Topic : Power factor
Pengukuran Power factor --Penulis : AHMAD SEHABUDIN-- Email :
sehabudin_ahmad@[Link]--,Pak/Bu saya mau tanya :Kalo mengukur factor daya/power
factor pada trafo distribusi disisi [Link] 20 KV dan Sisi Teg Rendah 380V apakah
hasilnya [Link] mengerti bahwa Power factor dipengaruhi oleh jenis beban,tapi kalo
sebelum dan sesudah trafo bagaimana [Link] Prinsip pengukuran Faktor daya sendiri
gimana [Link] kasih atas bantuan Bapak & Ibu, Dikirim Kamis, 14 Apr 2005
Pengukuran Power factor --Penulis : toto bin Hamidin-- Email :
toto@[Link]--,Faktor daya di sisi primer tidak sama dengan di sisi sekunder trafo,
karena di trafo sendiri ada rugi daya (resistip/panas/tahanan kumparan dan rugi besi
dan induktif/bocoran medan magnet), seingga faktor daya di sisi primer merupakan
resultant faktor daya beban dan faktor daya trafo. untuk pengukurannya menggunakan
cos phi meter atau dengan perhitungan (P/VI, watt/VA). Jika beban trafo nol, cos phi
trafo mendekati nol, karena yang dominan adalah arus penguat (induktip) makin besar
beban, faktor daya di sisi primer trafo makin mendekati faktor daya beban di sisi
sekunder., DiKirim Rabu, 20 Juli 2005
Topic : daya reaktif
perhitungan daya reaktif --Penulis : yana muhdiana-- Email :
yana_mlt@[Link]--,assalamu'alaikum wr. wb saya ada sedikit pertanyaan yang dimana
di customer kami di tagihan listrik setiap bulannya tercantum nilai kVAR yang dimana
bila di buat rupiah menjadi besar, padahal didalam system kelistrikannya telah
dilengkapi dengan Capasitor bank. Sebagai gambaran di dalam tagihan sebelumnya nilai
kVAR ini tidak ada, mulai muncul 3 bulan ini dengan dinilai yang semakin [Link]
harapan saya ada yang bisa memberi solusi untuk masalah ini. Sebelum dan sesudahnya
diucapkan terima kasih., Dikirim Sabtu, 6 Agt 2005
perhitungan daya reaktif --Penulis : Syaiful Siliganda-- Email :
power_ipul@[Link]--,Menurut pendapat saya, jika Kvar sudah cukup besar melampaui
batas toleransi,sebaiknya dikenakan denda kvar saja. Jika tidak ini akan merugikan
kapasitas daya total dari PLN yang terbuang percuma., DiKirim Selasa, 9 Agt 2005
Topic : POWER_QUALITY
Indikator Mutu Tenaga Listrik --Penulis : Ignatius - Rendroyoko-- Email :
rendroyoko@[Link]--,Menilai Kualitas Listrik Kita Salah satu tujuan dari misi PLN adalah
menyediakan tenaga listrik dengan kualitas yang baik. Seperti apakah tenaga listrik
yang berkualitas baik itu? Beberapa pendapat mengatakan kualitas tenaga listrik dapat
dilihat dari tiga parameter, yaitu : tegangan, arus dan frekuensi tenaga listrik. Tenaga
listrik yang berkualitas baik adalah tenaga listrik yang mempunyai tegangan, arus dan
frekuensi sesuai dengan "rating"-nya dan tidak melebihi batas toleransi yang
ditetapkan. Namun dalam standar IEC (International Electrotechnical Commission)
dijelaskan bahwa istilah kualitas tenaga listrik lebih mengacu kepada kualitas tegangan.
