Analisis Kinerja Lalu Lintas Kolaka
Analisis Kinerja Lalu Lintas Kolaka
OLEH:
HARISMAN
2020 10 006
Proposal penelitian ini telah diperiksa dan disetujui oleh Komisi Pembimbing untuk
di ujikan dalam Seminar Proposal dihadapan dewan Penguji, sebagai salah satu
Nama : Harisman
Stambuk : 202010006
Komisi Pembimbing,
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Ir. Irwan Lakawa, ST., [Link]., IPM., [Link] Ir. Syamsuddin, ST., MT., IPM
NIDN. 0908077003 NIDN. 0905107703
Mengetahui,
Ka. Prodi Teknik Sipil
Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah Subhana Wata’ala, atas segala
Kolaka”
wawasan baru, dan penulis dapat memberikan hasil yang baik serta sebagai bahan
ada pada kami, untuk itu kami mohon masukan dan kritikan dari Tim
selanjutnya.
Penulis
iii
DAFTAR ISI
iv
1. Faktor Pejalan Kaki ................................................................ 33
2. Faktor Kendaraan Parkir atau Berhenti .................................. 34
3. Faktor Kendaraan Masuk/Keluar Pada Samping Jalan........... 34
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 36
A. Metode Penelitian ........................................................................ 36
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ....................................................... 36
1. Lokasi Penelitian ..................................................................... 36
2. Waktu Penelitian ...................................................................... 37
C. Jenis dan Sumber Data ............................................................... 38
D. Populasi dan Sampel.................................................................... 38
E. Variabel Penelitian ...................................................................... 39
F. Teknik Pengumpulan Data .......................................................... 40
1. Data Geometrik Jalan ............................................................. 40
2. Data Volume Lalulintas .......................................................... 40
3. Survey Waktu Tempuh ........................................................... 40
4. Pencatatan Hambatan Samping .............................................. 40
G. Teknik Analisis Data ................................................................... 41
1. Menentukan Arus Lalulintas ................................................. 41
2. Menentukan Kapasitas........................................................... 42
3. Menentukan Derajat Kejenuhan ............................................ 42
4. Kecepatan .............................................................................. 43
5. Penentuan Tingkat Pelayanan................................................ 43
H. Definisi Operasional .................................................................... 43
I. Konsep Operasional..................................................................... 44
DAFTAR PUSTAKA
v
DAFTAR TABEL
vi
DAFTAR GAMBAR
vii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jalan merupakan sarana transportasi darat yang sangat penting bagi masyarakat
untuk menghubungkan antara daerah satu ke daerah yang lainnya, selain itu juga
akan jasa transportasi semakin meningkat, sejalan dengan semakin tingginya arus
masyarakat tersebut berpengaruh pada kinerja ruas jalan. Ruas jalan akan
mengalami kemacetan, serta kemungkinan terjadi kecelakaan lalu lintas yang akan
harus diimbangi dengan sistem lalu lintas yang baik dan prasarana yang
mendukung.
1
2
Salah satu sarana transportasi yang sangat penting adalah jalan, karena
kehidupan manusia. Terdapat hubungan erat antara jalan dengan jangkauan dan
lokasi kegiatan manusia, barang - barang dan jasa (Irena Faradila, 2022).
Jalan merupakan sarana transportasi darat yang sangat penting bagi masyarakat
untuk menghubungkan antara daerah satu ke daerah yang lainnya, selain itu juga
pada jalan perkotaan maupun jalan luar kota yang diakibatkan bertambahnya
dan belum optimalnya pengoperasian fasilitas lalu lintas yang ada, merupakan
juga pada masa mendatang, agar pergerakan yang terjadi di Kabupaten Kolaka
berjalan dengan lancar, nyaman, dan aman. Meninjau dari jumlah penduduk yang
pentingnya hal tersebut, maka jalan dalam kota Kolaka merupakan prasarana
Selain itu, Kabupaten Kolaka memiliki akses jalan yang dapat menghubungkan
antar ruas jalan secara tidak langsung, akses jalan tersebut memberi dampak pada
kapasitas jalan dalam di ruas jalan yang menimbulkan konflik pergerakan pada
3
lalulintas. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa jumlah tarikan pergerakan akan
Berdasarkan dari fenomena yang telah di uraikan di atas, maka judul yang
B. Rumusan Masalah
1. Berapa besar pergerakan arus lalu lintas di Ruas Jalan Pemuda Kabupaten
Kolaka?
yang mempengaruhinya?
