BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Persepsi Bencana
1. Pengertian Persepsi Bencana
Persepsi Risiko Bencana telah menjadi topik yang penting bagi
para politisi dan pembuat kebijakan yang peduli dengan masalah
keselamatan, dan pendekatan serta analisa psikologi terhadap persepsi
risiko bencana juga telah banyak menarik perhatian (Sjöberg, Moen, &
Rundmo, 2004). Meskipun terdapat perbedaan dalam model yang
digunakan untuk menjelaskan persepsi risiko bencana, namun peneliti dan
praktisi umumnya mencapai kesepakatan bahwa persepsi risiko bencana
itu merupakan hal penting (Yong, 2017).
Ada dua pendekatan teori besar yang berusaha untuk menjelaskan
tentang persepsi risiko bencana, yaitu pendekatan kognitif dan pendekatan
sosial-budaya. Prinsip dasar dari pendekatan kognitif terhadap persepsi
risiko individu didasarkan pada proses dasar psikologi tentang bagaimana
individu mengukur dan menganggap suatu kejadian memenuhi syarat
sebagai suatu risiko. Terdapat dua pendekatan utama dalam pendekatan
kognitif, yaitu pendekatan heuristik dan bias, dan paradigma psikometrik
(Yong, 2017). Penelitian psikologis tentang Persepsi Risiko telah
didominasi oleh Paradigma Psikometrik yang bermanfaat dalam
mengemukakan masalah-masalah penting dalam penelitian. Paul Slovic
(1999) sebagai tokoh utama yang menjelaskan persepsi risiko melalui
paradigm psikometrik mendefinisikan persepsi risiko sebagai nilai
kepercayaan seseorang yang terdiri dari keyakinan tentang tanggung
jawab, kontrol, penerimaan, dan respons terhadap bahaya. Sedangkan
pada pendekatan sosial-budaya menyatakan bahwa persepsi risiko setiap
individu dapat bervariasi karena lingkungan sosialnya. Artinya, apa yang
dianggap berisiko atau tidak berisiko secara sosial dibangun oleh cara
hidup tertentu (Yong, 2017).
Persepsi Risiko adalah penilaian subjektif dari kemungkinan jenis
kejadian tertentu yang terjadi dan seberapa peduli kita dengan
konsekuensinya (Sjöberg, Moen, & Rundmo, 2004). Persepsi risiko
termasuk suatu langkah evaluasi dari kemungkinan-kemungkinan serta
konsekuensi negatif dari suatu risiko (Sjöberg, Moen, & Rundmo, 2004).
Pidgeon, Hood, Jones, Turner, dan Gibson (1992) mendefinisikan
persepsi risiko sebagai suatu kepercayaan, sikap, penilaian dan perasaan
sesorang, serta nilai-nilai sosial atau budaya yang diadopsi seseorang,
terhadap bahaya dan manfaatnya (Bodemer & Gaissmaier, 2015). Yong
(2017) beranggapan bahwa persepsi risiko merupakan struktur
multidimensi yang terdiri dari keyakinan akan tanggung jawab, kontrol,
penerimaan, dan respon terhadap bahaya.
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa persepsi risiko
terdiri dari beberapa dimensi dan dimensi persepsi risiko yang berbeda
akan berkaitan dengan respon perilaku yang berbeda pula. Mengevaluasi
suatu risiko dari perspektif yang berbeda juga akan mengahasilkan
pandangan yang berbeda dalam mengevaluasi serta akan menghasilkan
perilaku yang berbeda pula (Bodemer & Gaissmaier, 2015). Berdasarkan
uraian di atas, mengacu pada pendapat Yong (2017) maka definisi
persepsi risiko bencana dalam penelitian ini adalah sebagai struktur
multidimensi tentang nilai kepercayaan terhadap risiko yang terdiri dari
keyakinan tentang tanggung jawab, kontrol, penerimaan, dan respons
terhadap bencana alam.
