0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan25 halaman

Tingkat dan Cara Memperoleh Pengetahuan

Diunggah oleh

Tegar ILham
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan25 halaman

Tingkat dan Cara Memperoleh Pengetahuan

Diunggah oleh

Tegar ILham
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Pengetahuan

a. Definisi pengetahuan

Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan

melalui proses sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap

objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang penting

dalam terbentuknya perilaku terbuka atau open behavior (Donsu,

2017). Pengetahuan atau knowledge adalah hasil penginderaan

manusia atau hasil tahu seseorang terhadap suatu objek melalui

panca indra yang dimilikinya. Panca indra manusia guna

penginderaan terhadap objek yakni penglihatan, pendengaran,

penciuman, rasa dan perabaan. Pada waktu penginderaan untuk

menghasilkan pengetahuan tersebut dipengaruhi oleh intensitas

perhatiandan persepsi terhadap objek. Pengetahuan seseorang

sebagian besar diperoleh melalui indra pendengaran dan indra

penglihatan (Notoatmodjo, 2014).

Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal dan

sangat erat hubungannya. Diharapkan dengan pendidikan yang

tinggi maka akan semakin luas pengetahuannya. Tetapi orang yang

berpendidikan rendah tidak mutlak berpengetahuan rendah pula.

Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan

formal saja, tetapi juga dapat diperoleh dari pendidikan non formal.

11 Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


12

Pengetahuan akan suatu objek mengandung dua aspek yaitu

aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan menentukan

sikap seseorang. Semakin banyak aspek positif dan objek yang

diketahui, maka akan menimbulkan sikap semakin positif terhadap

objek tertentu (Notoatmojo, 2014).

b. Tingkat pengetahuan

Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai

intensitas atau tingkat yang berbeda – beda. Secara garis besarnya

dibagi 6 tingkat, yakni : (Notoatmodjo, 2014)

1) Tahu (Know)

Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang

telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.

2) Memahami (Comprehensif)

Memahami suatu objek bukan sekadar tahu terhadap objek

tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang

tersebut harus dapat mengintreprestasikan secara benar tentang

objek yang diketahui tersebut.

3) Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek

yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan

prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


13

4) Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan

atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara

komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau

objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang

itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang

tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan,

mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap

pengetahuan atas objek tersebut.

5) Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk

merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis

dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan

kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.

6) Evaluasi

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk

melakukan penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian

ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang

ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku

dimasyarakat.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


14

c. Cara memperoleh pengetahuan

Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman

yang berasal dari berbagai macam sumber, misalnya media massa,

media elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster,

kerabat dekat, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2012).

Menurut Notoatmodjo (2012) cara memperoleh

pengetahuan antara lain sebagai berikut:

1) Cara coba salah (Trial and Error)

Cara ini dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan

mungkin sebelum adanya peradaban. Pada waktu itu bila

seseorang menghadapi persoalan atau masalah, upaya yang

dilakukan hanya dengan coba-coba saja. Cara coba-coba

dilakukan dengan menggunakan beberapa kemungkinan dalam

memecahkan masalah, apabila kemungkinan tersebut tidak

berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan

kedua ini juga gagal, maka dicoba kemungkinan selanjutnya

sampai kemungkinan tersebut berhasil.

2) Secara kebetulan

Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak

disengaja oleh orang yang bersangkutan.

3) Cara kekuasaan dan otoritas

Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak kebiasaan dan

tradisi yang dilakukan oleh orang, penalaran, dan tradisitrasidi

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


15

itu yang dilakukan baik atau tidak. Pengetahuan diperoleh

berdasarkan pada pemegang otoritas, yakni orang mempunyai

wibawa atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah,

otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan atau

ilmuwan.

4) Berdasarkan pengalaman pribadi

Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman

yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang

dihadapi pada masa yang lalu. Adapun pepatah mengatakan

“Pengalaman adalah guru terbaik”, ini mengandung maksud

bahwa pengalaman merupakan sumber pengalaman untuk

memperoleh pengetahuan.

