0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
176 tayangan15 halaman

Pengertian dan Contoh Ibdal dalam Tajwid

Dokumen ini membahas tentang ibdal dalam bahasa Arab. Ibdal adalah mengganti huruf dengan huruf lain pada tempat yang sama. Dokumen ini juga membahas kaidah-kaidah dalam melakukan ibdal pada huruf-huruf tertentu dalam bahasa Arab.

Diunggah oleh

sat817997
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
176 tayangan15 halaman

Pengertian dan Contoh Ibdal dalam Tajwid

Dokumen ini membahas tentang ibdal dalam bahasa Arab. Ibdal adalah mengganti huruf dengan huruf lain pada tempat yang sama. Dokumen ini juga membahas kaidah-kaidah dalam melakukan ibdal pada huruf-huruf tertentu dalam bahasa Arab.

Diunggah oleh

sat817997
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Ibdal
Ibdal adalah membuang atau melepas huruf dan meletakkan huruf lain pada tempatnya
huruf yang dibuang.[1]
Ibdal itu menyerupai I’lal, di tinjau dari segi sama-sama melakukan perubahan, hanya
saja i’lal khusus masuk pada huruf illat sedangkan ibdal bisa masuk pada huruf shohih dan
juga huruf illat.
1. Huruf-Huruf Ibdal
Adapun huruf ibdal itu ada 9, yaitu:[2]

‫ َأْح ُر ُف اِإْل ْبَداِل َهَد ْأُت ُم ْو ِطَيا‬# .............................


a. Ha’
b. Dal
c. Hamzah
d. Ta’
e. Mim
f. Wawu
g. Tha’
h. Ya’
i. Alif
2. Kaidah-Kaidah Ibdal[3]
a. Wawu dan ya’ diganti hamzah, apabila jatuh setelah alif zaidah.

Lafal Asal asal fi’il

‫ُد َعاٌء‬ ‫ُد َعاٌو‬ ‫ َيدُع و‬-‫َدَعا‬

‫بناء‬ ‫بناٌى‬ ‫ َيْبَنى‬-‫َبَنى‬

Begitu pula alif yang berada di akhir kata dan sesudah alif zaidah juga harus diganti hamzah.
Lafal Asal Wazan

‫َحْمَر اُء‬ ‫َحْمَر ى‬ ‫سْك َر ى‬

Lafadz ‫ َحْمَر ى‬dengan menambahkan alif mad pada sebelum akhir ((‫َحْمَر اى‬, seperti halnya
penambahan alif mad pada lafadz ‫ِك َتاٌب‬. Kemudian alif yang kedua diganti hamzah supaya
memungkin seseorang untuk mengucapkan lafadz tersebut dikarenakan keduanya mati, maka
menjadi . ‫َحْمَر اُء‬

Dan apabila wawu atau ya’ yang jatuh setelah alif zaidah tersebut diiringi atau disertai
dengan ha’ ta’nis yang bertujuan untuk membedakan mudzakkar dan muannas, maka wawu
atau ya’ tersebut juga diganti hamzah.

lafadz Asal mudzakkar Keterangan

‫َبَّناَء ٌة‬ ‫َبَّناَيٌة‬ ‫َبَّناٌء‬ Shighot


‫َم َّش اَء ٌة‬ ‫َم َّش اَو ٌة‬ mubalaghah
‫َم َّش اٌء‬

Apabila ha’ ta’nis tersebut bukan untuk membedakan mudzakkar dan muannas, maka
wawu’atau ya’ terebut ditetapkan.

Contoh: ‫َعَداَو ٌة‬ ‫ِهَداَيٌة‬


b. Huruf wawu dan ya’ diganti hamzah ketika menjadi ‘ainnya isim fa’il dan dii’lal pada
fi’ilnya.

Isim fa’il Asal Fi’ilnya Asal

‫َقاِئٌل‬ ‫َقاِو ٌل‬ ‫َقاَل‬ ‫َقَو َل‬


‫باِئٌع‬ ‫َباِيٌع‬ ‫َباَع‬ ‫َبَيَع‬
‫ َقاَل‬dan ‫ َباَع‬asalnya adalah ‫ َق َو َل‬dan ‫َبَي َع‬, wawu dan ya’ tersebut berharakat dan huruf
sebelumnya berharakat fathah, maka wawu atau ya’ diganti alif.[4]
c. Huruf mad zaidah yang berada di isim shahih akhir dan sebagai huruf ketiga itu harus diganti
hamzah apabila isim tersebut mengikuti wazan ‫ مَفاِع ُل‬. Baik huruf mad tadi berupa alif,
wawu, atau ya’.

