0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan27 halaman

Ragi Roti Tingkatkan Imunitas Ikan Nila

Diunggah oleh

fairuzzamif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan27 halaman

Ragi Roti Tingkatkan Imunitas Ikan Nila

Diunggah oleh

fairuzzamif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

IMUNOSTIMULAN PENAMBAHAN RAGI ROTI PADA PAKAN

UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS PADA IKAN NILA

Laporan praktikum
Manajemen kesehatan ikan

Disusun oleh :
FAIRUZZAMI FATHONI 22742008
FILHAN RIZNANDA 22742009
DESAK AYU TANIA DWI PUTRI 22742005
RAMADHAN 22742018

PRODI BUDIDAYA PERIKANAN


JURUSAN PETERNAKAN
POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG
2024/2025
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, senantiasa kita ucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang
hingga saat ini masih memberikan kita nikmat iman dan kesehatan, sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas kelompok tentang “Pengimbuhan Ragi Roti Dalam Pakan
Untuk Meningkatkan Respon Imun Nonspesifik dan Pertumbuhan Ikan Nila”. Tugas
kelompok ini ditulis untuk memenuhi nilai kompeten dari mata kuliah managemen
kesehatan ikan
Tak lupa penulis juga mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya
kepada setiap pihak yang telah mendukung serta membantu penulisi selama proses
penyelesaian tugas kelompok ini hingga selesainya laporan ini. Ucapan terima kasih
penulis sampaikan pada :
1. Ibu Dian Febriani, [Link]. selaku dosen pengampu mata kuliah Management
Kesehatan Ikan atas bimbingan dan tugas yang diberikan.
2. Ibu Mulya Septika., [Link]. selaku pembimbing praktikum
3. Tim Kelompok yang telah menyukseskan berjalannya tugas praktikum
Pada tugas kelompok ini akan dibahas mengenai pemberian immunostimulan
untuk pertumbuhan ikan nila. Imunostimulan memiliki peran dalam meningkatkan
sistem pertahanan biologis hewan terhadap berbagai bakteri atau virus patogen. Tugas
kelompok berisi laporan mengenai kegiatan praktikum yang dilakukan dari proses awal
sampai akhir
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna
serta kesalahan yang penulis yakini diluar batas kemampuan penulis. Maka dari itu
penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca. Penulis berharap karya tulis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................


DAFTAR ISI......................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN ……………………………………………..
1.1 latar belakang ………………………………………………
1.2 tujuan ……………………………………………………....

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ………………………..........................


2.1 morfologi ikan nila …………………………………………
2.2 Immunostimulan ……………………………………………
2.3 ragi roti ……………………………………………………..
2.4 pemberian ragi roti pada patin................................................

BAB 3 3.1 Waktu dan tempat ..................................................................


3.2 alat dan bahan ........................................................................
3.3 prosedur kerja ........................................................................
Lampiran
Daftar pustaka
[Link]

