BAB II
LANDASAN TEORI
A. Media Pembelajaran
1. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin Medium yang secara harfiah
dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab
media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada
penerima pesan. Adapun media secara umum adalah alat bantu
proses belajar mengajar.1
Media bentuk jamak dari perantara (medium), merupakan sarana
komunikasi. Berasal dari bahasa Latin medium (perantara), istilah ini
merujuk pada apa saja yang membawa informasi antara sebuah
sumber dan sebuah penerima. Enam kategori dasar media adalah teks,
audio,visual, video, perekayasa (manipulative), benda-benda, dan
orangorang. Tujuan dari media adalah untuk memudahkan
komunikasi dan belajar.2
Media adalah semua bentuk perantara (perangkat) untuk
menunjang tercapainya kompetensi dasar yang dibelajarkan yang
dapat memberikan rangsangan kepada alat indera, di gunakan untuk
menyebarkan ide atau informasi untuk disampaikan kepada penerima
1
Kasinyo Harto, Desain Pembelajaran Agama Islam untuk Sekolah dan Madrasah,
(Jakarta:Rajawali Pers, 2012), hal. 127
2
Sharon E. Smaldino, James D. Russel dan Deborah L. Lowther, Teknologi
Pembelajaran dan Media untuk Belajar, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hal. 7
14
15
sehingga pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima dengan jelas,
mudah dimengerti dan konkret.3 Secara lebih khusus, pengertian media
dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat
grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan
menyusun kembali informasi visual atau verbal.4
Menurut National Education Association (NEA) mendefinisikan
media sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar,
dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik
dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas
program instruksional.5
Dari berbagai pengertian media dapat disimpulkan bahwa media
adalah sebuah perantara agar peserta didik mampu memahami materi yang
di ajarkan guru.
Pembelajaran adalah kegiatan pendidik secara terprogram dalam
desain intruksional, untuk membuat peserta didik belajar secara aktif, yang
6
menekankan pada penyediaan sumber belajar. Sedangkan menurut Aqib
Pembelajaran adalah upaya secara sistematis yang dilakukan guru untuk
mewujudkan proses pembelajaran secara efektif dan efisien yang dimulai
dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.7
3
Mansur Muslich, Melaksanakan Peneltian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara,
2009), hal. 114-115
4
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, ( Jakarta: PT Raja Grafindo, 2004), hal. 3
5
Asnawir dan M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers,
2002), Hal. 10.
6
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Hal.
297.
7
Zainal Aqib, Model-Model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual
(Inovatif),(Bandung: Yrama Widya, 2013), hal. 66
16
Sedangkan menurut Anderson, media pembelajaran adalah media
yang memungkinkan terwujudnya hubungan langsung antara karya
seseorang pengembang mata pelajaran dengan para [Link]
umum wajar apabila peranan guru yang menggunakan media
pembelajaran sangatlah berbeda dari peranan seorang guru biasa.
Enam kategori dasar media adalah teks, audio, visual, vidio,
perekayasa (manipulative), benda-benda, dan orang-orang. Tujuan dari
media adalah untuk memudahkan komunikasi dan belajar8
Maka dari beberapa pengertian di atas dapat di simpulkan
bahwa media pembelajaran adalah suatu alat bantu yang merangsang
peserta didik agar termotivasi dalam pembelajaran sehingga tujuan
pembelajaran tercapai dengan maksimal.
2. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan dalam Pemilihan Media
Dibawah ini beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam
memilih media yang tepat yaitu:9
a. Jenis kemampuan yang akan dicapai, sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
b. Kegunaan dari berbagai jenis media itu sendiri, setiap jenis media
mempunyai nilai kegunaaan sendiri-sendiri.
c. Kemampuan guru menggunakan jenis media, kesederhanaan
pembuatan dan penggunaan media.
8
Sharon E. Smaldino, James [Link] dan Deborah [Link], Teknologi Pembelajaran
dan Media untuk Belajar, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hal 7
9
R. Ibrahim, Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),
hal. 120
17
d. Keluwesan atau fleksibel dalam penggunaannya.
e. Kesesuaian dengan alokasi waktu dan sarana pendukung yang ada.
f. Ketersediaannya dan biaya.
Jadi berdasarkan pendapat di atas hal yang perlu di perhatikan dalam
pemilihan media pembelajaran adalah media di sesuaikan dengan tujuan
pembelajaran, keluwesan, keserderhanaan dan biaya yang yang murah.
3. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Ada beragam jenis media pembelajaran yang dapat di gunakan oleh
seorang pendidik. Penggunaan atau pemilihan media harus disesuaikan
dengan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Arsyad
menyatakan bahwa jenis media pembelajaran dibagi ke dalam dua
kategori luas yaitu media tradisional dan media teknologi mutakhir
sebagai berikut :10
a. Media Tradisional
1) Media visual diam yang diproyeksikan: proyeksi opaque (tak
tembus pandang), proyeksi overhead (OHP), slides, film strips.
2) Media visual diam yang tak diproyeksikan: gambar, poster,foto,
charta, grafik, diagram, papan pameran, papan info,papan bulu.
3) Media audio: rekaman piringan, pita kaset, cartridge.
4) Multimedia: slide plus suara (tape), multi image.
5) Media visual dinamis yang diproyeksikan: film, televisi, video.
10
Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran: (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2016), Hal
35
18
6) Media cetak: buku teks, modul tekster program, workbook,
majalah ilmiah berkala, lembaran lepas (hand out).
7) Media permainan : teka-teki, simulasi, permainan papan.
8) Media realita: model, specimen (contoh), manipulatif (peta,boneka).
b. Media Teknologi Mutakhir
1) Media berbasis telekomunikasi: telekonferens, kuliah jarak jauh.
2) Media berbasis mikroprosesor: computer-assisted instruction,
permainan computer, sistem tutor intelijen, interaktif,
hypermedia, video compact disc (VCD), digital video disc (DVD).
Menurut Sudjana dan Rivai Ada beberapa jenis media
pembelajaran menurut yaitu:11
a. Media dua dimensi seperti gambar, foto, grafik, bagan ataudiagram,
poster, komik, dan lain-lain.
b. Media tiga dimensi seperti model padat, model penampang,model
susun, model kerja, mock up, diorama, dan lain-lain.
c. Media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP, dan
lain-lain.
d. Lingkungan
Menurut Suryani dan Agung jenis media secara umum yang
biasa digunakan dalam proses pembelajaran, antara lain:
a. Media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan, diagram, kartun,poster,
dan komik.
