0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
83 tayangan111 halaman

Pengolahan dan Inventarisasi Perpustakaan

Diunggah oleh

Septi Susanti Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
83 tayangan111 halaman

Pengolahan dan Inventarisasi Perpustakaan

Diunggah oleh

Septi Susanti Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL 4: PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN: PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA

Kegiatan Belajar 1: Konsep Dasar Pengolahan dan Inventarisasi


A. Konsep Dasar Pengolahan Bahan Pustaka
Pengolahan bahan pustaka merupakan salah satu kegiatan utama di perpustakaan. Kegiatan
ini merupakan kegiatan teknis yang dilakukan oleh staf perpustakaan sebelum bahan pustaka siap
dilayankan kepada pemustaka. Kegiatan pengolahan bahan pustaka bertujuan untuk mengatur
bahan pustaka yang masuk ke perpustakaan agar dapat disimpan dengan kriteria susunan tertentu
sehingga mudah ditemukan dan digunakan oleh pemustaka.

Pengolahan bahan pustaka juga sering disebut sebagai pengorganisasian informasi.


Penyebutan ini dikarenakan kegiatan ini berfokus pada pengaturan berbagai jenis informasi yang
ada pada koleksi agar siap digunakan secara optimal. Noerhayati (1988) menjelaskan beberapa
kegiatan pengolahan bahan pustaka ke dalam kegiatan kerja professional dan non professional.
Adapun kegiatan pengolahan tersebut sebagai berikut.

1. Inventarisasi koleksi
Inventarisasi merupakan kegiatan pencatatan koleksi bahan pustaka ke dalam buku atau kartu
inventaris sebagai tanda bukti perbendaharaan perpustakaan. Kegiatan ini terdiri dari:
a. kegiatan kerja professional, menetapkan:
1) macam dan ukuran kolom dalam buku inventaris,
2) letak pemberian stempel/tanda miliki perpustakaan;
b. kegiatan kerja non professional:
1) melakukan pencatatan koleksi di buku inventaris yang telah tersedia,
2) melaksanakan pemberian stempel/tanda miliki perpustakaan sesuai dengan aturan
yang telah ditentukan.
2. Katalogisasi bahan pustaka
Kegiatan ini merupakan kegiatan pengolahan secara sistematis sehingga mudah dan siap
dimanfaatkan untuk pelayanan pemakai. Kegiatannya terdiri dari:
a. kegiatan kerja professional, menetapkan:
1) sistem katalog yang digunakan,
2) macam katalog yang akan disajikan,
3) macam dan tempat penempelan label,

Page | 123
4) sistem penyusunan katalog,
5) pedoman penyusunan koleksi di rak;
b. kegiatan kerja non professional, melaksanakan:
1) pengetikan katalog sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan,
2) pengadaan katalog sesuai dengan macam yang dipilih,
3) penempelan label sesuai dengan macam-macam tempatnya yang telah ditentukan,
4) penyusunan koleksi di rak sesuai dengan pedoman.
3. Klasifikasi bahan pustaka
Kegiatan ini merupakan pengelompokkan koleksi bahan pustaka dengan memberikan nomor
klasifikasi sesuai dengan sistem klasifikasi tertentu. Kegiatan ini terdiri dari:
a. kegiatan kerja professional:
1) menetapkan sistem klasifikasi yang akan digunakan,
2) menetapkan panjang pendeknya notasi,
3) menuliskan notasi pada setiap koleksi.
b. kegiatan kerja non professional.
4. Pemeliharaan bahan pustaka
Pemeliharaan bahan pustaka merupakan kegiatan menjaga koleksi agar dalam kondisi baik
dan siap digunakan oleh pemustaka. Kegiatan pemeliharaan bahan pustaka dapat dibagi
menjadi dua kelompok yakni preventif dan kuratif. Kegiatan ini terdiri atas.
a. kegiatan kerja professional, menetapkan:
1) metode pengawetan koleksi bahan pustaka,
2) kriteria koleksi bahan pustaka yang dianggap rusak,
3) sistem pengawasan dan penjagaan akan keutuhan koleksi bahan pustaka;
b. kegiatan kerja non professional:
1) melaksanakan pengawetan koleksi bahan pustaka,
2) memilih koleksi yang sesuai dengan kriteria,
3) melaksanakan perbaikan koleksi yang rusak dan atau dijilid,
4) melaksanakan pengawasan akan keutuhan koleksi bahan pustaka sesuai dengan
sistem yang dipakai.

Sedangkan Rahayu (2018) mengelompokkan kegiatan yang mencakup dalam pengolahan bahan
pustaka sebagai berikut.

Page | 124
1. Menyusun rencana operasional pengolahan bahan pustaka.
a. Menentukan sistem katalogisasi dan klasifikasi,
b. Menentukan kebijakan otomasi dan penggunaan komputer dalam hal mengolah,
menyimpan data dan menggunakan koleksi,
c. Merancang kartu-kartu, slip buku, dan formulir yang dibutuhkan untuk keperluan
administrasi pendayagunaan koleksi.
2. Kegiatan pra katalogisasi yang meliputi: registrasi atau invetarisasi bahan pustaka,
pemberian stempel perpustakaan sebagai tanda kepemilikan bahan pustaka.
3. Kegiatan katalogisasi bahan pustaka. Hasil dapat berupa deskripsi (entri) yang dibuat dalam
bentuk katalog, baik berupa kartu, pangkalan data komputer (database) atau lembaran lepas.
4. Kegiatan klasifikasi, yaitu pengelompokkan bahan pustaka berdasarkan subjeknya untuk
ditempatkan atau dijajarkan pada suatu tempat agar mudah ditemukan kembali.
5. Kegiatan pascakatalogisasi atau pembuatan perlengkapan bahan pustaka, yaitu kegiatan
penyiapan bahan pustaka agar siap pakai, mudah digunakan dan memelihara bahan pustaka
dalam kondisi yang baik.
6. Penjajaran kartu katalog sebagai alat temu kembali atau penelusuran bahan pustaka di
perpustakaan.
7. Penyusunan koleksi di rak, yaitu kegiatan setelah bahan pustaka selesai diolah dan siap
digunakan pemakai.
8. Perawatan atau pelestarian bahan pustaka.

Berdasarkan dua pendapat di atas ruang lingkup pengolahan bahan pustaka di perpustakaan
sangat luas. Hakikatnya, kegiatan ini berfokus agar koleksi yang sudah dikembangkan oleh
perpustakaan dengan berbagai metode yang ada, siap disajikan dan layankan kepada pemustaka.
Pada modul ini akan difokuskan pada beberapa kegiatan inti yakni inventarisasi, katalogisasi,
klasifikasi dan pascakatalogisasi serta penjajaran koleksi (shelving). Sedangkan kegiatan
perawatan bahan pustaka sudah dijelaskan pada modul bagian pengembangan koleksi. Selain itu,
modul ini juga hanya membahas proses pengolahan bahan pustaka secara konvensional.
Mengingat konsepnya tidak jauh berbeda dengan secara terkomputerisasi dan sebagian besar
perpustakaan sekolah belum menggunakan sistem pengelolaan terkomputerisasi atau otomasi
perpustakaan.

Page | 125
B. Inventarisasi
Kegiatan inventarisasi merupakan kegiatan awal yang dilakukan sebelum pengolahan bahan
pustaka dilakukan. Kegiatan ini dilakukan setelah koleksi yang d ikembangkan diterima oleh
perpustakaan. Staf perpustakaan akan melakukan seleksi koleksi yang baru saja masuk ke
perpustakaan. Terdapat dua kelompok utama koleksi yakni bahan pustaka baru dan bahan pustaka
duplikat atau tambahan eksemplar. Pada bahan pustaka baru dilakukan kegiatan pengatalogan
yang lengkap. Sedangkan bagi bahan pustaka duplikat hanya dilakukan proses pascakatalogisasi
serta penambahan informasi eksemplar pada daftar penggerakan (shelf-list). Setiap bahan pustaka
yang masuk ke perpustakaan baik dengan pembelian, pertukaran maupun hadiah harus melewati
proses inventarisasi terlebih dahulu.

Inventarisasi merupakan kegiatan pencatatan data bahan pustaka yang diterima perpustakaan
secara manual menggunakan buku induk ataupun secara elektronik melalui pangkalan data sistem
informasi perpustakaan. Kegiatan inventarisasi juga dapat dikatakan sebagai kegiatan mendaftar
bahan pustaka yang baru datang atau kegiatan meregistrasi bahan pustaka. Namun, inventarisasi
tidak hanya kegiatan mencatat ke dalam buku induk saja. Selain kegiatan tersebut, secara umum
bahan pustaka akan diberi nomor induk, diberi cap/stempel tanda kepemilikan perpustakaan.

Kegiatan pemberian cap/stempel dilakukan sebelum dilakukan data. Berikut hal yang
dilakukan dalam proses ini.

1. Pemberian cap kepemilikan perpustakaan


Cap perpustakaan merupakan cap resmi perpustakaan sebagai pemilik koleksi
(Rahayuningsih, 2013). Setiap perpustakaan dapat meletakkan cap pada halaman yang
sudah ditentukan dan pada sisi buku tergantung kebijakan perpustakaan. Cap ini juga dapat
disebut sebagai cap rahasia perpustakaan, karena penempatan cap pada setiap perpustakaan
tentunya akan berbeda dengan perpustakaan lainnya. Letak cap ini harus konsisten
misalnya pada halaman 40 setiap buku.

Page | 126
Gambar 9. Cap Kepemilikan Perpustakaan
2. Pemberian cap inventaris

Cap invetaris merupakan cap yang memuat keterangan singkat tentang buku.
Informasi ini dapat berisi nama perpustakaan, tanggal, nomor inventaris dan informasi
lainnya. Biasanya cap diletakkan pada halaman judul atau halaman akhir buku. Beberapa
variasi cap inventaris sebagai berikut

a. Menyediakan informasi lengkap seperti tanggal penerimaan, asal perolehan, nomor


inventaris, dan nomor panggil.
Contoh:

WIDURA PUSTAKA
PERPUSTAKAAN SD PRESTASI
UNGGUL
Tanggal terima : ___________________
Asal : ___________________
Nomor : ___________________
inventaris
Nomor panggil : ___________________
Gambar 10. Cap Inventaris Variasi Pertama

b. Variasi kedua menyediakan informasi tentang nomor inventaris (a), asal perolehan (b),
dan tahun perolehan (c)

WIDURA PUSTAKA
PERPUSTAKAAN SD PRESTASI UNGGUL
NO INV. 0001/Pb/2021

Page | 127
Gambar 11. Cap Inventaris Variasi Kedua

c. Variasi ketiga menyediakan informasi tentang nomor inventaris dengan kolom-


kolom kecil dengan keterangan Nomor inventaris (a), asal perolehan (b), dan tahun
perolehan (c). Perbedaan dengan variasi sebelumnya yakni tanda pemisah antar kode
inventaris.

Gambar 12. Cap Inventaris Variasi Ketiga

3. Pemberian nomor inventaris

Nomor inventaris merupakan kode yang dapat terdiri dari angka, atau campuran angka
dan huruf yang berfungsi sebagai identitas setiap koleksi perpustakaan. Nomor inventaris
dapat dibuat untuk mencerminkan informasi singkat tentang koleksi seperti asal
pengadaan. Setiap koleksi akan miliki nomor inventaris saja dan pemberian nomor
inventaris dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan masing-masing
perpustakaan.

4. Pemberian cap nomor panggil

Pemberian informasi nomor panggil (call number) dilakukan apabila menggunakan


cap pada variasi kedua dan ketiga. Jika menggunakan variasi pertama, informasi nomor
panggil sudah dituliskan di dalamnya sehingga tidak diperlukan bagian ini. Beberapa
perpustakaan menuliskan nomor panggil menggunakan pensil pada halaman judul koleksi,
tepatnya pada halaman pojok kanan atas halaman. Namun pada perpustakaan lain,
menggunakan cap khusus untuk diisikan secara manual. Untuk format pembuatan nomor
panggil silahkan dibaca pada bagian pascakatalogisasi.

Contoh:

Page | 128
WIDURA PUSTAKA
PERPUSTAKAAN SD PRESTASI
UNGGUL
Nomor

panggil


Gambar 13. Cap Nomor Panggil

5. Pencatatan ke dalam basis data inventaris

Kegiatan ini merupakan proses memasukkan nomor inventaris ke dalam basis data
inventaris. Database inventaris dapat digunakan sebagai sarana menghitung jumlah koleksi
perpustakaan, mengetahui status buku serta untuk membuat laporan statistik perpustakaan
(Rahayuningsih, 2013). Data statistik dapat berupa jumlah koleksi yang dimiliki; jumlah
eksemplar dan judul; jumlah eksemplar berbahasa Indonesia dan asing; jumlah buku
referensi, fiksi, teks dan lain-lain; jumlah anggaran yang dikeluarkan. Pada sebagian besar
perpustakaan, kegiatan ini dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemberian nomor
inventaris. Hal tersebut terjadi karena pengisian kolom pada data inventaris akan
menghasilkan kode tertentu yang sekaligus digunakan sebagai nomor inventaris.

Berikut contoh halaman judul koleksi yang sudah dilakukan proses inventarisasi dengan
beberapa cap oleh Perpustakaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.

Page | 129
Nomor
Nomor
panggil
inventaris

Barcode (Bagi yang


sudah terkomputerisasi)

Cap
Kepemilikan
Perpustakaan

Gambar 14. Halaman Judul pada Koleksi Perpustakaan FIP UNY

Pada perpustakaan yang besar, kegiatan inventarisasi dilakukan oleh bagian pengadaan bahan
pustaka. Hal ini dilakukan karena kegiatan pengadaan bahan pustaka akan melakukan sampai pada
tahap kegiatan penerimaan, inventarisasi dan stock opname. Sedangkan pada perpustakaan dengan
ukuran kecil, kegiatan inventarisasi dilakukan oleh bagian teknis perpustakaan yang mencakup
bagian pengadaan dan pengolahan. Proses inventarisasi secara konvensional akan dilakukan pada
buku induk. Yulia & Sujana (2009) menjelaskan beberapa fungsi dari buku induk, diantaranya.

1. Sebagai daftar inventaris koleksi perpustakaan.


2. Mengetahui jumlah koleksi perpustakaan dengan cepat.
3. Mengetahui jumlah koleksi buku yang dimiliki perpustakaan pada saat/tahun tertentu.
4. Untuk membantu mengetahui judul-judul buku yang hilang.
5. Mengetahui jumlah koleksi buku, menurut jenis, bahasa, pembelian, hadiah maupun
berdasarkan tukar menukar.

Page | 130
Dengan demikian, buku induk perpustakaan akan memberikan informasi spesifik tentang
gambaran koleksi perpustakaan baik dari segi jenis, jumlah ataupun lainnya. Selanjutnya pada
proses pencatatan ke buku induk perpustakaan, terdapat beberapa prinsip sebagai berikut.

1. Pencatatan dilakukan dengan sistem kronologis. Artinya, buku dicatat berdasarkan tanggal
penerimaannya oleh perpustakaan.
2. Buku induk terdiri atas informasi yang disajikan dalam kolom-kolom. Informasinya dapat
berupa:
a. tanggal terima;
b. nomor induk;
c. pengarang;
d. judul buku;
e. tahun terbit;
f. cara perolehan (dapat berupa pembelian, hadiah, tukar-menukar, titipan);
g. sumber dana;
h. bahasa;
i. jumlah eksemplar;
j. harga buku.
3. Tiap eksemplar akan memiliki satu nomor induk atau nomor inventaris perpustakaan.
Artinya, jika sebuah buku memiliki 3 eksemplar maka nomor induk/invetaris akan
berbeda satu dengan yang lainnya.
4. Penomoran pada buku induk dapat dimulai dengan nomor urut baru atau dibuat
berkelanjutan dari tahun ke tahun.
5. Jika buku hilang, maka keterangan akan dicatat pada buku induk perpustakaan.

Seperti pada uraian di atas, terdapat keterangan yang diperlukan pada kolom buku invent aris.
Berikut penjabaran lebih lengkapnya.

a. Tanggal pemesanan
Pada kolom ini tanggal pemesanan dicatat tentang kapan koleksi dipesan ke penerbit, toko
ataupun vendor/agen.
b. Tanggal penerimaan

Page | 131
Kolom ini berisi informasi tanggal diterimanya koleksi dari pihak penerbit, toko ataupun
vendor/agen.
c. Tanggal pembayaran
Kolom ini berisi informasi tanggal pembayaran yang dilakukan oleh perpustakaan kepada
pihak penerbit, toko ataupun vendor/agen.
d. Tanggal inventaris
Kolom ini berisi tanggal kapan koleksi diberikan nomor inventaris dan pencatatan data
ke buku inventaris dilakukan.
e. Nomor inventaris
Kolom ini berisi nomor inventaris setiap koleksi yang dibuat berurutan sesuai dengan
gaya selingkung perpustakaan.
f. Judul
Kolom ini berisi judul koleksi yang dicatat ke dalam buku inventaris/buku induk. Judul
buku yang terlalu panjang tidak perlu ditulis lengkap tetapi jika cukup ditambahkan tanda
titik sebanyak tiga buah atau tanda ellipsis. Jika terdapat anak judul maka penulisan
dipisahkan dengan tanda titik dua (:). Sedangkan jika terdapat judul parallel, maka
dipisahkan dengan tanda sama dengan (=).
Contoh:
Judul lengkap: Metode membaca, menghafal, dan menajwidkan al-Qur’an al-karim
Penulisan dapat dibuat: Metode membaca, menghafal …
g. Pengarang
Kolom ini berisi nama pengarang dari koleksi yang dicatat. Penulisan pengaran ditulis
nama belakang atau nama keluarga terlebih dahulu karena menyesuaikan dengan
peraturan pengatalogan. Jika pengarang terdiri atas dua atau tiga orang, dituliskan
seluruhnya. Namun jika lebih dari tiga, ditulis nama pengarang pertama saja, kemudian
ditambahkan et al.
h. Edisi
Kolom ini berisi edisi dari koleksi yang dicatat.
i. Kota Terbit
Kolom ini berisi nama kota tempat penerbit dari koleksi yang sedang dicatat.
j. Penerbit

Page | 132
Kolom ini berisi nama penerbit dari koleksi yang sedang dicatat.
k. Tahun terbit
Kolom ini berisi tahun terbit dari koleksi yang sedang dicatat.
l. Jumlah eksemplar
Kolom ini berisi jumlah eksemplar dari koleksi yang sedang dicatat.
m. Bahasa
Kolom ini dituliskan bahasa dari koleksi yang sedang dicatat.
n. Asal
Kolom ini dituliskan nama toko atau agen penjual koleksi.
o. Harga satuan
Kolom ini dituliskan harga buku satuan seperti yang tercantum pada bukti pembayaran.
p. Keterangan
Kolom ini dicatat keterangan tambahan tentang koleksi yang bersangkutan misalnya
hilang, rusak, fotokopi, ganti baru dan sebagainya (Rahayuningsih, 2013).

Salah satu kelemahan dari inventarisasi di atas, hanya difokuskan pada koleksi yang
dikembangkan melalui metode pembelian saja. Sehingga, jika perpustakaan memiliki koleksi
dengan metode hadiah akan membutuhkan format yang berbeda pula. Dengan demikian, buku
inventaris akan dibedakan berdasarkan asal/metode pengadaan koleksinya.

