Konsultansi Pembangunan RKB SDN Mongpok 1
Konsultansi Pembangunan RKB SDN Mongpok 1
PEKERJAAN
JASA KONSULTANSI PERENCANAAN PEMBANGUNAN RUANG
KELAS BARU (RKB) SDN MONGPOK 1 CIKEUSAL
Lokasi:
1. SDN Mompok 1 Cikeusal Kec. Cikeusal
DATA KONTRAK
SPESIFIKASI UMUM
1.1 Pasal 1
Lingkup Pekerjaan
3. Jenis pekerjaan beserta uraian Volume Pekerjaan dapat dipelajari pada Spesifikasi Teknis,
RAB dan Gambar Rencana yang dijadikan pedoman untuk membuat penawaran.
4. Volume dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) serta Analisa Satuan Pekerjaan bersifat
mengikat.
5. Bila terjadi perbedaan antara gambar dan ketidaksesuaian antara penjelasan gambar dan
bestek, maka bestek yang mengikat pekerjaan ini.
6. Jika diperlukan untuk kejelasan dalam pelaksanaan pekerjaan, maka Kontraktor harus
membuat gambar detail (Shop Drawing) yang disetujui oleh Direksi sebelum pekerjaan
tersebut dilaksanakan.
7. Apabila pada saat pembangunan / pelaksanaan pekerjaan terhadap perubahan pada bagian
kontruksi, maka Kontraktor harus membuat revisi yang disahkan oleh Direksi.
1.2 Pasal 2
Penjelasan Umum
7. Setiap pekerjaan yang akan dimulai pelaksanaannya maupun yang sedang dilaksanakan,
Kontraktor wajib berhubungan dengan Direksi. Untuk mendapatkan pengesahan /
persetujuan pekerjaan dengan mengajukan request pekerjaan.
8. Setiap usulan perubahan dari Kontraktor ataupun persetujuan pengesahan dari Direksi
Pekerjaan dianggap berlaku sah, serta mengikat jika dilakukan secara tertulis.
9. Semua bahan yang akan digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan proyek ini harus
benarbenar baru dan diteliti mengenai mutu, ukuran dan lain-lain yang sesuai dengan
standar / peraturan-peraturan yang digunakan didalam RKS ini. Semua bahan-bahan
tersebut mendapatkan persetujuan dan pengesahan dari Pengguna Jasa sebelum dimulai
pelaksanaannya.
10. Pengawasan terus menerus terhadap pelaksanaan, penyelesaian, perapihan, harus
dilakukan oleh tenaga-tenaga dari pihak pelaksana yang benar-benar ahli.
11. Semua barang-barang yang tidak berguna selama pelaksanaan pembangunan harus
dikeluarkan dari lapangan / lokasi pekerjaan.
12. Setiap minggu, Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan, berupa time
schedule seluruh pekerjaan / tahapan pekerjaan mulai minggu kedua sejak SPK di
keluarkan sehingga penyerahan I (pertama).
13. Cara-cara menimbun bahan-bahan dilapangan / di gudang harus memenuhi syarat teknis
dan dapat dipertanggung jawabkan.
1.3 Pasal 3
Jadwal Rencana Kerja
Paling lambat 1 (satu) minggu setelah diterimanya Surat Penunjukan Keputusan (SPK),
Kontraktor diharuskan mengajukan :
a. Jadwal Pelaksanaan (time schedule) secara terinci yang digambarkan diagram blok
(barchart).
b. Jadwal Pengadaan Tenaga Kerja.
1.4 Pasal 4
Penentuan Ukuran
1.5 Pasal 5
Jalan Masuk dan Keluar
2. Pembuatan dan pemakaian jalan masuk ke tempat pekerjaan menjadi tanggung jawab
pihak Kontraktor yang disesuaikan dengan kebutuhan proyek tersebut.
3. Kontraktor diwajibkan membersihkan kembali jalan masuk pada waktu penyelesaian, dan
memperbaiki segala kerusakan yang diakibatkan dan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
4. Perijinan tentang jalan keluar masuk proyek menjadi tanggung jawab Kontraktor termasuk
biaya yang timbul.
1.6 Pasal 6
Keselamatan Kerja
1.7 Pasal 7
Pengamanan
2. Kontraktor bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang terjadi di lapangan
mengenai:
a. Kerusakan-kerusakan yang timbul akibat kelalaian / kecerobohan yang disengaja
ataupun tidak.
b. Penggunaan sesuatu yang keliru atau salah.
c. Kehilangan-kehilangan bagian alat-alat/bahan-bahan yang ada di daerahnya.