5) Cara akal sehat (common sense)

Sejalan perkembangan kebudayaan umat kebudayaan manusia

cara berpikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia

telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh

pengetahuan. Pemberian hadiah dan hukuman merupakan cara

yang masih dianut banyak orang untuk mendisiplinkan anak

dalam konteks pendidikan.

6) Kebenaran menerima wahyu

Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut

pengikut agama yang bersangkutan, terlepas dari apakah

kebenaran tersebut rasional atau tidak.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


16

7) Kebenaran secara intuitif

Kebenaran ini diperoleh manusia secara cepat melalui proses di

luar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau

berpikir.

8) Metode penelitian

Cara modern dalam meperoleh pengetahuan lebih sistematis,

logis, dan ilmiah.

d. Faktor – faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Menurut Mubarak (2011), ada tujuh faktor yang

mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu :

1) Tingkat pendidikan

Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mengembangkan

kepribadian dan kemampuan seseorang agar dapat memahami

suatu hal. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, semakin

tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah orang tersebut

menerima informasi. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan

pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan

tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pengetahuannya.

2) Pekerjaan

Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang harus dilakukan terutama

untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. Lingkungan pekerjaan

dapat membuat seseorang memperoleh pengalaman dan

pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


17

Misalnya, seseorang yang bekerja sebagai tenaga medis akan

lebih mengerti mengenai penyakit dan pengelolaanya daripada

non tenaga medis.

3) Umur

Umur mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir

seseorang. Dengan bertambahnya umur individu, daya tangkap

dan pola pikir seseorang akan lebih berkembang, sehingga

pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik.

4) Minat

Minat merupakan suatu keinginan yang tinggi terhadap sesuatu

hal. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan

menekuni, sehingga seseorang memperoleh pengetahuan yang

lebih mendalam.

5) Pengalaman

Pengalaman merupakan suatu kejadian yang dialami seseorang

pada masa lalu. Pada umumnya semakin banyak pengalaman

seseorang, semakin bertambah pengetahuan yang didapatkan.

Dalam hal ini, pengetahuan ibu dari anak yang pernah atau

bahkan sering mengalami diare seharusnya lebih tinggi

daripada pengetahuan ibu dari anak yang belum pernah

mengalami diare sebelumnya.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


18

6) Lingkungan

Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar

individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.

Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya

pengetahuan ke dalam individu yang berada didalam

lingkungan tersebut. Contohnya, apabila suatu wilayah

mempunyai sikap menjaga kebersihan lingkungan, maka sangat

mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap menjaga

kebersihan lingkungan.

7) Informasi

Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih

banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Pada

umumnya semakin mudah memperoleh informasi semakin

cepat seeorang memperoleh pengetahuan yang baru.

e. Pengukuran pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menayakan tentang isi materi yang

ingin diukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo,

2014). Menurut Nurhasim (2013), pengukuran pengetahuan dapat

dilakukan dengan wawancara atau angket yang yang ingin

diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkat

pengetahuan responden yang meliputi tahu, memahami, aplikasi,

analisis, sintesis, dan evaluasi.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


19

Adapun pertanyaan yang dapat dipergunakan untuk

pengukuran pengetahuan secara umum dapat dikelompokkan

menjadi dua jenis yaitu pertanyaan subjektif, misalnya jenis

pertanyaan essay dan pertanyaan objektif, misalnya pertanyaan

pilihan ganda, (multiple choice), betul-salah dan pertanyaan

menjodohkan. Cara mengukur pengetahuan dengan memberikan

pertanyaan – pertanyaan, kemudian dilakukan penilaian 1 untuk

jawaban benar dan nilai 0 untuk jawaban salah. Penilaian

dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor yang

diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya

prosentase kemudian digolongkan menjadi 3 kategori yaitu

kategori baik (76 -100%), sedang atau cukup (56 – 75%) dan

kurang (<56%). (Arikunto, 2013).

2. Anak Sekolah Dasar

a. Pengertian anak sekolah dasar

Anak sekolah adalah anak usia sekolah dasar berusia 6-12

tahun. Anak pada usia tersebut mengalami laju pertumbuhan fisik

yang lambat namun konsisten. Mereka secara kontinyu mengalami

pendewasaan dalam keterampilan motorik seperti kognitif, sosial

dan emosional serta memperoleh keterampilan yang

memungkinkan mereka secara bebeas mengembangkan kesukaan

makannya sendiri dan membentuk kebiasaan makan (Almatsier,

2011).

