 2𝜃−4
d. ∫ 𝑑𝑥 e. ∫ 𝑡 2 −3𝑡+2 𝑑𝑡 f. ∫ 𝜃2 −4𝜃 𝑑𝜃
𝑥 3 +𝑥
2𝑡 2 sin 𝑥 𝑠𝑒𝑐 2 𝜃
g. ∫ (𝑡 3 +1)3 𝑑𝑡 h. ∫ 𝑑𝑥 i. ∫ 𝑡𝑎𝑛3 𝜃−𝑡𝑎𝑛2 𝜃 𝑑𝜃
1+cos 𝑥

3. Hitung integralnya
𝑦
a. ∫ 𝑑𝑦
√𝑦+1
b. ∫ 𝑠𝑖𝑛 2𝜃 𝑑𝜃 (note : gunakan kesamaan 𝑠𝑖𝑛2 𝑥 + 𝑐𝑜𝑠 2 𝑥 =
3

1
130
5.4. INTEGRAL TERTENTU
Pada bab sebelumnya dibahas mengenai antiturunan
(integral tak tentu) melalui definisi luas. Dalam hal ini akan
ditunjukkan cara menghitung luas dengan menggunakan limit dan
akan dikembangkan suatu definisi luas dibawah suatu kurva.
DEFINISI LUAS
Menunjuk pada definisi pada Teorema 5.1.1 dan Teorema 5.1.2
bahwa integral 𝑓(𝑥) pada selang [𝑝, 𝑞] adalah luas di atas selang
[𝑝, 𝑞], tetapi dibawah 𝑦 = 𝑓(𝑥) dikurangi luas dibawah [𝑝, 𝑞] tetapi
diatas 𝑦 = 𝑓(𝑥) sehingga dapat didefiniskan dengan Gambar 5.2.
berikut ini, dengan 𝑆 sebagai daerah yang ditanyakan luas daerahnya.

(a) (b)
Gambar 5.4. Luas Kurva Dalam Selang [𝑝, 𝑞]
2
Contoh 5.16 : Hitunglah ∫0 (𝑥 − 1)𝑑𝑥 !
Penyelesaian :
𝑦 𝑦 =𝑥−1

𝐿1

𝑥
𝐿2

Gambar 5.5. Luas Bidang Geometri


131
Kurva berbentuk segitiga dengan alas berukuran 1 dan tinggi 1,
1
sehingga luas segitiga dengan geometri bidang adalah . 𝑎. 𝑡 =
2
1 1
. 1. 1 = , dengan demikian
2 2
2
1 1
∫(𝑥 − 1)𝑑𝑥 = 𝐿1 + 𝐿2 = + (− ) = 0
2 2
0
Teorema 5.4.1
1. Jika 𝑎 berada dalam domain 𝑓,maka didefiniskan
𝑎
∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = 0
𝑎
2. Jika 𝑓 terintegral pada [𝑎, 𝑏], maka didefinisikan
𝑎 𝑏
∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = − ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥
𝑏 𝑎

SIFAT-SIFAT INTEGRAL TERTENTU

Teorema 5.4.2. Sifat sifat integral tertentu berikut ini berdasarkan


definisi integral tertentu.
 Jika 𝑓 dan 𝑔 terintegral pada [𝑎, 𝑏] dan jika 𝑐 suatu konstanta,
maka 𝑐𝑓, 𝑓 + 𝑔, dan 𝑓 − 𝑔 semuanya terintegral pada [𝑎, 𝑏]
dan
𝑏 𝑏
a. ∫𝑎 𝑐(𝑓(𝑥))𝑑𝑥 = 𝑐 ∫𝑎 𝑓(𝑥)𝑑𝑥
𝑏 𝑏 𝑏
b. ∫𝑎 [𝑓(𝑥) + 𝑔(𝑥)]𝑑𝑥 = ∫𝑎 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 + ∫𝑎 𝑔(𝑥)𝑑𝑥
𝑏 𝑏 𝑏
c. ∫𝑎 [𝑓(𝑥) − 𝑔(𝑥)]𝑑𝑥 = ∫𝑎 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 − ∫𝑎 𝑔(𝑥)𝑑𝑥

 Jika 𝑓 terintegral pada suatu selang tertutup yang memuat tiga


titik a, b dan c, maka

132
𝑏 𝑐 𝑏

∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 + ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥


𝑎 𝑎 𝑐
Contoh 5.17 :
Misalkan
3 1 5 3
∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = 2, ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = 5, ∫ 𝑓(𝑥) = −2 , ∫ 𝑔(𝑥)𝑑𝑥 = −1
1 −2 1 1
Dapatkan
3
a. ∫1 [3𝑓(𝑥) + 2𝑔(𝑥)] 𝑑𝑥
5
b. ∫−2 3𝑓(𝑥) 𝑑𝑥

Penyelesaian :

