0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan35 halaman

Penerapan Model STAD untuk Hasil Belajar Matematika

Dokumen ini membahas tentang usulan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Inpres 1 Tondo melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran matematika. Dokumen ini juga menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat dari penelitian ini.

Diunggah oleh

elsadelsela 318
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan35 halaman

Penerapan Model STAD untuk Hasil Belajar Matematika

Dokumen ini membahas tentang usulan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Inpres 1 Tondo melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran matematika. Dokumen ini juga menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat dari penelitian ini.

Diunggah oleh

elsadelsela 318
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

USULAN PENELITIAN

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN


MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAM
ACHIEVEMENT DIVISION) PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA
KELAS IV SDN INPRES 1 TONDO

Oleh

NUR’AIN

A40120283

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU ENDIDIKAN

UNIVERSITAS TADULAKO

2022
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran mengenai pengetahuan dan


keterampilan yang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Pendidikan sangat
penting bagi semua orang yang bertujuan untuk mencerdaskan dan mengembangkan
potensi dalam diri. Berdasarkan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasioanal
(sisdiknas) No. 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional dinyatakan bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar dan rencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kemampuan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangasa dan negara.

Peranan pendidikan ini sangat penting dalam proses peningkatan dan daya
saing suatu bangsa dimata dunia. Indonesia harus menyelengarakan sebuah sistem
pendidikan yang berkualitas, efektif, dan menyeluruh guna mencapai tujuan
pendidikan nasional tersebut, sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia
yang juga berkualitas, berdaya saing tinggi dan sesuai dengan kebutuhan bangsa.
Pendidikan berkaitan dengan pembelajaran, Pembelajaran dapat diartikan sebagai
suatu upaya mengkondisikan siswa untuk dapat belajar secara efektif. Kegiatan
belajar efektif terlihat bahwa ada kegiatan memilih, menetapkan dan
mengembangkan metode untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam proses
pembelajaran yang dilakukan oleh oleh siswa dan guru.

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru seharusnya dapat memberikan rasa


tenang dan nyaman pada siswa, karena akan dapat memberikan daya ingat yang
berkepanjangan pada siswa. Ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh guru akan
diserap dengan baik oleh siswa apabila ilmu pengetahuan yang diterima oleh siswa
dari gurunya bukan bersifat hafalan tetapi ilmu pengetahuan tersebut melalui sebuah
proses pemahaman (suparman, 2010).

Fungsi pendidikan matematika di Sekolah Dasar lebih mengutamakan pada


pembentukan sikap kreatif, kritis dan logis serta mampu menggunakannya dalam
pemecahan masalah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran
matematika di Sekolah Dasar diperkenalkan mulai dari permasalahan kontekstual
yang dekat dengan kehidupan siswa, sehingga siswa dapat menggunakan kreativitas
dan logika berpikimya dengan bebas. Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar,
jika dikaitkan dengan karakteristik siswa lebih berorientasi pada permasalahan-
permasalahan nyata, dekat dengan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari
serta dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dengan bantuan guru

Berdasarkan hasil observasi wawancara dengan wali kelas IV SDN Inpres 1


Tondo dikatakan bahwa terdapat masalah pada siswa kelas IV, yaitu siswa masi
mengalami kesulitan dalam memahami materi pada pembelajaran matematika
sehingga mengakibatkan hasil belajar yang rendah yang akhirnya masi banyak siswa
yang kurang dalam mencapai hasil yang baik. Hal ini ditunjukan dengan banyak
siswa 20 orang tapi pada saat ulangan hanya 8 orang yang tuntas sedangkan yang lain
mempunyai ketuntasan dibawa KKM. Dapat kita ketahui bahwa matematika
merupakan mata pelajaran yang penting dalam pendidikan maka dari itu perlu
dilakukan perbaikan dalam proses mengajar yang dimana harus menciptakan suasana
menyenangkan yang bisa membuat siswa lebih aktif dalam mengikuti proses belajar
mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student
Team Achievement Division).

Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dicirikan oleh struktur tugas,


tujuan, dan penghargaan kooperatif. Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai
satu penghargaan bersama. Unsur-unsur dasar pembelajaran dengan model STAD
yaitu siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup
sepenanggungan bersama, siswa harus bertanggung jawab atas segala sesuatu dalam
kelompoknya, dan siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual
materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif (Slavin 1995).

Menurut Rusman (2011: 203-204) bahwa keunggunalan model ini yaitu


memiliki dua bentuk tanggung jawab belajar yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan
membantu sesama anggota kelompok untuk belajar. Model ini dapat mengurangi sifat
individual, bersikap tertutup terhadap teman, kurang memberi perhatian ke teman
sekelas, bergaul hanya dengan orang tertentu, ingin menang sendiri dan sebagainya.

Pembelajaran matematika sendiri selain menggunakan model pembelajaran,


tujuan lain penggunaan model pembelajaran yaitu untuk melihat hasil belajar siswa
pada mata pelajaran matematika. Kunandar (2014: 62) menyatakan bahwa hasil
belajar adalah kompetensi atau kemampuan tertentu baik kognitif, afektif maupun
psikomotorik yang dicapai atau dikuasai peserta didik setelah mengikuti proses
belajar mengajar. Selain itu, dalam STAD siswa belajar untuk bekerja sama dalam
memahami materi pelajaran sehingga dalam hal ini siswa juga belajar bagaimana
bersosialisasi dengan temannya melalui kelompok yang heterogen. Kelompok STAD,
di dalamnya siswa juga belajar bagaimana mengeluarkan pendapatnya sehingga akan
menjadikan siswa lebih percaya diri dalam belajar.

