0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan27 halaman

Laporan Pendahuluan Diabetes Melitus

Diunggah oleh

Fitriani Fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan27 halaman

Laporan Pendahuluan Diabetes Melitus

Diunggah oleh

Fitriani Fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

“ DIABETES MELITUS”

Oleh :

NURUL FADILA RAMADHANI


BT2101019
TINGKAT 2A

CI LAHAN CI INSTITUSI

AKADEMI KEPERAWATAN BATARI TOJA


WATAMPONE
2023
I. KONSEP MEDIS

A. Definisi
Diabetes mellitus berasal dari kata diabetes yang berarti terus
mengalir, dan mellitus yang berarti manis. Kemudian istilah diabetes
menjadi sebutan, karena sering minum dalam jumlah banyak yang
disusul dengan sering keluar kembali dalam jumlah yang banyak.
Sebutan mellitus disebabkan air kencing yang keluar manis mengandung
gula. Sampai sekarang penyakit ini disebut sebagai kencing manis atau
diabetes mellitus (Susanti, 2019)

Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronik yang terjadi ketika


tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin atau tidak dapat
menggunakan insulin (resistensi insulin), dan di diagnosa melalui
pengamatan kadar glukosa di dalam darah. Insulin merupakan hormon
yang dihasilkan oleh kalenjar pankreas yang berperan dalam
memasukkan glukosa dari aliran darah ke sel-sel tubuh untuk digunakan
sebagai sumber energi (Sumarmin, 2018)

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronik yang terjadi


ketika pankreas tidak cukup dalam memproduksi insulin atau ketika
tubuh tidak efisien menggunakan insulin itu sendiri. Insulin adalah
hormon yang mengatur kadar gula darah. Hiperglikemia atau kenaikan
kadar gula darah, adalah efek yang tidak terkontrol dari diabetes dan
dalam waktu panjang dapat terjadi kerusakan yang serius pada beberapa
sistem tubuh, khususnya pada pembuluh darah jantung (penyakit jantung
koroner), mata (dapat terjadi kebutaan), ginjal (dapat terjadi gagal ginjal)
(WHO, 2017)
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronik yang
kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein
dan lemak dan berkembangnya komplikasi makrovaskular dan neurologis
( (Raharjo, 2018)
B. Etiologi
Etiologi Menurut Smeltzer 2017, Diabetes Melitus dapat
diklasifikasikan kedalam 2 kategori klinis yaitu:
1. Diabetes Melitus tergantung insulin (DM TIPE 1)
a. Genetik, Umumnya penderita diabetes tidak mewarisi diabetes type
1 namun mewarisi sebuah predisposisis atau sebuah kecendurungan
genetik kearah terjadinya diabetes type 1. Kecendurungan genetik
ini ditentukan pada individu yang memiliki type antigen HLA
(Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA ialah kumpulan gen
yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi & proses
imunnya.
b. Imunologi, Pada diabetes type 1 terdapat fakta adanya sebuah
respon autoimum. Ini adalah respon abdomal dimana antibodi
terarah pada jaringan normal tubuh secara bereaksi terhadap
jaringan tersebut yang dianggapnya sebagai jaringan asing.
c. Lingkungan, Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses
otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
2. Diabetes melitus tidak tergantung insulin (DM TIPE II)
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan
gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui.
Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi
insulin. Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65
th)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
C. Patofisiologi
Menurut Smeltzer 2017, pada diabetes melitus tipe I terdapat
ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta
prankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemi puasa
terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping
glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dihati meskipun
tetap berada dalam darah menimbulkan hiperglikemia prospandial. Jika
kosentrasi glukosa daram darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat
menyerap kembali glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa
tersebut muncul dalam urine (glikosuria). Ketika glukosa yang berlebihan
dieksresikan kedalam urine, eksresi ini akan disertai pengeluaran cairan
dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis ostomik,
sebagai akibat dari kehilangan cairan berlebihan, pasien akan mengalami
peningkatan dalam berkemih (poliurea), dan rasa haus (polidipsi).
DM tipe II merupakan suatu kelainan metabolik dengan
karakteristik utama adalah terjadinya hiperglikemia kronik. Meskipun
pula pewarisannya belum jelas, faktor genetik dikatakan memiliki
peranan yang sangat penting dalam munculnya DM tipe II. Faktor
genetik ini akan berinterksi dengan faktor-faktor lingkungan seperti gaya
hidup, obesitas, rendah aktivitas fisik, diet, dan tingginya kadar asam
lemak bebas
Mekanisme terjadinya DM tipe II umumnya disebabkan karena
resistensi insulin dan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terkait
dengan reseptor khusus pada permukaan [Link] akibat terikatnya
insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam
metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin DM tipe II disertai
dengan penurunan reaksi intra sel. Dengan demikian insulin menjadi
tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa
dalam darah, harus terjadi peningkatan jumlah insulin yang disekresikan.
Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi
akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan
dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun
demikian, jika sel-sel B tidak mampu mengimbangi peningkatan
kebutuhan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadinya
DM tipe II. Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang berupakan
ciri khas DM tipe II, namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang
adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton
yang menyertainya, karena itu ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada
DM tipe II, meskipun demikian, DM tipe II yang tidak terkontrol akan
menimbulkan masalah akut lainnya seperti sindrom Hiperglikemik
Hiporosmolar Non-Ketotik(HHNK).