1.8 Pasal 8
Pengawasan
2. Setiap saat Direksi Pekerjaan harus dapat dengan mudah mengawasi, memeriksa, dan
menguji setiap bagian pekerjaan, bahan, dan peralatan.
3. Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetapi luput dari pengawasan Direksi
Pekerjaan menjadi tanggung jawab Kontraktor. Pekerjaan tersebut jika diperlukan harus
segera dibongkar sebagian atau seluruhnya, dan semua biaya yang diakibatkan tersebut
adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor.
4. Jika kontraktor perlu melaksanakan pekerjaan diluar jam kerja normal sehingga
diperlukan pengawasan oleh Direksi Pekerjaan. Permohonan oleh Kontraktor untuk
mengadakan pemeriksaan tersebut harus dengan surat, disampaikan kepada Direksi
Pekerjaan. Biaya pengawasan tambahan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di
Depnaker.
5. Wewenang dalam memberikan keputusan yang ada ditangan petugas-petugas Direksi
Pekerjaan adalah terbatas pada soal-soal yang jelas tercantum / dimaksudkan di dalam
gambar-gambar RKS dan Risalah Penjelasan. Penyimpangan haruslah seijin Pemilik
Proyek.
1.9 Pasal 9
Pemeriksaan dan Penyediaan Bahan dan Barang
2. Bila di dalam RKS disebutkan nama dan pabrik pembuatan dari suatu bahan dan barang,
maka ini dimaksudkan menunjukan standar minimal mutu / kualitas bahan dan barang
yang digunakan.
3. Setiap barang dan bahan yang akan digunakan harus disampaikan kepada Direksi
Pekerjaan oleh Kontraktor untuk mendapatkan persetujuan Pengguna Jasa. Waktu
penyampaiannya dilaksanakan jauh sebelum pekerjaan dimulai.
4. Setiap usulan yang tidak sesuai petunjuk RKS, serta gambar-gambar dan risalah
penjelasan harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Pengguna Jasa.
5. Contoh-contoh dan barang yang akan digunakan dalam pekerjaan harus diajukan dan
diadakan Kontraktor atas biaya Pelaksanaan, dan setelah disetujui oleh Pengguna Jasa
maka sesuai contoh bahan dan barang tanpa mengikat jumlah tersebut yang sudah disetujui
akan dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan nanti.
6. Contoh bahan dan barang tersebut disimpan oleh Direksi Pekerjaan untuk dijadikan dasar
patokan bila ternyata bahan dan barang yang dipakai tidak sesuai dengan contoh, baik
kualitas maupun sifat.
7. Dalam mengajukan Harga Penawaran, Kontraktor harus memasukkan sejumlah keperluan
biaya untuk pengujian berbagai bahan dan barang tanpa mengikat jumlah tersebut.
Kontraktor tetap bertanggung jawab pula atas biaya pengujian bahan dan barang.
2.1 Pasal 1
Peraturan Umum
1. Kontraktor harus mentaati dengan tertib segala peraturan hukum yang berlaku dan semua
syarat-syarat yang berhubungan dengan pelaksanaan dari pekerjaan sejauh tidak
bertentangan dengan peraturan atau persyaratan yang dikeluarkan oleh jawatan kesehatan
kerja.
2. Apabila ada beberapa hal dari persyaratan umum yang dituliskan kembali dalam dokumen
tender ini, berarti hanya meminta perhatian khusus dan tidak menghilangkan hal-hal
lainnya dari persyaratan umum yang ada. Tetapi apabila ada ketentuan yang berlainan,
maka yang berlaku adalah ketentuan dalam dokumen tender ini.
2.2 Pasal 2
Surat Perjanjian Kontrak
1. Untuk melaksanakan pekerjaan, pemberi tugas dan Kontraktor akan membuat surat
perjanjian kontrak yang ditandatangani oleh kedua belah pihak.
2. Pada surat perjanjian kontrak dilampirkan dokumen sebagai berikut :
a. Jaminan pelaksanaan;
b. Surat perintah kerja;
c. Seluruh dokumen penawaran untuk pekerjaan ini beserta lampiran-lampirannya;
d. Berita acara rapat pemberian penjelasan pekerjaan;
e. Dokumen tender beserta lampirannya dan gambar-gambar.
2.3 Pasal 3
Dokumen Tender, Gambar dan Petunjuk
1. Apabila dianggap perlu, kontraktor harus membuat gambar kerja (shop drawing)
pelaksanaan untuk pekerjaan ini. Gambar-gambar tersebut sebelum dilaksanakan harus
mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari pengawas lapangan.