Pada proses pencatatan, format buku inventaris/buku induk akan berbeda antara satu
perpustakaan dengan perpustakaan yang lainnya. Perbedaan ini didasari atas kebutuhan masing-
masing perpustakaan sehingga menciptakan gaya selingkung tersendiri. Pada tujuannya,
keterangan dan format tabel yang ada pada buku inventarisasi akan memberikan informasi pada
pengelola perpustakaan dan sekolah secara umum tentang gambaran koleksi perpustakaan.
Beberapa sekolah diantaranya, mengikuti format yang diberikan oleh Dinas Pendidikan setempat
terkait teknis petunjuk teknis inventarisasi asset sarana prasarana sekolah.

Berikut adalah merupakan beberapa contoh tabel inventaris berdasarkan keterangan di atas.

Page | 133
Tabel 4. Tabel Inventarisasi Pembelian (Rahayuningsih, 2013)

Tanggal Nomor Ed/ Kota Tahun Jlm


No Judul Pengarang Penerbit Bhs Asal Harga Ket.
Pesan Terima Bayar Inventaris Inventaris Cet. Terbit terbit Eks
1 01/01/21 01/02/21 01/02/21 05/02/21 1- Teori & Yusup, Ed.1 Jakarta Kencana 2010 2 Indo Kencana 115.000
2/WP/Pb/II/21 Praktik Pawit M & Grup
Penelusuran Subekti,
Informasi Priyo
2 15/01/21 02/02/21 02/02/21 11/02/21 3/WP/Pb/II/21 Teori dan Ali, Bandung Pustaka 2019 1 Indo Pustaka 72.000
Praktik Sambas M. Setia Jaya
Sistem
Kearsipan
3 15/01/21 02/02/21 02/02/21 11/02/21 4/WP/Pb/III/21 Memahami Sagala, Bandung Alfabeta 2013 1 Indo Pustaka 81.000
Organisasi Syaiful Jaya
Pendidikan
4 15/01/21 02/02/21 02/02/21 11/02/21 5- Manajemen Bafadal, Cet.5 Jakarta Bumi 2014 2 Indo Pustaka 42.000
6/WP/Pb/II/21 Perlengkapan Ibrahim Aksara Jaya
Sekolah
5 15/01/21 02/02/21 02/02/21 11/02/21 7/WP/Pb/II/21 Thai: Speak Golding, Singapore Periplus 2013 1 Asing Pustaka 150.000
Thai with Michael & Jaya
Confidence Jai-Ua,
Bejawan
6 13/02/21 03/04/21 15/02/21 01/05/21 8/WP/Pb/V/21 Praktik Sugihastuti Yogyakarta Pustaka 2016 1 Indo Kubuku 88.000
Penyuntingan Pelajar
Kalimat
Contoh nomor inventaris di atas 3/PPC/Pb/II/21 memiliki keterangan:

3 : Nomor urut ketiga

PPC : pemilik koleksi atau nama perpustakaan (WP = Perpustakaan Widura Pustaka)

Pb : kode pembelian

II : kode bulan pencatatan

21 : Tahun 2021

/ : Tanda pemisah masing-masing unsur

Page | 134
Tabel 5. Format Buku Inventarisasi (Yulia & Sujana, 2009)

No Tanggal Asal Bahasa Sumber


Pengarang Judul Penerbit Thn Jumlah Harga Ket
Inventaris Terima B H T I E A dana
20210001- 01/02/21 Yusup, Teori & Kencana 2010 v v 2 BOS 115.000
2 Pawit M & Praktik
Subekti, Penelusuran
Priyo Informasi
20210003 02/02/21 Ali, Teori dan Pustaka 2019 v v 1 BOS 72.000
Sambas M. Praktik Setia
Sistem
Kearsipan

Nomor inventaris di atas seperti 20210001-2 memiliki makna

2021 : Tahun pada nomor inventaris

1-2 : Buku urut pertama dan kedua.

Dengan demikian, pada baris pertama tersebut terdiri atas dua nomor inventaris yakni 20210001 dan 20210002.

Tabel 6. Format Buku Inventaris (Bafadal, 2005)

Impresum Harga
Nomor
N Tangg Pengara Jud Jilid/Edi Jumla Tahu Sumbe Satua Jumla Keterang
Kot Penerb Klasifika
o al ng ul si h n r n h an
a it si
terbit
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Page | 135
Keterangan:

kolom 1 : Nomor urut


kolom 2 : Tanggal pada waktu buku diinventarisasi
kolom 3 : Nama pengarang buku yang diinventarisasi
kolom 4 : Judul buku yang diinventarisasi (lengkap dengan sub judulnya)
kolom 5 : Jilid dan edisi atau cetakan buku
kolom 6 : Jumlah buku yang diinventarisasi
kolom 7 : Kota terbit buku yang diinventarisasi
kolom 8 : Penerbit buku
kolom 9 : Tahun terbit
kolom 10 : Sumber atau asal buku
kolom 11 : Harga setiap buku
kolom 12 : Jumlah harga buku keseluruhan (dalam satu judul)
kolom 11 : Nomor klasifikasi buku (berdasarkan bagan klasifikasi)
kolom 12 : Keterangan-keterangan atau catata-catatan tertentu bilamana perlu

C. Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi di atas, kerjakan latihan berikut!
1) Analisislah mengapa perpustakaan memerlukan adanya kegiatan pengelolaan bahan
pustaka!
2) Buatlah bagan rangkaian kegiatan inventarisasi koleksi di perpustakaan!

D. Rangkuman
Kegiatan pengolahan bahan pustaka bertujuan untuk mengatur bahan pustaka yang masuk ke
perpustakaan agar dapat disimpan dengan kriteria susunan tertentu sehingga mudah ditemukan dan
digunakan oleh pemustaka. Pengolahan bahan pustaka berfokus agar koleksi yang sudah
dikembangkan oleh perpustakaan dengan berbagai metode yang ada, siap disajikan dan layankan
kepada pemustaka. Beberapa kegiatan inti dalam pengolahan bahan pustaka yakni inventarisasi,
katalogisasi, klasifikasi dan pasca katalogisasi serta penjajaran koleksi (shelving).

Page | 136
Inventarisasi merupakan kegiatan pencatatan data bahan pustaka yang diterima
perpustakaan secara manual menggunakan buku induk ataupun secara elektronik melalui
pangkalan data sistem informasi perpustakaan. Secara umum kegiatan yang dilakukan dalam
proses Inventarisasi bahan pustaka adalah pemberian cap, pemberian nomor inventaris dan
pencatatan ke dalam basis data inventaris.

F. Tes Formatif
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1. Berikut yang tidak termasuk kegiatan pengelolaan koleksi pustaka adalah …


a. Inventarisasi koleksi pustaka
b. Penjajaran koleksi pustaka
c. Pengadaan koleksi pustaka
d. Klasifikasi koleksi pustaka
2. Pencatatan koleksi bahan pustaka ke dalam buku induk sebagai tanda bukti perbendaharaan
perpustakaan merupakan pengertian dari …
a. Inventarisasi koleksi pustaka
b. Pelestarian bahan pustaka
c. Klasifikasi bahan pustaka
d. Katalogisasi bahan pustaka
3. Berikut yang merupakan fungsi dari buku induk adalah …
a. Menggambarkan kondisi perpustakaan pada saat/tahun tertentu
b. Untuk membantu mengetahui judul-judul buku yang hilang
c. Membantu pemustaka menemukan koleksi yang dicari
d. Memberikan informasi mengenai koleksi yang dibutuhkan pemustaka
4. Secara umum kegiatan yang dilakukan dalam proses inventarisasi bahan pustaka adalah …
a. Penyiangan bahan pustaka, pemberian cap, pemberian nomor inventaris dan
pencatatan ke dalam basis data inventaris
b. Pembuatan kartu buku, pemberian cap, pemberian nomor panggil dan pencatatan
ke dalam buku induk
c. Pemberian cap, pemberian nomor panggil dan pencatatan ke dalam basis data
inventaris

Page | 137
d. Pemberian cap, pemberian nomor inventaris dan pencatatan ke dalam buku induk
5. Cap yang memuat keterangan singkat tentang buku disebut …
a. Cap nomor panggil
b. Cap kepemilikan
c. Cap inventaris
d. Cap rahasia
6. Kode yang terdiri dari angka, atau campuran angka dan huruf yang berfungsi sebagai
identitas setiap koleksi perpustakaan disebut …
a. Nomor panggil
b. Nomor inventaris
c. Nomor klasifikasi
d. Nomor perpustakaan
7. Berikut merupakan manfaat pencatatan koleksi perpustakaan ke dalam basis data
inventaris, kecuali …
a. Untuk menghasilkan kode inventaris
b. Untuk membuat laporan statistik perpustakaan
c. Untuk mengetahui status dan sumber buku
d. Untuk mempermudah layanan temu kembali
8. Berdasarkan prinsip, proses pencatatan koleksi ke dalam buku induk dilakukan dengan
sistem …
a. Abjad
b. Asal koleksi
c. Kronologis
d. Jenis koleksi
9. Kegiatan inventarisasi bahan pustaka dapat dilakukan pada saat …
a. Bahan pustaka telah selesai diolah
b. Bahan pustaka telah selesai di beri kartu katalog
c. Bahan pustaka yang baru masuk telah diseleksi
d. Bahan pustaka telah selesai diberi label
10. Berikut yang merupakan kegiatan pra katalogisasi adalah …
a. Registrasi bahan pustaka kedalam buku induk

Page | 138
b. pengelompokkan koleksi berdasar subjeknya
c. Penjajaran kartu katalog rak katalog
d. Pembuatan kartu buku, lidah buku dan kantong buku

Cocokkanlah jawaban Saudara dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di
bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Selanjutnya, gunakan rumus untuk
mengetahui tingkat penguasaan Saudara terhadap materi Kegiatan Belajar 1

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = X 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 – 100% = baik sekali

80 – 89% = baik

70 – 79% = cukup

<70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Saudara dapat meneruskan dengan
Kegiatan Belajar selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Saudara harus mengulangi materi
Kegiatan Belajar 1, terutama pada bagian yang belum dikuasai.

Page | 139
Kegiatan Belajar 2: Katalogisasi dan Klasifikasi
A. Katalogisasi
1. Konsep Dasar Pengatalogan Deskriptif

Pengatalogan (katalogisasi) merupakan proses pembuatan wakil ringkas suatu bibliografi.


Kegiatan ini melakukan analisis terhadap hal-hal penting dari suatu bahan pustaka dan
mencantumkan hasil analisis tersebut pada katalog. Proses pengatalogan meliputi pengatalogan
deskriptif dan pengatalogan subjek. Pengatalogan deskriptif meliputi penentuan tajuk entri utama
dan pembuatan deskripsi bibliografi. Sedangkan pengatalogan sub jek meliputi penentuan subjek
dan nomor klasifikasi (Sumiati, 2018).

Katalog perpustakaan merupakan hasil akhir dalam proses pengatalogan deskriptif ini.
Katalog merupakan daftar bahan pustaka baik berupa tercetak maupun noncetak yang dimiliki dan
disimpan oleh perpustakaan sebagai alat penelusuran informasi. Dengan katalog ini, pemustaka
dapat dengan mudah menemukan bahan pustaka dengan mudah melalui beberapa aspek seperti
nama pengarang, subjek ataupun judul buku. Selain itu, pada katalog perpustakaan akan tercantum
informasi fisik maupun isi dari bahan pustaka seperti judul, pengarang, penerbit, ukuran buku, kota
terbit, penerbit, tahun terbit, subjek, ISBN dan informasi lainnya.

Terdapat dua fungsi utama katalog di perpustakaan. Pertama, sebagai daftar inventaris bahan
pustaka dari suatu kelompok perpustakaan. Fungsi ini akan menunjukkan koleksi yang dimiliki
oleh perpustakaan atau kekayaan perpustakaan. Dengan melihat katalog perpustakaan, secara
langsung kita dapat dengan mudah mengetahui kondisi jumlah koleksi perpustakaan berdasarkan
subjek, pengarang dan lain sebagainya. Kedua, sebagai sarana temu kembali bahan pustaka.
Keberadaan katalog akan sangat penting bagi pemustaka agar dapat dengan mudah menemukan
koleksi perpustakaan dengan cepat dan tepat. Perpustakaan yang tidak memiliki katalog tentunya
akan menyulitkan pemustaka menelusuri koleksi yang dibutuhkan. Terlebih jika jumlah
koleksinya sangat banyak akan memperlama waktu pencarian. Fungsi ini merupakan esensi dari
katalog di perpustakaan.

Saat ini peraturan pengatalogan standar yang digunakan adalah the Anglo American
Cataloging Rules (AACR), yang digunakan secara internasional. Sedangkan juga digunakan
Machine Readable Cataloging (MARC) pada otomasi pengatalogan. Cutter pada karyanya Rules

Page | 140
for a Dictionary Catalog tahun 1986 (dalam Suhendar, 2016) menjelaskan beberapa tujuan
pembuatan katalog:

a. Memberikan kemudahan pada pemustaka dalam mencari dan menemukan bahan pustaka,
jika salah satu aspek dari bahan pustaka yang diinginkan sudah diketahui seperti nama
pengarang, judul maupun subjek.
b. Menunjukan bahan pustkaa yang dimiliki oleh perpustakaan, baik berdasarkan
pengarang, berdasarkan subjek maupun dalam bentuk literatur tertentu.
c. Untuk membantu dalam pemilihan bahan pustaka melalui berdasarkan edisi ataupun
karakternya (seperti sastra atau berdasarkan topik).

2. Bentuk Katalog Perpustakaan

Pada perkembangannya, saat ini terdapat berbagai bentuk katalog yang digunakan oleh
perpustakaan sebagai alat penelusuran bahan pustaka. Beberapa bentuk kartu katalog antara lain.

a. Katalog buku (Book catalog)

Sesuai dengan namanya, informasi tentang bahan pustaka disajikan pada


halaman-halaman yang ada pada sebuah buku. Setiap halaman akan memuat data-
data/deskripsi bibliografi setiap koleksi perpustakaan, bisa dengan ditulis maupun diketik
dengan mesin cetak. Keuntungan penerapan katalog ini yakni dapat dibuat sesuai dengan
kebutuhan dan dapat diletakkan pada berbagai tempat di perpustakaan. Sedangkan
kerugiannya, perpustakaan akan kesulitan jika terjadi penambahan koleksi karena bahan
pustaka baru tidak bisa diselipkan atau masukkan ke dalam buku yang sudah
dicetak/dibuat sebelumnya. Saat ini penggunaan katalog buku sudah jarang ditemukan di
perpustakaan,

b. Katalog berkas (sheaf catalog)

Katalog ini merupakan perkembangan katalog buku. Katalog ini berupa lembaran
lepas dari kertas atau kartu berukuran 7,5 x 12,5 cm atau 10 x 15 cm. Masing-masing
lembar akan berisi deskripsi bibliografi setiap bahan pustaka. Untuk menyatukan
lembaran-lembaran lepas tersebut, pada bagian kiri diberi lubang dan diikat menjadi satu

Page | 141
atau disatukan dengan penjepit khusus. Selanjutnya untuk menguatkan katalog berkas
biasanya pada bagian depan dan belakang dilindungi dengan karton tebal. Masing-masing
berkas akan berisi sekitar 500 sampai 600 lembar yang disusun berkas. Jilidan berkas
yang dimiliki oleh perpustakaan akan disusun menurut nomor berkas agar mempermudah
pemustaka dalam menggunakan katalog berkas ini. Keuntungan katalog berkas ini yakni
praktis digunakan karena pemustaka tidak perlu berdesak an atau antri dalam
menggunakan katalog, karena hanya menggunakan berkas katalog yang dibutuhkannya.
Sedangkan kerugiannya saat penambahan data koleksi baru/lembar kertas baru, staf
perpustakaan harus membuka penjepit atau jilid berkas.

c. Katalog kartu (Card catalog)

Katalog bentuk ini cukup banyak digunakan oleh perpustakaan konvensional.


Katalog disajikan dalam bentuk kartu yang dibuat berukuran 7,5 x 12,5 cm dengan
ketebalan 0,025 cm (kurang lebih sama tebalnya dengan karton manila). Pada bagian
bawah kurang lebih 8 mm akan dibuatkan lubang yang berfungsi untuk memasukkan lidi
besi atau kawat yang ada pada lemari katalog. Fungsinya agar kartu katalog dapat tetap
teratur dalam lemari katalog dan menahan masing-masing kartu berada pada laci.
Kumpulan kartu katalog akan disusun pada peralatan yang disebut sebagai rak katalog
sesuai dengan jenisnya masing-masing. Keuntungan penggunaan katalog kartu yakni
bersifat praktis digunakan dan saat terjadi penambahan koleksi, staf perpustakaan tinggal
menyisipkan kartu baru pada susunan katalog yang sudah ada. Sedangkan kerugiannya,
pemustaka harus antri dalam menggunakannya karena jumlahnya terbatas dan satu kartu
hanya memuat satu deskripsi bibliografi saja.

Katalog kartu berpedoman pada ketentuan sistem AACR 2 (Anglo American


Cataloguing Rules 2). Kartu katalog pada dasarnya dibedakan atas tiga macam yakni
katalog pengarang, katalog judul dan katalog subjek. Katalog pengarang adalah katalog
dengan tajuk entri utama pengarang. Dapat juga disebut sebagai katalog entri utama yang
menguraikan informasi lengkap dari sebuah katalog serta sebagai dasar bagi pembuatan
entri katalog judul dan katalog subjek (katalog entri tambahan). Katalog judul adalah
katalog kartu dengan tajuk entri tambahan judul. Sedangkan katalog subjek adalah
katalog kartu dengan entri tambahan subjek. Katalog subjek dapat dibuat lebih dari satu

Page | 142
tergantung subjek koleksi yang diidentifikasi oleh staf perpustakaan yang membuat
katalog.

Gambar 15. Contoh Katalog Kartu Perpustakaan

d. Katalog Komputer (OPAC/Online Public Access Catalog)

Bentuk katalog ini merupakan bentuk katalog yang sangat banyak digunakan di
perpustakaan khususnya bagi yang sudah terotomasi. Deskripsi bibliografi akan disimpan
di dalam basis data sistem informasi perpustakaan dan akan pemustaka dapat dengan
mudah mengaksesnya melalui judul, pengarang, subjek, penerbit dan lain nya.
Keuntungan penggunaan katalog ini akan mempermudah pemustaka dalam melakukan
penelusuran perpustakaan. Sedangkan kerugiannya, katalog akan sulit dioperasikan jika
listrik perpustakaan tidak berfungsi (pada saat mati lampu).

Gambar 16. Tampilan Halaman Utama OPAC

Page | 143
Gambar 17. Tampilan Deskripsi Bibliografis pada OPAC

3. Anglo-American Cataloguing Rules 2 (AACR2)

Anglo-American Cataloguing Rules 2 merupakan salah satu pedoman dalam pembuatan


katalog bagi seluruh jenis bahan pustaka. Pada kegiatan pengatalogan terdapat dua kegiatan utama
yakni mencatat data bibliografi bahan pustaka terlebih dahulu, dan menentukan titik akses yang
meliputi tajuk entri utama, tajuk entri tambahan dan bentuk tajuknya.

Untuk melakukan pengatalogan dengan AACR2, staf perpustakaan haruslah mengetahui


bagian-bagian buku sehingga mempermudah dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan
dalam penyusunan. Berikut sumber informasi pada daerah deskripsi buku

Tabel 7. Sumber Informasi Daerah Deskripsi Buku (Yulia et al., 2019)

No Daerah Sumber Informasi


1 Judul dan pernyataan tanggung jawab Halaman judul
2 Edisi Halaman judul, halaman lain, kolofon
3 Data khusus (tidak dipakai) -
4 Terbitan dan publikasi lainnya Halaman judul, halaman lain, kolofon
5 Deskripsi fisik Terbitan yang bersangkutan

Page | 144
No Daerah Sumber Informasi
6 Seri Halaman judul seri, halaman judul, kulit
buku, bagian lain dari publikasi
7 Catatan Sumber apa saja
8 Nomor Standar dan keterangan harga Sumber apa saja

Selanjutnya terdapat tata cara pemakaian tanda baca yang digunakan untuk pembuatan katalog
dalam bentuk kartu. Tanda baca tersebut sebagai berikut.