C. Tujuan Penelitian
Kabupaten Kolaka
D. Manfaat Penelitian
1. Dapat dijadikan bahan referensi analisis kinerja lalulintas di ruas Jalan Pemuda
3. Harapan dari Penulisan ini dapat berguna untuk mengoptimalkan Kinerja Ruas
Untuk mencapai tujuan dari studi ini, maka ruang lingkup studi dibatasi dalam hal-
3. Data yang diambil mencakup arus lalulintas, geometrik jalan, dan hambatan
samping.
TINJAUAN PUSTAKA
Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, menerangkan bahwa Jalan adalah prasarana
transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap
dan perlengkapa nnya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada
dipermukaan tanah, di atas permukaan tanah, dibawah permukaan tanah dan atau
air serta di atas permukaan air, kecuali jalan lori, jalan kereta api, dan jalan kabel.
Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum sedangkan jalan
khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha, perseorangan atau
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006, jalan sebagai bagian dari
5
6
pelayanan jasa distribusi, terdapat 2 macam jaringan jalan yaitu sistem jaringan
jalan primer dan sistem jalan sekunder. Indonesia terdapat tiga klasifikasi (hirarki)
Kabupaten/Kotamadya)
klasifikasi fungsional dan sistem jaringan dari ruas-ruas jalan yang ada. Klasifikasi
berdasarkan fungsi jalan perkotaan dibedakan ke dalam jalan arteri, kolektor, dan
lokal sedangkan klasifikasi berdasarkan sistem jaringan terdiri atas jalan primer dan
sekunder.
perkembangan antar daerah yang seimbang dan pemerataan hasil bangunan serta
pembangunan nasional.
Jalan arteri primer adalah jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa
simpul jasa distribusi yang kemudian berwujud kota. Jalan arteri primer
menghubungkan kota jenjang kesatu dengan yang kedua yang melayani perjalanan
7
jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan dibatasi secara efisien,
d. Lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh Lalu lintas ulang-alik, lalu
Jalan kolektor primer adalah menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota
jenjang yang kedua atau menghubungkan yang kedua dengan yang ketiga, yang
sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi, dengan
c. Kapasitas sama dengan atau lebih besar daripada volume lalu lintas rata-rata.
Jalan lokal primer menghubungkan kota jenjang kesatu dengan persil atau kota
jenjang kedua dengan persil, kota jenjang ketiga dengan ketiga, kota jenjang ketiga
dengan yang di bawahnya, kota jenjang ketiga dengan persil atau kota dibawah kota
kota jenjang ketiga sampai persil, yang melayani angkutan setempat dengan ciri-
ciri perjalan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalan masuk tidak
kesatu, atau kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kesatu atau yang
c. Kapasitas sama atau lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata
d. Lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat
kapasitas jalan
kedua atau kawasan sekunder kedua dengan perumahan atau kawasan sekunder
sekunder dengan angkutan setempat dengan jarak pendek dan kecepatan rendah,
c. Lebar jalan tidak diperuntukkan bagi kendaraan beroda tiga atau lebih, minimal
3.5 meter
B. Karakteristik Jalan
Karakteristik utama jalan yang akan mempengaruhi kapasitas dan kinerja jalan
1. Tipe jalan: berbagai tipe jalan akan menunjukan kinerja berbeda pada
pembebanan lalulintas tertentu, misalnya jalan terbagi dan tak terbagi, jalan satu
arah.
jalan kereb lebih kecil dari jalan dengan bahu. Selanjutnya kapasitas berkurang
jika terhadap penghalang tetap dekat tepi jalur lalulintas, tergantung apakah
4. Bahu: jalan perkotaan tanpa kereb pada umumnya mempunyai bahu pada kedua
bahu, berupa penambahan kapasitas, dan kecepatan pada arus tertentu, akibat
arus bebas. Tanjakan yang curam juga mengurangi kecepatan arus bebas. Karena
secara umum kecepatan arus bebas di daerah perkotaan adalsah rendah maka
7. Pemisah arah laluintas: distribusi arah lalulintas pada jalan dua arah biasanya
dinyatakan dalam presentase dari arus total; pada masing-masing arah. Kapasitas
jalan dua arah paling tinggi pada pemisahan arah 50/50, yaitu jika arus pada
tergantung pada rasio sepeda motor atau kendaraan berat dalam arus lalulintas.
11
Jika arus dan kapasitas dinyatakan dalam suatu mobil penumpang (smp), maka
komposisi lalulntas.
Indonesia, dan karenanya hanya sedikit berpengaruh pada kecepatan arus bebas.
pembatasan parkir dan berhenti sepanjang sisi jalan, pembatasan akses tipe
kendaraan tertentu, pembatasan akses dari l lahan samping jalan dan lain
sebagainya (MKJI,1997).
Volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melalui suatu titik pada suatu
jalur gerak per satuan waktu, dan dapat diukur dalam satuan kendaraan per satuan
kendaraan yang melalui suatu titik tertentu dengan interval waktu pengamatan
Volume lalu lintas menunjukkan jumlah kendaraan yang melintasi satu titik
pengamatan dalam satu satuan waktu. Lalu lintas harian rata-rata adalah jumlah
rata-rata lalulintas kendaraan bermotor yang dicatat selama 24 jam sehari untuk
kedua jurusan. Ada dua jenis LHR yaitu LHR tahunan (LHRT) dan LHR.
Menurut MKJI 1997 semua nilai arus lalulintas balik untuk satu arah dan dua
arah harus diubah menjadi satuan mobil penumpang (smp) dengan menggunakan
ekivalensi mobil penumpang (emp) yang diturunkan secara empiris yaitu untuk
12
kendaraan ringan, kendaraan berat, dan sepeda motor. Emp mobil penumpang
untuk masing-masing tipe kendaraan tergantung pada tipe jalan dan arus lalulintas
total yang dinyatakan dalam smp/jam. Definisi smp itu sendiri adalah satuan untuk
arus lalulintas dimana arus sebagai tipe kendaraan diubah menjadi arus kendaraan
ringan termasuk mobil penumpang dengan menggunakan emp. Sedangkan emp itu
Bobot dari masing-masing nilai ekivalensi mobil penumpang dapat di lihat pada
Emp
MC
Tipe jalan: Arus lalu-lintas
Jalan Total dua arah Lebar jalur lalu-lintas
tak terbagi (kend/jam) HV Wc (m)
≤6 >6
Dua lajur 1,3 0,5 0,40
tak terbagi
(2/2 UD) 0 ≥ 1800 1,2 0,35 0,25
Dimana:
LV = Kendaraan ringan
HV = Kendaraan berat
MC = Sepeda motor
(Sumber: Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997)
Volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melalui suatu titik yang tetap
pada jalan dalam satu satuan waktu (MKJI,1997). Biasanya dihitung dalam
dengan meletakkan alat penghitung pada tempat dimana volume tersebut ingin
diketahui besarnya atau dengan cara manual. Volume lalu lintas dapat digunakan
untuk mengumpulkan data mengenai tingkat penggunaan jaringan jalan yang telah
14
ada, seperti volume lalu lintas per jam, volume lalu lintas per hari, klasifikasi
kendaraan penumpang, dan truk kecil yang sesuai dengan sistem klasifikasi
dinas perhubungan).
Kendaraan bermotor yang jarak antar sumbunya lebih dari 3,5 meter, biasanya
kendaraan tersebut memiliki roda lebih dari 4, yang sudah termasuk digolongan
kendaraan berat seperti truk 3 sumbu, bus, truk 2 sumbu dan truk kombinasi
barang, sepeda motor, bentor, yang sesuai dengan sistem dinas perhubungan.
kereta kuda, sepeda ontel, yang sesuai dengan sistem dinas perhubungan.
15
D. Kecepatan Lalulintas
Kecepatan lalu lintas adalah tingkat pergerakan lalu lintas atau kendaraan
tertentu sering dinyatakan dalam kilometer /jam. kecepatan adalah jarak dibagi
dengan waktu.
𝑑
V= …………Persamaan (2.2)
𝑡
dimana:
V = Kecepatan (km/jam)
a. Kecepatan titik (Spot Speed) adalah kecepatan sesaat kendaraan berada pada
perjalanan adalah total waktu tempuh kendaraan untuk suatu segmen jalan yang
16
c. Kecepatan rata – rata ruang (Space Mean Speed) adalah kecepatan rata – rata
𝑛.𝑑
Vs = …………Persamaan (2.3)
𝑡
dimana:
d. Kecepatan rata – rata waktu (Time Mean Speed) adalah kecepatan rata – rata
𝑣
Vt = …………Persamaan (2.4)
𝑛
dimana:
E. Kepadatan Lalulintas
Kepadatan lalu lintas pada umumnya dinyatakan sebagai jumlah kendaraan per
kilometer per lajur (jika pada ruas tersebut terdiri dari banyak lajur). Berikut adalah
17
hubungan antara volume, kecepatan dan kepadatan bisa dilihat pada persamaan di
bawah ini:
𝑞
K= …………Persamaan (2.5)
𝑠
Keterangan:
didefinisikan sebagai arus lalu lintas maksimum yang melalui suatu titik dan dapat
dipertahankan per satuan jam pada kondisi tertentu. Untuk jalan dua lajur arah,
kapasitas ditentukan untuk arus dua arah (kombinasi dua arah), tetapi untuk jalan
dengan banyak lajur, arus dipisahkan per arah dan kapasitas ditentukan per lajur
dapat diharapkan untuk melalui suatu potongan jalan pada periode waktu tertentu
untuk kondisi lajur/jalan, lalu lintas, pengendalian lalu lintas dan kondisi cuaca
yang berlaku.
yang dapat dipertahankan per satuan jam pada kondisi tertentu (MKJI,1997).
Kapasitas jalan adalah arus maksimum melalui suatu titik dijalan yang dapat
18
dipertahankan per satuan jam. Untuk jalan dengan banyak jalur, arus dipisahkan per
Adapun gangguan dan hambatan yang timbul pada ruas jalan oleh:
4. Akses yang tidak memadai ke daerah parkir diluar jalan dan terminal.
Khususnya kedaerah pasar dan terminal bus, dan tidak memadainya kapasitas
kedalamnya.
6. Tumpang tindihnya lalu lintas terusan dengan lalu lintas yang singgah.
Oleh karena itu, kapasitas tidak dapat dihitung dengan formula yang sederhana.
Yang penting dalam penilaian kapasitas jalan adalah pemahaman akan berbagai
a. Kondisi ideal
Kondisi ideal dapat dinyatakan sebagai kondisi yang mana peningkatan kondisi
jalan lebih lanjut dan perubahan kondisi cuaca tidak akan menghasilkan
b. Kondisi Jalan
3. Lebar lajur/jalan
6. Kecepatan rencana
c. Kondisi Medan
1. Medan datar semua kombinasi dari alinyemen horizontal dan vertical dan
2. Medan bukit semua kombinasi dari alinyemen horizontal dan vertical dan
3. Medan gunung semua kombinasi dari alinyemen horizontal dan vertical dan
Tiga kategori dari lalu lintas jalan yang umumnya dikenal, yaitu:
2. Kendaraan barang, kendaraan yang mempunyai lebih dari empat roda, dan
3. Bus, kendaraan yang mempunyai lebih dari empat roda, dan umumnya
e. Populasi Pengemudi
lintas pada hari kerja yang teratur, misalnya komuter dan pemakai jalan lainnya
yang rutin. Kapasitas diluar hari kerja, atau bahkan diluar jam sibuk pada hari
kapasitas jalan, tingkat pelayanan dan arus jenuh. Bentuk pengendalian lalu
2. Rambu/marka henti
Kapasitas ruas jalan didefinisikan sebagai arus lalulintas maksimum yang dapat
melintas dengan stabil pada suatu potongan melintang jalan pada keadaan
21
Keterangan:
C = Kapasitas (smp/jam)
FCSP = Faktor koreksi kapasitas untuk pembagian arah (tidak berlaku untuk jalan
satu arah)
berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997 disajikan dalam Tabel
2.4.
1. Kapasitas Dasar
Kapasitas dasar jalan tergantung pada tipe jalan, jumlah lajur, dan apakah
jalan dipisahkan dengan pemisah fisik atau tidak, seperti ditunjukkan dalam
tabel 2.5.
FCSP
Untuk jalan terbagi dan jalan satu arah faktor penyesuaian kapasitas untuk
Faktor koreksi kapasitas akibat lebar lajur lalu lintas dapat dilihat pada Tabel
2.7.
Tabel 2.7 Faktor koreksi akibat lebar lajur lalu lintas (FCW)
Lebar Jalur
Tipe Jalan FCW Keterangan
Efektif (m)
3,00 0,92
4 lajur terbagi atau 3,25 0,96
3,50 1,00 per lajur
jalan satu arah
3,75 1,04
4,00 1,08
3,00 0,91
3,25 0,95
4 lajur tidak pisah 3,50 1,00 per lajur
3,75 1,05
4,00 1,09
5 0,56
6 0,87
7 1,00
2 lajur tidak terbagi 8 1,14 total kedua arah
9 1,25
10 1,29
11 1,34
Faktor koreksi kapasitas untuk jalan yang mempunyai lebih dari 4 lajur
jalan 4 lajur.
lebar bahu jalan (Ws), dan kelas hambatan samping (SFC). Nilai faktor
24
Tabel 2.8. Faktor penyesuaian untuk hambatan samping dan lebar bahu (FCsf)
Faktor penyesuaian bahu jalan
Hambatan dengan jarak ke penghalang
Tipe Jalan Samping
Lebar efektif bahu jalan (Ws)
≤0,5 1,0 1,5 ≥2,0
VL 0,96 0,98 1,01 1,03
4/2 D L 0,94 0,97 1,00 1,02
M 0,92 0,95 0,98 1,00
H 0,88 0,92 0,95 0,98
VH 0,84 0,88 0,92 0,95
Catatan:
Tabel tersebut di atas menganggap bahwa lebar bahu di kiri dan kanan jalan
sama, jika lebar bahu di kiri dan kanan jalan berbeda, maka digunakan nilai
rata-ratanya.
Lebar efektif bahu adalah lebar yang bebas dari segala rintangan, bila di tengah
Tabel 2.9.
<0.1 0.86
0.2 – 0.5 0.90
digunakan sebagai faktor kunci dalam penentuan perilaku lalu lintas pada suatu
segmen jalan dan simpang. Dari nilai derajat kejenuhan ini, dapat diketahui apakah
segmen jalan tersebut akan meiliki kapasitas yang cukup atau tidak. Menurut
𝑄
𝐷𝑆 = ........ Persamaan (2.7)
𝐶
Keterangan:
DS = derajat kejenuhan
pengaruh yang membatasi akibat peningkatan volume. Setiap ruas jalan dapat
kondisi yang hampir ideal, tingkat E adalah kondisi lalulintas sesuai kapasitasnya,
operasional arus lalu lintas dan persepsi pengendara dalam terminologi kecepatan,
Terdapat dua definisi tingkat pelayanan suatu ruas jalan yaitu tingkat
pelayanan tergantung arus dan fasilitas jalan. Tingkat pelayanan berdasarkan arus
Indikator Tingkat Pelayanan (ITP) pada suatu ruas jalan menunjukkan kondisi
nilai kuantatif, seperti: kecepatan perjalanan, dan faktor lain yang di tentukan
a. IndeksTingkat Pelayanan A
Kondisi arus lalu lintasnya bebas antara satu kendaraan dengan kendaraan
Kondisi arus lalu lintas stabil, kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kendaraan
Kondisi arus lalu lintas masih dalam stabil, kecepatan operasi mulai dibatasi dan
Kondisi arus lalu lintas mendekati tidak stabil, kecepatan operasi menurun relatif
cepat akibat hambatan yang timbul, dan kebebasan bergerak relative kecil.
Volume lalu lintas sudah mendekati kapasitas ruang jalan, kecepatan kira-kira
Pada tingkat pelayanan ini arus lalu lintas berada dalam keadaan dipaksakan,
kecepatan relative rendah, arus lalu lintas sering terhenti sehingga menimbulkan
Jalan Indonesia (1997), Menjelaskan bila batas lingkup Q/C jalan bisa untuk
menghitung tingkat pelayanan jalan, seperti yang sudah ada di Tabel 2.10 berikut
ini:
A 0,00 – 0,19
B 0,20 – 0,44
C 0,45 – 0,74
D 0,75 – 0,84
E 0,85 – 1,00
F >1,00
(Sumber: Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997)
29
C 0,70 < V/C > 0,80 Arus stabil, kecepatan kontrol lalu lintas.
Arus sudah tidak stabil, dan kecepatan relatif
D 0,80 < V/C > 0,90
rendah
Arus tidak stabil, kecepatan rendah dan
0,90 < V/C > 1,00 berbeda-beda, serta volume mendekati
E
kapasitas.
sebagai ukuran utama kinerja segmen jalan, karena mudah dimengerti dan diukur
dan merupakan masukan yang penting untuk biaya pemakai jalan. Kecepatan
tempuh didefinisikan sebagai kecepatan rata-rata ruang dari kendaraan ringan (LV)
segmen jalan dengan panjang tertentu, termasuk semua tundaan waktu berhenti
(detik) atau (jam). Persamaan yang di gunakan dalam menentukan nilai kecepatan
𝐿
𝑉= ...... ......... Persamaan (2.8)
𝑇𝑇
Dengan:
V = Kecepatan ruang rata-rata kendaraan ringan (km/jam)
J. Hambatan Samping
kapasitas adalah adanya lajur lalulintas dan bahu jalan yang sempit atau halangan
kejadian yangt masing- masing memiliki bobot pengaruh yang berbeda terhadap
kapasitas, yaitu:
1) Jumlah perjalan kaki yang melintasi atau menyebrang jalan sepanjang segmen
jalan.
Nilai yang digunakan mulai dari kelas hambatan samping yang sangat rendah
Pergerakan
0 1 2 4 7
jalan kaki
Angkutan kota
berhenti di 0 1 3 6 9
jalan
Kendaraan
masuk dan 0 1 3 5 8
keluar
(Sumber: Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997)
Angka yang terdapat pada Tabel 2.11. dijumlahkan bila terdapat kombinasi
lajur dapat diperkirakan dengan menggunakan faktor koreksi kapasitas untuk jalan
Keterangan:
0 -1 Sangat rendah
2–5 Rendah
6 -11 Sedang
12 – 18 Tinggi
19 – 24 Sangat tinggi
(Sumber: Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997)
32
Untuk menentukan nilai kelas hambatan samping, maka tingkat hambatan samping
telah di kelompokkan dalam 5 kelas, dari jumlah bobot terendah sampai jumlah
Adapun faktor penentuan nilai kelas hambatan samping dapat dilihat pada tabel
2.15.
Permukiman, beberapa
100 – 299 Rendah L
angkutan umum, dll.
2.10.
Dimana:
sebagai berikut:
Banyaknya jumlah pejalan kaki yang menyeberang pada badan jalan dapat
oleh kurangnya kesadaran dari pejalan kaki sebagai pengguna jalan untuk
Dimana:
FB = Faktor bobot
Parkir diluar badan jalan tidak begitu menjadi persoalan bagi pengguna
jalan kecuali ketika akan masuk atau keluar tempat parkir, namun pada parkir
jalan yang hanya melalui tempat tersebut menerima dampak negatif berupa
waktu tempuh yang lebih lama. Persamaan yang digunakan untuk menentukan
Dimana:
FB = Faktor bobot
yang arus lalulintasnya sangat padat disertai aktifitas masyarakat yang cukup
lalulintas. Dimana kecepatan kendaraan yang akan melewati ruas jalan tersebut
Dimana:
FB = Faktor bobot
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian dimulai dari studi literatur terkait dengan permasalahan yang ada di
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada ruas Jalan Pemuda atau sekitaran perkantoran
36
37
2. Waktu Penelitian
dan dipertimbangkan dalam penetapan waktu survey antara lain yaitu pada
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 3 (tiga) hari yaitu hari Senin,
hari Kamis dan hari Sabtu yang dilakukan di lokasi pada jam-jam puncak
yaitu pagi jam 07.00-09.00, siang jam 11.00-13.00 dan sore jam 15.00-17.00.
Jenis pengambilan data primer dan sekunder, yaitu data yang diperoleh
melalui bahan-bahan yang tertulis dan sumber data yang sudah ada, serta
dengan mengambil data di lapangan. Berikut data primer dan sekunder yang
Populasi yang digunakan pada penelitian ini yaitu jumlah kendaraan yang
yang mewakili populasi diperlukan suatu metode atau teknik yang dikenal dengan
teknik sampling.
sampling atau teknik sampling secara non probabilitas. Teknik sampling non
sendiri oleh peneliti atau menurut pertimbangan pakar. Teknik ini tidak memberi
peluang atau kesempatan sama bagi unsur atau anggota populasi untuk dipilih
menjadi sampel. Jenis dari non probability sampling yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sampling kebetulan atau accidental sampling karena dalam
penelitian bisa saja terjadi diperolehnya sampel yang tidak direncanakan terlebih
dahulu, melainkan secara kebetulan, yaitu unit atau subjek tersedia bagi peneliti
E. Variabel Penelitian
ruas jalan. Adapun variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat
- Volume Lalulintas
1. Pergerakan Arus Lalulintas - Kecepatan
- Kepadatan
lokasi survei yaitu dengan mengukur lebar jalan, lebar bahu jalan, median
jalan, serta data lain tentang ruas jalan yang berhubungan dengan penelitian
ini yang menggunakan meteran sesuai standar petunjuk SNI, Dirjen Bina
Marga.
Pengumpulan data pada studi ini dengan kendaraan contoh (floating car).
Cara ini dilakukan dengan kendaraan yang menyusuri rute yang telah
ditetapkan. Peralatan yang digunakan pada saat survei adalah formulir survei
waktu tempuh, stop watch, pensil/pulepen, clipboard dan alat bantu lainnya.
ditentukan.
Meter untuk meneliti setiap jenis hambatan samping yang terjadi pada
parkir dan berhenti, kendaraan keluar dan masuk dari sisi jalan, dan
c. Menghitung parameter arus lalu lintas yang diperlukan untuk analisis Arus
lalu lintas per jam (Q) dalam smp/jam dihitung dengan mengalikan arus
dalam kend/jam dengan emp yang sesuai. Kemudian arus total dihitung
dalam smp/jam.
42
2. Menentukan Kapasitas
a. Kapasitas Dasar Dari Tabel 2.5 ditentukan besarnya kapasitas dasar (Co).
Berdasarkan pada lebar jalur lalu lintas efektif (We) dan dengan bantuan
Tabel 2.7, maka didapatkan penyesuaian FCw untuk lebar jalur lalu lintas.
c. Faktor penyesuaian kapasitas FCsp untuk jalan terbagi dan jalan satu
Persamaan yang dipakai adalah Rumus Persamaan 2.7 pada halaman 25.
DS digunakan untuk analisis tingkat kinerja ruas jalan yang berkaitan dengan
4. Kecepatan
tempuh kendaraan yang telah didapat dari hasil survei. Data waktu tempuh
digunakan rasio arus dan kapasitas seperti tertera pada Tabel 2.10.
H. Definisi Operasional
1. Kinerja ruas jalan adalah kemampuan ruas jalan untuk melayani kebutuhan
arus lalu lintas sesuai dengan fungsinya yang dapat diukur dan dibandingkan
2. Volume lalu lintas adalah banyaknya kendaraan yang melewati suatu titik
3. Kapasitas jalan adalah kemampuan ruas jalan untuk menampung arus atau
volume lalu lintas yang ideal dalam satuan waktu tertentu, dinyatakan dalam
jumlah kendaraan yang melewati potongan jalan tertentu dalam satu jam
diamati dibagi panjang jalan yang diamati tersebut. Kepadatan dapat dihitung
digunakan sebagai factor kunci dalam penentuan perilaku lalu lintas pada
I. Konsep Operasional
yang jelas dan teratur, sehingga diperoleh hasil sesuai dengan yang di
harapkan. Oleh karena itu, pelaksanaan penelitian ini dibagi dalam beberapa
tahap, yaitu :
45
➢ Tahapan Penelitian
Mulai
Identifikasi Masalah
Pengambilan data
Analisis data:
- Kapasitas Ruas Jalan
- Derajat Kejenuhan
- Tingkat Pelayanan
- Kepadatan Lalulintas
- Kecepatan dan Waktu Tempuh
- Hambatan Samping
Ahmad., R., Aditya., T., P. 2019. Analisis Kinerja Pada Ruas Jalan Tentara
Pelajar (Semarang), Tugas Akhir, Universitas Semarang.
Ahmad., Y, F. 2021. Analisa Kapasitas Jalan Pada Ruas Jalan Raya Walisongo
Kota Semarang. Tugas Akhir. Universitas Semarang
Jaya., M. 2019. Kinerja Ruas Jalan Raya Puputan Di Kota Denpasar. Tugas
Kuliah. Universitas Udayana
Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997, Direktorat Jenderal Bina Marga,
Sweroad dan PT. Bina Karya, Jakarta.
Nasution., H. 2015. Analisis Kinerja Arus Lalu Lintas Pada Ruas Jalan Gorontalo
– Limboto. Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Sekolah
Tinggi Teknik (STITEK) Bina Taruna Gorontalo 84 Volume 4 No. 1
Nurvita., I, M, S., Oberlyn., S., et al. 2022. Analisis Kinerja Ruas Jalan Akibat
Parkir Pada Bahu Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Halat Kota Medan). Jurnal
Teknik Sipil Vol. 1, No. 2
Richirisna., H, W, Vemara., M. 2023. Analisis Kinerja Lalu Lintas dan Tingkat
Kebisingan akibat aktivitas Antar Jemput Sekolah di masa New Normal
(Studi Kasus: Ruas Jalan Dr. Siwabessy Ambon). Publikasi Riset Orientasi
Teknik Sipil (Proteksi). Volume. 5. No 1
Saiful., E. 2020. Analisis Kinerja Ruas Jalan Akibat Aktivitas Pasar (Studi Kasus:
Pasar Keru-Narmada Lombok Barat). Skripsi. Fakultas teknik Universitas
Muhammadiyah Mataram
Wilton., W., Revina., A., Andi., M, R. 2021. Studi Analisis Kinerja Ruas Jalan
Jhoni Anwar dan Gajah Mada Kota Padang. Jurnal Teknik Sipil ITP. Vol. 8
No.2 Juli 2021