1.1 Latar Belakang


Produksi usaha budidaya secara langsungdipengaruhi oleh pertumbuhan dan
resistensi ikan maupun udang yang [Link] demikian, penyakit baik yang
disebabkan oleh virus, bakteri, fungi, dan parasit telah menghancurkan banyak
industri budidaya dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup [Link]
karena itu, kontrol penyakit perlu mendapat perhatian serius agar usaha budidaya
dapat berkesinambungan
Penyakit ikan adalah problem utama yang dihadapi oleh pembudidaya. Karena
kesulitan diagnosa, implementasi penanganan dan pengobatan yang tepat serta
identifikasi penyebab. Penyakit pada ikan seringkali menyebabkan kerugian
ekonomis bagi para pembudidaya cukup terasa baik karena hilangnya produksi akibat
kematian dan pertumbuhan ikan yang lambat atau biaya pengobatan yang tinggi.
Umumnya, stress pada ikan dapat menyebabkan turunnya kemampuan daya tahan
ikan dan dianggap sebagai salah satu penyebab utama penyakit ikan dalam sistem
budidaya yang intensif. Stress pada ikan yang dibudidayakan bisa dihindari atau
dicegah. Banyak penelitian menunjukkan bahwa ikan yang sehat tidak mudah
terinfeksi oleh patogen, sementara ikan yang lemah akan mudah terinfeksi
(Woynarovich dan Horvath, 1980)
Penyakit ikan merupakan salah satu kendala dalam pengembanganperikanan
budidaya. Pengendalian penyakit ikan, selama ini lebih mengandalkan pada
penggunaan bahan kimia/obat/antibiotik. Penggunaan bahan-bahan tersebut
memiliki dampak negatif, baik terhadap lingkungan perairan, ikan, maupun
konsumen. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan pengendalian yang lebih ramah
lingkungan, aman terhadap ikan dan konsumen harus menjadi paradigma baru dalam
rangka peningkatan produksi perikanan budidaya yang berkelanjutan (Taukhid et al.,
2012). Beberapa peneliti telah menerapkan penggunaan bahan ramah lingkungan
yang tidak membahayakan ikan ataupun manusia, seperti bahan yang terbuat dari
ekstrak tanaman atau buah-buahan.
Beberapa metode yang telah diterapkan dalam mengontrol penyakit antara lain
penggunaan antibiotik atau bahan kimia, vaksin, dan imunostimulan. Penggunaan
antibiotik merupakan metode kontrol penyakit yang telah lama dan paling banyak
diterapkan dalam aktivitas [Link] demikian, pemberian antibiotik
dilaporkan telah mengakibatkan munculnya patogen yang tahan terhadap antibiotik
(antibiotic-resistant pathogen).Pemberian antibiotik dalam kolam/tambak
membutuhkan sejumlah besar bahan yang mahal dan dapat terakumulasi dalam tubuh
ikan, udang atau lingkungan budidaya dan membahayakan kesehatan konsumen.
Vaksin telah digunakan pada beberapa spesies ikan dan memperlihatkan hasil
[Link] demikian, vaksin belum banyak tersedia, mahal dan proteksi yang
dihasilkan bersifat spesifik sehingga tidak efektif melawan beberapa patogen secara
simultan.
Saat ini, penggunaan imunostimulan semakin mendapat perhatian untuk
dikembangkan sebagai metode kontrol penyakit dalam budidaya. Banyak bukti telah
memperlihatkan bahwa imunostimulan yang ditambahkan dalam pakan dapat
meningkatkan resistensi ikan terhadap infeksi penyakit melalui peningkatan respons
imun nonspesifik (Pais et al., 2008; Welker et al., 2007)
Secara sederhana, imunostimulan merupakan suatu bahan yang merangsang atau
meningkatkan sistem imun dengan berinteraksi secara langsung dengan sel-sel yang
mengaktifkan sistem imun. Mekanisme kerja imunostimulan dalam merangsang
sistem imun tubuh adalah dengan cara meningkatkan aktivitas sel-sel fagosit (Yin et
al., 2006). Jadi imunostimulan meningkatkan resistensi ikan terhadap patogen secara
simultan dengan cara merangsang respons imun nonspesifik. Imunostimulan dapat
berupa bakteri dan produk bakteri, ragi, kompleks karbohidrat, faktornutrisi, ekstrak
hewan, ektrak tumbuhan, dan obat-obatan sintetik (Cook et al., 2003; Sakai,1999;
Sealey dan Gatlin, 2001).
Ragi roti (Saccharomyces cereviciae) adalah salah satubahan yang berpotensi
digunakan sebagai [Link] ragi roti dalam pakan dapat
meningkatkan respons imun nonspesifik beberapa spesies ikan (Olivia-Teles dan
Goncalves, 2001).Penambahan sel ragi roti juga meningkatkan kecernaan pakan dan
protein sehinggga menghasilkan peningkatan efisiensi pakan dan pertumbuhan ikan
yang lebih [Link] roti ini juga mudah diperoleh karena banyak tersedia di pasaran
dengan harga yang murah, tidak meninggalkan residu dalam tubuh ikan serta tidak
mengakibatkan kerusakan [Link] karena itu, penelitian terhadap
penggunaan ragi roti dalam upaya mengontrol penyakit dalam aktivitas budidaya
ikan, dipandang penting untuk [Link] penelitian ini adalah untuk
mengevaluasi efikasi ragi roti dalam meningkatkan respons imun non spesifik dan
pertumbuhan ikan nila

1.2 Tujuan
Pemberian immunostimulan pada ikan bertujuan untuk meningkatkan kekebalan
non- spesifik benih ikan ataupun udang terhadap infeksi, seperti meningkatkan
kemampuan fagositosis, stimulasi sitokin dari limfosit, koordinasi kekebalan
humoral dan selular, meningkatkan respon antibodi dan komplemen.
[Link] PUSTAKA

2.1 morfologi ikan nila

Ikan nila berasal dari Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan nila
telah tersebar ke Negara-negara dilima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Di
wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak hidup dengan baik (Sugiarto 1988).Ikan nila
merupakan jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai konsumsi cukup tinggi. Bentuk
tubuh memanjang dan pipih ke samping dan warna putih kehitaman atau kemerahan. Ikan
nila berasal dari Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar
ke negara- negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Di wilayah yang
beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik (Sugiarto, 1988). Ikan nila disukai oleh
berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan kakap merah
(Sumantadinata, 1981). Terdapat tiga jenis ikan nila yang dikenal, yaitu nila biasa, nila
merah (nirah) dan nila albino (Sugiarto, 1988).

Klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus), menurut Suyanto (2003) adalah sebagai
berikut:

Filum: Chordata
Sub-filum : Vertebrata
Kelas: Osteichthyes
Sub-kelas: Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Family : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

Ikan nila (Oreochromis niloticus) pada awalnya dimasukkan ke dalam jenis Tilapia
nilotica atau ikan dari golongan tilapia yang mengerami telur dan larva di dalam
mulutnya. Pada tahun 1982 nama ilmiah ikan nila menjadi Oreochromis niloticus.
Perubahan nama tersebut telah disepakati dan dipergunakan oleh ilmuan meskipun
dikalangan awam tetap disebut Tilapia niloticus (Khairuman dan Amri, 2008).

