0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan6 halaman

Pengertian dan Tujuan Inquiry Learning

Diunggah oleh

Ganisaa Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan6 halaman

Pengertian dan Tujuan Inquiry Learning

Diunggah oleh

Ganisaa Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Gusmira Anisa Putri

NIM : K3323033
Kelas : B

Model Pembelajaran Inquiry Learning

Pengertian Inquiry Learning


Inquiry learning adalah metode belajar yang pada prinsipnya mengajak peserta didik untuk
aktif bertanya dan bereksperimen secara mandiri selama proses belajar. Dalam model
pembelajaran inkuiri, peserta didik mencari materi pembelajaran secara mandiri. Peserta didik
mencari tahu materi dengan mengajukan pertanyaan dan melakukan riset atau penelitian
secara mandiri.

Inquiry learning melingkupi dua kata, inquiry dan learning. Inquiry artinya meminta keterangan
atau penyelidikan. Sedangkan learning artinya pembelajaran. Dengan begitu inquiry learning
adalah suatu kegiatan pembelajaran yang menekankan pada rasa ingin tahu dari siswa untuk
mencari informasi dan menyelidiki permasalahan agar dapat memecahkan masalah yang
diberikan guru

Tujuan model pembelajaran inkuiri


Wina Sanjaya (2006) menyatakan bahwa, tujuan model pembelajaran inkuiri adalah membantu
siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir, dengan
memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu
mereka.

Tujuan model pembelajaran inkuiri dalam mengembangkan kemampuan intelektual juga


merupakan bagian dari proses pembentukan mental. Oleh sebab itu, dalam implementasi
model pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, tetapi juga
bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimiliki.

Ciri-ciri model pembelajaran inkuiri


Selanjutnya, Wina Sanjaya (2006), Martinis Yamin (2006) dalam karangan Mulyono (2011:72),
serta Al-Tabani (2014: 80) sama-sama menyatakan karakteristik atau ciri-ciri model
pembelajaran inkuiri sebagai berikut.
a) Inkuiri lebih menekankan aktivitas siswa untuk mencari dan menemukan secara
maksimal, artinya pendekatan inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
b) Seluruh aktivitas siswa difokuskan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu
yang tengah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya
diri (self-belief). Artinya, dalam model pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan
sebagai sumber belajar, tapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
c) Melalui penggunaan model pembelajaran inkuiri, kemampuan intelektual yang sebagai
bagian dari proses mental siswa harus dapat lebih berkembang, terutama dalam
mengembangkan berpikir secara sistematis, logis, dan berpikir kritis para peserta didik.
Sebab, siswa tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, tetapi i juga menggunakan
potensi yang mereka miliki selama proses pembelajaran.

Jenis-jenis inquiry learning


Inkuiri memiliki macam-macam model pembelajaran. Terdapat beberapa macam model
pembelajaran inkuiri yang dikemukakan oleh Runika (2009: 1) adalah (1) guided inquiry, (2)
modified inquiry, (3) free inquiry, (4) inquiry role approach, (5) invitation into inquiry, (6) pictorial
riddle, (7) synectic lessons, dan (8) value clarification.

Namun, penerapan model pembelajaran inkuiri di Indonesia hanya tiga jenis saja, yaitu
berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan
oleh guru kepada siswanya. Ketiga jenis model pembelajaran inkuiri tersebut adalah inkuiri
terbimbing (guided inquiry), inkuiri bebas (free inquiry), dan inkuiri bebas yang dimodifikasi
(modified free inquiry).
1. Inkuiri Terbimbing (guided inquiry)
Model pembelajaran inkuiri terbimbing adalah proses belajar dimana guru membimbing
siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada
suatu diskusi. Oleh karena itu, guru harus berperan aktif dalam menentukan
permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya dari awal hingga akhir.

