Dimensi Kepuasan Pelanggan Modul 6
Dimensi Kepuasan Pelanggan Modul 6
Retention
Management
Customer Satisfaction dan Customer
Equity
Fakultas : FBIS
06
Kode Matakuliah :
[Link]
Pembahasan
Di era digital yang sedang kita hadapi ini, begitu semakin mengurita usaha atau bisnis yang ada
di dunia. Persaingan bisnis yang semakin kompetitif, kepuasan pelanggan adalah aset berharga;
yang menjadi faktor penentu keberhasilan suatu perusahaan. Keberhasilan suatu perusahaan
tidak hanya ditentukan oleh produk atau layanan yang ditawarkan, tetapi juga oleh sejauh mana
pelanggan merasa puas dengan pengalaman yang mereka dapatkan. Pelanggan yang puas
cenderung menjadi pelanggan loyal yang tidak hanya akan tetap menggunakan produk atau
layanan yang ditawarkan, tetapi juga akan merekomendasikan kepada orang lain. Jadi kunci
utama dalam membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan adalah kepuasan pelanggan
itu sendiri atau dalam dunia bisnis dikenal dengan istilah Customer Satisfaction.
Customer satisfaction atau kepuasan pelanggan penting khususnya bagi sebuah bisnis.
Kepuasan pelanggan sangat penting karena memiliki dampak yang signifikan pada kesuksesan
suatu perusahaan. Ketika pelanggan merasa puas dengan produk atau layanan yang mereka
terima, mereka cenderung akan tetap loyal, memberikan referensi positif, dan meningkatkan
retensi pelanggan. Pelanggan yang puas juga cenderung menghabiskan lebih banyak uang
dalam jangka panjang sehingga dapat meningkatkan pendapatan perusahaan. Selain itu,
kepuasan pelanggan juga dapat membantu dalam membangun citra positif perusahaan,
memperkuat merek, dan mengurangi risiko dari ulasan negatif atau keluhan publik. Dengan
fokus pada kepuasan pelanggan, perusahaan dapat membangun hubungan jangka panjang yang
menguntungkan dan memperoleh keunggulan kompetitif di pasar yang semakin kompetitif.
[Link]
I. Nilai Pengukuran Kepuasan Pelanggan
a. Pengertian Kepuasaan Pelanggan
Menurut Kotler dan Keller (2002) pelayanan ialah setiap tindakan yang ditawarkan
oleh suatu pihak kepada pihak lain yang dasarnya tidak berwujud dan tidak
berdampak pada kepemilikan. Kualitas pelayanan dipengaruhi oleh pelayanan yang
dirasakan dan pelayanan yang diharapkan. Pendapat lain, menurut Tjiptono (2005)
pelayanan adalah upaya pemilik jasa dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan
pelanggan serta ketepatan dalam penyampainnya sehingga dapat mengimbangi
harapan pelanggan.
Menurut C Stemvelt (2004) dalam Payangan (2013) menyatakan bahwa
konsep kualitas layanan adalah suatu persepsi tentang revolusi kualitas secara
menyeluruh yang terfikirkan dan menjadi suatu gagasan yang harus dirumuskan
agar penerapannya dapat diuji kembali menjadi proses yang dinamis, berlangsung
terus-menerus dalam memenuhi kepuasan pelanggan. Pelayanan merupakan unsur
penting untuk menciptakan kepuasan pelanggan. Pelayanan yang berkualitas akan
berdampak pada pemenuhan harapan pelanggan. Menurut Parasuraman et. Al
(1990) kualitas pelayanan ialah pemberian pelayanan yang terbaik dibandingkan
dengan ekspektasi pelanggan.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa kualitas
layanan adalah hasil penilaian pelanggan terhadap perbedaan antara harapan dan
kenyataan yang dirasakan dari layanan yang mereka terima dari penyedia layanan,
baik penilaian secara Sebagian atau secara keseluruhan. Apabila persepsi pelanggan
sesuai dengan yang diharapkan maka kualitas layanan dianggap baik namun jika
persepsi pelanggan tidak sesuai harapan maka kualitas layanan dianggap buruk.