D. Manifestasi Klinis
Menurut PERKENI (2017), penyakit diabetes melitus ini pada
awalnya seringkali tidak dirasakan dan tidak disadari penderita. Tanda
awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing
manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah,
dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160-180
mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung
gula (glukosa), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut.
Tanda dan gejala DM dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Gejala akut penyakit DM
Gejala penyakit DM bervariasi pada setiap, bahkan mungkin tidak
menunjukan gejala apapun sampai saat tertentu. Pemulaan gejala
yang ditunjukkan meliputi:
a. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (poliphagi)
b. Sering merasa haus(polidipsi)
c. Jumlah urin yang dikeluarkan banyak(poliuri)

2. Gejala kronik penyakit DM


Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita DM adalah:
a. Kesemutan
b. Kulit terasa panas atau seperti tertusuk tusuk jarum
c. Rasa tebal dikulit
d. Kram
e. Mudah mengantuk
f. Mata kabur
g. Biasanya sering ganti kaca mata
h. Gatal disekitar kemaluan terutama pada wanita
i. Gigi mudah goyah dan mudah lepas
j. Kemampuan seksual menurun
k. Dan para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian
janin dalam kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4
kg

E. Komplikasi
Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol pada penderita DM tipe
II akan menyebabkan berbagai komplikasi. Komplikasi DM tipe II
terbagi menjadi dua berdasarkan lama terjadinya yaitu komplikasi akut
dan komplikasi kronik (PERKENI , 2017)
1. Komplikasi Akut
a. Ketoasidosis Diabetik (KAD)
KAD merupakan komplikasi akut DM yang di tandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah yang tinggi (300-600 mg/dl),
disertai dengan adanya tanda dan gejala asidosis dan plasma
keton (+) kuat. Osmolaritas plasma meningkat (300-320
mOs/Ml) dan terjadi peningkatan anion gap.
b. Hipoglikemi
Hipoglikemi ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah
hingga mencapai <60 mg/dL. Gejala hipoglikemia terdiri dari
gejala adrenergik (berdebar, banyak keringat, gemetar, rasa lapar)
dan gejala neuro-glikopenik (pusing, gelisah, kesadaran menurun
sampai koma)
c. Hiperosmolar Non Ketonik (HNK)
Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi
(600-1200 mg/dl), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas
plasma sangat meningkat (330-380 mOs/ml),plasma keton (+/-),
anion gap normal atau sedikit meningkat.
2. Komplikasi Kronis (Menahun)
Menurut Smeltzer 2017, kategori umum komplikasi jangka panjang
terdiri dari:
a. Makroangiopati: pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi,
pembuluh darah otak
b. Mikroangiopati: pembuluh darah kapiler retina mata (retinopati
diabetik) dan Pembuluh darah kapiler ginjal (nefropati diabetik)
c. Neuropatid : suatu kondisi yang mempengaruhi sistem saraf, di
mana serat-serat saraf menjadi rusak sebagai akibat dari cedera
atau penyakit
d. Komplikasi dengan mekanisme gabungan: rentan infeksi,
contohnya tuberkolusis paru, infeksi saluran kemih, infeksi kulit
dan infeksi kaki. dan disfungsi ereksi.
e. Ulkus Diabetikum, pada Diabetes Mellitus merupakan
kerusakan yang terjadi sebagian (Partial Thickness) atau
keseluruhan (Full Thickness) pada daerah kulit yang meluas ke
jaringan bawah kulit, tendon, otot, tulang atau persendian yang
terjadi pada seseorang yang menderita penyakit Diabetes
Melitus (DM), kondisi ini timbul akibat dari peningkatan kadar
gula darah yang tinggi. Apabila ulkus kaki berlangsung lama,
Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi
(600-1200 mg/dl), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas
plasma sangat meningkat (330-380 mOs/ml),plasma keton (+/-),
anion gap normal atau sedikit meningkat.
F. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :
1. Pemeriksaan darah
Tabel 1 Kadar Glukosa Darah
Pemeriksaan Normal
Glukosa darah sewaktu >200 mg/dl
Glukosa darah puasa >126 mg/dl
Glukosa darah 2 jam setelah makan\ >200 mg/dl
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018
2. Pemeriksaan fungsi tiroid
Peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan glukosa
darah dan kebutuhan akan insulin.
3. Urine
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan
dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat
melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ),
merah ( +++ ), dan merah bata ( ++++ ).
4. Kultur pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang
sesuai dengan jenis kuman.

