Analisis Arsitektur Kantor Bupati Kolaka
Analisis Arsitektur Kantor Bupati Kolaka
2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
ABSTRAK
Bangunan kantor mantan bupati adalah bangunan pertama yang di wilayah bersejarah Kabupaten Kolaka. Bangunan
ini diperkirakan akan dibuat pada awal 1920-an. Permasalahan dalam tesis ini adalah, pertama, apa karakteristik
bangunan kantor bekas bupati Kolaka dan apa gaya arsitektur bangunan kantor bupati bekas Kolaka. Penelitian ini
menggunakan teori pengertian arsitektur pada umumnya, arsitektur tropis, dan berbagai jenis arsitektur kolonial di
Indonesia yang digunakan dalam menjawab masalah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan
bekas kantor bupati Kolaka memiliki karakteristik bangunan yang berbeda dan tetapi sederhana seperti pintu,
jendela, vetnilasi udara pada tampilan depan bangunan yang memiliki pola dan bentuk yang sama sedangkan gaya
arsitektur kantor bekas bupati bangunan dipengaruhi oleh gaya arsitektur Belanda dari tahun 1920-an hingga 1940-
an.
Kata kunci: Bangunan, Kolonial, Kolaka, Karakteristik, Arsitektur
ABSTRACT
The building of the former regent's office was the first building that was facing the historical area of the district of
Kolaka. This building is expected to be made in the early 1920s. The purpose of this study was to determine the
characteristics and architectural style of the building of the former Kolaka regent's office. The problems of this thesis
are, first, what are the characteristics of the building of the former Kolaka regent's office and what is the architectural
style of the former Kolaka regent's office building. This study uses the theory of understanding architecture in
general, tropical architecture, and various types of colonial architecture in Indonesia used in answering research
problems. The results showed that the building of the former Kolaka regent's office had characteristics of different
and very simple buildings such as doors, windows, air venilations in the front view of the building having the same
pattern and shape while the architectural style of the former regent's office building was influenced by architectural
styles. The Netherlands from the 1920s to the 1940s due to the direction facing the front of the building towards the
West, the rear side facing north of the building, windows, doors, large air vents aimed at maximizing air circulation in
the building.
Keywords: Buildings, Colonial, Kolaka, Characteristics, Architecture
1. PENDAHULUAN
1
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
tiga ratus tahun. Belanda awalnya datang ke Indonesia dengan nama VOC (Vereenidge Oost-indische
Company) mereka datang bukan mewakili kerajaan, tetapi merupakan kelompok dagang. Kolonisasi
Belanda yang terjadi selama hampir tiga setengah abad telah mengukir perubahaan penting terhadap pola
bentuk kota-kota di Hindia Belanda, sebagai contoh adanya paksaan kolonialis dalam menerapkan
gagasannya pada pembangunan kota-kota di Indonesia yang diwujudkan oleh kota Jayakarta (kemudian
menjadi Batavia). Beberapa kota lainya mengikuti pola yang mirip dengan kota Batavia seperti Surabaya,
Semarang, Medan, Malang, Makassar. dan kota- kota kolonial lainya (Sudirman, 2011:250-251).
Awal mula kedatangan armada Belanda di Sulawesi Tenggara pada tanggal 5 Januari tahun 1613,
Pihak Belanda menginjakkan kakinya pertama kali di Buton dikarenakan Buton merupakan salah satu
daerah penghasil rempah-rempah. Daerah Sulawesi Tenggara dahulu pada zaman kolonial merupakan
daerah Afdeling. Onderafdeling ini di kenal dengan sebutan Onderafdeling Boeton Laiwoi dengan pusat
pemerintahanya di Bau-Bau. Onderafdeling Boeton Laiwoi terdiri dari Afdeling Boeton. Afdeling Muna,
Afdeling Laiwoi. Status tersebut diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda kepada daerah yang memiliki
kekuasaan dan kedaulatan yang dihormati bahkan oleh Pemerintahan Hindia Belanda.
