Penerapan Model STAD untuk Hasil Belajar Matematika
Penerapan Model STAD untuk Hasil Belajar Matematika
Oleh
NUR’AIN
A40120283
UNIVERSITAS TADULAKO
2022
BAB 1
PENDAHULUAN
Peranan pendidikan ini sangat penting dalam proses peningkatan dan daya
saing suatu bangsa dimata dunia. Indonesia harus menyelengarakan sebuah sistem
pendidikan yang berkualitas, efektif, dan menyeluruh guna mencapai tujuan
pendidikan nasional tersebut, sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia
yang juga berkualitas, berdaya saing tinggi dan sesuai dengan kebutuhan bangsa.
Pendidikan berkaitan dengan pembelajaran, Pembelajaran dapat diartikan sebagai
suatu upaya mengkondisikan siswa untuk dapat belajar secara efektif. Kegiatan
belajar efektif terlihat bahwa ada kegiatan memilih, menetapkan dan
mengembangkan metode untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam proses
pembelajaran yang dilakukan oleh oleh siswa dan guru.
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan diatas, oleh karena itu
peneliti mencoba melakukan penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas
dengan mengangkat judul “Meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD (student team achievement divisions) pada
mata pelajaran matematika kelas IV SDN Inpres 1 tondo”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagi siswa
Dengan hasil penelitian ini diharapkan siswa akan lebih giat dan antusias lagi
dalam mempelajari matematika melalui model STAD
2. Bagi guru
Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan model pembelajaran yang
akan digunakan untk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa serta
meningkatkan kualitas pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran
3. Bagi sekolah
Diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam upaya meningkatkan
kualitas pembelajaran disekolah
4. Bagi peneliti
Dapat digunakan sebagai bekal peneliti untuk mengajar dikemudian hari
5. Bagi pembaca
Dapat memperluas pengalaman serta engetahuan tentang penggunaan metode
pembelajaran kooperatif yang membuat siswa menjadi lebih aktif, khususnya
pada model pembelajaran STAD
1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup pada penelitian ini adalah hasil belajar siswa kelas IV pada mata
pelajaran matematika
a. Hasil Belajar
Bloom dalam (Komariyah & Ahdinia Fatmala Nur Lail, 2018) yang secara
garis besar membagi klasifikasi hasil belajar menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif,
ranah afektif, dan ranah psikomotoris: 1) Ranah kognitif berkenaan dengan hasil
belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut
kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat
tinggi. 2) Ranah afektif yang mencakup perilaku yang terdiri dari lima jenis, yaitu
penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. 3) Ranah
psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak.
b. Matematika
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hasil Belajar
1. Pengertian hasil belajar
Menurut (Komariyah & Ahdinia Fatmala Nur Lail, 2018)hasil belajar
adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan,
yang diperoleh dengan kerja keras, baik secara individu maupun
kelompok setelah mengalami proses pembelajaran. Selanjutnya
menurut Nasution, S dalam (Nurrita, 2018) hasil belajar adalah hasil
pembelajaran dari suatu individu tersebut berinteraksi secara aktif dan
positif dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Djamarah & Zain
dalam (Yulianti et al., 2018 )hasil belajar adalah hasil penilaian
pendidikan tentang kemajuan setelah melakukan aktivitas belajar atau
merupakan akibat dari kegiatan belajar.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar adalah suatu hasil yang didapatkan individu maupun
kelompok setelah melakukan proses pembelajaran.
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Slameto dalam (Nabillah, 2019) faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar tersebut dapat diuraikan dalam dua
bagian, yaitu:
a) Faktor internal
Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari diri siswa. Yang
termasuk kedalam faktor ini adalah:
1) Faktor kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta
bagian-bagiannya/ bebas dari penyakit. Kesehatan adalah
keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh
terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu
jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan
cepat lelah dan kurang bersemangat.
2) Minat
Minat adalah kecenderungan yang tepat untuk memperhatikan
dan mengenang beberapa kegiatan. Minat besar berpengaruh
terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari
tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar
dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.