2. Kontraktor bertanggung jawab atas tepatnya pelaksanan pekerjaan menurut ukuranukuran
yang tercantum dalam gambar kerja dan RKS ini.
3. Kontraktor wajib mencocokkan ukuran-ukuran satu sama lain dan segera memberi tahu
kepada pengawas lapangan apabila terdapat perbedaan ukuran antara gambar-gambar
Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) maupun yang terdapat dilapangan.
4. Kontraktor wajib mengadakan pemeriksaan menyeluruh terhadap gambar yang ada.
3.1 Pasal 1
Lingkup Pekerjaan
3.2 Pasal 2
Pekerjaan Persiapan
b. Jika terdapat perbedaan antara gambar utama dengan gambar perincian, maka yang
mengikat adalah ukuran-ukuran pada gambar utama atau sesuai persetujuan dari
Direksi Pekerjaan.
c. Sebagai ukuran pokok, titik 0,00 disesuaikan dengan ukuran gambar rencana.
d. Dengan ketentuan tersebut, Kontraktor, Perencana, Direksi Pekerjaan, dan Konsultan
Pengawas agar menetapkan patok titik 0,00 tersebut di lapangan yang dibuat dari
patok beton yang sifatnya permanen dan dipelihara selama pelaksanaan
pembangunan atau tanda lainnya yang bersifat permanen selama pelaksanaan
pekerjaan.
e. Penetapan ukuran dan sudut siku-siku tetap dijaga dengan menggunakan alat
Waterpass dan Theodolit atau berpedoman pada bangunan yang telah ada.
f. Setelah ukuran ditetapkan, baru dilanjutkan dengan pemasangan papan bouwplank.
Kayu papan yang digunakan minimal dari kayu kelas kuat II dengan ukuran ± 2/20
cm dan usuk 4/6. Bouwplank dipasang dari titik luar Bangunan dengan jarak kurang
lebih 2 meter atau sesuai kondisi lapangan.
g. Perlengkapan peralatan perancah kerja agar dipersiapkan lebih awal sebelum
memulai proses pekerjaan.
3. Sewa Direksi Keet
a. Kantor Direksi Keet dengan luas sekitar 9 m2 (atau disesuaikan dengan kondisi yang
memungkinkan di lapangan) untuk ruang kerja Direksi atau Konsultan Pengawas atau
kegiatan rutin rapat di lapangan dan lain-lain, dengan perlengkapan sebagai berikut :
➢ Meja rapat lengkap kursi untuk ± 15 orang,
➢ 2 stel meja tulis dan tempat duduk,
➢ Almari atau rak penyimpan alat - alat Kantor atau pengawasan,
➢ Papan tulis atau white board ukuran 90 x 120 cm,
➢ Sepatu karet dan helm proyek,
➢ Kotak P3K beserta isinya.
b. Kantor Direksi harus terang, aman, dan nyaman serta selalu terjaga kebersihannya.
Penempatan atau lokasi dari kantor Direksi harus mendapatkan persetujuan dari
Direksi Pekerjaan.
4. Pekerjaan Bongkaran
a. Sebelum pekerjaan bongkaran dimulai Penyedia Jasa terlebih dahulu minta ijin
kepada pemilik bangunan saat / waktu yang tepat untuk melaksanakan pekerjaan.
b. Kontraktor tidak boleh mengganggu kegiatan aktifitas kerja dilingkungan proyek.
c. Agar dikoordinasikan dengan pemilik bangunan maupun Konsultan Pengawas, waktu
yang tepat untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
d. Dalam melaksanakan pembongkaran Penyedia Jasa harus hati-hati, kerusakan akibat
kelalaian sendiri menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa sendiri.
e. Memperhatikan keselamatan lingkungan pekerjaan.
f. Semua pembongkaran harus menggunakan cara dan alat-alat khusus yang tidak akan
merusak bagian-bagian yang tidak diisyaratkan dibongkar.
g. Tidak diperkenankan menggunakan bahan peledak atau alat yang dapat
membahayakan orang lain, kecuali atas rekomendasi Kanisius.
h. Semua puing dan sisa bongkaran harus dibuang secepatnya di luar kawasan proyek
atau atas persetujuan Pengawas, sisa bongkaran tersebut harus dikumpulkan di suatu
tempat diareal proyek.
i. Untuk bongkaran genteng, kayu, plywood dan paku harus dikumpulkan sebagai
berikut :
➢ Semua paku yang menepel pada kayu harus dicabut dan dikumpulkan.