Kedatangan Belanda di Kolaka sekitar pada tahun 1906 disusul dengan tindakan drastis dalam
mengatur pemerintahanya. Sistem pemerintahan Belanda dan pembukaan sekolah-sekolah di tambah lagi
dengan petugas keamanan seperti tentara, polisi dan jaksa. Belanda juga menambah pegawai
pemerintahan yang di datangkan dari luar daerah. Pada masa penjajahan Belanda, Indonesia mengalami
pengaruh barat (occidenta) dalam berbagai sendi kehidupan termasuk kebudayaan, hal tersebut antara
lain dapat dilihat dari bentuk kota dan bangunan. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa para pengelola kota
dan para arsitek Belanda, sedikit banyak menerapkan konsep lokal atau tradisional di dalam
merencanakan dan pengembanga kota, pemukiman dan bangunan (Heryanto,2015:180-181). Hal tersebut
tercermin pada arsitektur dari tinggalan arkeologi yaitu peninggalan Belanda.
Kajian mengenai arsitektur dalam arkeologi telah banyak dilakukan terutama yang berupa tinggalan
bangunan, tinggalan ini dapat dilihat dari Masa Pra-Sejarah, Hindu-Budha, Islam, dan Kolonial. Pada masa
penjajahan Belanda di Indonesia mengalami pengaruh occidental (barat) dalam berbagai segi kehidupan
termaksud kebudayaan. Hal ini antara lain dapat dilihat dalam bentuk kota dan bangunan
(Sumalyo,1998:5).
2
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
1.2 Metode
Teknik pengumpulan data berupa studi yaitu pengumpulan sumber sejarah dan latar sejarah pada
objek penelitian, observasi di lakukan secara langsung dan sistematis, wawancara ini dilakukan oleh
instansi terkait dan informan yang lebih mengetahui tentang sejarah Kolaka dan latar sejarah pada objek
penelitian.
a. Studi pustaka
Studi pustaka yaitu pengumpulan data berupa sumber tertulis, ini dilakukan untuk mendapatkan data
dari sumber-sumber tertulis seperti arsip Daerah Kabupaten Kolaka, buku, terbitan ilmiah, majalah, soft
copy dan hard copy, yang memberikan referensi sejarah Kolaka maupun sejarah terhadap objek penelitian
yaitu Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama, yang bertujuan untuk memudahkan informasi latar sejarah terkait
dengan objek penelitian.
b. Observasi
Pada penelitian ini observasi akan dilakukan secara langsung dengan melakukan pengamatan
terhadap objek penelitian secara sistematis, Pada tahap ini dilakukan pencatatan terhadap objek penelitian
dan melakukan dokumentasi Eks Kantor Bupati Kolaka pertama meliputi bangunan, ukuran, denah, serta
hiasan pada objek penelitian. Data yang diperoleh dalam observasi itu di catat dalam catatan obsevasi.
Alat yang digunakan meteran untuk mengukur bangunan secara keseluruhan, kamera untuk melakukan
dokumentasi setiap sudut bangunan.
c. Wawancara
Peneliti melakukan wawancara menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik sampling non
random dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang
sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian. Pemilihan
informan bisa meliputi instansi terkait seperti Bappeda, tokoh masyarakat, serta veteran yang masih hidup
di Kabupaten Kolaka. Pemilihan informan lebih kepada orang yang lebih mengetahui tentang sejarah
Kolaka dan sejarah Bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka pertama. Yakni veteran yang masih hidup dan
instansi terkait seperti Bapedda, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kolaka. Data yang
diperoleh dapat menjadi data pembanding untuk data yang sudah tertulis.