2. Dimensi Persepsi Risiko Bencana
Yong (2017) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa persepsi
risiko terhadap bencana sebagai struktur multidimensi yang terdiri dari
kepercayaan tentang risiko dan masalah bencana alam. Penelitian yang
dilakukannya berhubungan dengan persepsi risiko dan kesiapsiagaan
bencana untuk bencana alam. Berdasarkan hasil analisis data National
Survey of Health Risk Perception (NSHRP) 2012, Yong (2017)
mengungkapkan tiga dimensi psikologis yang mendasari persepsi risiko,
yaitu:
a. External Responsibility for Disaster Management
Tanggung jawab eksternal untuk manajemen bencana mencerminkan
individu percaya bahwa pemerintah, organisasi dan orang lain
memiliki peran dan bertanggung jawab atas kesiapsiagaan dan
manajemen bencana, sehingga individu juga mau mengikuti arahan
atau himbauan dari pemerintah, organisasi, masyarakat dan orang lain
akan manajemen bencana agar dapat mengurangi dampak risiko dari
suatu bencana (Yong, 2017).
b. Self-preparedness Responsibility
Tanggung jawab kesiapsiagaan diri mewakili keyakinan bahwa
individu memegang kendali dan bertanggung jawab atas risiko
bencana alam melalui kesiapsiagaan bencana. Seberapa besar atau
kecilnya kemungkinan risiko yang akan diterima individu akibat dari
bencana tergantung usaha yang dilakukan untuk meminimaliri risiko
tersebut dengan melakukan kesiapsiagaan (Yong, 2017).
c. Illusiveness of preparedness
Ilusi Kesiapsiagaan menunjukkan sikap individu dalam merespons
risiko bencana dengan sikap fatalistik (pasrah terhadap nasib),
penolakan dan angan-angan. Sikap tersebut dapat meningkatkan rasa
ketidakpastian terhadap bencana dan kurangnya kontrol atas risiko
dan juga pandangan bahwa kesiapsiagaan bencana itu merupakan hal
yang sia-sia (Yong, 2017).
3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Persepsi Risiko Bencana
Dalam peneltiannya yang berjudul Risk Perception, Bodemer dan
Gaissmaier (2015) telah menganalisis berbagai faktor yang dapat
memengaruhi persepsi risiko berdasarkan pendekatan psikometri, sosial
dan budaya. Berikut ini dirangkum beberapa faktor yang memengaruhi
persepsi risiko:
a. Dread Risk
Seperti yang diusulkan oleh pendekatan psikometri, ketakutan adalah
salah satu prediktor penting dalam persepsi dan reaksi seseorang
terhadap bahaya (Bodemer & Gaissmaier, 2015). Orang yang menilai
suatu risiko akan bahaya yang menimpa banyak orang dan dalam
periode waktu yang dekat atau bahkan pernah merasakan akan
memiliki kecenderungan kuat untuk menghindari risiko tersebut
(Slovic P. , 1987).
b. The Role of Affect: Risk-asFeelings and the Affect Heuristic
Reaksi perasaan memberikan sinyal penting tentang bagaimana kita
memahami dan merasakan tentang lingkungan kita (Bodemer &
Gaissmaier, 2015). Perasaan akan bahaya akan muncul secara
otomatis dan cepat, seringkali muncul sebelum seseorang
mengevaluasi risiko tersebut secara kognitif dan sadar. Reaksi
perasaan memungkinkan seseorang melakukan evaluasi, memotivasi
perilaku dan memungkinkan untuk melakukan perbandingan berbagai
peristiwa dan situasi pada tingkat yang sama (Peters, 2006).
c. Availability Heruristic
Strategi lain untuk menilai risiko adalah dengan melalui ketersediaan
heruristik, yaitu menilai seberapa besar frekuensi kemungkinan suatu
peristawa yang diingat dan pernah terjadi akan terjadi lagi dikemudian
hari (Tversky & Kahneman, 1974). Apakah dan kapan heuristik ini
mengarah pada persepsi risiko bencana yang akurat tergantung pada
struktur lingkungan. Asumsinya adalah bahwa peristiwa yang lebih
sering dan lebih mudah diingat akan mempengaruhi tingkat persepsi
risiko seseorang (Bodemer & Gaissmaier, 2015).
d. Optimism Bias
Bias Optimisme, juga disebut sebagai keyakinan seseorang akan masa
depan secara positif yang berfungsi untuk menjelaskan mengapa
orang sering untuk tidak mengambil tindakan pencegahan dan sebagai
gantinya hanya mengurangi risiko pribadi mereka karena merasa
yakin bahwa suatu peristiwa atau bencana itu tidak akan terjadi pada
dirinya (Bodemer & Gaissmaier, 2015).
e. Representation of Risk
Cara kita memandang risiko sangat tergantung pada bagaimana kita
secara mental dapat menggambarkannya (Bodemer & Gaissmaier,
2015). Fuzzy-Trace Theory telah membedakan dua jenis representasi,
yaitu secara verbatim dan inti. Representasi verbatim menyandingkan
stimulus secara obyektif, yaitu seperti yang sebenarnya terjadi.