➢ Semua kayu harus dikumpulkan menurut ukuranya dan disusun berdiri sesuai
dengan panjangnya.
➢ Untuk papan dan plywood harus dikumpulkan dengan ditumpuk sesuai dengan
ukuranya .
j. Kontraktor wajib memperbaiki atau mengganti dengan yang baru apabila ada
bagianbagian bangunan yang rusak akibat pembongkaran tersebut dengan semua
biaya ditanggung Kontraktor
k. Semua sisa puing/sisa bongkaran tidak diperkenankan di daur ulang untuk pekerjaan
yang baru kecuali atas persetujuan Pengawas.
l. Halaman atau lapangan kerja terutama dimana lokasi tempat bangunan harus
dibersihkan terlebih dahulu dari pembongkaran bangunan lama. Sisa pembongkaran
dibuang dari lokasi site secepatnya sebelum dilaksanakan uitzet. Segala biaya
pembongkaran dan pembersihan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
m. Penyelenggaraan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK). Seksi ini
mencakup ketentuan-ketentuan yang disyaratkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor
14 tahun 2021 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2020
tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 2 tahun 2017 tentang Jasa
Konstruksi dan Permen PUPR Nomor 10 tahun 2021 tentang Pedoman Sistem
Manajemen Konstruksi (SMKK), meliputi komponen kegiatan penerapan SMKK
yang merupakan penjelasan pengelolaan SMKK paling sedikit terdiri atas Risiko
Keselamatan Konstruksi, Unit Keselamatan Konstruksi (UKK) dan Biaya Penerapan
SMKK berikut dibawah ini:
➢ Penyiapan dokumen penerapan SMKK;
➢ Sosialisasi, promosi, dan pelatihan;
➢ Alat pelindung kerja dan alat pelindung diri;
➢ Asuransi dan perizinan;
➢ Personel keselamatan konstruksi;
➢ Fasilitas sarana, prasarana, dan alat kesehatan;
n. Rambu dan perlengkapan lalu yang diperlukan atau manajemen lalu lintas;
o. Konsultasi dengan ahli terkait Keselamatan Konstruksi;
p. Kegiatan dan peralatan terkait dengan pengendalian Risiko Keselamatan Konstruksi,
termasuk biaya pengujian/pemeriksaan lingkungan.
3.3 Pasal 3
Pekerjaan Struktur
1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan / peralatan dan alat bantu yang
diperlukan untuk terlaksananya pekerjaan ini dengan baik.
b. Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan struktur bangunan yaitu:
➢ Pekerjaan Balok Lintel 12/15.
2. Persyaratan Bahan
a. Semen Portland : Harus memakai semen portland Tiga Roda/ Dynamik / Gersik atas
persetujuan Direksi lapangan dan harus memenuhi SNI 2049-2015. Semen yang telah
mengeras sebagian / seluruhnya tidak dibenarkan untuk digunakan. Penyimpanan
semen Portland harus diusahakan sedemikian rupa sehingga bebas dari kelembaban,
bebas dari air dengan lantai terangkat dari tanah dan tumpukan sesuai dengan syarat
penumpukan semen.
b. Pasir beton : Pasir harus terdiri dari butir-butir yang bersih dan bebas dari bahan
bahan organis, lumpur dan sebagainya, dan harus memenuhi komposisi butir serta
kekerasan yang dicantumkan dalam SNI 2847-2013.
c. Koral Beton / Split : Digunakan Koral yang bersih, bermutu baik, tidak berpori serta
mempunyai gradasi kekerasan sesuai dengan syarat-sayarat SNI 2847-2013.
Penyimpanan / penimbunan pasir koral beton harus dipisahkan satu dengan yang
lainnya, hingga kedua bahan tersebut dijamin mendapatkan perbandingan adukan
beton yang tepat.
d. Air : Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tak mengandung minyak,
asam, alkali dan bahan-bahan organis/bahan lain yang dapat merusak beton dan harus
memenuhi NI – 3 pasal 10. Apabila dipandang perlu Direksi lapangan dapat minta
kepada Pemborong supaya air yang dipakai diperiksa dilaboratorium pemeriksaan
bahan yang resmi dan sah atas biaya Pemborong.
e. Besi Beton U-24 : Digunakan mutu tulangan : Notasi (f) memakai BJTP24 dan notasi
(D) memakai BJTD40. Besi harus bersih dari lapisan minyak / lemak dan bebas dari
cacat seperti serpih-serpih. Penampang besi harus bulat serta memenuhi persyaratan
SNI 2847-2013. Bila dipandang perlu Pemborong diwajibkan untuk memeriksa mutu
besi beton ke laboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya
Pemborong.
