PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENANAMKAN
PERILAKU KEAGAMAAN DI MTS NAHDATUS SHIBYAN
TELUK KIAMBANG
PROPOSAL
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Metodologi Penelitian Pendidikan
Dosen Pengampu : Dr. Fahrina Yustiasari Liri Wati S.H.I., [Link].I
Disusun Oleh :
NURUL ADDINNI
NIM 12092021010049
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( PAI )
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ( STAI )
AULIAURRASYIDIN
TEMBILAHAN
2023/2024
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI..............................................i
BAB I PENDAHULUAN.......................................1
A. Latar Belakang Masalah .........................1
B. Alasan Memilih Judul............................3
C. Penegasasn Istilah .............................7
D. Identifikasi Masalah...........................10
E. Batasan Masalah................................11
F. Rumusan Masalah ...............................11
G. Tujuan Penelitian..............................11
H. Manfaat Penelitian.............................11
BAB II KAJIAN TEORI....................................13
A. Landasan Teori.................................13
B. Penelitian Relevan.............................24
C. Konsep Operasional.............................25
BAB III PENUTUP........................................27
A. Jenis Penelitian ..............................27
B. Tempat Dan Waktu Penelitian....................28
C. Subjek Dan Obyek Penelitian....................28
D. Populasi Dan Sampel Penelitian ................28
E. Teknik Pengumpulan Data........................29
F. Instrumen Penelitian..........................30
G. Teknik Analisis Data...........................31
DAFTAR PUSTAKA.........................................34
i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan dianggap bermutu dan berkualitas
apabila kemampuan pengetahuannya, sikap dan
keterampilan yang dimiliki para siswa dapat berguna
bagi perkembangannya lebih lanjut. Hal ini dapat
tercaPendidikan Agama Islam apabila proses belajar
mengajar dilaksanakan dengan efektif dan berfungsi
dengan baik.
Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional di sebutkan
bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab.1
Berdasarkan fungsi pendidikan nasional diatas,
siswa dituntut mampu mengembangkan potensi sesuai
dengan bakat yang dimilikinya dan bersikap agar
1
Undang- Undang RI No.20 Tahun 2003. 2008 Tentang Sisdiknas,
Bandung: Citra Umbara
1
2
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
Pendidikan agama Islam, yakni upaya mendidikkan
agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilai nya
agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup)
seseorang.2 Dalam hal ini Pendidikan dan pengajaran
ilmu Agama Islam sangatlah penting dan dibutuhkan
oleh semua umat manusia, oleh karena itu semua
haruslah ditanamkan sejak masih kecil atau sedini
mungkin agar mereka mempunyai penanaman dasar yang
kuat sehingga terwujudlah generasi muda yang bisa
dibanggakan oleh bangsa dan Negara. Dalam
pengelolaan interaksi beljar mengajar, guru harus
menyadari, bahwa pendidikan Agama Islam tidak hanya
dirumuskan dari sudut normatif, pelaksanaan
intreraksi belajar mengajar adalah untuk menanamkan
suatu nilai kedalam diri siswa. Sedangkan proses
teknik adalah sebuah kegiatan praktek yang
berlangsung dalam suatu masa untuk menanamkan nilai
tersebut ke dalam diri siswa, yang sekaligus untuk
mencaPendidikan Agama Islam tujuan yang telah
ditetapkan. Akhir dari proses interaksi belajar
2
Muhaimin. 2006 Nuansa Baru Pendidikan Agama Islam, Jakarta:
PT. Raja Grafindo. Hal. 5
3
mengajar diharapkan siswa merasakan perubahan-
perubahan dalam dirinya.
Problem yang dihadapi manusia menghendaki
orientasi pendidikan yang tidak semata-mata
menekankan pada pengisian fisik tetapi juga
pengisian jiwa, pembinaan perilaku, dan kepatuhan
dalam menjalani ibadah, yaitu suatu upaya
mengintegrasikan berbagai pengetahuan yang terkotak-
kotak dalam tauhid, yaitu suatu keyakinan bahwa ilmu
yang dihasilkan lewat penalaran manusia, dan harus
diabdikan untuk beribadah kepada tuhan melalui karya
manusia yang [Link] sisi lain dalam lingkup
pendidikan Islam guru tidak hanya sekedar merancang
pembelajarannya, akan tetapi juga membina dan
mengarahkan peserta didik untuk berprilaku terpuji,
itulah yang menjadi tanggung jawab guru agama.
Sebagai guru pendidikan agama Islam haruslah
taat kepada Tuhan, mengamalkan segala perintahnya
dan menjauhi segala larangannya. Bagaimana ia akan
dapat menganjurkan dan mendidik anak untuk berbakti
kepada Tuhan kalau ia sendiri tidak mengamalkannya,
jadi sebagai guru agama haruslah berpegang teguh
kepada agamanya, memberi teladan yang baik dan
menjauhi yang buruk. Anak mempunyai dorongan meniru,
4
segala tingkah laku dan perbuatan guru akan ditiru
oleh anak-anak. Bukan hanya terbatas pada hal itu
saja, tetapi samPendidikan Agama Islam segala apa
yang dikatakan guru itulah yang dipercayai murid,
dan tidak percaya kepada apa yang tidak
dikatakannya.
Guru agama adalah seseorang yang mengajar dan
mendidik agama Islam dengan membimbing, menuntun,
memberi tauladan dan mengantarkan anak didiknya
kearah kedewasaan jasmani dan rohani. Hal ini sesuai
dengan tujuan pendidikan agama yang hendak
dicaPendidikan Agama Islam yaitu membimbing anak
agar menjadi seorang muslim yang sejati, beriman,
teguh, beramal sholeh dan berakhlak mulia, serta
berguna bagi masyarakat agama dan Negara.3
Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap
keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat
berperan dalam membantu perkembangan peserta didik
untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal.
Keyakinan ini mucul karena manusia adalah makhluk
lemah, yang dalam perkembangannya senantiasa
membutuhkan orang lain, sejak lahir, bahkan pada
saat meninggal. Semua itu menunjukkan bahwa setiap
3
Zuhairin. 1994 Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Aksara. Hal.
45
5
orang memerlukan orang lain dalam perkembangannya,
demikian halnya peserta didik. Minat, bakat,
kemampuan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh
peserta didik tidak akan berkembang secara optimal
tanpa bantuan guru. Guru juga memiliki peran dan
fumgsi yang sangat penting dalam membentuk
kepribadian dan menanamkan perilaku anak.
Berkaitan dengan menanamkan perilaku, guru
mempunyai peranan penting untuk membina sikap dan
perilaku (akhlak) setiap peserta didiknya yang
berbeda yang sebagian besar dipengaruhi oleh
lingkungan tempat bersosialisasi sehari-hari.
Apabila lingkungannya kondusif, dalam arti
lingkungan itu memberikan ajaran, bimbingan, dan
pemberian dorongan dan ketauladanan yang baik dalam
mengamalkan nilai-nilaiajaran agama, maka anak itu
akan berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia
dan berbudi pekerti luhur, begitu pula sebaliknya.
Berdasarkan kegiatan lapangan yg telah dilakukan
di MTs Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang, ditemukan
beberapa permasalahan yang terkait dengan perilaku
siswa yaitu siswa kurang bersopan santun dalam
berbicara dengan teman dan guru. Sikap kurang santun
kepada teman dapat terlihat ketika ada siswa yang
6
berkata kasar kepada temannya, dan sikap kurang
santun kepada guru dapat terlihat siswa memanggil
guru dari jauh dengan cara berteriak, berjalan
melewati guru begitu saja, guru memberikan teguran
apabila terjadi kesalahan siswa bersikap acuh tak
acuh. Siswa membolos pada saat ketika kegiatan
keagamaan waktu shalat Dzuhur berjamaah dan kegiatan
keagamaan mengaji. Dengan demikian peranan guru
agama Islam sangat penting, ia harus berusaha
mendidik, membimbing, membina, serta mengarahkan
siswa kepada yang lebih baik agar tertanam perilaku
Islami serta nilai-nilai religius siswa sehingga
siswa di MTs Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang
terdorong untuk dapat meniru sikap Islami yang
ditanamkan guru pendidikan Agama Islam, peran guru
sangatlah penting khususnya dilingkungan sekolah
terutama guru agama adalah memberikan contoh dan
teladan yang baik kepada siswanya.
Berdasarkan gejala yang ada maka pemakalah
tertarik untuk membuat suatu tulisan yang berjudul
“Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan
Perilaku Keagamaan Di MTs Nahdatus Shibyan Teluk
Kiambang”.
B. Alasan Memilih Judul
7
Adapun alasan pemilihan judul ini adalah :
1. Untuk memperoleh data sebagai bahan utama
penyusunan tugas.
2. Pemakalah tertarik untuk mengetahui bagaimana
peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam
menanamkan perilaku keagamaan pada adanya
perilaku siswa yang tidak sesuai dengan aturan
islam.
C. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalah pahaman dalam
menafsirkan judul ini, serta memahami isi dari judul
ini, maka perlu untuk menjelaskan beberapa istilah.
Adapun penjelasan istilahnya, yaitu sebagai berikut:
1. Peran
Peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
diartikan sebagai “perangkat tingkah laku yang
diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan
dalam masyarakat”, dan juga peran merupakan
“tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam
suatu peristiwa dan orang yang menjalani peran
tertentu dalam suatu peristiwa”.
Peranan guru adalah terciptanya serangkaian
tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan
8
dalam situasi tertentu serta berhubungan dengan
kemajuan tingkah laku dan perkembangan siswa yang
menjadi tujuannya.4
Peran yang dimaksud disini adalah tindakan
yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam
untuk menanamkan perilaku keagamaan di MTs
Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang .
2. Guru
Guru adalah pengajar yang mendidik, ia tidak
hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan
keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik
generasi muda bangsanya. Secara sederhana guru
adalah pendidik yang mengajar di kelas.
Selanjutnya, dalam arti yang luas guru atau
pendidik adalah semua orang atau siapa saja yang
berusaha dan memberikan pengaruh terhadap
pembinaan orang lain (peserta didik) agar tumbuh
dan berkembang potensinya menuju kesempurnaan.5
Guru merupakan jabatan atau profesi yang
memerlukan keahlian khusus sebagai guru.
Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang
yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan
4
Usman Uzer. 2001 Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja
Rosdakarya. Hal. 4
5
Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendiidkan Islam, (Malang: UIN
Malang Press), hal. 68
9
kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Orang yang
berbicara dalam bidang-bidang tertentu, belum
dapat disebut sebagai guru. Untuk menjadi guru
diperlukan syarat-syarat khusus apalagi sebagai
guru yang profesional yang harus menguasai betul
seluk beluk pendidikan dan pengajaran dengan
berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu
dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan
tertentu atau pendidikan pra jabatan.
Guru yang dimaksud disini ada guru Pendidikan
Agama Islam yang melakukan peran untuk menanamkan
perilaku keagamaan di MTs Nahdatus Shibyan Teluk
Kiambang.
3. Menanamkan perilaku keagamaan
Menanamkan yang berasal dari kata tanam
dengan awalan “me” dan akhiran “an” yang artinya
meletakkan atau menaruh bibit. penanaman nilai-
nilai agama Islam yaitu suatu tindakan atau cara
untuk menanamkan pengetahuan yang berharga berupa
nilai keimanan, ibadah dan akhlak yang
berlandaskan pada wahyu Allah SWT dengan tujuan
agar anak mampu mengamalkan pengetahuannya dalam
kehidupan sehari-hari dengan baik dan benar
dengan kesadaran tanpa paksaan dan mengenalkan
10
dan mengajarkan isi ajaran agama kepada anak agar
anak mengetahui dan memahami agama serta terbiasa
untuk melaksanakan ajaran agama tersebut. Pada
dasarnya didalam lembaga pendidikan guru secara
utuh bertanggung jawab atas segala yang
bersangkutan dengan siswanya.
D. Indetifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka
dapat diidentifikasi berbagai permasalahannya
sebagai berikut:
1. Sikap kurang santun kepada teman dapat terlihat
ketika ada siswa yang berkata kasar kepada
temannya,
2. Sikap kurang santun kepada guru dapat terlihat
siswa memanggil guru dari jauh dengan cara
berteriak, berjalan melewati guru begitu saja,
3. Ketika guru memberikan teguran apabila terjadi
kesalahan, siswa bersikap acuh tak acuh.
4. Siswa membolos pada saat ketika kegiatan
keagamaan waktu shalat Dzuhur berjamaah dan
kegiatan keagamaan mengaji.
E. Batasan Masalah
11
Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka
permasalahan dibatasi pada yaitu Peran Guru
Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Perilaku
Keagamaan Di MTs Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang.
F. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah
diatas, maka didapat rumusan masalah sebagai berikut
1. Bagaimana peran guru Pendidikan Agama Islam dalam
menanamkan perilaku Islami siswa di MTs Nahdatus
Shibyan Teluk Kiambang?
G. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan
penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan peran guru Pendidikan Agama
Islam dalam menanamkan perilaku Islami di MTs
Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang.
H. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian terdiri dari manfaat teoritis
dan manfaat praktis, sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
12
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
khazanah ilmu dalam pengembangan ilmu pengetahuan,
serta dapat menambah wawasan bagi siapa pun
terutama yang berkaitan dengan peran guru
Pendidikan Agama Islam dalam menanamkan perilaku
islami.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Sekolah
Dapat dijadikan bahan masukan bagi guru
Pendidikan Agama Islam dalam melaksanakan
perannya untuk menanamkan perilaku keagamaan
pada siswa.
b. Bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa, untuk mengetahui bagaimana
peran guru Pendidikan Agama Islam dalam
menanamkan perilaku keagamaan.
c. Bagi Siswa
Peserta didik akan lebih bertanggung jawab
dalam mengamalkan nilai-nilai Pendidikan Agama
Islam sehingga menjadi suatu kegiatan
pembiasaan melakukan akhlak terpuji.
BAB II
13
KAJIAN TEORI
A. Landasan Teori
1. Pengertian Peran Guru
Peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
diartikan sebagai “perangkat tingkah laku yang
diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan
dalam masyarakat”, dan juga peran merupakan
“tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu
peristiwa dan orang yang menjalani peran tertentu
dalam suatu peristiwa”.
Zakiyah Daradjat Ilmu Pendidikan Islam
menguraikan bahwa guru adalah: Guru adalah pendidik
profesional, karena secara implicit ia telah
merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian
tangung jawab pendidikan yang terpikul dipundak para
orang tua. Mereka ini, tatkala menyerahkan anaknya
ke sekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian
tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Hal
itupun menunjukan pula bahwa orang tua tidak mungkin
menyerahkan anaknya kepada sembarang guru/sekolah
karena tidak sembarang orang dapat menjabat guru.