Tabel 8. Tanda Baca untuk Pembuatan Katalog Kartu

No Daerah Tanda baca Unsur


1 Judul dan Pernyataan 1.1 Judul sebenarnya
tanggung jawab [ ] (kurung siku) 1.2 Pernyataan jenis bahan umum
= (sama dengan) 1.3 Judul parallel
: (Titik dua) 1.4 Judul lain/anak judul
/ (garis miring) 1.5 Pernyataan tanggung jawab
; (titik koma) Pertanyaan tanggung jawab yang
kedua dan seterusnya
2 Edisi .-- 2.1 Pernyataan edisi
/ (garis miring) 2.2 Pernyataan tanggung jawab
; (titik koma) Pernyataan tanggung jawab yang
kedua dan seterusnya, sehubungan
dengan edisi ybs.
3 Data khusus Digunakan untuk terbitan berseri,
kartografi, sumber daya elektronik
4 Penerbitan .-- 4.1 Tempat terbit
: (titik dua) 4.2 Nama penerbit
, 4.3 Tahun terbit
5 Deskripsi fisik (jika tidak .-- 5.1 Jumlah halaman atau jumlah jilid
berparagraf) : (titik dua) 5.2 Pernyataan ilustrasi

Page | 145
No Daerah Tanda baca Unsur
; (titik koma) 5.3 Ukuran
+ (tanda tambah) 5.4 Lampiran
6 Seri (ditulis dalam tanda .-- 6.1 Judul seri
kurung) : (titik dua) 6.2 Keterangan seri lainnya
; (titik koma) 6.3 ISSN
; (titik koma) 6.4 Nomor seri
7 Catatan (jika tidak .--
berparagraf)
8 Nomor standar dan harga .-- ISBN
(jika tidak berparagraf) : 8.1 Harga dan sebagainya

Selanjutnya, bahasa deskripsi bagi unsur daerah 1,2,4, dan 6 disalin seperti yang tercantum
pada terbitan yang diolah. Sisipan dalam daerah tersebut ditambahkan dalam bahasa terbitan.
Sedangkan, istilah dan informasi pada daerah 3,5,7, dan 8 dicatat dalam bahasa pengatalog. Jika
di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia.

Penggunaan huruf kapital berlaku pada daerah 1,2,4, dan 6 mengacu pada bahasa dari terbitan
yang diolah. Sedangkan daerah 5,7 dan 8 menggunakan kebiasaan dalam bahasa Indonesia.
Selanjutnya, terdapat beberapa istilah yang menggunakan singkatan yakni.

a. Daerah 1 dan 2 : et al. = et alii (dan lainnya)


b. Daerah 4 : s.l = Sine loco (tempat terbit tidak diketahui)

s.n. = sine nomine (nama penerbit tidak diketahui)

c. Daerah 5 : il. = ilustrasi

cm. = sentimeter

hlm. = halaman

Singkatan resmi lainnya dapat digunakan dalam deskripsi.

Page | 146
Selanjutnya penyajian informasi dalam katalog, dapat dibagi menjadi tiga tingkatan deskripsi.
Pertama deskripsi tingkat pertama yang mencakup judul sebenarnya, pernyataan edisi, rincian
khusus mengenai bahan, penerbit pertama dan sebagainya, tahun terbit dan sebagainya, penjelasan
deksripsi fisik, catatan dan nomor standar. Deskripsi tingkat kedua mencakup unsur judul
sebenarnya termasuk informasi lain dalam judul/pernyataan tanggung jawab, pernyataan edisi,
rincian khusus mengenai bahan, tempat terbit dan sebagainya, penerbit dan sebagainya, tahun
terbit dan sebagainya, penjelasan deskripsi fisik, judul seri, ISSN seri, penomoran seri, judul
subseri dan sebagainya, catatan dan nomor standar. Sedangkan deskripsi tingkat ketiga, semua
unsur yang ditetapkan dalam peraturan harus dicantumkan informasinya bila tersedia. Pada
praktiknya, banyak perpustakaan hanya menampilkan deskripsi bibliografis pada tingkatan
deskrispi yang pertama atau kedua saja. Mengingat untuk menyantumkan seluruh informasi
(tingkat ketiga) akan memakan waktu yang banyak dalam proses pengatalogan.

Pola deskripsi bibliografis dapat dibuat secara berparagraf atau secara terus menerus. Jika
dibuat secara berparagraf, dapat terdiri atas 5 paragraf sedangkan jika dibuat secara ½ berparagraf
maka terdiri atas 4 paragraf.

a. Berparagraf
1) Judul sebenarnya = judul sejajar: anak judul/pernyataan tanggung jawab pertama;
pernyataan tanggung jawab kedua. --Edisi/Pernyataan tanggung jawab sehubungan dengan
edisi. -- data khusus.
2) Tempat terbit: Nama penerbit, tahun terbit.
3) Jumlah halaman dan/atau jumlah jilid: pernyataan ilustrasi; ukuran + lampiran atau
tambahan. -- (judul seri: keterangan seri lainnya, ISSN; No. Seri).
4) Catatan.
5) ISBN atau ISSN: Harga.
b. Setengah berparagraf
1) Judul sebenarnya = judul sejajar: anak judul/pernyataan tanggung jawab pertama;
pernyataan tanggung jawab kedua.--Edisi/Pernyataan tanggung jawab sehubungan dengan
edisi. -- data khusus. -- Tempat terbit: Nama penerbit, tahun terbit.
2) Jumlah halaman dan/atau jumlah jilid: pernyataan ilustrasi; ukuran + lampiran atau
tambahan. -- (judul seri: keterangan seri lainnya, ISSN; No. Seri).

Page | 147
3) Catatan.
4) ISBN atau ISSN: Harga.
c. Tidak berparagraf atau secara terus menerus

Judul sebenarnya = judul sejajar: anak judul/pernyataan tanggung jawab pertama; pernyataan
tanggung jawab kedua.--Edisi/Pernyataan tanggung jawab sehubungan dengan edisi. -- data
khusus. -- Tempat terbit: Nama penerbit, tahun terbit. -- Jumlah halaman dan/atau jumlah jilid:
pernyataan ilustrasi; ukuran + lampiran atau tambahan. -- (judul seri: keterangan seri lainnya,
ISSN; No. Seri). --Catatan. -- ISBN atau ISSN: Harga.

Untuk daerah yang memerlukan penyalinan informasi dari dokumen yang di katalog, tuliskan
kata yang tidak akurat atau salah ejaannya sebagaimana adanya. Lalu ikuti dengan [sic] atau i.e
dan pembetulan di antara kurung siku.

Contoh: Stastistik [sic] impor ekspor Indonesia

Losser [i.e. loser] takes all

4. Format dan Membuat Katalog Kartu

Katalog kartu akan berisi tiga komponen utama yakni nomor panggil (call number), tajuk dan
deskripsi bibliografis. Nomor panggil berisi informasi tentang nomor klasifikasi, tiga huruf
pertama dari nama utama/keluarga perngarang dan satu huruf pertama judul. Nomor panggil
ditempatkan pada bagian sebelah kiri kartu katalog pada baris ketiga dari bagian teratas kartu dan
ketukan keuda dari pinggir sebelah kiri.

Page | 148
Gambar 18. Bagian Kartu Katalog

Contoh pembuatan nomor panggil:

Nomor klasifikasi : 371.2

Nama pengarang : Ali Imron

Judul buku : Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah

Penulisan nomor panggilnya sebagai berikut:

371.2 (nomor klasifikasi)

IMR (tiga huruf nama pengarang)

M (satu huruf pertama judul)

Selanjutnya tajuk entri utama adalah kata-kata pertama yang terdapat dalam entri katalog
sebagai dasar penyusunan katalog. Tajuk ini dapat berupa nama orang atau badan korporasi yang
merupakan pengarang atau penerbit yang bertanggung jawab terhadap isi buku sebagai karya
intelektual/artistik (Suhendar, 2016). Penulisan untuk nama orang, yang ditulis adalah nama utama
atau nama keluarga. Untuk orang Indonesia menggunakan nama belakang seperti contoh berikut:

Pengarang : Ali Imron

Penulisan tajuk : IMRON, Ali

Page | 149
Penulisan tajuk entri utama ditulis pada baris ke empat dari bagian atas dan ketukan ke delapan
dari sebelah kiri.

Gambar 19. Penulisan Tajuk Utama

Selanjutnya, deskripsi bibiografis adalah kumpulan informasi bibliografis dari sebuah koleksi
yang mencakup nama pengarang, judul, edisi, kota terbit, nama penerbit, tahun terbit, keterangan
fisik (ukuran buku dan jumlah halaman), keterangan seri, ISBN, dan keterangan lain yang
dianggap perlu bagi pemustaka. Deskripsi bibliografis dapat dikelompokkan dalam 8 bagian atau
bidang seperti pada tabel 8.

a. Bidang Judul dan Pernyataan kepengarangan


a) Judul

Penulisan judul dapat meliputi judul utama atau judul sebenarnya, yakni judul yang
dituliskan pertama kali pada halaman judul. Selain itu terdapat anak judul yang
dipisahkan dari judul utama dengan titik dua; judul alternatif yakni judul lain dari
sebuah buku yang dapat dipisahkan dengan tanda baca koma (,) kemudian diikuti
kata atau; judul parallel yakni judul yang sama tapi dibuat dalam bahasa yang
berbeda dan dipisahkan dengan tanda sama dengan (=). Penempatan judul yakni
pada ketukan ke 10 dari kiri dan baris 5 dari atas.

Page | 150
Gambar 20. Contoh Penulisan Judul

No Keterangan Contoh
1 Judul utama Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah
2 Anak judul Manajemen Perlengkapan Sekolah: Teori dan Aplikasinya
3 Judul alternatif Kamus praktis Inggris-Indonesia, atau Practical English-Indonesia
Dictionary
4 Judul paralel Romi dan Yulia = Romie and Yuliet

b) Pernyataan kepengarangan

Informasi ini ditulis setelah judul yang dipisahkan dengan tanda garis miring (/).
Beberapa ketentuannya yakni penulisan nama pengarang tidak dibalik seperti
penulisan pada tajuk; jika nama pengarang dua atau tiga orang, kedua atau ketiga
dituliskan dengan dipisahkan dengan tanda baca koma (,); jika nama lebih dari tiga
orang maka ditulis pengarang pertama saja dan dilanjutkan dengan keterangan [et
al.].; untuk penerjemah, illustrator, penyunting (editor) dituliskan pada deskripsi
katalog setelah penulisan nama pengarang yang dipisahkan dengan tanda baca titik
koma (;). Penulisan nama pengarang tidak menyertakan gelar akademik.

Gambar 21. Penulisan Bidang Judul dan Pernyataan Kepengarangan

Page | 151
b. Bidang Edisi

Pada bidang edisi, terdapat beberapa ketentuan yakni.

- keterangan edisi hanya dicantumkan apabila ada keterangan edisinya saja;


- pencantuman menggunakan singkatan misalnya Edisi 4 ditulis ed. 4.;
- cetakan atau cetak ulang tanpa revisi tidak dianggap sebagai suatu edisi;
- Penempatan edisi berada setelah bidang judul dan pernyataan kepengarangan yang
dipisahkan dengan tanda baca titik strip (.--).

Contoh: Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah/ Ali Imron.--Ed.2

Gambar 22. Penulisan Edisi

c. Bidang Impresum

Bidang ini mencantumkan informasi terkait penerbitan yang terdiri atas kota penerbitan,
nama penerbit dan tahun terbit. Ketentuannya yakni sebagai berikut.

a) Impresum dicantumkan setelah keterangan edisi.


b) Penulisan kota atau tempat penerbitan didahului tanda baca titik strip (.--)
contoh : .--Yogyakarta

Page | 152
c) Jika tempat penerbitan ada dua, maka keduanya dicantumkan dengan pemisah tanda
baca titik koma (;).
Contoh: .--Yogyakarta; Surakarta
d) Jika nama tempat penerbitan tidak tercantum, gunakan istilah sine loco.
e) Penulisan nama penerbit didahului tanda titik dua (:).
Contoh: .-- Yogyakarta: UNY Press
f) Istilah PT, CV, Firma atau sejenisnya tidak dicantumkan.
g) Jika nama penerbit tidak ada, dapat menuliskan nama percetakannya.
h) Penulisan tahun penerbitan setelah nama penerbit didahului dengan tanda baca
koma (,).
Contoh: .-- Yogyakarta: UNY Press, 2021
i) Jika tahun penerbitan tidak diketahui karena tidak tercantum, pembuat katalog
dapat memperkirakannya dalam dasa warsa atau abad yang ditulis dalam kurung
siku [ ] diikuti tanda tanya (?)
Contoh: [1999?] atau [199..?] atau [19….?]

Gambar 23. Penulisan Impresum

Page | 153
d. Bidang Kolasi

Kolasi adalah pernyataan terkait deskripsi fisik yang mencakup data fisik buku (jumlah
halaman, keterangan ilustrasi/gambar dan ukuran tinggi buku). Beberapa ketentuan pada
bidang kolasi sebagai berikut.

a) Penulisan istilah dinyatakan dalam bentuk singkatan yang diikuti dengan tanda titik.
Misalnya halaman ditulis hlm.
b) Jika halaman ditulis dalam angka Romawi dan dalam angka Arab, keduanya
dicantumkan dengan dipisahkan dengan tanda koma (,).
Contoh: xi, 100 hlm.
c) Penulisan ilustrasi atau gambar ditulis setelah keterangan halaman denagn pemisah
tanda titik dua (:).
Contoh: xi, 100 hlm.: ilus.
d) Jika buku ditulis dalam beberapa jilid, maka jumlah halaman tidak perlu
dicantumkan. Namun yang dicantumkan jumlah jilid saja.
Contoh: 3 jil.
e) Penulisan ukuran tinggi buku setelah ilustrasi dinyatakan dengan cm yang
dipisahkan dengan tanda baca titik koma (;).
Contoh: xi, 100 hlm.; 25 cm.

Gambar 24. Penulisan Kolasi

Page | 154
e. Bidang Seri

Keterangan seri dicantumkan setelah ukuran tinggi buku yang ditulis di dalam tanda
kurung ( ) dengan tanda baca titik koma (;).

Contoh: xi, 100 hlm.; 25 cm. (Seri Manajemen Perpustakaan).

f. Bidang catatan atau anotasi

Bidang ini diisi dengan hal yang dinilai sangat penting. Misalnya judul asli dari karya
terjemahan atau pemberitahuan mengenai halaman bibliografi. Terdapat beberapa
ketentuan dalam pencantuman catatan yakni.

a) Catatan ditempatkan di bawah kolasi.


b) Judul asli dari suatu karya terjemahan ditulis di antara dua tanda petik (“ “).
c) Untuk menunjukkan bibliografi ditulis: Bib.: hlm …

g. Bidang ISBN (International Standard Book Number).

Jika sebuah buku memiliki ISBN, maka harus dicantummkan pada deskripsi bibliografis
di bawah catatan.

Contoh : ISBN 978-979-010-390-0

Gambar 25. Penulisan ISBN

Page | 155
h. Jejakan

Jejakan merupakan keterangan tambahan dari bahan pustaka dapat berupa pengarang
kedua, dan atau ketiga, judul dan subjek. Terdapat ketentuan dalam membuat jejakan yakni.

a) Jejakan subjek diberi nomor urut dengan angka Arab.


Contoh : 1. Pendidikan 2. Manajemen
b) Jejakan judul diberi nomor urut dengan angka Romawi, penulisan judul disingkat J
Contoh : I. J.
c) Jejakan pengarang kedua atau ketiga diberi nomor urut angka Romawi setelah judul,
penulisan dibalik seperti menuliskan nama pengarang pada tajuk.
Contoh : I. J. II. Fadhli, Rahmat

Gambar 26. Penulisan Jejakan

Untuk pembuatan katalog judul atau subjek, bagian call number, tajuk dan deskripsi
bibliografis sama seperti katalog pengarang. Hanya saja pada katalog judul/subjek, jejakan tidak
dimasukkan lagi dan ada penambahan judul pada baris kedua dari atas dan ketukan ke sepuluh dari
kiri.

Page | 156
Gambar 27. Contoh Katalog Judul

Gambar 28. Contoh Katalog Subjek

5. Penentuan Tajuk Entri Utama dan Tajuk Entri Tambahan

Terdapat beberapa ketentuan untuk menentukan tajuk entri utama dan tajuk entri tambahan
bagi bahan pustaka di perpustakaan. Berikut adalah ketentuan penentuan tajuk entri utama ataupun
entri tambahan (Miswan, 2003).

Page | 157
a. Karya pengarang tunggal

Karya pengarang tunggal adalah karya yang disusun atau ditulis oleh satu atau seorang
pengarang. Tajuk entri utama untuk karya ini adalah pada pengarangnya.

Contoh:

Manajemen Perlengkapan Sekolah: Teori dan Aplikasinya / oleh Ibrahim Ba fadal. Tajuk
entri utama yakni pada Ibrahim Bafadal sebagai pengarang, sedangkan entri tambahan pada
judul dan subjek.

b. Karya pengarang ganda

Karya pengarang ganda adalah karya yang ditulis dan disusun oleh dua orang atau lebih
secara Bersama-sama. Karya pengarang ganda dapat dibedakan menjadi tiga, yakni.

a) Karya pengarang ganda dengan pengarang utama

Karya ini terdiri atas lebih dari satu pengarang dan salah satu diantaranya merupakan
pengarang utama. Sedangkan pengarang lain merupakan pengarang pembantu. Tajuk
entri utama ditentukan oleh pengarang utama, sedangkan entri tambahan dibuat untuk
pengarang pembantu yang pertama kali disebut, entri tambahan judul dan subjek.

Contoh: Tajuk Subyek untuk Perpustakaan / disusun oleh J.N.B. Tairas dibantu oleh
Rojani, Taslimah, Kailani Eryono. Tajuk entri utama pada J.N.B. Tairas, entri
tambahan pada Rojani, judul dan subjek.

b) Karya oleh tiga pengarang

Karya ini merupakan karya yang ditulis oleh tiga pengarang tanpa ada pengarang
utama, maka tajuk entri utama ditentukan pada pengarang yang pertama kali pada
halaman judul. Sedangkan entri tambahan dibuat dari dua pengarang lainnya, judul
dan subjek.

Contoh: Manajemen Perpustakaan: Penerapan TQM dan CRM / oleh Elva Rahmah,
Marlini, Gustina Erlianti. Tajuk entri utama pada Elva Rahmah, entri tambahan pada
Marlini dan Gustina Erlianti, pada judul dan subjek.

Page | 158
c) Karya lebih dari tiga orang

Karya ini ditulis oleh lebih dari tiga orang tanpa ada pengarang utama. Tajuk entri
utama ditentukan pada judul, sedangkan entri tambahan dibuat dari nama pengarang
yang pertama kali disebut dan pada subjek.