[Link]
Baik dan buruknya kualitas layanan tergantung pada kemampuan penyedia jasa
dalam memenuhi harapan pelanggan secara konsisten.
Dalam buku teks standar Marketing Management yang ditulis oleh Kotler &
Keller (2012) dalam buku Tjiptono (2019:378) menyatakan bahwa kepuasan
pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau
hasil yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Menurut Fatihudin dan
Firmansyah (2019:206) kepuasan pelanggan adalah pengukuran atau indikator
sejauh mana pelanggan atau pengguna produk perusahaan atau jasa sangat senang
dengan produk-produk atau jasa yang diterima, kepuasan pelanggan adalah
perbandingan antara harapan terhadap persepsi pengalaman (dirasakan/diterima).
Menurut Tjiptono (2019:379) mengidentifikasi tiga komponen utama dalam definisi
kepuasan pelanggan:
a. Tipe respon (baik respon emosional /afektif maupun kognitif) dan
intensitas respon (kuat hingga lemah, biasanya dicerminkan lewat istilah-
istilah seperti “sangat puas”, “netral”, “sangat senang”, “frustasi”, dan
sebagainya).
b. Fokus respon, berupa produk, konsumsi, keputusan pembelian, wiraniaga,
toko, dan sebagainya.
c. Timing respon, yaitu setelah konsumsi, setelah pilihan pembeliaan,
berdasarkan pengalaman akumulatif, dan seterusnya.
Jadi menurut beberapa definisi yang dikemukakan para ahli tersebut, dapat
disimpulkan bahwa kepuasan pelanggan adalah suatu hasil dari perbandingan antara
harapan dan kinerja yang dirasakan dan diterima setelah pemakaian jasa. Menurut
Fatihudin dan Firmansyah (2019:178) harapan sering dinyatakan sebagai titik acuan
(point of reference) perbandingan antara apa yang dirasakan dengan yang
doharapkan. Jika harapan tidak sesuai, maka pelanggan akan kecewa dan
kemungkinan pindah ke produk jasa pesaing. Oleh karenan itu sangat penting
[Link]
artinya bagi perusahaan untuk mengetahui harapan pelanggan dalam penyampaian
pelayanan yang berkualitas. Harapan pelanggan merupakan hubungan erat antara
penentuan kualitas dan kepuasan pelanggan. Dalam mengevaluasi suatu produk,
pelanggan akan menggunakan harapannya sebagai acuan atau standar. Secara
konseptual kepuasan pelanggan dapat digambarkan seperti ditunjukan dalam
gambar sebagai berikut:
[Link]
pengukurannya. Pertama, mengukur tingkat kepuasan pelanggan terhadap
produk atau jasa perusahaan bersangkutan. Kedua, menilai dan
membandingkannya dengan tingkat kepuasan pelanggan keseluruhan
terhadap produk atau jasa para pesaing.
2. Dimensi Kepuaan Pelanggan
Berbagai penelitian memilah kepuasan pelanggan kedalam
konponenkonponennya. Umumnya proses semacam ini terdiri atas empat
langkah. Pertama, mengidentifikasi dimensi-dimensi kunci kepuasan
pelanggan. Kedua, meminta pelanggan menilai produk atau jasa perusahan
berdasarkan item-item spesifik, seperti kecepatan layanan, fasilitas
layanan, atau keramahan staf layanan pelanggan. Ketiga, meminta
pelanggan menilai
produk atau jasa pesaing berdasarkan item-item spesifik yang sama. Dan
keempat, meminta para pelanggan untuk menentukan dimensi-dimensi
yang
menurut mereka paling penting dalam menilai kepuasan pelanggan
keseluruhan.
3. Konfirmasi Harapan (Confirmation of Expectations)
Dalam konsep ini, kepuasan tidak diukur langsung, namun disimpulkan
berdasarkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan pelanggan
dengan kinerja aktual produk perusahaan pada sejumlah atribut atau
dimensi penting.
