KAJIAN TENTANG KEBIJAKAN
PEMERINTAH TERKAIT RUANG TERBUKA
HIJAU (RTH) DAN IMPLEMENTASINYA DI
KOTA BANDA ACEH
Oleh: Rizky Aulia
NPM: 2304204010008
Dosen Pengampu: Dr. Ir. Mirza Irwansyah MBA., MLA
Program Studi Magister Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala
BACKGROUND:
PENTINGNYA RUANG TERBUKA HIJAU
1 Peran Penting 2 Timbul Maslah
Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki Berkurangnya keberadaan ruang terbuka
peran yang penting bagi kehidupan hijau, dapat mengurangi fungsi serta
manusia dan pembangunan kota manfaat RTH yang seharusnya. Apabila
berkelanjutan serta mampu memberi suatu perkotaaan tidak memenuhi RTH
manfaat ekonomi, sosial dan yang berlaku dengan pembangunan terus
lingkungan (Chiesura, 2004; Zhou & dilakukan, dapat menimbulkan
Wang, 2011; Yuhong et al. 2014) permasalahan dalam jangka panjang.
Permasalahannya seperti pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran
tanah akibat tidak adanya ruang untuk mengurai polutan yang ada di perkotaan.
Ketika polutan sudah tidak cukup dihilangkan secara alami, maka penanganan
ketika tercemar membutuhkan biaya dan waktu yang besar
MANFAAT RUANG TERBUKA HIJAU
DI PERKOTAAN
Self Purification Keseimbangan Siklus Hidrologi
RTH dapat berfungsi sebagai self purification RTH berperan dalam menjaga keseimbangan
bagi udara kota, menyaring udara dan siklus hidrologi bagi kota yang bersangkutan,
mengurangi polusi udara. menetralisasi limbah cair, dan menyimpan
air tanah.
Supplier Oksigen
Meredam Kebisingan
RTH juga menjadi supplier oksigen bagi
makhluk hidup kota, menyuplai oksigen yang 1 ha RTH mampu meredam kebisingan 25-
diperlukan oleh penduduk kota. 80% dan mengurangi kekuatan angin
sebanyak 75-80%.
Menurunkan Suhu Udara
1 ha RTH mampu mengurangi suhu empat sampai delapan derajat Celsius, setara dengan
kemampuan lima unit alat pendingin udara berkapasitas 2.500 Kcal/20jam.
Kebijakan Publik: Implementasi Menjadi Program
1 Kebijakan Publik
Menurut Dunn (2003), kebijakan publik merupakan suatu rangkaian pilihan-pilihan yang saling
berhubungan (termasuk keputusan-keputusan untuk tidak bertindak) yang dibuat oleh Lembaga
atau pejabat pemerintah pada bidang-bidang yang menyangkut tugas pemerintahan. Kebijakan
publik selalu mengandung setidak-tidaknya tiga komponen dasar, yaitu tujuan yang luas, sasaran
yang spesifik, dan cara mencapai sasaran tersebut (Wibawa, Purbokusumo, dan Pramusinto,1994).
2 Implementasi Kebijakan
Sebuah kebijakan dapat diturunkan menjadi sebuah Program yang lebih operasional sehingga
lebih memudahkan untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Sebagaimana yang disebutkan oleh
Wibawa (1994) bahwa dalam proses implementasi birokrasi pemerintah menginterpretasikan
kebijakan menjadi program.
3 Faktor Penentu Keberhasilan
Korten (dalam Subarsono, 2010) mengajukan suatu model bahwa keberhasilan suatu program
akan ditentukan oleh hubungan dari tiga aspek yaitu jenis program, benefeciaries (penerima
program) dan organisasi pelaksana program.
Ruang Terbuka Hijau
Definisi Ruang Ruang Terbuka Hijau Klasifikasi Ruang
Ruang didefinisikan sebagai tempat, Berdasarkan Undang-undang Nomor 1. Ruang Terbuka Hijau Privat, adalah
konsep yang dalam proses 26 Tahun 2007 Tentang Penataan kawasan hijau milik institusi tertentu
perkembangannya membentuk atau orang perseorangan yang
Ruang dijelaskan bahwa ruang terbuka
dimensi yang bisa dikatakan sebagai pemanfaatannya untuk kalangan
hijau adalah area memanjang / jalur
tempat tinggal sehingga harus ditata
atau mengelompok, yang terbatas.
sebaik mungkin supaya tercapai
penggunaannya lebih bersifat terbuka, 2. Ruang Terbuka Hijau Publik, Ruang
kenyamanan, kesejahteraan, dan
tempat tumbuh tanaman, baik yang Terbuka Hijau Publik, yaitu kawasan
kelestarian hidup manusia (Wahid
tumbuh secara alamiah maupun yang hijau yang dikelola oleh pemerintah
2014).
sengaja ditanam daerah kota / kabupaten yang
digunakan untuk kepentingan
masyarakat secara umum.
Ruang Terbuka Hijau: Fungsi dan
Peraturan
1 Fungsi Ruang Terbuka Hijau 2 Peraturan Terkait RTH
Dirjen Cipta Karja Departemen Menurut Peraturan Menteri Dalam
Pekerjaan Umum mendiskripsikan
Negeri Nomor 1 Tahun 2007
fungsi-fungsi Ruang Terbuka Hijau
(RTH) sebagai berikut: 1. Menjamin Tentang Penataan Ruang Terbuka
ketersediaan oksigen 2. Menciptakan Hijau Kawasan Perkotaan, Ruang
iklim yang sehat dan bebas polusi 3. Terbuka Hijau adalah “bagian dari
Menciptakan suasana teduh, nyaman, ruang terbuka suatu kawasan
bersih dan indah. 4. Mengendalikan
perkotaan yang diisi oleh
tata-air optimal [Link]
sarana rekreasi dan wisata kota 6. tumbuhan dan tanaman guna
Lokasi cadangan untuk keperluan mendukung manfaat ekologi, sosial,
sanitasi kota 7. Sebagai sarana budaya, ekonomi dan estetika”.
penunjang pendidikan dan penelitian
8. Evakuasi bila terjadi bencana, dsb
Pemenuhan Persyaratan RTH
1 Kebijakan Pemerintah
Indonesia memiliki kebijakan pengelolaan RTH yang diatur dalam
berbagai peraturan pemerintah yang bertujuan untuk melindungi,
mempertahankan, dan meningkatkan kualitas RTH guna mendukung
kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
2 Kewajiban Minimal
Berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang pasal 29 yang menyebutkan bahwa proporsi RTH pada wilayah
kota minimal 30% dari luas wilayah kota (RTH publik minimal sebesar
20% dan RTH privat 10% dari luas wilayah kota)
3 Kecenderungan Penurunan Kualitas RTH
Fenomena yang terjadi selama tiga puluh tahun terakhir adalah adanya
kecenderungan terjadinya penurunan kualitas ruang terbuka publik
secara signifikan, terutama ruang terbuka hijau (RTH).
Pemenuhan Persyaratan Ruang
Terbuka Hijau
Persyaratan Minimum
Pemenuhan 30% sebagaimana diatur Pasal 29 ayat (2) lebih lanjut dirinci
dalam ayat (3) yang menyatakan bahwa Proporsi ruang terbuka hijau publik
pada wilayah kota paling sedikit 20 (dua puluh) persen dari luas wilayah
kota.
Peraturan Terkait
Dalam Peraturan Menteri PU No. 5 tahun 2008 tentang Pedoman
Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan dijelaskan bahwa
luas RTH kota minimum tersebut merupakan ukuran minimum untuk
menjamin keseimbangan ekosistem kota.
Peran Pemerintah dalam Pengelolaan
Ruang Terbuka Hijau
Tanggung Jawab Pemerintah kota/kabupaten bertanggung
jawab dalam penyediaan dan
pemeliharaan RTHKP Publik.
Kerjasama Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat bekerjasama dengan
pemerintah kota/kabupaten
mengembangkan Program Pengembangan
Kota Hijau.
Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau:
Tanggung Jawab dan Program
Tanggung Jawab Pemerintah Program Pengembangan Kota Hijau
Dalam pelaksanaannya memenuhi ruang Demi memenuhi kebutuhan total minimal ruang terbuka hijau sebanyak
terbuka hijau sebagaimana sesuai dengan 30%, P2KH menetapkan Langkah-langkah strategis sebagai bentuk
upayanya, yaitu:
ketentuan perundang-undangan yang berlaku,
a. Menentukan kawasan yang dilarang untuk dilakukan pembangunan:
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan b. Membangun lahan hijau baru, memperluas RTH lewat pembelian lahan
Rakyat bekerjasama dengan pemerintah c. Mengembangkan koridor ruang hijau kota:
kota/kabupaten mengembangkan Program d. Mengakuisisi RTH privat, menjadikan bagian RTH kota:
Pengembangan Kota Hijau yang kemudian e. Meningkatkan kualitas RTH kota melalui refungsi RTH eksisting
f. Menerapkan penghijauan terhadap bangunan (green roof/green wall)
disingkat (P2KH).