Contoh: Manajemen Pendidikan / oleh Cepi Safruddin Abdul Jabar, Lantip Diat P,
Lia Yuliana, Mada Sutapa, MD Niron, Meilina Bustari, MM. Wahyuningrum,
Nurtanio Agus P, Pandit Isbianti, Rahmania Utari, Setya Raharja, Slamet Lestari,
Sudiyono, Suyud, Tina Rahmawati, Udik Budi Wibowo, Wiwik Wijayanti, tajuk entri
utamanya yakni pada judul (Manajemen Pendidikan), sedang entri tambahan pada
Cepi Safruddi Abdul Jabar (pengarang yang disebut pertama) dan pada subjek.

c. Karya kumpulan

Karya kumpulan merupakan karya lebih dari tiga orang dan di bawah pimpinan seorang
editor atau penyunting, serta ada judul kolektifnya. Tajuk entri utama pada judul kolektif
sedangkan entri tambahan pada editor atau penyunting dan subjek.

Contoh: Agenda aksi liberalisasi ekonomi dan politik di Indonesia / Kumpulan tulisan 18
Orang (Rizal Ramli, Anggito Abimanyu, Hamzah Haz, Dawam Rahardjo, … dkk, ketua tim
editor, Kumala Hadi. Tajuk Entri utama pada judul (Agenda aksi …), entri tambahan pada
Kumala Hadi (editor) dan pada subyek.

d. Karya campuran

Karya campuran adalah karya yang terdapat beberapa pengarang yang telah
menyumbangkan isi kecendikiaan pada suatu karya dengan fungsi yang berbeda -beda
(penerjemah, penyadur, penggubah, dan lain-lain). Penentuan tajuk entri utama tergantung
pada peranan pengarang pada karya tersebut.

a) Terjemahan

Jika karya terjemahan, maka tajuk entri utama ditentukan pada pengarang asli, entri
tambahan dibuat pada penerjemah, judul dan subjek.

Page | 159
Contoh: Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed / oleh John W.
Creswell, diterjemahkan oleh, Achmad Fawaid. Tajuk entri utama yakni pada John W.
Creswell (pengarang asli), sedangkan entri tambahan pada Achmad Fawaid
(penerjemah), judul dan subjek.

b) Saduran

Jika karya saduran (ringkasan, uraian), maka tajuk entri utama bukan pada pengarang
asli, tetapi pada penyadur. Entri tambahan yakni pada pengarang asli, judul dan subjek.

Contoh: Sahih muslim bi syarh al-Nawawi / oleh Imam Nawawi, tajuk entri utama pada
Imam Nawawi (pembuat syarah). Sedangkan entri tambahan pada Imam Muslim
(Pengarang asli Sahih Muslim), judul dan subjek.

e. Karya anonim

Karya anonim merupakan karya yang tidak diketahui pengarangnya atau nama
pengarangnya tidak jelas. Untuk karya ini, tajuk entri utamanya adalah pada judul.

f. Karya badan korporasi

Badan korporasi merupakan suatu organisasi atau kumpulan orang-orang yang dikenal
dengan nama tertentu dan bertindak atau dapat bertindak atas nama sebagai suatu kesatuan.
Badan korporasi dianggap sebagai pengarang, jika isi publikasi merupakan tanggung jawab
badan yang bersangkutan dan bukan tanggung jawab anggotanya meskipun nama anggota
tercantum sebagai penyusun.

Tajuk utama ditetapkan pada nama badan korporasi yang bersangkutan, sedangkan entri
tambahan yakni pada judul, subjek serta nama orang yang Menyusun (jika disebut di
halaman judul dan dianggap perlu).

Contoh: The International Bank for Reconstruction and Development / oleh The World
Bank, tajuk entri utama pada The World Bank/Bank Dunia (Badan Korporasi), entri
tambahan pada judul dan subjek.

Page | 160
Setelah tajuk nama pengarang (nama orang/badan korporasi) sudah ditentukan, selanjutnya
kegiatan yang dilakukan yakni menentukan kata utama pada tajuk tersebut akan akan
ditulis/cantumkan dalam katalog. Cara penulisannya sebagai berikut (Mufid, 2013)

a. Cara penulisan nama utama pada tajuk nama orang

Penulisan tajuk dimulai dengan kata utama lalu dipisahkan dengan tanda koma (,) dan diikuti
nama lainnya. Berikut adalah tabel penulisan tajuk nama orang.

Tabel 9. Penulisan Tajuk Nama Orang

No Jenis Uraian Nama Contoh Nama Kata Utama Cara Penulisan


1 Nama Tunggal Mardianto Mardianto MARDIANTO
Rahmat Fadhli Fadhli FADHLI,
Rahmat
2 Nama diri dengan nama Benhard Sitohang (nama SITOHANG,
keluarga Sitohang marga) Benhard

Kennedy (nama KENNEDY,


John F. Kennedy keluarga) John F
3 Nama yang menggunakan Abdulgani bin Abdulgani ABDULGANI
sisipan (bin, binti, ibnu, di, hasan (sebelum unsur BIN HASAN
dll) sisispan)
4 Nama dengan tanda hubung Sulistyo-Basuki Sulistyo-Basuki SULISTYO,
Basuki
5 Nama yang diakhiri dengan Lasa HS Lasa LASA, HS
inisial/singkatan
6 Nama dengan gelar Syamsudin Sutan Radjo SUTAN RADJO
kebangsawanan/keagamaan Sutan Radjo Endah ENDAH,
Endah Syamsudin
7 Nama Arab Abbas Mahmud Al-Akkab (nama AL-AKKAB,
al-Akkab yang paling Abbas Mahmud
dikenal)

Page | 161
No Jenis Uraian Nama Contoh Nama Kata Utama Cara Penulisan
8 Nama Jerman Otto Zur Linde Zur Linde (pada ZUR LINDE,
kata awalan) Otto
9 Nama Inggris August De De Morgan DE MORGAN,
Morgan (pada kata August
awalan)
10 Nama Perancis Rene Ia Bruyure Ia Bruyure (pada IA BRUYURE,
kata awalan) Rene

b. Cara penulisan tajuk utama pada nama badan korporasi

Suatu badan korporasi akan ditetapkan sebagai tajuk jika memenuhi persyaratan:

a) karya-karya yang bersifat administratif seperti kebijakan, prosedur, keuangan dan lain-
lain;
b) sebagai karya perundang-undang, dektrit presiden, perjanjian internasional,
kepengurusan pengadilan, produk-produk legislative, karya keagamaan, hukum
keagamaan dan karya liturgi;
c) sebagai laporan komisi, laporan penelitian bukan perorangan dan sebagainya;
d) laporan hasil penelitian ilmiah seperti diksusi, seminar dan sebagainya;
e) rekaman kegaitan kelompok pertunjukan (Suhendar, 2016).

Sedangkan, berikut adalah tabel penulisan tajuk badan korporasi.

Tabel 10. Penulisan Tajuk Badan Korporasi

No Jenis Uraian Badan Contoh Nama Cara Penulisan


1 Pejabat Pemerintah Presiden Soekarno INDONESIA, Presiden,
(Kepala Negara) 1945-1967 (Soekarno)
2 Pejabat Pemerintah (Selain Bupati Kabupaten Sleman SLEMAN (Kabupaten),
Kepala Negara) Bupati
3 Badan-badan Pemerintah Mahkamah Agung INDONESIA, Mahkamah
Agung

Page | 162
No Jenis Uraian Badan Contoh Nama Cara Penulisan
4 Badan Bawahan dari Direktorat Jenderal Pajak INDONESIA, Direktorat
Badan Pemerintah Kementerian Keuangan Jenderal Pajak
5 Badan-badan Peradilan dan Pengadilan Negeri Bantul INDONESIA, Pengadilan
Kejaksaan Tinggi (Bantul)
6 Angkatan Bersenjata Angkatan Darat INDONESIA, Angkatan
Darat
7 Badan-badan Fungsional Pusat Dokumentasi dan PUSAT DOKUMENTASI
Informasi Ilmiah DAN INFORMASI
ILMIAH
8 Bank dan Perusahaan Bank Indonesia BANK INDONESIA
Negara
9 Perguruan Tinggi Universitas Negeri UNY (Yogyakarta)
Yogyakarta
10 Lembaga Penelitian Lembaga Penelitian Lembaga Penelitian
Hortikultura Kementerian Hortikultura, Kementerian
Pertanian Pertanian
11 Stasiun Radio dan Televisi TVRI Yogyakarta TVRI (Televisi)
Yogyakarta
12 Organisasi Ikatan Pusatakawan IKATAN
Indonesia PUSATAKAWAN
INDONESIA
13 Misi atau Delegasi Delegasi Indonesia untuk INDONESIA, Delegasi
PBB untuk Perserikatan Bangsa-
Bangsa
14 Kedutaan dan Konsulat Kedutaan Besar Indonesia INDONESIA, Kedutaan
di Jepang Besar (Jepang)
15 Konferensi, Seminar dan Kongres Ikatan KONGRES IKATAN
Sejenisnya Pustakawan Indonesia PUSTAKAWAN
XIV di Surabaya Jawa INDONESIA XIV,

Page | 163
No Jenis Uraian Badan Contoh Nama Cara Penulisan
Timur Tanggal 9-12 Surabaya Jawa Timur, 9-12
Oktober 2018 Oktober 2018
16 Tempat Hiburan dan Taman Ismail Marzuki TAMAN ISMAIL
Rekreasi MARZUKI
17 Komisi, Panitia, Proyek, Panitia Nasional PANITIA NASIONAL
Tim Tetap dan sejenisnya Peringatan Hari PERINGATAN HARI
(Bagian organic suatu Kemerdekaan RI KEMERDEKAAN RI
badan korporasi)

B. Klasifikasi
Klasifikasi dapat disebut sebagai kegiatan pengatalogan subjek juga dilakukan pada tahapan
katalogisasi bahan pustaka. Pengatalogan subjek merupakan tahap menentukan subjek utama pada
sebuah koleksi. Kegiatan ini dikaitkan dengan tajuk subjek dan bagan klasifikasi. Kegiatan
pengatalogan subjek terdiri atas kegiatan:

a. analisis subjek, dan


b. penerjemahan unsur-unsur tersebut ke dalam bahasa indeks.

Kegiatan ini akan menghasilkan deskripsi indeks yang merupakan wakil ringkas mengenai isi
dokumen. Selanjutnya, deskripsi indeks ini dinyatakan dalam kata -kata disebut sebagai tajuk
subjek. Deskripsi indeks juga dapat dinyatakan dengan notasi atau nomor klasifikasi yang
didapatkan dari bagan klasifikasi.

Analisis subjek merupakan kegiatan mengindentifikasi subjek sebuah koleksi di perpustakaan.


Secara umum, masyarakat menyebut pengindeksan subjek sebagai kegiatan dari klasifikasi. Tetapi
sebenarnya, cakupannya meliputi penyusunan dan penggunaan tajuk subjek. Setelah dilakukan
analisis subjek, selanjutnya dilakukan penerjemahan unsur-unsur tersebut ke dalam bahasa indeks.
Jika perpustakaan menggunakan katalog subjek berkelas maka bahasa indeks yang digunakan
adalah skema klasifikasi dan deskripsi indeksnya adalah nomor klasifikasi. Sedangkan jika
perpustakaan menggunakan katalog subjek berabjad maka yang digunakan sebagai bahasa
indeksnya adalah tajuk subjek atau tesaurus dan deskripsi indeksnya adalah tajuk subjek.

Page | 164
Klasifikasi merupakan pengelompokan sistematis suatu benda yang sama. Pada perpustakaan
bahan pustaka dapat dikelompokkan dengan kriteria tertentu agar dapat mempermudah pemustaka
dan staf perpustakaan dalam melokalisasikan bahan pustaka. Hamakonda & Tairas (2012)
mengartikan klasifikasi sebagai pengelompokan yang sistematis dari sejumlah objek, gagasan,
buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama.
Sedangkan Reitz (2004) menjelaskan klasifikasi sebagai the process of dividing objects or
concepts into logically hierarchical classes, subclasses, and sub -subclasses based on the
characteristics they have in common and those that distinguish them. Terdapat dua macam
klasifikasi, yakni:

a. Klasifikasi artifisial

Klasifikasi artifisal adalah kegiatan mengelompokkan bahan pustaka berdasarkan sifat


yang ada pada bahan pustaka. Sebagai contoh: mengelompokkan berdasarkan warna
cover buku, ukuran tinggi buku, judul buku atau pengarang buku.

b. Klasifikasi fundamental.

Klasifikasi fundamental adalah kegiatan mengklasifikasikan bahan pustaka berdasar


isi atau subjek buku. Klasifikasi jenis ini paling sesuai untuk diterapkan dalam
pengelolaan koleksi di perpustakaan karena pemustaka biasanya akan mencari
informasi berdasarkan subjek yang diketahuinya, bukan berdasarkan warna cover
ataupun ukuran buku.

Klasifikasi di perpustakaan memiliki dua fungsi yakni sebagai gawai penyusunan buku di rak;
dan sebagai sarana penyusunan entri bibliografis dalam katalog tercetak, bibliografi dan in deks
dalam tata susunan sistematis (Basuki, 2019). Lebih lanjut, sebagai sarana penelusuran bahan
pustaka di rak, klasifikasi memiliki dua tujuan yaitu membantu pemakai mengidentikkan dan
melokalisasikan sebuah materi perpustakaan berdasar nomor panggil serta mengelompokkan
semua materi perpustakaan sejenis menjadi satu. Untuk mencapai tujuan pertama, digunakan
metode penomoran atau pemberian tanda yang akan mempermudah staf ataupun pemustaka dalam
menemukan berdasarkan tanda ataupun kode nomor.

Page | 165
Basuki (1991a) menjelaskan bahwa klasifikasi bertujuan untuk membantu pemustaka dalam
menemukan kembali bahan pustaka yang dikelola oleh perpustakaan. Secara lebih lengkap, berikut
merupakan tujuan dari klasifikasi.

a. Menghasilkan urutan yang bermanfaat

Dengan adanya klasifikasi bahan pustaka tentunya akan menghasilkan urutan atau
susunan bahan pustaka yang bermanfaat bagi staf perpustakaan dan pemustaka.
Klasifikasi akan mengelompokkan bahan pustaka dengan subjek yang berdekatan, dan
akan memisahkan bahan pustaka yang subjeknya tidak berkaitan/berlainan.

b. Penempatan yang tepat

Penggunaan klasifikasi di perpustakaan akan mempermudah pemustaka ataupun staf


perpustakaan dalam mengembalikan koleksi yang sudah digunakan kembali ke rak.
Klasifikasi akan membantu terutama staf dalam menentukan lokasi penyimpanan
suatu koleksi ke jajaran rak.

c. Penyusunan mekanis

Jika susunan koleksi sudah berjalan maka staf perpustakaan akan segan untuk
mengubahnya. Pada susunan tersebut, dapat membantu staf perpustakaan dalam
mengatur susunan koleksi di rak. Terutama jika ada koleksi baru yang harus disisipkan
ke dalam jajaran rak koleksi.

d. Tambahan dokumen baru

Perkembangannya perpustakaan akan terus melakukan pengembangan koleksi maka


klasifikasi harus mampu menentukan lokasi paling bermanfaat bagi koleksi baru di
antara koleksi lama. Terdapat dua kemungkinan yakni (1) koleksi baru disisipkan pada
subjek yang sudah ada, atau (2) membuat kelas baru karena kelas tersebut belum
termuat dalam bagan klasifikasi.

e. Penarikan dokumen dari rak.

Klasifikasi memungkinkan penarikan sebuah dokumen dari rak sehingga susunan


dokumen tidak terganggu akibat penarikan tersebut.

Page | 166
1. Sistem Klasifikasi

Sistem klasifikasi perpustakaan merupakan salah satu alat yang digunakan untuk menentukan
notasi klasifikasi. Terdapat berbagai sistem klasifikasi di perpustakaan yang digunakan oleh
berbagai perpustakaan. Perkembangan sistem ini terjadi karena beragamnya kebutuhan dan
karakteristik masing-masing perpustakaan dan bidang ilmu, termasuk prioritas pengelompokkan
koleksi. Yulia et al., (2019) menjelaskan bahwa sistem klasifikasi harus memiliki ciri-ciri yakni.

a. Bersifat universal

Sebuah bagan klasifikasi yang baik adalah bersifat universal. Artinya, meliputi seluruh
bidang ilmu pengetahuan sehingga dapat digunakan berbagai pihak dari berbagai disiplin
ilmu.

b. Pembagian kelas yang logis dan konsisten

Bagan klasifikasi yang baik adalah terinci dalam membagi bidang-bidang ilmu
pengetahuan.

c. Fleksibel atau luwes

Hakikatnya, ilmu pengetahuan akan selalu berkembang. Oleh karena itu pembagian
bagan dapat fleksibel mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan atau dapat menampung
subjek yang baru tanpa mengubah/merusak struktur bagan yang sudah ada.

d. Mempunyai notasi yang sederhana

Bagan hendaknya menggunakan notasi (kode/lambing) yang mudah diingat.

e. Sistematis

Susunan bagan klasifikasi yang baik menggunakan sistem tertentu agar memudahkan
bagi para pemakainya. Dalam mebagi suatu bidang ke dalam sub-sub bidang atau
menyajikan dalam bentuk bagan susunannya harus jelas.

Page | 167
f. Mempunyai indeks

Indeks merupakan suatu daftar kata atau istilah yang disusun secara sistematis, masing-
masing mengacu pada suatu tempat.

g. Mempunyai badan pengawas

Badan pengawas berfungsi untuk memantau dan mengawasi perkemb angan bagan
klasifikasi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan adanya badan
pengawas, bagan klasifikasi dapat terjamin selalu mutakhir/tidak ketinggalan zaman.

Terdapat beragam sistem klasifikasi yang pernah berkembangan dan digunakan oleh
perpustakaan. Diantaranya, Library Congress Classification (LCC) yang dikembangkan sejak
tahun 1899 dan mulai digunakan tahun 1901 oleh Perpustakaan Congress Amerika. Selanjutnya,
Dewey Decimal Classification yang mulai dikembangkan sejak 1873 oleh Melvil Dewey. Sistem
ini merupakan sistem klasifikasi yang paling populer di dunia. Sistem Universal Decimal
Classification (UDC) yang merupakan adaptasi dari DDC dan mulai dikembangkan pada 1885.
Pada modul ini, akan dibahas sistem yang paling banyak digu nakan oleh perpustakaan yakni DDC.

2. Sistem Klasifikasi DDC

Sistem klasifikasi ini mulai dikenalkan sejak tahun 1876 yang terbit dalam sebuah pamflet
berjudul A Classification and Subject Index for Cataloguing and Arranging the Books and
Pamphlets of a Library. Penerbitan pamflet ini lah yang menandai terbitnya sistem Dewey
Decimal Classfication (DDC). Keberadaan DDC merupakan hasil kajian terhadap buku, pamflet
dan kunjungan ke berbagai perpustakaan. Oleh karena itu, DDC difungsikan sebagai klasfikasi
pengetahuan untuk keperluan menyusun buku di perpustakaan, bukan klasifikasi ilmu
pengetahuan.

DDC disajikan dalam bentuk bagan klasifikasi yang menganut prinsip desimal untuk membagi
seluruh bidang ilmu pengetahuan. Bagan ini memiliki notasi murni berdasarkan angka Arab.
Seluruh ilmu pengetahuan dibagi ke dalam 10 kelas utama dengan notasi 000 sampai 900 . Setiap
notasi sekurang-kurangnya terdiri atas tiga (3) digit angka sehingga harus menambahkan nol agar
terbentuk bilangan basis tiga digit. Setiap kelas utama dibagi lagi ke dalam 10 divisi (subklas), dan

Page | 168
selanjutnya masing-masing divisi dibagi lagi ke dalam 10 seksi. Sehingga DDC terdiri atas 10
kelas utama, 100 divisi dan 1000 seksi. Lebih lanjut, setiap seksi juga dapat dibagi lagi menjadi
sub seksi karena pola perincian ilmu pengetahuan. Berikut merupakan bagan kelas utama DDC.

