0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan107 halaman

Dampak Pelayanan Pastoral pada Inner Child

Skripsi ini membahas tentang inner child Angela yang terluka akibat kekerasan yang dialaminya di masa kecil. Inner child yang terluka ini menyebabkan Angela memiliki kemarahan dan niat untuk menyakiti diri sendiri. Skripsi ini menggunakan studi kasus untuk memberikan bantuan konseling kepada Angela agar dapat berdamai dengan masa lalunya.

Diunggah oleh

Ayu Daniati S
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan107 halaman

Dampak Pelayanan Pastoral pada Inner Child

Skripsi ini membahas tentang inner child Angela yang terluka akibat kekerasan yang dialaminya di masa kecil. Inner child yang terluka ini menyebabkan Angela memiliki kemarahan dan niat untuk menyakiti diri sendiri. Skripsi ini menggunakan studi kasus untuk memberikan bantuan konseling kepada Angela agar dapat berdamai dengan masa lalunya.

Diunggah oleh

Ayu Daniati S
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

INNER CHILD ANGELA YANG TERLUKA

(Dampak Pelayanan Pastoral Kepada Angela Wiyogo yang Memiliki Inner

Child yang Terluka Dalam Rangka Menurunkan Kemarahan dan

Menghentikan Perilaku Menyakiti Diri Sendiri Dengan Metode Studi

Kasus)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat

Untuk Mencapai Gelar Sarjana Teologi ([Link])

Oleh:

Sherly Tri Olivia

NIM: 18.01.1710

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI (STT) ABDI SABDA

PROGRAM STUDI TEOLOGI

MEDAN

2022
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI ABDI SABDA MEDAN

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI

Nama : Sherly Tri Olivia

NIM : 18.01.1710

Judul Skripsi : INNER CHILD ANGELA YANG TERLUKA

(Dampak Pelayanan Pastoral Kepada Angela Wiyogo yang Memiliki

Inner Child yang Terluka Dalam Rangka Menurunkan Kemarahan

dan Menghentikan Perilaku Menyakiti Diri Sendiri Dengan Metode

Studi Kasus)

Medan, 11 Agustus 2022

Disetujui Oleh:

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(Dr. Jaharianson Saragih) (Dr.(cand) Edward Simon Sinaga)

Diketahui Oleh:

Ketua STT Abdi Sabda Ketua Prodi Teologi

(Agus Jetron Saragih M. Th) (Dr. Rohny Pasu Sinaga)


SEKOLAH TINGGI TEOLOGI ABDI SABDA MEDAN

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

Nama : Sherly Tri Olivia

NIM : 18.01.1710

Judul Skripsi : INNER CHILD ANGELA YANG TERLUKA

(Dampak Pelayanan Pastoral Kepada Angela Wiyogo yang Memiliki

Inner Child yang Terluka Dalam Rangka Menurunkan Kemarahan

dan Menghentikan Perilaku Menyakiti Diri Sendiri Dengan Metode

Studi Kasus)

Skripsi Ini Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat - syarat Untuk

Memperoleh Gelar Sarjana Teologi (S. Th)

Telah Diujikan dan Dipertahankan

Dalam Ujian Meja Hijau di STT Abdi Sabda Medan pada Tanggal

Dosen Pembimbing dan Penguji

1. Dosen Pembimbing I : Dr. Jaharianson Saragih ( )

2. Dosen Pembimbing II : Dr.(cand) Edward Simon Sinaga ( )

3. Penguji I : ( )

4. Penguji II : ( )
SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Sherly Tri Olivia

NIM : 18.01.1710

Judul Skripsi : INNER CHILD ANGELA YANG TERLUKA

(Dampak Pelayanan Pastoral Kepada Angela Wiyogo yang Memiliki

Inner Child yang Terluka Dalam Rangka Menurunkan Kemarahan

dan Menghentikan Perilaku Menyakiti Diri Sendiri Dengan Metode

Studi Kasus)

Dengan ini menyatakan bahwasanya penulis tidak melakukan plagiat terhadap skripsi

yang lain. Apabila dikemudian hari terbukti penulis telah melakukan plagiat, maka penulis

bersedia menerima sanksi yang diberikan oleh Sekolah Tinggi Teologi Abdi Sabda Medan

berupa gelar dan ijazah penulis akan dicopot. Demikian surat pernyataan ini penulis perbuat

dengan sejujur-jujurnya dan tidak dipengaruhi oleh pihak yang lain.

Hormat Saya,

Sherly Tri Olivia


i

KATA PENGANTAR
Puji dan hormat bagi Tuhan yang senantiasa memperlengkapi dan memberikan

kekuatan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas penyusunan skripsi ini. Bukan dengan

kekuatan penulis, tetapi penulis sadar bahwa semuanya yang dilalui merupakan sebuah

pengalaman yang luar biasa semua karena anugerah dari Allah. Di dalam penyusunan skripsi

ini penulis merasakan penyertaan Tuhan. Hanya dengan kasih-Nya penulis dapat

menelesaikan skripsi ini yang berjudul: INNER CHILD ANGELA YANG TERLUKA

(Dampak Pelayanan Pastoral Kepada Angela Wiyogo yang Memiliki Inner Child yang

Terluka Dalam Rangka Menurunkan Kemarahan dan Menghentikan Perilaku

Menyakiti Diri Sendiri Dengan Metode Studi Kasus).

Skripsi ini penulis persembahkan untuk kedua orang tua (ayah dan mamak) dan abang

(Berry Rizky Ginting) , kakak (Ira Santha Charoline Ginting), adik (Sheila Nikita Ginting)

yang penuh kasih mendukung dalam setiap proses perkuliahan hingga sampai tahap

penyelesaiannya. Dalam kesempatan ini , penulis juga mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr . Jaharianson Saragih selaku dosen pembimbing utama yang sudah membimbing

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yang memberikan doa, waktu, tenaga dan

sumbangsi/mesukan dalam menyelesaikan skripsi ini.

2. Dr. (cand) Edward Simon Sinaga selaku dosen kedua yang sudah membimbing

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yang sudah memberi doa, waktu, tenaga

sumbangsi/masukan dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas ketelitian

Bapak untuk memerikasa secara terperinci yang ditulis oleh penulis.


ii

3. Bapak Agus Jetron Saragih M. Th, selaku ketua STT Abdi Sabda Medan. Terimakasih

atas semua pengajaran, bimbingan dan didikan selama penulis menjalankan

perkuliahan.

4. Ibu Dr. Rohny Pasu Sinaga selaku ketua Jurusan Prodi Teologi STT Abdi Sabda

Medan, Terimakasih atas semua pengajaran, bimbingan dan didikan selama penulis

menjalankan perkuliahan.

5. Terimakasih untuk Bapak Marhasil Hutasoit, [Link] selaku Wali Kelas A-2018 yang

selalu membimbing dan memberikan banyak motivasi untuk penulis.

6. Bapak/Ibu Dosen STT Abdi Sabda Medan yang telah banyak memberikan ilmu,

pengalaman serta motivasi kepada penulis selama perkuliahan.

7. Terimakasih kepada Zetro Panggabean, [Link] yang senantiasa memberi semangat

selama pengerjaan skripsi dan memberikan banyak sekali masukan dalam hal

pengerjaan skripsi ini.

8. Terimakasih kepada seluruh jemaat GBKP Rg. Cinta Damai yang memberikan

dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

9. Termakasih untuk stambuk 2018 atas kebersamaannya selama perkuliahan ini.

10. Terimakasih untuk rekan sepelayanan Guru KA/KR GBKP [Link] Damai: Ananda

Brema Ginting, Anggreiny Aurora Pate Lado, Elpita Lorena, Andre Sembiring atas

kebersamaannya selama ini.

11. Terimakasih untuk rekan sepelayanan TIM Kebaktian Minggu Pemuda PERMATA

GBKP Klasis [Link] dan TIM Tata Cara Persidangan PERMATA GBKP

klasis [Link] sebagai partner dalam kepengurusan.

12. Teima kasih untuk manusia ajaib Maia Nurhayati Ginting dan Ayu Sihotang yang

sejak tingkat 1 menemasi susah senang selama diperkuliahan.


iii

13. Last but not least, I wanna thank me, I wanna thank me for believing in me, I wanna

thank me for doing all this hard work, I wanna thank me for having no days off. I

wanna thank me for never quitting, for just being me at all times.

Medan, 11 Agustus 2022

Sherly Tri Olivia


iv

ABSTRAK

Inner Child adalah gambaran dari sikap kanak-kanak yang melekat dalam bawah sadar

yang terbentuk dari pengalaman masa kecil dan terbawa hingga dewasa. Masa kecil ialah

masa emas yang dimulai dari dalam kandungan hingga usia 6 tahun. Anak-anak pada usia ini

sangat sensitif terhadap hal-hal seperti yang terjadi di lingkungan, terutama di lingkungan

rumah. Kecerdasan anak-anak juga meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia

mereka otak anak menyerap informasi dengan mudah. Bahkan jumlah terkecil tercatat di

otak anak. Jadi di zaman keemasan ini membutuhkan perhatian lebih dari orang tua, terutama

dalam hal mengasuh anak. Pendidikan yang salah kepada anak akan memiliki konsekuensi

jangka panjang ketika anak sudah menjadi dewasa. Inner child yang terluka dialami oleh

Angela, sewaktu ia masa kanak-kanak ia mengalami kekerasan yang diberikan keluarga

Angela, hal ini menjadikan jarak antara anak dan keluarga, terkhususnya orang tua. Tidak

hanya berdampak kepada Keluarga, namun inner child yang terluka membuat Angela

memiliki kemarahan serta memiliki niat untuk menyakiti dirinya sendiri karena merasa tidak

ada yang bisa menjadi tempat ia berbagi pergumulan hidup yang ia alami. Inner child bisa

diatasi oleh diri sendiri asalkan orang yang mengalami inner child yang terluka mau berdamai

dengan masa lalunya. Berdasarkan penulisan skripsi rumusan masalah dengan metode metode

studi kasus penulis sebagai konselor memberikan perhatian lebih untuk Angela dalam

mendengar semua pergumulan Angela dan membantu mengatasi permasalahan yang dialami

oleh sebelum melakukan pendampngan pastoral Angela yang mengalami inner child yang

terluka tingkat tinggi, menjadi inner child tingkat sedang dan Angela yang memiliki

kemarahan tingkat tinggi menjadi tingkat sedang.

Kata Kunci : Inner Child, Kemarahan, Perilaku Menyakiti


v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................i
ABSTRAK.................................................................................................................................iv
DAFTAR ISI...............................................................................................................................v
DAFTAR SINGKATAN..........................................................................................................vii
BAB I
PENDAHULUAN......................................................................................................................1
1.1. Latar Belakang Masalah...............................................................................................1
1.2. Identifikasi Masalah...................................................................................................10
1.3. Tujuan Penulisan........................................................................................................12
1.4. Manfaat Penulisan......................................................................................................12
1.5. Metodologi Penelitian................................................................................................13
1.5.1. Pengertian Metode Studi Kasus..........................................................................13
1.5.2. Keilmiahan Metode Studi Kasus........................................................................14
1.5.3. Keunggulan Metode Studi Kasus........................................................................14
1.5.4. Kelemahan Metode Studi Kasus.........................................................................15
1.5.5. Langkah-langkah Dalam Metode Studi Kasus...................................................15
1.6. Sistematika Penulisan.................................................................................................17
BAB II
DESKRIPSI DAN ANALISA KASUS....................................................................................19
2.1. Deskripsi.........................................................................................................................19
2.2. Genogram Keluarga Angela...........................................................................................23
2.2.1. Genogram Angela...............................................................................................24
2.2.2. Genogram Angela dari Garis Keturunan Ayah...................................................25
2.2.3. Genogram Angela dari garis keturunan Ibu........................................................25
2.3. Kasus yang Pernah Terjadi Tentang Inner Child Seperti yang Dialami Angela.......26
2.4. Analisa Kasus.............................................................................................................30
2.4.1. Inner Child..........................................................................................................30
2.4.2. Kemarahan..........................................................................................................37
2.4.3. Menyakiti Diri Sendiri........................................................................................40
2.5. Kesimpulan Analisa...................................................................................................43
BAB III
INTERPRETASI MASALAH..................................................................................................45
vi

3.1. Masalah-masalah Pada Diri Angela...........................................................................45


3.1.1. Pola Asuh Keluarga yang Keras Terhadap Angela.............................................45
3.1.2. Angela Merasa Kesepian....................................................................................46
3.1.3. Kemarahan dalam diri Angela............................................................................47
3.1.4. Menyakiti Diri Sendiri (Self Injury)....................................................................48
3.2. Indikator-indikator yang Menyatakan Angela Memiliki Tingkat Kemarahan yang
Tinggi48
3.3. Indikator-indikator yang Menyatakan Angela menyakiti diri sendiri........................49
3.3. Kesimpulan Interpretasi Masalah...............................................................................49
BAB IV
AKSI PASTORAL...................................................................................................................59
4.1. Verbatim.........................................................................................................................59
4.2. Analisa Verbatim........................................................................................................76
4.3. Tabel Perubahan Konseli Selama Dilakukan Pelayanan Patoral...............................79
4.4. Hasil Alat Ukur..........................................................................................................83
4.5. Refleksi Teologis........................................................................................................84
BAB V
KESIMPULAN.........................................................................................................................86
5.1. Kesimpulan.............................................................................................................86
5.2. Saran...............................................................................................................................90
5.2.1. Saran Praktis Bagi Gereja........................................................................................90
5.2.2. Saran Bagi Sekolah Tinggi Teologi....................................................................90
5.2.3. Saran Bagi Mahasiswa........................................................................................91
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................92
vii

DAFTAR SINGKATAN
I. Alkitab

a. Perjanjian Lama

1. Kej : Kejadian

2. Yer : Yeremia

3. Sam : Samuel

4. Maz : Mazmur

5. Hak : Hakim-Hakim

6. Taw : Tawarikh

7. Mat : Matius

8. Rj : Raja-Raja

b. Perjanjian Baru

1. Yoh : Yohanes

II. UMUM

1. Dll. : Dan lain-lain

2. SD : Sekolah Dasar

3. SMP : Sekolah Menengah Pertama


1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sejak tahun 1960-an istilah Inner Child mulai menjadi tema yang populer dalam dunia

Psikologi. Anak Batin adalah bagian dari diri kita yang merasa seperti anak kecil dan dapat

menyebabkan kita berperilaku seperti kekanak-kanakan atau kekanak-kanakan. Hugh

Missildine menulis tentang hal itu dalam bukunya yang inovatif, Your Inner Child of the Past.

Keadaan Anak juga merupakan aspek penting dari Analisis Transaksional, yang

dikembangkan oleh Eric Terne pada tahun enam puluhan dan dipopulerkan pada tahun tujuh

puluhan.1 Manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki kebutuhan dasar dalam

mensosialisasikan perjalan hidupnya. Kebutuhan ini dipenuhi oleh orang tua, keluarga,

gereja/agama, sekolah, dan masyarakat. Polaritas kehidupan dimungkinkan oleh terpenuhinya

kebutuhan dasar ini.2

Anak-anak yang secara emosional terganggu karena beberapa trauma atau alasan lain,

sehingga akan cenderung membatasi diri mereka sendiri dalam beberapa cara, mereka akan

membius indra mereka, membatasi tubuh, memblokir emosi mereka dan menutup pikiran

mereka. Tindakan ini sangat mempengaruhi kesehatan pertumbuhan anak-anak dan semakin

1
Charles L. Whitfield, Recovery of Your Inner Child: The Highly Acclaimed Method for Liberating your
inner self, (New York: Fireside, 1991), 21.
2
E. P. Gintings, Pastoral Konseling Membaca Manusia Sebagai Dokumen Hidup, (Yogyakarta: ANDI,
2016), 1.
2

memperburuk masalah mereka. Mereka tidak dapat melakukan kontak yang baik ketika

semua ini terjadi, dan selanjutnya, diri merekapun terhambat.3

Penguasaan merupakan unsur penting dari perkembangan anak karena memberikan

anak beberapa perasaan kontrol dan kekuasaan. Namun, pada dasarnya, dia sepenuhnya

bergantung pada orang dewasa dalam dirinya hidup untuk bertahan hidup. Selain kebutuhan

dasarnya, anak kecil itu tumbuh subur karena cinta dan persetujuan. Masalahnya adalah anak

tidak selalu tahu apa yang harus lakukan untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan, dan

terkadang prosesnya dalam hidup bisa tidak tepat dan menyebabkan kesulitan lebih lanjut.4

Setiap orang memiliki sifat, perilaku serta respons yang berbeda-beda dalam

menghadapi sesuatu. Hal ini tanpa disadari adalah hasil dari didikan sejak kecil yang dimulai

dari lingkungan keluarga. Dalam perkembangan pertumbuhan anak, keluarga adalah wadah

pertama dalam pembentukan karakter, baik itu karakter yang baik maupun karakter yang

buruk yang dapat ditiru oleh anak melalui keluarganya sendiri, terutama oleh orang tuanya.

Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah dan harus memiliki kesiapan yang matang

seperti keuangan serta mental dalam mendidik anak dengan baik. Ajaran orangtua kepada

anak saat masih kecil akan sangat berpengaruh sampai ia besar.

Hubungan antara perilaku buruk masa kecil dan hasil ketika dewasa juga ditemukan di

seluruh domain kehidupan. Misalnya, perilaku tertentu pada masa kanak-kanak mungkin tidak

memprediksi perilaku yang sama persis di masa dewasa nanti, tetapi mungkin masih terkait

dengan hasil yang secara konseptual konsisten dengan perilaku sebelumnya.5 Perilaku yang

diberikan kepada anak sewaktu kecil tidak dapat dipastikan akan sama seperti yang

diharapkan orangtuanya ketika ia besar, namun apa yang terjadi ketika anak sudah dewasa itu

masih terkait ke masalalunya saat ia kecil. Maka dari itu masa lalu seorang anak ketika ia

3
Violet Oaklander, HIDDEN TREASURE A map to the child’s inner self, (London: Karnac, 2006), 7.
4
Violet Oaklander, HIDDEN TREASURE A map to the child’s inner self, 12.
5
Joan McCord, Violence and Childhood in the Inner City, (America: Cambridge University, 1997), 43.
3

kecil akan selalu terekam dalam pemikirannya. Tak hanya perilaku, namun bagaimana

pengelolaan emosi yang dimiliki oleh anak ini juga terbentuk sejak ia kecil.

Kita melihat orang di sekitar kita merasa sedih, takut, ragu, cemas, dan tertekan, penuh

dengan kerinduan yang tak terucapkan. Tentunya hal ini berpotensi menjadi masalah terbesar

dari semuanya. Semakin kita tahu tentang bagaimana kita kehilangan masa ide dan

kreativitas, semakin kita dapat menemukan cara untuk mendapatkannya kembali. Kita biasa

melakukan sesuatu untuk mencegah kehilangan ini terjadi untuk anak-anak kita sendiri di

masa depan.6 Ketika sesuatu hal yang sudah pernah terjadi dalam kehidupan kita, ketika kita

mau mempelajari bagaimana cara mengantisipasi hal tersebut, kita tidak hanya menolong diri

kita sendiri, namun menolong generasi yang akan lahir selanjutnya agar kehidupannya lebih

baik lagi.

Ketika dalam perkembangannya anak mengalami perasaan ditekan, terutama perasaan

marah dan terluka, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi seorang dewasa dengan karakter

pemarah dan terluka dalam dirinya. Anak ini secara spontan akan mencemari perilaku orang

dewasa yang di dalam dirinya. Pada awalnya, mungkin tampak tidak masuk akal bahwa

seorang anak kecil dapat terus hidup dalam tubuh dewasa. Anak batin masa lalu yang

terabaikan dan terluka ini adalah sumber kesengsaraan manusia. Sampai ketika kita merebut

kembali dan memperjuangkan anak itu, dia akan terus bertingkah dan mencemari kehidupan

dewasa kita.7 Masa kecil yang ada dalam diri inilah yang disebut dengan anak dalam diri itu,

dimana perasaan yang ia alami belum terselesaikan agar tidak menjadi masalah ketika

dewasa.

6
Jhon Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child, (Amerika: Bantam
Books, 1992), 5
7
Jhon Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child,, 7.
4

Berdasarkan pengumpulan data milik KemenPPPA8, kekerasan pada anak hingga data

November 2021 sebanyak 12.566 kasus.9 Salah satu yang mengalami kasus kekerasan ialah

Angela. Angela (nama samaran) saat ini masih berumur 20 tahun, beragama Budha dan

bersuku Hai Lok Hong. Angela adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Dia memiliki 2 orang

abang, pertama bernama Billy, dan kedua bernama Calvin, mereka dilahirkan dalam keluarga

yang sederhana perekonomiannya. Bapak Angela bekerja dengan membuka usaha bengkel

dirumah dan Ibunya bekerja di bank namun saat masih kecil Angela dan saudaranya sering

sakit-sakitan dan mengharuskan Ibu Angela fokus dalam menjaga kesehatan anak-anaknya.

Akibatnya perekonomian dikeluarga menurun dan akhirnya Ibu Angela membuka usaha toko

kelontong dirumahnya.

Pada saat perekonomian tidak stabil, Bapaknya menjadi orang yang tempramental

terhadap istri dan anak-anaknya. Menurut Joan McCord (1942) bahwa faktor struktural

kemiskinan dan ketidakstabilan dalam rumah tangga menjelaskan variasi dalam tingkat

kejahatan dan kenakalan.10 Bapak Angela tidak bisa mengatur sehingga sering terjadi

kekerasan dalam rumah tangga. Walaupun sempat berpikiran untuk berpisah, orang tua

Angela tetap berusaha untuk kembali akur lagi agar rumah tangga bertahan.

