BAB II
KAJIAN TEORIRIS DAN HIPOTESIS
2.1 Kajian Teoritis
2.1.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil ‘tahu’, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui
pancaindra manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan
raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) (Efendi,F. 2009:101).
Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh
pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan. Penelitian Rogers mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi
perilaku baru (berperilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi proses yang
berurutan, yang disebut AIETA, yakni :
a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus
b. Interest (ketertarikan) yakni orang tersebut mulai tertarik kepada stimulus
c. Evaluation (mempertimbangkan) terhadap baik dan tidaknya stimulus
tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d. Trial, (mulai mencoba) dimana orang tersebut memutuskan untuk mulai
mencoba melakukan perilaku yang baru
7
e. Adaption,(beradaptasi) dimana orang tersebut telah berperilaku baru sesuai
dengan pengetahuam, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
(Sunaryo. 2009).
Namun demikian, dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa
perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut. Apabila penerimaan
perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari dengan
pengetahuan dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat lama (long
lasting). Sebaliknya, apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan
kesadaran akan tidak berlangsung lama.
Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat,
yakni :
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya, termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ‘tahu’ ini
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain :
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
Contoh : “….dapat menyebutkan tanda tanda bahaya penderita demam
berdarah dengue”.
8
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu keampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi
tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi
harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan,
dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Contohnya : “… dapat
menjelaskan mengapa harus makan makanan bergizi saat masa postpartum”.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartiakan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini
dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,
prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Contohnya: “…
dapat menggunakan rumus statisti dalam perhitungan hasil penelitian”.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur
organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan
analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: seperti dapat
menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,
mengelompokkan, dan sebagainya.
5. Sintesis (synthesis)
9
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi
baru dari formulasi-formulasi yang ada. Contohnya : dapat menyusun, dapat
merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya,
terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jastifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu
berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan
kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya: dapat membandingkan antara berat
badan normal dan berat badan kurang.
(Efendi,F. 2009:102)
2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengetahuan
Factor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adaah sebagai
berikut :
1. Sosial Ekonomi
Lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang apa
bila ekonomi baik. Tingkat pendidikan yang baik maka tingkat pengetahuan
akan tinggi pula.
10
2. Kultur (Budaya dan Agama)
Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang karena
informasi yang baru akan disaring sesuai atau tidaknya dengan budaya yang
ada apapun agama yang dianut.
3. Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan maka akan mudah menerima hal baru dan akan
mudah pula menyesuaikan dengan hal yang baru tersebut.
4. Pengalaman
Pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu.
Pendidikan yang tinggi maka pengetahuan akan luas. Sedangkan semakin tua
usia seseorang maka pengalaman akan semakin banyak pula.
(Notoadmojo, 2012)
Pengetahuan yang diperoleh dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor
eksternal (Suparyanto, 2012), faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Faktor Internal
a. Pendidikan
Tokoh pendidikan abad 20 M. J. Largevelt yang dikutip oleh
Notoatmodjo (2003) mendefinisikan bahwa pendidikan adalah setiap usaha,
pengaruh, perlindungan, dan bantuan yang diberikan kepada anak yang
tertuju kepada kedewasaan. Sedangkan GBHN Indonesia mendefinisikan
bahwa pendidikan sebagai suatu usaha dasar untuk menjadi kepribadian dan
kemampuan di dalam dan di ar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
11
b. Minat
Minat diartikan sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang
tinggi terhadap sesuatu dengan adanya pengeathuan yang tinggi didukung
minat yang cukup dari seseorang sangatlah mungkin seseorang tersebut
berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan.
c. Pengalaman
Pengalaman adalah suatu peristiwa yang dialami seseorang (Middle
Brook, 1974) yang dikutip oleh Azwar (2013) dalam Notoadmojo (2011)
menyatakan bahwa tidak adanya suatu pengalaman sama sekali, suatu objek
psikologis cenderung akan bersikap negatif terhadap objek tersebut untuk
menjadi dasar pembentukan sikap pengalaman pribadi haruslah
meninggalkan kesan yang kuat. Oleh karena itu, sikap akan lebih mudah
terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut dalam situasi yang
melibatkan emosi, penghayatan, pengalaman akan lebih mendalam dan lama
membekas.
d. Usia
Usia individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang
tahun. Semakin cukup umur tingkat kematngan dan kekuatan seseorang
akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan
masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya daripada
orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari
12
pengalaman dan kematanganjiwanya, makin tua seseorang maka makin
kondusif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi.