000 Karya umum


100 Filsafat dan psikologi
200 Agama
300 Ilmu-ilmu sosial
400 Bahasa
500 Ilmu-ilmu Alam dan Matematika
600 Teknologi dan Ilmu-ilmu terapan
700 Kesenian, Hiburan dan Olahraga
800 Kesusasteraan
900 Sejarah dan geografi

Selanjutnya masing-masing kelas utama di atas akan dibagi menjadi 10 bagian yang disebut notasi.
Setiap notasi juga terdiri atas tiga bilangan dan bilangan kedua akan menjadi ciri nomor divisi.
Berikut adalah divisi untuk kelas utama ilmu-ilmu sosial (300).

300 Sosiologi dan antropologi


310 Statistik umum
320 Ilmu Politik dan Pemerintahan
330 Ekonomi
340 Hukum
350 Administrasi Negara dan Ilmu Kemiliteran
360 Permasalahan dan Kesejahteraan Sosial
370 Pendidikan
380 Perdagangan, Komunikasi, dan Transportasi
390 Adat istiadat, Etiket & Folklor
Selanjutnya, setiap divisi dapat dirinci lagi menjadi 10 seksi. Berikut adalah contoh untuk
pendidikan (370).

Page | 169
370 Pendidikan
371 Institusi pendidikan, sekolah dan aktivitasnya
372 Pendidikan dasar
373 Pendidikan menengah
374 Pendidikan untuk orang dewasa
375 Kurikulum
376 Belum digunakan
377 Belum digunakan
378 Pendidikan tinggi
379 Isu kebijakan publik terkait pendidikan

Setiap seksi dapat dibagi lagi secara desimal apabila diperlukan. Berikut contoh pembagiannya
untuk seksi 371 (institusi pendidikan, sekolah dan aktivitasnya).

371 Institusi Pendidikan, Sekolah dan Aktivitasnya


371.1 Guru dan pengajarannya; dan aktivitas berkaitan
371.2 Tata usaha sekolah; administrasi aktivitas akademik siswa
371.3 Metode pengajaran dan belajar
371.4 Bimbingan dan penyuluhan siswa
371.5 Disiplin sekolah dan aktivitas berkaitan
371.6 Bangunan fisik sekolah; manajemen materi
371.7 Kesejahteraan siswa
371.8 Peserta didik
371.9 Pendidikan luar biasa
Sistem ini memungkinkan pembagian subseksi/subdivisi lebih spesifik dan terinci dengan
menambahkan notasi desimal. Titik decimal selalu dibubuhkan pada digit ketiga, dan sesudahnya
tidak perlu dibubuhi titik. Setelah tanda titik, perluasan notasi dapat dilakukan. Notasi ini tidak
pernah diakhiri dengan nol sesudah titik decimal karena nol terminal sesuadah titik decimal tidak
ada nilai aritmatikanya.

Selain bagan, DDC juga dilengkapi dengan tabel pembantu. Tabel tersebut sebagai berikut

Page | 170
Tabel 1 Subdivisi Standar
Tabel 2 Wilayah Geografis dan Periode Sejarah
Tabel 3 Subdivisi untuk Sastra
Tabel 4 Subdivisi untuk Bahasa
Tabel 5 Ras, Kelompok Etnis dan Suku Bangsa
Tabel 6 Bahasa

Notasi pada tabel tersebut adalah notasi tetap namun tidak dapat berdiri sendiri melainkan
harus digabungkan di belakang nomor tertentu dari bagan utama DDC. Fungsinya untuk
membantu memberikan kelas yang tepat sesuai dengan subjek bahan pustaka. Selanjutnya pada
DDC juga terdapat indeks relatif. Indeks merupakan suatu daftar kata atau istilah yang disusun
secara sistematis, dan mengacu pada suatu tempat. Indeks ini berfungsi untuk menunjukkan topik
yang tersusun secara sistematis dalam bagan klasifikasi serta menunjukkan aspek yang
berhubungan dari suatu subjek yang tersebar dalam bagan klasifikasi. Yulia et al., (2019), indeks
DDC disebut sebagai indeks relatif, karena sekalipun berbagai aspek dikumpulkan di bawah nama
subjek itu, dengan disebutkan lokasinya berbeda-beda dalam bagan. Setiap aspek dituntun ke satu
nomor atau lebih yang khusus sesuai dalam bagan-bagan DDC. Berikut salah satu contoh indeks
relatif yang terdapat dalam sistem klasifikasi DDC.

Gas alam

Ekonomi 333.8

Geologi 553.2

Teknologi 665.7

Pada contoh di atas, subjek gas alam yang berkaitan dengan ekonomi dikelaskan pada notasi 333.8.
Sedangkan yang berkaitan dengan geologi pada notasi 553.2 dan yang berkaitan dengan teknologi
pada notasi 665.7.

Page | 171
3. Penentuan Notasi Klasifikasi

Untuk menentukan notasi klasifikasi, hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah
menganalisis subjek. Kegiatan ini tentunya memerlukan ketelitian, kecermatan dan wawasan yang
luas karena menyangkut bidang pada ilmu pengetahuan. Dengan demikian, staf perpustakaan
khususnya perpustakaan sekolah haruslah mampu mengetahui dan mengenali bidang-bidang yang
dominan pada koleksi perpustakaan. Terlebih jika sekolahnya merupakan sekolah keagamaan,
ataupun sekolah kejuruan yang memiliki bidang-bidang khusus.

Untuk menentukan subjek terdapat beberapa Langkah yang dapat dilakukan, diantaranya.

a. Halaman judul buku

Sebagian besar, judul buku akan memberikan petunjuk atau mencerminkan subjek yang
terkandung dalam buku tersebut. Dengan demikian, staf perpustakaan tidak perlu
melakukan analisis yang kompleks terutama pada koleksi ilmiah.

Contoh:

Pengantar Ilmu Pendidikan, subjek PENDIDIKAN

Komputer Dasar, subjek KOMPUTER

Pengantar Ilmu Sejarah, subjek SEJARAH

b. Daftar isi

Jika judul belum dapat menggambarkan isi sebuah buku, staf perpustakaan dapat
mencermati daftar isi. Biasanya akan terdapat informasi tentang bab atau bagian dari buku
yang mencerminkan subjek.

c. Kata pengantar atau pendahuluan

Apabila belum dapat ditentukan subjeknya, staf perpustakaan dapat mencermati kata
pengantar ataupun pendahuluan pada buku. Hal ini dikarenakan kata pengantar atau
pendahuluan akan memberikan gambaran keseluruhan terhadap isi sebuah buku.

Page | 172
d. Bibliografi atau daftar pustaka

Daftar pustaka juga dapat memberikan gambaran terkait referensi yang digunakan oleh
penulis dalam menulis buku.

e. Isi buku (sebagian atau seluruhnya)

Jika Langkah sebelumnya belum dapat menentukan subjek buku, maka staf perpustakaan
dianjurkan untuk membaca sebagian teks atau keseluruhan buku.

Selain cara-cara tersebut, staf juga dapat mencari sumber informasi lain seperti bibliografi katalog
penerbit, katalog dalam terbitan, atau berkonsultasi dengan pakar atau ahli. Setelah subjek sebuah
koleksi diketahui, Langkah selanjutnya yakni menentukan notasi klasifikasi berdasarkan bagan
klasifikasi DDC (Jika menggunakan sistem klasifikasi DDC).

Terdapat dua cara yang bisa dilakukan untuk menentukan notasi klasifikasi DDC. Pertama,
menggunakan bagan klasifikasi. Cara ini akan membuat proses penentuan notasi akan lebih
sistematis, dimulai dari subjek umum ke subjek yang lebih spesifik. Langkah pertama dapat
menentukan disiplin ilmunya yang akan tergambar pada kelas utama. Selanjutnya ditelusuri divisi,
seksi dan subseksi sesuai dengan kebutuhan. Kedua, dengan penelusuran melalui indeks relatif.
Cara ini dapat dilakukan setelah mendapatkan subjek sebuah koleksi, lalu dilakukan penelusuran
pada indeks terkait subjek tersebut. Cara ini membutuhkan ketelitian dan perlu memeriksa bagan
apabila notasi sudah ditemukan yang bertujuan untuk menguji apakah notasi yang ada pada indeks
tepat digunakan atau tidak.

Mengingat luas dan kompleksnya sistem notasi pada DDC, perpustakaan sekolah dapat
memiliki kebijakan mengenai digit notasi yang akan diterapkan. Hal ini dilakukan karena
pertimbangan koleksi yang bersifat umum (jika dibandingkan perpustakaan umum, perpustakaan
perguruan tinggi dan perpustakaan khusus), keterbatasan sumber daya manusia serta waktu yang
dibutuhkan untuk klasifikasi. Semakin tinggi tingkatan sekolah, maka subjek yang akan digunakan
akan semakin rinci sehingga notasinya dapat semakin panjang.

Page | 173
4. Ringkasan DDC

Berikut disajikan ringkasan Dewey Decimal Classification yang dapat digunakan untuk
menentukan notasi klasifikasi bahan pustaka.

000 ILMU KOMPUTER, INFORMASI, KARYA UMUM


001 Pengetahuan umum
002 Buku
003 Sistem-sistem
004 Pengolahan data, komputer
005 Program komputer
006 Metode komputer khusus
007 (Belum digunakan)
008 (Belum digunakan)
009 (Belum digunakan)

010 BIBLIOGRAFI
011 Bibliografi umum
012 Bibliografi karya perorangan
013 Bibliografi kelompok pengarang khusus
014 Bibliografi karya anonim dan pseudonym
015 Bibliografi karya-karya wilayah
016 Bibliografi subyek
017 Katalog subyek umum
018 Katalog pengarang
019 Katalog bentuk kamus

020 ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI


021 Hubungan-hubungan perpustakaan
022 Gedung perpustakaan
023 Personalia perpustakaan

Page | 174
024 (Belum digunakan)
025 Pelayanan dan pengelolaan perpustakaan
026 Perpustakaan khusus
027 Perpustakaan umum
028 Membaca
029 (Belum digunakan)

030 ENSIKLOPEDI UMUM


031 Ensiklopedi dalam Bahasa Inonesia
032 Ensiklopedi dalam Bahasa Inggris
033 Ensiklopedi dalam Bahasa Jerman
034 Ensiklopedi dalam Bahasa Perancis
035 Ensiklopedi dalam Bahasa Itali
036 Ensiklopedi dalam Bahasa Spanyol/Portugis
037 Ensiklopedi dalam Bahasa Slavia
038 Ensiklopedi dalam Bahasa Skandinavia
039 Ensiklopedi dalam Bahasa lainya

050 TERBITAN BERSERI UMUM


051 Dalam Bahasa Indonesia
052 Dalam Bahasa Inggris
053 Dalam Bahasa Jerman
054 Dalam Bahasa Perancis
055 Dalam Bahasa Italia
056 Dalam Bahasa Spanyol dan Portugis
057 Dalam Bahasa Slavia
058 Dalam Bahasa Skandinavia
059 Dalam Bahasa lain

Page | 175
060 ORGANISASI UMUM DAN MUSEUM
061 Di Indonesia
062 di Inggris
063 di Jerman
064 di Perancis
065 di Italia
066 di Spanyol dan Portugis
067 di Rusia dan Eropa Timur
068 di lain-lain
069 Museologi

070 JURNALISME, SURAT KABAR


071 di Indonesia
072 di Inggris
073 di Jerman
074 di Perancis
075 di Italia
076 di Spanyol dan Portugis
077 di Rusia dan Eropa Timur
078 di Skandinavia
079 di wilayah lain

080 KUMPULAN KARYA UMUM


081 Bahasa Indonesia
082 Bahasa Inggris
083 Bahasa Jerman
084 Bahasa Perancis
085 Bahasa Italia
086 Bahasa Spanyol dan Portugis
087 Bahasa Slavia

Page | 176
088 Bahasa Skandinavia
089 Bahasa-bahasa lainya

090 KUMPULAN KARYA UMUM


091 Naskah-naskah (manuskrip)
092 Buku-buku blok
093 Inkunabula
094 Buku-buku tercetak
095 Buku-buku jilidan khusus
096 Buku-buku ilustrasi khusus
097 Buku-buku pemilik khusus atau asal mula
098 Buku-buku terlarang
099 Buku-buku berformat khusus

100 FILSAFAT DAN PSIKOLOGI


100 Filsafat
101 Teori filsafat
102 Aneka ragam filsafat
103 Kamus, ensiklopedi dan konkordans
104 (Belum digunakan)
105 Terbitan berseri (manajalah)
106 Organisasi di bidang filsafat
107 Pendidikan dan penelitian dalam bidang filsafat
108 Pengolahan filsafat diantara kelompok-kelompok orang
109 Sejarah filsafat

110 METAFISIKA
111 Ontologi
112 (Belum digunakan)
113 Kosmologi

Page | 177
114 Ruang
115 Waktu
116 Perubahan
117 Struktur
118 Gaya dan energy
119 Bilangan dan kuantitas

120 EPISTEMOLOGI
121 Teori ilmu pengetahuan
122 Sebab akibat
123 Determinasi dan indeterminasi yang berkaitan
124 Teleologi
125 (Belum digunakan)
126 Diri dan kepribadian
127 Tidak sadar dan bawah sadar
128 Manusia
129 Asal mula dan nasib jiwa orang

130 FENOMENA PARANORMAL


131 Metode okultus untuk memperoleh sukses
132 (Belum digunakan)
133 Para psikologi dan okultisme
134 (Belum digunakan)
135 Mimpi dan misteri
136 (Belum digunakan)
137 Grafologi kedewaan
138 Fisiognomi
139 Frenologi

Page | 178
140 ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT KHUSUS
141 Idealisme
142 Filsafat kritis
143 Intiuisionisme dan bergsonisme
144 Humanisme dan yang berkaitan
145 Sensasionalisme
146 Naturalisme dan yang berkaitan
147 Panteisme dan sistem-sistem
148 Liberalisme, ekletisisme, tradisionalisme
149 Lain-lain sistem filsafat

150 PSIKOLOGI
151 (Belum digunakan)
152 Persepsi, gerakan, emosi
153 Proses mental dan inteligensi
154 Bawa sadar dan keadaan yang berubah
155 Psikologi diferensial dan perkembangan
156 Psikologi perbandingan
157 (Belum digunakan)
158 Psikologi terapan
159 (Belum digunakan)

160 LOGIKA
161 Induksi
162 Deduksi
163 (Belum digunakan)
164 (Belum digunakan)
165 Kekeliruan dan sumber kesalahan
166 Silogisme
167 Hipotesa

Page | 179
168 Argumen dan persuasi
169 Analogi

170 ETIKA (FILSAFAT MORAL)


171 Sistem dan doktrin
172 Etika politik
173 Etika hubungan keluarga
174 Etika ekonimi dan professional
175 Etika di bidang rekreasi
176 Etika seksual
177 Etika hubungan sosial
178 Etika konsumsi
179 Lain-lain norma etik

180 FILSAFAT KUNO, ABAD PERTENGAHAN, FILSAFAT TIMUR


181 Filsafat timur
182 Filsafat Yunani sebelum sokrates
183 Sofisme dan sokrates
184 Plato
185 Aristoteles
186 Skeptis dan neoplatonisme
187 Epikuria
188 Stoik
189 Filsafat Barat dana bad pertengahan

190 FILSAFAT BARAT MODERN


191 Filsafat Amerika Serikat dan kanada
192 Filsafat Inggris
193 Filsafat Jerman dan Austria
194 Filsafat Perancis

Page | 180
195 Filsafat Italia
196 Filsafat Spanyol dan Portugal
197 Filsafat Rusia
198 Filsafat Skandinavia
199 Filsafat lain-lain wilayah

200 AGAMA
201 Filsafat kristiani
202 Aneka ragam kristiani
203 Kamus kristiani
204 Topik-topik khusus
205 Terbitan berseri kristiani
206 Organisasi krisiani
207 Pendidikan, penelitian dalam kristiani
208 Pengolahan diantara kelompok-kelompok orang
209 Sejarah kristiani

210 AGAMA ALAM


211 Konsep tentang tuhan
212 Eksistensi dan sifat tuhan
213 Ciptaan
214 Teodisi
215 Sains dan agama
216 Baik dan jahat
217 (Belum digunakan)
218 Manusia
219 (Belum digunakan)

220 ALKITAB
221 Perjanjian lama

Page | 181
222 Buku sejarah dari perjanjian lama
223 Buku puisi dari perjanjian lama
224 Buku nabi dari perjanjian lama
225 Perjanjian baru
226 Kisah para rasul
227 Surat-surat rasul
228 Wahyu
229 Buku apokrif

230 TEOLOGI KRISTEN


231 Allah
232 Yesus kristus
233 Manusia
234 Penyelamatan manusia
235 Makhluk-makhluk spiritual
236 Eskatologi
237 (Belum digunakan)
238 Pengakuan katekismus
239 Apologetika dan polemik

240 MORAL KRISTEN & TEOLOGI KEBAKTIAN


241 Teologi moral
242 Bacaan-bacaan untuk ibadah
243 Penginjilan untuk pribadi dan keluarga
244 (Belum digunakan)
245 Teks-teks dari himme
246 Kesenian dalam kristiani
247 Perabotan gereja
248 Pengalaman, praktek dan hidup kristiani
249 Ketaatan kristen dalam kehidupan keluarga

Page | 182
250 GEREJA KRISTEN SETEMPAT DAN JEMAAT
251 Khotbah (Homiletika)
252 Naskah-naskah khotbah
253 Teologi pastoral
254 Pengurusan & administrasi Jemaah
255 Kongresasi & orde keagamaan
256 (Belum digunakan)
257 (Belum digunakan)
258 (Belum digunakan)
259 Kegiatan parokial

260 TEOLOGI SOSIAL KRISTEN


261 Teologi sosial
262 Eklesiologi
263 Waktu dan tempat untuk menjalankan ibadah
264 Ibadah umum
265 Sakramen, lain-lain tata ibadah
266 Misi kristiani
267 Perkumpulan-perkumpulan
268 Latihan dan pengajaran agama
269 Penyegaran rohani

270 SEJARAH GEREJA


271 Kongregasi dan orde keagamaan
272 Penganiayaan
273 Bidah-bidah dalam sejarah gereja
274 Sejarah gereja di Eropa
275 Sejarah gereja di Asia
276 Sejarah gereja di Afrika

Page | 183
277 Sejarah gereja di Amerika Utara
278 Sejarah gereja di Amerika Selatan
279 Sejarah gereja di wilayah lain

280 DENOMINASI DAN SEKTE-SEKTE


281 Gereja purba dan timur
282 Gereja roma katholik
283 Gereja anglikan
284 Gereja protestan asal continental
285 Gereja prebiterian
286 Gereja baptis
287 Gereja metodis
288 (belum digunakan)
289 Lain-lain deniminasi dan sekte

290 AGAMA-AGAMA LAIN DAN PERBANDINGAN AGAMA


291 Perbandingan agama
292 Agama Yunani dan Romawi Kuno
293 Agama Jermania
294 Agama-agama asal India
295 Zoroastrianisme
296 Agama yahudi
297 (belum digunakan)
298 (belum digunakan)
299 Lain-lain

2X0 ISLAM UMUM


2X1 Al-qur'an dan ilmu pengetahuan yang berkaitan
2X2 Hadis dan ilmu yang berkaitan
2X3 Aqaid dan ilmu kalam

Page | 184
2X4 Fiqih
2X5 Akhlak dan tasawuf
2X6 Sosial dan budaya islam
2X7 Filsafat islam dan perkembangan
2X8 Aliran dan sekte dalam islam
2X9 Sejarah islam dan biografi