Parameter Kualitas Tenaga Listrik Kualitas tenaga listrik dipengaruhi oleh beberapa
parameter. Hal-hal yang mempengaruhi kualitas tenaga listrik dijelaskan dibawah ini : §
Variasi Tegangan Variasi tegangan atau tegangan yang berubah-ubah meliputi variasi
pada besar (magnitudo) dan frekuensi tegangan. Hal ini biasa disebabkan oleh
perubahan beban pada sistem distribusi, perubahan pada tap changer trafo atau proses
switching capacitor bank. § Variasi Arus Meliputi masalah perubahan phasa (phase)
antara tegangan dan arus. Hal ini disebabkan oleh beban reaktif. § Ketidak seimbangan
Tegangan dan Arus Ketidak seimbangan tegangan dan arus ini biasa terjadi pada sistem
tiga-phasa. Sumber utama masalah ini adalah beban yang tidak seimbang pada masing-
masing phasa. § Distorsi Harmonisa Tegangan dan Arus Distorsi harmonisa disebabkan
oleh beban-beban dan peralatan-peralatan yang tidak linear seperti beban-beban yang
mempergunakan rangkaian elektronika daya. § Fluktuasi Tegangan Fluktuasi tegangan
adalah perubahan tegangan yang terjadi secara cepat. Fluktuasi tegangan lebih dikenal
sebagai flicker yang sering kita rasakan sebagai kedip pada lampu. Hal-hal inilah yang
mempengaruhi kualitas tenaga listrik. Tenaga listrik akan mempunyai kualitas yang baik
bila parameter-parameter tersebut dapat dihilangkan atau paling tidak diperkecil.
Indikator Kualitas Tenaga Listrik Didalam Laporan Tahunan PLN tahun 1999 dan 2000
dicantumkan laporan tentang kualitas dan keandalan tenaga listrik. Disitu dijelaskan
bahwa keandalan suplai tenaga listrik diukur dengan dua indikator SAIDI (System
Average Interruption Frequency Index) dan SAIFI (System Average Interruption
Frequency Index). Namun tidak dijelaskan indikator untuk mengukur seberapa baik
kualitas tenaga listrik yang dihasilkan PLN. Salah satu indikator yang dapat dipakai
untuk mengukur kualitas tenaga listrik adalah SARFI (System Average RMS (variation)
Frequency Index) atau jumlah variasi tegangan RMS perpelanggan per tahun. Kalkulasi
matematis dari indikator ini adalah : dimana : X = batas tegangan rms, angka yang
dipakai : 140, 120, 110, 90, 80, 70, 50 dan 10 Ni = jumlah pelanggan yang mengalami
perubahan tegangan dengan magnitudo diatas X% untuk X>100 atau dibawah X%
untuk X<100 pada saat pengukuran i NT = jumlah pelanggan yang dilayani pada sistem
yang dinilai Indikator SARFI menunjukkan jumlah variasi tegangan per pelanggan per
tahun dengan mengacu pada batas X. Hal ini dapat memungkinkan penilaian mutu
tegangan pada beberapa level tegangan yang berbeda. Sebagai contoh, SARFI70
menunjukkan jumlah pelanggan yang mengalami perubahan tegangan lebih rendah dari
70% tegangan nominal. Dari batas-batas tegangan X tersebut dapat dibuat klasifikasi
lebih lanjut, yaitu : tegangan lebih (overvoltage) untuk X = 140, 120 dan 110), tegangan
kurang (undervoltage) untuk X = 90, 80, 70, dan 50, serta interupsi suplai listrik untuk X
= 10. Indikator SARFI dapat dibedakan menjadi tiga indikator berdasarkan lama waktu
kejadian : SIARFI (System Instantaneous Average RMS (variation) Frequency Index)
atau jumlah variasi tegangan singkat (0.01 - 0.6 detik) per pelanggan per tahun,
SMARFI (System Momentary Average RMS (variation) Frequency Index) atau jumlah
variasi tegangan (0.5 - 3 detik) per pelanggan per tahun, STARFI (System Temporary
Average RMS (variation) Frequency Index) atau jumlah variasi tegangan temporer (3 -
60 detik) per pelanggan per tahun Dengan indikator ini kita dapat mencoba menilai
