Pengolahan dan Inventarisasi Perpustakaan
Pengolahan dan Inventarisasi Perpustakaan
1. Inventarisasi koleksi
Inventarisasi merupakan kegiatan pencatatan koleksi bahan pustaka ke dalam buku atau kartu
inventaris sebagai tanda bukti perbendaharaan perpustakaan. Kegiatan ini terdiri dari:
a. kegiatan kerja professional, menetapkan:
1) macam dan ukuran kolom dalam buku inventaris,
2) letak pemberian stempel/tanda miliki perpustakaan;
b. kegiatan kerja non professional:
1) melakukan pencatatan koleksi di buku inventaris yang telah tersedia,
2) melaksanakan pemberian stempel/tanda miliki perpustakaan sesuai dengan aturan
yang telah ditentukan.
2. Katalogisasi bahan pustaka
Kegiatan ini merupakan kegiatan pengolahan secara sistematis sehingga mudah dan siap
dimanfaatkan untuk pelayanan pemakai. Kegiatannya terdiri dari:
a. kegiatan kerja professional, menetapkan:
1) sistem katalog yang digunakan,
2) macam katalog yang akan disajikan,
3) macam dan tempat penempelan label,
Page | 123
4) sistem penyusunan katalog,
5) pedoman penyusunan koleksi di rak;
b. kegiatan kerja non professional, melaksanakan:
1) pengetikan katalog sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan,
2) pengadaan katalog sesuai dengan macam yang dipilih,
3) penempelan label sesuai dengan macam-macam tempatnya yang telah ditentukan,
4) penyusunan koleksi di rak sesuai dengan pedoman.
3. Klasifikasi bahan pustaka
Kegiatan ini merupakan pengelompokkan koleksi bahan pustaka dengan memberikan nomor
klasifikasi sesuai dengan sistem klasifikasi tertentu. Kegiatan ini terdiri dari:
a. kegiatan kerja professional:
1) menetapkan sistem klasifikasi yang akan digunakan,
2) menetapkan panjang pendeknya notasi,
3) menuliskan notasi pada setiap koleksi.
b. kegiatan kerja non professional.
4. Pemeliharaan bahan pustaka
Pemeliharaan bahan pustaka merupakan kegiatan menjaga koleksi agar dalam kondisi baik
dan siap digunakan oleh pemustaka. Kegiatan pemeliharaan bahan pustaka dapat dibagi
menjadi dua kelompok yakni preventif dan kuratif. Kegiatan ini terdiri atas.
a. kegiatan kerja professional, menetapkan:
1) metode pengawetan koleksi bahan pustaka,
2) kriteria koleksi bahan pustaka yang dianggap rusak,
3) sistem pengawasan dan penjagaan akan keutuhan koleksi bahan pustaka;
b. kegiatan kerja non professional:
1) melaksanakan pengawetan koleksi bahan pustaka,
2) memilih koleksi yang sesuai dengan kriteria,
3) melaksanakan perbaikan koleksi yang rusak dan atau dijilid,
4) melaksanakan pengawasan akan keutuhan koleksi bahan pustaka sesuai dengan
sistem yang dipakai.
Sedangkan Rahayu (2018) mengelompokkan kegiatan yang mencakup dalam pengolahan bahan
pustaka sebagai berikut.
Page | 124
1. Menyusun rencana operasional pengolahan bahan pustaka.
a. Menentukan sistem katalogisasi dan klasifikasi,
b. Menentukan kebijakan otomasi dan penggunaan komputer dalam hal mengolah,
menyimpan data dan menggunakan koleksi,
c. Merancang kartu-kartu, slip buku, dan formulir yang dibutuhkan untuk keperluan
administrasi pendayagunaan koleksi.
2. Kegiatan pra katalogisasi yang meliputi: registrasi atau invetarisasi bahan pustaka,
pemberian stempel perpustakaan sebagai tanda kepemilikan bahan pustaka.
3. Kegiatan katalogisasi bahan pustaka. Hasil dapat berupa deskripsi (entri) yang dibuat dalam
bentuk katalog, baik berupa kartu, pangkalan data komputer (database) atau lembaran lepas.
4. Kegiatan klasifikasi, yaitu pengelompokkan bahan pustaka berdasarkan subjeknya untuk
ditempatkan atau dijajarkan pada suatu tempat agar mudah ditemukan kembali.
5. Kegiatan pascakatalogisasi atau pembuatan perlengkapan bahan pustaka, yaitu kegiatan
penyiapan bahan pustaka agar siap pakai, mudah digunakan dan memelihara bahan pustaka
dalam kondisi yang baik.
6. Penjajaran kartu katalog sebagai alat temu kembali atau penelusuran bahan pustaka di
perpustakaan.
7. Penyusunan koleksi di rak, yaitu kegiatan setelah bahan pustaka selesai diolah dan siap
digunakan pemakai.
8. Perawatan atau pelestarian bahan pustaka.
Berdasarkan dua pendapat di atas ruang lingkup pengolahan bahan pustaka di perpustakaan
sangat luas. Hakikatnya, kegiatan ini berfokus agar koleksi yang sudah dikembangkan oleh
perpustakaan dengan berbagai metode yang ada, siap disajikan dan layankan kepada pemustaka.
Pada modul ini akan difokuskan pada beberapa kegiatan inti yakni inventarisasi, katalogisasi,
klasifikasi dan pascakatalogisasi serta penjajaran koleksi (shelving). Sedangkan kegiatan
perawatan bahan pustaka sudah dijelaskan pada modul bagian pengembangan koleksi. Selain itu,
modul ini juga hanya membahas proses pengolahan bahan pustaka secara konvensional.
Mengingat konsepnya tidak jauh berbeda dengan secara terkomputerisasi dan sebagian besar
perpustakaan sekolah belum menggunakan sistem pengelolaan terkomputerisasi atau otomasi
perpustakaan.
Page | 125
B. Inventarisasi
Kegiatan inventarisasi merupakan kegiatan awal yang dilakukan sebelum pengolahan bahan
pustaka dilakukan. Kegiatan ini dilakukan setelah koleksi yang d ikembangkan diterima oleh
perpustakaan. Staf perpustakaan akan melakukan seleksi koleksi yang baru saja masuk ke
perpustakaan. Terdapat dua kelompok utama koleksi yakni bahan pustaka baru dan bahan pustaka
duplikat atau tambahan eksemplar. Pada bahan pustaka baru dilakukan kegiatan pengatalogan
yang lengkap. Sedangkan bagi bahan pustaka duplikat hanya dilakukan proses pascakatalogisasi
serta penambahan informasi eksemplar pada daftar penggerakan (shelf-list). Setiap bahan pustaka
yang masuk ke perpustakaan baik dengan pembelian, pertukaran maupun hadiah harus melewati
proses inventarisasi terlebih dahulu.
Inventarisasi merupakan kegiatan pencatatan data bahan pustaka yang diterima perpustakaan
secara manual menggunakan buku induk ataupun secara elektronik melalui pangkalan data sistem
informasi perpustakaan. Kegiatan inventarisasi juga dapat dikatakan sebagai kegiatan mendaftar
bahan pustaka yang baru datang atau kegiatan meregistrasi bahan pustaka. Namun, inventarisasi
tidak hanya kegiatan mencatat ke dalam buku induk saja. Selain kegiatan tersebut, secara umum
bahan pustaka akan diberi nomor induk, diberi cap/stempel tanda kepemilikan perpustakaan.
Kegiatan pemberian cap/stempel dilakukan sebelum dilakukan data. Berikut hal yang
dilakukan dalam proses ini.
Page | 126
Gambar 9. Cap Kepemilikan Perpustakaan
2. Pemberian cap inventaris
Cap invetaris merupakan cap yang memuat keterangan singkat tentang buku.
Informasi ini dapat berisi nama perpustakaan, tanggal, nomor inventaris dan informasi
lainnya. Biasanya cap diletakkan pada halaman judul atau halaman akhir buku. Beberapa
variasi cap inventaris sebagai berikut
WIDURA PUSTAKA
PERPUSTAKAAN SD PRESTASI
UNGGUL
Tanggal terima : ___________________
Asal : ___________________
Nomor : ___________________
inventaris
Nomor panggil : ___________________
Gambar 10. Cap Inventaris Variasi Pertama
b. Variasi kedua menyediakan informasi tentang nomor inventaris (a), asal perolehan (b),
dan tahun perolehan (c)
WIDURA PUSTAKA
PERPUSTAKAAN SD PRESTASI UNGGUL
NO INV. 0001/Pb/2021
Page | 127
Gambar 11. Cap Inventaris Variasi Kedua
Nomor inventaris merupakan kode yang dapat terdiri dari angka, atau campuran angka
dan huruf yang berfungsi sebagai identitas setiap koleksi perpustakaan. Nomor inventaris
dapat dibuat untuk mencerminkan informasi singkat tentang koleksi seperti asal
pengadaan. Setiap koleksi akan miliki nomor inventaris saja dan pemberian nomor
inventaris dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan masing-masing
perpustakaan.
Contoh:
Page | 128
WIDURA PUSTAKA
PERPUSTAKAAN SD PRESTASI
UNGGUL
Nomor
…
panggil
…
…
Gambar 13. Cap Nomor Panggil
Kegiatan ini merupakan proses memasukkan nomor inventaris ke dalam basis data
inventaris. Database inventaris dapat digunakan sebagai sarana menghitung jumlah koleksi
perpustakaan, mengetahui status buku serta untuk membuat laporan statistik perpustakaan
(Rahayuningsih, 2013). Data statistik dapat berupa jumlah koleksi yang dimiliki; jumlah
eksemplar dan judul; jumlah eksemplar berbahasa Indonesia dan asing; jumlah buku
referensi, fiksi, teks dan lain-lain; jumlah anggaran yang dikeluarkan. Pada sebagian besar
perpustakaan, kegiatan ini dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemberian nomor
inventaris. Hal tersebut terjadi karena pengisian kolom pada data inventaris akan
menghasilkan kode tertentu yang sekaligus digunakan sebagai nomor inventaris.
Berikut contoh halaman judul koleksi yang sudah dilakukan proses inventarisasi dengan
beberapa cap oleh Perpustakaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.
Page | 129
Nomor
Nomor
panggil
inventaris
Cap
Kepemilikan
Perpustakaan
Pada perpustakaan yang besar, kegiatan inventarisasi dilakukan oleh bagian pengadaan bahan
pustaka. Hal ini dilakukan karena kegiatan pengadaan bahan pustaka akan melakukan sampai pada
tahap kegiatan penerimaan, inventarisasi dan stock opname. Sedangkan pada perpustakaan dengan
ukuran kecil, kegiatan inventarisasi dilakukan oleh bagian teknis perpustakaan yang mencakup
bagian pengadaan dan pengolahan. Proses inventarisasi secara konvensional akan dilakukan pada
buku induk. Yulia & Sujana (2009) menjelaskan beberapa fungsi dari buku induk, diantaranya.
Page | 130
Dengan demikian, buku induk perpustakaan akan memberikan informasi spesifik tentang
gambaran koleksi perpustakaan baik dari segi jenis, jumlah ataupun lainnya. Selanjutnya pada
proses pencatatan ke buku induk perpustakaan, terdapat beberapa prinsip sebagai berikut.
1. Pencatatan dilakukan dengan sistem kronologis. Artinya, buku dicatat berdasarkan tanggal
penerimaannya oleh perpustakaan.
2. Buku induk terdiri atas informasi yang disajikan dalam kolom-kolom. Informasinya dapat
berupa:
a. tanggal terima;
b. nomor induk;
c. pengarang;
d. judul buku;
e. tahun terbit;
f. cara perolehan (dapat berupa pembelian, hadiah, tukar-menukar, titipan);
g. sumber dana;
h. bahasa;
i. jumlah eksemplar;
j. harga buku.
3. Tiap eksemplar akan memiliki satu nomor induk atau nomor inventaris perpustakaan.
Artinya, jika sebuah buku memiliki 3 eksemplar maka nomor induk/invetaris akan
berbeda satu dengan yang lainnya.
4. Penomoran pada buku induk dapat dimulai dengan nomor urut baru atau dibuat
berkelanjutan dari tahun ke tahun.
5. Jika buku hilang, maka keterangan akan dicatat pada buku induk perpustakaan.
Seperti pada uraian di atas, terdapat keterangan yang diperlukan pada kolom buku invent aris.
Berikut penjabaran lebih lengkapnya.
a. Tanggal pemesanan
Pada kolom ini tanggal pemesanan dicatat tentang kapan koleksi dipesan ke penerbit, toko
ataupun vendor/agen.
b. Tanggal penerimaan
Page | 131
Kolom ini berisi informasi tanggal diterimanya koleksi dari pihak penerbit, toko ataupun
vendor/agen.
c. Tanggal pembayaran
Kolom ini berisi informasi tanggal pembayaran yang dilakukan oleh perpustakaan kepada
pihak penerbit, toko ataupun vendor/agen.
d. Tanggal inventaris
Kolom ini berisi tanggal kapan koleksi diberikan nomor inventaris dan pencatatan data
ke buku inventaris dilakukan.
e. Nomor inventaris
Kolom ini berisi nomor inventaris setiap koleksi yang dibuat berurutan sesuai dengan
gaya selingkung perpustakaan.
f. Judul
Kolom ini berisi judul koleksi yang dicatat ke dalam buku inventaris/buku induk. Judul
buku yang terlalu panjang tidak perlu ditulis lengkap tetapi jika cukup ditambahkan tanda
titik sebanyak tiga buah atau tanda ellipsis. Jika terdapat anak judul maka penulisan
dipisahkan dengan tanda titik dua (:). Sedangkan jika terdapat judul parallel, maka
dipisahkan dengan tanda sama dengan (=).
