SERI DOKUMEN KUNCI 12
LAPORAN DAN PROSES ADVOKASI
Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
DALAM MEKANISME HAM
PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA
BAGI PEMAJUAN HAM
PEREMPUAN INDONESIA
Sesi Tinjauan Berkala Universal
(Universal Periodic Review)
Siklus Ketiga
2017
Daftar Isi § i
SERI DOKUMEN KUNCI 12
LAPORAN DAN PROSES ADVOKASI
KOMISI NASIONAL ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN
DALAM MEKANISME HAM PBB
BAGI PEMAJUAN HAM PEREMPUAN INDONESIA
Sesi Tinjauan Berkala Universal
(Universal Periodic Review)
ISBN: 978-602-330-024-2
Tim Penulis :
Adriana Venny, Jack Britton, Khariroh Ali,
Sondang Frishka, Yuniyanti Chuzaifah
Editor :
Indraswari
Tim Penerjemah:
Bety Sitanggang, Siti Maesaroh
Cetakan I, Maret 2018
Penerbit: Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
(Komnas Perempuan)
Jl. Latuharhary 4B Menteng, Jakarta Pusat
Telp. 021-3903963, Fax. 021-3903922
Email : mail@[Link]
Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempu-
an) memegang penuh hak cipta atas publikasi ini. Semua atau sebagian dari
publikasi boleh digandakan untuk segala pendidikan pemajuan hak-hak
konstitusional warganegara, upaya menghapuskan diskriminasi, khususnya
perempuan dan demokrasi. Dalam menggunakannya, agar menyebutkan
sumber dan menginformasikan kepada Komnas Perempuan
Daftar Isi
Pengantar Seri Dokumen Kunci UPR 2017 1
Bagian I
Advokasi Komisi Nasional Anti Kekerasan
Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)
untuk Universal Periodic Review (UPR) PBB 5
Bagian II
Laporan Independen Komnas Perempuan 19
Bagian III
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia
Beserta Annex dan Addendum* 43
Lampiran
• Surat Komnas Perempuan ke Kementerian Hukum dan HAM
dan Kementerian Luar Negeri 103
• Matriks Clustering Rekomendasi Isu Perempuan 118
• Siaran Pers Komnas Perempuan Menyambut
Universal Periodic Review (UPR) Siklus Ke-3
Dewan HAM PBB Atas Kondisi HAM di Indonesia 131
• Siaran Pers Komnas Perempuan Atas
Proses UPR (Universal Periodic Review)
Dewan HAM PBB tentang Kondisi HAM di Indonesia 134
• Siaran Pers Komnas Perempuan Merespon
Adopsi Pemerintah Indonesia Atas Rekomendasi
Sidang Universal Periodic Review (UPR) Dewan HAM PBB
tentang Kondisi HAM di Indonesia 136
• Siaran Pers Komnas Perempuan Merespon Outcome/
Keputusan Akhir Pemerintah Indonesia Atas
Rekomendasi Sidang Universal Periodic Review (UPR)
Dewan HAM PBB Circle III 2017 140
• Surat Komisi Tinggi HAM PBB untuk Kementerian Luar Negeri 144
Tentang Komnas Perempuan 150
Daftar Isi § iii
Pengantar Seri Dokumen Kunci UPR 2017
Prinsip dan nilai hak asasi adalah universal, isu dan pelanggaran-
nya juga semakin mengglobal, lintas batas dan tak jarang melam-
paui otoritas negara. Karenanya komitmen dan mekanisme lintas
negara menjadi sangat dibutuhkan. Temuan Komnas Perempuan da-
lam dalam kerja-kerja mengawal isu HAM perempuan, menemukan
isu-isu yang membutuhkan komitmen lintas negara.
Dari isu migrasi dan pengabaian hak sebagai pekerja, trafiking
yang seharusnya sudah ada penanganan antar negara tetapi masih mi-
nim pertautan kerjasama, drugs trafficking yang menyasar perempu-
an lintas benua, yang juga menghambat hak korban atas fair trial ka-
rena isu juridiksi, refugee termasuk Rohingya yang dipantau Komnas
Perempuan dengan segala diskriminasi dan kekerasan mereka yang
berlapis. Belum lagi kejahatan investasi lintas negara dan impuni-
tas korporasi yang menggusur perempuan adat dengan seluruh paket
sejarah dan kehidupannnya.
Isu fundamentalisme dan radikalisme juga didukung dengan kemu-
dahan mobilitas fisik dan informasi. Termasuk kejahatan tanpa ru-
ang di dunia maya, dimana korbannya nyata tapi pelaku tidak bisa diin-
dera dan sulit didakwa.
Dalam konteks inilah hak asasi berpusar dan semakin signifikan ker-
jasama melalui mekanisme HAM internasional. Komnas Perempuan se-
bagai salah satu lembaga HAM nasional di Indonesia, salah satu per-
annya adalah memperkuat jaringan lokal hingga internasional.
Selain kerja dengan treaty body (berbagai konvensi dengan komite-
komitenya) juga bekerja berbasis piagam HAM dengan mekanisme
antara lain special procedure (Pelapor Khusus dan Expert), terma-
suk UPR (Universal Periodic Review) sebagai mekanisme review an-
tar negara untuk untuk melihat isu HAM dan upaya negara yang
sedang di-review. UPR adalah mekanisme yang disepakati bersa-
ma sebagai mekanisme yang demokratis, transparan dan konstruktif.
Komnas Perempuan sudah dua kali terlibat dalam UPR dengan tema
sentral dan isu yang dikawal tentang HAM perempuan, khususnya
kekerasan terhadap perempuan.
Pengantar Seri Dokumen Kunci UPR 2017 § 1
Tulisan ini adalah rekam jejak dan rekam juang Komnas Perempu-
an dalam mengawal advokasi di UPR, agar ada pelembagaan penge-
tahuan dan transisi pengalaman, sehingga bisa dilanjutkan walau-
pun ada pergantian Komisioner Komnas Perempuan.
Komisioner yang ditunjuk paripurna untuk mengawal dan mewa-
kili Komnas Perempuan dalam UPR 2017 adalah Yuniyanti Chuzai-
fah (Komisioner, Wakil Ketua) dan Khariroh Ali (Komisioner
Ketua Gugus Kerja Perempuan dalam Hukum dan Konstitusi). Pa-
da UPR sebelumnya tahun 2012, paripurna menugaskan Yuniyan-
ti Chuzaifah sebagai ketua Komnas Perempuan periode 2010-
2014 dan satu Badan Pekerja.
Untuk itu pada bab I, tentang advokasi di UPR adalah rangkuman dan
catatan pengalaman mengikuti dua UPR yang diolah menjadi catatan
dan pengalaman kunci advokasi di UPR.
Meskipun tujuan utama penulisan ini untuk internal Kom-
nas Perempuan, namun tidak menutup kemungkinan untuk dija-
dikan referensi bagi lembaga-lembaga lain agar mengenal se-
cara lebih dalam mekanisme UPR, signifikansinya, dan selanjutnya
dapat mengambil peran, baik membuat laporan maupun hadir se-
cara langsung di sidang UPR. .
Terimakasih kepada semua pihak: Azriana Manalu (Ke-
tua Komnas Perempuan) dan para Komisioner periode 2015-
2019 yang menggagas poin kunci isu yang akan diangkat di UPR, pa-
ra penulis draf laporan baik komisioner maupun badan pekerja, para
mitra baik lembaga negara maupun CSO termasuk komunitas korban
yang memberikan input, proses dan substansi laporan. Secara khu-
sus Jack Britton yang sudah menjadi penerjemah dan turut mencer-
mati laporan UPR ini.
Seluruh laporan dan proses ini dikawal oleh tim Advokasi Internasio-
nal yang terdiri dari Yuniyanti Chuzaifah (Pimpinan), Adriana Ven-
ny Aryani dan Khariroh Ali (Komisioner), Sondang Frishka (Koordi-
nator) dan Jack Britton (Volunteer). .
Semoga seri dokumen kunci ini dapat digunakan untuk penga-
walan rekomendasi, juga untuk bahan pengembangan advo-
kasi mekanisme internasional. Proses terlibat di PBB bukan
2 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
soal ritual dan seremonial, tetapi upaya keras mendorong nilai dan
komitmen global untuk mengokohkan kondisi di nasional, khu-
susnya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. .
Jakarta, 8 Maret 2018
Yuniyanti Chuzaifah
Wakil Ketua Komnas Perempuan (2015-2019)
Pengantar Seri Dokumen Kunci UPR 2017 § 3
4 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
Bagian I
Advokasi Komisi Nasional Anti Kekerasan
Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)
untuk Universal Periodic Review (UPR) PBB
Advokasi Komisi Nasional Anti Kekerasan
Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)
untuk Universal Periodic Review (UPR) PBB
Universal Periodic Review (UPR) atau Tinjauan Berkala Univer-
sal adalah sebuah mekanisme inovatif dan unik yang dilahirkan
oleh Dewan HAM, yaitu yang merupakan mekanisme tinjau ulang
kondisi hak asasi manusia di seluruh 139 negara anggota PBB. UPR
memberikan kesempatan kepada seluruh negara untuk memberikan
update terkait langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh masing-
masing negara untuk meningkatkan pemenuhan HAMnya dan
menciptakan ruang bersama bagi semua anggota negara untuk
saling bertukar pengalaman mengenai praktik-praktik baik yang
telah berhasil dilaksanakan. UPR dirancang untuk mendukung dan
meningkatkan pemajuan dan perlindungan HAM di setiap negara.
Untuk mencapai hal di atas, maka UPR juga menelisik dan menilai
rekam jejak HAM sebuah negara dan pelanggaran HAM yang terjadi.
UPR juga bertujuan untuk menyediakan bantuan teknis kepada negara
dan meningkatkan kapasitas negara untuk secara efektif menangani
tantangan-tantangan terkait isu hak asasi manusia.
Basis dokumen untuk melakukan review/tinjauan ulang terdiri
dari: 1) Informasi yang disediakan oleh negara yang di-review, bia-
sanya dalam bentuk “Laporan Nasional”, 2) Informasi yang didapat
dalam laporan ahli/ kelompok HAM independen, termasuk prosedur
khusus dan badan HAM berdasarkan perjanjian (treaty bodies), 3)
Informasi dari berbagai pemangku kepentingan termasuk lembaga
HAM nasional (NHRI) dan organisasi non pemerintah. Tinjau ulang
dilakukan dengan cara diskusi interaktif antara negara yang ditinjau
ulang dengan negara-negara anggota PBB lainnya. Proses ini dilakukan
selama pertemuan kelompok kerja UPR. Dalam proses diskusi ini,
setiap negara anggota PBB dapat menyampaikan pertanyaan, ko-
mentar dan/atau menyampaikan rekomendasi terhadap negara yang
sedang ditinjau ulang. Durasi setiap sesi tinjau ulang adalah selama
3,5 (tiga setengah) jam. Hasil dari setiap tinjau ulang direfleksikan
dalam laporan final kelompok kerja, yang berisi daftar rekomendasi
terhadap negara yang sedang ditinjau ulang dan rekomendasi tersebut
harus diimplementasikan sebelum putaran UPR berikutnya.
Advokasi Komnas Perempuan untuk Universal Periodic Review PBB § 7
Sampai saat ini, Indonesia sudah tiga kali di-review, yaitu pada
tahun 2008, 2012 dan 2017. Dari Sesi kedua UPR, Indonesia mendapat
180 rekomendasi dan dari jumlah tersebut pemerintah Indonesia
mengadopsi 150 rekomendasi. Pada sidang putaran ketiga (2017),
Indonesia mendapat 225 rekomendasi dari 110 delegasi negara, dan
akhirnya mengadopsi total 167 rekomendasi.
Isu HAM perempuan termasuk yang terbanyak direkomendasikan
oleh berbagai negara dalam sidang UPR tahun 2017. Dari perhitungan
Komnas Perempuan terdapat 74 rekomendasi yang terkait langsung
dengan pemenuhan HAM perempuan yaitu tentang kekerasan terhadap
perempuan khususnya kekerasan seksual, diskriminasi kelompok
rentan termasuk dalam konteks ketenagakerjaan dan migrasi, hak
seksual dan kesehatan reproduksi. Praktik-praktik berbahaya (FGM/
P2GP: Pelukaan pemotongan genitalia perempuan), kerentanan ke-
lompok minoritas seksual, perempuan pembela HAM, hukuman mati,
kebebasan beragama, ratifikasi berbagai konvensi internasional dan
protokol opsionalnya, reformasi hukum nasional (kerangka hukum
dan institusi dan isu perlindungan terhadap perempuan secara umum.
Banyaknya rekomendasi yang diadopsi oleh Indonesia, tidak
terlepas dari kontribusi dan peran Komnas Perempuan yang terlibat
secara intensif sejak dalam proses persiapan, saat sidang di gedung
PBB di Jenewa, maupun proses jeda sebelum adopsi akhir dilakukan
oleh pemerintah. Komnas Perempuan mendorong pemerintah
Indonesia untuk mengadopsi sebanyak mungkin rekomendasi
sebagai wujud komitmen negara untuk mempromosikan, melindungi
dan memajukan hak asasi manusia. Indonesia harus dapat menjadi
contoh bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara di bidang hak
asasi manusia.
Tulisan ini adalah rekam jejak dan rekam juang Komnas Pe-
rempuan dalam mengawal advokasi di UPR, agar ada pelembagaan
pengetahuan dan berbagi pengalaman, sehingga bisa dilanjutkan
walaupun ada pergantian Komisioner Komnas Perempuan. Ada-
pun Komisioner yang ditunjuk paripurna untuk mengawal dan
mewakili Komnas Perempuan dalam UPR 2017 adalah Yuniyanti
Chuzaifah (Komisioner, Wakil Ketua) dan Khariroh Ali (Komisioner,
Ketua Gugus kerja Perempuan dalam Hukum dan Konstitusi).
Meskipun tujuan utama penulisan ini untuk internal Komnas Pe-
rempuan, namun tidak menutup kemungkinan untuk dijadikan refe-
rensi bagi lembaga-lembaga lain agar mengenal secara lebih dalam
8 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
mekanisme UPR, signifikansinya, dan selanjutnya dapat mengambil
peran baik membuat laporan maupun hadir secara langsung di sidang
UPR.
Tahap-tahap Persiapan UPR
A. Proses Penulisan dan Penyerahan Laporan UPR
Untuk membuat sebuah laporan UPR yang baik, beberapa prinsip
yang penting untuk dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Melakukan konsultasi internal untuk mendiskusikan isu-isu stra-
tegis terkait HAM Perempuan yang akan diangkat, dengan pertim-
bangan isu yang sudah lama jalan di tempat dan/ atau tidak ada
perkembangan, isu yang berpotensi terjadinya pelanggaran HAM
secara masif, pelakunya mempunyai kuasa dan korbannya berasal
dari kelompok-kelompok yang memiliki akses yang sangat minim
pada perlindungan hukum.
2. Memasukkan kemajuan dan kemunduran situasi pemenuhan HAM
perempuan, temuan- temuan penting dan baru, serta rekomendasi
kunci.
3. Membuat catatan kritis dan reflektif untuk memperkuat mekanisme
HAM PBB.
4. Menunjuk tim penulis dan memilih isu-isu kunci dalam sidang
paripurna.
5. Menelusuri laporan, rekomendasi dan pelaksanaan rekomendasi
UPR siklus sebelumnya sebagai salah satu basis analisis.
6. Memasukkan hasil konsultasi eksternal, terutama dari para perem-
puan komunitas korban yang menitipkan isu-isunya untuk diadvo-
kasi oleh Komnas Perempuan.
7. Menggunakan data primer hasil temuan, laporan dan pemantauan
Komnas Prempuan.
8. Menggunakan acuan/guideline penulisan laporan UPR dengan
merujuk pada website resmi UPR . Acuan penulisannya di antaranya
harus memuat hal-hal sebagai berikut: a) Informasi mengenai
institusi yang mengirimkan laporan, b) Rujukan sumber data yang
dipakai, c) Struktur penulisan baik substansi maupun rekomendasi,
dan d) Laporan tidak boleh berjumlah lebih dari kata maksimal
yang sudah ditetapkan oleh sekretariat UPR.
9. Menyerahkan laporan tepat waktu: penyerahan laporan UPR dila-
kukan secara online melalui website OHCHR. Setiap lembaga
Advokasi Komnas Perempuan untuk Universal Periodic Review PBB § 9
mendefinisikan diri masuk dalam kategori yang mana, baik itu
lembaga NHRI (National Human Rights Institution) maupun CSO
(Civil Society Organization). Setelah itu lembaga membuat akun
dan menyerahkan laporan melalui petunjuk register di akun terse-
but dengan tidak melebihi batas waktu penyerahan yang sudah dite-
tapkan. Bila lembaga membutuhkan komunikasi secara langsung,
dapat mengirim email ke alamat email OHCHR section UPR.
B. Advokasi dan Proses Pra Keberangkatan
1. Konsultasi dengan multi pihak: selain konsultasi internal,
Komnas Perempuan juga melakukan konsultasi dengan jari-
ngan/mitra baik lembaga negara, organisasi masyarakat sipil
perempuan, maupun komunitas korban. Tujuan konsultasi ini ada-
lah: Mendorong dan memfasilitasi pengetahuan kepada CSO ten-
tang UPR dan teknis pelaporan, serta mendorong agar jaringan
membuat laporan bayangan (shadow report).
2. Memberi masukan temuan dan prinsip-prinsip HAM perempuan
kepada negara, juga memberikan masukan tentang temuan-temuan
Komnas Perempuan pada laporan negara.
3. Mendapatkan masukan tentang isu-isu HAM perempuan yang
akan diangkat dalam laporan Komnas Perempuan.
4. Membuka akses bagi korban untuk menitipkan isu krusial dan
strategis yang belum bisa mereka sampaikan langsung dalam
sidang UPR.
C. Partisipasi Publik Melalui Konferensi Pers
Selama ini Mekanisme PBB cenderung masih menjadi
pengetahuan dan pengalaman milik segelintir lembaga negara,
CSO maupun NHRI. Padahal ada peristiwa besar bahwa Indonesia
sedang disorot dunia terkait situasi dan kondisi Hak Asasi Manusia.
Untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan tersebut, Komnas
Perempuan melakukan berbagai upaya untuk sosialisasi, yang mana
salah satunya melalui penyelenggaraan konferensi pers sebelum ke-
berangkatan ke sidang UPR dengan tujuan:
1. Memahamkan publik akan mekanisme HAM
2. Mengajak publik berpartisipasi dalam memantau proses UPR.
3. Menyampaikan akuntabilitas Komnas Perempuan atas isu-isu yang
diangkat di UPR.
10 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
D. Mempersiapkan Lobby
Lobby penting dalam rangka memberikan informasi kepada negara-
negara pihak yang akan me-review Indonesia dan membutuhkan
informasi tentang isu HAM perempuan di Indonesia berdasarkan
temuan-temuan Komnas Perempuan, agar mereka memberi rekomen-
dasi kepada Indonesia berbasiskan data dan informasi yang akurat.
Untuk itu yang dibutuhkan adalah mempersiapkan briefing note/
lobby paper yang terdiri dari 1-2 halaman yang ditujukan kepada
perwakilan berbagai negara pihak di sidang UPR di Jenewa.
E. Koordinasi
Berkoordinasi dengan Komnas HAM dan NHRI lainnya penting
dalam rangka sinergi dan persiapan baik substansi maupun teknis
kepesertaan, guna mendapatkan akses untuk mengikuti sidang
UPR. Mengingat sampai penulisan laporan ini, GANHRI (Global
Alliance on National Human Rights Institution) hanya memberi
ruang intervensi UPR pada NHRI dengan akreditasi A, maka Komnas
Perempuan masih terus memperjuangkan posisinya sehingga tidak
bergantung pada Komnas HAM. Selain berkoordinasi dengan NHRI,
penting juga berkoordinasi dengan pihak-pihak yang hadir terutama
dengan pihak organisasi masyarakat sipil, guna berbagi informasi.
F. Hal-hal Teknis Lainnya
Guna menghindari hal-hal sepele namun terkadang justru terlupa,
maka ada baiknya dipersiapkan jauh-jauh hari:
1. Laporan yang sudah di-print out
2. Terbitan/publikasi yang relevan
3. Lobby paper/briefing note.
4. Alat rekam
5. Kamera
6. Dokumen perjalanan
7. Dan bahan pendukung lainnya
G. Jadwal (Timetable)
Pengaturan waktu perlu dipersiapkan serapi mungkin, dan mulai
hitung mundur dari:
1. Persiapan pembuatan laporan
2. Konsultasi mitra jaringan
Advokasi Komnas Perempuan untuk Universal Periodic Review PBB § 11
3. Rapat koordinasi persiapan dengan NHRI
4. Proses pembuatan paspor, visa surat ijin Presiden dan dokumen-
dokumen pendukung lainnya: tiket, asuransi, kartu untuk memasuki
gedung PBB dan lain-lain.
5. Pembuatan surat kepada PTRI (Perwakilan Tetap Republik Indone-
sia) tentang rencana kehadiran Komnas Perempuan, beserta nama
lengkap yang akan mewakili Komnas Perempuan dalam sidang.
Hal ini penting dilakukan dalam rangka fungsi koordinasi dengan
lembaga negara di sana.
6. Delegasi Komnas Perempuan berangkat minimal dua hari kerja
sebelum kegiatan UPR dimulai, hal ini bermanfaat agar kita memi-
liki kesempatan untuk melakukan lobby ke sejumlah negara dan
mengurus tanda kepesertaan (badge) yang terkadang membutuhkan
waktu lama karena sering terjadi antrian panjang di gedung PBB.
H. Advokasi di PBB
Kekuatan UPR adalah rekomendasi yang disampaikan oleh
berbagai negara pihak pada sebuah negara yang sedang di-review. Jadi
para pihak yang mayoritas diwakili oleh permanent mission (wakil)
dari masing-masing negara di PBB, harus memiliki pemahaman yang
baik tentang kondisi HAM di Indonesia. Sumber referensi mereka
dapat dari laporan-laporan yang diserahkan ke PBB, termasuk laporan
Komnas Perempuan, dalam hal ini laporan Komnas Perempuan
ternyata cukup sering dijadikan acuan. Selain itu sumber referensi
utama mereka adalah catatan dari Kedutaan masing-masing negara
yang sedang di-review, juga hasil lobby dari berbagai pihak, antara
lain CSO yang melakukan diplomatic briefing di masing-masing
negara sebelum proses sidang UPR.
Untuk itu, lobby harus dilakukan saat sebelum berangkat ke
Jenewa maupun ketika sudah berada di Jenewa. Pengalaman Komnas
Perempuan melakukan lobby, ada yang masih bisa diintervensi namun
ada juga yang sudah tidak bisa diubah lagi statement/pernyataannya.
Alasan tidak diubah karena ada pesan dari pusat bahwa tidak bisa
diubah lagi, namun demikian sebenarnya sekitar 60% negara masih
bisa di-lobby/intervensi dengan mengambil poin kunci. Bahkan ada
yang menawarkan bantuan untuk memformulasikan kembali reko-
mendasi.
Komnas Perempuan pernah mengamati bahwa ada beberapa
permanent mission yang ‘malas’ dan mendaur ulang rekomendasi
12 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
mereka dari satu negara ke negara lain dengan perubahan kecil dan
bahkan tanpa pemahaman yang memadai akan kondisi negara yang
sedang di-review. Misalnya mendorong ratifikasi konvensi tertentu
padahal sudah diratifikasi, atau memberikan rekomendasi yang sangat
umum sehingga sulit untuk diimplementasikan.
Ada sejumlah strategi yang dapat dilakukan untuk melakukan
lobby ke negara-negara pihak yang akan me-review Indonesia, di
antaranya:
1. Mengikuti proses UPR negara lain sebelum giliran Indonesia di-
review untuk mengenali diplomat-diplomat dari berbagai negara
pihak yang akan me-review. Lakukan lobby kepada mereka saat
istirahat (break), atau datangi tempat duduk mereka sebelum atau
sesudah sessi.
2. Lobby di pintu keluar atau di kafetaria, pastikan dengan mencatat
email mereka.
3. Bagikan lobby paper, setidaknya diletakkan di pintu keluar atau di
meja display dalam ruangan siding.
4. Kenali warna badge para diplomat agar dapat mengenali apakah ia
dari level menteri, staf permanent mission, dan lain-lain.
I. Prinsip-prinsip dalam Melakukan Lobby
Kepada Peserta Sidang UPR
1. Sampaikan key point yang kita mintakan pada negara yang sedang
kita lobby dengan singkat. Misalnya: “Setiap 3 jam sekali dua
perempuan Indonesia mengalami kekerasan seksual, kami akan
sangat mengapresiasi apabila negara anda turut berkontribusi
terhadap rekomendasi pengesahan RUU Kekerasan Seksual”.
Atau “Indonesia punya tradisi demokrasi dan toleransi yang
tinggi, namun kami khawatir dengan kondisi akhir-akhir ini di
mana intoleransi berdampak serius pada perempuan. Senang jika
negara anda turut memberikan highlight untuk isu ini”, dan lain
sebagainya.
2. Munculkan urgensi dan argumentasi singkat serta data
3. Sampaikan lobby paper dengan bahasa santun, dengan realitas yang
objektif, baik kemajuan ataupun kemunduran dan kekhawatiran.
4. Ajak mereka untuk berada dalam empati dalam rangka mencari
isu common ground, misalnya memberikan pemahaman bahwa
persoalan migrasi atau PRT (Pekerja Rumah Tangga) adalah
kebutuhan bersama.
Advokasi Komnas Perempuan untuk Universal Periodic Review PBB § 13
5. UPR meletakkan semua rekomendasi dari berbagai negara secara
setara dan tercatat semua, namun demikian sebaiknya lobby
dimulai dari negara yang memiliki kerja sama yang erat dengan
Indonesia: seperti AS, Australia, Inggris, dan lain-lain.
6. Ada baiknya jika mengingatkan atau mengacu pada rekomendasi
negara tersebut pada UPR sebelumnya misalnya ratifikasi konvensi
tertentu yang belum juga direalisasikan.
7. Cek agenda/rekomendasi/ target yang sudah disusun Komnas
Perempuan dalam laporan independen yang diprioritaskan, se-
hingga semua isu bisa teradvokasi. Misal ada target untuk meng-
advokasi ratifikasi konvensi tertentu, namun di sisi lain penguatan
kelembagaan juga sangat dibutuhkan, karenanya lobby perlu
dibagi-bagi di antara negara-negara yang peduli.
8. Sehingga bisa mendorong isu-isu beragam pada negara-negara
yang berbeda agar semua isu yang dikawal Komnas Perempuan
bisa keluar dalam bentuk rekomendasi.
9. Gunakan argumen mutual benefit atau kedekatan sejarah tertentu
dan konektivitas tertentu dengan Indonesia.
Tips dan Teknik Advokasi Lainnya:
1. Melakukan update lewat media dengan pernyataan sikap agar
publik terlibat dan merasa ikut hadir dalam sidang UPR di Jenewa,
baik subtansi ataupun proses pada tahap-tahap penting yaitu: Tahap
adopsi awal dan tahap adopsi akhir. Buat apresiasi pada negara
yang mendorong adopsi sebanyak mungkin rekomendasi UPR.
Konferensi pers di Jenewa bisa dilakukan bersama dengan CSO
terkait dengan performance pemerintah Indonesia dan sejumlah re-
komendasi yang diadopsi dengan catatan bahwa KP sudah punya
rilis yang ditulis tersendiri untuk menjaga independensi.
2. Menulis surat resmi untuk mendorong pemerintah mengadopsi
sebanyak mungkin rekomendasi sebelum proses adopsi tahap
pertama.
3. Mengoptimalkan waktu di tengah jeda waktu agar bisa di-
isi dengan beberapa kegiatan: a) Mengikuti proses UPR ne-
gara lain sebelum Pemerintah Indonesia di-review untuk
mendapatkan gambaran tentang proses sidang UPR, b)
Melihat dengan cermat acara di PBB yang menarik dan
relevan untuk diikuti dan untuk memperluas wacana serta meng-
update isu-isu yang dikembangkan di PBB, c) Meluangkan wak-
14 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
tu untuk bertemu dengan PTRI (Perwakilan Tetap RI) di Jeneva
untuk meng-update situasi Indonesia berdasarkan temuan Komnas
Perempuan, d) Bertemu dengan CSO internasional yang relevan,
e) Mengeksplorasi gedung PBB beserta memorialisasinya dan
pameran, datang ke perpustakaan dan toko buku di PBB untuk
meng-update dan mencari buku-buku baru yang relevan bagi
Komnas Perempuan
4. Berkoordinasi dengan Komnas HAM dan NHRI lain untuk
membuat sikap bersama termasuk poin-poin oral intervention me-
wakili NHRI.
J. Pasca Sidang UPR
Setelah proses UPR selesai di Jenewa, ada beberapa hal penting
yang perlu dilakukan, di antaranya sebagai berikut:
1. Pertanggungjawaban ke publik melalui konferensi pers. Tradisi
Komnas Perempuan selalu membuat pernyataan publik sebagai
bagian dari akuntabilitas, edukasi dan partisipasi publik dalam
membangun komitmen HAM perempuan di Indonesia. Tekankan
sikap apresiasi yang positif kepada negara, dengan memberikan
catatan kritis. Sampaikan isu-isu HAM perempuan yang diadopsi,
dan mengajak negara maupun publik untuk mengawal rekomendasi
yang diterima Indonesia.
2. Membuat klasifikasi rekomendasi UPR untuk mendorong proses
adopsi dan mempermudah pengawalannya. Komnas Perempuan
membuat pengelompokan (clustering) rekomendasi berdasarkan
isu-isu perempuan khususnya isu yang jadi prioritas Komnas Pe-
rempuan.
3. Membuat diskusi di internal khususnya di paripurna untuk isu-isu
yang akan didorong untuk diadopsi negara.
4. Berkoordinasi dengan sejumlah pihak, terutama dengan CSO un-
tuk melihat isu-isu apa saja yang sama dan berbeda posisi.
5. Berkoordinasi dan meyakinkan pemerintah terutama pihak Ke-
menterian Luar Negeri untuk mengadopsi sebanyak mungkin reko-
mendasi-rekomendasi strategis pada tahap adopsi akhir.
6. Mendorong konsistensi Indonesia untuk mengawal berbagai re-
komendasi mekanisme HAM Internasional dengan memikirkan
bersama strategi pengawalannya, agar tidak hanya sibuk dengan
sibuk dengan ritual dan seremonial di gedung PBB di Jenewa.
Advokasi Komnas Perempuan untuk Universal Periodic Review PBB § 15
7. Membuat intervensi pada saat adopsi akhir baik dengan kehadiran
langsung di Jeneva bersama lembaga HAM lain maupun dengan
membuat poin intervensi untuk diintegrasikan dalam pernyataan/
statement NHRI.
8. Berkoordinasi dengan negara dan CSO untuk mengawal bersama
pelaksanaan dari rekomendasi sesuai dengan mandat masing-ma-
sing.
K. Strategi Komnas Perempuan untuk Mengawal
Rekomendasi Universal Periodic Review (UPR)
Siklus ke-3
Komnas Perempuan akan melakukan pemantauan dan advokasi
secara berkala dan terus menerus untuk mendorong rekomendasi
yang diterima oleh negara Indonesia pada saat Universal Periodic
Review (UPR) siklus ke-3 di PBB, termasuk mekanisme internasional
lain dapat terimplementasi. Adapun garis besar pengawalan terhadap
implementasi rekomendasi tersebut dilakukan dalam empat ranah
sebagai berikut:
1. Ranah Internal Komnas Perempuan
Pelaksanaan rekomendasi tersebut di internal Komnas Perempuan
akan dikawal melalui beberapa pendekatan:
• Tim Advokasi Internasional mengklasifikasi secara tematik reko-
mendasi berbagai mekanisme internasional pada Indonesia, untuk
memudahkan mekanisme tracking.
• Komnas Perempuan akan mengawal rekomendasi UPR yang re-
levan, terintegrasikan ke dalam hasil rapat kerja (Raker) tahunan
Komnas Perempuan.
• Mendorong pemerintah untuk mewujudkan rekomendasi tersebut
masuk ke Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) serta dituangkan ke dalam Rencana Aksi Nasional Hak
Asasi Manusia (RANHAM).
• Komnas Perempuan akan membuat laporan ke mekanisme HAM
internasional di PBB, termasuk kunjungan-kunjungan ke Indonesia
tentang perkembangan situasi HAM perempuan di Indonesia, ter-
masuk perkembangan implementasi rekomendasi UPR. Komnas
Perempuan sebagai salah satu mekanisme Ham perempuan akan
fokus pada hak asasi manusia perempuan dan kekerasan terhadap
16 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
perempuan. Misalnya saat kedatangan pelapor khusus PBB hak
atas kesehatan, hak atas pangan, dan sebagainya.
• Mendorong partisipasi publik. Inisiatif strategis lain yang akan
dilakukan oleh Komnas Perempuan adalah mengawal imple-
mentasi rekomendasi melalui siaran pers, kertas posisi, pernyataan
sikap, dan lain-lain. Agar rekomendasi-rekomendasi mekanisme
internasional diinternalisasi sebagai PR bangsa.
2. Mendorong Kementerian dan/atau Lembaga Negara
Komnas Perempuan akan melakukan pemetaan terhadap Kemen-
terian/lembaga dan para pemangku kepentingan lain yang terkait
dengan masing-masing thematic areas. Berdasarkan pemetaan tersebut
akan diidentifikasi peran masing-masing pihak untuk mengawal re-
komendasi UPR yang berada dalam area kerjanya. Misalnya untuk
thematic area isu tentang kekerasan seksual. Komnas Perempuan
akan berkordinasi dengan Kementerian Pendidikan Kementerian Ke-
sehatan, KPPA, APH dan lain-lain, maupun legislatif dan kementerian
relevan lain, untuk mendorong pencegahan dan penanganan sistemik.
Setiap sub-komisi/gugus kerja di Komnas Perempuan akan terlibat da-
lam pengambilan peran dan tanggung jawab mencari ruang strategis
untuk berkonsultasi dengan lembaga negara terkait perkembangan
implementasi rekomendasi UPR yang diterima oleh Indonesia.
3. Lembaga Nasional HAM/
National Human Rights Institution (NHRI)
Indonesia memiliki tiga Lembaga HAM Nasional yaitu Komnas
HAM, Komnas Perempuan dan KPAI (Komisi Perlindungan Anak
Indonesia) yang mempunyai berbagai inisiatif kerjasama. Salah satu
mekanisme yang pernah dikembangkan untuk memantau sejauh
mana isu perkembangan dan pelaksanaan rekomendasi mekaniame
HAM adalah penyelenggaraan Sidang HAM. Dalam Sidang HAM,
selalu dikembangkan mekanisme-mekanisme untuk mengefektifkan
komitmen dan pelaksanaan HAM. Idealnya sidang HAM bisa jadi
mekanisme tinjau ulang tahunan dimana Komnas Perempuan dan dua
NHRI lainnya dapat melihat kembali sejauh mana rekomendasi–re-
komendasi UPR sudah diimplementasikan oleh negara dan langkah
apa saja yang harus diambil untuk satu tahun ke depan guna memas-
tikan proses pengintegrasian berjalan dengan baik.
Program lain yang sudah dilakukan bersama dengan NHRI terkait
rekomendasi untuk mendorong ratifikasi Protokol Opsional Konvensi
Advokasi Komnas Perempuan untuk Universal Periodic Review PBB § 17
anti Penyiksaan (OPCAT). Namun mekanisme NPM (National Pre-
vention Monitoring againts Torture), dimana lima lembaga (Komnas
HAM, Komnas Perempuan, KPAI, LPSK dan Ombudsman) telah
berjalan salah satunya telah menandatangani MOU dengan Kemen-
terian Hukum dan HAM untuk membuka akses pemantauan di Lapas.
4. CSO dan Komunitas Korban
Sosialisasi hasil sidang UPR juga merupakan hal penting untuk
dilakukan oleh Komnas Perempuan dan lembaga lain sebagai bagian
dari upaya meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat In-
donesia dari berbagai lapisan terkait situasi pemenuhan HAM perem-
puan di Indonesia.
Sosialisasi ini akan berupa diseminasi informasi mengenai peran
apa saja yang bisa diambil oleh masyarakat sipil dalam upaya me-
ningkatkan pemenuhan hak asasi manusia di Indonesia, termasuk ba-
gaimana caranya mendorong pemerintah untuk memenuhi kewajib-
annya mewujudkan dan mengimplementasikan rekomendasi UPR.
Sinergitas jaringan masyarakat sipil, lembaga Nasional Hak Asasi
Manusia, dan para pembela hak asasi manusia akan ditingkatkan dan
diutamakan untuk memastikan bahwa advokasi di dalam gerakan ini
saling mendukung.
Demikian strategi advokasi pengawalan UPR dari pra hingga pas-
ca UPR, semoga tulisan ini bisa menjadi kontribusi dalam sejarah
Komnas Perempuan dalam peran advokasi internasional, juga dalam
rangka melembagakan pengetahuan, berbagi pengalaman dan layak
diteruskan dan dikembangkan di masa datang.
18 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
Bagian II
Laporan Independen Komnas Perempuan
Laporan Independen Komnas Perempuan
A. Metodologi dan Proses Konsultasi
1. Laporan ini disampaikan oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan
terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), salah satu Lembaga
Nasional Hak Asasi Manusia (LNHAM) di Indonesia dengan
mandat spesifik untuk membangun kondisi yang kondusif bagi
penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan
bagi pemenuhan hak asasi manusia (HAM) perempuan1.
2. Dalam menyusun laporan ini, Komnas Perempuan telah melakukan
konsultasi dengan organisasi masyarakat sipil, LNHAM lainnya
(Komnas HAM dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),
dan Kementerian terkait2.