2.2 immunostimulan
Usaha budidaya ikan menunjukkan perkembangan yang pesat dari tahun ketahun.
Hal ini dikarenakan semakin bertambahnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi
ikan. Salah satu usaha budidaya yang banyak dilakukan masayarakat Desa Muara Dua
adalah budidaya ikan konsumsi air tawar. Teknologi budidaya ikan konsumsi air tawar
yang saat ini banyak digunakan di Indonesia adalah sistem budi daya intensif dengan
padat tebar yang tinggi. Sama seperti usaha budidaya perikanan lainnya, masalah utama
dalam budidaya ikan air tawar adalah serangan penyakit. Untuk menghindari keadaan ini,
perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit secara tepat.
Pencegahan penyakit ikan dapat dilakukan dengan cara peningkatan daya tahan
tubuh ikan dengan pemberian imunostimulan alami. Imunostimulan alami yang mudah
didapat di lingkungan sekitar antara lain kunyit, bawang putih, meniran, daun sirih dan
masih banyak lagi. Pencegahan penyakit juga dapat dilakukan dengan cara mengontrol
kualitas air, baik dari suhu, kandungan oksigen terlarut, derajat keasaman, dan
mengontrol jumlah bakteri pathogen dalam perairan. Sedangkan untuk pengobatan
penyakit ikan dapat dilakukan dengan memisahkan ikan yang sakit dengan yang sehat
dan juga pemberian obat-obatan alami. Aplikasi pemberian penambagana imunostimulan
pada pakan ikan nila mampu mencegah dan mengobati penyakit pada ikan nila sehingga
mampu meningkatkan produksi ikan nila.
imunostimulan merupakan suatu bahan yang merangsang atau meningkatkan
sistem imun dengan berinteraksi secara langsung dengan sel-sel yang mengaktifkan
sistem imun. Mekanisme kerja imunostimulan dalam merangsang sistem imun tubuh
adalah dengan cara meningkatkan aktivitas sel-sel fagosit (Yin et al., 2006). Jadi
imunostimulan meningkatkan resistensi ikan terhadap patogen secara simultan dengan
cara merangsang respons imun nonspesifik. Imunostimulan dapat berupa bakteri dan
produk bakteri, ragi, kompleks karbohidrat, faktor nutrisi, ekstrak hewan, ektrak
tumbuhan, danobat-obatan sintetik (Cook et al., 2003; Sakai, 1999; Sealey dan Gatlin,
2001).
Ekstrak dinding sel Saccharomyces cerevisiae (glucan, mannoprotein, dan chitin)
merupakan imunostimulan alami dan juga berperan sebagai promotor pertumbuhan
(Hurriyani, 2017). Ragi roti mengandung nilai nutrisi tinggi yang meliputi protein, lemak,
vitamin dan mineral (Babu et al., 2013). [Link] digunakan untuk meningkatkan
sistem imun pada ikan.. Ikan yang sehat menentukan pertumbuhan ikan yang baik dan
tingkat keberhasilan yang tinggi (Anonimous, 2015).
Pendederan ikan nila dengan penggunaan imunostimulan merupakan alternatif bagi
penggunaan antibiotik dan bahan kimia, Penggunaan imunostimulan untuk mencegah
munculnya wabah penyakit. Penggunaan Ragi Roti dapat berpotensi sebagai
imunostimulan untuk mempercepat kinerja pertumbuhan ikan karena Ragi roti
mengandung nilai nutrisi tinggi yang meliputi protein, lemak, vitamin dan mineral.
[Link] telah banyak diuji cobakan dalam komoditas akuakultur maupun hewan
ternak karena mempunyai beberapa kelebihan diantaranya, bersifat non-patogenik. bebas
dari plasmid yang mengkodekan gen resisten terhadap antibiotik, dan mampu bertahan
pada kondisi asam dan basa.
2.3 ragi roti
Ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) merupakan salah satu agen mikroba selain
bakteri gram positif dan negatif, bakteriofage maupun alga unisellular, yang umum
digunakan sebagai probiotik (Nayak, 2010).
Saccharomyces cerevisiae berasal dari kata Saccharo (gula) dan Myces (Fungi) yang
artinya cendawan gula (Dube, 1996). Warisah, 2015 Saccharomyces cerevisiae
dikelompokkan ke dalam :
Super Kingdom : Eukaryota
Filum : Fungi
Subfilum : Ascomycota
Kelas : Saccharomycetes
Ordo : Saccharomycetales
Family : Saccharomycetaceae
Genus : Saccharomyces
Spesies : Saccharomyces
Saccharomyces cerevisiae dipilih untuk dimanfaatkan dalam pembuatan bahan pakan
untuk menghasilkan perubahan yang diinginkan dalam hal tekstur, rasa, dan aroma yang
lebih baik (Rajagukguk, 2017). [Link] digunakan untuk meningkatkan sistem imun
pada ikan. Ikan yang sehat menentukan pertumbuhan ikan yang baik dan tingkat
keberhasilan yang tinggi (Anonimous, 2015). Suplementasi B-glucan dari ragi roti
([Link]) dalam pakan juga terbukti dapat meningkatkan aktivitas fagositik dan total
ptotein plasma ikan nila (Hastuti, 2012).
[Link] telah banyak diujicobakan dalam komoditas akuakultur maupun hewan
ternak karena mempunyai beberapa kelebihan diantaranya, bersifat non-patogenik, bebas
