Peningkatan Hasil Belajar Matematika SD
Peningkatan Hasil Belajar Matematika SD
Oleh :
i
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN HASIL PERBAIKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
ii
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
RIAS RUSLITA
NIM. 858920621
iii
KATA PENGANTAR
iv
DAFTAR ISI
v
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran .......................... 22
1. Siklus 1 ......................................................................................... 22
2. Siklus 2 ......................................................................................... 27
B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran ..................... 33
Daftar Pustaka
Lampiran
vi
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR GRAFIK
vii
DAFTAR LAMPIRAN
viii
ABSTRAK
ix
BAB 1
PENDAHULUAN
1
bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat,
perkembangan fisik serta psiklogis siswa. Hal ini menunjukkan bahwa dalam
pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang
sesuai dengan situasi mengajar dan sekaligus melibatkan peran aktif siswa dalam
proses pembelajarannya. Selain itu, dalam proses pembelajarannya diubahlah cara
belajar “teacher active teaching” menjadi “student active learning”. Maksudnya
adalah perubahan orientasi pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi
pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Untuk dapat merealisasikan program-program pembelajaran pada uraian di
atas, maka perlu kita perhatikan tentang materi, cara dan metode
pembelajarannya. Walaupun demikian masih banyak sekolah yang yang siswanya
tidak dapat mencapai KKM atau tuntas, meskipun guru telah menggunakan
strategi pembelajaran yang baik, dengan menggunakan metode dan alat peraga
yang diperlukan sesuai kebutuhan anak, tetapi hasil belajarnya masih rendah
dalam pelajaran Matematika. Demikian juga hasil belajar siswa kelas IV di SD
Negeri 1 Gladag Banyuwangi mengalami hasil rendah atau di bawah KKM.
Sehingga apabila nilai anak kurang dari 70 dinyatakan belum tuntas. Hal tersebut
perlu di perhatikan secara serius.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan masalah tersebut diatas, peneliti melakukan refleksi dan
kolaborasi dengan teman sejawat, untuk mencari akar permasalahan. Dari
kegiatan tersebut dapat diketahui bahwa permasalahannya sebagai berikut :
1. Hasil belajar rendah disebabkan oleh kurangnya semangat siswa dalam
mengikuti pelajaran.
Kelelahan juga bisa mempengaruhi hasil belajar sehingga anak merasa
bosan dan minat belajar akan hilang, oleh karena itu siswa harus menjaga
jasmani agar tetap fit.
2. Siswa kurang memahami tentang bangun ruang
Karena stres atau ketakutan untuk jujur siswa berpura-pura paham dan
tetap mengikuti pelajaran dikelas, padahal materi yang diberikan kian
bertambah dan biasanya berkesinambungan satu sama lain
3. Masih banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru
2
Terkadang siswa sibuk sendiri dengan sekitar sehingga konsentrasi siswa
tidak fokus dengan penjelasan guru, yang berakibat siswa tidak
memahami apa yang disampaikan oleh guru
4. Berdasarkan pembelajaran yang lalu nilai kurang dari nilai rata-rata
Siswa dalam pembelajaran yang lalu kurang memahami materi, sehingga
nilai siswa kurang maksimal karena materi yang disampaikan oleh guru
biasanya berkesinambungan satu sama lain
2. Analisis Masalah
Bedasarkan identifikasi tersebut, peneliti dan teman sejawat melakukan analisa
untuk mengatasi masalah-masalah tersebut :
1. Guru kurang tepat dalam memilih metode pembelajaran
Suatu metode pembelajaran dikatakan efektif dan efisien dalam
membelajarkan siswa adalah metode yang sesuai dengan materi yang akan
diajarkan
2. Guru kurang jelas dalam pemberian contoh
Karena keterbatasan waktu guru hanya memberikan satu atau dua contoh
soal agar siswa bisa bisa menghitung tentang bangun ruang, sedangkan
contoh soal banyak macamnya
3. Guru kurang melibatkan siswa
Guru terlalu mengandalkan metode ceramah sehingga waktu menjelaskan
guru kurang melibatkan siswa untuk berpartisipasi dalam berlangsungnya
belajar mengajar dikelas
3. Alternatif dan Prioritas Masalah
Melalui hasil identifikasi dan analisis, ditemukan beberapa masalah yang harus
di pecahakan. Untuk itu ditentukan alternatif masalah-masalah tersebut sebagai
berikut :
1. Metode pembelajaran harus menarik
Salah satu metode yang menarik untuk siswa yaitu metode diskusi
kelompok, karena metode ini sangat memungkinkan adanya interaksi dan
saling tukar pendapat,pengalaman,dan informasi, menurut saya metode ini
menarik karena dapat mendorong siswa siswa untuk saling membantu
selama kegiatan belajar berlangsung
3
2. Mengunakan media alat peraga yang sesuai dengan karakter siswa dan
materi yang diajarkan
Fungsi utama alat peraga adalah untuk memperjelas keabstrakan konsep
yang diberikan oleh guru agar siswa mampu menangkap arti dari konsep
abstrak tersebut dengan lebih mudah
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, dipilih alternatif untuk mengatasinya
dengan menggunakan media nyata dan alat peraga. Dengan menggunakan
medinya nyata dan alat peraga diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar
siswa kelas IV dalam pelajaran Matematika.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa pada bangun ruang
sederhana dengan pembelajaran kelompok berbantuan media kongkrit pada
siswa kelas IV SD Negeri 1 Gladag Banyuwangi?
2. Apakah alat peraga dapat membuat siswa lebih memahami penjelasan guru
dikelas IV SD Negeri 1 Gladag Banyuwangi Tahun ajaran 2021-2022?
4
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Hasil dari perbaikan pembeljaran ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Bagi siswa
a. Dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa sehingga
siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran
berjalan dengan baik dan mengalami peningkatan.
b. Pelajaran matematika dapat menjadikan pelajaran yang
menyenangkan bagi siswa,sehingga siswa lebih memperhatikan
penjelasan guru.
c. Memberikan kemudahan siswa dalam memahami proses
pembelajaran dalam materi bangun ruang sederhana.
d. Memberikan motivasi siswa dalam belajar serta daya tarik terhadap
matematika lebih tinggi
2. Bagi guru/Penulis
a. Guru dapat memperbaiki pembelajaran yang terjadi sehingga siswa
bisa memahami materi yang disampaikan dengan lebih baik
b. Guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif dalam
mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri
c. Sebagai penumbuh rasa percaya diri
d. Sebagai Profesionalitas guru karena mampu menilai dan
memperbaiki pembelajaran yang biasanya
3. Bagi Sekolah
a. Menambah kemajuan sekolah agar lebih terlihat inovatif dan kreatif
di dunia pendidikan
b. Memiliki iklim pendidikan yang senantiasa kondusif
c. Memberikan inspirasi – inspirasi guru – guru lainnya agar
melakukan perbaikan metode pembelajaran
d. Sekolah dapat berkembang dengan tuntutan zaman
4. Bagi Orang Tua
a. Memiliki rasa percaya kepada guru untuk mendidik anaknya agar
menjadi siswa yang baik.
b. Memiliki rasa bangga terhadap sekolah.
5
E. Peneliti
a. Membantu memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya
b. Meningkatan profesionalisme
c. Meningkatkan rasa percaya diri
d. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan serta sebagai sarana
untuk menampilkan pembeaharuan pembelajaran
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
7
SD tidak terlepas dari dua hal yaitu hakikat matematika itu sendiri dan hakikat
dari anak didik di SD.
Suwangsih dan Tiurlina (2006) menyatakan ciri-ciri pembelajaran
matematika SD yaitu:
1. Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral
Pendekatan spiral dalam pembelajaran matematika merupakan
pendekatan di mana pembelajaran konsep atau suatu topik matematika selalu
mengaitkan atau menghubungkan dengan topik sebelumnya, topik
sebelumnya merupakan prasyarat untuk topik baru, topik baru merupakan
pendalaman dan perluasan dari topik sebelumnya. Konsep yang diberikan
dimulai dengan benda-benda konkret kemudian konsep itu diajarkan kembali
dengan bentuk pemahaman yang lebih abstrak dengan menggunakan notasi
yang lebih umum digunakan dalam matematika.
2. Pembelajaran matematika bertahap
Materi pelajaran matematika diajarkan secara bertahap yaitu dimulai
dari konsep-konsep yang sederhana, menuju konsep yang lebih sulit, selain
pembelajaran matematika dimuali dari yang konkret, ke semi konkret, dan
akhirnya kepada konsep abstrak.
3. Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif
Matematika merupakan ilmu deduktif. Namun karena sesuai tahap
perkembangan siswa maka pada pembelajaran matematika di SD digunakan
pendekatan induktif.
4. Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi
Kebenaran matematika merupakan kebenaran yang konsisten artinya
pertentangan antara kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lainnya.
Suatu pernyataan dianggap benar jika didasarkan kepada pernyataan-
pernyataan sebelumnya yang telah diterima kebenarannya. Meskipun di SD
pembelajaran matematika dilakukan dengan cara induktif tetapi pada jenjang
selanjutnya generalisasi suatu konsep harus secara deduktif.
5. Pembelajaran matematika hendaknya bermakna
Pembelajaran matematika secara bermakna merupakan cara
mengajarkan materi pelajaran yang mengutamakan pengertian dari pada
8
hafalan. Dalam belajar bermakna aturan-aturan, dalil-dalil tidak diberikan
dalam bentuk jadi, tetapi sebaliknya aturan-aturan, dalil-dalil ditemukan oleh
siswa melalui contoh-contoh secara induktif di SD, kemudian dibuktikan
secara deduktif pada jenjang selanjutnya.
Tentunya dalam mengajarkan matematika di Sekolah Dasar tidak
semudah dengan apa yang kita bayangkan, selain siswa yang pola pikirnya masih
pada fase operasional konkret, juga kemampuan siswa juga sangat beragam.
Hudojo (2005) menyatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
mengajarkan matematika di tingkat sekolah dasar yaitu sebagai berikut:
1. Siswa
Mengajar matematika untuk sebagian besar kelompok siswa
berkemampuan sedang akan berbeda dengan mengajarkan matematika kepada
sekelompok kecil anak-anak cerdas, sekelompok besar siswa tersebut perlu
diperkenalkan matematika sebagai suatu aktivitas manusia, dekat dengan
penggunaan sehari-hari yang diatur secara kreatif (oleh guru) agar kegiatan
tersebut disesuaikan dengan topik matematika. Untuk siswa yang cerdas,
mereka akan mudah mengasimilasi dan mengakomodasi teori matematika dan
masalah-masalah yang tertera dalam buku teks.
2. Guru
Ada dua orientasi guru dalam mengajar matematika di SD sebagai berikut:
a. Keinginan guru mengarah ke kelas sebagai keseluruhan dan sedikit
perhatian individu siswa baik reaksinya maupun kepribadian. Biasanya
mereka membatasi dirinya ke materi matematika yang distrukturkan ke
logika matematika. Mengajar matematika berarti mentranslasikan sedekat-
dekatnya ke teori matematika yang sama sekali mengabaikan kesulitan
yang dihadapi siswa.
b. Guru tidak terikat ketat dengan pola buku teks dalam mengajar
matematika. Ia mengajar matematika dengan melihat lingkungan sekitar
bersama-sama dengan siswa untuk mengeksplor lingkungan tersebut.
Kegiatan matematika diatur sedekat-dekatnya dengan lingkungan siswa
sehingga siswa terbiasa terhadap konsep-konsep matematika.
9
3. Alat Bantu
Mengajar matematika di lingkungan SD, harus didahului dengan benda-
benda konkret. Secara bertahap dengan bekerja dan mengobservasi, siswa
dengan sadar menginterpretasikan pola matematika yang terdapat dalam
benda konkret tersebut. Model konsep seyogianya dibentuk oleh siswa
sendiri. Siswa menjadi “penemu” kecil. Siswa akan merasa senang bila
mereka “menemukan”.
4. Proses Belajar
Guru seyogianya menyusun materi matematika sedemikian hingga
siswa dapat menjadi lebih aktif sesuai dengan tahap perkembangan mental,
agar siswa mempunyai kesempatan maksimum untuk belajar.
5. Matematika Yang Disajikan
Matematika yang disajikan seyogianya dalam bentuk bervariasi. Cara
menyajikannya seyogianya dilandasi latar belakang yang realistik dari siswa.
Dengan demikian aktivitas matematika menjadi sesuai dengan lingkungan
para siswa.
6. Pengorganisasian Kelas
Matematika seyogianya disajikan secara terorganisasikan, baik antara
aktivitas belajarnya maupun didaktiknya. Bentuk pengorganisasian yang
dimaksud antara lain adalah laboratorium matematika, kelompok siswa yang
heterogen kemampuannya, instruksi langsung, diskusi kelas dan pengajaran
individu. Semua itu dapat dipilih bergantung kepada situasi siswa yang pada
dasarnya agar siswa belajar matematika.
Dengan memperhatikan keenam hal di atas, sangat diharapkan
pembelajaran matematika menyenangkan bagi siswa dan pembelajaran
matematika menjadi efektif sehingga siswa tidak hanya mampu menghafal
konsep-konsep matematika, tetapi juga harus dapat diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari, jadi sangat diharapkan dalam proses pembelajaran yang
dipraktekkan guru juga melibatkan dan mengaktifkan siswa dalam proses
menemukan konsep-konsep matematika. Sehingga pembelajaran matematika di
SD mampu mengembangkan kompetensi kompetensi matematika seperti yang
terdapat dalam kurikulum matematika.
10
B. Pembelajaran kelompok
Kelompok merupakan salah satu pembelajaran dimana siswa belajar dalam
kelompok-kelompok kecil yang memiliki kemampuan yang berbeda (Anonim,
2004:11). Sedangkan menurut Ibrahim, dkk (2000: 5-6) pembelajaran kelompok
merupakan pembelajaran yang dicirikan oleh struktur tugas, tujuan, dan
penghargaan kelompok. Siswa bekerja dalam situasi pembelajaran kelompok
didorong atau dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas dan mereka harus
mengkoordinasi usahanya menyelesaikan tugasnya.
Menurut Ibrahim, dkk (2000: 6) model pembelajaran kooperatif biasanya
memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka sehidup dan
sepenanggungan bersama.
2. Para siswa memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam
mempelajari materi yang dihadapi.
3. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka memilki tujuan yang sama.
4. Para siswa harus berbagi tugas dan tanggung jawab yang sama besarnya
dengan anggota kelompok lain.
5. Para siswa akan diberikan suatu penghargaan yang akan ikut berpengaruh
terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
Sedangkan menurut Roger dan David Johnson dalam Lie (2007: 31-35)
mengatakan bahwa dalam pembelajaran kooperatif terdapat lima unsur
pembelajaran yang harus diterapkan, yaitu:
a. Saling ketergantungan positif
Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha anggotanya. Untuk
menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas
sedemikain rupa sehingga anggota kelompok harus menyelesaikan
tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka..
b. Tanggung jawab perseorangan
Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Dimana
tugas dan penilaian dibuat menurut rancangan pembelajaran kooperatif dan
setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang
11
terbaik. Kunci keberhasilan metode ini adalah persiapan guru dan
penyusunan tugasnya.
c. Tatap muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan bertatap muka dan
berdiskusi. Kegiatan interaksi akan memberikan kesempatan para
pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua
anggota.
d. Komunikasi antar anggota
Unsur ini juga menghendaki pelajar dibekali dengan berbagai keterampilan
berkomunikasi. Keberhasilan suatu kelompok tergantung pada kesediaan
para anggotanya untuk saling mendengarkan dalam mengutarakan
pendapat mereka.
e. Evaluasi proses kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka, agar
bisa bekerjasama dengan lebih efektif.
C. Media Pembelajaran
Media Pembelajaran diartikan segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk
merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan
pebelajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.
Sedangkan menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik
untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan
sebagainya. Kemudian menurut National Education Associaton(1969)
mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam
bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
Pengertian media pembelajaran adalah segala alat pengajaran yang digunakan
untuk untuk membantu menyampaikan materi pelajaran dalam proses belajar
mengajar sehingga memudahkan pencapaian tujuan tujuan pembelajaran yang
sudah dirumuskan. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan yang cukup
tentang media pengajaran, yang meliputi (Hamalik, 1994 : 6)
12
Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar
mengajar;
Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan;
Seluk-beluk proses belajar;
Hubungan antara metode mengajar dan media pendidikan;
Nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran;
Pemilihan dan penggunaan media pendidikan
Berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan;
Media pendidikan dalam setiap mata pelajaran;
Usaha inovasi dalam media pendidikan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media adalah bagian yang
tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan
pada umumnya dan tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya.
D. Media Kongkrit
Kongkrit berarti nyata dapat dibuktikan dalam pengertiannya. Seperti
yang diungkapkan Rodhatul Jennah (2009:79) bahwa objek adalah “benda
sebenarnya yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran” media konkret
perlu digunakan untuk mempermudah peserta didik di dalam proses pembelajaran
untuk mencapai tujuan pengajaran. Sedangkan menurut Ibrahim dan Syaodih
(2003:118), yang dimaksud media konkret yaitu “ untuk mencapai hasil yang
optimal dari proses belajar mengajar salah satu yang disarankan dalam
digunakannya pula media yang bersifat langsung, bersifat nyata atau realita”.
Benda konkret yang sesungguhnya akan memberikan ransangan yang amat
penting bagi peserta didik dalam mempelajari berbagai hal, terutama yang
menyangkut pengembangan keterampilan tertentu. Melalui penggunaan media
konkret ini, kegiatan belajar mengajar dapat melibatkan semua indera peserta
didik, terutama indera peraba.
Media konkret memegang peranan yang cukup penting dalam proses
pembelajaran, media konkret dapat dan memperlancar dan memperjelas
penyampaian materi pembelajaran, media konkret dapat menumbuhkan minat
13
peserta didik dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pembelajaran dan
dunia nyata, agar lebih efektif peserta didik sebaiknya berinteraksi langsung
dengan media nyata meyakinkan terjadinya proses informasi.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa media konkret
adalah media atau benda yang digunakan pendidik pada saat proses belajar
mengajar di kelas yang dapat dilihat secara langsung dan nyata oleh peserta didik.
Media konkret juga ini berasal dari benda-benda yang mudah didapatkan dan
mudah digunakan sehingga membantu memudahkan peserta didik memahami
suatu pelajaran yang disampaikan pendidik, karena itu media konkret sangat
berperan dalam proses belajar mengajar.
14
alat peraga dalam proses pembelajaran harus dioptimalisasi. Dengan peragaan
dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar. Alat peraga dapat
menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan. Memberikan
pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu
berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.
15
secara menyeluruh terhadap peserta didik, baik dari segi pemahamannya terhadap
materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan (aspek kognitif), maupun dari
segi penghayatan (aspek afektif), dan pengamalannya (aspek psikomotor).
Ketiga aspek atau ranah kejiwaan itu erat sekali dan bahkan tidak mungkin
dapat dilepaskan dari kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar. Pengelompokkan
tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (daerah
binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu:
a) Ranah proses berfikir (cognitive domain)
b) Ranah nilai atau sikap (affective domain)
c) Ranah keterampilan (psychomotor domain)
Dalam konteks evaluasi hasil belajar, maka ketiga domain atau ranah itulah
yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar. Sasaran
kegiatan evaluasi hasil belajar adalah:
1) Apakah peserta didik sudah dapat memahami semua bahan atau materi
pelajaran yang telah diberikan pada mereka?
2) Apakah peserta didik sudah dapat menghayatinya?
3) Apakah materi pelajaran yang telah diberikan itu sudah dapat diamalkan
secara kongkret dalam praktek atau dalam kehidupannya sehari-hari?
Ketiga ranah tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga
ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah
karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan
pengajaran.
Ranah yang berhubungan aktivitas fisik, misalnya; menulis, memukul,
melompat dan lain sebagainya. Ranah kognitif berhubungan erat dengan
kemampuan berfikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal, rnemahami,
mengaplikasi, menganalisis, mensintesis dan kemampuan mengevaluasi.
Sedangkan ranah afektif mencakup watak perilaku seperti sikap, minat,
konsep diri, nilai dan moral. Dalam paradigma lama, penilaian pembelajaran lebih
ditekankan pada hasil (produk) dan cenderung hanya menilai kemampuan aspek
kognitif, yang kadang-kadang direduksi sedemikian rupa melalui bentuk tes
obyektif. Sementara, penilaian dalam aspek afektif dan psikomotorik kerapkali
diabaikan. Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat
16
berbentuk tanggung jawab, kerjasama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur,
menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri.
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup
kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada
kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan
dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari
untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah
subtaksonomi yangmengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal
dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi.
Masalah afektif dirasakan penting oleh semua orang, namun implementasinya
masih kurang. Hal ini disebabkan merancang pencapaian tujuan pembelajaran
afektif tidak semudah seperti pembelajaran kognitif dan psikomotor. Satuan
pendidikan harus merancang kegiatan pembelajaran yang tepat agar tujuan
pembelajaran afektif dapat dicapai.
17
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Gladag Banyuwangi.
3. Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dimulai pada tanggal 3 April 2022 sampai 5 Juni
2022 dengan kegiatan yang meliputi :
1. Pelaksanaan PTK prasiklus pada tanggal 18 April 2022
2. Pelaksanaan PTK siklus 1 pada tanggal 19 April 2022
3. Pelaksanaan PTK siklus 2 pada tanggal 22 April 2022
18
B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
1. Desain Penelitian
Sebelum pelaksanaan siklus perbaikan, peneliti melakukan kegiatan
perencanaan pembelajaran pra siklus dengan teman sejawat sebagai pengamat.
Pada saat melakukan pembelajaran pra siklus pengamatakan menggunakan lembar
observasi yang telah disediakan.
Penelitian ini akan dibagi menjadi 2 siklus. Masing- masing siklus terdiri dari 4
langkah antara lain :
1. Perencanaan, yaitu merumuskan masalah, menentukan tujuan, dan metode
penelitian serta membuat rencana tindakan.
2. Pelaksanaan, yang dilakukan sebagai upaya perubahan yang dilakukan.
3. Pengamatan, dilakukan secara sistematis untuk mengamati hasil atau
dampak tindakan yang dilakukan.
4. Refleksi, yaitu mengkaji dan mempertimbangkan hasil atau dampak
tindakan yang dilakukan.
Keempat fase tersebut merupakan suatu siklus dalam sebuah penelitian seperti
gambar dibawah ini :
Gambar 3.1
Alur Pelaksanaan PTK (Adaptasi dari Model Kemmes dan MC. Taggart)
Siklus 1
19
Siklus 1 dilaksanakan pada hari Selasa, 19 April 2022. Tahap ini dilaksanakan
dalam 4 fase yaitu : perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Hal-hal yang akan dilaksanakan dalam 4 fase tersebut adalah sebagai berikut :
1. Perencanaan
Sebagai langkah awal sebelum pelaksanaan siklus, terlebih dahulu
dilaksanakan langkah-langkah yaitu :
a. Konsultasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan perbaikan
sekaligus meminta izin. Disamping itu peneliti akan melakukan diskusi
dengan teman sejawat dan subjek penelitian terutama menyangkut kesiapan
mereka untuk diadakan perbaikan pembelajaran,
b. Mempersiapkan beberapa perangkat pembelajaran, yang meliputi : Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), silabus, dan instrumen penilaian,
c. Mempersiapkan lembar pengamatan yang akan digunakan oleh supervisor,
serta
d. Menentukan hari/ tanggal pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada setiap
siklus.
2. Pelaksanaan
Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Definisi PTK
menurut Igak Wardhani dan Kuswaya Wihardit (2008) adalah penelitian
yang akan dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi
diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru. sehinggan
hasil belajar siswa menjadi [Link] yang akan dilaksanakan
pada tahap ini yaitu :
a. Melaksanakan proses pembelajaran yang mengacu pada persiapan
yang dilaksanakan oleh peneliti.
b. Menjelaskan materi tentang bangun ruang sederhana di depan kelas
c. Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok dan masing-masing
kelompok berdiskusi.
d. Kemudian siswa mendiskusikan sifat-siat yang dimiliki oleh
bangun ruang sederhan (balok).
e. Guru memberi tugas kepada siswa untuk memjawab pertanyaan.
20
f. Terakhir guru bersama siswa merangkum materi yang telah
dipelajari dan memuat sebuah kesimpulan tentang pembelajaran
yang baru saja dilakukan.
3. Pengamatan/ Teknik Pengumpulan Data/ Instrumen
Tahap ini dilaksanakan bersamaan dengan pembelajaran kelompok dengan
pendekatan saintifik oleh guru pengajar (peneliti). Bersama teman sejawat
peneliti membuat catatan kecil hasil pengamatan di kelas tentang proses
berlangsungnya pembelajaran dan mengisi format untuk mengamati
aktivitas. Dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus 1
dilakukan evaluasi post tes pada siswa untuk mengetahui hasil belajar
siswa.
4. Refleksi
Dalam tahapan refleksi ini dilakukan untuk mengkaji ulang serangkaian
tindakan yang sudah terjadi dan dilakukan sebelumnya. Kekurangan serta
kelemahan dalam pembelajaran dapat di ketahui di sini. Selain itu refleksi
juga dapat digunakan untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus 2
serta juga digunakan untuk memperkuat hasil pembelajaran pada siklus 1.
Siklus 2
Siklus 2 merupakan proses perbaikan dari siklus 1. Dalam siklus 2, proses-
proses yang dilakukan bertolak dari kekurangan dan kelebihan siklus 1. Dalam
siklus dua ini merupakan kegiatan perbaikan serta penyempurnaan dari siklus 1
sehingga dapat memperbaiki proses pembelajaran serta diharapkan mampu
meningkatkan hasil belajar siswa. Materi yang diajarkan dalam siklus 2 sama
dengan materi yang akan diajarakan dalam siklus 1. Siklus 2 ini dilaksanakan
pada hari Rabu,2 April 2022. Tahap-tahap yang dilaksanakan pada siklus 2 adalah
sebagai berikut:
1. Perbaikan Perencanaan
Pada tahap ini, peneliti dan teman sejawat memperbaiki atau
menyempurnakan perencanaan siklus 1 dengan berpedoman pada
tindakan-tindakan dari perencanaan sebelumnya yang belum bisa
terlaksana dengan baik dan optimal. Tindakan yang akan dilakukan yaitu:
21
Melakukan pengamatan awal terhadap subjek penelitian tentang tingkat
kompetensinya terhadap materi sifat bangun ruang sederhana (balok), agar
lebih tepat sasaran dan menyiapkan perangkat pembelajaran yaitu dengan
mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang lebih baik
dari sebelumnya.
2. Perbaikan Pelaksanaan
Pada tahap ini, peneliti melaksanakan tindakan- tindakan dengan
memperbaiki pelaksanaan pada siklus 1, agar hasil yang diperoleh berupa
peningkatan kinerja dan hasil program lebih optimal dari siklus 1, yaitu:
a. Sebelumnya guru mengajukan pertanyaan tentang materi
sebelumnya sebagai kegiatan awal .
b. Guru menjelaskan tujuan yang akan dicapai siswa dengan
menerapkan pembelajaran kelompok dengan berbantuan media alat
peraga.
c. Guru menjelaskan materi tentang bangun ruang sederhan (sifat
balok) di depan kelas.
d. Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok dan masing-masing
kelompok mengamati alat peraga yang telah disediakan guru.
e. Siswa disuruh berdiskusi tentang siat yang dimiliki balok.
f. Setelah itu guru memberi tugas kepada siswa untuk memjawab
pertanyaan.
g. Guru bersama siswa merangkum materi yang telah dipelajari dan
memuat sebuah kesimpulan tentang pembelajaran yang baru saja
dilakukan.
h. Guru melakukan tanya jawab dengan siswa sebelum membuat
kesimpulan dari apa yang telah dipelajari.
i. Terakhir guru dan siswa melakukan refleksi dan evaluasi atau tugas
lain untuk dikerjakan dirumah.
3. Pengamatan/ Teknik Pengumpulan data/ Instrumen
Pada tahap ini, peneliti yang dibantu oleh teman sejawat melakukan
Pengamatan dengan lebih baik, teliti, dan cermat terhadap aspek- aspek
22
yang belum bisa diperbaiki pada siklus 1. Pedoman pengamatan pada siklus
2 sama dengan pedoman pengamatan pada siklus 1 yaitu untuk mengamati
peningkatan hasil belajar siswa dalam pelajaran Matematika dengan pokok
bahasan bangun ruang sederhan (sifat balok). Pengamatan dalam
pelaksanaan perlu didiskusiskan terlebih dulu dengan supervisor 2 atau
teman sejawat. Dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus 2
pengamatan dilakukan dengan memberi post tes yang ke dua pada siswa
untuk mengetahui perubahan hasil belajar siswa.
4. Refleksi
Tahapan refleksi diperlukan untuk mengkaji segala hal yang terjadi selama
proses pembelajaran. Dari observasi yang sudah dilakukan, peneliti
mencoba memperbaiki, menyempurnakan, serta memperkuat hasil kegiatan
dalam siklus 1. Sehingga dari sini diharapkan melalui pembelajaran
kelompok dengan pendekatan saintifik dapat meningkatkan hasil belajar
[Link] ini merupakan tahapan yang dilakukan untuk melaksanakan
pengkajian terhadap rangkaian kegiatan siklus 2 dengan cara menganalisis,
mengidentifikasi, dan mengevaluasi data yang terkumpul dari hasil
observasi dan hasil evaluasi belajar siswa. Jika hasil siklus 2 telah mencapai
tujuan penelitian, maka pelaksanaan tindakan perbaikan per siklus akan
berakhir.
23
Keterangan prosentase ketuntasan belajar siswa:
n : Jumlah siswa yang mencapai skor tes ≥ 70 dari skor maksimal
100
N : Jumlah siswa keseluruhan
Sehingga didapatkan, kriteria ketuntasan belajar siswa dinyatakan sebagai
berikut:
- Daya serap perorangan yaitu seorang dikatakan tuntas belajar apabila telah
mencapai skor ≥ 70 dari skor tes maksimal (KKM)
- Daya serap klasikal yaitu suatu kelas di katakan tuntas belajar apabila minimal
70 %
24
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
b. Pelaksanaan
Tindakan Perbaikan Pembelajaran siklus 1 dilaksanakan pada hari Selasa
tanggal 19 April 2022. Pada tahap ini guru bertindak sebagai pengajar yang
25
menggunakan metode pembelajaran kelompok dengan berbantuan media alat
peraga padamata pelajaran Matematika di kelas IV SD Negeri 1 Gladag
Banyuwangi dengan materi pokok bangun ruang sederhana (sifat balok). Dalam
Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran tersebut, diamati oleh supervisor 2 dengan
menggunakan lembar observasi yang telah di sediakan.
Langkah – langkah Perbaikan Pembelajaran :
Kegiatan awal (5 menit)
Guru menyapa siswa dengan mengucapkan salam, kemudian guru mengecek
kehadiran siswa. Lalu guru memotifasi siswa agar terus semangat belajar dan
menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini. Guru melaksanakan tanya jawab
tentang sifat balok guna untuk mengingat kembali tentang materi tersebut.
Kegiatan inti (25 menit)
Pada kegiatan ini guru membentuk 4 kelomok yang terdiri dari 5 siswa. Berikut
adalah denah kelompok pada siklus 1
Meja Guru
A B
C D
Gambar 4.1
Pemetaan Kelompok Siklus 1
Guru menjelaskan materi dengan menggunakan alat peraga atau media. Dalam
penyampaian materi guru menggunakan madia kongkrit yang ada di lingkungan
sekitar. Siswa terlihat bersemangat mendengarkan penjelesan guru. Namun masih
ada sebagian siswa yang tidak mendengarkan. Siswa mengamati peraga yang telah
disediakan.
26
Pada siklus 1 ini peneliti mengamati proses belajar kelompok siswa guna
mengukur keberhasilan dari kerja kelompok agar siswa dapat berfikir kritis dalam
menghadapi setiap permasalahan. Akan tetapi masih banyak anggota diskusi yang
tidak aktif , cenderung melihat kearah papan tulis dan hanya anggota kelompok
tertentu yang mengerjakan lembar diskusi kelompok. Hal ini dikarenakan adanya
keengganan siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam metode ini. Siswa
seringkali tidak bersedia untuk ikut serta dalam metode pembelajaran ini yang
telah dirancang, walaupun guru menganggap siswa tersebut mampu berperan
serta. Akan tetapi pertukaran pendapat sesama anggota kelompok sudah terlihat
meskipun tidak sepunuhnya aktif. Hasilnya disimpulkan sebagai berikut:
1) Kelompok belajar A dan D, sebagian anggota ada yang aktif ada yang tidak
aktif cenderung malas untuk berdiskusi.
2) Kelompok belajar B, anggota kelompok tampak aktif dan saling bertukar
pikiran saat proses diskusi berlangsung.
3) Kelompok belajar C, sebagian anggota sangat aktif,dan sebagian yang
lainnya tidak ikut berdiskusi.
c. Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan bersama–sama dengan pelaksanaan tindakan.
Kegiatan observasi ini dilakukan untuk mengamati akivitas guru dan siswa.
Observasi inidibantu oleh supervisor 2. Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus
1, siswa masih kurang aktif, dan masih banyak siswa yang kurang memahami
materi pada mata pelajaran Matematika. Ketika siswa berdiskusi, hanya beberapa
27
siswa saja yang akti dalam kegiatan diskusi kelompok, hasil siswa mengalami
peningkatan namun belum maksimal. Selain itu masih adanya siswa
berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada
siswa lainnya.
Pada siklus 1 ini peniliti mengukur keberhasilan pembelajaran dengan
pemberian soal individu dalam bentuk jawaban singkat. Jumlah siswa yang tuntas
dari 20 siswa hanya 10 siswa yang berhasil mendapatkan nilai ≥70.
Hasil Analisis
Ketuntasan secara klasikal
jumlah siswa yang tuntas
Prosentase Kelulusan= ×100 %
jumlah seluruh siswa
10
= x 100 %
20
=50 %
Tabel 4.1
Perolehan Klasikal Siklus 1 dan Presentase
Klasifikasi Ketuntasan JumlahSiswa Persentase
NO
Siswa (Orang) (%)
1 Siswa Tuntas 10 50 %
2 Siswa Tidak Tuntas 10 50 %
Dari tabel diatas dapat diketahui dari jumlah seluruh siswa sebanyak 20 siswa,
terdapat 10 siswa yang memiliki nilai ≥ 70dan ketuntasan klasikalnya sebesar 50
%. Sedangkan jumlah siswa yang tidak tuntas belajarnya sebanyak 10 siswa, dan
ketuntasan klasikalnya50 %. Ini berarti belum memenuhi standart ketuntasan
klasikal (SKM) yaitu 70% siswa yang tuntas [Link] karena itu perlu
dilakukan siklus [Link] tabel di atas dapat diperjelas dengan grafik dibawah ini.
28
GRAFIK SIKLUS 1
TIDAK TUNTAS
TUNTAS 50%
50%
Grafik 4.1
Grafik Kalsikal Siklus 1 dan Prosentase
d. Refleksi
29
Berdasarkan hasil pengamatan selama proses perbaikan pembelajaran siklus 1
ditemukan beberapa masalah yang menghambat proses
pembelajaran ,diantaranya:
1) Kegiatan awal :pada kegiatan awal dapat terlaksana dan berjalan sesuai
dengan rencana pembelajaran.
2) Kegiatan inti : pada kegiatan inti ditemukan bebrapa kekurangan yang
meliput siswa kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Hal ini
dikarenakan penerapan pembelajaran kelompok banyak siswa yang kurang
aktif dan invidual. Siswa hanya mengamati sehingga siswa kurang bekerja
sama dengan anggota kelompok.
3) Kegiatan akhir : pada kegiatan akhir dapat terlaksana dan berjalan sesuai
rencana perbaikan pembelajaran
4) Hasil : dalam perbaikan pembelajaran siklus 1 dengan mengefektifikan
metode pembelajaran kelompok dengan media kongkrit, ternyata mampu
meningkatkan hasil pembelajaran siswa kelas IV SD Negeri 1 Gladag
Banyuwangi tahun pelajaran 2021-2022, tetapi masih belum mendapat
nilai maksimal, ini terbukti dilihat hasil evaluasi yang dilakukan oleh
guru , dari 20 siswa hanya ada 10 siswa yang mendapat diatas rata-rata.
Hal ini disesabkan pemahaman siswa terhadap materi masih belum
menyuluruh.
2. SIKLUS 2
a. Perencanaan
Perencanaan siklus 2 dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 22 April 2022. Dari
kumpulan data hasil pembelajaran siklus 1, guru sebagai peneliti berdiskusi
dengan supervisor memperbaiki proses pembelajaran siklus 1 dengan langkah
membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) siklus 2,lembar observasi
kinerja guru (instrumen APKG), lembar evaluasi siswa dengan soal yang baru,
menyiapkan media benda [Link] dengan rencana yang telah disusun,
pelaksanaan siklus 2 dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 22 April 2021-2022.
Pada tahap ini, peneliti telah melaksanakan tindakan-tindakan dengan
memperbaiki pelaksanaan pada siklus 1, agar hasil yang diperoleh berupa
30
peningkatan kinerja dan hasil program lebih optimal dari siklus 1. Adapun
langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Menyusun rancangan rencana pembelajaran . Pada penyusunan ini peneliti
merancang pembelajaran dengan pembelajaran diskusi kelompok guna
untuk membentuk pengembangan sikap baik sosial, pengetahuan, dan
keterampilan peserta didik dalam mengaplikasikan materi pelajaran. Dalam
pendekatan ini peserta didik tidak lagi dijadikan sebagai objek
pembelajaran, tetapi dijadikan subjek pembelajaran lebih focus pada
keaktifan siswa.
2) Mempersiapkan alat peraga sebagai bantuan untuk pengefekaktifan metode
pembelajaran kelompok dengan bendakonkrit. Hal ini bertujuan agar
informasi, media pembelajaran dapat digunakan dalam rangka penyajian
informasi dihadapan sekelompok siswa dengan menunjukkan hubungan
antar mata pelajaran dan kebutuhan minat siswa dengan meningkatnya
motivasi belajar siswa sehingga membawa kesegaran dan variasi bagi
pengalaman belajar siswa. Diharapkan hasil belajar lebih meningkat pada
mata pelajaran Matematika pada materi bangun ruang sederhana (sifat
balok)
3) Pembentukan 4 kelompok belajar saat pelaksanaan proses belajar
pembelajaran berlangsung. Pada tahap ini guru membentuk kelompok
berdasarkan kemampuan yang dimilki siswa. Dengan cara pembentukan
kelompok yang lain yaitu campuran, dalam satu kelompok ada yang pandai,
sedang dan kurang. Hal inibertujuan agar siswa yang pandai menjadi tentor
untuk anggota kelompoknya,sehingga sistem pembelajaran dengan teman
sejawat akan bermakna.
4) Membuat lembar observasi lapangan untuk pengamatan guru ketika
mengadakan pembelajaran dari kajian tentang sintaks pembelajaran dengan
penemuan terbimbing itu kita dapat membuat Lembar Observasi
Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran Penemuan Terbimbing, caranya
dengan menjadikan langkah-langkah tersebut, beserta sub-sub langkah
menjadi aspek-aspek yang diamati/diobservasi.
31
5) Menyusun soal evaluasi beserta kuncinya, menjadi acuan keberhasilan siswa
melaksanakan proses pembelajaran Matematika kelas IV pada materi
bangun ruang sederhana
6) Menyusun table ketuntasan belajar untuk menentukan target kompetensi
yang harus dicapai siswa dan patokan atau acuan dasar dalam menentukan
kompeten atau tidak kompetennya siswa.
b. Pelaksanaan
Tindakan Perbaikan Pembelajaran siklus II dilaksanakan pada hari Jumat
tanggal 13 Mei 2022. Pada tahap ini guru bertindak sebagai pengajar yang
menggunakan metode pembelajaran kelompok dengan berbantuan media kongkrit
pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Gladag Banyuwangi materi pokok bangun
ruang sederhana (sifat balok). Dalam Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran
tersebut, diamati oleh supervisor 2 dengan menggunakan lembar observasi yang
telah di sediakan.
32
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan. Guru
menjelaskan kepada siswa pokok-pokok yang harus dipahami dan dikuasai oleh
siswa,siswa terlihat lebih focus dalam mendengarkan penjelasan guru.
Kegiatan Inti ( 25 menit)
Guru menjelaskan materi dengan menggunakan alat peraga atau media berupa
kardus bekas sabun, pasta gigi dan bekas lampu .Pemilihan media konkrit
digunakan karenadapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga
dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa
dan media yang sering dilihat oleh siswa pada kehidupan sehari-hari atau
lingkunagn sekitar , dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai
dengan kemampuan dan minatnya. Pada kondisi ini siswa sangat terlihat antusias
dan lebih focus kepada guru dalam menerima informasi materi pelajaran bagian
dan fungsi tumbuhan.
Guru membentuk kelompok belajar yaitu 4 kelompok belajar. Berikut setting
kelasnya:
Meja Guru
A B
C D
Gambar 4.2
Pemetaan Kelompok Siklus 2
33
Guru membimbing siswa ketika diskusi kelompok berlangung. Penliti
mengamati dan memberi pengarahan pada guru, agar melihat atau memperhatikan
kegiatan pembelajaran berlangsung. Guru juga memberi hadiah atau penghargaan
kepada kelompok yang memiliki nilai terbaik yaitu dengan menambahkan nilai
tambahan [Link] deskripsi perkelompok yang terjadi pada siklus 2
1) Kelompok belajar A merupakan kelompok belajar yang aktif dengan
kondisi anggota tenang dan serius dalam mengerjakan lembar kerja siswa.
2) Kelompok belajar B merupakan kelompok belajar aktif namun ada
sebagian anggota yang masih bermain sendiri sedangkan anggota
kelompoknya berdiskusi.
3) Kelompok belajar C merupakan kelompok belajar paling aktif, semua
anggota kelompok saling bertukar pikiran untuk mendiskusikan lembar
kerja siswa yang dibagikan oleh guru
4) Kelompok belajar D merupakan kelompok aktif namun ramai dalam
diskusi, anggota kelompok lebih sering bermain dalam berdiskusi namun
hasil yang didapat bagus.
c. Pengamatan
Kegiatan observasi dilaksanakan bersama–sama dengan pelaksanaan tindakan.
Kegiatan observasi ini dilakukan untuk mengamati akivitas guru dan siswa.
Observasi ini dibantu oleh supervisor 2. Berdasarkan hasil pengamatan pada
siklus 2, siswa terlihat lebih aktif, dan memahami materi pada mata pelajaran.
Ketika siswa mengerjakan lembar diskusi, ada banyak beberapa siswa yang
34
bertanya dan memberikan tanggapan, pada saat diberi tugas individu, hasil siswa
mengalami peningkatan maksimal.
Pada siklus 2 ini peniliti mengukur keberhasilan pembelajaran dengan
pemberian soal individu dalam bentuk jawaban singkat. Data hasil penelitian
Hasil Analisis
Ketuntasan secara klasikal
jumlah siswa yang tuntas
Prosentase Kelulusan= ×100 %
jumlahseluruhsiswa
18
= x 100 %
20
= 90 %
Jadi jumlah ketuntasan hasil belajar secara klasikal adalah 90 %
Tabel 4.2
Perolehan Klasikal Siklus 2 dan Prosentase
Klasifikasi Ketuntasan Jumlah Siswa Persentase
NO
Siswa (Orang) (%)
1 Siswa Tuntas 18 90 %
2 Siswa Tidak Tuntas 2 10 %
Dari tabel diatas dapat diketahui dari jumlah seluruh siswa sebanyak 20 siswa,
terdapat 18 siswa yang memiliki nilai ≥ 70. Ini berarti sudah memenuhi standart
ketuntasan klasikal (SKM) yaitu 70% maka telah tercapai keberhasilan sesuai
yang diharapkan sehingga tidak perlu diperbaiki dalam bentuk tindakan siklus
selanjutnya.
35
GRAFIK SIKLUS 2
tidak tuntas
20%
tuntas
80%
Grafik 4.2
Grafik Kalsikal Siklus 2 dan Prosentase
36
d. Refleksi
Dari refleksi ternyata penggunaaan metode pembelajaran kelompok dapat
meningkatkan pembelajaran Matematika siswa. Hal ini terlihat dari data dari hasil
evaluasi yang didapat siswa mengalami peningkatan mulai dari pra siklus sampai
siklus 2 nilai siswa mengalami peningkatan walaupun belum 100% dari seluruh
siswa yang dapat menguasai materi.
37
Berdasarkan pegamatan yang telah dilakukan, sebagian siswa yang masih
mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru . Hal ini
diakibatkan karena kurangnya perhatian siswa dalam proses belajar mengajar,
siswa ini hanya diam dan kurang aktif bahkan terkadang malah ngobrol dan sibuk
bermain sendiri. Selain itu, ketika teman lain bekerja kelompok untuk
mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh guru. Sehingga nilai tugas
individunya dibawah 70.
Pembelajaran pada siklus 2 yang diikuti oleh siswa kelas yang berjumlah 20
siswa mengalami peningkatan yang yaitu hanya tinggal 2 orang siswa yang tidak
tuntas. Hal ini dikarenakanke 2 siswa tersebut memang benar-benar tidak mampu
sama sekali dalam memahami materi yang diajarkan [Link] wawancara
dengan beberapa siswa ternyata dengan penerapan metode pembelajaran
kelompok dengan berbantuan media kongkrit membawa pengaruh positif bagi
siswa, siswa lebih tertarik dan merasa senang dalam mengikuti proses
pembelajaran, hal ini karena:
1. Dengan pembelajaran kelompok terlihat menarik bagi siswa
2. Siswa belajar hal baru yang belum pernah diajarkan sebelumnya di kelas
rendah
3. Siswa merasa tertantang untuk melakukan suatu kegiatan pembelajaran
yang menarik
4. Siswa lebih mengerti dan memahami materi yang diajarkan oleh guru
5. Pemahaman siswa jadi lebih mantap bila dibandingkan sebelumnya
6. Meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasanya dapat disimpulkan bahwa
penggunaan metode pembelajaran kelompok berbantuan media kongkrit pada
mata pelajaran Matematika dengan pokok bahasan bangun ruang sederhana dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari nilai
ulangan harian siswa dan beberapa tes lainya. Dilihat dari sini dapat diketahui
bahwa siswa yang memperoleh nilai > 70 sebanyak 20 siswa sedangkan yang
tidak tuntas atau siswa yang mendapat nilai < 70 sebanyak 2 siswa,sehingga
tindakan penelitian ini terhentidi siklus 2. Dari pelaksanaan tindakan perbaikan
pembelajaran siklus 1 sampai dengan siklus 2 ini telah menunjukkan
38
peningkatkan hasil belajar siswa. Meskipun masih belum mencapai angka
ketuntasan 100%, dengan beberapa siswa yang masih mendapat nilai di bawah
KKM, tetapi hasil ketuntasan belajar siswa pada pelajaran Matematika mengalami
peningkatan yang memuaskan yaitu sudah melebihi dari standar ketuntasan
minimal kelas (90% siswa mendapat nilai diatas KKM).
39
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan,
pembelajaran Matematika dengan materi pokok sifat balok pada siswa kelas IV
SD Negeri 1 Gladag Banyuwangi dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai
berikut:
1. Melalui metode pembelajaran kelompok dengan berbantuan media peraga
kegiatan belajar mengajar dapat ditingkatkan.
2. Melalui metode pembelajaran kelompok dengan berbantuan media peraga
hasil belajar dapat ditingkatkan.
40
pelajaran Matematika dengan materi yang berbeda untuk meningkatkan
kualitas dan hasil belajar siswa.
Sekolah memberikan dukungan dalam pengembangan proses belajar
mengajar di sekolah.
3. Untuk Peneliti Lain
Semua temuan dan pengalaman yang didapatkan saat melaksanakan
penelitian, sebisa mungkin dicatat oleh peneliti, sehingga dapat
menambah pengetahuan dalam pembelajaran Matematika sebagai bekal
untuk calon guru (pendidik) yang nantinya yang akan terjun sebagai
seorang pengajar dalam dunia pendidikan, dalam menggunakan metode
pembelajaran kelompok dengan berbantuan media peraga juga harus
disesuaikan dengan karakteristik materi pembelajaran yang akan
dibelajarkan.
Penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi peneliti lain untuk
penelitian lebih lanjut dengan pokok bahasan yang berbeda, baik pada
mata pelajaran Matematika atau mata pelajaran yang lainnya.
Sehubungan dengan kesimpulan diatas, maka penulis menyarankan agar dapat
memanfaatkan dan mengembangkan PTK sehingga guru yang memilik masalah
dalam pembelajaran dapat menemukan solusi pemecahan masalah dengan tepat.
Demikian laporan ini dibuat sebagai tindak lanjut dari kegiatan observasi pada
pembelajaran Matematika. Besar harapan penulis dengan adanya laporan ini dapat
membawa wawasan khususnya bagi penulis dan umumnya bagi kita semua.
41
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas, (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke-3. Jakarta: Balai
Pustaka
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
di-kelas/
42
KESEDIAAN SEBAGAI SUPERVISOR 2 DALAM
PENYELANGGARAAN PKP
Kepada
Kepala UPBJJ JEMBER
Di
JEMBER
Yang bertanda tangan di bawah ini, menerangkan bahwa :
Nama : MASROHA, [Link]
NUPTK : 8459765666300032
Unit Kerja : SD NEGERI 1 GLADAG
Alamat : Jalan Srono no. 197
Dsn lateng, Desa Gladag, [Link]
Telepon : 082221106600
Menyatakan bersedia sebagai supervisor 2 untuk membimbing mahasiswa dalam
pelaksanaan perencanaan dan pelaksanaan PKP (PDGK 4501) atas :
Nama : RIAS RUSLITA
NIM : 858920621
Program Studi : S1 PGSD
Unit Kerja : SD NEGERI 1 GLADAG
Alamat Sekolah : Jalan Srono no. 197
Dsn Lateng, Desa Gladag, [Link]
Telepon : 082221106600
Demikian agar surat pernyataan ini dapat digunakan sebagaimana mestinya.
43
PERENCANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
Fakta/ Data Pembelajaran Yang 1. Banyak siswa yang tidak berani
Terjadi Di Kelas : bertanya
2. Banyak siswa yang tidak berani
mengutarakan pendapat
3. Banyak siswa yang tidak dapat
menjawab pertanyaan guru
dengan tepat
4. Hasil tes formatif kurang
memuaskan
Identifikasi Masalah : 1. Hasil belajar rendah disebabkan
oleh kurangnya semangat siswa
dalam mengikuti pelajaran
2. Siswa kurang memahami tentang
bangun ruang
3. Masih banyak siswa yang tidak
memperhatikan penjelasan guru
Analisis Masalah : 1. Guru kurang tepat dalam memilih
metode pembelajaran
2. Guru kurang dalam pemberian
contoh
3. Guru kurang melibatkan siswa
Alternatif Pemecahan Masalah : 3. Mengunakan media alat peraga
yang sesuai dengan karakter
siswa dan materi yang diajarkan
4. Metode pembelajaran harus
menarik
Rumusan Masalah : Bagaimanakah peningkatan hasil
belajar siswa pada bangun ruang
sederhana dengan pembelajaran
kelompok berbantuan media
kongkrit pada siswa kelas IV SD
Negeri 1 Gladag Banyuwangi?
44
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP PRA SIKLUS)
Nama Sekolah : SD NEGERI 1 GLADAG
Mata Pelajaran : Matematika
Materi Pokok : Bangun Ruang Sederhana
Kelas / Semester : IV / 2
Alokasi Waktu : 1 x 35 menit (1 x Pertemuan)
I. Standar Kompetensi
Memahami siat ruang sederhana dan hubungan antar bangun datar
II. Kompetensi Dasar
Menentukan sifat-sifat bangun ruang sederhana
III. Indikator
Menyebutkan bagian-bagian balok
Menyebutkan sifat-sifat balok
IV. Tujuan Pembelajaran
Setelah melakukan proses pembelajaran diharapkan siswa dapat :
Menyebutkan bagian-bagian balok dengan benar
Menyebutkan sifat-sifat balok dengan benar
Karakter yang Diharapkan
Disiplin
Tekun
V. Materi Pokok
Sifat-Sifat Balok
Perhatikan gambar bangun balok di bawah ini:
Mari menyebutkan sisi, rusuk, dan titik sudut pada balok ABCD. EFGH
1). Sisi-sisi pada balok [Link] adalah
- sisi ABCD
- sisi ABFE
45
- sisi ADHE
- sisi EFGH
- sisi DCGH
- sisi BCGH
Jadi, adal 6 sisi pada bangun ruang balok
Sisi ABCD = Sisi EFGH
Sisi BCFG = Sisi DCGH
Sisi ABFE = Sisi EFGH
2). Rusuk-rusuk pada balok [Link] adalah
- rusuk AB
- rusuk EF
- rusuk HG
- rusuk DC
- rusuk BC
- rusuk FG
- rusuk EH
- rusuk AD
- rusuk AE
- rusuk BF
- rusuk CG
- rusuk DH
Jadi, ada 12 rusuk pada bangun ruang balok
Rusuk AB = Rusuk EF = Rusuk HG = Rusuk DC
Rusuk BC = Rusuk FG = Rusuk EH = Rusuk AD
Rusuk AE = Rusuk BF = Rusuk CG = Rusuk DH
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: Balok adalah sebuah
benda ruang yang dibatasi oleh tiga pasang (enam buah) persegi panjang
dimana setiap pasang persegi panjang saling sejajar (berhadapan) dan
berukuran sama
46
VI. Metode Pembelajaran
Demonstrasi
Pemberian tugas
47
1. Berapa sisi yang dimiliki balok diatas ?
2. Berapa banyak rusuk balok diatas ?
3. Tentukan rusuk yang sama dengan rusuk AD !
4. Berapa pasang sisi yang dimiliki balok diatas ?
5. Tentukan sisi yang sma dengan sisi BCGH !
Kunci jawaban
1. 6
2. 12
3. BC, FG, EH
4. 3 pasang
5. ADEH
Pedoman penilaian
Jumlah soal yang benar x 20 = 100
48
DAFTAR NILAI SISWA KELAS IV
PRA SIKLUS
KETERANGAN
NO. NAMA SISWA NILAI (TUNTAS/TIDAK
TUNTAS)
1 ABIZAR MATORRI AZIZ 20 Tidak tuntas
2 AHMAD NYAR CAHYONO 40 Tidak tuntas
3 AJI MAULANA MALIK IBRAHIM 20 Tidak tuntas
4 ALFA ROBBI SHIDQI 60 Tidak tuntas
5 ALIKA APRILIA PUTRI 60 Tidak tuntas
6 DWI CAHYA NURANI 40 Tidak tuntas
7 DZAKIRA THALITA AZZAHRA 80 Tuntas
8 FADIL TRI RACHMAN 60 Tidak tuntas
9 GILANG NUR ANDIKA 40 Tidak tuntas
10 ILHAM FIRDAUS 80 Tuntas
11 KRISNA PUTRA PERMANA 40 Tidak tuntas
12 MELYA KHOIRRUNISA 40 Tidak tuntas
13 MHYSA SALSABILLA 80 Tidak tuntas
14 PUTRI AIRANI 60 Tidak tuntas
15 RIKA MAR’ATUS SHOLEHAH 60 Tidak tuntas
16 RIZKY ANANTA MAULIDA 80 Tuntas
17 SHAKILA PUTRI PRANISTA 40 Tidak tuntas
18 VRISTA MAHARANI KRISDINA 40 Tidak tuntas
19 ZAHIDA QOLBI NADIFHA 60 Tidak tuntas
20 ZAHRA FEBRIANUR 60 Tidak tuntas
Rias Ruslita
49
RENCANA PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
(RPP SIKLUS 1)
X. Standar Kompetensi
Memahami sifat bangun ruang sederhana dan hubungan antar bangun
datar
XI. Kompetensi Dasar
Menentukan sifat-sifat bangun ruang sederhana
XII. Indikator
Menyebutkan bagian-bagian balok
Menyebutkan sifat-sifat balok
XIII. Tujuan Pembelajaran
Setelah melakukan proses pembelajaran diharapkan siswa dapat :
Menyebutkan bagian-bagian balok dengan benar
Menyebutkan sifat-sifat balok dengan benar
XIV. Tujuan Perbaikan Pembelajaran
Mengetahui proses penerapan pembelajaran kelompok dan median peraga
pada siswa
Mengetahui hasil peningkatan belajar siswa pada materi bangun ruang
sederhana
Karakter yang Diharapkan
Disiplin
Tekun
Cermat
50
Teliti
- Absensi
- Memotivasi siswa
- Mengingat kembali materi sifat-sifat
balok.
- Tanya jawab bagian-bagian bangun
ruang balok.
- Menyampaikan tujuan pembelajaran
yang akan dilakukan.
2 Kegiatan inti - Guru membentuk 4 kelomok 25 Menit
52
- Guru memeberi kesempatan kepada
siswa untuk berdiskusi bersama
kelompok tentang bangun ruang
sederhana (balok)
- Memberi latihan kepada siswa tentang
sifat-sifat yang dimiliki balok
3 Kegiatan - Guru mengajak anak-anak untuk 5 Menit
Penutup
mengulas tugas individu.
- Guru serta siswa membuat sebuah
kesimpulan tentang pembelajaran yang
baru saja dilakukan.
Kunci jawaban
1. 6 sisi
53
2. 12 rusuk
3. Rusuk GK=LH=NJ=MI
4. 3 pasang
5. GHIJ
Pedoman penilaian
Jumlah soal yang benar x 20 = 100
Rogojampi, 19 April 2022
Mengetahui :
Supervisor 2 Praktikan
Mengetahui :
Kepala Sekolah
SD Negeri 1 Gladag
Dra. SULASTRI
NIP. 19640101198 303 2008
54
SOAL EVALUASI MATEMATIKA KELAS 4 SEMESTER 2
NAMA :
KELAS :
55
DAFTAR NILAI SISWA KELAS IV
SIKLUS 1
KETERANGAN
NO. NAMA SISWA NILAI (TUNTAS/TIDAK
TUNTAS)
1 ABIZARA MATORRI AZIZ 40 Tidak tuntas
2 AHMAD NYAR CAHYONO 80 Tuntas
3 AJI MAULANA MALIK IBRAHIM 40 Tidak tuntas
4 ALFA ROBBI SHIDQI 80 Tuntas
5 ALIKA APRILIA PUTRI 80 Tuntas
6 DWI CAHYA NURANI 60 Tidak tuntas
7 DZAKIRA THALITA AZZAHRA 100 Tuntas
8 FADIL TRI RACHMAN 80 Tuntas
9 GILANG NUR ANDIKA 60 Tidak tuntas
10 ILHAM FIRDAUS 100 Tuntas
11 KRISNA PUTRA PERMANA 60 Tidak tuntas
12 MEYLA KHOIRRUNISA 60 Tidak tuntas
13 MHYSA SALSABILLA 60 Tidak tuntas
14 PUTRI AIRANI 80 Tuntas
15 RIKA MAR’ATUS SHOLEHAH 80 Tuntas
16 RIZKY ANANTA MAULIDA 80 Tuntas
17 SHAKILA PUTRI PRANISTA 60 Tidak tuntas
18 VRISTA MAHARANI KRISDINA 60 Tidak tuntas
19 ZAHIDA QOLBI NADIFHA 80 Tuntas
20 ZAHRA FEBRIANUR 60 Tidak tuntas
Praktikan
56
RENCANA PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
(RPP SIKLUS 2)
57
Cermat
Teliti
XXV. Materi Pokok
Sifat-Sifat Balok
Perhatikan gambar bangun balok di bawah ini:
58
- rusuk CG
- rusuk DH
Jadi, ada 12 rusuk pada bangun ruang balok
Rusuk AB = Rusuk EF = Rusuk HG = Rusuk DC
Rusuk BC = Rusuk FG = Rusuk EH = Rusuk AD
Rusuk AE = Rusuk BF = Rusuk CG = Rusuk DH
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: Balok adalah sebuah
benda ruang yang dibatasi oleh tiga pasang (enam buah) persegi panjang
dimana setiap pasang persegi panjang saling sejajar (berhadapan) dan
berukuran sama
XXVI. Metode Pembelajaran
Demonstrasi
Diskusi kelompok
Pemberian tugas
XXVII. Kegiatan Pembelajaran
- Absensi
- Memotivasi siswa
- Mengingat kembali materi sifat-sifat
balok.
- Tanya jawab bagian-bagian bangun
ruang balok.
- Menyampaikan tujuan pembelajaran
yang akan dilakukan.
2 Kegiatan inti - Guru menjelaskan materi dengan 25 Menit
59
(LKS) pada setiap kelompok. Dalam
kegiatan ini guru memberikan
penjelasan bagaimana prosedur
pemecahan masalah yaitu lembar kerja
siswa dikerjakan disetiap kelompok
diskusi.
- Guru membimbing siswa ketika diskusi
kelompok berlangung.
- Setelah pembelajaran kelompok diskusi
selesai guru membagikan soal dengan
dikerjaan invidu.
3 Kegiatan - Guru mengajak anak-anak untuk 5 Menit
Penutup
mengulas tugas individu.
- Guru serta siswa membuat sebuah
kesimpulan tentang pembelajaran yang
baru saja dilakukan.
MASROHA,S,Pd
NUPTK. 8459765666 300032
Mengetahui :
Kepala Sekolah
SD Negeri 1 Gladag
Dra. SULASTRI
NIP. 19640101198303 2008
61
SOAL EVALUASI MATEMATIKA KELAS 4 SEMESTER 2
NAMA :
KELAS :
Soal
62
DAFTAR NILAI SISWA KELAS IV
SIKLUS 2
KETERANGAN
NO. NAMA SISWA NILAI (TUNTAS/TIDAK
TUNTAS)
1 ABIZAR MATORRI AZIZ 60 Tidak tuntas
2 AHMAD NYAR CAHYONO 80 Tuntas
3 AJI MAULANA MALIK IBRAHIM 60 Tidak tuntas
4 ALFA ROBBI SHIDQI 80 Tuntas
5 ALIKA APRILIA PUTRI 100 Tuntas
6 DWI CAHYA NURANI 80 Tuntas
7 DZAKIRA THALITA AZZAHRA 100 Tuntas
8 FADIL TRI RACHMAN 80 Tuntas
9 GILANG NUR ANDIKA 80 Tuntas
10 ILHAM FIRDAUS 100 Tuntas
11 KRISNA PUTRA PERMANA 80 Tuntas
12 MEYLA KHOIRRUNISA 80 Tuntas
13 MHYSA SALSABILLA 100 Tuntas
14 PUTRI AIRANI 100 Tuntas
15 RIKA MAR’ATUS SHOLEHAH 80 Tuntas
16 RIZKY ANANTA MAULIDA 100 Tuntas
17 SHAKILA PUTRI PRANISTA 100 Tuntas
18 VRISTA MAHARANI KRISDINA 80 Tuntas
19 ZAHIDA QOLBI NADIFHA 100 Tuntas
20 ZAHRA FEBRIANUR 80 Tuntas
63
LEMBAR OBSERVASI
(SIKLUS 1)
Mata pelajaran : Matematika
Kelas : IV
Hari / Tanggal : Senin,18 April 2022
Fokus Observasi : Peningkatan hasil belajar siswa
Kemunculan
No Aspek Observasi Komentar
Ada Tidak Ada
Menentukan penataan
1 Kurang lengkap
ruang dan fasilitas belajar
Partisipasi siswa dalam
2 Kurang Aktif
pembelajaran
Penggunaan alat peraga
3 Tepat sasaran
dalam pembelajaran
Penggunaan metode
4 Cukup sesuai
dalam pembelajaran
Pengelolaan waktu
5 Cukup efisien
pembelajaran
64
LEMBAR OBSERVASI
(SIKLUS 2)
Mata pelajaran : Matematika
Kelas : IV
Hari / Tanggal : Rabu, 20 April 2022
Fokus Observasi : Peningkatan hasil belajar siswa
Kemunculan
No Aspek Observasi Komentar
Ada Tidak Ada
Menentukan penataan
1 Cukup baik
ruang dan fasilitas belajar
Partisipasi siswa dalam
2 Aktif
pembelajaran
Penggunaan alat peraga
3 Tepat sasaran
dalam pembelajaran
Penggunaan metode
4 Sesuai
dalam pembelajaran
Pengelolaan waktu
5 Efisien
pembelajaran
65
JURNAL PEMBIMBINGAN SUPERVISOR 2 PKP
Mengetahui
Supervisor 1
66
ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU – PKP 1 (APKG-PKP 1) PGSD
NAMA MAHASISWA : RIAS RUSLITA MATA PELAJARAN/TEMA : MATEMATIKA
PETUNJUK
1. Amatilah dengan cermat pembelajaran yang sedang berlangsung
2. Pusatkanlah perhatian Anda pada kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta dampaknya pada diri
siswa
3. Nilailah kemampuan guru tersebut dengan menggunakan butir-butir penilaian berikut
4. Khusus untuk butir 5, yaitu mendemonstrasikan kemampuan khusus dengan mata pelajaran, pil;ihlah salah satu butir penilaian yang sesuai dengan mata pelajaran
yang sedang diajarkan
5. Nilailah semua aspek kemampuan guru Skala Penilaian
1. Mengelola ruang dan fasilitas belajar 1 2 3 4 5
1.1. Menata fasilitas dan sumber belajar 5
5
Rata-rata butir 1 = A
52
2. Melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran
2.1. Memulai pembelajaran 5
Rata-rata butir 3 = C
4.8
53
4. Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan
sikap positif siswa terhadap belajar
5
4.1. Menunjukan sikap ramah, luwes, terbuka, penuh
pengertian dan Sabar kepada siswa 4
1.2 Menunjukan kegairahan dalam mengajar
4.3 Mengembangkan hubungan antar pribadi yang sehat
dan serasi
5
1.4 Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya
1.5 Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri
Rata-rata butir 4 = D
4.8
2. Mendemonstrasikan kemampuan khusus dalam perbaikan
Pembelajaran mata pelajaran tertentu
a. Matematika
5.1. Menanamkan konsep matematika melalui metode 5
54
6. Melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar
5
6.1Melaksanakan penilaian selama proses pembelajaran
5
6.2Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran
Rata-rata butir 6 = F
5
7. Kesan umum pelaksanaan pembelajaran
4
7.1 Keefektifan proses pembelajaran
4
7.2Penggunaan bahasa Indonesia lisan
7.3Peka terhadap kesalahan berbahasa siswa 4
4
7.4Penampilan guru dalam pembelajaran
Rata-rata butir 7 = G 4
A+B+C+D+E+F+G
Nilai APKG2 PGSD = = 7 4.06
[Link] Masroha,[Link]
NIP.19640101198303 2008 NUPTK. 8459765666300032
55
LEMBAR PENILAIAN KEMAMPUAN MERENCANAKAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
NAMA MAHASISWA : RIAS RUSLITA MATA PELAJARAN/TEMA : MATEMATIKA
PETUNJUK
6. Amatilah dengan cermat pembelajaran yang sedang berlangsung
7. Pusatkanlah perhatian Anda pada kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta dampaknya pada diri
siswa
8. Nilailah kemampuan guru tersebut dengan menggunakan butir-butir penilaian berikut
9. Khusus untuk butir 5, yaitu mendemonstrasikan kemampuan khusus dengan mata pelajaran, pil;ihlah salah satu butir penilaian yang sesuai dengan mata pelajaran
yang sedang diajarkan
10. Nilailah semua aspek kemampuan guru
56
Skala Penilaian
2. Mengelola ruang dan fasilitas belajar 1 2 3 4 5
4.2. Menata fasilitas dan sumber belajar 5
Rata-rata butir 1 = A 5
57
6.4. Memicu dan memelihara keterlibatan siswa
5
6.5. Memantapkan penguasaan materi pembelajaran 5
Rata-rata butir 3 = C
4.8
58
sehari-hari
5.4. Menguasai materi matematika
Rata-rata butir 5.b = E 5
A+B+C+D+E+F+G
Nilai APKG2 PGSD = = 7 4.06
59
[Link] Masroha,[Link]
NIP.19640101198303 2008 NUPTK. 8459765666300032
60
DOKUMENTASI SIKLUS 1
60
DOKUMENTASI SIKLUS 2
61