300 ILMU-ILMU SOSIAL


301 Sosiologi dan antropologi
302 Interaksi sosial
303 Proses-proses sosial
304 Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku sosial
305 Kelompok-kelompok sosial
306 Kebudayaan dan lembaga-lembaga
307 Masyarakat, persekutuan hidup
308 (belum digunakan)
309 (belum digunakan)

310 STATISTIK
311 Teori & konsep statistik
312 (belum digunakan)
313 (belum digunakan)
314 Statistik umum Eropa
315 Statistik umum Asia
316 Statistik umum Afrika
317 Statistik umum Amerika Utara
318 Statistik umum Amerika Selatan
319 Statistik umum lain-lain wilayah

Page | 185
320 ILMU POLITIK
321 Sistem-sistem pemerintahan dan negara
322 Hubungan negara dengan kelompok terorganisir
323 Hak-hak sipil dan politik
324 Proses-proses politik
325 Migrasi internasional
326 Perbudakan dan emansipasi perbudakan
327 Hubungan internasional
328 Proses-proses legislatif
329 (belum digunakan)

330 ILMU EKONOMI


331 Ekonomi perburuhan
332 Ekonomi keuangan
333 Ekonomi tanah
334 Koperasi
335 Sosialisme
336 Keuangan negara
337 Ekonomi internasional
338 Produksi dan industri
339 Makro ekonomi

340 ILMU HUKUM


341 Hukum internasional
342 Hukum tata negara
343 Aneka ragam hukum publik
344 Hukum sosial
345 Hukum pidana
346 Hukum perdata
347 Hukum acara perdata dan pengadilan

Page | 186
348 Undang-undang, peraturan-peraturan, perkara-perkara
349 Hukum negara bangsa tertentu

350 ADMINISTRASI NEGARA


351 Pemerintah pusat
352 Pemerintah lokal
353 Pemerintah pusat Indonesia
354 Organisasi internasional
355 Ilmu kemiliteran
356 Infanteri
357 Kavaleri
358 Pasukan berlapis baja, zeni angkatan darat, pasukan udara
359 Angkatan laut

360 LAYANAN SOSIAL ASOSIASI


361 Kesejahteraan sosial
362 Masalah dan pelayanan sosial (masukan kepolisian negara disini)
363 Lain-lain masalah sosial
364 Kriminologi
365 Penjara (lembaga pemasyarakatan)
366 Aosiasi (perkumpulan)
367 Klub-klub umum
368 Asuransi
369 Aneka ragam asosiasi

370 PENDIDIKAN
371 Manajemen sekolah, pendidikan khusus
372 Pendidikan dasar
373 Pendidikan lanjutan
374 Pendidikan orang dewasa

Page | 187
375 Kurikulum
376 Pendidikan kaum wanita
377 Sekolah dan agama
378 Pendidikan tinggi
379 Pendidikan dan negara

380 PERDAGANGAN, KOMUNIKASI, PENGANGKUTAN


381 Perdagangan dalam negeri
382 Perdagangan luar negeri
383 Komunikasi pos
384 Lain-lain sistem komunikasi, telekomunikasi
385 Pengangkutan dengan kereta api
386 Pelayaran pedalaman dan fery
387 Pengangkutan laut, udara, ruang angkasa
388 Pengangkutan jalan raya
389 Metrologi dan standarisasi

390 ADAT ISTIADAT & KEBIASAAN, ETIKET FOLKLOR


391 Pakaian, kostum, perhiasan diri
392 Kebiasaan yang berhubungan dengan kehidupan dan kehidupan rumah tangga
393 Kebiasaan yang berhubungan dengan kematisn
394 Kebiasaan-kebiasaan umum
395 Etiket (sopan santun)
396 (belum digunakan)
397 (belum digunakan)
398 Folklor
399 Kebiasaan dalam perang dan diplomasi

400 BAHASA & LINGUISTIK


401 Sistem-sistem tulisan

Page | 188
402 Etimologi
403 Kamus
404 Fonologi
405 Tata bahasa
406 (belum digunakan)
407 Dialektologi
408 Penggunaan bahasa
409 Bahasa verbal

410 BAHASA INDONESIA


411 Sistem tulisan dan fonologi
412 Etimologi bahasa Indonesia
413 Kamus bahasa Indonesia
414 (belum digunakan)
415 Tata bahasa Indonesia
416 (belum digunakan)
417 Bahasa Indonesia bukan standar
418 Pemakaian bahasa Indonesia baku
419 Bahasa-bahasa daerah

420 BAHASA INGGRIS


421 Sistem tulisan dan fonologi
422 Etimologi bahasa Inggris
423 Kamus bahasa Inggris
424 (belum digunakan)
425 Tata bahasa Inggris
426 (belum digunakan)
427 Bahasa Inggris bukan standar
428 Pemakaian bahasa Inggris baku
429 Bahasa Inggris kuno (Anglo-Saxon)

Page | 189
430 BAHASA JERMAN
431 Sistem tulisan dan fonologi
432 Etimologi bahasa Jerman
433 Kamus bahasa Jerman
434 (belum digunakan)
435 Tata bahasa Jerman
436 (belum digunakan)
437 Bahasa Jerman bukan standar
438 Pemakaian bahasa Jerman baku
439 Lain-lain bahasa Teutonik

440 BAHASA PRANCIS


441 Sistem tulisan dan fonologi
442 Etimologi bahasa Prancis
443 Kamus bahasa Prancis
444 (belum digunakan)
445 Tata bahasa Prancis
446 (belum digunakan)
447 Bahasa Prancis bukan standar
448 Pemakaian bahasa Prancis
449 Bahasa Provensal dan Catalan

450 BAHASA ITALIA


451 Sistem tulisan dan fonologi
452 Etimologi bahasa Italia
453 Kamus bahasa Italia
454 (belum digunakan)
455 Tata bahasa Italia
456 (belum digunakan)
457 Bahasa Italia bukan standar

Page | 190
458 Pemakaian bahasa Italia baku
459 Bahasa Romawi

460 BAHASA SPANYOL DAN PORTUGIS


461 Sistem tulisan dan fonologi
462 Etimologi bahasa Spanyol
463 Kamus bahasa Spanyol
464 (belum digunakan)
465 Tata bahasa Spanyol
466 (belum digunakan)
467 Bahasa Spanyol bukan standar
468 Pemakaian bahasa Spanyol baku
469 Bahasa Portugis

470 BAHASA LATIN


471 Sistem tulisan dan fonologi
472 Etimologi bahasa Latin klasik
473 Kamus bahasa Latin klasik
474 (belum digunakan)
475 Tata bahasa Latin klasik
476 (belum digunakan)
477 Bahasa Latin lama
478 Pemakaian bahasa Latin klasik
479 Lain-lain bahasa Latin

480 BAHASA YUNANI KLASIK


481 Sistem tulisan dan fonologi
482 Etimologi bahasa Yunani
483 Kamus bahasa Yunani klasik
484 (belum digunakan)

Page | 191
485 Tata bahasa Yunani klasik
486 (belum digunakan)
487 Bahasa Yunani sebelum dan sesudah klasik
488 Pemakaian bahasa Yunani klasik
489 Lain-lain bahasa Helenik

490 BAHASA-BAHASA LAIN


491 Bahasa-bahasa Indo Eropa Timur
492 Bahasa-bahasa Afro Asia
493 Bahasa Hamitis dan Chad
494 Bahasa-bahasa Ural Altaik
495 Bahasa-bahasa Asia Timur dan Asia Tenggara
496 Bahasa-bahasa Afrika
497 Bahasa-bahasa pribumi Amerika Utara
498 Bahasa-bahasa pribumi Amerika Selatan
499 Bahasa-bahasa lain

500 ILMU-ILMU MURNI


501 Filsafat dan teori
502 Aneka ragam
503 Kamus dan ensiklopedi
504 (belum digunakan)
505 Terbitan berseri
506 Organisasi dan manajemen
507 Pendidikan, penelitian
508 Sejarah alamiah
509 Pengolahan historis, wilayah, perorangan

510 MATEMATIKA
511 Prinsip-prinsip umum

Page | 192
512 Aljabar
513 Ilmu hitung
514 Topologi
515 Analisis
516 Ilmu ukur
517 (belum digunakan)
518 (belum digunakan)
519 Prpbabilita dan matematika terapan

520 ASTRONOMI
521 Mekanika angkasa
522 Teknik, perlengkapan, bahan-bahan
523 Benda-benda angkasa khusus dan fenomena
524 (belum digunakan)
525 Bumi (geografi astronomi)
526 Geografi matematis
527 Navigasi angkasa
528 Almanak autika (efemerida)
529 Kronologi (waktu)

530 FISIKA
531 Mekanika
532 Mekanika zat cair
533 Mekanika gas
534 Bunyi
535 Optika (cahaya)
536 Panas
537 Kelistrikan dan elektronika
538 Magnetisme
539 Fisika modern

Page | 193
540 KIMIA
541 Kimia fisik dan teoritis
542 Teknik, perlengkapan, bahan-bahan
543 Kimia analitis
544 Analisis kualitatif
545 Analisis kuantitatif
546 Kimia anorganic
547 Kimia organic
548 Kristalografi
549 Mineralogi

550 ILMU PENGETAHUAN TENTANG BUMI


551 Geologi, meteorology, hidrologi
552 Petrologi
553 Geologi ekonomis
554 Geologi Eropa
555 Geologi Asia
556 Geologi Afrika
557 Geologi Amerika Utara
558 Geologi Amerika Selatan
559 Geologi wilayah-wilayah lain

560 PALEONTOLOGI
561 Paleobotani
562 Fosil invertebrate
563 Fosil protozoa
564 Fosil moluska
565 Lain-lain fosil invertebrate
566 Fosil vertebrata

Page | 194
567 Fosil invertebrate berdarah dingin
568 Fosil burung
569 Fosil mamalia

570 ILMU-ILMU TENTANG KEHIDUPAN


571 (belum digunakan)
572 Ras manusia
573 Antropologi fisik
574 Biologi
575 Evolusi dan genetika
576 Mikrobiologi
577 Sifat umum dari kehidupan
578 Mikroskopi dan biologi
579 Pengumpulan dan pengawetan contoh-contoh biologi

580 ILMU-ILMU TENTANG TUMBUH-TUMBUHAN


581 Botani
582 Spermatofia
583 Dikotiledon
584 Monokotiledon
585 Tanaman berbiji telanjang
586 Tanaman tak berbiji
587 Pterifodita
588 Briofita
589 Tallofita

590 ILMU-ILMU TENTANG HEWAN


591 Zoologi
592 Invertebrata
593 Protozoa

Page | 195
594 Moluska
595 Lain-lain invertebrate
596 Vertebrata
597 Vertebrata berdarah dingin
598 Burung
599 Mamalia

600 TEKNOLOGI (ILMU TERAPAN)


601 Filsafat dan teori
602 Aneka ragam
603 Kamus, ensiklopedi
604 Topik-topik khusus
605 Terbitan berseri
606 Organisasi dan manajemen
607 Pendidikan, penelitian
608 Penemuan dan paten
609 Pengolahan historis dan geografis

610 ILMU KEDOKTERAN


611 Anatomi
612 Fisiologi
613 Kesehatan umum dan perorangan
614 Kesehatan masyarakat
615 Farmakologi dn ilmu terapi
616 Penyakit-penyakit
617 Pembedaham
618 Ginakologi dan lain-lain kedokteran khusus
619 Kedokteran eksperimental

Page | 196
620 ILMU TEKNIK
621 Fisika terapan
622 Teknik pertambangan
623 Teknik militer dan nautika
624 Teknik sipil
625 Teknik jalan kereta api, jalan raya
626 (belum digunakan)
627 Teknik hidraulis
628 Teknik kesehatan (saniter)
629 Lain-lain cabang teknik

630 PERTANIAN & TEKNOLOGI YANG BERKAITAN


631 Teknik, prosedur, alat-alat
632 Kerusakan, penyakit dan hama pertanian
633 Tanaman ladang
634 Tanaman buah-buahan, kehutanan
635 Hostikultura, sayur-sayuran
636 Peternakan
637 Industri pengolahan susu
638 Pemeliharaan serangga
639 Perburuan perikanan, konservasi

640 KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA


641 Makanan dan minuman
642 Penghidupan makanan
643 Rumah dan perlengkapannya
644 Keperluan rumah tangga
645 Perabotan dan perhiasan
646 Jahitan, pakaian
647 Manajemen rumah tangga umum

Page | 197
648 Pengaturan umum
649 Mengasuh anak dan merawat yang sakit

650 MANAJEMEN
651 Pelayanan-pelayanan kantor
652 Proses-proses komunikasi tertulis
653 Stenografi
654 (belum digunakan)
655 (belum digunakan)
656 (belum digunakan)
657 Akuntansi
658 Manajemen umum
659 Periklanan dan hubungan masyarakat

660 TEKNOLOGI KIMIA


661 Teknologi bahan-bahan kimia industri
662 Teknologi bahan peledak, bahan bakar
663 Teknologi minuman
664 Teknologi makanan
665 Teknologi minyak, lemak, dan sebagainya
666 Keramik dan teknologi berkaitan
667 Teknologi pembersihan, pemberian warna
668 Teknologi produk-produk organis lain
669 Metalurgi

670 PABRIK-PABRIK
671 Pabrik-pabrik logam
672 Pabrik logam besi
673 Pabrik logam bukan besi
674 Kayu, gabus dan teknologi

Page | 198
675 Kegunaan umum dengan menggunakan kayu
676 Teknologi bubur kayu dan kertas
677 Tekstil
678 Elastomer dan produk elastomer
679 Lain-lain produk bahan khusus

680 PEMBUATAN PRODIK UNTUK PENGGUNAAN KHUSUS


681 Instrumen-instrumen yang diteliti
682 Barang-barang pandai besi
683 Alat-alat logam/ besi dan alat-alat rumah tangga
684 Perabotan rumah
685 Barang-barang dari kulit dan kulit berbulu
686 Percetakan
687 Pembuatan pakaina
688 Barang-barang jadi lainnya dan teknologi mengepak
689 (belum digunakan)

690 BANGUNAN
691 Bahan-bahan bangunan
692 Pekerjaan-pekerjaam tambahan pada konstruksi
693 Konstruksi dalam bahan-bahan khusus untuk maksud tertentu
694 Konstruksi kayu, pertukangan kayu
695 Konstruksi atap
696 (belum digunakan)
697 Pemanasan, ventilasi, teknik pengaturan udara
698 Penyelesaian detail
699 (belum digunakan)

700 KESENIAN DAN SENI DEKORASI


701 Filsafat dan teori

Page | 199
702 Aneka ragam kesenia
703 Kamus, ensiklopedi
704 Topik-topik khusus
705 Terbitan berseri
706 Organisasi dan manajemen kesenian
707 Pendidikan, penelitian
708 Gedung kesenian, museum, koleksi privat
709 Pengolahan histori dan geografis

710 SENI PERKOTAAN & PERTAMANAN


711 Perencanaan wilayah
712 Arsitektur pertamanan
713 Rencana pertamanan untuk jalan lalu lintas
714 Ciri-ciri air dalam rencana pertamanan
715 Tanaman berkayu dalam rencana pertamanan
716 Tanaman berdaun hijau dan rencana pertamanan
717 Bangunan dalam rencana pertamanan
718 Rencana pertamanan untuk kuburan
719 Pertamanan alam

720 ARSITEKTUR
721 Konstruksi arsitektur
722 Arsitektur kuno dan timur
723 Arsitektur abad pertengahan
724 Arsitektur modern
725 Struktur umum
726 Bangunan keagamaan
727 Gedung sekolah dan lain-lain gedung untuk pendidikan dan penelitian
728 Bangunan tempat tinggal
729 Pola dan dekorasi bangunan

Page | 200
730 SENI PLASTIK, SENI PAHAT PATUNG
731 Proses penyajian seni pahat
732 Seni pahat primitif, kuno dan timur
733 Seni pahat Yunani, Etruskan, Romawi
734 Seni pahat abad pertengahan
735 Seni pahat modern
736 Mengukir dan ukiran
737 Numismatik dan sigilografi
738 Seni keramik
739 Karya seni logam

740 MENGGAMBAR & SENI DEKORASI


741 Gambar dan menggambar
742 Perspektif
743 Gambar dan menggambar menurut subyek
744 (belum digunakan)
745 Seni dekoratif dan sederhana
746 Seni dan kerajinan tangan tekstil
747 Dekorasi ruangan
748 Kaca
749 Perabotan

750 SENI LUKIS DAN LUKISAN


751 Proses dan bentuk
752 Warna
753 Abstraksi, simbolisme, dongeng
754 Subyek dari kehidupan sehari-hari
755 Agama dan simbolisme keagamaan
756 (belum digunakan)

Page | 201
757 Tubuh manusia dan bagian-bagiannya
758 Melukis dan lukisan lain subyek
759 Pengolahan histois dan geografis

761 SENI GRAFIKA, CETAKAN


762 Cetak balok
762 (belum digunakan)
763 Proses litografis
764 Kromolitografi dan seri
765 Seni ukir logam
766 Mezzotinting dan akuatinting
767 Mengetsa
768 (belum digunakan)
769 Cetakan

770 FOTOGRAFI DAN FOTO


771 Alat-alat dan perlengkapan
772 Proses dengan garam logam
773 Proses pigmen dari pencetakan
774 (belum digunakan)
775 (belum digunakan)
776 (belum digunakan)
777 (belum digunakan)
778 Bidang-bidang khusus dan jenis-jenis khusus dari fotografi
779 Hasil-hasil fotograf.