Huruf mad Mufrod Jamak

Alif ‫َقاَل َد ٌة‬ ‫َقاَل ِئُد‬


Wawu ‫َعُجْو ٌز‬ ‫َع َج اِئُز‬
Ya’ ‫َص ِح ْيَفٌة‬ ‫َص َح اِئُف‬

Adapun ketika mad zaidah yang berada di isim shahih akhir dan sebagai huruf ketiga itu
ketika di jamakkan mengikuti wazan ‫ مَفاِع ُل‬menjadi mu’tal lam, maka jamak nya di ikutkan
wazan ‫َفَع اَلى‬

Mufrod Jamak Asal jamak


‫َقِض َّيٌة‬ ‫َقَض اَيا‬ ‫َقَض اِئُي‬

Lafadz ‫ َقَض اَيا‬asalnya adalah ‫َقَض اِيُي‬, kemudian ya’ yang pertama diganti hamzah karena
ia bertempat setelah alif taksir ( ‫)َقَض اِئُي‬, kemudian harakatnya hamzah diganti fathah, karena
untuk meringankan (( ‫َقَض اَئُي‬, dalam hal ini terdapat ya’ yang berharakat dan jatuh setelah
huruf yang berharakat fathah, maka ya’ diganti alif ((‫َقَض اَء ا‬, kemudian hamzah diganti
ya’ ((]5[.‫َقَض اَيا‬

d. Apabila alifnya jamak yang mengikuti wazan ‫ َم َفاِع ُل‬itu berada di antara dua huruf illat pada
isim shahihul akhir, maka huruf illat yang kedua diganti hamzah.

Mufrad Jamak Asal

‫َاّو َل‬ ‫َاَو اِئَل‬ ‫َاَو اِو ُل‬


‫َس ِّيٍد‬ ‫َسَياِئَد‬ ‫َسَياِو ُد‬
‫َنِّيٍف‬ ‫َنَياِئَف‬ ‫َنَياِو ُف‬
e. Apabila ada wawu yang berharokat dhammah dan berada sesudah huruf yang sukun atau
sesudah huruf yang dibaca dhammah pula, maka wawu boleh diganti hamzah dan boleh pula
ditetapkan (tidak diganti hamzah). Tetapi yang diganti lebih baik dari pada yang tidak.

Mufrad Diganti hamzah Tetap

‫َداٌر‬ ‫َأْدُؤ ُر‬ ‫َأْد ُو ُر‬


‫َح اٌل‬ ‫حُؤ ْو ٌل‬ ‫ُحُوْو ٍل‬

f. Setiap kata yang di dalamnya terdapat berkumpulnya dua huruf wawu yang di depan, maka
wawu yang pertama wajib diganti hamzah selama wawu yang kedua tadi tidak gantian
(berasal) dari alifnya ‫ُم َفاَع َلٌة‬.

Lafadz Asal Mufrod

‫َأَو اِص ُل‬ ‫َوَو اِص ُل‬ ‫َو اِص َلٌة‬


‫َأَو اِع ُد‬ ‫َوَو اِع ُد‬ ‫َو اِع َد ٌة‬

Adapun jika wawu yang kedua tadi merupakan gantian (berasal) dari alifnya ‫ُم َفاَع َلٌة‬, maka
wawu yang pertama boleh ditetapkan dan boleh diganti hamzah.

lafadz tetap Diganti hamzah Keterangan

‫َو اَفى‬ ‫ُوْو ِفَي‬ ‫ُأْو ِفَي‬


Mabni Majhul
‫َو اَقى‬ ‫ُوْو ِقَي‬ ‫ُأْو ِقَي‬
g. Apabila fa’nya fi’il yang mengikuti wazan ‫ ِاْفَتَعَل‬itu berupa wawu atau ya’, maka harus
diganti ta’ dan kemudian di idghamkan (masukkan) kedalam ta’nya.

