0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan15 halaman

Lip Balm Alami dari Kulit Buah Naga

Diunggah oleh

Riski Nadilla
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan15 halaman

Lip Balm Alami dari Kulit Buah Naga

Diunggah oleh

Riski Nadilla
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FORMULASI LIPBALM EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH

(Hylocereus polyrhizus) SEBAGAI PEWARNA ALAMI

PROPOSAL SKRIPSI

Disusun Untuk Memenuhi Ketentuan Melakukan Penyusunan Proposal Skripsi

Sebagai Persyaratan Menyelesaikan Program Studi S1- Farmasi

Universitas UBudiyah Indonesia Banda Aceh

Oleh :

Riski Nadilla

Nim:211010220048

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

FAKULTAS KESEHATAN

UNIVERSITAS UBUDIYAH INDONESIA

BANDA ACEH

2024-204
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T, atas segala kemampuan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelasaikan proposal skripsi yang berjudul FORMULASI
LIPBALM EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) SEBAGAI
PEWARNA [Link] skripsi ni disusun dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah
Metodelogi Penelian . Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Fauziah Andika,
SKM., [Link]. selaku dosen pengampu mata kuliah ini yang telah memberikan pengarahan
dalam penyusunan proposal skripsi ini.. Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT atas
segala rahmat dan karunia-Nya, serta tak lupa sholawat dan salam kepada junjungan Nabi Besar
Muhammad SAW atas petunjuk dan risalah-Nya, yang telah membawa kita dari zaman
kegelaapan kezaman terang benderang, dari zaman kebodohan ke zaman yang penuh dengan
ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan pada saat sekarang ini, dan atas do’a restu dan
dorongan dari berbagai pihak-pihak yang telah membantu penulis memberikan referensi dalam
pembuatan proposal skripsi ini. Penulis dapat menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam
penyusunan proposal skripsi ini, oleh karena itu Penulis sangat menghargai akan saran dan kritik
untuk membangun proposal skripsi ini lebih baik lagi. Demikian yang dapat saya sampaikan,
semoga melalui proposal ini dapat memberikan manfaat dan wawasan bagi kita semua.

Banda Aceh, 24 Mei 2024


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia sudah mengenal kosmetik sejak berabad-abad yang lalu. Pada abad ke-19

pemakaian kosmetik mulai mendapat perhatian, yaitu sebagai kecantikan dan kesehatan.

Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti “berhias”. Bahan yang dipakai dalam

usaha untuk mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami yang terdapat
disekitarnya. Sekarang kosmetika dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan

buatan untuk maksud meningkatkan kecantikan (Wasitaatmadja SM 2017).

Kosmetika adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar

badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ kelamin bagian luar), gigi, dan rongga mulut

untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap

dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau

menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono RI,Latifah F 2007). Ilmu yang mempelajari kosmetik

disebut “kosmetologi”, yaitu ilmu yang berhubungan dengan pembuatan, penyimpanan, aplikasi

penggunaan, efek samping kosmetika. Dalam kosmetologi berperan displin ilmu terkait yaitu:

teknik kimia, farmakologi, farmasi, biokimia, mikrobiologi, ahli kecantikan dan dermatologi.

Dalam disiplin ilmu dermatologi, yang menangani khusus pernanan kosmetika disebut

“dermatologi kosmetik” (cosmetic dermatology) (Wasitaatmadja SM 2017). Food and Drug

Administration (FDA), mendefinisikan produk kosmetik sebagai produk yang dimaksudkan

untuk digunakan pada tubuh manusia untuk membersihkan, mempercantik, mempromosikan

daya tarik atau mengubah penampilan, mempengaruhi struktur atau fungsi tubuh.

1
Produk kosmetik umumnya dibuat dari bahan atau zat aktif dan zat aditif (bahan

tambahan). Bahan suatu produk kosmetika dapat berasal dari tumbuhan, hewan, sintetik kimiawi,

mikroba hingga jaringan atau organ tubuh manusia (Wulan RHP 2017).

Menurut kepala badan pengawas obat dan makanan republik indoesia nomor 19 tahun

2015 tentang persyaratan teknis kosmetika bahwa kometika yang beredar harus memenuhi

persyaatan teknis, meliputi persyaratan keamanan, kemanfaatan, mutu, penandaan dan klaim.

Penandaan adalah setiap informasi mengenai kosmetika yang berbentuk gambar, tulisan,

kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada kosmetika, dimasukkan kedalam,
ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan, serta yang dicetak langsung pada produk

kosmetika. Klaim adalah pernyataan pada penandaan dan iklan berupa informasi mengenai

manfaat, keamanan dan/atau pernyataan lain terkait kosmetika (Badan POM RI 2015).

Berdasarkan manfaat kosmetika, kosmetik terbagi atas yaitu: 1) pemeliharaan dan

perawatan kulit; 2) pembersih; 3) pelembab; 4) pelindung; 5) Penipisan; 6) rias atau dekoratif; 7)

wangi-wangian (parfum); 8) kosmetik [Link] dekoratif (make-up) berfungsi

mempercantik penampilan dan menutupi kekurangan dari wajah (Putri AS 2016). Berdasarkan

bagian tubuh yang dirias, kosmetika dekoratif dapat dibagi menjadi: Kosmetika rias kulit wajah,

kosmetika rias bibir, kosmetika rias rambut, kosmetika rias mata, dan kosmetika rias kuku. Ada

beberapa macam kosmetika rias bibir, yaitu: a) Lipstick dan Lip crayon; b) Lip Balm dan

pengkilap bibir (Lip gloss); dan c) Penggaris bibir (Lip liner) .

Lip balm banyak diminati oleh konsumen karna memiliki manfaat yaitu melembabkan

bibir yang kering,bibir [Link] balm digunakan pada keadaan udara terlalu kering,

umpamanya musim dingin atau terlalu panas untuk mencegah penguapan air dari sel epitel

mukosa bibir.

2
Bibir merupakan kulit yang memiliki ciri tersendiri, sehingga lebih peka dibandingkan

kulit lainnya. Karena itu hendaknya berhati-hati dalam memilih bahan yang digunakan untuk

sediaan lipbalm, terutama dalam memilih zat warna yang digunakan (Tilaar, 1999). Zat warna

terdiri dari zat warna sintesis dan alami. Zat warna sintetis yang sering ditambahkan pada

sediaan lipbalm adalah rhodamin B karena lebih murah dan warna yang dihasilkan lebih cerah.

Efek dari zat warna ini adalah pada saluran pernafasan, dapat menimbulkan karsinogesik

(kanker) dan jika digunakan dalam konsentrasi tinggi akan menyebabkan kerusakan hati

(Risnawaty, et al., 2012). Maka dari itu diera globalisasi ini minat pewarna alami mulai
meningkat karena efek pewarna sintetis yang merugikan.

Salah satu buah yang bisa dimanfaatkan sebagai zat aktif dan pewarna sintetis dalam

sediaan lipbalm adalah buah naga merah (Hylocereus polyrhizus). Kulit buah naga merah

mengandung antosianin yang merupakan zat warna pengganti pewarna sintetis dan juga lebih

aman untuk kesehatan (Citramukti, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian Putri, (2015) sediaan lipstik ekstrak kulit buah naga merah

sebagai pewarna alami menunjukkan hasil uji fisik yang baik. Akan tetapi formulasi lipbalm

ekstrak kulit buah naga merah sebagai pewarna alami belum banyak dilakukan. Sehingga

kebaruan penelitian ini adalah membuat formulasi lipbalm ekstrak kulit buah naga merah sebagai

pewarna alami.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah ekstrak kulit buah naga merah dapat dijadikan pewarna alami pada sediaan

lipbalm?

2. Bagaimana formulasi lipbalm ekstrak kulit buah naga merah yang menghasilkan sifat

fisik terbaik?

3
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui apakah ekstrak kulit buah naga merah dapat dijadikan pewarna alami pada

sediaan lipbalm

2. Mengetahui formulasi lipbalm ekstrak kulit buah naga merah yang menghasilkan sifat

fisik terbaik

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat dari penelitian adalah untuk memberikan informasi tentang pemanfaatan kulit buah
naga merah sebagai pewarna alami yang menjadi alternatif pada formula Lip cream.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Tanaman Buah Naga

2.1.1 Sejarah Tanaman Buah Naga

Buah naga telah lama dikenal oleh rakyat Tionghoa kuno sebagai buah yang membawa
berkah. Biasanya buah naga diletakkan diantara patung naga di altar. Sebenarnya tanaman ini
bukan tanaman asli daratan Asia, tetapi merupakan tanaman asal Meksiko dan Amerika Selatan
bagian utara (Colombia).Pada tahun 1870 tanaman ini dibawa orang Perancis dari Guyana ke
Vietnam sebagai tanaman hias. Oleh orang Vietnam dan orang Cina buahnya dianggap
membawa berkah. Oleh sebab itu, buah ini selalu diletakkan di antara dua ekor patung naga
berwarna hijau di atas meja altar. Warna merah buah terlihat mencolok diantara warna naga-naga
yang hijau (Ningrum IS,2014).

Perkembangan tanaman ini sangat lambat, padahal kondisi iklim Indonesia sangat
mendukung untuk pengembangan tanaman ini. Tanaman ini dikembangkan di Indonesia sekitar
tahun 2001, daerah pertama kali menanam tanaman ini adalah daerah Pasuruan ke arah Tosari,
daerah Desa Pohgading, Kecamatan [Link] tahun terakhir ini, setelah diketahu
bahwa buah naga berkhasiat obat, usaha budidaya buah naga terus dilakukan karena sangat
menguntungkan (Setyowat A,2008).

2.1.2 Klasifikasi Tanaman

Klasifikasi botani dan gambar dari tanaman buah naga merah

Kerajaan : Plantae

Subkerajaan : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

5
Subkelas : Hamamelidae

Bangsa : Caryophyllales

Suku : Cactaceae

Marga : Hylocereus

Jenis : Hylocereus polyrhizus

2.1.3 Deskripsi Tanaman

Buah naga termasuk kedalam tanaman kaktus. Penduduk Meksiko menyebut buah naga
dengan pitaya roja atau pitaya merah. Nama buah naga atau dragon fruit mungkin disebabkan
buah ini memiliki warna merah menyala dan memiliki kulit dengan sirip hijau yang mirip dengan
sosok naga dalam imajinasi di negara Cina. Dulu masyarakat Cina kuno sering menyajikan buah
ini dengan meletakkan diantara dua ekor patung naga diatas meja altar dan dipercaya akan
mendatangkan [Link] aslinya tanaman ini berasal dari hutan teduh. Cara
perkembangbiakan tanaman ini bisa dengan stek atau semai biji. Paling cocok ditanam di dataran
rendah, pada ketinggian 0-350 m diatas permukaan laut dengan kondisi tanah yang gembur,
porous (tidak becek), banyak mengandung bahan organik dan banyak mengandung unsur hara,
pH tanah 6,5-7, cukup sinar matahari dengan intensitasi sekitar 70-80% dan bersuhu antara 26-
36ºC (Kristanto D,2014).

Tanaman mulai berbunga dan berbuah setelah umur 1,5-2 tahun. Pemanenan buah
dilakukan saat mencapai umur 50 hari terhitung sejak bunga mekar. Pemanenan pada tanaman
buah naga dilakukan pada buah yang memiliki ciri-ciri warna kulit merah mengkilap,
jumbai/sisik berubah warna dari hijau menjadi kemerahan. Pemetikan buah naga dilakukan
dalam jangka waktu lima hari supaya buah tidak merekah di pokok. Buah dipotong tangkainya
dengan menggunakan pisau atau gunting.

2.1.4 Morfologi Tanaman

Secara morfologi, tanaman buah naga termasuk tanaman tidak lengkap karena tidak
memiliki daun. Morfologi tanaman buah naga terdiri dari akar, batang, bunga, buah dan biji

[Link]

Perakaran buah naga bersifat epifit, merambat dan menempel pada tanaman lain. Perakaran buah
naga dikatakan dangkal, saat menjelang produksi hanya mencapai kedalaman 50-60cm,
mengikuti perpanjangan batang berwarna cokelat yang ada didalam tanah.

6
[Link]

Batang buah naga berwarna hijau kebiru-biruan atau keunguan. Batang berbentuk siku atau
segitiga dan mengandung air dalam bentuk lendir dan berlapiskan lilin bila sudah dewasa. Pada
batang dan cabang tanaman ini tumbuh duri-duri yang keras dan pendek. Letak duri pada siku-
siku batang maupun cabang dan terdiri 4-5 buah duri setiap titik tumbuh.

[Link]

Bunga buah naga berbentuk corong atau lonceng dan berukuran panjang 35 cm dan lebar 22,5
cm ketika kembang. Kuncup bunga keluar dari segi batang pada bagian atas duri. Warna
dibagian pangkal bunga hijau, bagian tengah kuning kehijauan dan bagian ujung putih. Bunga
akan mekar pada sore hari, setelah mekar mahkota bunga bagian dalam putih bersih dan
didalamnya terdapat benang sari berwarna kuning dan akan mengeluarkan bau harum.

[Link]

Buah berbentuk bulat panjang dan biasanya terletak mendekati ujung cabang atau batang. Kulit
buah tebal sekitar 1-2 cm dan pada permukaan kulit buah terdapat sirip atau jumbai berukura 2
cm. Kulit mudah dikupasa serta mengeluarkan cairan warna yang melekat pada tangan. Biasanya
berat buah antara 250-600 gram.

[Link]

Biji berbentuk bulat berukuran kecil dan tipis, berwarna hitam. Setiap buah mengandung lebih
dari 1.000 biji. Biasanya digunakan oleh para peneliti untuk memunculkan varietas baru.

2.1.5 Jenis-jenis Buah Naga

Adapun jenis-jenis dari buah naga sebagai berikut :

1. Hylocereus undatus, memiliki ciri kulit buah berwarna merah dengan daging buah
berwarna putih.

2. Hylocereus polyrhizus,memiliki ciri kulit buah berwarna merah dengan daging buah
berwarna merah.

3. Selenicereus megalanthus, memiliki ciri kulit buah berwarna kuning dengan daging buah
berwarna putih.

4. Hylocereus costaricensi, memiliki ciri kulit buah berwarna merah dengan daging buah
berwarna sangat merah.

7
2.1.6 Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus)

Kulit buah naga mempunyai berat 30-35% dari berat buah belum dimanfaatkan dan
hanya dibuang sebagai sampah sehingga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Hal ini
sangat disayangkan karena kulit buah naga mempunyai beberapa keunggulan. Keunggulan kulit
buah naga merah adalah kaya polyphenol dan sumber antioksidan yang baik. Kulit buah naga
kuat sebagai inhibitor pertumbuhan sel-sel kanker daripada dagingnya dan tidak mengandung
toksik (Pramita RA.2013)

2.1.7 Betasianin

Betasianin merupakan jenis betalain yang terdapat dalam buah naga merah. Betasianin
memberikan warna merah pada buah naga dan merupakan antioksidan yang dapat menghambat
radikal bebas (Asyifaa DA.2017). Semakin tinggi kandungan betalain maka antioksidan dalam
buah semakin tunggi.

Pigmen betalain beridiri sendiri sebagai sebuah jenis pigmen dan merupakan induk dari
kelompok betasianin yang berwarna merah violet dan betasantin yang berwarna kuning yang
terdapat pada buah, bunga dan jaringan vegetatif (Faridah A.2008), sedangkan antosianin
bertanggung jawab untuk kebanyakan warna merah, biru, dan ungu pada sayur, dan tanaman
hias. Betasianin merupakan kelompok flavonoid bersifat polar karena mengikat gula, pigmen
bernitrogen dan merupakan pengganti antosianin (Fitrihana N.1978).

Betasianin dapat di ekstraksi menggunakan pelarut air, etanol dan metanol, tetapi
penggunaan pelarut air dalam proses pemekatan perlu diperhatikan karena penggunaan panas
dapat mengakibatkan kerusakan senyawa betasianin sebab titik didih air cukup tinggi yaitu
100ºC. Betasianin sangat tidak stabil pada pemanasan suhu 70ºC dan 80ºC (Rengku PM.2017).

Betalain sulit dibedakan dengan antosianin hanya secara visual. Serangkaian tes
dibutuhkan untuk membedakan kedua jenis pigmen ini, namun keberadaan betalain dan
antosianin tidak pernah di jumpai bersamaan pada satu tanaman karena jalur sintetis yang
berbeda. Saat ini perbedaan yang paling mencolok antara betalain dengan antosianin adalah
distribusinya di [Link] tersebar luas dalam dunia tumbuhan sedangkan betalain
secara eksklusif hanya terdapat pada kelompok taksonomi tanaman tingkat tinggi (Faridah
A.2008).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan betasianin adalah pH, suhu, cahaya


matahari, sinar lampu dan oksidator. Suhu tinggi dan waktu pemanasan yang lama dapat
menyebabkan terjadinya dekomposisi dan perubahan struktur pigmen betasianin sehingga terjadi
pemucatan (Rengku PM 2017).

8
2.2. Ekstrak

2.2.1. Pengertian Ekstrak

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, disebutkan bahwa ekstrak adalah sediaan
kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia hewani menggunakan
pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk
yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Ekstrak cair
(Extractum Liquidum) adalah sediaan dari simplisia nabati yang mengandung etanol sebagai
pelarut atau sebagai pengawet (Departemen Kesehatan RI.2010).

2.2.2. Ekstraksi

Ekstraksi atau penyaringan merupakan proses pemisahan senyawa dari simplisia dengan
menggunakan pelarut yang sesuai.

Metode ekstraksi yang umum digunakan antara lain (Rori Y.2017):

[Link] dengan cara dingin

[Link]

Maserasi adalah cara ekstraksi simplisia dengan merendam dalam pelarut pada suhu
sehingga kerusakan dapat diminimalisasi.

[Link]

perkolasi adalah cara ekstraksi simplisia dengan menggunakan pelarut yang selalu baru,
dengan mengalirkan pelarut melalui simplisia sehingga senyawa tersari semua.

[Link] dengan cara panas

[Link]

Refluks adalah cara ekstraksi dengan pelarut pada suhu titik didihnya selama waktu
tertentu dan jumlah pelarut terbatas, agar hasil penyarian lebih baik atau sempurna.

[Link]

Soxhletasi adalah cara ekstraksi menggunakan pelarut organik pada suhu dingin dengan
alat soxhlet. Pada soxhletasi, simplisia dan ekstrak berada pada labu yang berbeda.
Pemanasan mengakibatkan pelarut menguap, dan uap masuk dalam labu pendingin.

9
[Link]

Infusa adalah cara ekstraksi dengan cara menggunakan pelarut air, pada suhu 96-98ºC
selama 15-20 menit.

[Link]

Dekok adalah cara ekstraksi yang mirip dengan infusa, hanya saja waktu ekstraksinya lebih
lama yaitu 30 menit dan suhunya mencapai titik didih air.

[Link]

Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur yang lebih
tinggi dari temperatur ruangan (kamar), yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-
50ºC.

2.3 Kosmetika

Kosmetik berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti “berhias”. Bahan yang
dipakai dalam usaha untuk mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan bahan alami yang
terdapat disekitarnya. Sekarang kosmetika dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami tetapi
juga bahan buatan untuk maksud meningkatkan kecantikan (Wasitaatmadja SM.1997).

Definisi Kosmetika dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2015, sebagai berikut. “Kosmetika adalah bahan atau
sediaan bahan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis,
rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), atau gigi dan membran mukosa mulut,
terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan, dan/ atau untuk
memperbaikibau badan atau melindungi serta memelihara tubuh pada kondisi baik” (Badan
POM RI.2015)).

2.4 Bibir

Bibir memiliki ciri tersendiri, karena lapisan dermis sangat tipis. Stratum germinatum
tumbuh dengan kuat dan korium mendorong papila dengan aliran darah yang banyak tepat
dibawah permukaan kulit (Farima.D.2009). Bibir tidak mengandung kelenjar keringat tetapi
mengandung kelenjar saliva pada bagian dalam. Saliva berfungsi sebagai pelembab alami untuk
menjaga kelembaban bibir. Bibir lebih mudah kering dan pecah-pecah sebab produksi dari
pelembab alami sangat rendah. Pemaparan sinar matahari juga dapat menyebabkan perubahan
warna bibir. Make-up bibir dibuat untuk memperbaiki penampilan dari bibir dan membantu
mengatasi masalah-masalah yang timbul pada [Link] rias bibir selain untuk merias
bibir ternyata disertai juga dengan bahan untuk meminyaki dan melindungi bibir dari lingkungan
yang merusak, misalnya sinar ultraviolet.

10
Ada beberapa macam kosmetika rias bibir yaitu :

1. Lipstik dan lip crayon


2. Lip balm dan pengkilap bibir (lip gloss)
3. Penggaris bibir (lip linear) dan lip sealers.

2.5 Lip Balm

Lip balm merupakan sediaan kosmetik dari alami atau disintesis. Bahan utama lip balm
berupa lilin, lemak, dan minyak. Lip balm merupakan dasar lilin yang diaplikasikan pada bibir
sebagai pelembab yang tidak mudah kering dan pecah-pecah(Dyah pertiwi, R.,&Pangestu M
2020). Pengaplikasian lip balm dapat menghindari terjadinya bibir kering dengan cara
meningkatkan kelembaban bibir pada lapisan korneum. Lip balm memberikan lapisan minyak
pada permukaan bibir. Lapisan minyak tersebut berfungsi sebagai pelindung bibir dari
cuaca(Madans,A.2012). Pengertian lain dari lip balm yaitu sediaan yang digunakan pada bibir
dengan membentuk lapisan minyak dipermukaan bibir yang dapat memberikan perlindungan dari
pengaruh luar. Penggunaan lip balm dapat memberikan kesan basah dan cerah pada
bibir(Nurmi .2019).Lip balm merupakan sediaan lipstik berbentuk cair yang banyak diminati
oleh konsumen karena dapat melembabkan bibir dalam waktu yang lama dibandingkan dalam
bentuk padat, serta menghasilkan warna yang lebih merata pada bibir (Asyifaa DA.2016)). Lib
balm digunakan untuk meminyaki bibir agar tidak mudah kering dan pecah-pecah
(Wasitaatmadja SM.1997).

Persyaratan untuk pewarna bibir yang dituntut oleh masyarakat, antara lain (Lestari
L.2017):

a. Melapisi bibir secara mencukupi


b. Dapat bertahan dibibir selama mungkin
c. Cukup melekat pada bibir, tetapi tidak sampai lengket
d. Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir
e. Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya
f. Memberikan warna yang merata pada bibir
g. Penampilan harus menarik, baik warna maupun bentuknya
h. Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak berbintik-bintik atau
memperlihatkan hal-hal yang tidak menarik
11

2.6 Komponen Lip Balm

Bahan-bahan utama pewarna bibir yang digunakan, antara lain:

1. Lilin

Lilin digunakkan untuk meningkatkan daya lekat, mempengaruhi daya oles, dan
daya sebar serta memiliki sifat sebagai emulsifier (Asyifa DA.2017). Misalnya: carnauba
wax, paraffin waxes, ozokerite, beeswax, candellihila wax, spermaceti, ceresine (Farima
D.2009).

2. Minyak

Minyak yang digunakan dalam pewarna bibir harus memberikan kelembutan dan
kilauan (Anggraini S.2017). Fase minyak dalam pewarna bibir dipilih terutama
berdasarkan kemampuannya melarutkan zat-zat warna eosin. Misalnya: minyak castor,
tetrahydrofufuryl alkohol, fatty acid alkylolamides, dihydric alcohol beserta monoethers
dan monofatty acid ester, isopropyl myristate, isopropyl palmite, butyl stearate, paraffin
oil(Farima D.2009)

3. Lemak

Lemak yang digunakan adalah campuran lemak padat yang berfungsi untuk
membentuk lapisan film pada bibir, memberi tekstur yang lembut(Anggraini S.2017).
Misalnya: krim kakao, minyak tumbuhan yang sudah dihidrogenasi (misalnya
hydrogenates castor oil), cetyl alcohol, oleyl alcohol, lanolin (Farima D.2009).

4. Zat-zat pewarna (coloring agents)

Zat pewarna yang dipakai secara universal didalam pewarna bibir adalah zat
warna eosin yang memenuhi dua persyaratan sebagai zat warna bibir, yaitu kelekatan pada
kulit dan kelarutannya dalam minyak. Pelarut terbaik untuk eosin adalah castor oil. Tetapi
furfury alcohol beserta ester-esternya, terutama stearat dan ricinoleat, memiliki daya
melarutkan eosin yang lebih besar. Fatty acid alkylolamides, jika dipakai sebagai pelarut
eosin, akan memberikan warna yang sangat intensif pada bibir (Farima D.2009).

5. Zat tambahan

Zat tambahan dalam pewarna bibir digunakan untuk menutupi kekurangan yang
ada tetapi dengan syarat zat tersebut harus inert, tidak toksik, tidak menimbulkan alergi,
stabil dan bercampur dengan bahan-bahan lain dalam formula. Zat tambahan yang biasa
digunakan dalam pewarna bibir antara lain:antioksida,pengawet,parfum,(Anggraini
S.2017)
12

Anda mungkin juga menyukai