seberapa baik kualitas tenaga listrik pada suatu sistem. Setelah sekian lama fasih dalam
mempergunakan SAIDI dan SAIFI, tidak ada salahnya para engineer di unit-unit
distribusi mulai mencoba menggunakan indikator ini untuk menilai kualitas tenaga
listrik. Semoga itu akan merupakan satu lagi langkah maju yang dilakukan PLN di abad
baru ini. Penulis : Ir. I. Rendroyoko, NIP : 7095097P Corporate Planning PT. PLN
(PERSERO) DISTRIBUSI JABAR & BANTEN, Dikirim Jumat, 7 Feb 2003
Indikator --Penulis : Zulkarnaen Sadikin-- Email : zulkarnaen@pln-
[Link]--,Seyogianya topik diatas menjadi bahan kajian PLN Jasa Teknik Kelistrikan
(LMK)atau PLN P3B untuk lebih dalam mempelajari fenomena SARFI dan dampaknya
kepada pelanggan (tertentu ?) PLN. Apakah sudah bisa sejauh itu tingkat jaminan
kualitas pelayanan PLN, sementara masih banyak hal-hal yang lebih mendasar yang
menjadi tuntutan pelayanan dari pelanggan pada umumnya. Namun sungguh sangat
menggembirakan bahwa di Unit Operasi PLN dijumpai orang2 yang masih bisa
mempertahankan tingkat keperdulian akademisnya seperti ini. , DiKirim Selasa, 11 Feb
2003
Topic : penurunan_tegangan
Pengaruh & Penyebab tegangan turun pada pelanggan --Penulis : Dwi Suryo
Abdullah-- Email : dwi_suryo@[Link]--,Tegangan pada saluran distribusi
merupakan salah satu indikator kualitas atau mutu pelayanan, karena penurunan
tegangan akan mengakibatkan daya listrik yang diserap oleh beban (lampu, TV, kulkas,
Seterika dll) berkurang, sehingga kalau beban itu mesin penetas telur, maka temperatur
ruang penetas telur, akan tidak stabil ini, sehingga bisa jadi tidak telur tidak menetas
tetas bagaimana solusi kita.? sebagai penyedia listrik.... , Dikirim Rabu, 29 Jan 2003
Pengaruh --Penulis : -- Email : --,Yth Sdr, Dwi Suryo Abdullah, permasalahan
mutu tegangan yang sering turun naik ini sepintas terlihat sederhana, tetapi bila kita
sudah masuk kedalam persoalannya betapa luasnya permasalahan ini. Pertama : koridor
variasi tegangan untuk konsumen sebenarnya sudah diatur dalam SPLN no 1 tahun..? ,
yaitu + 5 %, - 10 % dari tegangan nominal. kalau kita bicara teknik dasar (tidak masuk
area cost and benefit rasio), ditingkat tegangan rendah ( 110 V, 220 V, 380 V ), faktor
faktor yang mempengaruhi adalah, besar beban, kurva beban, faktor daya beban,
perkembangan beban. setelah itu baru ditentukan bentuk jaringan, jenis dan penampang
penghantar yang akan dipakai agar tegangan selalu berada dalam range standar
tegangan diatas. --- Jadi sangat sederhana --, Kurva beban ternyata membawa implikasi
yang sangat berarti kepada variasi tegangan,susut kwh dijaringan dan perhitungan
ekonomi investasi jaringan, sehingga melahirkan aktifitas yang disebuat load
management merupakan salah satu bagian dari Demand side management (DSM) Pada
Tegangan Menengah, mutu tegangan mulai dipengaruhi oleh persoalan keseimbangan
beban( komponen symetris) dan efek dari Impedansi jaringan yang harus
diperhitungkan baik untuk batas atas maupun batas bawah tegangan. Pada ketegangan
tinggi atau extra tinggi, mutu tegangan akan dipengaruhi oleh pola pembebanan
pembangkit, konfigurasi jaringan , impedansi jaringan dan load flow. dan di tegangan
tinggi ini masalah pengaturan tegangan sudah mempunyai intersection dengan masalah,
proteksi, stabilitas dll. walaupun terlihat komplek masalahnya, tetapi ilmu ini bukan
tergolong ilmu baru dalam bidang kelistrikan. setelah pembicaraan teknik dasar diatas,
mari kita melihat kenyataan pekerjaan kita, untuk tingkat pembangkitan dan tegangan
tinggi penggunaan disiplin ilmu kelistrikan cukup baik, untuk jaringan tegangan