3. Syarat-syarat pelaksanaan.
a. Pekerjaan pembesian.
➢ Pembesian atau perakitan tulangan balok dikerjakan ditempat lain yang lebih
nyaman.
➢ Sebelum pemasangan sengkang, terlebih dahulu dibuat tanda pada tulangan
utama dengan kapur. - Selanjutnya adalah pemasangan sengkang, setiap
pertemuan antara tulangan utama dan sengkang diikat oleh kawat dengan system
silang.
➢ Setelah tulangan selesai dirakit, besi tulangan diangkut ke lokasi yang akan
dipasang.
➢ Setelah besi terpasang pada posisinya dan cukup kaku, lalu dipasang beton
deking sesuai ketentuan. Beton deking ini berfungsi sebagai selimut beton.
b. Pekerjaan Bekisting
➢ Pasang bekisting untuk balok menggunakan kayu kelas III seperti kayu albasia
dan bambu perancah.
➢ Bekisting dipasang dalam 2 sisi, sisi depan dan sisi belakang, dipasang dengan
multiplek 12 mm atau papan sebagai bahan bekisting + tulangan kayu kaso 4/6.
➢ Ukur bekisting menggunakan meteran agar mendapatkan hasil yang sesuai,
setelah itu kemudian letakkan bekisting pada tempat yang sudah ditentukan.
➢ Bekisting diberikan skor dari kayu reng 3/4 sebagai penguat tekanan saat coran
dituangkan, antar skor diberi jarak sekitar 30cm dengan skor lainnya.
3.4 Pasal 4
Pekerjaan Dinding, Plesteran dan Acian
1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputu penyediaan tenaga kerja, bahan / peralatan dan alat bantu yang
diperlukan untuk terlaksananya pekerjaan ini dengan baik.
b. Pekerjaan Dinding, Plesteran dan Acian ini meliputi sebagai berikut:
➢ Pekerjaan Pasangan Dinding.
➢ Pekerjaan Plesteran.
➢ Pekerjaan Acian.
2. Persyaratan Bahan
a. Bata Merah.
b. Semen Portland.
Harus memakai semen portland Tiga Roda/ Dynamik / Gersik atas persetujuan Direksi
lapangan dan harus memenuhi SNI 2049-2015. Semen yang telah mengeras sebagian /
seluruhnya tidak dibenarkan untuk digunakan. Penyimpanan semen Portland harus diusahakan
sedemikian rupa sehingga bebas dari kelembaban, bebas dari air dengan lantai terangkat dari
tanah dan tumpukan sesuai dengan syarat penumpukan semen.
c. Pasir Pasang : Pasir harus terdiri dari butir-butir yang bersih dan bebas dari bahan
bahan organis, lumpur dan sebagainya, dan harus memenuhi komposisi butir serta
kekerasan yang dicantumkan dalam SNI 2847-2013.
d. Air : Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tak mengandung minyak,
asam, alkali dan bahan-bahan organis/bahan lain yang dapat merusak beton dan harus
memenuhi NI – 3 pasal 10. Apabila dipandang perlu Direksi lapangan dapat minta
kepada Pemborong supaya air yang dipakai diperiksa dilaboratorium pemeriksaan
bahan yang resmi dan sah atas biaya Pemborong.
3. Syarat-syarat pelaksanaan.
a. Pekerjaan Dinding Bata Merah.
➢ Mengerjakan dinding sesuai dengan gambar bestek.
➢ Pembuatan perancah tidak boleh menembus tembok.
➢ Semua pasangan bata merah harus dikerjakan dengan lurus, rata, rapih dan
pemasangannya tidak boleh lebih dari 1 (satu) meter satu harinya. Semua
pasangan bata merah baru menggunakan perekat 1 pc : 4 ps.
➢ Batu merah yang digunakan harus berkualitas baik dengan prosentase pecah
maksimum 10%.
➢ Sebelum dipasang batu merah harus direndam dengan air sampai buihnya habis.
- Pasangan dinding harus secara kontinyu dibasahi dengan air.
b. Pekerjaan Plesteran.
➢ Mengerjakan Plesteran sesuai dengan gambar bestek.
➢ Semua pasangan dinding yang akan di plester harus bersih dari adukan yang
kurang rapih.
