BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Pengetahuan
a. Definisi pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan
melalui proses sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap
objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang penting
dalam terbentuknya perilaku terbuka atau open behavior (Donsu,
2017). Pengetahuan atau knowledge adalah hasil penginderaan
manusia atau hasil tahu seseorang terhadap suatu objek melalui
panca indra yang dimilikinya. Panca indra manusia guna
penginderaan terhadap objek yakni penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan perabaan. Pada waktu penginderaan untuk
menghasilkan pengetahuan tersebut dipengaruhi oleh intensitas
perhatiandan persepsi terhadap objek. Pengetahuan seseorang
sebagian besar diperoleh melalui indra pendengaran dan indra
penglihatan (Notoatmodjo, 2014).
Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal dan
sangat erat hubungannya. Diharapkan dengan pendidikan yang
tinggi maka akan semakin luas pengetahuannya. Tetapi orang yang
berpendidikan rendah tidak mutlak berpengetahuan rendah pula.
Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan
formal saja, tetapi juga dapat diperoleh dari pendidikan non formal.
11 Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
12
Pengetahuan akan suatu objek mengandung dua aspek yaitu
aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan menentukan
sikap seseorang. Semakin banyak aspek positif dan objek yang
diketahui, maka akan menimbulkan sikap semakin positif terhadap
objek tertentu (Notoatmojo, 2014).
b. Tingkat pengetahuan
Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai
intensitas atau tingkat yang berbeda – beda. Secara garis besarnya
dibagi 6 tingkat, yakni : (Notoatmodjo, 2014)
1) Tahu (Know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang
telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
2) Memahami (Comprehensif)
Memahami suatu objek bukan sekadar tahu terhadap objek
tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang
tersebut harus dapat mengintreprestasikan secara benar tentang
objek yang diketahui tersebut.
3) Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek
yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan
prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
13
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan
atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara
komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau
objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang
itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang
tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan,
mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap
pengetahuan atas objek tersebut.
5) Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk
merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis
dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan
kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
6) Evaluasi
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
melakukan penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian
ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang
ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku
dimasyarakat.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
14
c. Cara memperoleh pengetahuan
Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman
yang berasal dari berbagai macam sumber, misalnya media massa,
media elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster,
kerabat dekat, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2012).
Menurut Notoatmodjo (2012) cara memperoleh
pengetahuan antara lain sebagai berikut:
1) Cara coba salah (Trial and Error)
Cara ini dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan
mungkin sebelum adanya peradaban. Pada waktu itu bila
seseorang menghadapi persoalan atau masalah, upaya yang
dilakukan hanya dengan coba-coba saja. Cara coba-coba
dilakukan dengan menggunakan beberapa kemungkinan dalam
memecahkan masalah, apabila kemungkinan tersebut tidak
berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan
kedua ini juga gagal, maka dicoba kemungkinan selanjutnya
sampai kemungkinan tersebut berhasil.
2) Secara kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak
disengaja oleh orang yang bersangkutan.
3) Cara kekuasaan dan otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak kebiasaan dan
tradisi yang dilakukan oleh orang, penalaran, dan tradisitrasidi
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
15
itu yang dilakukan baik atau tidak. Pengetahuan diperoleh
berdasarkan pada pemegang otoritas, yakni orang mempunyai
wibawa atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah,
otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan atau
ilmuwan.
4) Berdasarkan pengalaman pribadi
Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman
yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang
dihadapi pada masa yang lalu. Adapun pepatah mengatakan
“Pengalaman adalah guru terbaik”, ini mengandung maksud
bahwa pengalaman merupakan sumber pengalaman untuk
memperoleh pengetahuan.
5) Cara akal sehat (common sense)
Sejalan perkembangan kebudayaan umat kebudayaan manusia
cara berpikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia
telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh
pengetahuan. Pemberian hadiah dan hukuman merupakan cara
yang masih dianut banyak orang untuk mendisiplinkan anak
dalam konteks pendidikan.