Teknik Analisis Data
a. Analisis Arsitektural
Analisis ini dilakukan terhadap bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka pertama yang pada dasarnya
3
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
melakukan analisis dengan bagian struktural secara keseluruhan bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka
pertama yang tampak dipermukaan tanah, seperti model atap apakah dalam bentuk apa mengikuti suatu
tipe gaya dalam arsitektur, badan bangunan apakah memiliki karakter bangunan yang digunakan sebagai
perkantoran pemerintahan atau pribadi, serta menganalisis teknologi pondasi bangunan objek penelitian
apakah pondasi bangunan tersebut memiliki ciri-ciri pondasi bangunan perkantoran pemerintahan atau
bangunan pribadi.
b. Analisis Stilistik
Ditujukan untuk mengembangkan perkembangan bentuk gaya arsitektur dalam suatu periode. Analisis
ini digunakan untuk mengidentifikasi aspek dekoratif, ragam hias bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka
pertama apakah memiliki dekoratif atau ragam hias yang memiliki kesamaan dan perbedaan antara
bangunan Kolonial lainya. Analisis ini digunakan untuk mengetahui perkembangan objek penelitian disetiap
periode apakah terjadi perubahan dalam kurung waktu tertentu pada bangunan tersebut, penelitian ini lebih
menekankan pada laggam bangunan Kolonial yang memiliki ciri khas.
c. Analisis Morfologi
Analisis morfologi digunakan untuk mengamati secara mendalam terhadap bentuk bangunan mulai
dari denah, bentuk atap, arah hadap bangunan dan bagian-bagian bangunan lainya dari Eks Kantor Bupati
Kolaka Pertama. Sehingga ini dapat membantu dalam identifikasi bentuk bangunan.
2. HASIL PENELITIAN
Bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama berada pada titik koordinat S 04°03’21.56” dan E
121°35’30.62”. Bangunan menghadap arah Barat bangunan berada pada sisi kanan jalan pramuka menuju
tugu kakao. Bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama berada dalam kawasan sejarah, bahwa dahulu
zaman Belanda bangunan di merupakan perkantoran yang digunakan dalam pemerintahan zaman
Belanda yang di bawah kepemimipinan contruleur mr. Bouwmen, selain bangunan ini terdapat pula rumah
jabatan yang digunakan contruleur mr. Bouwmen. Serta tempat tahanan (penjara) pada saat penjajahan
Belanda, dan serta rumah sakit yang digunakan pada zaman penjajahan, di perkirakan pada zaman dahulu
posisi Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama berada di pinggir laut dikarenakan adanya mercusuar dekat
bangunan tersebut.
Karateristik Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama
Bangunan ini berbentuk T, tinggi bangunan ini 6,86 meter, pintu masuk bangunan ini terdapat pada sisi
4
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
Barat bangunan, atap bangunan ini terbuat dari seng yang berwarna coklat dikarenakan kondisi seng yang
sudah lama, dan rangka bangunan ini terbuat dari kayu, warna dinding bangunan ini di dominasi warna
putih. Selanjutnya panjang keseluruhan bangunan ini yaitu 17, 3 meter, sedangkan lebar bangunan ini
yaitu 22,20 meter, bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama terdiri dari ruangan A, B, C dan D. Adapun
denah bangunan dapat dilihat pada denah 4.1 berikut ini :
Denah Bangunan
( Di buat oleh Muh Andi Rajab Putra 2018 )
5
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
2. Pintu Bangunan
Pintu ini berwarna putih berbentuk kotak persegi pada pintu ini memiliki pola yang menyesuaikan
dengan bentuk pintu, serta ventilasi yang tepat di atas pintu. Pada pintu terdapat rangkaian gembok dan
dibawah gembok terdapat gagang pintu yang masing- masing berwarna silver, pintu ini mencapai lantai
teras. Di atas pintu ini terdapat ventilasi udara yang tersambung dengan pintu, pola ventilasi ini kotak-kotak
yang terbuat dari kayu, kondisi dinding di sekitar pintu terkelupas dan terlihatnya semen dinding. Ukuran
pintu dan ventilasi secara keseluruhan yaitu lebar 1,38 meter, tinggi 2,85 meter, dan tebal rangka pintu 8
centimeter.
Pintu 1 Ruang A
( Dok. Muh Andi Rajab Putra 2018 )
Pintu ini berwarna biru di atas pintu terdapat ventilasi udara yang berwarna biru. Pintu ini memiliki bentuk
kotak persegi dan terdapat stiker serta rangkaian gembok dan lobang tepat di bawah rangkaian gembok.