G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi dengan Insulin
b. Obat Antidiabetik Oral
1) Sulfonilurea
2) Golongan Biguanid Metformin
3) Penghambat Alfa Glukosidase/Acarbose
4) Thiazolidinediones Thiazolidinediones
2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Diet
Syarat diet hendaknya dapat:
1) Memperbaiki kesehatan umum penderita
2) Mengarahkan pada berat badan normal
3) Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetic
4) Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita
Prinsip diet DM adalah:
1) Jumlah sesuai kebutuhan
2) Jadwal diet ketat
3) Jenis: boleh dimakan/ tidak
b. Olahraga
Beberapa kegunaan olahraga teratur setiap hari bagi penderita DM
adalah:
1) Meningkatkan kepekaan insulin, apabila dikerjakan setiap 11/2 jam
sesudah makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada
penderita dengan kegemukan atau menambah jumlah reseptor
insulin dan meningkatkan sensivitas insulin dengan reseptornya
2) Mencegah kegemukan bila ditambah olahraga pagi dan sore
3) Memperbaiki aliran perifer dan menanbah suplai oksigen
4) Meningkatkan kadar kolestrol – high density lipoprotein
5) Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang, maka olahraga
akan dirangsang pembentukan glikogen baru
6) Menurunkan kolesterol(total) dan trigliserida dalam darah karena
pembakaran asam lemak menjadi lebih baik
c. Edukasi/penyuluhan
Harus rajin mencari banyak informasi mengenai diabetes dan
pencegahannya. Misalnya mendengarkan pesan dokter, bertanya pada
dokter, mencari artikel mengenai diabetes
d. Pemberian obat-obatan
Pemberian obat obatan dilakukan apabila pencegahan dengan cara
(edukasi, pengaturan makan,aktivitas fisik) belum berhasil, bearti
harus diberikan obat obatan
e. Pemantauan gula darah
Pemantauan gula darah harus dilakukan secara rutin ,bertujuan untuk
mengevaluasi pemberian obat pada diabetes. Jika dengan melakukan
lima pilar diatas mencapai target,tidak akan terjadi komplikasi.
f. Melakukan perawatan luka
g. Melakukan observasi tingkat kesadaran dan tanda tanda vital
h. Menjaga intake cairan elektrolit dan nutrisi jangan sampai terjadi
hiperhidrasi
i. Mengelola pemberian obat sesuai program
II. KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah tahap awal dari proses keperawatan
dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari
berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status
kesehatan klien. Pengkajian keperawatan merupakan dasar pemikiran
dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.
Pengkajian lengkap, dan sistematis sesuai dengan fakta atau kondisi yang
ada pada klien sangat penting untuk merumuskan suatu diagnosis
keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan respon
individu. Data tersebut berasal dari pasien (data primer), keluarga (data
sekunder), dan catatan yang ada (data tersier). Pengkajian dilakukan
dengan pendekatan proses keperawatan melalui wawancara, observasi
langsung, dan melihat catatan medis.
Pengkajian adalah langkah utama dan dasar utama dari proses keperawatan
yang mempunyai dua kegiatan pokok, yaitu :
1. Pengumpulan data
Pengumpulan data yang akurat akan membantu dalam menentukan
status kesehatan dan pola pertahanan pasien, mengidentifikasi,
kekuatan dan kebutuhan klien yang dapat diperoleh melalui anamnesa,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan
penunjang.
a. Anamnesa
1) Identitas klien
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama,
pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku bangsa,
nomor register, tanggal masuk RS dan diagnosa medis.