dari plasmid yang mengkodekan gen resisten terhadap antibiotik, dan mampu bertahan
pada kondisi asam dan basa. Ekstrak dinding sel S. cerevisiae (glucan, mannoprotein, dan
chitin) merupakan imunostimulan alami dan juga berperan sebagai promotor
pertumbuhan (Esteban et al., 2004). S. cereviciae digunakan untuk meningkatkan sistem
imun pada ikan. Ikan yang sehat menentukan pertumbuhan ikan yang baik dan tingkat
keberhasilan yang tinggi (Anonimous, 2015). Ragi roti meningkatkan kecernaan pakan
dan protein sehingga menghasilkan pertumbuhan dan efisiensi pakan yang lebih baik
(Wache et al. 2006). Salah satu jenis ragi yang berpotensi sebagai imunostimulan untuk
mempercepat pertumbuhan ikan adalah ragi roti (Saccharomyces cerevisiae). Ragi roti
mengandung nilai nutrisi tinggi yang meliputi protein, lemak, vitamin dan mineral (Babu
et al., 2013). Salah satu cara yang efektif dalam penanggulangan penyakit adalah dengan
menggunakan bahan-bahan alami sebagai imunostimulan.
Penambahan ragi roti dalam pakan dapat meningkatkan imunitas organisme akuatik
terhadap sejumlah antigen yang berbeda serta berperan dalam pertumbuhan. Ragi roti
([Link]) dapat menawarkan alternatif bagi pengguna antibiotik atau bahan-bahan
kimia sebab bahan ini tidak meninggalkan residu dalam tubuh ikan serta tidak
mengakibatkan kerusakan lingkungan. Keuntungan Saccharomyces cerevisiae adalah
golongan sebagai probiotik adalah tiidak membunuh mikroba bahkan menambah jumlah
mikroba yang menguntungkan, berbeda dengan antibiotik dapat membunuh mikroba
yang merugikan maupun menguntungkan tubuh serta mempunyai efek resistensi.
Ragi Roti yang digunakan dalam budidaya ikan yaitu Ragi Roti (Saccharomyces
cerevisiae) jenis ragi instan atau yang biasa dikenal dengan sebutan Fermipan yang secara
luas banyak diperdagangkan. Fermipan dibuat di Prancis, Ragi Roti di produksi oleh S.I.L
France dan di import oleh [Link] Ratu Boga. Kandungan dalam Fermipan yaitu
terdapat Ragi Roti (Saccharomyces cerevisiae), dan Penglumasi (Sorbitan monostearate
E491).
Pengguanaan Ragi Roti (Saccharomyces cerevisiae) pada ikan dapat menawarkan
alternatif bagi pengguna antibiotik atau bahan-bahan kimia sebab bahan ini tidak
meninggalkan residu dalam tubuh ikan serta tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan.
[Link] telah banyak diuji cobakan dalam komoditas akuakultur maupun hewan
ternak karena mempunyai beberapa kelebihan. Saccharomyces cerevisiae dipilih untuk
dimanfaatkan dalam pembuatan bahan pakan untuk menghasilkan perubahan yang
diinginkan dalam hal tekstur, rasa, dan aroma yang lebih baik (Rajagukguk, 2017).
[Link] digunakan untuk meningkatkan sistem imun pada ikan. Ikan yang sehat
menentukan pertumbuhan ikan yang baik dan tingkat keberhasilan yang tinggi
(Anonimous, 2015). Suplementasi B-glucan dari ragi roti ([Link]) dalam pakan juga
terbukti dapat meningkatkan aktivitas fagositik dan total ptotein plasma ikan nila (Hastuti,
2012). Ragi roti mengandung nilai nutrisi tinggi yang meliputi protein, lemak, vitamin
dan mineral (Babu et al., 2013). Ekstrak dinding sel S. cerevisiae (glucan, mannoprotein,
dan chitin) merupakan imunostimulan alami dan juga berperan sebagai promotor
pertumbuhan (Esteban et al., 2004). Keuntungan Saccharomyces cerevisiae adalah
golongan sebagai probiotik adalah tiidak membunuh mikroba bahkan menambah jumlah
mikroba yang menguntungkan, berbeda dengan antibiotik dapat membunuh mikroba.
Kandungan Protein Pada Ragi Roti Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Nila
Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan air tawar yang mudah dipelihara dan
rentan terhadap penyakit (Anonimous, 2016), sehingga merupakan komoditas ikan air
tawar yang banyak dibudidayakan. Ikan Nila tergolong jenis ikan yang cukup digemari
baik untuk dibudidayakan maupun dikonsumsi. Potensi pertumbuhannya yang cepat,
bersifat omnivora, dan mudah berkembang biak membuat ikan ini menjadi salah satu
primadona para pembudidaya ikan. Kecepatan pertumbuhan membuat ikan Nila lebih
efisien dalam penggunaan pakan, sehingga lebih menguntungkan untuk dibudidayakan
(Kurnianti, 2015
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penambahan ragi roti dalam pakan berpengaruh
sangat nyata terhadap pertumbuhan ikan uji. jika diberikan selama 4 minggu memberikan
hasil yang terbaik terhadap perolehan berat ikan. Hasil analisis ragam menunjukan bahwa
penambahan ragi roti pada pakan ikan dan diberikan selama 4 minggu berpengaruh sangat