4. Niat Beli Ulang (Repurchase Intention)
Kepuasan pelanggan diukur secara behavioral dengan jalan menanyakan
apakah pelanggan akan berbelanja atau memnggunakan jasa perusahaan
lagi.
5. Kesediaan Untuk Merekomendasi (Willingness to Recommend)
[Link]
Dalam kasus produk yang pembelian ulangnya relatif lama atau bahkan
hanya terjadi satu kali pembelian (seperti pembelian mobil, broker rumah,
asuransi jiwa, tur keliling dunia, dan sebagainya), kesediaan pelanggan
untuk merekomendasikan produk kepada teman atau keluarganya menjadi
ukuran yang penting untuk dianalisis dan ditindaklanjuti.
6. Ketidakpuasan Pelanggan (Custommer Dissatisfaction)
Beberapa macam aspek yang sering ditelaah guna mengetahui
ketidakapuasaan pelanggan, meliputi : komplain, retur atau pengembalian
produk, biaya garansi, product recall (penarikan kembali produk dari
pasar),
gethok tular negatif, dan defections (konsumen yang beralih ke pesaing).
[Link]
loyal umumnya lebih mengetahui produk yang ditawrakan dan dapat
memperkirakan kualitas produk. Selain itu pelanggan melihat ada
kecenderungan yang kuat bahwa pemasar akan mencari laba lebihbesar
dari pelanggan yang loyal.
3. Pelanggan yang loyal akan mempromosikan perusahaan kepada orang
lain (word of mouth) sehingga dapat mengurangi biaya pemasaran.
[Link]
perusahaan kepada teman-temannya.
iv. Menunjukkan kekebalan dari daya tarik pesaing (Demonstrates an
immunity to the full of competition). Tidak mudah terpengaruh oleh
tarikan persaingan perusahaan sejenis lainnya.
[Link]
ghostshoppers juga dapat mengobservasi cara perusahaan dan pesaingnya melayani
permintaan spesifik pelanggan, menjawab pertanyaan pelanggan, dan menangani
setiap masalah
atau keluhan pelanggan.
3. Lost Customer Analysis
Perusahaan seyogyanya menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli
atau yang telah beralih pemasok, agar dapat memahami mengapa hal itu terjadi dan
supaya dapat mengambil kebijakan perbaikan atau penyempurnaan selanjutnya.
Hanya saja kesulitan dalam menerapkan metode ini adalah pada mengidentifikasi
dan mengkontak mantan pelanggan yang bersedia memberikan masukan dan
evaluasi terhadap kinerja perusahaan.
4. Survei Kepuasan Pelanggan
Umumnya Sebagian besar penelitian mengenai kepuasan pelanggan menggunakan
metoda survei, baik via pos, telepon, e-mail, maupun wawancara langsung. Melalui
survei, perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik langsung dari
pelanggan dan juga memberikan sinyal positif bahwa perusahaan menaruh
perhatian terhadap mereka.
[Link]
telah dibelinya, atas berbagai macam perbandingan bebrapa produk lainnya. Citra
merek dalam strategi pengembangkan agar kuat dan melekat di konsumen
merupakan cara membuat konsumen mengenalkan produk sebagai alternatif pilihan
konsumen
(Marsellina & Budiono, 2019)
[Link]
Terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi loyalitas menurut Zikmund dalam
bukunya Vanessa loyalitas dipengaruhi oleh lima factor yaitu:
1. Satisfaction (kepuasan)
Kepuasan pelanggan merupakan perbandingan harapan sebelum melakukan
pembelian dengan kinerja yang dirasakan.
2. Emotional bonding (ikatan emosi)
Dimana pelanggan dapat terpengaruh oleh sebuah merek yang memiliki daya
tarik tersendiri sehingga pelanggan dapat diidentifikasikan dalam sebuah
merek, karena sebuah merek dapat
mencerminkan karakteristik pelanggan tersebut. Ikatan yang tercipta dari
sebuah merek ialah ketika pelanggan merasakan ikatan yang kuat dengan
pelanggan lain yang menggunakan produk atau jasa yang sama.
