Sangkuriang
Bercerita tentang seorang pemuda sakti bernama Sangkuriang, yang jatuh cinta
dan ingin menikahi Dayang Sumbi, ibu kandungnya. Dayang Sumbi mengajukan
syarat agar Sangkuriang membangun perahu dalam satu malam. Sangkuriang hampir
menyelesaikan pekerjaan tersebut, tetapi Dayang Sumbi menggagalkannya dengan
cara memaksa ayam berkokok pada saat hari masih gelap gulita. Sangkuriang marah
dan menendang kapal yang sedang dibuatnya hingga tertelungkup berubah menjadi
gunung yang dikenal sebagai Tangkuban Parahu. Kemudian, dia mengejar Dayang
Sumbi yang berubah menjadi bukit dikenal sebagai gunung Putri. Sangkuriang yang
tidak dapat menemukan Dayang Sumbi pun akhirnya menghilang ke alam gaib. Pesan
moral: bersikaplah jujur dan hindari perbuatan curang.
Situ Bagendit
Situ Bagendit merupakan cerita rakyat mengenai asal-usul situ Bagendit, di
mana pada zaman dahulu, Nyai Bagendit, seorang janda kaya yang pelit,
memperlakukan orang disekitarnya dengan kejam. Suatu hari, Nyai Bagendit menolak
membantu kakek pengembara yang haus dengan cara yang kasar sehingga Sang
Kakek pun murka, ia menciptakan banjir besar yang menenggelamkan Nyai Bagendit
dengan seluruh kekayaannya. Danau Bagendit pun terbentuk, mengajarkan kita untuk
menjauhi sifat pelit dan sombong.
Misteri Telaga Warna
Cerita rakyat Telaga Warna menceritakan asal usul Talaga Warna. Cerita
berawal dari Ratu Purbamanah dan Prabu Swarnalaya, penguasa Kuta Tanggeuhan
ingin memiliki anak. Akhirnya Sang Ratu hamil dan melahirkan seorang putri bernama
Dewi Kuncung Biru. Selama hidupnya, Tuang Putri dikenal rakus dan manja. Sampai
akhirnya pada usia 17 tahun ia Ingin melakukan pesta mewah, rakyat yang sangat
mencintainya pun berbondong-bondong memberikan harta bendanya kepada Tuan
Putri. Namun, apa daya semua pemberian rakyat ditolak mentah-mentah dengan kasar
hanya karena tidak menyukai bentuknya. Tiba-tiba langit menjadi gelap dan hujan
deras pun turun hingga menenggelamkan Kuta Tanggeuhan menjadi telaga warna-
warni atau Telaga Warna.
Adapun pesan moral dari cerita tersebut adalah keserakahan dapat berakibat
buruk bagi diri sendiri dan orang lain.
Si Kabayan
Cerita ini berkisah tentang seorang lelaki pemalas bernama Kabayan yang suka
tidur dan berkhayal. Suatu hari, istri Kabayan meminta dia untuk pergi mencari siput di
sawah. Kabayan pergi ke sawah dan belum pulang padahal sudah sore hari. Istrinya,
Iteung, khawatir dan pergi mencarinya di sawah. Di sana, dia menemukan Kabayan
sedang mengorek tutut dari pematang sawah. Kabayan tidak mau turun ke sawah
karena menurutnya sawah itu terlalu dalam. Sebal dengan Kabayan, Iteung
mendorongnya ke dalam sawah sampai basah kuyup.
Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita ini adalah pentingnya keberanian
untuk berkorban demi keberlangsungan hidup. Jika kita tidak mau berusaha dan
berkorban, maka kita tidak akan mencapai tujuan yang diinginkan.
