Kajian Pustaka Variabel Random dan Risiko
Kajian Pustaka Variabel Random dan Risiko
KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini dibahas mengenai materi dasar yang digunakan untuk bab
distribusi kerugian, value at risk, ukuran risiko koheren dan package Rglpk pada
software R Studio.
A. Variabel Random
Definisi 2.1 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 53). Variabel random X adalah suatu
fungsi yang terdapat pada ruang sampel S, yang menghubungkan setiap anggota
pada ruang sampel S dengan suatu bilangan real. Variabel random X dapat
dinyatakan dengan
( ) , dengan .
Variabel random dinotasikan dengan huruf kapital misalnya .
Sedangkan untuk nilai yang mungkin dari setiap hasil observasi pada ruang
sampel dinotasikan dengan huruf kecil misalnya dan .
Contoh 2.1.
Tiga mobil dipilih secara acak dan setiap kategori memiliki mesin disel (D) atau
tidak memiliki mesin disel (F). jika X (variabel random) = jumlah mobil dengan
7
2. Distribusi Probabilitas
Definisi 2.2 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 56). Suatu variabel random X
dikatakan variabel random diskrit jika himpunan nilai yang mungkin muncul dari
X merupakan himpunan terhitung. Jika X merupakan variabel random diskrit,
fungsi peluang variabel random diskrit didefiniskan sebagai berukut:
( ) , -
Misal X suatu variabel random diskrit memiliki fungsi densitas probabilitas (fdp)
1. ( ) (2.1)
2. ∑ ( ) (2.2)
3. ( ) , - (2.3)
1. ( ) (2.4)
2. ∫ ( ) (2.5)
3. , - ∫ ( ) (2.6)
suatu variabel random bernilai real. Misal, X merupakan suatu variabel random,
( ) ( )
8
( ) menyatakan suatu probabilitas variabel random X yang kurang dari
( ) ( ) ∑ ( )
( ) ( ) ∫ ( )
( ) ( )
( ) ( ).
d. ( )
e. ( )
9
3. Distribusi Bersama
Definisi 2.3 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 137). Fungsi densitas probabilitas
bersama dari suatu variabel random X diskrit berdimensi dengan
( ) didefinisikan sebagai:
( ) , -
Definisi 2.4 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 144). Suatu variabel random X
berdimensi , ( ) dikatakan kontinu jika fungsi densitas
probabilitas sama dengan ( ) ( ), sehingga fungsi distribusi
kumulatif X bersamanya dapat didefinisikan sebagai berikut:
( ) ∫ ∫ ( )
untuk setiap ( ).
( ) ( )
Contoh 2.2.
Misal adalah unsur pada percobaan pertama, adalah unsur pada percobaan
( ) ∫ ∫ ( )
∫ ∫
10
4. Nilai Harapan
Definisi 2.5 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 61). Jika X adalah variabel random
diskrit dengan fungsi densitas probabilitas ( ), maka nilai harapan dari X
didefinisikan sebagai:
( ) ∑ ( )
Definisi 2.6 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 67). Jika variabel random X kontinu
dengan fungsi densitas probabilitas ( ), maka nilai harapan dari X
didefinisikan sebagai:
( ) ∫ ( )
1. ( ) ( ) ( )
Contoh 2.3.
Penyelesaian:
∫ ( ) sehingga ∫ 0 1
( ) ∫ ( )
∫ ∫ 0 1
11
5. Ekspektasi Bersyarat
sebagai berikut.
( | ) ∑ ( )
∫ ( )
∑[ ]
( )
∑ ( )
∑[ ]
{ ( )
Keterangan:
Contoh 2.4.
Penyelesaian:
∑ ( ) ∑ ( )
( | )
( ) ∑ ( )
( ) ( ) ( ) ( )
( )
12
6. Persentil
Definisi 2.7 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 68). Jika maka
persentil pada distribusi variabel random kontinu X merupakan penyelesaian
untuk persamaan:
( )
( )
Pada umumnya, suatu distribusi mungkin tidak kontinu, dan jika distribusi
tersebut diskontinu, maka akan terdapat beberapa nilai p sedemikian sehingga
persamaan ( ) tidak memiliki penyelesaian.
berikut:
( ) ( )
Definisi 2.8 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 73). Varians dari variabel random X
didefinisikan dengan
( ) ,( ) -
Notasi varians yang lain yaitu ( ) standar deviasi dari X
didefinisikan sebagai akar positif dari varians yaitu √ ( ).
Teorema 2.1 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 74). Jika X adalah variabel random
maka
( ) ( )
Bukti:
( ) ,( ) -
( )
( ) ( )
( ) ( )
13
( )
Teorema 2.2 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 74). Jika X adalah variabel random,
dan merupakan konstanta, maka
( ) ( )
Bukti:
( ) ,( ) -
,( ) -
, ( ) -
,( ) -
( )
Definisi 2.9 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 174). Kovarians dari pasangan
variabel random X dan Y didefinisikan sebagai
( ) ,( )( )-
( ) ,( )( )-
∑ ∑( )( ) ( )
( ) ,( )( )-
∫ ∫( )( ) ( )
1. ( ) ( )
14
2. ( ) ( )
3. ( ) ( )
C. Distribusi Normal
Definisi 2.10 (Bain & Engelhardt, 1992, hal. 118). Variabel random X dikatakan
berdistribusi normal dengan mean dan varians 2 jika mempunyai fungsi
densitas probabilitas yaitu:
0 1
( )
√
2. Uji Kolmogorov-Smirnov
bantuan software SPSS 20. Konsep dasar yang digunakan dari Uji Kolmogorov-
a. Hipotesis
b. Tingkat Signifikansi
c. Statistik Uji
15
Kolmogorov-Smirnov | ( ) ( )|
dengan:
d. Kriteria Keputusan
H0 ditolak jika
e. Perhitungan
f. Kesimpulan
Contoh 2.5.
orang. Fotografer memroses sedemikian rupa sehingga dari setiap subyek yang
yang paling gelap hingga paling terang. Foto yang warna kulitnya paling gelap
diminta memilih diantara kelima foto mereka sendiri. Jika gelap-terangnya warna
wajah mereka tidak penting, maka kelima lembar foto itu akan dipilih sama
seringnya. Jika gelap-terangnya penting bagi mereka, maka orang-orang itu secara
konsisten akan lebih menyukai salah satu dari tingkatan gelap-terangnya foto.
Data prefensi warna kulit orang Negro Amerika dituliskan pada Tabel 1.1 berikut.
16
Tabel 1. 1 Preferensi Warna Kulit 10 Orang Negro
Dari data diatas diketahui D untuk data ini adalah atau dengan
D. Analisis Multivariat
menganalisis hubungan antara lebih dari dua variabel secara bersamaan. Data
matriks dengan n objek dalam p variabel sebagai berikut (Johnson & Wichern,
17
Variabel 1 Variabel 2 Variabel k Variabel p
Objek 1
Objek 2
Objek j
Objek n
atau dapat ditulis dalam bentuk matriks X dengan n baris dalam p kolom
[ ]
[ ] [ ]
[ ]
( ) ( )
( )
( ) | |
dengan
18
2. Vektor Random dan Matriks Random
random. Jika suatu unit eksperimen hanya memiliki satu variabel terukur maka
variabel tersebut merupakan variabel random, sedangkan jika terdapat lebih dari
yang mempunyai elemen variabel random (Johnson & Wichern, 2007, hal. 66).
( )
( )
( ) [ ] [ ]
( )
( )( )
([ ]( ))
( ) ( )( ) ( )( )
( )( ) ( ) ( )( )
[( )( ) ( )( ) ( ) ]
19
( ) ( )( ) ( )( )
( )( ) ( ) ( )( )
[ ( )( ) ( )( ) ( ) ]
dengan
dengan ̂ ̂
E. Turunan Parsial
Definisi 2.11 (Purcell & Varberg, 2001, hal. 197). Jika ( ) terdefinisi
dalam domain D dibidang XY, sedangkan turunan pertama f terdapat x dan y
disetiap titik (x,y) ada maka:
turunan pertama f di x (selain x dianggap konstanta) adalah
( ) ( )
( ) ( )
( )
( )
20
F. Integral Riemann
Definisi 2.12 (Purcell & Varberg, 2001, hal. 338). Diketahui fungsi f(x) pada
selang tertutup , - sebanyak n partisi dengan adalah lebar
partisi, ̅̅̅ Sehingga integral f(x) untuk , -
didefinisikan sebagai limit jumlah Riemann yaitu:
∫ ( ) ∑ (̅̅̅) ∑ (̅̅̅)
selang , - Integral ini disebut dengan Integral Riemann atau Integral Tentu.
G. Metode Simpleks
metode simpleks. Bentuk dasar yang digunakan yaitu pemograman linear yang
21
dengan kendala : ( )
dengan ( ) , -
[ ] [ ]
dengan .
persamaan “=” dengan cara menambahkan slack variable pada ruas kiri
penyelesaian yang bertahap, mulai dari satu titik ekstrim lalu kemudian ke titik
menggunakan tabel yang disebut dengan tabel simpleks yang ditunjukkan sebagai
berikut:
22
Tabel 2. 1 Tabel Simpleks
Cj C1 C2 ... Cn
̅ ̅ ...
̅ ̅ ...
̅ ̅ ....
̅ ̅ ...
... Z
... Z
keterangan:
dari solusi nilai kanan ( ) jika solusi bernilai positif maka tabel layak dan
23
jika ada nilai solusi yang negatif maka tabel tidak layak sehingga tidak
bisa diteruskan.
3. Memilih baris kunci dengan nilai terkecil dari selisih nilai solusi dan
kunci.
6. Mengubah nilai selain nilai pada baris kunci dengan cara mengurangkan
nilai kolom kunci baris yang bersangkutan dikali baris kunci baru dalam satu
kolom terhadap baris lamanya yang terletak dalam satu kolom juga.
7. Lihat tabel sudah optimum atau belum. Tabel dengan fungsi tujuan
belum optimal maka langkah 2-7 dapat diulangi kembali hingga tabel
optimum.
Contoh 2.7.
Memaksimumkan
24
,
Penyelesaian:
dan memaksimumkan
Cj 9 2 5 0 0 0
̅ ̅ x1 x2 x3 s1 s2 s3 bi Ri
0 s1 2 3 -5 1 0 0 12 6
0 s2 2 -1 3 0 1 0 3 3/2
0 s3 3 1 -2 0 0 1 2 2/3
Zj 0 0 0 0 0 0 0
Zj-Cj -9 -2 -5 0 0 0
Cj 9 2 5 0 0 0
̅ ̅ x1 x2 x3 s1 s2 s3 bi Ri
0 s1 0 7/3 -11/3 1 0 -2/3 32/3 -
0 s2 0 -5/3 13/3 0 1 -2/3 5/3 15/3
9 x1 1 1/3 -2/3 0 0 1/3 2/3 -
Zj 9 3 -6 0 0 3 6
Zj-Cj 0 1 11 0 0 3 6
Cj 9 2 5 0 0 0
̅ ̅ x1 x2 x3 s1 s2 s3 bi Ri
0 s1 0 12/13 0 1 11/13 -16/13 157/13 157/12
5 x3 0 -5/13 1 0 3/13 -2/13 5/13 -
9 x1 1 1/13 0 0 2/13 2/13 12/13 12
Zj 9 -16/13 5 0 33/13 17/13 133/13
Zj-Cj 0 -42/13 0 0 33/13 17/13 133/13
25
Cj 9 2 5 0 0 0
̅ ̅ x1 x2 x3 s1 s2 s3 bi Ri
0 s1 -12 0 0 1 -1 -4 1
5 x3 5 0 1 0 1 1 5
2 x2 13 1 0 0 2 3 12
Zj 51 2 5 0 9 11 49
Zj-Cj 42 0 0 0 9 11 49
H. Investasi
yang dilakukukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan
di masa datang (Eduardus Tandelilin, 2001, hal. 3). Investasi berkaitan dengan
berbagai macam aktivitas seperti menginvestasikan sejumlah dana pada aset riil
(tanah, emas, mesin atau bangunan), maupun aset finansial (deposito, saham
hubungan antara return yang diharapkan dan risiko suatu investasi. Hubungan
risiko dan return yang diharapkan dari suatu investasi merupakan hubungan yang
searah dan linear. Artinya, semakin besar risiko yang harus ditanggung, semakin
besar pula return yang diharapkan (Eduardus Tandelilin, 2001, hal. 5).
26
Tahap pertama dalam proses keputusan investasi adalah menentukan
keputusan tersebut.
yang dimiliki pada berbagai kelas aset yang tersedia (saham, obligasi,
Strategi portofolio yang bisa dipilih yaitu strategi portofolio aktif dan
yang lebih baik. Strategi portofolio pasif meliputi aktivitas investasi pada
4) Pemilihan aset
27
I. Portofolio
suatu unit yang dipegang atau dibuat oleh seorang investor, perusahaan investasi,
1. Return Portofolio
Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa
Realized return merupakan return yang telah terjadi yang dihitung menggunakan
data historis. Sedangkan, expected return adalah return yang diharapkan akan
263).
∑ (2.7)
dimana :
28
Return suatu sekuritas dihitung menggunakan rumus
(2.8)
dimana :
̅ ̅ ̅̅̅̅̅̅
( )
̅̅̅̅̅̅ ̅̅̅̅̅̅
( ) ∑ ( ) (2.10)
dimana :
= banyaknya sekurita.
Nilai expected return pada Persamaan 2.10 secara matematis dapat dibentuk
( ) ( ) ( ) ( )
29
( )
( )
, -[ ] ( ) (2.11)
( )
dimana:
2. Risiko Portofolio
Hartono, 2014(b), hal. 314). Jika semakin besar nilai varians, maka risiko yang
diperlukan minimal dua sekuritas. Varians dengan dua sekuritas adalah sebagai
( )
, ( )-
,( ) ( )-
,( ) ( ) ( )-
,( ) ( ) ( )-
[ ( ( )) ( ( ))]
0 ( ( )) ( ( ))( ( ))
( ( ))1
30
.( ( )) / .( ( ))(
( ))/ ( ( ))
, - ,
∑ ∑ ∑ (2.12)
, -[ ][ ] ∑ (2.13)
dimana:
berikut:
√ (2.14)
dimana:
√̂ ̂ (2.15)
dimana:
31
̂ = matriks bobot sampel tiap sekuritas n x 1.
J. Saham
sehingga pemegang saham memiliki hak klaim atas dividen atau distribusi lain
Suad (2005), “Saham merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal
(pihak yang memiliki kertas tersebut) untuk memperoleh bagian dari prospek atau
salah satu di antara beberapa alternatif yang dapat dipilih untuk berinvestasi.
Jakarta Islamic Index (JII) merupakan salah satu indeks saham yang ada di
Indonesia yang menghitung indeks harga rata-rata saham untuk setiap sekuritas
Pembentukan JII tidak lepas dari kerja sama antara Pasar Modal Indonesia
DIM). JII dikembangkan sejak tanggal 3 Juli 2000 yang bertujuan untuk
syariah di bursa efek. JII menjadi tolak ukur kinerja (benchmark) dalam memilih
32
K. Capital Assets Pricing Model
terpisah oleh Sharpe (1964), Lintner (1965) dan Mossin pada tahun 1969.
pertimbangan antara nilai expected return dan devisiasi standar return dari
portofolionya.
3. Semua investor memiliki harapan yang sama terhadap expected return dan
jumlah yang tidak terbatas pada tingkat suku bunga bebas risiko.
Jika semua asumsi tersebut dipenuhi, maka akan terbentuk kondisi pasar
33
𝜎𝑀 𝜎𝑝
Slope dalam garis pasar modal disimbolkan merupakan harga pasar dari
E RM r f
.
M (2.16)
sekuritas bebas risiko (Jogiyanto Hartono, 2014(b)). Garis pasar modal terbentuk
Expected return sekuritas bebas risiko didekati dengan tingkat return suku bunga
bank sentral, di Indonesia umumnya diambil dari tingkat return suku bunga bank
E RM r f
E R p r f p.
M (2.17)
34
keterangan:
i ,M
ke-i yaitu pada Persamaan (2.14) dan diperoleh:
M
E RM r f i , M
E ri r f .
M M
E R M r f
rf . i , M
M2
r f i E R M r f (2.18)
i,M covRi , RM
dengan i sebagai pengukur tingkat risiko dari suatu
M2 varRM
sekuritas terhadap risiko pasar dan E ri sebagai expected return CAPM masing-
masing sekuritas. Expected return CAPM untuk suatu sampel dapat dinyatakan
E ri r f i E RM r f . (2.19)
35
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan penggambaran secara
keseluruhan keadaan harga-harga saham. Pasar dalam model ini yaitu indeks
harga saham gabungan (IHSG) disebut juga Jakarta Composite Index (JCI) atau
JSX Composite yang merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunakan
L. Model Black-Litterman
dan equilibrium return yang diamati oleh pasar dengan pandangan investor yang
36
Gambar 2.3 dapat dijelaskan bahwa Black dan Litterman mengansumsikan
bahwa expected return E(r) berdistribusi normal dengan mean dan varians
yaitu E (r ) | ~ N ( ,) dan model expected return terbentuk dari dua jenis
ekuilibrium yang berasal dari CAPM dan pandangan investor. Black dan
probabilitas. Pada Gambar 2.3 E(r) merupakan informasi prior yang menyatakan
return, yang diketahui dari perkiraan yang dimiliki investor. Pada pembentukan
return ekuilibrium CAPM sebagai informasi sampel dengan informasi prior dari
Views Investor dapat berupa pandangan pasti maupun relatif (Black &
maka investor tersebut akan yakin dengan nominal return yang akan
37
akan diberikan kedua saham tersebut. Contoh: “Saya memprediksi bahwa
Contoh 2.8.
hanya pada beberapa saham yang menjadi perhatian investor. Pada contoh ini,
berikut:
( )
( )
( )
( )
( )
( )
[ ] ( ) [ ] [ ]
( )
( )
38
Matriks P adalah matriks tinjauan dari return dengan tiap baris matriks
menyatakan satu tinjauan pada suatu portofolio. Jika investor memiliki tinjauan
yang pasti maka jumlah bobot saham dalam tinjauan akan bernilai satu.
Sedangkan jika investor memiliki tinjauan yang relatif maka jumlah bobot saham
Pr( A | B) Pr(B)
Pr(B | A) . (2.20)
Pr( A)
distribusi posterior.
distribusi bersyarat.
yaitu expected return equilibrium CAPM dan views investor. Kedua informasi
39
Pr( | E (r )) Pr(E (r ))
Pr(E (r ) | ) (2.22)
Pr( )
dengan
mempunyai bentuk kendala linear dari vektor expected return ( ) dan ditulis
( ) (2.23)
masih belum pasti serta diasumsikan berdistribusi normal dengan meannya nol
( ∑) . (2. 24)
nilai sama dengan 1, He & Litterman (1999) menggunakan nilai yaitu 0,025.
Nilai tergantung dari tingkat keyakinan investor terhadap views, sehingga nilai
P E (r ) ~ N (q, ) (2.25)
40
Fungsi densitas dari data equilibrium return dengan syarat informasi prior,
diasumsikan sebagai
| E (r ) ~ N ( E (r ),) (2.26)
mean equilibrium return sama dengan mean return pasar yang dapat diperoleh
melalui CAPM. Ketika informasi prior yang dimiliki investor memiliki tingkat
views yang tidak pasti, hal ini diindikasikan dengan nilai matriks kovarians views
Bukti:
( ( )| ( ) 0 ( ( ) ) ( ( ) )1 (2.27)
√( ) ( )
41
( | ( ) ) ( ∑)
0 ( ( )) ( ∑) ( ( ))1 (2.28)
√(
atau dapat dinyatakan sesuai dengan rumus pada persamaan (2.21) yaitu:
Pr( E(r) | π ) ( | ( )) ( ( ))
( ( )| ( ) 0 ( ( ) ) ( ( )
√( ) ( )
)1 0 ( ( )) ( ∑) ( ( ))1
√( ) ( ∑)
( ( )| ) 0 ( ( )) ( ∑) ( ( )) ( ( )
) ( ( ) )1
( ( )| ) 0 1
( ( )) ( ) ( ( )) ( ( ) ) ( ( ) )
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( ( )) ( ) ( ) ( ( ))
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
42
( ) ,( ) - ( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ,( ) - ( ) ,( ) - ( )
( )
untuk,
( ) ,
( ) ,
( ) .
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
( ( ( ) ) ( ( ) )
( ( ( ) ) ( ( ) )
( ( ( ) ) ( ( ) )
( ( ) ) ( ( ) )
( ( ) ) ( ( ) )
Sehingga diperoleh:
( ( )| ) 0 ( ( ) ) ( ( ) )1
,( ) - ,( ) -
variansinya,yaitu
,( ) - .
43
Jadi ( E (r )) atau distribusi return kombinasi yang baru sebagai distribusi
( ( ) (,( ) - ,( ) - ,( ) - )
Selanjutnya,
[( ) ] [( ) ]
[( ) ] ( ) ( )[( ) ]
[ ∑ ] [ ∑ ]
[ ∑ ] [ ( ∑ ) ∑ ( )]
( ∑ ) ( ∑ ( ))
( ∑ ) ( ∑ *( ∑ )( ∑ ) +( )
( ∑ ) ( ∑ ∑ ∑ )( ∑ ) ( )
,( ∑ ) ( ∑ ∑ )- ∑ ( ∑ ) ( )
∑ ( ∑ ) ( )
( ) ∑ ( ∑ ) ( ) (2. 30)
dengan,
44
q = vektor k x 1 untuk views return yang diberikan investor.
( )
dengan ∑
dengan adalah jumlah yang diboboti dari return aset yang tergabung dalam
portofolio tersebut. Dari rumus return portofolio di atas, diperoleh fungsi kerugian
berikut:
( ) * +
densitas distribusi bersama dari return aset yang terdapat di dalam portofolio .
suatu distribusi yang dipengaruhi oleh distribusi dari Dengan demikian, untuk
berikut:
( ( ) * | ( ) ( )+
45
∫ ( )
( ) ( )
∑ ( )
{ ( ) ( )
dengan :
= return
N. Value at Risk
Value at Risk (VaR) merupakan salah satu bentuk pengukuran risiko yang
akan didapat selama periode waktu tertentu dalam kondisi pasar normal pada
tingkat konfidensi tertentu (Sarykalin, Serraino, & Uryasev, 2008). VaR memiliki
statistka. Umumnya VaR hanya digunakan untuk mengukur risiko pasar saja,
46
kerugian. VaR dapat ditentukan dari fdp nilai return r. Pada tingkat kepercayaan
( ) ∫ ( )
adalah .
∫ ( ) ( )
Walaupun VaR merupakan ukuran risiko yang cukup populer dan banyak
digunakan, namun VaR memiliki kelemahan pada sifat non-subadditive dan non-
convex , jika distribusi dari return saham-saham yang berada dalam portofolio
tidak normal atau tidak lognormal (Rockafellar & Uryasev, 2000). Sifat non-
subadditive menyebabkan VaR pada suatu portofolio dengan dua saham lebih
besar dari pada jumlah masing-masing VaR dari dua saham tersebut. Sifat non-
1. Sub-additivity
2. Positive Homogeneity
47
Untuk suatu risiko X dan konstanta 𝜆 ≥ 0, maka 𝜌(𝜆 ) =𝜆𝜌 ( ) .
3. Translation Invariance
4. Monotonicity
tersebut adalah:
keterangan:
Dir : vektor karakter dengan direction (arah) dari kendala. Tiap elemennya
Types : vektor yang menunjukkan tipe dari variabel objektif. Types dapat
berupa “B” untuk biner, “C” untuk kontinu, atau “I” untuk integer.
48