menengah,dan jaringan tegangan rendah sentuhan ilmu dasar listrik tadi agak kurang
konsisten. sebagai contoh hampir tidak ada kota besar di Indonesia ini yang mempunyai
Master Plan jaringan tegangan menengah sehingga sulit mengatakan bahwa kita sudah
mengkonstruksi jaringan TM kita untuk menghasilkan tegangan dalam koridor SPLN NO
1 diatas. Ilmunya mudah tetapi kalau tidak diaplikasikan secara konsiten,maka hasilnya
saat ini, yaitu mutu tegangan pelayanan termasuk dalam 5 besar teratas keluhan
konsumen kita. mudah mudahan kita mau kembali mambaca ilmu dasar yang
menyangkut core bisnis kita dan mengaplikasikannya., DiKirim Rabu, 29 Jan 2003
Pengaruh --Penulis : Dwi Suryo Abdullah-- Email : dwi_suryo@pln-
[Link]--,Terima atas penjelasan bapak cuman sayang bapak nda memunculkan
identitasnya, tapi bagi saya penjelasan dari masalah turunannya tegangan sedikit dapat
memberikan gambaran bagi kita bahwa sebenarnya masih ada titik kelemahan kita
sebagai pengelola bisnis kelistrikan di negara ini, kelemahan itu tidak dikarenakan
master plan di sistem Jaringan Tegangan Menegah (JTM) tidak sebagai di sistem SUTT
atau SUTET. Saya bisa mengerti atas penjelasan tersebut tetapi yang kurang saya bisa
menerima, karena bisnis di sektor kelistrikan di Indonesia konsumen terbesar berada di
tegangan menengah atau tegangan rendah , konsumen itulah yang
merasakan/menikmati keberadaan listrik di negeri ini. Untuk itu perlu ada pembenahan
sistem jaringan tegangan menengah bagi para pengelola listrik di negeri ini., DiKirim
Rabu, 5 Feb 2003
Pengaruh --Penulis : -- Email : --,Yth Sdr Dwi Suryo Abdullah, kalau kita
bicara action plan, memang betul kita harus membenahi pengelolaan JTM dengan baik,
dan sekali lagi kedengarannya sederhana......> Agar kita tidak terjebak penyelesaian
penyelesaian jangka pendek yang tambal sulam, maka kita perlu memulai dari Blue Print
(Master Plan) JTM kita kedepan itu akan seperti apa ?....>Bagaimana kerapatan, dan
kurva beban saat ini, dan bagaimana lima, sepuluh, tahun kedepan....>Bagaimana
variasi tegangan saat ini, dan akan kita setting seperti apa 10 tahun kedepan, dan apa
saja yang akan kita kontruksi dalam kurun waktu tsb....>Spektrum variasi tegangan ini
tidak bisa berjalan sendiri tapi ada kwalitas listrik lain yang harus kita penuhi secara
simultan ( frekwensi, Voltage dip, kendalan, harmonisa dll) ambil contoh saja
Keandalan.....> berapa harga kWh yang tidak tersalurkan, dan berapa setting loss of
load probability (LOLP)untuk saat ini, 5 tahun dan 10 tahun kedepan.....> bagimana
betuk (Patern) dari feeder JTM saat ini, 5 tahun, 10 tahun kedepan (Spindel, opeen loop,
radial cluster, dll) berapa lama waktu penemuan titik gangguan, berapa lama waktu
pemulihan gangguan maksimum untuk sistem yang didesign..........> inilah yang harus
tertuang di Master plan yang saya maksud, kalau kita mau sedikit mundur kembali
mengingat Hand Book transmission & Distribution dari Westinghause yang diterbitkan
tahun 70 an semua ini sudah dipaparkan dengan gamblang,......> mengenai rencana
masa depan sebenarnya kita sudah pernah memulai apa yang dinamakan RENSALITA,
suatu metoda perencanaan rolling plan yang cukup baik, tetapi baru dibuat sampai
tingkat korporat baru sampai tahap kebijakan, belum detail, belum sampai ke action
plan, belum sampai tingkat cabang/sektor, belum sampai unit lebih kecil,dan belum
menjalar kejangka waktu 10 tahun, sudah keburu almarhum.....> Jadi yth sdr Dwi suryo
