0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan12 halaman

Pengenalan Debat Inggris untuk Pemula AMNUS

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan12 halaman

Pengenalan Debat Inggris untuk Pemula AMNUS

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BALANTING : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat

Vol. 1, No. 2, April 2023

PENGENALAN DEBAT BAHASA INGGRIS MODEL


BRITISH PARLIAMENTARY UNTUK BEGINNER DI
AKADEMI MARITIM NUSANTARA BANJARMASIN
Elisa Rosiana1, M. Arinal Rahman2
a
Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin e-
mail: elroseel09@[Link]
b
Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin e-
mail: arinalrahman@[Link]

Abstrak

Debat merupakan salah satu metode pendidikan yang dapat membuat siswa menjadi lebih kritis dan mampu
menggunakan argumen dengan baik. Tidak hanya itu, debat juga dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa,
terutama dalam berbahasa asing. Siswa diharapkan dapat menjadi lebih kompeten dengan mempelajari model debat
bahasa Inggris. Pengabdian masyarakat kali ini dilakukan untuk mengenalkan kepada taruna dan taruni Akademi
Maritim Nusantara Banjarmasin (AMNUS) mengenai metode debat British Parliamentary. Hasil dari debat bahasa
Inggris model British Parliamentary yang diadakan di AMNUS Banjarmasin sebagai bagian dari program pengabdian
masyarakat ini menunjukkan bahwa program tersebut berjalan dengan lancar dan mencapai tujuannya. Para taruna
AMNUS Banjarmasin telah menyatakan ketertarikan mereka untuk mengikuti kompetisi berbahasa Inggris di masa
depan dan bahkan telah mendiskusikan kemungkinan untuk berpartisipasi dalam kompetisi debat yang hanya
menggunakan bahasa Inggris. Para taruna berharap bahwa pengenalan dan simulasi debat ini akan membantu
membentuk mereka menjadi pemikir yang mandiri dan berpengetahuan luas. Merekajuga mengklaim bahwa program
ini telah membantu mereka menjadi lebih nyaman berdebat dalam bahasa Inggris dan lebih memahami konvensi debat
akademis.

Kata Kunci: Pengabdian Masyarakat, Bahasa Inggris untuk Tujuan Tertentu, Sistem Debat Parlemen Inggris,
Taruna, Bahasa Inggris Maritim

Abstract

Debate is an educational method that can make students more critical and able to use arguments well. Not only that, but
debate can also increase a student's confidence, especially in foreign languages. Students are expected to become more
competent by studying the English debate model. This time, community service was carried out to introduce cadets and
cadets at the Banjarmasin Archipelago Maritime Academy (AMNUS) regarding the British Parliamentary debate
method. The results of the British Parliamentary model English debate held at AMNUS Banjarmasin as part of this
community service program show that the program ran smoothly and achieved its goals. AMNUS Banjarmasin cadets have
expressed their interest in an English-language competition in the future and have even discussed the possibility of
participating in a debate competition that only uses English. The cadets hope that this introduction and simulated debate
will help shape them into independent and well-rounded thinkers. They also claim that the program has helped them
become more comfortable debating in English and better understand academic debating conventions.

Keywords: Community Service, English for Specific Purposes, British Parliamentary Debate system, Cadets,Maritime
English

12
PENDAHULUAN

Pembelajaran Bahasa Inggris di lingkup pendidikan masih menjadi prioritas


untuk dikembangkan dan diterapkan. Hal ini dilandasi karena Bahasa Inggris merupakan
bahasa internasional yang paling banyak dipakai diseluruh dunia. Menguasai Bahasa
Inggris mempunyai banyak maanfaat untuk kehidupan sekarang dan kedepannya.
Penguasaan Bahasa Inggris juga membuka peluang yang luas didunia pendidikan
maupun dunia kerja. Menyadari pentingnya peran Bahasa Inggris, banyak sekolah dan
perguruan tinggi yang menyediakan atau bahkan menambahkan jam pengajaran Bahasa
Inggris untuk memastikan dan meningkatkan peserta didinya dalam pencapaian
target Bahasa Inggris.