nyata (p=0,00) terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penambahan
ragi roti dapat meningkatkan pertumbuhan karena ragi roti mengandung nukleotida.
Menurut Li and Gatlin (2006), ragi roti mengandung nukleotida dalam bentuk basah purin
dan pirimidin sebanyak 0,9%. Ragi roti yang ditambahkan dalam pakan, efektif
meningkatkan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) selama 4 minggu.
Administrasi dosis ragi roti 5 g/kg pakan dengan lama pemberian 4 minggu merupakan
dosis yang efektif dalam meningkatkan pertumbuhan ikan nila (O. niloticus).
Fungsi dan Manfaat Ragi Roti Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Nila
Ragi yang diberikan terhadap ikan nila dapat membantu pertumbuhan pada ikan nila.
Pemberian ragi roti diduga mengandung protein yang tinggi sehingga mampu menaikkan
pertumbuhan berat badan ikan nila. Hal ini sesuai dengan penyataan bahwa protein
merupakan nutrisi terbesar bagi tubuh ikan, oleh karena itu protein pakan harus
dimanfaatkan se-efisien mungkin untuk pertumbuhan ikan. Protein pakan sebagian besar
digunakan untuk pertumbuhan. Pakan berkualitas memiliki kandungan protein yang
tinggi, sehingga semakin tinggi sumber protein, maka semakin baik kualitas pakan
tersebut. Protein dimanfaatkan oleh ikan untuk fungsi pertumbuhan (anabolisme), namun
juga digunakan dalam fungsi katabolik (antara lain bergerak).
Menurut Rajagukguk, et al. (2017) telah melakukan uji coba dengan ragi roti pada
pertumbuhan ikan nila. Hasil yang didapat yaitu pertumbuhan paling tinggi terdapat pada
pertumbuhan ikan nila yang diberi pakan ragi sebanyak 20% pada pakan, sedangkan
pertumbuhan ikan nila terendah pada ikan nila yang tidak diberi pakan ragi. Efisiensi
pakan berubah sejalan dengan tingkat pemberian pakan dan ukuran ikan. Pemberian ragi
roti berbeda komposisi pada formulasi pakan memberikan pengaruh terhadap
pertumbuhan ikan nila.
Cara Membuat Pakan Ragi Roti Yang Efektif Untuk Laju Pertumbuhan Ikan Nila
Proses pembuatan pakan yang dilakukan adalah menggunakan ragi roti dengan komposisi
S. cerevisiae. Pakan pabrik merk FF 999 dengan komposisi protein (min) 35%, lemak
kasar (min) 2%, serat kasar (max) 3%, abu kasar (max) 13% dan kadar air (max) 12%.
Ragi roti pertama-tama ditimbang sesuai dengan dosis yang dibutuhkan, kemudian ragi
roti yang telah ditimbang dilarutkan ke dalam 100 ml air untuk pembuatan 1 kg pakan.
Ragi roti yang larut/tersuspensi dalam air, kemudian dicampur pada pellet ikan secara
merata dengan cara disemprotkan, selanjutnya dikering-anginkan dalam suhu ruang.
Setelah kering, pellet dimasukkan dalam wadah plastik dan disimpan dalam lemari
pendingin sampai saat digunakan.
Pembuatan pakan pellet dilakukan setiap 2 hari sekali guna menjaga kualitas pakan pellet
yang akan diberikan kepada ikan Nila. Apabila pellet disimpan terlalu lama dalam lemari
pendingin dikhawatirkan kandungan protein pellet yang telah dicampur ragi roti
berkurang karena di dalam pellet terdapat Saccaromyces cerevisiae yang terus hidup dan
membutuhkan suplai makanan. Agar lebih efektif, pemberian dosis ragi sebesar 10 g/kg
dapat diaplikasikan untuk pakan ikan nila karena cara ini mampu membantu para
pembudidaya ikan nila dalam meningkatkan kualitas pakan ikan nila dan meningkatkan
sintasan ikan nila.
2.4 pemberian ragi roti pada ikan patin
Ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) yang digunakan secara luas pada industri
pembuatan roti, mengandung berbagai macam senyawa imunostimulan, antara lain β-
glukan dan asam-asam nukleat telah banyak terbukti memiliki kemampuan meningkatkan
respons imun (Ortuno et al. 2002) dan pertumbuhan (Lara-Flores et al. 2003) berbagai
spesies ikan.
Suplementasi ragi roti berpengaruh nyata terhadap fungsi imunostimulasi sel-sel
pertahanan tubuh ikan (Sakai 1999). Salah satu prebiotik akuakultur adalah BIOMOS®
yang mengandung MOS (mannanoligosakarida) adalah glucomannoprotein kompleks
bersumber dari dinding sel ragi (Saccharomyces cerevisiae) (Sohn et al. 2000) telah
terbukti berpengaruh nyata meningkatkan kinerja pertumbuhan dan respons imun ikan
nila (Oreochromis niloticus), patin (Pangasius sp.) dan baung (Mystus nemurus) (Agung
et al. 2015; Tamamdusturi et al. 2016; Simamora 2017; Rusliana 2018).
Oleh karena itu, penelitian pemberian sinbiotik (kombinasi probiotik dari ragi roti
Saccharomyces cerevisiae dan prebiotik mannanoligosakarida) dilakukan untuk melihat
kinerja produksi ikan patin (Pangasius sp.)