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan diatas, oleh karena itu
peneliti mencoba melakukan penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas
dengan mengangkat judul “Meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD (student team achievement divisions) pada
mata pelajaran matematika kelas IV SDN Inpres 1 tondo”.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dalam penelitian ini dirumuskan


permasalahan, yaitu: apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
(Students Team Achievement Division) dapat meningkatkan hasil belajar matematika
pada siswa kelas IV SDN Inpres 1 Tondo

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan


hasil belajar matematika siswa kelas IV melalui penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD di SDN Inpres 1Tondo

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi siswa
Dengan hasil penelitian ini diharapkan siswa akan lebih giat dan antusias lagi
dalam mempelajari matematika melalui model STAD
2. Bagi guru
Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan model pembelajaran yang
akan digunakan untk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa serta
meningkatkan kualitas pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran
3. Bagi sekolah
Diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam upaya meningkatkan
kualitas pembelajaran disekolah
4. Bagi peneliti
Dapat digunakan sebagai bekal peneliti untuk mengajar dikemudian hari
5. Bagi pembaca
Dapat memperluas pengalaman serta engetahuan tentang penggunaan metode
pembelajaran kooperatif yang membuat siswa menjadi lebih aktif, khususnya
pada model pembelajaran STAD
1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup pada penelitian ini adalah hasil belajar siswa kelas IV pada mata
pelajaran matematika

1.6 Batasan Istilah

a. Hasil Belajar

Bloom dalam (Komariyah & Ahdinia Fatmala Nur Lail, 2018) yang secara
garis besar membagi klasifikasi hasil belajar menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif,
ranah afektif, dan ranah psikomotoris: 1) Ranah kognitif berkenaan dengan hasil
belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut
kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat
tinggi. 2) Ranah afektif yang mencakup perilaku yang terdiri dari lima jenis, yaitu
penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. 3) Ranah
psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak.

b. Matematika

Kata matematika berasal dari perkataan Latin mathematika yang mulanya


diambil dari perkataan Yunani mathematike yang berarti mempelajari. Perkataan itu
mempunyai asal katanya mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge,
science). Kata mathematike berhubungan pula dengan kata lainnya yang hampir
sama, yaitu mathein atau mathenein yang artinya belajar (berpikir). Jadi, berdasarkan
asal katanya, maka perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang didapat
dengan berpikir (bernalar). Matematika lebih menekankan kegiatan dalam dunia rasio
(penalaran), bukan menekankan dari hasil eksperimen atau hasil observasi
matematika terbentuk karena pikiran-pikiran manusia, yang berhubungan dengan
idea, proses, dan penalaran (Russeffendi dalam Siagian, 2016). Menurut para ahli
pendidikan matematika, matematika adalah ilmu yang membahas pola atau
keteraturan (pattern) dan tingkatan (order). Sekali lagi hal ini menunjukkan bahwa
guru matematika harus memfassilitasi siswanya untuk belajar berpikir melalui
keteraturan (pattern) yang ada (Shadiq dalamSiagian, 2016).

c. Model kooperatif tipe STAD

Erman mengemukakan bahwa, ”Model student teams achievement division


(STAD) tergolong pada model pembelajaran kooperatif, yaitu model pembelajaran
yang terdiri atas kelompok kecil yang bekerja sama sebagai satu tim untuk
memecahkan masalah, melengkapi tugas atau menyelesaikan tugas bersama”. Dengan
demikian, model student teams achievement division (STAD) merupakan model
pembelajaran yang dapat merangsang aktivitas siswa untuk mengemukakan pendapat,
ide, dan gagasan dalam pembelajaran (Maulana,panji:2017).

Pembelajaran kooperatif tipe STAD, bekerja dalam kelompok sehingga siswa


dapat menumbuhkan kemauan kerja sama, berpikir kritis, termotivasi, bertanggung
jawab terhadap kelompok. Siswa memiliki kemampuan untuk membantu teman dan
terhadap diri sendiri dalam mengikuti kuis nantinya guna mencapai suatu tujuan yaitu
mendapatkan penghargaan tim yang super. Adanya evaluasi, siswa mampu
merangkum pelajaran yang diterima dari penjelasan guru maupun hasil kerja
kelompok yang dilakukan. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah
dipelajari dimana siswa tidak diperbolehkan bekerja sama (Wardana, Ika: 2017).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Yang Relevan