g. Menyusun kebijakan hijau
h. Memanfaatkan komunitas hijau
Implementasi Kebijakan Pengelolaan RTH di Kota Banda Aceh
Pelaksanaan penataan ruang yang menjadi tanggung jawab
pemerintahan daerah merupakan bentuk dari representasi pelaksanaan
fungsi desentralisasi yang menjadi salah satu landasan pelaksanaan
pemerintahan daerah berlandaskan otonomi.
Pengaturan ruang terbuka hijau (RTH) dalam regulasi tata ruang
memberikan jaminan serta memberikan target yang harus dicapai oleh
pemerintah Banda Aceh, ini merupakan turunan dari undang-undang
yang harus dilaksanakan. Dalam hal ini pemerintahan Banda Aceh sudah
menyiapkan RTRW tahun 2009 sampai tahun 2029 dalam Qanun Banda
Aceh No. 1 Tahun 2009 tentang RTRW Banda Aceh Tahun 2009-2029.
Kebijakan Pengelolaan RTH di Kota
Banda Aceh
Kebijakan pengelolaan RTH di Kota Banda Aceh diatur dalam berbagai peraturan pemerintah,
antara lain Peraturan Daerah Kota Banda Aceh Nomor 10 Tahun 2011 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kota Banda Aceh dan Peraturan Wali Kota Banda Aceh Nomor 5 Tahun 2015
tentang Pedoman Pengelolaan RTH di Kota Banda Aceh.
Peraturan Daerah Peraturan Wali Kota
Peraturan Daerah Kota Banda Aceh Nomor Peraturan Wali Kota Banda Aceh Nomor 5
10 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Tahun 2015 tentang Pedoman
Ruang Wilayah Kota Banda Aceh Pengelolaan RTH di Kota Banda Aceh.
Tugas BAPPEDA
Stakeholder
Perumusan kebijakan teknis perencanaan, melakukan koordinasi
perencanaan diantara Dinas-dinas, satuan organisasi lain dalam
lingkungan pemerintah daerah, instansi-instansi vertikal, kecamatan-
Badan Perencanaan dan kecamatan dan badan-badan lain yang berada dalam wilayah Daerah
Pembangunan Daerah Kota Banda Aceh serta Memonitor pelaksanaan pembangunan Ruang
(BAPPEDA) Kota Banda Terbuka Hujau Publik di Kota Banda Aceh
Aceh
Tugas Dinas PUPR
Perumusan, perencanaan, pelaksanaan teknis tata ruang dan
Dinas PUPR Kota Banda Aceh
lingkungan khususnya dalam menjalankan penyediaan Ruang
Terbuka Hjau Publik Kota Banda Aceh.
Dinas Lingkungan Hidup, Tugas DLHK3
Kebersihan, dan Keindahan
Melakukan perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan Ruang
Kota Banda Aceh
Terbuka HIjau Kota Banda Aceh.
Visi Kota Banda Aceh sebagai Kota
Terhijau
Sejalan dengan pengembangan kota hijau yang diupayakan oleh pemerintah Kota Banda Aceh
dengan visi menjadikan Kota Banda Aceh sebagai kota terhijau di Indonesia tahun 2034
dimana salah satu kebijakannya adalah penyediaan RTH publik sebesar 20,52 % pada tahun
2029 seperti yang termuat dalam RTRW Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029 yang disahkan
melalui Qanun Nomor 4 Tahun 2009.
1 Visi Kota Terhijau
Visi Kota Banda Aceh adalah menjadi kota terhijau di Indonesia pada tahun 2034.
2 Kebijakan RTH
RTRW Kota Banda Aceh menetapkan target RTH publik sebesar 20,52% pada
tahun 2029.
Program Pengembangan RTH di Kota
Banda Aceh
Atas dasar regulasi tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh mulai mengembangkan secara
bertahap pembangunan berbasiskan green city dengan cara menata Taman Taman Kota, Hutan
Kota, Jalur Hijau Jalan, Penataan Jalur Hijau Sungai, menata jalur sepeda, serta meningkatkan
kuantitas RTH Perkotaan dengan melakukan pembebasan lahan kawasan permukiman yang akan
difungsikan sebagai Taman Kota dan Hutan Kota.
Taman Taman Kota Meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau
perkotaan.
Hutan Kota Menjaga keberlanjutan lingkungan kota.
Pengembangan Kota Hijau
Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) yang dicetuskan oleh pemerintah pusat pada tahun
2011 melalui Kementerian Pekerjaan Umum secara bertahap terus dilaksanakan oleh Pemkot
Banda Aceh diantaranya dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas RTH sebagai salah satu dari
8 atribut Kota Hijau.
Keberlanjutan Perencanaan Kota
Program P2KH bertujuan untuk menciptakan P2KH fokus pada perencanaan dan
kota yang berkelanjutan. pengembangan kota yang berkelanjutan.
Konsep Pengembangan Ruang
Terbuka Hijau
Konsep pengembangan RTH sendiri didasarkan dari Panduan P2KH, Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan
Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, dan standar kebutuhan 20 % RTH publik dan 10 %
RTH privat seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang.
Panduan P2KH
Panduan P2KH menjadi landasan untuk konsep pengembangan RTH di kawasan
perkotaan.
Peraturan Menteri
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum menjadi acuan dalam pengembangan RTH.
PENGELOLAAN RTH DI KOTA BANDA ACEH
Kebijakan Tipe-Tipe RTH
Pengelolaan RTH Adapun RTH kota Banda Aceh yang
direncanakan terdiri dari :
Dalam Qanun Kota Banda Aceh a. RTH sempadan sungai;
Nomor 4 Tahun 2009 tentang b. RTH sempadan pantai;
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota c. RTH sepanjang jaringan jalan;
Banda Aceh Tahun 2009- 2029 pasal d. RTH pemakaman;
53 disebutkan bahwa RTH e. RTH taman Kota;
sebagaimana dimaksud dalam pasal f. RTH hutan Kota; dan
49 bertujuan untuk fungsi ekologis, [Link] sebagai penyangga dan pembatas
ekonomi dan estetika. antara kegiatan perkotaan yang berbeda.
Capaian dan Tantangan
Pengembangan RTH
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup
Kebersihan Keindahan Kota, secara keseluruhan
total RTH publik Kota Banda Aceh saat ini seluas
845,43 ha. atau 14,33% dari 20% yang disyaratkan
dan ruang terbuka hijau privat mencapai 10%. Luas
ruang terbuka hijau privat telah mencapai target
sesuai undang-undang, Namun, target RTH publik
belum mencapai target.
Kesenjangan antara target dan capaian RTH publik
sekitar 5,7%. Hal ini menunjukkan bahwa
ketersediaan RTH publik di Banda Aceh belum
memadai.
Belum tercapainya target disebabkan oleh lambatnya
pertumbuhan luas RTH.
Pemenuhan Ruang Terbuka Hijau: Tantangan dan Kendala
1 Tantangan dan Hambatan 2 Kendala Finansial
RTH tidak jarang menjadi korban pembangunan Berdasarkan data, pertumbuhan area terbuka hijau
infrastruktur. Hal ini diakibatkan oleh Kota Banda Aceh hanya mencapai 0,2-0,3% per
✓ Belum terintegrasinya perencanaan rth dengan tahun. Padahal untuk mencapai target 30%
perencanaan infrastruktur lain yang mengakibatkan RTH pada tahun 2029 sesuai RTRW 2009-2029,
rusaknya lahan rth untuk pembangunan infrastruktur pertambahan RTH harus mencapai sekitar 0,6-0,7%
seperti jalan, saluran air minum, dan lain-lain. per tahun. Hal ini disebabkan oleh sulitnya memenuhi
✓ Belum ada peraturan yang mengikat pemerintah level kebutuhan budget untuk mencapai target perluasan
gampong untuk perluasan rth. selama ini, perluasan rth RTH publik per tahun. Hal ini berdampak pada
dilakukan secara top-down oleh dinas terkait. saat ini program-program perluasan RTH seperti belum
percepatan perluasan rth belum didukung oleh regulasi maksimalnya rehabilitasi kawasan hutan bakau di
yang kuat. akibatnya, pertumbuhan rth terhambat. utara kota.
✓ Konsep perluasan RTH yang potensial seperti
pembuatan taman di level gampong juga tidak berjalan.
THANK YOU