B. Perkembangan Kondisi Hak Asasi Manusia di
Indonesia dan Pelaksanaan Rekomendasi UPR
B.1. Ratifikasi Instrumen Hak Asasi Manusia (HAM)
dan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia
(RANHAM)
3. Komnas Perempuan mengapresiasi ratifikasi Konvensi Hak-hak
Penyandang Disabilitas, Konvensi Perlindungan Hak-hak Pekerja
Migran dan Anggota Keluarganya, serta terbitnya Peraturan Pre-
siden No. 75 tahun 2015 tentang Rencana Aksi Nasional HAM
tahun 2015-2019. Namun agenda ratifikasi Protokol Opsional
Konvensi Anti Penyiksaan, Statuta Roma, Protokol Opsional
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap
Perempuan, Konvensi dan Protokol Opsional tentang Status
Pengungsi, Konvensi ILO 189, serta Konvensi Perlindungan bagi
Setiap Orang dari Penghilangan Paksa pada RANHAM 2011-2014
masih tertunda. Komnas Perempuan mendorong agar Pemerintah
Indonesia memasukkan seluruh agenda ratifikasi tersebut dalam
RANHAM 2015-2019.
B.2. Penguatan LNHAM dan Kemitraan
4. Komnas Perempuan mengapresiasi komitmen politik Presiden
Joko Widodo, DPR-RI, dan sejumlah kementerian lainnya yang
telah menyampaikan dukungan kepada Komnas Perempuan
sebagai LNHAM3, namun komitmen tersebut belum terim-
Laporan Independen Komnas Perempuan § 21
plementasi menjadi aksi nyata berupa alokasi sumber daya,
pendanaan4, dan unit kerja mandiri5. Rekomendasi: Pemerintah
Indonesia: (a) Menyediakan sumber daya yang memadai bagi
Komnas Perempuan, (b) Menindaklanjuti seluruh temuan dan
rekomendasi-rekomendasi dari LNHAM serta membangun dan
menjalankan mekanisme review secara berkala.
B.3 Pendidikan dan Pelatihan HAM bagi Institusi
Penegak Hukum
5. Komnas Perempuan mengapresiasi kerjasama antara Mahka-
mah Agung, Kejaksaan Agung, dan Kepolisian untuk menye-
lenggarakan pendidikan dan pelatihan HAM yang berperspektif
gender bagi Hakim, Jaksa dan Polisi6, termasuk dengan Lembaga
Ketahanan Nasional7. Namun pendidikan dan pelatihan tersebut
belum cukup untuk dapat mengubah perilaku aparat penegak hu-
kum dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan.
Komnas Perempuan mendorong pemerintah agar materi HAM
yang berperspektif gender masuk ke dalam kurikulum nasional
pendidikan dan pelatihan bagi aparat penegak hukum serta aparat
keamanan.
B.4. Kekerasan terhadap Perempuan
6. Komnas Perempuan mencatat sejumlah pola kekerasan yang harus
mendapat perhatian negara: (a) Meningkatnya kekerasan seksual8,
(b) Kriminalisasi terhadap perempuan9 menggunakan Undang-
Undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
Rumah Tangga10, (c) Kerentanan perempuan akibat perkawinan
yang tidak tercatat11, (d) Legalisasi perkawinan anak oleh Negara:
Komnas Perempuan menyesalkan keputusan Mahkamah Kons-
titusi yang menolak Hak Uji Materiil Undang-Undang No. 1 tahun
1974 tentang Perkawinan, untuk menaikkan batas umur minimum
perkawinan bagi perempuan12. Rekomendasi: (a) DPR-RI menge-
sahkan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual, (b)
HAM Perempuan diintegrasikan ke dalam materi pendidikan dan
latihan aparat penegak hukum, (c) Negara menaikkan batas umur
minimum perkawinan bagi perempuan menjadi 18 tahun, seba-
gaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 35 tahun 201413.
B.4.1. Perempuan Pekerja Migran: Kekerasan Seksual, Jebakan
Sindikat Narkoba dan Ancaman Hukuman Mati
7. Meskipun Pemerintah telah berusaha melakukan respon cepat pada
sejumlah kasus darurat yang dihadapi perempuan pekerja migran
dan memperbaiki sistem perlindungan di negara tujuan, Komnas
22 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
Perempuan mencatat sejumlah isu serius: (a) Kekerasan seksual,
terutama di negara tujuan, yang mengakibatkan perempuan kor-
ban pulang dengan membawa anak hasil dari perkosaan14, (b)
Jebakan sindikat Narkoba yang berujung pada hukuman mati. Di
antara sejumlah kasus yang dipantau, kasus MJV dan MU mem-
perlihatkan kegagalan proses hukum dalam mengenali mereka
sebagai korban yang terjebak dalam perdagangan orang, dan
minimnya pendampingan hukum yang disediakan15, (c) Terancam
hukuman mati di luar negeri: Kementerian Luar Negeri mencatat
lebih dari 209 pekerja migran Indonesia di luar negeri terancam
hukuman mati, 63 orang di antaranya adalah perempuan. Reko-
mendasi: (a) Negara memproses secara hukum dan melakukan
pemulihan korban kekerasan seksual termasuk yang berdampak
pada kehamilan, dan meminta pertanggungjawaban dari negara
penerima, (b) Negara harus membela dan meminta grasi untuk
semua pekerja migran yang terancam hukuman mati.
B.4.2 Kekerasan Seksual dan Akses Hukum bagi Perempuan
dengan Disabilitas
8. Komnas Perempuan mengapresiasi ratifikasi Konvensi Hak-Hak
Penyandang Disabilitas dan lahirnya Undang-Undang No. 8 tahun
2016 tentang Penyandang Disabilitas16. Komnas Perempuan me-
nemukan bahwa perempuan dengan disabilitas yang menjadi kor-
ban kekerasan seksual mengalami hambatan dalam mengakses
keadilan17. Rekomendasi: menjamin akses terhadap keadilan dan
proses hukum yang ramah bagi perempuan korban dengan dis-
abilitas melalui penguatan kapasitas aparat penegak hukum.
B.4.3. Kekerasan terhadap Perempuan dalam Penggusuran
9. Komnas Perempuan mencatat adanya sejumlah penggusuran paksa
di berbagai daerah, khususnya di Jakarta18. Penggusuran membuat
perempuan kehilangan tempat tinggal dan dapat berdampak
pada: meningkatnya kekerasan terhadap perempuan, hilangnya
mata pencaharian, tercerabut dari hubungan sosial dan dari akses
terhadap fasilitas dan layanan publik, serta ketidakpastikan atas
kepemilikan tanah. Rekomendasi: Negara menghentikan tindak-
an penggusuran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hak
asasi manusia, dan mencari penyelesaian tanpa kekerasan dengan
melibatkan perempuan dalam seluruh prosesnya.
B.4.4. Kekerasan terhadap Perempuan dalam Konteks Konflik
Sumber Daya Alam dan Isu Masyarakat Adat
10. Berdasarkan Hasil Inkuiri Nasional Komnas HAM tentang Hak
Laporan Independen Komnas Perempuan § 23
Masyarakat Hukum Adat atas Wilayahnya di Kawasan Hutan pada
tahun 2015, Komnas Perempuan menemukan adanya kekerasan
berbasis gender terhadap perempuan adat dan penyelesaian
konflik atas tanah/lahan ditangani dengan kekerasan oleh aparat
keamanan. Dalam kasus konflik sumber daya alam yang terkait
dengan investasi berskala besar di Pegunungan Kendeng, Jawa
Tengah, ada sejumlah perempuan pejuang lingkungan yang ber-
upaya melindungi daerah tersebut, mengalami ancaman dan ke-
kerasan19. Rekomendasi: (a) Seluruh kebijakan harus berbasis
kepada perlindungan HAM perempuan, hak-hak masyarakat hu-
kum adat dan lingkungan, (b) Presiden memenuhi komitmennya
untuk memoratorium pembangunan pabrik semen di pegunungan
Kendeng Jawa Tengah dan menjalankan Analisis mengenai Dam-
pak Lingkungan (AMDAL) dengan menggunakan perspektif
HAM Perempuan.
B.5. Perempuan dan Isu Hak Kesehatan Reproduksi
Seksual
B.5.1. Hak Atas Pendidikan bagi Siswi Hamil
11. Komnas Perempuan mengapresiasi adanya Surat Edaran
Badan Standar Nasional Pendidikan No. 16 tahun 2013 yang
membolehkan siswi hamil dan siswa yang sedang dalam ta-
hanan untuk tetap mengikuti ujian nasional. Apresiasi turut
ditujukan pada terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 82 tahun 2015 Tentang Pencegahan dan
Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Pen-
didikan, termasuk tindak kekerasan seksual. Namun, Komnas
Perempuan mencatat sepanjang tahun 2012-2015 kasus siswi
hamil yang harus putus sekolah dan tidak diijinkan mengikuti
ujian nasional tetap terjadi di sejumlah wilayah Indonesia20.
Rekomendasi: (a) Pejabat publik tidak memberi stigma ke-
pada korban kekerasan seksual, (b) Menjamin hak anak pe-
rempuan untuk menyelesaikan pendidikan dasar 12 tahun.
B.5.2. Aborsi bagi Perempuan Korban Perkosaan
12. Komnas Perempuan mengapresiasi terbitnya Peraturan Presiden
No. 61 tahun 2014 yang mendorong pencapaian upaya pemenuhan
hak atas kesehatan reproduksi bagi perempuan21. Namun syarat
pengecualian atas larangan aborsi dalam rentang waktu 40 hari
usia kehamilan masih menjadi persoalan karena korban kerapkali
tidak segera melaporkan kasus perkosaan yang dialaminya.
Selain itu, masih terjadi ketidakpastian hukum karena aborsi
24 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
masih merupakan tindak pidana dalam KUHP22. Rekomendasi:
Menyediakan akses terhadap aborsi bagi seluruh korban perkosaan
dan menghentikan kriminalisasi terhadap korban dan penyedia
layanan.
B.5.3. Tes Keperawanan
13. Komnas Perempuan menyayangkan tidak adanya kebijakan yang
menyebabkan terus berlangsungnya tradisi, wacana dan praktik
tes keperawanan yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata (TNI)
dan Kepolisian dalam proses seleksi masuk kandidat perempuan
di kedua institusi tersebut. Rekomendasi: Seluruh Institusi negara
untuk menghentikan sepenuhnya praktik tes keperawanan23.
B.5.4. Sunat Perempuan
14. Peraturan Menteri Kesehatan No. 6 tahun 2014 menyatakan bah-
wa sunat terhadap perempuan tidak ada manfaat kesehatannya dan
bahwa negara melalui Kementerian Kesehatan tidak akan mem-
fasilitasi sunat perempuan. Komnas Perempuan menyayangkan
Pasal 2 Peraturan Menteri ini yang menyerahkan kepada Majelis
Pertimbangan Kesehatan dan Syara’ untuk menyusun panduan pe-
laksanaan sunat perempuan, yang telah ditindaklanjuti oleh Ma-
jelis ini melalui surat keputusan No. 03/MPKS/SK/II/2014 ten-
tang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Khitan Perempuan
yang membolehkan praktik-praktik pelukaan genital perempuan
atas nama agama. Rekomendasi: Negara bersikap tegas meng-
hentikan praktik-praktik sunat perempuan dalam bentuk apa pun.
B.5.5. Diskriminasi dan Kekerasan terhadap Perempuan
Lesbian, Biseksual dan Transgender (LBT)
15. Meskipun telah ada beberapa peraturan yang berupaya menjamin
perlindungan terhadap prinsip non diskriminasi dan keragaman
orientasi seksual, namun implementasinya lemah24. Komnas Pe-
rempuan menerima aduan dan mencatat bahwa perempuan LBT
mengalami kekerasan dalam bentuk: (a) Penganiayaan berat, (b).
Kekerasan seksual, (c). Stigmatisasi oleh media25. Rekomendasi:
Pemerintah Indonesia meneguhkan prinsip non diskriminasi
dan bekerja untuk menghentikan diskriminasi dan kekerasan,
menegakkan hak asasi manusia yang mendasar, dan membangun
sistem pendidikan publik yang ramah terhadap orang/kelompok
dengan keragaman orientasi seksual dan identitas gender.
Laporan Independen Komnas Perempuan § 25
B.6. Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
B.6.1. Perempuan dalam Minoritas Agama
16. Komnas Perempuan mengapresiasi sejumlah langkah yang di-
tempuh oleh aparat penegak hukum untuk menindak para pe-
laku berbagai tindak kekerasan terhadap pemeluk agama mi-
noritas dan tempat beribadah mereka26. Berbagai tindak keke-
rasan, penyerangan dan perusakan tempat peribadatan terus
berlanjut terhadap penganut kepercayaan minoritas seperti Syiah,
Ahmadiyah, Baha’i dan Budha. Kelompok minoritas ini meng-
alami kesulitan dalam mendirikan rumah ibadah mereka. Kom-
nas Perempuan menemukan perempuan dari berbagai kelompok
minoritas agama tersebut mengalami diskriminasi berlapis,
stigmatisasi di masyarakat, kehilangan rasa aman, kehilangan
aset dan dokumen administratif, serta perendahan martabat dan
serangan bernuansa seksual. Kelompok minoritas ini terusir atau
dipindahkan secara paksa dari wilayahnya atas nama keamanan.
Contohnya termasuk Ahmadiah dan Syiah yang tinggal di pe-
nampungan sementara (Transito NTB, Rusun Jemundo Sidoar-
jo) selama bertahun-tahun. Rekomendasi: (a) Pemerintah me-
laksanakan putusan Mahkamah Konsitusi untuk merevisi Un-
dang-undang No. 1 tahun 1965 tentang PNPS untuk menjamin
kebebasan beragama, dan Peraturan Bersama Menteri Agama
dan Menteri Dalam Negeri No. 8 dan 9 tahun 2006 tentang
Pendirian Rumah Ibadah, (b). Mencabut SKB Menteri Agama,
Menteri Dalam Negeri dan Kejaksaan Agung tentang larangan
penyebarluasan ajaran Ahmadiyah, (c). Rancangan Undang-un-
dang Perlindungan Umat Beragama yang saat ini digodok di Ke-
mentrian Agama harus melindungi kelompok minoritas agama,
(d) Menyediakan mekanisme pemulihan dan rekonsiliasi bagi pe-
rempuan korban kekerasan atas nama agama.
B.6.2. Perempuan Penghayat Kepercayaan
17. Komnas Perempuan mendokumentasikan diskriminasi dan keke-
rasan yang dialami oleh para perempuan penghayat kepercayaan
dan penganut agama leluhur. Di antara bentuk-bentuk diskriminasi
tersebut termasuk kesulitan administrasi kependudukan untuk
dokumen pribadi seperti kesulitan pembuatan kartu tanda pen-
duduk, Akte kelahiran dan Akte perkawinan. Mereka juga me-
ngalami kekerasan fisik, psikis dan seksual karena kepercayaan
yang mereka anut27. Undang-Undang No. 24 tahun 2013 tentang
Administrasi Kependudukan (UU Adminduk) dan Peraturan
Pemerintah No 37 tahun 2007 tentang pelaksanaan UU Adminduk
masih membedakan hak warga berbasis agama/keyakinan.
26 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
Rekomendasi: (a) Negara mencatatkan penghayat kepercayaan
dan agama leluhur dalam kartu identitas penduduk sebagai
penghormatan pada hak kebebasan beragama, (b) Merevisi Un-
dang-undang No. 24 tahun 2013 tentang Administrasi Kepen-
dudukan dengan tidak mendiskriminasi penghayat kepercayaan
dan agama leluhur, (c) Meningkatkan pendidikan HAM bagi ma-
syarakat khususnya tentang penghormatan pada keberagaman
yang ada di Indonesia.
B.7. Kebebasan Berpendapat
17. Komnas Perempuan menyayangkan banyaknya pelanggaran
atas hak kebebasan berkumpul dan berpendapat yang terjadi di
Indonesia. Di antaranya: Pelarangan pemutaran film “Senyap”
tentang tragedi 1965; Pembubaran diskusi (khususnya terkait isu
LGBT); Pembubaran aksi damai; Pelarangan dan pembubaran
paksa forum korban maupun diskusi tragedi 1965; Pelarangan
buku-buku kiri dan penutupan paksa sebuah pondok pesantren
Waria. Rekomendasi: Memastikan aparat penegak hukum mem-
berikan jaminan rasa aman kepada setiap warga negara tanpa ke-
cuali dan menindak tegas pelaku intoleransi dan kekerasan, serta
menjamin pemenuhan hak setiap warga untuk berkumpul, ber-
serikat, dan berpendapat.
B.8. Keadilan dan Penegakan Hukum
B.8.1. Penghukuman tidak Manusiawi
18. Komnas Perempuan mengkhawatirkan langkah mundur penghu-
kuman yang sedang didorong oleh negara melalui proses legislasi
yaitu: (a) Hukuman mati sebagaimana tercantum dalam buku 1
RKUHP, Undang-Undang Terorisme dan Undang-undang Nar-
kotika. Komnas Perempuan menyesalkan tiga gelombang eksekusi
mati yang telah dilakukan negara. Dari pemantauan Komnas Pe-
rempuan terhadap enam perempuan yang terancam hukuman mati,
ada indikasi bahwa mereka adalah korban perdagangan orang, dan
proses hukum belum memenuhi prinsip keadilan bagi terdakwa.
Komnas Perempuan mengapresiasi sikap Presiden Joko Widodo
yang bersedia mendengarkan masukan Komnas Perempuan un-
tuk menunda dan memproses cermat kedua kasus perempuan
yang ditunda eksekusinya pada detik-detik jelang eksekusi yaitu
MJV dan MU, (b) Hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual
terhadap anak melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang (Perppu) No. 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas
Undang-Undang Perlindungan Anak. Hukuman ini bertentangan
Laporan Independen Komnas Perempuan § 27
dengan prinsip hak asasi manusia28, (c) Hukuman Cambuk di
Aceh: Komnas Perempuan mengkhawatirkan pembiaran yang
dilakukan oleh pemerintah atas nama otonomi daerah dengan
diberlakukannya hukuman cambuk di Aceh meskipun berten-
tangan dengan hukum nasional, konvenan international ICCPR
dan CAT. Hukuman cambuk ini diberlakukan melalui qanun No.
11/ 2002 tentang Syariat Islam, qanun No. 12 tahun 2003 ten-
tang Khamar, qanun No. 14 tahun 2003 tentang Khalwat, yang
kemudian dikukuhkan melalui qanun No. 6 tahun 2014 ten-
tang Qanun Jinayat. Komnas Perempuan mengkawatirkan pem-
berlakuan qanun jinayat ini memberi peluang atas hukuman
cambuk bagi perempuan korban perkosaan, karena dianggap me-
lakukan zina. Rekomendasi: (a) Menghapus pidana mati sebagai
Pidana pokok dari buku 1 RKUHP dan Perppu No. 1 tahun 2016
dan menghapus hukuman kebiri kimiawi, (b) Merumuskan keja-
hatan perkosaan dalam bab Tindak Pidana terhadap Badan atau
Kemerdekaan Orang dalam RKUHP, (c) Membahas segera Ran-
cangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual, (d)
Negara mencabut 421 kebijakan diskriminatif dan menghentikan
segala bentuk penghukuman yang kejam dan tidak manusiawi ser-
ta bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia.
B.8.2. Perempuan Korban Pelanggaran HAM Masa Lalu
19. Ada sejumlah hutang penuntasan pelanggaran HAM masa
lalu yang perlu ditindaklanjuti oleh negara termasuk tragedi
196529, tragedi Mei 199830, Aceh31, Papua32, Poso33, dan Timor
Leste34. Komnas Perempuan mengapresiasi komitmen Presiden
untuk menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu, inisiatif
dari pemerintah daerah35, dan kompensasi untuk korban yang
diserahkan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (ter-
utama untuk korban tragedi 196536). Namun, Komnas Perempuan
menyesali terbatasnya langkah-langkah yang diambil pemerintah,
dan belum terpenuhinya keadilan bagi korban kekerasan seksual.
Rekomendasi: (a) Presiden harus konsisten dalam penyelesaian
pelanggaran HAM masa lalu sesuai dengan mandat konstitusi
dan Nawacita, (b) Proses hukum harus diteruskan dan hentikan
impunitas bagi pelaku yang terlibat, khususnya terkait kekerasan
seksual, (c) Pemerintah Indonesia harus mendukung eksistensi
dan kerja Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) di Aceh, (d)
Pemerintah harus menyediakan pemulihan yang menyeluruh bagi
perempuan korban kekerasan seksual.
B.8.3. Persoalan HAM Perempuan di Papua
19. Presiden mempunyai komitmen politik untuk membangun Pap-
28 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
ua dan telah membuka kesempatan kepada Jurnalis asing untuk
meliput Papua. Namun komitmen tersebut belum paralel dengan
realitas politik di Papua akibat kekerasan yang berkepanjangan di
Papua37. Isu-isu yang muncul dalam pemantauan Komnas Perem-
puan di antaranya: (a) Belum adanya penyelesaian pelanggaran
HAM masa lalu yang memenuhi keadilan perempuan korban, (b)
Adanya lingkaran kekerasan yang berulang di ranah publik dan
domestik, dan impunitas bagi pelaku, (c) Stigma separatis mudah
dilekatkan ke perempuan pembela HAM, (d) Marginalisasi pe-
rempuan asli Papua di ruang politik, sosial dan ekonomi, (e). Su-
litnya akses sumber penghidupan akibat kurangnya hak atas tanah
dan kerusakan lingkungan. Rekomendasi: (a) Cegah dan hentikan
kekerasan terhadap perempuan di Papua, khususnya di ranah do-
mestik dan publik, (b) Selesaikan pelanggaran HAM dan hentikan
impunitas bagi pelaku, (c) Sediakan pemulihan bagi para korban
yang mengalami kekerasan seksual dalam konteks konflik melalui
implementasi perundang-undangan (Perdasus No. 1 tahun 2011
tentang Pemulihan Hak Perempuan Papua Korban Kekerasan dan
Pelanggaran HAM) dan segera dilakukan uji coba program per-
contohan Wilayah Bebas Kekerasan terhadap Perempuan di Papua.
B.9. Akuntabilitas Negara dalam Mekanisme HAM
Regional dan Internasional
20. Komnas Perempuan mengapresiasi adanya kebijakan-kebijak-
an ASEAN terkait penghapusan kekerasan terhadap perempu-
an38. Namun dukungan negara untuk menjalankan kerja-kerja
regional Komisi ASEAN untuk perlindungan perempuan dan
anak (ASEAN Commission for the Protection of Women and
Children (ACWC) sangat terbatas. Lembaga HAM belum me-
miliki posisi formal dalam mekanisme HAM ASEAN karena ti-
dak semua negara ASEAN memiliki lembaga HAM. Rekomen-
dasi-rekomendasi dari mekanisme HAM internasional belum
dijalankan dalam kerja yang sistematis. Rekomendasi: (a). In-
donesia mengambil kepemimpinan untuk memperkuat indepen-
densi dan dukungan bagi AICHR dan ACWC di ASEAN, (b).
Membangun mekanisme konsultatif berkala yang terdiri dari
beragam pemangku kepentingan untuk meninjau implemen-
tasi mekanisme PBB, (c). Pelaporan negara untuk isu perem-
puan dalam CEDAW dan CERD harus dilakukan tepat waktu.
Laporan Independen Komnas Perempuan § 29
Catatan
1. Komnas Perempuan lahir dari tuntutan masyarakat sipil, terutama ke-
lompok perempuan, kepada Pemerintah untuk mewujudkan tanggung
jawab negara atas berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan, teru-
tama kekerasan seksual yang dialami perempuan dalam kerusuhan Mei
1998 yang diarahkan kepada etnis Tionghoa di Jakarta dan beberapa
kota besar lainnya di Indonesia. Komnas Perempuan dibentuk melalui
Keputusan Presiden No. 181 Tahun 1998 yang kemudian diperkuat den-
gan Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2005. Komnas Perempuan adalah
sebuah lembaga negara yang independen dengan mandat untuk melak-
sanakan pendidikan publik, pemantauan dan pencarian fakta, penelitian
strategis dan uji kebijakan, untuk menyedia rekomendasi kebijakan ke-
pada institusi negara dan organisasi masyarakat, dan untuk membangun
jaringan di tingkat lokal, nasional dan internasional. Fokus laporan ini
adalah pada perkembangan dan tantangan yang dihadapi dalam upaya
me nangani dan menghapuskan kasus kekerasan terhadap perempuan di
Indonesia.
2. Lihat lampiran 1 untuk daftar organisasi yang berpartisipasi dalam kon-
sultasi yang diadakan oleh Komnas Perempuan pada tanggal 23 Agustus
2016. Konsultasi gabungan dengan dua LNHAM lainnya, yaitu Komi-
si Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Komisi Perlin-
dungan Anak Indonesia (KPAI), serta pemerintah Indonesia (melalui
Kementerian terkait) dilakukan satu kali pada bulan Agustus 2016.
3. Presiden telah menyetujui ijin prakarsa perubahan Peraturan Presiden No.
65 tahun 2005 sebagai dasar hukum dalam penguatan kelembagaan Kom-
nas Perempuan.
4. Alokasi anggaran Komnas Perempuan menurun dari 12 milyar menjadi
9 Milyar setiap tahunnya untuk periode 2015-2019.
5. Saat ini Komnas Perempuan berada di bawah satuan kerja (Satker) Kom-
nas HAM. Komnas Perempuan ingin menjadi satuan kerja mandiri agar
diperlakukan sama seperti LNHAM lainnya yang mengelola institusi
mereka secara mandiri, juga sebagai bagian pengakuan terhadap pent-
ingnya kerja organisasi perempuan.
6. Berdasarkan “Kesepakatan Bersama Akses Keadilan Bagi Perempuan
Korban Kekerasan” antara Komnas Perempuan dan beberapa institusi
penegak hukum yang ditandatangani pada tahun 2011, sejumlah Pen-
didikan dan Latihan tentang HAM berperspektif gender telah dilaksan-
akan. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pendidikan dan
Latihan Hukum dan Keadilan Mahkamah Agung RI telah menyelengga-
rakan pendidikan dan pelatihan khusus bagi 40 orang hakim sejak tahun
2012 sampai dengan tahun 2015 terkait kekerasan terhadap perempuan
terutama tindak pidana KDRT. Demikian pula Badan Pendidikan dan
Latihan (Badiklat) Kejaksaan Agung RI yang menyelenggarakan pen-
30 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
didikan dan pelatihan serupa pada tahun 2014 dan 2015. Komnas Per-
empuan juga mencatat bahwa pendidikan bagi 7000 orang calon Polwan
tahun 2014 telah mengintegrasikan materi HAM dan gender. Salah satu
kemajuan dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan adalah selain
menggunakan metode ceramah dan belajar di kelas, Badiklat Kejaksaan
RI juga menggunakan metode dialog dengan LNHAM dan lembaga
pengada layanan.
7. Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) adalah lembaga yang men-
didik dan mencetak calon-calon pemimpin daerah dan nasional. Komnas
Perempuan telah membangun MoU dengan Lemhanas untuk mengem-
bangkan materi HAM berbasis gender di dalam proses pendidikan. Tu-
juan dari kerjasama ini adalah lahirnya para pemimpin Indonesia yang
memiliki perspektif gender yang baik dalam membuat kebijakan.
8. Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan, pada tahun 2014 ter-
dapat 2183 laporan kasus kekerasan seksual yang artinya setara dengan
tiga perempuan korban setiap dua jam. Komnas Perempuan telah men-
dokumentasikan 15 jenis bentuk kekerasan seksual dari berbagai kon-
teks, baik kekerasan negara dalam konteks konflik, komunitas maupun
personal. Antara lain perkosaan, intimidasi seksual (termasuk ancaman
atau percobaan perkosaan), pelecehan seksual, eksploitasi seksual, per-
dagangan perempuan untuk tujuan seksual, prostitusi paksa, perbudakan
seksual, pemaksaan perkawinan (cerai gantung), pemaksaan kehamilan,
pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi, penyiksaan
seksual, penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual, praktik
tradisi bernuansa seksual, dan kontrol seksual (aturan diskriminatif ber-
dasarkan moralitas dan agama).
9. Hal ini terjadi karena beban pembuktian yang dibutuhkan untuk mem-
proses kasus kekerasan, dan kurangnya kesadaran gender dalam lembaga
penegak hukum.
10. Sejak tahun 2001, Komnas Perempuan setiap tahunnya menyusun Ca-
tatan Tahunan (CATAHU) yang berisi himpunan data kasus kekerasan
terhadap perempuan yang ditangani oleh lembaga pengada layanan di
seluruh Indonesia, baik yang diselenggarakan negara maupun oleh mas-
yarakat. Tahun 2015, ada 232 lembaga yang mengembalikan formulir
data CATAHU. Catatan Tahunan mendokumentasi 216.516 kasus di ta-
hun 2012; 279.688 di tahun 2013; 293.220 di tahun 2014, dan 321.572
kasus di tahun 2015. Komnas Perempuan mencatat 60% korban KDRT
mengalami kriminalisasi, 10% (14 kasus sepanjang 2011 - 2015) di
antaranya menggunakan UU PKDRT. Pelaporan terjadi karena suami
mengalami luka, atau terbunuh saat melakukan kekerasan fisik kepada
istri. Suami sering memaksa istri untuk mencabut gugatan cerai. Perem-
puan juga sering terpaksa meninggalkan suami/ rumah untuk keluar dari
Laporan Independen Komnas Perempuan § 31
kekerasan suami. Situasi kriminalisasi ini terjadi karena aparat peneg-
ak hukum (APH) dalam menerapkan UU PKDRT belum menjalankan
perintah UU PKDRT, yaitu untuk melakukan analisis hubungan yang
timpang antara suami-istri yang mengakibatkan terus terjadinya siklus
kekerasan dalam rumah tangga. Semua situasi ini menyebabkan korban
merasa terintimidasi dan akibatnya, sejumlah korban mencabut laporan-
nya atau meminta APH menghentikan proses kasus atas kekerasan yang
dialaminya. Terkait isu kekerasan dalam pacaran (KDP), berikut data
KDP pada tahun 2012-2015 berdasarkan data pengaduan langsung ke
Komnas Perempuan dan data lembaga layanan melalui Catatan Tahunan
Komnas Perempuan:Tahun 2012: 1.145 kasus, tahun 2013: 2.664 kasus;
tahun 2014: 1877 kasus dan tahun 2015: 2839 kasus. Bentuk kekeras-
an yang dialami berlapis, kekerasan fisik yaitu dengan dipukul, didor-
ong, digigit, dicekik, ditendang. Sedangkan kekerasan psikologis yaitu
dengan cara mengancam, menghina, merendahkan, mengintimidasi dan
mengisolasi. Korban juga dikontrol dengan menggunakan kecemburuan
untuk membenarkan tindakan pelaku. kekerasan seksual adalah bentuk
kekerasan yang paling banyak dialami korban, pelaku melakukan anca-
man untuk mendapatkan seks seperti ancaman akan menyebarluaskan
foto telanjang korban melalui media sosial dan berulangkali memaksa
korban untuk melakukan hubungan seksual dan pemaksaan aborsi.
11. Pada tahun 2012, perkawinan yang tidak tercatat marak dilakukan oleh
pejabat publik. Komnas Perempuan menerima pengaduan sebanyak
enam kasus. Pada tahun 2013, seorang pria berumur 67 tahun, berinisial
ES, mengawini anak perempuan berumur 8 perempuan secara siri. Se-
panjang tahun 2015, data perkawinan yang tidak tercatat (perkawinan
secara agama atau secara adat) yang diadukan ke Komnas Perempuan
tercatat sejumlah 71 kasus. Perkawinan tidak tercatat tersebut terjadi ka-
rena kehamilan, dan tidak ada biaya untuk menikah secara resmi. Selain
itu juga banyak yang merupakan perkawinan poligami dimana istri per-
tama tidak memberikan ijin, dan banyak dilakukan oleh figur publik.
12. Meskipun Mahkamah Konstitusi telah membuat kemajuan terkait peng-
akuan hak anak dari perkawinan tidak tercatat, dimana anak harus diakui
sebagai keturunan biologis dari ayahnya (dan memiliki hak keperdata-
an), keputusan ini sulit diakses oleh istri/ perempuan. Perlindungan hu-
kum untuk perempuan dan anak dari perkawinan tersebut, juga untuk
perempuan korban kekerasan dalam pacaran sangat minim. UU Perka-
winan masih membolehkan perkawinan anak perempuan berumur 16
tahun. Perkawinan anak melanggar hak asasi, diantaranya: hak tumbuh
kembang, hak pendidikan, hak atas sumber penghidupan, hak sosial dan
politik, dan hak bebas dari kekerasan. Hak-hak ini saling berkelindan.
Ketika hak memperoleh pendidikan terhenti, hak memperoleh penghidu-
pan yang layak akan terhenti pula karena hanya suami yang memperoleh
32 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
akses terhadap mata pencaharian. Perempuan yang putus sekolah tidak
dapat bersaing dalam pasar kerja. Komnas Perempuan mencatat mel-
alui CATAHU bahwa perkawinan anak mengakibatkan cepat terjadinya
perceraian: 498 kasus di tahun 2012; 827 kasus di tahun 2013; 353 kasus
di tahun 2014; dan 1.131 kasus di tahun 2015.
13. UU No. 35 tahun 2015 tentang perubahan atas UU No. 23 tahun 2002
tentang perlindungan anak dimana disebutkan dalam pasal 1 bahwa de-
finisi anak adalah seseorang yang belum berumur 18 tahun, dan termasuk
anak yang masih dalam kandungan.
14. Perempuan korban kekerasan seksual kesulitan untuk mengatasi stigma-
tisasi di dalam komunitas. Impunitas terhadap pelaku di negara penerima
dan kurangnya sistem pemulihan dalam penanganan kasus semacam ini
adalah persoalan serius.
15. Eksekusi mati juga dihadapi oleh dua perempuan pekerja migran In-
donesia di Arab Saudi yaitu Siti Zainab dan Karni binti Medi Taslim.
Siti Zaenab adalah perempuan pekerja migran asal Madura, Jawa Timur
yang dieksekusi pada 14 April 2015 di kota Madinah, setelah 16 tahun
menjalani hukuman penjara, karena permintaan maaf kepada keluarga
korban ditolak. Hal yang sama dialami oleh Karni binti Medi Taslim
yang dieksekusi pada 16 April 2015, setelah pengadilan menjatuhkan
hukuman mati pada tahun 2013. Karni meninggalkan tiga orang anak,
satu di antaranya masih berumur 8 tahun.
16. Di antaranya implementasi Peraturan Daerah di Daerah Istimewa Yogya-
karta No. 4 tahun 2012 yang menyebutkan bahwa penyandang disabilitas
mempunyai hak dan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan kese-
hatan reproduksi.
17. Pada tahun 2014, terdapat 40 kasus (37 kasus kekerasan seksual, 2 kasus
kekerasan fisik dan 1 kasus penelantaran). Perempuan dengan disabili-
tas rentan mengalami kekerasan dan menghadapi hambatan dalam proses
hukum yang aksesibel (yang berhubungan erat dengan kemampuan ber-
bicara, mental, aktivitas dan ketahanan tubuh serta daya fokus). Masih
ada stigmatisasi bahwa menjadi disabilitas atau memiliki anak dengan
disabilitas adalah penyakit turunan dan kutukan. Kekerasan terhadap per-
empuan dengan disabilitas yang sering dilaporkan adalah kekerasan ter-
hadap perempuan dengan disabilitas mental, sebanyak 21 kasus.
18. Komnas Perempuan telah menerima pengaduan korban yang tergusur
dari rumah mereka karena pembangunan waduk Jatigede di Jawa Barat.
Komnas Perempuan juga melakukkan pemantauan di beberapa daerah
penggusuran di Jakarta, umumnya untuk normalisasi Sungai Ciliwung.
Komnas Perempuan juga memantau situasi yang dialami komunitas mi-
noritas agama Gafatar yang terusir dari Kalimantan karena alasan “de-
radikalisasi”.
Laporan Independen Komnas Perempuan § 33
19. Pada November 2014, Komnas Perempuan menerima pengaduan ke-
kerasan terhadap perempuan terkait dengan pembangunan pabrik semen
di daerah Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Karena tidak adanya
penyelesaian, pada September 2016, Komnas Perempuan melakukan
pemantuan di Pati, Rembang, Grobogan dan Kendal. Pemantauan ini
menemukan bahwa proses hukum tidak memberikan keadilan bagi ko-
munitas lokal. Ada perbedaan Analisis mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL) dari kelompok pengusaha dan masyarakat. Proses AMDAL
tidak melibatkan dan tidak mendengarkan keberatan dari kelompok per-
empuan. Masyarakat terbelah menjadi kelompok yang mendukung dan
kelompok lawan dari pihak pabrik semen. Ancaman terhadap peremp-
uan pembela HAM telah mengakibatkan kekerasan berbasis gender da-
lam masyarakat dan berpotensi mencerabut masyarakat adat dari tanah
adat dan sumber daya alam. Hal ini mengancam kekayaan dan keunikan
identitas budaya masyarakat Kendeng utara dan masyarakat di bagian
selatan Jawa tengah. Beberapa kasus yang dilaporkan kepada Komnas
Perempuan, adalah: 1) Kekerasan fisik, yang terjadi saat 155 perempuan
melakukan aksi menutup jalan menuju lokasi peletakan batu pertama
pembangunan pabrik semen, dan dihalau oleh aparat keamanan. Mereka
diinjak, ditendang, diseret, dicekik dan ditarik oleh polisi untuk mem-
bubarkan aksi mereka. Bahkan sebagian perempuan dipindahkan secara
paksa dengan cara dilempar ke semak-semak yang mengakibatkan ping-
san dan beberapa luka-luka; 2). Kekerasan psikis dari polisi, yang men-
gancam ibu-ibu yang menolak pembangunan pabrik semen dengan an-
caman penculikan. Mereka juga mengalami intimidasi dari preman yang
datang ke rumah warga yang menakut-nakuti ibu-ibu dengan parang. Be-
berapa situasi yang pernah dilaporkan tersebut terus berlangsung hing-
ga saat ini, untuk tujuan: 1) Terpecah-pecahnya solidaritas masyarakat
dan terputusnya kekerabatan sosial akibat perbedaan pendapat terkait
pembangunan pabrik semen tersebut; 2) Terganggunya pekerjaan rumah
tangga dan aktivitas ekonomi keluarga karena perjuangan yang dilaku-
kan para perempuan sejak bulan Juni 2014; 3) Sejak 2016, para peremp-
uan mulai resah dengan munculnya warung-warung kopi di sekitar area
pabrik semen yang potensi memunculkan prostitusi terselubung.