Ventilasi udara berbentuk kotak menyesuaikan dengan bentuk pintu dengan pola ventilasi kotak-kotak
yang terbuat dari kayu pada sisi atas ventilasi terdapat dudukkan lampu yang terbuat dari kayu berwarna
coklat. Kondisi dinding di sekitar pintu terkelupas sehingga menyebabkan terlihatnya batu merah pada
dinding. Ukuran pintu dan ventilasi secara keseluruhan yaitu lebar 1, 38 meter, tinggi 2, 85 meter, dan
tebal rangka pintu 8 centimeter.
6
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
Pintu 2 Ruang A
( Dok. Muh Andi Rajab Putra 2018 )
Pintu ini memiliki ventilasi udara yang terhubung dengan pintu, pintu ini berwarna kuning dengan
bis putih yang mengikuti pola pada pintu, sedangkan ventilasi udara berwarna putih. Ventilasi udara ini
memiliki bentuk dan pola yang sama dengan ventilasi pada teras bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka
Pertama, pada sisi atas ventilasi ini terdapat jaringan kabel lampu serta dudukan lampu. Pintu ini memiliki
ukuran tinggi 2,82 meter, lebar 1,40 meter, dan tebal 10 centimeter.
Pintu Ruang C
( Dok. Muh Andi Rajab Putra 2018 )
3. Jendela Bangunan
Jendela ini berada posisi Utara bangunan dan tidak memilki ventilasi udara, jendela ini berbentuk
kotak persegi, berwarna biru. Jendela ini memiliki 2 daun jendela, pada sisi kanan jendela berorientasi ke
7
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
arah Barat terdapat siku yang menopang rangka atap dan berwarna hijau, serta adanya bekas jaringan
lisrik untuk lampu dan sekring lampu tersebut. Kondisi dinding disekitar jendela ini mengalami kerusakan
yang disebabkan terkelupasnya dinding sehingga terlihatnya semen dinding, pada sisi atas dinding
berwarna putih sedangkan sisi bawah berwarna biru. Jendela ini memiliki ukuran lebar 1,40 meter, tinggi
2,19 meter, tebal kosen jendela 10 centimeter, dan pada siku jendela memiliki ukuran panjang 1,12 meter,
tebal siku 12 centimeter.
Jendela tepat berada di samping ventilasi udara yang tidak memiliki jendela, jendela ini berwarna
putih dan terdapat kayu yang berukuran kecil di jendela yang berposisi Vertikal. Di sisi kanan jendela yang
terdapat pada sisi Selatan bangunan namun arah hadap jendela ini berorientasi ke arah Barat bangunan
Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama. Ukuran jendela ini lebar 1,38 meter, tinggi 2,18 meter, dan tebal 10
centimeter. Sedangkan siku memiliki ukuran panjang 1,12 meter dan tebal 12 centimeter.
8
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
Jendela 1 Ruang C
( Dok. Muh Andi Rajab Putra 2018 )
Jendela ini berwarna kuning dan memiliki bis putih yang mengikuti pola jendela, jendela ini
memiliki ventilasi udara yang tersambung langsung dengan jendela, bentuk ventulasi jendela ini sama
dengan ventilasi sebelumnya yang memiliki bentuk dan pola ventilasi sama. Di antara jendela ini dan pintu
terdapat siku yang menopang rangka atap, kondisi dinding sekitar jendela ini terkelupas pada bagian
bawah jendela sehingga terlihatnya semen dinding, pada dinding bagian jendela ini terdapat dua warna
yaitu sisi atas berwarna putih dan sisi bawah berwarna biru. Jendela dan ventilasi ini memiliki ukuran
tinggi 1,24 meter, lebar 1,38 meter, dan tebal 10 centimeter.
