0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan23 halaman

Teori dan Faktor Pengetahuan Manusia

Bab ini membahas tentang kajian teoritis pengetahuan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor internal seperti pendidikan, minat, pengalaman dan usia, serta faktor eksternal seperti informasi dan lingkungan budaya.

Diunggah oleh

Frangki Bila
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan23 halaman

Teori dan Faktor Pengetahuan Manusia

Bab ini membahas tentang kajian teoritis pengetahuan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor internal seperti pendidikan, minat, pengalaman dan usia, serta faktor eksternal seperti informasi dan lingkungan budaya.

Diunggah oleh

Frangki Bila
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORIRIS DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Teoritis

2.1.1 Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil ‘tahu’, dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

pancaindra manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan

raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) (Efendi,F. 2009:101).

Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh

pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh

pengetahuan. Penelitian Rogers mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi

perilaku baru (berperilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi proses yang

berurutan, yang disebut AIETA, yakni :

a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus

b. Interest (ketertarikan) yakni orang tersebut mulai tertarik kepada stimulus

c. Evaluation (mempertimbangkan) terhadap baik dan tidaknya stimulus

tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

d. Trial, (mulai mencoba) dimana orang tersebut memutuskan untuk mulai

mencoba melakukan perilaku yang baru

7
e. Adaption,(beradaptasi) dimana orang tersebut telah berperilaku baru sesuai

dengan pengetahuam, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

(Sunaryo. 2009).

Namun demikian, dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa

perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut. Apabila penerimaan

perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari dengan

pengetahuan dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat lama (long

lasting). Sebaliknya, apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan

kesadaran akan tidak berlangsung lama.

Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat,

yakni :

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya, termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat

kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ‘tahu’ ini

merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain :

menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

Contoh : “….dapat menyebutkan tanda tanda bahaya penderita demam

berdarah dengue”.

8
2. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu keampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi

tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi

harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan,

dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Contohnya : “… dapat

menjelaskan mengapa harus makan makanan bergizi saat masa postpartum”.

3. Aplikasi (application)

Aplikasi diartiakan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini

dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,

prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Contohnya: “…

dapat menggunakan rumus statisti dalam perhitungan hasil penelitian”.

4. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur

organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan

analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: seperti dapat

menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,

mengelompokkan, dan sebagainya.

5. Sintesis (synthesis)

9
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi

baru dari formulasi-formulasi yang ada. Contohnya : dapat menyusun, dapat

merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya,

terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jastifikasi atau

penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu

berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan

kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya: dapat membandingkan antara berat

badan normal dan berat badan kurang.

(Efendi,F. 2009:102)

2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengetahuan

Factor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adaah sebagai

berikut :

1. Sosial Ekonomi

Lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang apa

bila ekonomi baik. Tingkat pendidikan yang baik maka tingkat pengetahuan

akan tinggi pula.

10
2. Kultur (Budaya dan Agama)

Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang karena

informasi yang baru akan disaring sesuai atau tidaknya dengan budaya yang

ada apapun agama yang dianut.

3. Pendidikan

Semakin tinggi pendidikan maka akan mudah menerima hal baru dan akan

mudah pula menyesuaikan dengan hal yang baru tersebut.

4. Pengalaman

Pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu.

Pendidikan yang tinggi maka pengetahuan akan luas. Sedangkan semakin tua

usia seseorang maka pengalaman akan semakin banyak pula.

(Notoadmojo, 2012)

Pengetahuan yang diperoleh dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor

eksternal (Suparyanto, 2012), faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Faktor Internal

a. Pendidikan

Tokoh pendidikan abad 20 M. J. Largevelt yang dikutip oleh

Notoatmodjo (2003) mendefinisikan bahwa pendidikan adalah setiap usaha,

pengaruh, perlindungan, dan bantuan yang diberikan kepada anak yang

tertuju kepada kedewasaan. Sedangkan GBHN Indonesia mendefinisikan

bahwa pendidikan sebagai suatu usaha dasar untuk menjadi kepribadian dan

kemampuan di dalam dan di ar sekolah dan berlangsung seumur hidup.