1. I Made Surdiana (2021) dengan judul Penerapan Model Pembelajaran


Kooperatif Tipe STAD Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika pada
siswa kelas IV SD Negeri 2. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hasil
belajar matematika siswa mengalami peningkatan, hal ini dibuktikan dengan
peningkatan hasil belajar antara siklus I (jumlah 820, rata-rata 68, daya serap
68%, ketuntasan belajar 75%) dan siklus II (jumlah 890, rata-rata 74, daya
serap 74%, ketuntasan belajar 100%). Terjadi peningkatan hasil belajar antara
siklus I dan siklus II, ditandai oleh kenaikan rata-rata daya serap 6% dan
ketuntasan belajar mengalami kenaikan sebesar 25%. Sehingga berdasarkan
analisis hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas IV SD Negeri 2 Telaga
semester II tahun pelajaran 2018/2019 dapat meningkatkan hasil belajar
matematika.
2. I komang gede sudarsana (2021) dengan judul penerapan pembelajaran
kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Subjek
dari penelitian adalah siswa kelas IXG SMP Negeri 1 Bebandem Tahun
Pelajaran 2019/2020 berjumlah 20 orang terdiri dari 12 orang siswa laki-laki
dan 8 orang siswa perempuan sedangkan objek dari penelitian ini adalah hasil
belajar matematika. Data hasil belajar dikumpulkan dengan tes selanjutnya
dianalisis berdasarkan daya serap dan ketuntasan belajar. Indikator
keberhasilan dalam penelitian ini adalah daya serap siswa mencapai ≥ 72%
dengan ketuntasan belajar ≥ 85%. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua
siklus dan memberikan hasil yang sangat menggembirakan. Pada siklus I daya
serap yang dicapai siswa 76,50% dengan ketuntasan 75,00% dan pada siklus
II daya serap yang dicapai siswa 80,50% dengan ketuntasan 85,00%. Dari
hasil tersebut dapat diketahui ada peningkatan daya serap sebesar 4,00% dan
peningkatan ketuntasan belajar sebesar 10,00%. Berdasarkan hasil yang
diperoleh dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IXG
SMP Negeri 1 Bebandem Tahun Pelajaran 2019/2020.
3. I made sana (2022) dengan judul penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas XII
MIPA 1 di SMA Negeri 1 Ubud. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hasil
belajar matematika siswa mengalami peningkatan, hal ini dibuktikan dengan
Data prestasi belajar siswa diperoleh dengan mengadakan tes di setiap akhir
siklus. Hasil penelitian menujukkan peningkatan yang signifikan, pada siklus
I mencapai nilai rata-rata 59,38 dengan ketuntasan klasikal 68,75%.
Sedangkan pada siklus II mencapai nilai rata-rata 61,56 dengan ketuntasan
belajar klasikal 78,13%. Hal ini bisa terjadi mengingat model pembelajaran
kooperatif tipe STAD dapat merangsang siswa secara menyeluruh baik
kognitif, afektif dan psikomotor. Kesimpulan, melalui penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar
matematika siswa kelas XII MIPA 1 semester 1 di SMA Negeri 1 Ubud tahun
pelajaran 2019/2020.

