Nama : Elvin Hidayat Zega
NIM : 20210101020
DAMPAK KESAKSIAN DI GEREJA DALAM MEMBANGUN IMAN GENERASI
MUDA DI BNKP JEMAAT ORUDUA RESORT 31
1. Latar Belakang
Generasi muda adalah mereka yang berada pada masa proses peralihan dari masa
kanak-kanak menuju masa dewasa yaitu usia 16-30 Tahun. 1 Masa ini merupakan masa yang
paling menentukan perkembangan emosional, moral, spiritual, dan fisik seseorang. Pada
masa ini seseorang mengalami perubahan besar, yang berlangsung dalam tempo yang
singkat. Dan dalam waktu yang singkat itu, terbentuk kepribadian manusia, dan serentak juga
proses pengarahan menuju kematangan.2 Kaum muda adalah mereka yang berada dalam
periode pemantapan identitas diri. Dalam proses ini, situasi-situasi yang terjadi dalam
lingkungan masyarakat sangat berpengaruh dalam menemukan dan mengartikan keaadan
hidup mereka.
Dalam perhatian yang sama disampaikan oleh Mangunhardjana, ia berkata bahwa
“masa muda bukanlah sekedar masa penantian; masa muda adalah masa berharap atau
bermimpi dan bercita-cita. Masa muda adalah masa muda untuk memberikan masa untuk
memberi arti kepada hidup dan masa untuk mengambil keputusan untuk menghidupinya. 3
Artinya pada masa muda seseorang dituntut untuk berhasil atau gagal; menang atau kalah.
Masa muda adalah masa menemukan arah hidup yang benar dan mengambil keputusan untuk
menghidupinya.
Masalah yang dihadapi oleh generasi muda sebenarnya tidak terlepas dan terpisah dari
masalah secara umum yang berkembang ditengah-tengah masyarakat, karena pada
hakitkatnya generasi muda merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat.
Terkadang generasi muda pada saat ini terlebih-lebih diera digital ini mudah terpengaruh
dengan godaan duniawi, sehingga mereka lebih menfokuskan diri dari hal-hal duniawi dari
pada mau bersekutu dengan Tuhan. Sama halnya juga dengan pemuda-pemudi yang ada di
jemaat peneliti, kaum muda lebih mengutamakan kepentingan mereka sendiri dari pada
1
3 Penetapan usia bagi pemuda ini sedikit beragam. Menurut undang-undang RI Nomor 40 tahun 2009 pasal 1
2
John Dami Mukese, Menjadi Manusia kaya Makna (Jakarta: Obor, 2006), 47
3
Y. Singgih D. Gunarsa & Singgih Gunarsa, Psikologi Untuk Muda-Mudi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004) , 11
persekutuan mereka dengan Tuhan. Kaum muda tidak dapat menghindar dari tantangan
hidup, tetapi generasi muda harus menghadapi dan menaklukannya. Ketidakmampuan
memahami tantangan ini begitu banyak para generasi muda yang kehilangan arah dan terjerat
dalam keinginan duniawi ini. Rasul Paulus juga mengingatkan Timotius yang masih muda
mengenai kondisi yang dialami oleh generasi muda (2 Tim 3:1-5). Disini Alkitab dengan
jujur mencatat banyak anak-anak muda yang berhasil untuk mempertahankan imannya saat
menghadapi tantangan hidup, tetapi Alkitab juga mencatat kegagalan-kegagalan anak muda
menjalani imannya. Semua hal itu dicatat supaya kaum muda pada masa kini dapat belajar
megenal Allah melalui kehidupan kaum muda yang dicatat di dalam alkitab.
Generasi muda dikatakan sebagai masa-masa emas dan akan diisi dengan berbagai
kegiatan untuk menyongsong masa depan. Jika gereja tidak menenangkan mereka pada emas-
emas ini, gereja akan kehilangan kesempatan untuk membina generasi muda menjadi
pemimpin generasi muda di masa depan. Generasi muda yang telah dibina dengan baik akan
menghasikan generasi muda dengan iman yang dewasa. Generasi muda yang dewasa yang
secara rohani bukan saja dapat bertumbuh dan melibatkan dalam tugas pelayan gereja, tetapi
harus menjadi agent penggerak bagi pertumbuhan iman tubuh kristus secara keseluruhan.