3) Bakat
Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru
akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesuai belajar
dan berlatih. Jadi jelaslah bahwa bakat itu mempengaruhi
belajar, jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai
dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena ia
senang belajar dan pastilah selanjutnya lebih giat lagi dalam
belajarnya.
4) Motivasi
Motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan
dicapai. Di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau
tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat,
sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motivasi itu
sendri sebagai daya pendorongnya.
b) Faktor eksternal
Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa yang
termasuk kedalam faktor eksternal adalah:
1) Faktor keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga
berupa: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga,
suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
2) Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencangkup
metode mengajar, kurikulum, relai guru dengan siswa, relasi
siswa dengan siswa, disiplin sekolah pelajar dan waktu
sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan
tugas rumah.
3) Faktor masyarakat
Masyarakat sangatlah penting berpengaruh terhadap belajar
siswa karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Seperti
kegiatan siswa dalam masyarakat, pengaruh dari teman bergaul
siswa dan kehidupan masayarakat disekitar siswa juga
berpengaruh terhadap belajar siswa
B. Model Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
T. Telaumbanua dalam (Harefa et al., 2022) menyatakan bahwa
model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran
kelompok yang terarah, terpadu, efektif-efisien, kearah mencari atau
mengkaji sesuatu melalui proses kerjasama dan saling membantu
sehingga tercapai proses dan hasil belajar yang produktif. Selanjutnya
menurut (Abdullah, 2017) model pembelajaran kooperatif merupakan
suatu model pembelajaran yang menekankan siswa untuk dapat
berinteraksi antara siswa untuk saling berbagi informasi dan
pengetahuan yang dimiliki, sehingga dalam proses belajar mengajar
tidak terjadi jarak atau jurang pemisah antara siswa yang satu dengan
siswa yang lainnya.
Afandi, Chamalah, & Wardani dalam (Hasanah, 2021) menyatakan
bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan sebuah strategi
pembelajaran yang melibatkan siswa yang bekerja secara kolaborasi
untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif disusun
dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa,
menfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan
membuat keputusan dalam kelompok serta memberikan kesempatan
pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama yang berbeda
latar belakangnya.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran
dimana siswa saling berinteraksi berbagi informasi dan pengetahuan
yang dimiliki sehingga tercapai proses dan hasil belajar yang
produktif.
2. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut (Hasanah, 2021) pembelajaran kooperatif yaitu model
pembelajaran yang menggunakan sistem belajar secara berkelompok
yang bertujuan siswa bisa mencapai tujuan pembelajaran yaitu sebagai
berikut:
a. Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif dikembangkan untuk mencakup beragam
tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas hasil
belajar akademis. Di samping mengubah norma yang berhubungan
dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi
keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas
yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lainnya ialah penerimaan secara luas dari orang-orang yang
berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan
ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi
siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan
saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur
penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai terhadap
perbedaan individu satu sama lain.
c. Perkembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga dalam pembelajaran kooperatif yaitu
mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi.
Bekerja sama dengan teman satu kelompok dalam menyelasaikan
tugas dan masalah terkait pembelajaran. Agar peserta didik dapat
melatih ketrampilan sosialnya, ketrampilan dalam berinteraksi dan
bersosialisasi dengan sesamanya. Keterampilan-keterampilan sosial,
penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih
kurang dalam pengembangan keterampilan social (Isjoni, 2013).
3. Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Anita Lie dalam (Abdullah, 2017) berikut ini ciri-ciri yang
dimiliki model pembelajaran kooperatif, yaitu:
a) Siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif untuk
menuntaskan materi belajar,
b) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan
tinggi, sedang dan rendah atau pengelompokkan secara
heterogen,
c) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu,
dan
d) Keuntungan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif.
4. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Shohimin dalam (Hasanah, 2021)mengemukakan secara lebih rinci
tentang langkah-langkah model pembelajaran kooperatif sebagai
berikut :
1. Pada awal pembelajaran, guru mendorong peserta didik untuk
menemukann dan mengekpresikan ketertarikan mereka terhadap
subjek yang akan dipelajari.