2.2 Kajian Teori

A. Hasil Belajar
1. Pengertian hasil belajar
Menurut (Komariyah & Ahdinia Fatmala Nur Lail, 2018)hasil belajar
adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan,
yang diperoleh dengan kerja keras, baik secara individu maupun
kelompok setelah mengalami proses pembelajaran. Selanjutnya
menurut Nasution, S dalam (Nurrita, 2018) hasil belajar adalah hasil
pembelajaran dari suatu individu tersebut berinteraksi secara aktif dan
positif dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Djamarah & Zain
dalam (Yulianti et al., 2018 )hasil belajar adalah hasil penilaian
pendidikan tentang kemajuan setelah melakukan aktivitas belajar atau
merupakan akibat dari kegiatan belajar.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar adalah suatu hasil yang didapatkan individu maupun
kelompok setelah melakukan proses pembelajaran.
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Slameto dalam (Nabillah, 2019) faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar tersebut dapat diuraikan dalam dua
bagian, yaitu:
a) Faktor internal
Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari diri siswa. Yang
termasuk kedalam faktor ini adalah:
1) Faktor kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta
bagian-bagiannya/ bebas dari penyakit. Kesehatan adalah
keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh
terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu
jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan
cepat lelah dan kurang bersemangat.
2) Minat
Minat adalah kecenderungan yang tepat untuk memperhatikan
dan mengenang beberapa kegiatan. Minat besar berpengaruh
terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari
tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar
dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.
3) Bakat
Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru
akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesuai belajar
dan berlatih. Jadi jelaslah bahwa bakat itu mempengaruhi
belajar, jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai
dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena ia
senang belajar dan pastilah selanjutnya lebih giat lagi dalam
belajarnya.
4) Motivasi
Motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan
dicapai. Di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau
tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat,
sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motivasi itu
sendri sebagai daya pendorongnya.
b) Faktor eksternal
Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa yang
termasuk kedalam faktor eksternal adalah:
1) Faktor keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga
berupa: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga,
suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
2) Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencangkup
metode mengajar, kurikulum, relai guru dengan siswa, relasi
siswa dengan siswa, disiplin sekolah pelajar dan waktu
sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan
tugas rumah.
3) Faktor masyarakat
Masyarakat sangatlah penting berpengaruh terhadap belajar
siswa karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Seperti
kegiatan siswa dalam masyarakat, pengaruh dari teman bergaul
siswa dan kehidupan masayarakat disekitar siswa juga
berpengaruh terhadap belajar siswa
B. Model Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
T. Telaumbanua dalam (Harefa et al., 2022) menyatakan bahwa
model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran
kelompok yang terarah, terpadu, efektif-efisien, kearah mencari atau
mengkaji sesuatu melalui proses kerjasama dan saling membantu
sehingga tercapai proses dan hasil belajar yang produktif. Selanjutnya
menurut (Abdullah, 2017) model pembelajaran kooperatif merupakan
suatu model pembelajaran yang menekankan siswa untuk dapat
berinteraksi antara siswa untuk saling berbagi informasi dan
pengetahuan yang dimiliki, sehingga dalam proses belajar mengajar
tidak terjadi jarak atau jurang pemisah antara siswa yang satu dengan
siswa yang lainnya.
Afandi, Chamalah, & Wardani dalam (Hasanah, 2021) menyatakan
bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan sebuah strategi
pembelajaran yang melibatkan siswa yang bekerja secara kolaborasi
untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif disusun
dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa,
menfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan
membuat keputusan dalam kelompok serta memberikan kesempatan
pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama yang berbeda
latar belakangnya.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran
dimana siswa saling berinteraksi berbagi informasi dan pengetahuan
yang dimiliki sehingga tercapai proses dan hasil belajar yang
produktif.
2. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut (Hasanah, 2021) pembelajaran kooperatif yaitu model
pembelajaran yang menggunakan sistem belajar secara berkelompok
yang bertujuan siswa bisa mencapai tujuan pembelajaran yaitu sebagai
berikut:
a. Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif dikembangkan untuk mencakup beragam
tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas hasil
belajar akademis. Di samping mengubah norma yang berhubungan
dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi
keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas
yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lainnya ialah penerimaan secara luas dari orang-orang yang
berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan
ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi
siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan
saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur
penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai terhadap
perbedaan individu satu sama lain.
c. Perkembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga dalam pembelajaran kooperatif yaitu
mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi.
Bekerja sama dengan teman satu kelompok dalam menyelasaikan
tugas dan masalah terkait pembelajaran. Agar peserta didik dapat
melatih ketrampilan sosialnya, ketrampilan dalam berinteraksi dan
bersosialisasi dengan sesamanya. Keterampilan-keterampilan sosial,
penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih
kurang dalam pengembangan keterampilan social (Isjoni, 2013).
3. Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Anita Lie dalam (Abdullah, 2017) berikut ini ciri-ciri yang
dimiliki model pembelajaran kooperatif, yaitu:
a) Siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif untuk
menuntaskan materi belajar,
b) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan
tinggi, sedang dan rendah atau pengelompokkan secara
heterogen,
c) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu,
dan
d) Keuntungan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif.
4. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Shohimin dalam (Hasanah, 2021)mengemukakan secara lebih rinci
tentang langkah-langkah model pembelajaran kooperatif sebagai
berikut :
1. Pada awal pembelajaran, guru mendorong peserta didik untuk
menemukann dan mengekpresikan ketertarikan mereka terhadap
subjek yang akan dipelajari.
2. Guru mengatur peserta didik kedalam kelompok heterogen yang
terdiri 4-5 peserta didik.
3. Guru membiarkan peserta didik memilih topik untuk kelompok
mereka.
4. Tiap kelompok membagi topiknya untuk membuat pembagian
tugas di antara anggota kelompok. Anggota kelompok didorong
untuk saling membagi referensi dan bahan pelajaran. Tiap topic
kecik harus memberikan kontribusi yang unik bagi usaha
kelompok.
5. Setelah para peserta didik membagi topic kelompok mereka
menjadi kelompok-kelompok kecil, mereka akan bekerja secara
individual. Mereka akan bertanggung jawab terhadap topic kecil
masing-masing karena keberhasilan kelompok bergantung pada
mereka. Persiapan topik kecil dapat dilakukan dengan
mengumpulkan referensi-referensi yang terkait
6. Para peserta didik didorong untuk memadukan semua topik kecil
dalam presentasi kelompok
7. Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya pada topik
kelompok. Semua anggota kelompok bertanggung jawab terhadap
presentasi kelompok
8. Evaluasi, evaluasi dilakukan pada tiga tingkatan, yaitu pada saat
prsentasi kelompok dievaluasi oleh kelas, kontribusi individual
terhadap kelompok dievaluasi oleh teman satu kelompok,
presentasi kelompok dievaluasi oleh semua peserta didik.
C. Model Kooperatif Tipe Student Team Achievement Divisions (STAD)
1. Pengertian model pembelajaran tipe STAD
Menurut pendapat slavin Pembelajaran STAD merupakan model
pembelajaran tipe kooperatif, guru membagi siswa menjadi
beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 orang yang terdiri dari laki-
laki maupun perempuan, yang memiliki kemampuan berbeda-beda
(Esminarto:2016). Pendapat dari Trianto pembelajaran STAD ialah
salah satu tipe model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan
kelompok kecil dengan jumlah anggota setiap kelompok 4-5 peserta
didik yang terdiri atas berbagai unsur yang berbeda sifat serta
berlainan jenis (Rakhmawan:2014).
Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah model pembelajaran
untuk tempat siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5
siswa dengan tingkatan kemampuan siswa yang berbeda, untuk
menguasai materi dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap
anggota saling bekerja sama secara kolaboratif dan membantu
memahami materi, serta membantu teman untuk menguasai bahan
pembelajaran. Student Teams-Achievement Divisions (STAD) berarti
mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu
satu dengan yang lain sebagai satu tim.
Model pembelajaran ini memacu kerja sama siswa melalui
belajar dalam kelompok yang anggotanya beragam agar saling
mendorong dan membantu satu sama lain dalam suasana social yang
beragam untuk menguasai keterampilan yang sedang dipelajari. Dari
pengertian diatas dapat disimpulkan pembelajaran kooperatif tipe
STAD merupakan suatu model pembelajaran dimana peserta didik
belajar dan bekerja sama dalam kelompok kecil yang secara
kolaboratif anggotanya 4-5 orang dengan struktur kelompok hiterogen.
2. Karakteristik model pembelajaran tipe STAD
Karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe STAD
antara lain :
1) Pembelajaran secara tim. Setiap anggota tim mampu membuat
setiap siswa belajar, setiap tim harus bekerja sama untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan
keberhasilan keberhasilan tim. Setiap kelompok bersifat heterogen.
Agar setiap anggota memberikan kontribusi terhadap keberhasilan
kelompok.
2) Didasarkan pada manajemen kooperatif. Dalam manajemen
kooperatif memiliki empat imigsi pokok antara lain fungsi
perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan serta fungsi
kontrol.
3) Keterampilan Bekerja Sama. Kemauan untuk bekerja sama itu
kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang
tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian,
siswa perlu didorong untuk mau clan sanggup berinteraksi dan
berkomunikasi dengan anggota lain. Siswa perlu dibantu mengatasi
berbagai hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga
setiap siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan
memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok.
3. Langkah-langkah model pembelajaran tipe STAD
Langkah-langkah model pembelajaran STAD (Student Teams
Achievement Division), yaitu:
1) Membentuk kelompok yang anggotanya empat orang secara
heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku,
dan lain-lain).
2) Guru menyajikan pelajaran.
3) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh
anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti
dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua
anggota dalam kelompok itu mengerti.
4) Guru memberi kuis atau pertanyaan kepada seluruh peserta
didik.
5) Memberi evaluasi,.
6) Kesimpulan.
Menurut trianto Fase-fase pembelajaran Kooperatif tipe STAD
( Student Teams Achievement Division) Fase Kegiatan Guru Antara
lain:
Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyampaikan
semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan
memotivasi siswa belajar.
Fase 2 Menyajikan/ menyampaikan informasi Menyajikan informasi
kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bahan
bacaan.
Fase 3 Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar
Menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok
belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara
efisien.
Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Membimbing
kelompok -kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka.
Fase 5 Evaluasi Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah
diajarkan atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya.
Fase 6 Memberikan penghargaan Mencari cara-cara untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
4. Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran tipe STAD
Menurut Slavin kelebihan model pembelajaran STAD adalah
sebagai berikut: Setiap siswa memiliki kesempatan untuk memberikan
kontribusi yang substansial kepada kelompok dan posisi anggota
kelompok. Menggalakan interaksi secara akti dan positif sehingga
bentuk kerjasama anggota kelompok yang menjadi lebih baik.
Membantu siswa untuk memperoleh hubungan pertemanan lintas
ras,suku, agama, gender, kemampuan akademIs yang lebih banyak dan
beragam (Slavin, Robert.E: 2015).
Kelebihan model pembelajaran STAD (Student Teams
Achievement Division):
1) Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi
norma-norma kelompok,
2) Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil
bersama,
3) Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan
keberhasilan kelompok,
4) Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka
dalam berpendapat.
Sedangkan kelemahan dalam penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD menurut Kurniasih yakni sebagai
berikut:
1) Bila ditinjau dari sarana kelas, maka mengatur tempat duduk untuk
kerja kelompok sangat menyita waktu. Hal ini biasanya disebabkan
belum tersedianya ruangan-ruangan khusus yang memungkinkan
secara langsung dapat digunakan untuk belajar kelompok.
2) Jumlah siswa yang besar (kelas gemuk) dapat menyebabkan guru
kurang maksimal dalam mengamati kegiatan belajar, baik secara
kelompok maupun secara perorangan.
3) Guru dituntut bekerja cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas yang
berkaitan dengan pembelajaran yang dilaksanakan, di antaranya
mengoreksi pekerjaan siswa, menghitung skor perkembangan maupun
menghitung skor rata-rata kelompok yang harus dilakukan pada setiap
akhir pertemuan.
4) Menyita waktu yang banyak dalam mempersiapkan pembelajaran
(Kurniasih,Imas dan Sani, Berlin: 2015).

D. Matematika

1. Pengertian Matematika
NRC dalam (Fajriani, 2020) menyatakan dengan singkat bahwa:
“Mathematics is a science of patterns and order.” Artinya, matematika
adalah ilmu yang membahas pola atau keteraturan (pattern) dan tingkatan
(order). Matematika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
bilangan dan bangunan (datar dan ruang) lebih menekankan pada materi
matematikanya. Namun kecenderungan pada saat ini, definisi matematika
lebih dikaitkan dengan kemampuan berfikir yang digunakan para
metematikawan.
Sedangkan menurut Cahyadi dalam (Karimah et al.,
2021)matematika merupakan salah satu komponen dari serangkaian mata
pelajaran yang mempunyai peranan penting dalam pendidikan.
Pembelajaran matematika memiliki tujuan umum pada jenjang
pendidikan dasar. Dalam pembelajaran matematika tidak lagi
mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi
lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan
informasi. Untuk itu perlu ada model ataupun metode pembelajaran yang
melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran serta penggunaan
media yang meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan beberapa
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah salah satu
mata pelajaran yang memiliki peranan penting dalam pendidikan maupun
kehidupan sehari-hari.
2. Tujuan pembelajaran matematika
Tujuan pembelajaran matematika yang tercantum dalam Kurikulum
2013 dalam (Syahril et al., 2020) yaitu agar peserta didik dapat:
1) Memahami konsep matematik;
2) Menggunakan pola sebagai dugaan dalam penyelesaian masalah,
dan mampu membuat generalisasi berdasarkan fenomena atau
data yang ada;
3) Menggunakan penalaran pada sifat, melakukan manipulasi
matematika baik dalam penyederhanaan, maupun menganalisa
komponen yang ada dalam pemecahan masalah dalam konteks
matematika maupun di luar matematika;
4) Mengkomunikasikan gagasan, penalaran serta mampu menyusun
bukti matematika dengan menggunakan kalimat lengkap, simbol,
tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau
masalah;
5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam
kehidupan;
6) Memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dalam
matematika dan pembelajarannya;
7) Melakukan kegiatankegiatan motorik yang menggunakan
pengetahuan matematika;
8) Menggunakan alat peraga sederhana maupun hasil teknologi
untuk melakukan kegiatan-kegiatan matematik (Kemendikbud,
2014) dalam (Syahril et al., 2020).

2.3 Kerangka Berpikir

Belajar tidak hanya memperoleh pengetahuan namun siswa juga melakukan


aktivitas belajar misalnya bertanya, berdiskusi, presentasi, mengerjakan tugas dan
lain-lain. Seorang pendidik juga harus memperhatikan aktivitas belajar siswa dikelas
karena aktivitas belajar akan mempengaruhi hasil belajar siswa namun ternyata
kebanyakan aktivitas belajar siswa di kelas masih tergolong kurang aktif seperti pada
kegiatan pembelajaran di kelas IV SDN Inpres 1 Tondo. Inti dari pendidikan adalah
proses pembelajaran. Namun hal ini masi bisa di atasi dengan menggunakan model
pembelajaran yang menyenangkan dan menempatkan siswa sebagai pelaku aktif di
dalamnya. Sejalan dengan pendapat Isjoni (2013, hlm. 74) bahwa model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Students Teams Achievement Division (STAD) adalah
salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan adanya aktivitas dan
interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dengan
menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.
Alur pemikiran peneliti tergambar dalam bagan dibawah ini

Hasil belajar rendah

Model kooperatif tipe STAD (student Penggunaan/pelaksanaan Model STAD


team achievement division) pada pembelajaran

Hasil Belajar Meningkat

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

2.4 Hipotesis

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran kooperatif


tipe STAD maka dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa dikelas IV SDN
Inpres 1 Tondo
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang dilakukan dalam bentuk siklus dimana terdiri dari dua siklus yang
digunakan. Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan
organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di
dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun
mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu
berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu
pada suatu mata kuliah. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan ragam
penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk
memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki
mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi
peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.

Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang
situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya
(Elliot, 1982). Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan,
pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi
diri dari perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh
Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi
diri kolektif yang dilakukan oleh peserta–pesertanya dalam situasi sosial untuk
meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat
dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).

3.2 Desain Penelitian


Didalam desain penelitian Kemmis dikenal sistem siklus. Artinya dalam satu
siklus terdapat suatu putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan,
pengamatan, dan refleksi. Ketika siklus satu hampir berakhir, namun peneliti masih
menemukan kekurangan ketika dilakukan refleksi, peneliti bisa melanjutkan pada
siklus kedua. Siklus kedua dengan masalah yang sama, namun dengan teknik yang
berbeda. Model penelitian ini mengacu pada modifikasi spiral yang dikemukakan
oleh Kemmis & Mc Taggart.

Menurut Kemmis & Taggart (2013), setiap siklus terdiri dari beberapa tahap,
yaitu : 0) Pra Tindakan, 1) Perancanaan tindakan, 2) Pelaksanaan tindakan, 3)
Observasi, 4) Refleksi. Tahap-tahap tersebut dapat dijelaskan pada gambar 3.1.
berikut:
Keterangan :
0) Pra Tindakan
1) Rencana

2)Pelaksanaan
3) Observasi
4) Refleksi
a) Siklus 1
5) Rencana
6) Pelaksanaan
7)Observasi
8) Refleksi
b) Siklus 2

Gambar 3.1 Diagram alur desain penelitian diadaptasi dari model Kemmis & Mc.
Taggart
3.3 Setting Penelitian

3.3.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan dikelas IV SDN Inpres 1 Tondo


kecamatan mantikulore kota palu

3.3.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran


2022/2023 yaitu pada bulan februari Tahun 2023. Penentuan waktu penelitian ini
mengacu pada kalender akadenik sekolah, karena PTK memerlukan beberapa
siklus yang membutuhkan proses belajar yang efektif.

3.3.3 Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas IV dengan jumlah siswa 20
orang, yang terdiri dari 8 orang laki-laki dan 12 orang perempuan.

3.4 Tahapan Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Gambaran Umum Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan


menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran
matematika di kelas IV Inpres 1 Tondo. Pada pelaksanaan penelitian ini
dilakukan dengan minimal 2 siklus.

3.4.2 Rincian Prosedur Penelitian

Tahapan prosedur penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:


a. Perencanaan Tindakan (planning)

1) Melaksanakan observasi awal untuk menentukan model dan format


penerapan tindakan pada siklus 1
2) Menyusun perangkat pembelajaran berupa rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP)
3) Menyusun skenario pembelajaran sesuai dengan pembelajaran kooperatif
tipe STAD beserta soal-soal tes yang akan dibagikan kepada masing-
masing siswa
4) Membuat lembar kerja siswa (LKS) dibagikan kepada masing-masing
kelompok
5) Membuat lembar observasi guru dan siswa untuk mengamati proses
pembelajaran selama penerapan tindakan siklus 1
6) Membuat media pembelajaran
7) Menyusun tes untuk mengukur hasil belajar siswa selama tindakan
penelitian diterapkan

b. Pelaksanaan Tindakan (action)

kegiatan dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan


pembelajaran sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah di susun.
Skenario pembelajaran harus menonjolkan tindakan yang ingin diterapkan,
yaitu pembelajaran kooperatif tipe STAD dan keaktivan siswa dalam
menerima pelajaran selama proses pembelajaran berlangsung.

Langkah-langkah model pembelajaran STAD (Student Teams


Achievement Division), pada kegiatan pembelajaran yaitu:

1) Membentuk kelompok yang anggotanya empat orang secara heterogen


(campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain).
2) Guru menyajikan pelajaran.
3) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-
anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan
pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4) Guru memberi kuis atau pertanyaan kepada seluruh peserta didik.
5) Memberi evaluasi,.
6) Kesimpulan.

c. Pemantauan dan Evaluasi (observation)

Observasi dilakukan selama proses tindakan berlangsung menggunakan lembar


observasi yang telah disiapkan. Pengamatan dilakukan terhdap perilaku dan aktivitas
siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan dampak yang ditimbulkan dari
perilaku guru terhadap siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan
langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD. Evaluasi tersebut ditunjukan
untuk mengetahui ada atau tidak adanya peningkatan hasil belajar matematika siswa
yang diajarkan.

d. Analisis dan Refleksi (Reflection)

Refleksi dilakukan berdasarkan hasil analisis data, baik data observasi maupun
data hasil evaluasi. Peneliti menganalisis dan merenungkan hasil tindakan 1. Refleksi
yang akan digunakan sebagai bahan pertimbngan apakah kriteria yang telah
diterapkan tercapai atau belum. Jika telah berhasil maka siklus tindakan berakhir atau
tidak berlanjut kesiklus berikutnya. Tetapi sebalik nya jika belum berhasil, maka
peneliti melanjutkan kesiklus berikutnya dengan memperbaiki kinerja pembelajaran
pada tindakan berikutnya dan seterusnya sampai berhasil yang telah ditetapkan

3.5 Jenis Dan Sumber Data

3.5.1 Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif dan kualitatif.
a. Data kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berwujud angka-angka hasil perhitungan dapat
di proses dengan cara dijumlahkan dan dibandingkan sehingga dapat diperoleh
persentase. Data kuantitatif diperoleh dari hasil belajar siswa dalam
menyelesaikan soal tentang materi yang diajarkan.
b. Data Kualitatif
Data kualitatif yaitu berupa aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam
pembelajaran matematika

3.5.2 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini yaitu bersumber dari data primer. Data
primer diperoleh dari tes hasil belajar yang terlibat langsung dalam prose
pembelajaran dan hasil observasi pengamatan aktivitas guru dan aktivitas siswa.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik tes dan teknik non
tes.

1. Teknik Tes

Teknik tes terdiri dari pertanyaaan-pertanyaan yang mengacu pada materi


Matematika yang diajarkan pada proses pembelajaran. Jenis tes yang digunakan
berbentuk tes pilihan ganda dengan menyesuaikan indikator pembelajaran. Tes ini
diberikan kepada siswa dengan tujuan untuk memperoleh data tentang hasil belajar
yang diperoleh dari siswa.

2. Teknik Non tes

a. Observasi
Observasi merupakan pengamatan secara langsung kegiatan yang
dilakukan, tujuan observasi ini adalah untuk data-data tentang proses
pembelajaran didalam kelas. Data yang diambil oleh peneliti adalah data
aktivitas siswa dan guru dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung
dengan model pembelajaran STAD.

b. Wawancara
Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi
dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam
suatu topik tertentu. Wawancara dilakukan untuk mengetahui respon atau
tanggapan guru dan siswa mengenai kesulitan belajar yang dialami siswa.
Wawancara digunakan peneliti untuk memperoleh data atau fakta atau
informasi secara lisan.
c. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data proses penelitian.
Dokumentasi yang dimaksud di sini yaitu lembar kerja siswa, Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan foto kegiatan pembelajaran di kelas.

3.7 Instrumen Penelitian

1. Tes
Pada tes hasil belajar ini yang digunakan yaitu tes pilihan ganda dengan
jumlah butir tes sebanyak 15 butir setiap siklusnya. Tes ini dilakuakan
untuk mengukur hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.
2. Lembar observasi (pengamatan) aktivitas guru
Lembaran pengamatan aktivitas guru adalah lembar untuk memperoleh
data tentang aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran dengan
menerapkan model kooperatif tipe Student Team Achievement Division
(STAD) Pengisian lembar pengamatan dilakukan dengan memberikan tanda
chek-list sesuai dengan gambaran yang diamati. Jumlah butir pernyataan
sebanyak 18 butir. Lembar observasi diberikan kepada pengamat untuk
mengamati setiap kegiatan guru selama proses belajar mengajar
berlangsung.
3. Lembar Observasi (Pengamatan) Aktivitas Siswa
Lembar pengamatan aktivitas siswa digunakan untuk memperoleh data
tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan penerapan
model kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) sesuai
dengan RPP yang telah dirancang. Jumlah pernyataan pada lembar
pengamatan ini sebanyak 18 butir. Lembar observasi aktivitas siswa ini
berisi setiap aspek kegiatan yang dilakukan siswa pada proses
pembelajaran, pengisian lembar pengamatan dilakukan dengan
memberikan tanda chek-list sesuai dengan gambaran yang diamati.

3.8 Teknik Analisis Data

3.8.1 Analisis Data Kuantitatif

Data kuantitatif diperoleh dari tes hasil belajar siswa. Data tersebut
kemudian diolah dan dinyatakan dalam bentuk persentase yang dihitung dengan
menggunakan rumus menurut Rosna (2016) sebagai berikut :

a. Persentase ketuntasan individu


skor yang diperoleh siswa
Nilai = x 100
skor maksimal soal
b. Ketuntasan belajar klasikal
banyak siswa yang tuntas
Tuntas belajar = x 100%
banyak siswa seluruhnya
c. Daya serap klasikal
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑡𝑒𝑠
𝐷𝑎𝑦𝑎 𝑠𝑒𝑟𝑎𝑝 𝑘𝑙𝑎𝑠𝑖𝑘𝑎𝑙 = 𝑥 100%
skor maksimal seluruh tes
Suatu kelas dikatakan tuntas daya serap klasikal jika presentasi yang dicapai
sekurang-kurangnya 70%. Hasil perhitungan di atas dianalisis dengan Kriteria
Ketuntasan Minimum (KKM) siswa SDN Inpres 1 Tondo yang dikelompokan
dalam dua kategori tuntas dan tidak tuntas pada mata pelajaran Matematika yang
ditampilkan dalam tabel berikut:

Tabel 3.1 KKM Mata Pelajaran Matematika kelas IV SDN Inpres 1


Tondo
Kriteria Ketuntasan Kualifikasi
≥70 Tuntas
<70 Tidak Tuntas

3.8.2 Analisis Data Kualitatif

Analisis data kualitatif dilakukan untuk menganalisis hasil observasi


aktivitas guru dan siswa untuk setiap siklus. Adapun rumus yang digunakan
mengacu pada Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan
Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (2013:314) rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
Nilai = x 100
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙

Nilai tersebut diubah ke dalam bentuk nilai kualitatif pada tabel berikut:

Tabel 3.2 Nilai Kualitatif aktivitas guru dan siswa


Peringkat Nilai
Amat Baik (A) 90 < A ≤ 100
Baik (B) 75 < B ≤ 90
Cukup (C) 60 < C ≤ 75
Kurang (K) ≤ 60

Sumber: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan


Kebudayaan (2013)

3.9 Kriteria Keberhasilan Data

Pembelajaran Matematika menggunakan model kooperatif tipe STAD (Student team


achievement division) dapat meningkatkan hasil pembelajaran Matematika siswa di
kelas IV SDN Inpres 1 Tondo dengan indikator keberhasilan penelitian sebagai
berikut:

1. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika telah mencapai nilai


KKM sebesar 70 dan secara klasikal ≥ 70%.
2. Aktivitas guru dalam pembelajaran Matematika menggunakan kooperatif tipe
STAD (Student Team Achievement Division) meningkat dengan kriteria
sekurang-kurangnya baik yaitu > 75.
3. Aktivitas siswa dalam pembelajaran Matematika menggunakan model
kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) meningkat
dengan kriteria sekurang-kurangnya baik yaitu > 75 dan secara klasikal
sebanyak ≥ 70%.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Undang-undang Republik


Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta:
Cet. I, 2003.

FAJRIYANI, E. (2020). Kesulitan Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran


Matematika Kelas V Mis Islamiyah Margasari 01 Sidareja Cilacap. Institut
Agama Islam Negeri Purwokerto.

I made uardiana. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk


meningkatkan hasil belajar matematika, Journal of Education Action
Research, Vol. 5, No. 3, Tahun 2021, pp. 381-386

Karimah, C. D., Cahyadi, F., & Subekti, E. E. (2021). Analisis Kesulitan Belajar
Matematika Siswa Kelas Iii Materi Pengukuran Waktu Sd Negeri Tlogosari
Wetan 02 Semarang. A b s t r a c Analysis of Mathematics Learning
Difficulties for Class III Students on Time Measurement Material at SD
Negeri Tlogosari. Jurnal Sinektik, 4, 19–31.
[Link]

Karso, dkk. 1993. Dasar-dasar pendidikan mipa. Jakarta: departemen pendidikan dan
kebudayaan

Komariyah, S., & Ahdinia Fatmala Nur Lail. (2018). Pengaruh kemampuan berpikir
kritis terhadap hasil belajar matematika. Jurnal Penelitian Pendidikan Dan
Pengajaran Matematika, 2(2), 55–60.

Nabillah, T. (2019). Faktor Penyebab Rendahnya Hasil Belajar Siswa. Prosiding


Seminar Nasional Matematika Dan Pendidikan Matematika Sesiomadika
2019, 660–663.
Nurrita, T. (2018). Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa. Misykat, 03(01), 171–187.

Rakhmawan,dedi, Julianto, (2014). Penerapan model kooperatif tipe stad untuk


meningkatkan hasil pada sekolah dasar. Vol. 02, no.03.. Hal 3-5.

Ruseffendi, H E T, 1998. Pengantar kepada membantu guru mengembangkan


kompetensinya dalam pengajaran matematika, jakarta: dirjen dikti.

Slavin, Robert.E. (2015). Cooperative Learning. Bandung: Penerbit Nusa Media.


[Link]
am/123456789/11980/3/T1_292010071_BAB%[Link]

Suwartik (2016). Upaya meningkatkan hasil belajar matematika dengan model


pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas III SD Negeri No.056591
sidorejo ESJ VOLUME 6, NO. 2, DESEMBER 2016

Suparman. 2010. Gaya mengajar yang menyenangkan siswa. Yogyakarta: pinus book
publisher.

sudarsana (2021). Penerapan pembelajaran kooperatif tipe stad untuk meningkatkan


hasil belajar matematika, Indonesian Journal of Educational Development,
2(1), hlm. 176-186, Mei 2021 Indonesian Journal of Educational
Development, 2(1), hlm. 176-186, Mei 2021

Syahril, R. F., Sehatta Saragih, & Susda Heleni. (2020). Pengembangan Perangkat
Pembelajaran Matematika Menggunakan Model Problem Based Learning
Pada Materi Barisan Dan Deret Untuk Kelas Xi Sma/Ma. Jurnal PRINSIP
Pendidikan Matematika, 1(1), 9–17.

sena (2022). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe stad untuk meningkatkan
prestasi belajar matematika siswa kelas XII MIPA DI SMA Negeri I ubud.
Volume [Link] , agustus 2022
Slavin, J. & ysseldiyke, J.E. 1995 Assessment. 6th edition, boston: houghton mifflin

Siagian, M. D. (2016). Kemampuan Koneksi Matematik Dalam Pembelajaran


Matematika. Journal of Mathematics Education and Science, 02(1), 58–67.

Anda mungkin juga menyukai