Abdullah, jangan kita meletakkan beban terlalu berat pada kawan kawan pengelola JTM,
usaha mereka sifatnya hanya parsial, tetapi kuncinya adalah pada pemegang master
kebijakan yang kurang tersistem, kurang konsisten, kadang kadang larut dalam eforia
jangka pendek.....> sebagai contoh saat ini diambil keputusan penalti thd lama
gangguan dan jumlah gangguan...> sistem pengukurannya, monitoringnya, wasitnya,
mekanisme anggaranya, mekanisme penetapan Tingkat Mutu pelayanannya (TMP)
bagaimana ?.....> Jadi memang kita masih bekerja "jalan dululah mudah mudahan
sistemnya bisa ketemu dan dapat dijalan". wassalam , DiKirim Senin, 17 Feb 2003
Pengaruh --Penulis : Dwi Suryo Abdullah-- Email : dwi_suryo@pln-
[Link]--,Terima kasih sekali atas penjelasannya.... terus terang saya tidak
bermaksud meletakkan permasalahan ini kepada kawan-kawan yang mengelola JTM,
tetapi maksud saya mari kita mencoba dengan menggunakan ilmu dasar listrik yang
telah kita miliki untuk berbuat yang terbaik buat bangsa Indonesia melalui perusahaan
yang kita cintai PLN. Bagi saya terus terang ini merupakan tantangan yang pasti bisa
kita pecahkan apalagi dengan dimulainya program Otonomi Daerah, maka tuntutan ke
arah peningkatan pelayanan mutlak harus bisa dipecahkan. Ambil contoh kita buat
master plan kecil lebih dahulu seperti Wilayah Bali, katakanlah sebagai uji coba. Kalau
kita lihat pada JTM nya saya pikir cukup bagus, hanya yang menjadi PR, bagi kita adalah
bagaimana mengolah data yang ada untuk 1, 5 bahkan 10 tahun kedepan karena
menurut saya sudah perlu mendapatkan perhatian yang serius tidak hanya sistem 20 kV
saja tetapi, juga bagaimana kemampuan supply (Generator) yang ada sekarang,
termasuk didalamnya load flow nya.... apakah kabel laut yang ada masih layak untuk 5
atau 10 tahun ke depan. Kata kunci bagi saya adalah kemauan kita untuk mengevaluasi
sistem pada masing-masing Wilayah, Island, region ya..... pokoknya kita cobalah,
terserah daerah mana dulu yang menjadi uji coba, dengan tujuan peningkatan
pelayanan. Memang saya percaya kita secara Man Power kita mampu, tetapi kapan kita
mulai...... , DiKirim Senin, 24 Feb 2003
Pengaruh --Penulis : yudison MB-- Email :
yudison@[Link]--,Yth,Sdr Suryo Dwi Abdullah, menilik optimisme sdr, maka
secara GARIS BESAR action plan yang harus kita lakukan adalah sbb: .......>1. Buat
peramalan beban 5- 10 thn kedepan ( akan lebih tajam lagi kalau menggunakan metoda
micro zoning planning) ......>[Link] pola JTM 5-10 tahun kedepan, atur migrasi
perubahan pola JTM saat ini menuju pola yang direncanakan.....>[Link] posisi
Gardu dist, dan GH 5-10 thn kedepan.....>[Link] posisi dan kapasitas GI dan pola
SUTT 150 kV 5-10 thn kedepan.....>[Link] kapasitas pembangkit dan kapasitas
kabel laut untuk 5-10 thn kedepan....>[Link] perkiraan biaya investasidan biaya
operasi yang dibutuhkan pertahun untuk 10 tahun kedepan......>[Link] besarnya tarip
yang harus diterapkan kepada konsumen berdasarkan biaya yang dikeluarkan (pakai
metoda LRMC dan metoda Peak, Off peak).....>8. Lakukan optimasi sehingga apa yang
dibangun menghasilkan perhitungan tarip yang layak.....>9. lakukan sosialisasi untuk
mendapat masukan dan dukungan bersama.....>[Link] sudah berjalan jadikan master
plan ini menjadi rolling plan( setiap thn di update dan jangkauannya ditambah 1 thn
kedepan), sehingga master plan ini semakin tajam dan tetap menjadi tool untuk melihat
10 thn kedepan......>11. Beberapa tantangan terberat adalah ..a. merealisasikan action
plan....[Link] unit pelaksana dilapangan konsisten mempedomani master plan ini...c.