5. Ciung Wanara
Ciung Wanara adalah cerita rakyat yang mengisahkan tentang seorang Raja
Kerajaan Galuh bernama Ciung Wanara. Ia dahulu merupakan pangeran terbuang
yang dengan perjuangannya berhasil menguasai singgasana Kerajaan Galuh. Saat
menjadi raja, amarah dan dendam membuatnya gelap hati sehingga ia rela berperang
dengan saudaranya sendiri yang juga adalah seorang raja. Namun pada akhirnya, ia
berhenti berperang karena menyadari bahwa peperangan hanya merugikan
masyarakat yang tidak berdosa, kekuasaan haruslah digunakan untuk kebaikan. Ciung
Wanara belajar tentang pentingnya kesetiaan, keadilan, dan pengorbanan. Dengan
kebijaksanaan dan keberanian, ia bersumpah untuk memimpin rakyat menuju masa
depan yang lebih baik.
Cerita tersebut mengajarkan bahwa sesama saudara tidak boleh bermusuhan
tetapi harus saling menyayangi dan mengasihi. Selain itu, pesan moral lainnya adalah
pemimpin haruslah memiliki jiwa yang arif sehingga bisa mengantarkan rakyatnya
kepada kemakmuran.
6. Purbasari dan Purbararang
Cerita Purbasari dan Purbararang ini bercerita tentang kakak beradik Purbasari
yang baik hati dan Purbararang yang dengki. Suatu hari di Pasundan, Raja Prabu
Tapa Agung memilih Purbasari sebagai ratu, hal tersebut memicu rasa dengki dalam
hati Purbararang. Purbararang lalu meminta penyihir untuk mengutuk Purbasari
sehingga tubuhnya muncul bintik-bintik hitam. Hal tersebut membuat Purbasari diusir
ke hutan dan berteman dengan kera misterius bernama Lutung Kasarung. Singkat
cerita, Lutung Kasarung membantu Purbasari agar kutukannya hilang. Setelah
sembuh, Purbasari dan Lutung Kasarung pergi ke istana kerajaan. Sesampainya di
istana, mereka bertemu Purbararang, dan ia berkata jika ingin menjadi ratu harus
memiliki suami yang tampan. Lutung Kasarung akhirnya mengubah dirinya menjadi
pangeran tampan. Purbararang pun terkejut melihat kejadian tersebut. Purbararang
akhirnya menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Purbasari memaafkan
saudarinya dan ia pun menjadi ratu, didampingi oleh pangeran tampan.
Pesan moralnya adalah menjadi anak baik hati, tidak dengki, dan jangan
mencelakai orang lain karena Tuhan membenci sikap dengki.
Si Pitung
Pasti sudah pernah dengan tentang Legenda dari Jakarta yakni si Pitung yang
merupakan cerita rakyat Jakarta atau Betawi. Si Pitung sendiri merupakan seorang
pendekar yang memiliki kekuatan untuk menghilang. Suatu hari ia berkunjung ke
kediaman kakek Tanu.
Saat berkunjung ke Kakek Tanu, ada tentara Belanda yang tengah berpatroli dan
menjadikan si Pitung sebagai targetnya. Mengetahui hal itu si Pitung pun menghilang
saat berbicara dengan Kakek Tanu. Para tentara yang menggeledah rumah kakek
Tanu pun akhirnya tidak menemukan Pitung.
Sedang saat para tentara mulai menyerah, Pitung malah datang dari arah dapur.
Hal ini menunjukkan betapa hebatnya kekuatan yang dimiliki Pitung. Hingga
kehebatannya itu menjadi legenda hingga kini.
7. Batu Ampar Dan Bale Kembang
Legenda dari Jakarta terakhir yang akan di bahas adalah tentang batu ampar
dan bale kembang. Bercerita tentang siti maemunah yang sangat cantik hingga
tersebar ke seluruh penjuru Jakarta. Hal tersebut membuat Astawana seorang
pangeran dari Makasar datang melamar bersama ayahnya.
Siti pun menerima lamaran itu namun dengan syarat Astawana harus
membuatkan bale di atas Empang yang ada di sungai Ciliwung dalam waktu satu
malam. Dengan bantuan ayahnya Astawana berhasil membuatnya, bahkan juga
membuatkan jalan dari rumah menuju bale yang di namakan ampar.