2) Keluhan utama
Adanya rasa kesemutan pada ekstremitas bawah, rasa raba yang
menurun, adanya luka yang tidak sembuh-sembuh dan berbau,
adanya nyeri pada luka.
a) Riwayat kesehatan sekarang
Isinya mengenai kapan terjadinya luka, penyebab terjadinya
luka serta upaya yang telah dilakukan oleh klien untuk
mengatasinya.
b) Riwayat kesehatan dahulu
Adanya penyakit DM atau penyakit yang ada kaitannya
dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas,
jantung, obesitas, tindakan medis dan obat-obatan yang
pernah di dapat.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Terdapat salah satu keluarga yang menderita DM atau
penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya
defisiensi insulin misalnya hipertensi.
d) Riwayat psikososial
Meliputi informasi mengenai perilaku, perasaan dan emosi
yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya
serta tanggapan keluarga terhadap penyakit klien.
b. Pemeriksaaan fisik
1) Status kesehatan umum
Meliputi keadaan klien, kesadaran, suara bicara, tinggi badan,
berat badan dan tanda-tanda vital.
2) Kepala dan leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada
leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan
pendengaran , lidah terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi
mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, penglihatan
kabur, lensa mata keruh.
3) Sistem integument
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas
luka, kelembaban dan suhu kulit di daerah sekitar ulkus dan
gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan
kuku.
4) Sistem pernapasan
Ada sesak, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM
mudah terjadi infeksi.
5) Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,
takikardi / bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia,
kardiomegalis.
6) Sistem gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi,
dehidrasi, perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen,
obesitas.
7) Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit
saat berkemih.
8) Sistem musculoskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahan tinggi
badan, cepat lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di
ekstremitas.
9) Sistem neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, letargi, mengantuk,
reflex lambat, kacau mental.
c. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :
1) Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah meliputi GDS > 200 mg/dl. Gula darah
puasa > 126 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl.
2) Urine
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urin.
3) Kultur pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotic
yang sesuai dengan jenis kuman.
2. Data Fokus dan Analisa data
Data yang sudah terkumpul kemudian dikelompokkan dan
dilakukan analisa dan sintesa data. Dalam mengelompokkan data fokus
dibedakan data subjektif dan data objektif dan berpedoman pada teori
Abraham Maslow yang terdiri dari kebutuhan dasar atau fisiologis,
kebutuhan rasa aman, kebutuhan cinta dan kasih sayang, kebutuhan
harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri
Pada analisa data, data yang digunakan adalah data subjektif dan
data objektif dari hasil pengkajian dan pemeriksaan, dilengkapi dengan
etiologi dari permasalahan keperawatan.

B. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah suatu penilaian klinis mengenai
respon pasien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang
dialaminya baik yang berlangsung actual maupun potensial. Diagnosis
keperawatan merupakan langkah kedua dalam proses keperawatan yaitu
mengklasifikasi masalah kesehatan dalam lingkup keperawatan. Diagnosa
keperawatan merupakan keputusan klinis tentang respon seorang,
keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau
proses kehidupan yang aktual atau potensial.
Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respon
klien individu, keluarga, dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan
dengan kesehatan. Tujuan pencacatan diagnosa keperawatan yaitu sebagai
alat komunikasi tentang masalah pasien yang sedang dialami pasien saat
ini dan merupakan tanggung jawab seorang perawat terhadap masalah
yang diidentifikasi berdasarkan data serta mengidentifikasi pengembangan
rencana intervensi keperawatan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
Diagnosis yang biasanya muncul pada pasien Diabetes Mellitus
adalah sebagai berikut :
1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan disfungsi
pankreas ditandai dengan
Gejala dan tanda mayor
a. Subjektif
 Lelah atau lesu
b. Objektif
 Kadar glukosa dalam darah/urin tinggi
Gejala dan tanda minor
a. Subjektif
 Mulut kering
 Haus meningkat
b. Objektif
 Jumlah urin meningkat
2) Nyeri akut berhubungan dengan Agen cedera fisik ditandai dengan
Gejala dan tanda mayor
a. Subjektif
 Mengeluh nyeri perut bagian bawah
b. Objektif
 Tampak meringis
 Bersikap protektif (missal, waspada, posisi menghindari
nyeri)
 Gelisah
 Frekuensi nadi meningkat dan
 sulit tidur
Gejala dan tanda minor:
a. Subjektif : (tidak tersedia)
b. Objektif:
 Tekanan darah meningkat
 Pola napas berubah
 Nafsu makan berubah
 Proses berfikir terganggu