Jendela 2 Ruang C
( Dok. Muh Andi Rajab Putra 2018 )
9
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
Jendela ini berada pada sisi Selatan bangunan, namun arah hadap jendela ini berorientasi ke
arah Timur bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama. Jendela ini berbentuk kotak berwarna kuning
dan memiliki ventilasi yang tepat berada di atas jendela. Ventilasi ini berbentuk kotak persegi panjang
yang terbuat dari kayu, sedangkan di atas ventilasi terdapat dinding yang berbentuk kotak yang
menyesuaikan dengan ukuran jendela dan berwarna abu-abu. Jendela ini memiliki ukuran tinggi 2.17
meter, lebar 1,40 meter, dan tebal 10 centimeter. Warna dari kosen jendela ini berwarna putih, kondisi
dinding di sekitar jendela ini berwarna putih pada sisi dinding jendela ini sedangkan pada sisi bawah
dinding jendela sebagian berwarna kuning dan sebagianya lagi terkelupas sehingga munculnya
permukaan semen pada dinding.
Jendela 3 Ruang C
( Dok. Muh Andi Rajab Putra 2018 )
Posisi jendela ini berada pada sisi Timur bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama, namun
arah hadap jendela ini berorientasi ke arah Selatan bangunan. Jendela ini berbentuk kotak berwarna abu-
abu memiliki tiga daun jendela yang di atas jendela terdapat ventilasi udara yang berbentuk kotak persegi
panjang, ventilasi udara ini memiliki dua lubang yang berposisi sejajar, dan ventilasi ini terbuat dari
dinding bangunan. Jendela ini memiliki ukuran lebar 2,50 meter, tinggi 1,5 meter, ukuran setiap daun
jendela 75 centimeter, tebal kosen jendela 7 centimeter, jarak antara jendela dan ventilasi 20 centimeter,
lebar ventilasi 75 centimeter, tinggi ventilasi 10 centimeter, dan jarak antara ventilasi atas dan bawah 12
centimeter.
10
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
Pada sisi Timur bangunan ini terdapat jendela yang memiliki bentuk dan pola yang sama, pola
kotak-kotak pada jendela di lapisi dengan kaca, jendela ini berwarna abu-abu. Warna dinding di sisi atas
berwarna putih sisi bawah dinding jendela berwarna hijau, di sekitar jendela ini terdapat retakan kecil
dinding, kerusakkan di sisi bawah dinding terkelupasnya dinding sehingga mengakibatkan terlihatnya batu
merah pada dinding. Jendela ini memiliki ukuran tinggi 1,10 meter, lebar 1,50 meter, dan tebal kosen
jendela 7 centimeter.
Jendela Kaca 1
( Dok. Muh Andi Rajab Putra 2018 )
Jendela ini berada pada sisi Timur bangunan, namun arah hadap jendela ini berorientasi ke arah
Utara bangunan, jendela ini berbentuk kotak, berwarna abu-abu, memiliki 3 daun jendela dan diatas
jendela terdapat ventilasi udara. Ventilasi udara ini terbuat dari dinding jendela yang lubang berbentuk
kotak persegi, warna dinding sekitar jendela di dominasi warna putih, pada sisi bawah dinding
menggalami kerusakan yaitu terkelupasnya dinding sehingga munculnya permukaan semen dinding.
Ukuran jendela ini secara keseluruhan memiliki lebar 2.50 meter, tinggi 1,50 meter, tebal kosen jendela 7
centimeter, ukuran daun jendela tinggi 1,76 meter, lebar 75 centimeter, ukuran jarak antara jendela dan
11
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
ventilasi udara yaitu 22 centimeter, ukuran lebar ventilasi 70 centimeter, tinggi 10 centimeter.
Jendela 3 Ruang D
( Dok. Muh Andi Rajab Putra 2018 )
Jendela dan pintu ini berada pada posisi Timur bangunan, namun arah hadap jendela dan pintu
ini berorientasi ke arah Utara, posisi jendela dan pintu ini sedikit agak rendah di bandingkan dengan
jendela sebelumnya. Bentuk dari pintu ini berbentuk persegi dan bentuk dari jendela kotak, jendela dan
pintu ini berwarna abu-abu, jendela ini memiliki 2 daun jendela, sedangkan pintu terdapat 2 bagian antara
sisi atas dan bawah. Sisi atas pintu berbentuk kotak yang bentuk dan polanya sama dengan jendela, sisi
bawah pintu berbentuk kotak namun terdapat tripleks yang menutupi. Pintu dan jendela ini memiliki
ventilasi udara yang memiliki bentuk dan pola sama dengan ventilasi udara sebelumnya, namun yang
membedakan jarak antara jendela dan ventilasi udara yang cukup jauh. Ukuran pintu ini memiliki tinggi
2,20 meter, lebar 78 centi meter, sedangkan ukuran tinggi jendela 1,49 meter, lebar 1,67 meter, ukuran
setiap daun jendela memiliki tinggi 1,36 meter, lebar 75 centimeter, tebal kosen jendela 7 centimeter,
jarak antara jendela dengan ventilasi udara 75 centimeter, tinggi ventilasi 10 centimeter, dan lebar 70
centimeter.
12
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
Posisi ventilasi ini berada di sisi Utara bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama, bentuk
ventilasi ini kotak persegi panjang berwarna biru serta memiliki pola kotak yang sama dengan pola
ventilasi pada pintu depan bangunan. Kondisi dinding di sekitar ventilasi ini mengalami kerusakan yaitu
terkelupasnya cat dinding. Ventilasi ini tersambung dengan rangka dinding bangunan, pada sisi belakang
ventilasi ini terdapat plastik yang digunakan untuk menutup ventilasi ini, di sekeliling ventilasi masih
13
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
banyaknya sarang laba-laba. Ventilasi ini memiliki ukuran lebar 1,43 centimeter, tinggi ventilasi 67
centimeter, dan tebal ventilasi 10 centi meter, pada sisi selatan bangunan terdapat pula ventilasi yang
sama.
Ventilasi ini berada pada jendela timur bangunan yang menghadap ke arah selatan utara
bangunan. Ventilasi udara ini memiliki bentuk kotak memajang pada sisi kanan dan kiri yang memiliki
ukuran yang sama lebar pada ventilasi 75 centi, tinggi 10 centi.
Ventilasi udara ini berada pada posisi atas dibandingkan dengan jendela sebelumnya, warna
ventilasi udara ini putih pudar. Ventilasi ini berbentuk kotak persegi dan terbagi atas dua bagian, pada
ventilasi ini terdapat jejeran kayu yang berukuran kecil yang berbentuk horizontal sebanyak 9 papan,
kondisi dinding di sekitar ventilasi masih sangat baik dan warna dinding di dominasi warna putih, ventilasi
ini tersambung dengan rangka bangunan. Ventilasi ini memiliki ukuran tinggi 70 centimeter, dan lebar 2,
20 meter.
14
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
Ventilasi ini berada pada jendela timur bangunan yang menghadap ke arah selatan utara
bangunan. Ventilasi udara ini memiliki bentuk kotak memajang pada sisi kanan dan kiri yang memiliki
ukuran yang sama lebar pada ventilasi 75 centi, tinggi 10 centi.
Ventilasi udara ini berada pada posisi atas dibandingkan dengan jendela sebelumnya, warna
ventilasi udara ini putih pudar. Ventilasi ini berbentuk kotak persegi dan terbagi atas dua bagian, pada
ventilasi ini terdapat jejeran kayu yang berukuran kecil yang berbentuk horizontal sebanyak 9 papan,
kondisi dinding di sekitar ventilasi masih sangat baik dan warna dinding di dominasi warna putih, ventilasi
ini tersambung dengan rangka bangunan. Ventilasi ini memiliki ukuran tinggi 70 centimeter, dan lebar 2,
20 meter.
15
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
Ventilasi Udara
( Dok. Muh Andi Rajab Putra 2018 )
Ventilasi ini memiliki bentuk yang sama pada ventilasi udara sisi timur bangunan namun memiliki
posisi yang berbeda ventilasi ini berada pada posisi barat bangunan yang terdapat pada teras bangunan
namun memiliki ikuran yang sama dengan ventilasi sebelumnya.
16
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
17
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
3. SIMPULAN
Bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama merupakan salah satu tinggalan Kolonial di
Kabupaten Kolaka yang berada di kawasan sejarah, pada kawasan sejarah Kolaka terdapat bangunan
rujab, penjara zaman Jepang, serta mercusuar. Bangunan ini dahulu digunakan sebagai kantor
penyebrangan oleh kementerian perhubungan setelah itu berpindah tangan ke pihak ASDP dan sampai
sekarang masih digunakan oleh pihak ASDP sebagai rumah dinas pengawai.
Bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama memiliki karateristik sangat bervarisai dan sangat
sederhana seperti pada tampak depan bangunan yang terdapat pintu, jendela, ventilasi udara yang
memiliki pola dan bentuk yang sama sedangkan pada jendela pada timur bangunan yang berorietasi arah
Selatan dan Utara bangunan.
Bangunan ini dahulu digunakan sebagai gedung perkantoran pada zaman Belanda yang di tandai
dengan karakter bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama, bangunan berbentuk memanjang sama
sisi dan terdapat pula pintu utama pada sisi tengah bangunan yang memiliki teras, jendela dan pintu
bangunan yang memiliki karakter yang sama yang bertujuan untuk memaksimalkan udara yang masuk,
bentuk atap bangunan yaitu limas dan plana.
Berdasarkan hasil analisis dari karakter Bangunan Eks Kantor Bupati Kolaka Pertama dapat diketahui
bahwa bangunan ini di pengaruhi oleh gaya arsitektur Belanda pada periode tahun tahun 1920 sampai
tahun 1940-an, hal tersebut tercerminkan dari arah hadap bangunan yang berorietasi ke arah Barat dan
timur, pada jendela, pintu, ventilasi bangunan yang berukuran besar yang bertujuan untuk
memaksimalkan udara yang masuk ke dalam ruangan bangunan
18
Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol.2, No.2 ( Desember 2018) : 1 - 19
Website: [Link]
ISSN 2654-3524 (Online) ISSN 2613-8999 (Print)
DAFTAR PUSTAKA
Anjasmara, [Link] Kolonial Rumah Sakit Darmo Dan Faktor Perubahan Fungsi Ruang.
Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra Unud.
Antariksa, Suryasari Noviani, Santoso Triwinarto Joko. Jurnal RUAS, Volume 11 No 2, Desember 2013
ISSN 1693- 3702. Tradisionalisme Dalam Arsitektur Kolonial Belanda Di Kota Malang, Jurusan
Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya.
Antariksa. pangarsa, widjil, galih. Pertiwi, ayu, putri. Tipologi ragam hias rumah tinggal kolonial belanda di
ngamarto- lawang. Jurusan teknik, fakultas teknik universitas brawijaya malam.
Hafid, Anwar. 2009. Sejarah Daerah Kolaka, hlm 111-131: humaniora utama prees.
Handinoto, dimensi 19/ARS agustus [Link] G.C Citreon DanPerkembangan Arsitektur Kolonial
Belanda Di Surabaya ( 1915-1940).Staf pengajar fakultas teknik sipil dan perencanaan, jurusan
arsitektur, universitas kristen petra: 1-16.
Handinoto, Di Mensi Arsitektur Volume 26 Desember 1998. Arsitektur Gaya “ Indo Eropa “ Th. 1920 An Di
Indonesia. Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan, Jurusan Arsitektur,
Universitas Kristen Petra
kawasan pusaka di ketandan yogyakarta. Teknik Arsitektur, Akademi Teknik YKPN Yogyakarta, Balapan
Yogyakarta.
Hasbi, Muhammad. Rahil. dan Purwanto. Kajian Arsitektur Kolonila Belanda di Iklim tropis, Program Studi
Arsitektur, Universitas Mercu Buana, Jakarta-Indonesia.
Harimu, Threesje A. Tipologi Wajah Bangunan Arsitektur Kolonial Belanda Di Kawasan Pabrik.
19