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


20

Anak sekolah merupakan kelompok yang sangat peka

untuk menerima perubahan atau pembaruan, karena kelompok usia

tersebut sudah membentuk beberapa karakteristik emosi dan sosial

antara lain suka berteman dan bermain serta rasa ingin tahu

meningkat. Masa usia anak sekolah dasar disebut juga masa

intelektual, karena keterbukaan dan keinginan anak untuk

mendapatkan pengetahuan dan pengalaman. Karakteristik

intelektual anak usia sekolah meliputi suka berbicara dan

mengeluarkan pendapat, memiliki minat besar dalam belajar dan

keterampilan, rasa ingin mencoba hal baru da selalu ingin tahu

sesuatu, serta perhatian terhadap sesuatu sangat singkat

(Hardiansyah dan Supariasa, 2017).

Anak usia sekolah merupakan kelompok umur yang rawan

gizi dan rawan penyakit, utamanya penyakit. Pada periode

perkembangan anak sekolah ini adalah satu tahap perkembangan

ketika anak mulai menjauh dari kelompok keluarga dan mulai

berpusat pada kelompok usia sebaya yang lebih luas. Salah satu

yang perlu diperhatikan pada masa ini adalah kebiasaan makan

anak di sekolah yang dipelajari tanpa sengaja yang tidak melalui

proses pendidikan. Mereka juga mulai dapat memilih dan membeli

sendiri menu makanan (Iklima, 2017).

Menginjak usia enam tahun anak sudah mulai menentukan

pilihan makanannya sendiri, tidak seperti saat balita lagi yang

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


21

sepenuhnya tergantung pada orang tua. Periode ini merupakan

periode kritis dalam pemilihan makanan karena anak baru saja

memilih makanan dan belum mengerti makanan yang bergizi yang

dapat memenuhi kebutuhan gizinya sehingga anak memerlukan

bimbingan orang tua dan guru (Devi, 2012).

Pada anak kelompok usia ini juga sedang aktif-aktifnya

anak-anak banyak bermain di luar rumah, sehingga pengaruh

kawan, tawaran jajanan, aktivitas yang tinggi dan keterpaparan

terhadap sumber penyakit infeksi menjadi tinggi. Sebagian anak

sekolah usia 9 – 12 tahun sudah mulai memasuki masa

pertumbuhan cepat pra-pubertas, sehingga kebutuhan terhadap zat

gizi mulai meningkat secara bermakna. Oleh karenanya, pemberian

makanan dengan gizi seimbang untuk anak pada kelompok usia ini

harus memperhitungkan kondisi-kondisi tersebut di atas

(Kemenkes, 2014).

b. Karakteristik anak usia sekolah dasar

Menurut (Andriyani, 2012) karakteristik anak usia sekolah

9-11 tahun dijabarkan sebagai berikut :

1) Karakteristik fisik/jasmani : anak memiliki pertumbuhan yang

lambat namun teratur, BB dan TB anak perempuan lebih besar

dibandingkan anak laki-laki pada usia yang sama, terjadi

pertumbuhan tulang yang cepat, pertumbuhan gizi permanen,

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


22

nafsu makan mengalami peningkatan, dan timbul haid pada

anak akhir masa usia sekolah ini.

2) Karakteristik emosi : pada masa ini anak mulai memiliki rasa

ingin tahu yang kuat, suka menambah pertemanan, dan kurang

kepedulian terhadap lawan jenis.

3) Karakteristik sosial : anak mulai suka bermain dan mempererat

hubungan pertemanan dengan teman sebayanya.

4) Karakteristik intelektual : anak mulai berani menyuarakan

pendapatnya, memiliki minat besar terhadap belajar, mulai

terlihat memiliki keterampilan, rasa ingin tahu yang kuat, dan

memiliki perhatian terhadap sesuatu yang singkat.

c. Kebutuhan gizi anak sekolah dasar

Kebutuhan gizi anak usia sekolah relative lebih besar

daripada anak dibawahnya, karena pertumbuhan lebih cepat

terutama penambahan tinggi badan. Perbedaan kebutuhan gizi ank

laki laki dan perempuan dikarenakan anak laki laki lebih banyak

melakukan aktivitas fisik sehingga membutuhkan energi lebih

banyak. Sedangkan perempuan sudah masuk masa baligh sehingga

membutuhkan protein dan zat besi yang lebih banyak (Istianty dan

Ruslianti, 2013)

Golongan ini disebut golongan anak sekolah yang biasanya

mempunyai banyak perhatian dan aktivitas di luar rumah sehingga

sering melupakan waktu makan. Makan pagi (sarapan) perlu

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


23

diperhatikan untuk menjaga kebutuhan tubuh, dan supaya akan

lebih mudah menerima pembelajaran di sekolah. Makanan anak

usia sekolah seperti makanan orang dewasa. Bertambahnya

berbagai ukuran pada proses tumbuh, salah satunya dipengaruhi

oleh faktor gizi (Istianty dan Ruslianti, 2013)

1) Protein

Protein dibutuhkan untuk membangun dan memlihara otot,

darah, kulit dan jaringan serta organ tubuh. Pada anak, fungsi

terpenting protein adalah untuk pertumbuhan.

2) Lemak

Lemak berfungsi sebagai sumber energi, penyerapan beberapa

vitamin. Selain itu, lemak juga berfungsi untuk pertumbuhan,

terutama sel otak.

3) Karbohidrat

Asupan karbohidrat secara tidak langsung berperan dalam

proses pertumbuhan. Konsumsi karbohidrat disimpan di dalam

tubuh dalam bentuk glikogen atau lemak tubuh.

4) Vitamin dan mineral

Vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil

daripada protein, lemak dan karbohidrat tetapi sangat esensial

untuk tubuh. Keduanya mengatur keseimbangan kerja tubuh

dan kesehatan secara keseluruhan.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


24

Tabel 2.1
Kecukupan gizi anak usia sekolah (Berdasarkan AKG 2013)
Markonutrein
Lemak Karboh
Jenis Energi Protein Air
Usia Tot idrat
Kelamin (Kkal) (g) n-6 n-3 (ml)
al (g)
Laki - laki 7 – 9 th 1850 49 72 10 0,9 254 1900
10 – 12 th 2100 56 70 12 1,2 289 1800
Perempuan 7 – 9 th 1850 49 72 10 0,9 254 1900
10 – 12 th 2000 60 67 10 1,0 275 1800
Sumber : Tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG 2013)

Kebutuhan energi anak usia sekolah ditentukan berdasarkan

metabolisme basal, kecepatan pertumbuhan, dan pengeluaran enrgi.

Energi dari konsumsi pangan harus memenuhi kebutuhan

pertumbuhan. Kebutuhan energi pada anak laki-laki usia 7-9 tahun

sebesar 1850 Kkal dan usia 10-12 tahun sebesar 2100 Kkal.

Kebutuhan energi pada anak perempuan usia 7-9 tahun sebesar

1850 Kkal dan usia 10-12 tahun sebesar 2000 Kkal.

Pentingnya mengonsumsi makanan selingan selama di

sekolah adalah agar kadar gula darah tetap terkontrol dengan baik,

sehingga anak tetap konsentrasi dalam proses belajar di sekolah.

Kecukupan zat gizi dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin. Anak

usia 10-12 tahun kecukupan gizinya relative lebih besar

dibandingkan usia 7-9 tahun, karena pertumbuhan relatif cepat

terutama pada tinggi dan berat badan anak. Adanya perbedaan

tumbuh kembang anak laki-laki dan perempuan mulai usia 10

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


25

tahun kecukupan gizi anak laki-laki berbeda dengan anak

perempuan (BPOM RI, 2013).

3. Junk food

a. Definisi junkfood

Junk food dapat diartikan sebagai makanan yang dapat

dihidangkan dan dikonsumsi dalam waktu seminimal mungkin atau

juga dapat diartikan sebagai makanan yang dikonsumsi secara

cepat namun memiliki sedikit kandungan nutrisi dan mengandung

jumlah lemak yang besar (Handari, 2016).

Menurut Oetoro, S (2013) seorang Dokter Spesialis Gizi

mengatakan, Junk food kerap dikenal sebagai makanan yang tidak

sehat (makanan sampah). Junk food mengandung jumlah lemak

yang besar, rendah serat, banyak mengandung garam, gula, zat

aditif dan kalori tinggi tetapi rendah nutrisi, rendah vitamin, dan

rendah mineral. Seorang ahli kesehatan Parengkuan (2013)

mengatakan junk food atau makanan sampah ini dideskripsikan

sebagai makanan yang tidak sehat atau minim kandungan nutrisi.

Pada umumnya junk food berpenampilan menarik, praktis

dan cepat dalam penyajiannya sehingga mudah disukai oleh

masyarakat. Junk food jika dikonsumsi secara berlebihan dapat

menimbulkan bermacam gangguan kesehatan seperti obesitas,

hipertensi, stroke dan lain sebagainya (Arya,2013).

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


26

b. Jenis jenis makanan junk food

Menurut WHO (World Health Organizaton), jenis-jenis

makanan junk food yang dilihat dari jenis makanan cepat saji

beserta dampak yang di timbulkan adalah sebagai berikut :

1) Makanan gorengan

Makanan ini pada umumnya memiliki kandungan kalori,

kandungan lemak dan oksidanya yang cukup tinggi. Jenis

makanan yang termasuk junk food salah satunya adalah french

fries, french fries juga banyak mengandung sodium atau garam.

2) Makanan yang banyak mengandung gula.

Mengandung banyak gula adalah minuman bersoda tertutama

gula buatan. Minuman bersoda mengandung paling banyak

gula, sementara kebutuhan gula dalam tubuh tidak boleh lebih

dari empat gram atau satu sendok teh sehari.

3) Makanan dari daging berlemak

Makanan dari daging berlemak adalah fried chicken makanan

ini mengandung kadar protein, vitamin dan mineal yang baik

bagi pertumbuhan. Akan tetapi makanan ini juga mengandung

lemak jenuh dan kolestrol, ditambah dengan zat kimia di

dalamnya dimana kandungan-kandungan tersebut.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


27

4) Olahan keju

Konsumsi makanan berkadar lemak dan gula tinggi seperti ini

sering menyebabkan penumpukan lemak dan gula Contohnya

adalah pizza karena mengandung cream keju di dalamnya.

5) Makanan manis beku

Ice cream termasuk golongan ini, cake beku dll. Golongan ini

punya tiga masalah karena mengandung mentega dan pemanis

tinggi yang menyebabkan obesitas karena kadar gula tinggi

mengurangi nafsu makan juga karena temperature rendah

sehingga mempengaruhi usus.

c. Bahaya dari junk food

Pada umumnya junk food berpenampilan menarik, rasanya

lezat, praktis dan cepat dalam penyajiannya sehingga mudah

diterima dan disukai oleh semua kalangan masyarakat. Junk food

jika konsumsi berlebihan dapat menimbulkan bermacam gangguan

kesehatan seperti obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit jantung

koroner, stroke, kanker dan lain sebagainya (Arya,2013)

Berikut dampak negatif junk food :

1) Meningkatkan resiko serangan jantung

Kandungan kolesterol yang tinggi pada makanan cepat saji

seperti junk food dapat mengakibatkan penyumbatan pembuluh

darah. Penyumbatan pembuluh darah dapat membuat aliran

darah tidak menjadi lancar.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


28

2) Membuat ketagihan

Makanan cepat saji dapat membuat ketagihan bagi yang

mengkonsumsinya karena membuatnya yang sangat praktis dan

tidak memerlukan waktu yang lama.

3) Menambah berat badan

Mengkonsumsi terlalu berlebihan dan jarang olahraga maka

dapat menambah kenaikan berat badan yang tidak sehat.

Karena penumpukan lemak yang banyak dan tidak terbakar di

dalam tubuh.

4) Memicu diabetes

Kandungan energi dan lemak jenuh yang tinggi dalam makanan

junk food akan memicu terjadinya resistensi insulin yang

berujung pada penyakit obesitas.

d. Faktor faktor yang mempengaruhi perilaku memilih makanan

Pemilihan makanan jajanan merupakan perwujudan

perilaku. Adapun faktor yang berhubungan dengan pemilihan

makanan jajanan adalah sebagai berikut :

1) Pengetahuan

Pengetahuan mengenai jajanan adalah kepandaian

memilih makanan jajanan yang merupakan sumber zat-zat gizi

dan kepandaian dalam memilih jajanan yang sehat. Dalam

memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah

menggunakan jalan pikirannya dan hal ini sesuai dengan teori

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


29

yang menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil “tahu”, dan

ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu

objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra

manusia, yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh

melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan

domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan

seseorang (ovent behavior)( Notoatmodjo S, 2014).

Pengetahuan gizi anak sangat berpengaruh terhadap

pemilihan makanan jajanan. Pengetahuan anak dapat diperoleh

baik secara internal maupun eksternal. Pengetahuan secara

internal yaitu pengetahuan yang berasal dari dirinya sendiri

berdasarkan pengalaman hidup. Pengetahuan secara eksternal

yaitu pengetahuan yang berasal dari orang lain sehingga

pengetahuan anak tentang gizi bertambah

2) Sikap

Sikap pemilihan makanan jajanan merupakan hasil

perubahan pada anak SD dan mengalami perubahan terus-

menerus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan

tingkat budaya tersebut. Salah satu faktor yang mempengaruhi

sikap pemilihan makanan jajanan adalah sikap dalam pemilihan

makanan.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


30

Sikap seorang anak adalah komponen penting yang

berpengaruh dalam memilih makanan jajanan. Sikap positif

anak terhadap kesehatan kemungkinan tidak berdampak

langsung pada perilaku anak menjadi positif, tetapi sikap yang

negatif terhadap kesehatan hampir pasti berdampak pada

perilakunya (Notoatmodjo S, 2014)

3) Uang Jajan

Uang jajan adalah sejumlah uang yang diberikan orang

tua atau pengasuh kepada anak-anaknya. Uang jajan dapat di

kategorikan menurut waktu pemberiannya yaitu uang jajan

harian, mingguan, bulanan, atau tahunan. Selain untuk jajan

uang tersebut dapat digunakan untuk keperluan lainnya. Namun

biasanya anak sekolah di beri uang saku untuk keperluan jajan

di sekolah. Besarnya juga berbeda-beda tergantung usia anak

dan keadaan ekonomi keluarga.

Menurut Moehji, salah satu alasan seorang anak

mengkonsumsi makanan yang beragam adalah uang jajan.

Semakin besar uang jajan maka kecenderungan anak

mempunyai frekuensi jajan yang besar (Safriana, 2012).

4) Kebiasaan membawa bekal

Kebiasaan membawa merupakan salah satu faktor yang

membuat seseorang memiliki kebiasaan jajan di sekolah.

Kebiasaan anak dalam membawa bekal masih kurang saat ini.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


31

Orang tua seringkali lebih memilih memberikan uang saku

guna membeli jajan anak daripada memberikan makan bekal

untuk anak. Hal tersebut dapat terjadi karena orang tua

terkadang kurang memiliki waktu untuk membuatkan anaknya

bekal. Padahal dengan memberikan bekal kepada anak dapat

mengontrol pola konsumsi makanan jajanan anak dan dapat

mengurangi intensitas jajan (Rahayu S, 2018).

5) Pengaruh teman sebaya

Kelompok sebaya secara umum terdiri dari anakanak

yang sama usianya, jenis kelamin, etnis, serta kondisi sosial

ekonomi dan tinggal berdekatan satu sama lain sehingga bisa

pergi bersekolah bersama. Teman sebaya memberikan

pengaruh yang kuat pada diri seorang anak. Perilaku anak

dalam mengkonsumsi makanan jajanan. Anak-anak dalam

pergaulannya memiliki hubungan yang terikat sangat erat

dengan kelompok teman sebayanya (Papalia, E. D, 2014).

e. Upaya meminimalisir dampak negatif dari makanan cepat saji

Menurut (Lubis, 2009), untuk mengurangi dan

meminimalisasi dampak negatif makanan cepat saji dapat

diupayakan dengan beberapa cara antara lain :

1) Bukan larangan yang menakutkan atau suatu keharusan yang

mesti dilakukan untuk menghindari makanan cepat saji

beresiko. Walaupun hidangan yang akan dinikmati umumnya

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


32

mengandung garam dan lemak tinggi, sebenarnya jenis

makanan cepat saji beresiko yang indentik dengan fried

chicken itu juga memliki kandungan protein yang cukup tinggi.