Salah satu program pemerintah yang mendukung untuk pencapaian tesebut


adalah melalui debat bahasa inggris. Menurut Quinn dalam artikel Fatimah (2019), debat
adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak ata lebih, baik secara perorangan
maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan
[Link] debat adalah peserta debat dari kedua belah pihak berlomba secara
argumentative untuk mengungapkan ide dan pendapat yang menyakinkan mengenai
suatu topik permasalahan. Selain itu dalam konteks pencapaian target bahasa inggris,
Rahmadhani (2020) menyebutan debat bahasa inggris dinyatakan mampu
meningkatkan daya saing sumber daya manusia karena meningkatkan pemikiran kritis,
mengemukakan argumen dengan baik dan tepat dengan menggunakan bahasa inggris,
serta belajar bertoleransi untuk menerima perbedaan pendapat. Catterlall dalam artikel
Fatimah (2019) menambahkan bahwa dengan berdebat kemampuan akademik pesertanya
sebagai peserta didik dapat meningkatkan terutama dari segi keterampolan membaca
dan memahami.

Program Debat Bahasa Inggris sudah dimulai sejak di Sekolah Menengah


Atas (SMA) yang mana akan dikembangkan lagi lebih mendalam di perguruan
tinggi. Pada tataran ini, peserta didik (mahasiswa) diberi kesempatan lebih luas untuk
mengembangkan kebahasaan mereka khususnya bahasa inggris dalam lomba debat
bahasa inggris nasional ataupun internasional. Hal ini berarti pengenalan sejak dini
mengenai debat bahasa inggris dan mensimulasikan debat bahasa inggris ini sangat
penting. Terlebih maanfaat yang akan peserta didik dapat dalam program debat
bahasa inggris ini adalah mereka menjadi lebih percaya diri dalam menggunakan
bahasa inggris.

Realita yang terjadi dalam lingkungan perguruan tinggi yang bukan dari
program studi bahasa inggris, pengenalan debat bahasa inggris ini masih relatif jarang
digaungkan di lingkungan mereka. Beberapa perguruan tinggi yang paham dengan
pentingnya penguasaan bahasa inggris, telah membuat suatu kegiatan ekstra atau wadah
atau grup/klub debat bahasa inggris untuk mempersiapkan mahasiwanya mengikuti
ajang lomba debat bahasa inggris tingkat nasional. Dilain hal, masih banyak yang
belum memberikan dukungan untuk pengembangan bahasa inggris bagi peserta didiknya
dengan tidak adanya program debat bahasa inggris ini.

Dari masalah yang terjadi, pengabdi menilai pentingnya memberi sosialisasi


pengenalan debat bahasa inggris dan simulasi debat bahasa inggris bagi perguruan tinggi
yang belum memberikan program khusus untuk pengembangan bahasa inggris
mahasiswanya dengan tujuan bersama-sama mendukung peningkatan Sumber Daya
Manusia Indonesia melalui bahasa inggris. Adapum target Pengabdian kepada
Masyarakat dalam hal ini adalah mahasiwa/taruna Akademi Maritim Nusantara
Banjarmasin. Perguruan tinggi/akademi ini dipilih dengan pertimbangan bahwa

13
akademi ini merupakan akademi kejuruan yang mengharuskan pihak kampus
memberi prioritas lebih terhadap skill yang harus dimiliki tarunanya untuk bisa
bersaing di dunia kerja namun sejauh ini debat bahasa inggris yang menjadi salah satu
wadah untuk pengembangan bahasa inggris mereka masih belum disosialisasikan di
lingkungan Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin. Berbekal dengan pengetahuan dan
bidang keahlian dalam Bahasa Inggris, pengabdi menerapkan, mengadopsi, serta
mengadaptasi bidang keilmuan tentang debat bahasa inggris tersebut dalam sebuah
program Pengabdian kepada Masyarakat dengan judul “Pengenalan Debat Bahasa Inggris
Model British Parliamentary untuk Beginner di Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin”.