Guru juga memiliki beberapa peranan yang harus
dilakukan, untuk mengetahui lebih dalam tentang
14
6
peranan guru akan dibahas dibawah ini :
1. Peran guru dalam proses pembelajaran Guru
mempunyai banyak sekali peranan yang harus
dilakukannya dalam proses pembelajaran dengan
peserta didik. Peran guru adalah segala bentuk
ikutsertaan guru dalam megajar dan mendidik anak
murid untuk tercapainya tujuan belajar. Peran guru
juga busa merajuk pada tugas guru yang telah
disampaikan dalam pengertian diatas, seperti
membimbing, menilai, mengajar, mendidik, dll.
2. Sebagai pendidik dan pengajar Sebagi pendidik,
guru harus membimbing dan menumbuhkan sikap dewasa
dari peserta didik.
3. Guru sebagai mediator atau sumber belajar dan
fasilitator
Sebagai sumber belajar bagi muridnya, guru
harus memahami materi yang diampuhnya, karena
murid pasti akan bertanya apa yang mereka tidak
pahami, karenanya guru harus mempersiapkan diri
dengan sangat matang. Mempelajari, memahami dan
mencari tahu sebelum dilakukan pembelajarn kepada
murid. Sebagai fasilitator guru juga harus
memberikan media yang cocok untuk menunjang proses
pembelajaran. Media pembelajaran yang disukai oleh
murid akan membuat murid senang saat belajar dan
kounikasi tetap terpenuhi.
Sebagai seorang fasilitator, guru harus bisa
mengembangkan pembelajaran menjadi lebih aktif.
Pembelajaran yang seperti ini akan memberikan
6
Siti Maemunawati dan Muhammad Alif, Peran Guru, Orang
Tua, Metode dan Media Pembelajaran: Strategi KBM di Masa
Pandemi Covid-19, Banten: 3M Media Karya, 2020. Hal. 8 - 24
15
ruang yang cukup untuk prakarsa siswa, kreatifitas
serta kemandirian yang sesuai dengan bakat, minat,
dan perkembangan fisik dan psikologis peserta
didik. Ada empat komponen utama pembelajaran aktif
yang harus dipahami guru, yaitu pengalaman,
komunikasi, interaksi dan refleksi.
4. Guru sebagai model dan teladan
Peran guru sebagai model atau contoh bagi
siswa. Setiap siswa menginginkan sang guru dapat
menjadi model dan contoh yang baik bagi mereka.
Karenanya, sikap dan tingkah laku dari guru atau
orang tua atau tokoh-tokoh yang ada dalam
masyarakat harus mencerminkan nilai-nilai dan
norma yang sesuai dengan Negara pancasila. Guru
juga harus bisa menjadi tauladan bagi semua
muridnya. Peran guru dalam pendidikan bukan hanya
menyampaikan ilmu tetapi juga harus menjadi
tauladan untuk semua siswanya.
5. Guru sebagai motivator
Guru sebagai motivator hrus bisa mendorong dan
membangun semangat siswa untuk belajar dengan
giat. Dalam proses pemberian motivasi, guru bisa
mencari tahu terlebih dahulu latar belakang yang
terjadi pada siswa. Karena agar guru tahu penyebab
persolan yang terjadi pada siswa, jika guru sudah
tau penyebabnya barulah guru mencarikan solusi
bisa dengan berkomunikasi dengan orang tua siswa
atau dengan guru-guru yang lain untuk samasama
memcahkan masalah yang ada pada siswa. Kemudian
guru bisa memberikan nasihat dan motivasi kepada
siswa.
16
6. Guru sebagai pembimbing dan evaluator
Sebagai pembimbing, guru mendampingi dan
memberikan arahan kepada siswa berkaitan dengan
pertumbuhan dan perkembangan pada diri siswa baik
meliputi aspek kognitif, efektif, maupun
psikomotor serta pemberian kecakapan hidup baik
akademik, fokasional, sosial maupun spiritual.
Guru sebagai evaluator dituntut untuk menjadi
seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan
memberikan penilaian yang menyentuh aspek
ekstrinsik.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat
disimpulkan bahwa peran guru merupakan
keikuitsertaan guru dalam membina sikap atau tingkah
laku siswanya ketingkat lebih baik dan sempurna.
Dengan kata lain, dapat diartikan bahwa peranan
adalah peran serta usaha guru agama khususnya guru
agama Islam dalam mendidik, membina, membimbing
serta mengarahkan siswa kepada yang lebih baik dan
sempurna.
2. Guru Pendidikan Agama Islam
Pengertian guru agama Islam secara etimologi
(harfiah) ialah dalam literatur kependidikan Islam
seorang guru biasa disebut sebagai ustadz, mu’alim,
murabbiy, mursyid, mudarris, dan mu’addib, yang
artinya orang memberikan ilmu pengertahuan dengan
tujuan mencerdaskan dan membina akhlak peserta didik
17
agar menjadi orang yang berkerpribadian baik.
Sedangkan pengertian guru agama Islam di tinjau dari
sudut therminologi yang diberikan oleh para ahli dan
cerdik cendikiawan, istilah guru adalah sebagi
berikut: Menurut Muhaimin dalam bukunya Strategi
Belajar Mengajar menguraikan bahwa guru adalah orang
yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap
pendidikan murid-murid, baik secara individual
ataupun klasikal. Baik disekolah maupun diluar
sekolah. Dalam pandangan Islam secara umum guru
adalah mengupayakan perkembangan seluruh
potensi/aspek anak didik, baik aspek cognitive,
affective dan psychomotor.7 Menurut Syaiful Bahri
Djamarah dalam setiap melakukan pekerjaan yang
tentunya dengan kesadaran bahwa yang dilakukan atau
yang dikerjakan merupakan profesi bagi setiap
individu yang akan menghasilkan sesuatu dari
pekerjaannya. Dalam hal ini yang dinamakan guru arti
yang sederhana adalah orang yang memberikan ilmu
pengetahuan kepada anak didik.8 Dengan demikian
seorang guru agama Islam adalah merupakan figur
seorang pemimpin yang mana setiap perkataan atau
perbuatannya akan menjadi panutan bagi anak didik,
7
Muhaimin. 2006 Nuansa Baru Pendidikan Agama Islam, Jakarta:
PT. Raja Grafindo. Hal. 70
8
Bahri Djamarah, Syaiful. 1994 Prestasi Belajar dan
Kompetensi Guru, Surabaya: Usaha Nasional. Hal. 31
18
maka disamping sebagai profesi seorang guru agama
hendaklah menjaga kewibawaannya agar jangan sampai
seorang guru agama melakukan hal-hal yang bisa
menyebabkan hilangnya kepercayaan yang telah
diberikan masyarakat.
3. Menanamkan Perilaku Islami
Menanamkan yang berasal dari kata tanam dengan
awalan “me” dan akhiran “an” yang artinya meletakkan
atau menaruh bibit. penanaman nilai-nilai agama
Islam yaitu suatu tindakan atau cara untuk
menanamkan pengetahuan yang berharga berupa nilai
keimanan, ibadah dan akhlak yang berlandaskan pada
wahyu Allah SWT dengan tujuan agar anak mampu
mengamalkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-
hari dengan baik dan benar dengan kesadaran tanpa
paksaan dan mengenalkan dan mengajarkan isi ajaran
agama kepada anak agar anak mengetahui dan memahami
agama serta terbiasa untuk melaksanakan ajaran agama
tersebut. Pada dasarnya didalam lembaga pendidikan
guru secara utuh bertanggung jawab atas segala yang
bersangkutan dengan siswanya.
َوَم ۤا َاۡرَسۡل ٰنَك ِااَّل َرۡحَمًة ِّل ـۡل ٰعَلِمۡيَن
Artinya: “Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan
untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”(Q.S. Al-
19
Anbiya:107) Ayat ini ditegaskan oleh RasulullahSAW
dalam sasbdanya Abu Hurairah RA, bahwa sesunguhnya
salah satu makna beliau diutus oleh Allah SWT
sebagai Rasul-Nya adalah untuk memperbaiki akhlak
manusia, membawa kembali kejalan fitrahnya. Guru
pendidikan agama Islam merupakan salah satu figur
contoh yang baik bagi siswanya, dan sekaligus yang
bertanggung jawab dalam pembinaan moral siswanya.
Agama Islam memerintahkan bahwa guru tidak hanya
mengajar saja, melainkan lebih dalam kepada
mendidik. Di dalam merefleksikan pembelajaran,
seorang guru harus mentransfer dan menanamkan rasa
keimanan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam.
Di samping itu guru pendidikan agama Islam
adalah figur yang diharapkan mampu menanamkan
perilaku Islami kepada siswanya agar terbentuk
akhlakul karimah, sehingga budaya perilaku Islami
menjadi kebiasaan baik sehari-hari. Memberikan
pengajaran dan kegiatan yang bisa menumbuhkan
pembentukkan pembiasaan perilaku Islami dan beradat
kebiasaa`n yang baik. Zakiah Darajat dalam bukunya
Ilmu Jiwa Agama memberikan contoh sebagai berikut:9
a. Membiasakan siswa bersopan santun dalam
berbicara, berbusana dan bergaul dengan baik
9
Daradjat Zakiah, 1994, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta Bulan
Bintang. Hal. 72
20
disekolah maupun diluar sekolah.
b. Membiasakan siswa dalam hal tolong menolong,
sayang kepada yang lemah dan menghargai orang
lain.
c. Membiasakan siswa bersikap ridha, optimis,
percaya diri, menguasai emosi, dan sabar.
d. Membuat program kegiatan keagamaan, yang mana
dengan kegiatan tersebut bertujuan untuk
memantapkan rasa keagamaan siswa, membiasakan
diri berpegang teguh pada akhlak mulia dan
membenci akhlak yang rusak, selalu tekun
beribadah dan mendekatjan diri kepada Allah dan
bermu’amalah yang baik. Perilaku dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan atau
reaksi individu terhadap rangsangan atau
lingkungan. Menurut Nana Sudjana, perilaku ialah
sebagai hasil dari proses yang dipengaruhi oleh
banyak faktor yang terdapat dalam diri individu.
e. Pendapat lain tentang perilaku yang dikemukakan
oleh Gunarsa adalah hasil interaksi antara
dirinya dengan lingkungan atau setiap cara
reaksi manusia, makhluk hidup terhadap
lingkungannya. Perilaku di kutip oleh Sofyan
Sori dari M. Quraish Shihab, bahwa perilaku
semakna dengan akhlak yang dapat berarti
21
tabi’at, perangai, kebiasaan, bahkan agama.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa perilaku adalah respons, reaksi seseorang atau
makhluk hidup terhadap lingkungan. Perilaku lebih
menekankan paa reaksi yang berupa gerak yang
termanifestasikan dalam bentuk segala aktifitas
seseorang yang dapat diamati. Sedangkan pengertian
Islami yaitu Islam; dari kata salam yang berarti
“pasrah”, “damai”, “nasehat”. Ajaran agama Islam
diwahyukan kepada nabi Muhammaad antara 610-632 M.