11
Sudjana, N. dan A, Rivai, Media Pengajaran, (Jakarta : Sinar Baru
Algensindo,2010), Hal. 3- 4
19
b. Media tiga dimensi yaitu media dalam bentuk model padat, model
penampang, model susun, model kerja, dan diorama.
c. Media proyeksi seperti slide, film stips,fil dan OHP.12
Berdasarkan pendapat di atas dapat di simpulkan jenis media yang
digunakan pada proses pembelajaran adalah, media visual, media audio,
media audio visual, media grafis, media proyeksi dan lainnya.
4. Fungsi Media Pembelajaran
Pada dasarnya fungsi utama media pembelajaran adalah
sebagai sumber belajar. Fungsi-fungsi yang lain merupakan hasil
pertimbangan pada kajian ciri umum yang dimilikinya, bahasa yang
dipakai menyampaikan pesan dan dampak atau yang ditimbulkannya.13
Secara umum media pengajaran mempunyai fungsi sebagai
berikut:14
a. Membantu memudahkan belajar bagi siswa atau mahasiswa dan
membantu memudahkan mengajar bagi guru atau dosen.
b. Memberikan pengalaman yang lebih nyata (yang abstrak dapat
menjadi konkret)
c. Menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya pelajaran tidak
membosankan)
d. Semua indera siswa dapat diaktifkan. Kelemahan satu indra dapat
diimbangi oleh kekuatan indra lainnya.
12
Suryani, N & Agung, L, Strategi Belajar Mengajar, (Yogyakarta:Penerit Ombak,
2012), Hal. 143.
13
Munadi Yudhi, Media Pembelajaran, (Jakarta: GP Press Group, 2013), hal. 36
14
Kasinyo Harto, Desain Pembelajaran Agama Islam untuk Sekolah dan Madrasah,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hal. 130
20
e. Lebih menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar.
f. Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.
Sedangkan manfaat media pembelajaran menurut Kemp dan
Dyton mengemukakan beberapa hasil penelitian yang menunjukkan
dampak positif dari penggunaan media sebagai bagian integral
pengajaran di kelas sebagai berikut:15
a. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Dengan penyajian
melalui media, siswa menerima pesan yang sama meskipun para guru
menafsirkan isi pelajaran dengan cara yang berbeda- beda.
b. Pengajaran bisa lebih menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai
penarik perhatian dan membuat siswa tetap terjaga dan
memperhatikan.
c. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori
belajar dan prinsip- prinsip psikologis yang diterima dalam hal
partisipasi siswa, umpan balik dan penguatan.
d. Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat
e. Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan bilaman integrasi kata
dan gambar sebagai media pengajaran dapat mengkomunikasikan
elemenelemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasi dengan
baik, spesifik dan jelas.
f. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap
proses belajar dapat ditngkatkan.
15
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hal 22-23
21
g. Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi media adalah
memudahkan peserta didik memahami materi, memotivasi dan menarik
perhatian peserta didik dalam pembelajaran.
B. Media Benda Konkret
1. Pengertian Media Benda konkret
Jennah menyatakan bahwa media konkret adalah benda sebenarnya
yang dapat di jadikan sebagai media pembelajaran. Media konkret perlu
digunakan untuk mempermudah peserta didik di dalam proses
pembelajaran untuk mencapai tujuan pengajaran Media konkret
merupakan alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi
memberikan pengalamanlangsung kepada para peserta didik, yaitu
merupakan model dan objek nyata dari suatu benda, seperti meja,
kursi, mata uang,tumbuhan, binatang dan sebagainya”.16
Ibrahim dan Syahodih mengatakan bahwa media benda konkret
termasuk media atau sumber belajar yang spesifik dikembangkan sebagai
komponen sistem instruksional untuk mempermudah radar belajar yang
formal dan direncanakan.17
Menurut Sumantri dan Permana menyatakan bahwa media benda
konkret merupakan benda yang sebenarnya membantu pengalaman nyata
peserta didik dan menarik minat dan semangat belajar siswa.18
16
Jennah, Rodhatul. 2009. Media Pembelajaran : Banjarmasin. Antasari Press. Hal 79
17
R. Ibrahim, Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),
hal. 3
18
Ibid,. Hal 117
22
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
media benda konkret adalah sebuah media nyata yang dapat dapat
memberikan pengalaman peserta didik dalam belajar dan menarik minat
belajar peserta didik.
2. Langkah-Langkah Penggunaan Media Benda konkret
Agar proses pembelajaran dengan memanfaatkan benda konkret
tersebut dapat berlangsung dan berhasil dengan baik, maka perlu
menempuh beberapa langkah. Adapun langkah-langkah penggunaan
media benda konkret sebagai berikut :19
a. Guru menyampakan tujuan pembelajaran.
b. Guru menginstruksikan apa yang akan dikerjakan pada proses
pembelajaran.
c. Guru memperlihatkan benda kongkret dan menunjukkan bentuknya
kepada siswa.
d. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memegang benda
asli yang digunakan dalam proses pembelajaran.
e. Guru melakukan kegiatan tindak lanjut.
f. Guru melakukan evaluasi, guna untuk mengukur keberhasilan
pencapaian terhadap tujuan yang telah dirumuskan pada awal
kegiatan pembelajaran.
19
Muhammad Asri Amin, Menjadi Guru Profesaonal, (Bandung: Penerbit Nuansa
Cendekia, 2013), hal. 114
23
3. Manfaat Media Benda Konkret
Media konkret merupakan suatu media nyata yang digunakan
dalam proses belajar mengajar dimana nantinya akan berpengaruh
terhadap hasil pembelajaran yang lebih baik. Menurut Sudjana dan
Rivai , manfaat media konkret dalam proses belajar yaitu:20
a. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian pembelajar sehingga
dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat
dipahami oleh pembelajar dan memungkinkan menguasai dan
mencapai tujuan pembelajaran
c. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata
berkomunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh pembelajar,
sehingga pembelajaran tidak bosan dan pembelajaran tidak habis
tenaga, apalagi kalau pembelajaran mengajar dalam setiap jam
pembelajaran.
d. Pembelajar dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab
tidak hanya mendengarkan uraian pembelajaran, tetapi juga aktivitas
lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan,memerankan
dan lain-lain.
Manfaat media sangat berpengaruh dalam pembelajaran, media
pembelajaran dengan menggunakan media konkret dapat membantu
peserta didik dalamn pembelajaran di sekolah. Sundayana menyebutkan
20
Sudjana, N. dan A, Rivai, Media Pengajaran, (Jakarta : Sinar Baru Algensindo,
2010), Hal 25.