6) Kebenaran menerima wahyu
Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut
pengikut agama yang bersangkutan, terlepas dari apakah
kebenaran tersebut rasional atau tidak.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
16
7) Kebenaran secara intuitif
Kebenaran ini diperoleh manusia secara cepat melalui proses di
luar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau
berpikir.
8) Metode penelitian
Cara modern dalam meperoleh pengetahuan lebih sistematis,
logis, dan ilmiah.
d. Faktor – faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Mubarak (2011), ada tujuh faktor yang
mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu :
1) Tingkat pendidikan
Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan seseorang agar dapat memahami
suatu hal. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, semakin
tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah orang tersebut
menerima informasi. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan
pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan
tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pengetahuannya.
2) Pekerjaan
Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang harus dilakukan terutama
untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. Lingkungan pekerjaan
dapat membuat seseorang memperoleh pengalaman dan
pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
17
Misalnya, seseorang yang bekerja sebagai tenaga medis akan
lebih mengerti mengenai penyakit dan pengelolaanya daripada
non tenaga medis.
3) Umur
Umur mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Dengan bertambahnya umur individu, daya tangkap
dan pola pikir seseorang akan lebih berkembang, sehingga
pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik.
4) Minat
Minat merupakan suatu keinginan yang tinggi terhadap sesuatu
hal. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan
menekuni, sehingga seseorang memperoleh pengetahuan yang
lebih mendalam.
5) Pengalaman
Pengalaman merupakan suatu kejadian yang dialami seseorang
pada masa lalu. Pada umumnya semakin banyak pengalaman
seseorang, semakin bertambah pengetahuan yang didapatkan.
Dalam hal ini, pengetahuan ibu dari anak yang pernah atau
bahkan sering mengalami diare seharusnya lebih tinggi
daripada pengetahuan ibu dari anak yang belum pernah
mengalami diare sebelumnya.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
18
6) Lingkungan
Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar
individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.
Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya
pengetahuan ke dalam individu yang berada didalam
lingkungan tersebut. Contohnya, apabila suatu wilayah
mempunyai sikap menjaga kebersihan lingkungan, maka sangat
mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap menjaga
kebersihan lingkungan.
7) Informasi
Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih
banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Pada
umumnya semakin mudah memperoleh informasi semakin
cepat seeorang memperoleh pengetahuan yang baru.
e. Pengukuran pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan
wawancara atau angket yang menayakan tentang isi materi yang
ingin diukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo,
2014). Menurut Nurhasim (2013), pengukuran pengetahuan dapat
dilakukan dengan wawancara atau angket yang yang ingin
diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkat
pengetahuan responden yang meliputi tahu, memahami, aplikasi,
analisis, sintesis, dan evaluasi.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
19
Adapun pertanyaan yang dapat dipergunakan untuk
pengukuran pengetahuan secara umum dapat dikelompokkan
menjadi dua jenis yaitu pertanyaan subjektif, misalnya jenis
pertanyaan essay dan pertanyaan objektif, misalnya pertanyaan
pilihan ganda, (multiple choice), betul-salah dan pertanyaan
menjodohkan. Cara mengukur pengetahuan dengan memberikan
pertanyaan – pertanyaan, kemudian dilakukan penilaian 1 untuk
jawaban benar dan nilai 0 untuk jawaban salah. Penilaian
dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor yang
diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya
prosentase kemudian digolongkan menjadi 3 kategori yaitu
kategori baik (76 -100%), sedang atau cukup (56 – 75%) dan
kurang (<56%). (Arikunto, 2013).
2. Anak Sekolah Dasar
a. Pengertian anak sekolah dasar
Anak sekolah adalah anak usia sekolah dasar berusia 6-12
tahun. Anak pada usia tersebut mengalami laju pertumbuhan fisik
yang lambat namun konsisten. Mereka secara kontinyu mengalami
pendewasaan dalam keterampilan motorik seperti kognitif, sosial
dan emosional serta memperoleh keterampilan yang
memungkinkan mereka secara bebeas mengembangkan kesukaan
makannya sendiri dan membentuk kebiasaan makan (Almatsier,
2011).