Bila harus 1 atau 2 kali dalam sebulan atau 1 kali dalam

seminggu ingin menikmati makanan fried chicken dirasa cukup

aman dilakukan. Tetapi, apabila frekuensi menikmati makanan

ini dilakukan lebih sering lagi, maka sebaiknya ketika

menyantap sajian ini hendaknya dibarengi dengan

mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.

2) Anjuran yang paling cocok bagi penggemar makanan cepat saji

adalah hendaknya mereka mengimbangi konsumsi makanan

tinggi lemak protein dengan makanan tinggi serat seperti

sayuran, baik yang disajikan dalam bentuk mentah misalnya

lalapan atau dalam bentuk olahan seperti sop atau salad dari

berbagai sayuran dan buah-buahan.

3) Dianjurkan meminum air putih 8-10 gelas per hari untuk

mengimbangi minuman bersoda tinggi. Disamping itu, untuk

mengurangi risiko makanan cepat saji yangn mengandung

tinggi lemak dan tinggi kadar garamnya agar mengurangi porsi

makanan atau memilih makanan dalam porsi kecil. Kemudian,

bagilah porsi itu dengan rekan atau teman. Dan yang terakhir

jangan lupa untuk berolahraga secara disiplin dan teratur.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


33

4) Buah-buahan merupakan pabrik senyawa vitamin, mineral,

fitokimia, antioksidan, dan serat makanan alami. Pengolahan

buah-buahan menjadi jus merupakan salah satu cara yang baik

untuk meningkatkan konsumsi buah-buahan di masyarakat.

Agar diperoleh asupan serat makanan sebagaimana yang

diperlukan tubuh ketika mengonsumsi jus buah hendaknya jus

benar-banar dibuat dari buah asli. Jangan sekali-kali tertipu

dengan berbagai jenis minuman jus rasa buah yang sebenarnya

sama sekali tidak mengandung komponen buah.

5) Beberapa saran yang perlu diingat dan penting bagi pecinta

makana cepat saji adalah hendaknya memulai sarapan pagi

dengan menu sehat seperti jus buah, susu rendah lemak atau

sereal tinggi serat, dan jangan lupa mengonsumsi sayuran.

Asupan makanan yang mengandung tinggi serat sangat

bermanfaat dan dapat membantu memperlambat rasa lapar,

sehingga akan menekan keinginan untuk mengonsumsi

makanan berlemak atau paling tidak hasrat untuk menikmati

akan tertunda.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


34

B. Kerangka Teori

Kerangka teori penelitian adalah hubungan konsep – konsep yang

diamati melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoadmojo, 2012).

Kerangka teori adalah rangkuman jawaban dari penjabaran teori

yang akan diuraikan sebelumnya dalam bentuk naratif, untuk memberikan

batasan tentang teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang

dilakukan (Hidayat, 2014).

Junk food
Tingkat Pengetahuan 1. Definisi junk food
tentang Junk food 2. Jenis jenis makanan
junk food
3. Bahaya dari junk food
4. Faktor faktor yang
mempengaruhi
Faktor – faktor yang pemilihan makanan
mempengaruhi pengetahuan : 5. Upaya meminimalisir
1. Tingkat pendidikan dampak negatif dari
2. Pekerjaan makanan cepat saji
3. Umur
4. Minat
5. Pengalaman
6. Lingkungan
7. Informasi

Gambar 2.1 Kerangka Teori


Sumber kerangka teori ini berdasarkan : Mubarak (2011). Handari (2016), Arya
(2013), Notoatmodjo S, (2014), Safriana (2012), Rahayu S (2018), Papalia, E. D
(2014), , Lubis (2009)

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


35

C. Pertanyaan Penelitian

Bagaimana tingkat pengetahuan tentang junk food pada siswa kelas

V SD Negeri Wiladeg, Karangmojo, Gunungkidul, Yogyakarta?.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai