Karet Spesifikasi Teknis dan Lean Manufacturing
Karet Spesifikasi Teknis dan Lean Manufacturing
LANDASAN TEORI
II-2
2.3 Lima Prinsip Dasar dari Lean
Terdapat lima prinsip dasar dari lean yaitu (Gaspersz, 2012):
1. Mengidentifikasi nilai produk (barang/jasa) berdasarkan perspektif
pelanggan, dimana pelanggan menginginkan produk (barang/jasa)
berkualitas superior, dengan harga yang kompetitif pada penyerahan yang
tepat waktu.
2. Mengidentifikasi value sistem prosess maving (pemetaan proses pada value
sistem) untuk setiap produk barang atau jasa.
3. Menghilangkan pemborosan yang tidak bernilai tambah dari semua
aktivitas sepanjang proses value sistem itu.
4. Mengorganisasikan agar material, informasi,dan produk itu mengalir secara
lancar dan efisien sepanjang proses value stream menggunakan sistem tarik
(pull sistem).
5. Mencari terus-menerus berbagai teknik dan alat-alat peningkatan
(imvrovement tools and techniques) untuk mencapai keunggulan
(excellence) dan meningkatkan terus menerus (continuos imvrovment)
II-3
Menurut Fogarty et al (1991) Sistem manajemen produksi persediaan pada
dasarnya ada dua macam, yaitu sistem dorong (push system) dan sistem tarik
(pull system).
4. Kanban
Menurut Liker (2004) Kanban adalah kata dalam bahasa Jepang untuk
“kartu”, “tiket”, atau “tanda” dan merupakan alat untuk mengelola aliran dan
produksi material.
II-4
3. Necessary but Non Value Added (NNVA)
Segala aktivitas yang dalam menghasilkan produk atau jasa yang tidak
memberikan nilai tambah di mata konsumen tetapi diperlukan kecuali
apabila sudah ada perubahan pada proses yang ada. Aktivitas ini biasanya
sulit untuk dihilangkan dalam waktu singkat. Contoh dari aktivitas ini adalah
pemindahan bahan baku dan pengangkutan bahan baku ke lantai produksi
II-5
2.7 Teori E-DOWNTIME
Terdapat Sembilan waste dalam proses produksi yang didefinisikan
dengan istilah E-DOWNTIME yang dijabarkan sebagai berikut (Gaspersz, 2012):
1. Environmental, Health, and Safety (EHS)
Jenis pemborosan yang terjadi akibat kelalaian pikah – pihak tertentu dalam
perusahaan untuk memahami prosedur EHS yang ada. Dengan sikap seperti
ini akan menimbulkan dampak seringnya terjadi kecelakaan kerja. Jika
permasalahan kerja tersebut terjadi, maka akan tidak sedikit biaya, waktu,
tenaga yang harus dikeluarkan perusahaan untuk mengatasinya. Oleh karena
itu, pemborosan dari segi EHS ini sangat penting untuk dapat dilakukan
tindakan preventif sedini mungkin agar dapat mencegah terjadinya
kecelakaan.
2. Defact
Jenis pemborosan yang terjadi karena produk yang rusak atau tidak sesuai
dengan spesifikasi, hal ini akan menyebabkan proses rework yang kurang
efektif. Tingginya complain dari konsumen, serta inspeksi level yang sangat
tinggi.
3. Overproduction
Jenis pemborosan yang disebabkan produksi yang berlebihan, maksudnya
adalah memproduksi produk yang melebihi yang dibutuhkan atau
memproduksi lebih awal dari jadwal yang sudah dibuat. Bentuk dari
overproduction ini antara lain adalah aliran produksi yang tidak lancar,
tumpukan WIP (work in process) yang terlalu banyak, target dan pencapaian
hasil produksi dari setiap bagian produksi kurang jelas.
4. Waiting
Jenis pemborosan yang disebabkan karena menunggu untuk proses
berikutnya. Waiting merupakan selang waktu ketika operator tidak
menggunakan waktu untukmelakukan value adding activity dikarenakan
menunggu aliran produk dari proses sebelumnya (upstream). Waiting ini
juga mencakup operator dan mesin seperti kecepatan produksi mesin dalam
stasiun kerja lebih cepat atau lambat daripada stasiun yang lainnya.
II-6
5. Not Utilizing Employees Knowledge, Skill, and Abilities
Merupakan suatu kondisi dimana sumber daya yang ada (operator) tidak
digunakan secara maksimal, sehingga terjadi pemborosan. Kinerja operator
yang tidak maksimal ditunjukkan dengan tidak adanya aktivitas yang
dilakukan operator (menganggur) atau produktivitas rendah. Selain itu juga
bisa diakibatkan penggunaan operator yang tidak tepat untuk suatu
pekerjaan tertentu. Misalnya pada penempatan karyawan pada posisi tertentu
dimana skill atau riwayat pendidikan yang tidak sesuai dengan bidang
kerjanya sehingga di lapangan operator sering melakukan kesalahan kerja.
6. Transportation
Merupakan kegiatan yang penting akan tetapi tidak menambah nilai dari
suatu produk. Transport merupakan porses memindahkan material atau
Work In Process dari suatu stasiun kerja ke stasiun kerja yang lainnya. Baik
menggunakan forklift maupun conveyor.
7. Inventories
Inventories, berarti persediaan yang kurang perlu. Maksudnya adalah
persediaan material yang terlalu banyak, Work In Process yang terlalu
banyak antara proses satu dengan proses yang lainnya sehingga
membutuhkan ruang yang banyak untuk menyimpannya, kemungkinan
pemborosan ini adalah buffer yang sangat tinggi.
8. Motion
Motion, berarti adalah aktivitas atau pergerakan yang kurang perlu yang
dilakukan operator yang tidak menambah nilai dan memperlambat proses
sehingga lead time menjadi lama. Proses mencari komponen karena tidak
terdeteksi tempatpenyimpanannya, gerakan tambahan untuk
mengoperasikan suatu mesin. Hal ini juga dapat terjadi dikarenakan layout
produksi yang tidak tepat sehingga sering terjadi pergerakan yang kurang
perlu dilakukan oleh operator.
9. Excess Processing
Excess Process, terjadi ketika metode kerja atau urutan kerja (proses) yang
digunakan dirasa kurang baik dan fleksibel. Hal ini juga dapat terjadi ketika
II-7
proses yang ada belum standar sehingga kemungkinan produk yang rusak
akan tinggi. Selain itu juga ditunjukkan dengan adanya variasi metode yang
dikerjakan operator.
II-8
2.9 Prinsip-Prinsip Toyota Way
Secara ringkas 14 prinsip Toyota Way adalah sebagai berikut (Liker,
2004).
Prinsip 1: Ambil keputusan manajerial anda berdasarkan filosofi jangka
panjang, meskipun mengorbankan keuangan jangka pendek.
1. Memiliki misi filosofis yang menggantikan pengambilan keputusan
jangka panjang , bekerja, tumbuh dan selaraskan seluruh organisasi
untuk mencapai sasaran bersamayang lebih besar dari sekedar
menghasilkan uang. Pahami tempat anda dalam sejarah perusahaan,
dan bekerja untuk membawa perusahaan ke tingkat yang lebih tinggi.
Misi filosofis anda merupakan dasar bagi semua prinsip-prinsip
lainnya.
2. Ciptakan nilai bagi pelanggan, masyarakat dan perekonomian ini
adalah titik awal anda. Evaluasi kemampuan setiap fungsi dalam
perusahaan untuk meraih hal ini.
3. Bertanggug jawablah. Usahakan memutuskan nasib anda sendiri.
Bertindak secara mandiri dan percaya pada kemampuan anda sendiri.
Terima tanggung jawab atas tindakan anda dan pelihara dan
tingkatkan keterampilan yang memungkinkan anda menambah nilai.
II-9
berkesinambungan yang sebenar-benarnya dan untuk pengembangan
karyawan.
II-10
2. Gunakan semua metode modern yang ada untuk menjamin kualitas
3. Bangun kemampuan untuk mendeteksi masalah dan untuk
menghentikan dirinya sendiri kedalam peralatan anda. Kembangkan
sistem visual untuk mengingatkan tim atau pemimpin bahwa ada
mesin atau proses yang memerlukan bantuan. Jidoka (mesin dengan
intelegensi manusia)merupakan fondasi dalam membangun kualitas
4. Bangun sistem pendukung dalam organisasi anda untuk
menyelesaikan masalah dengan cepat dan melaksanakan
penanggulangannya.
5. Bangun kadalam budaya anda, filosofi untuk menghentikan atau
memperlambat, untuk memperoleh kualitas yang benar sejak awal
dalam rangka meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang
II-11
3. Rancang sistem visual yang sederhana dimana pekerjaan dilakukan,
untuk mendukung proses mengalir dan sistem tarik.
4. Kurangi laporan anda hingga menjadi satu lembar kertas jika
memungkinkan, sekalipun untuk keputusan finansial anda yang paling
penting.
II-12
2. Jangan memandang pekerjaan seseorang pemimpin hanya sekedar
menyelesaikan tugas dan memiliki keterampilan mengelola orang.
Pemimpin harus mejadi panutan dalam filosofi perusahaan dan cara
melakukan bisnis.
3. Seorang pemimpin harus memahami pekerjaan sehari-hari secara rinci
sehingga dia dapat menjadi guru terbaik untuk filosofi perusahaan
anda.
Prinsip 11: Hormati jaringan mitra dan pemasok anda dengan member
tantangan dan membantu mereka melakukan peningkatan.
1. Hormati mitra dan pemasok anda dan perlakukan mereka seakan-akan
perpanjangan dari bisnis anda.
2. Beri tantangan pada mitra bisnis anda agar tumbuh dan berkembang,
hal ini menunjukkan bahwa anda menghargai mereka. Tetapkan target
yang menantang dan bantukah mitra anda mencapainya.
II-13
Prinsip 12: Pergi dan lihat sendiri untuk memahami situasi sebenarnya
(genchi genbutsu).
1. Selesikan masalah dan tingkatkan proses dengan datang ke sumber
permasalahan dan secara pribadi mengamati dan memverifikasi data
dan bukan hanya berteori berdasarkn apa yng dikatakan orang lain
atau yang ditunjukkan dilayar computer.
2. Bepfikir dan berbicaralah berdasarkan data yang telah anda verifikasi
sendiri.
3. Bahkan para manajer dan eksekutif tingkat tinggi harus pergi dan
melihat sendiri masalah yang ada, sehingga mereka akan memiliki
lebih dari sekedar pemahaman yang dangkal terhadap situasi.
II-14
rinsip 14: Menjadi suatu organisasi pembelajaran melalui refleksi diri
tanpa kompromi (hansei) dan peningkatan berkesinambungan
(kaizen)
1. Setelah anda mendapatkan proses yang stabil, gunakan alat-alat
peningkatan berkesinambungan untuk mencari akar penyebab
inefisiensi, dan terapkan cara penanggulangan dengan efektif.
2. Rancangan proses yang hamper tidak memerlukan persediaan. Hal ini
akan membuat waktu dan sumber daya yang disia-siakan menjadi
kelihatan jelasbagi semua orang. Ketika pemborosan terlihat, biarkan
karyawan menggunakan proses peningkatan berkesinambungan
(kaizen) untuk menghilangkannya.
3. Lindungi pengetahuan dasar organisasi dengan mengembangkan
personil yang tetap, promosi secara perlahan, dan sistem suksesiyang
sangat hati-hati.
4. Gunakan hansei (refleksi diri) pada tahap-tahap penting dan setelah
anda menyelesaikan suatu proyek untuk secara terbuka untuk
mengidentifikasikan semua kelemahan dari proyek itu. Kembangkan
jalan keluar untuk menghindari kesalahan yang sama.
5. Belajar dengan menstandarisasikan praktik-praktik terbaik dan bukan
menemukan ukang hal yang sama dengan setiap proyek baru dan
setiap manajer baru.
II-15
2.11 Perencnaan produksi
Perencanaan produksi adalah pernyataan rencana produksi kedalam bentuk
agregat. Perencanaan peroduksi ini merupakan alat komunikasi antara manajemen
teras (top management) dan manufaktur. Disamping itu juga, perencanaan
produksi merupakan pegangan untuk merancang jadwal induk produksi. Adapun
fungsi dari perencanaan produksi antara lain adalah (Ginting, 2007):
1. Menjamin rencana penjualan dan rencana produksi konsisten terhadap
rencana strategis perusahaan.
2. Sebagai alat ukur performansi proses perencanaan produksi
3. Menjamin kemampuan produksi konsisten terhadap rencana produksi
4. Memonitor hasil produksi actual terhadap rencana produksi dan menbuat
penyesuaian
5. Mengatur persediaan produk jadi untuk mencapai target produksi dan
rencana strategis
6. Mengarahkan penyusunan dan pelaksanaan jadwal induk produksi
II-16
Tujuan melakukan pengukuran pendahuluan adalah untuk mengetahui
berapa kali pengukuran harus dilakukan untuk tingkat-tingkat ketelitian dan
keyakinan yang diinginkan. Tingkat ketelitian dan keyakinan ini ditetapkan pada
saat menjalankan langkah penetapan tujuan pengukuran. Adapun tujuan dari
pengukuran waktu adalah mencari waktu yang sebenarnya dibutuhkan untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan setelah setelah memperhatikan faktor kelonggaran
dan penyesuaian atau waktu baku (Sutalaksana, 1979).
Keterangan :
RF = Rating faktor
P = Nilai faktor penyesuaian
Wsm = Waktu siklus mesin (detik)
Wso = Waktu muat operator (detik)
Wnm = Waktu normal mesin (detik)
Wno = Waktu normal operator (detik)
II-17
2.13.2 Waktu Baku
Perhitungan waktu baku merupakan perhitungan waktu yang dibutuhkan
oleh seorang operator untuk menyelesaikan satuan pekerjaannya dengan
penambahan faktor kelonggaran (allowance) pada waktu normal (Aditya, 2013).
Kelonggaran adalah tambahan waktu yang diperlukan operator untuk melakukan
kegiatan yang termasuk dalam kelonggaran seperti kebutuhan pribadi,
kelonggaran untuk menghilangkan rasa fatique, dan kelonggaran untuk hal-hal
yang tak terhindarkan dimana penambahannya diberikan pada waktu normal.
Rumus perhitungan waktu baku ialah :
Wbo = Wno x ……………..………………..……….………..……....(2.5)
Keterangan:
Wbm = Wnm = Waktu baku mesin (mesin tidak memiliki kelonggaran)
Wbo = Waktu baku operator
Wb = Waktu baku proses
II-18
itu disebut un-lean atau dapat dikatakan Lean apabila mempunyai waktu
proses yang bernilai tambah mencapai lebih dari 30% dari total lead time
proses (Gaspersz, 2011).
Value added time ialah waktu dalam melakukan proses yang memberikan
nilai tambah kepada suatu produk sedangkan total lead time ialah waktu
yang diperlukan untuk melakukan proses dari awal sampai akhir yaitu ketika
produk yang dipesan sampai dengan produk tersebut dikirim ke pelanggan.
2. Process Lead Time
Process lead time adalah metrik Lean yang digunakan untuk
mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk memproses
sejumlah barang dari awal hingga selesai. Persamaan untuk perhitungan lead
ini ialah (Aditya, 2013):
Process Lead Time = ……….………..(2.8)
3. Process Velociy
Process velocity adalah kecepatan proses dalam memproduksi sejumlah
barang dari awal hingga akhir. Persamaan untuk menghitung process
velocity ini ialah (Aditya, 2013):
Jumlah Aktivitas Dalam Proses
Process Velocity = …………..………..……(2.9)
Process Lead
II-19
4. Menghitung frekuensi kumulatifnya
5. Membuat skala dan menebarkan balok frekuensi pareto
II-20
Gambar 2.4 Diagram Sebab Akibat
(Sumber: Gaspersz, 2012)
II-21
Tabel 2.1 Template Value Stream Mapping
No Ikon Nama No Ikon Nama
1
Customer/Supplier 18 Load Leveling
2
Process 19 Phone
3
Production Control 20 Kaizen Burst
4
Process Box with 21 Manual
Information Information
Technology
5
Data Table 22 Electronic
Information
6 23
Production Kanban Go See
Scheduling
7
Batch Kanban 24 Kanban Post
8
Batch Withdrawal 25 Pull Arrow
Kanban
9
Withdrawal Kanban 26 Pull Arrow 2
10
Database 27 Pull Arrow 3
11
Information Box 28 Pull Arrow 4
Inventory 31 Shipment or
Materials
14
Movement
Arrow
15 Supermarket 32 Signal Kanban
II-22
Tabel 2.1 Template Value Stream Mapping (Lanjutan)
No Ikon Nama
35
Rework
36
Multiple Operators
X5
37 Inventory/In-box
38 I Operator
39 Clock
N
Sumber: Sahitya (2013)
II-23
2.17.2 Indeks Pengukuran atau Indicator Performance dari VSM
Indeks pengukuran atau indicator performance dari VSM adalah kualitas,
lead time, dan biaya. Adapun penjelasannya secara detail yaitu (Daonil, 2012):
1. FTT (first time through): persentase unit yang diproses sempurna dan sesuai
dengan standard kualitas pada saat pertama proses (tanpa scrap, rerun,
retest, repair atau returned)
2. BTS (build to schedule): pembuatan penjadwalan untuk melihat eksekusi
rencana pembuatan produk yang tepat pada waktu dan urutan yang benar.
3. DTD (dock to dock time): waktu antara unloading raw material dan
selesainya produk jadi untuk siap dikirim.
4. OEE (overall equipment effectiveness): mengukur keterseediaan, efisiensi
dan kualitas dari suatu peralatan dan juga sebagai batasan utilisasi kapasitas
dari suatu operasi.
5. Value rate (ratio): perseentase dari seluruh kegiatan yang value added
6. Indikator lainnya:
a. A/T: Available Time = Total waktu kerja – Waktu istirahat
b. T/T: Takt Time = Available Time /Volume Produksi
c. C/T: Cycle Time = (Available Time – Rataan Downtime – Defec time) /
Volume Produksi
d. W/T: Working Time = Waktu kerja dari setiap operator
e. VA: Waktu Value Added
f. NVA: Waktu yang non- value added (termasuk waste)
II-24
mulai dari operasi, transportasi, inspeksi, delay, dan storage, kemudian
mengelompokkannya kedalam tipe-tipe aktivitas yang ada mulai dari value
adding activities (VA), necessary but non-value adding activities (NNVA),
dan non-value adding activities (NVA). Tujuan dari pemetaan ini adalah
untuk membantu aliran proses, mengidentifikasi adanya pemborosan,
mengidentifikasi apakah suatu proses dapat diatur kembali menjadi lebih
efisien, mengidentifikasi perbaikan aliran penambahan nilai.
Ada lima tahap pendekatan dalam proses activity mapping secara umum:
b. Memahami aliran proses
c. Mengidentifikasi pemborosan
d. Mempertimbangkan apakah proses dapat disusun ulang pada rangkaian
yang lebih efisien
e. Mempertimbangkan aliran yang lebih baik, melibatkan aliran layout
dan rute transportasi yang berbeda
f. Mempertimbangkan apakah segala sesuatu yang telah dilakukan pada
setiap stage benar-benar perlu dan apa yang akan terjadi jika hal-hal
yang berlebihan tersebut dihilangkan
2. Supply Chain Matrix (SCRM)
Merupakan grfik yang menggambarkan hubungan atara inventori dan lead
time pada jalur distribusi, sehingga dapat diketahui adanya peningkatan
maupun penurunan tingkat persediaan pada jalur distribusi, sehingga dapat
diketahui pada tiap area supply chain. Dari fungsi yang diberikan,
selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan manajemen untuk
menaksir kebutuhan stok apabila dikaitkan pencapaian lead time yang
pendek. Tujuannya untuk memperbaiki dan mempertahankan tingkat
pelayanan setiap jalur distribusi dengan biaya rendah.
3. Production Variety Funnel (PVF)
Merupakan teknik pemetaan visual dengan memetakan jumlah variasi
produk pada tiap tahapan proses manufaktur. Tools ini dapat digunakan
untuk mengidentifikasi titik dimana sebuah produk generik diproses menjadi
beberapa produk yang spesifik. Selain itu, tools ini juga dapat digunakan
II-25
untuk menunjukkan area bottleneck pada desain proses untuk merencanakan
perbaikan kebijakan inventori.
4. Quality Filter Mapping (QFM)
Merupakan tool yang digunakan untuk mengidentifikasi letak permasalahan
cacat kualitas pada rantai suplai yang ada. Tools ini mampu menggambarkan
3 tipe cacat pada kualitas, yakni produk defect (cacat fisik produk) yang
lolos ke customer karena tidak berhasil diseleksi pada saat proses inspeksi,
scrap defec (cacat masih berada dalam internal perusahaan, sehingga
berhasil diseleksi dalam tahap inspeksi), dan service defect (permasalahan
yang dirasakan customer berkaitan dengan cacat kualitas pelayanan).