Contoh:
Judul lengkap: Metode membaca, menghafal, dan menajwidkan al-Qur’an al-karim
Penulisan dapat dibuat: Metode membaca, menghafal …
g. Pengarang
Kolom ini berisi nama pengarang dari koleksi yang dicatat. Penulisan pengaran ditulis
nama belakang atau nama keluarga terlebih dahulu karena menyesuaikan dengan
peraturan pengatalogan. Jika pengarang terdiri atas dua atau tiga orang, dituliskan
seluruhnya. Namun jika lebih dari tiga, ditulis nama pengarang pertama saja, kemudian
ditambahkan et al.
h. Edisi
Kolom ini berisi edisi dari koleksi yang dicatat.
i. Kota Terbit
Kolom ini berisi nama kota tempat penerbit dari koleksi yang sedang dicatat.
j. Penerbit
Page | 132
Kolom ini berisi nama penerbit dari koleksi yang sedang dicatat.
k. Tahun terbit
Kolom ini berisi tahun terbit dari koleksi yang sedang dicatat.
l. Jumlah eksemplar
Kolom ini berisi jumlah eksemplar dari koleksi yang sedang dicatat.
m. Bahasa
Kolom ini dituliskan bahasa dari koleksi yang sedang dicatat.
n. Asal
Kolom ini dituliskan nama toko atau agen penjual koleksi.
o. Harga satuan
Kolom ini dituliskan harga buku satuan seperti yang tercantum pada bukti pembayaran.
p. Keterangan
Kolom ini dicatat keterangan tambahan tentang koleksi yang bersangkutan misalnya
hilang, rusak, fotokopi, ganti baru dan sebagainya (Rahayuningsih, 2013).
Salah satu kelemahan dari inventarisasi di atas, hanya difokuskan pada koleksi yang
dikembangkan melalui metode pembelian saja. Sehingga, jika perpustakaan memiliki koleksi
dengan metode hadiah akan membutuhkan format yang berbeda pula. Dengan demikian, buku
inventaris akan dibedakan berdasarkan asal/metode pengadaan koleksinya.
Pada proses pencatatan, format buku inventaris/buku induk akan berbeda antara satu
perpustakaan dengan perpustakaan yang lainnya. Perbedaan ini didasari atas kebutuhan masing-
masing perpustakaan sehingga menciptakan gaya selingkung tersendiri. Pada tujuannya,
keterangan dan format tabel yang ada pada buku inventarisasi akan memberikan informasi pada
pengelola perpustakaan dan sekolah secara umum tentang gambaran koleksi perpustakaan.
Beberapa sekolah diantaranya, mengikuti format yang diberikan oleh Dinas Pendidikan setempat
terkait teknis petunjuk teknis inventarisasi asset sarana prasarana sekolah.
Berikut adalah merupakan beberapa contoh tabel inventaris berdasarkan keterangan di atas.
Page | 133
Tabel 4. Tabel Inventarisasi Pembelian (Rahayuningsih, 2013)
PPC : pemilik koleksi atau nama perpustakaan (WP = Perpustakaan Widura Pustaka)
Pb : kode pembelian
21 : Tahun 2021
Page | 134
Tabel 5. Format Buku Inventarisasi (Yulia & Sujana, 2009)
Dengan demikian, pada baris pertama tersebut terdiri atas dua nomor inventaris yakni 20210001 dan 20210002.
Impresum Harga
Nomor
N Tangg Pengara Jud Jilid/Edi Jumla Tahu Sumbe Satua Jumla Keterang
Kot Penerb Klasifika
o al ng ul si h n r n h an
a it si
terbit
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Page | 135
Keterangan:
C. Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi di atas, kerjakan latihan berikut!
1) Analisislah mengapa perpustakaan memerlukan adanya kegiatan pengelolaan bahan
pustaka!
2) Buatlah bagan rangkaian kegiatan inventarisasi koleksi di perpustakaan!
D. Rangkuman
Kegiatan pengolahan bahan pustaka bertujuan untuk mengatur bahan pustaka yang masuk ke
perpustakaan agar dapat disimpan dengan kriteria susunan tertentu sehingga mudah ditemukan dan
digunakan oleh pemustaka. Pengolahan bahan pustaka berfokus agar koleksi yang sudah
dikembangkan oleh perpustakaan dengan berbagai metode yang ada, siap disajikan dan layankan
kepada pemustaka. Beberapa kegiatan inti dalam pengolahan bahan pustaka yakni inventarisasi,
katalogisasi, klasifikasi dan pasca katalogisasi serta penjajaran koleksi (shelving).
Page | 136
Inventarisasi merupakan kegiatan pencatatan data bahan pustaka yang diterima
perpustakaan secara manual menggunakan buku induk ataupun secara elektronik melalui
pangkalan data sistem informasi perpustakaan. Secara umum kegiatan yang dilakukan dalam
proses Inventarisasi bahan pustaka adalah pemberian cap, pemberian nomor inventaris dan
pencatatan ke dalam basis data inventaris.
F. Tes Formatif
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
Page | 137
d. Pemberian cap, pemberian nomor inventaris dan pencatatan ke dalam buku induk
5. Cap yang memuat keterangan singkat tentang buku disebut …
a. Cap nomor panggil
b. Cap kepemilikan
c. Cap inventaris
d. Cap rahasia
6. Kode yang terdiri dari angka, atau campuran angka dan huruf yang berfungsi sebagai
identitas setiap koleksi perpustakaan disebut …
a. Nomor panggil
b. Nomor inventaris
c. Nomor klasifikasi
d. Nomor perpustakaan
7. Berikut merupakan manfaat pencatatan koleksi perpustakaan ke dalam basis data
inventaris, kecuali …
a. Untuk menghasilkan kode inventaris
b. Untuk membuat laporan statistik perpustakaan
c. Untuk mengetahui status dan sumber buku
d. Untuk mempermudah layanan temu kembali
8. Berdasarkan prinsip, proses pencatatan koleksi ke dalam buku induk dilakukan dengan
sistem …
a. Abjad
b. Asal koleksi
c. Kronologis
d. Jenis koleksi
9. Kegiatan inventarisasi bahan pustaka dapat dilakukan pada saat …
a. Bahan pustaka telah selesai diolah
b. Bahan pustaka telah selesai di beri kartu katalog
c. Bahan pustaka yang baru masuk telah diseleksi
d. Bahan pustaka telah selesai diberi label
10. Berikut yang merupakan kegiatan pra katalogisasi adalah …
a. Registrasi bahan pustaka kedalam buku induk
Page | 138
b. pengelompokkan koleksi berdasar subjeknya
c. Penjajaran kartu katalog rak katalog
d. Pembuatan kartu buku, lidah buku dan kantong buku
Cocokkanlah jawaban Saudara dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di
bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Selanjutnya, gunakan rumus untuk
mengetahui tingkat penguasaan Saudara terhadap materi Kegiatan Belajar 1
80 – 89% = baik
70 – 79% = cukup
<70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Saudara dapat meneruskan dengan
Kegiatan Belajar selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Saudara harus mengulangi materi
Kegiatan Belajar 1, terutama pada bagian yang belum dikuasai.
Page | 139
Kegiatan Belajar 2: Katalogisasi dan Klasifikasi
A. Katalogisasi
1. Konsep Dasar Pengatalogan Deskriptif
Katalog perpustakaan merupakan hasil akhir dalam proses pengatalogan deskriptif ini.
Katalog merupakan daftar bahan pustaka baik berupa tercetak maupun noncetak yang dimiliki dan
disimpan oleh perpustakaan sebagai alat penelusuran informasi. Dengan katalog ini, pemustaka
dapat dengan mudah menemukan bahan pustaka dengan mudah melalui beberapa aspek seperti
nama pengarang, subjek ataupun judul buku. Selain itu, pada katalog perpustakaan akan tercantum
informasi fisik maupun isi dari bahan pustaka seperti judul, pengarang, penerbit, ukuran buku, kota
terbit, penerbit, tahun terbit, subjek, ISBN dan informasi lainnya.
Terdapat dua fungsi utama katalog di perpustakaan. Pertama, sebagai daftar inventaris bahan
pustaka dari suatu kelompok perpustakaan. Fungsi ini akan menunjukkan koleksi yang dimiliki
oleh perpustakaan atau kekayaan perpustakaan. Dengan melihat katalog perpustakaan, secara
langsung kita dapat dengan mudah mengetahui kondisi jumlah koleksi perpustakaan berdasarkan
subjek, pengarang dan lain sebagainya. Kedua, sebagai sarana temu kembali bahan pustaka.
Keberadaan katalog akan sangat penting bagi pemustaka agar dapat dengan mudah menemukan
koleksi perpustakaan dengan cepat dan tepat. Perpustakaan yang tidak memiliki katalog tentunya
akan menyulitkan pemustaka menelusuri koleksi yang dibutuhkan. Terlebih jika jumlah
koleksinya sangat banyak akan memperlama waktu pencarian. Fungsi ini merupakan esensi dari
katalog di perpustakaan.
Saat ini peraturan pengatalogan standar yang digunakan adalah the Anglo American
Cataloging Rules (AACR), yang digunakan secara internasional. Sedangkan juga digunakan
Machine Readable Cataloging (MARC) pada otomasi pengatalogan. Cutter pada karyanya Rules
Page | 140
for a Dictionary Catalog tahun 1986 (dalam Suhendar, 2016) menjelaskan beberapa tujuan
pembuatan katalog:
a. Memberikan kemudahan pada pemustaka dalam mencari dan menemukan bahan pustaka,
jika salah satu aspek dari bahan pustaka yang diinginkan sudah diketahui seperti nama
pengarang, judul maupun subjek.
b. Menunjukan bahan pustkaa yang dimiliki oleh perpustakaan, baik berdasarkan
pengarang, berdasarkan subjek maupun dalam bentuk literatur tertentu.
c. Untuk membantu dalam pemilihan bahan pustaka melalui berdasarkan edisi ataupun
karakternya (seperti sastra atau berdasarkan topik).
Pada perkembangannya, saat ini terdapat berbagai bentuk katalog yang digunakan oleh
perpustakaan sebagai alat penelusuran bahan pustaka. Beberapa bentuk kartu katalog antara lain.
Katalog ini merupakan perkembangan katalog buku. Katalog ini berupa lembaran
lepas dari kertas atau kartu berukuran 7,5 x 12,5 cm atau 10 x 15 cm. Masing-masing
lembar akan berisi deskripsi bibliografi setiap bahan pustaka. Untuk menyatukan
lembaran-lembaran lepas tersebut, pada bagian kiri diberi lubang dan diikat menjadi satu
Page | 141
atau disatukan dengan penjepit khusus. Selanjutnya untuk menguatkan katalog berkas
biasanya pada bagian depan dan belakang dilindungi dengan karton tebal. Masing-masing
berkas akan berisi sekitar 500 sampai 600 lembar yang disusun berkas. Jilidan berkas
yang dimiliki oleh perpustakaan akan disusun menurut nomor berkas agar mempermudah
pemustaka dalam menggunakan katalog berkas ini. Keuntungan katalog berkas ini yakni
praktis digunakan karena pemustaka tidak perlu berdesak an atau antri dalam
menggunakan katalog, karena hanya menggunakan berkas katalog yang dibutuhkannya.
Sedangkan kerugiannya saat penambahan data koleksi baru/lembar kertas baru, staf
perpustakaan harus membuka penjepit atau jilid berkas.
Page | 142
tergantung subjek koleksi yang diidentifikasi oleh staf perpustakaan yang membuat
katalog.
Bentuk katalog ini merupakan bentuk katalog yang sangat banyak digunakan di
perpustakaan khususnya bagi yang sudah terotomasi. Deskripsi bibliografi akan disimpan
di dalam basis data sistem informasi perpustakaan dan akan pemustaka dapat dengan
mudah mengaksesnya melalui judul, pengarang, subjek, penerbit dan lain nya.
Keuntungan penggunaan katalog ini akan mempermudah pemustaka dalam melakukan
penelusuran perpustakaan. Sedangkan kerugiannya, katalog akan sulit dioperasikan jika
listrik perpustakaan tidak berfungsi (pada saat mati lampu).
Page | 143
Gambar 17. Tampilan Deskripsi Bibliografis pada OPAC
Page | 144
No Daerah Sumber Informasi
6 Seri Halaman judul seri, halaman judul, kulit
buku, bagian lain dari publikasi
7 Catatan Sumber apa saja
8 Nomor Standar dan keterangan harga Sumber apa saja
Selanjutnya terdapat tata cara pemakaian tanda baca yang digunakan untuk pembuatan katalog
dalam bentuk kartu. Tanda baca tersebut sebagai berikut.