Gereja harus memberikan waktu, dana dan perhatian bagi pembinaan iman generasi
muda. Jika generasi muda tidak diberi tempat untuk bertumbuh dan ikut berperan, maka tidak
heran jika jumlah generasi muda dalam gereja akan semakin menurun. Sama halnya dengan
generasi muda yang ada di kampung peneliti sendiri, banyak generasi muda yang malas untuk
mengikuti kebaktian atau persekutuan-persekutuan rohani karena tidak dipedulikan oleh
gereja.4
Setelah peneliti melakukan wawancara kepada ketua pemuda gereja BNKP jemaat
Orudua An. Necis Irwan Zega mengenai masalah yang hendak diteliti ini, dia mengatakan
bahwa pemuda-pemuda BNKP pada saat ini banyak yang tidak mau melakukan persekutuan-
persekutuan rohani karena tata ibadah yang ada di BNKP sangat monoton, tidak kreatif dan
biasa-bisanya saja. Dia juga mengatakan bahwa didalam ibadah-ibadah di BNKP tidak ada
sama sekali kesaksaksian-kesaksian hidup tentang firman Tuhan atau pengalaman pribadi
yang membuat ketertarikan pemuda untuk mengikuti persekutuan.
Dan setelah peneliti juga menelusuri lebih lanjut mengenai gereja Kharismatik ini, ada
yang mengatakan bahwa tata ibadah gereja kharismatik ini sangat berpusat pada kesaksian-
4
Kornelius Sabat, Luka (Pembusukan) Generasi (Yogyakarta: Cahaya Harapan, 2022), 364-367
kesaksian hidup jemaat mengenai pengalaman pribadi tentang firman Tuhan. Dimana ketika
mereka dalam melakukan kesaksian itu, mereka sering menangis seakan-seakan itu telah
terjadi. Sehingga dalam hal itu, banyak pemuda-pemuda BNKP yang tertarik dengan hal itu,
sehingga mereka mau beribada kegeraja kharismatik.
Sekarang ini banyak dedominasi gereja seperti yang peneliti \ paparkan dari atas yang
ada di samping dedominasi gereja BNKP seperti gereja Kharismatik. Seperti peneliti lihat
sendiri, gereja Kharismatik yang ada di kampung kami tata ibadah mereka saat kreatif,
semangat, dan banyak kesaksian-kesaksian, bisa dikatakan tata ibadah gereja kharismatik
tidak membosankan. Sehingga apa yang terjadi, banyak pemuda-pemudi yang tertarik
beribadah ke gereja kharismatik tersebut.
Dengan pengalaman peneliti sendiri dan dengan beberapa informasi yang masuk,
peneliti dapat menyimpulkan bahwa dampak kesaksian ini sangat berpengaruh dalam
kehidupan generasi muda. Kaum muda suka beribadah ketika didalam ibadah adanya
kesaksian hidup, sehingga kaum muda bisa menghayati kesaksian itu dan bisa juga mengubah
kepribadian mereka. Dengan kesaksian ini, banyak pemuda yang tertarik untuk beribadah dan
mau untuk mengikuti kegiatan-kegiatan rohani.
Bersaksi adalah mengulangi atau menceritakan ulang kembali pernyataan mengenai
apa yang telah terjadi. Menurut KBBI bersaksi adalah orang yang melihat atau mengetahui
sendiri peristiwa kejadian yang terjadi. Dalam hal ini yang hendak saya teliti ialah bukan
bersaksi untuk menjadi saksi di sebuah pengadilan tetapi bersaksi menjadi saksi Kristus atas
diri seseorang berdasarkan pengalaman yang dialaminya tentang kasih kristus atau tentang
injil, sehingga dengan pengalaman itu membuat orang terlebih kalangan muda termotivasi
untuk mengikuti kegiatan gerejani. Menurut Ensiklopedia masa kini kesaksian adalah
tanggung jawab berat, teristimewa dalam kasus yang di ancam dengan hukuman mati.
Dalam perjanjian Baru, para rasul adalah saksi-saksi utama tentang hidup dan
kebangkitan Kristus (Yoh 21:24; Kis 22:2; 2 Petrus 1:6). Dalam dunia Kristen modern
kesaksian berarti cerita apa yang di kerjakan Kristus atas hidup seseorang yang menjadi
pengalaman diri orang itu. Bersaksi artinya memberikan kesaksian bahwa Kristus adalah
pribadi seperti yang di katakannya. Sehingga kesaksian seperti ini adalah cara untuk
mencapai tujuan dengan memberikan kesaksian dari seorang saksi mata tentang kebenaran (I
Yohanes 1:1-3). Saksi adalah seorang yang mempunyai pengalaman pribadi atau
pengetahuan langsung mengetahui sesuatu hal tentang kristus. Dalam hal ini orang-orang
Kristen disuruh terlebih generasi muda menjadi saksi tentang apa yang mereka ketahui
tentang dan alami mengenai Kristus (Kis 1:8).
Tuhan yesus telah meminta kita untuk menjadi saksinya. Seseorang saksi bagi kristus
adalah orang yang mengenal Kristus dan mempunyai kerinduan untuk memperkenalkan
Kristus kepada orang lain. Orang yang menjadi saksi Kristus adalah orang yang benar-benar
percaya dan beriman kepada Yesus Kristus. Sehingga orang-orang percaya termasuk
kalangan muda untuk menjadi saksi Kristus. Jadi, pribadi yang bersaksi atau menjadi saksi
adalah seseorang yang telah percaya kepada Kristus. Seperti halnya para rasul mengalami
langsung karya Kristus, seorang yang percaya kepada Kristus terlebih-lebih generasi muda
mengalami hal itu dalam dirinya sendiri. Ia memiliki pengalaman pribadi dengan Kristus
melalui itu karya keselamatan Allah dinyatakan di dalam dirinya dan dia dapat
memberitahukannya kepada orang lain.
Setiap orang Kristen termasuk di dalamnya pemuda Kristen di harapkan
memberitakan keselamatan yang ada di dalam Yesus Kristus. Pengabaran injil adalah
mengabarkan tentang Yesus Kristus kepada orang-orang berdosa agar mereka percaya dan
beriman kepada Allah. Selain itu, hidup sebagai orang Kristen sejati juga merupakan suatu
kesaksian injili yang penuh kuasa. Sebagai orang Kristen, semuanya harus bersaksi tentang
apa yang telah Tuhan lakukan untuknya dan bisa menjelaskan apa yang menjadi arti dalam
kesaksian tersebut. Namun, realitanya sekarang banyak pemuda yang tidak mau menjadi
saksi kristus atau tidak mau bersaksi tentang Kristus dengan alasan takut dan tidak terlatih
untuk bersaksi dengan imannnya. Dengan adanya kesaksian-kesaksian ini banyak teman-
teman pemuda lainya yang termotivasi, terbekati sehinga mereka mau bersaksi juga tentang
kristus. Selain itu dengan adanya kesaksian ini bisa membuat banyak pemuda tertarik untuk
mengikuti kegiatan-kegiatan rohani atau gerejani sehingga dengan hal itu kesaksian ini
berdampak dalam pertumbuhan iman pemuda.
Dalam perkembangan zaman yang semakin cepat diera globalisasi saat ini membuat
anak-anak muda berusaha tampil dengan mengikuti trend yang sedang berkembang. Pada
umumnya memiliki gaya hidup yang cenderung instant, mudah di pengaruhi oleh hal-hal
yang ada di sekitarnya. Demikian juga dengan pemuda gereja saat ini, keluarga atau
komunitas dimana dia berada turut mempengaruhi gaya hidupnya.5
5
Natalia Debora Pantas, Bersaksi Tentang Kristus Sebagai Gaya Hidup Pemuda Gereja Masa Kini, Missio
Ecclesiae, 5(2), Oktober 2016, 169-189 didalam [Link]
[Link]
2. Identitifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas yang telah saya paparkan, peneliti
mengidentifikasi beberapa masalah yang terjadi yaitu:
a. Banyak generasi muda BNKP yang malas untuk mengikuti kebaktian rohani atau
persekutuan-persekutuan rohani.
b. Banyak generasi muda yang tertarik dengan kesaksian pengalam pribadi tentan
firman Tuhan
c. Tidak ada kesaksian-kesaksian/pengalaman pribadi tentang firman Tuhan didalam
ibadah di gereja BNKP khususnya di gereja BNKP jemaat Orudua Resotr 31.
3. Fokus/pembatasan Masalah
Demi terwujudnya pembahasan atau penelitian yang terarah dan sesuai dengan
rencana yang diharapkan, maka penulis membatasi masalah yang akan di teliti. Masalah-
masalah yang teridentifikasi diatas tidak semua diteliti karena berbagai keterbatasan yang
dimiliki oleh peneliti sendiri. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini peneliti berfokus pada
masalah: Dampak kesaksian di gereja untuk pertumbuhan iman generasi muda dan
dampak berdirinya Kharismatik di samping gereja BNKP. Penelitian ini di lakukan di
gereja BNKP jemaat Orudua yang berada di kampung Orahili, desa Maziaya, Kecamatan
Lotu, Kabupaten Nias Utara.
4. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah serta pembatasan/fokus
permasalahan diatas, maka peneliti merumuskan beberapa rumusan masalah. Adapun
beberapa rumusan masalah dalam peneltian ini adalah
a. Mengapa kesaksian sangat berdampak pada pertumbuhan iman generasi muda?
b. Apa yang menjadi faktor pemuda sulit untuk memberikan kesaksian?
c. Bagaimana strategi gereja dalam menarik perhatian generasi muda untuk ikut serta
memberikan kesaksian hidup dalam–persekutuan-persekutuan rohani (kegiatan
gerejani)?
5. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah di paparkan oleh peneliti diatas, maka
peneliti menetapkan beberapa tujuan penelitian sebagai berikut:
a. Untuk mendesripsikan dampak kesaksian pada pertumbuhan iman generasi muda
b. Untuk mendeskripsikan alasan generasi muda tidak mau bersaksi tentang firman
Tuhan
c. Untuk mendeskripsikan pentingnya kesaksian didalam ibadah untuk pertumbuhan
iman generasi muda.
6. Manfaat penelitian
6.1 Manfaat Teoritis
Ada beberapa manfaat teoritis dalam melakukan penelitian ini yaitu:
a. Dapat memberikan konstribusi bagi mahasiswa dan kampus STT Sunderman
dalam mengembangkan Ilmu Teologi dalam memahami pentingnya kesaksian
di dalam ibadah-ibadah gereja.
b. Dapat memberikan infomasi kepada pembaca dalam mengetahui masalah-
masalah yang terjadi dalam tata ibadah gereja di BNKP.
6.2 Manfaat Praktis
6.2.1 Bagi Penulis
Manfaat kepada penulis dalam melakukan penelitian ini adalam mampu
menambah wawasan penulis mengenai pentingnya kesaksian dan tata ibadah di dalam
gereja dalam membangun iman generasi muda melalui persektuan rohani yang
dilakukan.
6.2.2 Bagi Pembaca
Manfaat penelitian yang dilakukan bagi pembaca adalah pembaca bisa
mendapatkan pengetahuan yang baru tentang bagaimana kepribadian generasi muda
dalam pertumbuhan imannnya.
7. Asumsi Penelitian
Asumsi penelitian adalah anggapan-anggapan dasar tentang suatu hal yang
dijadikan pijakan berpikir dan bertindak dan melaksanakan penelitian. Anggapan dasar
adalah suatu yang diyakini kebenarannya oleh penulis yang akan berfungsi sebagai
tempat berpijak bagi peneliti di dalam melaksanakan peneltian, “asumsi juga dilandasi
oleh sejumlah asumsi dasar ilmu pengetahuan”.6 Maka dalam hal ini, ada beberapa
asumsi dasar dalam penelitian yang dilakukan.
6
M.E. Winarno, Metodologi Penelitian Dalam Pendidikan Jasmani, (Malang:Universitas Negeri Malang, 2011)
18
a. Adanya pemahaman yang mengatakan bahwa gereja Kharismatik lebih menarik
perhatian jemaat dari pada gereja BNKP
b. Adanya pemahaman generasi muda, yang mengatakan bahwa kesaksian/pengalaman
hidup tidak perlu
c. Adanya pemahaman generasi muda tentang pelayan, mereka mengatakan bahwa
pelayan di gereja Kharismatik lebih dekat dengan jemaat dari pada pelayan di gereja
BNKP.
8. Model Penelitian
8.1 Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam peneltian ini adalah pendekatan kualitatif.
Menurut Sugiyono (2018) pendekatan kualitatif adalah penelitian yang berlandaskan
pada filsafat, yang digunakan untuk meneliti pada kondisi ilmiah (Eksperimen)
dimana peneliti sebagai instrumen, teknik pengumpulan data, dan analisis yang
bersifat kualitatif lebih menekan pada makna dan digunakan dengan menekankan
pada aspek pedalaman data guna untuk mendapatkan hasil dari penelitian. 7 Dalam
penyusunan penelitian ini maka untuk mendapatkan informasi yang di butuhkan,
peneliti menggunakan penelitian lapangan atau pendekatan kuliatatif. Peneliti
mendapatkan infomasi atau data melalui penelitian yang dilakukan di lapangan serta
dengan melakukan wawancara kepada informan yang dapat mendukung penlitian
seperti kepada Pemuda-pemudi,ketua komisi Pemuda, Pendeta jemaat, Satua Niha
Keriso (SNK), Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ), dan beberapa warga jemaat.
8.2 Setting dan Sumber Data
8.2.1 Seting/Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dimana penelitian dilakukan. Lokasi
peneltian yang yang trlah di tentukan oleh peneliti adalah di kampung Orahili,
Desa Maziaya, Kecamatan Lotu, Kabupaten Nias Utara. Alasan penulis
memilih tempat itu adalah supaya peneliti lebih mudah untuk mendapatkan
informasi dari informan sehingga penelitian yang dilakukan lebih baik.