Sedangkan Representasi inti lebih kabur dan menyandingkan
informasi secara subyektif.
f. Media
Media pada umumnya dianggap sebagai mediator penting dalam
persepsi risiko (Bodemer & Gaissmaier, 2015). Seberapa baik dan
sesuainya media dalam memberikan informasi berdasarkan fakta yang
ada kepada masyarakat akan mempengaruhi perespi risiko. Jika
liputan media tidak seimbang antara frekuensi bahaya yang
sebenarnya dengan apa yang disajikan, maka akan menyebabkan
kecenderungan orang untuk merepresentasikan suatu risiko secara
keliru (Bodemer & Gaissmaier, 2015).
B. Bencana
1. Definisi Bencana
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat
yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun
faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU
RI No 24 Tahun 2007). Menurut Federasi Internasional Palang Merah dan
Bulan Sabit Merah bencana ialah peristiwa, bencana terjadi secara tiba –
tiba dan mengganggu fungsi dari suatu komunitas atau masyarakat serta
menyebabkan kerugian yang harus ditanggung oleh masyarakat atau
komunitas. Bencana dapat pula diakibatkan oleh ulah manusia
(International Council of Nurses (ICN), 2009).
Bencana merupakan suatu keadaan yang muncul tiba-tiba dan
mengancam kehidupan masyarakat disebabkan oleh faktor alam dan/atau
non alam maupun faktor manusia. Bencana dapat mengakibatkan korban
jiwa, kerusakan lingkungan yang melebihi kemampuan masyarakat untuk
mengatasinya sendiri (Tyas, MCD, 2016).
2. Klasifikasi Bencana
Bencana menurut UU No. 24 Tahun 2007 diklasifikasikan menjadi
3 diantaranya:
a. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa
gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin
topan, dan tanah longsor.
b. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal
teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
c. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi
konflik sosial antarkelompok atau antar komunitas masyarakat, dan
teror.
3. Gawat Darurat
Situasi gawat darurat dapat terjadi akibat bencana. Gawat darurat
menurut Peraturan Menteri Kesehatan Tentang Sistem Penanggulangan
Gawat Darurat Terpadu Tahun 2016 adalah keadaan klinis korban/pasien
gawat darurat yang membutuhkan tindakan medis segera untuk
penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan. Sistem Penanggulangan
Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) merupakan suatu mekanisme pelayanan
korban/pasien gawat darurat yang terintegrasi dan berbasis call center
dengan menggunakan kode akses telekomunikasi 119 dengan melibatkan
masyarakat (Sudibyakto, 2008).
Tujuan dari penyelenggaraan SPGDT adalah meningkatkan akses
dan mutu pelayanan kegawatdaruratan dan mempercepat waktu
penanganan (respon time) korban dan menurunkan angka kematian serta
kecacatan. SPGDT dilaksanakan oleh Pusat Komando Nasional beserta
PSC tingkat Kabupaten/ Kota dan fasilitas kesehatan (Sudibyakto, 2008).
Pada kondisi bencana kegiatan yang dilakukan pada fase bencana
atau fase gawat darurat disebut tanggap darurat. Pada fase tanggap darurat
dilakukan berbagai aktivitas darurat yang nyata untuk menjaga diri sendiri
atau harta kekayaan (United Nation (UN), 2015). Aktivitas yang
dilakukan secara kongkret yaitu:
a. Instruksi penyelamatan diri
b. Pencarian dan penyelamatan korban,
c. Menjamin keamanan di lokasi bencana,
d. Pengkajian kerugian yang timbul setelah bencana
e. Pembagian dan penggunaan sarana dan prasarana pada kondisi darurat
f. Pendistribusian barang material, dan
g. Menyediakan lokasi pengungsian, dan lain-lain.