Page | 145
No Daerah Tanda baca Unsur
; (titik koma) 5.3 Ukuran
+ (tanda tambah) 5.4 Lampiran
6 Seri (ditulis dalam tanda .-- 6.1 Judul seri
kurung) : (titik dua) 6.2 Keterangan seri lainnya
; (titik koma) 6.3 ISSN
; (titik koma) 6.4 Nomor seri
7 Catatan (jika tidak .--
berparagraf)
8 Nomor standar dan harga .-- ISBN
(jika tidak berparagraf) : 8.1 Harga dan sebagainya
Selanjutnya, bahasa deskripsi bagi unsur daerah 1,2,4, dan 6 disalin seperti yang tercantum
pada terbitan yang diolah. Sisipan dalam daerah tersebut ditambahkan dalam bahasa terbitan.
Sedangkan, istilah dan informasi pada daerah 3,5,7, dan 8 dicatat dalam bahasa pengatalog. Jika
di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia.
Penggunaan huruf kapital berlaku pada daerah 1,2,4, dan 6 mengacu pada bahasa dari terbitan
yang diolah. Sedangkan daerah 5,7 dan 8 menggunakan kebiasaan dalam bahasa Indonesia.
Selanjutnya, terdapat beberapa istilah yang menggunakan singkatan yakni.
cm. = sentimeter
hlm. = halaman
Page | 146
Selanjutnya penyajian informasi dalam katalog, dapat dibagi menjadi tiga tingkatan deskripsi.
Pertama deskripsi tingkat pertama yang mencakup judul sebenarnya, pernyataan edisi, rincian
khusus mengenai bahan, penerbit pertama dan sebagainya, tahun terbit dan sebagainya, penjelasan
deksripsi fisik, catatan dan nomor standar. Deskripsi tingkat kedua mencakup unsur judul
sebenarnya termasuk informasi lain dalam judul/pernyataan tanggung jawab, pernyataan edisi,
rincian khusus mengenai bahan, tempat terbit dan sebagainya, penerbit dan sebagainya, tahun
terbit dan sebagainya, penjelasan deskripsi fisik, judul seri, ISSN seri, penomoran seri, judul
subseri dan sebagainya, catatan dan nomor standar. Sedangkan deskripsi tingkat ketiga, semua
unsur yang ditetapkan dalam peraturan harus dicantumkan informasinya bila tersedia. Pada
praktiknya, banyak perpustakaan hanya menampilkan deskripsi bibliografis pada tingkatan
deskrispi yang pertama atau kedua saja. Mengingat untuk menyantumkan seluruh informasi
(tingkat ketiga) akan memakan waktu yang banyak dalam proses pengatalogan.
Pola deskripsi bibliografis dapat dibuat secara berparagraf atau secara terus menerus. Jika
dibuat secara berparagraf, dapat terdiri atas 5 paragraf sedangkan jika dibuat secara ½ berparagraf
maka terdiri atas 4 paragraf.
a. Berparagraf
1) Judul sebenarnya = judul sejajar: anak judul/pernyataan tanggung jawab pertama;
pernyataan tanggung jawab kedua. --Edisi/Pernyataan tanggung jawab sehubungan dengan
edisi. -- data khusus.
2) Tempat terbit: Nama penerbit, tahun terbit.
3) Jumlah halaman dan/atau jumlah jilid: pernyataan ilustrasi; ukuran + lampiran atau
tambahan. -- (judul seri: keterangan seri lainnya, ISSN; No. Seri).
4) Catatan.
5) ISBN atau ISSN: Harga.
b. Setengah berparagraf
1) Judul sebenarnya = judul sejajar: anak judul/pernyataan tanggung jawab pertama;
pernyataan tanggung jawab kedua.--Edisi/Pernyataan tanggung jawab sehubungan dengan
edisi. -- data khusus. -- Tempat terbit: Nama penerbit, tahun terbit.
2) Jumlah halaman dan/atau jumlah jilid: pernyataan ilustrasi; ukuran + lampiran atau
tambahan. -- (judul seri: keterangan seri lainnya, ISSN; No. Seri).
Page | 147
3) Catatan.
4) ISBN atau ISSN: Harga.
c. Tidak berparagraf atau secara terus menerus
Judul sebenarnya = judul sejajar: anak judul/pernyataan tanggung jawab pertama; pernyataan
tanggung jawab kedua.--Edisi/Pernyataan tanggung jawab sehubungan dengan edisi. -- data
khusus. -- Tempat terbit: Nama penerbit, tahun terbit. -- Jumlah halaman dan/atau jumlah jilid:
pernyataan ilustrasi; ukuran + lampiran atau tambahan. -- (judul seri: keterangan seri lainnya,
ISSN; No. Seri). --Catatan. -- ISBN atau ISSN: Harga.
Untuk daerah yang memerlukan penyalinan informasi dari dokumen yang di katalog, tuliskan
kata yang tidak akurat atau salah ejaannya sebagaimana adanya. Lalu ikuti dengan [sic] atau i.e
dan pembetulan di antara kurung siku.
Katalog kartu akan berisi tiga komponen utama yakni nomor panggil (call number), tajuk dan
deskripsi bibliografis. Nomor panggil berisi informasi tentang nomor klasifikasi, tiga huruf
pertama dari nama utama/keluarga perngarang dan satu huruf pertama judul. Nomor panggil
ditempatkan pada bagian sebelah kiri kartu katalog pada baris ketiga dari bagian teratas kartu dan
ketukan keuda dari pinggir sebelah kiri.
Page | 148
Gambar 18. Bagian Kartu Katalog
Selanjutnya tajuk entri utama adalah kata-kata pertama yang terdapat dalam entri katalog
sebagai dasar penyusunan katalog. Tajuk ini dapat berupa nama orang atau badan korporasi yang
merupakan pengarang atau penerbit yang bertanggung jawab terhadap isi buku sebagai karya
intelektual/artistik (Suhendar, 2016). Penulisan untuk nama orang, yang ditulis adalah nama utama
atau nama keluarga. Untuk orang Indonesia menggunakan nama belakang seperti contoh berikut:
Page | 149
Penulisan tajuk entri utama ditulis pada baris ke empat dari bagian atas dan ketukan ke delapan
dari sebelah kiri.
Selanjutnya, deskripsi bibiografis adalah kumpulan informasi bibliografis dari sebuah koleksi
yang mencakup nama pengarang, judul, edisi, kota terbit, nama penerbit, tahun terbit, keterangan
fisik (ukuran buku dan jumlah halaman), keterangan seri, ISBN, dan keterangan lain yang
dianggap perlu bagi pemustaka. Deskripsi bibliografis dapat dikelompokkan dalam 8 bagian atau
bidang seperti pada tabel 8.
Penulisan judul dapat meliputi judul utama atau judul sebenarnya, yakni judul yang
dituliskan pertama kali pada halaman judul. Selain itu terdapat anak judul yang
dipisahkan dari judul utama dengan titik dua; judul alternatif yakni judul lain dari
sebuah buku yang dapat dipisahkan dengan tanda baca koma (,) kemudian diikuti
kata atau; judul parallel yakni judul yang sama tapi dibuat dalam bahasa yang
berbeda dan dipisahkan dengan tanda sama dengan (=). Penempatan judul yakni
pada ketukan ke 10 dari kiri dan baris 5 dari atas.
Page | 150
Gambar 20. Contoh Penulisan Judul
No Keterangan Contoh
1 Judul utama Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah
2 Anak judul Manajemen Perlengkapan Sekolah: Teori dan Aplikasinya
3 Judul alternatif Kamus praktis Inggris-Indonesia, atau Practical English-Indonesia
Dictionary
4 Judul paralel Romi dan Yulia = Romie and Yuliet
b) Pernyataan kepengarangan
Informasi ini ditulis setelah judul yang dipisahkan dengan tanda garis miring (/).
Beberapa ketentuannya yakni penulisan nama pengarang tidak dibalik seperti
penulisan pada tajuk; jika nama pengarang dua atau tiga orang, kedua atau ketiga
dituliskan dengan dipisahkan dengan tanda baca koma (,); jika nama lebih dari tiga
orang maka ditulis pengarang pertama saja dan dilanjutkan dengan keterangan [et
al.].; untuk penerjemah, illustrator, penyunting (editor) dituliskan pada deskripsi
katalog setelah penulisan nama pengarang yang dipisahkan dengan tanda baca titik
koma (;). Penulisan nama pengarang tidak menyertakan gelar akademik.
Page | 151
b. Bidang Edisi
c. Bidang Impresum
Bidang ini mencantumkan informasi terkait penerbitan yang terdiri atas kota penerbitan,
nama penerbit dan tahun terbit. Ketentuannya yakni sebagai berikut.
Page | 152
c) Jika tempat penerbitan ada dua, maka keduanya dicantumkan dengan pemisah tanda
baca titik koma (;).
Contoh: .--Yogyakarta; Surakarta
d) Jika nama tempat penerbitan tidak tercantum, gunakan istilah sine loco.
e) Penulisan nama penerbit didahului tanda titik dua (:).
Contoh: .-- Yogyakarta: UNY Press
f) Istilah PT, CV, Firma atau sejenisnya tidak dicantumkan.
g) Jika nama penerbit tidak ada, dapat menuliskan nama percetakannya.
h) Penulisan tahun penerbitan setelah nama penerbit didahului dengan tanda baca
koma (,).
Contoh: .-- Yogyakarta: UNY Press, 2021
i) Jika tahun penerbitan tidak diketahui karena tidak tercantum, pembuat katalog
dapat memperkirakannya dalam dasa warsa atau abad yang ditulis dalam kurung
siku [ ] diikuti tanda tanya (?)
Contoh: [1999?] atau [199..?] atau [19….?]
Page | 153
d. Bidang Kolasi
Kolasi adalah pernyataan terkait deskripsi fisik yang mencakup data fisik buku (jumlah
halaman, keterangan ilustrasi/gambar dan ukuran tinggi buku). Beberapa ketentuan pada
bidang kolasi sebagai berikut.
a) Penulisan istilah dinyatakan dalam bentuk singkatan yang diikuti dengan tanda titik.
Misalnya halaman ditulis hlm.
b) Jika halaman ditulis dalam angka Romawi dan dalam angka Arab, keduanya
dicantumkan dengan dipisahkan dengan tanda koma (,).
Contoh: xi, 100 hlm.
c) Penulisan ilustrasi atau gambar ditulis setelah keterangan halaman denagn pemisah
tanda titik dua (:).
Contoh: xi, 100 hlm.: ilus.
d) Jika buku ditulis dalam beberapa jilid, maka jumlah halaman tidak perlu
dicantumkan. Namun yang dicantumkan jumlah jilid saja.
Contoh: 3 jil.
e) Penulisan ukuran tinggi buku setelah ilustrasi dinyatakan dengan cm yang
dipisahkan dengan tanda baca titik koma (;).
Contoh: xi, 100 hlm.; 25 cm.
Page | 154
e. Bidang Seri
Keterangan seri dicantumkan setelah ukuran tinggi buku yang ditulis di dalam tanda
kurung ( ) dengan tanda baca titik koma (;).
Bidang ini diisi dengan hal yang dinilai sangat penting. Misalnya judul asli dari karya
terjemahan atau pemberitahuan mengenai halaman bibliografi. Terdapat beberapa
ketentuan dalam pencantuman catatan yakni.
Jika sebuah buku memiliki ISBN, maka harus dicantummkan pada deskripsi bibliografis
di bawah catatan.
Page | 155
h. Jejakan
Jejakan merupakan keterangan tambahan dari bahan pustaka dapat berupa pengarang
kedua, dan atau ketiga, judul dan subjek. Terdapat ketentuan dalam membuat jejakan yakni.
Untuk pembuatan katalog judul atau subjek, bagian call number, tajuk dan deskripsi
bibliografis sama seperti katalog pengarang. Hanya saja pada katalog judul/subjek, jejakan tidak
dimasukkan lagi dan ada penambahan judul pada baris kedua dari atas dan ketukan ke sepuluh dari
kiri.
Page | 156
Gambar 27. Contoh Katalog Judul
Terdapat beberapa ketentuan untuk menentukan tajuk entri utama dan tajuk entri tambahan
bagi bahan pustaka di perpustakaan. Berikut adalah ketentuan penentuan tajuk entri utama ataupun
entri tambahan (Miswan, 2003).
Page | 157
a. Karya pengarang tunggal
Karya pengarang tunggal adalah karya yang disusun atau ditulis oleh satu atau seorang
pengarang. Tajuk entri utama untuk karya ini adalah pada pengarangnya.
Contoh:
Manajemen Perlengkapan Sekolah: Teori dan Aplikasinya / oleh Ibrahim Ba fadal. Tajuk
entri utama yakni pada Ibrahim Bafadal sebagai pengarang, sedangkan entri tambahan pada
judul dan subjek.
Karya pengarang ganda adalah karya yang ditulis dan disusun oleh dua orang atau lebih
secara Bersama-sama. Karya pengarang ganda dapat dibedakan menjadi tiga, yakni.