24
bahwa manfaat media konkret dalam pengajaran adalah dapat
memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan
berusaha sendiri dikalangan peserta didik, memberikan pengalaman -
pengalaman kepada peserta didik tentang benda asli, dan membantu
perkembangan kemampuan belajar peserta didik.21
Berdasarkan pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa manfaat
media benda konkret adalah memperjelas materi yang di sampaikan seorang
pendidik dengan memberikan pengalaman nyata dengan sesuatu yang nyata.
4. Kelebihan media benda konkret
Ibrahim dan Syaodih mengungkapkan beberapa kelebihan media
benda konkret, yaitu :22
a. memberikan kesempatan semaksimal mungkin pada peserta didik
untuk mempelajari sesuatu ataupun melaksanakan tugas-tugas dalam
situasi nyata.
b. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sendiri situasi
yang sesungguhnya dan melatih ketrampilan mereka dengan
menggunakan sebanyak mugkin alat indra.
Menurut Sumantri dan Permana kelebihan dari media benda konkret
yaitu:23
21
Rostina Sundayana, Media Pembelajaran Matematika, (Bandung : Alfabet, 2013), Hal
10
22
R. Ibrahim, Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),
Hal. 119
23
Sumantri, Mulyani dan Permana, Johar, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2004), Hal 163.
25
a. Memberi pengalaman yang sangat berharga karena langsung dalam
dunia sebenarnya;
b. Memiliki ingatan yang tahan lama dan sulit dilupakan;
c. Pengalaman nyata dapat membentuk sikap mental dan emosional
yang positif terhadap hidup dan kehidupan
d. Benda konkret dapat dikumpulkan dan dicari; dan
e. Benda konkret dapat dikoleksi orang.
Berdasarkan pendapat di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa
kelebihan benda konkret adalah mudah dicari, dapat memberikan pengalaman
nyata peserta didik dan dapat menarik belajar peserta didik.
5. Kekurangan media benda konkret.
Ibrahim dan Syaodih menyebutkan bahwa kelemahan media benda
konkret adalah sebagai berikut :24
a. Tidak selalu dapat memberikan semua gambaran dari benda yang
sebenarnya, seperti pembesaran, pemotongan, dan gambar bagian demi
bagian, sehingga pengajaran harus didukung pula dengan media lain.
b. Biaya yang diperlukan untuk mengadakan berbagai obyek nyata tidak
sedikit. Membawa siswa ke berbagai tempati luar seolah yang
terkadang memiliki resiko.
Menurut Sumantri dan Permana kelemahan media benda konkret
yaitu:25
24
R. Ibrahim, Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),
hal. 119
26
a. Memerlukan tambahan anggaran biaya pendidikan,
b. Memerlukan ruang dan tempat yang memadai jika media tersebut
berukuran besar,
c. Apabila media yang diperlukan sulit didapat ditempat tersebut,maka
akan menghambat proses pembelajaran, baik pendidik atau peserta
didik harus mampu menggunakan media pembelajaran tersebut.
Berdasarkan pendapat di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa
kelemahan benda konkret adalah tidak semua media pembelajaran benda
konkret mudah di cari terkadang memerlukan biaya yang cukup besar
sehingga akan menghambat proses pembelajaran.
C. Pembelajaran Tematik
1. Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang
menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran
sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik.26
Pembelajaran tematik menerapkan pembelajaran tema-tema yang jauh
lebih aktual dan kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Artinya
penerapan pembelajaran tematik pada dasarnya adalah penerapan konsep
pembelajaran yang menggunakan tema dalam kontekstualisasi
beberapa materi pelajaran. Cara ini akan membuat peserta didik
menemukan pengalaman nyata yang sangat bermakna khususnya
25
Sumantri, Mulyani dan Permana, Johar, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2004), Hal. 176
26
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2012), Hal. 24
27
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan matari pelajaran. Akhirnya,
dengan penerapan pembelajaran tematik di SD/MI kegiatan belajar dan
mengajar tidak akan berdiri sendiri, bahkan akan berjalan secara
berkesinambungan.27
Menurut Rusman Pembelajaran tematik merupakan salah satu model
dalam pembelajaran terpadu (integreted instruction) yang merupakan
suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik, baik
secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan
konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan
autentik.28
Berdasarkan pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa
pembelajaran tematik adalah suatu pembelajaran yang memberikan
pengalaman peserta didik yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam
pembelajaran dengan mengaitkan kehidupan sehari-hari.
2. Karakteristik Pembelajaran Tematik
Dalam menerapkan pembelajaran tematik pada kegiatan belajar dan
mengajar di sekolah, guru perlu memunculkan karakteristik tematik
sebagai pembeda dengan pembelajaran [Link] ini sangat penting dan
harus dilakukan karena indikator pembelajaran tematik terletak dalam
karakteristik-karakteristik [Link] guru tidak mampu
memunculkan karakteristik pembelajaran tematik dalam kegiatan
27
Ibnu Hajar, Panduan Lengkap Kurikulum Tematik Untuk SD/MI, (Jogjakarta: Diva
Press, 2013). Hal. 20
28
Rusman, Model-Model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme
Guru), (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2014), Hal. 254
28
pembelajaran, maka pembelajaran tersebut tidak dapat dikatakan
sebagai pembelajaran tematik. Adapun karakteristik pembelajaran tematik
adalah sebagai berikut29:
a. Berpusat pada peserta didik.
b. Memberikan pengalaman langsung.
c. Tidak terjadi pemisah materi pelajaran secara jelas.
d. Menyajikan konsep dari berbagai materi pelajaran.
e. Bersifat fleksibel.
f. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
g. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
h. Mengembangkan komunikasi peserta didik.
i. Mengembangkan metakognisi peserta didik.
j. Lebih menekankan proses daripada hasil
Menurut Rusman pembelajarn tematik memiliki karakteristik-
karakteristik sebagai berikut:30
a. Berpusat pada peserta didik
b. Memberikan pengalaman langsung
c. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
d. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
e. Bersifat fleksibel
f. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta
didik
29
Ibid.,43-56.
30
Rusman, Model-Model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru),
(Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada, 2014), Hal. 258
29
g. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
Menurut Suryani dan Agung karakteristik pembelajaran terpadu
sebagai berikut:31
a. Holistik, suatu gejala atau fenomena yang menjadi pusat perhatian
dalam pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari berbagai bidang
kajian.
b. Bermakna, pengkajian suatu fenomena dengan membentuk jalinan
antar konsep-konsep yang berhubungan menghasilkan skema. Hal ini
akan berdampak pada keberadaan dari materi yang dipelajari.
c. Otentik, pembelajaran terpadu memungkinkan peserta didik
memahami secara langsung prinsip dan konsep yang ingin
dipelajarinya melalui kegiatan belajar secara langsung.
d. Aktif, pembelajaran terpadu menekankan kreativitas peserta didik
dalam pembelajaran baik fisik, mental, intelektual, maupun
emosional guna mencapai hasil belajar yang optimal dengan
mempertimbangkan hasrat minat dan kemampuan peserta didik
sehingga mereka termotivasi untuk terus menerus belajar.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik
pembelajaran tematik adalah berpusat pada siswa, memberikan
pengalaman nyata, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, dan
melibatkan peserta didik dalam pembelajaran.