Ia merupakan ajaran wahyu yang terakhir sebelum
berakhir kehidupan dunia ini. Namun dari ajaran ini
dinyatakan didalam ayat al-Quran (Al-Maidah (5):3)
yang diwahyukan pada haji wada’ (perpisahan):
َفَمِن اۡضُطَّر ِفۡى َم ۡخَمَصٍة َغۡيَر ُم َتَجاِنٍف ِاِّلۡث ٍم
ۙ
“Pada hari ini telah aku sempurnakan agamaku
untukmu, dan telah aku cukupkan nikmatku untukmu,
dan aku merestui Islam ini sebagai agama bagimu.
Islami artinya bersifat keislaman; akhlak. Dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku
Islami adalah sikap, perbuatan, akhlak secara
keseluruhan yang mencerminkan nilai-nilai keislaman.
Suatu kesatuan perbuatan yang dilakukan oleh
22
seseorang manusia yang dilandasi keagamaan yang
dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dalam
hubungannya dengan Allah SWT, sesama muslim, maupun
dengan lingkungan sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan
Hadist.
1) Karakteristik Perilaku Islami Menurut Dr. H.
Hamzah Ya’cub yang dikutip oleh Chabib Toha, dkk,
karakteristik perilaku Islam mencakup sumber
moralnya, kriteria yang dijadikan ukuran untuk
menentukan baik dan buruknya tingkah laku,
pandangannya terhadap akal dan nurani, yang
menjadi motif dan tujuan terakhir dari tingkah
laku, yaitu :
a) Al-Qur’an dan As- Sunnah sebagai Sumber
Nilai Sebagai pedoman hidup dalam Islam al-
Qur’an dan as-Sunnah telah menjelaskan
kriteria baik dan buruknya suatu perbuatan
sekaligus menjadi pola hidup dalam
menetapkan mana yang baik dan mana yang
buruk.
b) Menempatkan akal dan naluri sesuai porsinya
Akal dan naluri diakui sebagai anugerah
Allah yang mempunyai kemampuan yang
terbatas, sehingga memerlukan bimbingan
wahyu. Akal dan naluri ini harus
23
dimanfaatkan dan disalurkan sebaik-baiknya
dengan bimbingan dan pengarahan wahyu.
c) Iman sebagai sumber Motivasi Dalam pandangan
Islam, yang menjadi pendorong paling dalam
dan kuat untuk melakukan sesuatu amal
perbuatan yang baik adalah iman yang
terpatri dalam hati. Iman itulah yang
membuat seseorang muslim ikhlas, mau bekerja
keras bahkan rela berkorban. Iman sebagai
motivasi dan kekuatan penggerak paling ampuh
dalam pribadinya. Jika “motor iman” itu
bergerak, maka keluarlah berupa amal shaleh
dan akhlakul karimah.
d) Ridha Allah sebagai Tujuan Akhir Sesuai
dengan pola hidup yang digariskan oleh Islam
bahwa seluruh kegiatan manusia diperuntukkan
Allah. Seorang muslim dalam mencari rizki
tidak sematmata untuk memenuhi kebutuhannya,
tetapi sebagai sarana untuk mendekatkan diri
kepada Allah. Demikian juga dalam mencari
ilmu pengetahuan harus dijadikan sebagai
jembatan dalam iman dan taqwa kepada Allah
SWT.