20 Sepanjang tahun 2015, kasus siswi perempuan yang kehilangan hak
atas pendidkan terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia dan telah
ramai diliput di media regional maupun nasional. Kasus semacam ini,
diantaranya terjadi di Surabaya, Lamongan, Menado, Bengkulu, Deli
Serdang, Pontianak, Samarinda dan Sulawesi Selatan. Hilangnya hak
atas pendidikan ini sering disebabkan oleh kebijakan yang dikeluarkan
sekolah atau guru yang terus hanya memprioritaskan kredibilitas sekolah
mereka tanpa mempertimbangkan perspektif korban. Siswi hamil diang-
gap kurang bermoral atau telah melakukan seks bebas, dan harus mener-
34 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
ima hukuman. Fenomena siswi hamil ini jarang berujung pada evaluasi
atas kurangnya pendidikan kesehatan reproduksi untuk siswa/siswi, yang
mengakibatkan kurangnya pemahaman mereka ketika membuat pilihan
untuk melakukan hubungan seksual dan dampaknya. Sekolah dan guru
juga tidak mempertimbangkan kemungkinan siswi hamil karena paksaan
atau perkosaan.
21. Peraturan daerah tentang Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir dan Anak
(KIBBLA) diterbitkan oleh sejumlah kabupaten/kota antara antara lain
di Jawa Barat; Bandung (No 8/2009), Sumedang (No. 3 tahun 2008),
Purwakarta No. 3 tahun 2009), Cimahi (No 4 tahun 2009), Bulungan
(No. 6 tahun 2011); Jawa Tengah: Jepara (No. 25 tahun 2011), Nusa
Tenggara Timur; Kota Kupang (No. 7 tahun 2011), Kalimantan; Hulu
Sungai Selatan (No. 4 tahun 2012), Kolaka (No. 7 tahun 2013), Hulu
Sungai Utara (No.3 tahun 2014), Banjarmasin (No. 8 tahun 2013), dan
Nusa Tenggara Barat (No. 7 tahun 2011).
22. Dalam pasal 75 UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan disebutkan
bahwa aborsi adalah tindak pidana, dan siapapun yang melakukan aborsi
akan dijatuhi hukuman penjara paling lama 10 tahun dan denda paling
banyak 1 milyar rupiah. Hanya ada dua pengecualian yang memungkin-
kan seorang perempuan mendapatkan layanan aborsi dari praktisi medis
secara sah yaitu bila (1) Jika perempuan mengalami komplikasi kehami-
lan yang dapat mengancam nyawa, dan (2) Jika kehamilan terjadi akibat
perkosaan. Pernyataan dalam Undang-undang ini, kembali menempat-
kan perempuan pada kondisi yang sangat rentan untuk melakukan aborsi
ilegal yang tidak aman, yang dapat mengakibatkan kematian.
23. Tes keperawanan dalam seleksi Polisi wanita (Polwan) dilakukan ber-
dasarkan Peraturan Kepala Kepolisian RI No.5 tahun 2009 tentang Pe-
doman Pemeriksaan Kesehatan Penerimaan Calon Anggota Kepolisian
RI. Disebutkan pada pasal 36, calon Polwan harus menjalani pemerik-
saan rahim dan genitalia. Meski peraturan tersebut tidak menyebutkan
secara eksplisit tentang tes keperawanan, namun kesaksian para calon
Polwan yang menjalani seleksi polwan tahun 2008 di Makassar dan ta-
hun 2014 di Bandung yang diungkap oleh Human Rights Watch (HRW)
menunjukkan adanya praktik tersebut.
24. Beberapa peraturan tersebut adalah: (a) Peraturan Kepala Kepolisian Ne-
gara Republik Indonesia No. 8 tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip
dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepoli-
sian Negara Republik Indonesia. Pasal 4(h) peraturan tersebut menjelas-
kan bahwa HAM tidak membedakan ras, etnik, ideologi, budaya, agama,
keyakinan, falsafah, status sosial, dan jenis kelamin/ orientasi seksual,
melainkan mengutamakan komitmen untuk saling menghormati untuk
menciptakan dunia yang beradab; (b) Surat Edaran Kapolri No.6/X/2015
Laporan Independen Komnas Perempuan § 35
tentang Penanganan Ujaran Kebencian. Pasal 2 (g) poin 11 peraturan ini
menyatakan larangan menghasut dan menyulut kebencian terhadap indi-
vidu atau kelompok masyarakat dalam berbagai komunitas berdasarkan
aspek orientasi seksual; (c). Direktorat Jenderal Pelayanan Medik De-
partemen Kesehatan RI tahun 1993 mengeluarkan Diagnostic and Sta-
tistical Manual of Mental Disorders (DSM) IV melalui Pedoman Peng-
golongan dan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ) III Poin F66 yang
menjelaskan bahwa orientasi seksual terdiri dari heteroseksual, homo-
seksual dan biseksual, sehingga keragaman orientasi seksual bukanlah
kelainan seksual.
25. Pada tahun 2013 terdapat 49 kasus kekerasan terhadap perempuan LBT,
dimana 23 kasus di antaranya merupakan kekerasan seksual yang dila-
porkan kepada lembaga pengada layanan yang kemudian mengirim
pengaduan ke Komnas Perempuan. Selain itu, ada dua kasus yang di-
laporkan langsung ke Komnas Perempuan (Catahu, 2013: Kegentin-
gan Kekerasan Seksual: Lemahnya Upaya Penanganan Negara, Hal.
26, [Link]
[Link]), Pada tahun 2014 ter-
dapat 37 kasus, dengan 12 kasus diantaranya merupakan kekerasan
seksual yang dilaporkan ke lembaga pengada layanan yang mengirim-
kan formulir pendataan kembali ke Komnas Perempuan (Catahu, 2014:
Negara Segera Putus Impunitas Pelaku, Hal. 24, [Link]
[Link]/wp-content/uploads/2016/05/CATAHU-2015-Ke-
kerasan-terhadap-Perempuan-Negara-Segera-Putus-Impunitas-Pelaku.
pdf). Pada tahun 2015 terdapat 20 kasus dengan 7 kasus diantaranya
merupakan kekerasan seksual, yang dilaporkan dari lembaga pengada
layanan yang mengirimkan formulir pendataan kembali ke Komnas Per-
empuan (Catahu, 2015, [Link]
tent/uploads/2016/03/KOMNAS-PEREMPUAN-_-CATATAN-TA-
[Link]).
26. Di antaranya kasus pembakaran 10 wihara/klenteng Budha di Tanjung
Balai, Sumatera Utara dan kasus perusakan masjid Ahmadiyah di Suka-
bumi, Jawa Barat dan Kendal, Jawa Tengah.
27. Lihat bagian terkait dalam laporan hasil pemantauan tentang diskrimi-
nasi dan kekerasan terhadap perempuan dalam konteks kebebasan
beragama dan berkeyakinan bagi kelompok penghayat kepercayaan
dan penganut agama leluhur dan pelaksana ritual adat. [Link]
[Link]/laporan-hasil-pemantauan-tentang-diskrimi-
nasi-dan-kekerasan-terhadap-perempuan-dalam-konteks-kebeba-
san-beragama-dan-berkeyakinan-bagi-kelompok-penghayat-keper-
cayaanpenganut-agama-leluhur-dan-pe/
36 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
28. Alasan penolakan hukuman kebiri; (1) Tidak setiap kasus kekerasan sek-
sual diproses sampai ke persidangan, dan sekalipun diproses di persi-
dangan belum tentu menghasilkan putusan yang menjatuhkan ancaman
pidana maksimal terhadap pelaku. Artinya, ada persoalan di hukum
acara dan penegakan hukum yang membuat korban tidak memperoleh
keadilan melalui jalur hukum. Dalam kondisi demikian, sangat sulit
mengharapkan hukuman kebiri akan efektif memutus impunitas pelaku,
(2). Pelaksanaan pidana mati dan kebiri akan menelan biaya cukup be-
sar, sementara perlindungan terhadap korban, misalnya penyediaan bia-
ya visum yang masih belum maksimal sehingga membuat korban sulit
menguatkan pembuktian kasus kekerasan seksual yang dialaminya, (3)
Dalam hal korban atau keluarganya menempuh jalur hukum, kerap kali
dijumpai adanya intimidasi dari pelaku dan keluarga pelaku yang ingin
menghindari pemidanaan, termasuk ancaman pidana kebiri, sehingga
membuat proses hukum akhirnya berhenti.
29. Laporan Komnas Perempuan “Kejahatan terhadap Kemanusiaan Berba-
sis Gender: Mendengarkan Suara Perempuan Korban Peristiwa 1965”,
mengumpulkan fakta dari 122 perempuan saksi korban, yang terdiri dari
74 kasus perkosaan, dan 21 kasus perbudakan seksual. Definisi diatas
merujuk pada Konvensi Perbudakan tahun 1925 dan Statuta Roma, pasal
7 dan kemudian dikembangkan berdasarkan temuan di lapangan.
30. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Tragedi Mei 1998 mencatat 1,190
korban meninggal dunia, 91 orang luka-luka, 85 perempuan korban ke-
kerasan seksual, kebanyakan adalah perempuan Tionghoa.
31. Laporan ini mendokumentasikan 103 laporan kasus kekerasan terhadap
perempuan di 13 kota/kabupaten di Aceh, yaitu Banda Aceh, Aceh Be-
sar, Aceh Jaya, Aceh Barat Selatan, Pidie, Bireun, Lhokseumawe, Aceh
Utara, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tengah, Aceh Tamiang dan Benar Me-
riah. Kasus-kasus ini dikategorikan ke dalam tiga periode: a) Era Operasi
Militer (sebelum 1999: 2 kasus); b) Era Dialog Damai (2000 - Mei 2003:
14 kasus); c) Era Darurat Sipil dan Militer (19 Mei 2003 – 15 Agustus
2005: 65 kasus); d) Periode Perjanjian Perdamaian antara Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia (Agustus 2005 –
Agustus 2007: 17 kasus) dan e) Sepanjang periode antara waktu-waktu
tersebut, yaitu dimana kasus-kasus kekerasan yang terjadi sepanjang dua
atau lebih periode di atas (5 kasus).
32. Kasus tersebut merupakan fenomena gunung es karena jumlah kasus
kekerasan yang sesungguhnya terjadi bisa jadi lebih tinggi. Lebih dari
separuh kasus yang didokumentasikan merupakan kekerasan seksual
(59% atau 61 kasus), terdiri dari 31 kasus perkosaan, 11 kasus penyik-
saan seksual, 8 kasus penghukuman yang kejam dan tidak berperikema-
nusiaan, 3 kasus penganiaayaan seksual, dan 8 kasus eksploitasi seksual.
Laporan Independen Komnas Perempuan § 37
42 kasus lainnya merupakan kasus non kekerasan seksual, yaitu peny-
iksaan (32 kasus), penghukuman yang kejam dan tidak berperikema-
nusiaan (9 kasus), dan penganiayaan (1 kasus). 76 dari 100 kasus, dan
28 dari pelaku yang terlibat, adalah aparat keamanan, dimana biasanya
terjadi pada kategori kasus penyiksaan dan hukuman yang kejam dan
tidak berperikemanusiaan. Kasus semacam ini umumnya menargetkan
perempuan yang dituduh menjadi bagian dari “Inong Balee” (tentara
perempuan GAM), atau istri dari anggota GAM.
Tiga kasus hukuman yang kejam dan tidak berperikemanusiaan dilaku-
kan oleh tentara GAM kepada anggota keluarga atau istri tentara Indo-
nesia (TNI). 18 korban merupakan anak-anak, dimana korban termuda
adalah anak berumur 7 tahun yang diperkosa berulang kali oleh tetangg-
anya. Lebih dari separuh kasus kekerasan melibatkan perempuan yang
telah menikah; sementara dari 61 kasus kekerasan seksual yang terjadi,
32 korban diantaranya tidak menikah. Kekerasan terhadap perempuan di
Aceh, terutama penyiksaan seksual dan hukuman yang kejam dan tidak
berperikemanusiaan, adalah strategi penggunaan tubuh perempuan se-
bagai senjata perang oleh kelompok yang berkonflik. Penyiksaan seksual
yang didokumentasikan dilakukan dengan kekejaman yang luar biasa,
termasuk perkosaan, mutilasi organ seksual, perusakan fungsi reproduk-
si perempuan dan penyiksaan psikis yang ekstrim bernuansa seksual.
Pemaksaan Hukum Syariah Islam di Aceh memarjinalkan perempuan
dan memasukkan hukuman yang tidak berperikemanusiaan seperti pen-
cambukan di muka umum. Hukuman semacam ini membuat penderitaan
yang tidak bekesudahan pada perempuan yang dianggap melanggar per-
aturan. Selain itu, perempuan ini terus dikriminalkan oleh komunitas
dan keluarga mereka, bahkan setelah mereka menerima hukuman. Kritik
dibungkam oleh tuduhan penistaan agama. Seperti yang juga dihadapi
oleh korban praktik “Kawin Cina Buta”. Dengan menggunakan pembe-
naran atas nama agama, praktik tradisional ini membolehkan penyiksaan
seksual yang juga dapat mendorong terjadinya perdagangan perempuan.
Bentuk penyiksaan lainnya merupakan warisan praktik pemaksaan per-
nikahan antara perempuan korban perkosaan dengan pemerkosannya.
Praktik ini, yang berakar dari ideologi partriarki terkait dengan mitos
“Kesucian perempuan”, yang telah mengakibatkan terus berlangsung-
nya subordinasi terhadap perempuan dan membuat perempuan korban
perkosaan rentan mengalami kekerasan lebih lanjut. Eksploitasi seksual
yang didokumentasikan diantaranya yang terjadi bilamana perempuan
korban telah melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang meng-
ingkari janjinya untuk menikahi korban. Beberapa pelaku menggunakan
kawin siri (perkawinan tidak tercatat dalam Islam) untuk membujuk pe-
rempuan untuk berhubungan seksual dan kemudian meninggalkannya.
Para pelaku adalah tentara yang mengeksploitasi posisi dan kekuasaan
38 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
mereka untuk mengelabui korban. Bentuk kekerasan seksual semacam
ini biasanya terjadi di area konflik di Indonesia, termasuk Aceh. Impu-
nitas untuk pelaku dikuatkan ketika pimpinan institusi dari para pelaku
menyangkal kewajiban tanggung jawab anak buahnya dan juga ketika
korban dibungkam oleh keluarga mereka karena takut dianggap sebagai
kotor dan najis.
32. Komnas Perempuan bekerjasama dengan lembaga pengada layanan dan
perorangan/individu yang tergabung dalam jaringan HAM Perempuan
Papua (TIKI) dalam mendokumentasikan pola kekerasan yang dialami
perempuan Papua. Kerjasama ini diantaranya menghasilkan laporan
“Stop Sudah” dan “Anyam Noken”. Ayam Noken adalah metode pemu-
lihan yang terdiri dari tiga aktivitas utama: dokumentasi, pemulihan ko-
rban, dan advokasi kebijakan. Dalam laporan-laporan Komnas Peremp-
uan ini disebutkan: (a). Stop Sudah (2009) menemukan bahwa diantara
periode 1963 - 2009 terdapat 261 kasus kekerasan yang dilaporkan, yang
terdiri dari 138 korban kekerasan seksual, dan 14 korban kekerasan ber-
lapis, lihat lampiran laporan “Stop Sudah” untuk laporan lengkap, (b).
Antara 2012 - 2014 tercatat 1800 korban dan penyintas yang dari 28
kabupaten di dua provinsi, yaitu Papua dan Papua Barat. Dari dua doku-
mentasi ini Komnas Perempuan mengindentifikasi lima pola diskrimi-
nasi dan kekerasan: (1) Kekerasan berbasis gender terhadap peremp-
uan asli Papua, (2) Pemiskinan struktural, dominasi dan pencerabutan
ekonomi. (3) Tidak hadirnya Negara, buruknya pelayanan publik dan
penegakan hukum dan impunitas, (4) Pendekatan keamanan teritorial,
kekerasan dan stigmatisasi sebagai separatis, (5) Penyangkalan identitas
dan pengerdilan kemampuan.
33. Kekerasan yang dialami perempuan dalam konteks Poso merupakan
warisan dari konflik dan pengungsian selama konflik bersenjata antar ko-
munitas agama di Poso. Dari 72 kasus yang didokumentasikan, teridenti-
fikasi tiga kategori kekerasan: (a) Kekerasan terhadap perempuan terkait
dengan eskalasi konflik di Poso, contohnya penelanjangan paksa di Desa
Sintuwulembah dan satu kasus perkosaan di Desa Malei. Tiga kasus non
kekerasan seksual yang didokumentasikan adalah pembunuhan acak ter-
hadap perempuan dan percobaan pembunuhan; (b) Kekerasan terhadap
perempuan terkait dengan penempatan aparat keamanan dan militer di
Poso. Sejak pecah konflik di Poso, pemerintah menempatkan aparat kea-
manan dan militer untuk memulihkan keamanan. Selama durasi tersebut,
58 kasus telah didokumentasikan, termasuk hubungan personal antara
aparat keamanan dengan perempuan lokal, kebanyakan perempuan re-
maja.
Terdapat juga kasus eksploitasi berbasis gender terhadap pekerja pe-
rempuan; (c) Kekerasan terhadap perempuan selama pengungsian inter-
nal, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam pacaran
Laporan Independen Komnas Perempuan § 39
dan kekerasan dalam komunitas. Para pengungsi datang dari desa yang
diserang selama konflik sepanjang tahun 2000-2002. Dari 72 kasus
yang didokumentasikan, Komnas Perempuan mencatat 86,11 % kasus
kekerasan seksual, dimana 93 atau 54%nya terjadi di ranah domestik
dan 5,55% terjadi di ranah publik. Kelompok yang paling rentan atas
kekerasan seksual adalah perempuan dengan rentang usia 18-28 tahun
(88,66%). Bentuk kekerasan seksual yang terjadi termasuk perkosaan,
eksploitasi seksual, aborsi paksa, percobaan perkosaan dan penelan-
jangan paksa. Mayoritas kasus melibatkan eksploitasi seksual tehadap
perempuan remaja dilakukan oleh aparat keamanan dan militer yang
ditempatkan di Poso (92,06%). Pelaku biasanya mendekati korban de-
ngan mengajak berkencan, yang biasa dimulai sejak awal penempatan.
Perempuan korban kemudian dibujuk untuk melakukan hubungan sek-
sual dengan iming-iming pernikahan. Kemudian korban biasanya diting-
galkan setelah hamil atau melahirkan anak karena pelaku telah menga-
khiri masa tugasnya di daerah tersebut.
34. Dalam laporan Chega, Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi
telah mendokumentasikan 853 kasus kekerasan seksual di Timor Leste
dalam berbagai bentuk: 393 kasus perkosaan, 231 kasus pelecehan sek-
sual dan bentuk-bentuk lainnya, dan 229 kasus perbudakan seksual. Para
pelaku adalah anggota aparat keamanan Indonesia dan para pendukung-
nya (796 kasus), Fretilin (21 kasus), Falintil (10 kasus), Pasukan UDT
(5 kasus), Pasukan Apodeti (1 kasus) dan lainnya (8 kasus). Liat laporan
lengkap [Link]
[Link]
35. Inisiatif Pemerintah Daerah DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Basu-
ki Tjahaya Purnama, memberikan dukungan untuk pemulihan hak-hak
korban Mei 1998 melalui keterlibatan pemerintah dalam peringatan Mei
1998, membangun Monumen memorialisasi untuk korban tragedi Mei
1998 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon Jakarta
Timur, integrasi situs Mei 1998 dalam Ensiklopedi DKI Jakarta, dan
pemberdayaan ekonomi keluarga korban dalam bentuk bantuan modal
usaha oleh Dinas Sosial, serta menyediakan konseling yang menyeluruh.
36. UU No. 31/2014 (Perubahan atas UU No. 13/2006 tentang Perlindungan
Saksi dan Korban) memuat pengaturan terkait perlindungan perempuan
korban kekerasan seksual dan dukungan pemulihan bagi korban pelang-
garan HAM berat. Namun perempuan Lansia penyintas tragedi 1965
di sejumlah daerah yang membutuhkan perawatan medis yang intensif
terus kesulitan mengakses layanan kesehatan. Skema layanan yang dise-
diakan negara belum penuhi hak dasar Lansia, terutama tempat tinggal
dan hak ekonomi.
40 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
37. Diskriminasi terhadap perempuan asli Papua dan terhambatnya akses di
ranah politik diakibatkan oleh rendahnya tingkat pendidikan, praktik po-
litik uang yang membuat perempuan asli sulit bersaing dalam politik,
politisasi adat dan agama yang melarang perempuan menjadi pemim-
pin, dan penggunakan isu perempuan untuk menjatuhkan lawan politik.
Selain itu, akses untuk memilih juga terhambat karena masih ada yang
tidak punya kartu identitas (KTP), tidak adanya informasi yang utuh
mengenai calon yang baik untuk dipilih, dan sulitnya akses ke TPS bagi
yang tinggal di pelosok.
38. Ditandatanganinya Konvensi ASEAN tentang Perdagangan Orang,
Perempuan dan Anak (2015), dan diadopsinya Rencana Aksi Regio-
nal ASEAN dalam penghapusan Kekerasan terhadap perempuan oleh
ACWC (2015).
Laporan Independen Komnas Perempuan § 41
Bagian III
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia
Beserta Annex dan Addendum
United Nations A/HRC/36/7
Majelis Umum Distr: Umum
14 Juli 2017
Asli: Bahasa Inggris
Dewan Hak Asasi Manusia
Sesi ke-36
11 – 29 September 2017
Agenda butir 6
Tinjauan Berkala Universal
Laporan Kelompok Kerja tentang
Tinjauan Berkala Universal*
Indonesia
* Lampiran dikeluarkan tanpa penyuntingan formal, dalam bahasa pengajuan saja.
Bagian 3
Laporan Kelompok Kerja tentang
Tinjauan Berkala Universal*
Indonesia
Pendahuluan
1. Kelompok Kerja pada Tinjauan Berkala Universal, yang diben-
tuk sesuai dengan resolusi Dewan Hak Asasi Manusia 5/1, me-
ngadakan sesi keduapuluh tujuh pada tanggal 1 hingga 12 Mei
2017. Peninjauan kembali Indonesia diadakan pada pertemuan
kelima, pada tanggal 3 Mei 2017. Delegasi Indonesia dipimpin
oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, dan Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, Yasonna H. Laoly. Pada
pertemuan kesepuluh, yang diselenggarakan pada tanggal 5 Mei
2017, Kelompok Kerja mengadopsi laporan tentang Indonesia.
2. Pada tanggal 13 Februari 2017, Dewan Hak Asasi Manusia
memilih kelompok Pelapor (Troika) berikut untuk memfasilitasi
peninjauan kembali Indonesia: Bangladesh, Belgia, dan Ekuador.
3. Sesuai dengan paragraf 15, dari lampiran resolusi Dewan Hak
Asasi Manusia 5/1 dan paragraf 5 dari lampiran resolusi De-
wan Hak Asasi Manusia 16/21, dokumen-dokumen berikut
dikeluarkan untuk peninjauan kembali Indonesia:
(a) Laporan nasional yang diserahkan/ presentasi tertulis yang
dibuat sesuai dengan paragraf 15 (a) (A/HRC/WG.6/27/
IDN/1);
(b) Kompilasi yang disusun oleh Kantor Komisaris Tinggi
PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) sesuai dengan
ayat 15 (b) (A/HRC/WG.6/ 27/IDN/2);
(c) Ringkasan yang dibuat oleh OHCHR yang sesuai dengan
paragraf 15 (c) (A/HRC/WG.6/27/IDN/3 dan Corr.1).
4. Daftar pertanyaan telah dipersiapkan sebelumnya oleh Belgia,
Ceko, Jerman, Meksiko, Belanda, Norwegia, Slovenia, Spanyol,
Swedia, Swiss dan Inggris dan Irlandia Utara yang dikirim ke
Indonesia melalui Troika. Pertanyaan-pertanyaan ini tersedia di
extranet dari tinjauan berkala universal.
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 47
I. Ringkasan catatan dari proses peninjauan
A. Presentasi oleh negara yang sedang ditinjau
5. Ini adalah pertama kalinya dua Menteri mempresentasikan
laporan tinjauan berkala universal Indonesia, yang telah disiap-
kan melalui proses semua inklusif.
6. Indonesia telah berhasil menyelenggarakan pemilihan umum
pada tahun 2014, di mana hampir 186 juta orang telah
memilih. Pada bulan April 2017, hampir 42 juta orang telah
memilih dalam 101 pemilihan langsung lokal. Semua pemilihan
telah dilakukan dengan cara yang bebas, inklusif dan damai.
Proses demokrasi tersebut telah memperkuat posisi hak asasi
manusia dalam DNA Indonesia.
7. Indonesia menyoroti generasi keempat dari Rencana Aksi
Nasional Hak Asasi Manusia, serta Undang-Undang tentang
Penyandang Disabilitas dan kemitraannya yang diperkuat
dengan lembaga-lembaga hak asasi manusia nasional lainnya.
8. Indonesia menyambut baik kunjungan pada bulan April 2017
dari Pelapor Khusus tentang hak setiap orang untuk menikmati
standar kesehatan fisik dan mental yang setinggi mungkin yang
dapat dicapai, dimana ia dapat memperoleh pandangan yang
komprehensif tentang kemajuan dan tantangan yang dihadapi di
Jakarta, Sumatra Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua. Pada
tahun 2013, Pelapor Khusus tentang Perumahan yang Layak
sebagai Komponen dari Hak untuk memperoleh taraf hidup
yang layak dan hak untuk nondiskriminatif dalam konteks ini
telah mengunjungi Indonesia, dimana ia telah mengamati
realisasi perencanaan kebijakan terkait perumahan.
9. Indonesia telah mempresentasikan laporan pada bulan Juli
2012 kepada Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap
Perempuan dan pada bulan Oktober 2013 kepada Komite Hak
Anak. Indonesia akan menyajikan laporannya kepada Komite
Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota
Keluarganya pada bulan September 2017.
48 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
10. Indonesia mencatat bahwa sembilan prinsip (Nawa Cita) Pre-
siden Joko Widodo berfokus pada kesejahteraan kelompok
miskin, termasuk pengentasan kemiskinan dan penyediaan
fasilitas kesehatan dan pendidikan bagi mereka.
11. Pemerintah telah meluncurkan sebuah agenda untuk
“Mengembangkan Indonesia dari Pinggiran”, dengan fokus pada
memajukan hak dan kesejahteraan mereka yang tinggal di daerah
terpencil dan terdepan. Pemerintah telah mendistribusikan kartu
kesejahteraan keluarga kepada 15,5 juta rumah tangga miskin
di Indonesia, kartu pintar untuk 19,7 juta siswa dan kartu sehat
untuk 92,4 juta orang. Pada tahun 2014, Pemerintah telah
meluncurkan skema asuransi kesehatan nasional dengan tujuan
untuk mencakup lebih dari seperempat milyar orang Indonesia
pada tahun 2019.
12. Presiden berkomitmen atas kebijakan yang komprehensif dan
beragam untuk mempercepat pembangunan di provinsi Papua
dan Papua Barat, yang akan memungkinkan bagi orang Papua
untuk menikmati kemakmuran dengan dasar yang sama dengan
rekan senegara mereka yang berada di bagian lain di Indonesia.
Selain itu, upaya untuk mengatasi masalah ketidakadilan,
termasuk dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Papua,
sedang berlangsung, termasuk melalui pembentukan, pada tahun
2016, sebuah tim terpadu di bawah Menteri Koordinator Politik,
Hukum dan Keamanan, yang melibatkan Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia.
13. Pemerintah telah mencabut larangan bagi wartawan asing untuk
mengunjungi Papua. Indonesia mencatat bahwa 39 wartawan
telah mengunjungi Papua pada tahun 2015, peningkatan
41 persen dari tahun 2014. Selain itu, sekitar 90 organisasi
internasional dan organisasi masyarakat sipil telah mengunjungi
Papua sejak tahun 2012.
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 49
14. Indonesia memiliki sembilan Menteri perempuan dari total 34
menteri, dengan portofolio strategis. Rancangan RUU tentang
kesetaraan dan keadilan gender sedang diselesaikan, yang akan
memberikan landasan hukum yang lebih kuat bagi kebijakan
yang responsif gender. Indonesia mencatat bahwa 424 pusat
layanan terpadu dan 16 rumah aman/ pusat untuk perempuan
dan anak-anak telah dibentuk bagi korban kekerasan terhadap
perempuan dan anak-anak.
15. Indonesia menyoroti program andalan “Three Ends”, yang
berfokus pada penghapusan kekerasan terhadap perempuan
dan anak-anak, perdagangan manusia dan hambatan terhadap
keadilan ekonomi bagi perempuan. Berbagai upaya dan
inisiatif disoroti mengenai perlindungan pekerja migran,
termasuk negosiasi intensif dengan negara-negara pengirim dan
penerima, memulai dan merampungkan instrumen perlindungan
dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN),
meratifikasi Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-
hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya dan
memperkuat semua Kedutaan, Konsulat dan Konsulat Jenderal
Indonesia.
16. Pada tahun 2016, Pemerintah telah meluncurkan Strategi
Nasional Penghapusan Kekerasan terhadap Anak (2016-2020),
untuk mengadvokasi langkah-langkah sistematis, terpadu,
berbasis bukti dan terkoordinasi.
17. Indonesia telah memperkenalkan sebuah Undang-undang yang
berkaitan dengan sistem peradilan anak, peraturan pemerintah
tentang pengalihan dan peraturan presiden tentang pelatihan
terpadu tentang sistem peradilan anak, yang telah mengubah
pendekatan untuk menangani anak-anak yang berkonflik dengan
hukum dari sebuah keadilan retributif menjadi sebuah keadilan
restoratif.
50 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
18. Langkah-langkah untuk memperluas akses terhadap layanan
kebutuhan dasar, ekonomi, infrastruktur dan sosial telah
diperkuat untuk masyarakat masyarakat adat di Indonesia.
19. Forum Kerukunan Umat Beragama memainkan peran penting
sebagai platform untuk dialog dan pemajuan toleransi. Penegakan
hukum telah diperkuat untuk menyelidiki, menghukum dan
memperbaiki semua kasus kekerasan berbasis agama.
20. Indonesia sangat berkomitmen untuk menegakkan kebebasan
berpendapat dan berekspresi, dan dalam hal itu mencatat bahwa
di Jakarta telah dilakukan 3.148 demonstrasi publik pada tahun
2015 dan 2.784 pada tahun 2016. Pada tahun 2015, di Papua,
satu demonstrasi berlangsung setiap dua hari.
21. Indonesia mencatat UU Informasi dan Transaksi Elektronik
yang direvisi, yang berfungsi sebagai alat respons terhadap
tantangan yang berkembang dari hasutan kebencian berbasis
agama dan ras melalui teknologi media.
22. Indonesia menekankan bahwa hukuman mati masih diterapkan,
tetapi hanya setelah semua proses hukum telah dilakukan dan
pemberian hak hukum bagi terpidana telah dihormati.
23. Tantangan pada kesenjangan dalam komitmen untuk
menegakkan hak asasi manusia, serta kapasitas dan sumber daya
yang terkait dengan hak asasi manusia dan disparitas kekayaan,
yang ditangani secara terus-menerus.
B. Dialog interaktif dan tanggapan oleh negara
yang sedang ditinjau
24. Selama dialog interaktif, 101 delegasi mengeluarkan pernyataan.
Rekomendasi yang dibuat selama dialog dapat ditemukan pada
seksi II di laporan ini.
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 51
25. Pakistan mencatat berbagai bagian dari peraturan yang
memperkuat pelaksanaan konvensi yang telah diratifikasi dan
peningkatan alokasi anggaran program yang ditujukan bagi
perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas dan orang lanjut
usia.
26. Panama menyambut baik peratifikasian Protokol Opsional
untuk Konvensi Hak-hak Anak mengenai Keterlibatan Anak-
anak dalam Konflik Bersenjata dan Konvensi Hak-hak Anak
mengenai Penjualan Anak, Prostitusi Anak dan Pornografi
Anak, begitu juga dengan pengadopsian Rencana Pembangunan
Nasional (2015-2019) dan pemajuan pendidikan hak asasi
manusia.
27. Peru mengakui perkembangan yang dibuat dalam pengarus-
utamaan prinsip hak asasi manusia internasional, pemajuan
pendidikan hak asasi manusia untuk pegawai negeri sipil dan
pembaruan sistem peradilan anak.
28. Filipina menyambut baik peratifikasian Konvensi Pekerja Mi-
gran dan dua Protokol Opsional dari Konvensi Hak-hak Anak.
29. Portugal menyambut baik perkenalan dari jaminan kesehatan
semesta, pengalokasian 20 persen anggaran nasional untuk
pendidikan, dan upaya-upaya untuk memperbarui kesetaraan
gender.
30. Republik Korea menyambut baik upaya berkelanjutan untuk
menegakkan hak asasi manusia melalui Rencana Aksi Nasional
Hak Asasi Manusia keempat, dan mencatat kerjasama Indonesia
dengan mekanisme hak asasi manusia PBB.
31. Moldova menyambut baik langkah yang diambil oleh Indonesia
yang ditujukan untuk memperkuat kerangka kerja hukum
dan kelembagaan hak asasi manusia, sementara menyatakan
keprihatinan tentang penerapan hukuman mati.
52 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
32. Rumania menghargai komitmen untuk memastikan perlindungan
dan pemajuan hak asasi manusia untuk semua orang di negara
Indonesia.
33. Federasi Rusia mencatat pembentukan pusat-pusat bagi korban
kekerasan anak-anak dan perempuan.
34. Arab Saudi menyambut baik proses konsultatif dalam elaborasi
laporan nasional dan pencapaiannya di bidang hak-hak anak.
35. Senegal menyambut baik Rencana Aksi Nasional Hak Asasi
Manusia dan alokasi 20 persen dari anggaran nasional untuk
pendidikan.
36. Serbia menyambut baik peratifikasian Protokol Opsional
pada Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau
Penghukuman Lain Yang Kejam, Tidak Manusiawi dan
Merendahkan Martabat Manusia, pelatihan untuk polisi dan
petugas penjara dan pembentukan gugus tugas nasional untuk
perdagangan orang.
37. Sierra Leone mencatat kemajuan yang dicapai, khususnya
program pendidikan wajib dan gratis dan Strategi Nasional
Penghapusan Kekerasan terhadap Anak.
38. Singapura menyambut baik upaya Indonesia mengenai
perlindungan sosial, program pengurangan ketidaksetaraan
seperti Nawa Cita dan program pendidikan menengah untuk
semua.
39. Slovakia menghargai langkah-langkah yang diambil untuk
merevisi KUHP dan untuk memajukan dialog dan toleransi lintas
agama, sambil menyatakan keprihatinan tentang penerapan
hukuman mati.
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 53
40. Slovenia menyambut baik upaya-upaya untuk melindungi
hak asasi manusia perempuan sambil memperhatikan dengan
keprihatinan diskriminasi terhadap orang-orang yang termasuk
kaum minoritas, masyarakat adat dan orang-orang lesbian, gay,
biseksual, transgender dan interseks.
41. Afrika Selatan menyambut baik pelaksanaan Rencana Pem-
bangunan Nasional dan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi
Manusia.
42. Spanyol mengakui pertimbangan Indonesia tentang rancangan
undang-undang tentang kesetaraan gender.
43. Sri Lanka menyambut baik peratifikasian Konvensi tentang
Pekerja Migran dan dua Protokol Opsional pada Konvensi Hak-
hak Anak.
44. Negara Palestina menyambut baik upaya-upaya untuk meme-
rangi perdagangan melalui peningkatan kesadaran dan dengan
membangun strategi nasional, dan peningkatan pendidikan.
45. Sudan mengakui kemajuan yang dibuat di bidang hak-hak anak
dan perempuan, serta dalam memerangi perdagangan manusia.
46. Swedia membuat rekomendasi.
47. Swiss menyatakan keprihatinan tentang penerapan hukuman
mati dalam kasus-kasus kejahatan terkait narkoba.
48. Thailand mengakui upaya untuk mengatasi pekerja anak dan
kekerasan terhadap anak-anak dan komitmen Indonesia untuk
memperkuat budaya saling pengertian dan toleransi antaragama.
49. Timor-Leste menyambut baik Rencana Aksi Nasional Hak
Asasi Manusia, Rencana Aksi Nasional tentang Penyandang
Disabilitas dan jaminan kesehatan semesta.
50. Tunisia menyambut baik peratifikasian Konvensi Hak-hak Pe-
nyandang Disabilitas dan perbaikan sistem pendidikan.
51. Turki menghargai langkah-langkah yang diambil untuk mengim-
plementasikan konvensi yang sudah diratifikasi.
54 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
52. Uganda mencatat bahwa agenda reformasi nasional memasukkan
banyak rancangan undang-undang yang seharusnya telah diper-
cepat melalui proses legislatif nasional.