3) Perfusi perifer tidak efektif berhubungan denga hiperglikemia ditandai


dengan
Gejala dan tanda mayor
a. Subjektif
 (tidak tersedia)
b. Objektif
 Warna kulit pucat
 Turgor kulit menurun
Gejala dan tanda minor:
a. Subjektif
 Nyeri ekstermitas
b. Objektif
 Penyembuhan luka lambat
4) Gangguan pola tidur
Gejala dan tanda mayor
a. Subjektif
 Mengeluh sulit tidur
 Mengeluh sering terjaga
 Mengeluh tidak puas tidur
 Mengeluh pola tidur berubah
 Mengeluh istirahat tidak cukup
b. Objektif
 (Tidak tersedia)
Gejala dan tanda minor
a. Subjektif
 Mengeluh kemampuan beraktivitas menurun
b. Objektif
 (Tidak tersedia)

C. Penyimpangan KDM

(Smeltzel dan Bare,2017)

D. Intervensi
Intervensi keperawatan, yang juga disebut program
keperawatan atau tindakan keperawatan adalah aktivitas yang
akan cenderung mendatangkan hasil yang diinginkan (jangka
pendek atau jangka panjang).
Selama tahap perencanaan, perawat mengidentifikasikan hasil
asuhan yang diinginkan pasien dan intervensi keperawatan untuk
mencapai hal tersebut. Hasil, diterapkan oleh pasien dan perawat secara
bersamaan, menguraikan respons pasien yang diharapkan akan terjadi
sebagai hasil intervensi keperawatan.
Standar Intervensi Keperawatan mencakup intervensi keperawatan
secara komprehensif yang meliputi intervensi pada berbagai level praktik
(generalis dan spesialisis), berbagai kategori (fisiologis dan psikososial),
berbagai upaya kesehatan (kuratif, preventif dan promotif), berbagai jenis
klien (individu, keluarga, komunitas), jenis intervensi (mandiri dan
kolaborasi) serta intervensi komplementer dan alternatif.(PPNI, 2018)
Setelah menentukan Intervensi keperawatan selanjutkan
menentukan Kriteria hasil atau outcome yang akan dicapai. Standar
luaran keperawatan akan menjadi acuan bagi perawat dalam menetapkan
kondisi atau status kesehatan seoptimal mungkin yang diharapkan dapat
dicapai oleh klien setelah pemberian intervensi keperawatan dan dapat
diukur secara spesifik. (PPNI, 2018)
Intervensi keperawatan dan luaran (outcome) yang akan dicapai
pada pasien DM berdasarkan (PPNI, 2018) yaitu :
1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan waktu yang telah
ditentutkan,maka kestabilan kadar glukosa darah [Link]
kriteria hasil :
1) Kesadaran meningkat
2) Mengantuk menurun
3) Pusing menurun
4) Lelah /lesu menurun
5) Keluhan lapar menurun
6) Gemetar menurun
7) Berkeringat menurun
8) Mulut kering menurun
9) Rasa haus menurun
10) Perilaku aneh menurun
11) Kesulitan bicara menurun
12) Kadar glukosa dalam darah membaik
13) Kadar glukosa dalam urine membaik
14) Palpitasi membaik
15) Perilaku membaik
16) Jumlah urine membaik
Intervensi
MANAJEMEN HIPERGLEKIMIA
Observasi
1) Indentifikasi kemungkinana penyebab hiperglekimia
2) Identifikasi situasi yang menyebabkan kebutuhan insulin meninggi
(mis,penyakit kambuhan)
3) Monitor kadar glukosa darah jika perlu
4) Monitor tanda dan gejala hipergilikemia (mis, poliurin, polydipsia,
polifagia, kelemahan, malaisc, pandangan kabur, sakit kepala )
5) Monitor intake dan output cairan
6) Monitor keton urin, kadar analisa gas darah, elektrolit, tekanan darah
ortostatik, dan frekuensi nadi.
Terapeutik
1. Berikan asupan cairan oral
2. Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejala hiperglikemia tetap ada
atau memburuk
3) Fasilitasi ambulansi jika ada hopotensi ortostatik
Edukasi
1) Anjuran menghindari olahraga saat kadar glukosa darah lebih dari 250
mg/DI
2) Anjuran monitor glukosa secara mandiri
3) Anjuran kepatuhan terhadap diet dan olahraga
4) Anjuran indikasi dan pentingnya pengujian keton urine, jika perlu
5) Ajarkan pengelolaan diabetes (mis,pengunaan insulin,obat [Link]
asupan cairan penggantian karbohidrat, dan bantuan professional
kesehatan)
Kalaborasi
1) Kalaborasi pembersihan insulin, jika perlu
2) Kalaborasi pembersihan cairan IV, jika perlu
3) Kalaborasi pembersihan kalium, jika perlu