C. Kesiapsiagaan Manajemen Bencana
1. Kesiapsiagaan Bencana
Kesiapsiagaan bencana merupakan salah satu bagian dari proses
manajemen bencana dan di dalam konsep pengelolaan bencana yang
berkembang saat ini, peningkatan kesiapsiagaan bencana merupakan salah
satu elemen penting dari kegiatan pengurangan risiko bencana yang
bersifat pro-aktif, sebelum terjadinya suatu bencana
(LIPI-UNESCO/ISDR, 2006). Kegiatan-kegiatan yang umumnya
dikaitkan dengan kesiapsiagaan bencana termasuk mengembangkan
proses perencanaan untuk memastikan kesiapan, merumuskan rencana
bencana, menimbun sumber daya yang diperlukan untuk respon yang
efektif dan mengembangkan keterampilan dan kompetensi untuk
memastikan kinerja yang efektif dari tugas-tugas terkait bencana (Sutton
& Tierney , 2006).
Konsep kesiapsiagaan bencana mencakup langkah-langkah yang
bertujuan untuk meningkatkan keselamatan jiwa ketika bencana terjadi,
seperti tindakan perlindungan selama gempa bumi atau tsunami terjadi.
Hal ini juga mencakup tindakan yang dirancang untuk meningkatkan
kemampuan dalam melakukan tindakan darurat untuk melindungi harta
benda dan dokumen-dokumen penting, serta kemampuan untuk terlibat
dalam kegiatan pemulihan pasca bencana dan kegiatan pemulihan dini
(Sutton & Tierney , 2006).
Ada banyak stakeholders di dalam masyarakat yang terlibat dan
berpengaruh dalam upaya kesiapsiagaan bencana, stakeholders utama
adalah individu dan keluarga, pemerintah, dan komunitas sekolah.
Individu dan keluarga merupakan ujung tombak, subjek dan objek dari
kesiapsiagaan, karena berpengaruh secara langsung terhadap risiko
bencana (LIPI-UNESCO/ISDR, 2006). Kesiapsiagaan bencana pada
keluarga berarti segala perilaku kesiapsiagaan yang dilakukan di dalam
keluarga dengan tujuan untuk meminimalisir dampak bencana agar dapat
menjaga kelangsungan hidup dan pemeliharaan kualitas hidup keluarga
saat dan sesudah bencana terjadi (Bradley, 2010).
2. Parameter Kesiapsiagaan Bencana
Kesiapsiagaan bencana memiliki lima faktor-faktor kritis yang
sangat dibutuhkan, penting, mendesak dan sensitif terhadap kesiapsiagaan
bencana masyarakat dalam mengantisipasi bencana alam dan disepakati
sebagai parameter untuk mengukur kesiapsiagaan individu dan keluarga
dalam mengantisipasi bencana alam, terutama gempa bumi dan tsunami
(LIPI-UNESCO/ISDR, 2006), yaitu :
a. Pengetahuan dan Sikap Terhadap Risiko Bencana
Pengetahuan merupakan faktor utama dalam menyikapi risiko
bencana serta menjadi kunci untuk kesiapsiagaan bencana.
Pengetahuan yang dimiliki biasanya dapat mempengaruhi sikap dan
kepedulian masyarakat untuk siap dan siaga dalam mengantisipasi
bencana, terutama bagi mereka yang bertempat tinggal di daerah
pesisir yang rentan terhadap bencana alam (LIPI-UNESCO/ISDR,
2006).
b. Kebijakan dan Panduan
Kebijakan kesiapsiagaan bencana alam sangat penting dan
merupakan upaya konkrit untuk melaksanakan kegiatan siaga
bencana. Kebijakan yang signifikan berpengaruh terhadap
kesiapsiagaan bencana pada keluarga (LIPI-UNESCO/ISDR, 2006).
Kebijakan yang diperlukan untuk kesiapsiagaan bencana pada
keluarga berupa kesepakatan keluarga dalam hal menghadapi bencana
alam, yakni adanya diskusi keluarga mengenai sikap dan tindakan
penyelamatan diri yang tepat saat terjadi bencana alam, dan tindakan
serta peralatan yang perlu disiapkan sebelum terjadi bencana alam
(Lenawida, 2011).
c. Rencana untuk Keadaan Darurat Bencana
Rencana keadaan darurat bencana menjadi bagian yang penting
dalam kesiapsiagaan, terutama berkaitan dengan evakuasi,
pertolongan dan penyelamatan, agar korban bencana dapat
diminimalkan. Upaya ini sangat krusial, terutama pada saat terjadi
bencana dan hari-hari pertama setelah bencana sebelum bantuan dari
pemerintah dan pihak luar datang (LIPI-UNESCO/ISDR, 2006).