Temprament Bapaknya tidak hanya terkena kepada Ibu Angela saja, namun juga

terhadap anak-anaknya. Angela dan kedua abangnya juga sering dipukul walau masalah itu

sepele dan saat nilai belajar anak-anaknya menurun maka mereka akan mendapat hukuman

bahkan suatu ketika mereka pernah ditelanjangi. Kekerasan yang dialami Angela berdampak

terhadap nilai sekolah Angela yang selalu menurun hingga ia duduk di bangku SMP, dalam

pertemanannya pun Angela cenderung menutup diri dan sulit mengungkapkan perasaannya.
8
KemenPPPA merupakan singkatan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak Republik Indonesia, yang telah menjadi program pemerintah dalam pemberdayaan perempuan sejak tahun
1978, diakses pada 26 Januari 2022, pukul 15:08 WIB yang diakses dari
[Link]
9
KemenPPPA, Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan, Diakses pada 26 Januari 2022, Pukul 15:11
WIB, yang diakses dari [Link]
kasus-kekerasan-anak-dan-perempuan-meningkat-di-2021,
10
Joan McCord, Violence and Childhood in the Inner City, 35
5

Tidak hanya kekerasan fisik yang didapatkan oleh Angela namun kekerasan verbal

oleh orangtuanya serta abangnya Billy yang meniru orang tuanya juga melakukan kekerasan

terhadap Angela. Hal yang paling membuat Angela sakit hati disaat orang tuanya mengatakan

bahwa dirinya adalah anak sial dan berharap kalau Angela tidak pernah lahir. Awalnya ia

hanya diam saja lama-kelamaan, kesabaran Angela memuncak serta memberontak kedua

orang tuanya.

Anak-anak membutuhkan keamanan dan pemodelan emosi yang sehat untuk

memahami sinyal batin mereka sendiri. Mereka juga membutuhkan bantuan dalam

memisahkan pikiran mereka dari perasaan mereka. Ketika lingkungan keluarga diisi dengan

kekerasan (kimiawi, emosional, fisik, atau seksual), seiring waktu dia kehilangan kemampuan

untuk membangkitkan harga diri dari dalam dan itu adalah gejala anak batin yang terluka.

Perilaku ketergantungan menunjukkan bahwa kebutuhan masa kecil seseorang tidak

terpenuhi, dan karena itu ia tidak dapat mengetahui siapa dirinya.11 Kekerasan verbal dan non

verbal inilah yang membuat Angela sejak SMP sering melukai dirinya dengan menyayat

tangannya menggunakan pisau dapur hingga luka dalam. Ia menyayat tanggannya dengan

sadar sambil tersenyum dan tidak merasakan sakit sama sekali. Hal ini tidak hanya dilakukan

sekali saja, namun berkali-kali sampai ingin melakukan aksi bunuh diri.

Bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak justru menjerumuskan anak menjadi pelaku.

Ini terutama berlaku untuk kekerasan fisik, pelecehan seksual, dan pemukulan emosional yang

parah.12 Angela tumbuh sebagai orang yang keras dan tertutup terhadap keluarganya, untuk

berbicara kepada orangtuanya saja hanya ketika urusan penting saja. Canda tawa menjadi

asing di tengah-tengah keluarga Angela. Kesunyian serta kehampaan dalam keluarga

dirasakan oleh Angela. Hal ini menyebabkan hubungan antara orangtua dan anak sangat jauh,

bahkan kepada abangnya Billy, ia masih merasa sakit hati dan ingin sekali membunuhnya atas

11
Jhon Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child, 9
12
Jhon Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child,, 10
6

perlakuannya terhadap Angela dan hingga saat ini ia masih menyimpan dendam kepada

abangnya Billy.

Ada 5 urutan kebutuhan manusia yang disusun oleh Abraham Maslow, yaitu:

1. Kebutuhan fisiologis, kebutuhan ini yang memenuhi kebuthuan biologis seperti

makan, minum, tempat tinggal, dan sebagainya.

2. Kebutuhan keamanan, kebutuhan yang memberi nilai rasa aman seperti tertib,

aman, bebas kekerasan dan sebagainya.

3. Kebutuhan cinta, kebutuhan dihargai, merasakan kasih sayang serta cinta dalam

hubungnnya dengan keluarga serta orang lain.

4. Kebutuhan penghargan, kebutuhan akan penghargaan, perhatian, penghormatan

serta status moral, sosial, dan agama.

5. Kebutuhan mewujudkan diri atau aktualisasi diri, kebutuhan dalam seseorang

membuktikan potensi diri dalam mewujudkan ekspresi diri agar terpenuhi

kebebasan berbicara, intelektual serta mendapatkan hak-hak mempertahankan

diri.13

Tidak cukupnya pemenuhan kebutuhan manusia ini dapat memicu seseorang frustasi,

kegelisahan yang tidak nyata dan nyata.14 Melalui 5 kebutuhan menurut Abraham Maslow,

Angela disimpulkan tidak mendapati kebutuhan keamanan, kebutuhan cinta, serta kebutuhan

penghargaan. Dan tentu saja jika kebutuhan ini tidak terpenuhi dengan baik maka akan

mengubah perilaku Angela. Kejadian yang tidak bisa terlupakan oleh seseorang adalah saat ia

merasa sedih, dan sering kali terbawa ke dalam batin dan menciptakan luka traumatik. Sering

kita sudah mencoba untuk mengabaikan bahkan melupakan peristiwa yang terjadi, tetapi

sering kali melupakan itu belum menyembuhkan.15

13
E. P. Gintings, Mengantisipasi Stres dan Penanggulangannya, (Yogya: Yayasan ANDI,1999), 20-21.
14
E. P. Gintings, Mengantisipasi Stres dan Penanggulangannya,, 23.
15
Widya Kartono, Doa, Stress, dan Luka Batin, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001), 19-20.
7

Penyembuhan memori dalam ingatan merupakan bentuk dari konseling dan doa

Kristen yang memfokuskan kuasa penyembuhan dari Roh Kudus pada jenis-jenis masalah

emosional tertentu.16 Anak batin yang dirampas secara narsistik mencemari orang dewasa

dengan keinginan yang tak terpuaskan akan cinta, perhatian, dan kasih sayang. Anak itu

tuntutan akan menyabotase hubungan dewasanya, karena bagaimanapun caranya banyak cinta

yang akan datang, itu tidak pernah cukup. Secara narsis anak dewasa yang kekurangan tidak

dapat memenuhi kebutuhannya, karena anak-anak membutuhkan orang tua mereka sepanjang

waktu. Mereka membutuhkan secara alami, bukan karena pilihan.

Kebutuhan anak merupakan kebutuhan ketergantungan, yaitu kebutuhan yang

bergantung pada orang lain untuk dipenuhi.17 Reaksi seseorang terhadap perubahan, apakah

bersifat adaptif atau oposisional, juga ditempatkan di ujung kontinum yang lain, yaitu di

dalam mode keberadaan 'relasional' dan berkembang dengan bantuan keluarga dan

lingkungan.18 Reaksi yang ada terbentuk oleh orang-orang sekitarnya, apakah ia akan bersifat

baik atau tidak itu akan bergantung dari apa yang lingkungan bentuk untuknya. Seorang

konselor bertugas untuk membuat konseli merasa terbantu dan merasa tenang dalam proses

konselingnya.19

Dengan disiplin yang sangat tinggi dan kemampuan pelayanan memalui percakapan

dengan berbagai macam keterampilan yang dimiliki koselor, konselor juga harus memiliki

strategi di dalam percakapannya dengan konseli.20 Tujuan konselor adalah untuk memahami

perilaku, motivasi, dan emosi konseli yang dihadapinya. Oleh karena itu, konselor umumnya

perlu hadir sebagai seseorang yang membantu untuk memperbarui diri, merangkul, dan

16
David A. Seamands, Kesembuhan Memori, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1997), 25.
17
Jhon Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child, 11.
18
Dinesh Sharma, Childhood, Family, and Sociocultural Change in India: Reinterpreting the Inner
World, (New Delhi: OXTORD UNIVERSITY PRBS, 2003), 58
19
James R. Beck, dan David T. Moore, Kuatir Pedoman bagi Konselor, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia,2000) , 74
20
Yakub [Link] Ph D., Menjadi Konselor yang Profesional, (Yogyakarta: ANDI, 3007), 53.
8

memahami diri.21 Membuat konseli yang ingin mencari nasihat sadar akan diri mereka sendiri

dan masalah mereka, dan mau bertanggung jawab terhadap Tuhan, orang lain, dan diri mereka

sendiri dalam terang kebenaran Firman Tuhan.22

Dasar alkitabiah dan teologi yang benar juga harus ada dimiliki pelayanan pastoral.23

Sebagai orang Kristen dalam usaha untuk menguatkan seseorang dengan doktrin manusia

yang akan ditekankan adalah tentang keindahan ciptaan manusia (Kejadian 24 1:3), gambar

Allah yang ada pada manusia (Kej. 1:27), dan inkarnasi (Yohanes25 1:1-14) pengembangan

kepribadian dengan pemikiran yang negatif dapat merugikan proses perkembangan dari kecil

hingga dewasa. Untuk melakukan pembangunan kesehatan mental seseorang adalah

membangun jembatan antara sesama pribadi.26

Dalam Alkitab, Yeremia yang masih muda di beritahu oleh Allah tentang

panggilannya sebelum ia lahir (Yerermia27 1:5). Inilah perigatan yang Allah beri kepada

Yeremia dengan menugaskannya menjadi nabi, tentunya pada saat itu Allah menggunakan

kuasanya dalam menyembuhkan bekas luka dan sakit hati dari memori-memori yang

menyakitkan Yeremia sehingga membuat Yeremia mampu untuk mengampunia dan tidak

mengingat dosa-dosa orang lain (Yer 31:34). Allah sangat baik, Ia memiliki kesembuhan

memori ketika Ia mengampuni, Ia juga melupakan kesalahan.28

Pendampingan adalah kegiatan membantu orang lain yang membutuhkan

pendampingan karena suatu hal. Ada interaksi atau hubungan paralel antara pendamping dan

pendamping. Dalam istilah pendampingan, hubungan pendamping-pendamping itu

21
Andi Mappiare AT, Pengantar Konseling dan Psikoterapi, (Jakarta : PT. Raja Gravindo Persada,
1992), 44-45.
22
E. P. Gintings, Konseling Pastoral, (Bandung: Jurnal Info Media, 2009), 19
23
David Fisher, 21st Century Pastor: A Vision Based On The Ministry Of Paul, (Zondervan ; Grand
Rapids, 1996), 11.
24
Disingkat menjadi Kej
25
Disingkat menjadi Yoh
26
E. P. Gintings, Mengantisipasi Stres dan Penanggulangannya, 35.
27
Disingkat menjadi Yer
28
David A. Seamands, Kesembuhan Memori, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1997), 23.
9

seimbang.29 Tugas konselor adalah mendukung dan membimbing mereka yang mencari

nasihat.30 Hubungan yang mendalam hanya dapat dibangun ketika konselor menganggap

orang yang membutuhkan sangat berharga.31 Dukungan ini juga ditujukan untuk membantu

mereka yang mencari nasihat yang mengalami berbagai kesulitan dalam hidup untuk memiliki

harapan kepada Tuhan dalam hidup mereka. Dukungan ini juga terutama ditujukan untuk

memperkuat kepercayaan dari mereka yang mencari nasihat. Pada awalnya, tidak ada yang

mengerti perasaan mereka dan ingin mendengar ketidakpuasan mereka, sehingga mereka

tampak meredakan situasi dan merasa percaya diri.32 Dengan adanya konseling hubungan dua

arah antara konselor dan konseli, pemenuhan kebutuhan konseli akan terpenuhi di saat

konselor berusaha membantu dan membimbing dan memahami untuk mengatasi masalah

yang dihadapi oleh konselinya.33

Pendampingan ini bermaksud untuk membuat konseli dapat mengungkapkan apa yang

menjadi pergumulan yang ia alami sejak ia masih kecil, konselor akan berupaya penuh agar

konseli merasa apa yang ia inginkan dimasa kecil tidak menjadi gangguan lagi untuk konseli

bagi kehidupannya dimasa kini. Kebutuhan anak ialah kasih sayang yang tulus dari

orangtuanya, meskipun Angela seperti biasa-biasa saja, namun pengalaman masa lalu ini

membuat ia sangat tertutup dengan keluarganya serta ia memiliki marah yang tidak bisa

diselesaikannya sendiri, dan sempat untuk menyakiti dirinya sendiri tapa rasa sakit.

Melihat kondisi Angela seperti diatas, penulis merasa perlu mendampingi Angela

dalam menyelesaikan Inner Child nya yang menghadapi kekerasan untuk menurunkan

amarahnya serta membantu Angela agar tidak menyakiti dirinya lagi. Dengan penjelasan latar

belakang masalah diatas, maka penulis mencoba untuk menulis karya ilmiah dengan judul:

INNER CHILD ANGELA YANG TERLUKA (Dampak Pelayanan Pastoral Kepada

29
Aart Van Beek, Pendampingan Pastoral, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2007), 9-11.
30
Tulus Tu’u, Dasar-dasar Konseling Pastoral, (Yogyakarta: Andi, 2007), 26.
31
J.D. Engel, Pastoral dan Kebutuhan Dasar Konseling, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 1.
32
Milton Materoff, Mendampingi Untuk Menumbuhkan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 56-57.
33
Garry R. Collins, Konseling Kristen yang Efektif, (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1990), 3.
10

Angela Wiyogo yang Memiliki Inner Child yang Terluka Dalam Rangka Menurunkan

Kemarahan dan Menghentikan Perilaku Menyakiti Diri Sendiri Dengan Metode Studi

Kasus)34

1.2. Identifikasi Masalah


Mengidentifikasi suatu masalah dalam suatu penelitian menunjukkan menjawab

masalah dalam penelitian yang sedang dilakukan. Mengidentifikasi masalah membantu

penulis tetap dalam penelitian dan apa yang ingin di lakukan berdasarkan tujuan

penelitiannya. Untuk lebih memfokuskan penelitian pada banyak masalah yang sedang

diselidiki, penulis perlu mengidentifikasi masalah yang ada35

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis menyadari beberapa masalah yang

menonjol dan akan mencoba mengidentifikasinya untuk pembahasan selanjutnya. Masalah

yang ada adalah:

1. Adanya didikan orangtua yang keras kepada anak, sehingga anak tidak bisa

mengekspresikan dirinya.

2. Adanya perasaan tidak dihargai sebagai anak dalam keluarga.

3. Adanya perasaaan marah yang konseli alami sampai ia dewasa dikarenakan sering

dipukuli sejak kecil dan ingin membalasnya.

4. Konseli sering menyakiti dirinya sendiri dengan perasaan senang.

5. Keluarga tidak dekat dengan konseli sehingga konseli menutup diri dengan

keluarga.

1.1. Pembatasan Masalah

34
Adapun penulis bernama Sherly Tri Olivia (STO) Saya tertarik membahas ini di karenakan saya
melihat pengaruh Inner Child ini sangat berdampak ketika dewasa.
35
Mohammad Ali, Pengantar Pendidikan Prosedur dan Strategi, (Bandung: Angkasa, 1985), 38.
11

Seperti dikemukakan Winarno Surakhmad, batasan masalah tidak hanya

menyederhanakan masalah seorang peneliti, tetapi juga segala sesuatu yang diperlukan untuk

memecahkan masalah, tenaga, ketangkasan, waktu, biaya, dll. Perlu ditentukan terlebih

dahulu apa yang akan dihasilkan dari suatu rencana tertentu.36 Penulis menyadari memiliki

keterbatasan baik kemampuan dana, tenaga, dan waktu. Oleh sebab itu, Penulis membatasi

permasalahannya pada Dampak Pelayanan Pastoral Kepada Angela Wiyogo yang

Memiliki Inner Child yang Terluka Dalam Rangka Menurunkan Kemarahan dan

Menghentikan perilaku Menyakiti Diri Sendiri Dengan Metode Studi Kasus.

1.2. Rumusan Masalah

Perumusan masalah adalah upaya untuk mengumpulkan sejumlah pengetahuan yang

masuk akal dan untuk memahami atau menjelaskan faktor-faktor yang terkait dengan

masalah.37 Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah di atas, maka masalah dalam

penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan inner child dan dampak yang ditimbulkan akibat

adanya inner child seperti yang dialami Angela?

2. Bagaimana pandangan Alkitab tentang inner child?

3. Apakah faktor-faktor penyebab inner cgild terluka??

4. Bagaimana tingkat kemarahan dan melukai diri sendiri sebelum dan sesudah

konseling?

5. Hal-hal apa yang terjadi selama proses pendampingan pastoral?

6. Sejauh mana pelayanan pastoral efektif dalam menurunkan amarah serta

menghentikan perilaku menyakiti diri sendiri?

36
Winarno Surakhmad, Pengantar Pendidikan Prosedur dan Strategi, (Bandung: Tarsito, 1985), 39.
37
Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), 92.
12

1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan adalah arah dan tujuan yang harus dicapai melalui segala tindakan. Oleh

karena itu, karena tujuan merupakan jawaban atas masalah yang diteliti, maka tujuan

memegang peranan yang sangat penting dan perlu dIbuat secara jelas, tegas, dan rinci.38

Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apa itu inner child, dan apa dampak yang ditimbulkan akibat

adanya inner child.

2. Agar mengetahui pandangan Alkitab tentang inner child.

3. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab inner child yang terluka.

4. Untuk mengetahui tingkat kemarahan dan melukai diri sendiri sebelum dan

sesudah Angela konseling.

5. Untuk mengetahui hal-hal apa yang terjadi selama proses pendampingan

pastoral

6. Untuk mengetahui sejauh mana keefektifan pelayanan pastoral dalam

menurunkan kemarahan dan menghentikan prilaku menyakiti diri sendiri.

1.4. Manfaat Penulisan

Penulis berharap agar penelitian ini berguna untuk:

1. Menambah pengetahuan tentang pelayanan pastoral kepada orang yang

memiliki inner child yang terluka dalam dirinya, dan dapat menurunkan

amarah serta berhenti untuk menyakiti dirinya.

38
H. Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, (Malang: UIN, 2008), 53.
13

2. Memberikan sumbangsih kepada pelayan gereja dalam melaksanakan

pelayanan pastoral khususnya kepada orang yang mengalami pengalaman

inner child yang terluka di dalam dirinya untuk diselesaikan.

3. Menambah pengetahuan bagi setiap pembaca untuk dapat menyelesaikan inner

child yang ada dalam dirinya.

4. Menambah pengetahuan bagi setiap pembaca dalam pentingnya

mengekspresikan emosi yang ada agar tidak salah dalam mengambil kepusan.

5. Untuk menambah pengetahuan bagi penulis sebagai bekal dalam pelayanan di

jemaat.

1.5. Metodologi Penelitian

1.5.1. Pengertian Metode Studi Kasus

Metode penulisan skripsi, khususnya dalam pelayanan pastoral,

disebut metode studi kasus. Kemampuan berpikir kritis serta teologis dalam

menghadapi masalah dan menyelidiki serta mengumpulkan data tentang

keadaan, lingkungan, dan faktor penyebab.39 Studi kasus melakukan empat

langkah penelitian: penjelasan, analisis, interpretasi, dan perilaku sosial.

Metode ini menekankan pada metode eksplorasi dan analitis untuk

menyelidiki kasus. Survei tersebut mencakup individu, keluarga, kelompok

budaya, dan kelompok masyarakat tertentu. Studi kasus biasanya

membutuhkan pembahasan yang mendalam dan intensif. Untuk itu,

beberapa peristiwa biasanya dijadikan bahan penelitian. 40

39
Arief Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 1982), 46.
40
Komarudin, Kamus Riset, (Bandung : Angkasa, 1982), 41.
14

1.5.2. Keilmiahan Metode Studi Kasus

Metode studi kasus sebenarnya tidak dimulai dengan situasi yang

abstrak, melainkan dengan situasi konkrit yang terjadi dalam kehidupan

manusia (realitas). Situasi konkret adalah masalah yang ada dalam realitas

dunia dan manusia.

Metode studi kasus membutuhkan pembelajaran dan dialog dengan

disiplin non-teologis lainnya. Dialog ini membuat metodenya tetap ilmiah

dan kritis. Upaya ini memungkinkan pengguna metode studi kasus untuk

menawarkan sesuatu yang bernilai ke bidang lain. Hubungan yang paling

dekat antara praktisi metode studi kasus adalah antara teolog dan psikolog.41

1.5.3. Keunggulan Metode Studi Kasus

Dalam metode studi kasus ilmiah, mengikuti langkah-langkah

normatif yang harus dipelajari oleh seorang peneliti agar dapat benar-benar

merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang diteliti.42 Keuntungan lain

dari metode studi kasus adalah penelitian dasar yang dilakukannya. Ini

sering memberi peneliti kesempatan untuk mendapatkan wawasan

mendalam tentang aspek-aspek dasar perilaku manusia. Metode studi kasus

memberikan kesempatan kepada peneliti untuk benar-benar merasakan

situasi yang diteliti. 43

41
Tj. G. Hommes & Gerrit E. Singgih, Teologi dan Praktis Pastoral Antropologi Teologi Pastoral,
(Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1992), 63.
42
J. Nisbet dan J. Watt, Studi Kasus : Sebuah Panduan Praktis, (Jakarta : Gramedia, 1994), 8.
43
Ibid, 9.
15

1.5.4. Kelemahan Metode Studi Kasus

Dalam penelitian yang menggunakan metode studi kasus, kasus lain

tidak bisa begitu saja digeneralisasikan (dipaksa), tetapi diperlukan analisis

untuk menyelidiki kasus tersebut. Namun bukan berarti tidak bisa melihat

kasus sempurna yang dipelajarinya, namun kasus ini bisa dijadikan referensi

untuk menyempurnakan analisis kasus baru. 44 Kelemahan metodologi studi

kasus adalah tidak mudah untuk menggeneralisasi hasil, kecuali

pertimbangan intuitif bahwa "kasus ini" sama dengan "kasus ini". Kedua,

kelemahan lainnya adalah cenderung personal dan subjektif. 45

1.5.5. Langkah-langkah Dalam Metode Studi Kasus

[Link]. Deskripsi (Apa yang Terjadi)

Deskripsi adalah rangkuman masalah yang diselidiki yang

terjadi dalam masalah kasus/peristiwa, yang membutuhkan sikap

objektif peneliti dan menghindari masalah interpretasi. Deskripsi

menggabungkan perspektif bercerita dan pelaporan. Untuk menentukan

kualitas penjelasan, perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:

1. Orang lain dapat membaca kejadian tersebut dan memahami

apa yang terjadi.

44
SAGST, Studi Pastoral I Sumut, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1985), 11-12.
45
Tj. G. Hommes dan Gerrit E. Singgih, Teologi dan Praktis Pastoral: Antropologi Teologi Pastoral,
(Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1992), 65.
16

2. Padat, Hanya informasi yang berkaitan untuk pemahaman

situasi.

3. Kasus harus berisi informasi yang cukup untuk membantu

kita mempersempitnya. Tidak selalu panjang, tapi cukup.

4. Objektif, pelengkap dari subjektivitas.

5. Alur cerita yang hidup, sebuah kasus, baiknya harus bisa

"menghidupi" situasi pembaca. 46

[Link]. Analisa (Mengapa Terjadi)

Analisis merupakan upaya untuk secara cermat dan kritis

merefleksikan deskripsi kasus, dengan memperhatikan dinamika yang

terdapat dalam kasus tersebut.47 Analisis mencoba menemukan elemen

kunci dalam kasus tersebut yang mengidentifikasi dan menanggapi

faktor sosial budaya yang mempengaruhi dan membentuk emosi, motif,

dan perilaku mereka yang terlibat dalam insiden tersebut. Pemahaman

bukanlah tujuan analisis, tetapi kita juga harus mencari maknanya, yang

didasarkan pada keyakinan Kristen dan terkait dengan doktrin Kristen.

[Link]. Interpretasi Masalah

Interpretasi masalah adalah langkah ketiga dalam metode studi

kasus. Upaya penyesalan ini melibatkan penjelasan kasus dan interpretasi

hasil analisis, dari sudut pandang teologis dan dari ilmu-ilmu lain dalam

46
SAGST, Studi Pastoral I Sumut, 11-12.
47
SEAGST Institute Of Advanced pastoral Studies Bersama Panitia Metode Studi Kasus, NTT, Studi
Kasus Pastoral II, NTT, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1990),20.
17

arah yang sama atau berlawanan.48 Pada tahap ini, peneliti menarik

kesimpulan dari kasus yang diteliti dari sudut pandang kepercayaan

Kristen atau teologis dengan menafsirkan logika penelitian dan membuat

keputusan tentang kasus yang diteliti. Interpretasi adalah interpretasi

terhadap uraian hasil analisis kasus dari sudut pandang teologis atau etika

pastoral, dan bagaimana etika pastoral menjawab pertanyaan tersebut.

[Link]. Aksi Pastoral (Apa yang Bisa Dibuat)

1.6. Sistematika Penulisan

BAB I : Pendahuluan

Dalam Bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, identifikasi

masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat

penulisam, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II : Deskripsi dan analisa kasus

Berisi tentang penjelasan kasus yang dialami oleh Angela yang mengalami

Inner Child, serta menganalisa kasus tersebut secara objektif.

BAB III : Interpretasi

Kasus yang telah dianalisa kemudian diolah dengan pandangan iman Kristen

terhadap Angela yang mengalami Inner Child dalam rangka menurunkan kemarahannya

dan menghentikan perilaku menyakiti dirinya sendiri.

BAB IV : Aksi pastoral

48
Ibid, 207.
18

Aksi pastoral berisikan tentang tindakan pastoral yang dilakukan terhadap

Angela yang mengalami Inner Child dalam rangka menurunkan kemarahannya dan

menghilangkan perilaku menyakiti dirinya sendiri. Tahapan ini juga memanfaatkan apa

yang dihasilkan, dianalisa, dan diinterpretasi.

BAB V : Kesimpulan dan Saran.

BAB II

DESKRIPSI DAN ANALISA KASUS


19

2.1. Deskripsi
1. Angela lahir pada tanggal 22 Mei 2001. Angela merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara.

Dia memiliki 2 orang saudara laki-laki yaitu Billy, dan Calvin. Sejak dalam masa kandungan

orang tuanya sangat menginginkan anak sepasang, hanya satu laki-laki dan satu perempuan,

namun disaat anak kedua lahir orang tuanya mendapati bahwa yang lahir adalah laki-laki, lalu

disaat

5. Angela lahir orang tuanya sudah merasa cukup karena sudah memiliki anak perempuan.

Angela lahir dalam keluarga yang sederhana, Ayahnya membuka usaha bengkel di rumah dan

ibunya bekerja di bank, akan tetapi Angela dan kedua saudaranya mengalami sakit-sakitan

saat masi kecil, yang mengakibatkan ibunya harus meninggalkan pekerjaannya demi menjaga

anak-anaknya.

10. Hal ini menyababkan terganggunya keuangan pada keluarga dan memaksa ibu Angela

membuka toko kelontong di dalam rumahnya. Karena pekerjaan ini membuat bapak Angela

menjadi tempramental. Ayah Angela tidak bisa mengatur emosinya dalam rumah tangga,

sehingga ibu Angela sering dipukul oleh suaminya.

15. Walaupun sempat berpikiran untuk berpisah, orang tua Angela tetap berusaha untuk

kembali akur lagi agar rumah tangga bertahan. Temprament Ayahnya tidak hanya terkena

kepada ibu Angela saja, namun juga terkena terhadap anak-anaknya. Angela dan kedua

abangnya juga sering dipukul walau masalah itu sepele.

20. Seperti pada saat nilai belajar anak-anaknya dilihat menurun orangtuanyapun melakukan

kekerasan terhadap anaknya sampai pada akhirnya mereka ditelanjangi. Kekerasan yang

dialami Angela berdampak terhadap nilai sekolah Angela yang selalu menurun hingga ia SMP

(Sekolah Menengah Pertama), dan dalam pertemanan sehari-hari Angela tidak banyak

membuka diri.
20

21. Dalam berteman dan berinteraksi dengan lainnya sangat sulit mengungkapkan apa yang

ingin ia katakan. Tidak hanya kekerasan fisik yang didapatkan oleh Angela namun kekerasan

verbal oleh orangtuanya yang sangat membuat Angela merasa sakit hati dan merasa tidak

dihargai sebagai anak, disaat perkataan orang tuanya adalah Angela disebut sebagai anak sial

dan berharap kalau Angela tidak pernah lahir.

25. Di saat ia menerima kekerasan verbal tersebut awalnya ia tidak pernah melawan lama-

lama Angela pun mencoba untuk memberontak orang tuanya sendiri. Tidak hanya orangtua,

namun abangnya Billy meniru orang tuanya untuk melakukan kekerasan terhadap Angela,

Sejak kelas 1 SD (Sekolah Dasar) hingga ia dewasa Angela juga diperlakukan sangat kasar

oleh abangnya.

30. Angela dipukuli hingga terluka, bahkan dicekek lehernya sampai ia menangis, hal ini

tidak hanya sekali saja dialami Angela, namun berkali-kali, abang Angela melakukannya

tanpa sebab. Di saat kelas 5 SD gigi Angela putus, dan bibir Angela koyak sampai akhirnya

dijahit Hal ini yang masih sangat membekas di memori Angela, bahkan disaat kamar Angela

ia kunci.

35. Abangnya berusaha untuk masuk kekamar Angela dengan manjat dinding kamar Angela

hingga berhasil dan langsung memukuli Angela kembali hingga abangnya puas. Dirumah ia

tidak bercakapan dengan abangnya, ia merasa sendirian dirumah. Saat ini abangnya Angela di

Jakarta untuk bekerja, sehingga Angela merasa aman berada di rumah, karena tidak akan

mendapat perlakuan kasar dari abangnya lagi.

40. Walaupun hal ini sudah dilaporkan ke orang tuanya Angela, dan orang tua Angela

memarahi abang dan Angela juga. Sampai pada akhirnya Angela jenuh dikasari oleh

Abangnya ia tidak melapor kesiapa-siapa lagi. Pernah terlintas dipikiran Angela ia ingin
21

membunuh abangnya, namun karena Angela tahu hukum Indonesia ia tidak jadi

melakukannya.

45. Tiap ia berjumpa dengan abangnya ia merasa tidak nyaman. Angela menyimpan

semuanya sendiri, ia mulai mencoba untuk melukai dirinya sendiri, dengan cara mengoreskan

pisau tajam ke tangannya hingga terluka, ia juga mencabut rambutnya hingga mulai botak, hal

ini di sadarinya.

50. Angela tidak merasakan sakit sama sekali ketika melakukan itu. kejadian ini tidak hanya

dilakukan sekali saja, namun berkali-kali sampai pada akhirnya ia ingin melakukan bunuh diri

dengan pisau serta sudah sempat naik ke lantai 5 untuk loncat dari gedung rumahnya namun

hal ini tidak jadi karena ia merasa takut untuk melakukannya.

55. Hal ini hingga sampai sekarang orang tuanya bahkan keluarganya tidak tahu bahwa

Angela melukai dirinya seperti itu. Luka goresan yang Angela miliki masih ada bekasnya

hingga sekarang, ketika ia melakukan itu, ia pasti selalu menutupinya dengan baju tertutup

agar tidak di ketahui siapapun.

60. Hal inilah yang membuat Angela tidak bisa akrab dengan Orang tua maupun Abangnya

Angela. Di keluarga Angela, orang yang paling dekat dengannya adalah Poponya (Nenek) dan

Angela sangat menyayangi Poponya semasa hidupnya. Namun sayang Popo Angela sudah

meninggal di bulan Agustus 2021.

65. Sewaktu SMP penulis dan Angela adalah teman satu kelas dan sebangku. Sewaktu SMP

penulis dan Angela memiliki kesamaan dalam hobby seperti menari, peragaan busana dan

menggambar, walaupun punya hobby yang sama dan sering berbagi ilmu yang kami punya

penulis dan Angela juga sering berantam hingga terluka.

70. Hal ini kami lakukan karena kami bisa digolongkan anak yang sama-sama keras, dan bisa

dibilang cukup tomboy (kelakuan seperti laki-laki). Penulis dan Angela semasa SMP sering
22

mengajak Angela untuk menemani penulis bergereja. Di saat itu orang tuanya dan orang tua

penulis saling kenal, jadi kemanapun kami pergi bersama kami selalu mendapatkan izin dari

orang tua kami, termasuk pergi ke gereja.

75. Walaupun Angela Agama Budha, saat penulis mengajaknya ke gereja, orang tuanya

memberi Izin untuk Angela ikut pergi ibadah bersama penulis tiap minggu. Pada saat SMK 49

penulis dan Angela sudah tidak terlalu intens bertemu, dikarenakan kami sudah pisah sekolah,

ketika kuliah kami berdua kembali menjalin hubungan kami lagi tepatnya di ulang tahun

Angela 22 Mei 2021.

80. Pada saat orang tua Angela melihat kedatangan penulis ke rumah, mereka sempat tidak

mengenal penulis sehingga mengeluarkan tatapan aneh, dan menanyakan langsung Agama

penulis apa, penulis menjawab Kristen dan mereka langsung berbahasa daerah yang penulis

tidak tau apa artinya sebelum Angela cerita kepada penulis.

85. Sesampainya di kamar Angela ia bercerita bahwa ia berantam dengan orang tuanya karena

ia mau pindah agama ke Kristen, bukan karena ia pacaran atau berteman dengan orang

Kristen, namun di saat ia beribadah di gereja ia merasakan Firman Tuhan itu benar. Tidak

lama Angela bercerita kami langsung bergegas untuk kerumah Popo untuk merayakan ulang

tahun Angela di rumah Poponya.

90. Sesampainya di rumah Popo Angela, penulis ikut merasakan kasih sayang yang diberi

poponya ke Angela, penulis melihat Poponya memasakkan makanan yang sangat enak untuk

Angela, yaitu ayam goreng yang sangat enak menurut penulis yang belum pernah penulis

rasakan. Sambil menikmati masakan Popo Angela, penulis mendengarkan cerita Angela

kembali.

49
Singkatan dari Sekolah Menengah Kejuruan.
23

95. Angela mengalami pergumulan tentang pacaran beda Agama dan ingin pindah Agama. Ia

bercerita bahwa ia sempat mau diusir karena hal itu, hal itu dianggap membuat malu keluarga

kalau sempat itu terjadi, dan Angela tidak akan dianggap lagi sebagai anak. Ketika penulis

dan Angela masih bercerita, Popo Angela langsung bertanya kepada penulis.

100. Tentang Agama, suku penulis dan sejak kapan berteman bersama penulis, dan Poponya

langsung berkata kepada penulis “Jangan bawa cucu saya ke Kristen”, mendengar hal itu

penulis sangat kaget dan heran, padahal penulis tidak pernah mengajak Angela ke Kristen

walaupun penulis sempat mengajak Angela beribadah di Gereja sewaktu SMP(Sekolah

Menengah Pertama).

105. Namun penulis tetap menghargai Agama Angela tanpa mengajaknya sama sekali untuk

menjadi Kristen. Ketika Popo Angela berkata seperti itu, Angela langsung menjelaskan

kepada popo Angela bahwa ia mau menjadi Kristen atas kemauannya sendiri, dan popo

Angela langsung bercerita bahwa dulu ada anaknya juga pindah Agama, dan langsung

disingkirkan oleh keluarga Angela.

110. Hal ini yang poponya tidak mau hal itu terjadi kepada Angela, karena poponya sangat

sayang dengan Angela.

2.2. Genogram Keluarga Angela

Pohon keluarga atau genogram adalah alat berupa peta skema (visual map) dari

silsilah keluarga klien. Biasanya mencakup nama, usia, riwayat pernikahan, riwayat keluarga,

anak-anak, keluarga rumah tangga, penyakit tertentu, usia saat meninggal, dan pekerjaan.

Genogram membantu konselor dan klien mendapatkan informasi tentang klien dan keluarga

mereka, serta kualitas hubungan antar keluarga. Gonogram adalah biopsi pohon keluarga yang
24

mencatat siklus hidup keluarga dan riwayat kesehatan keluarga yang merawat. Selain itu, ada

informasi tentang hubungan emosional keluarga, jarak, dan konflik. Genogtam juga

membantu meningkatkan kesadaran akan kekerasan dan penolakan keluarga.50

Informasi tambahan tentang Natalia dan keluarganya dapat dilihat dalam genogram

keluarga Angela

Keterangan genogram :

: Laki-laki

: Perempuan

: Angela

: Meninggal

: Pindah Janin

[Link] Angela

Ayah Ibu

Angela

[Link] Angela dari Garis Keturunan Ayah

50
Jaharianson Saragih Sumbayak, Psychodelsi, (Medan : CV. Sinarta, 2019), 33-34.
25

Kakek Angela Nenek Angela

Ayah Angela Ibu Angela

Angela

Keterangan genogram Angela dari garis keturunan Ayah:

1. Nenek Angela meninggal pada saat umur 65 Tahun.

2. Kakek dan Nenek Angela mengambil Anak Angkat Perempuan

Keluarga Angela sangat menginginkan keturunan yang lengkap

yakni terdapatnya anak laki-laki dan perempuan, jika belum maka

mereka akan mengangkat seseorang menjadi anaknya. Anak angkat

Kakek serta Nenek Angela berusia 35 tahun dan belum menikah.

[Link] Angela dari garis keturunan Ibu

Kakek Angela Nenek Angela

Ayah Angela Ibu Angela

Angela

Keterangan genogram Angela dari garis keturunan ibu:

1. Kakek Angela meninggal di usia 85 Tahun, dan Nenek Angela

Meninggal di usia 74 Tahun.

2. Anak ke tiga dari Kakek dan Nenek Angela menikah dua kali. Istri

yang pertama sudah cerai, dan menikah lagi dengan wanita lain, namun

diketahui keluarga ini juga tidak akun, hingga hampir cerai.


26

3. Anak ke 4 dari Kakek dan Nenek Angela sampai sekarang belum

menikah

4. Nenek Angela mengalami keguguran pada saat mengandung anak

nomor

5. Anak pertama dari Kakek dan Nenek Angela pindah Agama ke Islam,

Anak ke 3 dari Kakek dan Nenek Angela awalnya pindah ke Islam

karena menikahi istri 1, lalu pindah ke Kristen ketika menikahi istri ke

2, namun karena kondisi keluarga ini kurang baik jadi ia sembayang

Buddha namun status masih Kristen.

Dari genogram diatas, cucu dari Kakek dan Nenek Angela belum ada

yang menikah.

II.3. Kasus yang Pernah Terjadi Tentang Inner Child Seperti yang
Dialami Angela

Di bawah ini adalah hasil dari dua penelitian tentang inner child yang seperti dialami

Angela. Hal ini menunjukkan bahwa jika inner child tidak ditangani dengan serius, bahkan

dapat merugikan dirinya sendiri dan hubungan dengan orang-orang di sekitarnya, yang dapat

berakibat sangat serius.

1. Keterkaitan pola asuh dan inner child pada tumbuh kembang anak51

Minatul Nur Laela dalam penelitianya ia melibatkan orang tua dalam mendidik anak

dengan pola asuh yang berbeda pada usia 4-6 tahun dari 10 keluarga yang ada di dusun

Simbata Kulon, Desa Simbata, Nguntorinadi, Magetan. Hasil dari penelitian yang dilakukan

51
Annisa Permata Dewi, Pengaruh Parenting Self-Efficacy dan Child Temperament Terhadap Parenting
Stress, Halaman 16-17, diakses pada 2 April 2022, Pukul 16:49 WIB, yang diakses dari
[Link]
%[Link].
27

dari 3 orang tua dengan pola asuh yang berbeda. Setelah dilakukan penelitian orang tua

menggunakan 3 pola asuh yang berbeda yaitu :

a. Encounter Group Parent merupakan kelompok orang tua yang memiliki relasi yang

baik dan sangat di senangi dalam sosialnya sibuk dalam urusan yang lain namun tidak

memperhatikan rumah tangganya. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan pada orang tua

ini dalam pengasuhan pada kurang adanya perhatian dan sering memberikan contoh yang

tidak pantas untuk ditiru oleh anak. Contoh orang tua ini lebih sering melakukan rumpi

dengan tetangga lain sehingga anak tidak dipedulikan oleh orang tua ketika sudah bertemu

dengan orang lain. Akibatnya, anak mereka tidak di perhatian dan melampiaskan rasa

kekesalan mereka dengan kenakalan seperti sering menganggu temannya bermain, membuat

keributan ketika bermain, dan sering melakukan hal yang tidak wajar.

Penyebabnya kembali ke pola asuh orang tua yang tidak mengasuh anaknya, mereka

mencari perhatian orang lain untuk mendapatkan perhatian orang tuanya. Yang terjadi

kemudian adalah anak dimarahi oleh orang tua, memberikan tekanan pada anak, dan anak

menjadi marah. Akibat marah, anak menyalurkan marahnya pada sesuatu hal yang tidak

wajar, sehingga emosi anak terarah, namun bukan dengan cara yang baik.

Sama halnya seperti Angela, ia mendapat pola asuh orang tua Encounter Group

Parent di mana marah Angela tidak tersalurkan dengan baik, disaat keluarga adalah tempat

untuk berbagi cerita, untuk menjadi tempat dimana Angela merasa dimengerti, namun ia tidak

mendapatkan hal tersebut, ia diabaikan sehingga amarahnya selalu ia simpan sendirian.

b. Pola Asuh Authoritarian adalah Salah satu jenis pola asuh yang diberikan

orang tua kepada anaknya adalah bentuk tuntutan yang memberikan reaksi

kecil kepada anak terhadap apa yang diinginkan oleh anak. Pola asuh

outhoritarian atau oteriter ini memberikan pengasuhan berupa tuntutan,

hukuman, dan perintah yang dilakukan anak tanpa memberikan


28

kesempatan kepada anak untuk berbicara. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa beberapa ciri anak yang mengalami inner child akibat pola asuh

otoriter adalah:Anak kurang percaya diri dalam mengambil keputusan dan

menentukan pilihan yang diminati.

1. Anak patuh karena takut, bukan karena adab yang telah ada dimana

yang muda mengormati yang tua.

2. Anak merasa tertekan dengan segala pilihan yang diberikan orang tua

sehingga dia belajar bukan karena bisa dan suka tapi tuntutan sehingga

dia tidak akan berkembang sesuai keinginan.

3. Orang tua menuntuk anak mandiri, namun orang tua tidak tau apa yang

menjadi masalah dalam diri anak. Pola asuh yang seperti ini sangat

menghambat perkembangan anak dalam beberapa bidang yang menjadi

potensi yang bakatnya.

c. Pola asuh otoritatif pola asuh ini sangat baik digunakan dalam mendidik

anak. Pola asuh ini dilakukan atas permintaan, memberikan batasan,

mengontrol, menerima dan mendengarkan keinginan anak, serta dengan

penuh kasih menanggapi kehangatan keluarga.

Anak-anak yang dibesarkan dalam pola asuh ini menghasilkan

beberapa kepribadian yang sangat baik, antara lain:

1. Anak-anak mengikuti aturan yang ditetapkan, tetapi bebas untuk

mengeksplorasi dalam batas-batas yang ditetapkan.

2. Ada juga hukuman bagi anak yang melanggar hukum.

3. Anak-anak didukung oleh orang tua mereka untuk keuntungan

mereka.
29

4. Anak dapat meminta pendapat orang tua dan menerima saran dan

kritiknya sehingga kedua belah pihak dapat menerimanya dengan

baik dan mengambil keputusan yang matang.

2. Kesadaran Inner Child Dalam Komunikasi Interpersonal Di Kalangan Santri Pondok

Pesantren Annasyiah Al-Jadidah52

Farida I’ana, atau Farida. Santri yang lahir di Bojonegoro pada 18 Desember 2002 ini

terlahir sebagi anak pertama dari dua bersaudara. Ia memiliki pengalaman masa kecil yang

menegangkan, pasalnya Ibunya sering memarahinya sampai memukul menggunakan sapu dan

pernah hampir diceburkan ke sumur sebab malas belajar dan bertengkar dengan adiknya.

Serta memiliki sosok ayah yang sangat cuek dan keras kepala. Apabila Farida berbicara

panjang dan lebar, ayah Farida hanya memberi respon dengan melihatnya saja, tidak ada

feedback komunikasi verbalnya. Tetapi, ayah Farida sangat teliti dalam segala hal, terlebih

lagi masalah uang. Sifat teliti dari ayahnya ini lah yang mengalir deras dalam darah farida.

Farida kini menjadi bendahara di pondok pesantren.

Farida dewasa berusaha merangkul Farida kecil yang kebutuhan komunikasi verbal

bersama orang tuanya belum terpenuhi dengan cara mengambil hikmah dari sisi positif yang

diajarkan oleh ayahnya serta mengajarkan Farida kecil untuk menerima masa lalu yang telah

dilaluinya. Dengan memahami karakter ayahnya, Farida dapat memahami dirinya sendiri

juga, bahwa tidak ada orang tua yang tidak peduli kepada anaknya. Kepedulian orang tua

terhadap anaknya dilakukan atau dibuktikan dengan berbagai cara. Tergantung bagaimana

melihat dari sudut pandang yang mana. Selain itu, dilihat dari sisi ayah Farida yang jarang

memberikan respon verbal ketika Farida berbicara ternyata memberikan dampak pada Farida.

Secara tidak langsung apa yang ayah Farida lakukan menjadi long term memory tersendiri

52
Khosyi’atul Hamidah, Kesadaran Inner Child Dalam Komunikasi Interpersonal Di Kalangan Santri
Pondok Pesantren Annasyiah Al-Jadidah, Halaman 51-52, diakses Rabu, 6 April 2022, Pukul 17:44 WIB, yang
diakses dari [Link]
30

pada Farida. Sehingga tidak jarang Farida melakukan hal yang serupa ketika terlibat interaksi

dengan santri lain di pondok pesantren.

Kasus Farida serupa dengan Angela, dimana Angela mengalami kekerasan oleh

keluarganya, dan apapun yang Angela katakan seperti hanya ia hadapin sendirian tanpa

dukungan siapapun, hal itu yang membuat Angela tidak dekat dengan keluarganya, serta

tanpa Angela sadari ia mengurangi dan membatasi diri dalam memperhatikan keluarganya.

2.4. Analisa Kasus

2.4.1. Inner Child

[Link]. Pengertian Inner Child Secara Umum

Anak batin atau Inner Child adalah konsep yang biasa

digunakan untuk menggambarkan "sifat kekanak-kanakan" seseorang.

Konsep ini juga mengacu pada sikap anak terhadap orang, terutama orang

dewasa. Umumnya setiap orang memiliki inner child yang berbeda-beda

karena terbentuk dari pengalaman masa kecil.53

Konsep Inner Child atau anak batin telah menjadi bagian dari

budaya dunia kita setidaknya selama dua ribu tahun. Carl Jung menyebutnya

"Anak Ilahi" dan Emmet Fox menyebutnya "Anak Ajaib". Psikoterapis Alice

Miller dan Donald Winnicott menyebutnya sebagai "diri sejati". Rokelle

53
Rizal Fadli, Tand-tanda Inner Child yang Sedang Terluka, Diakses pada Selasa, 05 April 2022, Pukul
23.05 WIB, yang diakses dari [Link]
terluka.
31

Lerner dan lain-lain di bidang ketergantungan kimia menyebutnya "anak

batin” Atau Inner Child.54

[Link]. Pengertian Inner Child Menurut Psikologi

Perilaku seperti anak-anak dan bermain-main adalah dan harus

menjadi bagian dari kehidupan orang dewasa yang sehat. Saat itulah pola

perilaku muda dan pembelajaran prosedural tentang kehidupan menjadi

terkunci dan tidak dapat diakses untuk pertumbuhan bahwa mereka menjadi

disfungsional. Saat itulah pola kekanak-kanakan menjadi pola disfungsional

atau EDP yang mengakar. Ketika seorang anak harus mengatasi masalah yang

tidak terpecahkan, katakanlah sebuah keluarga di mana orang tua berada

disibukkan dengan saudara yang sakit, solusi anak adalah berhenti tumbuh

secara emosional.

Kebutuhan tidak bisa dihilangkan tetapi mengeluh kepada orang

tua tidak pantas, sehinggaanak, pada dasarnya, berhenti memproses

kebutuhan emosionalnya. Keinginan yang belum terpenuhi tetap ada

membeku seperti di masa kanak-kanak, terhalang oleh rasa malu, dan anak

batin menunggu seseorang untuk datang yang mengerti dan siap untuk

memenuhinya. Cara paling ampuh untuk mengenali tanda tangan anak di

dalam adalah dengan menyadari bahwa anak-anak tidak hanya memiliki cara

yang berbeda dalam melihat dunia, tetapi juga pendekatan masalah secara

berbeda. Sebagian besar psikologisnya memang seorang anak, namun

terjebak menunggu dan tidak bisa bergerak maju.55

54
Charles L. Whitfield, Healing the Child Within : Discovery and Recovery for Adult Children of
Dysfunctional Families, (Florida: Health Communications, 1987), 1.
55
Working with the Inner Child, 144
32

[Link]. Perspektif Alkitabiah Mengenai Inner Child56

Menurut Jay Adams secara Alkitabiah suatu kehancuran di

masa alu, merupakan kesempatan nouthetis untuk kembali citra sesuai dengan

asas-asas Alkitab. Dari sudut pandang teologi Alkitab, dosa membuat

manusia kehilangan kebutuhan dasar yang sesungguhnya. Karena manusia

sudah terpisah dengan Allah (Kej. 3). Sejak saat itu manusia selalu mencari

rasa aman, harga diri serta makna hidup menurut kekuatannya sendiri. Dalam

Alkitab Mefiboset adalah salah satu tokoh Alkitab yang memiliki Inner

Child.

Berkatalah Daud, “Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga

saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan”

(2 Samuel57 9:1). Kemudian Ziba menunjukkan kasihnya kepada Mefiboset.

Anak Yonatan itu boleh makan sehidangan dengan Raja Daud. Dengan

demikian Daud mengenapi janjinya kepada Yonatan (1 Sam. 20:1-43).

Kebutuhan dasar manusia dapat juda dipenuhi melalui penerimaan komunitas

orang percaya. Mefiboset dapat dipulihkan karena diterima Daud sebagai

anaknya sendiri. Diterima oleh sesama bagi orang yang bergumul dengan

konsep diri yang rendah dapat memulihkan kembali citra dirinya dengan

kehendak Allah.

Kebutuhan dasar manusia hanya dapat dipenuhi Allah melalui

Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit bagi orang berdosa. Untuk

mengatasi masalah citra diri yang terganggu maka kita harus bersikap rendah

56
Sontenis Nggebu, 70 Garis Besar Khotbah Biografi Para Tokoh Alkitab, (Bandung: Biji Sesawi,
2011),185-188.
57
Disingkat menjadi Sam
33

hati kepada Allah. “Karena hanya Dia yang mampu mendamaikan diri kita

dengan diri-Nya”; “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Korintus 58

5:18-20). Karena hanya Allah saja yang sanggup menolong dan

memampukan kita menikmati citra diri yang sejati.

[Link]. Tokoh Alkitab Mengalami Inner Child yang


Terluka59

Mefiboset

Yonatan mempunyai anak yang bernama Mefiboset, Mefiboset

adalah cucu saul. Di saat terjadinya pertempuran hebat antara Israel dengan

orang Filistin (1 Sam. 31:1-13). Ayah dan kakeknya terbunuh. Pada saat

kekacauan kegentingan politik, pengasuh Mefibose berusaha

menyelamatkannya, tetapi ia terjatuh sehingga kakinya pincang (2 Sam.

4:4;9:13).

Dari kejadian diatas Mefiboset telah mengalami Inner Child

yang membentuk konsep dirinya. Konsep yang dibentuk ia menganggap

bahwa dirinya “tidak berarti apa-apa dan menganggap ia hanya seperti seekor

anjing mati saja”. Kebutuhan dasar Mefiboset sebagai manusia tidak

terpenuhi, ia kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Harga diri, makna

hidup menjadi kabur. Begitu juga dengan kecatatan fisik yang mempengaruhi

citra dan hidup yang menyimpang yang membuat semangatnya patah. Merasa

tidak aman, rasa takut, tidak berharga, berduka, rasa tidak dikasihi tampak

58
Disingkat menjadi Kor
59
Sontenis Nggebu, 70 Garis Besar Khotbah Biografi Para Tokoh Alkitab, 185-188.
34

menguasai Mefiboset. Emosi negatif yang Mefiboset punya inilah yang

tertanam dalam alam bawah sadarnya.

[Link]. Faktor-faktor Penyebab Inner Child

Dr. Larry Crabb, ia adalah seorang konselor rohani yang

mengatakan bahwa ada tiga komponen kebutuhan dasar manusia, yaitu harga

diri, rasa aman serta makna hidup. Bila terpenuhi ketiga kebutuhan dasar

maka seorang dapat mengaktualisasikan dirinya secara sehat yang nantinya

menunjang pertumbuhannya. Dan apabila ini tidak terpenuhi, kehidupannya

akan menjadi menyimpang dari tujuannya.60

Beberapa peristiwa yang dapat menyebabkan inner

child seseorang terluka:

1. Kehilangan orang tua.

2. Pernah dilecehkan secara fisik.

3. Pernah diabaikan secara emosional.

4. Pernah mengalami pelecehan seksual.

5. Sakit parah.

6. Pernah ditindas.

7. Pernah mengalami bencana alam.

8. Pernah mengalami perpisahan dalam keluarga.

9. Pernah menjadi korban kekerasan.

10. Pernah mengalami penyalahgunaan zat dalam rumah tangga.

11. Ada anggota keluarganya yang dulu punya penyakit mental.

60
Sontenis Nggebu, 70 Garis Besar Khotbah Biografi Para Tokoh Alkitab, 185
35

12. Pernah menjadi pengungsi.

13. Merasa terisolasi atau dijauhkan dari keluarganya.61

[Link]. Dampak Inner Child

Dampak yang terjadi antara lain sebagai berikut:

1. Mudah menyakiti dan melukai diri sendiri.

2. Perilaku yang merugikan diri sendiri.

3. Punya perilaku pasif-agresif, ketika marah atau kecewa

cenderung dipendam.

4. Punya sikap kasar yang mengarah kepada kekerasan.62

[Link]. Dampak Inner Child Secara Psikologi

Pengalaman Inner Child yang buruk dan tidak dapat diatasi akan

menyebabkan Depresi psikologis yang membuat keadaan jantung seperti di

tekan kebawah dan tidak dapat memperoleh kesenangan. Yang akan

memperoleh rasa bersalah, kesedihan, dan tidak memperoleh harapan yang

menyebar.63

Keadaan ini akan sangat berdampak bagi Fisik, Pikiran, Keinginan,

Emosi, dan roh yang menjadi sumber kebutuhan batin kita yang terdalam. Hal

61
Novita Asavasthi, Kenali, Sadari, dan Atasi Luka Inner Child, diakses pada Rabu, 23 Februari 2022
Pukul 09.14 WIB, yang diakses dari [Link]
atasi-luka-inner-child.
62
Novita Asavasthi, Kenali, Sadari, dan Atasi Luka Inner Child, diakses pada Rabu, 23 Februari 2022
Pukul 10.14 WIB, yang diakses dari [Link]
atasi-luka-inner-child.
63
June Hunt, Pastoral Konseling Alkitabiah: Menjawab Isu-isu Etika Sekuler Masa Kini I, (Yogyakarta:
ANDI, 2014), 244.
36

ini juga bisa menghilangkan semangat dari tingkatan sedan hingga putus asa

terus-menerus.64

[Link]. Dampak Inner Child Secara Rohani

Setiap manusia memiliki tubuh yang merupakan fisik seperti

tulang, daging, dan darah, memiliki jiwa yang adalah kepribadian dan tingkah

laku seperti pikiran, emosi dan kemauan, serta manusia memiliki roh yang

adalah bagian terdalam yang perlu diselamatkan, hal ini ialah seperti kasih,

perasaan berarti, ketentraman, dan bagi seorang percaya, roh manusia

merupakan rumah Roh Kudus.65

Penyebab umum dari Inner Child adalah perasaan terpendam

yang disebabkan oleh kejadian pada masa lalu, perasaan diabaikan atau

ditolak tidak akan ilang, perasaan itu terkubur jauh di dalam jiwa, yang akan

membusuk dan akan menginfeksi serta menghasilkan racun dalam tubuh.

Oleh karena hal ini perlu menghadapi dan mengendalikan perasaan ini,

dengan membawa dan kengeluarkan rasa sakit hati, kecemasan, kemarahan

kepada Yesus dan mencoba untuk memahami, menerima penghiburan-Nya.66

2.4.2. Kemarahan

[Link]. Pengertian Kemarahan Secara Umum

64
A. Grunland Stephen and H. Lambrides Daniel, Healing Relatonship:
A Christian’s Manual for Lay Counseling, (Camp Hill, PA: Christian Publications, 1984), 121.
65
June Hunt, Pastoral Konseling Alkitabiah: Menjawab Isu-isu Etika Sekuler Masa Kini I, 268.
66
Ibid, 277.
37

Istilah kemarahan berasal dari kata "marah". Ini berarti ledakan

emosi yang terjadi ketika seseorang dipojokkan, dihina, atau diperlakukan

dengan cara yang merusak harga diri seseorang, atau karena frustrasi. Marah

adalah suatu kondisi emosional yang dapat dialami oleh siapa saja pada waktu

tertentu, dan dapat disembunyikan atau terbuka, jangka pendek atau jangka

panjang, dalam bentuk kebencian, balas dendam, dll.

Kemarahan terjadi selama perjalanan hidup ketika

mengalami kesulitan mencapai apa yang di inginkan. Hambatan ini

mempengaruhi respon fisik dan emosional yang terlibat.67 G.S Gates pada

jurnalnya yang berjudul “An Observational Study of Anger”dalam

researchnya membuktikan bahwa 80% kemarahan yang dialami disebabkan

oleh sikap dan perbuatan oranglain karena peristiwa tertentu68

[Link]. Pengertian Kemarahan Menurut Psikologi

Kemarahan sering dikaitkan dengan emosi negatif yang tidak

baik untuk kesehatan mental Leon F. Selzer, pakar psikologi kemarahan dan

trauma di Amerika Serikat, menyatakan bahwa kemarahan adalah bentuk

pertahanan terakhir jika tidak ada yang bisa berpikir jernih. Kemarahan

biasanya terjadi ketika orang lain memberikan stimulus negatif berupa

provokasi, komentar negatif, atau perilaku fisik yang membuat orang tersebut

tidak nyaman. Selzer juga menyatakan bahwa otak merespon rangsangan

eksternal dengan cara yang direkam oleh peristiwa yang dialami

sebelumnya.69

67
E.P. Gintings, Konseling Pastoral, (Bandung : IKAPI, 2009), 97-98.
68
Yakub B. Susabda, Pastoral Konseling (Jilid Dua), (Malang: Gandum Mas, 1996), 8.
69
Era Findiani, Berdamai Dengan Rasa Marah (TK: Anak Hebat Indonesia, 2020), 18-19.
38

[Link]. Perspektif Alkitabiah Mengenai Kemarahan

Dalam Mazmur 37, Daud marah, ia marah pada kejahatan orang

yang tidak jujur dan jahat. Tuhan menyuruhnya untuk menahan amarahnya.

Bukan karena kemarahan itu sendiri yang salah, tetapi karena tidak ada

gunanya. Marah itu sendiri tidak salah, terkadang amarah sangat bermanfaat.

Kemarahan dapat memberikan keberanian dan menghilangkan kemungkinan

ketakutan. Tetapi jika dibiarkan, kemarahan dapat menyebabkan kebencian

(Kain, Saulus, orang Farisi).70

[Link]. Faktor-faktor Penyebab Kemarahan

G.S Gates pada jurnalnya yang berjudul “An Observational

Study of Anger”dalam researchnya membuktikan bahwa 80% kemarahan

yang dialami disebabkan oleh sikap dan perbuatan oranglain karena peristiwa

tertentu, namun sebenarnya kembali lagi pada pribadi itu sendiri. Adapun

Faktor penyebab adalah:

1. Perasaan terhadap ketidak-adilan yang berlaku

2. Frustasi

Hasil riset dari L. Dollard dalam “Frustration and Aggresion”,

menyimpulkan bahwa kemarahan dan sikap menyerang timbul dari

sikap frustrasi yang adalah respon emosi yang timbul karena adanya

hambatan untuk mencapai tujuan tertentu71

3. Perasaan disakiti dan terancam.


70
Ken Campbell, 7 Emosi Perusak Jiwa, (Yogyakarta : ANDI, 2004), 50.
71
Yakub B. Susabda, Pastoral Konseling (Jilid Dua), 8.
39

Ketika seseorang merasa dirinya di rendahkan, dikritik ia akan

merasa terancam kehormatan serta haknya sehingga marah menjadi

alat untuk melindungi dirinya agar perasaan sakit dan terancam

berkurang.

4. Kebiasaan

Ada dua macam sebab terjadinya kebiasaan marah, yaitu ada

Learning Experience yang dimana sejak kecil sudah melihat dan

meniru cara menyalurkan amarah. Lalu ada Personality di sebabkan

oleh kematangan pribadi yang kurang disamping itu ada faktor

bawaan, pengalaman masa kecil dan pengaruh lingkungan, serta faktor

kepekaan terhadap reaksi yang akan dikeluarkan ketika menghadapi

situasi yang ada.72

5. Keadaan rohani yang tidak sehat

Rusaknya hubungan Allah dan manusia menyebabkan

hilangnya sukacita dan menjadi akar dari prasangka buruk apapun

atau siapapun juga.

[Link]. Gejala Amarah


Gejala kemarahan adalah otot tegang dengan mata terbuka lebar

yang muncul di wajah dengan mulut terkatup rapat. Orang kulit putih lebih

marah daripada orang kulit hitam. Karena saat sedang marah, wajah akan

berubah menjadi merah atau pucat. Terkadang mengepalkan tangan. Jantung

berdetak lebih cepat dan pembuluh darah kita membengkak. Suara sering kali

meninggi. Gejalanya sedikit berbeda tergantung pada temperamen dan

72
Ibid, 9-10
40

seberapa cepat Anda marah. Kemarahan bisa datang perlahan, tetapi bagi orang

lain itu seperti letusan gunung berapi.73

2.4.3. Menyakiti Diri Sendiri

[Link]. Pengertian Menyakiti Diri Sendiri

Menyakiti diri sendiri merupakan tindakan yang tidak

sehat untuk mengatasi perasaan sedih, kekosongan, rasa besalah

serta kemarahan. Tindakan ini dapat terjadi dalam berbagai

bentuk seperti memotong atau mencabuti rambut, mebakar kulit,

mematahkan tulang dengan tujuan menyakiti diri sendiri atau

dikenal dengan self harm. 90% orang yang melakukan tindakan

menyakiti diri sendiri ialah remaja atau pra-remaja 74

[Link]. Perspektif Alkitabiah Mengenai Menyakiti


Diri Sendiri

Menyakiti diri sendiri atau self harm secaratertulis tidak

ada di alkitab. Namun bunuh diri adalah salah satu bentuk dari

rasa depresi. Dalam sejarah Alkitab dalam Perjanjian Lama

disebutkan orang-orang yang melakukan bunuh diri sebagai

berikut: Abimelekh (Hak. 9:54), Saul (I Sam. 31:1-60, pemikul

perisai Saul (I Taw 10:5), Ahitofel (II Sam. 17:23), dan Zimri (I

73
Ken Lindner, 7 Langkah Menguasai Emosi Negatif, (Jawa Barat : IKAPI, 2019), 51
74
The Hope Line, Understanding Self- Harm and Cutting Scars Don’t Have To Last Forever, Halaman
4, Diakses pada Senin 2 Mei 2022, Pukul 11.12 WIB, yang diakses dari
[Link]
41

Rj. 16:18). Dalam Perjanjian Baru ada Yudas Iskariot (Mat 27:3-

5).75

[Link]. Faktor-faktor Penyebab Menyakiti Diri

Sendiri

Faktor penyebab menyakiti diri sendiri adalah

sulitnya mengatasi masalah yang ada seperti masalah keluarga,

kecemasan, depresi, intimidasi, trauma sebelumnya, kehilangan

orang dicintai atau pelecehan. Melukai diri sendiri diharapkan

untuk mengatasi rasa sakit emosional yang ada, namun kelegaan

yang datang hanya bersifat sementara saja. Seperti memasang

plaster pada luka yang benar-benar membutuhkan jahitan. Hal ini

mungkin menghentikan pendarahan selama beberapa menit,

namun tidak memperbaiki cedera yang mendasarinya. 76

[Link]. Dampak Menyakiti Diri Sendiri

Banyak tanda dalam menyakiti diri sendiri yang

sering sekali tidak disadari, dari memar hingga patah tulang.

Mungkin luka ini bisa ditutupi oleh pakaian berlapis, self harm

tidak bisa disepelekan karna dapat melukai diri sendiri dan

mengancam jiwa, hingga mengakibatkan bunuh diri yang tidak

75
H. Norman Wright, Konseling Krisis Membantu Orang Dalam Krisis dan Stress, (Malang: Gandum
Mas,1999), 123-124
76
The Hope Line, Understanding Self- Harm and Cutting Scars Don’t Have To Last Forever, Halaman 1,
Diakses pada Senin 2 Mei 2022, Pukul 11.30 WIB, yang diakses dari [Link]
harm-and-cutting/.
42

sengaja. Hal ini juga membuat keinginan untuk menyendiri lebih

lama di kamar tidur atau kamar mandi, ia juga akan mengalami

emosional yang intens baik di masa lalu atau saat ini.77

[Link]. Keluarga Disfungsional

Keluarga disfungsonal adalah perilaku yang tidak

benar dan tidak dewasa yang terjadi kepada orang tua, hal ini

dapat merusak individu yang baik dan sehat untuk membangun

anak dalam pertumbuhannya. Keluarga disfungsional juga

secara emosional, psikologis dan rohaninya lemah. 78 Ada

beberapa hasil dari keluarga disfungsional yaitu:

1. Keluarga yang Disfungsional akan menghasilkan keluarga

yang kacau. Keluarga banyak masalah, orang tua bingung

untuk mengambil keputusa, anak-anak diterlantarkan secara

emosional, baik rumah tangga dan individu hidup

serampangan. Hal ini akan membuat anggota keluarga tidak

ada kontak

2. Keluarga yang mengendalikan. Keluarga ini memiliki

Struktur yang kaku, nada suara yang Otoriter dan diktator,

selalu mencari kesalahan dan penuh kritik. Anak-anak yang

menyelesaikan tugas/nilai ditentukan oleh kinerja mereka.

77
The Hope Line, Understanding Self- Harm and Cutting Scars Don’t Have To Last Forever, Halaman 5,
Diakses pada Senin 2 Mei 2022, Pukul 11.30 WIB, yang diakses dari [Link]
harm-and-cutting/.
78
June Hunt, Pastoral Konseling Alkitabiah Menjawab Isu-Isu Etika Sekuler Masa Kini II, (Yogyakarta:
Andi, 2015), 357
43

Hasil dari keluarga ini adalah keluarga menjadi takut dan

tidak sensitif.

3. Keluarga yang memanjakan membuat orang tua tidak ada

wewenang, memiliki perasaan yang dilingungi,

menghindari perselisihan, dan menjadi pusat perhatian, hal

ini membuat anggota keluarga tidak disiplin.

4. Keluarga yang bergantung membuat tidak ada pengarahan

diri, orang tua merasa memiliki, anak-anak tidak dapat

berkata sesuai keinginan, terlalu memaksakan kecocokan,

meluarga ini menghasilkan anggota keluarga tidak merasa

aman.

2.5. Kesimpulan Analisa

Angela mengalami Inner Child yang terluka dimulai pada saat orang tuanya

mengalami krisis ekonomi, di mana kedua orang tuanyapun tidak dapat memperhatikan

Angela dengan penuh kasih sayang. Kekerasan verbal dan non verbal yang dilakukan oleh

kedua orang tuanya serta saudaranya sangat membuat Angela berusaha untuk melampiaskan

amarahnya dengan menyakiti diri sendiri. Marah serta menyakiti diri sendiri yang dialami

Angela adalah bentuk expresi dari inner child yang terluka. Kepahitan dalam setiap masalah

akan meracuni hati, dan orang yang merasa pahit berada akan berada di dalam kegelapan,

hilang, dan percaya pada kebohongan.79 Sehingga akan menutupi dan memendam perasaan

itu.

79
Charles R. Gerber, Kesembuhan Untuk Kepahitan hati, (Surabaya : LATM/ Gereja Jemaat Kristus
Indonesia, 2006), 111-115.
44

Apabila Inner Child tidak diperhatikan, hal ini dapat menggangu kesehatan mental dan

jiwa Angela. Bukan hanya berdampak untuk dirinya sendiri saja, namun berdampak juga bagi

orang sekitar. Bagaimana Angela bersikap dan berkelakuan seperti saat ini, ini adalah wujud

dari didikan yang diterima dari kecil, pengalaman yang diterima di masa kecil.
45

BAB III

INTERPRETASI MASALAH.

3.1. Masalah-masalah Pada Diri Angela

3.1.1. Pola Asuh Keluarga yang Keras Terhadap Angela

Keluarga adalah persekutuan antara ayah dan ibu yang sudah menikah dan bersatu.

Hidup bersama di dalam keluarga tentu akan mengalami masa suka dan duka yang datang

silih berganti. Kebahagiaan dalam keluarga akan tercipta saat masing-masing dalam anggota

keluarga dapat saling menerima satu sama lain seperti menerima dalam hal fisik, sikap,

temperamen, dan kepribadian sesama. Oleh sebab itu, penerimaan ini akan menciptakan

perasaan bahagia dan rasa simpatik antara satu dengan yang lain.80

Sebagaimana Annisa Permata Dewi mengutip pendapat Tentis, parenting stress adalah

stres yang berhubungan khusus dengan tanggung jawab ketika seseorang menjadi orang tua

yang mengalami stres dari pengasuhan dan berbagai situasi dapat mempengaruhi tingkat

stres orang tua. Sedangkan Annisa Permata Dewi mengutip pendapat dari Brannan &

Heflinger menyebutkan parenting stress diakibatkan karena kondisi anak (termasuk perilaku

anak yang menyimpang), kondisi kehidupan menyeluruh yang menimbulkan stres,

dukungan sosial, fungsi keluarga, dan sumber material. Oleh sebab itu, orang tua harus siap

menghadapi kelima hal tersebut dalam memberikan pengasuhan kepada anak. Demikian

juga Annisa Permata Dewi mengutip perkataan Cooper yang mengatakan bahwa parenting

80
Jon Riahman Sipayung, Tema-tema Kontemporer, (Medan : Sinarta, 2020), 97-104.
46

stress dialami orang tua yang berhubungan dengan pribadi dan sumber daya sosial yang ada

untuk memenuhi permintaan tersebut.81

Sebagai orang tua tentu saja bukan sesuatu yang mudah, banyak sekali halangan dan

rintangan dalam menguruh anak. Pengajaran yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya

juga tidak terlepas bagaimana dahulu ia juga diajarkan dan didik oleh orangtuanya dahulu.

Dalam mendidik seorang anak tidak bisa disamakan semua dalam memperilakukannya.

Karena setiap anak beda sifat, untuk itu sebagai orang tua perlu mendalami bagaimana

karakter dan sifat anaknya.

3.1.2. Angela Merasa Kesepian

Keluarga yang harmonis, hangat dan menyenangkan tidak di dapati Angela,

Kesepian itu muncul ketika Angela merasa kurang diperhatikan dan diperdulikan secara

emosional ketika dia tidak diberi ruang dan wadah untuk bercerita dan mengekspresikan

perasaannya karena kebutuhannya belum terpenuhi.82 Perilaku seseorang yang merasa

sendirian, tidak memiliki harga diri dan senantiasa merendahkan diri dalam segala sesuatu

hal akan mengakibatkan timbulnya rasa kebencian dan kemarahan dalam diri. 83 Oleh karena

itu, rasa kesepian, tidak percaya diri, dan kemarahan memiliki hubungan satu sama lain.

Craif Ellison, seorang ahli jiwa mengelompokkan 3 jenis kesepian (loneliness), yaitu

Emotional Loneliness (kesepian karena tidak mampu membina hubungan dengan

sesamanya), Social Loneliness (kesepian karena merasa dirinya tidak berharga), dan

Exitensial Loneliness (kesepian karena kehilangan pegangan hidupnya). Angela mengalami

Social Loneliness karena merasa dirinya tidak berharga sehingga menyakiti dirinya sendiri,

hal ini dikarenakan orangtua yang senantiasa memukul akibat tidak sesuai dengan keinginan

81
Annisa Permata Dewi, Pengaruh Parenting Self-Efficacy dan Child Temperament Terhadap Parenting
Stress, Halaman 11 , diakses pada Jumat 3 Juni 2022, Pukul 14.11 WIB, yang diakses dari
[Link]
%[Link].
82
Carol Kent, Menaklukkan Rasa Takut, (Yogyakarta : ANDI, 2006), 130.
83
Kim Young Min, Kesembuhan Batiniah, 20.
47

orangtuanya seperti tidak harus memperoleh nilai sekolah yang baik serta kesibukan

orangtua dalam mencari nafkah sehingga melupakan kebutuhan Angela. Segala yang

dilakukan oleh Angela tidak ternilai dihadapan keluarganya baik orangtua maupun

saudaranya sehingga sering menyebabkan Angela menyakiti diri sendiri.

3.1.3. Kemarahan dalam diri Angela

Di dalam Perjanjian Lama, kemarahan dan murka Allah juga terlihat ketika terjadi

peristiwa air bah pada zaman nabi Nuh, Allah juga menyatakan kemarahan-Nya dengan

mendatangkan api ke Sodom dan Gomora. Di dalam Perjanjian Baru dicatatkan juga Yesus

marah saat orang-orang menjadikan Bait Allah sebagai tempat berjualan (Yoh. 2:16). Ketika

Yesus marah, Dia tidak marah tanpa akal atau sekedar meluapkan emosi yang tidak

terkontrol tetapi dengan pengertian dan pikiran yang jernih. 84 Melalui ini, kita dapat menarik

kesimpulan bahwa penolakan dari seseorang yang kita sayangi dapat mengakibatkan rasa

kecewa, benci, dan marah dalam hati.85

Segala perselisihan, pertentangan, dan perkelahian sesama manusia sering diakibatkan

karena rasa ingin mempertahankan haknya masing-masing. Ketika kita diganggu, kita akan

menjadi marah. Marah tersebut adalah suatu naluri, daya dasar, suatu sifat alamiah, dan

emosi yang ada pada setiap makhluk yang ada di dunia ini. Hal inilah yang dialami oleh

Angela. Ketika dimasa kecilnya dia ingin mendapatkan haknya untuk dipedulikan oleh

keluarganya namun tidak bisa di penuhi. Oleh sebab itu, kemarahan yang dimiliki Angela

dipendam dengan rapi di dalam hatinya sehingga menjadi penyakit di dalam batinnya. 86

3.1.4. Menyakiti Diri Sendiri (Self Injury)

Self Injury adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan individu untuk mengatasi

rasa sakit secara emosional dengan cara melukai dirinya sendiri, dilakukan dengan sengaja

84
Stephen Tong, Pengudusan Emosi, 83-87.
85
Kim Young Min, Kesembuhan Batiniah, 21.
86
Stephen Tong, Pengudusan Emosi, (Surabaya : Momentum, 2020), 75.
48

tapi tidak dengan tujuan bunuh diri. Self injury biasa dilakukan sebagai bentuk dari

pelampiasan atau penyaluran emosi yang terlalu menyakitkan untuk diungkapkan dengan

kata-kata. Hal ini sesuai dengan pendapat Grantz perilaku self injury sering dilihat sebagai

cara mengelola emosi dimana seseorang tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaan

yang terlalu menyakitkan. Jika self injury berlangsung terus-menerus maka akan berubah

menjadi percobaan untuk bunuh diri. Faktor penyebab self injury adalah faktor

keluarga dan lingkungan pergaulan yang tidak sehat dimana pelaku tinggal, diantaranya:

a. Tumbuh didalam keluarga yang kacaubalau

b. Kurang kasih sayang ataupun kurang perhatian

c. Pernah mengalami kekerasan dalam keluarga

d. Adanya komunikasi yang kurang baik di dalam keluarga

e. Mengekspresikan pengalaman pribadi tidak ditanggapi dengan baik dan sering

dihukum atau diremehkan

f. Mengekspresikan perasaan yang menyakitkan ditanggapi dengan acuh tak acuh.

Menurut Martinson (1999:1) faktor penyebab dilakukannya self injury.87

3.2. Indikator-indikator yang Menyatakan Angela Memiliki Tingkat

Kemarahan yang Tinggi

Indikator yang menyatakan Angela memiliki tingkat kemarahan yang tinggi antara

lain:

1. Ciri pada anggota tubuh, yaitu sering memukul dan mencubit dengan spontan. Tangan

Angela dengan spontan memukul orang disekitarnya dengan pukulan ketika berbicara.

Angela juga mencubit orang lain saat bercanda. Hal ini dilakukan diluar dari

kesadaran Angela.

87
Marsha M. Line, Cognitive-Behavioral Treatment of Borderline Personality Disorder, 65
49

2. Ciri pada lidah, yaitu sering mengeluarkan kalimat dengan nada membentak.

Terkadang juga meluncurnya celaan dan makian. Tanpa disadari, ketika Angela diajak

berbicara, nada bicaranya sering dengan nada tinggi dan membentak. Hal ini menjadi

ciri bahwa Angela memiliki tingkat kemarahan dalam dirinya.

3. Ciri pada hati, yaitu timbulnya rasa benci dan berontak terhadap sesuatu yang tidak

sesuai dengan pemahaman dan hatinya. Didalam hati Angela timbul perasaan benci

dan tidak suka, sekalipun tidak diuangkapkan oleh Angela secara langsung. Hal ini

sesuai dengan pandangan Trianto Safaria akan sifat emosi seseorang.88

3.3. Indikator-indikator yang Menyatakan Angela menyakiti diri sendiri

Indikator-indikator menyakiti diri sendiri menurut Thesalonika, dkk sering terjadi

dilakukan dalam bentuk merusak tubuh dengan membakarnya, melukai dengan cara

memukul-mukul diri, menjambak-jambak rambut kelapa hingga rontok bahkan tidak jarang

sampai berkeinginan meminum racun, membenturkan kepala dengan sengaja, mengonsumsi

alkohol berlebihan.89 Hal-hal sudah pernah dilakukan oleh Angela saat dia mengalami stres dan

pergumulan dalam hidupnya. Oleh sebab itu, disimpulkan bahwa Angela telah menyakiti diri sendiri

dengan sengaja.

3.3. Kesimpulan Interpretasi Masalah

Anak-anak sangatlah membutuhkan pola asuh yang baik yang di dapatkan melalui

orangtuanya. Pola asuh ini tentu berbeda dengan mendidik orang dewasa. Anak-anak

memiliki perilaku meniru dengan cepat seperti tindakan maupun kata-kata. Oleh sebab itu,

penting bagi orangttua untuk memberikan teladan yang baik bagi anak-anak serta

menggunakan komunikasi yang baik pula saat berinteraksi dengan anak-anak. Melalui

88
Triantoro Safaria & Nofrans Eka Saputra, Manajemen Emosi (Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana
Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda), 75-76.
89
Thesalonika, Nurliana Cipta Apsari, Perilaku Self-Harm Atau Melukai Diri Sendiri Yang Dilakukan
Oleh Remaja, Diakses pada 18 Juni 2022, Pukul 12:11 WIB, yang diakses dari
[Link] 215.
50

interaksi yang baik serta perhatian yang penuh kepada anak-anak akan menumbuhkan rasa

percaya diri pada anak. Inner Child butuh perhatian dari sekarang, memahami diri sendiri,

menelaah pola asuh yang diberikan orang tua dan berdamailah. Berikan pengalaman baik

pada anak sehingga meminimalisir Inner Child dan perlu evaluasi dalam mendidik anak untuk

menjadi lebih baik lagi. Ketika pola asuh yang salah terlanjur diberikan orang tua hingga

menyebabkan Inner Child maka perlu pengetahuan pada anak untuk menyadari sehingga

mampu mengelola luka tersebut kepada hal positif yang kelak akan melahirkan sikap-sikap

positif lainnya

Alat Ukur Inner Child

Alat ukur yang dipakai untuk mengukur tingkat inner child yang terluka

sebelum dan sesudah konseling, konseling ini bertujuan untuk melihat inner child

yang terluka. Alat ukur ini terdiri dari 60 pertanyaan tentang inner child. Setiap

pertanyaan dirinci dengan gejala yang lebih spesifik.90

Nilai 4 = 90-120= Inner child yang terluka sangat tinggi

Nilai 3 = 61-90 = Inner child yang terluka tingkat tinggi

Nilai 2 = 31-60 = Inner child yang terluka sedang

Nilai 1 = 0-30= Inner child yang terluka rendah

Ya 2 = Inner Child yang Terluka

Tidak 1= Tidak mengalami Inner Child

1. Apakah Anda pernah mengalami kecanduan dalam mengonsumsi sesuatu hal seperti

makan berlebihan, minum berlebihan, atau minum obat berlebihan? Ya/Tidak

90
John Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child. (Amerika: Bantam
Books,1992), 140-142
51

2. Apakah Anda kesulitan memercayai kemampuan Anda untuk memenuhi kebutuhan

Anda? Ya/Tidak

3. Apakah Anda percaya Anda harus menemukan seseorang untuk bertemu dengan

mereka? Ya/Tidak

4. Apakah Anda merasa sulit untuk mempercayai orang lain? Ya/Tidak

5. Apakah Anda sulit memahami kebutuhan Anda seperti lupa makan, memaksa tubuh

sekalipun sudah lelah? Ya/Tidak

6. Apakah Anda memiliki ketakutan yang mendalam saat diabaikan? Ya/Tidak

7. Pernahkah Anda terpikir untuk bunuh diri karena alasan tertentu? Ya/Tidak

8. Apakah Anda sering merasa ditolak di dalam kehidupan sosial? Ya/Tidak

9. Apakah Anda merasa bahwa kehadiran Anda tidak diinginkan oleh orang lain?

Ya/Tidak

10. Dalam situasi sosial, apakah Anda mencoba untuk tidak terlihat sehingga tidak ada

yang mau memperhatikanmu? Ya/Tidak

11. Apakah Anda selalu menginginkan sentuhan hangat dari sahabat ataupun orang

terdekat Anda? Ya/Tidak

12. Apakah Anda menginginkan bahwa Anda adalah orang yang paling dibutuhkan bagi

sekeliling Anda? Ya/Tidak

13. Apakah Anda selalu ingin dihargai dan dihormati dan selalu ingin menang? Ya/Tidak

14. Apakah Anda sering menyinggung perasaan orang lain? Ya/Tidak

15. Apakah Anda mengasingkan diri dan memilih untuk menyendiri? Ya/Tidak

16. Apakah kamu sering merasa tidak ada gunanya mencoba menjalin hubungan?

Ya/Tidak

17. Apakah Anda mudah tertipu? Ya/Tidak

18. Apakah Anda takut untuk menjelajah ketika Anda pergi ke tempat baru? Ya/Tidak
52

19. Dalam situasi sulit, apakah Anda membutuhkan seseorang dalam meluapkan isi hati

anda? Ya/Tidak

20. Jika seseorang memberi Anda saran, apakah Anda mendengarkannya? Ya/Tidak

21. Apakah Anda benar-benar mengalami kesulitan dalam pengalaman Anda? Ya/Tidak

22. Apakah Anda seorang yang memiliki kekhawatiran yang tinggi? Ya/Tidak

23. Apakah Anda mengalami kurangnya rasa percaya diri? Ya/Tidak

24. Apakah Anda sering menggunakan kata-kata kasar? Ya/Tidak

25. Apakah Anda sering dituduh pelit dengan uang, cinta, emosi, atau kasih sayang?

Ya/Tidak

26. Apakah Anda takut membuat orang lain marah kepada anda? Ya/Tidak

27. Apakah Anda akan melakukan hampir semua hal untuk menghindari konflik?

Ya/Tidak

28. Apakah Anda merasa bersalah saat mengatakan tidak kepada seseorang? Ya/Tidak

29. Apakah Anda sering tidak dapat mengontrol emosi? Ya/Tidak

30. Apakah Anda sering mengkritik orang lain secara berlebihan? Ya/Tidak

31. Apakah Anda bersikap baik kepada orang-orang ketika Anda bersama mereka dan

kemudian bergosip dan mengkritik mereka ketika mereka pergi? Ya/Tidak

32. Ketika Anda mencapai keberhasilan, apakah Anda kesulitan menikmati atau tidak

percaya pada apa yang Anda lakukan? Ya/Tidak

33. Apakah Anda memiliki masalah komunikasi dengan orang-orang sekitar Anda?

Ya/Tidak

34. Apakah Anda mencoba mengendalikan perasaan orang-orang di sekitar Anda?

Ya/Tidak

35. Apakah kamu menangis ketika sedang marah? Ya/Tidak

36. Apakah Anda marah ketika Anda takut atau terluka? Ya/Tidak
53

37. Apakah Anda kesulitan mengungkapkan atau memahami perasaan Anda? Ya/Tidak

38. Apakah Anda percaya bahwa Anda bertanggung jawab atas orang lain? Ya/Tidak

39. Anda merasa bersalah atas apa yang terjadi pada anggota keluarga Anda? Ya/Tidak

40. Apakah Anda percaya bahwa bisa mengubah perilaku orang lain? Ya/Tidak

41. Apakah Anda percaya bahwa berharap atau merasakan sesuatu dapat menjadi

kenyataan Ya/Tidak

42. Apakah Anda bertindak berdasarkan tebakan atau berdasarkan informasi yang tidak

aktual? Ya/Tidak

43. Apakah Anda sering membandingkan diri Anda dengan orang lain dan merasa diri

Anda lebih rendah? Ya/Tidak

44. Apakah Anda berteman dengan semua orang? Ya/Tidak

45. Apakah Anda sering merasa tidak nyaman dalam situasi sosial? Ya/Tidak

46. Apakah Anda merasa paling nyaman saat sendirian? Ya/Tidak

47. Apakah Anda terkadang diberitahu bahwa Anda terlalu kompetitif? Ya/Tidak

48. Apakah Anda sering berkonflik dengan orang-orang yang bekerja dengan Anda?

Ya/Tidak

49. Dalam negosiasi, apakah Anda bersikeras memiliki hal-hal dengan cara Anda sendiri?

Ya/Tidak

50. Apakah Anda bangga menjadi orang yang ketat dan literal, mengikuti surat undang-

undang? Ya/Tidak

51. Apakah Anda sering menunda-nunda dan kesulitan menyelesaikan sesuatu? Ya/Tidak

52. Apakah Anda yakin Anda harus tahu bagaimana melakukan sesuatu tanpa

instruksi? Ya/Tidak

53. Apakah Anda memiliki ketakutan yang kuat tentang membuat kesalahan? Ya/Tidak
54

54. Apakah Anda mengalami penghinaan yang parah jika Anda dipaksa untuk melihat

kesalahan Anda? Ya/Tidak

55. Apakah Anda kurang dalam keterampilan hidup dasar (kemampuan membaca,

kemampuan untuk berbicara dan / atau menulis dengan tata bahasa yang baik,

kemampuan untuk melakukan yang diperlukan perhitungan matematika)? Ya/Tidak

56. Apakah Anda menghabiskan banyak waktu untuk terobsesi atau menganalisis orang

sekitar anda? Ya/Tidak

57. Apakah Anda merasa jelek dan rendah diri? Ya/Tidak

58. Apakah Anda mencoba meningkatkan percaya diri dengan pakaian, barang, uang, atau

make-up? Ya/Tidak

59. Apakah Anda sering membohongi diri sendiri dan orang lain? Ya/Tidak

60. Apakah Anda percaya bahwa apa pun yang Anda lakukan, itu tidak baik? Ya/Tidak

Dari 60 pertanyaan yang di berikan untuk Angela ia menjawab 42 Ya dan 18

Tidak. Maka sesuai dengan perhitungan Jumlah Ya x Jumlah pertanyaan.

Alat Ukur Kemarahan

Alat ukur yang dipakai untuk mengukur tingkat kemarahan sebelum dan

sesudah konseling ini bertujuan untuk melihat manfaat tingkat kemarahan. Alat ukur

ini terdiri dari 15 pertanyaan tentang perasaan kemarahan. Setiap pertanyaan dirinci

dengan gejala yang lebih spesifik. Alat ukur ini sebagaimana dibuat oleh Kubler Ross

dan lazim dipakai untuk mengukur tingkat kemarahan. Masing-masing pertanyaan

diberi penilaian antara 1-4 sebagai berikut. 91

Nilai 4 = 46-60 = Kemarahan sangat tinggi

91
Yenni Meriam Yohana Sinaga, Skripsi : “Pendampingan Kepada Maya yang Menyimpan
Kemarahan Akibat Luka Batin”, (Medan : STT Abdi Sabda, 2019), 59.
55

Nilai 3 = 31-45 = Kemarahan tingkat tinggi

Nilai 2 = 16-30 = Kemarahan tingkat sedang

Nilai 1 = 0-15 = Kemarahan tingkat rendah

A = 1 = Kemarahan tingkat rendah

B = 2 = Kemarahan tingkat sedang

C = 3 = Kemarahan tingkat tinggi

D = 4 = Kemarahan sangat tinggi

Nama (Inisial atau samaran) :

Umur :

1. Saya merasa tidak dipedulikan dan diabaikan keluarga.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

2. Saya merasa tidak didengarkan oleh keluarga.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

3. Saya merasa keluarga bukan menjadi tempat bercerita.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

4. Ketika mengingat masa lalu yang buruk maka marah saya muncul.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering


56

5. Saya merasa Tuhan tidak adil dalam hidup saya.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

6. Saya merasa hidup ini tidak adil.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

7. Terkadang saya merasa kecewa melihat diri saya.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

8. Saya tidak bersemangat melakukan apapun jika yang terjadi tidak sesuai dengan yang

saya harapkan.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

9. Saya merasa kemarahan bisa dilampiaskan dengan nada bicara saya yang tinggi dan

keras.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

10. Saya sulit melupakan perbuatan orang yang menyakiti saya.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

11. Saya merasa tidak perlu bercerita dengan orang lain tentang diri saya.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

12. Saya lebih suka menyendiri.

a. Tidak pernah c. Sering


57

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

13. Saya merasa tidak ada orang yang benar-benar memberi kasih sayang kepada saya.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

14. Saya merasa hidup saya penuh dengan pergumulan.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

15. Saya merasa hidup saya tidak seberuntung orang lain.

a. Tidak pernah c. Sering

b. Kadang-kadang d. Sangat sering

Dari 15 pertanyaan untuk mengukur tingkat kemarahan Angela, Angela

menjawab

A = 0x1=0, B= 8x2=16, C= 6x3=18, D= 1x4=4

(16+18+4= 38) Dengan hasil nilai 38 Angela memiliki kemarahan tingkat tinggi

Tes Kepribadian

Tes kepribadian adalah alat ukur untuk mengungkapkan karakter seseorang.

Oleh karena itu, pengukur kepribadian harus melihat dasar-dasar teoretis Instrumen tes

yang dirancang untuk mengungkapkan kepribadian dapat secara longgar

dikelompokkan berdasarkan proyektif yang adalah proses pelepasan impuls, emosi

dan sensasi seseorang melalui media sebagai alat mekanisme pertahanan diri, proses

yang diketahui oleh mereka yang terlibat. 92

Tes proyektif wartegg merupakan tes yang disusun oleh Ehrig Wartegg,

menggunakan psikologi gestalt. Pengertian kepribadian diartikan dalam segi praktis

yaitu bagaimana kepribadian itu berfungsi atau bekerja dalam diri individu. Ada 4

92
Nur Aeni, TES PSIKOLOGI : Tes Inteligensi dan Tes Bakat, (Yogyakarta: Universitas
Muhammadiyah Purwokerto Press, 2012) 30-31.
58

fungsi dasar menurut Wartegg yang dimiliki oleh manusia dengan intensitas yang

berbeda-beda. Keempat fungsi dasar tersebut adalah emosi, imajinasi, intelek dan

aktivitas. Dengan Tes grafis terdiri dari 3 buah tugas yaitu : gambar orang (DAP),

gambar pohon (Tree test), gambar rumah. Prinsip dari tes ini adalah menggambarkan

sesuatu obyek yang sangat dekat dengan dirinya, namun dibatasi dengan kaidah yang

tidak terlalu mengikat.93 Penulis dalam tes kepribadian ini juga meminta bimbingan

kepada Ayah (orangtua penulis) selaku TNI-AD yang terbiasa melakukan pelatihan

kepada peserta didik yang ingin lulus ke dalam satuan TNI-AD dalam tes psikotest.

BAB IV
AKSI PASTORAL
93
Nur Aeni, TES PSIKOLOGI : Tes Inteligensi dan Tes Bakat, 32
59

Aksi pastoral adalah bagian yang membimbing konselor untuk matang dalam

mengeksplorasi masalah dan merencanakan langkah selanjutnya untuk menyelesaikannya.

Konseling adalah langkah terakhir dalam metode studi kasus. Dalam hal ini, langkah-

langkahnya dirancang untuk menciptakan jawaban dan solusi berbasis teologis untuk

membantu mereka yang mencari nasihat untuk mengatasi masalah mereka dengan benar dan

menyelesaikan kasus Angela. Bagian pastoral mengkaji bagaimana perencanaan pastoral

menjawab pertanyaan-pertanyaan kunci yang bersifat teologis untuk sampai ke akar

masalahnya. Dalam melaksanakan tindakan ini, perhatian juga harus diberikan kepada orang-

orang yang terlibat dalam tindakan ini dan peran mereka dalam melaksanakan langkah-

langkah berdasarkan strategi yang direncanakan dan metode yang direncanakan. Pelayanan

pastoral adalah pelayanan yang diberikan oleh Tuhan Yesus melalui Gereja. Pelayanan ini

ditugaskan oleh Tuhan Yesus untuk membantu seseorang menghadapi dan memecahkan

masalah. Konselor yang melaksanakan pelayanan ini melakukannya dalam kuasa dan

kehendak Tuhan Yesus Kristus, bukan atas nama, kuasa atau kehendak mereka sendiri.94

4.1. Verbatim

Data Umum:

Nama Konseli: AW (Angela Wiyogo)

Usia : 21 Tahun

Nama Konselor: STO (Sherly Tri Olivia)

Pertemuan 1:

Rabu, 26 Januari 2022 (Pukul 20.00-20.40 WIB).

STO: Haiiii, gimana kabarnya gel?

94
J.L. Ch. Abineno, Percakapan Pastoral Dalam Praktik, (Jakarta : BPK-GM, 1986), 9.
60

AW: Haha, kaya biasa Sher nano-nano

STO: Kok gitu bilangnya? Kenapa itu?

AW: Gaknya, baiknya aku.

STO: Puji Tuhan kalau hingga saat ini lagi masih merasa baik-baik saja, tapi kenapa aku

ngerasa ada yang beda ya.. kenapa? Cerita aja Gel gapapa..

AW: Gini Sher aku kadang cemburu liat orang-orang itu kok bisa sedekat itu sama

keluarganya, sedangkan aku enggak. Dari dulu sampai sekarangpun aku sama keluarga

memang ga terlalu dekat, cemana ya ku bilang.. orang tua akupun dari dulu sangat sibuk

bekerja, sampai apa-apa aku itu selalu simpan sendiri. (Ekspresi Sedih)

STO: Kalau kedekatan mu sama abang-abangmu gimana emang?

AW: Yang mana sher? Billy atau Calvin (Menaikkan Alis, Mata melotot)

STO: Dari Billy dulu, kau dulu sama Billy gimana? AW: Hallah, dahla. Kalo dia gausahlah

dibahas. Malas kali aku bahas abang ga ada otak kaya dia. (Mengepalkan tangan, ekspresi

marah. Konseli merasa canggung menceritakan seluruh perasaannya kepada konselor)

STO: Lah kenapa? Yaudah kalo Calvin gimana?

AW: Sama aja itu kek Billy gadak guna jadi abang. Oh ya sher? Kau udah makan? Ayok kita

makan pasti kau suka. (Mencari topik pembicaraan yang lain)

STO: Apa emangnya?

AW: Ada babi panggang, yok makan.. nginap sini kau kan?

STO: Iya.. yaudah ayoklah


61

Pertemuan 2:

Rabu, 02 Maret 2022 (Pukul 19.22-20.10 WIB).

STO: Hei.. heii.. aku datang lagii.. dah lama ya kita ga jumpa..

AW: Iyakan sher, kaupun lagi sibuknya haha

STO: Teringatnya kan Gel, gimana jadinya hubunganmu sama fery, masih lanjutnya kalian?

AW: Nggak lagi sher, lagi berantam kami, (Ekspresi Marah)

STO: Kenapa memangnya kalian?

AW: Kan tau kau kalo Fery beda agama samaku kan... nah kami bahas soal hubungan ini

gimana kelanjutannya sama dia, dia malah bingung dan gadak usahanya untuk dekati

keluargaku biar diterima.. diakan cowok aturan dia mikirlah gimana caranya supaya walaupun

kami beda Agama bisa tetap sama, ini malah enggak (Mengerutkan alis)

STO: Jadi cemana kata keluargmu?

AW: Keluargaku nyuruh putus, kau tau kan sher, fery ini pacar pertamaku, aku baru pacaran

loh baru ini aku dekat laki-laki, dan udah sayang samanya.. masa aku disuruh putus, kalo aku

gamau aku bakal diusir Sher. Terus kalo kau ingat lagi waktu tahun lalu pas aku ultah, yang

kau datang waktu aku ultah, kita kan kerumah Popoku kan, kau dengar sendirikan Popoku

juga ga setuju. Sekarang Popoku udah ga ada, ntahnya Popoku meninggal karna mikirin aku

mau pindah agama sher. (Menangis)

STO: (menenangkan konseli dengan mengusap pundaknya)

AW: Sedih kali lah aku, gatau aku mau cerita kesiapa lagi selain kau Sher, dirumah ini kaya

ga ada yang bisa ngertiin aku..

STO: Yaudah gapapa, kan aku ada disini Gel, aku gabakal menyalahkanmu atas pilihanmu

Gel..
62

AW: Sher, aku pingin nangis bebas tapi gabisa, karena takut aku kau dimarahin karena dikira

mau Kristenkan aku

STO: Yaudah Gel gapapa.. nangis aja sampai lega..

Pertemuan 3:

Senin, 28 Maret 2022 (Pukul 20.00– 21.30 WIB).

AW: Aku kira kau gajadi datang haha, karna sampe ketiduran aku nunggu kau.

STO: Ketiduran apaan haha habis mandi kau inikan.. pantas sejam aku nunggu di Alfamidi

nunggu tuan putri angkat telepon lama kali ternyata mandi.

AW: Haha iya, baru mandi aku.. yoklah keatas kita.

STO: Oke, ayoklah. Teringatnya abangmu mana Gel? Kok ga balik-balik?

AW: Oh.. biar lah situ, lebih bagusnya kalo ga pulang Sher, karena ga peduli lagi aku mau

mereka cemana diluar sana. Karena akupun ga dipedulikan, ngapai aku peduli juga. (Nada

tinggi)

STO: Kenapa kian kalian Gel kenapa ga saling dekat gitu?

AW: Dari kecil memang gak mau ngurusin urusan pribadi kami masing-masing, makanya aku

selalu sendiri dan mendam semuanya. Mau ngapain ngapain pun gaknya pernah kuminta

bantuan orang itu, karena memang tau aku gabakal mau mereka bantu aku.

STO: Apa memangnya yang dibuat abangmu dulu samamu Gel makanya kau gapeduli lagi

sama orang itu?

AW: Dari kecil selalu aku dipukuli mereka tanpa sebabpadahal gadak salahku loh Sher,masa

aku dipukul, pas kutanya kenapa aku dipukul masa katanya: “sukakulah, kenapa mau lagi?”
63

kan ada gilanya kan? Sampek dulu abangku itu sengaja kekamarku untuk mukuli aku aja,

waktu pintu kamar aku kunci, dia langsung berusaha masuk lewat lobang AC. Kan kamarku

sama dia Acnya bagi dua jadi lewat situ lah dia, pas berhasil dia turun langsung ditumbuknya

bibirku sampai pecah, terakhir dijahitlah bibirku karena berdarah di buatnya. (Mengepalkan

tangan)

STO: Terus orang tuamu giman Gel?

AW: Orang tuaku seperti biasa mukuli kami balek. Padahal si Billy yang salah, malah aku

juga yang dipukul.

STO: Kok bilang seperti biasa? Sebelum kejadian itu juga pernah?

AW: Sering Sher, apapun masalahnya Bapakku bakal mukul aku, makanya aku kalo

adamasalah mending diam aja sih Sher dari pada dipukuli.

STO: Apa perkataan yang paling sakit yang dibilang orangtuamu ke kau Gel?

AW: Orang tuaku bilang bahwa mereka nyesal telah melahirkan ku dan dianggap aku jadi

anak sial, memang dari kecil orangtuaku keras kali, nialiku jelek aja aku selalu dipukul dan

ditelanjangi [Link] pun kaya gitu, gaknya aku pernah ada salah samanya tapi selalu

dikasarin aku samanya. (Ekspresi sedih)

STO: Kalau abangmu yang satu lagi gimana Gel?

AW: Kalau Calvin dia lebih gadak otak juga

STO: Kalau dia kenapa Gel?

AW: Tau kau sher, pas sakit aku kan asam lambung ku kumat. Mau pingsan aku, dan cuman

dia disitu. Ku panggil lah dia ku bilang aku mau jatuh. Dia gadak respon, cuman lewat aja dan
64

ga nolongin aku loh sher, makanya ga bakal mau aku tolongnya sampai kapanpun lagi kalau

dia butuh aku. (Ekspresi Marah dan Mengepalkan Tangan)

STO: Jadi selama ini kau kalo marah gimana Gel? Kau ngelakuin apa kemereka?

AW: Kebanyakan aku pendam. Tapi aku pernah menggoreskan tanganku sher pakai pisau

sampai berdarah tapi gapernah aku rasa sakit, gatau aku kenapa bisa gitu, enak aja rasanya.

Pernah juga aku mau bunuh diri karena nengok keluarga kaya gini Sher. (Ekspresi sedih)

STO: Gel, jangan gitu lagi Gel cerita samaku aja kalau kau lagi punya masalah. Gasangup

aku kehilangan kau Gel kalo kau nyelesaikan masalah kaya gitu. Betul aku Gel.

AW: Iya diusahakan yee

Pertemuan 4:

Senin, 16 Mei 2022 (Pukul 20.00 - 01.00 WIB)

STO: Akhirnya jumpa lagi kita Gel.. maaf ya Gel baru bisa kerumahmu lagi..

AW: Ehee aman kok.. yang penting kau datang aja aku senang loh Sher.

STO: Gel, aku punya beberapa pertanyaan dan hal ini akan membantumu untuk mengenali

apa yang terjadi padamu, coba kita isi ya Gel

AW: Boleh. (Angela mengisi pertanyaan)

STO: Angela, kita sudah berteman lama dari dulu, dan aku tau kali kau hebat dalam

menggambar tapi kenapa udah jarang kali kau menggambar?

AW: Eh? Iyanya? (mengecek sosial medianya untuk melihat kapan terakhir kali ia

menggambar) Iya jugaaa ya Sher astaga.. dah lama kali loh, memang gatau aku kenapa. Malas

kali aku ngapain-ngapain.


65

STO: Nah, pas kan Gel, Boleh ga sekarang aku minta coba kau gambar rumah, pohon dan

manusia dan satu gambar yang bebas terserah gimana objectnya.

AW: Ga pande lagi aku gambar udah lama ga gambar lagi.

STO: Angela, aku tau kamu kau bisa, karena masih ingat aku mimpi kita bersama untuk buat

buku komik hasil gambar kita berdua, dan aku tau kau itu sangat bertalenta untuk

menggambar, coba gambar lagi Gel.

AW: Aku takut gambarnya jelek (Meragukan kemampuan sendiri)

STO: Gambar senyaman kamu aja gapapa.

AW: Okelah

STO: Gambaranmu bagus semua, Angela mau ga kita bermeditasi supaya melegakan

perasaanmu?

AW: Kita ga akan bisa bermeditasi sher, aku takut nanti dimarahin dan dikira ingin

mengajakku menjadi Kristen. Saat ini saja kita sudah berbicara sangat pelan namun mamaku

datang menyuruh kita untuk tidak berisik. (Ekspresi Khawatir)

STO: Oke baiklah Angela, aku sudah lama juga tidak melihatmu menggambar secara

langsung seperti ini, dan gambaranmu selalu bagus dan membuatku sangat penasaran.. gel,

ketika kamu ada masalah, kamu boleh berbagi denganku, atau melampiaskan emosimu

melalui setiap gambar ini, aku harap ini bisa membantumu kembali berfokus kepada

kelebihanmu, aku yakin keluargamu dihati kecilnya selalu sayang samamu, namun cara untuk

mengungkapkan rasa sayangnya itu berbeda-beda, Angela mungkin sering mendengar kata

mengampuni, sulit memang mengampuni orang yang menyakiti kita, tapi ga ada salahnya kita

coba agar kita bisa damai menjalani hari-hari. Gel apapun yang terjadi padamu, aku selalu ada

menemanimu.
66

AW: Jujur, memang ini yang ku butuhkan, saya gapunya tempat untuk berbagi, bersamamu

saya merasa menjadi diri saya sendiri dan tidak berpura-pura baik padahal saya tidak baik-

baik saja. (Menangis pelan)

Pertemuan 5:

Jumat, 10 Juni 2022 (Pukul 20.30 – 21.30 WIB).

STO: Angela gimana perasaanmu saat ini?

AW: Aku sudah biasa aja sih dengan kelakuan orang tua ku Sher, dan ngerasa beruntung kali

aku, Abang saya Billy tidak ada disini, jadi ga perlu aku berantam samanya. Tapi kadang jadi

sia-sia aku belajar bela diri kalau ga dimanfaatin untuk berkelahi samanya haha.

STO: Gel soal abangmu, coba ingat apa pengalaman bahagia waktu kalian sama?

AW: Hmm.. bentar, apaya..

STO: Masa ga ada, pasti ada coba ingat lagi..

AW: Kalau Billy dia selalu membela ku disaat ada yang mau cari masalah denganku, dia

seperti tameng yang siap melindungiku ketika ada yang ingin menyakitiku, ya walaupun dia

juga meyakitiku. Kalau Calvin aku selalu bermain bersamanya waktu kecil di rumah popo.

STO: Kalau kedua orang tuamu apa pengalaman paling bahagia ketika kalian bersama Gel?

AW: Kalau mamak waktu aku kecil selalu cerita dongeng saat aku mau tidur. Kalau bapak...

apa ya.. kayanya ga ada, tapi yaudahlah gapapa mungkin dia sibuk. (Tersenyum Tipis)

Pertemuan 6:
67

Rabu, 06 Juli 2022 (Pukul 19.15-20.10 WIB).

STO: Teringatnya gimana hubunganmu dengan Fery gel?

AW: Masih bingung juga aku, antara lanjut atau tidak dengannya. Disatu sisi sayang kali aku

samanya namun kami berbeda agama dia Kristen dan sebenarnya aku Konghucu sher tapi

karna dulu Konghucu belum bisa masuk jadi agama resmi di Indonesia makanya saya di KTP

Budha, di Konghucu ga ada yang memberi masukan atau nasehat, karena kami hanya

sembahyang di klenteng. Sher, aku pingin jadi Kristen tapi susah untuk kesana karena

keluargaku melarang, sampe sering aku dengarin Khotabah dan suka kali aku kaya adem aja

hatiku Sher. Bukan karena saya pacaran karena Fery Kristen. Tapi memang aku yang mau

jadi Kristen. (Ekspresi Bingung)

STO: Gel, kalau soal ini, itu pilihanmu, kalau menurutku, apapun yang menjadi pilihanmu

aku yakin itu hal yang terbaik untukmu dan aku akan selalu mendukungmu atas apapun

pilihanmu gel.

AW: Iya Sher, Terimakasih ya (Tersenyum)

STO: Oh iya Gel, Sudah gimana hubunganmu dengan keluargamu?

AW: Aku sudah berani membahas masalahku ke keluargaku sher, mereka sudah mau

mendengarkanku dan aku juga menginginkan itu, walau terkadang mereka memberi masukan

yang tidak ingin aku dengar tapi lama-lama aku paham bahwa keluargaku menginginkan aku

untuk melakukan yang terbaik.

STO: Hubungan abangmu denganmu gimana?

AW: Udah biasa aja, karena diakan jauh, tapi tetap aja kalau jumpa rasanya ingin berantam,

makanya aku ikut eskull bela diri untuk berjaga-jaga bila ingin berantam dengannya haha.
68

STO: Gel masih ingat beberapa pertanyaan yang kemarin pernah kau jawab? Kita isi lagi ya

Gel?

AW: Oke Sher..

Hasil Test Kepribadian Angela

(Sherly Tri Olivia, Koleksi Pribadi, Gambar Angela tentang Manusia, Jl. Patriot, Senin, 16

Mei 2022, 23.00)

Tabel I

Analisa Gambar DOP Draw a Person

KESAN / DETAIL DESKRIPSI INDIKASI

[Link] Umum Lebih muda dari usia subyek Immature, tidak dapat

Usia menghayati perkembangan

dunianya, fiksasi emosi pada

usia yang sama dengan figur

yang digambar atau

mengalami regresi.
69

Aktif/pasif Tidak ada gerak (seperti Merasa ada himpitan,

orang mati) kaku sperti menahan sesuatu kurang

mayat tegas, mempertahankan

keterbatasan aktivitas,

kontrol emosi kaku.

Lengkap atau tidak Tidak lengkap Depresif, tidak mengakui

kenyataan, tertekan secraa

neurotis, kurang dorongan

berprestasi.

Formil/acak-acakan Formil Terikat aturan dalam

menyatakan diri

Kualitas Garis Tenanan berubah-ubah Tak stabil, impulsif, mudah

frustasi, histeris atao

siklotomik.

Tipis dan patah, tidak tetap. Ketakutan, tidak aman, tidak

pasti.

Seperti gergaji Kecemasan, kontrol motorik,

rendah, kurang dapat

mencapai keseimbangan.

Gambar sketsa anxiety, tidak tetap,

insecure.

Mata Mata berbentuk bulatan Egosentris histeris, tidak

masak, egosentris, regresi

Pundak Pundak sering dihapus dan Kurang yakin pada

diualang kemampuan dan


70

perkembanga dirinya

Lengan Lengan yang kecil dan tipis Merasa lemah dan sia-sia

/tidak berguna

Lengan seperti sayap Lemah, ada hambatan

kontak sosial

Lengan yang nampak terulur Butuh dorongan emosionil

Paha Merasa kurang Merasa kurang

[Link] mampu [Link] mampu

Kaki Kaki ditonjolkan dengan Wajar bagi anak kecil,

memaki sepatu Tendesi infantil (bagi orang

dewasa)

Bila kaki memakai sepatu Kompensasi terhadap

terlalu besar dirinya yang memilki sifat

ragu-ragu.

(Sherly Tri Olivia, Koleksi Pribadi, Gambar Angela tentang Pohon, Jl. Patriot, Senin, 16 Mei

2022, 23.30)
71

Tabel II

Test Pohon (Tree Test/Baum test)

KESAN/ DESKRIPSI INDIKASI

DETAIL

Kabur, samar memudar Aktualisasi dorongan yang kabur, tidak

jelas. Kurang berani tampil dan

menampakkan potensi diri, cemas dan ragu-

ragu, takut, tidak aman, tidak mantap,

kendali diri yang kaku didasari atas rasa

tertekan dan tidak mantap. Kendali diri

yang kaku didasari atas rasa tertekan dan

tidak mampu, depresi dan kurang bergairah,

merasa tidak cocok, skizofrenik widrawal.

1. Ukuran Besar dan dominan Paranoid

2. Lokasi Cenderung ke kiri Ke arah aku (ego), dipengaruhi oleh masa

lampau, introvert, subjektif, terlalu meng-

hubungkan segala sesuatu ke dalam dirinya,

senang menimbang dirinya, sukar

dipengaruhi, senang menyembunyikan

problem.

Cenderung ke bawah Mudah di dominasi oleh drive nya (ketidak

sadarannya)

3. Kualitas garis Tekanan lemah ringan Dorongan, kemauan, vitaliats dan energi

yang lemah.
72

Putus-putus (sketsa) Perasan terisolir, anxiety, tidak aman.

Garis samar Khawatir akan neurotik, katatonik,

scizofrenia, scizoprenia menghindar, dan

scizoprenia kronis.

4. Dahan Dahan seperti pipa Tendensi adanya keinginan yang masih

yang tidak tertutup ingin dicapai, Ada keinginan berprestasi dan

kerja sebanyak mungkin, Kurang dapat

menentukan sikap, Tidak ada kepastian

dalam menghadapi lingkungan

Tidak teratur dan kecil Reaktif, Gelisah, Mudah dikacau.

Susunan sembarang Mudah lupa, Tidak suka berpikir, Sifat

(kacau) dan kecil kekanak-kanakan, Suka melamun, Tidak

dapat mengendalikan diri, Sifat malu.

tidak ada variasi kurang dapat menyatakan diri

regresi

retardasi

debil

tak self standing dalam keputusan

Dahan yang dipotong hambatan perasaan ( remming ) karena

adanya traumatis masa lalu

kurang percaya pada diri sendiri

cenderung regresi

adanya konflik

ingin berkuasa

merasa dirinya di rugikan


73

merasa tidak mengerti

tidak berterus terang

menarik diri

simbol pubertas

nasib yang kurang enak

4. Batang Terbuka ujungnya Serba ingin tahu, tidak terang tujuannya,

tidak dapat memutuskan sesuatu, tidak mau

mengikat diri, daya cipta kurang, mudah

marah.

Condong ke kiri tidak secara terang-terangan

tertekan

menekan perasaannya sendiri

terikat pada masa lalu

keras kepala

kadang-kadang malas

sikap defensif

Bayangan/shading Tidak terarah arsirnya Ada hambatan dalam diri, cemas dan stress,

kinginan beraktifitas yang mujncul tak

terkendali,
74

(Sherly Tri Olivia, Koleksi Pribadi, Gambar Angela tentang Rumah, Jl. Patriot, Senin, 16 Mei

2022, 24.00)

Tabel III

Gambar HTP House Tree Person

KESAN / DETAIL DESKRIPSI INDIKASI

Rumah Diberi bayangan / shade Kecemasan akan sesuatu

yang menekan dari keluarga

Dinding Rumah Garis batas dinding ditekan Kecemasan,

Oposisi,

Kecenderungan

pengendalian diri yang

sedikit sekali.
75

Dimensi Vertikal dinding Kenikmatan berfantasi.

terlalu ditegaskan Kurang dalam kontak

dengan dunia realitas.

Jendela Rumah Jendela tertutup Mengucilkan diri

(withdrawal).

Kemungkinan pertahanan

diri yang patologis

Pintu Pintu tertutup Penerimaan yang kurang

dari ibu atau lingkungan

sosial.

Pagar Pagar terbuka Disiplin longgar.

Anak bertindak terlalu

bebas.

(Sherly Tri Olivia, Koleksi Pribadi, Gambar Angela tentang Manusia, Jl. Patriot, Senin, 16

Mei 2022, 24.30)


76

Gambar ini Angela gambar sebagai bentuk pengungkapan amarahnya yang ada dalam

diri Angela. Gambar ini adalah dirinya yang memakai baju bela diri yang sedang menyerang

menggunakan pedang.

4.2. Analisa Verbatim

Tidak semua kehidupan manusia bebas dari masalah. Jika masalah tersebut tidak

diselesaikan dan tidak diselesaikan, dapat berdampak buruk pada dirinya sendiri. 95Oleh karena

itu, semua masalah harus diselesaikan dengan cara terbaik. Setelah mendengar dan mengkaji

masalah yang dialami konseli, konselor mengarahkan pikiran dan tindakan untuk memberi

nasihat untuk berorientasi pada solusi (pemecahan masalah) daripada berorientasi pada

masalah (pemecahan masalah). Pendekatan berorientasi solusi ini membantu konselor melihat

masalah yang mereka hadapi dari perspektif yang positif, mengingatkan mereka tentang apa

yang perlu mereka lakukan.96

Setelah melihat genogram keluarga Angela dan mendengarkan masa kecil Angela

ternyata didikan dari orangtuanya yang sangat keras turun temurun untuk berusaha sukses,

karena tuntutan itulah orang tua Angela berusaha keras agar anaknya juga berhasil namun atas

tuntutan demikian, terjadilah kekerasan yang dialami Angela sehingga pada masa kecilnya ia

mengalami inner child yang terluka. Ia memendam segala sesuatunya sendirian, apapun yang

dikatakan atau diperbuat oleh siapapun terhadap dirinya ia cenderung akan menyendiri dan

menyimpannya sendiri, karena bercerita dengan keluarga bukanlah suatu solusi dan ia merasa

percuma karena tidak ada satu orangpun yang perduli dengannya di dalam keluarganya.

Angela mulai menyakiti dirinya karena dampak dari emosi Angela yang tidak bisa

tersalurkan dengan baik, ia juga mulai mencabuti rambutnya hingga botak, dan ini terjadi di

saat konselor melihat langsung waktu persahabatan konselor dan konseli saat SMP. Semakin

95
Gary R. Collins, Konseling Kristen Efektif, (Malang : Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1990), 143.

96
Yakub Susabda, Pastoral Konseling, (Malang: Gandum Mas, 2011), 14.
77

Angela dewasa tanpa disadari Angela juga menjadi sosok yang keras sampai pada akhirnya ia

berusaha untuk masuk ke bela diri agar ia bisa melawan keluarganya dan membela dirinya

sendiri. Angela tetap tidak bisa menutupi kemarahannya sehingga saat ia membahas

keluarganya ia selalu meluapkan emosinya dengan nada bicara keras, menangis, mengepal

tangannya seperti ingin meninju. Tidak cukup waktu dalam sekali pertemuan saja untuk

membahas pergumulan yang dialai konseli. Oleh karena itu ada beberapa pertemuan yang

dilakukan antara konseli dan konselor supaya pelayanan pastoral dapat maksimal. Konselor

juga mengajukan beberapa pertanyaan sehingga percakapan antara konseli dan konselor

memiliki timbal-balik dan tidak kaku dan mengarahkan Angela untuk menggambar sesuatu

sebagai pengungkapan emosinya.

Upaya yang diberikan untuk mengatasi inner child Angela yang terluka adalah

membuatnya merasa dicintai dan dihargai. Selama pelayanan pastoral terjadi, konselor

berupaya agar konseli merasa ia tidak sendiri dalam menampung bebannya sehingga konseli

bisa mengungkapkan emosinya dengan baik menangis di saat ia ingin menangis tanpa harus

memendam semuanya sendiri. Ketika Angela berbagi masalah kepada konselor, tentunya

berharap beban yang pergumulan berkurang dengan konselor yang mengandalkan Yesus

sebagai penolong untuk Konseli bisa mengampuni keluarga yang menyakitinya. Sebagai

konselor dan konseli yang berbeda Agama , konselor selalu mendoakan Angela agar Angela

bisa segera pulih dari inner child yang terluka, namun saat sedang bersama konselor

mengarahkan Angela untuk mengungkapkan emosinya dengan gambar.

Sebagaimana Nur Aeni mengutip kepribadian menurut Allport, adalah sebuah

organisasi Dinamika intrapersonal dari sistem psikofisik yang menghasilkan pola karakteristik

pemikiran dan perilaku individu.

Angela adalah seseorang yang memiliki kemampuan di bidang seni lukis, konselor

memanfaatkan hal ini sebagai pendorong Angela untuk membuat Angela merasa dihargai
78

sehingga dalam pengungkapan emosi ia tidak perlu melukai dirinya sendiri lagi, namun

menggantinya dengan sebuah karya agar bisa menjadi dirinya sendiri. Ketika ia bisa

memahami dirinya sendiri dan menyayangi dirinya sendiri dan menerima semua kenyataan

yang ada pada dirinya Angela akan semakin lebih baik.

Sikap yang memungkinkan luka emosional dan menolak untuk berdamai juga

mengurangi kekuatan dan kualitas hubungan dengan orang lain. Jika memiliki dendam dan

akan sulit bagi Anda untuk menerima kasih sayang dan berkomunikasi dengan baik. Hati

yang sakit bukanlah hati yang gembira. Kepahitan tidak hanya membahayakan kesehatan

mental kita, tetapi juga kesehatan mental, emosional, dan fisik kita. Cinta objektif diri adalah

alasan yang baik untuk memaafkan diri kita sendiri dan menyembuhkan semua luka batin

kita. Orang yang tidak bisa mencintai dirinya sendiri biasanya tidak bisa mencintai dan

menghargai dirinya sendiri. Ketika kita memaafkan, itu berarti kita juga berpartisipasi dalam

cinta tanpa syarat yang datang dari Tuhan.97 Konselor membantu Angela menurunkan

kemarahannya dengan memberikan ruang dan waktu kepada Angela untuk mengekspresikan

kemarahannya lewat kata-kata dan aksi. Angela diajak untuk dapat memvisualisasikan

kehadiran orang yang membuatnya marah dan menyampaikan seluruh kemarahannya

tersebut. Ketika Angela sudah mengekspresikan kemarahannya, hal ini dapat membantu

menurunkan tingkat kemarahan Angela secara perlahan.

Pengungkapan ekspresi emosi yang baik akan membuat kita untuk berpiran lebih

jernih, sebuah karya adalah salah satu pengungkapan ekspresi yang menurut konselor adalah

cara yang terbaik, selain mengasah kemampuan yang ada, dapat juga mengatasi emosi yang

terkandung dalam sebuah karya. Dengan Angela yang menyalurkan bakatnya dapat membuat

ia lebih fokus pada dirinya.

Menerima kekurangan dan keterbatasannya sendiri juga bisa menerima kelemahan dan

keterbatasan orang lain. Seseorang yang dapat menghargai dirinya sendiri adalah juga orang
97
Gary R. Collins, Konseling Kristen Yang Efektif, 144.
79

yang dapat menghormati orang lain sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar atau

gambar Tuhan. Namun, karena pembatasan setiap orang, menemukan bahwa mereka

membutuhkan bantuan dan dukungan orang lain. Hal ini dapat memfasilitasi kesadaran dan

kesadaran akan keterbatasan dan kekurangan setiap orang. Kemampuan untuk memaafkan diri

sendiri membantu membangun dan menyempurnakan diri sendiri tanpa mengingkari batasan

manusiawi yang dimiliki setiap orang. Kami membangun diri berdasarkan kemampuan unik

kami dengan berbagai keterbatasan dan manfaat.98

4.3. Tabel Perubahan Konseli Selama Dilakukan Pelayanan Patoral

Tabel IV

Skor Tingkat Inner Child Konseli Sebelum Pendampingan Pastoral

Skor Sebelum Keterangan

Pendampingan

84 Tingkat inner child konseli sebelum melakukan

pendampingan pastoral sering mengalami luka. Hal ini

terlihat dari alat ukur tingkat inner child.

Tabel diatas ialah hasil dari skor alat ukur inner child yang di berikan konseli kepada

konselor sebelum melakukan pendampingan. Dari hasil skor ini terlihat bahwa konseli

mengalami inner child yang terluka dan berdasarkan skor diatas dan kesaksian klien,

menyakiti diri sendiri sering dilakukan.

Tabel V

Skor Tingkat Kemarahan Konseli Sebelum Pendampingan Pastoral

Skor Sebelum Keterangan

98
Theo Riyanto, Jadikan Dirimu Bahagia, (Yogyakarta : Kanisius, 2010), 39-41.
80

Pendampingan

38 Tingkat kemarahan konseli sebelum melakukan

pendampingan pastoral sering mengalami luka. Hal ini

terlihat dari alat ukur tingkat tinggi.

Tabel diatas merupakan hasil dari pengukuran tingkat kemarahan yang

diberikan konselor kepada konseli sebelum melakukan pendampingan. Dari hasil

tersebut konseli mengalami kemarahan tingkat tinggi.

Tabel VI

Kondisi Konseling Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pelayanan Pastoral

No Hari/tanggal pertemuan Keterangan perubahan

1. Rabu, 26 Januari 2022 (Sebelum melakukan pelayanan pastoral)

(Pukul 20.00-20.40 WIB). Ekspresi sedih

Menaikkan alis dan mata melotot

Mengepalkan tangan, Ekspresi marah

Konseli merasa canggung menceritakan seluruh

perasaannya kepada konselor.

Mencari topik lain untuk dibahas.

2. Rabu, 02 Maret 2022 (Tahap pendekatan).

(Pukul 19.22-20.10 WIB). Membahas perpisahan dengan kekasih yang berbeda

agama dengannya dengan ekspresi marah

Mengerutkan alis

Menganggap neneknya meninggal karena

kesalahannya, dan konseli menangis.

3. Senin, 28 Maret 2022 (Memulai konseling dan mengenali masalah).


81

(Pukul 20.00– 21.30 Nada Tinggi

WIB). Mengepalkan Tangan

Ekspresi Sedih

Marah dan mengepalkan tangan

4. Senin, 16 Mei 2022 (Konseling Pastoral).

(Pukul 20.00 - 01.00 Meragukan kemampuannya sendiri

WIB). Khawatir

Menangis.

Mulai terbuka dengan perasaan yang sebenarnya.

Mulai mau menerima masa lalu.

5. Jumat, 10 Juni 2022 (Perubahan yang terjadi).

(Pukul 20.30 – 21.30 Mulai dapat mengendalikan amarah.

WIB). Bercerita sambil tersenyum tipis

Tidak lagi mengepalkan tangan.

6. Rabu, 06 Juli 2022 (Perubahan yang terjadi).

(Pukul 19.15-20.10 WIB). Bingung memilih keputusan

Tersenyum

Lebih santai dan terbuka ketika bercerita.

Menjadi dirinya sendiri


82

Tabel VII

Kondisi inner child Konseli sesudah Pendampingan Pastoral

Skor Sesudah Keterangan

Pendampingan

58 Tingkat inner child konseli sesudah melakukan

pendampingan pastoral menjadi inner child terluka

sedang. Hal ini terlihat dari alat ukur tingkat inner child.

Tabel diatas merupakan skor tingkat inner child yang terluka yang di berikan

kembali kepada konseli setelah melakukan pendampingan pastoral, Klient saat ini

sudah berkurang melakukan perbuatan menyakiti diri sendiri.

Tabel VIII

Kondisi Kemarahan Konseli sesudah Pendampingan Patoral

Skor Sesudah Keterangan

Pendampingan

30 Tingkat kemarahan konseli sebelum melakukan

pendampingan pastoral menngalami penurunan, dari

kemarahan tingkat tinggi menjadi tingkat sedang. Hal

ini terlihat dari alat ukur tingkat sedang.

Tabel diatas diberikan kembali kepada konseli sebagai alat ukur kemarahan

setelah melakukan pendampingan pastoral kepada konseli. Dapat dilihat bahwa

konseli mengalami penurunan tingkat kemarahan tinggi menjadi kemarahan tingkat

sedang.
83

Tabel IX

Tabel Konseling Sebelum, Pertengahan, dan Sesudah Dilakukan Pelayanan Pastoral

Pertengahan
Sebelum Pendampingan Setelah pendampingan
Pendampingan

1. Konseli belum mau 1. Mulai terbuka kepada 1. Adanya perubahan

terbuka. konselor. dalam diri konseli untuk

2. Berbicara dengan nada 2. Mulai menerima kondisi semakin menyayangi

tinggi (sedikit keluarga. dirinya sendiri.

membentak). 3. Mau diajak untuk 2. Sudah mampu

3. Sulit mengungkapkan mengekspresikan mengutarakan apa yang

perasaan. amarahnya. ia rasa kepada

4. Tertutup. 4. Mulai mengakrabkan keluarganya..

5. Selalu emosian jika diri dengan konselor. 3. Mengungkapkan marah

membahas keluarganya 5. Masih ingin marah melalui gambar

ketika bertemu

abangnya.

4.4. Hasil Alat Ukur

Tabel X

Hasil Alat Ukur Inner Child


84

Alat Sebelum Pendampingan Sesudah Pendampingan

Inner Skor Kondisi konseli Skor Kondisi Konseli

Child
84 Inner child tingkat 58 Inner child tingkat sedang

tinggi

Tabel diatas merupakan hasil skor alat ukur inner child, sebelum dan sesudah

pendampingan pastoral yang sudah diberikan oleh konselor kepada konseli. Terlihat bahwa

sebelum pendampingan pastoral konseli mengalami skor 84 setelah melakukan

pendampingan pastoral menjadi 58. Hal ini dapat dikatakan inner child tingkat tinggi telah

mengalami penurunan, menjadi inner child tingkat sedang.

Tabel XI

Hasil Alat Ukur Tingkat Kemarahan

Alat Ukur Sebelum Pendampingan Sesudah Pendampingan

Kemarahan Skor Kondisi konseli Skor Kondisi Konseli

38 Kemarahan tingkat 30 Kemarahan tingkat sedang

tinggi

Tabel diatas merupakan hasil skor alat ukur kemarahan, sebelum dan sesudah

pendampingan pastoral yang sudah diberikan oleh konselor kepada konseli. Terlihat bahwa

sebelum pendampingan pastoral konseli mengalami skor 38 setelah melakukan

pendampingan pastoral menjadi 30. Hal ini dapat dikatakan kemarahan tingkat tinggi telah

mengalami penurunan, menjadi kemarahan tingkat sedang.


85

4.5. Refleksi Teologis

Tidak jarang dalam hidup kita ingin menyerah. Beberapa bahkan mengambil jalan

pintas untuk putus asa dan mengakhiri hidup mereka. Ini terjadi karena mereka menanggung

kesulitan hidup mereka, dipaksa untuk berpikir sendiri dan mengandalkan pikiran mereka

sendiri. Mazmur 37:5 menyatakan, "Serahkan hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada

Tuhan, dan Tuhan akan bertindak." Mempercayakan dan mempercayai Tuhan berarti

sepenuhnya mempercayakan diri kita sendiri dan menjadikan otoritas Tuhan ada dalam hidup

kita.

Kekecewaan, luka, kemarahan, dan bahkan penderitaan hidup kita, Tuhan dengan

senang hati akan berubah menjadi sukacita. Masing-masing pribadi setiap orang tentu

memiliki perjuangan hidup sesuai dengan proporsinya masing-masing yang dialami karena

peristiwa masa lalu. Manusia tidak dapat memilih jenis keluarga, orang tua, atau lingkungan

tempat mereka dilahirkan. Sebagai orang Kristen, kita harus menyadari dalam hidup kita

bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita harus dilakukan dengan izin Tuhan. Baik

senang atau sedih, tidak semuanya terjadi tanpa alasan.

Kita harus selalu mencari pertolongan dan belas kasihan dari Tuhan agar kita dapat

mengatasi setiap masalah yang muncul dalam hidup kita. Sebagai manusia, kita pasti punya

batasan. Kemampuan untuk berpikir, bertindak, dan bahkan menghadapi masalah. Karena

pembatasan ini, orang tidak bisa hidup sendiri, tetapi mereka selalu membutuhkan orang lain

untuk mendengar cerita satu sama lain dan perjuangan hidup.


86

BAB V

KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan

1. Inner child merupakan salah satu faktor yang membentuk kepribadian seseorang.

Masa kanak-kanak yang penuh dengan pengalaman menyenangkan seperti bermain dan kasih

sayang dengan orang tua memberikan energi positif dan sikap optimis yang bertahan seiring

dengan pertumbuhan seseorang. Di sisi lain, pengalaman masa kecil yang buruk, seperti

kekerasan dan pelecehan seksual, perasaan diabaikan, dan kehilangan orang yang dicintai,

dapat menyebabkan luka emosional dan trauma yang berlanjut pada anak-anak di kemudian

hari hingga dewasa. Angela adalah seorang anak yang terlahir dalam keluarga yang

sederhana, ia memiliki orangtua yang sibuk bekerja dikarenakan kebutuhan keluarga yang

sangat banyak, dan jarak lahir antara Angela dan kedua abangnya berdekatan membuat kedua

orangtua Angela fokus mencari nafkah. Tentu saja keluarga menghadapi banyak tantangan,

salah satunya adalah masalah keuangan. Keluarga Angela tidak bisa berfokus untuk

memperhatikan anak anaknya, sehingga disaat perekonomian tidak stabil, membuat orang

tuanya tidak bisa mengontrol emosinya. Sehingga perlakuan kasar yang di berikan orang

tuanya kepada anaknya membuat Angela merasa sendirian, tidak di perhatikan, hingga Angela

memiliki marah yang tidak terkontrol sehingga tega menyakiti dirinya sendiri.
87

2. Di dalam Alkitab, Mefiboset adalah orang yang mengalami inner child juga dalam hal

ini Mefiboset telah mengalami Inner Child yang membentuk konsep dirinya. Konsep yang

dibentuk ia menganggap bahwa dirinya “tidak berarti apa-apa dan menganggap ia hanya

seperti seekor anjing mati saja”. Kebutuhan dasar Mefiboset sebagai manusia tidak terpenuhi,

ia kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Harga diri, makna hidup menjadi kabur. Begitu

juga dengan kecatatan fisik yang mempengaruhi citra dan hidup yang menyimpang yang

membuat semangatnya patah. Merasa tidak aman, rasa takut, tidak berharga, berduka, rasa

tidak dikasihi tampak menguasai Mefiboset. Emosi negatif yang Mefiboset punya inilah yang

tertanam dalam alam bawah sadarnya.

3. Tidak ada jaminan bahwa perilaku yang diberikan kepada anak akan sesuai dengan

apa yang diharapkan dari orang tuanya ketika mereka tumbuh dewasa, tetapi apa yang terjadi

ketika anak-anak tumbuh terikat dengan masa lalu mereka ketika mereka masih anak-anak

masa buruk dan menyenangkan, selalu terekam dalam pikiran. Tidak hanya tingkah laku,

tetapi juga pengolahan emosi yang dimiliki anak ini dibentuk sejak usia dini. Ketika sesuatu

terjadi dalam hidup kita, ketika kita ingin belajar untuk mengantisipasinya, kita tidak hanya

membantu diri kita sendiri tetapi juga membantu generasi berikutnya menjalani kehidupan

yang lebih baik. Selalu bergantung pada orang lain adalah salah satu tanda bahwa seseorang

memiliki inner child. orang yang anak batinnya terluka membutuhkan perhatian dan

pengakuan terus-menerus dari orang lain. Tentu saja, ini membuatnya terlalu bergantung

pada orang-orang di sekitarnya. Dia akan melakukan apa saja untuk menyenangkan orang-

orang di sekitarnya selama dia menerima perawatan dan perhatian yang dibutuhkan. Selain

itu tidak bisa mengendalikan emosi serta mengalami kesulitan mengendalikan emosinya saat

marah, emosinya meledak-ledak dan tidak terkendali, dan sama seperti saat dia sedih, mudah

menyalahkan dirinya sendiri bahkan melukai dirinya sendiri juga tanda terkena inner child.

Inner child juga bisa membuat orang yang mengalaminya kesulitan mempercayai orang lain
88

secara berlebihan biasanya disebabkan oleh trauma karena sering dibohongi di masa lalu.

Akibatnya, sebagai orang dewasa, mereka sulit mempercayai orang lain dan cenderung

skeptis sepanjang waktu. Setiap orang juga memiliki ketakutannya masing-masing, tetapi

ketakutan yang dilebih-lebihkan, membuat orang lain percaya bahwa mereka akan pergi. Hal

ini dapat menimbulkan emosi negatif, ketakutan, atau perasaan tidak layak untuk dicintai.

Kecemasan yang berlebihan seperti ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan

harus diatasi.

4. Penulis, selaku pernah satu sekolah dengan Angela sewaktu SMP dan berteman baik

dengan Angela ingin merangkul Angela agar ia tidak merasa sendirian dan bisa memberikan

solusi untuk Angela bisa mengontrol amarahnya dan tidak menyakiti dirinya sendiri. Penulis

sudah melalukan pastoral konseling dengan Angela dari bulan Januari hingga Juli 2022,

dalam hal ini penulis memberikan angket untuk mengukur inner child-nya dan angket

mengukur tingkat kemarahan, dengan hasil yang Angela miliki ialah kemarahan tingkat tinggi

dan inner child tingkat tinggi, dan setelah melakukan pendampingan Angela mengalami

penurunan yaitu menjadi inner child tingkat sedang dan kemarahan tingkat sedang. Dalam

penanganannya penulis memberikan solusi untuk menyalurkan emosi Angela lewat gambar.

Perbedaan Agama dan penulis membuat punulis merasa kesulitan untuk merangkul Angela

dengan ajaran Kristen secara langsung. Penulis sangat menghargai perbedaan Agama

sehingga penulis juga membatasi diri agar Angela tetap merasa nyaman dan aman saat

mengungkapkan perasaan yang dialami oleh Angela selama ini.

5. Selama penulis mendampingi Angela selama 5 bulan, tentu waktunya tidak cukup,

sehingga pendampingan untuk Angela akan terus dilakukan hingga batas waktu yang tidak

ditentukan. Selama pendampingan berlangsung Angela banyak mengungkapkan perasaannya

yang tidak pernah diungkapkannya kepada siapapun. Sehingga pada saat Angela
89

berkomunikasi dengan penulis tak jarang Angela menangis sebagai bentuk kesedihannya yang

selama ini di pendamnya.

Penulis sangat berharap tulisan ini dapat memberikan wawasan baru bagi kita semua,

khususnya para orang tua yang memiliki anak agar tetap memperhatikan anak-anaknya yang

sangat butuh ajaran dan bimbingan orang tuanya sendiri untuk menghadapi hidup ini. Setiap

orang memiliki karakteristik, perilaku, dan reaksi yang berbeda ketika berhadapan dengan

sesuatu. Tanpa disadari, inilah hasil didikan sejak dini yang dimulai dari lingkungan

keluarga. Dalam tumbuh kembang anak, keluarga merupakan wadah pertama pembentukan

karakter, dan anak meneladani baik buruknya akhlak bagi keluarganya terutama orang

tuanya. akan mampu membesarkan seorang anak dengan baik nantinya ketika ia memiliki

seorang anak. Inner child yang rusak, jika dibiarkan, seringkali menimbulkan dampak buruk

seperti kesulitan berkomunikasi, mengambil keputusan, atau membangun hubungan sosial,

serta kegagalan dalam mengasuh anak. Orang dengan anak batin yang terluka biasanya

menyimpan atau menunjukkan emosi negatif seperti kemarahan, ketakutan, kekecewaan, atau

kecemasan berlebihan tentang situasi yang berkaitan dengan pemicu trauma mereka. Tetapi

tidak semua orang dapat dengan mudah memahami apa yang terjadi pada anak batin mereka.

6. Pendampingan pastoral kepada Angela sangat efektif untuk menurunkan inner child yang

terluka dan menurunkan kemarahannya menjadi tingkat sedang. Untuk mengatasi inner child,

journaling adalah salah satu cara untuk mengatasinya. Karena dengan menulis bisa digunakan

untuk merefleksikan pengalaman. Selain itu bermeditasi memiliki banyak manfaat bagi

kesehatan fisik dan mental. Tetapi meditasi sangat bermanfaat untuk proses penyembuhan

anak batin yang terluka. Meditasi dapat membantu mengidentifikasi emosi yang muncul dan

membantu mengendalikannya dalam situasi traumatis. Meditasi juga memudahkan untuk

menerima dan mengakui emosi yang muncul. Seiring waktu, juga akan terbiasa

mengekspresikan perasaan Anda dengan cara yang sehat, sehingga Anda tidak akan memiliki
90

kemarahan tanpa disadari atau pertanyaan yang tidak terjawab. Selain itu menyalurkan emosi

lewat bakat yang ada juga menjadi solusi yang tepat mengendalikan diri. Setiap orang

memiliki kegiatan dan hobi favorit yang berbeda. Hobi dan aktivitas yang nikmati dapat

membantu melupakan sejenak masalah saat ini dan menciptakan energi positif dalam diri.

5.2. Saran

5.2.1. Saran Praktis Bagi Gereja

1. Gereja, sebagai tubuh orang percaya, harus memberikan pelayanan pastoral kepada

semua anggota komunitas yang mengalami pergumulan dalam hidup. Hal ini dapat

membantu gereja bertumbuh dalam iman.

2. Gereja harus menjadi wadah hamba-hamba Allah dengan membimbing mereka

dalam kompetensi mereka untuk memberikan pelayanan pastoral kepada jemaat-

jemaat yang membutuhkan.

3. Gereja harus memberitahu kaum muda dalam bentuk forum sebagai penggerak

gereja untuk menjadi pengikut gereja sehingga kaum muda gereja saat ini dapat

merasa nyaman di gereja mereka sendiri dan tidak pergi ke gereja lain.

4. Gereja harus terbuka dengan orang yang bukan warga Gereja, agar orang-orang

sekeliling merasakan kasih.

5. Gereja harus memberi perhatian lebih untuk memperhatikan kesehatan mental

warganya agar bisa mendidik generasi yang akan datang dengan baik.

5.2.2. Saran Bagi Sekolah Tinggi Teologi

1. Sebagai salah satu wadah untuk membentuk seseorang menjadi Pendeta, Sekolah

Tinggi Teologi hendaknya menawarkan pelayanan pastoral kepada Gereja dan

diluar Gereja untuk mengatasi pergumulan hidup, terutama mereka yang terluka

rohaninya.
91

2. Sekolah Tinggi Teologi harus memberi dukungan dan fasilitas untuk

memungkinkan para pendeta masa depan memahami dan memahami pelayanan

pastoral yang sangat dibutuhkan di gereja saat ini. Sehingga, mereka tidak lagi

dibingungkan atau dibiarkan begitu saja, tetapi bisa disertai dengan proses

penyembuhan.

5.2.3. Saran Bagi Mahasiswa

1. Mahasiswa teologi perlu mengetahui bagaimana mengidentifikasi masalah gereja

dengan benar agar dapat memberikan solusi yang tepat. Ini benar-benar membantu

gereja keluar dari pergumulan hidup. Tentu saja, cara untuk mengatasi masalah ini

adalah melalui pelayanan yang baik.

2. Mahasiswa teologi selalu membutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang

metode konseling sehingga mereka dapat menerapkannya ke gereja untuk

membantunya keluar dari penderitaannya.

3. Mahasiswa teologi harus perduli kepada siapun untuk melayaninya tanpa

memandang agama, suku, ataupun rasnya.


92

DAFTAR PUSTAKA

Abineno, J.L. Ch, Percakapan Pastoral Dalam Praktik, Jakarta : BPK-GM, 1986.

Aeni, Nur, TES PSIKOLOGI : Tes Inteligensi dan Tes Bakat, Yogyakarta: Universitas

Muhammadiyah Purwokerto Press, 2012.

Ali, Mohammad, Pengantar Pendidikan Prosedur dan Strategi, Bandung: Angkasa, 1985.

Beck, James R., dan David T. Moore, Kuatir Pedoman bagi Konselor, Jakarta: BPK Gunung

Mulia,2000.

Bradshaw, Jhon, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner child, Amerika:

Bantam Books, 1992.

Campbell, Ken, 7 Emosi Perusak Jiwa, Yogyakarta : ANDI, 2004.

Collins, Garry R., Konseling Kristen yang Efektif, Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara,

1990.

Engel, J.D., Pastoral dan Kebutuhan Dasar Konseling, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016.

Findiani, Era, Berdamai Dengan Rasa Marah, TK: Anak Hebat Indonesia, 2020.

Fisher, David, 21st Century Pastor: A Vision Based On The Ministry Of Paul, Zondervan ;

Grand Rapids, 1996.

Furchan, Arief, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional, 1982.

Gerber, Charles R., Kesembuhan Untuk Kepahitan hati, Surabaya : LATM/ Gereja Jemaat

Kristus Indonesia, 2006.

Gintings, E. P., Konseling Pastoral, Bandung: Jurnal Info Media, 2009.

Gintings, E. P., Mengantisipasi Stres dan Penanggulangannya, Yogya: Yayasan ANDI,1999.

Gintings, E. P., Pastoral Konseling Membaca Manusia Sebagai Dokumen Hidup,

Yogyakarta: ANDI, 2016.


93

Gintings, E.P., Konseling Pastoral, Bandung : IKAPI, 2009.

Hommes, Tj. G., & Gerrit E. Singgih, Teologi dan Praktis Pastoral Antropologi Teologi

Pastoral, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1992.

Hunt, Juni, Pastoral Konseling Alkitabiah Menjawab Isu-Isu Etika Sekuler Masa Kini II,

Yogyakarta: Andi, 2015.

Hunt, Juni, Pastoral Konseling Alkitabiah: Menjawab Isu-isu Etika Sekuler Masa Kini I,

Yogyakarta: ANDI, 2014.

Kartono, Widya, Doa, Stress, dan Luka Batin, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001.

Kasiram, H. Moh., Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, Malang: UIN, 2008.

Kent, Carol, Menaklukkan Rasa Takut, Yogyakarta : ANDI, 2006.

Komarudin, Kamus Riset, Bandung : Angkasa, 1982.

L. Whitfield, Charles, Healing the Child Within : Discovery and Recovery for Adult Children

of Dysfunctional Families, Florida: Health Communications, 1987.

Mappiare AT, Andi, Pengantar Konseling dan Psikoterapi, Jakarta : PT. Raja Gravindo

Persada, 1992.

Materoff, Milton, Mendampingi Untuk Menumbuhkan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.

McCord, Joan, Violence and Childhood in the Inner City, America: Cambridge University,

1997.

Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005.

Nggebu, Sontenis, 70 Garis Besar Khotbah Biografi Para Tokoh Alkitab, Bandung: Biji

Sesawi, 2011.

Nisbet, J. , dan J. Watt, Studi Kasus : Sebuah Panduan Praktis, Jakarta : Gramedia, 1994.

Oaklander, Violet, HIDDEN TREASURE A map to the child’s inner self, London: Karnac,

2006.

Riyanto, Theo, Jadikan Dirimu Bahagia, Yogyakarta : Kanisius, 2010.


94

Safaria, Triantoro, & Nofrans Eka Saputra, Manajemen Emosi (Sebuah Panduan Cerdas

Bagaimana Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda.

SAGST, Studi Pastoral I Sumut, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1985.

Saragih Sumbayak, Jaharianson, Psychodelsi, Medan : CV. Sinarta, 2019.

SEAGST Institute Of Advanced pastoral Studies Bersama Panitia Metode Studi Kasus, NTT,

Studi Kasus Pastoral II, NTT, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1990.

Seamands, David A., Kesembuhan Memori, Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1997.

Sharma, Dinesh, Childhood, Family, and Sociocultural Change in India: Reinterpreting the

Inner World, New Delhi: OXTORD UNIVERSITY PRBS, 2003.

Sinaga, Yenni Meriam Yohana, Skripsi : “Pendampingan Kepada Maya yang Menyimpan

Kemarahan Akibat Luka Batin”, Medan : STT Abdi Sabda, 2019.

Sipayung, Jon Riahman, Tema-tema Kontemporer, Medan : Sinarta, 2020.

Stephen, A. Grunland, and H. Lambrides Daniel, Healing Relatonship:

A Christian’s Manual for Lay Counseling, Camp Hill, PA: Christian Publications,

1984.

Surakhmad, Winarno, Pengantar Pendidikan Prosedur dan Strategi, Bandung: Tarsito, 1985.

Susabda, Yakub B, Menjadi Konselor yang Profesional, Yogyakarta: ANDI, 2007.

Susabda, Yakub B., Pastoral Konseling (Jilid Dua), Malang: Gandum Mas, 1996.

Susabda, Yakub, Pastoral Konseling, Malang: Gandum Mas, 2011.

Tong, Stephen, Pengudusan Emosi, Surabaya : Momentum, 2020.

Tu’u, Tulus, Dasar-dasar Konseling Pastoral, Yogyakarta: Andi, 2007.

Van Beek, Aart, Pendampingan Pastoral, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2007

Whitfield, Charles L., Recovery of Your Inner Child: The Highly Acclaimed Method for

Liberating your inner self, New York: Fireside, 1991.


95

Wright, H. Norman, Konseling Krisis Membantu Orang Dalam Krisis dan Stress, Malang:

Gandum Mas,1999.

Sumber Elektronik:

Annisa Permata Dewi, Pengaruh Parenting Self-Efficacy dan Child Temperament Terhadap

Parenting Stress, Halaman 16-17, diakses pada 2 April 2022, Pukul 16:49 WIB, yang

diakses [Link]

%20P ERMATA%20DEWI%20-%[Link].

KemenPPPA, Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan, Diakses pada 26 Januari 2022, Pukul

15:11 WIB, yang diakses dari [Link]

731671/kemenpppa-kasus-kekerasan-anak-dan-perempuan-meningkat-di-2021

Khosyi’atul Hamidah, Kesadaran Inner Child Dalam Komunikasi Interpersonal Di Kalangan

Santri Pondok Pesantren Annasyiah Al-Jadidah, Halaman 51-52, diakses Rabu, 6

April 2022, Pukul 17:44 WIB, yang diakses dari

[Link]

Novita Asavasthi, Kenali, Sadari, dan Atasi Luka Inner Child, diakses pada Rabu, 23 Februari

2022 Pukul 09.14 WIB, yang diakses dari [Link]

sehat/read/3644446/kenali-sadari-dan-atasi-luka-inner-child.

Pukul 23.05 WIB, yang diakses dari [Link]

tanda- inner-child-yang-sedang-terluka.

Rizal Fadli, Tand-tanda Inner Child yang Sedang Terluka, Diakses pada Selasa, 05 April

2022,
96

The Hope Line, Understanding Self- Harm and Cutting Scars Don’t Have To Last Forever,

Halaman 4, Diakses pada Senin 2 Mei 2022, Pukul 11.12 WIB, yang diakses dari

[Link]

Anda mungkin juga menyukai