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik


Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan waktu yang telah di
tentukan, maka diharapkan Tingkat nyeri [Link] kriteria hasil :
1) Kemampuan menuntaskan aktifitas meningkat
2) Keluhan nyeri menurun
3) Meringis menurun
4) Sikap protektif menurun
5) Gelisah menurun
6) Kesulitan tidur menurun
7) Menarik diri menurun
8) Berfokus pada diri sendiri menuru
9) Diaphoresis menurun
10) Perasaan depresi menurun
11) Perasaan takut mengalami cedera berulang menurun
12) Anoreksia menurun
13) Perineum terasa tertekan mennurun
14) Uterus teraba membulat menurun
15) Ketegangan otak menurun
16) Pupil dilaatasi menurun
17) Munth menurun
18) Mual menurun
19) Frekuensi nadi membaik
20) Pola napas membaik
21) Tekanan darah membaik
22) Peroses berfikir membaik
23) Fokus membaik
24) Fungsi berkemih membaik
25) Prilaku membaik
26) Nafsu makan membaik
27) Pola tidur membaik
Intervensi:
MANAJEMEN NYERI
Observasi
1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas nyeri
2) Identifikasi skala nyeri
3) Identifikasi nyeri non verbal
4) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
5) Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
6) Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri identifikasi
pengaruh nyeri pada kualitas hidup
7) Monitor kebersihan terapi komplementer yang sudah di berikan
8) Monitor efek samping pengunaan analgatik
Terapeutik
1) Berikan teknik nonframakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis
TENS,
hiponesis,akupresur,terapimusik,biofeedback,terapipijat,aromatrapi,t
eknikimajinasiterbimbing, kompres hangat/dingin, trapi bermain)
2) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis suhu ruangan,
pencahayaan kebisingan)
3) Fasilitaas istirahat dan tidur
4) Pertimbangan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi
1) Jelaskan penyebab, priode, dan pemivu nyeri
2) Jelaskan strategi meredahkan nyeri
3) Anjurkan memunitor nyeri secara mandiri anjuarkan mengunakan
analgatik secara tepat
4) Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
5) Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian analgatik, jika perlu

3. Perfusi perifer tidak efektif


Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan waktu yang telah di
tentukan, maka ekspektasi meningkat. Dengan kriteria hasil :
1) Denyut nadi perifer meningkat
2) Penyembuhan luka meningkat
3) Sensasi menurun
4) Warna kulit pucat menurun
5) Edema perifer menurun
6) parastesia menurun
7) Kelemahan otot meningkat
8) Kram otot menurun
9) Bruit fernoralis menurun
10) Nekrosis menurun
11) Pengisian kapiler membaik
12) Turgor kulit membaik
13) Tekanan darah sistolik membaik
14) Tekanan darah diastolik membaik
15) Tekanan arteri rata rata membaik
Intervensi
Observasi
MANAJEMEN SENSASI PERIFER
Observasi
1) Identifikasi penyebab perubahan sensasi
2) Identifikasi penggunaan alat pengikat,prostesis, sepatu dan pakaian
3) Periksa perbedaan sensasi tajam dan tumpul
4) Periksa perbedaan sensai panas dan dingin
5) Periksa emampuan mengidentifikasi lokasi dan tekstur benda
6) Monitor terjadinya parastesia, jika perlu
7) Monitor perubahan kulit
8) Monitor adanya tromboflebitis
Terapeutik
1) Hindari pemakaian benda benda yang berlebihan suhunya (terlalu
panas atau dingin
Edukasi
1) Anjurkan pengggunaan termometer untuk menguji suhu air
2) Anjurkan penggunaan sarung tangan termal saat memasak
3) Anjurkan memakai sepatu lembut dan bertumit rendah
Kolaborasi
(1) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
(2) Kolaborasi pemberian kortikosteroid