11
b. Minat

Minat diartikan sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang

tinggi terhadap sesuatu dengan adanya pengeathuan yang tinggi didukung

minat yang cukup dari seseorang sangatlah mungkin seseorang tersebut

berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan.

c. Pengalaman

Pengalaman adalah suatu peristiwa yang dialami seseorang (Middle

Brook, 1974) yang dikutip oleh Azwar (2013) dalam Notoadmojo (2011)

menyatakan bahwa tidak adanya suatu pengalaman sama sekali, suatu objek

psikologis cenderung akan bersikap negatif terhadap objek tersebut untuk

menjadi dasar pembentukan sikap pengalaman pribadi haruslah

meninggalkan kesan yang kuat. Oleh karena itu, sikap akan lebih mudah

terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut dalam situasi yang

melibatkan emosi, penghayatan, pengalaman akan lebih mendalam dan lama

membekas.

d. Usia

Usia individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang

tahun. Semakin cukup umur tingkat kematngan dan kekuatan seseorang

akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan

masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya daripada

orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari

12
pengalaman dan kematanganjiwanya, makin tua seseorang maka makin

kondusif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi.

2. Faktor Eksternal

a. Informasi

Informasi adalah keseluruhan makna dapat diartikan sebagai

pemberitahuan seseorang adanya informasi baru mengenai suatu hal

memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal

tersebut. Pesan-pesan sugestif dibawa oleh informasi tersebut apabila arah

sikap tertentu. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menggunakan

kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi yang berpengaruh perubahan

perilaku, biasanya digunakan malalui media massa.

b. Kebudayaan/Lingkungan

Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh

besar terhadap pengetahuan kita. Apabila dalam suatu wilayah mempunyai

budaya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan maka sangat mungkin

berpengaruh dalam pembentukan sikap atau sikap seseorang.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau

responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita

sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas. (Notoadmojo, 2011).

13
2.1.3 Konsep Masyarakat

Istilah “masyarakat” dalam bahasa indonesia merupakan terjemahan dari

bahasa ingris society dan community. Konsep masyarakat yang berasal dari societi

berbeda dengan konsep masyarakat yang bersumber dari community, karena dari

porspektif sosiologi pengertian society berbeda dengan community. Dalam topik ini,

istilah masyarakat diartikan sebagai konsep community. Oleh karena itu agar istilah

masyarakat tersebut tidak rancu atu bermakna ganda, maka dalam materi ini istilah

atau konsep masyarakat diartikan sebagai konsep community terjemahan dari

“komunitas”.

Komunitas ialah suatu uni atau kesatuan sosial yang terorganisasikan dalam

kelompok-kelompok dengan kepentingan bersama (communities of common

interest), baik yang bersifat fungsional maupun yang mempunyai teritorial

(Nasdian.2014)

Definisi komunitas menurut WHO (1974) adalah sebuah kelompok sosial

yang ditentukan oleh batas-batas geografis dan atau nilai-nilai dan kepentingan

bersama: anggota masyarakat dikenal berinteraksi satu sama lain: fungsi masyarakat

dalam struktur sosial tertentu: dan masyarakat menciptakan norma-norma, nilai-nilai

dan lembaga-lembaga sosial (Sarwajana. 2017)

Sedangkan Menurut Lundy dan Janes (2009) komunitas adalah sekelompok

orang yang berbagi kebersamaan dan berinteraksi satu sama lain, dan yang mungkin

menunjukna komitmen satu sama lain, dan yang mungkin berbagi batas geografis.

(Sarwajana. 2017)

14
2.1.4 Pengertian Bencana

Menurut UU No.24 tahun 2007 Bencana adalah peristiwa atau rangkaian

peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan

masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun

faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan

lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2001) mendefinisikan Bencana

adalah peristiwa atau kejadian pada satu daerah yang mengakibatkan kerusakan

ekologi, kerugian kehidupan manusia, seperti memburuknya kesehatan dan

pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari

pihak luar. Sedangkan menurut WHO (2002) mendefinisikan bencana adalah setiap

kejadian yang menyebabkan kerusakan ganguan ekologis, hilangnya nyawa manusia,

atau memburuknya derajat kesehatan atau playanan kesehatan pada skala tertentu

yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena. (Effendi,

dkk. 2010)

Bencana adalah suatu gangguan serius terhadap masyarakat yang

menimbulkan kerugian secara meluas dan dirasakan oleh masyarakat, berbagai

material dan lingkungan alam dimana dampak yang timbul melebihi kemampuan

manusia guna mengatasinya dengan sumber daya yang ada. (Khambali. 2017)

2.1.5 Jenis-Jenis Bencana

Jika merujuk pada Undang-undang No.24 Tahun 2007 maka bencana dapat di

golongkan menjadi 3 jenis yaitu sebagai berikut:

15
1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau

serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa

bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah

longsor.

2. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau

rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal

modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau

serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik

sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

2.1.6 Siklus Penanggulangan Bencana

16
Siklus penanggulangan bencana dibagi menjadi tiga periode/fase, yaitu Fase

Prabencana, Bencana, dan Pascabencana. (Khambali. 2017):

Setelah terjadi Situasi Tidak


bencana Terjadi Bencana

Pada saat terjadi Situasi Terdapat


bencana Kejadia Potensi Bencana
n

Rehabilitasi
Pencengahan
dan
Dan mitigasi
Rekonstruksi

Tannggap
Kesiapsiagaan
darurat

Gambar 2.1. siklus Penangulangan Bencana

1. Prabencana : pencegahan lebih difokuskan, kesiapsiagaan level medium.

17
2. Bencana : pada saat kejadian/krisis, tanggap darurat menjadi kegiatan yang

terpenting

3. Pascabencana : pemulihan dan rekonstruksi menjadi proses terpenting

setelah terjadinya bencana.

Kegiatan-kegiatan manajemen bencana (Khambali. 2017)

1. Pencegahan (Prevention)

Pencegahan merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya

bencana (jika mungkin dengan meniadakan bahaya)

2. Mitigasi Bencana (Mitigation)

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko

bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan

peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana(UU 24/2007) atau

upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh

bencana

3. Kesiapsiagaan (Preparedness)

Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk

mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah

yang tepat guna dan berdaya guna.(UU 24/2007). Misalnya, penyiapan

sarana komunikasi, pos komando, penyiapan lokasi evakuasi, rencana

kontijensi, dan sosialisasi peraturan atau pedoman penanggulangan bencana.

4. Peringatan Dini (Early Warning)

18
Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera

mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada

suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. (UU 24/2007). Atau upaya

untuk memberikan peringatan dini bahwa bencana kemungkinan akan

segera terjadi.

5. Tanggap Darurat (Respons)

Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan

dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk

yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi

korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan

pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.

6. Bantuan Darat (Relief)

Bantuan darurat bencana adalah upaya memberikan bantuan untuk

memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat.(UU 20/2007), berupa

pangan, sandang, tempat tinggal sementara, Kesehatan, sanitasi, dan air

bersih.

7. Pemulihan (Recovery)

Pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi

masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan

memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan

melakukan upaya rehabilitasi.(UU 24/2007)

8. Rehabilitasi (Rehabilitation)

19
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik

atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana

dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar

semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah

pascabencana.(UU 24/2007), atau upaya yang diambil setelah kejadian

bencana untuk membantu mesyarakat memperbaiki sarana dan prasarana

dan menghidupkan roda perekonomian masyarakat

9. Rekonstruksi (Reconstruction)

Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana,

kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan

maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya

kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban,

dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan

bermasyarakat pada wilayah pascabencana.(UU 24/2007), atau program

jangka menengah atau jangka panjang guna perbaikan fisik, social, dan

ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang

sama atau lebih baik dari sebelumnya.

2.1.7 Pengertian Desa Tangguh Bencana

Desa/Kelurahan Tangguh Bencana adalah desa/kelurahan yang memiliki

kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana, serta

memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan, jika terkena

bencana. Dengan demikian sebuah Desa/Kelurahan Tangguh Bencana adalah sebuah

20
desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman di

wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi

kerentanan dan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana.

Kemampuan ini diwujudkan dalam perencanaan pembangunan yang mengandung

upaya-upaya pencegahan, kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana dan

peningkatan kapasitas untuk pemulihan pasca keadaan darurat. (Perka BNPB

No.1/2012)

Program Desa Tangguh Bencana merupakan program prioritas dalam RPJMN

tahun 2015-2019, dengan capaian 5.000 desa/kelurahan tangguh bencana yang

bersumber dari berbagai pihak terkait. Hingga tahun 2016 telah terbentuk 374

desa/kelurahan tangguh bencana dari anggaran APBN BNPB dan pada tahun 2017 ini

akan dilaksanakan di 150 desa/kelurahan dari 38 kabupaten/kota di 26 provinsi.

Tujuh provinsi diantaranya merupakan desa/kelurahan tematik dengan ancaman

kebakaran hutan dan lahan. (BNPB.2017)

Pengembangan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana merupakan salah satu

upaya pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Pengurangan risiko bencana

berbasis masyarakat adalah segala bentuk upaya untuk mengurangi ancaman bencana

dan kerentanan masyarakat, dan meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan, yang

direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat sebagai pelaku utama. Dalam

Desa/Kelurahan Tangguh Bencana, masyarakat terlibat aktif dalam mengkaji,

menganalisis, menangani, memantau, mengevaluasi dan mengurangi risiko-risiko

21
bencana yang ada di wilayah mereka, terutama dengan memanfaatkan sumber daya

lokal demi menjamin keberkelanjutan. (Perka BNPB No.1/2012)

Pasal 4 Undang-undang No. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana

menyatakan bahwa Penanggulangan bencana bertujuan untuk memberikan

perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana. Lebih lanjut Peraturan

Kepala BNPB nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan

Penanggulangan Bencana Daerah (BAB II), menetapkan bahwa pemerintah daerah

bertanggung jawab untuk, antara lain, melindungi masyarakat dari ancaman dan

dampak bencana, melalui:

1) Pemberian informasi dan pengetahuan tentang ancaman dan risiko bencana di

wilayahnya;

2) Pendidikan, pelatihan dan peningkatan keterampilan dalam penyelenggaraan

penanggulangan bencana;

3) Perlindungan sosial dan pemberian rasa aman, khususnya bagi kelompok

rentan bencana;

4) Pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, penanganan darurat, rehabilitasi dan

rekonstruksi.

(Perka BNPB No.1/2012)

Desa/Kelurahan Tangguh Bencana merupakan salah satu perwujudan dari

tanggung jawab pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari

ancaman bencana. Program ini juga sejalan dengan strategi-strategi yang menjadi

prioritas dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (Renas PB) 2010-2014

22
antara lain: penanggulangan bencana berbasis masyarakat; peningkatan peran LSM

dan organisasi mitra pemerintah; dan pemaduan program pengurangan risiko ke

dalam rencana pembangunan. Selain mengandung keempat aspek yang digariskan di

dalam Perka Nomor 3 tahun 2008 di atas, Desa/Kelurahan Tangguh Bencana juga

mengandung aspek pemaduan prakarsa pengurangan risiko masyarakat ke dalam

proses pembangunan daerah. (Perka BNPB No.1/2012)

Penyelenggaraan program Desa Tangguh Bencana membutuhkan tenaga

fasilitator sebagai pendamping di masyarakat selama proses kegiatan berlangsung.

Selain itu, melibatkan pemerintah daerah kabupaten/kota setempat, sebagai pengelola

kegiatan secara menyeluruh yakni dari awal hingga akhir pembentukan serta

komitmen untuk melakukan replikasi destana di desa/kelurahan lainnya. BPBD

Provinsi dan Kabupaten/Kota dapat menjadikan masyarakat dan fasilitator desa

tangguh bencana sebagai aset daerah dalam upaya pengurangan risiko bencana di

daerahnya. (BNPB.2017)

Dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tersirat bahwa upaya

penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab bersama semua unsur, yakni

pemerintah, lembaga non-pemerintah, dunia usaha, dan partisipasi aktif masyarakat.

Sejak tahun 2012, Kedeputian Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB telah

menyelenggarakan penguatan kelembagaan yang bertujuan untuk meningkatkan

kapasitas, kemampuan, dan pengetahuan pemerintah daerah hingga masyarakat pada

suatu program yaitu Desa Tangguh Bencana. (BNPB.2017)

2.2 Kajian Penelitian yang Relevan

23
1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nanda Khoirunisa, dkk (2015)

tentang “Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Bencana Gempa Bumi Dan

Gunung Meletus Di Kecamatan Boyolali Kabupaten Boyolali” Metode penelitian

menggunakan Random Sampling Method dan pengumpulan data menggunakan

kuesioner. Hasil penelitian tingkat pengetahuan terhadap bencana gempa bumi

dan gunung meletus masyarakat di Kecamatan Boyolali termasuk katagori

“Sedang” dengan nilai indeks 52,9. Penelitian yang dilakukan di Kecamatan

Boyolali terdapat 75% masyarakat memiliki pengetahuan dalam memahami

tindakan tanggap darurat terhadap bencana gempa bumi, namun hanya 24%

masyarakat yang memahami mengenai prediksi bencana gempa bumi. Pada

indikator bencana gunung meletus masyarakat lebih memahami mengenai tanda-

tanda bencana dibandingkan pengetahuan mengenai gempa bumi yang

disebabkan oleh gunung meletus.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu lebih

pada menggambarkan pengatahuan masyarakat desa Ayumolingo Kec. Pulubala

Kab. Gorontalo sebagai desa Tangguh Bencana. Desain penelitian yang

digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan

menggunakan tehnik Simpel random sampling.

2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Awaliyah,N dkk (2014) tentang

“Pengetahuan Masyarakat Dalam Mitigasi Bencana Banjir Di Desa Penolih

Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga” Metode penelitian yang

digunakan adalah metode survey dan jumlah populasi penelitian adalah 56

24
Kepala Keluarga. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total

sampling yaitu seluruh warga yang terkena banjir yaitu Dusun II, III dan IV

sebanyak 56 Kepala Keluarga. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif

kualitatif menggunakan tabel frekuensi, persentase dan pengharkatan. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat dalam mitigasi bencana

banjir di Desa Penolih Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga

termasuk dalam kategori sedang dinilai dari aspek pengetahuan mitigasi bencana

banjir, aspek pengendalian banjir, aspek sistem sarana dan prasarana,dan aspek

sikap partisipasi. Pengetahuan masyarakat dalam mitigasi bencana sebelum

banjir termasuk dalam kategori sedang, sedangkan pengetahuan masyarakat

dalam mitigasi bencana saat banjir termasuk dalam kategori sedang dan

pengetahuan masyarakat dalam mitigasi setelah banjir termasuk dalam kategori

tinggi.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu lebih

pada menggambarkan pengatahuan masyarakat desa Ayumolingo Kec. Pulubala

Kab. Gorontalo sebagai desa Tangguh Bencana. Desain penelitian yang

digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan

menggunakan tehnik Simpel random sampling.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Desy Nirmala dan Argo Pambudi (2018) tentang

“Ektivitas Dari Pelaksanaan Program Desa Tangguh Bencana Di Desa

Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman”. Desain penelitian

yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil

25
penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan dari program ini sudah efektif. Hal

tersebut dapat dilihat dari bentuk kerjasama yang baik oleh penyelenggara

program yaitu pemerintah dengan kelompok sasaran, yaitu masyarakat.

Pelaksanaan tersebut menunjukkan telah efektif karena sudah tepat sasaran, yaitu

kepada masyarakat, pemerintah dan komunitas. Selain itu, sosialisasi program

juga sudah terlaksana dengan baik dari mulai pra-bencana, saat tanggap darurat

bencana, dan pasca bencana. Hasil penelitian ini juga menunjukkan faktor

penghambat dari pelaksanaan Program Desa Tangguh Bencana di Desa

Argomulyo adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang belum memadai

dalam kegiatan penanggulangan bencana.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu lebih

pada menggambarkan pengatahuan masyarakat desa Ayumolingo Kec. Pulubala

Kab. Gorontalo sebagai desa Tangguh Bencana. Desain penelitian yang

digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan

menggunakan tehnik Simpel random sampling.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Noza,N dkk (2018) tentang “Partisipasi

masyarakat Desa Teluk Bakau dalam Program Desa Tangguh Bencana dan

mengetahui tingkat ancaman, kerentanan serta kemampuan dalam menangani

bencana”. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Lokasi di Desa

Teluk Bakau Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan. Penelitian ini

menggunakan teknik pengumpulan data secara observasi, dokumentasi

wawancara yang dapat menjawab beberapa pertanyaan mengenai partisipasi

26
masyarakat Desa Teluk Bakau mengenai proses awal terbentuknya partisipasi,

tingkat kesadaran masyarakat terhadap potensi ancaman bencana, Institusional

masyarakat dalam membentuk Desa Tangguh Bencana serta keberhasilan dari

program ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat

dalam program Desa Tangguh Bencana tergolong baik karena program-program

yang dijalankan oleh Desa Tangguh Bencana ini diikuti oleh masyarakat hanya

saja masih bergantung kepada pemerintah yang menyebabkan terhambatnya

program yang mengedepankan partisipasi masyarakat itu sendiri.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu lebih

pada menggambarkan pengatahuan masyarakat desa Ayumolingo Kec. Pulubala

Kab. Gorontalo sebagai desa Tangguh Bencana. Desain penelitian yang

digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan

menggunakan tehnik Simpel random sampling.

5. Berdasarkan hasil penelitian Ningtyas, Bestari Ainun. 2014. Tentang “Pengaruh

Pengetahuan Kebencanaan terhadap Sikap Kesiapsiagaan Warga dalam

Menghadapi Bencana Tanah Longsor di Desa Sridadi Kecamatan Sirampog

Kabupaten Brebes Tahun 2014”. Dimana Populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh Kepala Keluarga (KK) Dukuh Lebak Goak sebanyak 278 KK dengan

sampel 162 KK. Variabel penelitian meliputi pengetahuan kebencanaan warga

(X) dan sikap kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana tanah longsor

(Y). Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: 1) Dokumentasi, 2)

Angket, 3) Observasi. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif

27
persentase untuk mendeskripsikan semua variabel, analisis regresi linier

sederhana untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel (X) terhadap

variabel (Y) dengan menggunakan uji hipotesis uji t dan R2. Didapatkan hasil

penelitian tingkat pengetahuan kebencanaan warga berada dikategori tinggi.

Sikap kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana tanah longsor di Desa

Sridadi berada dikategori sangat tinggi. Hasil pengujian hipotesis dengan uji t

dan uji koefisien determinasi, maka ada pengaruh positif pengetahuan

kebencanaan terhadap sikap kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana

tanah longsor di Desa Sridadi Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes. Hal ini

berarti semakin tinggi pengetahuan kebencanaan maka akan semakin tinggi pula

sikap kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana tanah longsor.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu lebih

pada menggambarkan pengatahuan masyarakat desa Ayumolingo Kec. Pulubala

Kab. Gorontalo sebagai desa Tangguh Bencana. Desain penelitian yang

digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan

menggunakan tehnik Simpel random sampling.

28
2.3 Kerangka Berfikir
2.3.1 Kerangka Teori
Bencana

Bencana Bencana Bencana


Non alam Alam Sosial

Prabencana Saat Bencana Pascabencana

Pencegahan
Mitigasi Bencana Program Desa Tangguh Bencana
Kesiapsiagaan
Peringatan Dini
Tanggap Darurat
Bantuan Darat
Pemulihan
Rehabilitasi Masyarakat
Rekonstruksi

Gambar 2.2 Kerangka Teori


Sumber : Khambali,I 2017. UU 24/2007. Perka BNPB 1/2012. BNPB 2017

2.3.2 Kerangka Konsep

Pengetahuan Masyarakat
Tentang Kebencanaan.
Prabencana
Bencana
Pascabencana

Gambar 2.3 Kerangka Konsep

29

Anda mungkin juga menyukai