Rancangan penelitian pemberian sinbiotik pada ikan patin


1. Pemberian pakan komersil tanpa pertumbuhan sinbiotik
2. pemberian pakan komersil dengsn penambahan sinbiotik (probiotik dan prebiotik
msing masing sebesar 0,2%)

Persiapan pakan uji


Probiotik S. cerevisiae yang digunakan dalam penelitian ini merupakan ragi roti
komersial (Fermipan®). Prebiotik yang digunakan adalah mannanoligosakarida
komersial merk BIO-MOS®(Alltech) yang berasal dari dinding sel ragi S. cerevisiae.
Probiotik S. cerevisiae dan prebiotik MOS mengandung β-glukan kuantitatif masing-
masing sebesar 10,56% dan 21,64% (Widyastuti 2016). Pakan yang diberikan pada tahap
awal adalah pelet apung komersial PF1000 dengan kadar protein ± 39%, sedangkan pada
tahap berikutnya LP1, LP2 dan LP3 (Prima Feed) dengan kadar protein ± 31-33%. Pakan
uji yang dipersiapkan adalah pakan bersuplementasi Sinbiotik (kombinasi probiotik S.
cerevisiae0,2% + prebiotik MOS 0,2%), dan pakan tanpa penambahan bahan uji untuk
perlakuan kontrol. Bahan pakan uji tersebut dicampurkan dengan menggunakan binder
putih telur sebanyak 2% (v/w). Selanjutnya, pakan yang telah dicampur diberikan
langsung untuk ikan. Perlakuan sinbiotik hanya diberikan pada penelitian tahap awal.

Parameter Pengamatan
Tingkat Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup atau survival
rate (SR) dihitung menggunakan rumus:

Keterangan :
SR = Tingkat kelangsungan hidup (%)
Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir
pemeliharaan (ekor)
No = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan
(ekor)

Laju Pertumbuhan Harian (LPH)


LPH dihitung dengan menggunakan rumus:
Keterangan :
Wt = Bobot ikan pada akhir pemeliharaan
Wo = Bobot ikan pada awal pemeliharaan
t = Waktu pemeliharaan (hari)

Rasio Konversi Pakan (FCR)


Rasio konversi pakan atau feed conversion
ratio (FCR) dihitung menggunakan rumus:

Keterangan :
FCR = Rasio konversi pakan
KP = Jumlah konsumsi pakan (g)
ΔW = Pertambahan bobot

Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan dihitung menggunakan
rumus:

Keterangan :
EP = Efisiensi pakan
ΔW = Pertambahan bobot
KP = Konsumsi pakan

Tingkat Pertambahan Bobot Tubuh Ikan


(Weight Gain)
Tingkat pertambahan bobot tubuh ikan
(weight gain) dihitung menggunakan rumus:

Keterangan :
Wg = Weight gain
Wt = Bobot ikan pada akhir pemeliharaan
Wo = Bobot ikan pada

Kualitas air
Kualitas air dimonitor selama pemeliharaan
dengan parameter dan kisaran: oksigen terlarut
4,6-6,2 mg/l, suhu 28-31 oC, pH 5,2-5,6 dan
amonia 0,08-0,13 mg/l.

Bobot tubuh awal (Wo), bobot tubuh akhir (Wt), selisih bobot tubuh akhir dan awal (ΔW),
jumlah konsumsi pakan (JKP), rasio konversi pakan (FCR), efisiensi pakan (EP), laju
pertumbuhan harian (LPH), tingkat pertambahan bobot tubuh (Wg), dan tingkat
kelangsungan hidup (TKH) ikan patin yang diberi sinbiotik setelah 30 hari pemeliharaan.
3.1 waktu dan tempat
Praktikum ini dilakukan selama 2 minggu pada tanggal 4-25 bulan maret 2024 di
laboratorium ksesehatan politeknik negeri lampung
[Link] PELAKSANAAN

3.2 alat dan bahan


[Link]
No Nama Alat Kegunaan
1. Kolam beton Wadah pemeliharaan
2. Selang air Mengisi air kolam
3. Baskom Wadah sampling
4. Blender Menghaluskan bawang putih
5. Saringan Penyaring ampas bawang putih
6. Seser Menangkap ikan
7. Timbangan Mengukur bobot ikan
8. Penggaris Mengukur panjang ikan
9. Haemocytometer Pengukuran jumlah darah ikan
10. Microscop Mengamati jumlah darah ikan
11. Pipet pasteur Takaran darah sampel
12. Suntikan Mengambil darah ikan
13. Coverglass Alat bantu pengamatan

[Link]
No. Nama Bahan Kegunaan
1. Pelet pf 500 Pakan ikan
2. Ragi roti Campuran imunostimulan pakan
3. Darah ikan Bahan sampel
4. Larutan HCL 0,1 ml Mencegah pembekuan darah
5. Aquades Campuran dalam pengukuran HB darah
6. Larutan hayem’s Campuran dalam pengukuran eritrosit
7. Pewarna turk’s Campuran dalam engukuran leukosit

3.3 prosedur kerja

[Link] bahan imunostimulan


- Setelah proses penimbangan kemudian ragi roti dimasukkan kedalam gelas ukur yang
sebelumnya telah diisi air sebanyak 100ml untuk 200gram pakan (10%).
- Setelah itu ragi roti diaduk hingga tersuspensi secara merata dengan air, kemudian ragi
roti yang yang telah tersuspensi lalu campurkan pada pakan pellet secara merata dengan
menggunakan alat penyemprot (Sprayer)/suntikan
[Link] pakan
- Pakan yang digunakan adalah pakan pellet sesuai bukaan mulut benih ikan nila.
- Setelah itu ragi roti diaduk hingga tersuspensi secara merata dengan air, kemudian ragi
roti yang yang telah tersuspensi lalu campurkan pada pakan pellet secara merata dengan
menggunakan alat penyemprot (Sprayer)/suntikan
- Kemudian setelah proses penyemprotan lalu dikering-anginkan dalam suhu ruang.
Setelah kering, pakan dimasukkan dalam kantong plastik kemudian pakan yang sudah
kering disimpan dalam lemari pendingin (kulkas) dengan menggunakan kantong plastik
sampai saat digunakan