Rencana tanggap darurat meliputi 7 (tujuh) komponen, yaitu:
1) Rencana keluarga untuk merespon keadaan darurat, yaitu adanya
rencana penyelamatan keluarga dan setiap anggota keluarga
mengetahui apa yang harus dilakukan saat kondisi darurat
(bencana alam) terjadi.
2) Rencana evakuasi, yaitu adanya rencana atau kesepakatan
keluarga mengenai jalur aman yang dapat dilewati saat kondisi
darurat dan tempat berkumpul jika terpisah saat terjadi bencana
alam dan adanya keluarga/kerabat/teman, yang memberikan
tempat pengungsian sementara saat kondisi darurat.
3) Pertolongan pertama, penyelamatan, keselamatan dan keamanan,
meliputi tersedianya kotak P3K atau obat-obatan penting lainnya
untuk pertolongan pertama keluarga, adanya anggota keluarga
yang mengikuti pelatihan pertolongan pertama, dan adanya akses
layanan kesehatan untuk keadaan darurat.
4) Pemenuhan kebutuhan dasar, meliputi tersedianya kebutuhan
dasar untuk keadaan darurat seperti makanan siap saji dan
minuman dalam kemasan, tersedianya alat komunikasi untuk
keluarga seperti Handphone, tersedianya alat penerangan alternatif
seperti senter/baterai cadangan/lampu/jenset untuk keluarga pada
saat darurat.
5) Peralatan dan perlengkapan siaga bencana, meliputi tersedianya
peralatanperalatan yang dapat digunakan dan membantu saat
kondisi darurat, tersedia tempat penyimpanan yang aman untuk
dokumen-dokumen penting dan sebagainya.
6) Fasilitas-fasilitas penting yang memiliki akses dengan bencana
seperti tersedianya nomor telepon dan alamat rumah sakit, polisi,
pemadam kebakaran, PAM, PLN, Telkom.
7) Latihan dan simulasi kesiapsiagaan bencana, yaitu anggota
keluarga memiliki akses untuk mengikuti pendidikan/pelatihan
tentang kesiapsiagaan bencana, dan keluarga melakukan latihan
dan simulasi tanggap bencana.
d. Sistem Peringatan Bencana
Sistem ini meliputi tanda peringatan dan distribusi informasi
akan terjadinya bencana. Dengan peringatan bencana ini, keluarga
dapat melakukan tindakan yang tepat untuk mengurangi korban jiwa,
harta benda dan kerusakan lingkungan. Untuk itu diperlukan latihan
dan simulasi, apa yang harus dilakukan apabila mendengar peringatan,
kemana dan bagaimana harus menyelamatkan diri dalam waktu
tertentu, sesuai dengan lokasi tempat keluarga sedang berada saat
terjadinya peringatan (LIPIUNESCO/ISDR, 2006).
Sistem peringatan bencana untuk keluarga berupa tersedianya
sumber informasi peringatan bencana baik dari sumber tradisional
maupun lokal dan memiliki akses untuk mendapatkan informasi
peringatan bencana. Peringatan dini meliputi informasi yang tepat
waktu dan efektif melalui kelembagaan yang jelas sehingga
memungkinkan setiap individu dan keluarga yang terancam bahaya
dapat mengambil langkah untuk menghindari atau mengurangi risiko
serta mempersiapkan diri untuk melakukan upaya tanggap darurat
yang efektif (Lenawida, 2011).
e. Mobilisasi Sumber Daya
Mobilisasai sumber daya menjadi faktor yang krusial karena
sumber daya yang tersedia, baik sumber daya manusia, keuangan dan
sarana-prasarana penting untuk keadaan darurat dan merupakan
potensi yang dapat mendukung atau sebaliknya menjadi kendala
dalam kesiapsiagaan bencana alam (LIPI-UNESCO/ISDR, 2006).
Mobilisasi sumber daya keluarga meliputi adanya anggota
keluarga yang terlibat dalam penyuluhan atau pelatihan tentang
kesiapsiagaan bencana, memiliki keterampilan yang berkaitan dengan
kesiapsiagaan bencana, adanya alokasi dana atau tabungan keluarga
yang dipersiapkan secara khusus untuk menghadapi bencana atau
situasi darurat, serta adanya kesepakatan keluarga untuk memantau
peralatan dan perlengkapan siaga bencana secara regular (Lenawida,
2011).