Asal Mula Adanya Nama Pancoran
Bagi warga Jakarta tentu sudah tak asing lagi dengan kata Pancoran, apalagi
dengan adanya patung yang begitu gagah. Nyatanya nama Pancoran sendiri
mengandung legenda dan cerita rakyat yang ada di dalamnya. Di mana di dalamnya
bercerita tentang raja dan ketiga anaknya.
Ketiga anak raja tersebut bernama Jaja, Suta dan Gerindra, hingga tiba saatnya
sang raja harus menurunkan tahtanya pada salah satu anaknya. Hingga sang raja
menyuruh ketiga anaknya untuk pergi ke hutan. Semata adalah sebagai ujian bagi
ketiganya.
Di tengah hutan Suta dan Garindra menemukan telaga yang memiliki pancuran,
tanpa pikir panjang keduanya meminum air dan mandi. Tak berselang lama keduanya
terkapar, Jaja yang melihatnya pun panik. Hingga seorang kakek mengatakan jika
meminum air telaga tanpa izin maka akan mari.
Singkat cerita Jaja harus meminum air dari pancuran telaga jika ingin kedua
adiknya selamat, Jaja menyanggupinya hingga keduanya siuman. Karena sang kakek
tersentuh dengan kebaikan Jaja, akhirnya tak berniat menukar nyawanya lagi. Dan
Jaja diberi tongkat yang akan menjadikannya raja.
Jaka Tarub dan Bidadari Cantik
Jaka Tarub dan bidadari cantik mengisahkan kehidupan Jaka Tarub, pemuda
yang secara tidak sengaja menyaksikan beberapa bidadari sedang mandi di sebuah
telaga. Jaka Tarub pun berinisiatif untuk mengambil salah satu selendang bidadari
yang ada di sana. Perbuatan Jaka Tarub tersebut mengakibatkan salah satu bidadari
bernama Nawang Wulan tidak dapat kembali ke kayangan.
Melihat hal tersebut, Jaka Tarub pun menemui Nawang Wulan dan membawanya
pulang ke rumah Jaka Tarub. Nawang Wulan pun tinggal di rumah tersebut dan
beberapa waktu kemudian menikah dengan Jaka Tarub.
Ketika mereka sudah dikaruniai seorang anak yang bernama Nawangsih, terjadi
peristiwa yang merusak kepercayaan Nawang Wulan terhadap Jaka Tarub. Nawang
Wulan pun kembali ke kayangan dan sesekali mengunjungi bumi untuk menemui
Nawangsih.
Asal Usul Baturaden
Baturaden menceritakan tentang kisah cinta antara suta (pembantu) dan putri
kerajaan yang mencintai satu sama lain dengan tulus. Namun perbedaan latar
belakang yang mereka miliki menyebabkan hubungan mereka tidak direstui oleh raja.
Pada suatu masa, Suta melamar putri di hadapan raja dan membuatnya murka.
Suta pun ditangkap dan ditahan di penjara yang gelap hingga sakit-sakitan. Putri yang
tidak tega kekasihnya diperlakukan seperti itu pun berusaha mengeluarkan Suta dari
penjara.
Ketika berhasil keluar dari penjara, Putri dan Suta melarikan diri ke suatu daerah
di Gunung Slamet dan menetap di sana. Hingga akhirnya wilayah tersebut diberi nama
Batur (pembantu) dan Raden (Putri).
Aji Saka dan Asal Mula Huruf Jawa
Aji Saka dan Asal Mula Huruf Jawa adalah cerita rakyat yang berkisah tentang
Aji Saka, seorang pemuda sakti nan gagah berani yang datang ke kerajaan Medang
Kamulan untuk menumpas kejahatan Prabu Dewata Cengkar.
Setelah sukses mengalah Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka pun dinobatkan
sebagai raja Medang Kamulan. Namun ketika menjabat sebagai raja, Aji Saka
melakukan kesalahan yang mengakibatkan meninggalnya dua pengawal pribadinya
yang setia.
Untuk mengabadikan kesetiaan pengawalnya tersebut, Aji Saka pun
menciptakan huruf-huruf jawa yang kemudian dikenal sebagai Carakan.
Cerita rakyat Jawa Tengah adalah kisah yang diceritakan secara turun-temurun
oleh masyarakat Jawa Tengah. Cerita-cerita tersebut disampaikan untuk mengajari
masyarakat mengenai moral secara turun-temurun.
Asal Usul Nama Surabaya
Cerita rakyat Jawa Timur ini soal nama Surabaya yang berasal dari legenda
terkenal yaitu Sura dan Baya. Sura sendiri merupakan ikan hiu, dan baya adalah
buaya.
Setiap hari kedua hewan itu selalu bertarung memperebutkan daerah
kekuasaan. Hingga pada akhirnya mereka lelah, Sura memberikan pilihan kepada
Baya, jika daerah laut menjadi kekuasaannya dan daratan menjadi milik baya.
Pada akhirnya, baya setuju dan lambat laun sura sendiri mengkhianati pilihan
yang dia buat sendiri. Pertengkaran pun terjadi lagi sehingga banyak warga yang tahu.
Dengan begitu, mereka akhirnya memberi nama daerah ini menjadi Surabaya.
Asal Usul Nama Banyuwangi
Legenda Banyuwangi dimulai dari perjalanan Raden Banterang yang
menemukan seorang gadis yang terluka di hutan. Dalam cerita rakyat Jawa Timur ini,
gadis itu ternyata putri raja bernama Surati yang telah kehilangan ayahnya. Raden
Banterang pun membawa Surati ke istana dan menikahinya. Awalnya mereka hidup
bahagia sebelum Surati bertemu dengan Rupaksa yang mengaku sebagai kakak
Surati. Rupaksa menginginkan agar Surati membunuh suaminya, tapi tentu saja Surati
tak mau melakukan itu.
Sementara Raden Bantereng juga bertemu Rupaksa di hutan. Rupaksa
memfitnah Surati akan membunuh Raden dan buktinya ada pita di bawah bantal.
Raden Bantereng mencoba membuktikan kebenaran itu dan ternyata dia menemukan
pita di bawah bantal. Tak ayal lagi, Raden murka besar dan membawa istrinya ke
sungai dan menceburkannya di sana. Surati tidak mengakui tuduhan Raden karena
dia memang tak ada niatan untuk membunuh Raden.
Kemudian, Surati berujar kalau dia akan membuktikan kejujurannya dengan
mencebur ke sungai itu. Apabila sungai itu beraroma wangi, maka dia benar, tapi
sebaliknya, bila sungai itu bau, maka dia salah. Ternyata sungai tersebut berubah
beraroma wangi. Raden begitu terpukul karena tidak percaya dengan istrinya. Dia pun
menyusul istrinya terjun ke sungai. Itulah legenda asal mula penamaan Banyuwangi
yang berarti air yang harum.
Asal Usul Reog Ponorogo
Dalam cerita rakyat Jawa Timur ini, dikisahkan seorang putri kerajaan sangat
cantik jelita, yaitu Dewi Sanggalangit yang merupakan putri kerajaan Kediri. Sang putri
bersayembara untuk menikahinya dengan syarat untuk menyajikan sebuah
pertunjukan dengan tarian yang diiringi musik gamelan, barisan kuda kembar, dan
binatang berkepala dua.
Sangat mustahil dan sampai akhirnya Singabarong dan Kelana Swandana
bersedia memenuhi syarat. Singabarong bingung memenuhi syarat akhirnya mengutus
Sang Patih untuk menyelidiki Kelana Swandana. Tahu bahwa Kelana sudah
menyiapkan semuanya kecuali binatang berkepala dua, ia menjadi khawatir.
Singabarong menyerang Kelana namun Kelana tahu dan memusnahkan pasukan
Singabarong.
Dengan kekuatan sakti, Kelana mengubah Singabarong menjadi harimau
dengan burung merah di kepalanya untuk memenuhi syarat sayembara sang putri.