780 MUSIK
781 Prinsip-prinsip umum
782 Musik lokal
783 Musik suara tunggal

Page | 202
784 Instrumen dan ensambel instrumental
785 Musik ruangan
786 Instrumen papan tulis
787 Instrumen gesek
788 Instrumen angin
789 (belum digunakan)

790 SENI REKREASI DAN PERTUNJUKAN


791 Pertunjukan umum
792 Teater
793 Permainan dan hiburan dalam ruangan
794 Permainan ketangkasan
795 Permainan untung-untungan
796 Atletik dan olahraga luar
797 Olahraga air dan udara
798 Olahraga berkuda dan balapan hewan dewey decimal classification
799 Olahraga menangkap ikan, memburu, menembak

800 KESUSASTRAAN
801 Filsafat dan teori
802 Aneka ragam
803 Kamus, ensiklopedi
804 (belum digunakan)
805 Terbitan berseri
806 Organisasi
807 Pendidikan, penelitian
808 Retorik dan kumpulan
809 sejarah dan kritik sastra

Page | 203
810 KESUSTRAAN INDONESIA
811 Puisi Indonesia
812 Drama Indonesia
813 Fiksi Indonesia
814 Esai Indonesia
815 Pidato Indonesia
816 Surat-surat Indonesia
817 Satir dan humor Indonesia
818 Aneka ragam penulisan Indonesia
819 Kesesusastraan bahasa daerah

820. KESUSASTRAAN INGGRIS & ANGLO SAXON


821 Puisi Inggris
822 Drama Inggris
823 Fiksi Inggris
824 Esai Inggris
825 Pidato Inggris
826 Surat-surat Inggris
827 Satir dan humor Inggris
828 Aneka ragam penulisan Inggris
829 Kesesusastraan Anglo Saxon

830 KESUSASTRAAN JERMAN


831 Puisi Jerman
832 Drama Jerman
833 Fiksi Jerman
834 Esai Jerman
835 Pidato Jerman
836 Surat-surat Jerman
837 Satir dan humor Jerman

Page | 204
838 Aneka ragam penulisan Jerman
839 Kesesusastraan bahasa Jerman lain

840 KESUSASTRAAN PRANCIS


841 Puisi Prancis
842 Drama Prancis
843 Fiksi Prancis
844 Esai Prancis
845 Pidato Prancis
846 Surat-surat Prancis
847 Satir dan humor Prancis
848 Aneka ragam penulisan Prancis
849 (belum digunakan)

850 KESUSASTRAAN ITALIA


851 Puisi Italia
852 Drama Italia
853 Fiksi Italia
854 Esai Italia
855 Pidato Italia
856 Surat-surat Italia
857 Satir dan humor Italia
858 Aneka ragam penulisan Italia
859 (belum digunakan)

860 KESUSASTRAAN SPANYOL & PORTUGIS


861 Puisi Spanyol
862 Drama Spanyol
863 Fiksi Spanyol
864 Esai Spanyol

Page | 205
865 Pidato Spanyol
866 Surat-surat Spanyol
867 Satir dan humor Spanyol
868 Aneka ragam penulisan Spanyol
869 Kesesusastraan Portugis

870 KESUSASTRAAN LATIN


871 Puisi Latin
872 Puisi dramatis dan drama Latin
873 Fiksi Latin
874 Esai Latin
875 Pidato Latin
876 Surat-surat Latin
877 Satir dan humor Latin
878 Aneka ragam penulisan Latin
879 (belum digunakan)

880 KESUSASTRAAN YUNANI


881 Puisi Yunani Klasik
882 Puisi dramatis dan drama Yunani Klasik
883 Puisi epis dan fiksi Yunani Klasik
884 Puisi liris Yunani Klasik
885 Pidato Yunani Klasik
886 Surat-surat Yunani Klasik k
887 Satir dan humor Yunani Klasik
888 Aneka ragam penulisan Yunani Klasik
889 Kesusastraan Yunani modern

890 KESUSATRAAN BAHASA-BAHASA LAIN


891 Kesusastraan Indo-Eropa Timur

Page | 206
892 Kesusastraan Afro-Asiatik
893 Kesusastraan Hamid dan Chad
894 Kesusastraan Ural-Altaik dan sebagainya
895 Kesusastraan Sino-Tibetan
896 Kesusastraan Afrika
897 Kesusastraan pribumi Amerika Utara
898 Kesusastraan pribumi Amerika Selatan
899 Lain-lain kesusastraan

900 GEOGRAFI UMUM DAN SEJARAH UMUM


901 Filsafat dan teori
902 Aneka ragam
903 Kamus, ensiklopedi
904 Kumpulan peristiwa-peristiwa tertentu
905 Publikasi berseri
906 Organisasi dan manajemen
907 Pendidikan, penelitian
908 Berkenaan dengan perorangan
909 Sejarah dunia

910 GEOGRAFI UMUM PERJALANAN


911 Geografi historis
912 Penyajian grafis permukaan bumi
913 Geografi dunia kuno
914 Geografi Eropa
915 Geografi Asia
916 Geografi Afrika
917 Geografi Amerika Utara
918 Geografi Amerika Selatan
919 Geografi wilayah lain

Page | 207
920 BIOGRAFI UMUM, SILSILAH
921 Biografi ahli filsafat
922 Biografi alim ulama
923 Biografi ahli ilmu-ilmu sosial
924 Biografi ahli bahasa
925 Biografi ahli bidang sain
926 Biografi ahli teknologi
927 Biografi seniman
928 Biografi sejarawan, sastrawan
929 Silsilah, nama-nama lencana

930 SEJARAH DUNIA PURBA


931 Cina
932 Mesir
933 Palestina
934 India
935 Mesopotamia dan iran
936 Eropa utara dan barat
937 Jazirah italia dan yang berbatasan
938 Yunani
939 lain-lain bagian dunia

940 SEJARAH UMUM EROPA


941 Inggris (britania raya)
942 Inggris dan Wales
943 Eropa tengah, Jerman
944 Perancis dan Monaco
945 Italia
946 Jazirah Iberia, Spanyol

Page | 208
947 Eropa Timur, Rusia
948 Eropa Utara, Skandinavia
949 Lain-lain bagian Eropa

950 SEJARAH UMUM ASIA


951 Cina
952 Jepang
953 Jazirah Arab
954 Asia Selatan, India
955 Iran
956 Timur Tengah (timur dekat)
957 Siberia
958 Asia Tengah
959 Asia Tenggara

960 SEJARAH UMUM AFRIKA


961 Afrika Utara
962 Mesir dan Sudan
963 Etiopia
964 Maroko
965 Aljazair
966 Afrika Barat
967 Afrika Tengah
968 Afrika Selatan
969 Kepulauan Samudera Hindia Selatan

970 SEJARAH UMUM AMERIKA UTARA


971 Kanada
972 Amerika Tengah, Meksiko
973 Amerika Serikat

Page | 209
974 Amerika Serikat Timur Laut
975 Amerika Serikat Tenggara
976 Amerika Serikat Selatan Tengah
977 Amerika Utara Tengah
978 Amerika Serikat Barat
979 Negara-negara bagian di Pantai Pasifik

980 SEJARAH UMUM AMERIKA SELATAN


981 Brasilia
982 Argentina
983 Chili
984 Bolivia
985 Peru
986 Kolombia
987 Venezuela
988 Guiana
989 Paraguay – Uruguay

990 SEJARAH UMUM BAGIAN LAIN DARI BUMI


991 (belum digunakan)
992 (belum digunakan)
993 Selandia baru
994 Australia
995 Melanesia Niu Guinea
996 Polinesia
997 Kepulauan Samudera Atlantik
998 Artika dan Antartika
999 Lain-lain dunia sikologi dan fisiologis

Page | 210
C. Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi di atas, kerjakan latihan berikut!”

1) Saat ini terdapat berbagai bentuk katalog yang digunakan oleh


perpustakaan sebagai alat penelusuran bahan pustaka, An alisislah kelebihan dan
kekurangan bentuk-bentuk katalog yang Saudara ketahui!
2) Jelaskan menurut Anda tujuan diaplikasikannya sistem klasifikasi bagi pengguna
perpustakaan (pemustaka)?

D. Rangkuman
Pengatalogan (katalogisasi) merupakan kegiatan analisis terhadap hal-hal penting dari suatu
bahan pustaka dan mencantumkan hasil analisis tersebut pada katalog. Proses pengatalogan
meliputi pengatalogan deskriptif dan pengatalogan subjek. Pengatalogan deskriptif meliputi
penentuan tajuk entri utama dan pembuatan deskripsi bibliografi. Sedangkan pengatalogan subjek
meliputi penentuan subjek dan nomor klasifikasi.

Fungsi utama katalog perpustakaan dibagi menjadi dua. Pertama, sebagai daftar inventaris
bahan pustaka dari suatu kelompok perpustakaan. kedua, sebagai sarana temu kembali bahan
pustaka. terdapat berbagai bentuk katalog yang digunakan oleh perpustakaan sebagai alat
penelusuran bahan pustaka. Beberapa bentuk kartu katalog antara lain katalog buku, katalog
berkas, katalog kartu, katalog komputer. Salah satu pedoman yang digunakan dalam pembuatan
katalog bagi seluruh jenis bahan pustaka adalah Anglo-American Cataloguing Rules 2.

Sedangkan klasifikasi merupakan pengelompokan yang dilakukan secara sistematis dari


sejumlah objek, gagasan, buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu
berdasarkan ciri-ciri yang sama. Terdapat dua macam klasifikasi, yakni klasifikasi artifisal dan
klasifikasi fundamental.

E. Tes Formatif
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1. Penentuan tajuk entri utama dan pembuatan deskripsi bibliografi, merupakan kegiatan
pengatalogan …

Page | 211
a. Normative
b. Subjek
c. Naratif
d. Deskriptif
2. Apa yang dimaksud dengan katalog perpustakaan?
a. informasi mengenai buku-buku terbaru
b. sarana temu kembali informasi hasil kegiatan pengindeksan
c. sarana bantu perpustakaan
d. hasil dari bagian katalogisasi
3. Bentuk katalog yang berupa lembaran lepas dari kertas atau kartu yang berisi deskripsi
bibliografi setiap bahan pustaka adalah …
a. Katalog subjek
b. Katalog kartu
c. Katalog berkas
d. Katalog buku
4. Salah satu kekurangan katalog berbentuk kartu adalah …
a. perpustakaan akan kesulitan jika terjadi penambahan koleksi
b. tidak dapat digunakan langsung oleh pemustaka
c. tidak dapat langsung digunakan sebagai alat penelusuran koleksi
d. pemustaka harus antri dalam menggunakannya
5. Pernyataan terkait deskripsi fisik yang mencakup data fisik buku terletak pada bidang…
a. Bidang koleksi
b. Bidang impressum
c. Bidang judul
d. Bidang catatan atau anotasi
6. Kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui pokok bahasan suatu bahan pustaka…
a. Pengatalogan deskriptif
b. Pengindeksan subjek
c. Tajuk subjek
d. Bentuk subjek

Page | 212
7. Mengklasifikasi bahan pustaka berdasarkan isi atau subjek buku, merupakan kegiatan
klasifikasi secara . . .
a. Klasifikasi fundamental.
b. Klasifikasi artifisial
c. Klasifikasi deskriptif
d. Klasifikasi subjek
8. Suatu daftar kata atau istilah yang disusun secara sistematis …
a. Indeks
b. Subjek
c. Tajuk
d. Kelas
9. Sistem klasifikasi DDC membagi ilmu pengetahuan yang terdiri atas
a. 9 kelas utama, 100 divisi dan 1000 seksi.
b. 9 kelas utama, 200 divisi dan 2000 seksi.
c. 10 kelas utama, 100 divisi dan 1000 seksi
d. 10 kelas utama, 100 divisi dan 100 seksi
10. Untuk menentukan notasi klasifikasi, hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah ....
a. Menganalisis subjek
b. Mendeskripsikan subjek
c. Melihat bagan klasifikasi
d. Pengindeksan subjek

Cocokkanlah jawaban Saudara dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian
akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Selanjutnya, gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat penguasaan Saudara terhadap materi Kegiatan Belajar 2

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = X 100%
Jumlah Soal

Page | 213
Arti tingkat penguasaan: 90 – 100% = baik sekali

80 – 89% = baik

70 – 79% = cukup

<70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Saudara dapat meneruskan dengan
Kegiatan Belajar selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Saudara harus mengulangi materi
Kegiatan Belajar 2, terutama pada bagian yang belum dikuasai.

Page | 214
Kegiatan Belajar 3: Pascakatalogisasi (Bagian 1)
Pascakatalogisasi merupakan kegiatan tahap akhir pengolahan bahan pustaka. Kegiatan ini
terdiri atas kegiatan penyusunan kartu katalog, pemberian kelengkapan atau atribut bahan pustaka,
penjajaran bahan pustaka serta pemeliharaan atau perawatan bahan pustaka (Yulia et al., 2019).
Pada bagian ini akan dijelaskan terkait penyusunan kartu katalog serta pemberian kelengkapan
bahan pustaka dan penjajaran koleksi (shelving)

A. Sistem Penyusunan Kartu Katalog


Kartu katalog yang dihasilkan melalui proses katalogisasi disimpan dan disusun pada laci
katalog dan daftar penggerakan. Lemari katalog dapat terbuat dari kayu ataupun besi. Namun,
kebanyakan di Indonesia terbuat dari kayu. Lemari katalog merupakan lemari khusus yang
memiliki laci-laci kecil untuk menyimpan kartu katalog. Agar kartu katalog berada pada tempatnya
dan tersusun rapi, lemari katalog dilengkapi dengan lidi besi/kawat kecil yang ditusukkan dari
bagian depan hingga belakang laci. Lidi ini akan dimasukkan pada lubang yang ada pada kartu
katalog.

Untuk mempermudah mengambil atau memasukkan kartu katalog baru, lidi besi dipasang
dengan alat yang dapat membuat lidi besi mudah dibuka dan dipasang kembali, lidi besi dapat
diikat dengan mur ke ujung bagian belakang laci. Ukuran laci katalog sebagai berikut.

Tinggi laci = 5 cm.

Panjang laci = 37,5 cm.

Lebar laci = 13 cm.

Lubang untuk lidi besi = 2 cm. dari bagian bawah laci

Berikut gambaran laci katalog

Page | 215
Gambar 29. Ukuran dan Desain Laci Katalog (Suhendar, 2016)

Dalam penjajaran kartu katalog terdapat beberapa sistem sebagai berikut.

a. Sistem katalog abjad


a) Katalog susunan abjad dapat dibagi berdasarkan katalog pengarang judul dan subjek.
Masing-masing kartu akan disusun berdasarkan abjad.
b) Katalog susunan kamus (dictionary catalog) yakni katalog yang disusun menurut abjad
pengarang, judul dan subjek dalam satu jajaran.
b. Sistem katalog kelas (classified catalog) yakni sistem yang disusun menurut suatu bagan
klasifikasi tertentu yang biasanya terdiri atas tiga susunan yakni
a) katalog pengarang dan judul disusun menurut abjad;
b) katalog subjek disusun menurut urutan nomor klasifikasi;
c) indeks subjek disusun berabjad yang menunjuk ke notasi klasifikasi (Sumiati et al.,
2018).

B. Penyelesaian Koleksi/Pengolahan Fisik Buku


Kegiatan pengolahan fisik buku bertujuan agar mempermudah sistem penyimpanan di
perpustakaan termasuk pengambilan kembali buku baik bagi pemakai maupun bagi pustakawan.

Page | 216
Pengolahan fisik buku ini juga berkaitan erat dengan salah satu unsur katalog. Buku harus ditata
dan disimpan sesuai dengan nomor panggil agar mempermudah pencarian kembali. Selain itu,
untuk keperluan administrasi peminjaman dibutuhkan sarana bantu seperti kartu buku, kantong
buku dan slip tanggal kembali.

1. Penentuan Nomor Panggil

Pada Online Dictionary for Library and Information Science, nomor panggil atau call
number diartikan sebagai berikut

“A unique code printed on a label affixed to the outside of an item in a library collection,
usually to the lower spine of a book or videocassette, also printed or handwritten on a label
inside the item. Assigned by the cataloger, the call number is also displayed in the
bibliographic record that represents the item in the library catalog, to identify the specific
copy of the work and give its relative location on the shelf (Reitz, 2004).”
Definisi di atas menjelaskan nomor panggil merupakan kode unik yang dicetak pada label
yang ditempelkan di luar item koleksi perpustakaan biasanya pada buku atau kaset video,
selain itu juga dicetak atau ditulis tangan pada label di dalam item. Nomor panggil dibuat oleh
pembuat katalog, juga ditampilkan pada katalog yang difungsikan untuk mengindentifikasi
salinan spesifik karya dan memberikan lokasinya di rak. Dengan demikian, nomor panggil
merupakan tanda/sandi buku yang menunjukkan tempat penyimpanan suatu buku di rak dan
yang menjadi pembeda dengan buku lainnya di perpustakaan. Nomor panggil akan
mempermudah pemustaka ataupun staf perpustakaan untuk ‘memanggil’ atau menemukan
kembali koleksi yang ada pada jajaran rak.

Nomor panggil biasanya terdiri dari nomor klasifikasi yang diikuti dengan notasi
tambahan untuk membuat nomor panggilan unik. Nomor inilah yang akan memfasilitasi untuk
melakukan penelusuran. Reitz (2004) menyebutkan umumnya nomor kelas diikuti oleh tanda
pengarang untuk membedakan karya yang satu dengan karya lainnya. Terdapat dua komponen
dalam menentukan nomor panggil yakni.

a. Nomor kelas

Nomor/notasi kelas atau klasifikasi terdiri atas beberapa digit angka atau kombinasi angka
dan huruf yang menggambarkan subjek dari sebuah buku. Notasi juga akan tergantung
sistem klasifikasi yang digunakan misalnya DDC.

Page | 217
b. Nomor buku

Nomor buku adalah inisial tanda pengarang, tanda judul dan tanda lain yang dianggap
dapat menjadi pembeda. Meskipun beberapa buku memiliki notasi klasifikasi yang sama,
belum tentu nomor ini akan sama satu dengan lainnya. Terdapat beberapa cara untuk
pembuatan nomor buku, namun untuk sistem klasifikasi DDC menggunakan tiga huruf
pertama tajuk entri utama.

Untuk menentukan nomor buku yakni dengan mengambil tiga huruf pertama dari tajuk
entri utama. Selanjutnya sebagai unsur pembeda dapat menggunakan tanda judul dan
tanda kopi atau eksemplar (c.) serta jilid (v.).

Contoh:

020 Nomor kelas DDC: Manajemen Perpustakaan

FAD Tanda pengarang tiga huruf pertama dari FADHLI, Rahmat.

M Tanda judul: Manajemen Perpustakaan.

c.2 Tanda eksemplar: Eksemplar/buku ke dua yang dimiliki perpustakaan

Penggunaan cara ini banyak digunakan pada perpustakaan di Indonesia. Nomor panggil
ini akan mempermudah penyusunan atau penjajaran buku di rak perpustakaan dengan
menurut susunan klasifikasi, kemudian tanda pengarang, selanjutnya tanda judul dan
tanda eksemplar.

Selain itu, nomor panggil dapat dilengkapi dengan tanda yang membedakan jenis
lokasi ataupun jenis koleksi. Misalnya bagi beberapa koleksi referens ditambahkan tanda ‘R’
pada bagian atas nomor panggil seperti contoh berikut.

R Koleksi referens (R)

370.3 Kamus istilah pendidikan dan umum

SAS Tiga huruf pertama dari pengarang

k Huruf pertama dari judul

Page | 218
Nomor panggil ini juga dibuat pada katalog sebagai tanda lokasi di rak. Pada proses temu
kembali koleksi, pemustaka dapat menyesuaikan antara nomor panggil yang ada pada katalog
dengan nomor panggil yang ditempelkan pada punggung buku. Nomor panggil ini dapat
dibuat pada kertas label atau menggunakan komputer yang dicetak pada label. Ukuran label
disesuaikan dengan kebijakan perpustakaan menggunakan prinsip konsistensi. Artinya tidak
ada perubahan yang signifikan terkait gaya selingkung atau ukuran label no mor panggil.
Penempatan label pada punggung buku biasanya ditempatkan sekitar 2 cm atau 3 cm dari
bawah buku. Berikut contoh label pada punggung buku di perpustakaan.

WIDURA PUSTAKA
PERPUSTAKAAN SD PRESTASI UNGGUL
020
FAD
m
c.2
Gambar 30. Label pada Punggung Buku

Setelah nomor panggil selesai ditempatkan pada punggung buku, kegiatan pengolahan
fisik/penyelesaian koleksi selanjutnya yakni melengkapi fisik buku untuk kebutuhan
peminjaman/sirkulasi.

C. Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi di atas, kerjakan latihan berikut!
1) Jelaskan tujuan dari kegiatan pasca katalogisasi!
2) Analisislah perbedaan antara nomor kelas dengan nomor buku!

D. Rangkuman
Kegiatan pasca katalogisasi terdiri atas kegiatan penyusunan kartu katalog, pemberian
kelengkapan atau atribut bahan pustaka, penjajaran bahan pustaka serta pemeliharaan atau
perawatan bahan pustaka. Kartu katalog yang dihasilkan melalui proses katalogisasi disimpan dan
disusun pada laci katalog dan daftar penggerakan. Dalam penjajaran kartu katalog terdapat

Page | 219
beberapa sistem yang dapat diguankan yaitu sistem katalog abjad dan Sistem katalog kelas. Nomor
panggil merupakan tanda/sandi buku yang menunjukkan tempat penyimpanan suatu buku di rak
dan yang menjadi pembeda dengan buku lainnya di perpustakaan. Nomor panggil biasanya terdiri
dari nomor klasifikasi yang diikuti dengan notasi tambahan untuk membuat nomor panggilan unik.