2. Guru mengatur peserta didik kedalam kelompok heterogen yang
terdiri 4-5 peserta didik.
3. Guru membiarkan peserta didik memilih topik untuk kelompok
mereka.
4. Tiap kelompok membagi topiknya untuk membuat pembagian
tugas di antara anggota kelompok. Anggota kelompok didorong
untuk saling membagi referensi dan bahan pelajaran. Tiap topic
kecik harus memberikan kontribusi yang unik bagi usaha
kelompok.
5. Setelah para peserta didik membagi topic kelompok mereka
menjadi kelompok-kelompok kecil, mereka akan bekerja secara
individual. Mereka akan bertanggung jawab terhadap topic kecil
masing-masing karena keberhasilan kelompok bergantung pada
mereka. Persiapan topik kecil dapat dilakukan dengan
mengumpulkan referensi-referensi yang terkait
6. Para peserta didik didorong untuk memadukan semua topik kecil
dalam presentasi kelompok
7. Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya pada topik
kelompok. Semua anggota kelompok bertanggung jawab terhadap
presentasi kelompok
8. Evaluasi, evaluasi dilakukan pada tiga tingkatan, yaitu pada saat
prsentasi kelompok dievaluasi oleh kelas, kontribusi individual
terhadap kelompok dievaluasi oleh teman satu kelompok,
presentasi kelompok dievaluasi oleh semua peserta didik.
C. Model Kooperatif Tipe Student Team Achievement Divisions (STAD)
1. Pengertian model pembelajaran tipe STAD
Menurut pendapat slavin Pembelajaran STAD merupakan model
pembelajaran tipe kooperatif, guru membagi siswa menjadi
beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 orang yang terdiri dari laki-
laki maupun perempuan, yang memiliki kemampuan berbeda-beda
(Esminarto:2016). Pendapat dari Trianto pembelajaran STAD ialah
salah satu tipe model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan
kelompok kecil dengan jumlah anggota setiap kelompok 4-5 peserta
didik yang terdiri atas berbagai unsur yang berbeda sifat serta
berlainan jenis (Rakhmawan:2014).
Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah model pembelajaran
untuk tempat siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5
siswa dengan tingkatan kemampuan siswa yang berbeda, untuk
menguasai materi dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap
anggota saling bekerja sama secara kolaboratif dan membantu
memahami materi, serta membantu teman untuk menguasai bahan
pembelajaran. Student Teams-Achievement Divisions (STAD) berarti
mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu
satu dengan yang lain sebagai satu tim.
Model pembelajaran ini memacu kerja sama siswa melalui
belajar dalam kelompok yang anggotanya beragam agar saling
mendorong dan membantu satu sama lain dalam suasana social yang
beragam untuk menguasai keterampilan yang sedang dipelajari. Dari
pengertian diatas dapat disimpulkan pembelajaran kooperatif tipe
STAD merupakan suatu model pembelajaran dimana peserta didik
belajar dan bekerja sama dalam kelompok kecil yang secara
kolaboratif anggotanya 4-5 orang dengan struktur kelompok hiterogen.
2. Karakteristik model pembelajaran tipe STAD
Karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe STAD
antara lain :
1) Pembelajaran secara tim. Setiap anggota tim mampu membuat
setiap siswa belajar, setiap tim harus bekerja sama untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan
keberhasilan keberhasilan tim. Setiap kelompok bersifat heterogen.
Agar setiap anggota memberikan kontribusi terhadap keberhasilan
kelompok.
2) Didasarkan pada manajemen kooperatif. Dalam manajemen
kooperatif memiliki empat imigsi pokok antara lain fungsi
perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan serta fungsi
kontrol.
3) Keterampilan Bekerja Sama. Kemauan untuk bekerja sama itu
kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang
tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian,
siswa perlu didorong untuk mau clan sanggup berinteraksi dan
berkomunikasi dengan anggota lain. Siswa perlu dibantu mengatasi
berbagai hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga
setiap siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan
memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok.