B. Penelitian Relevan
24
Penelitian yang dilakukan oleh Nur Firiana,
membahas tentang Perilaku Keagamaan Peserta didik di
SMK Negeri 5 Palangka Raya tahun 2016. Permasalah
dalam penelitian ini adalah bagaimana perilaku
keagamaan peserta didik SMKN-5 Palangka Raya yang
berhubungan dengan Allah dan perilaku terhadap
sesama (orang tua dan diri sendiri). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui perilaku keagamaan
peserta didik yang berhubungan dengan Allah,
perilaku terhadap orang tua, dan perilaku terhadap
diri sendiri. Metode penelitian menggunakan
deskriftif kualitatif dengan mengambil latar
belakang di SMKN-5 Palangka Raya. Penelitian ini
menggambarkan keadaan suatu obyek penelitian
berdasarkan kualitas item. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa (1) Perilaku keagamaan peserta
didik yang berhubungan terhadap Allah dalam hal
ibadah seperti shalat fardhu, puasa ramadhan dan
membaca Al-Qur’an, dari keseluruhan subjek
penelitian kurang mempunyai kepedulian terhadap
ibadah tersebut yang disebabkan oleh ketidakpahaman
siswa terhadap ibadah itu sendiri, kurang mendapat
bimbingan agama dari guru dan keluarga serta teman
sebaya yang kurang memiliki perhatian dalam
mengamalkan ibadah tersebut. (2) Perilaku keagamaan
25
peserta didik terhadap orang tua menunjukkan
keseluruhan subjek penelitian selalu berusaha
berbuat baik
C. Konsep Operasional
Dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah guru
pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya berperan
sebagai orang yang mentransferkan ilmu pengetahuan
dan pengalaman-pengalaman yang dimilikinya saja,
tapi juga diharapkan dapat menanamkan
perilaku/akhlak yang baik pada siswa. Umumnya ada
beberapa peran guru dalam mendidik siswanya, antara
lain sebagai seorang pendidik, pembimbing dan
sebagai model teladan. Selain itu, guru PAI juga
memiliki tanggung jawab untuk membina siswanya. Guru
menanamkan perilaku Islami sebagai suatu keadaan di
dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk
bertingkah laku sesuai dengan yang diajarkan oleh
agama, seperti bersikap sopan dan santun ketika
bertemu dengan guru lain seperti mengucapkan salam
dan bersalaman, menyapa guru dan siswa dengan ramah,
berakhlak mulia, membaca Al-Qur’an, dan juga
melaksanakan shalat wajib. Oleh karenanya guru PAI
harus mampu menanamkan nilai-nilai keislaman kepada
siswanya, sehingga diharapkan kegiatan pembelajaran
26
agama Islam dan pembinaan keagamaan disekolah dapat
membawa perubahan kepada siswa.
Untuk menanamkan perilaku Islami siswa, maka
guru dapat melakukan pembinaan disekolah berkaitan
dengan hal keagamaan. dalam kegiatan pembinaan
terdapat faktor pendukung dan penghambat guru PAI
dalam menanamkan perilaku Islami siswa.
1. Peran guru Agama Islam dalam menanamkan
perilaku Islami siswa
2. Guru PAI membina kepribadian dan budi pekerti
siswa di kelasnya
3. Tindakan guru Agama Islam untuk mengatasi
masalah perilaku siswa yang tidak terpuji
dikelasnya
4. Guru Agama Islam memberikan teguran atau
nasehat kepada siswa apabila terjadi perilaku
yang tidak terpuji dikelasnya
5. Sikap (tauladan) guru Pendidikan Agama Islam
dalam menanamkan perilaku Islami
BAB III
27
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang
digunakan oleh peneliti adalah penelitian kualitatif
diskritif, maksudnya penelitian kualitatif
memusatkan pada kegiatan antologi data siswa yang
dikumpulkan terutama berupa kata–kata, timbulnya
pemahaman yang lebih nyata dari pada sekedar
angkatan atau frekuensi, penelitian ini menekankan
catatan dengan deskripsi atau kelimat yang rinci,
lengkap dan mendalam yang menggambarkan situasi yang
sebanarnya guna mendukung penyajian data.10
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan
dan mendeskripsikan tentang Peran Guru Pendidikan
Agama Islam Dalam Menanamkan Perilaku Keagamaan Di
Mts Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang.
10
Ibrahim, Metodologi Penelitian Kualitatif, cet ke1, 2015
Bandung, hlm 25-27
28
B. Tempat Dan Waktu Penelitian
1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di Mts Nahdatus Shibyan
Teluk Kiambang..
2. Waktu penelitian
Penelitian ini selasai dalam waktu kurang lebih
dari 3 bulan, dari tanggal 25 Juni, sampai tanggal 26
September 2024.
C. Subjek Dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini Guru Mts Nahdatus Shibyan
Teluk Kiambang
2. Objek Penelitian
objek penelitian ini adalah Peran Guru Pendidikan
Agama Islam Dalam Menanamkan Perilaku Keagamaan Di Mts
Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang.
D. Populasi Dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah wilayah genaralisis yang terdiri
dari objek dan subjek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
29
untuk dipelajari dan kemudian untuk ditarik
kesimpulannya.
Populasi dalam penelitian ini adalah Guru
Pendidikan Mts Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang
2. Sampel
Sampel adalah bagian atau yang mewakili dari
jumlah populasi tersebut, atau begian terkecil dari
populasi yang diambil menurut prosedur sehingga dapat
mewakili populasinya
Sampel dalam penelitian ini adalah Guru Pendidikan
Mts Nahdatus Shibyan Teluk Kiambang.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah sebuah cara atau
metode dalam mengolah sebuah data menjadi informasi
sehingga data tersebut dapat dimengarti dengan mudah dan
juga bermanfaat menemukan solusi dari permasalahan,
untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian
ini penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data
sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi merupakan suatu metode yang tertulis dalam
suatu catatan yang dipakai sebagai pemberian pertanyaan,
30
atau pernyataan yang tertulis kepada responden untuk
dijawab.
2. wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.
Percakapan itu di lakukan oleh dua pihak, yaitu
pewawancara interviewer yang mengajukan pertanyaan dan
terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
3. Dokomentasi
Dokomentasi di kembangkan untuk penelitian dengan
menggunakan pendekatan analisis isi. Selain itu juga
dalam penelitian untuk mencari bukti-bukti sejarah,
landasan hukum, dan peraturan yang pernah berlaku. Sobjek
penelitiannya dapat berupa buku, majalah, dan
dokomentasi.