Lafal Asal Diganti ta’ Di idghomkan

‫إَّتَص َل‬ ‫إوَتَص َل‬ ‫ِاْتَتَص َل‬ ‫إَّتَص َل‬


‫إَّتَسَر‬ ‫إْيَتَسَر‬ ‫ِاْتَتَسَر‬ ‫إَّتَسَر‬
‫إَّتَقى‬ ‫إوَتَقى‬ ‫ِاْتَتَقى‬ ‫إَّتَقى‬

Yang demikian tadi dengan syarat bahwa ya’ tersebut tidak berasal (gantian) dari hamzah.
Kalau ya’ berasal dari hamzah, maka tidak boleh diganti ta’.

Lafal Asal

‫إْيَتَم َر‬ ‫إئَتَم َر‬

Namun ada juga yang diganti ta’, tetapi hukumnya sedikit.

Lafal Asal Asalnya asal

‫ِإَّتَز َر‬ ‫ِإْيَتَز َر‬ ‫ِإْئَتَز َر‬

Yang termasuk ini adalah hadist Nabi, yaitu:

‫ِإَذ ا َك اَن (اى الثوب) َقِص ْيًرا َفْلَيَّتِز ْر ِبِه‬


apabila pakaian itu pendek, maka pakailah dia sebagai tutup badan.
h. Apabila fa’ fi’ilnya fi’il yang mengikuti wazan ‫ إفَت َع َل‬itu berupa tsa’ maka ta’nya wajib diganti
tsa’ kemudian diidghamkan.

Lafal Asal

‫ِاَّثَقَب‬ ‫ِاْثَتَقَب‬

i. Dan apabila fa’nya berupa dal, dzal, atau za’, maka huruf ta’nya wajib diganti dal.
Lafal Asal

‫ِإَّدَعى‬ ‫ِإْد َتَعى‬

‫ِإ‬ ‫ِإ‬
‫ْذَدَك َر‬ ‫ْذَتَك َر‬
‫ِإْزَدَه ى‬ ‫ِإْزَتَه ى‬

Dan apabila fa’nya berupa shad, dhad, tha’, atau dzha’, maka ta’nya wajib diganti tha’.
Lafal Asal

‫ِإْص َطَفى‬ ‫ِإْص َذَفى‬


‫ِإْض َطَج َع‬ ‫ِإْض َتَج َع‬
‫ِإَّطَر َد‬ ‫ِإْطَتَر َد‬

Boleh juga di idghomkan setelah mengganti dal dan tha’, dengan huruf yang sejenis dengan
huruf yang jatuh sebelumnya. Contoh:

Lafadz Asal

‫ِاَّذ َك َر‬ ‫ِاْذ َد َك َر‬


‫ِاَّص َفى‬ ‫ِاْص َطَفى‬
Atau sebaliknya, yaitu dengan mengganti huruf tsa’ dengan ta’, dzal dengan dal, dzha’
dengan tha’. Contoh:
Lafal Asal
‫ِا‬ ‫ِا‬
‫َّتَق َب‬ ‫ْثَتَق َب‬
‫ِاَّد‬ ‫ِا‬
‫َك َر‬ ‫ْذَدَك َر‬
‫َّط‬ ‫ِا‬
‫ا َلَم‬ ‫ْظَطَلَم‬

j. Fi’il yang fa’ fi’ilnya berupa tsa’, dzal, dal, za’, shad, dhad, tha’, atau dzha’ yang mengikuti
wazan ‫ َتَفْع َلَل‬, ‫ َتَفَّعَل‬, ‫ َتَفاَع َل‬itu sekiranya huruf ta’ pada wazan itu kumpul dengan huruf-huruf
tersebut diatas, maka boleh dilakukan penggantian huruf ta’ dengan huruf yang sesuai
(sejenis) dengan huruf sesudahnya, kemudian huruf pengganti ta’ tadi diidghamkan ke dalam
huruf sesudahnya. Sesudah demikian maka sulit dibaca karena huruf pertamanya berupa
huruf yang sukun, maka wajib mendatangkan hamzah washal.