3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kesiapsiagaan Bencana
Berbagai peneliti lain di bidang ini telah mencoba untuk menemukan
apa saja faktor yang dapat mempengaruhi kesiapsiagaan bencana pada
keluarga, Dantzler (2013) dalam penelitiannya meyimpukan beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi kesiapsiagaan bencana pada keluarga,
yaitu:
a. Pengaruh Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi seperti penghasilan, pendidikan, usia,
gender, ras, dan etnis telah diteliti dan diterapkan untuk menjelaskan
atau memprediksi perilaku kesiapsiagaan bencana rumah tangga
(Perry & Lindell, 2007). Rumah tangga dengan status sosial ekonomi
yang lebih tinggi dan rumah tangga non-minoritas akan lebih baik dan
siap dalam menghadapi dampak bencana (Baker, 2010).
b. Pengaruh Pengetahuan dan Perilaku
Pengetahuan tentang bencana dapat memengaruhi penilaian
perilaku atau sikap tentang kesiapsiagaan bencana. Pengetahuan
bencana dipengaruhi oleh tingkat kesadaran dan pengalaman bencana
masa lalu (Kim & Kang, 2010). Studi sebelumnya telah meneliti
hubungan tersebut antara pengetahuan atau pengalaman bencana
individu tentang kesiapsiagaan bencana pada keluarga, menyatakan
bahwa kesadaran bencana dan pengalaman bencana di masa lalu
memiliki pengaruh positif terhadap perilaku untuk melakukan
kesiapsiagaan bencana pada keluarga (Kim & Kang, 2010).
c. Socio-psychological or Control Beliefs Influences
Faktor sosial-psikologis seperti persepsi risiko, self-efficacy, dan
response efficacy mempengaruhi motivasi seseorang untuk
mempersiapkan diri menghadapi bencana (Kim & Kang, 2010).
Setelah seseorang mengevaluasi akan suatu risiko perihal keparahan,
kerentanan, dan manfaat. Setelah itu menentukan faktor-faktor
penyelesaian melalui self-efficacy dan respons efficacy, akan
membentuk suatu motivasi untuk melindungi diri dari suatu risiko
(Martin, Bender, & Raish, 2007). Persepsi risiko didefinisikan sebagai
penilaian terhadap kemungkinan mengalami dampak fisik dan sosial
yang merugikan akibat dari suatu peristiwa (Lindel & Hwang, 2008).
Self-efficacy adalah keyakinan individu akan mampu atau tidak
mampu melakukan perilaku mitigasi akan risiko (Martin, Bender, &
Raish, 2007). Respons Efficacy adalah sejauh mana perilaku mitigasi
risiko yang direncanakan dianggap efektif dalam mengurangi risiko
tertentu (Martin, Bender, & Raish, 2007).
d. Pengaruh Struktural dan Normatif
Norma sosial dan ikatan masyarakat termasuk kepemilikan
rumah, dan penghuni lama di lingkungan merupakan faktor-faktor
dari variabel struktural yang dapat mempengaruhi kesiapsiagaan
bencana (Mulilis, Duval, & Bovalin, 2000). Kim dan Kang (2010)
menyatakan bahwa pada umunya, pemilik rumah dan penghuni
lingkungan lama lebih cenderung siap untuk menghadapi bencana.
Penelitian juga menunjukkan bahwa rasa keterikatan terhadap
masyarakat atau suatu komunitas menghasilkan hasil psikologis dan
perilaku yang positif terhadap perilaku kesiapsiagaan bencana.
4. Manajemen Penanggulangan Bencana
Manajemen penanggulangan bencana merupakan serangkaian
kegiatan yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko
timbulnya bencana, pencegahan bencana, tanggap darurat, dan
rehabilitasi. Kegiatan penanggulangan bencana sesuai pada siklus
bencana (Tyas MDC, 2016).
Siklus bencana dibagi menjadi 3 diantaranya fase pra bencana
disebut sebagai fase kesiapsiagaan yang terdiri atas pencegahan dan
mitigasi (prevention and mitigation). Selanjutnya fase bencana disebut
sebagai fase tanggap darurat (response ) yang terdiri atas fase akut (acute
phase) serta fase sub akut (sub acute phase). Terakhir adalah fase pasca
bencana atau disebut sebagai fase rekonstruksi yang terdiri dari fase
pemulihan atau perbaikan (recovery phase) dan fase rehabilitasi atau
rekonstruksi (rehabilitation/reconstruction phase) (Tyas MDC, 2016).
Kesiapsiagaan (preparedness) adalah aktivitas serta yang diambil
sebelum bencana untuk memastikan respon yang efektif terhadap dampak
bahaya, berupa memberikan peringatan dini yang tepat dan efektif dan
dengan mengevakuasi penduduk dan harta benda dari lokasi yang
terancam. Peringatan dini adalah pemberian peringatan sesegera mungkin
kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu
tempat oleh lembaga yang berwenang (Tyas MDC, 2016).
Mitigasi (mitigation) adalah langkah struktural dan non struktural
yang dilakukan untuk memngurangi dampak yang ditimbulkan. Tindakan
mitigasi dilihat dari sifatnya dapat digolongkan menjadi 2 (dua) bagian,
yaitu mitigasi pasif dan mitigasi aktif (Tyas MDC, 2016).
Tahap tanggap darurat merupakan tindakan atau pengerahan
pertolongan untuk membantu masyarakat atau komunitas yang mengalami
bencana, guna mengantisipasi bertambahnya korban jiwa. dari sudut
pandang pelayanan medis, bencana terbagi menjadi “fase akut” dan “fase
sub akut”. Pada fase akut, 48 jam pertama sejak kejadian bencana
dinamakan “fase penyelamatan dan pertolongan/pelayanan medis darurat”
kegiatan yang dilakukan adalah penyelamatan dan pertolongan baik
berupa tindakan medis darurat terhadap korban luka. Satu minggu setelah
terjadinya bencana disebut dengan “fase sub akut” kegiatan yang
dilakukan adalah perawatan terhadap orang-orang yang terluka pada saat
mengungsi atau dievakuasi, serta dilakukan intervensi terhadap
munculnya permasalahan kesehatan selama dalam pengungsian. Pada fase
pemulihan individu atau masyarakat menggunakan kemampuan sendiri
untuk memulihkan fungsinya seperti sedia kala (sebelum terjadi bencana)
(Tyas MDC, 2016).
Tahap pemulihan berupa tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap rehabilitasi bertujuan untuk
mengembalikan kepada kondisi normal. Tahap rekonstruksi merupakan
tahap yang bertujuan untuk membangun kembali sarana dan prasarana
yang rusak akibat bencana (Tyas MDC, 2016).
5. Upaya Penyelamatan Diri Saat Bencana
a. Gempa Bumi
Perabotan dari jati dan ranjang yang kokoh dapat menjadi
tempat berlindung. Pojok-pojok ruangan atau dekat pondasi bangunan
juga dapat menjadi tempat berlindung. Hindari jendela kaca, kompor
gas, dan lemari berisi barang-barang berat. Tidak ada waktu untuk lari
keluar ruangan. Tetap tenang di dalam ruangan, usahakan merapat ke
dinding/pondasi bagian dalam bangunan. Konstruksi terkuat gedung
bertingkat yang dapat dijadikan tempat berlindung adalah pondasi
dekat lift namun, jangan berada di dalam lift atau di area tangga.
Apabila sedang berada diluar bangunan hindari berada di sekitar tiang
listrik, tiang telepon, papan reklame, pohon-pohon besar, serta berhati
– hati pada reruntuhan bangunan. Berkumpulah pada titik kumpul
yang telah ditentukan (Divisi Manajemen Bencana Paramartha).
b. Kebakaran
Proses evakuasi yang dapat dilakukan selama terjadi kebakaran
adalah berjalan dengan cepat jangan lari. Hindari membawa atau
memakai barang – barang yang dapat mempersulit pelaksanaan
evakuasi. Berikan prioritas kepada penghuni gedung perempuan atau
penghuni yang lain yang lemah fisiknya. Apabila hendak membuka
pintu, rabalah dan rasakan lebih dahulu pintunya untuk mengetahui
apakah dibalik pitu tersebut terdapat api atau tidak lalu menuruni
tangga dengan cara berjajar berturut – turut sesuai lebar kapasitas
tangga. Apabila memungkinkan tutuplah semua pintu dan jendela
untuk membantu memperlambat rambatan api. Apabila terperangkap
asap, bernafaslah dengan pendek – pendek melalui hidung,
bergeraklah dengan cara merangkak karena udara dibawah lebih
dingin. Tahanlah nafas anda, kalau perlu pakailah masker asap/escape
hood saat menerobos asap. Keluar dari tangga darurat harus melalui
pintu menuju titik kumpul serta melapor kepada kepala Regu
Evakuasi Lantai masing –masing (Kemenhub RI, 2019).