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
20
Anak sekolah merupakan kelompok yang sangat peka
untuk menerima perubahan atau pembaruan, karena kelompok usia
tersebut sudah membentuk beberapa karakteristik emosi dan sosial
antara lain suka berteman dan bermain serta rasa ingin tahu
meningkat. Masa usia anak sekolah dasar disebut juga masa
intelektual, karena keterbukaan dan keinginan anak untuk
mendapatkan pengetahuan dan pengalaman. Karakteristik
intelektual anak usia sekolah meliputi suka berbicara dan
mengeluarkan pendapat, memiliki minat besar dalam belajar dan
keterampilan, rasa ingin mencoba hal baru da selalu ingin tahu
sesuatu, serta perhatian terhadap sesuatu sangat singkat
(Hardiansyah dan Supariasa, 2017).
Anak usia sekolah merupakan kelompok umur yang rawan
gizi dan rawan penyakit, utamanya penyakit. Pada periode
perkembangan anak sekolah ini adalah satu tahap perkembangan
ketika anak mulai menjauh dari kelompok keluarga dan mulai
berpusat pada kelompok usia sebaya yang lebih luas. Salah satu
yang perlu diperhatikan pada masa ini adalah kebiasaan makan
anak di sekolah yang dipelajari tanpa sengaja yang tidak melalui
proses pendidikan. Mereka juga mulai dapat memilih dan membeli
sendiri menu makanan (Iklima, 2017).
Menginjak usia enam tahun anak sudah mulai menentukan
pilihan makanannya sendiri, tidak seperti saat balita lagi yang
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
21
sepenuhnya tergantung pada orang tua. Periode ini merupakan
periode kritis dalam pemilihan makanan karena anak baru saja
memilih makanan dan belum mengerti makanan yang bergizi yang
dapat memenuhi kebutuhan gizinya sehingga anak memerlukan
bimbingan orang tua dan guru (Devi, 2012).
Pada anak kelompok usia ini juga sedang aktif-aktifnya
anak-anak banyak bermain di luar rumah, sehingga pengaruh
kawan, tawaran jajanan, aktivitas yang tinggi dan keterpaparan
terhadap sumber penyakit infeksi menjadi tinggi. Sebagian anak
sekolah usia 9 – 12 tahun sudah mulai memasuki masa
pertumbuhan cepat pra-pubertas, sehingga kebutuhan terhadap zat
gizi mulai meningkat secara bermakna. Oleh karenanya, pemberian
makanan dengan gizi seimbang untuk anak pada kelompok usia ini
harus memperhitungkan kondisi-kondisi tersebut di atas
(Kemenkes, 2014).
b. Karakteristik anak usia sekolah dasar
Menurut (Andriyani, 2012) karakteristik anak usia sekolah
9-11 tahun dijabarkan sebagai berikut :
1) Karakteristik fisik/jasmani : anak memiliki pertumbuhan yang
lambat namun teratur, BB dan TB anak perempuan lebih besar
dibandingkan anak laki-laki pada usia yang sama, terjadi
pertumbuhan tulang yang cepat, pertumbuhan gizi permanen,
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
22
nafsu makan mengalami peningkatan, dan timbul haid pada
anak akhir masa usia sekolah ini.
2) Karakteristik emosi : pada masa ini anak mulai memiliki rasa
ingin tahu yang kuat, suka menambah pertemanan, dan kurang
kepedulian terhadap lawan jenis.
3) Karakteristik sosial : anak mulai suka bermain dan mempererat
hubungan pertemanan dengan teman sebayanya.
4) Karakteristik intelektual : anak mulai berani menyuarakan
pendapatnya, memiliki minat besar terhadap belajar, mulai
terlihat memiliki keterampilan, rasa ingin tahu yang kuat, dan
memiliki perhatian terhadap sesuatu yang singkat.
c. Kebutuhan gizi anak sekolah dasar
Kebutuhan gizi anak usia sekolah relative lebih besar
daripada anak dibawahnya, karena pertumbuhan lebih cepat
terutama penambahan tinggi badan. Perbedaan kebutuhan gizi ank
laki laki dan perempuan dikarenakan anak laki laki lebih banyak
melakukan aktivitas fisik sehingga membutuhkan energi lebih
banyak. Sedangkan perempuan sudah masuk masa baligh sehingga
membutuhkan protein dan zat besi yang lebih banyak (Istianty dan
Ruslianti, 2013)
Golongan ini disebut golongan anak sekolah yang biasanya
mempunyai banyak perhatian dan aktivitas di luar rumah sehingga
sering melupakan waktu makan. Makan pagi (sarapan) perlu
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
23
diperhatikan untuk menjaga kebutuhan tubuh, dan supaya akan
lebih mudah menerima pembelajaran di sekolah. Makanan anak
usia sekolah seperti makanan orang dewasa. Bertambahnya
berbagai ukuran pada proses tumbuh, salah satunya dipengaruhi
oleh faktor gizi (Istianty dan Ruslianti, 2013)
1) Protein
Protein dibutuhkan untuk membangun dan memlihara otot,
darah, kulit dan jaringan serta organ tubuh. Pada anak, fungsi
terpenting protein adalah untuk pertumbuhan.
2) Lemak
Lemak berfungsi sebagai sumber energi, penyerapan beberapa
vitamin. Selain itu, lemak juga berfungsi untuk pertumbuhan,
terutama sel otak.
3) Karbohidrat
Asupan karbohidrat secara tidak langsung berperan dalam
proses pertumbuhan. Konsumsi karbohidrat disimpan di dalam
tubuh dalam bentuk glikogen atau lemak tubuh.
4) Vitamin dan mineral
Vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil
daripada protein, lemak dan karbohidrat tetapi sangat esensial
untuk tubuh. Keduanya mengatur keseimbangan kerja tubuh
dan kesehatan secara keseluruhan.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
24
Tabel 2.1
Kecukupan gizi anak usia sekolah (Berdasarkan AKG 2013)
Markonutrein
Lemak Karboh
Jenis Energi Protein Air
Usia Tot idrat
Kelamin (Kkal) (g) n-6 n-3 (ml)
al (g)
Laki - laki 7 – 9 th 1850 49 72 10 0,9 254 1900
10 – 12 th 2100 56 70 12 1,2 289 1800
Perempuan 7 – 9 th 1850 49 72 10 0,9 254 1900
10 – 12 th 2000 60 67 10 1,0 275 1800
Sumber : Tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG 2013)
Kebutuhan energi anak usia sekolah ditentukan berdasarkan
metabolisme basal, kecepatan pertumbuhan, dan pengeluaran enrgi.
Energi dari konsumsi pangan harus memenuhi kebutuhan
pertumbuhan. Kebutuhan energi pada anak laki-laki usia 7-9 tahun
sebesar 1850 Kkal dan usia 10-12 tahun sebesar 2100 Kkal.
Kebutuhan energi pada anak perempuan usia 7-9 tahun sebesar
1850 Kkal dan usia 10-12 tahun sebesar 2000 Kkal.
Pentingnya mengonsumsi makanan selingan selama di
sekolah adalah agar kadar gula darah tetap terkontrol dengan baik,
sehingga anak tetap konsentrasi dalam proses belajar di sekolah.
Kecukupan zat gizi dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin. Anak
usia 10-12 tahun kecukupan gizinya relative lebih besar
dibandingkan usia 7-9 tahun, karena pertumbuhan relatif cepat
terutama pada tinggi dan berat badan anak. Adanya perbedaan
tumbuh kembang anak laki-laki dan perempuan mulai usia 10
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
25
tahun kecukupan gizi anak laki-laki berbeda dengan anak
perempuan (BPOM RI, 2013).
3. Junk food
a. Definisi junkfood
Junk food dapat diartikan sebagai makanan yang dapat
dihidangkan dan dikonsumsi dalam waktu seminimal mungkin atau
juga dapat diartikan sebagai makanan yang dikonsumsi secara
cepat namun memiliki sedikit kandungan nutrisi dan mengandung
jumlah lemak yang besar (Handari, 2016).
Menurut Oetoro, S (2013) seorang Dokter Spesialis Gizi
mengatakan, Junk food kerap dikenal sebagai makanan yang tidak
sehat (makanan sampah). Junk food mengandung jumlah lemak
yang besar, rendah serat, banyak mengandung garam, gula, zat
aditif dan kalori tinggi tetapi rendah nutrisi, rendah vitamin, dan
rendah mineral. Seorang ahli kesehatan Parengkuan (2013)
mengatakan junk food atau makanan sampah ini dideskripsikan
sebagai makanan yang tidak sehat atau minim kandungan nutrisi.
Pada umumnya junk food berpenampilan menarik, praktis
dan cepat dalam penyajiannya sehingga mudah disukai oleh
masyarakat. Junk food jika dikonsumsi secara berlebihan dapat
menimbulkan bermacam gangguan kesehatan seperti obesitas,
hipertensi, stroke dan lain sebagainya (Arya,2013).
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
26
b. Jenis jenis makanan junk food
Menurut WHO (World Health Organizaton), jenis-jenis
makanan junk food yang dilihat dari jenis makanan cepat saji
beserta dampak yang di timbulkan adalah sebagai berikut :
1) Makanan gorengan
Makanan ini pada umumnya memiliki kandungan kalori,
kandungan lemak dan oksidanya yang cukup tinggi. Jenis
makanan yang termasuk junk food salah satunya adalah french
fries, french fries juga banyak mengandung sodium atau garam.
2) Makanan yang banyak mengandung gula.
Mengandung banyak gula adalah minuman bersoda tertutama
gula buatan. Minuman bersoda mengandung paling banyak
gula, sementara kebutuhan gula dalam tubuh tidak boleh lebih
dari empat gram atau satu sendok teh sehari.
3) Makanan dari daging berlemak
Makanan dari daging berlemak adalah fried chicken makanan
ini mengandung kadar protein, vitamin dan mineal yang baik
bagi pertumbuhan. Akan tetapi makanan ini juga mengandung
lemak jenuh dan kolestrol, ditambah dengan zat kimia di
dalamnya dimana kandungan-kandungan tersebut.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
27
4) Olahan keju
Konsumsi makanan berkadar lemak dan gula tinggi seperti ini
sering menyebabkan penumpukan lemak dan gula Contohnya
adalah pizza karena mengandung cream keju di dalamnya.
5) Makanan manis beku
Ice cream termasuk golongan ini, cake beku dll. Golongan ini
punya tiga masalah karena mengandung mentega dan pemanis
tinggi yang menyebabkan obesitas karena kadar gula tinggi
mengurangi nafsu makan juga karena temperature rendah
sehingga mempengaruhi usus.
c. Bahaya dari junk food
Pada umumnya junk food berpenampilan menarik, rasanya
lezat, praktis dan cepat dalam penyajiannya sehingga mudah
diterima dan disukai oleh semua kalangan masyarakat. Junk food
jika konsumsi berlebihan dapat menimbulkan bermacam gangguan
kesehatan seperti obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit jantung
koroner, stroke, kanker dan lain sebagainya (Arya,2013)
Berikut dampak negatif junk food :
1) Meningkatkan resiko serangan jantung
Kandungan kolesterol yang tinggi pada makanan cepat saji
seperti junk food dapat mengakibatkan penyumbatan pembuluh
darah. Penyumbatan pembuluh darah dapat membuat aliran
darah tidak menjadi lancar.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
28
2) Membuat ketagihan
Makanan cepat saji dapat membuat ketagihan bagi yang
mengkonsumsinya karena membuatnya yang sangat praktis dan
tidak memerlukan waktu yang lama.
3) Menambah berat badan
Mengkonsumsi terlalu berlebihan dan jarang olahraga maka
dapat menambah kenaikan berat badan yang tidak sehat.
Karena penumpukan lemak yang banyak dan tidak terbakar di
dalam tubuh.
4) Memicu diabetes
Kandungan energi dan lemak jenuh yang tinggi dalam makanan
junk food akan memicu terjadinya resistensi insulin yang
berujung pada penyakit obesitas.
d. Faktor faktor yang mempengaruhi perilaku memilih makanan
Pemilihan makanan jajanan merupakan perwujudan
perilaku. Adapun faktor yang berhubungan dengan pemilihan
makanan jajanan adalah sebagai berikut :
1) Pengetahuan
Pengetahuan mengenai jajanan adalah kepandaian
memilih makanan jajanan yang merupakan sumber zat-zat gizi
dan kepandaian dalam memilih jajanan yang sehat. Dalam
memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah
menggunakan jalan pikirannya dan hal ini sesuai dengan teori
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
29
yang menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil “tahu”, dan
ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu
objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra
manusia, yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang (ovent behavior)( Notoatmodjo S, 2014).
Pengetahuan gizi anak sangat berpengaruh terhadap
pemilihan makanan jajanan. Pengetahuan anak dapat diperoleh
baik secara internal maupun eksternal. Pengetahuan secara
internal yaitu pengetahuan yang berasal dari dirinya sendiri
berdasarkan pengalaman hidup. Pengetahuan secara eksternal
yaitu pengetahuan yang berasal dari orang lain sehingga
pengetahuan anak tentang gizi bertambah
2) Sikap
Sikap pemilihan makanan jajanan merupakan hasil
perubahan pada anak SD dan mengalami perubahan terus-
menerus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan
tingkat budaya tersebut. Salah satu faktor yang mempengaruhi
sikap pemilihan makanan jajanan adalah sikap dalam pemilihan
makanan.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
30
Sikap seorang anak adalah komponen penting yang
berpengaruh dalam memilih makanan jajanan. Sikap positif
anak terhadap kesehatan kemungkinan tidak berdampak
langsung pada perilaku anak menjadi positif, tetapi sikap yang
negatif terhadap kesehatan hampir pasti berdampak pada
perilakunya (Notoatmodjo S, 2014)
3) Uang Jajan
Uang jajan adalah sejumlah uang yang diberikan orang
tua atau pengasuh kepada anak-anaknya. Uang jajan dapat di
kategorikan menurut waktu pemberiannya yaitu uang jajan
harian, mingguan, bulanan, atau tahunan. Selain untuk jajan
uang tersebut dapat digunakan untuk keperluan lainnya. Namun
biasanya anak sekolah di beri uang saku untuk keperluan jajan
di sekolah. Besarnya juga berbeda-beda tergantung usia anak
dan keadaan ekonomi keluarga.
Menurut Moehji, salah satu alasan seorang anak
mengkonsumsi makanan yang beragam adalah uang jajan.
Semakin besar uang jajan maka kecenderungan anak
mempunyai frekuensi jajan yang besar (Safriana, 2012).
4) Kebiasaan membawa bekal
Kebiasaan membawa merupakan salah satu faktor yang
membuat seseorang memiliki kebiasaan jajan di sekolah.
Kebiasaan anak dalam membawa bekal masih kurang saat ini.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
31
Orang tua seringkali lebih memilih memberikan uang saku
guna membeli jajan anak daripada memberikan makan bekal
untuk anak. Hal tersebut dapat terjadi karena orang tua
terkadang kurang memiliki waktu untuk membuatkan anaknya
bekal. Padahal dengan memberikan bekal kepada anak dapat
mengontrol pola konsumsi makanan jajanan anak dan dapat
mengurangi intensitas jajan (Rahayu S, 2018).
5) Pengaruh teman sebaya
Kelompok sebaya secara umum terdiri dari anakanak
yang sama usianya, jenis kelamin, etnis, serta kondisi sosial
ekonomi dan tinggal berdekatan satu sama lain sehingga bisa
pergi bersekolah bersama. Teman sebaya memberikan
pengaruh yang kuat pada diri seorang anak. Perilaku anak
dalam mengkonsumsi makanan jajanan. Anak-anak dalam
pergaulannya memiliki hubungan yang terikat sangat erat
dengan kelompok teman sebayanya (Papalia, E. D, 2014).
e. Upaya meminimalisir dampak negatif dari makanan cepat saji
Menurut (Lubis, 2009), untuk mengurangi dan
meminimalisasi dampak negatif makanan cepat saji dapat
diupayakan dengan beberapa cara antara lain :
1) Bukan larangan yang menakutkan atau suatu keharusan yang
mesti dilakukan untuk menghindari makanan cepat saji
beresiko. Walaupun hidangan yang akan dinikmati umumnya
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
32
mengandung garam dan lemak tinggi, sebenarnya jenis
makanan cepat saji beresiko yang indentik dengan fried
chicken itu juga memliki kandungan protein yang cukup tinggi.
Bila harus 1 atau 2 kali dalam sebulan atau 1 kali dalam
seminggu ingin menikmati makanan fried chicken dirasa cukup
aman dilakukan. Tetapi, apabila frekuensi menikmati makanan
ini dilakukan lebih sering lagi, maka sebaiknya ketika
menyantap sajian ini hendaknya dibarengi dengan
mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.
2) Anjuran yang paling cocok bagi penggemar makanan cepat saji
adalah hendaknya mereka mengimbangi konsumsi makanan
tinggi lemak protein dengan makanan tinggi serat seperti
sayuran, baik yang disajikan dalam bentuk mentah misalnya
lalapan atau dalam bentuk olahan seperti sop atau salad dari
berbagai sayuran dan buah-buahan.
3) Dianjurkan meminum air putih 8-10 gelas per hari untuk
mengimbangi minuman bersoda tinggi. Disamping itu, untuk
mengurangi risiko makanan cepat saji yangn mengandung
tinggi lemak dan tinggi kadar garamnya agar mengurangi porsi
makanan atau memilih makanan dalam porsi kecil. Kemudian,
bagilah porsi itu dengan rekan atau teman. Dan yang terakhir
jangan lupa untuk berolahraga secara disiplin dan teratur.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
33
4) Buah-buahan merupakan pabrik senyawa vitamin, mineral,
fitokimia, antioksidan, dan serat makanan alami. Pengolahan
buah-buahan menjadi jus merupakan salah satu cara yang baik
untuk meningkatkan konsumsi buah-buahan di masyarakat.
Agar diperoleh asupan serat makanan sebagaimana yang
diperlukan tubuh ketika mengonsumsi jus buah hendaknya jus
benar-banar dibuat dari buah asli. Jangan sekali-kali tertipu
dengan berbagai jenis minuman jus rasa buah yang sebenarnya
sama sekali tidak mengandung komponen buah.
5) Beberapa saran yang perlu diingat dan penting bagi pecinta
makana cepat saji adalah hendaknya memulai sarapan pagi
dengan menu sehat seperti jus buah, susu rendah lemak atau
sereal tinggi serat, dan jangan lupa mengonsumsi sayuran.
Asupan makanan yang mengandung tinggi serat sangat
bermanfaat dan dapat membantu memperlambat rasa lapar,
sehingga akan menekan keinginan untuk mengonsumsi
makanan berlemak atau paling tidak hasrat untuk menikmati
akan tertunda.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
34
B. Kerangka Teori
Kerangka teori penelitian adalah hubungan konsep – konsep yang
diamati melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoadmojo, 2012).
Kerangka teori adalah rangkuman jawaban dari penjabaran teori
yang akan diuraikan sebelumnya dalam bentuk naratif, untuk memberikan
batasan tentang teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang
dilakukan (Hidayat, 2014).
Junk food
Tingkat Pengetahuan 1. Definisi junk food
tentang Junk food 2. Jenis jenis makanan
junk food
3. Bahaya dari junk food
4. Faktor faktor yang
mempengaruhi
Faktor – faktor yang pemilihan makanan
mempengaruhi pengetahuan : 5. Upaya meminimalisir
1. Tingkat pendidikan dampak negatif dari
2. Pekerjaan makanan cepat saji
3. Umur
4. Minat
5. Pengalaman
6. Lingkungan
7. Informasi
Gambar 2.1 Kerangka Teori
Sumber kerangka teori ini berdasarkan : Mubarak (2011). Handari (2016), Arya
(2013), Notoatmodjo S, (2014), Safriana (2012), Rahayu S (2018), Papalia, E. D
(2014), , Lubis (2009)
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
35
C. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana tingkat pengetahuan tentang junk food pada siswa kelas
V SD Negeri Wiladeg, Karangmojo, Gunungkidul, Yogyakarta?.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta