Dampak Pelayanan Pastoral pada Inner Child
Dampak Pelayanan Pastoral pada Inner Child
Kasus)
SKRIPSI
Oleh:
NIM: 18.01.1710
MEDAN
2022
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI ABDI SABDA MEDAN
NIM : 18.01.1710
Studi Kasus)
Disetujui Oleh:
Diketahui Oleh:
NIM : 18.01.1710
Studi Kasus)
Skripsi Ini Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat - syarat Untuk
Dalam Ujian Meja Hijau di STT Abdi Sabda Medan pada Tanggal
3. Penguji I : ( )
4. Penguji II : ( )
SURAT PERNYATAAN
NIM : 18.01.1710
Studi Kasus)
Dengan ini menyatakan bahwasanya penulis tidak melakukan plagiat terhadap skripsi
yang lain. Apabila dikemudian hari terbukti penulis telah melakukan plagiat, maka penulis
bersedia menerima sanksi yang diberikan oleh Sekolah Tinggi Teologi Abdi Sabda Medan
berupa gelar dan ijazah penulis akan dicopot. Demikian surat pernyataan ini penulis perbuat
Hormat Saya,
KATA PENGANTAR
Puji dan hormat bagi Tuhan yang senantiasa memperlengkapi dan memberikan
kekuatan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas penyusunan skripsi ini. Bukan dengan
kekuatan penulis, tetapi penulis sadar bahwa semuanya yang dilalui merupakan sebuah
pengalaman yang luar biasa semua karena anugerah dari Allah. Di dalam penyusunan skripsi
ini penulis merasakan penyertaan Tuhan. Hanya dengan kasih-Nya penulis dapat
menelesaikan skripsi ini yang berjudul: INNER CHILD ANGELA YANG TERLUKA
(Dampak Pelayanan Pastoral Kepada Angela Wiyogo yang Memiliki Inner Child yang
Skripsi ini penulis persembahkan untuk kedua orang tua (ayah dan mamak) dan abang
(Berry Rizky Ginting) , kakak (Ira Santha Charoline Ginting), adik (Sheila Nikita Ginting)
yang penuh kasih mendukung dalam setiap proses perkuliahan hingga sampai tahap
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yang memberikan doa, waktu, tenaga dan
2. Dr. (cand) Edward Simon Sinaga selaku dosen kedua yang sudah membimbing
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yang sudah memberi doa, waktu, tenaga
3. Bapak Agus Jetron Saragih M. Th, selaku ketua STT Abdi Sabda Medan. Terimakasih
perkuliahan.
4. Ibu Dr. Rohny Pasu Sinaga selaku ketua Jurusan Prodi Teologi STT Abdi Sabda
Medan, Terimakasih atas semua pengajaran, bimbingan dan didikan selama penulis
menjalankan perkuliahan.
5. Terimakasih untuk Bapak Marhasil Hutasoit, [Link] selaku Wali Kelas A-2018 yang
6. Bapak/Ibu Dosen STT Abdi Sabda Medan yang telah banyak memberikan ilmu,
selama pengerjaan skripsi dan memberikan banyak sekali masukan dalam hal
8. Terimakasih kepada seluruh jemaat GBKP Rg. Cinta Damai yang memberikan
10. Terimakasih untuk rekan sepelayanan Guru KA/KR GBKP [Link] Damai: Ananda
Brema Ginting, Anggreiny Aurora Pate Lado, Elpita Lorena, Andre Sembiring atas
11. Terimakasih untuk rekan sepelayanan TIM Kebaktian Minggu Pemuda PERMATA
GBKP Klasis [Link] dan TIM Tata Cara Persidangan PERMATA GBKP
12. Teima kasih untuk manusia ajaib Maia Nurhayati Ginting dan Ayu Sihotang yang
13. Last but not least, I wanna thank me, I wanna thank me for believing in me, I wanna
thank me for doing all this hard work, I wanna thank me for having no days off. I
wanna thank me for never quitting, for just being me at all times.
ABSTRAK
Inner Child adalah gambaran dari sikap kanak-kanak yang melekat dalam bawah sadar
yang terbentuk dari pengalaman masa kecil dan terbawa hingga dewasa. Masa kecil ialah
masa emas yang dimulai dari dalam kandungan hingga usia 6 tahun. Anak-anak pada usia ini
sangat sensitif terhadap hal-hal seperti yang terjadi di lingkungan, terutama di lingkungan
rumah. Kecerdasan anak-anak juga meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia
mereka otak anak menyerap informasi dengan mudah. Bahkan jumlah terkecil tercatat di
otak anak. Jadi di zaman keemasan ini membutuhkan perhatian lebih dari orang tua, terutama
dalam hal mengasuh anak. Pendidikan yang salah kepada anak akan memiliki konsekuensi
jangka panjang ketika anak sudah menjadi dewasa. Inner child yang terluka dialami oleh
Angela, hal ini menjadikan jarak antara anak dan keluarga, terkhususnya orang tua. Tidak
hanya berdampak kepada Keluarga, namun inner child yang terluka membuat Angela
memiliki kemarahan serta memiliki niat untuk menyakiti dirinya sendiri karena merasa tidak
ada yang bisa menjadi tempat ia berbagi pergumulan hidup yang ia alami. Inner child bisa
diatasi oleh diri sendiri asalkan orang yang mengalami inner child yang terluka mau berdamai
dengan masa lalunya. Berdasarkan penulisan skripsi rumusan masalah dengan metode metode
studi kasus penulis sebagai konselor memberikan perhatian lebih untuk Angela dalam
mendengar semua pergumulan Angela dan membantu mengatasi permasalahan yang dialami
oleh sebelum melakukan pendampngan pastoral Angela yang mengalami inner child yang
terluka tingkat tinggi, menjadi inner child tingkat sedang dan Angela yang memiliki
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................i
ABSTRAK.................................................................................................................................iv
DAFTAR ISI...............................................................................................................................v
DAFTAR SINGKATAN..........................................................................................................vii
BAB I
PENDAHULUAN......................................................................................................................1
1.1. Latar Belakang Masalah...............................................................................................1
1.2. Identifikasi Masalah...................................................................................................10
1.3. Tujuan Penulisan........................................................................................................12
1.4. Manfaat Penulisan......................................................................................................12
1.5. Metodologi Penelitian................................................................................................13
1.5.1. Pengertian Metode Studi Kasus..........................................................................13
1.5.2. Keilmiahan Metode Studi Kasus........................................................................14
1.5.3. Keunggulan Metode Studi Kasus........................................................................14
1.5.4. Kelemahan Metode Studi Kasus.........................................................................15
1.5.5. Langkah-langkah Dalam Metode Studi Kasus...................................................15
1.6. Sistematika Penulisan.................................................................................................17
BAB II
DESKRIPSI DAN ANALISA KASUS....................................................................................19
2.1. Deskripsi.........................................................................................................................19
2.2. Genogram Keluarga Angela...........................................................................................23
2.2.1. Genogram Angela...............................................................................................24
2.2.2. Genogram Angela dari Garis Keturunan Ayah...................................................25
2.2.3. Genogram Angela dari garis keturunan Ibu........................................................25
2.3. Kasus yang Pernah Terjadi Tentang Inner Child Seperti yang Dialami Angela.......26
2.4. Analisa Kasus.............................................................................................................30
2.4.1. Inner Child..........................................................................................................30
2.4.2. Kemarahan..........................................................................................................37
2.4.3. Menyakiti Diri Sendiri........................................................................................40
2.5. Kesimpulan Analisa...................................................................................................43
BAB III
INTERPRETASI MASALAH..................................................................................................45
vi
DAFTAR SINGKATAN
I. Alkitab
a. Perjanjian Lama
1. Kej : Kejadian
2. Yer : Yeremia
3. Sam : Samuel
4. Maz : Mazmur
5. Hak : Hakim-Hakim
6. Taw : Tawarikh
7. Mat : Matius
8. Rj : Raja-Raja
b. Perjanjian Baru
1. Yoh : Yohanes
II. UMUM
2. SD : Sekolah Dasar
BAB I
PENDAHULUAN
Sejak tahun 1960-an istilah Inner Child mulai menjadi tema yang populer dalam dunia
Psikologi. Anak Batin adalah bagian dari diri kita yang merasa seperti anak kecil dan dapat
Missildine menulis tentang hal itu dalam bukunya yang inovatif, Your Inner Child of the Past.
Keadaan Anak juga merupakan aspek penting dari Analisis Transaksional, yang
dikembangkan oleh Eric Terne pada tahun enam puluhan dan dipopulerkan pada tahun tujuh
puluhan.1 Manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki kebutuhan dasar dalam
mensosialisasikan perjalan hidupnya. Kebutuhan ini dipenuhi oleh orang tua, keluarga,
Anak-anak yang secara emosional terganggu karena beberapa trauma atau alasan lain,
sehingga akan cenderung membatasi diri mereka sendiri dalam beberapa cara, mereka akan
membius indra mereka, membatasi tubuh, memblokir emosi mereka dan menutup pikiran
mereka. Tindakan ini sangat mempengaruhi kesehatan pertumbuhan anak-anak dan semakin
1
Charles L. Whitfield, Recovery of Your Inner Child: The Highly Acclaimed Method for Liberating your
inner self, (New York: Fireside, 1991), 21.
2
E. P. Gintings, Pastoral Konseling Membaca Manusia Sebagai Dokumen Hidup, (Yogyakarta: ANDI,
2016), 1.
2
memperburuk masalah mereka. Mereka tidak dapat melakukan kontak yang baik ketika
anak beberapa perasaan kontrol dan kekuasaan. Namun, pada dasarnya, dia sepenuhnya
bergantung pada orang dewasa dalam dirinya hidup untuk bertahan hidup. Selain kebutuhan
dasarnya, anak kecil itu tumbuh subur karena cinta dan persetujuan. Masalahnya adalah anak
tidak selalu tahu apa yang harus lakukan untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan, dan
terkadang prosesnya dalam hidup bisa tidak tepat dan menyebabkan kesulitan lebih lanjut.4
Setiap orang memiliki sifat, perilaku serta respons yang berbeda-beda dalam
menghadapi sesuatu. Hal ini tanpa disadari adalah hasil dari didikan sejak kecil yang dimulai
dari lingkungan keluarga. Dalam perkembangan pertumbuhan anak, keluarga adalah wadah
pertama dalam pembentukan karakter, baik itu karakter yang baik maupun karakter yang
buruk yang dapat ditiru oleh anak melalui keluarganya sendiri, terutama oleh orang tuanya.
Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah dan harus memiliki kesiapan yang matang
seperti keuangan serta mental dalam mendidik anak dengan baik. Ajaran orangtua kepada
Hubungan antara perilaku buruk masa kecil dan hasil ketika dewasa juga ditemukan di
seluruh domain kehidupan. Misalnya, perilaku tertentu pada masa kanak-kanak mungkin tidak
memprediksi perilaku yang sama persis di masa dewasa nanti, tetapi mungkin masih terkait
dengan hasil yang secara konseptual konsisten dengan perilaku sebelumnya.5 Perilaku yang
diberikan kepada anak sewaktu kecil tidak dapat dipastikan akan sama seperti yang
diharapkan orangtuanya ketika ia besar, namun apa yang terjadi ketika anak sudah dewasa itu
masih terkait ke masalalunya saat ia kecil. Maka dari itu masa lalu seorang anak ketika ia
3
Violet Oaklander, HIDDEN TREASURE A map to the child’s inner self, (London: Karnac, 2006), 7.
4
Violet Oaklander, HIDDEN TREASURE A map to the child’s inner self, 12.
5
Joan McCord, Violence and Childhood in the Inner City, (America: Cambridge University, 1997), 43.
3
kecil akan selalu terekam dalam pemikirannya. Tak hanya perilaku, namun bagaimana
pengelolaan emosi yang dimiliki oleh anak ini juga terbentuk sejak ia kecil.
Kita melihat orang di sekitar kita merasa sedih, takut, ragu, cemas, dan tertekan, penuh
dengan kerinduan yang tak terucapkan. Tentunya hal ini berpotensi menjadi masalah terbesar
dari semuanya. Semakin kita tahu tentang bagaimana kita kehilangan masa ide dan
kreativitas, semakin kita dapat menemukan cara untuk mendapatkannya kembali. Kita biasa
melakukan sesuatu untuk mencegah kehilangan ini terjadi untuk anak-anak kita sendiri di
masa depan.6 Ketika sesuatu hal yang sudah pernah terjadi dalam kehidupan kita, ketika kita
mau mempelajari bagaimana cara mengantisipasi hal tersebut, kita tidak hanya menolong diri
kita sendiri, namun menolong generasi yang akan lahir selanjutnya agar kehidupannya lebih
baik lagi.
marah dan terluka, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi seorang dewasa dengan karakter
pemarah dan terluka dalam dirinya. Anak ini secara spontan akan mencemari perilaku orang
dewasa yang di dalam dirinya. Pada awalnya, mungkin tampak tidak masuk akal bahwa
seorang anak kecil dapat terus hidup dalam tubuh dewasa. Anak batin masa lalu yang
terabaikan dan terluka ini adalah sumber kesengsaraan manusia. Sampai ketika kita merebut
kembali dan memperjuangkan anak itu, dia akan terus bertingkah dan mencemari kehidupan
dewasa kita.7 Masa kecil yang ada dalam diri inilah yang disebut dengan anak dalam diri itu,
dimana perasaan yang ia alami belum terselesaikan agar tidak menjadi masalah ketika
dewasa.
6
Jhon Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child, (Amerika: Bantam
Books, 1992), 5
7
Jhon Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child,, 7.
4
Berdasarkan pengumpulan data milik KemenPPPA8, kekerasan pada anak hingga data
November 2021 sebanyak 12.566 kasus.9 Salah satu yang mengalami kasus kekerasan ialah
Angela. Angela (nama samaran) saat ini masih berumur 20 tahun, beragama Budha dan
bersuku Hai Lok Hong. Angela adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Dia memiliki 2 orang
abang, pertama bernama Billy, dan kedua bernama Calvin, mereka dilahirkan dalam keluarga
yang sederhana perekonomiannya. Bapak Angela bekerja dengan membuka usaha bengkel
dirumah dan Ibunya bekerja di bank namun saat masih kecil Angela dan saudaranya sering
sakit-sakitan dan mengharuskan Ibu Angela fokus dalam menjaga kesehatan anak-anaknya.
Akibatnya perekonomian dikeluarga menurun dan akhirnya Ibu Angela membuka usaha toko
kelontong dirumahnya.
Pada saat perekonomian tidak stabil, Bapaknya menjadi orang yang tempramental
terhadap istri dan anak-anaknya. Menurut Joan McCord (1942) bahwa faktor struktural
kemiskinan dan ketidakstabilan dalam rumah tangga menjelaskan variasi dalam tingkat
kejahatan dan kenakalan.10 Bapak Angela tidak bisa mengatur sehingga sering terjadi
kekerasan dalam rumah tangga. Walaupun sempat berpikiran untuk berpisah, orang tua
Angela tetap berusaha untuk kembali akur lagi agar rumah tangga bertahan.
Temprament Bapaknya tidak hanya terkena kepada Ibu Angela saja, namun juga
terhadap anak-anaknya. Angela dan kedua abangnya juga sering dipukul walau masalah itu
sepele dan saat nilai belajar anak-anaknya menurun maka mereka akan mendapat hukuman
bahkan suatu ketika mereka pernah ditelanjangi. Kekerasan yang dialami Angela berdampak
terhadap nilai sekolah Angela yang selalu menurun hingga ia duduk di bangku SMP, dalam
pertemanannya pun Angela cenderung menutup diri dan sulit mengungkapkan perasaannya.
8
KemenPPPA merupakan singkatan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak Republik Indonesia, yang telah menjadi program pemerintah dalam pemberdayaan perempuan sejak tahun
1978, diakses pada 26 Januari 2022, pukul 15:08 WIB yang diakses dari
[Link]
9
KemenPPPA, Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan, Diakses pada 26 Januari 2022, Pukul 15:11
WIB, yang diakses dari [Link]
kasus-kekerasan-anak-dan-perempuan-meningkat-di-2021,
10
Joan McCord, Violence and Childhood in the Inner City, 35
5
Tidak hanya kekerasan fisik yang didapatkan oleh Angela namun kekerasan verbal
oleh orangtuanya serta abangnya Billy yang meniru orang tuanya juga melakukan kekerasan
terhadap Angela. Hal yang paling membuat Angela sakit hati disaat orang tuanya mengatakan
bahwa dirinya adalah anak sial dan berharap kalau Angela tidak pernah lahir. Awalnya ia
hanya diam saja lama-kelamaan, kesabaran Angela memuncak serta memberontak kedua
orang tuanya.
memahami sinyal batin mereka sendiri. Mereka juga membutuhkan bantuan dalam
memisahkan pikiran mereka dari perasaan mereka. Ketika lingkungan keluarga diisi dengan
kekerasan (kimiawi, emosional, fisik, atau seksual), seiring waktu dia kehilangan kemampuan
untuk membangkitkan harga diri dari dalam dan itu adalah gejala anak batin yang terluka.
terpenuhi, dan karena itu ia tidak dapat mengetahui siapa dirinya.11 Kekerasan verbal dan non
verbal inilah yang membuat Angela sejak SMP sering melukai dirinya dengan menyayat
tangannya menggunakan pisau dapur hingga luka dalam. Ia menyayat tanggannya dengan
sadar sambil tersenyum dan tidak merasakan sakit sama sekali. Hal ini tidak hanya dilakukan
sekali saja, namun berkali-kali sampai ingin melakukan aksi bunuh diri.
Ini terutama berlaku untuk kekerasan fisik, pelecehan seksual, dan pemukulan emosional yang
parah.12 Angela tumbuh sebagai orang yang keras dan tertutup terhadap keluarganya, untuk
berbicara kepada orangtuanya saja hanya ketika urusan penting saja. Canda tawa menjadi
dirasakan oleh Angela. Hal ini menyebabkan hubungan antara orangtua dan anak sangat jauh,
bahkan kepada abangnya Billy, ia masih merasa sakit hati dan ingin sekali membunuhnya atas
11
Jhon Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child, 9
12
Jhon Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child,, 10
6
perlakuannya terhadap Angela dan hingga saat ini ia masih menyimpan dendam kepada
abangnya Billy.
Ada 5 urutan kebutuhan manusia yang disusun oleh Abraham Maslow, yaitu:
2. Kebutuhan keamanan, kebutuhan yang memberi nilai rasa aman seperti tertib,
3. Kebutuhan cinta, kebutuhan dihargai, merasakan kasih sayang serta cinta dalam
diri.13
Tidak cukupnya pemenuhan kebutuhan manusia ini dapat memicu seseorang frustasi,
kegelisahan yang tidak nyata dan nyata.14 Melalui 5 kebutuhan menurut Abraham Maslow,
Angela disimpulkan tidak mendapati kebutuhan keamanan, kebutuhan cinta, serta kebutuhan
penghargaan. Dan tentu saja jika kebutuhan ini tidak terpenuhi dengan baik maka akan
mengubah perilaku Angela. Kejadian yang tidak bisa terlupakan oleh seseorang adalah saat ia
merasa sedih, dan sering kali terbawa ke dalam batin dan menciptakan luka traumatik. Sering
kita sudah mencoba untuk mengabaikan bahkan melupakan peristiwa yang terjadi, tetapi
13
E. P. Gintings, Mengantisipasi Stres dan Penanggulangannya, (Yogya: Yayasan ANDI,1999), 20-21.
14
E. P. Gintings, Mengantisipasi Stres dan Penanggulangannya,, 23.
15
Widya Kartono, Doa, Stress, dan Luka Batin, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001), 19-20.
7
Penyembuhan memori dalam ingatan merupakan bentuk dari konseling dan doa
Kristen yang memfokuskan kuasa penyembuhan dari Roh Kudus pada jenis-jenis masalah
emosional tertentu.16 Anak batin yang dirampas secara narsistik mencemari orang dewasa
dengan keinginan yang tak terpuaskan akan cinta, perhatian, dan kasih sayang. Anak itu
tuntutan akan menyabotase hubungan dewasanya, karena bagaimanapun caranya banyak cinta
yang akan datang, itu tidak pernah cukup. Secara narsis anak dewasa yang kekurangan tidak
dapat memenuhi kebutuhannya, karena anak-anak membutuhkan orang tua mereka sepanjang
bergantung pada orang lain untuk dipenuhi.17 Reaksi seseorang terhadap perubahan, apakah
bersifat adaptif atau oposisional, juga ditempatkan di ujung kontinum yang lain, yaitu di
dalam mode keberadaan 'relasional' dan berkembang dengan bantuan keluarga dan
lingkungan.18 Reaksi yang ada terbentuk oleh orang-orang sekitarnya, apakah ia akan bersifat
baik atau tidak itu akan bergantung dari apa yang lingkungan bentuk untuknya. Seorang
konselor bertugas untuk membuat konseli merasa terbantu dan merasa tenang dalam proses
konselingnya.19
Dengan disiplin yang sangat tinggi dan kemampuan pelayanan memalui percakapan
dengan berbagai macam keterampilan yang dimiliki koselor, konselor juga harus memiliki
strategi di dalam percakapannya dengan konseli.20 Tujuan konselor adalah untuk memahami
perilaku, motivasi, dan emosi konseli yang dihadapinya. Oleh karena itu, konselor umumnya
perlu hadir sebagai seseorang yang membantu untuk memperbarui diri, merangkul, dan
16
David A. Seamands, Kesembuhan Memori, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1997), 25.
17
Jhon Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child, 11.
18
Dinesh Sharma, Childhood, Family, and Sociocultural Change in India: Reinterpreting the Inner
World, (New Delhi: OXTORD UNIVERSITY PRBS, 2003), 58
19
James R. Beck, dan David T. Moore, Kuatir Pedoman bagi Konselor, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia,2000) , 74
20
Yakub [Link] Ph D., Menjadi Konselor yang Profesional, (Yogyakarta: ANDI, 3007), 53.
8
memahami diri.21 Membuat konseli yang ingin mencari nasihat sadar akan diri mereka sendiri
dan masalah mereka, dan mau bertanggung jawab terhadap Tuhan, orang lain, dan diri mereka
Dasar alkitabiah dan teologi yang benar juga harus ada dimiliki pelayanan pastoral.23
Sebagai orang Kristen dalam usaha untuk menguatkan seseorang dengan doktrin manusia
yang akan ditekankan adalah tentang keindahan ciptaan manusia (Kejadian 24 1:3), gambar
Allah yang ada pada manusia (Kej. 1:27), dan inkarnasi (Yohanes25 1:1-14) pengembangan
kepribadian dengan pemikiran yang negatif dapat merugikan proses perkembangan dari kecil
Dalam Alkitab, Yeremia yang masih muda di beritahu oleh Allah tentang
panggilannya sebelum ia lahir (Yerermia27 1:5). Inilah perigatan yang Allah beri kepada
Yeremia dengan menugaskannya menjadi nabi, tentunya pada saat itu Allah menggunakan
kuasanya dalam menyembuhkan bekas luka dan sakit hati dari memori-memori yang
menyakitkan Yeremia sehingga membuat Yeremia mampu untuk mengampunia dan tidak
mengingat dosa-dosa orang lain (Yer 31:34). Allah sangat baik, Ia memiliki kesembuhan
pendampingan karena suatu hal. Ada interaksi atau hubungan paralel antara pendamping dan
21
Andi Mappiare AT, Pengantar Konseling dan Psikoterapi, (Jakarta : PT. Raja Gravindo Persada,
1992), 44-45.
22
E. P. Gintings, Konseling Pastoral, (Bandung: Jurnal Info Media, 2009), 19
23
David Fisher, 21st Century Pastor: A Vision Based On The Ministry Of Paul, (Zondervan ; Grand
Rapids, 1996), 11.
24
Disingkat menjadi Kej
25
Disingkat menjadi Yoh
26
E. P. Gintings, Mengantisipasi Stres dan Penanggulangannya, 35.
27
Disingkat menjadi Yer
28
David A. Seamands, Kesembuhan Memori, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1997), 23.
9
seimbang.29 Tugas konselor adalah mendukung dan membimbing mereka yang mencari
nasihat.30 Hubungan yang mendalam hanya dapat dibangun ketika konselor menganggap
orang yang membutuhkan sangat berharga.31 Dukungan ini juga ditujukan untuk membantu
mereka yang mencari nasihat yang mengalami berbagai kesulitan dalam hidup untuk memiliki
harapan kepada Tuhan dalam hidup mereka. Dukungan ini juga terutama ditujukan untuk
memperkuat kepercayaan dari mereka yang mencari nasihat. Pada awalnya, tidak ada yang
mengerti perasaan mereka dan ingin mendengar ketidakpuasan mereka, sehingga mereka
tampak meredakan situasi dan merasa percaya diri.32 Dengan adanya konseling hubungan dua
arah antara konselor dan konseli, pemenuhan kebutuhan konseli akan terpenuhi di saat
konselor berusaha membantu dan membimbing dan memahami untuk mengatasi masalah
Pendampingan ini bermaksud untuk membuat konseli dapat mengungkapkan apa yang
menjadi pergumulan yang ia alami sejak ia masih kecil, konselor akan berupaya penuh agar
konseli merasa apa yang ia inginkan dimasa kecil tidak menjadi gangguan lagi untuk konseli
bagi kehidupannya dimasa kini. Kebutuhan anak ialah kasih sayang yang tulus dari
orangtuanya, meskipun Angela seperti biasa-biasa saja, namun pengalaman masa lalu ini
membuat ia sangat tertutup dengan keluarganya serta ia memiliki marah yang tidak bisa
diselesaikannya sendiri, dan sempat untuk menyakiti dirinya sendiri tapa rasa sakit.
Melihat kondisi Angela seperti diatas, penulis merasa perlu mendampingi Angela
dalam menyelesaikan Inner Child nya yang menghadapi kekerasan untuk menurunkan
amarahnya serta membantu Angela agar tidak menyakiti dirinya lagi. Dengan penjelasan latar
belakang masalah diatas, maka penulis mencoba untuk menulis karya ilmiah dengan judul:
29
Aart Van Beek, Pendampingan Pastoral, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2007), 9-11.
30
Tulus Tu’u, Dasar-dasar Konseling Pastoral, (Yogyakarta: Andi, 2007), 26.
31
J.D. Engel, Pastoral dan Kebutuhan Dasar Konseling, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 1.
32
Milton Materoff, Mendampingi Untuk Menumbuhkan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 56-57.
33
Garry R. Collins, Konseling Kristen yang Efektif, (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1990), 3.
10
Angela Wiyogo yang Memiliki Inner Child yang Terluka Dalam Rangka Menurunkan
Kemarahan dan Menghentikan Perilaku Menyakiti Diri Sendiri Dengan Metode Studi
Kasus)34
penulis tetap dalam penelitian dan apa yang ingin di lakukan berdasarkan tujuan
penelitiannya. Untuk lebih memfokuskan penelitian pada banyak masalah yang sedang
1. Adanya didikan orangtua yang keras kepada anak, sehingga anak tidak bisa
mengekspresikan dirinya.
3. Adanya perasaaan marah yang konseli alami sampai ia dewasa dikarenakan sering
5. Keluarga tidak dekat dengan konseli sehingga konseli menutup diri dengan
keluarga.
34
Adapun penulis bernama Sherly Tri Olivia (STO) Saya tertarik membahas ini di karenakan saya
melihat pengaruh Inner Child ini sangat berdampak ketika dewasa.
35
Mohammad Ali, Pengantar Pendidikan Prosedur dan Strategi, (Bandung: Angkasa, 1985), 38.
11
menyederhanakan masalah seorang peneliti, tetapi juga segala sesuatu yang diperlukan untuk
memecahkan masalah, tenaga, ketangkasan, waktu, biaya, dll. Perlu ditentukan terlebih
dahulu apa yang akan dihasilkan dari suatu rencana tertentu.36 Penulis menyadari memiliki
keterbatasan baik kemampuan dana, tenaga, dan waktu. Oleh sebab itu, Penulis membatasi
Memiliki Inner Child yang Terluka Dalam Rangka Menurunkan Kemarahan dan
masuk akal dan untuk memahami atau menjelaskan faktor-faktor yang terkait dengan
masalah.37 Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah di atas, maka masalah dalam
1. Apa yang dimaksud dengan inner child dan dampak yang ditimbulkan akibat
4. Bagaimana tingkat kemarahan dan melukai diri sendiri sebelum dan sesudah
konseling?
36
Winarno Surakhmad, Pengantar Pendidikan Prosedur dan Strategi, (Bandung: Tarsito, 1985), 39.
37
Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), 92.
12
Tujuan adalah arah dan tujuan yang harus dicapai melalui segala tindakan. Oleh
karena itu, karena tujuan merupakan jawaban atas masalah yang diteliti, maka tujuan
memegang peranan yang sangat penting dan perlu dIbuat secara jelas, tegas, dan rinci.38
Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa itu inner child, dan apa dampak yang ditimbulkan akibat
4. Untuk mengetahui tingkat kemarahan dan melukai diri sendiri sebelum dan
pastoral
memiliki inner child yang terluka dalam dirinya, dan dapat menurunkan
38
H. Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, (Malang: UIN, 2008), 53.
13
mengekspresikan emosi yang ada agar tidak salah dalam mengambil kepusan.
jemaat.
disebut metode studi kasus. Kemampuan berpikir kritis serta teologis dalam
39
Arief Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 1982), 46.
40
Komarudin, Kamus Riset, (Bandung : Angkasa, 1982), 41.
14
manusia (realitas). Situasi konkret adalah masalah yang ada dalam realitas
dan kritis. Upaya ini memungkinkan pengguna metode studi kasus untuk
dekat antara praktisi metode studi kasus adalah antara teolog dan psikolog.41
normatif yang harus dipelajari oleh seorang peneliti agar dapat benar-benar
merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang diteliti.42 Keuntungan lain
dari metode studi kasus adalah penelitian dasar yang dilakukannya. Ini
41
Tj. G. Hommes & Gerrit E. Singgih, Teologi dan Praktis Pastoral Antropologi Teologi Pastoral,
(Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1992), 63.
42
J. Nisbet dan J. Watt, Studi Kasus : Sebuah Panduan Praktis, (Jakarta : Gramedia, 1994), 8.
43
Ibid, 9.
15
untuk menyelidiki kasus tersebut. Namun bukan berarti tidak bisa melihat
kasus sempurna yang dipelajarinya, namun kasus ini bisa dijadikan referensi
pertimbangan intuitif bahwa "kasus ini" sama dengan "kasus ini". Kedua,
44
SAGST, Studi Pastoral I Sumut, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1985), 11-12.
45
Tj. G. Hommes dan Gerrit E. Singgih, Teologi dan Praktis Pastoral: Antropologi Teologi Pastoral,
(Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1992), 65.
16
situasi.
bukanlah tujuan analisis, tetapi kita juga harus mencari maknanya, yang
hasil analisis, dari sudut pandang teologis dan dari ilmu-ilmu lain dalam
46
SAGST, Studi Pastoral I Sumut, 11-12.
47
SEAGST Institute Of Advanced pastoral Studies Bersama Panitia Metode Studi Kasus, NTT, Studi
Kasus Pastoral II, NTT, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1990),20.
17
arah yang sama atau berlawanan.48 Pada tahap ini, peneliti menarik
terhadap uraian hasil analisis kasus dari sudut pandang teologis atau etika
BAB I : Pendahuluan
Dalam Bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, identifikasi
Berisi tentang penjelasan kasus yang dialami oleh Angela yang mengalami
Kasus yang telah dianalisa kemudian diolah dengan pandangan iman Kristen
terhadap Angela yang mengalami Inner Child dalam rangka menurunkan kemarahannya
48
Ibid, 207.
18
Angela yang mengalami Inner Child dalam rangka menurunkan kemarahannya dan
menghilangkan perilaku menyakiti dirinya sendiri. Tahapan ini juga memanfaatkan apa
BAB II
2.1. Deskripsi
1. Angela lahir pada tanggal 22 Mei 2001. Angela merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara.
Dia memiliki 2 orang saudara laki-laki yaitu Billy, dan Calvin. Sejak dalam masa kandungan
orang tuanya sangat menginginkan anak sepasang, hanya satu laki-laki dan satu perempuan,
namun disaat anak kedua lahir orang tuanya mendapati bahwa yang lahir adalah laki-laki, lalu
disaat
5. Angela lahir orang tuanya sudah merasa cukup karena sudah memiliki anak perempuan.
Angela lahir dalam keluarga yang sederhana, Ayahnya membuka usaha bengkel di rumah dan
ibunya bekerja di bank, akan tetapi Angela dan kedua saudaranya mengalami sakit-sakitan
saat masi kecil, yang mengakibatkan ibunya harus meninggalkan pekerjaannya demi menjaga
anak-anaknya.
10. Hal ini menyababkan terganggunya keuangan pada keluarga dan memaksa ibu Angela
membuka toko kelontong di dalam rumahnya. Karena pekerjaan ini membuat bapak Angela
menjadi tempramental. Ayah Angela tidak bisa mengatur emosinya dalam rumah tangga,
15. Walaupun sempat berpikiran untuk berpisah, orang tua Angela tetap berusaha untuk
kembali akur lagi agar rumah tangga bertahan. Temprament Ayahnya tidak hanya terkena
kepada ibu Angela saja, namun juga terkena terhadap anak-anaknya. Angela dan kedua
20. Seperti pada saat nilai belajar anak-anaknya dilihat menurun orangtuanyapun melakukan
kekerasan terhadap anaknya sampai pada akhirnya mereka ditelanjangi. Kekerasan yang
dialami Angela berdampak terhadap nilai sekolah Angela yang selalu menurun hingga ia SMP
(Sekolah Menengah Pertama), dan dalam pertemanan sehari-hari Angela tidak banyak
membuka diri.
20
21. Dalam berteman dan berinteraksi dengan lainnya sangat sulit mengungkapkan apa yang
ingin ia katakan. Tidak hanya kekerasan fisik yang didapatkan oleh Angela namun kekerasan
verbal oleh orangtuanya yang sangat membuat Angela merasa sakit hati dan merasa tidak
dihargai sebagai anak, disaat perkataan orang tuanya adalah Angela disebut sebagai anak sial
25. Di saat ia menerima kekerasan verbal tersebut awalnya ia tidak pernah melawan lama-
lama Angela pun mencoba untuk memberontak orang tuanya sendiri. Tidak hanya orangtua,
namun abangnya Billy meniru orang tuanya untuk melakukan kekerasan terhadap Angela,
Sejak kelas 1 SD (Sekolah Dasar) hingga ia dewasa Angela juga diperlakukan sangat kasar
oleh abangnya.
30. Angela dipukuli hingga terluka, bahkan dicekek lehernya sampai ia menangis, hal ini
tidak hanya sekali saja dialami Angela, namun berkali-kali, abang Angela melakukannya
tanpa sebab. Di saat kelas 5 SD gigi Angela putus, dan bibir Angela koyak sampai akhirnya
dijahit Hal ini yang masih sangat membekas di memori Angela, bahkan disaat kamar Angela
ia kunci.
35. Abangnya berusaha untuk masuk kekamar Angela dengan manjat dinding kamar Angela
hingga berhasil dan langsung memukuli Angela kembali hingga abangnya puas. Dirumah ia
tidak bercakapan dengan abangnya, ia merasa sendirian dirumah. Saat ini abangnya Angela di
Jakarta untuk bekerja, sehingga Angela merasa aman berada di rumah, karena tidak akan
40. Walaupun hal ini sudah dilaporkan ke orang tuanya Angela, dan orang tua Angela
memarahi abang dan Angela juga. Sampai pada akhirnya Angela jenuh dikasari oleh
Abangnya ia tidak melapor kesiapa-siapa lagi. Pernah terlintas dipikiran Angela ia ingin
21
membunuh abangnya, namun karena Angela tahu hukum Indonesia ia tidak jadi
melakukannya.
45. Tiap ia berjumpa dengan abangnya ia merasa tidak nyaman. Angela menyimpan
semuanya sendiri, ia mulai mencoba untuk melukai dirinya sendiri, dengan cara mengoreskan
pisau tajam ke tangannya hingga terluka, ia juga mencabut rambutnya hingga mulai botak, hal
ini di sadarinya.
50. Angela tidak merasakan sakit sama sekali ketika melakukan itu. kejadian ini tidak hanya
dilakukan sekali saja, namun berkali-kali sampai pada akhirnya ia ingin melakukan bunuh diri
dengan pisau serta sudah sempat naik ke lantai 5 untuk loncat dari gedung rumahnya namun
55. Hal ini hingga sampai sekarang orang tuanya bahkan keluarganya tidak tahu bahwa
Angela melukai dirinya seperti itu. Luka goresan yang Angela miliki masih ada bekasnya
hingga sekarang, ketika ia melakukan itu, ia pasti selalu menutupinya dengan baju tertutup
60. Hal inilah yang membuat Angela tidak bisa akrab dengan Orang tua maupun Abangnya
Angela. Di keluarga Angela, orang yang paling dekat dengannya adalah Poponya (Nenek) dan
Angela sangat menyayangi Poponya semasa hidupnya. Namun sayang Popo Angela sudah
65. Sewaktu SMP penulis dan Angela adalah teman satu kelas dan sebangku. Sewaktu SMP
penulis dan Angela memiliki kesamaan dalam hobby seperti menari, peragaan busana dan
menggambar, walaupun punya hobby yang sama dan sering berbagi ilmu yang kami punya
70. Hal ini kami lakukan karena kami bisa digolongkan anak yang sama-sama keras, dan bisa
dibilang cukup tomboy (kelakuan seperti laki-laki). Penulis dan Angela semasa SMP sering
22
mengajak Angela untuk menemani penulis bergereja. Di saat itu orang tuanya dan orang tua
penulis saling kenal, jadi kemanapun kami pergi bersama kami selalu mendapatkan izin dari
75. Walaupun Angela Agama Budha, saat penulis mengajaknya ke gereja, orang tuanya
memberi Izin untuk Angela ikut pergi ibadah bersama penulis tiap minggu. Pada saat SMK 49
penulis dan Angela sudah tidak terlalu intens bertemu, dikarenakan kami sudah pisah sekolah,
ketika kuliah kami berdua kembali menjalin hubungan kami lagi tepatnya di ulang tahun
80. Pada saat orang tua Angela melihat kedatangan penulis ke rumah, mereka sempat tidak
mengenal penulis sehingga mengeluarkan tatapan aneh, dan menanyakan langsung Agama
penulis apa, penulis menjawab Kristen dan mereka langsung berbahasa daerah yang penulis
85. Sesampainya di kamar Angela ia bercerita bahwa ia berantam dengan orang tuanya karena
ia mau pindah agama ke Kristen, bukan karena ia pacaran atau berteman dengan orang
Kristen, namun di saat ia beribadah di gereja ia merasakan Firman Tuhan itu benar. Tidak
lama Angela bercerita kami langsung bergegas untuk kerumah Popo untuk merayakan ulang
90. Sesampainya di rumah Popo Angela, penulis ikut merasakan kasih sayang yang diberi
poponya ke Angela, penulis melihat Poponya memasakkan makanan yang sangat enak untuk
Angela, yaitu ayam goreng yang sangat enak menurut penulis yang belum pernah penulis
rasakan. Sambil menikmati masakan Popo Angela, penulis mendengarkan cerita Angela
kembali.
49
Singkatan dari Sekolah Menengah Kejuruan.
23
95. Angela mengalami pergumulan tentang pacaran beda Agama dan ingin pindah Agama. Ia
bercerita bahwa ia sempat mau diusir karena hal itu, hal itu dianggap membuat malu keluarga
kalau sempat itu terjadi, dan Angela tidak akan dianggap lagi sebagai anak. Ketika penulis
dan Angela masih bercerita, Popo Angela langsung bertanya kepada penulis.
100. Tentang Agama, suku penulis dan sejak kapan berteman bersama penulis, dan Poponya
langsung berkata kepada penulis “Jangan bawa cucu saya ke Kristen”, mendengar hal itu
penulis sangat kaget dan heran, padahal penulis tidak pernah mengajak Angela ke Kristen
Menengah Pertama).
105. Namun penulis tetap menghargai Agama Angela tanpa mengajaknya sama sekali untuk
menjadi Kristen. Ketika Popo Angela berkata seperti itu, Angela langsung menjelaskan
kepada popo Angela bahwa ia mau menjadi Kristen atas kemauannya sendiri, dan popo
Angela langsung bercerita bahwa dulu ada anaknya juga pindah Agama, dan langsung
110. Hal ini yang poponya tidak mau hal itu terjadi kepada Angela, karena poponya sangat
Pohon keluarga atau genogram adalah alat berupa peta skema (visual map) dari
silsilah keluarga klien. Biasanya mencakup nama, usia, riwayat pernikahan, riwayat keluarga,
anak-anak, keluarga rumah tangga, penyakit tertentu, usia saat meninggal, dan pekerjaan.
Genogram membantu konselor dan klien mendapatkan informasi tentang klien dan keluarga
mereka, serta kualitas hubungan antar keluarga. Gonogram adalah biopsi pohon keluarga yang
24
mencatat siklus hidup keluarga dan riwayat kesehatan keluarga yang merawat. Selain itu, ada
informasi tentang hubungan emosional keluarga, jarak, dan konflik. Genogtam juga
Informasi tambahan tentang Natalia dan keluarganya dapat dilihat dalam genogram
keluarga Angela
Keterangan genogram :
: Laki-laki
: Perempuan
: Angela
: Meninggal
: Pindah Janin
[Link] Angela
Ayah Ibu
Angela
50
Jaharianson Saragih Sumbayak, Psychodelsi, (Medan : CV. Sinarta, 2019), 33-34.
25
Angela
Angela
2. Anak ke tiga dari Kakek dan Nenek Angela menikah dua kali. Istri
yang pertama sudah cerai, dan menikah lagi dengan wanita lain, namun
menikah
nomor
5. Anak pertama dari Kakek dan Nenek Angela pindah Agama ke Islam,
Dari genogram diatas, cucu dari Kakek dan Nenek Angela belum ada
yang menikah.
II.3. Kasus yang Pernah Terjadi Tentang Inner Child Seperti yang
Dialami Angela
Di bawah ini adalah hasil dari dua penelitian tentang inner child yang seperti dialami
Angela. Hal ini menunjukkan bahwa jika inner child tidak ditangani dengan serius, bahkan
dapat merugikan dirinya sendiri dan hubungan dengan orang-orang di sekitarnya, yang dapat
1. Keterkaitan pola asuh dan inner child pada tumbuh kembang anak51
Minatul Nur Laela dalam penelitianya ia melibatkan orang tua dalam mendidik anak
dengan pola asuh yang berbeda pada usia 4-6 tahun dari 10 keluarga yang ada di dusun
Simbata Kulon, Desa Simbata, Nguntorinadi, Magetan. Hasil dari penelitian yang dilakukan
51
Annisa Permata Dewi, Pengaruh Parenting Self-Efficacy dan Child Temperament Terhadap Parenting
Stress, Halaman 16-17, diakses pada 2 April 2022, Pukul 16:49 WIB, yang diakses dari
[Link]
%[Link].
27
dari 3 orang tua dengan pola asuh yang berbeda. Setelah dilakukan penelitian orang tua
a. Encounter Group Parent merupakan kelompok orang tua yang memiliki relasi yang
baik dan sangat di senangi dalam sosialnya sibuk dalam urusan yang lain namun tidak
memperhatikan rumah tangganya. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan pada orang tua
ini dalam pengasuhan pada kurang adanya perhatian dan sering memberikan contoh yang
tidak pantas untuk ditiru oleh anak. Contoh orang tua ini lebih sering melakukan rumpi
dengan tetangga lain sehingga anak tidak dipedulikan oleh orang tua ketika sudah bertemu
dengan orang lain. Akibatnya, anak mereka tidak di perhatian dan melampiaskan rasa
kekesalan mereka dengan kenakalan seperti sering menganggu temannya bermain, membuat
keributan ketika bermain, dan sering melakukan hal yang tidak wajar.
Penyebabnya kembali ke pola asuh orang tua yang tidak mengasuh anaknya, mereka
mencari perhatian orang lain untuk mendapatkan perhatian orang tuanya. Yang terjadi
kemudian adalah anak dimarahi oleh orang tua, memberikan tekanan pada anak, dan anak
menjadi marah. Akibat marah, anak menyalurkan marahnya pada sesuatu hal yang tidak
wajar, sehingga emosi anak terarah, namun bukan dengan cara yang baik.
Sama halnya seperti Angela, ia mendapat pola asuh orang tua Encounter Group
Parent di mana marah Angela tidak tersalurkan dengan baik, disaat keluarga adalah tempat
untuk berbagi cerita, untuk menjadi tempat dimana Angela merasa dimengerti, namun ia tidak
b. Pola Asuh Authoritarian adalah Salah satu jenis pola asuh yang diberikan
orang tua kepada anaknya adalah bentuk tuntutan yang memberikan reaksi
kecil kepada anak terhadap apa yang diinginkan oleh anak. Pola asuh
bahwa beberapa ciri anak yang mengalami inner child akibat pola asuh
1. Anak patuh karena takut, bukan karena adab yang telah ada dimana
2. Anak merasa tertekan dengan segala pilihan yang diberikan orang tua
sehingga dia belajar bukan karena bisa dan suka tapi tuntutan sehingga
3. Orang tua menuntuk anak mandiri, namun orang tua tidak tau apa yang
menjadi masalah dalam diri anak. Pola asuh yang seperti ini sangat
c. Pola asuh otoritatif pola asuh ini sangat baik digunakan dalam mendidik
mereka.
29
4. Anak dapat meminta pendapat orang tua dan menerima saran dan
Farida I’ana, atau Farida. Santri yang lahir di Bojonegoro pada 18 Desember 2002 ini
terlahir sebagi anak pertama dari dua bersaudara. Ia memiliki pengalaman masa kecil yang
menegangkan, pasalnya Ibunya sering memarahinya sampai memukul menggunakan sapu dan
pernah hampir diceburkan ke sumur sebab malas belajar dan bertengkar dengan adiknya.
Serta memiliki sosok ayah yang sangat cuek dan keras kepala. Apabila Farida berbicara
panjang dan lebar, ayah Farida hanya memberi respon dengan melihatnya saja, tidak ada
feedback komunikasi verbalnya. Tetapi, ayah Farida sangat teliti dalam segala hal, terlebih
lagi masalah uang. Sifat teliti dari ayahnya ini lah yang mengalir deras dalam darah farida.
Farida dewasa berusaha merangkul Farida kecil yang kebutuhan komunikasi verbal
bersama orang tuanya belum terpenuhi dengan cara mengambil hikmah dari sisi positif yang
diajarkan oleh ayahnya serta mengajarkan Farida kecil untuk menerima masa lalu yang telah
dilaluinya. Dengan memahami karakter ayahnya, Farida dapat memahami dirinya sendiri
juga, bahwa tidak ada orang tua yang tidak peduli kepada anaknya. Kepedulian orang tua
terhadap anaknya dilakukan atau dibuktikan dengan berbagai cara. Tergantung bagaimana
melihat dari sudut pandang yang mana. Selain itu, dilihat dari sisi ayah Farida yang jarang
memberikan respon verbal ketika Farida berbicara ternyata memberikan dampak pada Farida.
Secara tidak langsung apa yang ayah Farida lakukan menjadi long term memory tersendiri
52
Khosyi’atul Hamidah, Kesadaran Inner Child Dalam Komunikasi Interpersonal Di Kalangan Santri
Pondok Pesantren Annasyiah Al-Jadidah, Halaman 51-52, diakses Rabu, 6 April 2022, Pukul 17:44 WIB, yang
diakses dari [Link]
30
pada Farida. Sehingga tidak jarang Farida melakukan hal yang serupa ketika terlibat interaksi
Kasus Farida serupa dengan Angela, dimana Angela mengalami kekerasan oleh
keluarganya, dan apapun yang Angela katakan seperti hanya ia hadapin sendirian tanpa
dukungan siapapun, hal itu yang membuat Angela tidak dekat dengan keluarganya, serta
tanpa Angela sadari ia mengurangi dan membatasi diri dalam memperhatikan keluarganya.
Konsep ini juga mengacu pada sikap anak terhadap orang, terutama orang
Konsep Inner Child atau anak batin telah menjadi bagian dari
budaya dunia kita setidaknya selama dua ribu tahun. Carl Jung menyebutnya
"Anak Ilahi" dan Emmet Fox menyebutnya "Anak Ajaib". Psikoterapis Alice
53
Rizal Fadli, Tand-tanda Inner Child yang Sedang Terluka, Diakses pada Selasa, 05 April 2022, Pukul
23.05 WIB, yang diakses dari [Link]
terluka.
31
menjadi bagian dari kehidupan orang dewasa yang sehat. Saat itulah pola
terkunci dan tidak dapat diakses untuk pertumbuhan bahwa mereka menjadi
atau EDP yang mengakar. Ketika seorang anak harus mengatasi masalah yang
disibukkan dengan saudara yang sakit, solusi anak adalah berhenti tumbuh
secara emosional.
membeku seperti di masa kanak-kanak, terhalang oleh rasa malu, dan anak
batin menunggu seseorang untuk datang yang mengerti dan siap untuk
dalam adalah dengan menyadari bahwa anak-anak tidak hanya memiliki cara
yang berbeda dalam melihat dunia, tetapi juga pendekatan masalah secara
54
Charles L. Whitfield, Healing the Child Within : Discovery and Recovery for Adult Children of
Dysfunctional Families, (Florida: Health Communications, 1987), 1.
55
Working with the Inner Child, 144
32
masa alu, merupakan kesempatan nouthetis untuk kembali citra sesuai dengan
sudah terpisah dengan Allah (Kej. 3). Sejak saat itu manusia selalu mencari
rasa aman, harga diri serta makna hidup menurut kekuatannya sendiri. Dalam
Alkitab Mefiboset adalah salah satu tokoh Alkitab yang memiliki Inner
Child.
saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan”
Anak Yonatan itu boleh makan sehidangan dengan Raja Daud. Dengan
anaknya sendiri. Diterima oleh sesama bagi orang yang bergumul dengan
konsep diri yang rendah dapat memulihkan kembali citra dirinya dengan
kehendak Allah.
Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit bagi orang berdosa. Untuk
mengatasi masalah citra diri yang terganggu maka kita harus bersikap rendah
56
Sontenis Nggebu, 70 Garis Besar Khotbah Biografi Para Tokoh Alkitab, (Bandung: Biji Sesawi,
2011),185-188.
57
Disingkat menjadi Sam
33
hati kepada Allah. “Karena hanya Dia yang mampu mendamaikan diri kita
Mefiboset
adalah cucu saul. Di saat terjadinya pertempuran hebat antara Israel dengan
orang Filistin (1 Sam. 31:1-13). Ayah dan kakeknya terbunuh. Pada saat
4:4;9:13).
bahwa dirinya “tidak berarti apa-apa dan menganggap ia hanya seperti seekor
terpenuhi, ia kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Harga diri, makna
hidup menjadi kabur. Begitu juga dengan kecatatan fisik yang mempengaruhi
citra dan hidup yang menyimpang yang membuat semangatnya patah. Merasa
tidak aman, rasa takut, tidak berharga, berduka, rasa tidak dikasihi tampak
58
Disingkat menjadi Kor
59
Sontenis Nggebu, 70 Garis Besar Khotbah Biografi Para Tokoh Alkitab, 185-188.
34
mengatakan bahwa ada tiga komponen kebutuhan dasar manusia, yaitu harga
diri, rasa aman serta makna hidup. Bila terpenuhi ketiga kebutuhan dasar
5. Sakit parah.
6. Pernah ditindas.
60
Sontenis Nggebu, 70 Garis Besar Khotbah Biografi Para Tokoh Alkitab, 185
35
cenderung dipendam.
Pengalaman Inner Child yang buruk dan tidak dapat diatasi akan
menyebar.63
Emosi, dan roh yang menjadi sumber kebutuhan batin kita yang terdalam. Hal
61
Novita Asavasthi, Kenali, Sadari, dan Atasi Luka Inner Child, diakses pada Rabu, 23 Februari 2022
Pukul 09.14 WIB, yang diakses dari [Link]
atasi-luka-inner-child.
62
Novita Asavasthi, Kenali, Sadari, dan Atasi Luka Inner Child, diakses pada Rabu, 23 Februari 2022
Pukul 10.14 WIB, yang diakses dari [Link]
atasi-luka-inner-child.
63
June Hunt, Pastoral Konseling Alkitabiah: Menjawab Isu-isu Etika Sekuler Masa Kini I, (Yogyakarta:
ANDI, 2014), 244.
36
ini juga bisa menghilangkan semangat dari tingkatan sedan hingga putus asa
terus-menerus.64
tulang, daging, dan darah, memiliki jiwa yang adalah kepribadian dan tingkah
laku seperti pikiran, emosi dan kemauan, serta manusia memiliki roh yang
adalah bagian terdalam yang perlu diselamatkan, hal ini ialah seperti kasih,
yang disebabkan oleh kejadian pada masa lalu, perasaan diabaikan atau
ditolak tidak akan ilang, perasaan itu terkubur jauh di dalam jiwa, yang akan
Oleh karena hal ini perlu menghadapi dan mengendalikan perasaan ini,
2.4.2. Kemarahan
64
A. Grunland Stephen and H. Lambrides Daniel, Healing Relatonship:
A Christian’s Manual for Lay Counseling, (Camp Hill, PA: Christian Publications, 1984), 121.
65
June Hunt, Pastoral Konseling Alkitabiah: Menjawab Isu-isu Etika Sekuler Masa Kini I, 268.
66
Ibid, 277.
37
dengan cara yang merusak harga diri seseorang, atau karena frustrasi. Marah
adalah suatu kondisi emosional yang dapat dialami oleh siapa saja pada waktu
tertentu, dan dapat disembunyikan atau terbuka, jangka pendek atau jangka
mempengaruhi respon fisik dan emosional yang terlibat.67 G.S Gates pada
baik untuk kesehatan mental Leon F. Selzer, pakar psikologi kemarahan dan
pertahanan terakhir jika tidak ada yang bisa berpikir jernih. Kemarahan
provokasi, komentar negatif, atau perilaku fisik yang membuat orang tersebut
sebelumnya.69
67
E.P. Gintings, Konseling Pastoral, (Bandung : IKAPI, 2009), 97-98.
68
Yakub B. Susabda, Pastoral Konseling (Jilid Dua), (Malang: Gandum Mas, 1996), 8.
69
Era Findiani, Berdamai Dengan Rasa Marah (TK: Anak Hebat Indonesia, 2020), 18-19.
38
yang tidak jujur dan jahat. Tuhan menyuruhnya untuk menahan amarahnya.
Bukan karena kemarahan itu sendiri yang salah, tetapi karena tidak ada
gunanya. Marah itu sendiri tidak salah, terkadang amarah sangat bermanfaat.
yang dialami disebabkan oleh sikap dan perbuatan oranglain karena peristiwa
tertentu, namun sebenarnya kembali lagi pada pribadi itu sendiri. Adapun
2. Frustasi
sikap frustrasi yang adalah respon emosi yang timbul karena adanya
berkurang.
4. Kebiasaan
yang muncul di wajah dengan mulut terkatup rapat. Orang kulit putih lebih
marah daripada orang kulit hitam. Karena saat sedang marah, wajah akan
berdetak lebih cepat dan pembuluh darah kita membengkak. Suara sering kali
72
Ibid, 9-10
40
seberapa cepat Anda marah. Kemarahan bisa datang perlahan, tetapi bagi orang
ada di alkitab. Namun bunuh diri adalah salah satu bentuk dari
perisai Saul (I Taw 10:5), Ahitofel (II Sam. 17:23), dan Zimri (I
73
Ken Lindner, 7 Langkah Menguasai Emosi Negatif, (Jawa Barat : IKAPI, 2019), 51
74
The Hope Line, Understanding Self- Harm and Cutting Scars Don’t Have To Last Forever, Halaman
4, Diakses pada Senin 2 Mei 2022, Pukul 11.12 WIB, yang diakses dari
[Link]
41
Rj. 16:18). Dalam Perjanjian Baru ada Yudas Iskariot (Mat 27:3-
5).75
Sendiri
Mungkin luka ini bisa ditutupi oleh pakaian berlapis, self harm
75
H. Norman Wright, Konseling Krisis Membantu Orang Dalam Krisis dan Stress, (Malang: Gandum
Mas,1999), 123-124
76
The Hope Line, Understanding Self- Harm and Cutting Scars Don’t Have To Last Forever, Halaman 1,
Diakses pada Senin 2 Mei 2022, Pukul 11.30 WIB, yang diakses dari [Link]
harm-and-cutting/.
42
benar dan tidak dewasa yang terjadi kepada orang tua, hal ini
ada kontak
77
The Hope Line, Understanding Self- Harm and Cutting Scars Don’t Have To Last Forever, Halaman 5,
Diakses pada Senin 2 Mei 2022, Pukul 11.30 WIB, yang diakses dari [Link]
harm-and-cutting/.
78
June Hunt, Pastoral Konseling Alkitabiah Menjawab Isu-Isu Etika Sekuler Masa Kini II, (Yogyakarta:
Andi, 2015), 357
43
tidak sensitif.
aman.