METODE

Kegiatan Pengabdian kepada masyarakat dengan judul Pengenalan Debat


Bahasa Inggris Model British Parliamentary untuk Beginner di Akademi Maritim
Nusantara Banajarmasin dilaksanakan di Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin
disingkat AMNUS yang beralamat di Jalan Gatot Subroto, Kebun Bunga,
Kecamatan. Banjarmasin Timur, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Peserta
latih dalam program Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah taruna – taruni
tingkat 1 atau mahasiswa semester pertama/ganjil. Hal ini dimaksud agar taruna – taruni
mengenal dan paham tentang debat berbahasa [Link] atau instruktur dalam
program Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah pengabdi sendiri. Pengabdi
bertanggung jawab atas sosialisasi pengenalan dan simulasi debat bahasa Inggris
yang dilakukan di Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin. Adapun alat dan
bahan yang digunakan pengabdi demi kelancaran kegiatan Pengabdian kepada
Masyarakat ini adalah handout mengenai materi debat bahasa Inggris metode British
Parliamentary, laptop, dan proyektor.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanaan di ruangan kuliah
atau lokal – lokal Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin. Materi pelatihan yang
dijelaskan atau disampaikan adalah penjelasan tentang debat bahasa Inggris metode
British Parliamentary dan simulasinya. Simulasi dilaksanakan langsung oleh taruna –
taruni tingkat 1 Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin (AMNUS Banjarmasin).
Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memberi bekal
pengetahuan dan pengalaman mengenai debat bahasa Inggris yang tentunya akan muncul
jiwa kompetitif bagi taruna – taruni, sekaligus melatih kemampuan bahasa Inggris
mereka yang akan meningkatkan kualitas mereka. Dengan simulasi ini, taruna –
taruni akan terbiasa dan mengenal debat bahasa Inggris ini hingga mungkin akan diikuti
ada jenjang yang lebih tinggi yang telah difasilitasi oleh pemerintah berupa lomba-
lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional ataupun internasional.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam proses kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, pengabdi


memfokuskan dan hanya mengenalkan ke peserta latih pada sistem debat Bahasa
Inggris model British Parliamentary. Namun, sebelum memasuki dengan penjelasan
debat bahasa Inggris ini, taruna – taruni juga diberikan gambaran umum mengenai
debatkhususnya debat berbahasa Inggris mulanya.

14
Di awal kegiatan pengenalan debat berbahasa Inggris ini, pengabdi mengenalkan dasar
tentang debat bahasa Inggris model British Parliamentary.

Gambar 1. Pengenalan Ciri – Ciri Debat Bahasa Inggris Model BritishParliamentary pada
taruna-taruni AMNUS Banjarmasin

Pada kegiatan awal ini, pengabdi menjelaskan ciri – ciri debat model British
Parliamentary yang harus taruna – taruni ketahui, yaitu:

a. Setiap pembicara memiliki waktu 7 (tujuh) menit untuk presentasi argument

Saat tim mendapatkan giliran, tim bisa mempresentasikan argument yang sudah dibuat
kepada audien yakni kepada juri, tim lawan dan penonton selama 7 menit.

b. Waktu case building 15 menit

Case building adalah sesi dimana rekan debat diberikan waktu 15 menit untuk
membuat kerangka debat dan argument untuk dipresentasikan kepada juri.

c. Jumlah tim yang bertanding sekali debat ada 4 tim

Format debat model British Parliamentary ini mempunyai 4 tim yang akan
bertanding dalam sekali ronde debat, yaitu 2 tim pro dan 2 tim kontra. Masing –
masing terdiri dari 2 pembicara.

d. Tugas dari masing – masing tim

Tim pro (government) bertugas untuk mendukung/setuju dengan mosi yang


diperdebatan. Sebaliknya, tim kontra (opposition) bertugas menentang/tidak setuju
dengan mosi yang diperdebatkan.

e. Keempat tim saling berkompetisi merebut poin

f. Pendebat bisa menggunakan POI (point of information/Interruption) untuk


mengajukan interupsi

Dalam hal ini tim bisa mengajukan interupsi kepada pembicara yang sedang
mempresentasikan argument dengan catatan jika diizinkan untuk menyampaikan
interupsi jika tim lawan menerima POI/pengajuan interupsi.

15
Setelah mengenal secara umum mengenai ciri – ciri debat bahasa Inggris model
British Parliamentary, kegiatan selanjutnya yang dilakukan pengabdi adalah
menjelaskan format debat bahasa Inggris model British Parliamentary.