8.2.2 Subjek Penelitian dan Informan (Populasi dan Sampel)
7
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D., Jakarta:CV. Alfabet, 2018
Untuk mendaptakn sumber informasi, maka peneliti langsung
melakukan wawancara kepada Pemuda-Pemudi, ketua Komisi Pemuda,
Pendeta, Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ), Satua Niha Keriso (SNK),
dan beberapa warga jemaat. Alasan penulis memilih informan tesebut karena
merekalah yang lebih tau dan berperan dalam penelitian yang dilakukan.
Sehingga peneliti melakukan wawancara kepada informan kepada Pemuda-
Pemudi, ketua Komisi Pemuda, Pendeta, Badan Pekerja Majelis Jemaat
(BPMJ), Satua Niha Keriso (SNK), dan beberapa warga jemaat untuk
mendapatkan informasi dan pandangan mereka mengenai masalah yang terjadi
sesuai dengan penelitian yang dilakukan.
8.3 Teknik Pengumpulan Data
8.3.1 Observasi
Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang
tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Observasi kualitatif dalam
hal ini melihat, memperhatikan dan mengamati perilaku dan aktivitas individu-
individu di lokasi penelitian langsung turun kelapangan (Creswell, 2012)
Dalam hal ini, peneliti melakukan pengamatan langsung dilapangan
dengan melihat realita yang terjadi. Peneliti mengikuti kebaktian dan peribadahan
pemuda dan langsung juga mengamati para informan Pemuda-Pemudi, ketua
Komisi Pemuda, Pendeta, Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ), Satua Niha
Keriso (SNK), dan beberapa warga jemaat yang berguna untuk mengumpulkan
data dari hasil pengamatan tersebut.
8.3.2 Wawancara
Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk
mencapai tujuan tertentu. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh
pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan
dengan topic yang diteliti (Banister dkk dalam Poerwandari, 1998)
Sehubungan dengan itu, peneliti harus melakukan wawancara kepada
responden untuk mendapatkan kedalaman informasi. Dalam hal ini, penulis
melakukan wawancara langsung kepada responden untuk mendukung penelitian
yang dilakukan. Responden peneliti yaitu Pemuda-Pemudi, ketua Komisi Pemuda,
Pendeta, Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ), Satua Niha Keriso (SNK), dan
beberapa warga jemaat.
8.3.3 Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh
data, informasi dalam bentuk buku, arsip, tulisan angka, dan gambar yang berupa
laporan serta keterangan yang dapat mendukung penelitian ini. Dalam hal ini,
penulis akan mengumpulkan dokumen-dokumen yang terkait dalam permasalahan
yang diteliti oleh penulis. Untuk mendapatkan dokumentasi itu, maka peneliti
langsung melakukan dokumentasi di lapangan dan meminta bantu kepada
Pemuda-Pemudi, ketua Komisi Pemuda, Pendeta, Badan Pekerja Majelis Jemaat
(BPMJ), Satua Niha Keriso (SNK), dan beberapa warga jemaat.
8.4 Teknik Pengolahan Data
Pada bagian ini, penulis menggunakan teknik mereduksi data. Reduksi data
adalah penyerderhanaan, penggolongan, dan membuang yang tidak perlu data
sedemikian rupa sehingga data tersebut dapat menghasilkan informasi yang bermakna
dan memudahkan dalam penarikan kesimpulan8. Maka dalam hal ini peneliti akan
menyajikan penelitan dalam bentuk teks agar dapat menghasilkan informasi yang
bermakna dan memudahkan dalam penarikan kesimpulan.
9. Sistematika Penulisan
BAB I: PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
2. Identifikasi Masalah
3. Fokus/Pembatasan Masalah
4. Rumusan Masalah
5. Tujuan Penelitian
6. Manfaat Penelitian
6.1 Manfaat Teoritis
8
Salsabila Mifta Rezkia, Langkah-langkah Menggunakan Teknik Analisis Data Kualitatif., Al-Powered Learning di
dalam [Link]
%20penyederhanaan%20penggolongan%20,analisis%20data%20melalui%20tahap%20reduksi. diakses 21 Des
2023
6.2 Manfaat Praktis
7. Asumsi Penelitian
8. Metode Penelitian
8.1 Pendekatan Penelitian
8.2 Setting dan Sumber Data (Informan)
8.3 Tekni Pengumpulan Data
8.3.1 Observasi (Pengamatan)
8.3.2 Wawancara
8.3.3 Dokumentasi
8.4 Teknik Pengolahan Data
9. Sistematika Penulisan