Karya ini terdiri atas lebih dari satu pengarang dan salah satu diantaranya merupakan
pengarang utama. Sedangkan pengarang lain merupakan pengarang pembantu. Tajuk
entri utama ditentukan oleh pengarang utama, sedangkan entri tambahan dibuat untuk
pengarang pembantu yang pertama kali disebut, entri tambahan judul dan subjek.
Contoh: Tajuk Subyek untuk Perpustakaan / disusun oleh J.N.B. Tairas dibantu oleh
Rojani, Taslimah, Kailani Eryono. Tajuk entri utama pada J.N.B. Tairas, entri
tambahan pada Rojani, judul dan subjek.
Karya ini merupakan karya yang ditulis oleh tiga pengarang tanpa ada pengarang
utama, maka tajuk entri utama ditentukan pada pengarang yang pertama kali pada
halaman judul. Sedangkan entri tambahan dibuat dari dua pengarang lainnya, judul
dan subjek.
Contoh: Manajemen Perpustakaan: Penerapan TQM dan CRM / oleh Elva Rahmah,
Marlini, Gustina Erlianti. Tajuk entri utama pada Elva Rahmah, entri tambahan pada
Marlini dan Gustina Erlianti, pada judul dan subjek.
Page | 158
c) Karya lebih dari tiga orang
Karya ini ditulis oleh lebih dari tiga orang tanpa ada pengarang utama. Tajuk entri
utama ditentukan pada judul, sedangkan entri tambahan dibuat dari nama pengarang
yang pertama kali disebut dan pada subjek.
Contoh: Manajemen Pendidikan / oleh Cepi Safruddin Abdul Jabar, Lantip Diat P,
Lia Yuliana, Mada Sutapa, MD Niron, Meilina Bustari, MM. Wahyuningrum,
Nurtanio Agus P, Pandit Isbianti, Rahmania Utari, Setya Raharja, Slamet Lestari,
Sudiyono, Suyud, Tina Rahmawati, Udik Budi Wibowo, Wiwik Wijayanti, tajuk entri
utamanya yakni pada judul (Manajemen Pendidikan), sedang entri tambahan pada
Cepi Safruddi Abdul Jabar (pengarang yang disebut pertama) dan pada subjek.
c. Karya kumpulan
Karya kumpulan merupakan karya lebih dari tiga orang dan di bawah pimpinan seorang
editor atau penyunting, serta ada judul kolektifnya. Tajuk entri utama pada judul kolektif
sedangkan entri tambahan pada editor atau penyunting dan subjek.
Contoh: Agenda aksi liberalisasi ekonomi dan politik di Indonesia / Kumpulan tulisan 18
Orang (Rizal Ramli, Anggito Abimanyu, Hamzah Haz, Dawam Rahardjo, … dkk, ketua tim
editor, Kumala Hadi. Tajuk Entri utama pada judul (Agenda aksi …), entri tambahan pada
Kumala Hadi (editor) dan pada subyek.
d. Karya campuran
Karya campuran adalah karya yang terdapat beberapa pengarang yang telah
menyumbangkan isi kecendikiaan pada suatu karya dengan fungsi yang berbeda -beda
(penerjemah, penyadur, penggubah, dan lain-lain). Penentuan tajuk entri utama tergantung
pada peranan pengarang pada karya tersebut.
a) Terjemahan
Jika karya terjemahan, maka tajuk entri utama ditentukan pada pengarang asli, entri
tambahan dibuat pada penerjemah, judul dan subjek.
Page | 159
Contoh: Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed / oleh John W.
Creswell, diterjemahkan oleh, Achmad Fawaid. Tajuk entri utama yakni pada John W.
Creswell (pengarang asli), sedangkan entri tambahan pada Achmad Fawaid
(penerjemah), judul dan subjek.
b) Saduran
Jika karya saduran (ringkasan, uraian), maka tajuk entri utama bukan pada pengarang
asli, tetapi pada penyadur. Entri tambahan yakni pada pengarang asli, judul dan subjek.
Contoh: Sahih muslim bi syarh al-Nawawi / oleh Imam Nawawi, tajuk entri utama pada
Imam Nawawi (pembuat syarah). Sedangkan entri tambahan pada Imam Muslim
(Pengarang asli Sahih Muslim), judul dan subjek.
e. Karya anonim
Karya anonim merupakan karya yang tidak diketahui pengarangnya atau nama
pengarangnya tidak jelas. Untuk karya ini, tajuk entri utamanya adalah pada judul.
Badan korporasi merupakan suatu organisasi atau kumpulan orang-orang yang dikenal
dengan nama tertentu dan bertindak atau dapat bertindak atas nama sebagai suatu kesatuan.
Badan korporasi dianggap sebagai pengarang, jika isi publikasi merupakan tanggung jawab
badan yang bersangkutan dan bukan tanggung jawab anggotanya meskipun nama anggota
tercantum sebagai penyusun.
Tajuk utama ditetapkan pada nama badan korporasi yang bersangkutan, sedangkan entri
tambahan yakni pada judul, subjek serta nama orang yang Menyusun (jika disebut di
halaman judul dan dianggap perlu).
Contoh: The International Bank for Reconstruction and Development / oleh The World
Bank, tajuk entri utama pada The World Bank/Bank Dunia (Badan Korporasi), entri
tambahan pada judul dan subjek.
Page | 160
Setelah tajuk nama pengarang (nama orang/badan korporasi) sudah ditentukan, selanjutnya
kegiatan yang dilakukan yakni menentukan kata utama pada tajuk tersebut akan akan
ditulis/cantumkan dalam katalog. Cara penulisannya sebagai berikut (Mufid, 2013)
Penulisan tajuk dimulai dengan kata utama lalu dipisahkan dengan tanda koma (,) dan diikuti
nama lainnya. Berikut adalah tabel penulisan tajuk nama orang.
Page | 161
No Jenis Uraian Nama Contoh Nama Kata Utama Cara Penulisan
8 Nama Jerman Otto Zur Linde Zur Linde (pada ZUR LINDE,
kata awalan) Otto
9 Nama Inggris August De De Morgan DE MORGAN,
Morgan (pada kata August
awalan)
10 Nama Perancis Rene Ia Bruyure Ia Bruyure (pada IA BRUYURE,
kata awalan) Rene
Suatu badan korporasi akan ditetapkan sebagai tajuk jika memenuhi persyaratan:
a) karya-karya yang bersifat administratif seperti kebijakan, prosedur, keuangan dan lain-
lain;
b) sebagai karya perundang-undang, dektrit presiden, perjanjian internasional,
kepengurusan pengadilan, produk-produk legislative, karya keagamaan, hukum
keagamaan dan karya liturgi;
c) sebagai laporan komisi, laporan penelitian bukan perorangan dan sebagainya;
d) laporan hasil penelitian ilmiah seperti diksusi, seminar dan sebagainya;
e) rekaman kegaitan kelompok pertunjukan (Suhendar, 2016).
Page | 162
No Jenis Uraian Badan Contoh Nama Cara Penulisan
4 Badan Bawahan dari Direktorat Jenderal Pajak INDONESIA, Direktorat
Badan Pemerintah Kementerian Keuangan Jenderal Pajak
5 Badan-badan Peradilan dan Pengadilan Negeri Bantul INDONESIA, Pengadilan
Kejaksaan Tinggi (Bantul)
6 Angkatan Bersenjata Angkatan Darat INDONESIA, Angkatan
Darat
7 Badan-badan Fungsional Pusat Dokumentasi dan PUSAT DOKUMENTASI
Informasi Ilmiah DAN INFORMASI
ILMIAH
8 Bank dan Perusahaan Bank Indonesia BANK INDONESIA
Negara
9 Perguruan Tinggi Universitas Negeri UNY (Yogyakarta)
Yogyakarta
10 Lembaga Penelitian Lembaga Penelitian Lembaga Penelitian
Hortikultura Kementerian Hortikultura, Kementerian
Pertanian Pertanian
11 Stasiun Radio dan Televisi TVRI Yogyakarta TVRI (Televisi)
Yogyakarta
12 Organisasi Ikatan Pusatakawan IKATAN
Indonesia PUSATAKAWAN
INDONESIA
13 Misi atau Delegasi Delegasi Indonesia untuk INDONESIA, Delegasi
PBB untuk Perserikatan Bangsa-
Bangsa
14 Kedutaan dan Konsulat Kedutaan Besar Indonesia INDONESIA, Kedutaan
di Jepang Besar (Jepang)
15 Konferensi, Seminar dan Kongres Ikatan KONGRES IKATAN
Sejenisnya Pustakawan Indonesia PUSTAKAWAN
XIV di Surabaya Jawa INDONESIA XIV,
Page | 163
No Jenis Uraian Badan Contoh Nama Cara Penulisan
Timur Tanggal 9-12 Surabaya Jawa Timur, 9-12
Oktober 2018 Oktober 2018
16 Tempat Hiburan dan Taman Ismail Marzuki TAMAN ISMAIL
Rekreasi MARZUKI
17 Komisi, Panitia, Proyek, Panitia Nasional PANITIA NASIONAL
Tim Tetap dan sejenisnya Peringatan Hari PERINGATAN HARI
(Bagian organic suatu Kemerdekaan RI KEMERDEKAAN RI
badan korporasi)
B. Klasifikasi
Klasifikasi dapat disebut sebagai kegiatan pengatalogan subjek juga dilakukan pada tahapan
katalogisasi bahan pustaka. Pengatalogan subjek merupakan tahap menentukan subjek utama pada
sebuah koleksi. Kegiatan ini dikaitkan dengan tajuk subjek dan bagan klasifikasi. Kegiatan
pengatalogan subjek terdiri atas kegiatan:
Kegiatan ini akan menghasilkan deskripsi indeks yang merupakan wakil ringkas mengenai isi
dokumen. Selanjutnya, deskripsi indeks ini dinyatakan dalam kata -kata disebut sebagai tajuk
subjek. Deskripsi indeks juga dapat dinyatakan dengan notasi atau nomor klasifikasi yang
didapatkan dari bagan klasifikasi.
Page | 164
Klasifikasi merupakan pengelompokan sistematis suatu benda yang sama. Pada perpustakaan
bahan pustaka dapat dikelompokkan dengan kriteria tertentu agar dapat mempermudah pemustaka
dan staf perpustakaan dalam melokalisasikan bahan pustaka. Hamakonda & Tairas (2012)
mengartikan klasifikasi sebagai pengelompokan yang sistematis dari sejumlah objek, gagasan,
buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama.
Sedangkan Reitz (2004) menjelaskan klasifikasi sebagai the process of dividing objects or
concepts into logically hierarchical classes, subclasses, and sub -subclasses based on the
characteristics they have in common and those that distinguish them. Terdapat dua macam
klasifikasi, yakni:
a. Klasifikasi artifisial
b. Klasifikasi fundamental.
Klasifikasi di perpustakaan memiliki dua fungsi yakni sebagai gawai penyusunan buku di rak;
dan sebagai sarana penyusunan entri bibliografis dalam katalog tercetak, bibliografi dan in deks
dalam tata susunan sistematis (Basuki, 2019). Lebih lanjut, sebagai sarana penelusuran bahan
pustaka di rak, klasifikasi memiliki dua tujuan yaitu membantu pemakai mengidentikkan dan
melokalisasikan sebuah materi perpustakaan berdasar nomor panggil serta mengelompokkan
semua materi perpustakaan sejenis menjadi satu. Untuk mencapai tujuan pertama, digunakan
metode penomoran atau pemberian tanda yang akan mempermudah staf ataupun pemustaka dalam
menemukan berdasarkan tanda ataupun kode nomor.
Page | 165
Basuki (1991a) menjelaskan bahwa klasifikasi bertujuan untuk membantu pemustaka dalam
menemukan kembali bahan pustaka yang dikelola oleh perpustakaan. Secara lebih lengkap, berikut
merupakan tujuan dari klasifikasi.
Dengan adanya klasifikasi bahan pustaka tentunya akan menghasilkan urutan atau
susunan bahan pustaka yang bermanfaat bagi staf perpustakaan dan pemustaka.
Klasifikasi akan mengelompokkan bahan pustaka dengan subjek yang berdekatan, dan
akan memisahkan bahan pustaka yang subjeknya tidak berkaitan/berlainan.
c. Penyusunan mekanis
Jika susunan koleksi sudah berjalan maka staf perpustakaan akan segan untuk
mengubahnya. Pada susunan tersebut, dapat membantu staf perpustakaan dalam
mengatur susunan koleksi di rak. Terutama jika ada koleksi baru yang harus disisipkan
ke dalam jajaran rak koleksi.
Page | 166
1. Sistem Klasifikasi
Sistem klasifikasi perpustakaan merupakan salah satu alat yang digunakan untuk menentukan
notasi klasifikasi. Terdapat berbagai sistem klasifikasi di perpustakaan yang digunakan oleh
berbagai perpustakaan. Perkembangan sistem ini terjadi karena beragamnya kebutuhan dan
karakteristik masing-masing perpustakaan dan bidang ilmu, termasuk prioritas pengelompokkan
koleksi. Yulia et al., (2019) menjelaskan bahwa sistem klasifikasi harus memiliki ciri-ciri yakni.
a. Bersifat universal
Sebuah bagan klasifikasi yang baik adalah bersifat universal. Artinya, meliputi seluruh
bidang ilmu pengetahuan sehingga dapat digunakan berbagai pihak dari berbagai disiplin
ilmu.
