BAB 66 PEMBAKARAN DESA ELF
Saat ini ada ratusan pasukan manusia dengan baju besi lengkap berdiri disekitar
hutan elf. Pasukan manusia ini datang kesini secara diam-diam sehingga para elf di
hutan sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka. Apalagi para elf saat ini
menarik semua pasukan elf mereka kembali ke desa elf untuk menjaga pasukan
manusia yang dikirim oleh Kerajaan Pengetahuan sehingga mereka sama sekali
tidak menyadari bahwa Kerajaan Pengetahuan mengirim ratusan prajurit lagi untuk
menyerang desa elf juga.
Saat ini mereka dapat melihat asap naik ke langit dari hutan elf tersebut. Melihat
asap yang datang dari hutan elf, para prajurit yang duduk disekitar hutan elf mulai
berdiri dengan cepat dan seorang pemimpin mereka mulai berteriak "Bersiap dan
bakar hutan ini!".
"Baik kapten!", teriak seorang prajurit dengan semangat lalu membawa sebuah obor
untuk membakar hutan elf.
Melihat prajurit yang membawa sebuah obor untuk membakar hutan elf, kapten
menjadi sangat marah dan memukul kepala prajurit itu. Tapi kapten sama sekali
tidak memukulnya dengan keras karena bagaimanapun juga ia masih prajuritnya
sendiri.
Prajurit itu terkejut dengan rasa sakit yang tiba-tiba dari kepalanya lalu berbalik dan
melihat kapten dengan bingung dan bersalah lalu berkata "Kapten, kenapa kau
memukulku? Bukankah tanda asap dari hutan elf menandakan bahwa kita harus
membakar hutan elf? Bukankah anda juga mengatakan untuk membakar? Lalu saat
aku akan membakar, kau memukul kepalaku. Jadi apa yang harus dilakukan
sekarang? Kita akan membakar atau tidak?".
Kapten saat ini hampir muntah darah saat melihat prajuritnya yang bodoh ini. Kapten
menunjuk hutan dengan marah dan berteriak "Kau tahu apa itu?".
"Hutan", kata prajurit itu dengan suara kecil karena takut kaptennya menjadi lebih
marah.
"Aku tahu itu hutan bodoh!", kata kapten dengan menutupi wajahnya karena merasa
malu dengan prajuritnya yang sangat bodoh ini. Kapten menunjuk disekitar hutan elf
dengan marah lalu berkata "Kau lihat di hutan itu! Hutan elf penuh dengan salju! Jadi
bagaimana mungkin kau bisa membakarnya dengan sebuah obor? Apakah kau gila?
Kenapa kau sama sekali tidak memakai kecerdasan mu untuk berpikir bahwa
sebuah obor sama sekali tidak bisa membakar apapun dan api hanya akan
menghilang setelah bertemu dengan salju tersebut".
Prajurit itu saat ini menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah dan merasa
bahwa dirinya benar-benar bodoh dan tidak banyak berpikir. Melihat prajurit yang
sudah merasa bersalah ini, kapten menghela nafas dan tidak marah lagi. Kapten
segera melihat prajurit lain disekitar dan berteriak "Apa yang kalian lihat? Tidak ada
yang bisa dilihat disini. Segera kembali bekerja karena jika kita terlambat maka kita
akan disalahkan".
Para prajurit disekitar mulai mengangguk lalu menuangkan banyak minyak ke hutan
tersebut. Setelah menghabiskan banyak sekali minyak dan hampir menutupi bagian
depan, seorang prajurit datang dengan membawa obor miliknya lalu mulai
melemparkan obor tersebut menuju tumpukan minyak di hutan.
Api mulai terlihat dengan cepat dari tumpukan minyak tersebut dan mulai tersebar
menuju hutan dan membakar pohon disekitar. Walaupun disekitar hutan adalah salju
tapi salju itu sama sekali tidak bisa menghentikan api tersebut untuk membakar,
untungnya badai salju di hutan elf sudah berhenti karena jika badai salju masih ada
maka tidak mungkin bagi mereka untuk membakar walaupun memakai lebih banyak
minyak.
Api menyebar dengan lebih cepat dan saat ini sama sekali tidak bisa dihentikan
dengan mudah lagi. Melihat api tersebut, kapten mengangguk lalu berkata
"Sekarang tugas kita hanya menunggu disini sampai kelompok yang menyerang
secara langsung kembali. Kalian bisa beristirahat selama waktu ini tapi selalu
melihat sekitar dengan hati-hati juga karena kita tidak tahu apakah akan ada elf yang
mencoba melarikan diri. Jika ada elf yang melarikan diri maka keuntungan kita akan
berkurang".
Setelah mendengarkan kata keuntungan dari kapten tersebut, para prajurit disekitar
mulai tertawa. Mereka saat ini sudah menganggap para elf di hutan ini sebagai uang
mereka sehingga mereka tidak akan membiarkan para elf melarikan diri dengan
mudah.
-------------
Pertarungan Hirka dan pemimpin manusia masih berlangsung. Bahkan para elf
pembunuh milik Hirka sangat kesulitan membunuh para prajurit manusia, mereka
juga hampir dikalahkan berkali-kali oleh prajurit manusia ini. Jika bukan karena
Lofen dan pasukannya membantu Hirka maka mereka mungkin sudah kalah.
Lofen sama sekali tidak setuju dengan cara Hirka yang memulai perang seperti ini.
Tapi Hirka adalah sesama elf mereka dan tidak mungkin untuk tetap damai lagi
dengan Kerajaan Pengetahuan setelah kejadian ini terjadi sehingga Lofen hanya
bisa menggertakkan giginya dan bertarung untuk membantu Hirka.
Saat pertarungan semakin kuat dan manusia juga mulai disudutkan karena jumlah
elf yang lebih banyak, mereka segera melihat asap hitam yang terlihat dari hutan di
kejauhan. Walaupun asap hitam itu masih sangat jauh tapi para elf di hutan dapat
melihat bahwa asap itu cukup besar. Wajah para elf saat ini berubah menjadi panik
dan ketakutan karena asap hitam yang sangat besar di hutan kejauhan membuat
mereka segera menyadari apa itu, hutan elf mereka pasti terbakar sehingga asap
hitam yang terlihat sangat besar.
Hirka saat ini mengerti bahwa semua ini terjadi kemungkinan besar karena para
prajurit manusia ini sehingga Hirka menebas kearah pemimpin manusia dengan
lebih marah sambil berteriak "Beraninya kau membakar hutan ini! Apakah kau gila,
disini banyak elf yang sama sekali tidak bersalah! Mereka bisa menjadi korban
karena tindakan kalian ini".
Pemimpin prajurit manusia itu tersenyum dengan tidak peduli dibalik pelindung
kepalanya dan berkata "Apakah aku perduli? Ini hanya elf kalian yang tidak
berharga. Bisa menjadi korban untuk pasukan kami sudah merupakan hal yang
sangat baik".
Saat ini, para elf disekitar desa mulai menjadi panik. Lofen melihat kearah Lify yang
sudah membunuh seorang prajurit manusia, Lofen berteriak dengan keras "Lify,
bawa beberapa prajurit elf untuk menghilangkan api. Jika ada prajurit musuh
disekitar maka kau bisa membunuhnya tanpa ragu. Perang sudah dimulai dan
kedamaian tidak mungkin ada lagi di desa elf ini".
Lify mengangguk dan membawa puluhan elf dengan cepat menuju hutan. Hutan ini
sangat penting bagi mereka dan jika terbakar maka mereka tidak akan memiliki
tempat tinggal lagi.
--------------
Myro saat ini sedang duduk di jendela dan melihat asap di kejauhan dengan
tersenyum. Semakin buruk pertarungan antara elf dan manusia maka semakin besar
keuntungan Myro dan yang lainnya. Selain untuk Sistem Analisis Elf, Myro mungkin
bisa menaikan levelnya juga saat ini.
Tina yang berada dibelakang Myro juga melihat asap hitam di kejauhan dan tahu
bahwa ada orang yang mencoba membakar tempat ini. Wajah Tina menjadi suram
dan berkata "Kerajaan Pengetahuan benar-benar berlebihan. Mereka berusaha
membuat hutan elf ini mati sepenuhnya. Myro, apakah kita harus bergerak
sekarang?".
Myro menggelengkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum "Tunggu sebentar
lagi, biarkan mereka masak sepenuhnya sehingga keuntungan yang kita dapatkan
akan lebih banyak juga".
Tina sama sekali tidak mengerti dengan perkataan Myro, tapi ia sangat
mempercayai Myro sehingga Tina sama sekali tidak meragukan dan menunggu
pergerakan Myro.
Myro saat ini melihat Lify dan beberapa elf yang pergi kearah dimana kebakaran
terjadi. Myro tersenyum lagi dan berkata "Ambil senjata dan perlengkapan kalian,
kita akan mulai berburu dengan orang-orang yang membakar terlebih dulu".
"Ya", jawab semua orang di rumah itu dengan cepat dan mulai mengambil senjata
dan pelindung mereka.
Myro berdiri dari jendela dan berkata "Sekarang, berapa banyak poin pengalaman
yang bisa kudapatkan dari orang-orang ini?".