Akhirnya, Dewi Sanggalangit memilih Kelana Swandana untuk menikahinya dan sejak
saat itu pertunjukan itu digelar dan disebut dengan Reog Ponorogo.
Legenda Candi Prambanan
Dahulu kala di Kerajaan Pengging, Raja Boko bercita-cita membangun candi
megah, dan meminta bantuan Bandung Bondowoso. Dengan bantuannya, Candi
Prambanan dibangun dengan cepat. Namun, Bandung Bondowoso meminta hadiah
yang sulit untuk dipenuhi, yakni putri Roro Jonggrang untuk diperistri.
Roro Jonggrang menolak tegas, kemudian mengajukan syarat untuk
membangun seribu candi dalam semalam. Dengan bantuan makhluk gaib, Bandung
Bondowoso hampir berhasil memenuhi syarat tersebut.
Tetapi, Roro Jonggrang memerintahkan penduduk desa untuk membunyikan
alat-alat dapur dan menciptakan ilusi bahwa fajar telah tiba. Bandung Bondowoso tahu
tindakan tersebut, kecewa dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi salah satu patung
di Candi Prambanan.
Asal Mula Gunung Merapi
Dahulu kala, ada dua tokoh spiritual yang sangat kuat dan dihormati masyarakat,
yaitu Kyai Sapujagad dan Kyai Selo. Kyai Sapujagad dikenal sebagai penjaga
keamanan dan ketenteraman. Sebaliknya, Kyai Selo adalah orang yang memiliki
kekuatan untuk menciptakan kekacauan dan kerusakan.
Suatu hari, terjadi pertempuran sengit antara Kyai Sapujagad dan Kyai Selo.
Saat pertempuran mencapai puncaknya, mereka berdua melemparkan batu-batu
besar yang berubah menjadi gunung.
Kyai Sapujagad melemparkan batu yang kemudian menjadi Gunung Merapi,
yang dikenal sebagai gunung berapi yang aktif di Jawa. Sementara itu, Kyai Selo
melemparkan batu yang menjadi Gunung Merbabu, gunung yang berdampingan
dengan Merapi.
Kisah Joko Kendil
Joko Kendil adalah seorang pemuda dari desa kecil yang dikenal karena
kecerdasannya. Meskipun hidup dalam kemiskinan, dia memiliki hati baik dan suka
membantu orang lain. Suatu hari, Joko Kendil bertemu orang tua bijak yang
memberinya sebuah ilmu gaib.
Ilmu tersebut membuatnya memiliki kemampuan untuk merubah bentuk
tubuhnya menjadi apapun yang diinginkannya. Kemudian, Joko Kendil menggunakan
kekuatannya untuk membantu masyarakat.
Namun, kebaikan Joko Kendil tidak selalu dihargai. Ada sekelompok orang yang
cemburu dan iri terhadap kebaikan dan kecerdasannya. Pada suatu hari, mereka
menciptakan situasi yang membuat Joko Kendil dianggap sebagai pencuri. Warga
desa pun merasa sangat marah dan memutuskan untuk mengusirnya.
Meskipun tidak bersalah, Joko Kendil tetap menerima keputusan tersebut
dengan lapang dada. Sebelum meninggalkan desa, dia berpesan kepada warga agar
selalu hidup dengan kebaikan hati dan jangan terpengaruh oleh keburukan. Setelah
itu, Joko Kendil menghilang dan tidak pernah kembali.
Legenda Nyi Roro Kidul
Dahulu kala di Keraton Mataram, lahir putri yang cantik jelita bernama Kanjeng
Ratu Kidul. Dia memiliki rambut panjang berwarna hijau laut yang mempesona.
Meskipun hidup dalam kemewahan, hati Kanjeng Ratu Kidul merasa kesepian.
Suatu hari, dia bertemu dengan pemuda tampan, Raden Mas Said yang juga
tinggal di keraton. Namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Ratu Mataram
yang saat itu sudah tua dan menjanda, jatuh cinta pada Raden Mas Said dan
memutuskan menikahi Raden Mas Said.