Bagan klasifikasi yang baik adalah terinci dalam membagi bidang-bidang ilmu
pengetahuan.
Hakikatnya, ilmu pengetahuan akan selalu berkembang. Oleh karena itu pembagian
bagan dapat fleksibel mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan atau dapat menampung
subjek yang baru tanpa mengubah/merusak struktur bagan yang sudah ada.
e. Sistematis
Susunan bagan klasifikasi yang baik menggunakan sistem tertentu agar memudahkan
bagi para pemakainya. Dalam mebagi suatu bidang ke dalam sub-sub bidang atau
menyajikan dalam bentuk bagan susunannya harus jelas.
Page | 167
f. Mempunyai indeks
Indeks merupakan suatu daftar kata atau istilah yang disusun secara sistematis, masing-
masing mengacu pada suatu tempat.
Badan pengawas berfungsi untuk memantau dan mengawasi perkemb angan bagan
klasifikasi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan adanya badan
pengawas, bagan klasifikasi dapat terjamin selalu mutakhir/tidak ketinggalan zaman.
Terdapat beragam sistem klasifikasi yang pernah berkembangan dan digunakan oleh
perpustakaan. Diantaranya, Library Congress Classification (LCC) yang dikembangkan sejak
tahun 1899 dan mulai digunakan tahun 1901 oleh Perpustakaan Congress Amerika. Selanjutnya,
Dewey Decimal Classification yang mulai dikembangkan sejak 1873 oleh Melvil Dewey. Sistem
ini merupakan sistem klasifikasi yang paling populer di dunia. Sistem Universal Decimal
Classification (UDC) yang merupakan adaptasi dari DDC dan mulai dikembangkan pada 1885.
Pada modul ini, akan dibahas sistem yang paling banyak digu nakan oleh perpustakaan yakni DDC.
Sistem klasifikasi ini mulai dikenalkan sejak tahun 1876 yang terbit dalam sebuah pamflet
berjudul A Classification and Subject Index for Cataloguing and Arranging the Books and
Pamphlets of a Library. Penerbitan pamflet ini lah yang menandai terbitnya sistem Dewey
Decimal Classfication (DDC). Keberadaan DDC merupakan hasil kajian terhadap buku, pamflet
dan kunjungan ke berbagai perpustakaan. Oleh karena itu, DDC difungsikan sebagai klasfikasi
pengetahuan untuk keperluan menyusun buku di perpustakaan, bukan klasifikasi ilmu
pengetahuan.
DDC disajikan dalam bentuk bagan klasifikasi yang menganut prinsip desimal untuk membagi
seluruh bidang ilmu pengetahuan. Bagan ini memiliki notasi murni berdasarkan angka Arab.
Seluruh ilmu pengetahuan dibagi ke dalam 10 kelas utama dengan notasi 000 sampai 900 . Setiap
notasi sekurang-kurangnya terdiri atas tiga (3) digit angka sehingga harus menambahkan nol agar
terbentuk bilangan basis tiga digit. Setiap kelas utama dibagi lagi ke dalam 10 divisi (subklas), dan
Page | 168
selanjutnya masing-masing divisi dibagi lagi ke dalam 10 seksi. Sehingga DDC terdiri atas 10
kelas utama, 100 divisi dan 1000 seksi. Lebih lanjut, setiap seksi juga dapat dibagi lagi menjadi
sub seksi karena pola perincian ilmu pengetahuan. Berikut merupakan bagan kelas utama DDC.
Selanjutnya masing-masing kelas utama di atas akan dibagi menjadi 10 bagian yang disebut notasi.
Setiap notasi juga terdiri atas tiga bilangan dan bilangan kedua akan menjadi ciri nomor divisi.
Berikut adalah divisi untuk kelas utama ilmu-ilmu sosial (300).
Page | 169
370 Pendidikan
371 Institusi pendidikan, sekolah dan aktivitasnya
372 Pendidikan dasar
373 Pendidikan menengah
374 Pendidikan untuk orang dewasa
375 Kurikulum
376 Belum digunakan
377 Belum digunakan
378 Pendidikan tinggi
379 Isu kebijakan publik terkait pendidikan
Setiap seksi dapat dibagi lagi secara desimal apabila diperlukan. Berikut contoh pembagiannya
untuk seksi 371 (institusi pendidikan, sekolah dan aktivitasnya).
Selain bagan, DDC juga dilengkapi dengan tabel pembantu. Tabel tersebut sebagai berikut
Page | 170
Tabel 1 Subdivisi Standar
Tabel 2 Wilayah Geografis dan Periode Sejarah
Tabel 3 Subdivisi untuk Sastra
Tabel 4 Subdivisi untuk Bahasa
Tabel 5 Ras, Kelompok Etnis dan Suku Bangsa
Tabel 6 Bahasa
Notasi pada tabel tersebut adalah notasi tetap namun tidak dapat berdiri sendiri melainkan
harus digabungkan di belakang nomor tertentu dari bagan utama DDC. Fungsinya untuk
membantu memberikan kelas yang tepat sesuai dengan subjek bahan pustaka. Selanjutnya pada
DDC juga terdapat indeks relatif. Indeks merupakan suatu daftar kata atau istilah yang disusun
secara sistematis, dan mengacu pada suatu tempat. Indeks ini berfungsi untuk menunjukkan topik
yang tersusun secara sistematis dalam bagan klasifikasi serta menunjukkan aspek yang
berhubungan dari suatu subjek yang tersebar dalam bagan klasifikasi. Yulia et al., (2019), indeks
DDC disebut sebagai indeks relatif, karena sekalipun berbagai aspek dikumpulkan di bawah nama
subjek itu, dengan disebutkan lokasinya berbeda-beda dalam bagan. Setiap aspek dituntun ke satu
nomor atau lebih yang khusus sesuai dalam bagan-bagan DDC. Berikut salah satu contoh indeks
relatif yang terdapat dalam sistem klasifikasi DDC.
Gas alam
Ekonomi 333.8
Geologi 553.2
Teknologi 665.7
Pada contoh di atas, subjek gas alam yang berkaitan dengan ekonomi dikelaskan pada notasi 333.8.
Sedangkan yang berkaitan dengan geologi pada notasi 553.2 dan yang berkaitan dengan teknologi
pada notasi 665.7.
Page | 171
3. Penentuan Notasi Klasifikasi
Untuk menentukan notasi klasifikasi, hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah
menganalisis subjek. Kegiatan ini tentunya memerlukan ketelitian, kecermatan dan wawasan yang
luas karena menyangkut bidang pada ilmu pengetahuan. Dengan demikian, staf perpustakaan
khususnya perpustakaan sekolah haruslah mampu mengetahui dan mengenali bidang-bidang yang
dominan pada koleksi perpustakaan. Terlebih jika sekolahnya merupakan sekolah keagamaan,
ataupun sekolah kejuruan yang memiliki bidang-bidang khusus.
Untuk menentukan subjek terdapat beberapa Langkah yang dapat dilakukan, diantaranya.
Sebagian besar, judul buku akan memberikan petunjuk atau mencerminkan subjek yang
terkandung dalam buku tersebut. Dengan demikian, staf perpustakaan tidak perlu
melakukan analisis yang kompleks terutama pada koleksi ilmiah.
Contoh:
b. Daftar isi
Jika judul belum dapat menggambarkan isi sebuah buku, staf perpustakaan dapat
mencermati daftar isi. Biasanya akan terdapat informasi tentang bab atau bagian dari buku
yang mencerminkan subjek.
Apabila belum dapat ditentukan subjeknya, staf perpustakaan dapat mencermati kata
pengantar ataupun pendahuluan pada buku. Hal ini dikarenakan kata pengantar atau
pendahuluan akan memberikan gambaran keseluruhan terhadap isi sebuah buku.
Page | 172
d. Bibliografi atau daftar pustaka
Daftar pustaka juga dapat memberikan gambaran terkait referensi yang digunakan oleh
penulis dalam menulis buku.
Jika Langkah sebelumnya belum dapat menentukan subjek buku, maka staf perpustakaan
dianjurkan untuk membaca sebagian teks atau keseluruhan buku.
Selain cara-cara tersebut, staf juga dapat mencari sumber informasi lain seperti bibliografi katalog
penerbit, katalog dalam terbitan, atau berkonsultasi dengan pakar atau ahli. Setelah subjek sebuah
koleksi diketahui, Langkah selanjutnya yakni menentukan notasi klasifikasi berdasarkan bagan
klasifikasi DDC (Jika menggunakan sistem klasifikasi DDC).
Terdapat dua cara yang bisa dilakukan untuk menentukan notasi klasifikasi DDC. Pertama,
menggunakan bagan klasifikasi. Cara ini akan membuat proses penentuan notasi akan lebih
sistematis, dimulai dari subjek umum ke subjek yang lebih spesifik. Langkah pertama dapat
menentukan disiplin ilmunya yang akan tergambar pada kelas utama. Selanjutnya ditelusuri divisi,
seksi dan subseksi sesuai dengan kebutuhan. Kedua, dengan penelusuran melalui indeks relatif.
Cara ini dapat dilakukan setelah mendapatkan subjek sebuah koleksi, lalu dilakukan penelusuran
pada indeks terkait subjek tersebut. Cara ini membutuhkan ketelitian dan perlu memeriksa bagan
apabila notasi sudah ditemukan yang bertujuan untuk menguji apakah notasi yang ada pada indeks
tepat digunakan atau tidak.
Mengingat luas dan kompleksnya sistem notasi pada DDC, perpustakaan sekolah dapat
memiliki kebijakan mengenai digit notasi yang akan diterapkan. Hal ini dilakukan karena
pertimbangan koleksi yang bersifat umum (jika dibandingkan perpustakaan umum, perpustakaan
perguruan tinggi dan perpustakaan khusus), keterbatasan sumber daya manusia serta waktu yang
dibutuhkan untuk klasifikasi. Semakin tinggi tingkatan sekolah, maka subjek yang akan digunakan
akan semakin rinci sehingga notasinya dapat semakin panjang.
Page | 173
4. Ringkasan DDC
Berikut disajikan ringkasan Dewey Decimal Classification yang dapat digunakan untuk
menentukan notasi klasifikasi bahan pustaka.
010 BIBLIOGRAFI
011 Bibliografi umum
012 Bibliografi karya perorangan
013 Bibliografi kelompok pengarang khusus
014 Bibliografi karya anonim dan pseudonym
015 Bibliografi karya-karya wilayah
016 Bibliografi subyek
017 Katalog subyek umum
018 Katalog pengarang
019 Katalog bentuk kamus
Page | 174
024 (Belum digunakan)
025 Pelayanan dan pengelolaan perpustakaan
026 Perpustakaan khusus
027 Perpustakaan umum
028 Membaca
029 (Belum digunakan)
Page | 175
060 ORGANISASI UMUM DAN MUSEUM
061 Di Indonesia
062 di Inggris
063 di Jerman
064 di Perancis
065 di Italia
066 di Spanyol dan Portugis
067 di Rusia dan Eropa Timur
068 di lain-lain
069 Museologi
Page | 176
088 Bahasa Skandinavia
089 Bahasa-bahasa lainya
110 METAFISIKA
111 Ontologi
112 (Belum digunakan)
113 Kosmologi
Page | 177
114 Ruang
115 Waktu
116 Perubahan
117 Struktur
118 Gaya dan energy
119 Bilangan dan kuantitas
120 EPISTEMOLOGI
121 Teori ilmu pengetahuan
122 Sebab akibat
123 Determinasi dan indeterminasi yang berkaitan
124 Teleologi
125 (Belum digunakan)
126 Diri dan kepribadian
127 Tidak sadar dan bawah sadar
128 Manusia
129 Asal mula dan nasib jiwa orang
Page | 178
140 ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT KHUSUS
141 Idealisme
142 Filsafat kritis
143 Intiuisionisme dan bergsonisme
144 Humanisme dan yang berkaitan
145 Sensasionalisme
146 Naturalisme dan yang berkaitan
147 Panteisme dan sistem-sistem
148 Liberalisme, ekletisisme, tradisionalisme
149 Lain-lain sistem filsafat
150 PSIKOLOGI
151 (Belum digunakan)
152 Persepsi, gerakan, emosi
153 Proses mental dan inteligensi
154 Bawa sadar dan keadaan yang berubah
155 Psikologi diferensial dan perkembangan
156 Psikologi perbandingan
157 (Belum digunakan)
158 Psikologi terapan
159 (Belum digunakan)
160 LOGIKA
161 Induksi
162 Deduksi
163 (Belum digunakan)
164 (Belum digunakan)
165 Kekeliruan dan sumber kesalahan
166 Silogisme
167 Hipotesa
Page | 179
168 Argumen dan persuasi
169 Analogi
Page | 180
195 Filsafat Italia
196 Filsafat Spanyol dan Portugal
197 Filsafat Rusia
198 Filsafat Skandinavia
199 Filsafat lain-lain wilayah
200 AGAMA
201 Filsafat kristiani
202 Aneka ragam kristiani
203 Kamus kristiani
204 Topik-topik khusus
205 Terbitan berseri kristiani
206 Organisasi krisiani
207 Pendidikan, penelitian dalam kristiani
208 Pengolahan diantara kelompok-kelompok orang
209 Sejarah kristiani
220 ALKITAB
221 Perjanjian lama
Page | 181
222 Buku sejarah dari perjanjian lama
223 Buku puisi dari perjanjian lama
224 Buku nabi dari perjanjian lama
225 Perjanjian baru
226 Kisah para rasul
227 Surat-surat rasul
228 Wahyu
229 Buku apokrif
Page | 182
250 GEREJA KRISTEN SETEMPAT DAN JEMAAT
251 Khotbah (Homiletika)
252 Naskah-naskah khotbah
253 Teologi pastoral
254 Pengurusan & administrasi Jemaah
255 Kongresasi & orde keagamaan
256 (Belum digunakan)
257 (Belum digunakan)
258 (Belum digunakan)
259 Kegiatan parokial
Page | 183
277 Sejarah gereja di Amerika Utara
278 Sejarah gereja di Amerika Selatan
279 Sejarah gereja di wilayah lain
Page | 184
2X4 Fiqih
2X5 Akhlak dan tasawuf
2X6 Sosial dan budaya islam
2X7 Filsafat islam dan perkembangan
2X8 Aliran dan sekte dalam islam
2X9 Sejarah islam dan biografi
310 STATISTIK
311 Teori & konsep statistik
312 (belum digunakan)
313 (belum digunakan)
314 Statistik umum Eropa
315 Statistik umum Asia
316 Statistik umum Afrika
317 Statistik umum Amerika Utara
318 Statistik umum Amerika Selatan
319 Statistik umum lain-lain wilayah
Page | 185
320 ILMU POLITIK
321 Sistem-sistem pemerintahan dan negara
322 Hubungan negara dengan kelompok terorganisir
323 Hak-hak sipil dan politik
324 Proses-proses politik
325 Migrasi internasional
326 Perbudakan dan emansipasi perbudakan
327 Hubungan internasional
328 Proses-proses legislatif
329 (belum digunakan)
Page | 186
348 Undang-undang, peraturan-peraturan, perkara-perkara
349 Hukum negara bangsa tertentu
370 PENDIDIKAN
371 Manajemen sekolah, pendidikan khusus
372 Pendidikan dasar
373 Pendidikan lanjutan
374 Pendidikan orang dewasa
Page | 187
375 Kurikulum
376 Pendidikan kaum wanita
377 Sekolah dan agama
378 Pendidikan tinggi
379 Pendidikan dan negara
Page | 188
402 Etimologi
403 Kamus
404 Fonologi
405 Tata bahasa
406 (belum digunakan)
407 Dialektologi
408 Penggunaan bahasa
409 Bahasa verbal
Page | 189
430 BAHASA JERMAN
431 Sistem tulisan dan fonologi
432 Etimologi bahasa Jerman
433 Kamus bahasa Jerman
434 (belum digunakan)
435 Tata bahasa Jerman
436 (belum digunakan)
437 Bahasa Jerman bukan standar
438 Pemakaian bahasa Jerman baku
439 Lain-lain bahasa Teutonik
Page | 190
458 Pemakaian bahasa Italia baku
459 Bahasa Romawi
Page | 191
485 Tata bahasa Yunani klasik
486 (belum digunakan)
487 Bahasa Yunani sebelum dan sesudah klasik
488 Pemakaian bahasa Yunani klasik
489 Lain-lain bahasa Helenik
510 MATEMATIKA
511 Prinsip-prinsip umum
Page | 192
512 Aljabar
513 Ilmu hitung
514 Topologi
515 Analisis
516 Ilmu ukur
517 (belum digunakan)
518 (belum digunakan)
519 Prpbabilita dan matematika terapan
520 ASTRONOMI
521 Mekanika angkasa
522 Teknik, perlengkapan, bahan-bahan
523 Benda-benda angkasa khusus dan fenomena
524 (belum digunakan)
525 Bumi (geografi astronomi)
526 Geografi matematis
527 Navigasi angkasa
528 Almanak autika (efemerida)
529 Kronologi (waktu)
530 FISIKA
531 Mekanika
532 Mekanika zat cair
533 Mekanika gas
534 Bunyi
535 Optika (cahaya)
536 Panas
537 Kelistrikan dan elektronika
538 Magnetisme
539 Fisika modern
Page | 193
540 KIMIA
541 Kimia fisik dan teoritis
542 Teknik, perlengkapan, bahan-bahan
543 Kimia analitis
544 Analisis kualitatif
545 Analisis kuantitatif
546 Kimia anorganic
547 Kimia organic
548 Kristalografi
549 Mineralogi
560 PALEONTOLOGI
561 Paleobotani
562 Fosil invertebrate
563 Fosil protozoa
564 Fosil moluska
565 Lain-lain fosil invertebrate
566 Fosil vertebrata
Page | 194
567 Fosil invertebrate berdarah dingin
568 Fosil burung
569 Fosil mamalia
Page | 195
594 Moluska
595 Lain-lain invertebrate
596 Vertebrata
597 Vertebrata berdarah dingin
598 Burung
599 Mamalia
Page | 196
620 ILMU TEKNIK
621 Fisika terapan
622 Teknik pertambangan
623 Teknik militer dan nautika
624 Teknik sipil
625 Teknik jalan kereta api, jalan raya
626 (belum digunakan)
627 Teknik hidraulis
628 Teknik kesehatan (saniter)
629 Lain-lain cabang teknik
Page | 197
648 Pengaturan umum
649 Mengasuh anak dan merawat yang sakit
650 MANAJEMEN
651 Pelayanan-pelayanan kantor
652 Proses-proses komunikasi tertulis
653 Stenografi
654 (belum digunakan)
655 (belum digunakan)
656 (belum digunakan)
657 Akuntansi
658 Manajemen umum
659 Periklanan dan hubungan masyarakat
670 PABRIK-PABRIK
671 Pabrik-pabrik logam
672 Pabrik logam besi
673 Pabrik logam bukan besi
674 Kayu, gabus dan teknologi
Page | 198
675 Kegunaan umum dengan menggunakan kayu
676 Teknologi bubur kayu dan kertas
677 Tekstil
678 Elastomer dan produk elastomer
679 Lain-lain produk bahan khusus
690 BANGUNAN
691 Bahan-bahan bangunan
692 Pekerjaan-pekerjaam tambahan pada konstruksi
693 Konstruksi dalam bahan-bahan khusus untuk maksud tertentu
694 Konstruksi kayu, pertukangan kayu
695 Konstruksi atap
696 (belum digunakan)
697 Pemanasan, ventilasi, teknik pengaturan udara
698 Penyelesaian detail
699 (belum digunakan)
Page | 199
702 Aneka ragam kesenia
703 Kamus, ensiklopedi
704 Topik-topik khusus
705 Terbitan berseri
706 Organisasi dan manajemen kesenian
707 Pendidikan, penelitian
708 Gedung kesenian, museum, koleksi privat
709 Pengolahan histori dan geografis
720 ARSITEKTUR
721 Konstruksi arsitektur
722 Arsitektur kuno dan timur
723 Arsitektur abad pertengahan
724 Arsitektur modern
725 Struktur umum
726 Bangunan keagamaan
727 Gedung sekolah dan lain-lain gedung untuk pendidikan dan penelitian
728 Bangunan tempat tinggal
729 Pola dan dekorasi bangunan
Page | 200
730 SENI PLASTIK, SENI PAHAT PATUNG
731 Proses penyajian seni pahat
732 Seni pahat primitif, kuno dan timur
733 Seni pahat Yunani, Etruskan, Romawi
734 Seni pahat abad pertengahan
735 Seni pahat modern
736 Mengukir dan ukiran
737 Numismatik dan sigilografi
738 Seni keramik
739 Karya seni logam
Page | 201
757 Tubuh manusia dan bagian-bagiannya
758 Melukis dan lukisan lain subyek
759 Pengolahan histois dan geografis
780 MUSIK
781 Prinsip-prinsip umum
782 Musik lokal
783 Musik suara tunggal
Page | 202
784 Instrumen dan ensambel instrumental
785 Musik ruangan
786 Instrumen papan tulis
787 Instrumen gesek
788 Instrumen angin
789 (belum digunakan)
800 KESUSASTRAAN
801 Filsafat dan teori
802 Aneka ragam
803 Kamus, ensiklopedi
804 (belum digunakan)
805 Terbitan berseri
806 Organisasi
807 Pendidikan, penelitian
808 Retorik dan kumpulan
809 sejarah dan kritik sastra
Page | 203
810 KESUSTRAAN INDONESIA
811 Puisi Indonesia
812 Drama Indonesia
813 Fiksi Indonesia
814 Esai Indonesia
815 Pidato Indonesia
816 Surat-surat Indonesia
817 Satir dan humor Indonesia
818 Aneka ragam penulisan Indonesia
819 Kesesusastraan bahasa daerah
Page | 204
838 Aneka ragam penulisan Jerman
839 Kesesusastraan bahasa Jerman lain
Page | 205
865 Pidato Spanyol
866 Surat-surat Spanyol
867 Satir dan humor Spanyol
868 Aneka ragam penulisan Spanyol
869 Kesesusastraan Portugis
Page | 206
892 Kesusastraan Afro-Asiatik
893 Kesusastraan Hamid dan Chad
894 Kesusastraan Ural-Altaik dan sebagainya
895 Kesusastraan Sino-Tibetan
896 Kesusastraan Afrika
897 Kesusastraan pribumi Amerika Utara
898 Kesusastraan pribumi Amerika Selatan
899 Lain-lain kesusastraan
Page | 207
920 BIOGRAFI UMUM, SILSILAH
921 Biografi ahli filsafat
922 Biografi alim ulama
923 Biografi ahli ilmu-ilmu sosial
924 Biografi ahli bahasa
925 Biografi ahli bidang sain
926 Biografi ahli teknologi
927 Biografi seniman
928 Biografi sejarawan, sastrawan
929 Silsilah, nama-nama lencana
Page | 208
947 Eropa Timur, Rusia
948 Eropa Utara, Skandinavia
949 Lain-lain bagian Eropa
Page | 209
974 Amerika Serikat Timur Laut
975 Amerika Serikat Tenggara
976 Amerika Serikat Selatan Tengah
977 Amerika Utara Tengah
978 Amerika Serikat Barat
979 Negara-negara bagian di Pantai Pasifik
Page | 210
C. Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi di atas, kerjakan latihan berikut!”
D. Rangkuman
Pengatalogan (katalogisasi) merupakan kegiatan analisis terhadap hal-hal penting dari suatu
bahan pustaka dan mencantumkan hasil analisis tersebut pada katalog. Proses pengatalogan
meliputi pengatalogan deskriptif dan pengatalogan subjek. Pengatalogan deskriptif meliputi
penentuan tajuk entri utama dan pembuatan deskripsi bibliografi. Sedangkan pengatalogan subjek
meliputi penentuan subjek dan nomor klasifikasi.
Fungsi utama katalog perpustakaan dibagi menjadi dua. Pertama, sebagai daftar inventaris
bahan pustaka dari suatu kelompok perpustakaan. kedua, sebagai sarana temu kembali bahan
pustaka. terdapat berbagai bentuk katalog yang digunakan oleh perpustakaan sebagai alat
penelusuran bahan pustaka. Beberapa bentuk kartu katalog antara lain katalog buku, katalog
berkas, katalog kartu, katalog komputer. Salah satu pedoman yang digunakan dalam pembuatan
katalog bagi seluruh jenis bahan pustaka adalah Anglo-American Cataloguing Rules 2.