Gambar 2. Penjelasan Format dan Fungsi Tim Debat Bahasa Inggris ModelBritish
Parliamentary pada taruna-taruni AMNUS Banjarmasin

Format debat bahasa Inggris model British Parliamentary. Satu debat terdiri atas empat
tim yang masing – masing beranggotakan dua orang (yang disebut sebagai “members”),
seorang moderator (yang disebut “speaker of the house”), dan dewan Adjudicator
yang terdiri atas 3 atau 5 orang. Berikut penjelasan anggota –anggota dari empat tim
tersebut dari kedua tim berserta fungsinya:

Opening Government (Pro Pembuka)

1. Prime Minister atau First Government member (Pembicara Pertama Pro)

Bertugas membuat kerangka debat/setup (definisi motion, background, limitasi, stance,


team split) dan argumen debat.

2. Deputy Prime Minister atau Second Government member (Pembicara Kedua Pro)

Bertugas membuat sanggahan (rebuttal) sebelum mempresentasikan argument milik


sendiri, serta membuat argument debat.

Closing Government (Pro Penutup)

3. Member of Government atau Third Government member (Pembicara Ketiga Pro)

Pertama, bertugas membuat narasi background/isu tentang mosi (motion) debat dengan
pendekatan sudut pandang berbeda dari tim pro pembuka. Kedua, menyanggah
(rebutall) sebelum mempresentasikan argumen sendiri. Ketiga, membuat argument
lanjutan.

4. Government Whip atau Fourth Government member (Pembicara Keempat Pro)

Pertama, bertugas membuat sanggahan (rebutall) sebelum mempresentasikan


ringkasan/kesimpulan dari keseluruhan argument yang telah disampaikan tim pro.
Kedua, meringkas/menyimpulkan semua argument debat yang telah disampaikan
pembicara, 1,2 dan 3 tim pro
16
Opening Opposition (Kontra Pembuka)

1. Leader Opposition atau First Opposition member (Pembicara Pertama Kontra)

Bertugas membuat kerangka debat/setup dari sudut pandang oposisi (menyetujui definisi
motion dari tim pro, background, stance, team split), serta argument debat.

2. Deputy Leader Opposition atau Second Opposition member (Pembicara Kedua


Kontra)

Bertugas membuat sanggahan (rebuttal) sebelum mempresentasikan argumen milik


sendiri, dan membuat argument debat selanjutnya.

Closing Opposition (Kontra Penutup)

3. Member of Opposition atau Third Opposition member (Pembicara Ketiga Kontra)

Pertama, bertugas membuat narasi background/isu tentang mosi (motion) debat dengan
pendekatan sudut pandang berbeda dari tim kontra pembuka. Kedua, menyanggah
(rebuttal) sebelum mempresentasikan argument milik sendiri. Ketiga, membuat argumen
lanjutan.

4. Opposition Whip atau Fourth Opposition member (Pembicara Keempat Kontra)

Bertugas menyanggah (rebuttal) sebelum mempresentasikan ringkasan/kesimpulan dari


keseluruhan argument yang telah disampaikan tim kontra. Kedua,
meringkas/menyimpulkan semua argument debat yang telah disampaikan pembicara 1,2
dan 3 tim kontra.

Gambar 3. Skema Format Debat Model British Parliamentary

Kegiatan selanjutnya yang pengabdi diberikan kepada taruna – taruni AMNUS


Banjarmasin tingkat 1 adalah penjelasan mengenai alur jalannya debat.

17
Gambar 4. Penjelasan Alur debat Bahasa Inggris Model British Parliamentarypada taruna
– taruni AMNUS Banjarmasin

Penjelasan mengenai alur debat bahasa Inggris sangat penting bagi taruna – taruni
AMNUS Banjarmasin agar mereka nantinya ketika mengikuti debat berbahasa
Inggris mempunyai gambaran utuh bagaimana perdebatan berlangsung pada sistem debat
model ini. Alur debat bahasa inggris ini adalah sebagai berikut:

1. Semua tim debat akan mendapatkan mosi dari juri


2. Juri dan panitia penyelenggara akan memberikan waktu case building
sebanyak 15 menit untuk membuat kerangka argument
3. Ketika waktu case building habis, peserta masuk ke ruangan dan mulai debat
4. Debat dimulai dari tim pro dan kontra pembuka, setelah itu barulah tim pro
dan kontra penutup.