5. Demand Amplificaton Mapping (DAM)
Peta yang digunakan untuk memvisualisasikan perubahan demand
disepanjang rantai suplai. Fenomena ini menganut low of industrial
dynamics, dimana demand yang ditransmisikan disepanjang rantai suplai
melalui rangkaian kebijakan order dan inventori akan mengalami variasi
yang semakin meningkat dalam setiap pergerakannya mulai dari
downstream sampai dengan upstream. Dari informasi tersebut dapat
digunakan dalam pengambilan keputusan dan analisa lebih lanjut baik untuk
mengantisipasi adanya perubahan permintaan mengelola fluktuasi, serta
evaluasi kebijakan inventori.
6. Decision Point Analysis (DPA)
Menunjukkan berbagai pilihan sistem produksi yang berbeda, dengan trade
off antara lead time masing masing pilihan dengan tingkat inventori yang
diperlukan untuk meng-cover selama proses lead time. Decision point
analysis merupakan titik dalam supply chain dimana permintaan aktual
memberikan kesempatan untuk mem-forecast driven push.
7. Physical Structure (PS)
Merupakan sebuah tool yang digunakan untuk memahami kondisi rantai
suplai di lantai produksi. Hal ini diperlukan untuk memahami kondisi
industri itu, bagaimana operasinya, dan dalam mengarahkan perhatian pada
II-26
area yang mungkin belum mendapatkan perhatian yang cukup untuk
pengembangan.
II-27
data-data proses dan menghubungkan data-data tersebut. untuk mendapatkan
hasil yang sesuai, bila memungkinkan cobalah untuk mencari data-data
berikut ini , Apa yang memberikan stimulasi kepada proses , Waktu set up
dan waktu proses per unit, Takt Rate (rata-rata permintaan pelanggan),
Persentasi cacat yang terjadi, Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan,
Persentase downtime (berkaitan dengan berbagai jenis waktu yang
mengakibatkan proses tidak dapat mencapai produktifitas maksimum),
Jumlah WIP, di Batch Size, Memasukkan data-data yang berhasil
dikumpulkan ke dalam Value Stream Mapping.
4. Kemudian melakukan verifikasi untuk melakukan perbandingan antara
Value Stream Mapping yang telah dibuat dengan keadaan sebenarnya.
II-28
Gambar 2.6 Value Stream Mapping pada Lantai Produksi
(Sumber: Sahitya, 2013)
2.18 FMEA (Failure Mode and Effect Analysis)
Alat kualitas yang sering digunakan untuk mengidentifikasi sumber-
sumber dan akar penyebab dari suatu masalah adalah FMEA atau Failure Mode
and Effect Analysis.
II-30
a. Meningkatkan kepuasan pelanggan
b. Meningkatkan reputasi dan penjualan produk
c. Mengurangi kebutuhan untuk perubahan-perubahan rekayasa
(engineering changes) sehingga menurunkan biaya
d. Mengurangi waktu siklus pengembangan produk.
2. Penggunaan FMEA Proses
Suatu FMEA proses akan mengidentifikasi penyimpangan-penyimpangan
potensial yang mungkin dari setiap spesifikasi dan menghilangkan atau
meminimumkan penyimpangan-penyimpangan itu melalui deteksi atau
pencegahan perubahan-perubahan dalam variabel-variabel proses. Adapaun
manfaat FMEA proses adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi masalah-masalah potensial
b. Membantu menghindari scrap dan pekerjaan ulang (rework)
c. Mengurangi banyaknya kegagalan produk
d. Menjamin suatu start-up produksi yang lebih mulus
II-31
Tabel 2.2 Formulir FMEA Proses
FMEA Nama Proses/Operasi: (A) Engineer: (D) Nomor FMEA: (F)
PROSES Nama Part/Assembly: (B) Pabrik/Tempat/Pemasok: (E) Halaman:.....dari...(G
Nomor Part/Assembly: (c) Tanggal: (H)
No Fungsi- Mode Akibat potensil Pengaruh Penyebab Kemungkinan Perencanaan Efektivitas Angka Tindakan Penanggung Prioritas
fungsi dan kegagalan dari mode buruk potensial kegagalan deteksi atau metode prioritas yang jawab tindakan tindakan
spesifikasi potensial kegagalan pada (severity) dari (likelihood) pencegahan deteksi atau risiko direkome yang diterima
produk akhir kegagalan penyebab pencegahan (RPN) ndasikan untu
dan pelanggan penyebab
1 J K L M N O P Q R S T U
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
dst
II-32
Berikut akan dibahas tentang cara penggunaan formulir FMEA proses,
berurutan menurut abjad yang digunakan sebagai berikut:
A Nama part/Assembly: masukan semua nama parts/assembly yang ada
dalam bagan.
B Nomor Part atau Assembly: masukkan semua nomor part/assembly yang
dibuat oleh proses ini. Jika terlampau banyak parts yang dibuat, maka
daftarkan part itu dalam lembaran lain yang terpisah. Hal ini untuk
menjamin siapa pun yang meninjau ulang formlir FMEA proses akan
mengetahui secara tepat parts mana yang sedang dipertimbangkan dalam
peninjauan ulang itu.
C Engineering: masukan nama dari orang yang menulis draft dari formulir
FMEA.
D Pelanggan/Aplikasi/Lain: masukkan nama pelanggan, semua aplikasi
dimana produk itu digunakan.
E Nama pemasok: identifikasi pemasok-pemasok apabila komponen atau
sistem itu dibeli.
F Schedule Production Release Date: Masukkan tanggal produk yang
didesain itu akan diserahkan ke bagian produksi.
G Nomor FMEA: Masukkan nomor sekuensial untuk mengidentifikasi
FMEA.
H Halaman.....dari......: masukkan nomor halaman sebagaimana
diindikasikan.
I Tanggal: masukkan tanggal menyelesaikan FMEA proses. Masukkan
tanggal revisi pada halaman-halaman yang direvisi pada halaman pertama.
J Fungsi-fungsi dan spesifikasi: jelaskan fungsi dari part dan spesifikasi
yang harus dipenuhi.
K Mode Kegagalan potensial: suatu mode kegagalan adalah kegagalan atau
kecacatan apa saja dalam desain atau perubahan-perubahan dalam produk
yang menyebabkan produk itu tidak berfungsi sebagaimana seharusnya
produk itu berfungsi dengan baik. Tipikal mode kegagalan adalah: patah,
retak, pecah, meledak, bocor, terlepas dan lain-lain. Catatan mode
kegagalan dinyatakan dalam bentuk fisik dan tidak yang dialami
pelanggan.
I Akibat potensial dari mode kegagalan pada produk akhir dan pengguna
akhir: akibat potensial adalah apa yang pengguna akhir akan mengalami
sebagai hasil dari mode kegagalan.
M Pengaruh buruk (Severity): merupakan suatu estimasi atau perkiraan
subyektif tentang bagaimana buruknya pengguna akhir akan merasakan
akibat dari kegagalan itu. Dapat dilihat menggunakan skala 1 sampai 10:
Tabel 2.3 Rating Severity
Rating Kriteria
Negligible Severity ( pengaruh buruk yang dapat diabaikan). Kita tidak perlu
1 memikirkan bahwa akibat ini akan berdampak pada kualitas produk. Konsumen
mungkin tidak akan memperhatikan kecacatan ini.
2 Mild Severity (pengaruh buruk yang ringan). Akibat yang ditimbulkan akan
3 bersifat ringan, konsumen tidak akan merasakan penurunan kualitas.
4 Moderate Severity (pengaruh buruk yang moderate). Konsumen akan merasakan
5 penurunan kualitas, namun masih dalam batas toleransi.
6
7 High Severity (pengaruh buruk yang tinggi). Konsumen akan merasakan
8 penurunan kualitas yang berada diluar batas toleransi.
9 Potential severity (pengaruh buruk yang sangat tinggi). Akibat yang ditimbulkan
10 sangat berpengaruh terhadap kualitas lain, konsumen tidak akan menerimanya.
Sumber: Gasperz (2013)
N Penyebab potensial dari kegagalan: penyebab potensial dari mode
kegagalan yang berkaitan dengan desain adalah kelemahan-kelemahan
desain, seperti: kekuatan yang tidak cukup, material yang tidak sesuai,
spesifikasi desain tidak lengkap, ketidak cocokan dengan media kerja, dan
lain-lain.
O Kemungkinan (Likelihood): suatu perkiraan subyektif tentang probabilitas
atau peluang bahwa penyebab itu akan terjadi, akan menghasilkan mode
kegagalan yang memberikan akibat tertentu. Kita dapat menggunakan
skala dari 1 sampai 10, sebagai berikut:
II-34
Tabel 2.4 Rating Occurance
Tingkat
Ranking Kriteria Verbal
Kegagalan/kecacatan
Adalah tidak mungkin bahwa penyebab ini yang
1 1 dalam 1.000.000
mengakibatkan mode kegagalan
2 1 dalam 20.000
Kegagalan akan terjadi
3 1 dalam 4.000
4 1 dalam 1.000
5 Kegagalan agak mungkin terjadi 1 dalam 400
6 1 dalam 80
7 1 dalam 40
Kegagalan adalah snagat mungkin terjadi
8 1 dalam 20
9 1 dalam 8
Hampir dapat dipastikan bahwa kegagalan akan terjadi
10 1 dalam 2
Sumber: Gasperz (2013)
P Perencanaan deteksi atau pencegahan penyebab: identifikasi metode-
metode yang ditetapkan untuk mencegah atau mendeteksi penyebab dari
mode [Link]: spesifikasi produk, dan lain-lain.
Q Efektivitas: suatu perkiraan subyektif tentang bagaimana efektivitas dari
metode pencegahan atau deteksi menghilangkan mode kegagalan. Dengan
menggunakan skala 1 sampai 10:
Tabel 2.5 Rating Occurance
Tingkat Kejadian
Rating Kriteria Verbal
Penyebab
Metode pencegahan sangat efektif. Tidak ada kesempatan
1 1 dalam 1.000.000
bahwa penyebab mungkin masih muncul atau terjadi.
2
Kemungkinan penyebab terjadi adalah rendah. 1 dalam 4.000 1 dalam 20.000
3
4 Kemungkinan Penyebab terjadi bersifat moderat. 1 dalam 1.000
5 Metode Pencegahan atau deteksi masih memungkinkan 1 dalam 400
6 kadang-kadang penyebab ini terjadi. 1 dalam 80
Sumber: Gasperz (2013)
II-35
Tabel 2.5 Rating Occurance (Lajutan)
Kemungkinan bahwa penyebab itu terjadi masih tinggi.
7 1 dalam 40
Metode pencegahan atau deteksi kurang efektif, karena
8 1 dalam 20
penyebab masih berulang kembali.
Kemungkinan penyebab ini terjadi masih sangat tinggi.
9 1 dalam 8
Metode pencegahan atau deteksi tidak efektif. Penyebab
10 1 dalam 2
masih berulang kembali
Sumber: Gasperz (2013)
R Angka prioritas resiko (RPN= Risk Priority Number): merupakan hasil
perkalian antara ranking pengaruh buruk (severity) ranking kemungkinan
(likelihood) dan ranking efektivitas.
S Tindakan yang direkomendasikan untuk menghilangkan penyebab atau
pencegahan: masukkan rekomendasi-rekomendasi untuk menurunkan
kemungkinan bahwa mode kegagalan itu akan terjadi, atau untuk
meningkatkan efektivitas dari metode-metode pencegahan atau deteksi.
T Tanggung jawab untuk tindakan yang diterima: masukkan nama individu
dalam tim peninjauan ulang FMEA yang memiliki wewenang untuk
menerapkan korektif itu.
U Prioritas Tindakan: tetapkan prioritas terhadap tindakan-tindakan korektif
yang direkomendasikan melalui mempertimbangkan nilai-nilai RPN dan
faktor-faktor lain. Prioritas tertinggi diberikan kepada tindakan korektif
yang berkaitan dengan mode kegagalan tertinggi. Berikut tabel bentuk
metode penggolongan.
Tabel 2.6 Metode Penggolongan
Klasifikasi Prioritas Deskripsi
A Tindakan korektif harus dilakukan sebelum pengiriman atau
penyerahan produk.
II-36
2.19 Total Productivie Maintenance (TPM)
Total Productivie Maintenance (TPM) di defenisikan sebagai upaya
berbasis tim lingkup perusahaan untuk membanggun kualitas dan produktivitas
kedalam sistim produksi dan meningkatkan overall equipment effectiveness (OEE)
atau Overall Plant Effectiveness (OPE) atau Overall Management Effectiveness
(OME) (Gasperz, 2013).
Total Productive maintenance (TPM) mengacu kepada kata kunci sebagai
berikut:
1. Total
- Semua karyawan dan manajemen terlibat (total manpower coverage),
- Mencakup siklus hidup total dari sistim produksi (total lifecycle of
production system)
2. Productive
- Menciptakan maksimum produktivitas melalui kecacatan nol, kecelakaan
nol, dan kerusakan nol (productivity maximisastion by zero breakdown),
- Meminimumkan masalah-masalah dalam sistim produksi
3. Maintenance
- Memelihara sistem produksi berjalan baik, yang mencakup peroses
individual, pabrik, dan seluruh sistem manajemen produksi.
II-37
4. TPM di perlukan untuk melatih para karyawan untuk meningkatkan
keahlian kerja mereka
5. TPM diperlukan untuk melakukan manajemen pemeliharaan alat dan
tindakan pencegahan terhadap kerusakan peralatan produksi.
6. TPM di perlukan untuk pemakaian yang efektif dan teknologi
pemeliharaan peralatan produksi.
Total Productive Maintenance bertujuan untuk mendapatkan keuntungan
besar dengan menggunakan korelasi yang erat antara kualitas produk dengan
perawatan mesin produktif secara prediktif. Tujuan dari TPM adalah untuk
melibatkan semua sektor termasuk produksi, pengembangan, administrasi serta
semua pegawai dari manajemen senior hingga operator dan staf administrasi.
Kebijakan TPM perusahaan adalah mencapai status kelas dunia melalui
pemberdayaan dan peningkatan tenaga kerja menyeluruh yang terlibat dalam
TPM (Sukwadi, 2007).
II-38
3. Seiso (checking through cleaning)
Artinya resik atau pembersihan, yaitu membersihkan sambil memeriksa,
menhilangkan sumber penyebab kotor, mengupayakan kondisi optimum.
4. Seiketsu (neatness)
Artinya rawat atau pemantapan, yaitu melaksanakan standarisasi di tempat
kerja, mempertahankan kondisi optimum, mewujudkan tempat kerja yang
bebas kesalahan.
5. Shitsuke (discipline)
Artinya rajin atau disiplin, yaitu terbiasa merawat ringkas, rapi, resik,
terbiasa melaksanakan standar kerja, mengembangkan kebiasaan positif
seperti taat aturan, tepat janji dan tepat waktu serta tidak membuang
sampah sembarangan.
Sedangkan dalam penerapannya terdapat delapan pilar utama yaitu:
1. Pemeliharaan/perawatan secara otonomi. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara:
a. Melatih para operator untuk menghilangkan gap antara mereka dan staf
perawatan, membuat mereka mudah bekerja sebagai sebuah tim.
b. Mengubah peralatan sehingga operator dapat mengidentifikasi kondisi-
kondisi yang tak normal dan mengukurnya sebelum hal itu mempengaruhi
proses sebagai suatu kegagalan. Terdapat 7 langkah yang dapat
diimplementasikan untuk meningkatkan pengetahuan operator, partisipasi,
dan tanggung jawab mereka terhadap peralatan, yaitu (Nakajima 1988):
1. Melakukan pembersihan awal dan pengawasan
2. Mencari tahu penyebab dan akibat dari debu dan kotoran
3. Menetapkan standar lubrikasi dan pembersihan
4. Melakukan pelatihan pengawasan umum
5. Melakukan pengecekan
6. Mengontrol dan mengatur tempat kerja
7. Perbaikan secara kontinu
II-39
2. Perbaikan peralatan dan proses
Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan efisiensi dengan menghilangkan
sampah (waste) dan kerugian proses produksi. Keefektifan peralatan
keseluruhan (Overall Equipment Effectiveness) biasanya diterapkan pada
operasi bottleneck dalam proses. Tujuan penerapan OEE yaitu:
a. Untuk membantu memperbaiki persaingan baik internal maupun external
perusahaan
b. Untuk memperbaiki pelaksanaan atau kinerja bottleneck untuk membantu
menghindari ketidak sesuaian pembelian dengan menggunakan asset yang
ada dengan lebih baik untuk membantu memaksimumkan produktifitas,
selain itu menghindari pelaksanaan dari adanya penambahan perubahan/
shift yang baru.
c. Untuk menciptakan kapasitas untuk penambahan penjualan
d. Keefektifan ini ditentukan dengan mengkombinasikan kinerja dari
peralatan yang ada dengan kualitas yang dihasilkan. Selain itu, hal ini juga
dapat digunakan untuk mengukur efisiensi mesin selama waktu loading.
II-40
2.19.4 Sasaran Total Productivie Maintenance (TPM)
Sasaran Total Productivie Maintenance (TPM) adalah sebagai berikut
(Gasperz, 2013):
1. Meningkatkan kualitas dan produktivitas sistem (peralatan, pabrik,
manajemen)
2. Meningkatkan kapasitas (peralatan,pabrik,manajemen)
3. Menurunkan biaya produksi dan maintenance cost
4. Menurunkan kegagalan yang di sebabkan oleh sistem (pralatan, pabrik,
manajemen)
5. Meningkatkan epuasan kerja karyawn dan manajemen,
6. Meningkatkan ROI (Return On Investment)
II-41
3. Gangguan kecil dan nganggur (idleand minor stoppage)
4. Kecepatan rendah (reduced speed)
5. Cacat produk dalam proses (process defect)
6. Hasil rendah (reduced yield).
Keenam kerugian peralatan tersebut merupakan tipe kerugian peralatan
secara umum. Agar pengukuran nilai OEE ini menjadi lebih akurat kerugian
peralatan tersebut harus dapat diuraikan lebih spesifik.
Haal-hal yang berkaitan dengan kerugian peralatan dan lainnya adalah sebagai
berikut:
1. Dandori, lama waktu terpakai untuk kegiatan persiapan operasi mesin atau
peralatan, Juga kerugian waiting dandori, yaitu lama waktu terpakai untuk
menunggu dilaksanakannya dandori
2. Quality check, lama waktu terpakai untuk memantau kondisi awal operasi
peralatan dari kualitas produk awal yang dihasilkan
3. Scrap handling, lama waktu terpakai untuk menangani scrap atau sisa
hasil proses
II-42
4. Waiting, lama waktu terpakai untuk menunggu peralatan beroperasi yang
terdiri dari waiting crane, forklift, material, dan mesin.
5. Trouble, lama waktu terpakai ketika terjadi gangguan atau kerusakan pada
peralatan produksi.
6. Speed, kerugian yang terjadi akibat perbedaan antara kecepatan aktual
produksi terhadap kecepatan ideal yang ditetapkan
7. Quality, merupakan kerugian yang diakibatkan produk jadi yang tidak sesuai
dengan standar, dan
8. Lain-lain, merupakan kerugian yang terjadi diluar kategori yang diuraikan
dan kejadiannya tidak berulang.
II-43
Operation Time Loading Time-Downtime
Availability = Loading Time = Loading Time
……….………….…...(2.10)
×
Performance Rate = …….(2.11)
II-44
(Sumber: Suhendra, 2015)
Dari peralatan dalam kondisis ideal yang merupakan standard world class
untuk semua indikator sebagai adalah berikut (Dal, 2000):
1. Availability Rate 90% atau lebih
2. Performance Rate 95% atau lebih
3. Quality Rate 99%atau lebih
4. OEE 85% atau lebih
II-45
delivery biasanya lebih rendah, karena pada divisi yang memproduksi barang
yang kompleks, peralatan yang digunakan juga lebih banyak atau memerlukan
perawatan yang lebih. Seperti dalam jurnal yang berjudul “Team development
when implementing TPM”, delivery tergantung pada kondisi dari peralatan yang
digunakan.
Jadi apabila perbaikan terus–menerus terhadap peralatan akan
meningkatkan delivery dari suatu produksi. Hasil yang diperoleh dengan
diimplementasinya TPM dalam suatu industri manufaktur adalah semakin
tingginya kehandalan dan kepercayaan terhadap delivery (Nakajima (1988).
2.20.5 Defect/Reject
Hal yang paling sering dikaitkan dengan kinerja suatu manufaktur adalah
defect/reject atau yang biasa disebut cacat produksi. Cara mengukur defec atau
reject ini adalah dengan membandingkan antara jumlah reject dengan jumlah
produksi yang dihasilkan. Dengan penerapan TPM, defect atau reject yang sering
muncul dalam produksi dapat ditekan. Salah satu hal penting dari tujuan TPM
adalah menyediakan barang/produk ke customer tanpa cacat/defect atau yang
biasa disebut zero defect. Dengan adanya preventive maintanance dari strategi
II-46
TPM, dapat mencegah terjadinya defect. Artikel yang berjudul Competitive
Manufacturing (2007), mengatakan bahwa konsep TPM dapat mengeliminasi
terjadinya defect. Seperti yang telah dikatakan di atas bahwa strategi TPM adalah
mengatasi adanya six big losses, yang salah satunya adalah kerugian dalam defect
atau cacat produksi.
II-47