[Link] ikan
[Link] media
- Persiapan media diawali dengan melakukan pembersihan di area lokasi kolam guna
agar kolam dalam keadaan baik dan terhindar dari berbagai macam kotoran
[Link] air
- kolam yang sudah bersih kemudian diisi dengan air Kembali supaya kolam daapat
digunakan untuk menebar benih ikan nila
-Pengisian air diakukan dengan tinggi air 40cm
[Link] ikan dan sampling
-Benih ikan nila yang di tebar sebanyak 50 ekor
-sebelum di tebar ikan di sampling terlebih dahulu untuk mengetahui bobot dan panjang
nya

[Link] sel darah ikan


[Link] Sel darah putih
1) Darah diisap dengan pipet yang berisi bulir pengaduk warna putih sampai skala 0.5.

2) Tarabahkan larutan Turk's sampai skala 11. pipet diayun membentuk angka delapan
selama 3-5 menit hingga darah bercampur rata. Larutan Turk's ini bersifat asam yang
akan mengakibatkan lisisnya sel darah merah sehingga yang tertinggal hanya sel darah
putih.

3) Buang dua tetes pertama larutan darah dari dalam pipet, kemudian teteskan larutan
pada hemocytometer kemudian ditutup dengan glass penutup. Cairan akan memenuhi
ruang hitung secara kapiler.
4) Hitung jumlah sel darah putih atau leukosit total dengan bantuan mikroskop dengan
perbesaran 400 x. Jumlah leukosit total dihitung dengan cara menghitung se! yang
terdapat dalam 5 kotak besar, lalu konversikan angka tersebut memurut jumlah total
kotak besar sehingga didapatkan jumlah sel darah putih per mili liter

[Link] sel darah merah

1) Darah diisap dengan pipet yang berisi bulir pengadak warna merah sampai skala 1
(pipet untuk mengukur jumlah sel darah merah).

2) Tambahkan larutan Hayem's sampai skala 101, pengadukan darah di dalam pipet
dilakukan dengan mengayunka tangan yang memegang pipet seperti membentuk angka
delapan selama 3-5 menit sehingga darah tercampur rata. Larutan Hayem's ini berfungsi
untuk mematikan sel-sel darah putih.

3) Buang dua tetes pertama larutan darah dalam pipet selanjutnya teteskan pada
haemocytometer tipe Neubauer dan tutup dengan gelas penutup.

4) Hitung jumlah sel darah merah dengan bantuan mikroskop dengan pembesaran 400
x. Jumlah eritrosit total dihitung sebanyak 10 kotak kecil dan konversiken menurut
jumlah total kotak kecil sehingga didapatkan jumlah sel darah merah per mili liter.

[Link] HB

1.) Darah diisap dengan pipet sahli sampai skala 20 mm3 afãu pada skala 0.2 inl.
bersihkan ujung ang pipet dengan kertas tissue.

2) Pindahkan darah dalam pipet ke dalam tabung Hb-meter yang telah diisi HCI 0.1 N
sampai skala 10 (merah), aduk dan biarkan selama 3 sampai 5 menit.
3) Tambahkan aquades sampai warna darah dan HCI tersebut seperti warna larutan
standar yang ada dalam Hb-meter tersebut.

4) Baca skala yaitu dengan melihat permukaan cairan dan cocokkan dengan skala
tabung sahli yang dilihat pada skala jalur gr% (kuning) yang berarti banyaknya
hemoglobin dalam gram per 100 ml darah
[Link] DAN PEMBAHASAN

[Link] panjang
Rata rata panjang awal=3,45 cm
Rata rata panjang akhir= 4,8 cm

5
Grafik dalam satuan cm

0
sampling awal sampling akhir

Series 1 Series 2 Series 3

Gambar 2,grafik pertumbuhan panjang ikan nila yang telah di beri pakan dengan
tambahan ragi roti sebagai imunostimulan

Pada hasil grafik pertumbuhan panjang mengalami pertumbuhan yang cukup baik dimana
pada sampling awal yaitu memiliki rata rata panjang ikan 3,45cm ,kemudian pada
sampling akhir di dapatkan hasil panjang yaitu rata rata 4,[Link] ragi roti pada
pakan yang di gunakan dapat membantu merangsang imun non spesifik sehingga ikan
nila yang di pelihara dapat tumbuh dengan lebih baik dengan tidak terserang oleh penyakit
atau virus,sehingga ikan dapat fokus berkembang.

[Link] bobot
Rata rata bobot awal= 3 gram
Rata rata bobot akhir= 4 gram
4.5
4
3.5
Grafik dalam satuan gram

3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
sampling awal sampling akhir

Series 1 Column1 Column2

Gambar 3,grafik pertumbuhan bobot ikan nila yang telah di beri pakan dengan
tambahan ragi roti sebagai imunostimulan

Pada hasil grafik pertumbuhan bobot yang telah di dapatkan dapat terlihat bahwa
pertambahan bobot ikan nila dari sampling awal sampai sampling akhir hanya bertambah
rata rata 1 gram saja,dimana pada jurnal yang di acu pertambahan bobot bisa 2-3 gram,hal
ini dipengaruhi oleh beberapa faktor,seperti frekuensi pemberian pakan yang
berbeda,kualitas benih yang berbeda,kualitas air serta handling yang sangat berpengaruh
pada proses pertumbuhan ikan nila tersebut.

[Link] darah
Tabel hasil pengamatan
Gambar SDP perbesaran Jumlah sel Jumlah HB
100 x 151.000 sel/ mm3 0,2g%
Atau
151 sel/ml
400 x 151.000 sel/ mm3 0,2g%
Atau
151 sel/ml

Gambar SDM
100 x 46.000 sel/ mm3 0,2g%
Atau
46 sel/ml

400 x 46.000 sel/ mm3 0,2g%


Atau
46 sel/ml

Pada hasil pengamatan sel darah putih yang telah dilakukan didapatkan bahwa sel darah
putih berjumlah 151.000 sel/mm3 berarti ikan tersebut sehat atau normal, jika dilihat dari
kisaran normal jumlah sel darah putih pada ikan normal umumnya berkisar 20.000-
150.000 sel/mm³sehingga dapat dinyatakan bahwa penambahan imunostimulan dalam
pakan berpengaruh terhadap jumlah sel darah putih yang dihasilkan ikan nila (Rastogi
1977 diacu dalam Sasongko 2001).
Pada hasil pengamatan sel darah merah yang telah dilakukan didapatkan bahwa sel darah
merah berjumlah 46.000 sel/mm3 bisa dikatakan bahwa ikan tersebut sehat atau masih
dalam kisaran normal jumlah eritrosit ikan pada umumnya yaitu 20.000-3.000.000
sel/mm³ (Sjafei et al. (1989) diacu dalam Marthen (2005).
Sedangkan pada hasil pengamatan hb atau hemoglobin didapatkan hasil yaitu 0,2g% hal
ini pasti sagat tidak normal dikarenakan kadar normal kadar hemoglobin ikan nila yaitu
sebesar 10-11,1 (g%) (Wedemeyer dan Yasutake 1977).
[Link] kualitas air
Pada awal tebar dlakukan pengecekan Do atau kadar oksigen terlarut
Do= 12 mg/l

[Link]
Jumlah pakan yang di habiskan =121 gram
Biomasa awal=150 gram
Biomasa akhir=200 gram
Pertambahan biomasa=50 gram

FCR= 2,42
2,42 kg pakan untuk menghasilkan1kg daging
[Link]

5.1 kesimpulan
Pengimbuhan ragi roti dalam pakan ikan nila sebagai imunostimulan dapat meningkatkan
respons imun nonspesifik dan pertumbuhan ikan nila. Pemberian imunostimulan pada
ikan dapat memiliki beberapa efek yang signifikan, seperti meningkatkan respons imun,
kelangsungan hidup, dan kesehatan ikan.
Pada hasil pengamatan di atas di dapati bahwa ikan mengalami penambahan boimasa dari
awal 150 gram atau rata rata 3gram per ekor,menjadi 200 gram pada akhir
pengamatan,atau rata rata 4 [Link] ini tentunya tidak lepas dari beberapa faktor seperti
kualitas air dan pemberian pakan yang rutin untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih
baik.
LAMPIRAN

[Link]
[Link]
DAFTAR PUSTAKA

Abdel-Tawwab M, Abdel-Rahman AM, Ismael NEM. 2008. Evaluation of commercial


live bakers’ yeast, Saccharomyces cereviciae as a growth and immunity promoter for fry
Nile Tilapi4 Oreachromis niloticus (L) challenged in situ with Aeromonas hydrophila-
Aquaculture 280: 185-189
Biswas G, Korenaga H, Takayama H, Kono T,Shimokawa H, Sakai M. 2012a. Cytokine
responses in the common carp, Cyprynus carpio L. treatead with baker’s yeast extract.
Aquaculture 356-357: 169-175
Burrels C, Williams PD, Fomo PF. 2001. Dietery Nucleotide: A novel upplement in fish
feed. 1 effects on resistance to disease in InSalmonids. Aquaculture 199: 159-169.
Li P, Gatlin III DM. 2003. Evaluation of brewers’ yeast.(Saccharomyces cereviciae) as a
feed supplement for hybrid striped bass (Marone chrysops x M. saxatillis). Aquaculture
219: 681-69
Lin YH, Wang H, Shiau SY. 2009. Dietary nucleotide supplementation enhance growth
and immune responsse of grouper, Epinephelus malabaricus. Aquaculture15: 117-122.
Manoppo H, Sukenda, Djokosetiyanto D, Fatuchri M, Harris E. 2009.
Nukleotidameningkatkan respon imun dan performapertumbuhan udang vaname,
Litopenaeus vannamei. Jurnal Aquacultura Indonesiana 10(2): 85-92
Misra CK, Das BK, Mukherjee SC, Pattnaik P.2006. Effect of long-term administration
of dietary â-glucan on immunity, growth and resistance of Labeo rohita
[Link] 255: 82-92

Anda mungkin juga menyukai