Debat selesai. Biasanya, pihak juri akan memberitahukan hasilnya dalam 5 – 10


menit, waktu ini digunakan juri untuk menganalisis performa debat semua tim.
Begitu selesai, aka nada sesi adjudication verbal yang memberi komentar/tanggapan
umum terkait performa debat, hasil, dan justifikasi

Gambar 5. Skema alur debat bahasa Inggris Model British Parliamentary

18
Gambar 6. PenjelasanSsistem Penilaian debat bahasa Inggris Model British
Parliamentary pada taruna – taruni AMNUS Banjarmasin

Ditahap kegiatan selanjutnya, pengabdi memberikan arahan dalam hal sistem


penilaian debat bahasa Inggris model British Parliamentary. Rincian skor dan
deskripsi penilaian dari juri terlihat pada tabel berikut.

No Scoring Description

1. 50 – 54 Argument tidak relevan sama sekali, bahkan tidak menggunakan


bahasa Inggris

2. 55 – 60 Argument yang sedikit relevan tapi tidak terstruktur sehinggasulit


mengikuti alur pesan yang ingin disampaikan

Argument yang relevan, namun strukturnya belum lengkap dan


3. 61 – 64 masih kebingungan dengan peran/fungsi pembicara (roles of
speaker)

Menguasai perannya (roles of speaker) dan mampu


menyampaikan argument yang relevan namun sebatas judul
4. 65 – 69 argument (assertion) saja tanpa ada penjelasan (reasoning)
substansi lebih [Link] argument sudah cukup mudah
dipahami.

Argument yang relevan yang dilengkapi dengan assertion (judul


5. 70 – 74 argument) dan substansi (reasoning). Namun penjelasan
(reasoning) kurang kuat

6. 75 – 79 Menyampaikan argument dengan struktur yang lengkap (AREL)


dan mempresentasikan dengan persuasive sehingga mudah
dipahami oleh audien. Masih terdapat kekurangan di

19
bagian merespon argument (POI/Rebuttal) dari tim lawan. Kurang
mengaitkan dengan goal yang diingikan mosi debat

Argument yang disampaikan sudah terstruktur lengkap (AREL),


presentasi persuasive, memberikan respon
7. 80 – 84 interupsi/sanggahan dari tim lawan, dan
menjawab/berargumen dalam mosi debat. Peran pembicara(roles
of speaker) terpenuhi. Terlalu focus dengan merespon argument
lawan tanpa adanya tambahan argument sendiri

Argument yang terstruktur baik (AREL), persuasive, peran


8. 85 – 89 pembicara terpenuhi, mampu menjawab goal/isu pada mosi,serta
meruntuhkan semua argument vital tim lawan

Setelah mengetahui sistem penilaian beserta deskripsinya (scoring rubric), taruna – taruni
juga disajikan penjelasan mengenai poin tim perolehan untuk menjadi pemenang di
lomba debat ini. Dalam lomba debat Parliamentary British, ada 4 tim yang bertanding,
maka dari itu juri akan memberikan hasil dalam bentuk rangking 1-
4. Tiap rangking mempunyai total skor poin yang berbeda. Untuk rangking 1 point
yang didapat adalah 3, rangking 2 dengan poin 2, rangking 3 dengan poin 1, dan
yang terakhir dengan poin 0. Semakin bagus rangking, semakin besar victory point yang
didapatkan. Selain itu dalam setiap ronde debat dari babak penyisihan, semua tim akan
mengumpulkan victory point. Semakin besar victory point yang didapatkan, semakin
besar peluang untuk maju ke babak quarter, octo, semi dan final.

Gambar 7. Penjelasan Vicory point debat Bahasa Inggris Model BritishParliamentary pada
taruna – taruni AMNUS Banjarmasin

Setelah mendapatkan arahan mengenai debat bahasa Inggris model British


Parliamentary, sebagai pembuktian bahwa taruna – taruni AMNUS Banjarmasin
sudah mengerti alur jalannya debat ini, maka pengabdi memberi kesempatan untuk
mereka mensimulasikan debat berbahasa Inggris model British Parliamentary ini. Hal
yang pertama dilakukan pengabdi dalam simulasi ini adalah memilih beberapa taruna –
taruni dalam 2 tim, yaitu tim Government dan tim Opposition. Kemudian,

20
pengabdi memberikan mosi (judul atau topic) dari debat. Dalam simulasi ini mosi yang
dipilih adalah Playing game can improve vocabulary and motivation learning English.
Alasan pengabdi memberikan mosi ini karena hal tersebut langsung berkaitan dengan
kegiatan sehari – hari taruna – taruni yang selain mengikuti perkuliahan di kampus,
pastinya juga mereka bermain game diluar perkuliahan.

Gambar 8. Pemberian mosi debat bahasa Inggris kepada taruna-taruni AMNUS


Banjarmasin

Tahap selanjutnya, pengabdi memberikan waktu 15 menit sesuai dengan alur debat yang
telah dijelaskan sebelumnya untuk membuat kerangka argument (case building).

Gambar 9. Case Building selama 15 menit

Setelah memberikan waktu untuk case building, para perserta atau taruna – taruni
AMNUS tingkat 1 AMNUS Banjarmasin diminta untuk bersiap-bersiap memulai
debatnya. Di tahap ini, pengabdi juga memberi arahan lagi mengenai masing-masing
tugas atau fungsi dari masing – masing anggota. Dan menjelaskan ulang lagi alur
jalannya debat bahasa Inggris ini. Untuk level pemula atau beginner, pengabdi
menyarankan jika penggunaan bahasa Inggris terasa sulit bagi mereka atau ketika
menemukan kata atau vocabulary yang mereka masih tidak mengetahuainya, maka
mereka diizinkan untuk menggunakan mixing language atau menggunakan bahasa
Indonesia. Dengan catatan, nanti itu menjadi tugas dan PR bagi taruna – taruni
AMNUS untuk mencari vocabularynya dalam bahasa Inggris.

21
Gambar 10. Persiapan Simulasi debat Bahasa Inggris

Setelah pengabdi merasa taruna – taruni AMNUS sudah mulai memahami alur
jalannya debat bahasa Inggris model British Parliamentary ini, dibawah pengawasan para
pengabdi mereka memulai debat.

Gambar 11. Taruna – Taruni AMNUS Banjarmasin berdebat menggunakanBahasa Inggris

Di tahap ini, mereka mendapatkan arahan mengenai point apa saja dan bagaimana
membuat argument serta cara menyanggah (rebuttal) yang baik dan benar.

Simulasi debat Bahasa Inggris dilaksanakan sesuai format dan alur jalannya debat yang
telah dijelaskan sebelumnya. Dimulai dari pembukaan dilanjutan dengan tahap case
building serta memberikan argument dan rebutall. Diakhiri dengan closing dari kedua
tim. Selama berjalannya simulasi debat, para taruna – taruni atau peserta debat tetap
dapat menanyakan sesuatu yang mereka anggap menyulitkan dan membuat mereka
bingung disela-sela simulasi dilakukan.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil yang dapat dilihat dari proses pengenalan debat Bahasa Inggris model
British Parliamentary yang dilaksanakan di AMNUS Banjarmasin dalam program
Pengabdian kepada Masyarakat, program ini berjalan lancer dan berhasil

22
mencapai target yang diingikan para pengabdi. Taruna – taruni AMNUS
Banjarmasin menyatakan bahwa mereka telah mendapatkan gambaran tentang
menghadapi lomba debat menggunakan bahasa Inggris dan berkeinginan untuk
mengikuti lomba bahasa Inggris kedepannya. Dengan pengenalan dan simulasi debat ini,
taruna – taruni merasakan hal ini dapat membentuk karakter dan kepribadian mereka
yang terampil dan berpikir kritis. Selain itu, mereka berpendapat dengan program ini,
mereka lebih percaya diri untuk beragumen dengan menggunakan bahasa Inggris dan
lebih tau cara beragumen yang baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA

DIKTI. 2010. Panduan National University English Debating Championship (NUEDC).Departemen


Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Fatimah, Hidayahni Amin. Asfah, Indrawati. Luchriani, Seny. (n.d) Implementasi


debat Bahasa Inggris dengan metode British Parliamentary. Prosiding Seminar
Nasional. Universitas Negeri Makassar.

Morgan, G. Rhydian.(n.d). British Parliamentary Debating. New York: Tylus Communication.

Rahmadhani, Maitri. 2020. Pengenalan dan Simulasi Debat Bahasa Inggris pada SMKNegeri 2
Jambi. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JPKM). STKIP Al Maksum
Langkat, Stabat, Indonesia.

23

Anda mungkin juga menyukai