Ta’ disamakan dengan


Menambahkan
Lafadz Asal huruf sesudahnya dan
hamzah washol
diidgomkan

‫ِاَّثاَقَل‬ ‫َتَثاَقَل‬ ‫َّثاَقَل‬ ‫ِاَّثاَقَل‬


‫ِاَّد َثَر‬ ‫َتَد َّثَر‬ ‫َّد َّثَر‬ ‫ِاَّد َّثَر‬
‫ِاَّذ َك َر‬ ‫َتَذَّك َر‬ ‫َّذ َّك َر‬ ‫ِاَّذ َّك َر‬
‫ِاَّز َّيَن‬ ‫َتَز َّيَن‬ ‫َّز َّيَن‬ ‫ِاَّز َّيَن‬
‫ِاَّصَّبَر‬ ‫َتَص َّبَر‬ ‫َّصَّبَر‬ ‫ِاَّصَّبَر‬
‫َتَض َّر َع ِاَّضَّر َع‬ ‫َّضَّر َع‬ ‫ِاَّضَّر َع‬
‫َتَطَّر َب ِاَّطَّر َب‬ ‫َّطَّر َب‬ ‫ِاَّطَّر َب‬
‫ِاَّظَّلَم‬ ‫َتَظَّلَم‬ ‫َّظَّلَم‬ ‫ِاَّظَّلَم‬

Dan terkadang tidak berupa huruf-huruf yang telah disebutkan di atas.

Contoh: ‫ ِاَّش اَجَر‬dan ‫ِاَّس َم َع‬


j. Apabila ada huruf ta’, yang mati sebelum huruf dal, maka huruf ta’ wajib diganti dal dan
kemudian diidghamkan ke dalam huruf dal sesudahnya.
Lafal Asal Jamak dari

‫ِعَّداٍن‬ ‫ِعْتَد اِن‬ ‫ٍد‬


‫َعُتْو‬

k. Apabila ada huruf nun mati yang berada sebelum huruf mim atau ba’, maka huruf nun itu
harus diganti mim.
Lafal Di baca

‫ِإَمْنَح ى‬ ‫ِإَحَّمى‬

‫ُس ْنَبل‬ ‫ْمُسَبل‬

Penggantian hanya dalam pelafalan, tidak dalam penulisan.

l. Huruf wawu diganti mim sesudah huruf ha’yang ada padanya dibuang.

Lafal Asal Jamaknya

‫َفٍم‬ ‫ُفْو ٌه‬ ‫َأْفَو اٍه‬

Dan pada saat lafal tersebut dimudhafkan, maka huruf mim boleh dikembalikan berupa
huruf aslinya yaitu wawu, dan boleh huruf mim sebagai pengganti wawu tadi ditetapkan.

Lafal Keterangan

‫هَذ ا ُفْو َك‬ Mim dikembalikan berupa wawu


‫َه َذ ا َفُم َك‬ Mim sebagai pengganti wawu
ditetapkan

m. Apabila ada dua hamzah berkumpul dalam satu kalimat, maka diperinci:[6]
1) Hamzah yang pertama berharakat dan yang kedua sukun.
a) wajib mengganti hamzah kedua dengan huruf ‘illat yang sesuai dengan harakatrnya hamzah
pertama.
Harakat hamzah pertama:
1. fathah
Hamzah kedua diganti alif.

Lafadz Asal

‫َأْاَم َن الَّر ُسْو ُل ِبَم ا ُأْنِز َل ِإَلْيِه ِم ْن‬


‫َأْأَم َن‬
‫َر ِّبِه‬

2. kasrah
Hamzah kedua diganti ya’.

Lafadz Asal

‫َو َم ا َز اَد ُهْم ِإاَّل ِإْيَم اًنا َو َتْس ِلْيًم ا‬ ‫ِإْأَم اًنا‬

3. dhammah
hamzah kedua diganti wawu.

Lafadz Asal

‫َو َأَّم ا َم ْن ُأْو ِتَي ِكَتاَبُه ِبِش َم اِلِه‬ ‫ُأْأِتَي‬


2) Hamzah yang kedua sukun dan yang pertama berharakat.
Dalam hal ini tidak biasa bertempat pada permulaan( ‫ )موضع الفاء‬dikarenakan susahnya
membaca huruf yang mati yang berada dipermulaan.