Angela mengalami Inner Child yang terluka dimulai pada saat orang tuanya
mengalami krisis ekonomi, di mana kedua orang tuanyapun tidak dapat memperhatikan
Angela dengan penuh kasih sayang. Kekerasan verbal dan non verbal yang dilakukan oleh
kedua orang tuanya serta saudaranya sangat membuat Angela berusaha untuk melampiaskan
amarahnya dengan menyakiti diri sendiri. Marah serta menyakiti diri sendiri yang dialami
Angela adalah bentuk expresi dari inner child yang terluka. Kepahitan dalam setiap masalah
akan meracuni hati, dan orang yang merasa pahit berada akan berada di dalam kegelapan,
hilang, dan percaya pada kebohongan.79 Sehingga akan menutupi dan memendam perasaan
itu.
79
Charles R. Gerber, Kesembuhan Untuk Kepahitan hati, (Surabaya : LATM/ Gereja Jemaat Kristus
Indonesia, 2006), 111-115.
44
Apabila Inner Child tidak diperhatikan, hal ini dapat menggangu kesehatan mental dan
jiwa Angela. Bukan hanya berdampak untuk dirinya sendiri saja, namun berdampak juga bagi
orang sekitar. Bagaimana Angela bersikap dan berkelakuan seperti saat ini, ini adalah wujud
dari didikan yang diterima dari kecil, pengalaman yang diterima di masa kecil.
45
BAB III
INTERPRETASI MASALAH.
Keluarga adalah persekutuan antara ayah dan ibu yang sudah menikah dan bersatu.
Hidup bersama di dalam keluarga tentu akan mengalami masa suka dan duka yang datang
silih berganti. Kebahagiaan dalam keluarga akan tercipta saat masing-masing dalam anggota
keluarga dapat saling menerima satu sama lain seperti menerima dalam hal fisik, sikap,
temperamen, dan kepribadian sesama. Oleh sebab itu, penerimaan ini akan menciptakan
perasaan bahagia dan rasa simpatik antara satu dengan yang lain.80
Sebagaimana Annisa Permata Dewi mengutip pendapat Tentis, parenting stress adalah
stres yang berhubungan khusus dengan tanggung jawab ketika seseorang menjadi orang tua
yang mengalami stres dari pengasuhan dan berbagai situasi dapat mempengaruhi tingkat
stres orang tua. Sedangkan Annisa Permata Dewi mengutip pendapat dari Brannan &
Heflinger menyebutkan parenting stress diakibatkan karena kondisi anak (termasuk perilaku
dukungan sosial, fungsi keluarga, dan sumber material. Oleh sebab itu, orang tua harus siap
menghadapi kelima hal tersebut dalam memberikan pengasuhan kepada anak. Demikian
juga Annisa Permata Dewi mengutip perkataan Cooper yang mengatakan bahwa parenting
80
Jon Riahman Sipayung, Tema-tema Kontemporer, (Medan : Sinarta, 2020), 97-104.
46
stress dialami orang tua yang berhubungan dengan pribadi dan sumber daya sosial yang ada
Sebagai orang tua tentu saja bukan sesuatu yang mudah, banyak sekali halangan dan
rintangan dalam menguruh anak. Pengajaran yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya
juga tidak terlepas bagaimana dahulu ia juga diajarkan dan didik oleh orangtuanya dahulu.
Dalam mendidik seorang anak tidak bisa disamakan semua dalam memperilakukannya.
Karena setiap anak beda sifat, untuk itu sebagai orang tua perlu mendalami bagaimana
Kesepian itu muncul ketika Angela merasa kurang diperhatikan dan diperdulikan secara
emosional ketika dia tidak diberi ruang dan wadah untuk bercerita dan mengekspresikan
sendirian, tidak memiliki harga diri dan senantiasa merendahkan diri dalam segala sesuatu
hal akan mengakibatkan timbulnya rasa kebencian dan kemarahan dalam diri. 83 Oleh karena
itu, rasa kesepian, tidak percaya diri, dan kemarahan memiliki hubungan satu sama lain.
Craif Ellison, seorang ahli jiwa mengelompokkan 3 jenis kesepian (loneliness), yaitu
sesamanya), Social Loneliness (kesepian karena merasa dirinya tidak berharga), dan
Social Loneliness karena merasa dirinya tidak berharga sehingga menyakiti dirinya sendiri,
hal ini dikarenakan orangtua yang senantiasa memukul akibat tidak sesuai dengan keinginan
81
Annisa Permata Dewi, Pengaruh Parenting Self-Efficacy dan Child Temperament Terhadap Parenting
Stress, Halaman 11 , diakses pada Jumat 3 Juni 2022, Pukul 14.11 WIB, yang diakses dari
[Link]
%[Link].
82
Carol Kent, Menaklukkan Rasa Takut, (Yogyakarta : ANDI, 2006), 130.
83
Kim Young Min, Kesembuhan Batiniah, 20.
47
orangtuanya seperti tidak harus memperoleh nilai sekolah yang baik serta kesibukan
orangtua dalam mencari nafkah sehingga melupakan kebutuhan Angela. Segala yang
dilakukan oleh Angela tidak ternilai dihadapan keluarganya baik orangtua maupun
Di dalam Perjanjian Lama, kemarahan dan murka Allah juga terlihat ketika terjadi
peristiwa air bah pada zaman nabi Nuh, Allah juga menyatakan kemarahan-Nya dengan
mendatangkan api ke Sodom dan Gomora. Di dalam Perjanjian Baru dicatatkan juga Yesus
marah saat orang-orang menjadikan Bait Allah sebagai tempat berjualan (Yoh. 2:16). Ketika
Yesus marah, Dia tidak marah tanpa akal atau sekedar meluapkan emosi yang tidak
terkontrol tetapi dengan pengertian dan pikiran yang jernih. 84 Melalui ini, kita dapat menarik
kesimpulan bahwa penolakan dari seseorang yang kita sayangi dapat mengakibatkan rasa
karena rasa ingin mempertahankan haknya masing-masing. Ketika kita diganggu, kita akan
menjadi marah. Marah tersebut adalah suatu naluri, daya dasar, suatu sifat alamiah, dan
emosi yang ada pada setiap makhluk yang ada di dunia ini. Hal inilah yang dialami oleh
Angela. Ketika dimasa kecilnya dia ingin mendapatkan haknya untuk dipedulikan oleh
keluarganya namun tidak bisa di penuhi. Oleh sebab itu, kemarahan yang dimiliki Angela
dipendam dengan rapi di dalam hatinya sehingga menjadi penyakit di dalam batinnya. 86
Self Injury adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan individu untuk mengatasi
rasa sakit secara emosional dengan cara melukai dirinya sendiri, dilakukan dengan sengaja
84
Stephen Tong, Pengudusan Emosi, 83-87.
85
Kim Young Min, Kesembuhan Batiniah, 21.
86
Stephen Tong, Pengudusan Emosi, (Surabaya : Momentum, 2020), 75.
48
tapi tidak dengan tujuan bunuh diri. Self injury biasa dilakukan sebagai bentuk dari
pelampiasan atau penyaluran emosi yang terlalu menyakitkan untuk diungkapkan dengan
kata-kata. Hal ini sesuai dengan pendapat Grantz perilaku self injury sering dilihat sebagai
cara mengelola emosi dimana seseorang tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaan
yang terlalu menyakitkan. Jika self injury berlangsung terus-menerus maka akan berubah
menjadi percobaan untuk bunuh diri. Faktor penyebab self injury adalah faktor
keluarga dan lingkungan pergaulan yang tidak sehat dimana pelaku tinggal, diantaranya:
Indikator yang menyatakan Angela memiliki tingkat kemarahan yang tinggi antara
lain:
1. Ciri pada anggota tubuh, yaitu sering memukul dan mencubit dengan spontan. Tangan
Angela dengan spontan memukul orang disekitarnya dengan pukulan ketika berbicara.
Angela juga mencubit orang lain saat bercanda. Hal ini dilakukan diluar dari
kesadaran Angela.
87
Marsha M. Line, Cognitive-Behavioral Treatment of Borderline Personality Disorder, 65
49
2. Ciri pada lidah, yaitu sering mengeluarkan kalimat dengan nada membentak.
Terkadang juga meluncurnya celaan dan makian. Tanpa disadari, ketika Angela diajak
berbicara, nada bicaranya sering dengan nada tinggi dan membentak. Hal ini menjadi
3. Ciri pada hati, yaitu timbulnya rasa benci dan berontak terhadap sesuatu yang tidak
sesuai dengan pemahaman dan hatinya. Didalam hati Angela timbul perasaan benci
dan tidak suka, sekalipun tidak diuangkapkan oleh Angela secara langsung. Hal ini
dilakukan dalam bentuk merusak tubuh dengan membakarnya, melukai dengan cara
memukul-mukul diri, menjambak-jambak rambut kelapa hingga rontok bahkan tidak jarang
alkohol berlebihan.89 Hal-hal sudah pernah dilakukan oleh Angela saat dia mengalami stres dan
pergumulan dalam hidupnya. Oleh sebab itu, disimpulkan bahwa Angela telah menyakiti diri sendiri
dengan sengaja.
Anak-anak sangatlah membutuhkan pola asuh yang baik yang di dapatkan melalui
orangtuanya. Pola asuh ini tentu berbeda dengan mendidik orang dewasa. Anak-anak
memiliki perilaku meniru dengan cepat seperti tindakan maupun kata-kata. Oleh sebab itu,
penting bagi orangttua untuk memberikan teladan yang baik bagi anak-anak serta
menggunakan komunikasi yang baik pula saat berinteraksi dengan anak-anak. Melalui
88
Triantoro Safaria & Nofrans Eka Saputra, Manajemen Emosi (Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana
Mengelola Emosi Positif Dalam Hidup Anda), 75-76.
89
Thesalonika, Nurliana Cipta Apsari, Perilaku Self-Harm Atau Melukai Diri Sendiri Yang Dilakukan
Oleh Remaja, Diakses pada 18 Juni 2022, Pukul 12:11 WIB, yang diakses dari
[Link] 215.
50
interaksi yang baik serta perhatian yang penuh kepada anak-anak akan menumbuhkan rasa
percaya diri pada anak. Inner Child butuh perhatian dari sekarang, memahami diri sendiri,
menelaah pola asuh yang diberikan orang tua dan berdamailah. Berikan pengalaman baik
pada anak sehingga meminimalisir Inner Child dan perlu evaluasi dalam mendidik anak untuk
menjadi lebih baik lagi. Ketika pola asuh yang salah terlanjur diberikan orang tua hingga
menyebabkan Inner Child maka perlu pengetahuan pada anak untuk menyadari sehingga
mampu mengelola luka tersebut kepada hal positif yang kelak akan melahirkan sikap-sikap
positif lainnya
Alat ukur yang dipakai untuk mengukur tingkat inner child yang terluka
sebelum dan sesudah konseling, konseling ini bertujuan untuk melihat inner child
yang terluka. Alat ukur ini terdiri dari 60 pertanyaan tentang inner child. Setiap
1. Apakah Anda pernah mengalami kecanduan dalam mengonsumsi sesuatu hal seperti
90
John Bradshaw, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner Child. (Amerika: Bantam