Kanjeng Ratu Kidul yang patah hati, pergi ke laut dan memohon bantuan kepada
Dewi Laut. Dewi Laut pun memberikan kecantikan dan keabadian, hingga Kanjeng
Ratu Kidul berubah menjadi Nyi Roro Kidul, ratu laut selatan yang mempesona.
Legenda Timun Mas
Dahulu kala, hidup seorang ibu yang sangat ingin memiliki seorang anak. Dia
pun memanjat puncak gunung dan merayu raksasa untuk memberinya seorang anak.
Raksasa setuju dengan syarat jika anak tersebut akan diberikan kepada setan ketika
mencapai usia sepuluh tahun.
Ketika anak yang diberi nama Timun Mas tersebut berusia sepuluh tahun,
raksasa datang untuk mengambilnya. Karena sayang dengan Timun Mas, si ibu
menyuruh Timun mas untuk melarikan diri sambil menjatuhkan garam di sepanjang
jalan karena raksasa takut dengan garam.
Raksasa pun memberikan tugas sulit kepada si Ibu untuk membawa timun emas
sebagai ganti nyawanya. Ibu Timun Mas memberikan sejenis timun yang disulap
menjadi emas oleh seorang dukun. Raksasa sangat senang dan memerintahkan
Timun Mas untuk pergi.
Namun sebelum pulang, Timun Mas meminta selembar kain putih. Raksasa pun
memberikannya, dan Timun Mas memotong kain tersebut menjadi serpihan kecil yang
ditaruh di sepanjang jalan pulangnya. Raksasa menyadari tipuan itu ketika melihat
serpihan kain dan mulai mengejar Timun Mas.
Timun Mas dengan cepat memanjat pohon dan berdoa kepada Dewa Wisnu.
Dewa Wisnu mendengar doanya dan menjawab dengan mengubah Timun Mas
menjadi bayi yang ditemukan oleh seorang petani baik hati.
Telaga Warna
Kisah dari legenda ini bermula dari sebuah kerajaan. Dimana terdapat seorang
putri yang begitu cantik dan mendapatkan cinta dari keluarga beserta rakyatnya.
Semua begitu menyayangi sang putri hingga dalam kisahnya diceritakan sangat
putri akan merayakan ulang tahun yang ke-17 tahun. Rakyat yang juga begitu
menyayangi sang putri tentu juga ikut menyiapkan kado untuknya. Kado yang
berbentuk kalung emas, bertahtakan Berlian dan permata.
Rakyat menyerahkan kalung itu pada raja dahulu, hingga tepat pada hari ulang
tahunnya, raja memberikan kado itu kepada sang putri di hadapan para rakyat.
Sayangnya putri sama sekali tidak tertarik dan tidak menyentuhnya. Hingga sang ratu
mencoba memandangkan pada putrinya.
Namun putri justru membuang kalung itu, hingga membuat raja, ratu dan rakyat
menangis menyayangkan sifat putri. Tak berselang lama muncullah air di tempat putri
membuang kalung, hingga air itu semakin melebar. Hingga pada akhirnya tempat itu
menjadi telaga warna.
Tanjung Lesung
Pada urutan keempat ada cerita Legenda dari Banten selanjutnya yakni berkisah
tentang asal usul dari Tanjung Lesung. Di mana dahulu ada seorang pengembara
yang gagah nan tampan bernama Raden Budog. Ia mengembara bersama dengan
anjing dan kudanya, hingga pada suatu siang tertidur.
Dalam tidur itu Raden Budog bermimpi bertemu dengan seorang gadis cantik,
saat terbangun dari mimpinya ia langsung meneruskan perjalanannya. Pangeran
mendapatkan firasat bahwa gadis itu ada di dekat jangkauannya. Hingga rela
menerjang sungai yang deras dan meninggalkan anjing dan kudanya.
Pada akhirnya pangeran menemukan gadis cantik itu dan sedang bermain
lesung bersama gadis lainnya di suatu desa. Nama gadis itu adalah Sri poh haci.
Keduanya saling mengenal, hingga singkat cerita keduanya melakukan pernikahan.