3. Langkah-langkah model pembelajaran tipe STAD
Langkah-langkah model pembelajaran STAD (Student Teams
Achievement Division), yaitu:
1) Membentuk kelompok yang anggotanya empat orang secara
heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku,
dan lain-lain).
2) Guru menyajikan pelajaran.
3) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh
anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti
dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua
anggota dalam kelompok itu mengerti.
4) Guru memberi kuis atau pertanyaan kepada seluruh peserta
didik.
5) Memberi evaluasi,.
6) Kesimpulan.
Menurut trianto Fase-fase pembelajaran Kooperatif tipe STAD
( Student Teams Achievement Division) Fase Kegiatan Guru Antara
lain:
Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyampaikan
semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan
memotivasi siswa belajar.
Fase 2 Menyajikan/ menyampaikan informasi Menyajikan informasi
kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bahan
bacaan.
Fase 3 Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar
Menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok
belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara
efisien.
Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Membimbing
kelompok -kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka.
Fase 5 Evaluasi Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah
diajarkan atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya.
Fase 6 Memberikan penghargaan Mencari cara-cara untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
4. Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran tipe STAD
Menurut Slavin kelebihan model pembelajaran STAD adalah
sebagai berikut: Setiap siswa memiliki kesempatan untuk memberikan
kontribusi yang substansial kepada kelompok dan posisi anggota
kelompok. Menggalakan interaksi secara akti dan positif sehingga
bentuk kerjasama anggota kelompok yang menjadi lebih baik.
Membantu siswa untuk memperoleh hubungan pertemanan lintas
ras,suku, agama, gender, kemampuan akademIs yang lebih banyak dan
beragam (Slavin, Robert.E: 2015).
Kelebihan model pembelajaran STAD (Student Teams
Achievement Division):
1) Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi
norma-norma kelompok,
2) Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil
bersama,
3) Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan
keberhasilan kelompok,
4) Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka
dalam berpendapat.
Sedangkan kelemahan dalam penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD menurut Kurniasih yakni sebagai
berikut:
1) Bila ditinjau dari sarana kelas, maka mengatur tempat duduk untuk
kerja kelompok sangat menyita waktu. Hal ini biasanya disebabkan
belum tersedianya ruangan-ruangan khusus yang memungkinkan
secara langsung dapat digunakan untuk belajar kelompok.
2) Jumlah siswa yang besar (kelas gemuk) dapat menyebabkan guru
kurang maksimal dalam mengamati kegiatan belajar, baik secara
kelompok maupun secara perorangan.
3) Guru dituntut bekerja cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas yang
berkaitan dengan pembelajaran yang dilaksanakan, di antaranya
mengoreksi pekerjaan siswa, menghitung skor perkembangan maupun
menghitung skor rata-rata kelompok yang harus dilakukan pada setiap
akhir pertemuan.
4) Menyita waktu yang banyak dalam mempersiapkan pembelajaran
(Kurniasih,Imas dan Sani, Berlin: 2015).
D. Matematika
1. Pengertian Matematika
NRC dalam (Fajriani, 2020) menyatakan dengan singkat bahwa:
“Mathematics is a science of patterns and order.” Artinya, matematika
adalah ilmu yang membahas pola atau keteraturan (pattern) dan tingkatan
(order). Matematika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
bilangan dan bangunan (datar dan ruang) lebih menekankan pada materi
matematikanya. Namun kecenderungan pada saat ini, definisi matematika
lebih dikaitkan dengan kemampuan berfikir yang digunakan para
metematikawan.
Sedangkan menurut Cahyadi dalam (Karimah et al.,
2021)matematika merupakan salah satu komponen dari serangkaian mata
pelajaran yang mempunyai peranan penting dalam pendidikan.
Pembelajaran matematika memiliki tujuan umum pada jenjang
pendidikan dasar. Dalam pembelajaran matematika tidak lagi
mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi
lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan
informasi. Untuk itu perlu ada model ataupun metode pembelajaran yang
melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran serta penggunaan
media yang meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan beberapa
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah salah satu
mata pelajaran yang memiliki peranan penting dalam pendidikan maupun
kehidupan sehari-hari.