Penyelesaian (a). Dari Teorema 5.4.2


3 3 3
∫ [3𝑓(𝑥) + 2𝑔(𝑥)] 𝑑𝑥 = 3 ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 + 2 ∫ 𝑔(𝑥)𝑑𝑥
1 1 1
= 3(2) + 2(−1) = 4

Penyelesaian (b). Dari Teorema 5.4.2 yang memuat a,b, dan c


5 1 5
∫ 3𝑓(𝑥) 𝑑𝑥 = 3 [∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 + ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 ]
−2 −2 1
= 3[5 + (−2)] = 9

SOAL LATIHAN
1. Hitunglah integral tertentu berikut dengan menggunakan luas
geometri bidang jika diperlukan!
0 2 2
a. ∫−2 𝑥 2 𝑑𝑥 b. ∫0 (2 − 4𝑥)𝑑𝑥 c. ∫0 √4 − 𝑥 2 𝑑𝑥
1 3 1 0
d. ∫−2|3𝑥 − 1| 𝑑𝑥 e. ∫1 1 − 2 𝑥 𝑑𝑥 f. ∫−2 √1 + 𝑥 2 𝑑𝑥
𝜋 𝜋 3
g. ∫0 cos 𝑥 𝑑𝑥 h. ∫0 sin 𝑥 𝑑𝑥 i. ∫0 𝑥 2 − 4 𝑑𝑥

133
5.5. TEOREMA FUNDAMENTAL KALKULUS PERTAMA
Dalam subbab sebelumnya, telah dibahas mengenai konsep
integral tertentu tetapi belum dibahas mengenai bagaimana cara
menghitungnya. Untuk menghitung integral tertentu ini, hal
mendasar yang perlu diperhatikan adalah
Teorema 5.5.1. Teorema Fundamental Kalkulus Pertama
Jika 𝑓 kontinu pada [𝑎, 𝑏] dan 𝐹 adalah antiturunan dari 𝑓 pada [𝑎, 𝑏],
maka,
𝑏
∫ 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥 = 𝐹(𝑏) − 𝐹(𝑎)
𝑎

Contoh 5.18 :
2
Hitunglah ∫0 𝑥 2 𝑑𝑥!
Penyelesaian :
1 3
Antiturunan atau integral dari 𝑥 2 adalah 3
𝑥 , jadi sesuai dengan
Teorema 5.5.1
2
1 3 2 1 3 1 8
∫ 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑥 ] = (2 ) − (03 ) = ∎
0 3 0 3 3 3

Contoh 5.19 :
Gunakan Teorema Fundamental Kalkulus Pertama untuk
menyelesaikan
2
a. ∫−1 𝑥 3 − 3𝑥 2 + 3𝑥 − 1 𝑑𝑥
3 1
b. ∫1 𝑥 1/2 + 𝑥 2 𝑑𝑥

Penyelesaian :

Penyelesaian (a).
2 2
1 3
∫ 𝑥 3 − 3𝑥 2 + 3𝑥 − 1 𝑑𝑥 = [ 𝑥 4 − 𝑥 3 + 𝑥 2 − 𝑥]
−1 4 2 −1
134
16 12 1 3 15 15
( −8+ − 2) − ( + 1 + + 1) = (0) − ( ) = − ∎
4 2 4 2 4 4
Penyelesaian (b).
3 1 1 2 3 13
∫ 𝑥2 + 𝑑𝑥 = [ 𝑥2 − ]
1 𝑥2 3 𝑥1
2 3/2 1 2 3 6
= ( (3 ) − ) − ( (12 ) − 1) = √3 ∎
3 3 3 3

SOAL LATIHAN

1. Hitung integral tertentu berikut menggunakan Teorema


Fundamental Kalkulus Pertama
2 1 0
a. ∫−1 𝑥 3 − 2𝑥 𝑑𝑥 b. ∫−1 𝑥(𝑥 2 + 1) 𝑑𝑥 c. ∫−2(𝑥 2 − 5𝑥 + 6) 𝑑𝑥
2 1 4 4
d. ∫1 𝑑𝑥 e. ∫0 𝑥 −3/5 𝑑𝑥 f. ∫2 2𝑦√𝑦 𝑑𝑦
𝑥8
3 2 𝜋/4
4 3
g. −
∫1 𝑢2 − 𝑢 2 𝑑𝑢 h. ∫1 (2𝑥 3 − 3𝑥) 𝑑𝑥 i. ∫0 𝑠𝑒𝑐 2 𝜃 𝑑𝜃
𝜋 𝜋/4 2
j. ∫0 sin 𝜃 𝑑𝜃 k. ∫−𝜋/4 cos 𝑥 𝑑𝑥 l. ∫0 |3𝑥 − 2|𝑑𝑥
5 4 3 2
m. ∫1 |𝑥 − 2| 𝑑𝑥 n. ∫1 − 5√𝑥 𝑑𝑥 o. ∫0 𝑢3/2 − 5√𝑢3 + 1𝑑𝑢
√𝑥

2. Gunakan Teorema 5.4.2 untuk menghitung integral-integral


tertentu berikut :
3 −2 𝑥 ≥ 0
a. ∫−2 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 dengan 𝑓(𝑥) = { 2
𝑥 −4 𝑥 <0
4 √𝑥 0≤𝑥<1
b. ∫0 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥 dengan 𝑓(𝑥) = {
1/𝑥 2 𝑥≥1

3. Hitunglah integral trigonometri berikut :


𝜋/2
2
∫ (𝑥 + ) 𝑑𝑥
𝜋/6 𝑠𝑖𝑛2 𝑥

135
5.6. TEOREMA FUNDAMENTAL KALKULUS KEDUA
Pada Teorema Fundamental Kalkulus Pertama dibahas mengenai
perhitungan integral dengan adanya batas bawah dan batas atas
berupa nilai atau angka. Sedangkan pada Teorema Fundamental
Kalkulus Kedua ini batasnya (salah satunya atau keduanya) berupa
variabel atau peubah.
Untuk menghindari kesalahan dalam perhitungan, maka peubah
dibuat berbeda dengan peubah integrasinya, misalkan
𝑥
∫ 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥
𝑎
dapat ditulis menjadi
𝑥
∫ 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡
𝑎
Contoh 5.20 :
𝑥
Hitunglah ∫0 𝑡 2 − 4𝑡 𝑑𝑡!
Penyelesaian :
𝑥 𝒙
1 𝑥3
∫ 𝑡 2 − 4𝑡 𝑑𝑡 = [ 𝑡 3 − 2𝑡 2 ] = − 2𝑥 2 ∎
0 3 𝟎 3

Melihat Contoh 5.20, bahwa penyelesaian akhir bukan berupa nilai


atau angka melainkan berupa fungsi dari 𝑥 saja.

Teorema 5.6.1 . Teorema Fundamental Kalkulus Kedua

Misal 𝑓 fungsi kontinu pada selang 𝐼, dan misal 𝑎 sebarang titik pada
𝐼. Jika 𝐹 didefinisikan dengan
𝑥
𝐹(𝑥) = ∫ 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡
𝑎

Maka 𝐹 ′ (𝑥) = 𝑓(𝑥) pada setiap titik 𝑥 pada selang 𝐼.

Teorema ini dapat disajikan dengan rumus :

136
𝑥
𝑑
[∫ 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡] = 𝑓(𝑥)
𝑑𝑥 𝑎

Note : Apabila integrannya kontinu, turunan dari integral tertentu


terhadap batas atasnya sama dengan nilai integran di batas atas
tersebut.

Contoh 5.21 :

Kerana 𝑓(𝑥) = 𝑥 3 suatu fungsi kontinu, berdasarkan rumus pada


Teorema 5.6.1 bahwa
𝑥
𝑑
[∫ 𝑡 3 𝑑𝑡 ] = 𝑥 3
𝑑𝑥 1

Untuk memerikasa, dihitung integralnya, kemudian diturunkan :


𝑥 𝑥
3
𝑡4 𝑥4 1
∫ 𝑡 𝑑𝑡 = [ ] = −
1 4 𝑡=1 4 4

Penurunan diatas menghasilkan 𝑥 3 seperti diatas.

SOAL LATIHAN
5
1. Diberikan ∫−1 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥 = 3, dapatkan
5 5
a. ∫−1 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡 b. ∫−1 𝑓(𝑢) 𝑑𝑢

2. Gunakan Teorema Fundamental Kalkulus Kedua untuk


memperoleh turunannya!
𝑑 𝑥 𝑑𝑡 𝑑 𝑥
a. 𝑑𝑥 ∫0 1+√𝑡
b. 𝑑𝑥 ∫1 sin √𝑡 𝑑𝑡
𝑑 𝑥 𝑡 𝑑 𝑥 cos 𝑡
c. ∫
𝑑𝑥 0 cos 𝑡
dt d. 𝑑𝑥 ∫0 𝑡 2 +3
𝑑𝑡

137
DAFTAR PUSTAKA

Anton, H., CALCULUS. A New Horizon, 6th edition. John Wiley & Sons,
Inc. New York, 1999.

Dosen Jurusan Matematika FMIPA ITS. Buku Ajar Kalkulus 2 Untuk


Kalangan Sendiri. Surabaya: Jurusan Matematika FMIPA ITS Sukolilo
Surabaya, 2000.

Purcell, J.E., Dele [Link] dan Geometri Analisa jilid 1.


Jakarta: Erlangga.1999.

Purcell, J.E., Rigdon, S.E., CALCULUS, 8th edition, Prentice-Hall, New


Jersey, 2000.

Purwanto, Heri, dkk. KALKULUS. Jakarta: Biang Prestasi. 2005.

138

Anda mungkin juga menyukai