2. Faktor Eksternal
a. Informasi
Informasi adalah keseluruhan makna dapat diartikan sebagai
pemberitahuan seseorang adanya informasi baru mengenai suatu hal
memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal
tersebut. Pesan-pesan sugestif dibawa oleh informasi tersebut apabila arah
sikap tertentu. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menggunakan
kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi yang berpengaruh perubahan
perilaku, biasanya digunakan malalui media massa.
b. Kebudayaan/Lingkungan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh
besar terhadap pengetahuan kita. Apabila dalam suatu wilayah mempunyai
budaya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan maka sangat mungkin
berpengaruh dalam pembentukan sikap atau sikap seseorang.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau
responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita
sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas. (Notoadmojo, 2011).
13
2.1.3 Konsep Masyarakat
Istilah “masyarakat” dalam bahasa indonesia merupakan terjemahan dari
bahasa ingris society dan community. Konsep masyarakat yang berasal dari societi
berbeda dengan konsep masyarakat yang bersumber dari community, karena dari
porspektif sosiologi pengertian society berbeda dengan community. Dalam topik ini,
istilah masyarakat diartikan sebagai konsep community. Oleh karena itu agar istilah
masyarakat tersebut tidak rancu atu bermakna ganda, maka dalam materi ini istilah
atau konsep masyarakat diartikan sebagai konsep community terjemahan dari
“komunitas”.
Komunitas ialah suatu uni atau kesatuan sosial yang terorganisasikan dalam
kelompok-kelompok dengan kepentingan bersama (communities of common
interest), baik yang bersifat fungsional maupun yang mempunyai teritorial
(Nasdian.2014)
Definisi komunitas menurut WHO (1974) adalah sebuah kelompok sosial
yang ditentukan oleh batas-batas geografis dan atau nilai-nilai dan kepentingan
bersama: anggota masyarakat dikenal berinteraksi satu sama lain: fungsi masyarakat
dalam struktur sosial tertentu: dan masyarakat menciptakan norma-norma, nilai-nilai
dan lembaga-lembaga sosial (Sarwajana. 2017)
Sedangkan Menurut Lundy dan Janes (2009) komunitas adalah sekelompok
orang yang berbagi kebersamaan dan berinteraksi satu sama lain, dan yang mungkin
menunjukna komitmen satu sama lain, dan yang mungkin berbagi batas geografis.
(Sarwajana. 2017)
14
2.1.4 Pengertian Bencana
Menurut UU No.24 tahun 2007 Bencana adalah peristiwa atau rangkaian
peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun
faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2001) mendefinisikan Bencana
adalah peristiwa atau kejadian pada satu daerah yang mengakibatkan kerusakan
ekologi, kerugian kehidupan manusia, seperti memburuknya kesehatan dan
pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari
pihak luar. Sedangkan menurut WHO (2002) mendefinisikan bencana adalah setiap
kejadian yang menyebabkan kerusakan ganguan ekologis, hilangnya nyawa manusia,
atau memburuknya derajat kesehatan atau playanan kesehatan pada skala tertentu
yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena. (Effendi,
dkk. 2010)
Bencana adalah suatu gangguan serius terhadap masyarakat yang
menimbulkan kerugian secara meluas dan dirasakan oleh masyarakat, berbagai
material dan lingkungan alam dimana dampak yang timbul melebihi kemampuan
manusia guna mengatasinya dengan sumber daya yang ada. (Khambali. 2017)
2.1.5 Jenis-Jenis Bencana
Jika merujuk pada Undang-undang No.24 Tahun 2007 maka bencana dapat di
golongkan menjadi 3 jenis yaitu sebagai berikut:
15
1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa
bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah
longsor.
2. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal
modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik
sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.
2.1.6 Siklus Penanggulangan Bencana
16
Siklus penanggulangan bencana dibagi menjadi tiga periode/fase, yaitu Fase
Prabencana, Bencana, dan Pascabencana. (Khambali. 2017):
Setelah terjadi Situasi Tidak
bencana Terjadi Bencana
Pada saat terjadi Situasi Terdapat
bencana Kejadia Potensi Bencana
n
Rehabilitasi
Pencengahan
dan
Dan mitigasi
Rekonstruksi
Tannggap
Kesiapsiagaan
darurat
Gambar 2.1. siklus Penangulangan Bencana
1. Prabencana : pencegahan lebih difokuskan, kesiapsiagaan level medium.
17
2. Bencana : pada saat kejadian/krisis, tanggap darurat menjadi kegiatan yang
terpenting
3. Pascabencana : pemulihan dan rekonstruksi menjadi proses terpenting
setelah terjadinya bencana.
Kegiatan-kegiatan manajemen bencana (Khambali. 2017)
1. Pencegahan (Prevention)
Pencegahan merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya
bencana (jika mungkin dengan meniadakan bahaya)
2. Mitigasi Bencana (Mitigation)
Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko
bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan
peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana(UU 24/2007) atau
upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh
bencana
3. Kesiapsiagaan (Preparedness)
Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah
yang tepat guna dan berdaya guna.(UU 24/2007). Misalnya, penyiapan
sarana komunikasi, pos komando, penyiapan lokasi evakuasi, rencana
kontijensi, dan sosialisasi peraturan atau pedoman penanggulangan bencana.
4. Peringatan Dini (Early Warning)
18
Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera
mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada
suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. (UU 24/2007). Atau upaya
untuk memberikan peringatan dini bahwa bencana kemungkinan akan
segera terjadi.
5. Tanggap Darurat (Respons)
Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk
yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi
korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan
pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
6. Bantuan Darat (Relief)
Bantuan darurat bencana adalah upaya memberikan bantuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat.(UU 20/2007), berupa
pangan, sandang, tempat tinggal sementara, Kesehatan, sanitasi, dan air
bersih.
7. Pemulihan (Recovery)
Pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi
masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan
memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan
melakukan upaya rehabilitasi.(UU 24/2007)
8. Rehabilitasi (Rehabilitation)
19
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik
atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana
dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar
semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah
pascabencana.(UU 24/2007), atau upaya yang diambil setelah kejadian
bencana untuk membantu mesyarakat memperbaiki sarana dan prasarana
dan menghidupkan roda perekonomian masyarakat
9. Rekonstruksi (Reconstruction)
Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana,
kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan
maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya
kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban,
dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan
bermasyarakat pada wilayah pascabencana.(UU 24/2007), atau program
jangka menengah atau jangka panjang guna perbaikan fisik, social, dan
ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang
sama atau lebih baik dari sebelumnya.
2.1.7 Pengertian Desa Tangguh Bencana
Desa/Kelurahan Tangguh Bencana adalah desa/kelurahan yang memiliki
kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana, serta
memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan, jika terkena
bencana. Dengan demikian sebuah Desa/Kelurahan Tangguh Bencana adalah sebuah
20
desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman di
wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi
kerentanan dan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana.
Kemampuan ini diwujudkan dalam perencanaan pembangunan yang mengandung
upaya-upaya pencegahan, kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana dan
peningkatan kapasitas untuk pemulihan pasca keadaan darurat. (Perka BNPB
No.1/2012)
Program Desa Tangguh Bencana merupakan program prioritas dalam RPJMN
tahun 2015-2019, dengan capaian 5.000 desa/kelurahan tangguh bencana yang
bersumber dari berbagai pihak terkait. Hingga tahun 2016 telah terbentuk 374
desa/kelurahan tangguh bencana dari anggaran APBN BNPB dan pada tahun 2017 ini
akan dilaksanakan di 150 desa/kelurahan dari 38 kabupaten/kota di 26 provinsi.
Tujuh provinsi diantaranya merupakan desa/kelurahan tematik dengan ancaman
kebakaran hutan dan lahan. (BNPB.2017)
Pengembangan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana merupakan salah satu
upaya pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Pengurangan risiko bencana
berbasis masyarakat adalah segala bentuk upaya untuk mengurangi ancaman bencana
dan kerentanan masyarakat, dan meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan, yang
direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat sebagai pelaku utama. Dalam
Desa/Kelurahan Tangguh Bencana, masyarakat terlibat aktif dalam mengkaji,
menganalisis, menangani, memantau, mengevaluasi dan mengurangi risiko-risiko
21
bencana yang ada di wilayah mereka, terutama dengan memanfaatkan sumber daya
lokal demi menjamin keberkelanjutan. (Perka BNPB No.1/2012)
Pasal 4 Undang-undang No. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana
menyatakan bahwa Penanggulangan bencana bertujuan untuk memberikan
perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana. Lebih lanjut Peraturan
Kepala BNPB nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BAB II), menetapkan bahwa pemerintah daerah
bertanggung jawab untuk, antara lain, melindungi masyarakat dari ancaman dan
dampak bencana, melalui:
1) Pemberian informasi dan pengetahuan tentang ancaman dan risiko bencana di
wilayahnya;
2) Pendidikan, pelatihan dan peningkatan keterampilan dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana;
3) Perlindungan sosial dan pemberian rasa aman, khususnya bagi kelompok
rentan bencana;
4) Pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, penanganan darurat, rehabilitasi dan
rekonstruksi.
(Perka BNPB No.1/2012)
Desa/Kelurahan Tangguh Bencana merupakan salah satu perwujudan dari
tanggung jawab pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari
ancaman bencana. Program ini juga sejalan dengan strategi-strategi yang menjadi
prioritas dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (Renas PB) 2010-2014
22
antara lain: penanggulangan bencana berbasis masyarakat; peningkatan peran LSM
dan organisasi mitra pemerintah; dan pemaduan program pengurangan risiko ke
dalam rencana pembangunan. Selain mengandung keempat aspek yang digariskan di
dalam Perka Nomor 3 tahun 2008 di atas, Desa/Kelurahan Tangguh Bencana juga
mengandung aspek pemaduan prakarsa pengurangan risiko masyarakat ke dalam
proses pembangunan daerah. (Perka BNPB No.1/2012)
Penyelenggaraan program Desa Tangguh Bencana membutuhkan tenaga
fasilitator sebagai pendamping di masyarakat selama proses kegiatan berlangsung.
Selain itu, melibatkan pemerintah daerah kabupaten/kota setempat, sebagai pengelola
kegiatan secara menyeluruh yakni dari awal hingga akhir pembentukan serta
komitmen untuk melakukan replikasi destana di desa/kelurahan lainnya. BPBD
Provinsi dan Kabupaten/Kota dapat menjadikan masyarakat dan fasilitator desa
tangguh bencana sebagai aset daerah dalam upaya pengurangan risiko bencana di
daerahnya. (BNPB.2017)
Dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tersirat bahwa upaya
penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab bersama semua unsur, yakni
pemerintah, lembaga non-pemerintah, dunia usaha, dan partisipasi aktif masyarakat.
Sejak tahun 2012, Kedeputian Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB telah
menyelenggarakan penguatan kelembagaan yang bertujuan untuk meningkatkan
kapasitas, kemampuan, dan pengetahuan pemerintah daerah hingga masyarakat pada
suatu program yaitu Desa Tangguh Bencana. (BNPB.2017)
2.2 Kajian Penelitian yang Relevan
23
1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nanda Khoirunisa, dkk (2015)
tentang “Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Bencana Gempa Bumi Dan
Gunung Meletus Di Kecamatan Boyolali Kabupaten Boyolali” Metode penelitian
menggunakan Random Sampling Method dan pengumpulan data menggunakan
kuesioner. Hasil penelitian tingkat pengetahuan terhadap bencana gempa bumi
dan gunung meletus masyarakat di Kecamatan Boyolali termasuk katagori
“Sedang” dengan nilai indeks 52,9. Penelitian yang dilakukan di Kecamatan
Boyolali terdapat 75% masyarakat memiliki pengetahuan dalam memahami
tindakan tanggap darurat terhadap bencana gempa bumi, namun hanya 24%
masyarakat yang memahami mengenai prediksi bencana gempa bumi. Pada
indikator bencana gunung meletus masyarakat lebih memahami mengenai tanda-
tanda bencana dibandingkan pengetahuan mengenai gempa bumi yang
disebabkan oleh gunung meletus.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu lebih
pada menggambarkan pengatahuan masyarakat desa Ayumolingo Kec. Pulubala
Kab. Gorontalo sebagai desa Tangguh Bencana. Desain penelitian yang
digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan
menggunakan tehnik Simpel random sampling.
2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Awaliyah,N dkk (2014) tentang
“Pengetahuan Masyarakat Dalam Mitigasi Bencana Banjir Di Desa Penolih
Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga” Metode penelitian yang
digunakan adalah metode survey dan jumlah populasi penelitian adalah 56
24
Kepala Keluarga. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total
sampling yaitu seluruh warga yang terkena banjir yaitu Dusun II, III dan IV
sebanyak 56 Kepala Keluarga. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif menggunakan tabel frekuensi, persentase dan pengharkatan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat dalam mitigasi bencana
banjir di Desa Penolih Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga
termasuk dalam kategori sedang dinilai dari aspek pengetahuan mitigasi bencana
banjir, aspek pengendalian banjir, aspek sistem sarana dan prasarana,dan aspek
sikap partisipasi. Pengetahuan masyarakat dalam mitigasi bencana sebelum
banjir termasuk dalam kategori sedang, sedangkan pengetahuan masyarakat
dalam mitigasi bencana saat banjir termasuk dalam kategori sedang dan
pengetahuan masyarakat dalam mitigasi setelah banjir termasuk dalam kategori
tinggi.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu lebih
pada menggambarkan pengatahuan masyarakat desa Ayumolingo Kec. Pulubala
Kab. Gorontalo sebagai desa Tangguh Bencana. Desain penelitian yang
digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan
menggunakan tehnik Simpel random sampling.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Desy Nirmala dan Argo Pambudi (2018) tentang
“Ektivitas Dari Pelaksanaan Program Desa Tangguh Bencana Di Desa
Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman”. Desain penelitian
yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil
25
penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan dari program ini sudah efektif. Hal
tersebut dapat dilihat dari bentuk kerjasama yang baik oleh penyelenggara
program yaitu pemerintah dengan kelompok sasaran, yaitu masyarakat.
Pelaksanaan tersebut menunjukkan telah efektif karena sudah tepat sasaran, yaitu
kepada masyarakat, pemerintah dan komunitas. Selain itu, sosialisasi program
juga sudah terlaksana dengan baik dari mulai pra-bencana, saat tanggap darurat
bencana, dan pasca bencana. Hasil penelitian ini juga menunjukkan faktor
penghambat dari pelaksanaan Program Desa Tangguh Bencana di Desa
Argomulyo adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang belum memadai
dalam kegiatan penanggulangan bencana.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu lebih
pada menggambarkan pengatahuan masyarakat desa Ayumolingo Kec. Pulubala
Kab. Gorontalo sebagai desa Tangguh Bencana. Desain penelitian yang
digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan
menggunakan tehnik Simpel random sampling.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Noza,N dkk (2018) tentang “Partisipasi
masyarakat Desa Teluk Bakau dalam Program Desa Tangguh Bencana dan
mengetahui tingkat ancaman, kerentanan serta kemampuan dalam menangani
bencana”. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Lokasi di Desa
Teluk Bakau Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan. Penelitian ini
menggunakan teknik pengumpulan data secara observasi, dokumentasi
wawancara yang dapat menjawab beberapa pertanyaan mengenai partisipasi
26
masyarakat Desa Teluk Bakau mengenai proses awal terbentuknya partisipasi,
tingkat kesadaran masyarakat terhadap potensi ancaman bencana, Institusional
masyarakat dalam membentuk Desa Tangguh Bencana serta keberhasilan dari
program ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat
dalam program Desa Tangguh Bencana tergolong baik karena program-program
yang dijalankan oleh Desa Tangguh Bencana ini diikuti oleh masyarakat hanya
saja masih bergantung kepada pemerintah yang menyebabkan terhambatnya
program yang mengedepankan partisipasi masyarakat itu sendiri.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu lebih
pada menggambarkan pengatahuan masyarakat desa Ayumolingo Kec. Pulubala
Kab. Gorontalo sebagai desa Tangguh Bencana. Desain penelitian yang
digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan
menggunakan tehnik Simpel random sampling.
5. Berdasarkan hasil penelitian Ningtyas, Bestari Ainun. 2014. Tentang “Pengaruh
Pengetahuan Kebencanaan terhadap Sikap Kesiapsiagaan Warga dalam
Menghadapi Bencana Tanah Longsor di Desa Sridadi Kecamatan Sirampog
Kabupaten Brebes Tahun 2014”. Dimana Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh Kepala Keluarga (KK) Dukuh Lebak Goak sebanyak 278 KK dengan
sampel 162 KK. Variabel penelitian meliputi pengetahuan kebencanaan warga
(X) dan sikap kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana tanah longsor
(Y). Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: 1) Dokumentasi, 2)
Angket, 3) Observasi. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif
27
persentase untuk mendeskripsikan semua variabel, analisis regresi linier
sederhana untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel (X) terhadap
variabel (Y) dengan menggunakan uji hipotesis uji t dan R2. Didapatkan hasil
penelitian tingkat pengetahuan kebencanaan warga berada dikategori tinggi.
Sikap kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana tanah longsor di Desa
Sridadi berada dikategori sangat tinggi. Hasil pengujian hipotesis dengan uji t
dan uji koefisien determinasi, maka ada pengaruh positif pengetahuan
kebencanaan terhadap sikap kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana
tanah longsor di Desa Sridadi Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes. Hal ini
berarti semakin tinggi pengetahuan kebencanaan maka akan semakin tinggi pula
sikap kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana tanah longsor.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu lebih
pada menggambarkan pengatahuan masyarakat desa Ayumolingo Kec. Pulubala
Kab. Gorontalo sebagai desa Tangguh Bencana. Desain penelitian yang
digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan
menggunakan tehnik Simpel random sampling.
28
2.3 Kerangka Berfikir
2.3.1 Kerangka Teori
Bencana
Bencana Bencana Bencana
Non alam Alam Sosial
Prabencana Saat Bencana Pascabencana
Pencegahan
Mitigasi Bencana Program Desa Tangguh Bencana
Kesiapsiagaan
Peringatan Dini
Tanggap Darurat
Bantuan Darat
Pemulihan
Rehabilitasi Masyarakat
Rekonstruksi
Gambar 2.2 Kerangka Teori
Sumber : Khambali,I 2017. UU 24/2007. Perka BNPB 1/2012. BNPB 2017
2.3.2 Kerangka Konsep
Pengetahuan Masyarakat
Tentang Kebencanaan.
Prabencana
Bencana
Pascabencana
Gambar 2.3 Kerangka Konsep
29