Apakah top manajemen akan mempedomanidan menyempurnakannya dalam membuat
kebijakan .....>12 Lalu kita ikuti pesan industri olah raga Nike " JUST DO IT NOW". Akhir
kalimat,Bukan maksud menggurui, tetapi inilah garis besar langkah2 sederhana yg saya
ketahui. kalau kurang mohon ditambah dan kalau salah mohon dikoreksi Trims, yudison
kirim, DiKirim Selasa, 25 Feb 2003
Pengaruh --Penulis : arifien bay fiermansjah-- Email :
arifienb@[Link]--,Ujung-ujungnya, berapa besar dana yang PLN mampu sediakan
untuk itu semua ? Maukah rakyat menerima beban ini, melalui kenaikan tarif ? Memang
kita masih hidup di alam 400 dolar-AS per kapita., DiKirim Kamis, 27 Feb 2003
Pengaruh --Penulis : -- Email : --,Yth sdr Arifien Bay Fiermansyah,
Nuansa 400 US$/perkapita mungkin tidak harus membuat kita Skeptis dan berhenti
menggapai visi yg telah dituangkan dalam Budaya perusahaan ......>1 Fokus yg kami
diskusikan dg sdr Dwi Suryo Abdullah adalah "Minimal ada suatu master plan sebagai
percontohan" Jadi langkah-2 yg dikemukakan adalah suatu action plan untuk mebuat
Master Plan sebagai langkah awal pengelolaan JTM yang lebih baik ......> 2 Walaupun
semenjak thn 1998 PLN kesulitan dana untuk investasi, tapi nyatanya dalam periode
tersebut ( 1998-2002) PLN masih melakukan investasi, walaupun jumlahnya relatip kecil
(jadi dengan kenyataan ini saya tidak perlu bersikap skeptis) .....> 3 Dana Investasi
sekecil apapun kalau kita gunakan dengan mempedomani suatu master plan yang sudah
direncanakan dg baik tentu akan lebih efektip dan effisien ......>4 disaat kondisi
keuangan sulit seperti ini, marilah kita menggunakan waktu kita untuk membuat dan
merumuskan strategi jangka panjang, sehingga sekecil apapun resources yg kita miliki
bisa digunakan dengan optimal, untuk mendukung pencapaian visi yg telah dirumuskan
untuk kita [Link], DiKirim Jumat, 28 Feb 2003
Pengaruh --Penulis : Dwi Suryo Abdullah-- Email : dwi_suryo@pln-
[Link]--,Yth, sdr. Arifin.. Diskusi akan semakin menarik apabila saudara terus
mengikutinya, terima kasih atas pendapatnya bahwa bukan mencari ujungnya di rupiah
atau cost untuk menyelesaikan segala masalah tetapi seberapa besar usaha rekan-rekan
kita khususnya yang mengelola JTM untuk bisa keluar dari masalah turunnya tegangan.