Apabila terletak pada urutan kedua ( ‫العين‬ ‫)موضع‬, maka hamzah yang pertama di
idhghomkan pada hamzah yang kedua. Sedangkan apabila terletak pada urutan ketiga (
‫)موضع الالم‬, maka hamzah kedua diganti ya’, dikarenakan jatuh setelah hamzah yang
sukun.

Lafadz Asal Keterangan

‫َس َّأْاُل‬ ‫َس ْئَئاُل‬ ‫موضع العين‬


‫ِقَر ْأٌي‬ ‫ِقَر ْأٌأ‬ ‫موضع الالم‬

3) Keduanya Berharakat
Apabila harakat hamzah kedua itu fathah dan huruf sebelumnya berharakat fathah atau
dhammah, maka hamzah kedua diganti wawu.[7]

Lafadz Asal Keterangan

‫َأَو اِدُم‬ ‫َأَأاِدُم‬ Bentuk jamak dari ‫َأْاِدٌم‬


‫ُأَو ْيِدُم‬ ‫ُأَؤ ْيِدُم‬ Bentuk tashghir ‫َأْاِدٌم‬

Sedangkan apabila harakat sebelumnya kasrah, maka hamzah diganti ya’.

Lafadz Asal

‫ِإَيٌّم‬ ‫ِإَأٌّم‬
Apabila hamzah yang kedua berharakat dhammah dan dia bertempat pada akhir kalimat,
maka hamzah yang kedua diganti ya’, baik jatuh setelah fathah, dhammah atau kasrah.

Lafadz Asal Keterangan


‫َقْر َأٌي‬ ‫َقْر َأٌأ‬ Jatuh setelah fathah

‫ِقْر ِأٌي‬ ‫ِقْر ِأٌأ‬ Jatuh setelah kasrah

‫ٌقْر ُأٌي‬ ‫ُقْر ُأٌأ‬ Jatuh setelah dhammah

Sedangkan apabila tidak berada di akhir kalimat, maka hamzah yang kedua diganti
wawu, baik jatuh setelah fathah, kasrah atau dhammah.

Lafadz Asal Keterangan

‫َأُو ٌّب‬ ‫َأُأٌّب‬ Jatuh setelah fathah

‫ِإُو ٌّم‬ ‫ِإُأٌّم‬ Jatuh setelah kasrah

‫ُأُو ٌّم‬ ‫ُأُأٌّم‬ Jatuh setelah dhammah

Apabila ada dua humzah berkumpul pada satu kalimat, hamzah pertama berharakat fathah
serta menunjukkan mutakalim dan hamzah yang kedua berharakat dhammah, maka hamzah
yang kedua boleh diganti wawu dan boleh tidak.

Lafadz Keterangan

‫َأُأُّم‬ Menetapkan hamzah


‫َأُأُّم‬
‫َأُو ُّم‬ Diganti wawu

Apabila ada alif yang jatuh setelah kasrah atau jatuh setelah ya’ tashghir, maka alif
tersebut diganti diganti ya’.

Lafadz Asal Alif diganti ya’

‫َم َص اِبْيَح‬ ‫َم َص اِباَح‬ ‫َم َص اِبْيَح‬


‫ُغ َز ِّيٌل‬ ‫ُغ َز ْياٌل‬ ‫ُغ َز ْيِيٌل‬

n. Apabila ada wawu bertempat pada akhir kalimat serta dalam keadaan:
1) jatuh setelah kasrah
2) jatuh setelah ya’ tashghir
3) jatuh sebelum ta’ ta’nis

4) jatuh sebelum dua huruf tambahan pada wazan ‫َفْع اَل ُن‬
Maka wawu harus diganti ya’.

Lafadz Asal Keterangan

jatuh setelah kasrah


‫َرِض َي‬ ‫َرِض َو‬

jatuh setelah ya’ tashghir


‫ُج َر ٌّي‬ ‫ُج َر ْيٌو‬

‫َش ِج َيٌة‬ ‫َش ِجَو ٌة‬ Jatuh sebelum ta’ ta’nis

jatuh sebelum dua huruf


‫َغ ِز َياُن‬ ‫َغ ِز َو اُن‬ tambahan pada wazan ‫َفْع اَل ُن‬
alif dan nun

o. wawu jatuh setelah kasrah dan bertempat pada mashdar dari fi’il yang mu’tal ‘ain.