Books,1992), 140-142
51
Anda? Ya/Tidak
3. Apakah Anda percaya Anda harus menemukan seseorang untuk bertemu dengan
mereka? Ya/Tidak
5. Apakah Anda sulit memahami kebutuhan Anda seperti lupa makan, memaksa tubuh
7. Pernahkah Anda terpikir untuk bunuh diri karena alasan tertentu? Ya/Tidak
9. Apakah Anda merasa bahwa kehadiran Anda tidak diinginkan oleh orang lain?
Ya/Tidak
10. Dalam situasi sosial, apakah Anda mencoba untuk tidak terlihat sehingga tidak ada
11. Apakah Anda selalu menginginkan sentuhan hangat dari sahabat ataupun orang
12. Apakah Anda menginginkan bahwa Anda adalah orang yang paling dibutuhkan bagi
13. Apakah Anda selalu ingin dihargai dan dihormati dan selalu ingin menang? Ya/Tidak
15. Apakah Anda mengasingkan diri dan memilih untuk menyendiri? Ya/Tidak
16. Apakah kamu sering merasa tidak ada gunanya mencoba menjalin hubungan?
Ya/Tidak
18. Apakah Anda takut untuk menjelajah ketika Anda pergi ke tempat baru? Ya/Tidak
52
19. Dalam situasi sulit, apakah Anda membutuhkan seseorang dalam meluapkan isi hati
anda? Ya/Tidak
20. Jika seseorang memberi Anda saran, apakah Anda mendengarkannya? Ya/Tidak
21. Apakah Anda benar-benar mengalami kesulitan dalam pengalaman Anda? Ya/Tidak
22. Apakah Anda seorang yang memiliki kekhawatiran yang tinggi? Ya/Tidak
25. Apakah Anda sering dituduh pelit dengan uang, cinta, emosi, atau kasih sayang?
Ya/Tidak
26. Apakah Anda takut membuat orang lain marah kepada anda? Ya/Tidak
27. Apakah Anda akan melakukan hampir semua hal untuk menghindari konflik?
Ya/Tidak
28. Apakah Anda merasa bersalah saat mengatakan tidak kepada seseorang? Ya/Tidak
30. Apakah Anda sering mengkritik orang lain secara berlebihan? Ya/Tidak
31. Apakah Anda bersikap baik kepada orang-orang ketika Anda bersama mereka dan
32. Ketika Anda mencapai keberhasilan, apakah Anda kesulitan menikmati atau tidak
33. Apakah Anda memiliki masalah komunikasi dengan orang-orang sekitar Anda?
Ya/Tidak
Ya/Tidak
36. Apakah Anda marah ketika Anda takut atau terluka? Ya/Tidak
53
37. Apakah Anda kesulitan mengungkapkan atau memahami perasaan Anda? Ya/Tidak
38. Apakah Anda percaya bahwa Anda bertanggung jawab atas orang lain? Ya/Tidak
39. Anda merasa bersalah atas apa yang terjadi pada anggota keluarga Anda? Ya/Tidak
40. Apakah Anda percaya bahwa bisa mengubah perilaku orang lain? Ya/Tidak
41. Apakah Anda percaya bahwa berharap atau merasakan sesuatu dapat menjadi
kenyataan Ya/Tidak
42. Apakah Anda bertindak berdasarkan tebakan atau berdasarkan informasi yang tidak
aktual? Ya/Tidak
43. Apakah Anda sering membandingkan diri Anda dengan orang lain dan merasa diri
45. Apakah Anda sering merasa tidak nyaman dalam situasi sosial? Ya/Tidak
47. Apakah Anda terkadang diberitahu bahwa Anda terlalu kompetitif? Ya/Tidak
48. Apakah Anda sering berkonflik dengan orang-orang yang bekerja dengan Anda?
Ya/Tidak
49. Dalam negosiasi, apakah Anda bersikeras memiliki hal-hal dengan cara Anda sendiri?
Ya/Tidak
50. Apakah Anda bangga menjadi orang yang ketat dan literal, mengikuti surat undang-
undang? Ya/Tidak
51. Apakah Anda sering menunda-nunda dan kesulitan menyelesaikan sesuatu? Ya/Tidak
52. Apakah Anda yakin Anda harus tahu bagaimana melakukan sesuatu tanpa
instruksi? Ya/Tidak
53. Apakah Anda memiliki ketakutan yang kuat tentang membuat kesalahan? Ya/Tidak
54
54. Apakah Anda mengalami penghinaan yang parah jika Anda dipaksa untuk melihat
55. Apakah Anda kurang dalam keterampilan hidup dasar (kemampuan membaca,
kemampuan untuk berbicara dan / atau menulis dengan tata bahasa yang baik,
56. Apakah Anda menghabiskan banyak waktu untuk terobsesi atau menganalisis orang
58. Apakah Anda mencoba meningkatkan percaya diri dengan pakaian, barang, uang, atau
make-up? Ya/Tidak
59. Apakah Anda sering membohongi diri sendiri dan orang lain? Ya/Tidak
60. Apakah Anda percaya bahwa apa pun yang Anda lakukan, itu tidak baik? Ya/Tidak
Alat ukur yang dipakai untuk mengukur tingkat kemarahan sebelum dan
sesudah konseling ini bertujuan untuk melihat manfaat tingkat kemarahan. Alat ukur
ini terdiri dari 15 pertanyaan tentang perasaan kemarahan. Setiap pertanyaan dirinci
dengan gejala yang lebih spesifik. Alat ukur ini sebagaimana dibuat oleh Kubler Ross
91
Yenni Meriam Yohana Sinaga, Skripsi : “Pendampingan Kepada Maya yang Menyimpan
Kemarahan Akibat Luka Batin”, (Medan : STT Abdi Sabda, 2019), 59.
55
Umur :
4. Ketika mengingat masa lalu yang buruk maka marah saya muncul.
8. Saya tidak bersemangat melakukan apapun jika yang terjadi tidak sesuai dengan yang
saya harapkan.
9. Saya merasa kemarahan bisa dilampiaskan dengan nada bicara saya yang tinggi dan
keras.
11. Saya merasa tidak perlu bercerita dengan orang lain tentang diri saya.
13. Saya merasa tidak ada orang yang benar-benar memberi kasih sayang kepada saya.
menjawab
(16+18+4= 38) Dengan hasil nilai 38 Angela memiliki kemarahan tingkat tinggi
Tes Kepribadian
Oleh karena itu, pengukur kepribadian harus melihat dasar-dasar teoretis Instrumen tes
dan sensasi seseorang melalui media sebagai alat mekanisme pertahanan diri, proses
Tes proyektif wartegg merupakan tes yang disusun oleh Ehrig Wartegg,
yaitu bagaimana kepribadian itu berfungsi atau bekerja dalam diri individu. Ada 4
92
Nur Aeni, TES PSIKOLOGI : Tes Inteligensi dan Tes Bakat, (Yogyakarta: Universitas
Muhammadiyah Purwokerto Press, 2012) 30-31.
58
fungsi dasar menurut Wartegg yang dimiliki oleh manusia dengan intensitas yang
berbeda-beda. Keempat fungsi dasar tersebut adalah emosi, imajinasi, intelek dan
aktivitas. Dengan Tes grafis terdiri dari 3 buah tugas yaitu : gambar orang (DAP),
gambar pohon (Tree test), gambar rumah. Prinsip dari tes ini adalah menggambarkan
sesuatu obyek yang sangat dekat dengan dirinya, namun dibatasi dengan kaidah yang
tidak terlalu mengikat.93 Penulis dalam tes kepribadian ini juga meminta bimbingan
kepada Ayah (orangtua penulis) selaku TNI-AD yang terbiasa melakukan pelatihan
kepada peserta didik yang ingin lulus ke dalam satuan TNI-AD dalam tes psikotest.
BAB IV
AKSI PASTORAL
93
Nur Aeni, TES PSIKOLOGI : Tes Inteligensi dan Tes Bakat, 32
59
Aksi pastoral adalah bagian yang membimbing konselor untuk matang dalam
Konseling adalah langkah terakhir dalam metode studi kasus. Dalam hal ini, langkah-
langkahnya dirancang untuk menciptakan jawaban dan solusi berbasis teologis untuk
membantu mereka yang mencari nasihat untuk mengatasi masalah mereka dengan benar dan
masalahnya. Dalam melaksanakan tindakan ini, perhatian juga harus diberikan kepada orang-
orang yang terlibat dalam tindakan ini dan peran mereka dalam melaksanakan langkah-
langkah berdasarkan strategi yang direncanakan dan metode yang direncanakan. Pelayanan
pastoral adalah pelayanan yang diberikan oleh Tuhan Yesus melalui Gereja. Pelayanan ini
ditugaskan oleh Tuhan Yesus untuk membantu seseorang menghadapi dan memecahkan
masalah. Konselor yang melaksanakan pelayanan ini melakukannya dalam kuasa dan
kehendak Tuhan Yesus Kristus, bukan atas nama, kuasa atau kehendak mereka sendiri.94
4.1. Verbatim
Data Umum:
Usia : 21 Tahun
Pertemuan 1:
94
J.L. Ch. Abineno, Percakapan Pastoral Dalam Praktik, (Jakarta : BPK-GM, 1986), 9.
60
STO: Puji Tuhan kalau hingga saat ini lagi masih merasa baik-baik saja, tapi kenapa aku
ngerasa ada yang beda ya.. kenapa? Cerita aja Gel gapapa..
AW: Gini Sher aku kadang cemburu liat orang-orang itu kok bisa sedekat itu sama
keluarganya, sedangkan aku enggak. Dari dulu sampai sekarangpun aku sama keluarga
memang ga terlalu dekat, cemana ya ku bilang.. orang tua akupun dari dulu sangat sibuk
bekerja, sampai apa-apa aku itu selalu simpan sendiri. (Ekspresi Sedih)
AW: Yang mana sher? Billy atau Calvin (Menaikkan Alis, Mata melotot)
STO: Dari Billy dulu, kau dulu sama Billy gimana? AW: Hallah, dahla. Kalo dia gausahlah
dibahas. Malas kali aku bahas abang ga ada otak kaya dia. (Mengepalkan tangan, ekspresi
AW: Sama aja itu kek Billy gadak guna jadi abang. Oh ya sher? Kau udah makan? Ayok kita
AW: Ada babi panggang, yok makan.. nginap sini kau kan?
Pertemuan 2:
STO: Hei.. heii.. aku datang lagii.. dah lama ya kita ga jumpa..
STO: Teringatnya kan Gel, gimana jadinya hubunganmu sama fery, masih lanjutnya kalian?
AW: Kan tau kau kalo Fery beda agama samaku kan... nah kami bahas soal hubungan ini
gimana kelanjutannya sama dia, dia malah bingung dan gadak usahanya untuk dekati
keluargaku biar diterima.. diakan cowok aturan dia mikirlah gimana caranya supaya walaupun
kami beda Agama bisa tetap sama, ini malah enggak (Mengerutkan alis)
AW: Keluargaku nyuruh putus, kau tau kan sher, fery ini pacar pertamaku, aku baru pacaran
loh baru ini aku dekat laki-laki, dan udah sayang samanya.. masa aku disuruh putus, kalo aku
gamau aku bakal diusir Sher. Terus kalo kau ingat lagi waktu tahun lalu pas aku ultah, yang
kau datang waktu aku ultah, kita kan kerumah Popoku kan, kau dengar sendirikan Popoku
juga ga setuju. Sekarang Popoku udah ga ada, ntahnya Popoku meninggal karna mikirin aku
AW: Sedih kali lah aku, gatau aku mau cerita kesiapa lagi selain kau Sher, dirumah ini kaya
STO: Yaudah gapapa, kan aku ada disini Gel, aku gabakal menyalahkanmu atas pilihanmu
Gel..
62
AW: Sher, aku pingin nangis bebas tapi gabisa, karena takut aku kau dimarahin karena dikira
Pertemuan 3:
AW: Aku kira kau gajadi datang haha, karna sampe ketiduran aku nunggu kau.
STO: Ketiduran apaan haha habis mandi kau inikan.. pantas sejam aku nunggu di Alfamidi
AW: Oh.. biar lah situ, lebih bagusnya kalo ga pulang Sher, karena ga peduli lagi aku mau
mereka cemana diluar sana. Karena akupun ga dipedulikan, ngapai aku peduli juga. (Nada
tinggi)
AW: Dari kecil memang gak mau ngurusin urusan pribadi kami masing-masing, makanya aku
selalu sendiri dan mendam semuanya. Mau ngapain ngapain pun gaknya pernah kuminta
bantuan orang itu, karena memang tau aku gabakal mau mereka bantu aku.
STO: Apa memangnya yang dibuat abangmu dulu samamu Gel makanya kau gapeduli lagi
AW: Dari kecil selalu aku dipukuli mereka tanpa sebabpadahal gadak salahku loh Sher,masa
aku dipukul, pas kutanya kenapa aku dipukul masa katanya: “sukakulah, kenapa mau lagi?”
63
kan ada gilanya kan? Sampek dulu abangku itu sengaja kekamarku untuk mukuli aku aja,
waktu pintu kamar aku kunci, dia langsung berusaha masuk lewat lobang AC. Kan kamarku
sama dia Acnya bagi dua jadi lewat situ lah dia, pas berhasil dia turun langsung ditumbuknya
bibirku sampai pecah, terakhir dijahitlah bibirku karena berdarah di buatnya. (Mengepalkan
tangan)
AW: Orang tuaku seperti biasa mukuli kami balek. Padahal si Billy yang salah, malah aku
STO: Kok bilang seperti biasa? Sebelum kejadian itu juga pernah?
AW: Sering Sher, apapun masalahnya Bapakku bakal mukul aku, makanya aku kalo
STO: Apa perkataan yang paling sakit yang dibilang orangtuamu ke kau Gel?
AW: Orang tuaku bilang bahwa mereka nyesal telah melahirkan ku dan dianggap aku jadi
anak sial, memang dari kecil orangtuaku keras kali, nialiku jelek aja aku selalu dipukul dan
ditelanjangi [Link] pun kaya gitu, gaknya aku pernah ada salah samanya tapi selalu
AW: Tau kau sher, pas sakit aku kan asam lambung ku kumat. Mau pingsan aku, dan cuman
dia disitu. Ku panggil lah dia ku bilang aku mau jatuh. Dia gadak respon, cuman lewat aja dan
64
ga nolongin aku loh sher, makanya ga bakal mau aku tolongnya sampai kapanpun lagi kalau
STO: Jadi selama ini kau kalo marah gimana Gel? Kau ngelakuin apa kemereka?
AW: Kebanyakan aku pendam. Tapi aku pernah menggoreskan tanganku sher pakai pisau
sampai berdarah tapi gapernah aku rasa sakit, gatau aku kenapa bisa gitu, enak aja rasanya.
Pernah juga aku mau bunuh diri karena nengok keluarga kaya gini Sher. (Ekspresi sedih)
STO: Gel, jangan gitu lagi Gel cerita samaku aja kalau kau lagi punya masalah. Gasangup
aku kehilangan kau Gel kalo kau nyelesaikan masalah kaya gitu. Betul aku Gel.
Pertemuan 4:
STO: Akhirnya jumpa lagi kita Gel.. maaf ya Gel baru bisa kerumahmu lagi..
AW: Ehee aman kok.. yang penting kau datang aja aku senang loh Sher.
STO: Gel, aku punya beberapa pertanyaan dan hal ini akan membantumu untuk mengenali
STO: Angela, kita sudah berteman lama dari dulu, dan aku tau kali kau hebat dalam
AW: Eh? Iyanya? (mengecek sosial medianya untuk melihat kapan terakhir kali ia
menggambar) Iya jugaaa ya Sher astaga.. dah lama kali loh, memang gatau aku kenapa. Malas
STO: Nah, pas kan Gel, Boleh ga sekarang aku minta coba kau gambar rumah, pohon dan
STO: Angela, aku tau kamu kau bisa, karena masih ingat aku mimpi kita bersama untuk buat
buku komik hasil gambar kita berdua, dan aku tau kau itu sangat bertalenta untuk
AW: Okelah
STO: Gambaranmu bagus semua, Angela mau ga kita bermeditasi supaya melegakan
perasaanmu?
AW: Kita ga akan bisa bermeditasi sher, aku takut nanti dimarahin dan dikira ingin
mengajakku menjadi Kristen. Saat ini saja kita sudah berbicara sangat pelan namun mamaku
STO: Oke baiklah Angela, aku sudah lama juga tidak melihatmu menggambar secara
langsung seperti ini, dan gambaranmu selalu bagus dan membuatku sangat penasaran.. gel,
ketika kamu ada masalah, kamu boleh berbagi denganku, atau melampiaskan emosimu
melalui setiap gambar ini, aku harap ini bisa membantumu kembali berfokus kepada
kelebihanmu, aku yakin keluargamu dihati kecilnya selalu sayang samamu, namun cara untuk
mengungkapkan rasa sayangnya itu berbeda-beda, Angela mungkin sering mendengar kata
mengampuni, sulit memang mengampuni orang yang menyakiti kita, tapi ga ada salahnya kita
coba agar kita bisa damai menjalani hari-hari. Gel apapun yang terjadi padamu, aku selalu ada
menemanimu.
66
AW: Jujur, memang ini yang ku butuhkan, saya gapunya tempat untuk berbagi, bersamamu
saya merasa menjadi diri saya sendiri dan tidak berpura-pura baik padahal saya tidak baik-
Pertemuan 5:
AW: Aku sudah biasa aja sih dengan kelakuan orang tua ku Sher, dan ngerasa beruntung kali
aku, Abang saya Billy tidak ada disini, jadi ga perlu aku berantam samanya. Tapi kadang jadi
sia-sia aku belajar bela diri kalau ga dimanfaatin untuk berkelahi samanya haha.