➢ Sebelum di plester dinding harus di siram dengan air sampai menyerap
kepasangan dinding.
3.5 Pasal 5
Pekerjaan Pintu dan Jendela
1. Lingkup Pekerjaan.
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan / peralatan dan alat bantu yang
diperlukan untuk terlaksananya pekerjaan ini dengan baik.
b. Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan kusen yaitu:
➢ Kusen Pintu dan Daun Pintu.
➢ Kusen Jendela dan Daun Jendela.
➢ Kusen Bovenle dan Penutup.
2. Persyaratan Bahan.
Kusen Alumunium 4“Inkalum warna.
➢ Daun Pintu dan Jendela Alumunium 4’’ Inkalum warna.
➢ Panel Pintu ACP.
➢ Kaca Polos 5mm.
3.6 Pasal 6
Pekerjaan Plafond
1. Lingkup pekerjaan
a. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, penyediaan bahan /
material, peralatan serta alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanan
pekerjaan ini, sehingga pekerjaan langit-langit dapat dilaksanakan dengan hasil yang
baik dan sempurna.
b. Yang termasuk dalam pekerjaan ini adalah seluruh ruangan.
c. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pemasangan plafond dengan seluruh detail seperti
yang disebutkan / disyaratkan dalam dokumen gambar.
d. Cara pengerjaan, bentuk, volume serta detail ukuran lainnya sesuai yang tercantum
dalam gambar dan RAB.
e. Kecuali ditentukan lain, dalam spesifikasi ini maka semua pekerjaan maupun
tambahan-tambahan bahan yang berhubungan dengan pekerjaan ini adalah menjadi
tanggung jawab Tim Rehabilitasi Bangunan Sekolah dasar.
2. Persyaratan bahan
a. PVC (Javapond) lebar 20cm.
b. GRC board.
c. List PVC.
d. List kayu Profil 4cm.
e. Baut mur.
f. Paku.
g. Kompon.
3. Syarat-syarat pelaksanaan
a. Sebelum dilaksanakannya pemasangan langit-langit ini, semua pekerjaan lain yang
terletak di atas langit-langit harus sudah terpasang secara sempurna.
b. Sebelum pekerjaan pemasangan langit-langit dimulai, diwajibkan mengadakan
pengecekan / pemeriksaan kembali terhadap pekerjaan yang erat hubungannya
dengan pekerjaan langit-langit ini antara lain instalasi kabel listrik penerangan dan
daya, pemasangan atap, dll, diwajibkan adanya kerja sama (koordinasi) yang baik
antara semua unsur Pelaksanaan Lapangan.
c. Jarak antara tiap panel plafond GRC board adalah 0,5 cm (nat).
d. Plafond PVC harus benar – benar saling mengikat satu sama yang lain.
e. Rangka langit-langit yang digunakan Hollow 4x4cm,2x4cm modul 60x120cm.
f. Setelah terpasang Plafond GRC board nat harus di kompon sampai rata dan rapih.
3.7 Pasal 7
Pekerjaan Atap
A. Pekerjaan Atap
1. Lingkup pekerjaan.
a. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, penyediaan bahan /
material, peralatan serta alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanan
pekerjaan ini.
b. Melaksanakan pekerjaan Atap ukuran dan jarak sesuai dengan gambar bestek.
2. Pesyaratan bahan
a. Rangka atap baja ringan C.75.075 Primaland,
b. Genteng Metal Roof lapis pasir Prima Roof,
c. Reng baja ringan.
d. Alumunium Foil.
e. Nok bubung Metal Roof,
f. Baut dinabold.
g. Baut mur.
h. Lisplang GRC 20cm.
i. Syarat-syarat pelaksanaan.
j. Batang-batang kanal baja ringan C.75.075 Primaland lurus, rata, tidak ada bagian
yang bengkok atau melengkung, atau cacat-cacat lainnya, dan telah disetujui oleh
Konsultan Pengawas.
k. Batang kanal di potong sesuai dengan ukuran gambar bestek.
l. Waktu Perakitan perhatikan ukuran masing – masing kanal sesuai ukuran yang
diperlukan dalam gambar bestek dan baut – baut harus kencang.
m. Kemiringan Kuda – kuda sesuai di gambar bestek.
n. Pada pemasangan Rangka kuda – kuda perhatikan jarak sesuai dengan gambar bestek.
o. Perbaiki semua pekerjaan yang belum sempurna sesuai dengan petunjuk Konsultan
Pengawas. Bilamana “Touching Up” tidak dapat memperbaiki Kuda-kuda yang
kurang sempurna, maka Kontraktor harus mengganti bagian-bagian tersebut dengan
bahan baru sampai sempurna tanpa biaya tambah.
3.8 Pasal 8
Pekerjaan Lantai
1. Lingkup Pekerjaan.
a. Pekerjaan Lantai ini seperti yang dinyatakan dalam gambar bestek.
b. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, penyediaan bahan /
material, peralatan serta alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanan
pekerjaan ini.
2. Persyaratan bahan.
a. Keramik uk.40x40cm Ikad Putih Polos kw I.
b. Keramik uk. 30x30cm Putih Polos Ikad kw I.
c. Semen Warna.
d. Semen Portland.
Harus memakai semen portland Tiga Roda/ Dynamik / Gersik atas persetujuan
Direksi lapangan dan harus memenuhi SNI 2049-2015. Semen yang telah mengeras
sebagian / seluruhnya tidak dibenarkan untuk digunakan. Penyimpanan semen Portland
harus diusahakan sedemikian rupa sehingga bebas dari kelembaban, bebas dari air dengan
lantai terangkat dari tanah dan tumpukan sesuai dengan syarat penumpukan semen.
e. Pasir Pasang : Pasir harus terdiri dari butir-butir yang bersih dan bebas dari bahan
bahan organis, lumpur dan sebagainya, dan harus memenuhi komposisi butir serta
kekerasan yang dicantumkan dalam SNI 2847-2013.
f. Air : Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tak mengandung minyak,
asam, alkali dan bahan-bahan organis/bahan lain yang dapat merusak beton dan harus
memenuhi NI-3 pasal 10. Apabila dipandang perlu Direksi lapangan dapat minta
kepada Pemborong supaya air yang dipakai diperiksa dilaboratorium pemeriksaan
bahan yang resmi dan sah atas biaya Pemborong.
3. Syarat-syarat pelaksanaan.
a. Bahan keramik sebelum di pasang terlebih dahulu berkordinasi dengan konsultan
pengawas dan peltek.
b. Sebelum di mulai pemasangan keramik siapkan patok sesuai dengan kebutuhan di
lapangan.
c. Keramik yang akan di pasang terlebih dahulu di rendam sampai rata.
d. Hamparkan pasir urug dengan ketebalan 5cm.
e. Bersihkan lantai yang akan di pasang keramik dari kotoran atau bebatuan.
3.9 Pasal 9
Pekerjaan Pengecatan
A. Pengecatan Dinding
1. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengecatan dinding seperti yang dinyatakan dalam gambar dan
petunjuk Konsultan Pengawas, antara lain :
a. Pengecatan seluruh dinding bangunan bagian luar seperti dalam gambar dan petunjuk
Konsultan Pengawas.
b. Pengecatan dinding bangunan bagian dalam seperti dalam gambar dan petunjuk
Konsultan Pengawas.
2. Pesyaratan bahan
a. Pengecatan Dinding Baru Cat Propan.
b. Pengecatan Dinding lama, Cat Propan Exterior dan Interior.
3. Syarat-syarat pelaksanaan
a. Pekerjaan harus dilaksanakan dengan cara “full system” sesuai dengan ketentuan
pabrik.
b. Sebelum dilakukan pengecatan pada permukaan dinding tersebut, maka harus
diperhatikan permukaan plesterannya dari :
➢ Profil yang diminta sesuai dengan gambar sudah dilakukan, berdasarkan peil-
peil yang ditentukan.
➢ Permukaan plesteran harus datar dan sempurna sesuai dengan pola yang telah
ditentukan.
➢ Permukaan plesteran telah diberi lapisan aci dengan hasil yang rata dan halus.
➢ Seluruh bidang pengecatan sudah bersih dari segala noda-noda atau kotoran /
debu.
c. Pengecatan dilakukan dengan menggunakan alat kuas atau roller, dimana
penggunaan alat-alat tersebut disesuaikan dengan keadaan lokasinya dengan mutu
yang baik.
d. Setiap kali lapisan pada cat akhir harus dihindarkan terjadinya sentuhan-sentuhan
selama 1,5 sampai 1 jam. Pengecatan akhir harus dilakukan secara ulang paling
sedikit selama 2 (dua) jam kemudian.
B. Pengecatan Plafond
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengecatan seluruh permukaan langit-langit sesuai dengan
gambar atau petunjuk Konsultan Pengawas.
2. Persyaratan Bahan
a. Propan
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Pekerjaan harus dilaksanakan dengan cara “full system” sesuai dengan ketentuan
pabrik.
b. Sebelum dilakukan pengecatan pada permukaan langit-langit harus diperhatikan
mengenai
c. Permukaan langit-langit harus datar dan sempurna sesuai dengan pola yang telah
ditentukan.
d. Pada permukaan langit-langit tidak terjadi lubang-lubang atau cacat lain.
e. Pengecatan dilakukan dengan menggunakan alat kuas atau roller sebanyak 3 kali,
dimana penggunaan alat-alat tersebut disesuaikan dengan keadaan lokasinya.
f. Setiap kali lapisan pada cat akhir dilakukan harus menghindarkan terjadinya
sentuhansentuhan selama 1,5 sampai 1 jam.
g. Pengecatan akhir harus dilakukan secara ulang paling sedikit selama 2 (dua) jam
kemudian.
C. Pengecatan Kayu
1. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengecatan kayu detail lain yang disebutkan dalam gambar serta
sesuai dengan petunjuk Konsultan Pengawas.
2. Persyaratan bahan
a. Cat Meni kayu
b. Propan
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Pekerjaan harus dilaksanakan dengan cara “full system” sesuai dengan ketentuan
pabrik.
b. Kontraktor harus menyerahkan surat jaminan mutu dari pabrik pembuat cat tersebut
serta cara pelaksanaan sesuai dengan ketentuan dari pabriknya.
c. Kayu yang dicat harus dibersihkan dari debu dengan cara menggosok, menyikat
dengan alat sikat kayu.
d. Setiap kali lapisan pada cat akhir dilakukan, harus dihindarkan terjadinya sentuhan
selama 1-1,5 jam.
3.10 Pasal 10
Pekerjaan Instalasi Listrik
1. Lingkup pekerjaan.
Pekerjaan instalasi listrik meliputi pemasangan seluruh jaringan instalasi didalam
bangunan, penyambungan arus yang bersumber dari bangunan yang telah ada,
peenyediaan bola lampu, kabel-kabel, pipa-pipa PVC sesuai gambar kerja dan sebagainya
sehingga listrik menyala.
2. Persyaratan bahan.
a. NYM 3 x 2,5 mm2 + fitting.
b. Lampu TL 20 Watt ex Philips.
c. Lampu SL 18 Watt ex. Philips.
d. Saklar Tunggal, ex Broco.
e. Saklar Ganda, ex Broco.
f. Stop Kontak, ex Broco.
g. MCB + BOX
h. Paralon PVC.
3. Syarat-syarat pelaksanaan.
a. Pemasangan instalasi listrik dan tata letak titik lampu/stop kontak serta jenis armatur
lampu yang dipakai harus dikerjakan sesuai dengan gambar instalasi listrik.
Sedangkan sistem pemasangan pipa-pipa listrik pada dinding maupun beton harus
ditanam (sistem inbouw) dan penarikan kabel (jaringan kabel) diatas plafond diikat
dengan isolator khusus dengan jarak 1,00 atau 1,20 m, atau jaringan kabel diatas
plafondd tersebut dimasukkan dalam pipa PVC. Khusus untuk instalasi stop kontak
harus dilengkapi kabel arde (pentanahan) sesuai dengan peraturan yang berlaku
(mencapai dan terendam air tanah).
b. Pemasangan instalasi listrik berikut penggunaan bahan / komponen-komponennya
harus disesuaikan dengan sistem tegangan lokal 220 Volt.
c. Untuk pekerjaan instalasi listrik, atas persetujuan direksi, Pelaksana boleh menunjuk
pihak ketiga (instalatur) yang telah memiliki izin usaha instalasi listrik atau izin
sebagai instalatur yang masih berlaku dari Perum Listrik Negara (PLN) Pelaksana
tetap bertanggung jawab penuh atas pekerjaan ini sampai listrik tersebut menyala
(siap digunakan), termasuk biaya pengujian dengan pihak PLN.
d. Pengujian instalasi listrik harus dilakukan Pelaksana pada beban penuh selama 1 x 24
jam secara terus menerus. Semua biaya yang timbul akibat pengujian ini menjadi
tanggung jawab Pelaksana. Dalam hal dilokasi pekerjaan belum ada jaringan listrik,
Pelaksana tetap harus melaksanakan pemasangan instalasi listrik dan lampu-
lampunya sesuai gambar instalasi yang beersangkutan dan bertanggung jawab sampai
dengan tingkat pengujian dari PLN.
3.11 Pasal 11
Pekerjaan Pembersihan
3.12 Pasal 12
Penutup