E. Tes Formatif
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1. Berikut merupakan kegiatan pasca katalogisasi kecuali …
a. penyusunan kartu katalog
b. pemberian kelengkapan,
c. penjajaran bahan pustaka
d. pencatatan inventaris
2. Kartu yang dihasilkan melalui proses katalogisasi disebut
a. Kartu buku
b. Kartu anggota
c. Kartu katalog
d. Kartu koleksi
3. Kode unik yang dicetak pada label dan digunakan untuk menunjukkan tempat
penyimpanan suatu buku di rak adalah …
a. Nomor kelas
b. Nomor panggil
c. Nomor klasifikasi
d. Nomor inventaris
4. Kelengkapan fisik buku yang digunakan sebagai wakil buku ketika buku sedang dipinjam
adalah …
a. Kantong buku
b. Kartu anggota
c. Label buku
d. Kartu buku
5. Ukuran standar katalog kartu …

Page | 220
a. 12.5 × 7.5
b. 7.5 × 12.5
c. 8.5 × 12.5
d. 8.5 × 14.5
6. Berikut merupakan fungsi dari pemasangan lidi pada lubang yang ada pada kartu
katalog kecuali …
a. Mencegah kartu katalog hilang
b. Menjaga agar kartu katalog tetap tertata rapi
c. Menjaga agar kartu katalog tetap di tempatnya
d. Mencegah kartu katalog agar tetap bersih
7. Berikut ini yang merupakan tempat penyimpanan dan penyusunan kartu katalog adalah …
a. Meja sirkulasi dan rak koleksi
b. Lemari arsip dan meja sirkulasi
c. Laci katalog dan daftar penggerakan
d. Laci katalog dan daftar inventaris
8. Komponen dalam menentukan nomor panggil yakni …
a. Nomor kelas dan nomor induk
b. Nomor induk dan nomor buku
c. Sistem klasifikasi yang digunakan dan nomor subjek
d. Nomor kelas dan nomor buku
9. Dalam sistem katalog kelas, katalog subjek disusun menurut …
a. Abjad
b. Nomor klasifikasi
c. Nomor induk
d. Nomor panggil
10. Perhatikan istilah dibawah ini
1) Nomor induk
2) Tanda judul
3) Nomor kelas
4) Tanda eksemplar
5) Tanda pengarang

Page | 221
Urutan komponen yang dibutuhkan untuk pembuatan nomor buku yang paling tepat
adalah…

a. 1, 2, 3, 4
b. 1, 3, 5. 2
c. 3, 5, 2, 4
d. 3, 2, 5, 4

Cocokkanlah jawaban Saudara dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 3 yang terdapat di
bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Selanjutnya, gunakan rumus untuk
mengetahui tingkat penguasaan Saudara terhadap materi Kegiatan Belajar 3

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = X 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 – 100% = baik sekali

80 – 89% = baik

70 – 79% = cukup

<70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Saudara dapat meneruskan dengan
Kegiatan Belajar selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Saudara harus mengulangi materi
Kegiatan Belajar 3, terutama pada bagian yang belum dikuasai.

Page | 222
Kegiatan Belajar 4: Pascakatalogisasi (Bagian 2)
A. Kelengkapan Fisik Buku
Terdapat beberapa kelengkapan buku pada perpustakaan seperti kartu buku, kartu tanggal,
dan kantong buku (Soeatminah, 1992; Yulia et al., 2019). Kelengkapan buku akan membantu
mempermudah kegiatan administrasi pada sirkulasi bahan pustaka di perpustakaan.

1. Kartu Buku

Kartu buku merupakan kartu yang dibuat seukuran 7.5 cm x 12.5 cm yang ditempatkan pada
kantong pada bagian dalam sampul belakang buku di perpustakaan. Kartu buku berfungsi sebagai
kendali terhadap sirkulasi buku di perpustakaan. Dengan kartu buku maka dapa t diketahui
beberapa hal seperti.

a. apakah buku ada dalam pinjaman dan jika dalam kondisi pinjam, kapan seharusnya
dikembalikan;
b. berapa kali buku tersebut dipinjam dalam waktu tertentu, misalnya setiap enam bulan
atau setiap tahun.

Beberapa kegunaan kartu buku menurut Sophia (2000) yakni.

a. Pustakawan dapat mengetahui dengan mudah letak buku di rak.


b. Pustakawan dapat mengetahui nama pengarang dan judul buku yang sedang dipinjam.
c. Nama peminjam dan tanggal pengembalian dapat diketahui dari catatan yang ada pada
kartu buku.
d. Dapat diketahui statistik peminjaman tentang buku.
e. Dapat dengan mudah teridentifikasi buku yang tidak pernah dipinjam sehingga dapat
dilakukan promosi.

Page | 223
Contoh kartu buku yang telah diisi:

Gambar 31. Kartu Buku


Keterangan:

a. Nomor panggil

b. Nama pengarang atau tajik

c. Judul buku

d. Impresum

f. Nama Peminjam

g. Tanggal kembali

Kartu buku dijajarkan di dalam kotak yang disekat dengan 31 penyekat dimana setiap
penyekat dituliskan angka 1 sampai 30 untuk menyatakan tanggal dalam bulan berjalan. Pada
sistem perpustakaan konvensional, staf perpustakaan akan mengecek buku yang belum kembali
melalui kartu buku yang berada pada kotak penyimpanan kartu buku. Kartu buku yang terdeteksi
terlambat dikembalikan selanjutnya di proses oleh staf perpustakaan untu k ditindaklanjuti sesuai
dengan kebijakan perpustakaan.

Page | 224
2. Kantong Buku

Kantong buku merupakan perlengkapan pada buku yang ditempatkan pada bagian dalam
sampul belakang buku untuk menyimpan kartu buku. Penyimpanan hanya dilakukan jika buku
sedang tidak dipinjamkan. Kantong buku dapat dibuat dengan kertas manila yang direkatkan serta
diberikan identitas untuk menghindari kekeliruan dalam proses sirkulasi. Identitas yang diisi yakni
nomor panggil, tajuk entri utama (pengarang), judul buku dan nomor induk buku. Namun
penulisan identitas pada kantong buku disesuaikan kembali dengan kebutuhan masing-masing
perpustakaan. Sedangkan ukuran kantong buku akan menyesuaikan ukuran kartu buku.

00001/Pb/2021
020
FAD FADHLI, Rahmat
m Manajemen Perpustakaan
c.2

Gambar 32. Kantong Buku

3. Slip Tanggal Kembali

Slip tanggal kembali merupakan lembaran yang ditempelkan pada bagian belakang buku,
berhadapan langsung dengan tempat kantong dan kartu buku. Fungsinya sebagai lembar informasi
yang mengingatkan peminjam kapan buku harus dikembalikan serta mengetahui berapa kali buku
tersebut dipinjam. Tidak ada aturan mutlak pada format slip tanggal kembali ini. Hanya saja
terdapat beberapa informasi yang sebaiknya ada pada slip tanggal kembali seperti nomor
inventaris, identitas ringkas buku, nomor panggil, serta informasi yang bersifat peringatan
pengembalian kepada pemustaka.

Page | 225
WIDURA PUSTAKA 020
PERPUSTAKAAN SD PRESTASI FAD
UNGGUL
No. Inventaris : 0001/Pb/2021 m
Judul Buku Manajemen Perpustakaan c.2
:
Pengarang : Fadhli, Rahmat
PERHATIAN
Harap buku dikembalikan tepat waktu. Keterlambatan
akan dikenakan denda sebesar Rp. 500,- per hari.
Nomor Tanggal Kembali Paraf
Anggota

Gambar 33. Slip Tanggal Kembali

4. Sistem Barcode

Salah satu kelengkapan fisik yang dapat ditambahkan pada buku adalah barcode. Barcode
merupakan data optik yang dapat mengindentifikasi informasi tentang buku di perpustakaan.
Penggunaan barcode hanya dapat dilakukan bagi perpustakaan yang sudah menerapkan sistem
otomasi dalam pengelolaannya. Dengan adanya sistem ini, dapat mempermudah staf perpustakaan
dalam menyelesaikan administrasi sirkulasi. Terdapat berbagai jenis kode barcode seperti Code
39, Code 128, Interleaved 2 of 5, UPC dan EAN. Namun kode barcode yang disarankan yakni tipe
Code 39 karena seluruh karakter dapat digunakan dengan digit maksimal 16 digit. Sistem otomasi
perpustakaan akan mempermudah staf perpustakaan dalam memproduksi barcode karena biasanya
terdapat fitur untuk generate atau membuat barcode secara otomatis. Selain barcode, bagi

Page | 226
perpustakaan yang sudah menggunakan pintu sensor pun dapat melengkapi koleksinya dengan pita
magnetic atau RFID (Radio Frequency Identification).

Gambar 34. Barcode Buku

B. Penjajaran Koleksi/Shelving
Penjajaran koleksi (shelving) merupakan kegiatan akhir dalam pascakatalogisasi bahan
pustaka di perpustakaan. Kegiatan ini merupakan penempatan dan penyusunan kembali bahan
pustaka di rak berdasarkan kategori tertentu. Kategori ini dapat berupa nomor panggil, abjad
ataupun kriteria lainnya sesuai sistem penyimpanan di perpustakaan. Pengertian lain, shelving
dapat diartikan sebagai kegiatan teknis yang dilakukan untuk memastikan buku dan bahan
informasi lainnya dapat disimpan di rak dengan benar setelah melewati proses pengolahan ataupun
setelah digunakan oleh pemustaka. Shelving atau penjajaran koleksi bertujuan untuk tersusunnya
koleksi di perpustakaan secara sistematis sehingga mudah ditemukan kembali.

Nashihuddin (2015) menjelaskan beberapa acuan shelving di perpustakaan sebagai berikut.

a. Koleksi disusun berdasarkan jenis koleksi perpustakaan. Misalnya koleksi referensi akan
dikelompokkan pada rak koleksi referensi, koleksi sirkulasi pada rak koleksi sirkulasi dan
seterusnya.
b. Koleksi disusun berdasarkan nomor klasifikasi dari urutan terkec il hingga terbesar (pada
sistem DDC 000-900).
c. Koleksi dususun menurut huruf, nomor atau kode lain (selain sistem DDC) yang tercantum
pada label koleksi.
d. Koleksi disusun berdasarkan abjad dari tiga huruf pertama penulis/pengarang.
e. Koleksi disusun berdasarkan abjad dari satu huruf pertama judul koleksi.
f. Koleksi disusun berdasarkan eksemplar, jilid, cetakan atau volume terbitan.

Page | 227
g. Koleksi disusun di rak/tempat lain dari sebelah kiri ke kanan dalam satu rak dari atas ke
bawah.

Berikut adalah contoh susunan koleksi perpustakaan.

020 020 020 021.7 025.8


FAD FAD ZUL ZUL ZUL
m m t k t
c.1 c.2 c.1 c.1 c.1

Gambar 35. Susunan Koleksi

Gambar di atas disusun berdasarkan nomor klasifikasi, nama penulis/pengarang, judul koleksi dan
eksemplar pada koleksi perpustakaan. Penyusunan dilakukan dari kiri ke kanan serta dari atas ke
bawah. Diharapkan dengan adanya penjajaran koleksi yang baik akan mempemudah penemuan
kembali informasi serta sebagai wujud komitmen staf perpustakaan dalam mengoptimalkan
pengelolaan perpustakaan. Selain itu, dalam kegiatan shelving pihak perpustakaan juga perlu
menyediakan petunjuk informasi yang jelas bagi pemustaka agar mempermud ah proses
penelusuran. Petunjuk informasi dapat berupa informasi nomor klasifikasi kelas utama (jika
menggunakan DDC) yang ditempelkan pada bagian rak.

C. Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi di atas, kerjakan latihan berikut!

1) Identifikasi kelengkapan fisik buku yang diperlukan untuk mempermudah kegiatan


administrasi pada sirkulasi bahan pustaka di perpustakaan!
2) Jelaskan acuan dalam penjajaran koleksi!

D. Rangkuman
Kelengkapan buku pada perpustakaan terdiri dari kartu buku, kartu tanggal,kembali. kantong
buku dan barcode (Jika menggunakan sistem sirkulasi terkomputerisasi). Fungsi adanya kegiatan
pemenuhan kelengkapan buku adalah untuk membantu dan mempermudah kegiatan administrasi
pada sirkulasi bahan pustaka di perpustakaan. Penjajaran koleksi adalah kegiatan teknis yang

Page | 228
dilakukan untuk memastikan buku dan bahan informasi lainnya dapat disimpan di rak dengan
benar setelah melewati proses pengolahan ataupun setelah digunakan oleh pemustaka. Kegiatan
penjajaran koleksi dapat dilakukan berdasarkan nomor panggil, abjad ataupun kriteria lainnya
sesuai sistem penyimpanan di perpustakaan.

E. Tes Formatif
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1. Kartu buku merupakan kelengkapan buku pada perpustakaan yang ditempatkan pada …
a. Punggung buku
b. Halaman judul buku
c. Bagian dalam sampul belakang buku
d. Bagian dalam sampul depan buku
2. Dengan kartu buku maka dapat diketahui beberapa hal seperti …
a. Mengetahui kondisi buku
b. Mengetahui berapa kali buku dipinjam
c. Mengetahui jumlah buku
d. Mengetahui asal buku
3. Perlengkapan pada buku yang ditempatkan pada bagian dalam sampul dan berfungsi
sebagai menyimpan kartu buku disebut …
a. Label buku
b. Slip buku
c. Lidah buku
d. Kantong buku
4. Berikut ini merupakan salah satu kelengkapan fisik yang bertujuan untuk menjaga
keamanan koleksi adalah …
a. RFID
b. Lidah buku
c. Slip tanggal kembali
d. Label buku

Page | 229
5. Pada sistem perpustakaan konvensional, staf perpustakaan akan mengecek buku yang
belum kembali melalui …
a. Kantong buku
b. Slip tanggal kembali
c. Katu buku
d. Kartu katalog
6. Dibawah ini yang merupakan tujuan pemasangan identitas pada kantong buku adalah …
a. Memudahkan pemustaka dalam kegiatan temu kembali
b. Memberikan informasi tanggal pengembalian buku
c. Memberikan informasi statik peminjaman buku
d. Mencegah terjadinya kekeliruan dalam proses sirkulasi
7. Di bawah ini merupakan kelebihan menggunakan barcode dengan sistem otomasi
perpustakaan kecuali …
a. Staf perpustakaan tidak perlu mendapat pelatihan karena penggunaan sistem mudah
b. Memudahkan staf perpustakaan kegiatan peminjaman dan pengembalian koleksi
c. Memudahkan staf perpustakaan dalam memproduksi barcode
d. Terdapat banyak varian yang dapat dijumpai dipasaran,
8. Koleksi perpustakaan disusun berdasarkan …
a. Nomor klasifikasi, nama penulis/pengarang, judul koleksi dan eksemplar
b. Jenis koleksi, Nomor klasifikasi, impesium buku, judul koleksi dan eksemplar
c. Nomor inventaris, nama pengarang, nama penerbit dan judul koleksi
d. Nomor klasifikasi, nama penulis/pengarang, judul koleksi dan eksemplar
9. Pada kegiatan penjajaran koleksi bahan pustaka buku ditempatkan dengan ketentuan …
a. Dari sebelah kanan ke kiri dalam satu rak dari atas ke bawah.
b. Dari sebelah kiri ke kanan dalam satu rak dari atas ke bawah.
c. Dari sebelah kanan ke kiri dalam satu rak dari bawah ke atas.
d. Dari sebelah kiri ke kanan dalam satu rak dari bawah ke atas.
10. Perhatikan gambar dibawah ini

(1) (2) (3) (4)

Page | 230
035 031 031 035
BAG SUL NAD BAS
s m k i
c.1 c.2 c.1 c.2

Urutan penjajaran koleksi yang paling tepat berdasarkan gambar di atas adalah …
a. (1), (4), (3), (2)
b. (3), (2), (4), (1)
c. (3), (2), (1), (4)
d. (1), (3), (4), (2)

Cocokkanlah jawaban Saudara dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 4 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Selanjutnya, gunakan
rumus untuk mengetahui tingkat penguasaan Saudara terhadap materi Kegiatan Belajar 4

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = X 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 – 100% = baik sekali


80 – 89% = baik
70 – 79% = cukup
<70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Saudara dapat meneruskan
dengan Modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Saudara harus mengulangi
materi Kegiatan Belajar 4, terutama pada bagian yang belum dikuasai.

Page | 231
Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1 Tes Formatif 2

1. C 1. D
2. A 2. B
3. B 3. C
4. D 4. D
5. C 5. A
6. B 6. B
7. D 7. A
8. C 8. A
9. C 9. C
10. A 10. A

Tes Formatif 3 Tes Formatif 4

1. D 1. C
2. C 2. B
3. B 3. D
4. D 4. A
5. A 5. D
6. D 6. D
7. C 7. A
8. D 8. A
9. B 9. B
10. C 10. C

Page | 232
Daftar Pustaka
Bafadal, I. (2005). Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Bumi Aksara.
Basuki. (1991). Pengantar Ilmu Perpustakaan (1st ed.). Gramedia Pustaka Utama.
Basuki, S. (2019). Pengantar ilmu perpustakaan. Universitas Terbuka.
Hamakonda, T. P., & Tairas, J. N. B. (2012). Pengantar klasifikasi persepuluhan dewey. Libri.
Miswan, M. (2003). Klasifikasi dan katalogisasi: Sebuah pengantar. Workshop Perpustakaan Dan
Kearsipan, 1–20. [Link]
Mufid, M. (2013). Katalogisasi dan analisis subyek bahan pustaka: Untuk perpustakaan madrasah.
In Pendidikan dan Pelatihan Pengelolaan Madrasah se-Kabupaten Jember. STAIN Jember.
[Link]
Nashihuddin, W. (2015). Panduan penjajaran koleksi perpustakaan (Shelving).
Noerhayati, N. (1988). Pengelolaan perpustakaan (Jilid 2). Offset Alumni.
Rahayu, L. (2018). Manajemen koleksi: pengolahan bahan pustaka. In Pengelolaan perpustakaan
sekolah. Universitas Terbuka.
Rahayuningsih, F. (2013). Pengelolaan perpustakaan. Graha Ilmu.
Reitz, J. M. (2004). Online Dictionary for Library and Information Sc ience. In ABC-CLIO.
Libraries Unlimited.
Soeatminah, S. (1992). Perpustakaan kepustakawanan dan pustakawan. Kanisius.
Sophia, S. (2000). Petunjuk penggunaan kartu buku sebagai kartu kendali pada jasa sirkulasi bahan
pustaka. Seri Pengembangan Perpustakaan Pertanian, 12, 1–8.
Suhendar, Y. (2016). Pedoman katalogisasi: Cara mudah membuat katalog perpustakaan (Cet.4).
Prenadamedia.
Sumiati, O. (2018). Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Universitas Terbuka.
Sumiati, O., Rahayu, L., Rusmiyati, Y., Sudarto, Bintari, R., & Royandiah, I. (2018). Pengelolaan
Perpustakaan Sekolah. Universitas Terbuka.
Yulia, Y., & Sujana, J. G. (2009). Pengembangan koleksi. Universitas Terbuka.
Yulia, Y., Sujana, J. G., & Mustafa, B. (2019). Pengolahan Bahan Pustaka (Edisi 3). Universitas
Terbuka.

Page | 233

Anda mungkin juga menyukai