STO: Gel soal abangmu, coba ingat apa pengalaman bahagia waktu kalian sama?
AW: Kalau Billy dia selalu membela ku disaat ada yang mau cari masalah denganku, dia
seperti tameng yang siap melindungiku ketika ada yang ingin menyakitiku, ya walaupun dia
juga meyakitiku. Kalau Calvin aku selalu bermain bersamanya waktu kecil di rumah popo.
STO: Kalau kedua orang tuamu apa pengalaman paling bahagia ketika kalian bersama Gel?
AW: Kalau mamak waktu aku kecil selalu cerita dongeng saat aku mau tidur. Kalau bapak...
apa ya.. kayanya ga ada, tapi yaudahlah gapapa mungkin dia sibuk. (Tersenyum Tipis)
Pertemuan 6:
67
AW: Masih bingung juga aku, antara lanjut atau tidak dengannya. Disatu sisi sayang kali aku
samanya namun kami berbeda agama dia Kristen dan sebenarnya aku Konghucu sher tapi
karna dulu Konghucu belum bisa masuk jadi agama resmi di Indonesia makanya saya di KTP
Budha, di Konghucu ga ada yang memberi masukan atau nasehat, karena kami hanya
sembahyang di klenteng. Sher, aku pingin jadi Kristen tapi susah untuk kesana karena
keluargaku melarang, sampe sering aku dengarin Khotabah dan suka kali aku kaya adem aja
hatiku Sher. Bukan karena saya pacaran karena Fery Kristen. Tapi memang aku yang mau
STO: Gel, kalau soal ini, itu pilihanmu, kalau menurutku, apapun yang menjadi pilihanmu
aku yakin itu hal yang terbaik untukmu dan aku akan selalu mendukungmu atas apapun
pilihanmu gel.
AW: Aku sudah berani membahas masalahku ke keluargaku sher, mereka sudah mau
mendengarkanku dan aku juga menginginkan itu, walau terkadang mereka memberi masukan
yang tidak ingin aku dengar tapi lama-lama aku paham bahwa keluargaku menginginkan aku
AW: Udah biasa aja, karena diakan jauh, tapi tetap aja kalau jumpa rasanya ingin berantam,
makanya aku ikut eskull bela diri untuk berjaga-jaga bila ingin berantam dengannya haha.
68
STO: Gel masih ingat beberapa pertanyaan yang kemarin pernah kau jawab? Kita isi lagi ya
Gel?
(Sherly Tri Olivia, Koleksi Pribadi, Gambar Angela tentang Manusia, Jl. Patriot, Senin, 16
Tabel I
[Link] Umum Lebih muda dari usia subyek Immature, tidak dapat
mengalami regresi.
69
keterbatasan aktivitas,
berprestasi.
menyatakan diri
siklotomik.
pasti.
mencapai keseimbangan.
insecure.
perkembanga dirinya
Lengan Lengan yang kecil dan tipis Merasa lemah dan sia-sia
/tidak berguna
kontak sosial
dewasa)
ragu-ragu.
(Sherly Tri Olivia, Koleksi Pribadi, Gambar Angela tentang Pohon, Jl. Patriot, Senin, 16 Mei
2022, 23.30)
71
Tabel II
DETAIL
problem.
sadarannya)
3. Kualitas garis Tekanan lemah ringan Dorongan, kemauan, vitaliats dan energi
yang lemah.
72
scizoprenia kronis.
regresi
retardasi
debil
cenderung regresi
adanya konflik
ingin berkuasa
menarik diri
simbol pubertas
marah.
tertekan
keras kepala
kadang-kadang malas
sikap defensif
Bayangan/shading Tidak terarah arsirnya Ada hambatan dalam diri, cemas dan stress,
terkendali,
74
(Sherly Tri Olivia, Koleksi Pribadi, Gambar Angela tentang Rumah, Jl. Patriot, Senin, 16 Mei
2022, 24.00)
Tabel III
Oposisi,
Kecenderungan
sedikit sekali.
75
(withdrawal).
Kemungkinan pertahanan
sosial.
bebas.
(Sherly Tri Olivia, Koleksi Pribadi, Gambar Angela tentang Manusia, Jl. Patriot, Senin, 16
Gambar ini Angela gambar sebagai bentuk pengungkapan amarahnya yang ada dalam
diri Angela. Gambar ini adalah dirinya yang memakai baju bela diri yang sedang menyerang
menggunakan pedang.
Tidak semua kehidupan manusia bebas dari masalah. Jika masalah tersebut tidak
diselesaikan dan tidak diselesaikan, dapat berdampak buruk pada dirinya sendiri. 95Oleh karena
itu, semua masalah harus diselesaikan dengan cara terbaik. Setelah mendengar dan mengkaji
masalah yang dialami konseli, konselor mengarahkan pikiran dan tindakan untuk memberi
nasihat untuk berorientasi pada solusi (pemecahan masalah) daripada berorientasi pada
masalah (pemecahan masalah). Pendekatan berorientasi solusi ini membantu konselor melihat
masalah yang mereka hadapi dari perspektif yang positif, mengingatkan mereka tentang apa
Setelah melihat genogram keluarga Angela dan mendengarkan masa kecil Angela
ternyata didikan dari orangtuanya yang sangat keras turun temurun untuk berusaha sukses,
karena tuntutan itulah orang tua Angela berusaha keras agar anaknya juga berhasil namun atas
tuntutan demikian, terjadilah kekerasan yang dialami Angela sehingga pada masa kecilnya ia
mengalami inner child yang terluka. Ia memendam segala sesuatunya sendirian, apapun yang
dikatakan atau diperbuat oleh siapapun terhadap dirinya ia cenderung akan menyendiri dan
menyimpannya sendiri, karena bercerita dengan keluarga bukanlah suatu solusi dan ia merasa
percuma karena tidak ada satu orangpun yang perduli dengannya di dalam keluarganya.
Angela mulai menyakiti dirinya karena dampak dari emosi Angela yang tidak bisa
tersalurkan dengan baik, ia juga mulai mencabuti rambutnya hingga botak, dan ini terjadi di
saat konselor melihat langsung waktu persahabatan konselor dan konseli saat SMP. Semakin
95
Gary R. Collins, Konseling Kristen Efektif, (Malang : Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1990), 143.
96
Yakub Susabda, Pastoral Konseling, (Malang: Gandum Mas, 2011), 14.
77
Angela dewasa tanpa disadari Angela juga menjadi sosok yang keras sampai pada akhirnya ia
berusaha untuk masuk ke bela diri agar ia bisa melawan keluarganya dan membela dirinya
sendiri. Angela tetap tidak bisa menutupi kemarahannya sehingga saat ia membahas
keluarganya ia selalu meluapkan emosinya dengan nada bicara keras, menangis, mengepal
tangannya seperti ingin meninju. Tidak cukup waktu dalam sekali pertemuan saja untuk
membahas pergumulan yang dialai konseli. Oleh karena itu ada beberapa pertemuan yang
dilakukan antara konseli dan konselor supaya pelayanan pastoral dapat maksimal. Konselor
juga mengajukan beberapa pertanyaan sehingga percakapan antara konseli dan konselor
memiliki timbal-balik dan tidak kaku dan mengarahkan Angela untuk menggambar sesuatu
Upaya yang diberikan untuk mengatasi inner child Angela yang terluka adalah
membuatnya merasa dicintai dan dihargai. Selama pelayanan pastoral terjadi, konselor
berupaya agar konseli merasa ia tidak sendiri dalam menampung bebannya sehingga konseli
bisa mengungkapkan emosinya dengan baik menangis di saat ia ingin menangis tanpa harus
memendam semuanya sendiri. Ketika Angela berbagi masalah kepada konselor, tentunya
berharap beban yang pergumulan berkurang dengan konselor yang mengandalkan Yesus
sebagai penolong untuk Konseli bisa mengampuni keluarga yang menyakitinya. Sebagai
konselor dan konseli yang berbeda Agama , konselor selalu mendoakan Angela agar Angela
bisa segera pulih dari inner child yang terluka, namun saat sedang bersama konselor
organisasi Dinamika intrapersonal dari sistem psikofisik yang menghasilkan pola karakteristik
Angela adalah seseorang yang memiliki kemampuan di bidang seni lukis, konselor
memanfaatkan hal ini sebagai pendorong Angela untuk membuat Angela merasa dihargai
78
sehingga dalam pengungkapan emosi ia tidak perlu melukai dirinya sendiri lagi, namun
menggantinya dengan sebuah karya agar bisa menjadi dirinya sendiri. Ketika ia bisa
memahami dirinya sendiri dan menyayangi dirinya sendiri dan menerima semua kenyataan
Sikap yang memungkinkan luka emosional dan menolak untuk berdamai juga
mengurangi kekuatan dan kualitas hubungan dengan orang lain. Jika memiliki dendam dan
akan sulit bagi Anda untuk menerima kasih sayang dan berkomunikasi dengan baik. Hati
yang sakit bukanlah hati yang gembira. Kepahitan tidak hanya membahayakan kesehatan
mental kita, tetapi juga kesehatan mental, emosional, dan fisik kita. Cinta objektif diri adalah
alasan yang baik untuk memaafkan diri kita sendiri dan menyembuhkan semua luka batin
kita. Orang yang tidak bisa mencintai dirinya sendiri biasanya tidak bisa mencintai dan
menghargai dirinya sendiri. Ketika kita memaafkan, itu berarti kita juga berpartisipasi dalam
cinta tanpa syarat yang datang dari Tuhan.97 Konselor membantu Angela menurunkan
kemarahannya dengan memberikan ruang dan waktu kepada Angela untuk mengekspresikan
kemarahannya lewat kata-kata dan aksi. Angela diajak untuk dapat memvisualisasikan
tersebut. Ketika Angela sudah mengekspresikan kemarahannya, hal ini dapat membantu
Pengungkapan ekspresi emosi yang baik akan membuat kita untuk berpiran lebih
jernih, sebuah karya adalah salah satu pengungkapan ekspresi yang menurut konselor adalah
cara yang terbaik, selain mengasah kemampuan yang ada, dapat juga mengatasi emosi yang
terkandung dalam sebuah karya. Dengan Angela yang menyalurkan bakatnya dapat membuat
Menerima kekurangan dan keterbatasannya sendiri juga bisa menerima kelemahan dan
keterbatasan orang lain. Seseorang yang dapat menghargai dirinya sendiri adalah juga orang
97
Gary R. Collins, Konseling Kristen Yang Efektif, 144.
79
yang dapat menghormati orang lain sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar atau
gambar Tuhan. Namun, karena pembatasan setiap orang, menemukan bahwa mereka
membutuhkan bantuan dan dukungan orang lain. Hal ini dapat memfasilitasi kesadaran dan
kesadaran akan keterbatasan dan kekurangan setiap orang. Kemampuan untuk memaafkan diri
sendiri membantu membangun dan menyempurnakan diri sendiri tanpa mengingkari batasan
manusiawi yang dimiliki setiap orang. Kami membangun diri berdasarkan kemampuan unik
Tabel IV
Pendampingan
Tabel diatas ialah hasil dari skor alat ukur inner child yang di berikan konseli kepada
konselor sebelum melakukan pendampingan. Dari hasil skor ini terlihat bahwa konseli
mengalami inner child yang terluka dan berdasarkan skor diatas dan kesaksian klien,
Tabel V
98
Theo Riyanto, Jadikan Dirimu Bahagia, (Yogyakarta : Kanisius, 2010), 39-41.
80
Pendampingan
Tabel VI
Mengerutkan alis
Ekspresi Sedih
WIB). Khawatir
Menangis.
Tersenyum
Tabel VII
Pendampingan
sedang. Hal ini terlihat dari alat ukur tingkat inner child.
Tabel diatas merupakan skor tingkat inner child yang terluka yang di berikan
kembali kepada konseli setelah melakukan pendampingan pastoral, Klient saat ini
Tabel VIII
Pendampingan
Tabel diatas diberikan kembali kepada konseli sebagai alat ukur kemarahan
sedang.
83
Tabel IX
Pertengahan
Sebelum Pendampingan Setelah pendampingan
Pendampingan
ketika bertemu
abangnya.
Tabel X
Child
84 Inner child tingkat 58 Inner child tingkat sedang
tinggi
Tabel diatas merupakan hasil skor alat ukur inner child, sebelum dan sesudah
pendampingan pastoral yang sudah diberikan oleh konselor kepada konseli. Terlihat bahwa
pendampingan pastoral menjadi 58. Hal ini dapat dikatakan inner child tingkat tinggi telah
Tabel XI
tinggi
Tabel diatas merupakan hasil skor alat ukur kemarahan, sebelum dan sesudah
pendampingan pastoral yang sudah diberikan oleh konselor kepada konseli. Terlihat bahwa
pendampingan pastoral menjadi 30. Hal ini dapat dikatakan kemarahan tingkat tinggi telah
Tidak jarang dalam hidup kita ingin menyerah. Beberapa bahkan mengambil jalan
pintas untuk putus asa dan mengakhiri hidup mereka. Ini terjadi karena mereka menanggung
kesulitan hidup mereka, dipaksa untuk berpikir sendiri dan mengandalkan pikiran mereka
sendiri. Mazmur 37:5 menyatakan, "Serahkan hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada
Tuhan, dan Tuhan akan bertindak." Mempercayakan dan mempercayai Tuhan berarti
sepenuhnya mempercayakan diri kita sendiri dan menjadikan otoritas Tuhan ada dalam hidup
kita.
Kekecewaan, luka, kemarahan, dan bahkan penderitaan hidup kita, Tuhan dengan
senang hati akan berubah menjadi sukacita. Masing-masing pribadi setiap orang tentu
memiliki perjuangan hidup sesuai dengan proporsinya masing-masing yang dialami karena
peristiwa masa lalu. Manusia tidak dapat memilih jenis keluarga, orang tua, atau lingkungan
tempat mereka dilahirkan. Sebagai orang Kristen, kita harus menyadari dalam hidup kita
bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita harus dilakukan dengan izin Tuhan. Baik
Kita harus selalu mencari pertolongan dan belas kasihan dari Tuhan agar kita dapat
mengatasi setiap masalah yang muncul dalam hidup kita. Sebagai manusia, kita pasti punya
batasan. Kemampuan untuk berpikir, bertindak, dan bahkan menghadapi masalah. Karena
pembatasan ini, orang tidak bisa hidup sendiri, tetapi mereka selalu membutuhkan orang lain
BAB V
KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
1. Inner child merupakan salah satu faktor yang membentuk kepribadian seseorang.
Masa kanak-kanak yang penuh dengan pengalaman menyenangkan seperti bermain dan kasih
sayang dengan orang tua memberikan energi positif dan sikap optimis yang bertahan seiring
dengan pertumbuhan seseorang. Di sisi lain, pengalaman masa kecil yang buruk, seperti
kekerasan dan pelecehan seksual, perasaan diabaikan, dan kehilangan orang yang dicintai,
dapat menyebabkan luka emosional dan trauma yang berlanjut pada anak-anak di kemudian
hari hingga dewasa. Angela adalah seorang anak yang terlahir dalam keluarga yang
sederhana, ia memiliki orangtua yang sibuk bekerja dikarenakan kebutuhan keluarga yang
sangat banyak, dan jarak lahir antara Angela dan kedua abangnya berdekatan membuat kedua
orangtua Angela fokus mencari nafkah. Tentu saja keluarga menghadapi banyak tantangan,
salah satunya adalah masalah keuangan. Keluarga Angela tidak bisa berfokus untuk
memperhatikan anak anaknya, sehingga disaat perekonomian tidak stabil, membuat orang
tuanya tidak bisa mengontrol emosinya. Sehingga perlakuan kasar yang di berikan orang
tuanya kepada anaknya membuat Angela merasa sendirian, tidak di perhatikan, hingga Angela
memiliki marah yang tidak terkontrol sehingga tega menyakiti dirinya sendiri.
87
2. Di dalam Alkitab, Mefiboset adalah orang yang mengalami inner child juga dalam hal
ini Mefiboset telah mengalami Inner Child yang membentuk konsep dirinya. Konsep yang
dibentuk ia menganggap bahwa dirinya “tidak berarti apa-apa dan menganggap ia hanya
seperti seekor anjing mati saja”. Kebutuhan dasar Mefiboset sebagai manusia tidak terpenuhi,
ia kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Harga diri, makna hidup menjadi kabur. Begitu
juga dengan kecatatan fisik yang mempengaruhi citra dan hidup yang menyimpang yang
membuat semangatnya patah. Merasa tidak aman, rasa takut, tidak berharga, berduka, rasa
tidak dikasihi tampak menguasai Mefiboset. Emosi negatif yang Mefiboset punya inilah yang
3. Tidak ada jaminan bahwa perilaku yang diberikan kepada anak akan sesuai dengan
apa yang diharapkan dari orang tuanya ketika mereka tumbuh dewasa, tetapi apa yang terjadi
ketika anak-anak tumbuh terikat dengan masa lalu mereka ketika mereka masih anak-anak
masa buruk dan menyenangkan, selalu terekam dalam pikiran. Tidak hanya tingkah laku,
tetapi juga pengolahan emosi yang dimiliki anak ini dibentuk sejak usia dini. Ketika sesuatu
terjadi dalam hidup kita, ketika kita ingin belajar untuk mengantisipasinya, kita tidak hanya
membantu diri kita sendiri tetapi juga membantu generasi berikutnya menjalani kehidupan
yang lebih baik. Selalu bergantung pada orang lain adalah salah satu tanda bahwa seseorang
memiliki inner child. orang yang anak batinnya terluka membutuhkan perhatian dan
pengakuan terus-menerus dari orang lain. Tentu saja, ini membuatnya terlalu bergantung
pada orang-orang di sekitarnya. Dia akan melakukan apa saja untuk menyenangkan orang-
orang di sekitarnya selama dia menerima perawatan dan perhatian yang dibutuhkan. Selain
itu tidak bisa mengendalikan emosi serta mengalami kesulitan mengendalikan emosinya saat
marah, emosinya meledak-ledak dan tidak terkendali, dan sama seperti saat dia sedih, mudah
menyalahkan dirinya sendiri bahkan melukai dirinya sendiri juga tanda terkena inner child.
Inner child juga bisa membuat orang yang mengalaminya kesulitan mempercayai orang lain
88
secara berlebihan biasanya disebabkan oleh trauma karena sering dibohongi di masa lalu.
Akibatnya, sebagai orang dewasa, mereka sulit mempercayai orang lain dan cenderung
skeptis sepanjang waktu. Setiap orang juga memiliki ketakutannya masing-masing, tetapi
ketakutan yang dilebih-lebihkan, membuat orang lain percaya bahwa mereka akan pergi. Hal
ini dapat menimbulkan emosi negatif, ketakutan, atau perasaan tidak layak untuk dicintai.
Kecemasan yang berlebihan seperti ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan
harus diatasi.
4. Penulis, selaku pernah satu sekolah dengan Angela sewaktu SMP dan berteman baik
dengan Angela ingin merangkul Angela agar ia tidak merasa sendirian dan bisa memberikan
solusi untuk Angela bisa mengontrol amarahnya dan tidak menyakiti dirinya sendiri. Penulis
sudah melalukan pastoral konseling dengan Angela dari bulan Januari hingga Juli 2022,
dalam hal ini penulis memberikan angket untuk mengukur inner child-nya dan angket
mengukur tingkat kemarahan, dengan hasil yang Angela miliki ialah kemarahan tingkat tinggi
dan inner child tingkat tinggi, dan setelah melakukan pendampingan Angela mengalami
penurunan yaitu menjadi inner child tingkat sedang dan kemarahan tingkat sedang. Dalam
penanganannya penulis memberikan solusi untuk menyalurkan emosi Angela lewat gambar.
Perbedaan Agama dan penulis membuat punulis merasa kesulitan untuk merangkul Angela
dengan ajaran Kristen secara langsung. Penulis sangat menghargai perbedaan Agama
sehingga penulis juga membatasi diri agar Angela tetap merasa nyaman dan aman saat
5. Selama penulis mendampingi Angela selama 5 bulan, tentu waktunya tidak cukup,
sehingga pendampingan untuk Angela akan terus dilakukan hingga batas waktu yang tidak
yang tidak pernah diungkapkannya kepada siapapun. Sehingga pada saat Angela
89
berkomunikasi dengan penulis tak jarang Angela menangis sebagai bentuk kesedihannya yang
Penulis sangat berharap tulisan ini dapat memberikan wawasan baru bagi kita semua,
khususnya para orang tua yang memiliki anak agar tetap memperhatikan anak-anaknya yang
sangat butuh ajaran dan bimbingan orang tuanya sendiri untuk menghadapi hidup ini. Setiap
orang memiliki karakteristik, perilaku, dan reaksi yang berbeda ketika berhadapan dengan
sesuatu. Tanpa disadari, inilah hasil didikan sejak dini yang dimulai dari lingkungan
keluarga. Dalam tumbuh kembang anak, keluarga merupakan wadah pertama pembentukan
karakter, dan anak meneladani baik buruknya akhlak bagi keluarganya terutama orang
tuanya. akan mampu membesarkan seorang anak dengan baik nantinya ketika ia memiliki
seorang anak. Inner child yang rusak, jika dibiarkan, seringkali menimbulkan dampak buruk
serta kegagalan dalam mengasuh anak. Orang dengan anak batin yang terluka biasanya
menyimpan atau menunjukkan emosi negatif seperti kemarahan, ketakutan, kekecewaan, atau
kecemasan berlebihan tentang situasi yang berkaitan dengan pemicu trauma mereka. Tetapi
tidak semua orang dapat dengan mudah memahami apa yang terjadi pada anak batin mereka.
6. Pendampingan pastoral kepada Angela sangat efektif untuk menurunkan inner child yang
terluka dan menurunkan kemarahannya menjadi tingkat sedang. Untuk mengatasi inner child,
journaling adalah salah satu cara untuk mengatasinya. Karena dengan menulis bisa digunakan
untuk merefleksikan pengalaman. Selain itu bermeditasi memiliki banyak manfaat bagi
kesehatan fisik dan mental. Tetapi meditasi sangat bermanfaat untuk proses penyembuhan
anak batin yang terluka. Meditasi dapat membantu mengidentifikasi emosi yang muncul dan
menerima dan mengakui emosi yang muncul. Seiring waktu, juga akan terbiasa
mengekspresikan perasaan Anda dengan cara yang sehat, sehingga Anda tidak akan memiliki
90
kemarahan tanpa disadari atau pertanyaan yang tidak terjawab. Selain itu menyalurkan emosi
lewat bakat yang ada juga menjadi solusi yang tepat mengendalikan diri. Setiap orang
memiliki kegiatan dan hobi favorit yang berbeda. Hobi dan aktivitas yang nikmati dapat
membantu melupakan sejenak masalah saat ini dan menciptakan energi positif dalam diri.
5.2. Saran
1. Gereja, sebagai tubuh orang percaya, harus memberikan pelayanan pastoral kepada
semua anggota komunitas yang mengalami pergumulan dalam hidup. Hal ini dapat
3. Gereja harus memberitahu kaum muda dalam bentuk forum sebagai penggerak
gereja untuk menjadi pengikut gereja sehingga kaum muda gereja saat ini dapat
merasa nyaman di gereja mereka sendiri dan tidak pergi ke gereja lain.
4. Gereja harus terbuka dengan orang yang bukan warga Gereja, agar orang-orang
warganya agar bisa mendidik generasi yang akan datang dengan baik.
1. Sebagai salah satu wadah untuk membentuk seseorang menjadi Pendeta, Sekolah
diluar Gereja untuk mengatasi pergumulan hidup, terutama mereka yang terluka
rohaninya.
91
pastoral yang sangat dibutuhkan di gereja saat ini. Sehingga, mereka tidak lagi
dibingungkan atau dibiarkan begitu saja, tetapi bisa disertai dengan proses
penyembuhan.
dengan benar agar dapat memberikan solusi yang tepat. Ini benar-benar membantu
gereja keluar dari pergumulan hidup. Tentu saja, cara untuk mengatasi masalah ini
DAFTAR PUSTAKA
Abineno, J.L. Ch, Percakapan Pastoral Dalam Praktik, Jakarta : BPK-GM, 1986.
Aeni, Nur, TES PSIKOLOGI : Tes Inteligensi dan Tes Bakat, Yogyakarta: Universitas
Ali, Mohammad, Pengantar Pendidikan Prosedur dan Strategi, Bandung: Angkasa, 1985.
Beck, James R., dan David T. Moore, Kuatir Pedoman bagi Konselor, Jakarta: BPK Gunung
Mulia,2000.
Bradshaw, Jhon, Home Coming Reclaiming and Championing Your Inner child, Amerika:
Collins, Garry R., Konseling Kristen yang Efektif, Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara,
1990.
Engel, J.D., Pastoral dan Kebutuhan Dasar Konseling, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016.
Findiani, Era, Berdamai Dengan Rasa Marah, TK: Anak Hebat Indonesia, 2020.
Fisher, David, 21st Century Pastor: A Vision Based On The Ministry Of Paul, Zondervan ;
Furchan, Arief, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional, 1982.
Gerber, Charles R., Kesembuhan Untuk Kepahitan hati, Surabaya : LATM/ Gereja Jemaat
Hommes, Tj. G., & Gerrit E. Singgih, Teologi dan Praktis Pastoral Antropologi Teologi
Hunt, Juni, Pastoral Konseling Alkitabiah Menjawab Isu-Isu Etika Sekuler Masa Kini II,
Hunt, Juni, Pastoral Konseling Alkitabiah: Menjawab Isu-isu Etika Sekuler Masa Kini I,
Kartono, Widya, Doa, Stress, dan Luka Batin, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001.
L. Whitfield, Charles, Healing the Child Within : Discovery and Recovery for Adult Children
Mappiare AT, Andi, Pengantar Konseling dan Psikoterapi, Jakarta : PT. Raja Gravindo
Persada, 1992.
Materoff, Milton, Mendampingi Untuk Menumbuhkan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
McCord, Joan, Violence and Childhood in the Inner City, America: Cambridge University,
1997.
Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005.
Nggebu, Sontenis, 70 Garis Besar Khotbah Biografi Para Tokoh Alkitab, Bandung: Biji
Sesawi, 2011.
Nisbet, J. , dan J. Watt, Studi Kasus : Sebuah Panduan Praktis, Jakarta : Gramedia, 1994.
Oaklander, Violet, HIDDEN TREASURE A map to the child’s inner self, London: Karnac,
2006.
Safaria, Triantoro, & Nofrans Eka Saputra, Manajemen Emosi (Sebuah Panduan Cerdas
SEAGST Institute Of Advanced pastoral Studies Bersama Panitia Metode Studi Kasus, NTT,
Studi Kasus Pastoral II, NTT, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1990.
Seamands, David A., Kesembuhan Memori, Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1997.
Sharma, Dinesh, Childhood, Family, and Sociocultural Change in India: Reinterpreting the
Sinaga, Yenni Meriam Yohana, Skripsi : “Pendampingan Kepada Maya yang Menyimpan
A Christian’s Manual for Lay Counseling, Camp Hill, PA: Christian Publications,
1984.
Surakhmad, Winarno, Pengantar Pendidikan Prosedur dan Strategi, Bandung: Tarsito, 1985.
Susabda, Yakub B., Pastoral Konseling (Jilid Dua), Malang: Gandum Mas, 1996.
Van Beek, Aart, Pendampingan Pastoral, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2007
Whitfield, Charles L., Recovery of Your Inner Child: The Highly Acclaimed Method for
Wright, H. Norman, Konseling Krisis Membantu Orang Dalam Krisis dan Stress, Malang:
Gandum Mas,1999.
Sumber Elektronik:
Annisa Permata Dewi, Pengaruh Parenting Self-Efficacy dan Child Temperament Terhadap
Parenting Stress, Halaman 16-17, diakses pada 2 April 2022, Pukul 16:49 WIB, yang
diakses [Link]
%20P ERMATA%20DEWI%20-%[Link].
KemenPPPA, Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan, Diakses pada 26 Januari 2022, Pukul
731671/kemenpppa-kasus-kekerasan-anak-dan-perempuan-meningkat-di-2021
[Link]
Novita Asavasthi, Kenali, Sadari, dan Atasi Luka Inner Child, diakses pada Rabu, 23 Februari
sehat/read/3644446/kenali-sadari-dan-atasi-luka-inner-child.
tanda- inner-child-yang-sedang-terluka.
Rizal Fadli, Tand-tanda Inner Child yang Sedang Terluka, Diakses pada Selasa, 05 April
2022,
96
The Hope Line, Understanding Self- Harm and Cutting Scars Don’t Have To Last Forever,
Halaman 4, Diakses pada Senin 2 Mei 2022, Pukul 11.12 WIB, yang diakses dari
[Link]