Inkuiri terbimbing cocok digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar
dengan inkuiri. Dengan inkuiri, siswa bisa belajar lebih berorientasi pada bimbingan dan
petunjuk dari guru sehingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran.

Pada jenis inkuiri ini, siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk
diselesaikan, baik melalui diskusi kelompok maupun individual. Tujuannya agar mampu
menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri. Pada dasarnya,
selama proses belajar berlangsung siswa akan memperoleh pedoman sesuai yang
diperlukan.

Kemudian, di tahap awal guru akan banyak memberikan bimbingan dan mengurangi
intensitas bimbingan tersebut pada tahap-tahap berikutnya, sehingga siswa mampu
melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan pun dapat berupa
pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat membuat siswa memahami
konsep pelajaran matematika.
Di samping itu, guru dapat memberikan bimbingan melalui lembar kerja siswa yang
terstruktur. Selama proses belajar berlangsung, guru harus memantau kelompok diskusi
siswa, sehingga guru bisa mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk yang
diperlukan oleh siswa.

2. Inkuiri Bebas (free inquiry)


Model pembelajaran inkuiri bebas ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman
belajar dengan inkuiri. Inkuiri bebas menempatkan siswa seolah-olah bekerja layaknya
seorang ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan masalah untuk diselidiki,
menemukan dan menyelesaikan masalah tersebut secara mandiri, serta merancang
prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan.

Selama proses ini, guru akan sangat sedikit memberikan bimbingan atau bahkan tidak
ada arahan sama sekali. Salah satu keuntungan belajar dengan model ini adalah
adanya kemungkinan siswa dalam memecahkan masalah open ended dan mempunyai
alternatif pemecah masalah lebih dari satu cara, karena tergantung bagaimana cara
mereka mengkonstruksi jawabannya sendiri. Selain itu, akan ada kemungkinan siswa
menemukan cara dan solusi yang baru atau bahkan belum pernah ditemukan oleh
orang lain dari masalah yang diselidiki.

Sedangkan belajar dengan metode ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
a. Waktu yang diperlukan untuk aktivitas menemukan relatif lama, sehingga melebihi waktu
yang sudah ditetapkan dalam kurikulum.
b. Karena diberi kebebasan untuk menentukan sendiri permasalahan yang diselidiki, tak
bisa dipungkiri adanya kemungkinan topik yang dipilih oleh siswa di luar konteks yang
terdapat dalam kurikulum.
c. Ada pula kemungkinan setiap kelompok atau individu mempunyai topik berbeda,
sehingga guru akan membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa hasil perolehan
siswa.
d. Karena topik yang diselidiki antara kelompok atau individual berbeda, maka ada
kemungkinan kelompok atau individual lainnya kurang memahami topik yang diselidiki
oleh kelompok atau individual tertentu, sehingga diskusi tidak dapat berjalan
sebagaimana yang diharapkan.

3. Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan (modified free inquiry)


Jenis model pembelajaran inkuiri bebas yang dimodifikasi merupakan kolaborasi atau
modifikasi dari dua inkuiri sebelumnya, yaitu inkuiri terbimbing dan inkuiri bebas. Meski
begitu, permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan atau
beracuan dengan kurikulum yang telah ada.

Artinya, dalam inkuiri ini siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk
diselidiki secara sendiri, tetapi siswa yang belajar dengan inkuiri ini menerima masalah
dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan. Namun, bimbingan
yang diberikan pun lebih sedikit dari inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur.

Dalam inkuiri jenis ini, guru membatasi adanya bimbingan supaya siswa berupaya
terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan para siswa dapat menemukan sendiri
penyelesaiannya. Akan tetapi, apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan
permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung dengan
memberikan contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, atau
melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.

Langkah-Langkah Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri


1. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah awal untuk membangun suasana pembelajaran yang
responsif. Pada langkah ini, guru akan mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan
proses pembelajaran. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam tahap orientasi
adalah:
● Menjelaskan topik yang akan dipelajari beserta tujuan dan hasil belajar yang
diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
● Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan siswa untuk mencapai
hasil belajar yang baik. Disini, guru dapat menjelaskan langkah-langkah inkuiri
serta tujuan dari setiap langkahnya, mulai dari langkah merumuskan masalah
sampai merumuskan kesimpulan.
● Menjelaskan pentingnya topik pembelajaran dan kegiatan belajar. Hal tersebut
dilakukan untuk memberikan motivasi belajar pada siswa.

2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah adalah langkah untuk membawa siswa pada suatu persoalan
yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan tentunya yang menantang siswa
untuk berpikir dalam memecahkan teka-teki sesuai rumusan masalah yang ingin dikaji.
Sebab, masalah tersebut ada jawabannya dan siswa didorong untuk mencari jawaban
yang tepat.

3. Merumuskan hipotesis
Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan
menebak (berhipotesis) pada setiap siswa adalah dengan mengadakan berbagai
pertanyaan yang mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara, atau
merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari permasalahan yang
dibahas.

4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas mencari informasi untuk menguji hipotesis yang
diajukan. Dalam model pembelajaran inkuiri, pengumpulan data merupakan proses
mental yang sangat penting dalam pengembangan kemampuan intelektual.
Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar,
tapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikir.
Oleh karena itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan
pertanyaan-pertanyaan pemicu, agar siswa berfikir untuk mencari informasi yang
dibutuhkan.

5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima, sesuai
dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji
hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir secara rasional. Artinya,
kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, tapi harus
didukung oleh data yang dapat dipertanggung jawabkan.

6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang telah diperoleh
dari hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan goals-nya dalam
pembelajaran. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat, maka sebaiknya guru mampu
menunjukkan pada siswa data mana saja yang relevan.

Kelebihan Model Pembelajaran Inkuiri


1. Membantu menggunakan daya ingat siswa dan mentransfernya pada situasi-situasi
belajar.
2. Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas kemauan atau inisiatifnya sendiri.
3. Mendorong siswa untuk berpikir secara inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
4. Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik.
5. Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
6. Dapat membentuk dan mengembangkan self-concept pada diri setiap siswa.
7. Memungkinkan peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber
belajar di luar sekolah, dan tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber
belajar.
8. Menghindarkan cara belajar tradisional (menghafal).
9. Dapat melayani kebutuhan peserta didik yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Siswa dengan kemampuan belajar yang bagus tidak akan terhambat oleh siswa lain
yang lemah dalam belajar.

Kekurangan Model Pembelajaran Inkuiri


1. Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
2. Sulit untuk merencanakan pembelajaran karena terbentur dengan kebiasaan siswa
dalam belajar.
3. Terkadang dalam mengimplementasikannya diperlukan waktu yang panjang, sehingga
guru kerap kesulitan dalam menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa dalam
menguasai materi pelajaran, maka model pembelajaran inkuiri akan sulit
diimplementasikan.
5. Memerlukan adanya perubahan kebiasaan cara belajar peserta didik yang menerima
informasi dari guru apa adanya, menjadi belajar secara mandiri dan kelompok, dan
dengan mencari dan mengolah informasi sendiri.
6. Mengubah kebiasaan bukanlah suatu hal yang mudah apalagi kebiasaan yang telah
dilakukan bertahun-tahun.
7. Guru dituntut mengubah cara mengajar yang umumnya sebagai penyaji informasi, lalu
menjadi fasilitator dan motivator. Hal tersebut tentunya tidak mudah dilakukan.
8. Model pembelajaran inkuiri dalam pelaksanaannya memerlukan penyediaan sumber
belajar dan fasilitas yang memadai, tetapi tidak selalu tersedia.
9. Model pembelajaran inkuiri tidak efisien, khususnya untuk mengajar peserta didik dalam
jumlah besar, sedangkan jumlah guru terbatas.

Anda mungkin juga menyukai