Lafadz Asal Keterangan

‫ِقَياًم ا‬ ‫ِقَو اًم ا‬ Mashdarnya ‫َقاَم‬


‫ِص َياًم ا‬ ‫ِص َو اًم ا‬ Mashdarnya ‫َص اَم‬

p. wawu jatuh setelah kasrah serta dalam keadaan:

1) menjadi ‘ain fi’ilnya mashdar yang mengikuti wazan ‫ِفَع ٌل‬, maka harus di shohihkan.
Lafadz keterangan

‫ِح َو ٌل‬ Masdar ‫َيُحْو ُل‬ ‫ِح َو اًل َح اَل‬


2) Menjadi ‘ain fi’ilnya jama’ yang ketika mufrad ‘ain fi’il tersebut dii’lal atau berharakat
sukun, maka wawu diganti ya’.

lafadz asal Keterangan

Ketika mufrad ‘ain fi’il


tersebut dii’lal
‫ِدَياٌر‬ ‫ِد َو اٌر‬
‫َداٌر‬ ‫أصله َد َو ٌر‬

Berharakat sukun ketika


‫ِثَياٌب‬ ‫ِثَو اٌب‬ mufrod ‫َث ْو ٌب‬

3) Menjadi ‘ain fi’ilnya jama’ yang mengikuti wazan ‫ِفَع َلٌة‬, maka wawu harus dishohihkan.
Lafadz Keterangan

‫ِع َو َد ٌة‬ Jama’nya ‫ُع ْو ٌد‬

4) Menjadi ‘ain fi’ilnya jama’ yang mengikuti wazan ‫ِفَع ٌل‬, maka boleh dishohihkan dan boleh
diganti ya’, akan tetapi diganti ya’ lebih baik.

Lafadz Keterangan

‫ِد َو ٌم‬ Mufrodnya

‫ِدَيٌم‬ ‫ِد ْيَم ٌة‬

q. Wawu jatuh setelah harakat fathah dan bertempat pada lam fi’il serta bertempat pada urutan
empat ke atas, maka wawu diganti ya’.

Lafadz Asal

‫ُم ْع َطَياِن‬ ‫ُم ْع َطَو اِن‬


r. Alif jatuh setelah harakat dhammah, maka harus diganti wawu.

Lafadz Asal Keterangan

‫ُضْو ِر َب‬ ‫ُضاِر َب‬ Dimabni majhulkan

s. Ya’ mati ketika isim mufrad dan jatuh setelah harakat dhammah, maka ya’ diganti wawu.

Lafadz Asal

‫ُم ْو ِقٌن‬ ‫ُم ْيِقٌن‬

t. Kalimat yang ‘ain fi’il nya berupa huruf ‘illat ya ( ‫يائي‬ ‫)معتل‬, ketika jama mengikuti wazan
‫ ُفْعٌل‬, maka dhammah yang sebelum ya’ tersebut dibaca kasrah.
Lafadz Asal Keterangan

‫ِهْيٌم‬ ‫ُهْيٌم‬ Mufrodnya ‫َأْهَيُم‬

u. Ya’ ketika dalam keadaan:


1) Menjadi lam fi’il
2) Jatuh sebelum ta’ ta’nis
3) Jatuh sebulum tambahan alif dan nun serta huruf sebelum ya’ berharakat dhammah
Maka ya’ diganti wawu.

Lafadz Asal

‫َقُض َو‬ ‫َقُض َي‬


‫َم ْر ُمَو ٌة‬ ‫َم ْر ُمَيٌة‬
‫َر ُمَو اُن‬ ‫َرُمَياُن‬
v. Ya’ yang menjadi ‘ain fi’ilnya kalimat yang ikut wazan ( ‫ )ُفْع َلى‬serta menunjukan sifat maka
boleh dua bentuk
1) ya’ boleh ditetapkan dengan mengganti harakat dhammah pada huruf sebelum ya’ tersebut
menjadi kasrah.
2) Ya’ diganti wawu dengan menetapkan harakat dhammah pada huruf sebelum ya’ tersebut.

Lafadz Asal Keterangan

‫ِض ْيَق ى‬ Muannasnya


‫ُض ْيَق ى‬
‫ُضْو َقى‬
lafadz ‫َأَض َيَق‬

Anda mungkin juga menyukai