E. Tes Formatif
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1. Penentuan tajuk entri utama dan pembuatan deskripsi bibliografi, merupakan kegiatan
pengatalogan …
Page | 211
a. Normative
b. Subjek
c. Naratif
d. Deskriptif
2. Apa yang dimaksud dengan katalog perpustakaan?
a. informasi mengenai buku-buku terbaru
b. sarana temu kembali informasi hasil kegiatan pengindeksan
c. sarana bantu perpustakaan
d. hasil dari bagian katalogisasi
3. Bentuk katalog yang berupa lembaran lepas dari kertas atau kartu yang berisi deskripsi
bibliografi setiap bahan pustaka adalah …
a. Katalog subjek
b. Katalog kartu
c. Katalog berkas
d. Katalog buku
4. Salah satu kekurangan katalog berbentuk kartu adalah …
a. perpustakaan akan kesulitan jika terjadi penambahan koleksi
b. tidak dapat digunakan langsung oleh pemustaka
c. tidak dapat langsung digunakan sebagai alat penelusuran koleksi
d. pemustaka harus antri dalam menggunakannya
5. Pernyataan terkait deskripsi fisik yang mencakup data fisik buku terletak pada bidang…
a. Bidang koleksi
b. Bidang impressum
c. Bidang judul
d. Bidang catatan atau anotasi
6. Kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui pokok bahasan suatu bahan pustaka…
a. Pengatalogan deskriptif
b. Pengindeksan subjek
c. Tajuk subjek
d. Bentuk subjek
Page | 212
7. Mengklasifikasi bahan pustaka berdasarkan isi atau subjek buku, merupakan kegiatan
klasifikasi secara . . .
a. Klasifikasi fundamental.
b. Klasifikasi artifisial
c. Klasifikasi deskriptif
d. Klasifikasi subjek
8. Suatu daftar kata atau istilah yang disusun secara sistematis …
a. Indeks
b. Subjek
c. Tajuk
d. Kelas
9. Sistem klasifikasi DDC membagi ilmu pengetahuan yang terdiri atas
a. 9 kelas utama, 100 divisi dan 1000 seksi.
b. 9 kelas utama, 200 divisi dan 2000 seksi.
c. 10 kelas utama, 100 divisi dan 1000 seksi
d. 10 kelas utama, 100 divisi dan 100 seksi
10. Untuk menentukan notasi klasifikasi, hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah ....
a. Menganalisis subjek
b. Mendeskripsikan subjek
c. Melihat bagan klasifikasi
d. Pengindeksan subjek
Cocokkanlah jawaban Saudara dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian
akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Selanjutnya, gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat penguasaan Saudara terhadap materi Kegiatan Belajar 2
Page | 213
Arti tingkat penguasaan: 90 – 100% = baik sekali
80 – 89% = baik
70 – 79% = cukup
<70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Saudara dapat meneruskan dengan
Kegiatan Belajar selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Saudara harus mengulangi materi
Kegiatan Belajar 2, terutama pada bagian yang belum dikuasai.
Page | 214
Kegiatan Belajar 3: Pascakatalogisasi (Bagian 1)
Pascakatalogisasi merupakan kegiatan tahap akhir pengolahan bahan pustaka. Kegiatan ini
terdiri atas kegiatan penyusunan kartu katalog, pemberian kelengkapan atau atribut bahan pustaka,
penjajaran bahan pustaka serta pemeliharaan atau perawatan bahan pustaka (Yulia et al., 2019).
Pada bagian ini akan dijelaskan terkait penyusunan kartu katalog serta pemberian kelengkapan
bahan pustaka dan penjajaran koleksi (shelving)
Untuk mempermudah mengambil atau memasukkan kartu katalog baru, lidi besi dipasang
dengan alat yang dapat membuat lidi besi mudah dibuka dan dipasang kembali, lidi besi dapat
diikat dengan mur ke ujung bagian belakang laci. Ukuran laci katalog sebagai berikut.
Page | 215
Gambar 29. Ukuran dan Desain Laci Katalog (Suhendar, 2016)
Page | 216
Pengolahan fisik buku ini juga berkaitan erat dengan salah satu unsur katalog. Buku harus ditata
dan disimpan sesuai dengan nomor panggil agar mempermudah pencarian kembali. Selain itu,
untuk keperluan administrasi peminjaman dibutuhkan sarana bantu seperti kartu buku, kantong
buku dan slip tanggal kembali.
Pada Online Dictionary for Library and Information Science, nomor panggil atau call
number diartikan sebagai berikut
“A unique code printed on a label affixed to the outside of an item in a library collection,
usually to the lower spine of a book or videocassette, also printed or handwritten on a label
inside the item. Assigned by the cataloger, the call number is also displayed in the
bibliographic record that represents the item in the library catalog, to identify the specific
copy of the work and give its relative location on the shelf (Reitz, 2004).”
Definisi di atas menjelaskan nomor panggil merupakan kode unik yang dicetak pada label
yang ditempelkan di luar item koleksi perpustakaan biasanya pada buku atau kaset video,
selain itu juga dicetak atau ditulis tangan pada label di dalam item. Nomor panggil dibuat oleh
pembuat katalog, juga ditampilkan pada katalog yang difungsikan untuk mengindentifikasi
salinan spesifik karya dan memberikan lokasinya di rak. Dengan demikian, nomor panggil
merupakan tanda/sandi buku yang menunjukkan tempat penyimpanan suatu buku di rak dan
yang menjadi pembeda dengan buku lainnya di perpustakaan. Nomor panggil akan
mempermudah pemustaka ataupun staf perpustakaan untuk ‘memanggil’ atau menemukan
kembali koleksi yang ada pada jajaran rak.
Nomor panggil biasanya terdiri dari nomor klasifikasi yang diikuti dengan notasi
tambahan untuk membuat nomor panggilan unik. Nomor inilah yang akan memfasilitasi untuk
melakukan penelusuran. Reitz (2004) menyebutkan umumnya nomor kelas diikuti oleh tanda
pengarang untuk membedakan karya yang satu dengan karya lainnya. Terdapat dua komponen
dalam menentukan nomor panggil yakni.
a. Nomor kelas
Nomor/notasi kelas atau klasifikasi terdiri atas beberapa digit angka atau kombinasi angka
dan huruf yang menggambarkan subjek dari sebuah buku. Notasi juga akan tergantung
sistem klasifikasi yang digunakan misalnya DDC.
Page | 217
b. Nomor buku
Nomor buku adalah inisial tanda pengarang, tanda judul dan tanda lain yang dianggap
dapat menjadi pembeda. Meskipun beberapa buku memiliki notasi klasifikasi yang sama,
belum tentu nomor ini akan sama satu dengan lainnya. Terdapat beberapa cara untuk
pembuatan nomor buku, namun untuk sistem klasifikasi DDC menggunakan tiga huruf
pertama tajuk entri utama.
Untuk menentukan nomor buku yakni dengan mengambil tiga huruf pertama dari tajuk
entri utama. Selanjutnya sebagai unsur pembeda dapat menggunakan tanda judul dan
tanda kopi atau eksemplar (c.) serta jilid (v.).
Contoh:
Penggunaan cara ini banyak digunakan pada perpustakaan di Indonesia. Nomor panggil
ini akan mempermudah penyusunan atau penjajaran buku di rak perpustakaan dengan
menurut susunan klasifikasi, kemudian tanda pengarang, selanjutnya tanda judul dan
tanda eksemplar.
Selain itu, nomor panggil dapat dilengkapi dengan tanda yang membedakan jenis
lokasi ataupun jenis koleksi. Misalnya bagi beberapa koleksi referens ditambahkan tanda ‘R’
pada bagian atas nomor panggil seperti contoh berikut.
Page | 218
Nomor panggil ini juga dibuat pada katalog sebagai tanda lokasi di rak. Pada proses temu
kembali koleksi, pemustaka dapat menyesuaikan antara nomor panggil yang ada pada katalog
dengan nomor panggil yang ditempelkan pada punggung buku. Nomor panggil ini dapat
dibuat pada kertas label atau menggunakan komputer yang dicetak pada label. Ukuran label
disesuaikan dengan kebijakan perpustakaan menggunakan prinsip konsistensi. Artinya tidak
ada perubahan yang signifikan terkait gaya selingkung atau ukuran label no mor panggil.
Penempatan label pada punggung buku biasanya ditempatkan sekitar 2 cm atau 3 cm dari
bawah buku. Berikut contoh label pada punggung buku di perpustakaan.
WIDURA PUSTAKA
PERPUSTAKAAN SD PRESTASI UNGGUL
020
FAD
m
c.2
Gambar 30. Label pada Punggung Buku
Setelah nomor panggil selesai ditempatkan pada punggung buku, kegiatan pengolahan
fisik/penyelesaian koleksi selanjutnya yakni melengkapi fisik buku untuk kebutuhan
peminjaman/sirkulasi.
C. Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi di atas, kerjakan latihan berikut!
1) Jelaskan tujuan dari kegiatan pasca katalogisasi!
2) Analisislah perbedaan antara nomor kelas dengan nomor buku!
D. Rangkuman
Kegiatan pasca katalogisasi terdiri atas kegiatan penyusunan kartu katalog, pemberian
kelengkapan atau atribut bahan pustaka, penjajaran bahan pustaka serta pemeliharaan atau
perawatan bahan pustaka. Kartu katalog yang dihasilkan melalui proses katalogisasi disimpan dan
disusun pada laci katalog dan daftar penggerakan. Dalam penjajaran kartu katalog terdapat
Page | 219
beberapa sistem yang dapat diguankan yaitu sistem katalog abjad dan Sistem katalog kelas. Nomor
panggil merupakan tanda/sandi buku yang menunjukkan tempat penyimpanan suatu buku di rak
dan yang menjadi pembeda dengan buku lainnya di perpustakaan. Nomor panggil biasanya terdiri
dari nomor klasifikasi yang diikuti dengan notasi tambahan untuk membuat nomor panggilan unik.
E. Tes Formatif
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1. Berikut merupakan kegiatan pasca katalogisasi kecuali …
a. penyusunan kartu katalog
b. pemberian kelengkapan,
c. penjajaran bahan pustaka
d. pencatatan inventaris
2. Kartu yang dihasilkan melalui proses katalogisasi disebut
a. Kartu buku
b. Kartu anggota
c. Kartu katalog
d. Kartu koleksi
3. Kode unik yang dicetak pada label dan digunakan untuk menunjukkan tempat
penyimpanan suatu buku di rak adalah …
a. Nomor kelas
b. Nomor panggil
c. Nomor klasifikasi
d. Nomor inventaris
4. Kelengkapan fisik buku yang digunakan sebagai wakil buku ketika buku sedang dipinjam
adalah …
a. Kantong buku
b. Kartu anggota
c. Label buku
d. Kartu buku
5. Ukuran standar katalog kartu …
Page | 220
a. 12.5 × 7.5
b. 7.5 × 12.5
c. 8.5 × 12.5
d. 8.5 × 14.5
6. Berikut merupakan fungsi dari pemasangan lidi pada lubang yang ada pada kartu
katalog kecuali …
a. Mencegah kartu katalog hilang
b. Menjaga agar kartu katalog tetap tertata rapi
c. Menjaga agar kartu katalog tetap di tempatnya
d. Mencegah kartu katalog agar tetap bersih
7. Berikut ini yang merupakan tempat penyimpanan dan penyusunan kartu katalog adalah …
a. Meja sirkulasi dan rak koleksi
b. Lemari arsip dan meja sirkulasi
c. Laci katalog dan daftar penggerakan
d. Laci katalog dan daftar inventaris
8. Komponen dalam menentukan nomor panggil yakni …
a. Nomor kelas dan nomor induk
b. Nomor induk dan nomor buku
c. Sistem klasifikasi yang digunakan dan nomor subjek
d. Nomor kelas dan nomor buku
9. Dalam sistem katalog kelas, katalog subjek disusun menurut …
a. Abjad
b. Nomor klasifikasi
c. Nomor induk
d. Nomor panggil
10. Perhatikan istilah dibawah ini
1) Nomor induk
2) Tanda judul
3) Nomor kelas
4) Tanda eksemplar
5) Tanda pengarang
Page | 221
Urutan komponen yang dibutuhkan untuk pembuatan nomor buku yang paling tepat
adalah…
a. 1, 2, 3, 4
b. 1, 3, 5. 2
c. 3, 5, 2, 4
d. 3, 2, 5, 4
Cocokkanlah jawaban Saudara dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 3 yang terdapat di
bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Selanjutnya, gunakan rumus untuk
mengetahui tingkat penguasaan Saudara terhadap materi Kegiatan Belajar 3
80 – 89% = baik
70 – 79% = cukup
<70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Saudara dapat meneruskan dengan
Kegiatan Belajar selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Saudara harus mengulangi materi
Kegiatan Belajar 3, terutama pada bagian yang belum dikuasai.
Page | 222
Kegiatan Belajar 4: Pascakatalogisasi (Bagian 2)
A. Kelengkapan Fisik Buku
Terdapat beberapa kelengkapan buku pada perpustakaan seperti kartu buku, kartu tanggal,
dan kantong buku (Soeatminah, 1992; Yulia et al., 2019). Kelengkapan buku akan membantu
mempermudah kegiatan administrasi pada sirkulasi bahan pustaka di perpustakaan.
1. Kartu Buku
Kartu buku merupakan kartu yang dibuat seukuran 7.5 cm x 12.5 cm yang ditempatkan pada
kantong pada bagian dalam sampul belakang buku di perpustakaan. Kartu buku berfungsi sebagai
kendali terhadap sirkulasi buku di perpustakaan. Dengan kartu buku maka dapa t diketahui
beberapa hal seperti.
a. apakah buku ada dalam pinjaman dan jika dalam kondisi pinjam, kapan seharusnya
dikembalikan;
b. berapa kali buku tersebut dipinjam dalam waktu tertentu, misalnya setiap enam bulan
atau setiap tahun.
Page | 223
Contoh kartu buku yang telah diisi:
a. Nomor panggil
c. Judul buku
d. Impresum
f. Nama Peminjam
g. Tanggal kembali
Kartu buku dijajarkan di dalam kotak yang disekat dengan 31 penyekat dimana setiap
penyekat dituliskan angka 1 sampai 30 untuk menyatakan tanggal dalam bulan berjalan. Pada
sistem perpustakaan konvensional, staf perpustakaan akan mengecek buku yang belum kembali
melalui kartu buku yang berada pada kotak penyimpanan kartu buku. Kartu buku yang terdeteksi
terlambat dikembalikan selanjutnya di proses oleh staf perpustakaan untu k ditindaklanjuti sesuai
dengan kebijakan perpustakaan.