Secara teknis PLN dalam hal ini belum memiliki master plan, saya setuju sehingga sulit
bagi pln untuk mengatasinya tetapi apakah itu saja. Kalau kita coba pelan-pelan
membuat semacam data base yang memuat tentang jumlah pelanggan, nomor gardu,
kapasitas terpasang, dsb pada masing-masing kantor Unit Pelayanan Pelanggan sebagai
bahan evaluasi dalam membangun sistem JTM . Maka kita akan tahu sudah seberapa
besar beban penghantar JTM pada daerah itu, sehingga akan menemukan Load Factor
tranformator 20KV/380V. Dari situ kita akan bisa memetakan jaringan mana yang
tegangan sangat rendah sehingga perlu untuk di pasang lagi transformator atau
memindahkan atau mengganti dengan kapasitas yang lebih besar dll ...... usaha ini
memang sesaat bisa mendatangkan hasil. Dengan melihat master plan yang ada maka
setiap usaha yang dilakukan di Unit Pelayanan harus selalu dilakukan evaluasi. Dalam
hubungannya dengan biaya kita bisa usulkan dalam suatu Rencaran Anggaran Investasi
di tahun mendatang dan bahkan 5 tahun ke depan tapi harus konsisten. Kalau kita
menenggok ke sektor Pembangkitan saya yakin Master Plan 5 s/d 10 ke ke depan telah
ada ini terlihat dengan adanya penandatanganan 27 PPA ketika Bp. Dr. Juhal sebagai
Direktur Utama PLN. Tetapi ini saya tidak melihat perkembangan sistem JTM dan JTR
untuk masuk dalam 27 PPA tersebut sehingga sangat mustahil dalam sebuah sistem
daya dimana kapasitas pembangkitan bertambah terus sementara Jaringannnya
berhenti, jadi setiap ada penambahan 400 MW di sektor Pembangkitan maka diperlukan
jaringan dan GI yang kapasitasnya minimal sama jika losses 9 % kita kesampingkan,
begitu pula konsumen juga sudah siap menggunakan energi listrik itu. Bila tidak akan
terjadi seperti yang dialami di Mataram, Palembang, Lampung, dan bebearap kota lain
yang menunggu giliran pemadaman. Memang masih mending lampu nyala dengan
tegangan dibawah standart dibandingkan dengan padam semalam tetapi apakah ini
tidak diupayakan. Karena kalau saudara jalan-jalan di Legian di malam hari maka listrik
merupakan kebutuhan yang fatal sehingga berapapun mahalnya asal tidak padam maka
pasti akan di bayar. Belum di Manado diln. Boelevard, palembang di jl. Rivai. sekian dan
terima kasih. , DiKirim Jumat, 28 Feb 2003
Pengaruh --Penulis : tri prantoro-- Email :
torro150566@[Link]--,bapak-bapak sekalian.....ijinkan saya ikut nimbrung dalam
diskusi permasalahan "drop tegangan' atau "penurunan tegangan" ini. Menurut hemat
saya ada 2 kriteria "drop tegangan", yaitu : 1. drop tegangan karena standard konstruksi
jaringan yang tidak terpenuhi, dalam hal ini jaringan distribusi terlalu panjang lebih dari
20 KMS ( menurut yang pernah saya lihat, mohon koreksi jika salah standarda di IEEE
untuk beban 5 MVA , maka panjang jaringan adalah 15 atau 20 KMS. Nah menurut hemat
saya jaringan listrik PLN sudah keluar standard teknis karena ada yang panjangnya lebih
dari 80 KMS , bahkan ada yang sampai 200 KMS lebih. ( penulis pernah mengoperasikan
jaringan listrik TM dengan panjang > 200 KMS , untuk menghindari pemadaman dengan
tegangan ujung TM berkisar 11,6 kV. 2. Drop tegangan karena opersional sistem, Untuk
mengurangi atau menghilangkan pemadaman pada saat beban puncak, maka system
kadang ( bahkan sering ) dioperasikan dalam kondisi tegangan yang diturunkan , dalam
istilah nya BROWNOUT, sehingga tegangan sumber turun , dengan otomatis tegangan
terima juga turun. Untuk keluar dari permasalah drop tegangan yang mana sudah masuk
dalam TMP yang nantinya akan membutuhkan biaya yang besar, sudah seharusnya PLN
menentukan kriteria teknis panjang jaringan TM yang disesuaikan dengan bebannya, da
untuk operasi system BROUWN OUT tdk diperkenankan dan setting tegangan 20 kV GI di
set pada 21 kV. apa ada yang setuju ?, atau malah semuany ndak setju ya ?,..ditunggu
komentarnya