F. Instrument Penelitian
1. Observasi
Yaitu pengumpulan Observasi data dengan cara
menyabarkan luaskan yang berisi sejumlah pertanyaan
yang tertulis kepada responden atau siswa untuk diisi
dengan jawaban yang telah disediakan.
31
2. Lembar Pertanyaan Observasi
Lembar pertanyaan observasi yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu pedoman observasi yang telah
disusun peneliti secara terskrutur yang nantinya akan
digunakan disaat melakukan observasi dilapangan yang
akan berlangsung.
3. Lembar wawancara
Lembar wawancara berisi pertanyaan-pertanyaan yang
digunakan dalam penelitian ini. Wawancara dimaksudkan
untuk mendapatkan jawaban dari terwawancara yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
G. Teknik Analisa Data
Analisis data adalah sebuah proses yang dilakukan
melalui pencatatan, penyusunan, pengolahan dan
penafsiran serta menghubungkan makna data yang ada
dalam kaitannya dengan masalah penelitian. Data yang
telah diperoleh melalui wawancara, observasi dan
dokumentasi maka peneliti melakukan analisis melalui
pemaknaan atau proses interprestasi terhadap data-data
yang telah diperolehnya.
Teknik analisis ini bertujuan untuk menetapkan
data secara sistematis, catatan hasil observasi,
wawancara dan lain-lainya berfungsi untuk meningkatkan
32
pemahaman tentang kasus yang diteliti yang
menyajikannya, sebagai temuan bagi orang lain.
Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut
analisis perlu di lanjutkan dengan berupaya mencari
makna.11
Proses analisis data disini peneliti membagi
menjadi tiga komponen, antara lain sebagai berikut :
1. Reduksi Data
Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang
menajamkan, menggolongkan, membuang yang tak
perlu, dan mengorganisasikan data sedemikian rupa
sehingga diperoleh kesimpulan akhir dan
diverivikasi. Laporan- laporan direduksi,
dirangkum, dipilih hal- hal pokok, difokuskan.
Mana yang penting dicari tema atau polanya dan
disusun lebih sistematis. Peneliti mengumpulkan
semua hasil penelitian yang berupa wawancara,
foto-foto, dokumen-dokumen sekolah serta catatan
penting lainya yang berkaitan dengan Peran Guru
Dalam Mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila
di SD Islam Terpadu Faturrahman Tembilahan.
Selanjutnya, peneliti memilih data-data yang
11
Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta:
Rake Sarasen, 1996), hlm.104
33
penting dan menyusunnya secara sistematis dan
disederhanakan.
2. Penyajian Data
Penyajian data merupakan tahapan dalam memahami
apa yang sedang terjadi dan apa yang harus
dilakukan selanjudnya, kemudian dilakukan analisis
data yang ada. Penyajian data dengan pendekatan
kualitatif berproses dalam bentuk induksi,
interpretasi dan konseptualisasi. Penyajian data
yang telah direduksi dalam bentuk teks naratif dan
memilah data yang sesuai dengan permasalahan
penelitian.
3. Penarikan Kesimpulan
Menarik kesimpulan harus di dasarkan atas data,
bukan atas angan-angan atau keinginan peneliti.
Penarikan kesimpulan dan verifikasi adalah mencari
arti komponen-komponen yang disajikan, mencatat
pola-pola, keteraturan, kejelasan dan konfigurasi
yang mungkin ada, serta alur sebab akibat dalam
penelitian. Data yang diperoleh diambil
kesimpulan, selanjudnya kesimpulan tersebut masih
sangat tentatif, maka kesimpulan itu dikembangkan
ke arah yang lebih grounded, kesimpulan tersebut
34
senantiasa harus diverifikasi selama penelitian
berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA
Bahri Djamarah. Syaiful. 1994 Prestasi Belajar dan
Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.
Daradjat Zakiah. 1994. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta Bulan
Bintang.
Fatah Yasin. Dimensi-dimensi Pendiidkan Islam. (Malang:
UIN Malang Press).
Ibrahim. Metodologi Penelitian Kualitatif. cet ke1. 2015
Bandung.
Muhaimin. 2006 Nuansa Baru Pendidikan Agama Islam. Jakarta:
PT. Raja Grafindo.
Muhaimin. 2006 Nuansa Baru Pendidikan Agama Islam. Jakarta:
PT. Raja Grafindo.
Noeng Muhajir. Metode Penelitian Kualitatif.
(Yogyakarta: Rake Sarasen. 1996).
Siti Maemunawati dan Muhammad Alif. Peran Guru. Orang Tua.
Metode dan Media Pembelajaran: Strategi KBM di Masa
Pandemi Covid-19. Banten: 3M Media Karya. 2020.
Undang- Undang RI No.20 Tahun 2003. 2008 Tentang Sisdiknas.
Bandung: Citra Umbara
Usman Uzer. 2001 Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Zuhairin. 1994 Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Aksara.