Page | 224
2. Kantong Buku
Kantong buku merupakan perlengkapan pada buku yang ditempatkan pada bagian dalam
sampul belakang buku untuk menyimpan kartu buku. Penyimpanan hanya dilakukan jika buku
sedang tidak dipinjamkan. Kantong buku dapat dibuat dengan kertas manila yang direkatkan serta
diberikan identitas untuk menghindari kekeliruan dalam proses sirkulasi. Identitas yang diisi yakni
nomor panggil, tajuk entri utama (pengarang), judul buku dan nomor induk buku. Namun
penulisan identitas pada kantong buku disesuaikan kembali dengan kebutuhan masing-masing
perpustakaan. Sedangkan ukuran kantong buku akan menyesuaikan ukuran kartu buku.
00001/Pb/2021
020
FAD FADHLI, Rahmat
m Manajemen Perpustakaan
c.2
Slip tanggal kembali merupakan lembaran yang ditempelkan pada bagian belakang buku,
berhadapan langsung dengan tempat kantong dan kartu buku. Fungsinya sebagai lembar informasi
yang mengingatkan peminjam kapan buku harus dikembalikan serta mengetahui berapa kali buku
tersebut dipinjam. Tidak ada aturan mutlak pada format slip tanggal kembali ini. Hanya saja
terdapat beberapa informasi yang sebaiknya ada pada slip tanggal kembali seperti nomor
inventaris, identitas ringkas buku, nomor panggil, serta informasi yang bersifat peringatan
pengembalian kepada pemustaka.
Page | 225
WIDURA PUSTAKA 020
PERPUSTAKAAN SD PRESTASI FAD
UNGGUL
No. Inventaris : 0001/Pb/2021 m
Judul Buku Manajemen Perpustakaan c.2
:
Pengarang : Fadhli, Rahmat
PERHATIAN
Harap buku dikembalikan tepat waktu. Keterlambatan
akan dikenakan denda sebesar Rp. 500,- per hari.
Nomor Tanggal Kembali Paraf
Anggota
4. Sistem Barcode
Salah satu kelengkapan fisik yang dapat ditambahkan pada buku adalah barcode. Barcode
merupakan data optik yang dapat mengindentifikasi informasi tentang buku di perpustakaan.
Penggunaan barcode hanya dapat dilakukan bagi perpustakaan yang sudah menerapkan sistem
otomasi dalam pengelolaannya. Dengan adanya sistem ini, dapat mempermudah staf perpustakaan
dalam menyelesaikan administrasi sirkulasi. Terdapat berbagai jenis kode barcode seperti Code
39, Code 128, Interleaved 2 of 5, UPC dan EAN. Namun kode barcode yang disarankan yakni tipe
Code 39 karena seluruh karakter dapat digunakan dengan digit maksimal 16 digit. Sistem otomasi
perpustakaan akan mempermudah staf perpustakaan dalam memproduksi barcode karena biasanya
terdapat fitur untuk generate atau membuat barcode secara otomatis. Selain barcode, bagi
Page | 226
perpustakaan yang sudah menggunakan pintu sensor pun dapat melengkapi koleksinya dengan pita
magnetic atau RFID (Radio Frequency Identification).
B. Penjajaran Koleksi/Shelving
Penjajaran koleksi (shelving) merupakan kegiatan akhir dalam pascakatalogisasi bahan
pustaka di perpustakaan. Kegiatan ini merupakan penempatan dan penyusunan kembali bahan
pustaka di rak berdasarkan kategori tertentu. Kategori ini dapat berupa nomor panggil, abjad
ataupun kriteria lainnya sesuai sistem penyimpanan di perpustakaan. Pengertian lain, shelving
dapat diartikan sebagai kegiatan teknis yang dilakukan untuk memastikan buku dan bahan
informasi lainnya dapat disimpan di rak dengan benar setelah melewati proses pengolahan ataupun
setelah digunakan oleh pemustaka. Shelving atau penjajaran koleksi bertujuan untuk tersusunnya
koleksi di perpustakaan secara sistematis sehingga mudah ditemukan kembali.
a. Koleksi disusun berdasarkan jenis koleksi perpustakaan. Misalnya koleksi referensi akan
dikelompokkan pada rak koleksi referensi, koleksi sirkulasi pada rak koleksi sirkulasi dan
seterusnya.
b. Koleksi disusun berdasarkan nomor klasifikasi dari urutan terkec il hingga terbesar (pada
sistem DDC 000-900).
c. Koleksi dususun menurut huruf, nomor atau kode lain (selain sistem DDC) yang tercantum
pada label koleksi.
d. Koleksi disusun berdasarkan abjad dari tiga huruf pertama penulis/pengarang.
e. Koleksi disusun berdasarkan abjad dari satu huruf pertama judul koleksi.
f. Koleksi disusun berdasarkan eksemplar, jilid, cetakan atau volume terbitan.
Page | 227
g. Koleksi disusun di rak/tempat lain dari sebelah kiri ke kanan dalam satu rak dari atas ke
bawah.
Gambar di atas disusun berdasarkan nomor klasifikasi, nama penulis/pengarang, judul koleksi dan
eksemplar pada koleksi perpustakaan. Penyusunan dilakukan dari kiri ke kanan serta dari atas ke
bawah. Diharapkan dengan adanya penjajaran koleksi yang baik akan mempemudah penemuan
kembali informasi serta sebagai wujud komitmen staf perpustakaan dalam mengoptimalkan
pengelolaan perpustakaan. Selain itu, dalam kegiatan shelving pihak perpustakaan juga perlu
menyediakan petunjuk informasi yang jelas bagi pemustaka agar mempermud ah proses
penelusuran. Petunjuk informasi dapat berupa informasi nomor klasifikasi kelas utama (jika
menggunakan DDC) yang ditempelkan pada bagian rak.
C. Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi di atas, kerjakan latihan berikut!
D. Rangkuman
Kelengkapan buku pada perpustakaan terdiri dari kartu buku, kartu tanggal,kembali. kantong
buku dan barcode (Jika menggunakan sistem sirkulasi terkomputerisasi). Fungsi adanya kegiatan
pemenuhan kelengkapan buku adalah untuk membantu dan mempermudah kegiatan administrasi
pada sirkulasi bahan pustaka di perpustakaan. Penjajaran koleksi adalah kegiatan teknis yang
Page | 228
dilakukan untuk memastikan buku dan bahan informasi lainnya dapat disimpan di rak dengan
benar setelah melewati proses pengolahan ataupun setelah digunakan oleh pemustaka. Kegiatan
penjajaran koleksi dapat dilakukan berdasarkan nomor panggil, abjad ataupun kriteria lainnya
sesuai sistem penyimpanan di perpustakaan.
E. Tes Formatif
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1. Kartu buku merupakan kelengkapan buku pada perpustakaan yang ditempatkan pada …
a. Punggung buku
b. Halaman judul buku
c. Bagian dalam sampul belakang buku
d. Bagian dalam sampul depan buku
2. Dengan kartu buku maka dapat diketahui beberapa hal seperti …
a. Mengetahui kondisi buku
b. Mengetahui berapa kali buku dipinjam
c. Mengetahui jumlah buku
d. Mengetahui asal buku
3. Perlengkapan pada buku yang ditempatkan pada bagian dalam sampul dan berfungsi
sebagai menyimpan kartu buku disebut …
a. Label buku
b. Slip buku
c. Lidah buku
d. Kantong buku
4. Berikut ini merupakan salah satu kelengkapan fisik yang bertujuan untuk menjaga
keamanan koleksi adalah …
a. RFID
b. Lidah buku
c. Slip tanggal kembali
d. Label buku
Page | 229
5. Pada sistem perpustakaan konvensional, staf perpustakaan akan mengecek buku yang
belum kembali melalui …
a. Kantong buku
b. Slip tanggal kembali
c. Katu buku
d. Kartu katalog
6. Dibawah ini yang merupakan tujuan pemasangan identitas pada kantong buku adalah …
a. Memudahkan pemustaka dalam kegiatan temu kembali
b. Memberikan informasi tanggal pengembalian buku
c. Memberikan informasi statik peminjaman buku
d. Mencegah terjadinya kekeliruan dalam proses sirkulasi
7. Di bawah ini merupakan kelebihan menggunakan barcode dengan sistem otomasi
perpustakaan kecuali …
a. Staf perpustakaan tidak perlu mendapat pelatihan karena penggunaan sistem mudah
b. Memudahkan staf perpustakaan kegiatan peminjaman dan pengembalian koleksi
c. Memudahkan staf perpustakaan dalam memproduksi barcode
d. Terdapat banyak varian yang dapat dijumpai dipasaran,
8. Koleksi perpustakaan disusun berdasarkan …
a. Nomor klasifikasi, nama penulis/pengarang, judul koleksi dan eksemplar
b. Jenis koleksi, Nomor klasifikasi, impesium buku, judul koleksi dan eksemplar
c. Nomor inventaris, nama pengarang, nama penerbit dan judul koleksi
d. Nomor klasifikasi, nama penulis/pengarang, judul koleksi dan eksemplar
9. Pada kegiatan penjajaran koleksi bahan pustaka buku ditempatkan dengan ketentuan …
a. Dari sebelah kanan ke kiri dalam satu rak dari atas ke bawah.
b. Dari sebelah kiri ke kanan dalam satu rak dari atas ke bawah.
c. Dari sebelah kanan ke kiri dalam satu rak dari bawah ke atas.
d. Dari sebelah kiri ke kanan dalam satu rak dari bawah ke atas.
10. Perhatikan gambar dibawah ini
Page | 230
035 031 031 035
BAG SUL NAD BAS
s m k i
c.1 c.2 c.1 c.2
Urutan penjajaran koleksi yang paling tepat berdasarkan gambar di atas adalah …
a. (1), (4), (3), (2)
b. (3), (2), (4), (1)
c. (3), (2), (1), (4)
d. (1), (3), (4), (2)
Page | 231
Kunci Jawaban Tes Formatif
1. C 1. D
2. A 2. B
3. B 3. C
4. D 4. D
5. C 5. A
6. B 6. B
7. D 7. A
8. C 8. A
9. C 9. C
10. A 10. A
1. D 1. C
2. C 2. B
3. B 3. D
4. D 4. A
5. A 5. D
6. D 6. D
7. C 7. A
8. D 8. A
9. B 9. B
10. C 10. C
Page | 232
Daftar Pustaka
Bafadal, I. (2005). Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Bumi Aksara.
Basuki. (1991). Pengantar Ilmu Perpustakaan (1st ed.). Gramedia Pustaka Utama.
Basuki, S. (2019). Pengantar ilmu perpustakaan. Universitas Terbuka.
Hamakonda, T. P., & Tairas, J. N. B. (2012). Pengantar klasifikasi persepuluhan dewey. Libri.
Miswan, M. (2003). Klasifikasi dan katalogisasi: Sebuah pengantar. Workshop Perpustakaan Dan
Kearsipan, 1–20. [Link]
Mufid, M. (2013). Katalogisasi dan analisis subyek bahan pustaka: Untuk perpustakaan madrasah.
In Pendidikan dan Pelatihan Pengelolaan Madrasah se-Kabupaten Jember. STAIN Jember.
[Link]
Nashihuddin, W. (2015). Panduan penjajaran koleksi perpustakaan (Shelving).
Noerhayati, N. (1988). Pengelolaan perpustakaan (Jilid 2). Offset Alumni.
Rahayu, L. (2018). Manajemen koleksi: pengolahan bahan pustaka. In Pengelolaan perpustakaan
sekolah. Universitas Terbuka.
Rahayuningsih, F. (2013). Pengelolaan perpustakaan. Graha Ilmu.
Reitz, J. M. (2004). Online Dictionary for Library and Information Sc ience. In ABC-CLIO.
Libraries Unlimited.
Soeatminah, S. (1992). Perpustakaan kepustakawanan dan pustakawan. Kanisius.
Sophia, S. (2000). Petunjuk penggunaan kartu buku sebagai kartu kendali pada jasa sirkulasi bahan
pustaka. Seri Pengembangan Perpustakaan Pertanian, 12, 1–8.
Suhendar, Y. (2016). Pedoman katalogisasi: Cara mudah membuat katalog perpustakaan (Cet.4).
Prenadamedia.
Sumiati, O. (2018). Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Universitas Terbuka.
Sumiati, O., Rahayu, L., Rusmiyati, Y., Sudarto, Bintari, R., & Royandiah, I. (2018). Pengelolaan
Perpustakaan Sekolah. Universitas Terbuka.
Yulia, Y., & Sujana, J. G. (2009). Pengembangan koleksi. Universitas Terbuka.
Yulia, Y., Sujana, J. G., & Mustafa, B. (2019). Pengolahan Bahan Pustaka (Edisi 3). Universitas
Terbuka.
Page | 233