53. Ukraina menyambut Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia
keempat, Undang-undang tentang Sistem Peradilan Anak, UU
tentang Penyandang Disabilitas dan amandemen hukum pidana.
54. Uni Emirat Arab menyambut baik kemajuan yang dibuat dalam
menjamin hak-hak ekonomi, sosial dan budaya dan upaya untuk
menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak.
55. Inggris menyatakan keprihatinan yang mendalam tentang,
antara lain, eksekusi 18 tahanan sejak tahun 2014, potensi pe-
nyalahgunaan pekerja di sektor sumber daya alam dan mem-
buruknya hak-hak lesbian, gay, biseksual dan transgender.
56. Amerika Serikat menyatakan keprihatinan tentang, antara lain,
kurangnya kerangka akuntabilitas terhadap pelanggaran yang
dilakukan oleh militer dan polisi dan pembatasan kebebasan
berekspresi dan pertemuan damai, termasuk di Papua dan Papua
Barat.
57. Uruguay mencatat secara positif perlindungan hak-hak anak sebagai
prioritas nasional, sementara menyatakan keprihatinan bahwa prak-
tik mutilasi kelamin perempuan tidak secara eksplisit dilarang.
58. Uzbekistan mencatat langkah-langkah yang diambil untuk
melaksanakan rekomendasi yang diterima dari siklus peninjauan
kedua dan menyambut baik upaya untuk memperkuat kerjasama
dengan mekanisme hak asasi manusia PBB dan dalam struktur
regional.
59. Republik Bolivar Venezuela menyambut baik upaya untuk mem-
berdayakan perempuan yang memegang posisi kepemimpinan di
sektor publik dan swasta, serta pengenalan program pendidikan
gratis dan wajib 12 tahun.
60. Vietnam menyambut baik upaya untuk mengimplementasikan
Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia keempat dalam
mengatasi tantangan.
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 55
61. Yaman menyambut baik peratifikasian Konvensi Hak-hak Anak
dan integrasi nilai-nilai hak asasi manusia dalam kurikulum
sekolah.
62. Albania menyambut baik upaya yang sedang berlangsung untuk
memajukan hak-hak perempuan dan kelompok rentan dan pe-
ratifikasian Konvensi tentang Pekerja Migran dan dua Protokol
Opsional untuk Konvensi tentang Hak-hak Anak.
63. Aljazair menyambut baik penerapan program “Three Ends”
yang ditujukan untuk, antara lain, menghapuskan kekerasan ter-
hadap perempuan dan anak-anak.
64. Angola menghargai kemajuan yang dibuat di sektor sosial eko-
nomi, termasuk dalam kaitannya dengan akses atas perawatan
kesehatan dan rencana asuransi kesehatan.
65. Argentina mengangkat kekhawatiran khusus tentang penerapan
hukuman mati.
66. Armenia menyambut baik Rencana Aksi Nasional Hak
Asasi Manusia dan mencatat Strategi Nasional Penghapusan
Kekerasan terhadap Anak.
67. Australia mengakui pengenalan Undang-undang tentang
Penyandang Disabilitas dan mendorong Indonesia untuk
membentuk komisi disabilitas nasional. Australia menyambut
baik komitmen nyata Indonesia terhadap pembangunan ekonomi
di provinsi Papua.
68. Austria menyatakan keprihatinan tentang pembatasan yang
tidak semestinya pada kebebasan berekspresi, kurangnya
akuntabilitas terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh pasukan
keamanan di Papua dan serangan terhadap minoritas agama dan
tempat-tempat ibadah.
69. Azerbaijan menghargai pengintegrasian standar hak asasi
manusia internasional ke dalam sistem pendidikan nasional.
70. Bahrain menyambut baik beberapa langkah untuk memerangi
perdagangan manusia, termasuk pada tingkat normatif dan
melalui kerja satuan tugas khusus.
56 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
71. Bangladesh mencatat bahwa lebih banyak perhatian dan sumber
daya yang dapat ditujukan untuk melindungi hak-hak anak-
anak yang hidup dalam kondisi sosial ekonomi yang tidak
menguntungkan, serta menghargai Indonesia yang menjunjung
hak-hak perempuan.
72. Belarusia mencatat komitmen Indonesia untuk memperkuat
dialog internasional dan kerja sama tentang hak asasi manusia
dan mengakui langkah-langkah peningkatan kapasitas HAM
bagi pejabat publik.
73. Belgia menyambut baik peratifikasian Protokol Opsional pada
Konvensi Hak-hak Anak mengenai Keterlibatan Anak-anak
dalam Konflik Bersenjata, tetapi menyatakan penyesalannya
yang mendalam tentang eksekusi yang dilanjutkan.
74. Bosnia dan Herzegovina menyambut baik komitmen Indonesia
untuk meratifikasi instrumen-instrumen hak asasi manusia
internasional. Namun, tetap prihatin atas perlakuan buruk
terhadap orang-orang yang dirampas kebebasannya.
75. Botswana mengakui upaya untuk memajukan dan melindungi
hak-hak perempuan, meskipun memperhatikan kekhawatiran
atas kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan,
termasuk melalui praktik-praktik berbahaya, dan kebutuhan
untuk meningkatkan sistem peradilan anak.
76. Brasil menyesalkan keputusan oleh Pemerintah untuk
melanjutkan eksekusi dan untuk menjatuhkan hukuman mati
terhadap kejahatan terkait Narkoba, yang secara langsung telah
mempengaruhi dua warga negara Brasil.
77. Brunei Darussalam menyambut baik peningkatan alokasi
anggaran untuk program kementerian yang relevan dan langkah-
langkah untuk meningkatkan akses atas fasilitas dan layanan
kesehatan.
78. Indonesia mencatat bahwa undang-undang yang berkaitan
dengan otonomi khusus Papua dan Undang-undang yang
berkaitan dengan Papua Barat telah dilaksanakan untuk
memajukan pemerintahan lokal dan pembangunan yang efektif.
Kedua provinsi dikelola sendiri dan diadministrasikan oleh
pemerintah lokal, dipimpin oleh orang asli Papua yang dipilih
secara demokratis.
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 57
79. Indonesia menyoroti keputusan yang dikeluarkan oleh
Mahkamah Konstitusi bahwa kejahatan terkait Narkoba
adalah salah satu kejahatan paling serius, yang menyebabkan
diterapkannya hukuman maksimal, termasuk hukuman mati.
Dalam revisi KUHP yang sedang berlangsung, hukuman mati
harus dibatasi sebagai upaya terakhir, dengan kemungkinan
keringanan hukuman.
80. Untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan
anak perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak (KPPPA), bersama dengan Kepala
Kepolisian RI, Mahkamah Agung, Kementerian Hukum dan
Hak Asasi Manusia dan Perhimpunan Advokat Indonesia, telah
menandatangani nota kesepahaman tentang akses keadilan bagi
perempuan korban kekerasan, termasuk penyediaan program
advokasi dan pelatihan.
81. Pemerintah telah meluncurkan program yang mencakup pe-
ningkatan kesejahteraan keluarga dan ketahanan ekonomi, me-
ningkatkan kesadaran anak perempuan akan risiko kesehatan
yang terkait dengan kehamilan dini, menerapkan program
pendidikan wajib dan gratis yang ditujukan untuk memastikan
anak-anak tetap bersekolah dan mengembangkan konsep
rencana aksi nasional penghapusan perkawinan anak.
82. Pemerintah juga terus meningkatkan kesadaran di kalangan
pekerja medis dan kesehatan, termasuk praktisi medis tra-
disional, untuk menghentikan mutilasi genital perempuan.
83. Mengenai sistem peradilan anak, Pemerintah telah meluncurkan
program tentang pendidikan dan pelatihan terpadu bagi para
penegak hukum. Sebuah proyek percontohan telah dilaksanakan
untuk mengubah beberapa lembaga pemasyarakatan anak
menjadi lembaga rehabilitasi untuk anak-anak dan rumah
sementara anak-anak.
58 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
84. Pemerintah telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Peng-
hapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (2013-
2022), yang mengintegrasikan semua aspek perlindungan anak,
termasuk lingkup sosial ekonomi, pendidikan, layanan pe-
rawatan kesehatan, penegakan hukum dan perumusan program
untuk mendukung upaya penghapusan pekerja anak.
85. Kamboja menyambut baik kemajuan yang dicapai dalam
pengentasan kemiskinan, pembangunan ekonomi dan pemajuan
hak sosial budaya.
86. Kanada membuat rekomendasi.
87. Chili menyatakan keprihatinan atas reintroduksi hukuman mati
untuk kejahatan terkait narkoba, pekerja anak dan perdagangan
anak-anak untuk tujuan eksploitasi seksual.
88. Ethiopia mencatat upaya untuk memperkuat pemajuan dan
perlindungan hak asasi manusia di tingkat internasional,
ASEAN dan Organisasi Kerjasama Islam. Ethiopia menyambut
baik pencabutan undang-undang yang diskriminatif.
89. Kolombia menghargai diadakannya pelatihan bagi 375 perancang
hukum untuk memastikan kompatibilitas peraturan domestik
Indonesia dengan kewajiban hak asasi manusia internasional.
90. Kuba menyambut baik upaya untuk memenuhi standar hak asasi
manusia, sebagaimana tercermin dalam Rencana Pembangunan
Nasional (2015-2019) dan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi
Manusia keempat.
91. Republik Ceko menyambut baik pengadopsian Rencana Aksi
Nasional Hak Asasi Manusia.
92. Republik Rakyat Demokratik Korea mencatat Rencana Aksi
Nasional Hak Asasi Manusia keempat. Korea menyambut baik
peluncuran skema asuransi kesehatan nasional dan pengenalan
sistem wajib belajar 12 tahun.
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 59
93. Denmark mencatat peningkatan jumlah hukum dan peraturan
setempat yang mendiskriminasikan perempuan dan minoritas
dan yang membatasi akses mereka terhadap hak-hak dasar.
94. Djibouti mencatat Rencana Pembangunan Nasional. Djibouti
menghargai upaya untuk memajukan hak-hak perempuan dan
anak-anak, seperti program “Three Ends”.
95. Ekuador menghargai peratifikasian Konvensi tentang Pekerja
Migran, dan dua Protokol Opsional untuk Konvensi tentang
Hak-hak Anak.
96. Mesir memuji peratifikasian dua Protokol Opsional pada
Konvensi tentang Hak-hak Anak.
97. Cina menyambut baik langkah-langkah efektif yang diambil
untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan dan anak-
anak, serta perdagangan manusia, mengatasi kemiskinan dan
mendorong pembangunan sosial.
98. Prancis menyambut baik kemajuan yang dibuat sejak tinjauan
berkala universal sebelumnya.
99. Georgia menyambut baik peratifikasian Protokol Opsional pada
Konvensi Hak-hak Anak tentang keterlibatan anak-anak dalam
konflik bersenjata, dan Protokol Opsional tentang penjualan
anak, prostitusi anak dan pornografi anak.
100. Jerman mengakui kemajuan yang dibuat di beberapa wilayah,
terutama tindakan-tindakan damai di Papua dan Papua Barat.
101. Guatemala tetap prihatin bahwa Undang-undang tentang pe-
nistaan agama secara tidak adil membatasi kebebasan ber-
ekspresi minoritas agama.
102. Honduras mencatat Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia
dan dimasukkannya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di da-
lamnya.
60 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
103. Hongaria mencatat pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Hak
Asasi Manusia, yang perlu dipercepat melalui mekanisme
pengaturan dan dukungan yang tepat.
104. Islandia menyesalkan kembalinya eksekusi yang terkait de-
ngan perdagangan Narkoba dan mendesak Indonesia untuk
memenuhi kewajiban internasionalnya, termasuk memastikan
perlindungan hak asasi manusia untuk semua warga negara,
homoseksual dan heteroseksual.
105. Republik Islam Iran menghargai peningkatan kerangka
hukum dan kelembagaan yang berfokus pada pemajuan dan
perlindungan hak-hak perempuan, anak-anak, penyandang
disabilitas dan orang lanjut usia. Iran menyambut baik upaya
untuk memajukan pemerintahan yang bersih, memerangi korupsi
dan meningkatkan mekanisme koordinasi untuk mendukung
pelaksanaan strategi nasional anti-perdagangan manusia.
106. Irak menyambut baik Rencana Pembangunan Nasional (2015-
2019).
107. Belanda menyesali kekerasan dan diskriminasi di Indonesia
terhadap minoritas agama dan minoritas lainnya.
108. Italia menyambut baik langkah-langkah yang diambil yang
bertujuan mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan
anak-anak, memerangi perdagangan manusia, meningkatkan
representasi perempuan di parlemen dan memajukan toleransi
antar komunitas agama.
109. Jepang menyambut baik penguatan sistem hukum untuk
menjamin hak-hak para penyandang disabilitas. Jepang
juga menyatakan keprihatinan tentang keterlambatan dalam
memperkenalkan fasilitas bebas hambatan ke sistem transportasi
umum dan pusat komersial.
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 61
110. Kazakhstan menyambut baik peratifikasian dua Protokol
Opsional terhadap Konvensi Hak-hak Anak dan penerapan
Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia.
111. Kenya menyambut baik kemajuan yang dicapai dalam mene-
rapkan rekomendasi tinjauan berkala universal (UPR).
112. Kuwait menyambut baik peningkatan hak-hak perempuan, ke-
lompok rentan, penyandang disabilitas dan pekerja migran.
113. Republik Demokratik Rakyat Laos menyambut baik kemajuan
yang dibuat dalam memajukan hak-hak kelompok rentan, ter-
masuk perempuan, anak-anak dan penyandang disabilitas, me-
ningkatkan kebebasan berekspresi dan agama dan meningkatkan
layanan perawatan kesehatan.
114. Latvia menghargai upaya yang dilakukan untuk memberantas
kekerasan terhadap perempuan, pernikahan anak dan praktik-
praktik berbahaya dari mutilasi genital perempuan.
115. Lebanon mencatat ratifikasi Konvensi Hak-hak Penyandang
Disabilitas, yang telah melihat Indonesia melipatgandakan
upayanya untuk melindungi hak-hak perempuan dan orang
lanjut usia.
116. Liechtenstein menyatakan keprihatinannya tentang berlanjutnya
pemaksaan hukuman mati, yang sebagian besar ditujukan untuk
kejahatan terkait Narkoba, yang tidak memenuhi ambang
“kejahatan paling serius”.
117. Madagaskar mencatat Rencana Aksi Nasional Hak Asasi
Manusia, program pelatihan pengembangan kapasitas tentang
hak asasi manusia bagi pejabat pemerintah dan peningkatan
kerangka kerja dan kebijakan peradilan dan kelembagaan
untuk melindungi hak-hak perempuan, anak-anak, penyandang
disabilitas dan orang lanjut usia.
118. Malaysia menyambut baik peratifikasian dua Protokol Opsional
terhadap Konvensi tentang Hak-hak Anak dan kemajuan yang
dicapai untuk memajukan hak-hak perempuan.
119. Maladewa menyambut baik program Kota Ramah Anak untuk
memastikan pendidikan dasar dan kesehatan dan untuk mem-
buat fasilitas kesejahteraan agar tersedia dan mudah diakses.
Maladewa juga memuji peningkatan yang dilakukan dalam
keaksaraan melalui program pendidikan.
62 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
120. Meksiko menyambut baik undangan yang Indonesia sampaikan
kepada Pelapor Khusus tentang hak atas pangan untuk me-
ngunjungi negara Indonesia, serta peratifikasian Konvensi
tentang Pekerja Migran.
121. Mongolia menyambut baik peratifikasian kedua Protokol Op-
sional terhadap Konvensi tentang Hak-hak Anak dan diga-
bungkannya ke dalam undang-undang nasional, dan generasi
keempat dari Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia,
yang berfokus pada reformasi Kepolisian dan pemajuan dan
perlindungan hak-hak perempuan, anak-anak, penyandang
disabilitas dan orang lanjut usia.
122. Montenegro menyatakan keprihatinannya tentang kekerasan
terhadap anak-anak dalam tahanan dan di semua fase
persidangan. Montenegro juga menyesalkan bahwa Indonesia
telah melanjutkan eksekusi dan menjatuhkan hukuman mati
terhadap kejahatan terkait Narkoba.
123. Maroko menyambut baik reformasi yang bertujuan memerangi
kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, serta perdagangan
manusia dan menghilangkan hambatan bagi keadilan ekonomi
bagi perempuan. Maroko juga menyambut kerangka normatif
untuk melindungi hak-hak penyandang disabilitas dan generasi
keempat dari Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia.
124. Norwegia menyambut baik reformasi peradilan anak
berdasarkan model keadilan restoratif. Norwegia menyatakan
keprihatinannya tentang laporan diskriminasi terhadap minoritas
agama, namun mengakui upaya Indonesia untuk membangun
toleransi beragama.
125. Myanmar memuji Indonesia atas komitmennya untuk
memerangi perdagangan manusia melalui kerangka normatif
nasional dan selanjutnya, memuji satuan tugas nasional.
126. Namibia menyatakan prihatin tentang penerapan kembali
hukuman mati.
127. Nepal menghargai Rencana Pembangunan Nasional (2015-
2019) dan agenda “Membangun Indonesia dari pinggiran” untuk
memenuhi hak-hak dasar dan kesejahteraan sosial masyarakat
dari daerah terpencil dan perbatasan. Juga menyambut baik
atas diprioritaskannya investasi untuk memastikan hak atas
pendidikan.
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 63
128. Irlandia menyatakan keprihatinan tentang penggunaan aparat
keamanan untuk menghukum para pembangkang dan pembela
hak asasi manusia.
129. Selandia Baru menyambut baik Rencana Aksi Nasional
Penyandang Disabilitas (2013-2022) dan upaya yang dilakukan
dalam mengatasi hak-hak adat.
130. Mozambique menyambut baik peratifikasian Konvensi tentang
Pekerja Migran dan dua Protokol Opsional untuk Konvensi
tentang Hak-hak Anak, dan penggabungannya ke dalam hukum
nasional.
131. Oman menyambut baik upaya untuk meningkatkan toleransi
di antara komunitas agama yang berbeda dan memastikan
koeksistensi damai dan rasa hormat mereka.
132. Bhutan menyambut baik peratifikasian Konvensi Pekerja Mi-
gran dan dua Protokol Opsional untuk Konvensi tentang
Hak-hak Anak, Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia
dan program “He for She IMPACT” untuk meningkatkan re-
presentasi perempuan, mengurangi angka kematian ibu dan
mengakhiri kekerasan terhadap perempuan.
133. Indonesia memiliki prinsip-prinsip terintegrasi yang berkaitan
dengan pencegahan dan penghapusan penyiksaan ke dalam
praktik penegakan hukumnya, termasuk perlindungan tahanan
di pusat penahanan imigrasi dan kantor polisi. Selanjutnya,
Ombudsman memantau kualitas layanan publik yang diberikan
kepada narapidana di lembaga pemasyarakatan.
134. Kepolisian nasional telah memberikan pelatihan kooperatif
mengenai wawancara investigatif kepada hingga 3.000 personel
penegak hukum. Pelatihan lain diberikan secara teratur,
termasuk bagi pelatih wawancara investigasi dan mengenai
hukum humaniter.
135. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memperkuat perlindungan
pekerja migran, termasuk dengan memperkuat kerangka kerja
legislatif dan kelembagaan nasional, meningkatkan koordinasi
antar-lembaga, implementasi kebijakan dan penegakan hukum,
dan meningkatkan perlindungan yang diberikan oleh perwakilan
Indonesia di luar negeri.
136. Indonesia menekankan bahwa sejumlah besar peraturan lokal
telah direformasi mengikuti rekomendasi Kementerian Dalam
64 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
Negeri, sejalan dengan prinsip dan standar hak asasi manusia
yang diakui. Upaya berkelanjutan sedang dilakukan untuk
meningkatkan kapasitas dan pengetahuan hak asasi manusia
di semua provinsi dan kota, termasuk Aceh, Papua dan Papua
Barat.
137. Indonesia menyoroti pemberlakuan Undang-Undang tentang
Penyandang Disabilitas, yang memungkinkan hak-hak
penyandang disabilitas untuk diarusutamakan ke dalam kerangka
pembangunan nasional. Perhatian yang cukup telah diberikan
untuk meningkatkan perlindungan orang-orang dengan masalah
kesehatan mental melalui pemberlakuan UU Kesehatan Jiwa.
138. Indonesia menyimpulkan dengan menyatakan bahwa kemitraan
pemerintah dengan semua pemangku kepentingan yang relevan
akan menyediakan mekanisme checks and balances yang
berfungsi untuk memastikan pandangan yang inklusif dan
komprehensif dalam upaya untuk memajukan dan melindungi
hak asasi manusia rakyatnya.
II. Kesimpulan dan/atau rekomendasi
139. Rekomendasi yang dirumuskan selama dialog interaktif/
yang tercantum di bawah ini telah diperiksa oleh Indonesia
dan mendapat dukungan dari Indonesia:
139.1 Menyelesaikan langkah-langkah untuk meratifikasi instru-
men hak asasi manusia lainnya (Mesir);
139.2 Mempertimbangkan peratifikasian Protokol Opsional
untuk Konvensi menentang Penyiksaan (Georgia) (Ka-
zakhstan);
139.3 Mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk
meratifikasi Protokol Opsional pada Konvensi menentang
Penyiksaan (Mozambik);
139.4 Mengesahkan Protokol Opsional untuk Konvensi me-
nentang Penyiksaan (Denmark) (Guatemala) (Hongaria)
(Montenegro) (Portugal) (Turki);
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 65
139.5 Meratifikasi tanpa penundaan Protokol Opsional un-
tuk Konvensi menentang Penyiksaan, serta Konvensi
Internasional untuk Perlindungan Semua Orang dari
Penghilangan Paksa, dan mempercepat harmonisasi per-
undang-undangan sesuai dengan Konvensi tersebut (Bos-
nia dan Herzegovina);
139.6 Meratifikasi Konvensi Internasional untuk Perlindungan
Semua Orang dari Penghilangan Paksa (Prancis) (Por-
tugal) (Ukraina) (Sierra Leone); Meratifikasi Konvensi
Internasional untuk Perlindungan Semua Orang dari
Penghilangan Paksa untuk memperkuat Konvensi dari
perspektif universalitas dan kepatuhan (Jepang); Menye-
lesaikan proses ratifikasi Konvensi Internasional untuk
Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa
(Kazakhstan);
139.7 Mempertimbangkan untuk meratifikasi Konvensi ILO
Nomor 189 Tahun 2011 tentang Pekerja Rumah Tangga
Internasional (Filipina);
139.8 Melanjutkan kerjasama dengan mekanisme PBB untuk
memajukan dan melindungi hak asasi manusia (Bahrain);
139.9 Mengadopsi proses seleksi berdasarkan prestasi ketika
memilih kandidat nasional dalam pemilihan badan per-
janjian PBB (Inggris Raya dan Irlandia Utara);
139.10 Memastikan, sebagaimana direkomendasikan oleh Komi-
te Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan, bah-
wa perempuan dapat memiliki akses kontrasepsi tanpa
meminta persetujuan suami mereka (Kazakhstan);
139.11 Melanjutkan upaya dalam memajukan dan melindungi
hak asasi manusia melalui kerangka kerja regional, me-
ningkatkan pembangunan kapasitas dan dialog untuk
memberdayakan negara dalam menyelesaikan tantangan
hak asasi manusia sendiri dengan bantuan internasional
(Myanmar);
66 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
139.12 Terus memperkuat kepemimpinannya dalam meningkat-
kan mekanisme inklusif regional dalam hal perlindungan
pekerja migran melalui instrumen yang mengikat secara
hukum (Ekuador);
139.13 Melanjutkan upayanya untuk mengkonsolidasikan prin-
sip-prinsip hak asasi manusia dan kebebasan publik
(Yaman);
139.14 Melanjutkan dengan program-programnya untuk mem-
jukan dan melindungi hak-hak perempuan, anak-anak,
penyandang disabilitas dan orang lanjut usia (Djibouti);
139.15 Melanjutkan upaya nasionalnya untuk memperbaiki ke-
rangka hukum dan kelembagaan, melaksanakan kebi-
jakan dan program yang berfokus pada dan memajukan
hak-hak perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas
dan orang lanjut usia (Mesir);
139.16 Mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam pe-
laksanaan Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas
(Vietnam);
139.17 Mengambil langkah-langkah konkret untuk mempercepat
proses dalam Program Legislasi Nasional 2015-2019
(Uganda);
139.18 Meningkatkan upaya untuk melindungi kelompok rentan
di masyarakat sesuai dengan Program Legislasi Nasional
2015-2019 (Uni Emirat Arab);
139.19 Meningkatkan jangkauan yang lebih lanjut bagi masyara-
kat dalam mengakses layanan kesehatan untuk memenuhi
target yang ditetapkan oleh Skema Asuransi Kesehatan
Nasional (Brunei Darussalam);
139.20 Melakukan penelaahan terhadap undang-undang yang
relevan untuk menyelaraskannya dengan Konvensi
tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terha-
dap Perempuan (Uganda);
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 67
139.21 Memperkuat kerangka perlindungan terhadap diskri-
minasi melalui pemberlakuan Undang-undang yang me-
larangnya dalam segala bentuknya sesuai dengan standar
hak asasi manusia internasional (Mexico);
139.22 Segera membuat semua tindakan pelanggaran penyiksaan
berdasarkan hukum pidana, termasuk dalam KUHP In-
donesia, konsisten dengan kewajibannya yang mengikat
di bawah Konvensi menentang Penyiksaan (Kanada);
139.23 Meninjau KUHP untuk menyelaraskannya dengan de-
finisi penyiksaan sesuai dengan Konvensi menentang Pe-
nyiksaan (Honduras);
139.24 Mengadopsi tindakan legislasi untuk mencegah dan me-
merangi intimidasi, penindasan atau kekerasan terhadap
Pembela hak asasi manusia, Jurnalis dan Organisasi ma-
syarakat sipil (Meksiko);
139.25 Meninjau peraturan nasional dan lokal, termasuk per-
aturan daerah provinsi, untuk memastikan bahwa ke-
bebasan beragama dan berkeyakinan dilindungi secara
universal (Jerman);
139.26 Mengadopsi undang-undang untuk menangani pelecehan
seksual, terutama di tempat kerja (Maladewa);
139.27 Mengadopsi tindakan legislatif dan kebijakan untuk me-
mastikan perempuan dan remaja memiliki akses atas
pendidikan seksual dan layanan kesehatan reproduksi
yang bebas dan ramah (Honduras);
139.28 Terus memajukan rancangan undang-undang tentang ke-
setaraan gender dan keadilan (Kolombia);
139.29 Mengubah semua hukum dan peraturan setempat yang
mendiskriminasikan perempuan dan kelompok marginal
(Denmark);
68 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
139.30 Mempercepat adopsi rancangan Undang-undang tentang
kesetaraan gender dan keadilan (Georgia);
139.31 Mengaktifkan proses adopsi rancangan Undang-undang
tentang kesetaraan gender dan elaborasi kebijakan
nasional tentang kesetaraan gender (Madagaskar);
139.32 Melanjutkan dengan upayanya untuk memberlakukan
rancangan undang-undang tentang kesetaraan dan ke-
adilan gender, yang akan memberikan landasan hukum
yang lebih kuat untuk kebijakan responsif gender
(Bhutan);
139.33 Memastikan rancangan undang-undang yang relevan
untuk melindungi kelompok rentan berhasil dilaksanakan,
seperti UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tang-
ga dan Undang-Undang tentang Kesejahteraan Orang
Lanjut Usia (Brunei Darussalam);
139.34 Mengkaji dan mengubah Undang-undang nasional yang
mendiskriminasi perempuan, dan menolak penerimaan
sosial atas kekerasan terhadap perempuan dan praktik
yang berbahaya bagi perempuan dan anak perempuan,
seperti mutilasi genital perempuan dan pernikahan dini
dan paksa (Ceko);
139.35 Memodifikasi KUHAP untuk memastikan perlindungan
yang lebih baik bagi perempuan, dan menyelidiki
secara menyeluruh tuduhan kekerasan atau pelecehan
yang dilakukan terhadap anak-anak saat berada dalam
tahanan (Sierra Leone);
139.36 Melanjutkan partisipasi aktif dalam Inisiatif Pemerin-
tahan Terbuka, yang tujuan utamanya adalah untuk
memastikan pemerintahan yang terbuka, transparan dan
akuntabel (Azerbaijan);
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 69
139.37 Melanjutkan upaya berkelanjutan dalam memajukan
budaya saling menghormati dan koeksistensi damai di
antara komunitas agama yang berbeda di masyarakat
(Oman);
139.38 Lebih lanjut memperkuat komitmen Indonesia untuk
memperkuat dimensi hak asasi manusia dalam kegiatan
bisnis dan melanjutkan peran utamanya dalam hal ini
(Myanmar);
139.39 Mempercepat pembentukan komisi nasional untuk pe-
nyandang disabilitas (Maroko);
139.40 Secara efektif menerapkan generasi keempat dari Ren-
cana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia dan memajukan
pendidikan hak asasi manusia di semua tingkatan
(Pakistan);
139.41 Memastikan sumber daya keuangan dan manusia yang
memadai untuk secara efektif melaksanakan Rencana
Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (Filipina);
139.42 Terus terlibat dengan organisasi masyarakat sipil dan pe-
mangku kepentingan yang relevan dalam pelaksanaan
Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia, yang meliputi
periode 2015-2019, serta dalam perumusan dan pem-
bentukan generasi kelima (Rumania);
139.43 Atas dasar Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia,
memperbaiki dan memajukan dengan lebih efektif per-
lindungan hak asasi manusia (Hungaria);
139.44 Melanjutkan dengan kemajuan yang dibuat pada generasi
keempat dari Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia
di tingkat nasional dan lokal (Maroko);
139.45 Memperkuat upaya untuk meningkatkan pendidikan, pe-
latihan dan pembangunan kapasitas di bidang hak asasi
manusia (Arab Saudi);
70 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
139.46 Terus memajukan pendidikan hak asasi manusia di semua
tingkat dan memperkuat pelatihan hak asasi manusia
dan pembangunan kapasitas untuk pejabat sektor publik
(Thailand);
139.47 Terus memajukan pendidikan dan pelatihan hak asasi
manusia di semua tingkat pendidikan (Timor-Leste);
139.48 Terus melaksanakan program pelatihan dan diseminasi
tentang kewajiban dan komitmen terhadap hak asasi
manusia untuk pejabat pemerintah dan pemangku kepen-
tingan di tingkat nasional dan lokal (Ukraina);
139.49 Memperkuat upaya untuk memastikan pendaftaran pe-
nuh anak-anak, terutama anak perempuan, di lembaga
pendidikan (Republik Rakyat Demokratik Korea);
139.50 Terus melaksanakan program pelatihan dan diseminasi
tentang kewajiban dan komitmen tentang hak asasi ma-
nusia untuk berbagai khalayak luas (Kuba);
139.51 Meningkatkan pelatihan dan instruksi administratif
untuk polisi dan pihak berwenang setempat untuk me-
mastikan bahwa hak untuk berkumpul secara damai
dihormati secara universal, termasuk di provinsi Papua
dan Papua Barat (Jerman);
139.52 Memastikan bahwa Undang-undang dan kebijakan ten-
tang perang melawan terorisme sesuai dengan standar
hak asasi manusia internasional (Panama);
139.53 Mempercepat proses merevisi KUHP memastikan bahwa
dalam KUHP sudah termasuk definisi penyiksaan yang
konsisten dengan Konvensi menentang Penyiksaan (Re-
publik Korea);
139.54 Mengadopsi RUU Anti Penyiksaan Nasional dan mem-
bentuk mekanisme pencegahan nasional yang efektif
(Serbia);
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 71
139.55 Terus melanjutkan upaya untuk melawan penyiksaan
(Irak);
139.56 Membuat upaya berkelanjutan untuk memberantas per-
dagangan orang (Lebanon);
139.57 Terus meningkatkan dan memperluas pekerjaan Satuan
Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang (Sri Lanka);
139.58 Meningkatkan dan memperluas Satgas Tindak Pidana
Perdagangan Orang agar dapat mencakup setiap ba-
gian dari negara dan mengubah undang-undang untuk
memastikan bahwa perdagangan anak dalam segala
bentuknya didefinisikan secara komprehensif dan dikri-
minalisasi (Negara Palestina);
139.59 Terus mencegah dan memberantas perdagangan manusia
sebagai bagian dari Proses Bali tentang Penyelundupan
Manusia, Perdagangan Orang dan Kejahatan
Transnasional Terkait (Djibouti);
139.60 Memperkuat program-program pencegahan dan pening-
katan kesadaran dalam upaya-upaya untuk menangani
perdagangan manusia di tingkat nasional dan regional,
termasuk melalui Proses Bali (Filipina);
139.61 Memperluas Satuan Tugas Tindak Pidana Perdagangan
Orang agar mencakup setiap bagian dari negara dan
memastikan bahwa perdagangan anak dalam segala
bentuknya didefinisikan secara komprehensif dan dikri-
minalisasi (Serbia);
139.62 Meningkatkan dan memperluas Satgas Tindak Pidana
Perdagangan Orang agar dapat mencakup setiap bagian
dari negara (Timor-Leste);
139.63 Terus memajukan pengetahuan dan memperkuat ka-
pasitas pejabat dalam mencegah dan menangani perda-
gangan orang, termasuk dalam menerapkan langkah-
72 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
langkah khusus dan perawatan untuk orang-orang yang
diperdagangkan, yang melibatkan penduduk rentan (Re-
publik Islam Iran);
139.64 Terus memperkuat upaya nasional dan regional untuk me-
majukan dan melindungi para Pembela HAM (Ekuador);
139.65 Memfasilitasi kerja Pembela hak asasi manusia dan Jur-
nalis di seluruh negeri (Perancis);
139.66 Meningkatkan upaya untuk memastikan perlindungan
Jurnalis dan Pembela hak asasi manusia (Irak);
139.67 Memastikan kewajiban-kewajiban hak asasi manusia di
Papua ditegakkan, dihormati dan dimajukan, termasuk
kebebasan berkumpul, kebebasan pers dan hak-hak pe-
rempuan dan minoritas (Selandia Baru);
139.68 Memastikan bahwa minoritas agama dapat dengan bebas
menggunakan hak kebebasan berpikir, hati nurani dan
agama mereka (Panama);
139.69 Lebih lanjut memajukan rasa hormat terhadap kera-
gaman agama dan kebebasan beragama termasuk dengan
meninjau Undang-undang dan kebijakan yang relevan
sehubungan dengan Konstitusi dan kewajiban interna-
sionalnya (Republik Korea);
139.70 Mengadaptasi legislasi dan mengambil langkah-langkah
yang diperlukan untuk menjamin pemenuhan sepenuhnya
hak atas kebebasan beragama atau berkeyakinan, ter-
masuk untuk minoritas agama (Swiss);
139.71 Mengambil langkah-langkah koordinasi yang kuat untuk
melindungi hak atas kebebasan beragama atau berke-
yakinan, termasuk dengan memastikan bahwa semua
hukum dan peraturan kabupaten dan provinsi selaras
dengan konstitusi dan kewajiban HAM internasional
Indonesia (Kanada);
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 73
139.72. Menjamin bahwa minoritas agama dapat dengan bebas
menggunakan hak kebebasan berpikir, hati nurani dan
agama dalam beribadah, serta ketaatan, praktik dan pe-
ngajaran mereka (Guatemala);
139.73 Mengambil langkah-langkah untuk menjamin perlin-
dungan kebebasan beragama atau berkeyakinan bagi
minoritas agama sejalan dengan Konstitusi Indonesia
(Selandia Baru);
139.74 Mengambil semua langkah yang diperlukan untuk me-
lindungi kebebasan beragama dan berkeyakinan untuk
orang-orang yang termasuk dalam semua kelompok
agama, termasuk dengan melindungi orang-orang yang
termasuk minoritas agama dari kekerasan dan penga-
niayaan (Belanda);
139.75 Menjamin kebebasan beragama atau berkeyakinan dan
hak-hak orang yang termasuk minoritas nasional dan
bertanggung jawab atas pelaku kekerasan dan ancaman
terhadap minoritas agama (Italia);
139.76 Memastikan bahwa kebebasan berbicara organisasi
masyarakat sipil dan kelompok kepentingan khusus di-
majukan dan dihormati di seluruh Indonesia, sehingga
mereka dapat, dalam kerangka hukum, menyuarakan
pandangan dan keprihatinan mereka, bahkan pada isu-
isu yang dapat menjadi sensitif (Belanda);
139.77 Terus mengambil langkah yang tepat untuk menyelidiki
dan memberikan ganti rugi dalam semua kasus kekerasan
yang terkait dengan keyakinan agama (Afrika Selatan);
139.78 Meningkatkan kesadaran tentang yustisiabilitas hak eko-
nomi, sosial dan budaya, termasuk melalui kampanye pe-
ningkatan kesadaran dan masuknya hak asasi manusia
dalam kurikulum sekolah di semua tingkatan (Albania);
74 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
139.79 Memperkuat kapasitas sistem jaminan sosial nasional
yang ditujukan untuk mendukung rumah tangga yang
membutuhkan (Belarus);
139.80 Memastikan semua warga negara dapat dengan bebas
mewujudkan keyakinan mereka dan bahwa penganut
semua agama dapat menikmati sepenuhnya hak mereka
atas kesehatan, pendidikan dan layanan publik lainnya
(Norwegia);
139.81 Terus memperkuat program-program sosial yang sukses
seperti kartu keluarga dan perawatan kesehatan bagi
rumah tangga miskin, yang memungkinkan jutaan orang
Indonesia mengakses program pendidikan dan kesehatan
(Republik Bolivar Venezuela);
139.82 Memperluas partisipasi masyarakat dalam mengejar
proyek pembangunan nasional seperti infrastruktur
dan perencanaan kota dalam upaya untuk menghindari
penggusuran paksa dan kekerasan (Kenya);
139.83 Terus menerapkan kebijakan yang bertujuan untuk me-
ningkatkan perlindungan sosial dan mengurangi keti-
daksetaraan, dan mengembangkan infrastruktur yang
memberikan bantuan sosial yang lebih ditargetkan,
terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pedesaan
(Singapura);
139.84 Terus menempatkan pengentasan kemiskinan sebagai
salah satu tugas prioritasnya dan memajukan pemba-
ngunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan (Cina);
139.85 Melanjutkan kebijakan nasional untuk mengakhiri ke-
miskinan melalui inisiatif pembangunan (Kuwait);
139.86 Memperkuat langkah-langkah untuk mengimplementa-
sikan Skema Asuransi Kesehatan Nasional (Afrika Se-
latan);
139.87 Terus memastikan akses atas lembaga dan layanan ke-
sehatan sesuai dengan Skema Asuransi Kesehatan Na-
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 75
sional dengan maksud untuk menerapkan tujuan jaminan
kesehatan untuk semua pada tahun 2019 (Aljazair);
139.88 Memperkuat langkah-langkah pencegahan dan peman-
tauan di sektor kesehatan (Angola);
139.89 Mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk me-
wujudkan jaminan kesehatan semesta di seluruh negeri
(Republik Rakyat Demokratik Korea);
139.90 Terus meningkatkan akses atas layanan kesehatan dengan
mendanai program yang meningkatkan kualitas layanan
kesehatan di desa-desa (Maladewa);
139.91 Melipatgandakan upaya dalam pendidikan seks dan akses
atas kesehatan seksual dan reproduksi di seluruh negara
dengan tujuan untuk mengurangi angka kematian ibu
dan memerangi AIDS, kehamilan dini, aborsi yang dila-
kukan dalam situasi risiko, pernikahan anak, serta keke-
rasan dan eksploitasi seksual (Kolombia);
139.92 Lebih lanjut meningkatkan jaminan layanan kesehatan
reproduksi, kematian ibu, bayi baru lahir, anak dan re-
maja di negara ini (Kazakhstan);
139.93 Terus melaksanakan kebijakan untuk memastikan ke-
tersediaan dan keterjangkauan pendidikan bagi semua
orang Indonesia, khususnya mereka yang tinggal di
daerah terpencil dan mereka yang memiliki kebutuhan
khusus (Singapura);
139.94 Melanjutkan upaya untuk memastikan pendidikan
berkualitas tinggi yang universal, wajib, bebas di semua
bidang dan untuk mengurangi hambatan keuangan
dalam mengakses pendidikan (Negara Palestina);
139.95 Lebih lanjut memajukan pengembangan pendidikan
dan melindungi hak masyarakat atas pendidikan (Cina);
76 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
139.96 Mengambil langkah lebih lanjut untuk memastikan
pendaftaran universal anak-anak usia sekolah wajib
(Bangladesh);
139.97 Terus memperkuat langkah-langkah untuk memastikan
pendidikan bagi semua, termasuk memperluas infra-
struktur sistem pendidikan di seluruh wilayah negara
(Belarus);
139.98 Terus mereformasi kebijakan pendidikannya yang sa-
ngat baik, khususnya program pendidikan menengah
untuk semua (Republik Bolivar Venezuela);
139.99 Melanjutkan upaya untuk meningkatkan perlindungan
perempuan dan anak-anak (Lebanon);
139.100 Mempertimbangkan pencabutan aturan-aturan yang
mendiskriminasi perempuan atas dasar status sipil
mereka, afiliasi agama, tempat tinggal atau keanggotaan
etnis minoritas (Peru);
139.101 Terus memperkuat tindakan yang diambil untuk memas-
tikan hak-hak perempuan dan mencapai kesetaraan
gender (Tunisia);
139.102 Terus menerapkan pemetaan gender nasional dalam
kebijakan untuk menilai keterwakilan perempuan dalam
posisi tanggung jawab dan pengambilan keputusan
(Aljazair);
139.103 Mempertahankan kerja baiknya dalam menegakkan
hak-hak perempuan, di antara kelompok-kelompok ren-
tan lainnya (Bangladesh);
139.104 Melindungi hak-hak perempuan dan memajukan
kesetaraan gender dengan memastikan bahwa semua
hukum dan peraturan kabupaten dan provinsi selaras
dengan konstitusi Indonesia dan konsisten dengan
kewajiban hak asasi manusia di bawah Kovenan
Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 77
dan Konvensi Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi
terhadap Perempuan, serta dengan meningkatkan
koordinasi di antara Lembaga dan Kementerian yang
bertanggung jawab (Kanada);
139.105 Terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran tentang
hak-hak perempuan dan perlindungan kesehatan ibu
dan anak, khususnya di daerah terpencil di negara
Indonesia (Uzbekistan);
139.106 Terus menyebarluaskan Undang-undang dan mening-
katkan semua kebijakan untuk memberikan perlin-
dungan yang aman bagi perempuan (Bahrain);
139.107 Mengadopsi langkah-langkah konkrit terhadap diskri-
minasi gender, yang menghalangi akses yang setara bagi
perempuan untuk keadilan (Chili);
139.108 Mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk
menghilangkan mutilasi genital perempuan, pernikahan
dini dan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak
(Panama);
139.109 Terus meningkatkan kesadaran dan advokasi untuk
mengakhiri mutilasi genital perempuan dalam praktik
(Ethiopia);
139.110 Melanjutkan upaya untuk memerangi praktik-praktik
tradisional yang berbahaya terhadap perempuan dan
anak perempuan (Nepal);
139.111 Terus memerangi kekerasan terhadap perempuan dan
memajukan pemberdayaan mereka (Pakistan);
139.112 Membuat upaya lebih lanjut dalam memajukan hak-hak
perempuan dan anak-anak dan melanjutkan upayanya
dalam memerangi kekerasan dalam rumah tangga
(Republik Korea);
78 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
139.113 Terus mendukung kegiatan pusat-pusat yang bertujuan
untuk memperkuat hak-hak dan peluang bagi perem-
puan dan anak-anak korban kekerasan (Federasi Rusia);
139.114 Terus berupaya menerapkan program “Three Ends”
untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan (Su-
dan);
139.115 Memastikan perlindungan hak-hak perempuan dengan
memperkuat legislasi yang berhubungan dengan pelang-
garan terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak
perempuan (Botswana);
139.116 Menuntut semua tindakan kekerasan domestik dan sek-
sual terhadap perempuan dan anak perempuan (Latvia);
139.117 Memperkuat peraturan tentang kekerasan terhadap pe-
rempuan, termasuk dengan menghukum semua bentuk
kekerasan seksual (Liechtenstein);
139.118 Terus berupaya dalam mengurangi kekerasan terhadap
perempuan dan anak perempuan, termasuk kekerasan
seksual, kekerasan keluarga dan mutilasi genital pe-
rempuan (Australia);
139.119 Terus memperkuat langkah-langkah yang diambil dalam
rangka memerangi kekerasan terhadap perempuan dan
anak-anak (Tunisia);
139.120 Terus berupaya untuk mengakhiri kekerasan terhadap
perempuan dan anak-anak (Oman);
139.121 Memperkuat upaya untuk mencegah dan memerangi
semua bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap
perempuan dan anak-anak dan kelompok rentan la-
innya, dengan mengadopsi legislasi yang komprehensif
dan meluncurkan kampanye peningkatan kesadaran.
Memastikan bahwa perempuan korban kekerasan me-
nerima bantuan yang pantas dan pelaku dibawa ke
pengadilan (Italia);
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 79
139.122 Terus mengkonsolidasikan partisipasi yang ditentukan
bagi perempuan dalam urusan publik (Republik Bolivar
Venezuela);
139.123 Melanjutkan upaya pemberdayaan perempuan untuk
meningkatkan partisipasi mereka yang berarti dalam
proses pengambilan keputusan sosial-ekonomi dan
politik (Nepal);
139.124 Mengambil upaya lebih lanjut dalam memajukan per-
lindungan hak-hak anak di tingkat nasional dan sub-
nasional (Vietnam);
139.125 Mempercepat implementasi Undang-undang dan per-
aturan baru yang berkaitan dengan peradilan anak-
anak (Uni Emirat Arab);
139.126 Mengakhiri hukuman fisik dan bentuk-bentuk kekerasan
lainnya di sekolah-sekolah (Panama);
139.127 Terus berupaya dalam menerapkan dan menegakkan
strategi nasional untuk mengakhiri kekerasan terhadap
anak-anak untuk periode 2016-2020 (Sudan);
139.128 Terus melakukan upaya untuk memerangi pekerja anak
dan pernikahan anak (Tunisia);
139.129 Melarang secara eksplisit dalam legislasi hukuman ba-
dan anak-anak di semua tempat, termasuk di rumah, di
sekolah, lembaga kriminal dan pusat perawatan alter-
natif (Uruguay);
139.130 Memperkuat undang-undang untuk menjamin perlin-
dungan anak-anak dari pekerja anak dan perdagangan
anak-anak untuk tujuan eksploitasi seksual dengan
membuat program untuk reintegrasi di sekolah dan
rehabilitasi (Chili);
139.131 Mencegah pekerja anak, dimulai dengan mereka yang
bekerja dalam kondisi berbahaya (Kenya);
80 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
139.132 Terus menerapkan Strategi Nasional 2016-2020 untuk
mengakhiri kekerasan terhadap anak-anak (Kuwait);
139.133 Melanjutkan dengan upaya yang berkelanjutan untuk
memberantas kekerasan dan kejahatan terhadap anak-
anak (Malaysia);
139.134 Mengambil langkah efektif lebih lanjut untuk me-
majukan dan melindungi hak dan kesejahteraan anak-
anak, melindungi anak-anak dari kekerasan, termasuk
memastikan akses mereka ke perawatan kesehatan dan
pendidikan (Uzbekistan);
139.135 Terus berupaya untuk membasmi praktik menahan
anak-anak bersama dengan orang dewasa di penjara
untuk orang dewasa (Federasi Rusia);
139.136 Memperkuat fasilitas untuk anak-anak yang berkonflik
dengan hukum (Ethiopia);
139.137 Mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk
menjamin berfungsinya sistem peradilan anak, ter-
masuk, antara lain, dengan memperlakukan anak di
bawah umur dengan cara yang sesuai dengan usia
mereka, dan menghapuskan semua hukuman fisik anak-
anak di semua pengaturan (Liechtenstein);
139.138 Melanjutkan dengan upaya untuk memperkuat akses
terhadap keadilan bagi remaja yang berkonflik dengan
hukum dan berbagi praktik terbaik dengan wilayah
yang lebih luas (Malaysia);
139.139 Memperkuat langkah-langkah dalam memajukan hak-
hak para penyandang disabilitas dalam kehidupan
politik (Afrika Selatan);
139.140 Terus melaksanakan Rencana Aksi Nasional tentang
Disabilitas 2013-2022 dengan penekanan pada situasi
anak-anak yang menghadapi berbagai bentuk diskri-
minasi (Kolombia);
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 81
139.141 Lebih lanjut menjamin hak-hak penyandang disabilitas
dan memperluas partisipasi mereka dalam urusan
publik (Cina);
139.142 Melipatgandakan upayanya untuk melindungi hak asasi
manusia penyandang disabilitas fisik (Jepang);
139.143 Terus mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan
representasi dan partisipasi para penyandang disabilitas
(Kuba);
139.144 Mendukung implementasi UU Nomor 8 Tahun 2016
tentang Penyandang Disabilitas dan memperkuat upa-
yanya untuk menangani pekerja anak untuk memastikan
akses anak-anak atas layanan sosial, kesehatan dan pen-
didikan (Thailand);
139.145 Melanjutkan dengan upaya untuk melindungi para
migran Indonesia di luar negeri dan para migran di
wilayah mereka (Peru);
139.146 Melanjutkan dengan upaya untuk melindungi pekerja
migran, serta melaksanakan pelatihan pengembangan
kapasitas bagi mereka (Vietnam);
139.147 Memajukan inisiatif untuk meningkatkan kesadaran
di antara komunitas tuan rumah tentang hak-hak pe-
ngungsi, pencari suaka dan anak-anak tanpa pendamping
(Kolombia);
139.148 Mengintensifkan upaya untuk mencegah status tanpa
kewarganegaraan, termasuk dengan memastikan pen-
daftaran kelahiran yang tepat, terjangkau dan dapat di-
akses oleh semua anak yang lahir di Indonesia (Slovakia).
140. Berikut ini memiliki dukungan dari Indonesia, yang mana
telah dilaksanakan atau dalam proses implementasi:
82 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
140.1 Meratifikasi Konvensi Internasional tentang Perlin-
dungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota
Keluarganya (Honduras);
140.2 Mengambil semua langkah yang diperlukan untuk me-
ratifikasi dan mengimplementasikan Konvensi Hak-hak
Penyandang Disabilitas (Arab Saudi).
141. Rekomendasi berikut akan diperiksa oleh Indonesia,
yang akan memberikan tanggapan pada waktunya,
tetapi selambat-lambatnya pada sesi ke-36 dari Dewan
Hak Asasi Manusia:
141.1 Mempertimbangkan untuk meratifikasi Protokol
Opsional Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial
dan Budaya (Kazakhstan);
141.2 Mempertimbangkan untuk mengakses Protokol Opsio-
nal Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik
(Senegal); Mempertimbangkan untuk meratifikasi Pro-
tokol Opsional Kovenan Internasional tentang Hak Sipil
dan Politik (Kazakhstan);
141.3 Meratifikasi Protokol Opsional Kovenan Internasional
tentang Hak Sipil dan Politik (Guatemala);
141.4 Menandatangani dan meratifikasi Protokol Pilihan Ke-
dua Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Po-
litik, yang bertujuan untuk menghapus hukuman mati
(Republik Moldova); Meratifikasi Protokol Opsional
Kedua Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan
Politik, yang bertujuan untuk menghapus hukuman
mati (Hungaria);
141.5 Melanjutkan proses ratifikasi instrumen-instrumen hak
asasi manusia internasional, khususnya Protokol Op-
sional Kedua Kovenan Internasional tentang Hak Sipil
dan Politik, yang bertujuan untuk menghapus hukuman
mati dan, sebagai langkah pertama, menetapkan penun-
daan eksekusi mati (Rumania );
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 83
141.6 Meratifikasi, sebelum siklus tinjauan berkala universal
berikutnya, Protokol Opsional Konvensi Menentang
Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang
Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat
Manusia, dan membentuk mekanisme pencegahan
nasional yang sesuai (Republik);
141.7 Mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri penyik-
saan dan perlakuan sewenang-wenang yang dipraktikkan
oleh polisi dan untuk memerangi kekebalan orang yang
bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut, termasuk
dengan meratifikasi Protokol Opsional Konvensi Me-
nentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman
Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan
Martabat Manusia (Prancis);
141.8 Mempertimbangkan untuk meratifikasi Protokol Opsio-
nal Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi Terhadap Perempuan (Kazakhstan); Te-
rus mengambil langkah-langkah yang ditujukan pa-
da ratifikasi Protokol Opsional Konvensi tentang
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap
Perempuan (Namibia);
141.9 Mengesahkan Protokol Opsional Konvensi tentang
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Pe-
rempuan (Guatemala) (Sierra Leone) (Spanyol);
141.10 Meratifikasi Protokol Opsional Konvensi tentang Hak-
hak Penyandang Disabilitas (Guatemala) (Senegal);
141.11 Mempertimbangkan untuk meratifikasi Statuta Roma
tentang Mahkamah Pidana Internasional, termasuk
Persetujuan tentang Hak Istimewa dan Kekebalan
(Botswana);
141.12 Meratifikasi Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana
Internasional (Latvia) (Madagaskar) (Portugal) (Timor-
Leste);
84 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
141.13 Menyetujui Statuta Roma sebagaimana telah diubah
pada Konferensi Peninjauan di Kampala pada tahun
2010 dan menyelaraskan undang-undang nasionalnya
dengan kewajiban di bawah Statuta Roma, definisi
kejahatan dan prinsip, termasuk kejahatan agresi
(Liechtenstein);
141.14 Meratifikasi Statuta Roma dari Mahkamah Pidana Inter-
nasional sesuai dengan komitmen yang dibuat dalam
Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (Hongaria);
141.15 Mematuhi dan menyesuaikan hukum nasional dengan
Statuta Roma dari Mahkamah Pidana Internasional
(Gutemala);
141.16 Meratifikasi Konvensi tentang Pencegahan dan Penghu-
kuman Kejahatan Genosida (Armenia);
141.17 Meratifikasi Konvensi tentang Tidak Berlakunya Ba-
tasan Hukum atas Kejahatan Perang dan Kejahatan
Terhadap Kemanusiaan (Convention on the Non-Appli-
cability of Statutory Limitations to War Crimes and Crimes
against Humanity) (Armenia);
141.18 Mengikuti Perjanjian Perdagangan Senjata (Guatemala);
141.19 Meratifikasi sesegera mungkin Konvensi ILO Nomor
169 Tahun 1989 tentang Penduduk Asli dan Masyarakat
Adat (Guatemala);
141.20 Meratifikasi Protokol 2014 pada Konvensi Kerja Paksa,
1930, dan menerapkan peraturan ketenagakerjaan yang
ada yang mensyaratkan dokumentasi formal semua
pekerja dan standar minimum dalam kondisi kerja
(Inggris Raya dan Irlandia Utara);
141.21 Mempertimbangkan untuk meratifikasi Protokol Nomor
12 Konvensi Perlindungan Hak Asasi Manusia dan
Kebebasan Fundamental dan Konvensi Dewan Eropa
tentang Mencegah dan Memerangi Kekerasan terhadap
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 85
Perempuan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(Albania);
141.22 Mempertimbangkan untuk memperluas undangan
terbuka dan tetap bagi prosedur khusus (Bosnia dan
Herzegovina);
141.23 Memperluas undangan terbuka bagi semua prosedur
khusus dari Dewan Hak Asasi Manusia (Uruguay);
Menerbitkan undangan tetap bagi prosedur khusus
(Kazakhstan); Memperluas undangan yang tetap bagi
pemegang mandat prosedur khusus, menanggapi secara
positif semua permintaan untuk mengunjungi negara
tersebut dan bekerja sama secara penuh, segera dan
substantif dengan prosedur khusus Dewan Hak Asasi
Manusia (Latvia);
141.24 Menawarkan undangan kepada Pelapor Khusus tentang
hak-hak masyarakat adat agar mengunjungi Indonesia,
termasuk Papua, sejalan dengan keterbukaan Indonesia
untuk berkolaborasi dengan pemegang mandat prosedur
khusus (Meksiko);
141.25 Menyelesaikan dengan cepat diskusi-diskusi di dalam
badan legislatif pada draft KUHP yang telah direvisi
(Turki);
141.26 Mengkaji dan mencabut Undang-undang lokal yang
dapat membatasi hak yang dijamin oleh Konstitusi,
terutama yang berkaitan dengan hak-hak perempuan,
minoritas seksual dan minoritas agama (Norwegia);
141.27 Memperkenalkan Undang-undang untuk mencabut un-
dang-undang penistaan agama tahun 1965 (Swedia);
141.28 Mengubah atau mencabut Undang-undang dan kepu-
tusan yang membatasi hak atas kebebasan berpikir, hati
nurani dan agama (Denmark);
86 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
141.29 Mengakhiri penuntutan yang berdasarkan pasal 156 dan
156a KUHP untuk menjalankan kebebasan beragama
dan berekspresi (Amerika Serikat);
141.30 Mencabut atau mengubah pasal 106 dan 110 KUHP un-
tuk menghindari pembatasan kebebasan berekspresi
(Jerman);
141.31 Mengakhiri penuntutan yang berdasarkan pasal 106 dan
110 KUHP untuk menjalankan kebebasan berekspresi
dan berkumpul secara damai (Amerika Serikat);
141.32 Mencabut semua Undang-undang dan peraturan yang
membatasi perempuan dan anak perempuan dalam
mengakses informasi dan saran yang berkaitan dengan
kesehatan dan hak seksual dan reproduksi mereka,
termasuk kontrasepsi (Kanada);
141.33 Mempertimbangkan untuk meninjau ulang ketentuan
UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang,
antara lain, membedakan hak waris antara anak laki-
laki dan anak perempuan dalam keluarga yang sama
(Namibia);
141.34 Menghilangkan dari KUHP pasal yang berhubungan
dengan penodaan agama (Spanyol);
141.35 Memastikan bahwa Komnas Perempuan sesuai dengan
Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan status lembaga
nasional demi pemajuan dan perlindungan hak asasi
manusia (Prinsip Paris) (Sierra Leone);
141.36 Melakukan tindakan untuk membatalkan peraturan
daerah atau lokal yang mendiskriminasikan orang
berdasarkan orientasi seksual atau identitas gender
mereka (Austria);
141.37 Membuat upaya legislatif dan eksekutif lebih lanjut
untuk mencegah intoleransi dan diskriminasi atas dasar
agama terhadap anggota minoritas agama (Slovakia);
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 87
141.38 Mengambil tindakan tegas untuk mencegah dan secara
efektif mengadili tindak kekerasan dan hasutan ke-
bencian terhadap minoritas agama dan melawan dis-
kriminasi dan intoleransi atas dasar agama (Austria);
141.39 Menerapkan langkah-langkah yang tepat untuk
mencegah diskriminasi terhadap minoritas agama
(Hungaria);
141.40 Melindungi hak-hak Kristen dan minoritas lainnya dan
memajukan dialog antaragama di antara kelompok-
kelompok agama di Indonesia (Kenya);
141.41 Menjamin hak-hak kelompok minoritas, khususnya ke-
lompok minoritas agama dan lesbian, gay, biseksual dan
transgender, melalui tindakan hukum yang efektif dalam
melawan hasutan terhadap kebencian dan tindakan ke-
kerasan, serta dengan merevisi Undang-undang yang
dapat memiliki dampak diskriminatif (Brasil);
141.42 Mengkaji dan mengubah Undang-undang nasional un-
tuk memperkuat perlindungan terhadap diskriminasi,
termasuk berdasarkan agama, orientasi seksual dan
identitas gender, dan memperkenalkan program pen-
didikan yang mencegah diskriminasi dan stigmatisasi
seperti itu (Ceko);
141.43 Menetapkan kebijakan nasional untuk memastikan hak-
hak lesbian, gay, biseksual, transgender dan interseks,
dan menghukum kasus-kasus diskriminasi dan mereka
yang bersalah atas diskriminasi (Spanyol);
141.44 Memastikan bahwa Undang-undang dan kebijakan
nasional dan regional tidak mendiskriminasi individu
dalam masyarakat, termasuk orang-orang lesbian,
gay, biseksual, transgender dan interseks, dan sejalan
dengan kewajiban internasionalnya, seperti Kovenan
Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia (Swedia);
88 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
141.45 Mencabut atau merevisi undang-undang, terutama ke-
tentuan yang relevan dari KUHP Aceh, yang meng-
kriminalisasi hubungan seksual di antara orang dewasa
dengan jenis kelamin yang sama, serta Undang-undang
yang mendiskriminasi berdasarkan orientasi seksual
atau identitas gender (Islandia);
141.46 Menghapus hukuman mati (Angola); Menghapuskan
hukuman mati untuk semua kejahatan dan dalam semua
keadaan (Portugal);
141.47 Menghapuskan hukuman mati untuk kejahatan perda-
gangan Narkoba (Spanyol); Mengakhiri pengenaan hu-
kuman mati secara terus menerus yang sebagian besar
untuk kejahatan terkait Narkoba (Liechtenstein);
141.48 Menghapuskan hukuman mati dan mempertimbangkan
untuk melakukan semua hukuman mati yang dija-
tuhkan kepada orang-orang yang dihukum, karena
kejahatanNarkoba (Chili);
141.49 Meningkatkan perlindungan terhadap pelaksanaan hu-
kuman mati, termasuk: perwakilan hukum yang me-
madai dan dini untuk kasus-kasus yang dapat menarik
hukuman mati; tidak menerapkan hukuman mati kepada
mereka yang menderita penyakit mental; merevisi
KUHP agar sesuai dengan hukum dan kewajiban hak
asasi manusia internasional yang relevan; dan me-
ngembalikan penundaan penerapan hukuman mati
(Australia);
141.50 Menunda penghapusan, membentuk badan yang inde-
penden dan tidak memihak untuk melakukan peninjauan
atas semua kasus orang yang dijatuhi hukuman mati,
dengan maksud untuk mengubah hukuman mati
atau setidaknya memastikan pengadilan yang adil
yang sepenuhnya sesuai dengan standar internasional
(Belgia);
141.51 Menghapus hukuman mati, menetapkan penundaan
eksekusi dan meratifikasi Protokol Opsional Kedua Ko-
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 89
venan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, yang
bertujuan untuk menghapus hukuman mati (Slovakia);
141.52 Mempertimbangkan untuk membuat penundaan ekse-
kusi dengan tujuan untuk menghapus hukuman mati
(Austria); Mempertimbangkan untuk menetapkan mo-
ratorium de jure atas hukuman mati dan komuter (pe-
kerja migran) hukuman mati yang sudah ada (Italia);
Mempertimbangkan untuk kembali ke penundaan
eksekusi dan mengambil langkah-langkah menuju
penghapusan hukuman mati (Namibia);
141.53 Menetapkan kembali penundaan resmi tentang pene-
rapan hukuman mati (Montenegro); Menetapkan
kembali penundaan hukuman mati dengan tujuan
menghapusnya (Slovenia); Membuat kembali penunda-
an eksekusi dengan maksud untuk menghapus hukuman
mati (Brasil); Menetapkan kembali penundaan pene-
rapan hukuman mati dengan maksud untuk meng-
hapusnya (Meksiko); Segera menerapkan kembali
penundaan eksekusi dengan maksud untuk menghapus
hukuman mati (Swedia);
141.54 Menetapkan penundaan eksekusi dengan tujuan untuk
menghapus hukuman mati (Norwegia); Menetapkan
penundaan segera hukuman mati (Inggris Raya Britania
Raya dan Irlandia Utara); Menetapkan penundaan
resmi atas eksekusi, dengan maksud untuk menghapus
hukuman mati (Swiss); Menetapkan penundaan
resmi tentang hukuman mati dengan tujuan untuk
menghapusnya (Panama); Menetapkan penundaan
eksekusi dengan tujuan untuk menghapus hukuman
mati (Prancis); Mengambil langkah-langkah mendesak
untuk menetapkan penundaan resmi terhadap eksekusi
orang yang dihukum mati (Argentina); Menetapkan
penundaan eksekusi sebagai langkah pertama menuju
penghapusan hukuman mati (Belgia) (Islandia);
Menetapkan penundaan penerapan hukuman mati
dengan maksud untuk menghapusnya (Jerman);
Memperkenalkan penundaan eksekusi sebagai langkah
menengah menuju penghapusan hukuman mati,
90 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
mereformasi KUHP (Spanyol);
141.55 Menempatkan penundaan eksekusi, dengan maksud
untuk meratifikasi Protokol Opsional Kedua Kovenan
Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, yang
bertujuan untuk menghapus hukuman mati dan
mempertimbangkan untuk meratifikasi Protokol
Opsional Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi,
Sosial dan Budaya, Protokol Opsional Konvensi Hak
Anak pada prosedur komunikasi, Konvensi yang
berkaitan dengan Status Pengungsi dan Protokol
1967, serta Statuta Roma dari Mahkamah Pidana
Internasional (Irlandia);
141.56 Mengambil langkah lebih lanjut untuk memastikan
lingkungan yang aman dan memungkinkan bagi semua
pembela hak asasi manusia, termasuk yang mewakili
komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender dan
masyarakat adat (Norwegia);
141.57 Menjaga dan memperluas kebebasan beragama dengan
merevisi undang-undang nasional, sehingga mengakui
dan melindungi semua bentuk agama atau keyakinan,
teistik, ateistik dan non-teistik, sebagaimana diatur da-
lam pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia,
termasuk bagi mereka yang berada di luar enam agama
yang diakui secara resmi (Swedia);
141.58 Memastikan bahwa ketentuan hukum dan konstitusional
yang ada, yang melindungi hak asasi manusia khususnya
kebebasan berekspresi, berserikat dan berkumpul,
sepenuhnya dilaksanakan secara nasional; mencabut
undang-undang lokal yang diskriminatif bertentangan
dengan Konstitusi Indonesia; memprioritaskan ke-
majuan pada kesetaraan dan non-diskriminasi, ter-
masuk dalam kaitannya dengan lesbian, gay, biseksual
dan transgender; mengambil tindakan untuk mencegah
kelompok-kelompok ekstrimis melecehkan, meng-
intimidasi atau menganiaya minoritas agama dan mi-
noritas lainnya; dan memberikan pelatihan hak asasi
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 91
manusia kepada para pejabat di sistem hukum dan
peradilan (Irlandia);
141.59 Mengintensifkan semua upaya untuk menghormati dan
menegakkan kebebasan berekspresi, berkumpul, dan
beragama dan berkeyakinan, dan untuk mencegah dis-
kriminasi atas dasar apa pun, termasuk orientasi seksual
dan identitas gender (Australia);
141.60 Memastikan penghormatan hak atas peradilan yang
adil, sebagaimana ditentukan oleh pasal 14 dari Kovenan
Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, termasuk
hak untuk mengajukan banding bagi orang-orang yang
dijatuhi hukuman mati (Republik Moldova);
141.61 Terus memerangi impunitas, termasuk dengan memper-
kuat hukum dan peraturan serta pelaksanaannya
(Turki);
141.62 Menyelidiki secara seksama pelanggaran hak asasi ma-
nusia di masa lalu (Amerika Serikat);
141.63 Menyelesaikan investigasi semua kasus hak asasi manusia
di Papua (Australia);
141.64 Menjamin akses atas kontrasepsi tanpa memandang
status perkawinan dan mencabut semua undang-undang
yang membatasi akses perempuan dan anak perempuan
atas informasi kesehatan seksual dan reproduksi
(Slovenia);
141.65 Menyesuaikan kerangka kerja legislatif untuk memas-
tikan akses ke layanan kesehatan seksual dan reproduksi,
termasuk kontrasepsi dan keluarga berencana, untuk
perempuan yang belum menikah serta perempuan yang
sudah menikah, tanpa persetujuan dari pasangan me-
reka (Belgia);
141.66 Mengambil langkah-langkah mendesak untuk menca-
but norma dan peraturan yang mendiskriminasi perem-
92 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
puan dan lesbian, gay, biseksual dan transgender, ser-
ta untuk menyelidiki dan menghukum pelaku tin-
dakan diskriminasi dan kekerasan terhadap mereka
(Argentina);
141.67 Menghilangkan pembatasan hukum dan politik yang
mendiskriminasikan perempuan atas dasar status
pribadi mereka, dan hal-hal yang mungkin melanggar
hak seksual dan reproduksi mereka (Spanyol);
141.68 Menerapkan peraturan nasional yang ada sepenuhnya
yang melarang praktik mutilasi genital perempuan dan
mengubah Undang-undang nasional untuk memastikan
akses penuh terhadap hak-hak kesehatan seksual dan
reproduksi (Portugal);
141.69. Mengadopsi semua tindakan yang diperlukan untuk
memastikan bahwa praktik mutilasi genital perempuan
yang terus-menerus dapat dihentikan, melalui
kriminalisasi terhadap praktik tersebut dan kampanye
kesadaran (Uruguay);
141.70 Mengambil tindakan tambahan yang bertujuan untuk
mengatasi mutilasi genital perempuan, termasuk pela-
rangan sepenuhnya dalam jangka panjang (Mozambik);
141.71 Mengakhiri hukum dan dalam praktiknya untuk ke-
kerasan dan diskriminasi terhadap perempuan, ke-
kerasan dan diskriminasi terhadap homoseksual dan
mutilasi genital perempuan (Perancis);
141.72 Mengesahkan dan menegakkan Undang-undang untuk
menaikkan usia legal perkawinan untuk anak laki-laki
dan perempuan menjadi 18 tahun (Sierra Leone);
141.73 Meningkatkan usia pertanggungjawaban pidana sampai
16 tahun (Portugal);
141.74 Mengevaluasi pembentukan mekanisme yang memung-
kinkan masyarakat adat agar mendapatkan jaminan
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 93
hak atas tanah leluhur mereka (Peru);
141.75 Mengakhiri perawatan medis yang wajib dan reformasi
persyaratan pelaporan yang wajib untuk memungkinkan
akses yang anti-diskriminasi atas perawatan kesehatan
(Portugal).
142. Semua kesimpulan dan/atau rekomendasi yang terkan-
dung dalam laporan ini mencerminkan posisi negara
pengirim dan/atau negara yang sedang dikaji. Semua
kesimpulan dan/atau rekomendasi ini seharusnya tidak
ditafsirkan bahwa mendapatkan dukungan oleh ke-
lompok kerja secara keseluruhan.
94 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
Lampiran
Komposisi delegasi
Delegasi Indonesia dipimpin oleh YM. Ibu Retno L.P. Marsudi,
Menteri Luar Negeri dan YM. Bapak Yasonna H. Laoly, Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia dan terdiri dari anggota sebagai
berikut:
• YM. Bapak Hasan Kleib, Duta Besar/ Perwakilan Tetap, Perutusan
Tetap RI untuk PBB, WTO dan Organisasi Internasional lainnya,
Jenewa;
• YM Bapak R.M. Michael Tene, Duta Besar/ Wakil Perwakilan
Tetap, Perutusan Tetap RI untuk PBB, WTO dan Organisasi
Internasional lainnya, Jenewa;
• Bapak Mualimin Abdi, Direktur Genderal Hak Asasi Manusia,
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;
• Bapak Zudan Arif Fakrullah, Direktur Genderal untuk
Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kementerian Dalam Negeri;
• Bapak Abdurrahman Masud, Kepala Pusat Penelitian,
Pengembangan, Pendidikan, dan Pelatihan, Kementerian Agama;
• Mayor Genderal Markoni, Kepala Badan Pembinaan Hukum,
Tentara Nasional Indonesia;
• Brigadir Genderal Bambang Usadi, Kepala Biro Bantuan Hukum,
Kepolisian RI;
• Ibu Sri Danti Anwar, Staf Ahli Bidang Pertumbuhan Keluarga,
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak;
• Bapak Ifdhal Kasim, Tenaga Ahli Bidang Kajian dan Pengelolaan
Isu-isu Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan dan Hak Asasi
Manusia Strategis, Kantor Staf Presiden;
• Bapak Dicky Komar, Direktur Kerjasama HAM dan Kemanusiaan,
Kementerian Luar Negeri;
• Bapak Arrmanatha C. Nasir, Kepala Biro Dukungan Strategis
Pimpinan, Kementerian Luar Negeri;
• Bapak Denny Abdi, Konselor Menteri, Perutusan Tetap RI untuk
PBB, WTO, dan Organisasi Internasional lainnya, Geneva;
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 95
• Bapak Remigo Yolanda Berutu, Bupati Pakpak Barat;
• Bapak Bonanza P. Taihitu, Wakil Direktur Hak Sipil dan Politik,
Kementerian Luar Negeri;
• Bapak Temanengnga, Wakil Direktur Instrumen Hak Sipil dan
Politik, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;
• Nona Eva Kasim, Analis Kebijakan, Kementerian Sosial.
96 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
Addendum
A/HRC/36/7/Add.1
Versi Lanjut
Distr: Umum
19 September 2017
Original: English
Dewan Hak Asasi Manusia
Sidang ketiga puluh enam
11-29 September 2017
Isu Agenda 6
Tinjauan Periodik Universal (Universal Periodic Review - UPR)
Laporan Kelompok Kerja Tinjauan Periodik Universal
Indonesia
Tambahan
Pertimbangan terkait kesimpulan dan/atau rekomendasi,
komentar bersifat sukarela dan jawaban disampaikan oleh
Negara yang di-review
* Dokumen ini belum diedit sebelum dikirim kepada jasa pelayanan pener-
jemahan Perserikatan Bangsa-bangsa.
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 97
1. Indonesia menyambut baik kontribusi 101 delegasi dan 225
rekomendasi yang dibuat selama dialog interaktif pada bulan
Mei lalu. Partisipasi aktif negara anggota dalam mekanisme
UPR menegaskan kembali komitmen konkret negara-negara
atas semangat dialog dan kerjasama tingkat tinggi yang akan
menghasilkan dampak positif di lapangan.
2. Partisipasi yang tinggi mencerminkan kepercayaan dan keter-
tarikan tulus negara-negara terhadap upaya Indonesia yang tidak
kenal lelah untuk mempromosikan, memenuhi dan melindungi
hak asasi manusia di tingkat nasional dan daerah. Hal ini juga
mencerminkan dukungan terhadap kontribusi konkret Indonesia
dalam memajukan agenda hak asasi manusia melalui kerja di
tingkat bilateral, regional dan global.
3. Indonesia sudah menerima 150 rekomendasi ketika laporan In-
donesia diadopsi oleh kelompok kerja pada tanggal 5 Mei 2017,
di antara rekomendasi-rekomendasi ini terdapat dua rekomendasi
yang sudah diimplementasikan atau sedang diimplementasikan.
Indonesia, berada di antara beberapa negara yang ditinjau yang
secara langsung dan menyetujui berbagai rekomendasi yang di-
buat dalam sidang kedua puluh tujuh kelompok kerja UPR.
4. Indonesia menyampaikan bahwa pemeriksaan lanjutan diperlukan
untuk 75 rekomendasi lain, sebab:
(a) Diperlukan konsultasi lebih lanjut dengan berbagai pemangku
kepentingan nasional terkait;
(b) Perumusan berbagai rekomendasi yang tidak akurat membuat
rekomendasi tersebut sulit untuk diterjemahkan ke dalam
kebijakan;
(c) Bukan bagian dari prioritas nasional;
(d) Kurangnya pemahaman terkait konteks kenyataan yang
sebenarnya di lapangan.
5. Sesudah peninjauan, Kementerian Luar Negri dan Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Mansusia mengadakan rangkaian perte-
muan dengan kementerian/lembaga dan konsultasi dengan ber-
bagai pemangku kepentingan mengenai 150 rekomendasi yang
diterima dan juga mengenai 75 rekomendasi yang ditunda, untuk
pemeriksaan lebih lanjut. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
(Komnas HAM), Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia tematik
lain, dan berbagai organisasi masyarakat sipil dilibatkan dalam
konsultasi- konsultasi tersebut.
98 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
6. Konsultasi-konsultasi tersebut juga mengidentifikasi mekanisme
tindak lanjut guna memantau implementasi rekomendasi UPR,
misalnya melalui Rencana Aksi Nasional dan Sekertariat Ga-
bungan. Laporan UPR Indonesia disebarluaskan untuk me-
ningkatkan kesadaran publik terhadap proses dialog UPR dimana
sejumlah rekomenasi akan selaras dengan agenda nasional hak
asasi manusia.
7. Indonesia juga sudah berbagi pengalaman dengan anggota
ASEAN lain dalam siklus ketiga UPR selama pertemuan AICHR
di Phuket, Thailand pada tanggal 18 Juni 2017.
8. Selain 150 rekomendasi yang sudah diterima, Indonesia mendu-
kung 17 rekomendasi tambahan. 58 rekomendasi sisa sudah di-
evaluasi dan dicatat oleh Indonesia.
Indonesia mencatat 58 rekomendasi yang meminta Indonesia
untuk:
• Menerima kerangka hukum yang belum mendapat dukungan
universal atau persetujuan internasional;
• Mengirim undangan terbuka untuk semua, tidak merujuk se-
cara spesifik, Prosedur Khusus dan Pemegang Amanat Dewan
Hak Asasi Manusia.
• Mengambil tindakan yang tidak merupakan prioritas di dalam
agenda hak asasi manusia nasional; dan
• Menerima rekomendasi yang secara faktual tidak benar atau
tidak jelas sehingga sulit diterjemahkan dalam kebijakan
10. Mempertimbangkan keterbatasan kata, daftar rekomendasi leng-
kap yang didukung dan dicatat oleh Indonesia ada dalam tabel di
bawah ini:
Rekomendasi yang Didukung Rekomendasi yang Dicatat
139.1; 139.2; 139.3; 139.4; 139.5; 139.6; 141.3; 141.4; 141.5; 141.8; 141.9; 141.10;
139.7; 139.8; 139.9; 139.10; 139.11; 141.12; 141.13; 141.14; 141.16; 141.17;
139.12; 139.13; 139.14; 139.15; 139.16; 141.18; 141.19; 141.20; 141.21; 141.22;
139.17; 139.18; 139.19; 139.20; 139.21; 141.23; 141.24; 141.26; 141.27; 141.28;
139.22; 139.23; 139.24; 139.25; 139.26; 141.29; 141.30; 141.31; 141.32; 141.33;
139.27; 139.28; 139.29; 139.30; 139.31; 141.34; 141.35; 141.36; 141.41; 141.42;
139.32; 139.33; 139.34; 139.35; 139.36; 141.43; 141.44; 141.45; 141.46; 141.47;
139.37; 139.38; 139.39; 139.40; 139.41; 141.48; 141.49; 141.50; 141.51; 141.53;
Laporan Kelompok Kerja UPR Indonesia § 99
Rekomendasi yang Didukung Rekomendasi yang Dicatat
139.42; 139.43; 139.44; 139.45; 139.46; 141.54; 141.55; 141.57; 141.59; 141.62;
139.47; 139.48; 139.49; 139.50; 139.51; 141.64; 141.65; 141.66; 141.67; 141.68;
139.52; 139.53; 139.54; 139.55; 139.56; 141.69; 141.70; 141.71; 141.72; 141.73;
139.57; 139.58; 139.59; 139.60; 139.61; 141.74; 141.75.
139.62; 139.63; 139.64; 139.65; 139.66;
139.67; 139.68; 139.69; 139.70; 139.71;
139.72; 139.73; 139.74; 139.75; 139.76;
139.77; 139.78; 139.79; 139.80; 139.81;
139.82; 139.83; 139.84; 139.85; 139.86;
139.87; 139.88; 139.89; 139.90; 139.91;
139.92; 139.93; 139.94; 139.95; 139.96;
139.97; 139.98; 139.99; 139.100; 139.101;
139.102; 139.103; 139.104; 139.105;
139.106; 139.107; 139.108; 139.109;
139.110; 139.111; 139.112; 139.113;
139.114; 139.115; 139.116; 139.117;
139.118; 139.119; 139.120; 139.121;
139.122; 139.123; 139.124; 139.125;
139.126; 139.127; 139.128; 139.129;
139.130; 139.131; 139.132; 139.133;
139.134; 139.135; 139.136; 139.137;
139.138; 139.139; 139.140; 139.141;
139.142; 139.143; 139.144; 139.145;
139.146; 139.147; 139.148; 140.1; 140.2;
141.1; 141.2; 141.6; 141.7; 141.11; 141.15;
141.25; 141.37; 141.38; 141.39; 141.40;
141.52; 141.56; 141.58; 141.60; 141.61;
141.63.
100 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
Lampiran
Nomor : 140/ KNAKTP/Pim pinan /V lll/ 2017
Perihal : Surat dukungan untuk adopsi rekomendasi UPR
Lamp. : Matriks rekomendasi
Kepada Yth:
1. Menteri Luar Negeri RI
2. Menteri Hukum dan HAM RI
Dengan hormat,
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Per-
empuan) merupakan lembaga nasional HAM independen yang ber-
diri berdasarkan Keputusan Presiden No. 181/1998 yang kemudian
diperbarui menjadi Peraturan Presiden (Perpres) RI No. 65 tahun
2005. Komnas Perempuan berperan dalam memastikan tanggung
jawab negara terhadap perlindungan dan pemenuhan hak asasi ma-
nusia, tak terkecuali hak asasi perempuan. Salah satu peran strategis
Komnas Perempuan yakni melaporkan dan mendorong pengawalan
rekomendasi dari berbagai mekanisme HAM internasional, baik me-
kanisme treaty bodies maupun charter based bodies tentang promosi,
perlindungan dan pemenuhan hak asasi perempuan.
Komnas Perempuan mengapresiasi delegasi pemerintah RI yang te-
lah menyampaikan sikap untuk langsung menerima 150 rekomen-
dasi dari 225 rekomendasi berbagai negara anggota PBB, terutama
yang berhubungan dengan isu-isu perempuan. Kami berharap agar
rekomendasi yang telah diterima oleh pemerintah RI dapat di tindak
lanjuti sehingga mempercepat pemenuhan hak asasi manusia terma-
suk HAM perempuan di Indonesia dan untuk optimalisasi peran In-
donesia sebagai role model hak asasi manusia, setidaknya di ASEAN.
Dari 75 rekomendasi yang masih perlu dikonsultasikan untuk disam-
paikan kembali adopsinya pada bulan September 2017, untuk memu-
dahkan pertimbangan dan pengawalan, Komnas Perempuan menco-
ba mengelompokkan 36 rekomendasi terkait isu kekerasan terhadap
perempuan.
Surat Komnas Perempuan kepada Kemenhumkam § 103
Komnas Perempuan mendorong agar pemerintah dan penyelenggara
negara untuk tidak ragu mengadopsi rekomendasi-rekomendasi terse-
but (Matriks rekomendasi terlampir). Hal ini didasarkan pada pertim-
bangan sebagai berikut:
l. Rekomendasi yang masih perlu dikonsultasikan tersebut sebagian
sudah memiliki dasar hukum dan/atau sudah dilaksanakan di In-
donesia. Contoh terkait dengan akses informasi hak kesehatan re-
produksi (SRHR) sudah diatur dalam UU No. 36 tahun 2009 ten-
tang Kesehatan. Selain itu meskipun Indonesia belum meratifikasi
Optional Protocol Konvensi Anti Penyiksaan (OPCAT), tetapi
Indonesia sudah mulai menjalankan mekanisme NPM (National
Preventive Mechanism) yang merupakan amanat OPCAT.
2. Sebagian rekomendasi yang perlu dikonsultasikan adalah terkait
rekomendasi yang juga sudah disampaikan oleh Komite CEDAW
maupun Komite CRC yaitu terkait harmful practices (pernikahan
anak dan FGMC).
3. Sebagian rekomendasi yang perlu dikonsultasikan adalah re-
komendasi yang sebenarnya juga mengatur hal yang sama dengan
rekomendasi yang langsung diadopsi tetapi dengan kalimat yang
lebih konkret. Dengan demikian maka rekomendasi tersebut perlu
untuk juga langsung diadopsi sebagai bentuk wujud keseriusan
pemerintah RI dalam menjalankan rekomendasi tersebut.
4. Sebagai lembaga HAM kami memandang perlu untuk berposisi
tegas untuk penghapusan hukuman mati dan berkeberatan atas ke-
bijakan moratorium yang selama ini dijalankan negara kita. Kare-
na moratorium yang tidak jelas target reformasi kebijakan, beru-
bah kebijakan tergantung kebijakan politik negara, akan mengulur
penyiksaan pada terpidana mati dan keluarganya, sebagaimana
hasil pemantauan kami atas dampak hukuman mati pada buruh
migran dan keluarganya.
Kami mendorong agar Pemerintah RI mengadopsi semaksimum
mungkin rekomendasi tersebut dengan basis pertimbangan hak asasi
termasuk hak asasi perempuan, sebagai mana pandangan kami da-
lam tabel berikut. Pertimbangan ini bertujuan untuk mempercepat
pemenuhan HAM secara umum dan menjadi payung bersama untuk
pengawalan implementasinya di Indonesia.
104 § Lampiran
Demikian surat ini kami sampaikan, apabila ada hal-hal atau peran-
peran yang dapat kami dukung untuk proses adopsi rekomendasi
UPR ini, dengan senang hati kami dapat terlibat dalam kapasitas se-
bagai Lembaga HAM Nasional.
Atas respon positif dan kerjasama yang baik selama ini, kami ucap-
kan banyak terimakasih.
Jakarta, 24 Agustus 2017
Surat Komnas Perempuan kepada Kemenhumkam § 105
Lampiran Matriks Rekomendasi
Pertimbangan Komnas Perempuan untuk
Rekomendasi yang Dikonsultasikan
Terkait Isu Pemenuhan HAM Perempuan
Tinjauan Berkala Universal Siklus Ke-3, Mei 2017
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
Hak Kesehatan Reproduksi (SRHR – Sexual Reproductive Health Rights)
1 7.32. Mencabut semua peraturan Diadopsi • Kasus kekerasan seksual
perundang-undangan yang terjadi karena minimnya info
membatasi perempuan dan anak dan pendidikan SRHR.
perempuan dalam mengakses in- • Pendidikan publik untuk mini-
formasi terkait hak dan kesehatan malisir dampak extra marital
seksual dan reproduksi termasuk sex dan Kekerasan terhadap
kontrasepsi (Kanada #4) Perempuan (KtP) tanpa beri-
2 7.64. Menjamin akses terhadap Diadopsi siko pada kelompok rentan
kontrasepsi terlepas dari status lain untuk akses kontrasepsi
perkawinan dan mencabut semua (harus berbasis data empirik
peraturan perundangan yang dan kausalitas).
membatasi perempuan dan anak • Temuan Komnas Perempuan
perempuan dalam mengakses terkait isu kespro dan keren-
informasi kesehatan seksual dan tanan Kekerasan seksual:
reproduksi (Slovenia #2) disabilitas, perempuan korban
3 7.65. Menyelaraskan kerangka Diadopsi nikah siri, PEDILA (pe-
legislatif untuk memastikan rempuan yang dilacurkan),
akses terhadap layanan kese- perempuan dalam tahanan,
hatan seksual dan reproduksi, buruh migran, dll.
termasuk kontrasepsi dan • Hak atas kesehatan termasuk
keluarga berencana, untuk hak atas kesehatan reproduksi
perempuan yang belum menikah (Kespro/SRHR) sudah diatur
serta yang sudah menikah, tanpa dalam peraturan nasional
persetujuan pasangan mereka. diantaranya dalam UU Nomor
(Belgia #3) 36 tahun 2009 tentang Kese-
4 7.67. Menghapuskan batasan Diadopsi hatan dan lebih lanjut dalam
hukum dan politik yang PP Nomor 61 tahun 2014 ten-
mendiskriminasi perempuan tang Kesehatan Reproduksi.
atas dasar status perkawinan dan Peraturan-peraturan ini telah
melanggar hak seksual dan re- memuat hak untuk mengakses
produktif mereka. (Spanyol #2) informasi dan juga layanan
kesehatan.
• Dibatasinya akses kontra-
sepsi hanya pada yang sudah
menikah dan dengan harus
izin suami telah merentankan
perempuan muda, disabilitas,
perempuan korban nikah siri,
Pedila, perempuan dalam
tahanan dan buruh migran
terlanggar hak reproduksinya
dan jaminan hak hidup.
106 § Lampiran
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
Ratifikasi Konvensi (Ratification of Treaties/Convention)
1 7.21 Mempertimbangkan ratifi- Diadopsi • Bukan rekomendasi “nyasar”,
kasi protokol 12 Konvensi HAM berdasarkan pada prinsip
Eropa dan Konvensi Dewan bahwa konvensi Istanbul bisa
Eropa tentang Pencegahan dan diratifikasi oleh negara-negara
Memerangi Kekerasan terhadap non eropa.
Perempuan dan Kekerasan Ru- • Treaty open for signature
mah Tangga (Albania #1); by the member States, the
non-member States which
have participated in its elab-
oration and by the European
Union, and for accession by
other non-member States
• Secara substansi bisa
meng-cover kasus-kasus
kekerasan terhadap perem-
puan yang belum diatur dalam
aturan hukum nasional
2 7.8 Mempertimbangkan untuk Diadopsi • Rencana untuk meratifikasi
meratifikasi Protokol Opsional Protokol Opsional CEDAW
Konvensi Penghapusan Segala sudah pernah dicanangkan
Bentuk Diskriminasi terhadap dalam RAN HAM, jadi
Perempuan (Kazakhstan #1);/ sebaiknya dilanjutkan.
Melanjutkan pengambilan lang- • OPCEDAW dapat menjadi
kah untuk meratifikasi Protokol kanal untuk akses keadilan
Opsional Konvensi Penghapu- bagi korban yang sudah tertu-
san Segala Bentuk Diskriminasi tup akses keadilannya didalam
terhadap Perempuan (Namibia negeri. Bisa dikembangkan
#3); untuk menjadi penjembatan
3 7.9 Meratifikasi Protokol Op- Diadopsi bagi penyelesaian isu pe-
sional Konvensi Penghapusan rempuan trans-negara melalui
Segala Bentuk Diskriminasi ter- Komite CEDAW (karena isu
hadap Perempuan (Guatemala HAM yang semakin lintas
#2; Sierra Leone #1; Spain #1); batas), Indonesia sudah bukan
rezim otoriter apalagi ada
keterbukaan sosial media,
membuat OPCEDAW bukan
hal yang perlu dikhawatirkan,
bahkan dapat menjadi peluang
mereformasi perlindungan
perempuan di dalam negeri.
Hasil riset Due diligence
Project, sejumlah negara
yang meratifikasi OPCEDAW
berhasil membuat perbaikan
signifikan di negaranya.
Surat Komnas Perempuan kepada Kemenhumkam § 107
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
Praktek-praktek yang Membahayakan (Harmful Practices)
1 7.68 Menerapkan sepenuh- Diadopsi • Hentikan praktek dan kebijak-
nya peraturan nasional yang an FGMC
melarang praktik FGM, serta • Pertimbangan: sikap pe-
amandemen legislasi nasional merintah sudah tegas soal
untuk memastikan akses penuh sirkumsisi/sunat perempuan
terhadap hak kesehatan seksual tidak ada alasan medis.
dan reproduksi (Portugal #1) Sayangnya justru membuka
2 7.69 Mengadopsi semua Diadopsi ruang melalui Majelis Pertim-
tindakan yang diperlukan untuk bangan Kesehatan dan Syara’
memastikan bahwa praktik FGM (MPKS) untuk mengakomodir
benar-benar dihentikan, melalui dengan kebutuhan pemeluk
kriminalisasi praktek tersebut agama tertentu yang masih
dan kampanye kesadaran. (Uru- mempraktekkannya. Bahwa
guay #1) memindahkan tanggungjawab
pelaksanaan FGMC kepada
3 7.70 Mengambil tindakan Diadopsi
MPKS adalah bentuk priva-
tambahan yang bertujuan untuk
tisasi FGMC dan merupakan
mengatasi FGM, termasuk pada
tindakan pembiaran oleh
akhirnya melarang praktek
negara.
tersebut untuk selamanya (Mo-
zambik #2) • Komnas Perempuan membuat
policy brief dan riset nasional
dengan temuan-temuan kasus
meninggal, frigid, pendarahan
bayi, dan lain-lain.
• Dimensi HAM yang
terlanggar: hak anak untuk
membuat keputusan pada
tubuh vitalnya, hak informasi,
kesehatan, dan lain-lain.
• FGMC berpotensi meng-
undang disabilitas baru
dengan dipotongnya organ
klitoris perempuan (temuan
Komnas Perempuan dalam
riset nasional terjadi praktik
pemotongan klitoris dalam
pelaksanaan FGMC)
• Sejumlah negara Islam sudah
melarang praktik FGMC,
salah satunya adalah Mesir
yang membuat UU pelarangan
FGMC dan mengkriminalkan
pelakunya.
108 § Lampiran
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
REFORMASI HUKUM NASIONAL (NATIONAL LAW REFORM)
1 7.33 Mempertimbangkan penin- Diadopsi • Rekomendasi untuk mengha-
jauan kembali UU No. 1 Tahun puskan pernikahan anak juga
1974 tentang Perkawinan, yang disampaikan oleh Badan-
diantaranya membedakan hak badan HAM PBB kepada
waris antara anak lelaki dan anak Indonesia melalui mekanisme
perempuan dalam keluarga yang treaty body maupun melalui
sama (Namibia #2); mekanisme Universal Peri-
2 7.72 Menerapkan dan men- Diadopsi odic Review. Indonesia yang
egakkan undang-undang untuk sudah menjadi negara pihak
menaikkan usia pernikahan bagi pada Konvensi Penghapu-
anak laki-laki dan perempuan san Diskriminasi terhadap
menjadi 18 tahun (Sierra Leone Perempuan (CEDAW) pada
#4) tahun 1984 dan Konvensi
Hak Anak ( CRC) pada tahun
1990 telah mendapatkan
respon atas laporan-laporan
periodic yang disampaikan ke
komite CEDAW 1 dan komite
CRC 2 melalui penyampaian
Komentar Penutup (Conclud-
ing Observation/ Concluding
Comment). Pada tahun 2014
Komite CEDAW mengirim-
kan surat kepada Pemerintah
RI sebagai tindak lanjut
terhadap Concluding Observa-
tion CEDAW/C/IDN/CO/6-7
khususnya untuk paragraf 22
dan 48. Paragraf 48 point b
(ii) mendorong agar pemerin-
tah RI me-review pasal-pasal
dalam UU Perkawinan Nomor
1 Tahun 1974 dan menetapkan
agar usia minimal pernikahan
bagi laki-laki maupun perem-
puan adalah 18 tahun.
1
Concluding Observation A/53/38/REV.1 9 (SUPP) dari Komite CEDAW terhadap laporan periodic II dan
III Pemerintah RI , salah satu principal areas of concern adalah untuk menghapuskan peraturan perun-
dangan yang diskriminatif terhadap perempuan dalam area keluarga dan pernikahan termasuk diantaranya
batas umur pernikahan untuk anak perempuan. Concluding Comment CEDAW/C/IDN/CO/5 terhadap
laporan periodik IV dan V, Pemerintah RI juga merekomendasikan untuk menaikkan batas usia pernikahan
anak dari 16 tahun menjadi 17 tahun. Concluding Observation CEDAW/C/IDN/CO/6-7 terhadap laporan
periodik pemerintah RI yang disampaikan pada tahun 2012 merekomendasikan untuk menghentikan prak-
tek-praktek berbahaya termasuk pernikahan dini.
2
Concluding Observation Komite CRC , CRC/C/15/Add.25 terhadap Initial Report Pemerintah RI yang dis-
ampaikan pada tahun 1992, yang utamanya merekomendasikan untuk menaikkan batas usia untuk menikah.
Concluding Observation menanggapi periodic report Pemerintah RI pada tahun 2002, CRC/C/15/Add.223
pada paragraf 26 dan 27 merekomendasikan agar Indonesia me-review batas usia pernikahan supaya sesuai
dengan yang diatur dalam konvensi CRC. Concluding Observation CRC/C/IDN/CO/3-4 menanggapi
periodic report Pemerintah RI yang disampaikan pada tahun 2010, juga merekomendasikan Indonesia untuk
meng-amandemen peraturan perundang-undangan dan menaikkan umur pernikahan anak perempuan menja-
di 18 tahun, dan untuk tidak memperlakukan anak yang sudah menikah sebagai orang dewasa.
Surat Komnas Perempuan kepada Kemenhumkam § 109
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
• Perempuan walaupun masih
anak-anak akan otomatis
dianggap dewasa dan sebagai
subjek hukum ketika sudah
menikah, padahal secara
biologis, psikis dan intelektual
belum siap.
3 7.6 Meratifikasi, sebelum siklus Diadopsi • Pemerintah RI sudah men-
UPR berikutnya, Protokol gadopsi rekomendasi 5.2
Opsional Konvensi Menentang dan 5.3 yang pada pokoknya
Penyiksaan, dan menetapkan menyetujui untuk menin-
secara tepat Mekanisme Nasi- daklanjuti proses ratifikasi
onal Pencegahan Penyiksaan Protokol Opsional Konvensi
(Czechia #1); anti Penyiksaan ( OP CAT).
4 7.7 Mengambil langkah untuk Diadopsi • Pemerintah RI perlu meng-
mengakhiri penyiksaan dan adopsi dua rekomendasi ini
perlakuan yang tidak layak yang untuk menunjukkan komitmen
dilakukan oleh Polri dan untuk yang serius di samping bahwa
memerangi impunitas terhadap saat ini sebenarnya di Indone-
pelaku yang bertanggung jawab sia sudah dibangun national
atas tindakan tersebut, termasuk preventive mechanism (NPM)
dengan meratifikasi Protokol yang merupakan implementasi
Opsional Konvensi Menentang dari OP CAT.
Penyiksaan (Perancis #4); • Pertimbangan: walaupun
NPM sudah ada, tetapi belum
punya acuan hukumnya
(selain dasar hukum mas-
ing-masing institusi). OPCAT
dapat memperkuat efektifitas,
karena ada mekanisme review
reguler dan peran interna-
sional untuk turut berkon-
tribusi. Menjaga integritas
lembaga-lembaga yang punya
pusat-pusat penahanan dan
memperbaiki kondisi kerja
dan dukungan kerja mereka.
Memudahkan kerja NPM lin-
tas batas bagi negara-negara
yang sudah ratifikasi OPCAT
110 § Lampiran
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
Kekerasan terhadap Perempuan dan Kekerasan Seksual
1 7.66 Segera mengambil tindakan Diadopsi • Hasil temuan dan yang
untuk mencabut norma dan pera- dilaporkan ke Komnas
turan yang mendiskriminasikan Perempuan: Stigmatisasi,
perempuan dan LGBT, dan juga kriminalisasi, diskriminasi
untuk menyelidiki dan menghu- dan kekerasan terhadap LBT
kum pelaku tindak diskriminasi memperparah akses mereka
dan kekerasan terhadap mereka. pada penghidupan dan hak-
(Argentina #1) hak dasar
2 7.71 Mengakhiri kekerasan dan Diadopsi Bentuk kekerasan yang
diskriminasi terhadap perem- dialami: Fisik: pembunuhan,
puan dalam hukum dan dalam pemukulan dan penganiayaan,
praktik, kekerasan dan diskrimi- dimandikan air comberan,
nasi terhadap homoseksual, dan ditampar, ditonjok, diten-
terhadap LGBT. (Perancis #2) dang, dan lain-lain; Psikis;
diejek, di-bully, diancam
akan dibeberkan orientasi
seksualnya dan dilaporkan ke
polisi, dibatasi mobilitasnya/
dilarang bergaul, dikucilkan,
dsb; Seksual: pemaksaan
hubungan seksual, corrective
rapes, pemaksaan menikah,
pelecehan seksual, pemaksaan
busana (upaya “penyadaran”);
Ekonomi: diusir dari rumah,
dilarang bekerja, dipecat dari
kantor, dibatasi mobilitasnya/
dilarang bergaul; kekerasan
oleh negara: intimidasi, krim-
inalisasi.
• Data Catatan Tahunan Komnas
Perempuan (CATAHU) lima ta-
hun terakhir selalu ada laporan
kasus kekerasan terhadap LBT
• Masih ada peraturan yang
diskriminatif terhadap LGBT.
Salah satu contohnya adalah
pembiaran pada pelaku yang
dilakukan oleh publik akan
mengundang impunitas
kolektif dan dianggap sebagai
pelaziman kekerasan yang
akan memicu benih-benih
kejahatan terhadap kemanu-
siaan dan “genosida” karena
pembiaran akar kebencian.
Surat Komnas Perempuan kepada Kemenhumkam § 111
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
Perlindungan Hak Perempuan
1 7.35 Menjamin bahwa Komnas Diadopsi • Penguatan kelembagaan
Perempuan sesuai dengan Paris LNHAM (Lembaga Nasional
Principles (Sierra Leone #3) HAM) khususnya Komnas
Perempuan dilakukan melalui
penguatan dasar hukum
Komnas Perempuan : revisi
UU HAM dan pengesahan
RUU Penghapusan Kekerasan
Seksual.
• Syarat kualitatif sudah “dekat”
dengan Paris Principles, baik
indpendensi, multi back-
ground, peran dan fungsi serta
kerja-kerjanya sudah selaras
dengan Paris Principles.
• Dukungan yang diberikan
harus layak dan proporsional
dengan kebutuhannya.
LGBT
1 7.26 Meninjau dan mencabut Diadopsi UU Nomor 23 tahun 2014
Perda yang membatasi hak yang tentang Pemerintahan Daerah
dijamin oleh Konstitusi, khu- secara tegas melarang materi
susnya yang terkait dengan hak kebijakan daerah memuat
perempuan, kelompok seksual diskriminasi atas dasar apapun.
minoritas dan kelompok agama Dalam pasal 250 dikatakan
minoritas (Norwegia #2); bahwa diskriminasi terhadap
2 7.36 Bekerja untuk menolak Diadopsi suku, agama dan kepercayaan,
peraturan daerah provinsi ras, antar-golongan, dan gender
atau Kabupaten/ Kota yang adalah bertentangan dengan
mendiskriminasikan orang kepentingan umum. Karena itu,
berdasarkan orientasi seksual sebagaimana ditegaskan pada
atau identitas gender mereka pasal 251, kebijakan daerah
(Austria #2); yang bermuatan diskriminasi
wajib dibatalkan.
3 7.41 Menjamin hak-hak Diadopsi Indonesia sudah memiliki
kelompok minoritas khususnya perangkat peraturan yang cukup
kelompok agama minoritas, diantaranya KUHP, UU No. 40
LGBT, melalui tindakan hukum tahun 2008 tentang Pengha-
menentang penghasutan keben- pusan Diskriminasi Ras dan
cian dan tindakan kekerasan Etnis dan SE Kapolri tentang
dengan merevisi peraturan yang penanganan ujaran kebencian
menimbulkan efek diskriminasi. SE/6/X/2015.
(Brazil #2)
112 § Lampiran
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
LGBT
1 7.26 Meninjau dan mencabut Diadopsi UU Nomor 23 tahun 2014
Perda yang membatasi hak yang tentang Pemerintahan Daerah
dijamin oleh Konstitusi, khu- secara tegas melarang materi
susnya yang terkait dengan hak kebijakan daerah memuat
perempuan, kelompok seksual diskriminasi atas dasar apapun.
minoritas dan kelompok agama Dalam pasal 250 menyebutkan
minoritas (Norwegia #2); bahwa diskriminasi terhadap
2 7.36 Bekerja untuk menolak Diadopsi suku, agama dan kepercayaan,
peraturan daerah provinsi ras, antar-golongan, dan gender
atau Kabupaten/ Kota yang adalah bertentangan dengan
mendiskriminasikan orang kepentingan umum. Karena itu,
berdasarkan orientasi seksual sebagaimana ditegaskan pada
atau identitas gender mereka pasal 251, kebijakan daerah
(Austria #2); yang bermuatan diskriminasi
wajib dibatalkan.
3 7.41 Menjamin hak-hak Diadopsi Indonesia sudah memiliki
kelompok minoritas khususnya perangkat peraturan yang cukup
kelompok agama minoritas, diantaranya KUHP, UU No 40
LGBT, melalui tindakan hukum tahun 2008 tentang Pengha-
menentang penghasutan keben- pusan Diskriminasi Ras dan
cian dan tindakan kekerasan Etnis dan SE Kapolri tentang
dengan merevisi peraturan yang penanganan ujaran kebencian
menimbulkan efek diskriminasi. SE/6/X/2015.
(Brazil #2)
4 7.42 Meninjau dan mengubah Diadopsi Mengintegrasikan pendi-
legislasi nasional dalam rangka dikan mengenai pencegahan
menegakkan perlindungan terh- diskriminasi dan stigmatisasi
adap diskriminasi, termasuk atas dalam kurikulum peningkatan
dasar agama, orientasi seksual pendidikan karakter (PPK) yang
dan identitas gender, dan me- diterbitkan oleh Kemendikbud.
ngenalkan program pendidikan
yang mencegah diskriminasi
dan stigmatisasi semacam itu
(Ceznya #3);
5 7.45 Mencabut atau merevisi Diadopsi Posisi Komnas Perempuan
legislasi, terutama ketentuan dalam hal Qanun Jinayat tidak
yang relevan dengan Qanun bersetuju atas lahirnya Qanun
Aceh, yang mengkriminalisasi Jinayah dan hal-hal yang diatur
hubungan seksual di antara di dalamnya karena bertenta-
orang dewasa sesama jenis se- ngan dengan prinsip hak asasi
cara sukarela, dan juga legislasi dan hukum nasional. Hal lain
yang mendiskriminasikan atas adalah terkait penghukuman
dasar orientasi seksual atau dalam Qanun Jinayat yang
identitas gender (Islandia #2); bertentangan dengan Konvensi
Anti Penyiksaan yang telah
diratifikasi melalui UU No.5
Tahun 1998.
Surat Komnas Perempuan kepada Kemenhumkam § 113
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
6 7.26 Meninjau dan mencabut Diadopsi Ini merupakan hak konstitu-
Perda yang membatasi hak yang sional warga negara dan bahkan
dijamin oleh Konstitusi, khu- sudah diperkuat melalui ratifi-
susnya yang terkait dengan hak kasi berbagai instrumen HAM
perempuan, kelompok seksual (ICCPR, CEDAW, CERD).
minoritas dan kelompok agama
minoritas (Norwegia #2);
Hukuman Mati
1 7.5 Melanjutkan proses ratifikasi Diadopsi • Posisi Komnas Perempuan
instrument internasional HAM, tidak setuju terhadap hukuman
khususnya Protokol Opsional mati dan moratorium karena
Kedua Kovenan Hak Sipil dan berdasarkan temuan Komnas
Politik, yang memiliki sasaran Perempuan, moratorium atau
untuk menghapus hukuman mati penundaan hukuman mati
dan, sebagai tahap pertama, me- menimbulkan penyiksaan
netapkan moratorium eksekusi bagi keluarga, ketidak pastian
(Romania #1); hukum karena tergantung
2 7.51 Menghapuskan hukuman Diadopsi pada rezim dan berdampak
mati, menetapkan moratorium serius pada yang bersangkutan
eksekusi dan meratifikasi Pro- maupun keluarga (gangguan
tokol Opsional Kedua terhadap jiwa, kehilangan harapan
Kovenan Internasional tentang hidup, kemiskinan, kekacauan
Hak Sipil dan Politik (Slowakia keluarga, stigmatisasi dan
# 1); isolasi sosial)
• Komnas Perempuan tegas
3 7. 52 Mempertimbangkan
menentang hukuman mati dan
untuk menetapkan moratorium
moratorium, dan mengubah
eksekusi dengan tujuan meng-
hukuman mati menjadi hu-
hapus hukuman mati (Austria #
kuman seumur hidup atau
3); Mempertimbangkan untuk
yang lainnya.
menetapkan moratorium secara
de jure atas eksekusi mati dan • Catatan kritis Komnas
mengubah putusan hukuman Perempuan bahwa mora-
mati yang ada (Italia # 1); Mem- torium yang selama ini
pertimbangkan untuk mengem- dipraktikkan di Indonesia
balikan moratorium eksekusi tidak dalam kerangka untuk
dan melakukan langkah-langkah menghapuskan hukuman
menuju penghapusan hukuman mati, dan tidak ada jaminan
mati (Namibia # 1); untuk tidak dieksekusi ketika
pergantian regim atau desakan
4 7.53 Menetapkan kembali secara publik. Sehingga moratorium
resmi moratorium penggunaan menjadi prolonged detention
hukuman mati (Montenegro # (penahanan berkepanjangan)
1); Menetapkan kembali mora- yang merupakan salah bentuk
torium hukuman mati dengan penyiksaan.
tujuan untuk menghapusnya
(Slovenia # 1); Menetapkan
kembali moratorium eksekusi
dengan maksud untuk mengha-
puskan hukuman mati (Brasil #
114 § Lampiran
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
1); Menetapkan kembali morato-
rium penerapan hukuman mati
dengan tujuan untuk menghapus
hukuman mati (Meksiko # 2);
Segera menetapkan kembali
moratorium eksekusi dengan tu-
juan untuk menghapus hukuman
mati (Swedia # 1);
5 7.54 Moratorium eksekusi de-
ngan tujuan menghapus hukuman
mati (Norwegia # 4); /Segera
melakukan moratorium atas
hukuman mati (Inggris Raya dan
Irlandia Utara # 1); Menetapkan
moratorium resmi eksekusi,
dengan tujuan untuk mengha-
puskan hukuman mati (Swiss #
1; Panama # 2;); Menetapkan
moratorium eksekusi dengan
maksud untuk menghapuskan
hukuman mati (Prancis # 1);
Segera mengambil tindakan me-
netapkan moratorium eksekusi
secara resmi atas orang-orang
yang dihukum mati (Argentina
# 2); Menetapkan moratorium
eksekusi sebagai langkah awal
menuju penghapusan hukuman
mati (Belgia # 1); Islandia # 1);
Menetapkan moratorium terh-
adap penerapan hukuman mati
dengan maksud untuk mengha-
pusnya (Jerman # 4); Menetap-
kan moratorium eksekusi sebagai
langkah awal menuju pengha-
pusan hukuman mati, mengubah
KUHP (Spanyol # 3);
6 7.55 Menetapkan moratori-
um eksekusi, dengan maksud
meratifikasi Protokol Opsional
Kedua Kovenan Internasional
tentang Hak Sipil dan Politik
dan mempertimbangkan untuk
meratifikasi Protokol Opsional
Kovenan Internasional menge-
nai Hak-hak Ekonomi, Sosial
dan Budaya, Protokol Opsional
Konvensi tentang Hak Anak
mengenai prosedur komunikasi/
pengaduan, Konvensi Pengungsi
dan Protokol 1967, serta Statuta
Pengadilan Pidana Internasional
(Irlandia # 1);
Surat Komnas Perempuan kepada Kemenhumkam § 115
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
7 7.4 Menandatangani dan Diadopsi Ratifikasi dibutuhkan untuk
meratifikasi Protokol Opsional memastikan agar sistem hukum
Kedua Kovenan Hak Sipil dan Indonesia tidak lagi menerap-
Politik, yang memiliki sasaran kan hukuman mati
untuk menghapus hukuman
mati (Republik Moldova #2);/
Meratifikasi Protokol Opsional
Kedua Kovenan Hak Sipil dan
Politik (Hungaria #1)
8 7.46 Menghapus hukuman mati Diadopsi • Komnas Perempuan mere-
(Angola #1)/ Penghapusan komendasikan pemerintah
hukuman mati untuk semua ke- agar segera melakukan
jahatan dan dalam segala situasi langkah untuk menghentikan
(Portugal #2) hukuman mati dan bukan
9 7.47 Menghapus hukuman Diadopsi sekedar moratorium.
mati bagi penyelundup narkoba • Berdasarkan temuan Komnas
(Spanyol #4)/Mengakhiri Perempuan, kebijakan mora-
penjatuhan hukuman mati secara torium/penundaan hukuman
terus menerus yang sebagian mati adalah kebijakan yang
besar ditujukan untuk kejahatan justru menambah penderitaan
narkoba (Liechtenstein #1) dan pelanggaran HAM baik
bagi terpidana maupun kelu-
10 7.48 Menghapuskan hukuman Diadopsi
arganya. Pelanggaran yang
mati dan mempertimbangkan
diterima antara lain adalah
untuk mengubah semua putusan
stigma, gangguan kejiwaan,
pidana mati yang dikenakan
pemiskinan, dll.
pada orang yang dihukum kare-
na kejahatan narkoba (Chili #1) • Di samping itu kebijakan mo-
ratorium sangat rentan karena
11 7. 49 Meningkatkan pengaman- bergantung pada “kemurahan”
an penggunaan hukuman mati, rezim yang sedang berkuasa.
termasuk representasi hukum
yang memadai dan sejak awal
untuk kasus yang dapat dijatuhi
hukuman mati, tidak menerap-
kan hukuman mati bag penyan-
dang disabilitas mental, merevisi
KUHP agar sesuai dengan kewa-
jiban dan hukum internasional
HAM, dan menerapkan kembali
moratorium penggunaan huku-
man mati (Australia #1);
12 7.50 Penghapusan yang Diadopsi
tertunda, membentuk badan
independen dan tidak memihak
untuk melakukan peninjauan
terhadap semua kasus terpidana
mati, dengan maksud untuk
mengubah putusan hukuman
mati atau setidaknya memasti-
kan pengadilan yang adil yang
sepenuhnya sesuai dengan stan-
dar internasional (Belgia # 2);
116 § Lampiran
NO REKOMENDASI USULAN REKOMENDASI
PENDUKUNG
Pembela HAM (HUMAN RIGHTS DEFENDER)
1 7.56 Mengambil langkah Diadopsi • Perlindangan kepada pembela
lebih lanjut untuk memastikan HAM (termasuk WHRD)
lingkungan yang aman dan harus menjadi prioritas karena
kondusif bagi semua pembela kerentanan mereka atas
HAM, termasuk mereka yang kriminalisasi, stigmatisasi dan
mewakili komunitas LGBT dan bahkan penghilangan nyawa
komunitas adat (Norway #3); pada kasus-kasus konflik SDA
maupun dalam wilayah-
wilayah pasca konflik.
• Perlindungan menjadi hal
yang krusial bagi para pem-
bela HAM agar ketika mereka
menjalankan pekerjaannya
tidak menjadi korban krimi-
nalisasi dan stigma.
Surat Komnas Perempuan kepada Kemenhumkam § 117
Matriks Clustering Rekomendasi Isu Perempuan
Komnas Perempuan membuat dokumen pengelompokan/cluster-
ing ini dengan tujuan untuk menganalisa isu dan pola-pola rekomen-
dasi terkait pemenuhan HAM perempuan, baik itu rekomendasi
yang diterima maupun rekomendasi yang hanya dicatat. Dokumen
ini merupakan salah satu alat advokasi Komnas Perempuan untuk
mendorong negara agar mengadopsi lebih banyak rekomendasi yang
statusnya adalah untuk didiskusikan kembali untuk kemudian dipu-
tuskan apakah rekomendasi tersebut diterima atau dicatat. Dokumen
ini dibuat ketika laporan final kelompok kerja UPR belum dirilis, dan
penomoran rekomendasi dilakukan dengan mengikuti penomoran
draft awal yang dirilis pada tanggal 3 Mei 2017. Setelah laporan final
kelompok kerja UPR dirilis, penomorannya mengalami perubahan
yang cukup signifikan.
Rekomendasi yang muncul dalam format huruf biasa, ti-
dak digarisbawahi maupun ditebalkan, adalah rekomendasi yang
langsung diterima oleh Indonesia segera setelah sesi review Indone-
sia. Rekomendasi yang digaris bawahi adalah rekomendasi dengan
status dicatat/ noted (ditolak) oleh Indonesia. Rekomendasi yang dit-
ulis dengan huruf tebal ( hanya ada 3 rekomendasi) adalah rekomen-
dasi yang semula masuk dalam status untuk didiskusikan kembali
dan kemudian rekomendasi tersebut diterima oleh Indonesia dalam
laporan adopsi akhir yang dikeluarkan pada bulan September 2017.
Clustering Rekomendasi UPR Indonesia Siklus Ketiga
Isu Kekerasan terhadap Perempuan dan
HAM Perempuan
Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual
11 Rekomendasi
(5.10, 5.27, 5.91, 5.92, 5.105, 7.21 7.32, 7.64, 7.65, 7.67, 7.68)
1) 5.10. Memastikan, sebagaimana direkomendasikan oleh komite
CEDAW, agar perempuan dapat mengakses kontrasepsi tanpa
izin suami (Kazakhstan);
2) 5.27. Mengadopsi peraturan dan kebijakan yang memastikan
perempuan dan remaja memiliki akses terhadap pendidikan
seks dan layanan kesehatan reproduksi yang gratis dan ramah
(Honduras);
118 § Lampiran
3) 5.91. Menggandakan upaya untuk pendidikan seks dan akses
terhadap kesehatan reproduksi dan seks di seluruh wilayah de-
ngan tujuan mereduksi kematian ibu dan menghapus AIDS, ke-
hamilan terlalu muda, aborsi beresiko, pernikahan anak dan
eksploitasi kekerasan dan seksual (Kolumbia);
4) 5.92. Meningkatkan lingkup layanan kesehatan reproduksi, kese-
hatan ibu, bayi baru lahir, anak-anak dan remaja (Kazakhstan);
5) 5.105. Meneruskan upaya-upaya untuk meningkatkan kesadaran
tentang hak-hak perempuan, perlindungan kesehatan ibu dan
anak, khususnya di daerah yang sulit terjangkau (Uzbekistan);
6) 7.32. Mencabut semua aturan dan peraturan yang membatasi pe-
rempuan dan anak perempuan untuk mengakses informasi dan
saran yang berkaitan untuk kesehatan reproduksi, termasuk kon-
trasepsi (Kanada);
7) 7.64. Menjamin akses terhadap kontrasepsi terlepas dari status
pernikahan dan mencabut semua hukum yang membatasi pe-
rempuan dan anak perempuan untuk mengakses informasi tentang
kesehatan reproduksi (Slovenia);
8) 7.65. Mengadopsi kerangka hukum dalam rangka menjamin akses
terhadap layanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi
dan keluarga berencana bagi perempuan menikah maupun tidak
menikah dan tanpa harus ada izin dari pasangannya (Belgium);
9) 7.67. Menghapus pembatasan hukum dan kebijakan yang
mendiskriminasi perempuan berbasis status pribadi dan lainnya
yang dapat melanggar hak-hak di bidang reproduksi dan seksual
(Spanyol#2);
10) 7.68 Pemberlakuan penuh peraturan nasional yang ada untuk
melarang praktik pemotongan dan pelukaan genital perempuan
(P2GP) atau female genital mutilation (FGM) termasuk meng-
amandemen peraturan nasional untuk memastikan akses penuh
terhadap hak-hak kesehatan reproduksi (Portugal);
11) 7.21. Mempertimbangkan untuk meratifikasi Prokol 12 Konvensi
Eropa (Albania);
Ratifikasi Perjanjian/Konvensi
3 Rekomendasi (7.21,7.8,7.9)
1) 7.21. Mempertimbangkan meratifikasi Protokol 12 Konvensi
Eropa (Albania);
Matriks Clustering Rekomendasi Isu Perempuan § 119
2) 7.8. Mempertimbangkan meratifikasi Protokol Opsional Konven-
si Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan
(CEDAW)/ Meneruskan upaya untuk meratifikasi Protokol
Opsional Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi
terhadap Perempuan (CEDAW) (Kazakhstan);
3) 7.9. Meratifikasi Protokol Opsional Konvensi Penghapusan Se-
gala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) (Gua-
temala; Sierra Leone; Spanyol);
Praktik-praktik Membahayakan
(P2GP/FGMC dan Perkawinan Anak)
11 Rekomendasi
(5.34 , 5.91,5.108,5.128, 5.109,5.10, 5.118,7.68,7.69,7.70,7.71)
1) 5.34. Me-review dan mengamandemen peraturan nasional yang
mendiskriminasi perempuan dan bertentangan dengan nor-
ma sosial yang menerima kekerasan terhadap perempuan dan
praktik-praktik menyakitkan terhadap perempuan dan anak pe-
rempuan seperti P2GP (FGMC), pemaksaan perkawinan dini
(Cekoslovakia);
2) 5.91. Melipatgandakan upaya dalam hal pendidikan seks dan
akses terhadap kesehatan reproduksi di seluruh wilayah dengan
tujuan untuk mengurangi angka kematian ibu dan menghapuskan
AIDS, kehamilan dini, aborsi beresiko, perkawinan anak dan
eksploitasi kekerasan dan seksual (Kolumbia);
3) 5.108. Melakukan upaya-upaya penting untuk menghapus P2GP
(FGM), perkawinan dini dan bentuk-bentuk buruk perburuhan
anak (Panama);
4) 5.109. Meneruskan upaya meningkatkan kesadaran dan advokasi
penghapusan praktik P2GP (FGM) (Ethiopia);
5) 5.110. Meneruskan upaya-upaya untuk menghapus praktik tradi-
sional terhadap perempuan dan anak perempuan (Nepal);
6) 5.118. Meneruskan upaya-upaya untuk menghapuskan kekerasan
terhadap perempuan dan anak perempuan termasuk kekerasan
seksual, KDRT dan P2GP (FGM) (Australia);
7) 5.128. Meneruskan upaya untuk menghapus pekerja anak dan
perkawinan anak (Tunisia);
8) 7.68. Pemberlakuan menyeluruh peraturan nasional yang ada
untuk melarang praktek P2GP (FGM). Termasuk mengaman-
120 § Lampiran
demen hukum nasional untuk memastikan akses penuh terhadap
hak kesehatan reproduksi (Portugal);
9) 7.69. Mengadopsi upaya-upaya yang perlu untuk memastikan
penghentian praktik P2GP (FGM) yang masih berlangsung me-
lalui kriminalisasi terhadap praktik tersebut dan kampanye
penyadaran (Uruguay);
10) 7.70. Mengambil langkah-langkah tambahan yang bertujuan
mengatasi P2GP (FGM) dan pelarangannya pada masa yang akan
datang (Mozambik);
11) 7.71. Mengakhiri hukum dan praktik kekerasan dan diskriminasi
terhadap perempuan, homoseksual dan FGM (Perancis);
Reformasi Hukum Nasional
(Kerangka Hukum dan Institusi)
27 Rekomendasi
(5.15, 5.20, 5.26, 5.27, 5.28, 5.29, 5.30, 5.31, 5.32, 5.33, 5.34, 5.35,
5.100, 5.104, 5.106, 5.115, 5.117, 5.121, 7.32, 7.33, 7.64, 7.65, 7.66,
7.67, 7.68, 7.72, 7.26)
1) 5.15. Melanjutkan upaya-upaya nasional untuk memperkuat
kerangka hukum dan institusi, mengimplementasikan kebijakan
dan program yang berfokus dan mempromosikan hak-hak perem-
puan, anak-anak, disabilitas dan Lansia (Mesir);
2) 5.20. Melanjutkan review terhadap aturan terkait untuk menyela-
raskannya dengan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskri-
minasi terhadap Perempuan (CEDAW) (Uganda);
3) 5.26. Mengadopsi legislasi untuk menangani pelecehan seksual,
khususnya di tempat kerja (Maladewa);
4) 5.27. Mengadopsi legislasi dan upaya-upaya kebijakan untuk me-
mastikan akses perempuan dan anak perempuan terhadap pen-
didikan seks dan layanan kesehatan reproduksi yang ramah dan
cuma-cuma (Honduras);
5) 5.28. Melanjutkan pembahasan draf undang-undang kesetaraan
dan keadilan gender (Kolumbia);
6) 5.29. Mengamandemen semua peraturan daerah dan hukum yang
diskriminatif terhadap perempuan dan kelompok marjinal (Den-
mark);
7) 5.30. Mempercepat pengadopsian hukum kesetaraan dan keadilan
gender (Georgia);
Matriks Clustering Rekomendasi Isu Perempuan § 121
8) 5.31. Mengaktifkan proses pengadopsian hukum tentang keseta-
raan gender dan elaborasi kebijakan nasional untuk kesetaraan
gender (Madagaskar);
9) 5.32. Melanjutkan upaya-upaya untuk mengadopsi hukum tentang
kesetaraan dan keadilan gender, yang akan menjadi dasar hukum
yang lebih kuat untuk kebijakan yang responsif gender (Bhutan);
10) 5.33. Memastikan draf legislasi yang relevan untuk melindungi
kelompok rentan diimplementasikan sebagaimana mestinya, se-
perti legislasi tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tang-
ga dan kesejahteraan Lansia (Brunei Darussalam);
11) 5.34. Me-review dan mengamandemen legislasi nasional yang
diskriminatif terhadap perempuan dan mengkritisi penerimaan
sosial atas kekerasan terhadap perempuan dan praktik-praktik
berbahaya terhadap perempuan dan anak perempuan seperti
P2GP (FGM) dan pemaksaan perkawinan dini (Cekoslovakia);
12) 5.35. Memodifikasi hukum acara pidana untuk memastikan per-
lindungan yang lebih baik terhadap perempuan, dan melakukan
investigasi menyeluruh terhadap tuntutan kekerasan atau tindakan
sewenang-wenang yang dilakukan terhadap anak dalam tahanan
(Sierra Leone);
13) 5.100. Mempertimbangkan menghapus aturan-aturan yang diskri-
minatif terhadap perempuan berdasarkan status perdata, afiliasi
agama, tempat tinggal atau keanggotaan terhadap suatu etnis mi-
noritas (Peru);
14) 5.104. Melindungi hak-hak perempuan dan mempromosikan ke-
setaraan gender dengan memastikan bahwa semua hukum dan
peraturan daerah/provinsi selaras dengan konstitusi Indonesia
dan konsisten dengan kewajiban pemenuhan HAM sebagaimana
diatur dalam Konvensi Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya dan
Konvensi CEDAW, juga meningkatkan koordinasi antar institusi
atau kementerian yang terkait (Kanada);
15) 5.106. Secara terus menerus menyebarluaskan hukum dan me-
nambah kebijakan yang memberikan perlindungan yang aman
kepada perempuan (Bahrain);
16) 5.115. Memastikan perlindungan terhadap hak-hak perempuan
dengan menguatkan legislasi yang terkait dengan delik-delik
kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan (Botswana);
17) 5.117. Memperkuat legislasi nasional untuk isu kekerasan ter-
122 § Lampiran
hadap perempuan, termasuk dengan mempidana semua bentuk
kekerasan seksual (Liechtenstein);
18) 5.121. Memperkuat upaya-upaya untuk mencegah dan menghapus
segala bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan dan
anak dan kelompok rentan lainnya, dengan mengadopsi legislasi
yang komprehensif dan meluncurkan kampanye peningkatan
kesadaran [gender]. Memastikan perempuan korban kekerasan
mendapatkan bantuan yang layak dan pelakunya dituntut ke
pengadilan (Italia);
19) 7.32. Mencabut semua legislasi dan aturan yang membatasi
perempuan dan anak perempuan untuk mendapatkan akses infor-
masi dan saran tentang hak kesehatan reproduksi dan seksual,
termasuk kontrasepsi (Kanada);
20) 7.33. Mempertimbangkan untuk meninjau kembali UU Per-
kawinan No.1/1974 yang salah satunya ketentuannya tentang
pembedaan hak waris antara anak laki-laki dan anak perempuan
dalam satu keluarga (Namibia);
21) 7.64. Menjamin akses terhadap kontrasepsi tanpa memandang
status perkawinan dan mencabut semua peraturan yang membatasi
akses perempuan dan anak perempuan terhadap informasi tentang
seks dan kesehatan reproduksi (Slovenia);
22) 7.65. Menyesuaikan kerangka kebijakan untuk memastikan ak-
ses terhadap layanan kesehatan seks dan reproduksi, termasuk
kontrasepsi dan keluarga berencana, bagi perempuan yang sudah
menikah maupun belum menikah, tanpa perlu persetujuan dari
pasangannya (Belgia);
23) 7.66. Mengambil langkah-langkah mendesak untuk mencabut
norma dan peraturan yang diskriminatif terhadap perempuan
dan lesbian, gay, biseksual, transgender dan juga melakukan
investigasi dan menghukum pelaku tindakan diskriminatif dan
kekerasan terhadap kelompok-kelompok tersebut (Argentina);
24) 7.67. Menghapus pembatasan hukum dan politik yang diskri-
minatif terhadap perempuan berdasarkan status pribadi dan
pembatasan yang dapat melanggar hak reproduksi dan kesehatan
(Spanyol#2);
25) 7.68 Pemberlakuan secara penuh peraturan nasional yang me-
larang praktek P2GP (FGM), dan melakukan amandemen terhadap
legislasi nasional untuk memastikan akses penuh terhadap hak
seksual dan kesehatan reproduksi (Portugal);
Matriks Clustering Rekomendasi Isu Perempuan § 123
26) 7.72. Memberlakukan dan melaksanakan legislasi untuk menaik-
kan usia perkawinan bagi laki-laki dan anak perempuan menjadi
18 tahun (Sierra Leone);
27) 7.26. Meninjau ulang dan mencabut peraturan daerah yang mem-
batasi hak-hak yang dijamin dalam konstitusi, khususnya hak-hak
yang terkait dengan perempuan, minoritas seksual dan minoritas
agama (Norwegia);
Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) dan
Kekerasan Seksual
12 Rekomendasi
(5.111, 5.112, 5.114, 5.115, 5.116, 5.117, 5.118, 5.119, 5.120, 5.121,
7.66, 7.71)
1) 5.111. Melanjutkan penghapusan kekerasan terhadap perempuan
dan memajukan pemberdayaan perempuan (Pakistan);
2) 5.112. Melanjutkan upaya-upaya untuk mempromosikan hak-
hak perempuan dan anak dan meneruskan upaya untuk melawan
kekerasan dalam rumah tangga (Korea);
3) 5.114. Melanjutkan kerja-kerja untuk mengimplementasikan
program Three Ends untuk menghapuskan kekerasan terhadap
perempuan (Sudan);
4) 5.115. Memastikan perlindungan hak-hak perempuan dengan me-
nguatkan legislasi yang terkait tindak pidana kekerasan terhadap
perempuan dan anak perempuan (Boswana);
5) 5.116. Mengusut semua tindakan kekerasan seksual dan KDRT
terhadap perempuan dan anak perempuan (Latvia);
6) 5.117. Memperkuat legislasi yang mengatur tentang kekerasan
terhadap perempuan, termasuk mempidana segala bentuk ke-
kerasan seksual (Liechtenstein);
7) 5.118. Melanjutkan upaya-upaya untuk mengurangi kekerasan
terhadap perempuan dan anak perempuan, termasuk kekerasan
seksual, kekerasan dalam keluarga dan [penghapusan] P2GP
(FGM) (Australia);
8) 5.119. Melanjutkan langkah-langkah untuk menguatkan kerangka
kerja penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak
(Tunisia);
9) 5.120. Melanjutkan upaya-upaya untuk mengakhiri kekerasan
terhadap perempuan dan anak (Oman);
124 § Lampiran
10) 5.121. Memperkuat upaya untuk mencegah dan menghapuskan
segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, anak dan ke-
lompok rentan lain dengan mengadopsi legislasi yang kom-
prehensif dan meluncurkan kampanye penyadaran. Memastikan
agar perempuan korban kekerasan mendapatkan bantuan yang
layak dan pelakunya dituntut ke pengadilan (Italia);
11) 7.66. Mengambil langkah-langkah penting untuk mencabut
norma dan peraturan yang diskriminatif terhadap perempuan
dan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan juga melakukan
investigasi dan menghukum pelaku tindakan diskriminatif dan
kekerasan terhadap kelompok-kelompok tersebut (Argentina);
12) 7.71. Mengakhiri kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan
dalam hukum dan praktik, kekerasan dan diskriminasi terhadap
homoseksual, dan [penghapusan] P2GP (FGM) (Prancis);
Perlindungan HAM Perempuan (Umum)
14 Rekomendasi
(5.14, 5.49, 5.67, 5.99, 5.101, 5.102, 5.103, 5.106, 5.107, 5.112,
5.113, 5.122, 5.123, 7.35)
1) 5.14 Melanjutkan program-program untuk promosi dan per-
lindungan hak-hak perempuan, anak, penyandang dan Lansia
(Djibouti);
2) 5.49. Memperkuat upaya-upaya untuk memastikan anak dan
terutama anak perempuan dapat secara penuh mengikuti pendi-
dikan (Republik Demokratik Rakyat Korea);
3) 5.67. Memastikan pemenuhan HAM di Papua ditegakkan,
dilindungi dan dipromosikan, termasuk kebebasan berserikat, ke-
bebasan pers dan penegakan hak-hak perempuan dan minoritas
(Selandia Baru);
4) 5.99. Meneruskan upaya-upaya untuk meningkatkan perlindungan
terhadap perempuan dan anak-anak (Lebanon);
5) 5.101. Meneruskan penguatan langkah-langkah untuk memastikan
[pemenuhan] hak-hak perempuan dan mencapai kesetaraan gender
(Tunisia);
6) .102. Melanjutkan implementasi kebijakan pemetaan gender na-
sional untuk menilai perwakilan perempuan dalam posisi peng-
ambilan keputusan dan penanggungjawab (Aljazair);
Matriks Clustering Rekomendasi Isu Perempuan § 125
7) 5.103. Mempertahankan kerja baik dalam menegakkan hak-hak
perempuan diantara hak-hak kelompok rentan lainnya (Bang-
ladesh);
8) 5.106. Secara terus menerus menyebarluaskan hukum dan me-
nambah kebijakan yang memberikan perlindungan yang aman
kepada perempuan (Bahrain);
9) 5.107. Mengadopsi upaya-upaya konkret untuk melawan diskri-
minasi berbasis gender, yang menghalangi akses yang setara bagi
perempuan untuk mendapatkan keadilan (Chili);
10) [Link] upaya-upaya untuk mempromosikan hak-
hak perempuan dan anak perempuan dan melanjutkan upaya
untuk memerangi kekerasan dalam rumah tangga (Korea);
11) 5.113. Terus mendukung kegiatan yang berfokus pada tujuan me-
nguatkan hak-hak dan pemberian kesempatan kepada perempuan
dan anak korban kekerasan (Federasi Rusia)
12) 5.122. Terus memperkukuh partisipasi perempuan dalam ranah
publik (Republik Bolivia, Republik Venezuela);
13) 5.123. Meneruskan upaya-upaya pemberdayaan perempuan de-
ngan tujuan meningkatkan partisipasi yang berarti dalam bidang
sosial, ekonomi dan proses pengambilan keputusan politik;
14) 7.35. Terkait status institusi nasional untuk promosi dan per-
lindungan hak asasi manusia, memastikan Komnas Perempuan
[beroperasi] sesuai prinsip-prinsip Paris (Sierra Leone);
Cluster di bawah ini tidak dimasukkan dalam 62 cluster tentang
kekerasan terhadap perempuan, dan pemenuhan HAM perempuan,
tetapi masuk dalam cluster isu-isu penting yang diadvokasi oleh
Komnas Perempuan.
Kelompok Rentan Berbasis Keragaman Seksual
9 Rekomendasi
(7.25, 7.36, 7.41, 7.42, 7.45, 7.56, 7.59, 7.66, 7.71)
1) 7.26. Me-review dan membatalkan peraturan-peraturan daerah
yang mungkin akan membatasi hak-hak yang dijamin dalam
konstitusi, khususnya yang terkait dengan hak perempuan,
minoritas seksual dan pemeluk agama minoritas (Norwegia);
2) 7.36. Bekerja untuk menolak peraturan daerah provinsi atau ka-
bupaten/kota yang mendiskriminasikan orang berdasarkan orien-
tasi seksual atau identitas gender mereka (Austria);
126 § Lampiran
3) 7.41. Menjamin hak-hak kelompok minoritas, khususnya mino-
ritas agama dan lesbian, gay, biseksual dan transgender, melalui
tindakan hukum yang efektif untuk melawan hasutan kebencian
dan tindakan kekerasan, dan juga dengan merevisi legislasi yang
memiliki efek diskriminatif (Brazil);
4) 7.42. Meninjau dan mengubah legislasi nasional dalam rangka
menegakkan perlindungan terhadap diskriminasi, termasuk atas
dasar agama, orientasi seksual dan identitas gender, dan menge-
nalkan program pendidikan yang mencegah diskriminasi dan
stigmatisasi (Cekoslovakia);
5) 7.45. Mencabut atau merevisi legislasi, terutama yang terkait
dengan Qanun Aceh, yang mengkriminalisasi hubungan seksual
sesama jenis di antara orang dewasa yang dilakukan secara suka-
rela, dan juga legislasi yang diskriminatif atas dasar orientasi sek-
sual atau identitas gender (Islandia);
6) 7.56. Mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk me-
mastikan lingkungan yang aman dan memungkinkan bagi
para pembela HAM, termasuk mereka yang mewakili ko-
munitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan
komunitas adat (Norwegia);
7) 7.59. Mengintensifkan semua upaya untuk menghormati dan men-
junjung tinggi kebebasan berekspresi, berkumpul dan beragama
dan berkeyakinan, dan mencegah diskriminasi atas dasar apapun
termasuk orientasi seksual dan identitas gender (Australia);
8) 7.66 Segera mengambil tindakan untuk mencabut norma dan
peraturan yang mendiskriminasi perempuan dan LGBT, dan juga
untuk menyelidiki dan menghukum pelaku tindak diskriminasi
dan kekerasan terhadap mereka (Argentina);
9) 7.71. Mengakhiri kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan
dalam hukum dan dalam praktik, kekerasan dan diskriminasi
terhadap homoseksual, dan mengakhiri P2GP (FGM0 (Perancis);
Hukuman Mati
12 Rekomendasi
( 7.5, 7.51, 7.52, 7.53, 7.54, 7.55, 7.47,7.46, 7.47, 7.48, 7.49, 7.50)
1) 7.5. Melanjutkan proses ratifikasi instrumen internasional HAM,
khususnya Protokol Opsional Kedua Konvensi Hak Sipil dan
Politik, yang bertujuan menghapus hukuman mati dan sebagai
tahap pertama, menetapkan moratorium eksekusi (Rumania);
Matriks Clustering Rekomendasi Isu Perempuan § 127
2) 7.51. Menghapus hukuman mati, menerapkan moratorium hu-
kuman mati dan meratifikasi Protokol Opsional kedua Konvensi
Internasional Hak-hak Sipil dan Politik. (Slovakia);
3) 7.52. Mempertimbangkan untuk melakukan moratorium hu-
kuman mati dengan tujuan untuk menghapuskan hukuman
mati; Mempertimbangkan untuk melakukan moratorium de
jure hukuman mati dan meringankan hukuman yang sudah
ada; Mempertimbangkan agar kembali melakukan morato-
rium eksekusi/hukuman mati dan mengambil langkah-lang-
kah menuju penghapusan tuntutan mati;
4) 7.53. Menetapkan kembali secara resmi moratorium penerapan
hukuman mati (Montenegro #1); Menetapkan kembali mo-
ratorium hukuman mati dengan tujuan untuk menghapusnya
(Slovenia # 1); Menetapkan kembali moratorium eksekusi de-
ngan maksud untuk menghapuskan hukuman mati (Brasil #
1); Menetapkan kembali moratorium penerapan hukuman mati
dengan tujuan untuk menghapus hukuman mati (Meksiko # 2);
Segera menetapkan kembali moratorium eksekusi dengan tujuan
untuk menghapus hukuman mati (Swedia # 1);
5) 7.54. Moratorium eksekusi dengan tujuan untuk mengha-
puskan hukuman mati (Norwegia # 4); Segera melakukan
moratorium atas hukuman mati (Inggris Raya dan Irlandia
Utara # 1); Menetapkan moratorium resmi eksekusi, dengan
tujuan untuk menghapus hukuman mati (Swiss # 1; Panama
# 2;); Menetapkan moratorium eksekusi dengan maksud
untuk menghapus hukuman mati (Perancis # 1); Segera
mengambil tindakan menetapkan moratorium hukuman ma-
ti secara resmi atas terpidana hukuman mati (Argentina #
2); Menetapkan moratorium eksekusi sebagai langkah awal
menuju penghapusan hukuman mati (Belgia #1); Islandia #
1); Menetapkan moratorium terhadap penerapan hukuman
mati dengan maksud untuk menghapus hukuman tersebut
(Jerman # 4); Menetapkan moratorium eksekusi/ hukuman
mati sebagai langkah awal menuju penghapusan hukuman
mati, mengubah KUHP (Spanyol)
6) 7.55. Menetapkan moratorium eksekusi/ hukuman mati, de-
ngan maksud untuk meratifikasi Protokol Opsional Kedua Kon-
vensi Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan mem-
pertimbangkan untuk meratifikasi Protokol Opsional Konvensi
Internasional mengenai Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya,
128 § Lampiran
Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang prosedur
komunikasi/ pengaduan, Konvensi Pengungsi dan Protokol 1967,
serta Statuta Roma Pengadilan Pidana Internasional (Irlandia);
7) 7.4. Menandatangani dan meratifikasi Protokol Opsional Kedua
Konvensi Hak Sipil dan Politik, yang memiliki sasaran untuk
menghapus hukuman mati (Republik Moldova ); Meratifikasi
Protokol Opsional Kedua Konvensi Hak Sipil dan Politik, yang
bertujuan menghapus hukuman mati (Hungaria);
8) 7.46. Menghapus hukuman mati (Angola); Menghapus hukuman
mati untuk semua kejahatan dan untuk semua situasi (Portugal);
9) 7.47. Menghapus hukuman mati bagi penyelundup narkoba
(Spanyol #4) Mengakhiri penjatuhan hukuman mati secara terus
menerus yang sebagian besar ditujukan untuk kejahatan narkoba
(Liechtenstein)
10) 7.48. Menghapuskan hukuman mati dan mempertimbangkan un-
tuk mengubah semua putusan pidana mati yang dikenakan pada
orang yang dihukum karena kejahatan Narkoba (Chili);
11) [Link] pengamanan penerapan hukuman mati, ter-
masuk representasi hukum yang memadai dan [dilakukan] se-
jak awal untuk kasus yang dapat dijatuhi hukuman mati, tidak
menerapkan hukuman mati bagi penyandang disabilitas mental,
merevisi KUHP agar sesuai dengan kewajiban dan hukum inter-
nasional HAM, dan menerapkan kembali moratorium penerapan
hukuman mati (Australia);
12) 7.50. Selama penghapusan hukuman mati masih ditunda, mem-
bentuk badan independen dan tidak memihak untuk melakukan
peninjauan terhadap semua kasus terpidana mati, dengan mak-
sud untuk mengubah putusan hukuman mati atau setidaknya me-
mastikan pengadilan yang adil yang sepenuhnya sesuai dengan
standar internasional (Belgia)
Pembela HAM
5 Rekomendasi
(5.64, 5.65, 5.66, 5.24, 7.56)
1) 5.64. Melanjutkan upaya-upaya penguatan di tingkat nasional dan
regional untuk mempromosikan dan melindungi pembela HAM
(Ekuador)
Matriks Clustering Rekomendasi Isu Perempuan § 129
2) 5.65. Memfasilitasi pekerjaan para pembela HAM dan jurnalis di
seluruh wilayah negara (Perancis);
3) 5.66. Meningkatkan upaya-upaya untuk memastikan perlindungan
kepada wartawan dan pembela HAM (Irak);
4) 5.24. Mengadopsi aturan hukum yang mencegah dan memberantas
intimidasi, represi atau kekerasan terhadap pembela HAM, war-
tawan dan organisasi masyarakat sipil (Meksiko);
5) 7.56. Mengambil langkah-langkah lanjutan untuk memasti-
kan lingkungan yang aman dan memungkinkan bagi para
pembela HAM, termasuk mereka yang mewakili komunitas
lesbian, gay, biseksual dan transgender dan komunitas adat
(Norwegia);
Pekerja Migran
4 Rekomendasi
(5.145, 5.146, 6.1, 5.12)
1) 5.145. Melanjutkan upaya-upaya untuk melindungi pekerja mi-
gran Indonesia yang bekerja di luar negeri dan dalam negeri
(Peru);
2) 5.146. Melanjutkan upaya-upaya yang sudah dilakukan untuk
melindungi para pekerja migran dan memberikan pelatihan untuk
peningkatan kapasitas mereka (Vietnam) ;
3) 6.1. Meratifikasi Konvensi Internasional tentang Perlindungan
Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (Honduras);
4) 5.12. Melanjutkan untuk menguatkan kepemimpinan dalam me-
lanjutkan mekanisme regional yang inklusif untuk melindungi
pekerja migran melalui instrumen hukum (Ekuador);
130 § Lampiran
Siaran Pers Komnas Perempuan
Menyambut Universal Periodic Review (UPR) Siklus Ke-3
Dewan HAM PBB Atas Kondisi HAM di Indonesia
Jakarta, 2 Mei 2017
Universal Periodic Review (UPR) Dewan HAM PBB adalah
mekanisme periodik silang review berbagai negara di dunia atas
kondisi HAM sebuah negara yang dilakukan secara bergantian. Satu
negara secara periodik akan dapat giliran untuk dilihat kembali setiap
lima tahun sekali. Indonesia sudah tiga kali mendapat giliran yakni
siklus ke-1 pada tahun 2008, siklus ke-2 pada tahun 2012 dan siklus
ke-3 akan jatuh pada tanggal 3 Mei 2017 di Palais de Nation PBB
di Geneva. Tahap-tahap yang dilakukan dalam proses UPR, berbagai
pihak diberi ruang untuk menyampaikan laporan tertulis, baik CSO,
Lembaga HAM Nasional dan Pemerintah. Bahan-bahan tersebut
akan dijadikan dasar berbagai negara anggota PBB untuk review dan
menyampaikan rekomendasi pada Indonesia. Proses adopsi tahap
1 akan dilakukan pada tgl 5 Mei 2017 dan adopsi final pada bulan
September 2017, di mana Lembaga HAM akan dapat kesempatan
menyampaikan statemen lisan atas proses adopsi tersebut.
UPR bukan pengadilan HAM internasional pada suatu negara,
tetapi sebagai mekanisme untuk review kondisi HAM suatu negara.
UPR harus dilihat sebagai pertanggungjawaban keberadaban suatu
negara atas hak asasi dan bentuk penghormatan sebuah bangsa pada
bangsa lain, melalui rekomendasi global kepada negara yang sedang
dilihat kembali. Indonesia akan menjadi sorotan dunia pada UPR
Mei 2017 ini, setidaknya 93 negara akan menelisik 150 rekomendasi
yang didesakkan kepada Indonesia pada UPR siklus ke-2 tahun 2012
lalu, dengan isu-isu kunci antara lain; Ratifikasi sejumlah konvensi,
penghapusan kebijakan diskriminatif, penghapusan segala bentuk
kekerasan terhadap perempuan dan praktek-praktek yang me-
nyakitkan pada perempuan, perlindungan pada kelompok rentan, mo-
ratorium hukuman mati, dan lainnya. Sejumlah rekomendasi sudah
dijalankan Indonesia yang juga dilaporkan Komnas Perempuan,
Universal Periodic Review Siklus Ke-3 Dewan HAM PBB § 131
namun juga masih ada hutang panjang yang belum ditunaikan, seperti
ratifikasi Konvensi ILO 189, penghapusan kebijakan diskriminatif dan
hukuman mati. Selain itu juga, belum ada titik terang penyelesaian pe-
langgaran HAM masa lalu, serta memburuknya intoleransi beragama
dan berkeyakinan.
Komnas Perempuan sebagai salah satu mekanisme lembaga HAM
nasional juga menyerahkan laporan dan turut mengikuti proses UPR
ini, baik pada siklus ke-2 tahun 2012 maupun siklus ke-3 pada tahun
2017 ini, dalam kapasitas sebagai lembaga HAM dan bagian dari
delegasi Komnas HAM.
Adapun isu-isu yang diangkat Komnas Perempuan dalam Laporan
ke sidang UPR ini adalah Kekerasan terhadap perempuan utamanya
kekerasan seksual dan percepatan pengesahan RUU penghapusan
kekerasan seksual, penghentian praktek yang menyakitkan perempuan
(kawin anak, tes keperawanan, pelukaan genital perempuan, dan lain-
nya), penghapusan hukuman mati dan kerentanan pekerja migran
dalam sindikasi narkoba, hak anak korban perkosaan saat menjadi
buruh migran diluar negeri, pelanggaran HAM masa lalu dan peme-
nuhan hak korban atas kebenaran, keadilan, pemulihan dan jaminan
atas ketidakberulangan, utamanya pada konteks konflik yang pernah
terjadi di Indonesia dari Tragedi 65, Timor Leste, Aceh, Papua, Mei
98, dan sejumlah konflik komunal atas nama agama dan lainnya.
Komnas Perempuan juga masih menyoroti persoalan kebijakan dis-
kriminatif atas nama agama dan moralitas yang berpotensi meng-
kriminalkan, membatasi ekspresi dan mobilitas perempuan serta
mendiskriminasi hak-hak kelompok minoritas lainnya, seperti pe-
rempuan penghayat kepercayaan/penganut agama leluhur dan pe-
rempuan dari kelompok minoritas seksual. Setidaknya terdapat 421
kebijakan diskriminatif yang didokumentasikan oleh Komnas Pe-
rempuan. Komnas Perempuan juga melaporkan kondisi perempuan
dalam konflik exploitasi sumberdaya alam (termasuk isu Kendeng)
dan kerentanan perempuan pembela HAM. Komnas Perempuan juga
mendorong peninjauan kembali pemberlakuan bentuk hukuman yang
tidak manusiawi (termasuk hukuman kebiri, hukum cambuk, hukuman
mati dan lainnya) dan pentingnya Mekanisme Pencegahan Nasional
(MPN) atas tindak kekerasan di tahanan dan serupa tahanan. Juga isu-
isu lain, termasuk penguatan kelembagaan Komnas Perempuan se-
bagai salah satu mekanisme lembaga HAM nasional baik aspek legal
maupun dukungan kerja-kerja strategis.
132 § Lampiran
Terhadap UPR siklus ke-3 ini Komnas Perempuan menyatakan:
1. Delegasi Pemerintah RI harus terbuka menyampaikan situasi-
situasi hak asasi manusia di Indonesia, terutama hak asasi
perempuan sebagai penghormatan pada hak kebenaran para
korban;
2. Delegasi Pemerintah RI perlu mengadopsi sebanyak mungkin
rekomendasi yang disampaikan berbagai negara anggota PBB
terhadap Indonesia, sebagai komitmen untuk terus meningkatkan
perbaikan situasi HAM di Indonesia;
3. Berbagai elemen negara dan masyarakat Indonesia untuk memantau
proses UPR dan turut mengawal hasilnya bersama-sama, dengan
penanggungjawab utamanya adalah negara. Komitmen di UPR ini
harus jadi komitmen bangsa dan janji Indonesia pada dunia.
Kontak Narasumber:
• Azriana, Ketua (di Indonesia, 0811672441)
• Yuniyanti Chuzaifah , Wakil ketua (di Geneva, via WA
+6281311130330)
• Riri Khariroh, Komisioner (di Geneva, via WA +6281284659570)
• Adriana Veny, Komisioner (di Indonesia, 08561090619)
Universal Periodic Review Siklus Ke-3 Dewan HAM PBB § 133
Siaran Pers Komnas Perempuan
Atas Proses UPR (Universal Periodic Review) Dewan HAM
PBB tentang Kondisi HAM di Indonesia
Geneva, 3 Mei 2017
Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas
Perempuan) menyampaikan apresiasi atas keseriusan pemerintah
Indonesia menyiapkan dan mengikuti proses Universal Periodic Re-
view siklus ke-3 di PBB. Namun kami menilai bahwa negara cen-
derung mengungkapkan kemajuan, tetapi minim ruang mengungkap
persoalan krusial. UPR adalah mekanisme silang review antar negara
anggota PBB yang diselenggarakan oleh Dewan HAM, dilakukan
secara periodik lima tahun sekali. Indonesia telah di-review selama
tiga kali yaitu tahun 2008, 2012 dan 3 Mei 2017 di gedung Palais de
Nations PBB Jenewa. Komnas Perempuan mengirim 2 komisioner
untuk mengikuti proses UPR dalam delegasi Komnas HAM sebagai
NHRI yang terakreditasi, untuk berbagi ruang bagi NHRI lain dalam
mengakses mekanisme HAM internasional dan menjalankan man-
datnya. Kehadiran lembaga HAM dalam UPR untuk mengawal la-
poran tertulis tentang kondisi HAM di Indonesia yang sudah dise-
rahkan pada bulan September 2016, agar laporan tersebut bisa jadi
dasar bagi berbagai negara untuk menyampaikan rekomendasi pada
Indonesia, bersanding dengan laporan negara dan laporan CSO na-
sional maupun internasional.
Indonesia baru saja selesai di-review, hasil Komnas Perempuan
mengikuti proses langsung UPR di gedung Palais de Nation PBB
di Geneva, bahwa isu- isu yang menjadi sorotan dunia dapat dika-
tegorikan menjadi 4 cluster besar yaitu: 1 Hukuman mati; 2. Isu into-
leransi agama dan diskriminasi terhadap minoritas; 3. Isu perempuan;
4. Isu- isu kelompok rentan.
Setidaknya terdapat 55 negara menggarisbawahi isu perempuan
dalam komentar maupun rekomendasinya. Adapun isu-isu perempuan
yang diberi catatan oleh berbagai negara dalam UPR dan harus jadi
perhatian Indonesia adalah: 1. Kekerasan terhadap perempuan terma-
suk kekerasan seksual yang harus dicegah antara lain melalui legislasi;
134 § Lampiran
2. Praktik-praktik yang menyakitkan perempuan seperti perkawinan
anak, sirkumsisi perempuan yang harus dicegah dan dihapuskan;
3. Isu migrasi dan women’s trafficking yang harus jadi perhatian
serius negara; 4. Kerentanan perempuan akan pelecehan seksual
di tempat kerja; 5. Kebijakan diskriminatif yang membatasi hak
perempuan dan minoritas, termasuk minoritas agama, etnis, seksual,
dan lainnya; 6. Penghukuman tidak manusiawi termasuk pentingnya
penghapusan hukuman mati dan hukuman kebiri; 7. Jaminan akan
kebebasan beragama dan berkeyakinan utamanya untuk kelompok
minoritas dan mencegah tindakan intoleransi termasuk menghukum
para pelaku; 8. Pentingnya pemerintah Indonesia menghentikan
impunitas pelanggaran HAM masa lalu, termasuk memberi perhatian
serius pada untuk pemenuhan dan penegakan hak asasi di Papua;
9. Ratifikasi berbagai instrumen HAM internasional, di antaranya
Op-CAT, Statuta Roma, Konvensi tentang Penghilangan paksa, Op-
CEDAW, ILO 189 tentang kerja layak PRT, dan lainnya; 10. Perlunya
penguatan institusi ham perempuan yang secara eksplisit menyebut
penguatan Komnas Perempuan.
Berbagai isu yang diangkat oleh Komnas Perempuan dalam la-
poran independen UPR hampir seluruhnya masuk ke dalam berbagai
rekomendasi yang disampaikan oleh berbagai negara.
Terhadap proses review UPR siklus ke-3, Komnas Perempuan me-
nyatakan:
1. Mendorong Indonesia untuk mengadopsi sebanyak mungkin
rekomendasi berbagai negara sebagai bentuk komitmen pada pe-
majuan hak asasi dan penghormatan pada bangsa lain;
2. Mengawal dengan serius rekomendasi-rekomendasi tersebut, agar
proses UPR bukan hanya jadi ruang seremonial, tetapi betul-betul
jadi ruang pengharapan para korban atas hak kebenaran, keadilan
dan pemulihan;
3. Mengajak semua pihak untuk turut mengawal implementasi re-
komendasi dengan tanggung jawab utama pada negara;
4. Apresiasi pada sejumlah negara anggota PBB yang sudah membe-
rikan perhatian pada isu HAM perempuan dan menjadikan laporan
Komnas HAM dan Komnas Perempuan sebagai salah satu acuan
rekomendasi. Karena laporan tersebut adalah suara para korban
yang menanti penyelesaian.
Kontak Narasumber:
• Yuniyanti Chuzaifah, Wakil Ketua (di Jenewa, Via WA +6281311130330)
• Riri Khariroh, Komisioner (di Jenewa, via WA +6281284659570)
Proses Universal Periodic Review Dewan HAM PBB § 135
Siaran Pers Komnas Perempuan
Merespon Adopsi Pemerintah Indonesia Atas Rekomendasi
Sidang Universal Periodic Review (UPR) Dewan HAM PBB
Tentang Kondisi HAM di Indonesia:
“Isu Perempuan Jadi Rekomendasi Tertinggi UPR Yang
Harus Jadi Perhatian Indonesia”
Jenewa, 6 Mei 2017
Komnas Perempuan yang menghadiri langsung Universal Periodic
Review (UPR) di Dewan HAM PBB Jenewa, mencatat setidaknya ada
64 rekomendasi yang menyoroti isu-isu perempuan. Rekomendasi
tersebut disampaikan oleh setidaknya 55 negara dari 101 negara
yang menyampaikan review terhadap Indonesia. Dari sisiran cepat
Komnas Perempuan atas dokumen yang baru diterbitkan Troika saat
proses adopsi rekomendasi, isu-isu perempuan menempati peringkat
tertinggi dalam UPR yang harus menjadi prioritas Indonesia ke depan.
Kondisi HAM di Indonesia baru saja menjadi sorotan dunia, pada
tanggal 3 Mei 2017, setidaknya 101 negara dari 109 yang mendaftar
telah menyampaikan review dan rekomendasi pada Indonesia dan 11
negara sudah memberikan pertanyaan awal pada Indonesia. Indonesia
di-review beriringan dengan negara-negara antara lain Bahrain, Equa-
dor, Tunisia, India, Inggris, dan Maroko.
Pada tgl 5 Mei 2017, pukul 16.00 waktu Geneva (21.00 WIB) pro-
ses adopsi Indonesia atas berbagai rekomendasi dari berbagai negara
dilakukan.
Indonesia mendapatkan 225 rekomendasi, jumlah yang diadopsi
sementara 150 diterima (70 persen), sisanya 75 rekomendasi akan
dibawa kembali ke Indonesia dan akan disampaikan hasilnya ke PBB
pada bulan September 2017. Alasan Delegasi RI yang disampaikan
Duta Besar perwakilan tetap RI di Jenewa, Hasan Kleib, saat sidang
adopsi, bahwa 75 rekomendasi tersebut tidak langsung diadopsi,
karena beberapa hal, yaitu membutuhkan konsultasi nasional dengan
136 § Lampiran
para stakeholder di Indonesia, sejumlah rekomendasi dipandang sulit
untuk diimplementasikan, sejumlah rekomendasi bukan prioritas
Indonesia, dan kurangnya pemahaman beberapa negara pemberi re-
komendasi tentang situasi Indonesia.
Adapun isu-isu yang dibawa pulang antara lain yang terkait de-
ngan isu hukuman mati, isu diskriminasi pada orientasi seksual, juga
ratifikasi sejumlah konvensi karena membutuhkan pertimbangan
dengan parlemen dan kementrian lembaga terkait, juga menghadirkan
pelapor khusus PBB ke Indonesia.
Adapun isu-isu perempuan yang menjadi rekomendasi, berdasarkan
dokumen yang sudah disusun oleh Troika Indonesia (Fasilitator) yaitu
Equador, Belgium dan Bangladesh, terdapat 64 rekomendasi yang te-
lah disisir Komnas Perempuan mencakup:
1. Ratifikasi Konvensi ILO 189 tentang Kerja Layak PRT dan Op-
tional Protocol–CEDAW dimana individu yang sudah tertutup
akses keadilan di Indonesia dapat melapor ke PBB;
2. Menghapus kekerasan seksual dengan memperkuat legislasi dan
menghukum seluruh tindak kejahatan seksual pada perempuan
dan anak perempuan. Indonesia harus meneruskan upaya meng-
hentikan impunitas, mengurangi kekerasan terhadap perempuan
khususnya kekerasan seksual, pelecehan seksual termasuk di
tempat kerja;
3. Menghapus praktik menyakitkan seperti sirkumsisi perempuan,
pernikahan anak dan pemaksaan perkawinan kepada anak, serta
menaikan usia pernikahan menjadi 18 tahun;
4. Memastikan implementasi UU PKDRT untuk melindungi
perempuan dan kelompok rentan, pemberdayaan perempuan
korban dan memutus impunitas pelaku kekerasan terhadap
perempuan;
5. Perlindungan pekerja migran dengan instrumen hukum yang
mengikat, melindungi pekerja migran dari tindak trafiking,
mengefektifkan Satgas anti trafiking sampai ke berbagai wilayah
di indonesia;
6. Hak atas kesehatan reproduksi dan seksual terdiri melalui akses
pendidikan reproduksi dan seksual, menurunkan angka kematian
ibu dan bayi, akses layanan kontrasepsi bagi yang menikah mau-
pun yang tidak menikah, kehamilan usia anak, memerangi HIV-
AIDS, meningkatkan kesehatan ibu dan anak;
Adopsi Permerintah Indonesia Atas Rekomendasi Sidang UPR § 137
7. Perlindungan perempuan melalui instrumen hukum dan perun-
dang-undangan sesuai dengan konvensi CEDAW dan membahas
RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender;
8. Penghapusan kebijakan diskriminatif yang menyasar perempuan
dan kelompok minoritas dengan cara me-review dan membatalkan
kebijakan yang menghalangi hak-hak yang dijamin oleh kons-
titusi baik hak perempuan, hak kelompok minoritas agama/ke-
percayaan, etnis, dan minoritas seksual;
9. Pendidikan gender dan HAM perempuan bagi polisi dan aparat
penegak hukum;
10. Meningkatkan representasi perempuan di politik dan pengambil
keputusan di pemerintahan;
11. Memperkuat posisi Komnas Perempuan sebagai lembaga HAM
Nasional.
Adapun isu-isu lain yang banyak direkomendasikan adalah
soal penghapusan hukuman mati, menyelesaikan kasus-kasus in-
toleransi agama, pencegahan penyiksaan di tahanan atau serupa
tahanan, menghentikan impunitas, menyelidiki secara mendalam dan
transparan atas pelanggaran hak asasi masa lalu, menuntaskan pe-
langgaran hak asasi manusia di Papua, memastikan langkah-langkah
untuk perlindungan para pejuang hak asasi manusia termasuk
pejuang hak- hak masyarakat adat dan ratifikasi OPCAT (pencegahan
penyiksaan) dan Konvensi Penghilangan Paksa.
Untuk itu Sikap Komnas Perempuan atas adopsi sementara peme-
rintah dalam sidang UPR adalah sebagai berikut:
• Mengapresiasi isu perempuan menjadi isu tertinggi dengan seti-
daknya 64 rekomendasi dari 55 negara yang mengangkat isu HAM
perempuan terutama isu kekerasan terhadap perempuan. Juga
mengapresiasi berbagai negara yang sudah menggunakan laporan
Komnas Perempuan sebagai penghantar suara korban untuk dibu-
kakan akses keadilan melalui mekanisme HAM internasional;
• Mengapresiasi delegasi RI, yang sudah mengadopsi 150 rekomen-
dasi dari 225 rekomendasi berbagai negara anggota PBB, terutama
yang berhubungan dengan isu-isu perempuan;
• Mendorong pemerintah dan segenap penyelenggara negara untuk
tidak ragu mengadopsi 75 rekomendasi yang dibawa pulang ke
Indonesia dan akan disampaikan kembali adopsinya pada bu-
lan September 2017, terutama untuk menghentikan hukuman
138 § Lampiran
mati, ratifikasi konvensi internasional yang penting untuk ke-
majuan Indonesia, menghentikan diskriminasi dan kekerasan
pada kelompok dengan preferensi seksual yang berbeda, juga
mengundang pelapor khusus PBB ke Indonesia;
• Apresiasi pada Komnas HAM dalam mentradisikan berbagi ruang
dan bersinergi dengan Komnas Perempuan untuk mengintervensi
di PBB. Tradisi NHRI Indonesia ini penting jadi pembelajaran
baik untuk dibagikan ke GANHRI (Global Alliance of National
Human Right Institutions) agar akses lembaga-lembaga HAM de-
ngan mandat dan isu spesifik juga dapat berperan optimal pada
mekanisme HAM internasional.
Kontak Komisioner Komnas Perempuan yang mengikuti UPR di
Jenewa:
• Yuniyanti Chuzaifah (Wakil Ketua), kontak via WA: +6281311130330
• Riri Khariroh (Komisioner), kontak via WA: +628128465957
Adopsi Permerintah Indonesia Atas Rekomendasi Sidang UPR § 139
Siaran Pers Komnas Perempuan
Merespon Outcome/Keputusan Akhir Pemerintah
Indonesia Atas Rekomendasi Sidang Universal Periodic
Review (UPR) Dewan HAM PBB Circle III 2017
Jakarta, 02 Oktober 2017
Pada hari Kamis tanggal 21 September 2017 Pemerintah Indonesia
telah menyampaikan hasil akhir/outcome adopsi UPR (Universal
Periodic Review) di PBB atas 75 sisa rekomendasi dari 225 total
rekomendasi UPR pada Indonesia, dimana 150 sudah langsung
diadopsi saat sidang UPR bulan Mei 2017. Dari 75 PR rekomendasi
yang dibawa pulang pemerintah RI tersebut, hanya 17 yang diadopsi.
Artinya terdapat 58 rekomendasi dalam status noted (dicatat) atau
bahasa tegasnya tidak diterima.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas
Perempuan) mengapresiasi pemerintah Indonesia yang telah
mengadopsi 167 rekomendasi dari 225 rekomendasi yang diterima di
dalam sidang UPR. Komnas Perempuan hadir langsung dalam sidang
UPR circle III di Jenewa pada bulan Mei 2007, mencatat bahwa dari
150 rekomendasi yang diadopsi langsung oleh pemerintah Indonesia,
isu perempuan adalah rekomendasi yang paling banyak diadopsi,
setidaknya dalam catatan Komnas Perempuan terdapat 64 isu-isu
HAM Perempuan yang diadopsi dan menjadi komitmen Indonesia,
yaitu Ratifikasi Konvensi ILO 189 tentang kerja layak PRT; peng-
hapusan kekerasan terhadap perempuan terutama kekerasan seksual
dengan legislasi; penghapusan kekerasan di tempat kerja; menghapus
praktik menyakitkan/membahayakan seperti perkawinan anak,
FGM/C (Female Genital Mutilation/Circumcision); perlindungan mi-
gran dengan legislasi; penghapusan trafficking dan efektivitas Satgas;
penghapusan kebijakan diskriminatif, dan lain-lain.
Catatan positif Komnas Perempuan atas tambahan 17 rekomendasi
yang diadopsi yang berhubungan dengan isu HAM Perempuan:
140 § Lampiran
1. Pemerintah berkomitmen untuk meng-counter diskriminasi dan
intoleransi berbasis agama, karena dalam catatan Komnas Pe-
rempuan, mengundang dan berdampak kekerasan terhadap
Perempuan;
2. Mempertimbangkan ratifikasi terhadap sejumlah instrumen
HAM internasional yaitu Statuta Roma untuk Pengadilan HAM
internasional, optional protocol untuk konvensi anti penyiksaan,
konvensi hak-hak SIPOL dan konvensi hak ekonomi, social dan
budaya. Semoga komitmen mempertimbangkan ini diiringi lang-
kah serius untuk merealisasikan;
3. Pemerintah berkomitmen untuk melindungi pembela HAM dan
memastikan hak konstitusional pada kelompok rentan diskri-
minasi dan kekerasan termasuk berbasis orientasi seksual;
4. Komitmen menghapuskan impunitas dan menyelesaikan berbagai
kasus pelanggaran HAM di Papua;
Meskipun demikian Komnas Perempuan menyesalkan komitmen
Pemerintah Indonesia atas sejumlah hal yang tidak tegas dan me-
letakkan rekomendasi dalam status noted atau ditolak, pada sejumlah
rekomendasi berikut:
1. Tidak mengadopsi sejumlah rekomendasi yang bahkan sudah
direkomendasikan oleh treaty body lainnya seperti Komite CE-
DAW terutama untuk meratifikasi Optional Protocol CEDAW
yang bahkan pernah masuk dalam RAN HAM tahun 2010–2014;
2. Ragu-ragu untuk melakukan tindakan tegas termasuk tidak meng-
adopsi rekomendasi untuk mengkriminalisasi praktek FGM/C,
menaikkan usia pernikahan menjadi 18, memberikan full akses
layanan kespro bagi setiap perempuan tanpa memandang status
pernikahan;
3. Tidak berani berkomitmen untuk mengadopsi rekomendasi yang
tegas mencabut berbagai peraturan daerah yang diskriminatif
terhadap perempuan, walaupun rekomendasi yang secara garis
besar berkomitmen untuk menghapuskan diskriminasi dalam
bentuk apapun. Hal ini merupakan langkah tak tegas, mengingat
di tingkat nasional sudah banyak upaya yang telah dilakukan
untuk penghapusan kebijakan diskriminatif;
4. Masih membuka ruang hukuman mati walau membuka opsi mo-
ratorium untuk memastikan fair trial sesuai dengan pasal 14 Ko-
venan Hak Sipil dan Politik untuk terpidana mati. Temuan Kom-
nas Perempuan dari hasil pantauan dampak hukuman mati bagi
Keputusan Akhir Pemerintah Indonesia Atas Rekomendasi Sidang UPR § 141
terpidana mati dan keluarganya, bahwa hukuman mati dan masa
penantian melalui penundaan hukuman mati adalah merupakan
bentuk penyiksaan paling sempurna bagi para terpidana mati
dan keluarganya, karena keluarganya mengalami pencerabutan
daya hidup dan daya bertahan selama penantian. Seharusnya
Pemerintah Indonesia mengambil langkah tertinggi melalui ko-
mitmen UPR untuk reformasi penghukuman yang lebih manusiawi
dan sebagai komitmen moral untuk dapat membebaskan buruh
migran Indonesia yang terancam hukuman mati di luar negeri;
Oleh karena itu Komnas Perempuan menyampaikan sejumlah re-
komendasi:
1. Pemerintah Indonesia segera mengambil langkah konkrit dan
terukur untuk menindaklanjuti 167 rekomendasi yang sudah di-
adopsi dan mempersiapkan safe guard atas 58 rekomendasi yang
belum diadopsi di dalam RAN HAM (Rencana Aksi Nasional
HAM);
2. Pemerintah Indonesia memastikan sosialisasi hasil-hasil UPR
kepada seluruh multi stakeholder terkait, sehingga pengetahuan
tentang hasil UPR dan mandatnya tidak hanya berhenti di Ek-
sekutif atau Kementerian tertentu saja tetapi juga mencakup Le-
gislatif dan Yudikatif;
3. Pemerintah Indonesia segera mengambil langkah konkret untuk
me-review pelaksanaan hukuman mati di Indonesia dan menyusun
rencana untuk penghapusannya;
4. Pemerintah Indonesia segera melakukan langkah konkret untuk
melanjutkan proses ratifikasi optional protocol CEDAW sebagai
upaya membuka akses keadilan bagi perempuan yang mengalami
jalan buntu penyelesaian di negaranya;
5. Pemerintah Indonesia segera meratifikasi optional protocol dari
Konvensi Anti Penyiksaan, karena mekanisme NPM (National
Prevention Mechanism) untuk memantau rumah tahanan saat ini
juga sudah terbentuk, sehingga keberadaanya memperkuat upaya
mencegah penyiksaan dan membangun sistem penghukuman
yang sesuai prinsip HAM;
6. Pemerintah Indonesia mengambil langkah konkret mencabut
kebijakan diskriminatif yang menghambat pemajuan HAM Pe-
rempuan dan kelompok-kelompok minoritas, termasuk minoritas
agama;
142 § Lampiran
7. Pemerintah Indonesia harus mencari cara untuk pencegahan
maupun penanganan dengan cara yang lebih sistemik atas isu-
isu yang belum diadopsi dan secara tegas membuat aturan untuk
melarang praktek FGM/C, dan persoalan diskriminasi terhadap
minoritas seksual;
8. Pemerintah Indonesia melakukan review secara regular terkait
implementasi rekomendasi-rekomendasi yang diterima.
Komnas Perempuan menyerukan kepada pemerintah Indonesia
untuk membangun peradaban berbasis HAM, khususnya HAM Pe-
rempuan dalam rangka menghapuskan segala bentuk kekerasan ter-
hadap perempuan.
Narasumber Komnas Perempuan:
• Adriana Venny Aryani, Komisioner (08561090619)
• Khariroh Ali, Komisioner (08128465957)
• Yuniyanti Chuzaifah, Komisioner (081311130330)
Keputusan Akhir Pemerintah Indonesia Atas Rekomendasi Sidang UPR § 143
23 Oktober 2017
Kepada Yth:
Ibu Retno L.P. Marsudi
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia
Setelah mengikuti siklus ketiga Tinjauan Periodik Univer-
sal (Universal Periodic Review - UPR) Indonesia, saya menyambut
baik keterlibatan konstruktif anda dan pemerintah dalam sesi ke-27
(dua puluh tujuh) kelompok kerja UPR pada awal bulan Mei 2017.
Seiring dengan telah diadopsinya hasil akhir laporan mengenai
tinjauan Indonesia oleh Dewan Hak Asasi Manusia di sesi ke-36 (tiga
puluh enam), saya menulis surat ini untuk menindaklanjuti sejumlah
hal yang diangkat dalam dua laporan yang disiapkan oleh kantor
saya untuk meninjau Indonesia yaitu kompilasi informasi PBB dan
ringkasan laporan yang diserahkan oleh para pemangku kepentingan.
Saya anggap ini memerlukan perhatian khusus untuk empat setengah
tahun yang akan datang sampai siklus UPR berikutnya. Dalam
mengidentifikasi isu isu ini, saya juga sudah mempertimbangkan re-
komendasi dan atau pernyataan disampaikan oleh 101 negara, paparan
dan tanggapan Indonesia, serta tindakan yang diambil oleh Indonesia
untuk mengimplementasikan 150 rekomendasi yang diterima selama
siklus kedua UPR. Rekomendasi yang diterima mencakup beragam
isu, sebagaimana tercantum dalam lampiran surat ini.
Saya diyakinkan oleh komitmen Indonesia untuk memperkuat
independensi dan efektifitas Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia
(LNHAM) dengan melanjutkan pembahasan revisi terhadap UU.
No 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia. Saya juga menyambut baik
adopsi Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) dan
mendorong Indonesia untuk memperkuat rencana tersebut dengan
mengintegrasikan hal-hal yang dimuat di dalam lampiran surat ini untuk
mencapai hasil konkret dan memfasilitasi persiapan Indonesia untuk
siklus UPR keempat. Upaya-upaya tersebut seharusnya melibatkan
konsultasi dengan semua pemangku kepentingan, terutama organisasi
masyarakat sipil, dan sesuai kebutuhan, dengan dukungan organisasi
internasional, termasuk Kantor Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia
(OHCHR) dan Badan Perserikatan Bangsa Bangsa di bawah kepe-
mimpinan Koordinator Perwakilan PBB (UN Resident Coordinator).
Saya juga mendorong Indonesia untuk memperkuat mekanisme
nasional untuk tindak lanjut dan pelaporan yang komprehensif ke-
pada mekanisme hak asasi manusia internasional dan regional,
144 § Lampiran
serta pemenuhan kewajiban negara peserta perjanjian (treaty oblig-
ation). Saya mendorong Indonesia untuk menggunakan panduan
komprehensif mengenai topik ini yang diluarkan oleh Kantor saya pada
tahun 2016 dan bisa diakses di: [Link]
Publications/HR_PUB_16_1_NMRF_PracticalGuide.pdf
Bersama ini saya memberitahukan bahwa saya akan membagikan
saran saya kepada seluruh negara anggota PBB saat negara-ne-
gara tersebut melalui siklus ketiga untuk membantu mereka meng-
implementasikan rekomendasi-rekomendasi UPR secepat mungkin,
segera setelah peninjauan mereka selesai dilakukan. Tindakan pen-
ting yang dapat memberi kontribusi positif terkait aksi tindak lanjut
adalah pelaporan mid term yang dilakukan secara suka rela. Saya de-
ngan serius mendorong seluruh negara anggota untuk menyerahkan
laporan tengah tahun (mid term) secara sukarela, dua tahun setelah
diadopsinya laporan hasil. Berkaitan dengan ini, saya mendorong
Indonesia untuk menyerahkan laporan mid term untuk siklus ketiga
sebelum bulan September 2019.
Sebagaimana disampaikan oleh Sekretaris Jendral dalam laporan
tahun 2017 mengenai kerja-kerja organisasinya (A/72/[Link] 98):
“Proses tinjauan periodik universal Dewan Hak Asasi Manusia sedang
memasuki siklus baru, semua negara anggota dijadwalkan untuk
tinjauan putaran ketiga. Kami akan bekerja untuk memperkuat relevansi,
akurasi, dan dampak rekomendasi-rekomendasi Dewan, termasuk de-
ngan memberikan dukungan yang lebih baik untuk negara anggota
dalam proses implementasi, kolaborasi lebih kuat dengan PBB dan
pembentukan mekanisme nasional untuk pelaporan hak asasi manusia,
serta tindak lanjut untuk mengabungkan tinjauan periodik universal
dengan impementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s)”.
Saya menunggu kesempatan berdiskusi dengan Anda mengenai
cara-cara yang mungkin dapat dilakukan oleh OHCHR dalam mem-
bantu Indonesia untuk mengambil langkah-langkah terkait isu- isu yang
sudah saya identifikasi.
Mohon diterima dengan baik bahwa penyampaian hal-hal terkait
sudah kami pikirkan dengan sangat serius.
Zeid Ra’ad Al Hussein
Komisioner Tinggi HAM PBB
Cc:
Bapak Yasonna H. Laoly (Menteri Hukum dan HAM)
Surat Komisi Tinggi HAM PBB untuk Kementerian Luar Negeri § 145
Lampiran
Cakupan kewajiban internasional dan kerjasama dengan meka-
nisme dan badan hak asasi manusia internasional:
• Meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional, yang In-
donesia belum menjadi pesertanya, termasuk Protokol Opsional
ke-2 Konvensi Internasional Hak-hak Sipil dan Politik, Protokol
Opsional Konvensi Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial dan
Budaya, Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan dan
Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, tidak Manusia dan
Merendahkan Martabat Manusia, Konvensi Internasional tentang
Perlindungan Terhadap Semua Orang dari Tindakan Penghilangan
Secara Paksa, Protokol Opsional Konvensi Hak-hak Penyandang
Disabilitas, Statuta Roma tentang Pengadilan Pidana Internasional
dan Konvensi Genosida, Konvensi ILO 169 dan 189;
• Meningkatkan interaksi dengan mekanisme hak asasi manusia in-
ternasional, termasuk menyampaikan undangan terbuka untuk seluruh
pemegang mandat prosedur khusus
Implementasi kewajiban hak asasi manusia internasional,
mempertimbangkan hukum humaniter internasional yang
dapat diterapkan
A. Isu lintas
Kesetaraan dan non-diskriminasi
• Memastikan adanya hukum anti-diskriminasi dan mencabut
semua undang-undang yang diskriminatif terhadap masyarakat
adat, lesbian, homoseksual, biseksual, transeksual, dan inter-
seksual, orang-orang dengan HIV/AIDS dan kelompok rentan
lain.
• Menghapus semua kebijakan yang diskriminatif terhadap pe-
rempuan, termasuk dalam hukum keluarga, selaras dengan ke-
tentuan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi
terhadap Perempuan.
B. Hak Sipil dan Politik
Hak atas Hidup, Kebebasan dan Keamanan seseorang
• Melahirkan aturan hukum tentang kekerasan terhadap
perempuan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga dan
melarang FGM/P2GP (Pelukaan/ pemotongan genitalia pe-
rempuan)
146 § Lampiran
• Menghapus hukuman mati, dan memberlakukankembali
moratorium terhadap hukuman mati.
• Mereformasi Kitab Undang Undang Hukum Pidana untuk me-
mastikan bahwa definisi penyiksaan sesuai dengan Konvensi
Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman
Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi dan Merendahkan
Martabat Manusia dan membuat sebuah mekanisme
pencegahan nasional.
Administrasi Kadilan, termasuk Impunitas dan Rule of Law/
Kedaulatan Hukum
• Reformasi legislasi tentang anak sesuai dengan ketentuan-
ketentuan di Konvensi Hak Anak dan sekaligus mereformasi
Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana tentang me-
ningkatkan umur minimum pertanggungjawaban pidana se-
suai dengan standar internasional yang disepakati.
Kebebasan Fundamental dan Hak untuk Terlibat dalam
Kehidupan Publik dan Politik
• Menjamin kebebasan beragama, termasuk dengan mencabut
hukum penodaan agama;
• Mencabut Pasal 156, 156 (a), 106, 110 KUHP dan UU/1/
PNPS/1965 mengenai pencegahan Penyalahgunaan dan/atau
Penodaan Agama yang membatasi hak kebebasan berekspresi
dan berpikir, bernurani dan beragama.
Larangan atas Semua Bentuk Perbudakaan
• Memperbaiki legislasi untuk mengkriminalkan semua bentuk
perdagangan anak, termasuk untuk tujuan eksploitasi seksual.
• Memperkuat upaya untuk menghapus pernikahan anak.
C. Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
Hak untuk Bekerja dalam Kondisi Kerja yang Adil dan Layak
• Mempromosikan kesetaraan gender di dalam tempat kerja dan
mengambil tindakan untuk mencabut hambatan-hambatan
yang menghalangi kemajuan karir bagi perempuan seperti
pelecehan seksual di tempat kerja dan stigma peran gender
tradisional.
Hak atas Kesehatan
• Mencabut semua hukum yang membatasi akses terhadap
layanan kesehatan reproduksi dan seksual dan menyediakan
Surat Komisi Tinggi HAM PBB untuk Kementerian Luar Negeri § 147
layanan kontrasepsi dan keluarga berencana termasuk terha-
dap pasangan yang tidak menikah
Hak Atas Pendidikan
• Memastikan bahwa pendidikan bisa diakses oleh semua anak,
termasuk anak pencari suaka dan pengungsi, anak pekerja
migran, dan anak yang tidak memiliki akte lahir.
D. Hak Orang-Orang dan Kelompok Khusus
Perempuan
• Mengakhiri norma budaya yang merugikan dan stigma ber-
akar mendalam mengenai peran, tanggung jawab dan identitas
perempuan dan anak perempuan;
• Mencabut UU No.1/1974 yang memperbolehkan poligami,
aturan pewarisan yang bersifat diskriminatif dan melarang pe-
rempuan Islam untuk menikah dan cerai berdasarkan hukum
perdata.
• Mengamandemen Perda-perda diskriminatif di provinsi Aceh
yang membatasi hak perempuan dalam menjalankan kehi-
dupan sehari-harinya.
Anak
• Menghapus tenaga kerja anak, terutama bentuk-bentuk pe-
kerjaan anak yang paling buruk dalam kondisi yang berbahaya
dalam pertanian dan eksploitasi anak dalam pekerjaan do-
mestik dan pekerjaan seks.
• Melarang penghukuman fisik dalam semua ranah hidup,
termasuk di dalam rumah, sekolah, institusi perawatan anak
dan sistem pidana.
Penyandang Disabilitas
• Memastikan bahwa semua anak penyandang disabilitas me-
milki akses ke pendidikan yang inklusif, pelayanan dan fa-
silitas kesehatan yang berkualitas, ruang publik dan infra-
struktur, dan lain lain;
• Mengamandemen legislasi untuk mendefinisikan penolakan
dalam perumahan layak sebagai bentuk diskriminasi.
148 § Lampiran
Daerah atau Wilayah Tertentu
• Memastikan bahwa tidak ada impunitas untuk pelanggaran
hak asasi manusia melalui penyidikan independen dan im-
parsial terhadap pelanggaran-pelanggaran tersebut seperti
pelanggaran yang terjadi di propinsi Papua dan Papua Barat.
Surat Komisi Tinggi HAM PBB untuk Kementerian Luar Negeri § 149
Tentang Komnas Perempuan
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan adalah
lembaga negara yang independen untuk penegakan hak asasi ma-
nusia perempuan Indonesia. Komnas Perempuan dibentuk melalui
Keputusan Presiden No. 181 Tahun 1998, pada tanggal 9 Oktober
1998, yang diperkuat dengan Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2005.
Komnas Perempuan lahir dari tuntutan masyarakat sipil, terutama
kaum perempuan, kepada pemerintah untuk mewujudkan tanggung
jawab negara dalam menanggapi dan menangani persoalan kekerasan
terhadap perempuan. Tuntutan tersebut berakar pada tragedi kekerasan
seksual yang terutama dialami oleh perempuan etnis Tionghoa dalam
kerusuhan Mei 1998 di berbagai kota besar di Indonesia.
Komnas Perempuan tumbuh menjadi salah satu Lembaga Nasional
Hak Asasi Manusia (LNHAM), sesuai dengan kriteria-kriteria umum
yang dikembangkan dalam The Paris Principles. Kiprah aktif Kom-
nas Perempuan menjadikan lembaga ini contoh berbagai pihak dalam
mengembangkan dan meneguhkan mekanisme HAM untuk pemajuan
upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan baik di tingkat lo-
kal, nasional, kawasan, maupun internasional
Landasan Kerangka Kerja Komnas Perempuan:
• Konstitusi, yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indone-
sia Tahun 1945
• Undang-Undang No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan
(CEDAW)
• Undang-Undang No. 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi
Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain
yang Kejam atau tidak Manusiawi (CAT)
• Deklarasi Internasional tentang Penghapusan Kekerasan terhadap
Perempuan, serta kebijakan-kebijakan lainnya tentang hak asasi
manusia.
Tujuan Komnas Perempuan:
• Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi penghapusan segala
bentuk kekerasan terhadap perempuan dan penegakan hak-hak
asasi manusia perempuan di Indonesia;
150 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan
• Meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan segala
bentuk kekerasan terhadap perempuan dan perlindungan hak-hak
asasi perempuan.
Mandat dan Kewenangan:
• Menyebarluaskan pemahaman atas segala bentuk kekerasan ter-
hadap perempuan Indonesia dan upaya-upaya pencegahan dan
penanggulangan, serta penghapusan segala bentuk kekerasan
terhadap perempuan;
• Melaksanakan pengkajian dan penelitian terhadap berbagai
peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta berbagai
instrumen internasional yang relevan bagi perlindungan hak-hak
asasi perempuan. Melaksanakan pemantauan, termasuk pencarian
fakta dan pendokumentasian kekerasan terhadap perempuan
dan pelanggaran HAM perempuan, serta penyebarluasan hasil
pemantauan kepada publik dan pengambilan langkah-langkah
yang mendorong pertanggungjawaban dan penanganan;
• Memberi saran dan pertimbangan kepada pemerintah, lembaga
legislatif, dan yudikatif, serta organisasi-organisasi masyarakat
guna mendorong penyusunan dan pengesahan kerangka hukum
dan kebijakan yang mendukung upaya-upaya pencegahan dan
penanggulangan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan,
serta perlindungan HAM penegakan dan pemajuan hak-hak asasi
perempuan.
• Mengembangkan kerja sama regional dan internasional guna me-
ningkatkan upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan segala
bentuk kekerasan terhadap perempuan Indonesia, serta perlin-
dungan, penegakan dan pemajuan hak-hak asasi perempuan.
Peran Komnas Perempuan:
• Pemantau dan pelapor tentang pelanggaran HAM berbasis gender
dan kondisi pemenuhan hak perempuan korban;
• Pusat pengetahuan (resource center) tentang hak asasi perempuan;
• Pemicu perubahan serta perumusan kebijakan;
• Negosiator dan mediator antara pemerintah dengan komunitas
korban dan komunitas pejuang hak asasi perempuan, dengan
menitikberatkan pada pemenuhan tanggung jawab negara pada
penegakan hak asasi manusia dan pada pemulihan hak-hak korban;
Tentang Komnas Perempuan § 151
• Fasilitator pengembangan dan penguatan jaringan di tingkat lokal,
nasional, regional dan internasional untuk kepentingan pencegahan,
peningkatan kapasitas penanganan dan penghapusan segala bentuk
kekerasan terhadap perempuan.
152 § Laporan dan Proses Advokasi Komnas Perempuan