Lelaki itu terdiam dengan wajah datar.
Tatapannya tertuju pada kegelapan
pekat di hadapannya. Sekali lagi, dia melihat cahaya-cahaya aneh menyoroti
matanya. Suara-suara aneh memanggil namanya.
“Charies?” panggil suara itu, bergema.
Semakin lama, kegelapan semakin membuatnya ngeri. Dia merasa ada
ribuan tangan berusaha menggapainya, tapi tidak benar-benar berusaha
menangkapnya.
“Defano Charies?” panggil suara itu, lagi.
Charies merasa dirinya berada di sebuah panggung teater dikelilingi
tatapan mata nyalang dengan pekik-pekik memilukan dari berbagai arah. Saat
cahaya lampu dari atas kepalanya menyorot ke arah kepekatan, dia tidak melihat
apa pun selain kehampaan.
“Defano Charies?”
Suara yang baru saja membentaknya itu sukses membuatnya tersentak,
lalu sadar dari lamunan mengerikan yang membelenggu tubuhnya. Charies
mengerjap, lalu menoleh ke asal suara.
“Ya, Bu?” balas Charies dengan suara gemetar. Tatapannya dia alihkan ke
arah teman-temannya yang sedang menatapnya dengan heran.
“Kamu dengar apa yang saya katakan?” tanya wanita bertubuh ramping
dengan rambut tergerai sampai punggung. “Saya sudah memanggil nama kamu
tiga kali.”
“Ya, Bu,” ulang Charies, seolah-olah dia tidak bisa mengatakan apa pun
selain dua kata itu. Charies mengembuskan napas, lalu menolehkan pandangannya
ke arah dinding bergambar coretan abstrak.
Wanita berkacamata itu menggeleng, lalu menaikkan kacamatanya dengan
tangan kiri. Tepat setelah dia menutup buku tebal yang jadi bahan ajarannya, jam
pelajaran baru saja selesai.
“Baik. Hari Kamis kita ada kuis. Siapkan diri kalian. Sekian dari saya.
Terima kasih.”
Semua mahasiswa mengangguk, lalu membalas salamnya. Seperginya si
wanita, orang-orang yang ada di bagian depan beranjak, lalu berjalan mengekor
meninggalkan kelas.
Kelas hening hanya dalam waktu lima detik. Charies terdiam, menatap
kehampaan di depannya.
“Bayangan itu lagi,” ucap Charies sambil mengembuskan napas lelah.
Dia merapikan barang-barang, memasukkan satu-satunya buku yang dia
bawa ke tas jinjing berwarna putih bergambar ikan hiu, lalu beranjak
meninggalkan kelas.
Charies berjalan di lorong, melewati orang-orang yang sedang bergosip.
Tidak ada yang salah dengan itu, sebenarnya. Namun, Charies merasa semua yang
ada di lorong kelas tengah mengawasinya dengan tatapan mengintimidasi.
Suara-suara yang dihasilkan mulut-mulut bergincu merah pekat itu seolah-
olah bergema di telinganya, menyindirnya dengan kalimat-kalimat menyakitkan.
Charies berhenti berjalan, menatap satu per satu gadis yang sedang terkekeh-
kekeh menatapnya.
“Apa? Cari masalah?” tanya salah satu gadis dengan tatapan mengejek.
Matanya yang bulat besar seolah-olah menyipit, berubah menjadi runcing seiring
berubah bibirnya jadi seringai.
“Defano Charies, orang paling aneh di kelas. Lagi-lagi bikin masalah. Gak
kapok apa, ya?”
“Charies, Charies. Haduh.” Suara itu terdengar berat diikuti tawa
memekakan.
Lorong kelas itu terasa seperti menghisapnya dengan kuat. Pilar-pilar biru
muda bergoyang. Dinding-dinding di sekelilingnya berguncang, terasa seperti
hendak mengerut, melipat tubuhnya sampai gepeng.
Charies mual dibuatnya. Dia goyah. Tangannya menggapai-gapai udara,
berusaha mencari pegangan. Namun, bangunan-bangunan itu menjauhinya.
Gelak tawa mengelilingi kepalanya, mengejeknya tanpa ampun. Charies
semakin pusing. Mual. Dia mengeratkan kedua kepalan tangannya sambil
mencoba menahan pekik tertahan.
Dia memelotot, lalu menunjuk salah satu gadis di lorong itu.
“Hentikan!” teriak Charies, membuat orang-orang yang sedang berbincang
tadi menatapnya dengan aneh. Semua orang menoleh.
“Hih. Apa?” tanya gadis yang ditunjuk Charies bingung.
“Apalah dia ini?” tanya salah satu gadis, heran.
“Gak aneh, sih. Dia suka kayak gitu. Kenapa, ya?” ucap satu temannya
sambil mengernyit ngeri.
Charies tersentak. Semua bayangan mengerikan itu sirna begitu saja. Apa
yang dia lihat soal pilar dan dinding itu ternyata tidak nyata. Semua imajinasi
mematikan itu kembali hilang. Lorongnya kembali normal.
“Maaf,” ucapnya sambil mengangguk. Dia berlari meninggalkan lorong
yang terasa panjang dan selamanya.
Kenapa? Pekik Charies sambil berhenti di depan motor birunya. Dia
meremas tali helm-nya sambil mencoba memaki dirinya yang suka tiba-tiba
bertingkah aneh.
“Gue mohon berhenti,” pintanya, entah kepada siapa.
Namun, Charies tahu, ada sesuatu yang bersarang di kepalanya. Sesuatu
yang sering memberinya pandangan aneh tentang hal mengerikan yang sangat
menginginkan kematiannya.
“Gue mohon!”
Sepulang kuliah, Charies memutuskan datang ke tempat yang sudah sering
dikunjunginya.
Tatapan mata sayunya tertuju pada sebuah plang besar yang tertancap di
samping bangunan serba putih berhiaskan kaca transparan. Tubuh jangkung
Charies berdiri gemetar, menimbang apakah dirinya harus kembali ke sana.
Dari seberang jalan, seorang gadis berhijab cokelat menatapnya. Tatapan
ramah, seolah tidak asing oleh kehadiran Charies di ujung jalan, seberang
tokonya.
Ketika Charies memutuskan untuk mengambil langkah untuk menyebrang,
rambut cokelat ikalnya bergoyang tertiup angin. Selangkah demi selangkah,
akhirnya dia sampai di depan bangunan serbaputih itu.
“Permisi,” ucapnya pelan. Kedua matanya sigap menelisik keadaan. Tidak
ada siapa pun, seperti biasa.
Gadis berhijab itu tersenyum, terbiasa dengan kehadirannya.
“Saya mau obat yang seperti biasa,” kata Charies sambil menyerahkan satu
lembar uang lima puluh ribu. Tangan lelaki itu gemetar di atas etalase. Manik
cokelat madunya tertuju pada box-box obat di balik kaca pajangan. “Tolong.”
Sebenarnya gadis itu merasa janggal akan kehadiran Charies yang
terbilang cukup sering. Dalam satu bulan terakhir, Charies nyaris datang ke apotek
itu sebanyak sepuluh kali.
“Apa enggak sebaiknya diperiksa ke dokter, Mas?” tanya gadis itu agak
khawatir.
Charies mengerjap. Ucapan si gadis belum sepenuhnya dia tangkap.
Ketika matanya kembali pada uang lima puluh ribu yang tertiup angin, dia
tersadar jika gadis itu mengajaknya bicara.
“Saya rasa enggak perlu. Memangnya ada apa?” balas Charies.
Gadis itu mengedik, lalu menggeleng. “Mas sudah sering ke sini buat beli
obat sakit kepala. Bukannya Mas harus periksa ke dokter? Takutnya—“
“Saya baik-baik saja,” potong Charies. “Saya enggak bisa lama-lama.
Obatnya, tolong.”
Pada awalnya gadis itu tidak ingin ikut campur. Memang, biasanya ada
tipe-tipe konsumen yang selalu minta konsultasi terlebih dahulu sebelum membeli
obat. Lagipula, dia tidak bisa sembarangan menjual obat.
Namun, tampaknya Charies tidak ingin dirinya ikut campur.
“Baik,” balas si gadis, lalu pergi ke dalam untuk mengambil obat yang
dimaksud.
Berselang beberapa detik, gadis itu kembali sambil menyerahkan obat
kepada Charies.
“Sekali lagi, tolong periksakan diri Anda. Saya khawatir karena Anda
terlalu sering membeli obat sakit kepala belakangan ini.”
Charies menatapnya datar, lalu menyambar obat itu dengan ketidaksukaan
yang tercetak jelas di wajahnya. Dia berkata, “Baik. Terima kasih.”
Tanpa menunggu si gadis menjawab, Charies sudah lebih dulu berbalik
dan berlari menyebrang jalan. Persetan dengan periksa ke dokter, pikirnya.