4. Gangguan pola tidur


Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan waktu yang telah
ditentukan,maka diharapakan ekspektasi [Link] kriteria hasil
:
1) Keluhan sulit tidur meningkat
2) Keluhan tidak puas tidur meningkat
3) Keluhan pola tidur berubah, meningkat
4) Keluhan istirahat tidak cukup,meningkat
5) Kemampuan beraktivitas ,menurun
Intervensi
DUKUNGAN TIDUR
Observasi
1) Identifikasi pola aktifitas dan tidur
2) Identifikasi faktor pengganggu tidur(fisik/psikologis)
3) Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
Terapeutik
1) Modifikasi lingkungan
2) Fasilitasi menghilangkan stress,jika perlu
3) Tetapkan jadwal tidur rutin
4) Lakuka
5) Lakukan prosedur untuk meningkatkan
kenyamanan([Link],pengaturan posisi,terapi akupresur)
Edukasi
1) Jelaskan tidur cukup selama sakit
2) Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu
tidur
3) Ajarkan relaksasi otot autogenic atau cara non farmakologi
lainnya

E. Implementasi
Tahap implementasi adalah fase tindakan atau “melakukan” proses
keperawatan, selama fase ini perawat melakukan intervensi yang telah
direncanakan. Pada fase ini, perawat menginformasikan hasil dengan cara
berkomunikasi dengan klien dan anggota tim layanan kesehatan lain,
secara individual atau dalam konferensi perencanaan. Setelah itu, perawat
akan menuliskan informasi dengan cara mendokumentasikannya sehingga
penyedia layanan kesehatan selanjutnya dapat melakukan tindakan dengan
tujuan dan pemahaman.
Implementasi keperawatan mencakup beberapa langkah sebagai berikut:
1. Melaksanakan rencana asuhan keperawatan
2. Melanjutkan pengumpulan data
3. Mengomunikasikan asuhan keperawatan dengan tim layanan
kesehatan
4. Mendokumentasikan asuhan.

F. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil,
implementasi dengan kriteria dan standar telah ditetapkan untuk melihat
keberhasilan bila hasil dan evaluasi tidak berhasil sebagian perlu disusun
rencana keperawatan yang baru. Evaluasi dilakukan selama 1x24 jam
setelah pengkajian pasien.
Metode evaluasi keperawatan, antara lain:
1. Evaluasi Formatif (Proses)
Evaluasi yang dilakukan selama proses asuhan keperawatan dan
bertujuan untuk menilai hasil implementasi secara bertahap sesuai
dengan kegiatan pada sistem penulisan evaluasi formatif ini biasanya
ditulis dalam catatan kemajuan atau menggunakan sistem SOAP
(subyektif, obyektif, assessment, planing).
2. Evaluasi Sumatif (Hasil)
Evaluasi akhir yang bertujuan untuk menilai secara keseluruhan,
sistem penulisan evaluasi sumatif ini dalam bentuk catatan naratif
atau laporan ringkasan.
DAFTAR PUSTAKA

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilaksanakan pada tahun 2018

Data American Diabetes Asociation (ADA) (2017)

Data World Health Organization (WHO) (2017)

Data Perkumpulan Endorkrinologi Indonesia (PERKENI) 2017

PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Defenisi dan Indikator


Diagnostik (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Defenisi dan Tindakan


Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Dewan


Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Raharjo, Muji. 2018. Asuhan keperawatan Ny. N dengan Diabetes


Melitus di Ruang Kirana Rumah Sakit TK. III dr. Soetarto
Yogyakarta. KTI. Politeknik Yogyakarta.

Smeltzer, S.C, & Bare Brenda, B.G. (2017). Keperawatan Medikal


Bedah. Jakarta : EGC.

Sumarmin, R. (2018). Pengaruh Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper Crocatum Ruiz
& Pav.) Terhadap Glukosa Darah Mencit (Mus Musculus L.) Jantan Yang
Diinduksi Sukrosa. EKSAKTA: Berkala Ilmiah Bidang MIPA, 19(1), 43–55.
[Link]

Susanti, N. (2019). Bahan Ajar Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Uin


Sumatra Utara Medan. [Link] EPTM
[Link] SUSANTI%2C [Link]

Anda mungkin juga menyukai