31
Suryani, N & Agung, L, Strategi Belajar Mengajar, (Yogyakarta: Penerbit Ombak,
2012), Hal 101
30
3. Landasan Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memiliki beberapa landasan sebagai penopang
penerapannya dalam kegiatan belajar dan mengajar di [Link]
garis besar, landasan tersebut terbagi ke dalam tiga hal, yaitu
landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan yuridis.
a. Landasan Filosofis
Landasan filosofis dalam penerapan pembelajaran tematik sangat
dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat, yaitu progresivisme,
kontruktivisme, dan humanisme.32 Pertama, yang dimaksud dengan
aliran filsafat progresivisme dalam pembelajaran tematik adalah
bahwa segala proses kegiatan belajar dan mengajar antara guru
dan peserta didik di sekolah harus menekankan pada
pengembangan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana
yang alamiah (natural), serta memperhatikan pengalaman para
peserta didik. Dengan kata lain, filsafat progresivisme menekankan
pada fungsi kecerdasan para peserta didik.
Kedua, aliran kontruktivisme dalam penerapan pembelajaran
tematik ialah berupaya melihat pengalaman siswa secara langsung
(directexperiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Mengacu pada
aliran ini, pengetahuan dan keterampilan yang didapat oleh para
peserta didik pada hakikatnya adalah kontruksi atau bentukan para
32
Ibnu Hajar, Panduan Lengkap Kurikulum Tematik Untuk SD/MI, (Jogjakarta: Diva
Press, 2013). Hal. 27.
31
peserta didik. Para peserta didik mengkontruksi pengetahuannya
dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka.
Ketiga, aliran humanisme dalam penerapan pembelajaran
tematik adalah aliran yang berusaha melihat para peserta didik
dari segi keunikan, karakteristik, potensi, serta motivasi mereka.
b. Landasan Psikologis
Landasan psikologis dalam penerapan pembelajaran tematik
sangat berkaitan dengan psikologi perkembangan dengan peserta didik
dan psikologi [Link] hal ini, psikologi perkembangan
diperlukan oleh para peserta didik, terutama dalam menentukan isi
atau materi pembelajaran tematik yang diberikan oleh guru kepada
para peserta didiknya di [Link] adalah agar tingkat
keluasan dan kedalaman materi pelajaran sesuai dengan tahap
perkembangan peserta didik.
Sementara itu, psikologi belajar memberikan kontribusi dalam
hal cara menyampaikan isi atau materi pembelajaran tematik kepada
para peserta didik, dan bagaimana pula mereka harus mempelajarinya
agar mampu memahaminya dengan sempurna.33
c. Landasan Yuridis
Adapun beberapa landasan yuridis penerapan pembelajaran
tematik adalah sebagai berikut:
33
Ibid,. Hal 28.
32
1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak. Pasal 9 dalam undang-undang ini menyatakan bahwa setiap
anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka
perkembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai
dengan minat dan bakatnya. Undang-undang tersebut menjadi
landasan yuridis penerapan pembelajaran tematik karena
menggunakan norma dan ketentuan pmbelajaran tematik, yaitu
dapat memaksimalkan pendidikan dan pengajaran anak sejak dini
sehingga dapat tumbuh menjadi sumber daya manusia seutuhnya
dan dapat bersaing secara global.
2) UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
dalam undang-undang tersebut, yaitu bab V pasal 1-b, dinyatakan
dengan tegas bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan
pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai
dengan bakat, minat, dan kemampuannya.34
4. Manfaat Pembelajaran Tematik
Penerapan pembelajaran tematik memiliki banyak manfaat yang
dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung oleh guru dan
peserta didik dalam kegiatan belajar dan mengajar, di antaranya sebagai
berikut:
a. Kegiatan pembelajaran antara guru dan peserta didik lebih fokus pada
proses daripada produk.
34
Ibid., Hal 29.
33
b. Member kesempatan yang luas bagi para peserta didik untuk belajar
secara kontekstual.
c. Dapat mengembangkan kepercayaan diri dan kemandirian peserta didik.
d. Membiasakan peserta didik untuk melihat masalah dari ber bagai segi.
e. Mendorong peserta didik untuk melakukan penyelidikan (penelitian)
sendiri, baik di kelas maupun di luar kelas. Dan lain-lain.35
D. Perilaku negatif (Disruptive Classroom Behaviors)
1. Pengertian Perilaku Negatif dalam Kelas
Perilaku negatif dalam kelas atau Disruptive Classroom Behaviors
(DCB) dapat didefinisikan sebagai perilaku tampak yang terjadi di
dalam kelas yang menganggu guru dan atau siswa yang lain,
contohnya yaitu menolak berpartisipasi atau bekerjasama dalam kegiatan
kelas, mengabaikan hak orang lain, tidak memperhatikan pelajaran,
membuat keributan dan meninggalkan tempat duduk tanpa ijin.36
Kaplan, Gheen, dan Migley menggambarkan disruptive behavior
(perilaku mengganggu) meliputi berbicara di luar gilirannya, menggoda,
bersikap tidak sopan pada orang lain, dan meninggalkan tempat duduk
tanpa ijin dari guru yang mengajar. Selain itu, tindakan yang lebih
serius seperti kekerasan dan perusakan juga termasuk di dalam ruang
lingkup perilaku mengganggu.37
35
Ibid., Hal. 23.
36
Bidell & Deacon, School Counselors Connecting the Dots Between Disruptiv
Classroom Behavior and Youth Self-Concept, 2010, Hal. 3
37
Pia Todras, Teachers Perspective of Disruptive Behavior in the Classroom.
Dessertation. Faculty of the Chicago School ofProfessional Psychology, 2007, Hal 4
34
McMahon & Loschiavo menggunakan istilah student disruptive
behavior, yaitu perilaku siswa dilakukan berulang, kontinyu dan
menghambat instruktur atau pengajar untuk menyampaikan pelajaran
dan menghambat siswa untuk belajar. California State University
memberikan definisi pada disruptive behavior sebagai perilaku yang
mengganggu atau menghalangi misi, dan tujuan, ketertiban, atmosfir
akademik, operasi, proses dan fungsi akademik. Dengan kata lain,
student disruptive behavior adalah siswa yang mengganggu proses
belajar mengajar di kelas atau fungsi sekolah sehari-hari.38
Menurut Khasinah perilaku disruptif pada siswa dikenal juga
sebagai kenakalan atau partisipasi negatif di dalam kelas. Perilaku
seperti ini sering mengganggu proses belajar mengajar di kelas karena
mempengaruhi guru dan siswa lainnya. Terkadang, beberapa perilaku
dapat ditolerir jika hanya mengganggu sebagian kecilasal tidak
sampai mengganggu keseluruhan kelas.39
Nicholls dalam Mccaskey mendefinisikan disruptif sebagai
perilaku yang mengganggu tindakan mengajar atau mengganggu
pembelajaran siswa lain yang menyebabkan ketidakamanan secara
psikologis dan fisik.40
38
McMahon & Loschiavo,C. Dealing with difficult students.
[Link] diakses pada 31 Oktober 2019
pukul 10.30 WIB
39
Khasinah, S. ManagingDisruptive Behavior Of Students In Language Classroom.
Englisia Journal,2017 Hal. 79-89.
40
McCaskey, J. L, Elementary School Teachers' Levels of Concern with Disruptive
Student Behaviors in the Classroom, 2015 (Doctoral dissertation, Walden University).
35
Menurut Arbuckle & Little, dalam Latif, Khan, & Khan istilah
perilaku disruptif tidak memiliki definisi spesifik. Mereka membagi
perilaku bermasalah pada siswa dalam tiga tipe; perilaku tidak
matang, lalai dan aneka perilaku. Pertama, perilaku yang tidak matang
atau immature behavior yakni bentuk perilaku yang termasuk ialah
mengobrol selama pembelajaran, makan atau minum, mengunyah
permen karet, kedatangan terlambat, dan lain-lain.
Kedua, perilaku lalai atau inattentive mencakup perilaku seperti
tidur selama pembelajaran, tidak mengikuti kelas sampai akhir,
menunjukkan kebosanan, kurang perhatian dalam pekerjaan di kelas,
kurang motivasi, tidak siap dan mengemas materi atau barangbarang
sebelum kelas berakhir. Ketiga, aneka perilaku mencakup perilaku
menyontek saat ujian dan lebih memperhatikan hal-hal lain daripada
pembelajaran.41
Jadi berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
perilaku negatif siswa adalah perilaku yang menganggu dalam kelas
berupa membuat keributan dalam kelas, tidak memperhatikan
pembelajaran dan sering berkelahi dengan teman dikelasnya.
2. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Negatif
Perilaku mengganggu siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Penelitian yang dilakukan oleh Rehman & Sadruddin
mengemukaan bahwa penyebab student misbehavior pada siswa di
41
Latif, M., Khan, U. A., & Khan, A. N, Causes Of Students’disruptive Classroom
Behavior: A Comparative Study. Gomal University Journal of Research,2016, Hal 32.
36
Asia Tenggara adalah (1) family and social environment. Lingkungan
keluarga dan sosial yang menyebabkan munculnya perilaku negatif
adalah lingkungan kurang memperhatikan penanaman nilai etika dan
moral, perilaku dan penggunaan bahasa dalam komunikasi yang kasar
dilakukan oleh orangtua, dan lingkaran pertemanan yang buruk. (2) lack
of attention yaitu kurangnya perhatian yang meliputi ketidaktahuan
orangtua, kesenjangan komunikasi baik karena kurangnya waktu
bersama, kurangnya pengertian, cinta dan kasih sayang (3) media, meliputi
perubahan gaya hidup dan masuknya modernisasi.(4) demotivation,
meliputi keputusasaan, kurangnya motivasi dan dorongan(5)
favoritism, meliputi ketidak berpihakan dan diskriminasi di kalangan anak
anak.42
Flicker & Hoffman menyebutkan beberapa faktor yang
menyebabkan anak berperilaku mengganggu yang meliputi faktor
emosional yang mencakup di dalamnya kepribadian temperamental,
kemarahan, penentangan, ketegasan, frustrasi, kecemasan, ketakutan,
kebosanan, overstimulasi, kebutuhan akan perhatian, kecemburuan, dan
rendah diri. Faktor fisiologis yang mencakup di dalamnya gizi buruk,
kelaparan, kelelahan, penyakit, dan alergi. Kedua faktor tersebut dapat
42
Rehman, M.H & Sadruddin,M.M, Study on the causes of misbehaviour among
South East Asian children. International Journal of Humanities and social science 2016 (2)4. 162-
175
37
disimpulkan sebagai faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam diri
individu.43
Menurut Todras perilakun mengganggu di kelas bisa disebabkan
dari faktor eksternal yaitu kondisi di rumah, masyarakat, dan sekolah.
Pengalaman anak di rumah secara signifikan dapat mempengaruhi
perilaku mereka di sekolah, khususnya bagi korban perceraian,
kemiskinan, kurangnya keterlibatan orang tua, kurangnya pengawasan,
kurangnya perhatian dan dorongan, penelantaran orangtua, kontrol
berlebihan dan hukuman fisik dapat berakibat buruk terhadap individu
atau kemampuannya untuk tampil di sekolah.
Orangtua seringkali mengabaikan tingkah laku anak ketika
mereka berperilaku baik dan tidak mengganggu. Akan tetapi,
perhatian orangtua hanya diberikan ketika anak melakukan kenakalan.
Perilaku orangtua yang demikian akan mendorong anak untuk
berperilaku tidak baik di sekolah karena anak mengganggap bahwa
satu-satunya cara mereka mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan
adalah dengan melakukan kenakalan.44
3. Cara mengatasi perilaku negatif siswa
Perilaku mengganggu di kelas dapat diatasi dengan beberapa cara.
Zimmerman mengemukakan 3 pendekatan dalam mengatasi perilaku
43
S. Flicker, Eillen., and Hoffman, J. Andron, Guiding Children’s Behavior, (New
York and London: Teacher College Press, 2006), Hal 12.
44
Pia Todras, Teachers Perspective of Disruptive Behavior in the Classroom.
Dessertation. Faculty of the Chicago School of Professional Psychology, 2007, Hal 10-11
38
mengganggu di kelas, yaitu melalui pendekatan behavioristik, kognitif,
dan humanistik.45
a. Pendekatan Behavioristik
1) Penguatan (Reinforcement)
Reinforcement (penguatan) adalah prosedur untuk
mempertahankan atau meningkatkan perilaku. Penguatan positif
adalah pemberian stimulus respon, dan berfungsi untuk
meningkatkan atau mempertahankan respon yang diharapkan.
Seorang guru akan memberikan penghargaan pada siswa yang
menunjukkan perilaku yang diharapkan agar kemudian siswa lain
mengulangi perilaku tersebut atau melakukan perilaku yang serupa
dengan perilaku yang diharapkan. Uang, kasih sayang, restu,
senyuman, dan perhatian adalah contoh yang umum dari
penguatan positif . Sedangkan Penguatan negatif adalah stimulus
yang diberikan untuk menghilangkan suatu respon.
2) Hukuman (Punishment)
Pemberian hukuman bertujuan untuk
menurunkankemungkinan terulangnya perilaku yang tidak
diinginkan. Hukuman dari sekolah, skorsing, dan dimarahi guru adalah
contoh hukuman di sekolah.46
45
Zimmerman, The Nature and Consequences of the Classroom Disruption.
Dissertation. State University of New York, 1995 Hal.11
46
Ibid,. Hal 13.
39
3) Kontrak Perilaku (Behaviorcontract)
Kontrak perilaku didefinisikan sebagai persetujuan
resmiantara klien dengan individu yang mempengaruhi perilaku
klientersebut. Individu yang dimaksud meliputi guru,
konselor,orangtua, pekerja sosial, dan teman sebaya klien.
Hackney dalam Zimmerman menyebutkan beberapa tujuan dari
kontrak perilaku, yaitu untuk mendapatkan komitmen untuk
mengubah perilaku dan untuk mendapatkan persetujuan mengenai
47
perubahan perilaku yang dihasilkan.
4) Peragaan (Modeling)
Penanganan lain yang dapat digunakan untuk
meredakanperilaku mengganggu di kelas adalah dengan
menggunakan modeling (peragaan). Peragaan perilaku didasarkan pada
konsep bahwa banyak perilaku dapat dipelajari dengan efektif
modeling (peragaan) atau meniru. Bandura dalam Zimmerman
mengemukakan agar modeling (peragaan) dapat berhasil, maka model
yang digunakan sebaiknya teman sebaya atau orang dewasa yang
mendatangkan perilaku yang diinginkan.48
b. Pendekatan Kognitif
Banyak aplikasi dari pendekatan kognitif yang berhubungan
dengan perilaku mengganggu. Misalnya saja seseorang guru
menceritakan pengalamannya tentang perilaku mengganggu pada
48
Ibid,. hal 13-14
40
siswa. dengan bercerita pada siswa, secara tidak langsung alam
pikiran siswa akan memproses, menggambarkan dan belajar apa yang
telah diceritakan. tujuan dari pendekatan kognitif sendiri adalah
membantu siswa belajar membangun sebuah cara-cara belajar, melatih
siswa untuk mengenal apa yang harus mereka pelajari, serta
meningkatkan frekuensi dan kualitas pembelajaran.
c. Pendekatan Humanistik
Bagi pendidik yang menerapkan pendekatan humanistik, seorang
siswa mengganggu adalah sebuah indikasi bahwa siswa tersebut tidak
senang atau mengalami pertentangan. Guru seharusnya memperlakukan
siswa tersebut dengan empati. Cara ini dapat mendorong siswa agar mau
berbicara dan berbagi tentang perasaannya. Dengan ditemukannya
pemecahan masalah siswa, perilaku mengganggu tidak akan
ditunjukkan lagi.49
E. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Proses pembelajaran yang paling penting adalah hasil belajar
peserta didik, karena dari hasil belajar dapat diketahui tentang
pencapain seorang peserta didik terhadap materi yang di ajarkan. Hasil
belajar berasal dari kata hasil dan belajar. Hasil (product) adalah
suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang
mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Sedangkan belajar
49
Ibid,. hal 14
41
adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif
menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan
yang melibatkan proses kognitif. Perubahan tingkah laku dalam hal
ini tingkah laku yang diakibatkan oleh proses kematangan fisik, lelah,
danjenuh tidak dipandang sebagai proses belajar. Di sini, hasil belajar
merupakan realisasi potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang.50
Menurut Dalyono hasil belajar adalah suatu yang diperoleh dalam
usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dalam
pembelajaran. Setelahnya, maka akan didapat penilaian atau hasil dari
proses pendidikan. Hasil belajar dapat diartikan sejauh mana daya
serap atau kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran yang
disampaikan guru di kelas.51
Menurut Dimyati dan Mudjiono yaitu hasil belajar merupakan
suatu puncak proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat
evaluasi pendidik. Hasil belajar dapat berupa dampak pengajaran dan
pengiring.52
Menurut Sudjana, mendefinisikan hasil belajar peserta didik pada
hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar, dalam
50
Kementerian Agama RI, Keberhasilan Pendidikan Agama Islam Di Madrasah Aliyah,
(Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, 2015), hal. 33
51
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 55
52
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta. Rineka Cipta, 2015), hal
20
42
pengertian yang lebih luas mencangkup bidang kognitif, afektif, dan
psikomotorik.53
Dari pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa hasil belajar adalah
perubahan tingkah laku yang mencangkup kognitif, afektif dan
psikomotorik setelah pembelajaran.
2. Macam-macam ranah hasil belajar
Sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik
tujuan ekstrakulikuler maupun instruksional, menggunakan klasifikasi
hasil belajar dari Bloom yang dibagi menjadi 3 macam: 54
a. Ranah kognitif
Ranah kognitif ini berkenaan dengan hasil belajar secara
intelektual yang terdiri atas enam aspek, yaitu:
1) Aspek pengetahuan
Istilah pengetahuan dimaksudkan sebagai terjemahan
knowledge dalam taksonomi Bloom. Walaupun memiliki arti
demikian namun maknanya tidak sepenuhnya hanya
pengetahuan saja melainkan juga mencakup pengetahuan
faktual disamping pengetahuan hafalan untuk diingat seperti
rumus, batasan, definisi, istilah, pasal dalam undang-undang
dan masih banyak lagi. Dilihat dari segi proses belajar mengajar,
istilah atauhal-hal tersebut memang perlu dihafal agar dapat
53
Nana Sudjana,Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung : PT Remaja
Rosdakarya, 2009), Hal 3
54
Ibid,. hal. 23-31
43
dijadikan dasar pengetahuan atau pemahaman konsep-konsep
lainnya.
2) Aspek pemahaman
Aspek yang lebih tinggi dari pengetahuan yaitu
pemahaman. Contohnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya
sendiri sesuai yang dibaca ataupun didengaenya, memberi contoh
lain dar apa yang sudah dipelajari, ataupun menggunakan
petunjuk penerapan pada kasus lain. Dalam taksonomi Bloom,
kesanggupan memahami setingkat lebih tinggi dari pada
pengetahuan.
3) Aspek aplikasi
Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi konkret
atau situasi khusus. Abstraksi tersbut bisa berupa ide, teori,
atau petunjuk teknis. Menerapkan abstraksi kedalam situasi baru
atau suatu tindakan baru itu dinamakan aplikasi. Akan tetapi
jan mengulang-ulang dalam menerapkannya maa akan berubah
menjadi ranah keterampilan / psikomotorik. Suatu situasi dapat
akan tetap dilihat menjadi ssuatu baru apabila terjadi pemecahan
masalah didalamnya. Kecuali itu, ada satu unsur lagi yang
perlu masuk, yaitu abstraksi tersebut perlu berupa prinsip atau
generalisasi, yakni sesuatu yang umum sifatnya untuk
diterapkan pada situasi khusus.
44
4) Aspek analisis
Analisis adalah suatu usaha memilah suatu integritas
menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas
hierarkinya dan susunannya. Analisis merupakan kecakapan
yang kompleks, yang memanfaatkan kecakapan dari ketiga
aspek sebelumnya. Dengan analisis diharapkan seseorang
mempunyai pemahaman yang komprehensif dan dapat memilah
integritas menjadi bagian-bagian yang tetap terpadu, untuk
beberapa hal memahami prosesnya, untuk hal lainnya
memahami prosesnya, dan untuk hal lain memahami
sistematikanya.
5) Aspek sintesis
Sistesis adalah pernyataan suatu unsur kedalam sebuah
bentuk yang menyeluruh. Dalam sintesis ini berpikir
berdasarkan hafal an, berpikir pemahaman, berpikir aplikasi,
dan berpikir analisis dapat dipandang sebagai berpikir
konvergen yang satu tingkat lebih rendah dibawah berpikir
devergen. Dalam berpikir konvergen, pemecahan masalah sudah
diketahui berdasarkan yang sudah diketahuinya.
6) Aspek evaluasi
Evaluasi adalah pemberian hasil tentang nilai sesuatu yang
bisa dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan,
metode, materil dll. Dilihat dari beberapa segi tadi dalam proses
45
pemberian nilai harus ada beberapa kriteria tertentu. Sedangkan
dalam proses belajar mengajar aspek evaluasi ini untuk mengukur
kemampuan siswa dalam menguasai mata pelajaran yang telah
dipelajari.
b. Ranah afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkenaan dengan sikap dan
nilai. Sikap seseorang dapat berubah atau diubah sesuai dengan
tingkat penguasaan kognitif yang tinggi. Hasil belajar dalam ranah
afektif ini tidak terlalu dihiraukan oleh para guru walaupun ada
beberapa mata pelajaran memuat materi afektif ini.
Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar,
dari mulai yang tingkat rendah sampai tinngi, yaitu:
1) Receiving atau attending, yakni semacam kepekaan dalam
menerima rangsang dari luar yang datang kepada siswa dalam
bentuk masalah, gejala dll. Dalam ranah ini termasuk kesadaran,
keinginan untuk menerima stimulus, kontrol, dan seleksi
rangsangan dari luar.
2) Responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan oleh
seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar.
3) Valuing atau penilaian adalah pemberian nilai terhadap stimulus
yang diterimanya apakah itu baik ataupun buruk.
4) Organisasi adalah pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem
organisasi ataupun dari nilai satu ke nilai yang lainnya.
46
5) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yaitu keterpaduan
semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang.
c. Ranah psikomotor
Ranah psikomotor adalah penilaian terhada ketrampilan yang
telah dilampaui oleh siswa. Ada enam tingkatan ketrampilan, yaitu:
1) Gerakan refleks (gerakan tanpa sadar)
2) Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar
3) Kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan
visual, membedakan auditif, motoris, dan lain-lain
4) Kemampuan bidang fisik, misalnya: kekuatan, ketepatan,
ketangkasan
5) Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai
keterampilan yang kompleks
6) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi gerakan
ekspresif dan interpretatif.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Suatu proses dikatakan berhasil apabila tidak ada kendala
selama pelaksanaannya. Begitu juga proses belajar keberhasilan dan
kegagalan dipengaruhi beberapa faktor diantaranya:55
a. Faktor Internal Siswa. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa
sendiri meliputi dua aspek yakni: 1) aspek fisiologis (yang
bersifat jasmaniah) seperti tingkat kesehatan indera pendengar
55
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Rosda
Karya, 2010) hal. 130-131
47
dan penglihatan. 2) aspek psikologis (yang bersifat rohaniah)
seperti tingkat kecerdasan siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat
siswa, dan motivasi siswa.
b. Faktor Eksternal Siswa. Seperti faktor internal siswa, faktor
eksternal siswa juga terdiri atas dua macam, yakni: a) faktor
lingkungan sosial seperti para guru, para tenaga kependidikan
(kepala sekolah dan wakil-wakilnya) dan teman-teman sekelas
dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. b) faktor
lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah
tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat -alat belajar,
keadaan cuaca dan waktu yang digunakan siswa untuk belajar.
Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat
keberhasilan siswa.
Jadi dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi
hasil belajar peserta didik adalah faktor internal dan eksternal, semua
faktor tersebut saling berkaitan dan mengaruhi tinggi rendahnya
keberhasilan belajar peserta didik.
B. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini dilaksanakan didasarkan pada penelitiani terdahulu yang
relevan. Adapun penelitian yang digunakan yaitu:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Dzikria Khusnatul Asror yang berjudul
Pengaruh Media Benda Asli Terhadap Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa
Kelas III MI Roudlotul Ulum Jabalsari Sumbergempol Tulungagung tahun
48
2018. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan
prestasi belajar dengan pemanfaatan media benda kongkrit pada
pembelajaran Matematika. Jenis penelitian yang digunakan adalah
penelitian kuantitatif dan pengumpulan data dilakukan dengan
observasi, angket dan tes. Hasil penelitian dengan menggunakan media
benda kongkret menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan
media benda asli terhadap motivasi dan hasil belajar siswa. Hal ini
ditunjukkan dengan nilai rata-rata hasil motivasi siswa kelas
eksperimen sebesar 119, 55, sedangkan pada kelas kontrol sebesar
118,95. Hasil uji statistik diperoleh F hitung sebesar 0,083 dengan
signifikansi 0,007. Sedangkan rata-rata hasil belajar kelas eksperimen
sebesar 79, 05, sedangkan pada kelas kontrol sebesar 71,50. Hasil uji
statistik diperoleh F hitung sebesar 7,383 dengan signifikansi 0,010.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Putri Anditasari yang berjudul
Penggunaan Media Konkret Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada
Tema Hiburan Siswa Kelas 2 SD Nurul Islam Mojokerto tahun 2014.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak penggunaan media
konkret terhadap hasil belajar mata pelajaran matematika dan IPA pada
tema hiburan. Metodologi yang digunakan dalam penelitian adalah PTK
(Penelitian Tindakan Kelas). Pengumpulan data menggunakan metode
observasi dan tes hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa hasil aktivitas guru mengalami peningkatan sebesar 13,5%. Pada
siklus I memperoleh 74% dan pada siklus II meningkat menjadi 87,5%.
49
Aktivitas siswa juga mengalami peningkatan sebesar 14,6% dari 65,67%
pada siklus I menjadi 80,3% pada siklus II. Selanjutnya ketuntasan hasil
belajar matematika siswa yang mengalami peningkatan sebesar 35%
yaitu dari siklus I sebesar 50% menjadi 85% pada siklus II.
Sedangkan mata pelajaran IPA meningkat sebesar 25%, dari 60%
menjadi 85%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan memanfaatkan
media benda konkret dapat meningkatkan hasil belajar tema hiburan
pada siswa kelas II SD Nurul Islam Mojokerto.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Desy Putriarma Istiana yang berjudul
Peningkatan Kemampuan Membilang Banyak Benda Mata Pelajaran
Matematika Materi Penjumlahan Dan Pengurangan Melalui Media Benda
Konkret Siswa Kelas 1 MI Bahrul Ulum Ds. Bulu Kec. Semen Kab.
Kediri tahun 2017. Tujuan penelitian ini yaitu mpeningkatan
kemampuan membilang banyak benda melalui media benda konkret
pada mata pelajaran matematika materi penjumlahan dan pengurangan
siswa kelas 1 MI Bahrul Ulum Kediri. Metode penelitian ini merupakan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kurt Lewin yang terdiri
dari dua siklus dengan empat tahapan, yaitu Perencanan, Pelaksanaan,
Observasi, dan Refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan
adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian
menunjukkan. Peningkatan kemampuan membilang banyak benda
melalui media benda konkret meningkat dengan sangat baik. Hal ini
terbukti pada pra siklus ketuntasan belajar siswa mencapai 30%
50
dengan kategori tidak baik dan rata- rata mencapai 61,75. Pada siklus
I mengalami peningkatan mencapai 60% dengan kategori cukup baik
dan rata-rata mencapai 71,25. Terjadi peningkatan lagi pada siklus II
ketuntasan belajar siswa mencapai 90% dengan kategori sangat baik dan
rata-rata kelas mencapai 86,25
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Judul Dan Nama Peneliti Kesamaan Perbedaan
1. Pengaruh Media Benda Asli - Menggunakan - Meneliti
Terhadap Motivasi Dan Hasil media benda motivasi belajar
Belajar Siswa Kelas III MI kongkret - Mata pelajaran
Roudlotul Ulum Jabalsari - Meneliti hasil matematika.
Sumbergempol Tulungagung belajar - Variabelnya
tahun 2018/ 2019. Oleh Dziria - Jenis penelitian tidak ada
Khusnatul Asror. kuantitatif perilaku negatif
2. Penggunaan Media Konkret - Menggunakan - Variabelnya
Untuk Meningkatkan Hasil media benda tidak ada
Belajar Pada Tema Hiburan kongkret perilaku negatif
- Meneliti hasil
Siswa Kelas 2 SD Nurul Islam belajar
Mojokerto tahun 2014. Oleh - Mata pelajaran
Putri Anditasari. tematik
- Jenis penelitian
kuantitatif
3. Peningkatan Kemampuan - Menggunakan - Variabelnya
Membilang Banyak Benda media benda tidak ada
Mata Pelajaran Matematika kongkret perilaku negatif
Materi Penjumlahan Dan - Jenis penelitian - Mata pelajaran
Pengurangan Melalui Media kuantitatif Matematika
Benda Konkret Siswa Kelas 1
Mi Bahrul Ulum Ds. Bulu Kec.
Semen Kab. Kediri tahun
2017. Oleh Desy Putriarma
Istiana
51
C. Kerangka Berfikir
Siswa Sekolah Dasar (SD) umurnya berkisar antara 6 atau 7 tahun
sampai 12 atau 13 tahun. Menurut Piaget, mereka berada pada fase
operasional konkret. Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah
kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah
logika, meskipun masih terikat dengan obyek konkret yang dapat
ditangkap oleh panca indera.56
Dalam suatu proses belajar mengajar, ada unsur yang sangat penting
yaitu media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan segala sesuatu
yang dapat menyalurkan pesan dari materi pembelajaran secara
terencana,sehingga terjadi lingkungan belajar yang kondusif dimana
penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.
Selama ini guru hanya menggunakan model pembelajaran
konvesional dan tidak menggunakan media pembelajaran. Sehingga peserta
didik banyak melakukan perilaku negatif sehingga cenderung siswa tidak
memperhatikan guru menjelaskan materi. Perilaku negatif siswa tersebut pada
akhirnya juga mempengaruhi hasil belajar siswa. Inovasi media
pembelajaran sangat diperlukan untuk mengubah perilaku negatif siswa
sehingga hasil belajarnya meningkat.
Salah satu media yang dapat memberikan motivasi siswa yaitu
menggunakan media benda kongkret. Dengan menggunakan media benda
kongkret atau benda yang sebenarnya, siswa dapat memperoleh
56
Paul Suparno, Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget, (Yogyakarta: IKAPI, 2001),
hal. 70
52
pengalaman nyata sehingga dapat menarik minat dan semangat belajar
siswa sehingga dapat mengurangi perilaku negatif dalam kelas.
Jadi apabila dalam pembelajaran tidak adanya media maka tentunya
sikap peserta didik dalam kelas juga akan bermasalah karena peserta didik
kurang tertarik dalam pembelajaran. Akibatnya, akan ada perilaku negatif
peserta didik dalam kelas seperti mengganggu teman, ramai saat pembelajaran,
tidak memperhatikan guru dan jalan-jalan saat pembelajaran. Hal tersebut juga
mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Sehingga disini peneliti
menggunakan media benda kongkrit dalam pembelajaran tematik untuk
mengurangi perilaku negatif peserta didik dan meningkatkan hasil belajar
seperti yang di gambarkan pada bagan berikut ini.
Bagan 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian
Siswa
Pembelajaran Tematik
Media benda Konkret
Perilaku positif Hasil Belajar meningkat