0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan37 halaman

Peran Guru Agama dalam Perilaku Siswa

Diunggah oleh

defsoul182
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan37 halaman

Peran Guru Agama dalam Perilaku Siswa

Diunggah oleh

defsoul182
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENANAMKAN

PERILAKU KEAGAMAAN DI MTS NAHDATUS SHIBYAN


TELUK KIAMBANG

PROPOSAL

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Metodologi Penelitian Pendidikan


Dosen Pengampu : Dr. Fahrina Yustiasari Liri Wati S.H.I., [Link].I

Disusun Oleh :

NURUL ADDINNI
NIM 12092021010049

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( PAI )


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ( STAI )
AULIAURRASYIDIN
TEMBILAHAN
2023/2024
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI..............................................i
BAB I PENDAHULUAN.......................................1
A. Latar Belakang Masalah .........................1
B. Alasan Memilih Judul............................3
C. Penegasasn Istilah .............................7
D. Identifikasi Masalah...........................10
E. Batasan Masalah................................11
F. Rumusan Masalah ...............................11
G. Tujuan Penelitian..............................11
H. Manfaat Penelitian.............................11
BAB II KAJIAN TEORI....................................13
A. Landasan Teori.................................13
B. Penelitian Relevan.............................24
C. Konsep Operasional.............................25
BAB III PENUTUP........................................27
A. Jenis Penelitian ..............................27
B. Tempat Dan Waktu Penelitian....................28
C. Subjek Dan Obyek Penelitian....................28
D. Populasi Dan Sampel Penelitian ................28
E. Teknik Pengumpulan Data........................29
F. Instrumen Penelitian..........................30
G. Teknik Analisis Data...........................31
DAFTAR PUSTAKA.........................................34

i
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan dianggap bermutu dan berkualitas

apabila kemampuan pengetahuannya, sikap dan

keterampilan yang dimiliki para siswa dapat berguna

bagi perkembangannya lebih lanjut. Hal ini dapat

tercaPendidikan Agama Islam apabila proses belajar

mengajar dilaksanakan dengan efektif dan berfungsi

dengan baik.

Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional di sebutkan

bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan


kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab.1

Berdasarkan fungsi pendidikan nasional diatas,

siswa dituntut mampu mengembangkan potensi sesuai

dengan bakat yang dimilikinya dan bersikap agar

1
Undang- Undang RI No.20 Tahun 2003. 2008 Tentang Sisdiknas,
Bandung: Citra Umbara

1
2

menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.

Pendidikan agama Islam, yakni upaya mendidikkan

agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilai nya

agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup)

seseorang.2 Dalam hal ini Pendidikan dan pengajaran

ilmu Agama Islam sangatlah penting dan dibutuhkan

oleh semua umat manusia, oleh karena itu semua

haruslah ditanamkan sejak masih kecil atau sedini

mungkin agar mereka mempunyai penanaman dasar yang

kuat sehingga terwujudlah generasi muda yang bisa

dibanggakan oleh bangsa dan Negara. Dalam

pengelolaan interaksi beljar mengajar, guru harus

menyadari, bahwa pendidikan Agama Islam tidak hanya

dirumuskan dari sudut normatif, pelaksanaan

intreraksi belajar mengajar adalah untuk menanamkan

suatu nilai kedalam diri siswa. Sedangkan proses

teknik adalah sebuah kegiatan praktek yang

berlangsung dalam suatu masa untuk menanamkan nilai

tersebut ke dalam diri siswa, yang sekaligus untuk

mencaPendidikan Agama Islam tujuan yang telah

ditetapkan. Akhir dari proses interaksi belajar

2
Muhaimin. 2006 Nuansa Baru Pendidikan Agama Islam, Jakarta:
PT. Raja Grafindo. Hal. 5
3

mengajar diharapkan siswa merasakan perubahan-

perubahan dalam dirinya.

Problem yang dihadapi manusia menghendaki

orientasi pendidikan yang tidak semata-mata

menekankan pada pengisian fisik tetapi juga

pengisian jiwa, pembinaan perilaku, dan kepatuhan

dalam menjalani ibadah, yaitu suatu upaya

mengintegrasikan berbagai pengetahuan yang terkotak-

kotak dalam tauhid, yaitu suatu keyakinan bahwa ilmu

yang dihasilkan lewat penalaran manusia, dan harus

diabdikan untuk beribadah kepada tuhan melalui karya

manusia yang [Link] sisi lain dalam lingkup

pendidikan Islam guru tidak hanya sekedar merancang

pembelajarannya, akan tetapi juga membina dan

mengarahkan peserta didik untuk berprilaku terpuji,

itulah yang menjadi tanggung jawab guru agama.

Sebagai guru pendidikan agama Islam haruslah

taat kepada Tuhan, mengamalkan segala perintahnya

dan menjauhi segala larangannya. Bagaimana ia akan

dapat menganjurkan dan mendidik anak untuk berbakti

kepada Tuhan kalau ia sendiri tidak mengamalkannya,

jadi sebagai guru agama haruslah berpegang teguh

kepada agamanya, memberi teladan yang baik dan

menjauhi yang buruk. Anak mempunyai dorongan meniru,


4

segala tingkah laku dan perbuatan guru akan ditiru

oleh anak-anak. Bukan hanya terbatas pada hal itu

saja, tetapi samPendidikan Agama Islam segala apa

yang dikatakan guru itulah yang dipercayai murid,

dan tidak percaya kepada apa yang tidak

dikatakannya.

Guru agama adalah seseorang yang mengajar dan

mendidik agama Islam dengan membimbing, menuntun,

memberi tauladan dan mengantarkan anak didiknya

kearah kedewasaan jasmani dan rohani. Hal ini sesuai

dengan tujuan pendidikan agama yang hendak

dicaPendidikan Agama Islam yaitu membimbing anak

agar menjadi seorang muslim yang sejati, beriman,

teguh, beramal sholeh dan berakhlak mulia, serta

berguna bagi masyarakat agama dan Negara.3

Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap

keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat

berperan dalam membantu perkembangan peserta didik

untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal.

Keyakinan ini mucul karena manusia adalah makhluk

lemah, yang dalam perkembangannya senantiasa

membutuhkan orang lain, sejak lahir, bahkan pada

saat meninggal. Semua itu menunjukkan bahwa setiap


3
Zuhairin. 1994 Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Aksara. Hal.
45
5

orang memerlukan orang lain dalam perkembangannya,

demikian halnya peserta didik. Minat, bakat,

kemampuan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh

peserta didik tidak akan berkembang secara optimal

tanpa bantuan guru. Guru juga memiliki peran dan

fumgsi yang sangat penting dalam membentuk

kepribadian dan menanamkan perilaku anak.

Berkaitan dengan menanamkan perilaku, guru

mempunyai peranan penting untuk membina sikap dan

perilaku (akhlak) setiap peserta didiknya yang

berbeda yang sebagian besar dipengaruhi oleh

lingkungan tempat bersosialisasi sehari-hari.

Apabila lingkungannya kondusif, dalam arti

lingkungan itu memberikan ajaran, bimbingan, dan

pemberian dorongan dan ketauladanan yang baik dalam

mengamalkan nilai-nilaiajaran agama, maka anak itu

akan berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia

dan berbudi pekerti luhur, begitu pula sebaliknya.

Berdasarkan kegiatan lapangan yg telah dilakukan

di MTs Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang, ditemukan

beberapa permasalahan yang terkait dengan perilaku

siswa yaitu siswa kurang bersopan santun dalam

berbicara dengan teman dan guru. Sikap kurang santun

kepada teman dapat terlihat ketika ada siswa yang


6

berkata kasar kepada temannya, dan sikap kurang

santun kepada guru dapat terlihat siswa memanggil

guru dari jauh dengan cara berteriak, berjalan

melewati guru begitu saja, guru memberikan teguran

apabila terjadi kesalahan siswa bersikap acuh tak

acuh. Siswa membolos pada saat ketika kegiatan

keagamaan waktu shalat Dzuhur berjamaah dan kegiatan

keagamaan mengaji. Dengan demikian peranan guru

agama Islam sangat penting, ia harus berusaha

mendidik, membimbing, membina, serta mengarahkan

siswa kepada yang lebih baik agar tertanam perilaku

Islami serta nilai-nilai religius siswa sehingga

siswa di MTs Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang

terdorong untuk dapat meniru sikap Islami yang

ditanamkan guru pendidikan Agama Islam, peran guru

sangatlah penting khususnya dilingkungan sekolah

terutama guru agama adalah memberikan contoh dan

teladan yang baik kepada siswanya.

Berdasarkan gejala yang ada maka pemakalah

tertarik untuk membuat suatu tulisan yang berjudul

“Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan

Perilaku Keagamaan Di MTs Nahdatus Shibyan Teluk

Kiambang”.

B. Alasan Memilih Judul


7

Adapun alasan pemilihan judul ini adalah :

1. Untuk memperoleh data sebagai bahan utama

penyusunan tugas.

2. Pemakalah tertarik untuk mengetahui bagaimana

peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam

menanamkan perilaku keagamaan pada adanya

perilaku siswa yang tidak sesuai dengan aturan

islam.

C. Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalah pahaman dalam

menafsirkan judul ini, serta memahami isi dari judul

ini, maka perlu untuk menjelaskan beberapa istilah.

Adapun penjelasan istilahnya, yaitu sebagai berikut:

1. Peran

Peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

diartikan sebagai “perangkat tingkah laku yang

diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan

dalam masyarakat”, dan juga peran merupakan

“tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam

suatu peristiwa dan orang yang menjalani peran

tertentu dalam suatu peristiwa”.

Peranan guru adalah terciptanya serangkaian

tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan


8

dalam situasi tertentu serta berhubungan dengan

kemajuan tingkah laku dan perkembangan siswa yang

menjadi tujuannya.4

Peran yang dimaksud disini adalah tindakan

yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam

untuk menanamkan perilaku keagamaan di MTs

Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang .

2. Guru

Guru adalah pengajar yang mendidik, ia tidak

hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan

keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik

generasi muda bangsanya. Secara sederhana guru

adalah pendidik yang mengajar di kelas.

Selanjutnya, dalam arti yang luas guru atau

pendidik adalah semua orang atau siapa saja yang

berusaha dan memberikan pengaruh terhadap

pembinaan orang lain (peserta didik) agar tumbuh

dan berkembang potensinya menuju kesempurnaan.5

Guru merupakan jabatan atau profesi yang

memerlukan keahlian khusus sebagai guru.

Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang

yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan


4
Usman Uzer. 2001 Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja
Rosdakarya. Hal. 4
5
Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendiidkan Islam, (Malang: UIN
Malang Press), hal. 68
9

kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Orang yang

berbicara dalam bidang-bidang tertentu, belum

dapat disebut sebagai guru. Untuk menjadi guru

diperlukan syarat-syarat khusus apalagi sebagai

guru yang profesional yang harus menguasai betul

seluk beluk pendidikan dan pengajaran dengan

berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu

dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan

tertentu atau pendidikan pra jabatan.

Guru yang dimaksud disini ada guru Pendidikan

Agama Islam yang melakukan peran untuk menanamkan

perilaku keagamaan di MTs Nahdatus Shibyan Teluk

Kiambang.

3. Menanamkan perilaku keagamaan

Menanamkan yang berasal dari kata tanam

dengan awalan “me” dan akhiran “an” yang artinya

meletakkan atau menaruh bibit. penanaman nilai-

nilai agama Islam yaitu suatu tindakan atau cara

untuk menanamkan pengetahuan yang berharga berupa

nilai keimanan, ibadah dan akhlak yang

berlandaskan pada wahyu Allah SWT dengan tujuan

agar anak mampu mengamalkan pengetahuannya dalam

kehidupan sehari-hari dengan baik dan benar

dengan kesadaran tanpa paksaan dan mengenalkan


10

dan mengajarkan isi ajaran agama kepada anak agar

anak mengetahui dan memahami agama serta terbiasa

untuk melaksanakan ajaran agama tersebut. Pada

dasarnya didalam lembaga pendidikan guru secara

utuh bertanggung jawab atas segala yang

bersangkutan dengan siswanya.

D. Indetifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka

dapat diidentifikasi berbagai permasalahannya

sebagai berikut:

1. Sikap kurang santun kepada teman dapat terlihat

ketika ada siswa yang berkata kasar kepada

temannya,

2. Sikap kurang santun kepada guru dapat terlihat

siswa memanggil guru dari jauh dengan cara

berteriak, berjalan melewati guru begitu saja,

3. Ketika guru memberikan teguran apabila terjadi

kesalahan, siswa bersikap acuh tak acuh.

4. Siswa membolos pada saat ketika kegiatan

keagamaan waktu shalat Dzuhur berjamaah dan

kegiatan keagamaan mengaji.

E. Batasan Masalah
11

Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka

permasalahan dibatasi pada yaitu Peran Guru

Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Perilaku

Keagamaan Di MTs Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang.

F. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah

diatas, maka didapat rumusan masalah sebagai berikut

1. Bagaimana peran guru Pendidikan Agama Islam dalam

menanamkan perilaku Islami siswa di MTs Nahdatus

Shibyan Teluk Kiambang?

G. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan

penelitian ini adalah:

1. Untuk mendeskripsikan peran guru Pendidikan Agama

Islam dalam menanamkan perilaku Islami di MTs

Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang.

H. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian terdiri dari manfaat teoritis

dan manfaat praktis, sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis
12

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai

khazanah ilmu dalam pengembangan ilmu pengetahuan,

serta dapat menambah wawasan bagi siapa pun

terutama yang berkaitan dengan peran guru

Pendidikan Agama Islam dalam menanamkan perilaku

islami.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Sekolah

Dapat dijadikan bahan masukan bagi guru

Pendidikan Agama Islam dalam melaksanakan

perannya untuk menanamkan perilaku keagamaan

pada siswa.

b. Bagi Mahasiswa

Bagi mahasiswa, untuk mengetahui bagaimana

peran guru Pendidikan Agama Islam dalam

menanamkan perilaku keagamaan.

c. Bagi Siswa

Peserta didik akan lebih bertanggung jawab

dalam mengamalkan nilai-nilai Pendidikan Agama

Islam sehingga menjadi suatu kegiatan

pembiasaan melakukan akhlak terpuji.

BAB II
13

KAJIAN TEORI

A. Landasan Teori

1. Pengertian Peran Guru

Peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

diartikan sebagai “perangkat tingkah laku yang

diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan

dalam masyarakat”, dan juga peran merupakan

“tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu

peristiwa dan orang yang menjalani peran tertentu

dalam suatu peristiwa”.

Zakiyah Daradjat Ilmu Pendidikan Islam

menguraikan bahwa guru adalah: Guru adalah pendidik

profesional, karena secara implicit ia telah

merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian

tangung jawab pendidikan yang terpikul dipundak para

orang tua. Mereka ini, tatkala menyerahkan anaknya

ke sekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian

tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Hal

itupun menunjukan pula bahwa orang tua tidak mungkin

menyerahkan anaknya kepada sembarang guru/sekolah

karena tidak sembarang orang dapat menjabat guru.

Guru juga memiliki beberapa peranan yang harus

dilakukan, untuk mengetahui lebih dalam tentang


14

6
peranan guru akan dibahas dibawah ini :

1. Peran guru dalam proses pembelajaran Guru


mempunyai banyak sekali peranan yang harus
dilakukannya dalam proses pembelajaran dengan
peserta didik. Peran guru adalah segala bentuk
ikutsertaan guru dalam megajar dan mendidik anak
murid untuk tercapainya tujuan belajar. Peran guru
juga busa merajuk pada tugas guru yang telah
disampaikan dalam pengertian diatas, seperti
membimbing, menilai, mengajar, mendidik, dll.
2. Sebagai pendidik dan pengajar Sebagi pendidik,
guru harus membimbing dan menumbuhkan sikap dewasa
dari peserta didik.
3. Guru sebagai mediator atau sumber belajar dan
fasilitator
Sebagai sumber belajar bagi muridnya, guru
harus memahami materi yang diampuhnya, karena
murid pasti akan bertanya apa yang mereka tidak
pahami, karenanya guru harus mempersiapkan diri
dengan sangat matang. Mempelajari, memahami dan
mencari tahu sebelum dilakukan pembelajarn kepada
murid. Sebagai fasilitator guru juga harus
memberikan media yang cocok untuk menunjang proses
pembelajaran. Media pembelajaran yang disukai oleh
murid akan membuat murid senang saat belajar dan
kounikasi tetap terpenuhi.
Sebagai seorang fasilitator, guru harus bisa
mengembangkan pembelajaran menjadi lebih aktif.
Pembelajaran yang seperti ini akan memberikan

6
Siti Maemunawati dan Muhammad Alif, Peran Guru, Orang
Tua, Metode dan Media Pembelajaran: Strategi KBM di Masa
Pandemi Covid-19, Banten: 3M Media Karya, 2020. Hal. 8 - 24
15

ruang yang cukup untuk prakarsa siswa, kreatifitas


serta kemandirian yang sesuai dengan bakat, minat,
dan perkembangan fisik dan psikologis peserta
didik. Ada empat komponen utama pembelajaran aktif
yang harus dipahami guru, yaitu pengalaman,
komunikasi, interaksi dan refleksi.
4. Guru sebagai model dan teladan
Peran guru sebagai model atau contoh bagi
siswa. Setiap siswa menginginkan sang guru dapat
menjadi model dan contoh yang baik bagi mereka.
Karenanya, sikap dan tingkah laku dari guru atau
orang tua atau tokoh-tokoh yang ada dalam
masyarakat harus mencerminkan nilai-nilai dan
norma yang sesuai dengan Negara pancasila. Guru
juga harus bisa menjadi tauladan bagi semua
muridnya. Peran guru dalam pendidikan bukan hanya
menyampaikan ilmu tetapi juga harus menjadi
tauladan untuk semua siswanya.
5. Guru sebagai motivator
Guru sebagai motivator hrus bisa mendorong dan
membangun semangat siswa untuk belajar dengan
giat. Dalam proses pemberian motivasi, guru bisa
mencari tahu terlebih dahulu latar belakang yang
terjadi pada siswa. Karena agar guru tahu penyebab
persolan yang terjadi pada siswa, jika guru sudah
tau penyebabnya barulah guru mencarikan solusi
bisa dengan berkomunikasi dengan orang tua siswa
atau dengan guru-guru yang lain untuk samasama
memcahkan masalah yang ada pada siswa. Kemudian
guru bisa memberikan nasihat dan motivasi kepada
siswa.
16

6. Guru sebagai pembimbing dan evaluator


Sebagai pembimbing, guru mendampingi dan
memberikan arahan kepada siswa berkaitan dengan
pertumbuhan dan perkembangan pada diri siswa baik
meliputi aspek kognitif, efektif, maupun
psikomotor serta pemberian kecakapan hidup baik
akademik, fokasional, sosial maupun spiritual.
Guru sebagai evaluator dituntut untuk menjadi
seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan
memberikan penilaian yang menyentuh aspek
ekstrinsik.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat

disimpulkan bahwa peran guru merupakan

keikuitsertaan guru dalam membina sikap atau tingkah

laku siswanya ketingkat lebih baik dan sempurna.

Dengan kata lain, dapat diartikan bahwa peranan

adalah peran serta usaha guru agama khususnya guru

agama Islam dalam mendidik, membina, membimbing

serta mengarahkan siswa kepada yang lebih baik dan

sempurna.

2. Guru Pendidikan Agama Islam

Pengertian guru agama Islam secara etimologi

(harfiah) ialah dalam literatur kependidikan Islam

seorang guru biasa disebut sebagai ustadz, mu’alim,

murabbiy, mursyid, mudarris, dan mu’addib, yang

artinya orang memberikan ilmu pengertahuan dengan

tujuan mencerdaskan dan membina akhlak peserta didik


17

agar menjadi orang yang berkerpribadian baik.

Sedangkan pengertian guru agama Islam di tinjau dari

sudut therminologi yang diberikan oleh para ahli dan

cerdik cendikiawan, istilah guru adalah sebagi

berikut: Menurut Muhaimin dalam bukunya Strategi

Belajar Mengajar menguraikan bahwa guru adalah orang

yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap

pendidikan murid-murid, baik secara individual

ataupun klasikal. Baik disekolah maupun diluar

sekolah. Dalam pandangan Islam secara umum guru

adalah mengupayakan perkembangan seluruh

potensi/aspek anak didik, baik aspek cognitive,

affective dan psychomotor.7 Menurut Syaiful Bahri

Djamarah dalam setiap melakukan pekerjaan yang

tentunya dengan kesadaran bahwa yang dilakukan atau

yang dikerjakan merupakan profesi bagi setiap

individu yang akan menghasilkan sesuatu dari

pekerjaannya. Dalam hal ini yang dinamakan guru arti

yang sederhana adalah orang yang memberikan ilmu

pengetahuan kepada anak didik.8 Dengan demikian

seorang guru agama Islam adalah merupakan figur

seorang pemimpin yang mana setiap perkataan atau

perbuatannya akan menjadi panutan bagi anak didik,


7
Muhaimin. 2006 Nuansa Baru Pendidikan Agama Islam, Jakarta:
PT. Raja Grafindo. Hal. 70
8
Bahri Djamarah, Syaiful. 1994 Prestasi Belajar dan
Kompetensi Guru, Surabaya: Usaha Nasional. Hal. 31
18

maka disamping sebagai profesi seorang guru agama

hendaklah menjaga kewibawaannya agar jangan sampai

seorang guru agama melakukan hal-hal yang bisa

menyebabkan hilangnya kepercayaan yang telah

diberikan masyarakat.

3. Menanamkan Perilaku Islami

Menanamkan yang berasal dari kata tanam dengan

awalan “me” dan akhiran “an” yang artinya meletakkan

atau menaruh bibit. penanaman nilai-nilai agama

Islam yaitu suatu tindakan atau cara untuk

menanamkan pengetahuan yang berharga berupa nilai

keimanan, ibadah dan akhlak yang berlandaskan pada

wahyu Allah SWT dengan tujuan agar anak mampu

mengamalkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-

hari dengan baik dan benar dengan kesadaran tanpa

paksaan dan mengenalkan dan mengajarkan isi ajaran

agama kepada anak agar anak mengetahui dan memahami

agama serta terbiasa untuk melaksanakan ajaran agama

tersebut. Pada dasarnya didalam lembaga pendidikan

guru secara utuh bertanggung jawab atas segala yang

bersangkutan dengan siswanya.

‫َوَم ۤا َاۡرَسۡل ٰنَك ِااَّل َرۡحَمًة ِّل ـۡل ٰعَلِمۡيَن‬

Artinya: “Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan

untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”(Q.S. Al-


19

Anbiya:107) Ayat ini ditegaskan oleh RasulullahSAW

dalam sasbdanya Abu Hurairah RA, bahwa sesunguhnya

salah satu makna beliau diutus oleh Allah SWT

sebagai Rasul-Nya adalah untuk memperbaiki akhlak

manusia, membawa kembali kejalan fitrahnya. Guru

pendidikan agama Islam merupakan salah satu figur

contoh yang baik bagi siswanya, dan sekaligus yang

bertanggung jawab dalam pembinaan moral siswanya.

Agama Islam memerintahkan bahwa guru tidak hanya

mengajar saja, melainkan lebih dalam kepada

mendidik. Di dalam merefleksikan pembelajaran,

seorang guru harus mentransfer dan menanamkan rasa

keimanan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam.

Di samping itu guru pendidikan agama Islam

adalah figur yang diharapkan mampu menanamkan

perilaku Islami kepada siswanya agar terbentuk

akhlakul karimah, sehingga budaya perilaku Islami

menjadi kebiasaan baik sehari-hari. Memberikan

pengajaran dan kegiatan yang bisa menumbuhkan

pembentukkan pembiasaan perilaku Islami dan beradat

kebiasaa`n yang baik. Zakiah Darajat dalam bukunya

Ilmu Jiwa Agama memberikan contoh sebagai berikut:9

a. Membiasakan siswa bersopan santun dalam

berbicara, berbusana dan bergaul dengan baik


9
Daradjat Zakiah, 1994, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta Bulan
Bintang. Hal. 72
20

disekolah maupun diluar sekolah.

b. Membiasakan siswa dalam hal tolong menolong,

sayang kepada yang lemah dan menghargai orang

lain.

c. Membiasakan siswa bersikap ridha, optimis,

percaya diri, menguasai emosi, dan sabar.

d. Membuat program kegiatan keagamaan, yang mana

dengan kegiatan tersebut bertujuan untuk

memantapkan rasa keagamaan siswa, membiasakan

diri berpegang teguh pada akhlak mulia dan

membenci akhlak yang rusak, selalu tekun

beribadah dan mendekatjan diri kepada Allah dan

bermu’amalah yang baik. Perilaku dalam Kamus

Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan atau

reaksi individu terhadap rangsangan atau

lingkungan. Menurut Nana Sudjana, perilaku ialah

sebagai hasil dari proses yang dipengaruhi oleh

banyak faktor yang terdapat dalam diri individu.

e. Pendapat lain tentang perilaku yang dikemukakan

oleh Gunarsa adalah hasil interaksi antara

dirinya dengan lingkungan atau setiap cara

reaksi manusia, makhluk hidup terhadap

lingkungannya. Perilaku di kutip oleh Sofyan

Sori dari M. Quraish Shihab, bahwa perilaku

semakna dengan akhlak yang dapat berarti


21

tabi’at, perangai, kebiasaan, bahkan agama.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan

bahwa perilaku adalah respons, reaksi seseorang atau

makhluk hidup terhadap lingkungan. Perilaku lebih

menekankan paa reaksi yang berupa gerak yang

termanifestasikan dalam bentuk segala aktifitas

seseorang yang dapat diamati. Sedangkan pengertian

Islami yaitu Islam; dari kata salam yang berarti

“pasrah”, “damai”, “nasehat”. Ajaran agama Islam

diwahyukan kepada nabi Muhammaad antara 610-632 M.

Ia merupakan ajaran wahyu yang terakhir sebelum

berakhir kehidupan dunia ini. Namun dari ajaran ini

dinyatakan didalam ayat al-Quran (Al-Maidah (5):3)

yang diwahyukan pada haji wada’ (perpisahan):

‫َفَمِن اۡضُطَّر ِفۡى َم ۡخَمَصٍة َغۡيَر ُم َتَجاِنٍف ِاِّلۡث ٍم‬


‌ۙ

“Pada hari ini telah aku sempurnakan agamaku

untukmu, dan telah aku cukupkan nikmatku untukmu,

dan aku merestui Islam ini sebagai agama bagimu.

Islami artinya bersifat keislaman; akhlak. Dapat

disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku

Islami adalah sikap, perbuatan, akhlak secara

keseluruhan yang mencerminkan nilai-nilai keislaman.

Suatu kesatuan perbuatan yang dilakukan oleh


22

seseorang manusia yang dilandasi keagamaan yang

dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dalam

hubungannya dengan Allah SWT, sesama muslim, maupun

dengan lingkungan sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan

Hadist.

1) Karakteristik Perilaku Islami Menurut Dr. H.

Hamzah Ya’cub yang dikutip oleh Chabib Toha, dkk,

karakteristik perilaku Islam mencakup sumber

moralnya, kriteria yang dijadikan ukuran untuk

menentukan baik dan buruknya tingkah laku,

pandangannya terhadap akal dan nurani, yang

menjadi motif dan tujuan terakhir dari tingkah

laku, yaitu :

a) Al-Qur’an dan As- Sunnah sebagai Sumber

Nilai Sebagai pedoman hidup dalam Islam al-

Qur’an dan as-Sunnah telah menjelaskan

kriteria baik dan buruknya suatu perbuatan

sekaligus menjadi pola hidup dalam

menetapkan mana yang baik dan mana yang

buruk.

b) Menempatkan akal dan naluri sesuai porsinya

Akal dan naluri diakui sebagai anugerah

Allah yang mempunyai kemampuan yang

terbatas, sehingga memerlukan bimbingan

wahyu. Akal dan naluri ini harus


23

dimanfaatkan dan disalurkan sebaik-baiknya

dengan bimbingan dan pengarahan wahyu.

c) Iman sebagai sumber Motivasi Dalam pandangan

Islam, yang menjadi pendorong paling dalam

dan kuat untuk melakukan sesuatu amal

perbuatan yang baik adalah iman yang

terpatri dalam hati. Iman itulah yang

membuat seseorang muslim ikhlas, mau bekerja

keras bahkan rela berkorban. Iman sebagai

motivasi dan kekuatan penggerak paling ampuh

dalam pribadinya. Jika “motor iman” itu

bergerak, maka keluarlah berupa amal shaleh

dan akhlakul karimah.

d) Ridha Allah sebagai Tujuan Akhir Sesuai

dengan pola hidup yang digariskan oleh Islam

bahwa seluruh kegiatan manusia diperuntukkan

Allah. Seorang muslim dalam mencari rizki

tidak sematmata untuk memenuhi kebutuhannya,

tetapi sebagai sarana untuk mendekatkan diri

kepada Allah. Demikian juga dalam mencari

ilmu pengetahuan harus dijadikan sebagai

jembatan dalam iman dan taqwa kepada Allah

SWT.

B. Penelitian Relevan
24

Penelitian yang dilakukan oleh Nur Firiana,

membahas tentang Perilaku Keagamaan Peserta didik di

SMK Negeri 5 Palangka Raya tahun 2016. Permasalah

dalam penelitian ini adalah bagaimana perilaku

keagamaan peserta didik SMKN-5 Palangka Raya yang

berhubungan dengan Allah dan perilaku terhadap

sesama (orang tua dan diri sendiri). Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui perilaku keagamaan

peserta didik yang berhubungan dengan Allah,

perilaku terhadap orang tua, dan perilaku terhadap

diri sendiri. Metode penelitian menggunakan

deskriftif kualitatif dengan mengambil latar

belakang di SMKN-5 Palangka Raya. Penelitian ini

menggambarkan keadaan suatu obyek penelitian

berdasarkan kualitas item. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa (1) Perilaku keagamaan peserta

didik yang berhubungan terhadap Allah dalam hal

ibadah seperti shalat fardhu, puasa ramadhan dan

membaca Al-Qur’an, dari keseluruhan subjek

penelitian kurang mempunyai kepedulian terhadap

ibadah tersebut yang disebabkan oleh ketidakpahaman

siswa terhadap ibadah itu sendiri, kurang mendapat

bimbingan agama dari guru dan keluarga serta teman

sebaya yang kurang memiliki perhatian dalam

mengamalkan ibadah tersebut. (2) Perilaku keagamaan


25

peserta didik terhadap orang tua menunjukkan

keseluruhan subjek penelitian selalu berusaha

berbuat baik

C. Konsep Operasional

Dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah guru

pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya berperan

sebagai orang yang mentransferkan ilmu pengetahuan

dan pengalaman-pengalaman yang dimilikinya saja,

tapi juga diharapkan dapat menanamkan

perilaku/akhlak yang baik pada siswa. Umumnya ada

beberapa peran guru dalam mendidik siswanya, antara

lain sebagai seorang pendidik, pembimbing dan

sebagai model teladan. Selain itu, guru PAI juga

memiliki tanggung jawab untuk membina siswanya. Guru

menanamkan perilaku Islami sebagai suatu keadaan di

dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk

bertingkah laku sesuai dengan yang diajarkan oleh

agama, seperti bersikap sopan dan santun ketika

bertemu dengan guru lain seperti mengucapkan salam

dan bersalaman, menyapa guru dan siswa dengan ramah,

berakhlak mulia, membaca Al-Qur’an, dan juga

melaksanakan shalat wajib. Oleh karenanya guru PAI

harus mampu menanamkan nilai-nilai keislaman kepada

siswanya, sehingga diharapkan kegiatan pembelajaran


26

agama Islam dan pembinaan keagamaan disekolah dapat

membawa perubahan kepada siswa.

Untuk menanamkan perilaku Islami siswa, maka

guru dapat melakukan pembinaan disekolah berkaitan

dengan hal keagamaan. dalam kegiatan pembinaan

terdapat faktor pendukung dan penghambat guru PAI

dalam menanamkan perilaku Islami siswa.

1. Peran guru Agama Islam dalam menanamkan

perilaku Islami siswa

2. Guru PAI membina kepribadian dan budi pekerti

siswa di kelasnya

3. Tindakan guru Agama Islam untuk mengatasi

masalah perilaku siswa yang tidak terpuji

dikelasnya

4. Guru Agama Islam memberikan teguran atau

nasehat kepada siswa apabila terjadi perilaku

yang tidak terpuji dikelasnya

5. Sikap (tauladan) guru Pendidikan Agama Islam

dalam menanamkan perilaku Islami

BAB III
27

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang

digunakan oleh peneliti adalah penelitian kualitatif

diskritif, maksudnya penelitian kualitatif

memusatkan pada kegiatan antologi data siswa yang

dikumpulkan terutama berupa kata–kata, timbulnya

pemahaman yang lebih nyata dari pada sekedar

angkatan atau frekuensi, penelitian ini menekankan

catatan dengan deskripsi atau kelimat yang rinci,

lengkap dan mendalam yang menggambarkan situasi yang

sebanarnya guna mendukung penyajian data.10

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan

dan mendeskripsikan tentang Peran Guru Pendidikan

Agama Islam Dalam Menanamkan Perilaku Keagamaan Di

Mts Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang.

10
Ibrahim, Metodologi Penelitian Kualitatif, cet ke1, 2015
Bandung, hlm 25-27
28

B. Tempat Dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan di Mts Nahdatus Shibyan

Teluk Kiambang..

2. Waktu penelitian

Penelitian ini selasai dalam waktu kurang lebih

dari 3 bulan, dari tanggal 25 Juni, sampai tanggal 26

September 2024.

C. Subjek Dan Objek Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini Guru Mts Nahdatus Shibyan

Teluk Kiambang

2. Objek Penelitian

objek penelitian ini adalah Peran Guru Pendidikan

Agama Islam Dalam Menanamkan Perilaku Keagamaan Di Mts

Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang.

D. Populasi Dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah wilayah genaralisis yang terdiri

dari objek dan subjek yang mempunyai kualitas dan

karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti


29

untuk dipelajari dan kemudian untuk ditarik

kesimpulannya.

Populasi dalam penelitian ini adalah Guru

Pendidikan Mts Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang

2. Sampel

Sampel adalah bagian atau yang mewakili dari

jumlah populasi tersebut, atau begian terkecil dari

populasi yang diambil menurut prosedur sehingga dapat

mewakili populasinya

Sampel dalam penelitian ini adalah Guru Pendidikan

Mts Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah sebuah cara atau

metode dalam mengolah sebuah data menjadi informasi

sehingga data tersebut dapat dimengarti dengan mudah dan

juga bermanfaat menemukan solusi dari permasalahan,

untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian

ini penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data

sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi merupakan suatu metode yang tertulis dalam

suatu catatan yang dipakai sebagai pemberian pertanyaan,


30

atau pernyataan yang tertulis kepada responden untuk

dijawab.

2. wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.

Percakapan itu di lakukan oleh dua pihak, yaitu

pewawancara interviewer yang mengajukan pertanyaan dan

terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

3. Dokomentasi

Dokomentasi di kembangkan untuk penelitian dengan

menggunakan pendekatan analisis isi. Selain itu juga

dalam penelitian untuk mencari bukti-bukti sejarah,

landasan hukum, dan peraturan yang pernah berlaku. Sobjek

penelitiannya dapat berupa buku, majalah, dan

dokomentasi.

F. Instrument Penelitian

1. Observasi

Yaitu pengumpulan Observasi data dengan cara

menyabarkan luaskan yang berisi sejumlah pertanyaan

yang tertulis kepada responden atau siswa untuk diisi

dengan jawaban yang telah disediakan.


31

2. Lembar Pertanyaan Observasi

Lembar pertanyaan observasi yang digunakan dalam

penelitian ini yaitu pedoman observasi yang telah

disusun peneliti secara terskrutur yang nantinya akan

digunakan disaat melakukan observasi dilapangan yang

akan berlangsung.

3. Lembar wawancara

Lembar wawancara berisi pertanyaan-pertanyaan yang

digunakan dalam penelitian ini. Wawancara dimaksudkan

untuk mendapatkan jawaban dari terwawancara yang

memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

G. Teknik Analisa Data

Analisis data adalah sebuah proses yang dilakukan

melalui pencatatan, penyusunan, pengolahan dan

penafsiran serta menghubungkan makna data yang ada

dalam kaitannya dengan masalah penelitian. Data yang

telah diperoleh melalui wawancara, observasi dan

dokumentasi maka peneliti melakukan analisis melalui

pemaknaan atau proses interprestasi terhadap data-data

yang telah diperolehnya.

Teknik analisis ini bertujuan untuk menetapkan

data secara sistematis, catatan hasil observasi,

wawancara dan lain-lainya berfungsi untuk meningkatkan


32

pemahaman tentang kasus yang diteliti yang

menyajikannya, sebagai temuan bagi orang lain.

Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut

analisis perlu di lanjutkan dengan berupaya mencari

makna.11

Proses analisis data disini peneliti membagi

menjadi tiga komponen, antara lain sebagai berikut :

1. Reduksi Data

Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang

menajamkan, menggolongkan, membuang yang tak

perlu, dan mengorganisasikan data sedemikian rupa

sehingga diperoleh kesimpulan akhir dan

diverivikasi. Laporan- laporan direduksi,

dirangkum, dipilih hal- hal pokok, difokuskan.

Mana yang penting dicari tema atau polanya dan

disusun lebih sistematis. Peneliti mengumpulkan

semua hasil penelitian yang berupa wawancara,

foto-foto, dokumen-dokumen sekolah serta catatan

penting lainya yang berkaitan dengan Peran Guru

Dalam Mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila

di SD Islam Terpadu Faturrahman Tembilahan.

Selanjutnya, peneliti memilih data-data yang

11
Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta:
Rake Sarasen, 1996), hlm.104
33

penting dan menyusunnya secara sistematis dan

disederhanakan.

2. Penyajian Data

Penyajian data merupakan tahapan dalam memahami

apa yang sedang terjadi dan apa yang harus

dilakukan selanjudnya, kemudian dilakukan analisis

data yang ada. Penyajian data dengan pendekatan

kualitatif berproses dalam bentuk induksi,

interpretasi dan konseptualisasi. Penyajian data

yang telah direduksi dalam bentuk teks naratif dan

memilah data yang sesuai dengan permasalahan

penelitian.

3. Penarikan Kesimpulan

Menarik kesimpulan harus di dasarkan atas data,

bukan atas angan-angan atau keinginan peneliti.

Penarikan kesimpulan dan verifikasi adalah mencari

arti komponen-komponen yang disajikan, mencatat

pola-pola, keteraturan, kejelasan dan konfigurasi

yang mungkin ada, serta alur sebab akibat dalam

penelitian. Data yang diperoleh diambil

kesimpulan, selanjudnya kesimpulan tersebut masih

sangat tentatif, maka kesimpulan itu dikembangkan

ke arah yang lebih grounded, kesimpulan tersebut


34

senantiasa harus diverifikasi selama penelitian

berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA

Bahri Djamarah. Syaiful. 1994 Prestasi Belajar dan


Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.

Daradjat Zakiah. 1994. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta Bulan


Bintang.

Fatah Yasin. Dimensi-dimensi Pendiidkan Islam. (Malang:


UIN Malang Press).

Ibrahim. Metodologi Penelitian Kualitatif. cet ke1. 2015


Bandung.

Muhaimin. 2006 Nuansa Baru Pendidikan Agama Islam. Jakarta:


PT. Raja Grafindo.

Muhaimin. 2006 Nuansa Baru Pendidikan Agama Islam. Jakarta:


PT. Raja Grafindo.

Noeng Muhajir. Metode Penelitian Kualitatif.


(Yogyakarta: Rake Sarasen. 1996).
Siti Maemunawati dan Muhammad Alif. Peran Guru. Orang Tua.
Metode dan Media Pembelajaran: Strategi KBM di Masa
Pandemi Covid-19. Banten: 3M Media Karya. 2020.

Undang- Undang RI No.20 Tahun 2003. 2008 Tentang Sisdiknas.


Bandung: Citra Umbara

Usman Uzer. 2001 Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Zuhairin. 1994 Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Aksara.

Anda mungkin juga menyukai