2. Tujuan pembelajaran matematika
Tujuan pembelajaran matematika yang tercantum dalam Kurikulum
2013 dalam (Syahril et al., 2020) yaitu agar peserta didik dapat:
1) Memahami konsep matematik;
2) Menggunakan pola sebagai dugaan dalam penyelesaian masalah,
dan mampu membuat generalisasi berdasarkan fenomena atau
data yang ada;
3) Menggunakan penalaran pada sifat, melakukan manipulasi
matematika baik dalam penyederhanaan, maupun menganalisa
komponen yang ada dalam pemecahan masalah dalam konteks
matematika maupun di luar matematika;
4) Mengkomunikasikan gagasan, penalaran serta mampu menyusun
bukti matematika dengan menggunakan kalimat lengkap, simbol,
tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau
masalah;
5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam
kehidupan;
6) Memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dalam
matematika dan pembelajarannya;
7) Melakukan kegiatankegiatan motorik yang menggunakan
pengetahuan matematika;
8) Menggunakan alat peraga sederhana maupun hasil teknologi
untuk melakukan kegiatan-kegiatan matematik (Kemendikbud,
2014) dalam (Syahril et al., 2020).
2.4 Hipotesis
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang dilakukan dalam bentuk siklus dimana terdiri dari dua siklus yang
digunakan. Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan
organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di
dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun
mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu
berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu
pada suatu mata kuliah. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan ragam
penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk
memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki
mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi
peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.
Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang
situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya
(Elliot, 1982). Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan,
pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi
diri dari perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh
Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi
diri kolektif yang dilakukan oleh peserta–pesertanya dalam situasi sosial untuk
meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat
dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).
Menurut Kemmis & Taggart (2013), setiap siklus terdiri dari beberapa tahap,
yaitu : 0) Pra Tindakan, 1) Perancanaan tindakan, 2) Pelaksanaan tindakan, 3)
Observasi, 4) Refleksi. Tahap-tahap tersebut dapat dijelaskan pada gambar 3.1.
berikut:
Keterangan :
0) Pra Tindakan
1) Rencana
2)Pelaksanaan
3) Observasi
4) Refleksi
a) Siklus 1
5) Rencana
6) Pelaksanaan
7)Observasi
8) Refleksi
b) Siklus 2
Gambar 3.1 Diagram alur desain penelitian diadaptasi dari model Kemmis & Mc.
Taggart
3.3 Setting Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas IV dengan jumlah siswa 20
orang, yang terdiri dari 8 orang laki-laki dan 12 orang perempuan.
Refleksi dilakukan berdasarkan hasil analisis data, baik data observasi maupun
data hasil evaluasi. Peneliti menganalisis dan merenungkan hasil tindakan 1. Refleksi
yang akan digunakan sebagai bahan pertimbngan apakah kriteria yang telah
diterapkan tercapai atau belum. Jika telah berhasil maka siklus tindakan berakhir atau
tidak berlanjut kesiklus berikutnya. Tetapi sebalik nya jika belum berhasil, maka
peneliti melanjutkan kesiklus berikutnya dengan memperbaiki kinerja pembelajaran
pada tindakan berikutnya dan seterusnya sampai berhasil yang telah ditetapkan
Jenis data dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif dan kualitatif.
a. Data kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berwujud angka-angka hasil perhitungan dapat
di proses dengan cara dijumlahkan dan dibandingkan sehingga dapat diperoleh
persentase. Data kuantitatif diperoleh dari hasil belajar siswa dalam
menyelesaikan soal tentang materi yang diajarkan.
b. Data Kualitatif
Data kualitatif yaitu berupa aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam
pembelajaran matematika
Sumber data dalam penelitian ini yaitu bersumber dari data primer. Data
primer diperoleh dari tes hasil belajar yang terlibat langsung dalam prose
pembelajaran dan hasil observasi pengamatan aktivitas guru dan aktivitas siswa.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik tes dan teknik non
tes.
1. Teknik Tes
a. Observasi
Observasi merupakan pengamatan secara langsung kegiatan yang
dilakukan, tujuan observasi ini adalah untuk data-data tentang proses
pembelajaran didalam kelas. Data yang diambil oleh peneliti adalah data
aktivitas siswa dan guru dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung
dengan model pembelajaran STAD.
b. Wawancara
Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi
dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam
suatu topik tertentu. Wawancara dilakukan untuk mengetahui respon atau
tanggapan guru dan siswa mengenai kesulitan belajar yang dialami siswa.
Wawancara digunakan peneliti untuk memperoleh data atau fakta atau
informasi secara lisan.
c. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data proses penelitian.
Dokumentasi yang dimaksud di sini yaitu lembar kerja siswa, Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan foto kegiatan pembelajaran di kelas.
1. Tes
Pada tes hasil belajar ini yang digunakan yaitu tes pilihan ganda dengan
jumlah butir tes sebanyak 15 butir setiap siklusnya. Tes ini dilakuakan
untuk mengukur hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.
2. Lembar observasi (pengamatan) aktivitas guru
Lembaran pengamatan aktivitas guru adalah lembar untuk memperoleh
data tentang aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran dengan
menerapkan model kooperatif tipe Student Team Achievement Division
(STAD) Pengisian lembar pengamatan dilakukan dengan memberikan tanda
chek-list sesuai dengan gambaran yang diamati. Jumlah butir pernyataan
sebanyak 18 butir. Lembar observasi diberikan kepada pengamat untuk
mengamati setiap kegiatan guru selama proses belajar mengajar
berlangsung.
3. Lembar Observasi (Pengamatan) Aktivitas Siswa
Lembar pengamatan aktivitas siswa digunakan untuk memperoleh data
tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan penerapan
model kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) sesuai
dengan RPP yang telah dirancang. Jumlah pernyataan pada lembar
pengamatan ini sebanyak 18 butir. Lembar observasi aktivitas siswa ini
berisi setiap aspek kegiatan yang dilakukan siswa pada proses
pembelajaran, pengisian lembar pengamatan dilakukan dengan
memberikan tanda chek-list sesuai dengan gambaran yang diamati.
Data kuantitatif diperoleh dari tes hasil belajar siswa. Data tersebut
kemudian diolah dan dinyatakan dalam bentuk persentase yang dihitung dengan
menggunakan rumus menurut Rosna (2016) sebagai berikut :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
Nilai = x 100
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙
Nilai tersebut diubah ke dalam bentuk nilai kualitatif pada tabel berikut:
Karimah, C. D., Cahyadi, F., & Subekti, E. E. (2021). Analisis Kesulitan Belajar
Matematika Siswa Kelas Iii Materi Pengukuran Waktu Sd Negeri Tlogosari
Wetan 02 Semarang. A b s t r a c Analysis of Mathematics Learning
Difficulties for Class III Students on Time Measurement Material at SD
Negeri Tlogosari. Jurnal Sinektik, 4, 19–31.
[Link]
Karso, dkk. 1993. Dasar-dasar pendidikan mipa. Jakarta: departemen pendidikan dan
kebudayaan
Komariyah, S., & Ahdinia Fatmala Nur Lail. (2018). Pengaruh kemampuan berpikir
kritis terhadap hasil belajar matematika. Jurnal Penelitian Pendidikan Dan
Pengajaran Matematika, 2(2), 55–60.
Suparman. 2010. Gaya mengajar yang menyenangkan siswa. Yogyakarta: pinus book
publisher.
Syahril, R. F., Sehatta Saragih, & Susda Heleni. (2020). Pengembangan Perangkat
Pembelajaran Matematika Menggunakan Model Problem Based Learning
Pada Materi Barisan Dan Deret Untuk Kelas Xi Sma/Ma. Jurnal PRINSIP
Pendidikan Matematika, 1(1), 9–17.
sena (2022). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe stad untuk meningkatkan
prestasi belajar matematika siswa kelas XII MIPA DI SMA Negeri I ubud.
Volume [Link] , agustus 2022
Slavin, J. & ysseldiyke, J.E. 1995 Assessment. 6th edition, boston: houghton mifflin