3. Trust (kepercayaan)
Kemauan seseorang untuk mempercayakan perusahaan atau sebuah merek
untuk melakukan atau menjalankan sebuah fungsi.
4. Choice reduction and habit (kemudahan)
Jika pelanggan akan merasa nyaman dengan sebuah merek ketika situasi
mereka melakukan transaksi memberikan kemudahan. Bagian dari loyalitas
pelanggan seperti pembelian produk secara teratur dapat didasari pada
akumulasi pengalaman setiap saat.
5. History with company (pengalaman dengan perusahaan)
Sebuah pengalaman seseorang pada perusahaan dapat membentuk perilaku.
Ketika kita mendapatkan pelayanan yang baik dari perusahaan, maka kita
akan mengulangi perilaku kita pada perusahaan tersebut.
Vanessa Gaffar menyatakan bahwa loyalitas pelanggan yang didasari perspektif sikap
dipengaruhi oleh tiga faktor pertama, sedangkan loyalitas yang didasari perspektif
[Link]
perilaku dipengaruhi oleh kedua hal lain. Kedua perspektif ini pada akhirnya dapat
membentuk derajat loyalitas pelanggan.
[Link]
Peran pelanggan dalam bisnis tidak perlu diragukan lagi. Pelanggan memberikan
nilai ekonomi tersendiri agar bisnis bisa berkembang. Nilai ekonomi pelanggan
tersebutlah yang biasa dikenal dengan istilah customer equity. Semakin besar nilai
customer equity, maka semakin tinggi pula dampak ekonomi yang pelanggan
berikan untuk bisnis. Oleh karena itu, bisnis harus berupaya untuk
mempertahankan serta meningkatkan loyalitas pelanggan agar nilai ekonomi yang
mereka berikan juga semakin tinggi.
Customer equity adalah total nilai ekonomi yang diberikan pelanggan selama
berinteraksi dengan bisnis. Nilai ekonomi tersebut dapat berupa pembelian produk
atau kontribusi mereka dalam memasarkan produk dari mulut ke
[Link] pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin lama
pelanggan bertahan terhadap suatu bisnis, maka kemungkinan nilai ekonomi yang
mereka berikan semakin tinggi. Perlu diketahui bahwa pelanggan yang bertahan
lama merupakan pelanggan loyal yang melakukan pembelian berulang. Pelanggan
loyal juga berpeluang untuk merekomendasikan produk yang mereka sukai ke
keluarga atau teman mereka. Hal tersebut mendorong bisnis memperoleh
pendapatan lebih tinggi baik dari pelanggan lama atau pelanggan baru.
Ekuitas pelanggan menjadi indikator yang berguna untuk menilai seberapa besar
kontribusi pelanggan terhadap bisnis. Hal tersebut membantu bisnis membuat
keputusan keuangan yang lebih akurat. Selain itu, keuntungan lainnya yang akan
bisnis dapatkan dengan mengukur customer equity adalah sebagai berikut:
[Link]
atau perspektif pelanggan terlebih dahulu. Kemudian dari
pemahaman tersebut, bisnis bisa menyusun strategi yang tepat untuk
mendekati pelanggan. Dengan tujuan untuk mendorong peningkatan
nilai finansial pelanggan lama.
4. Meningkatkan Pendapatan
Terakhir, kelebihan dari customer equity adalah dampak dari tiga
keuntungan sebelumnya yaitu meningkatkan pendapatan. Hal
tersebut bisa dipicu dari pelanggan yang loyal cenderung akan
melakukan pembelian berulang. Pernyataan tersebut didukung
sebuah riset seperti dikutip dari laman [Link] bahwa
[Link]
pelanggan setia membelajakan uangnya lebih dari 67% dibandingkan
pelanggan baru.
1. Value Equity
Faktor yang mempengaruhi customer equity pertama adalah value equity. Value
equity merupakan penilaian pelanggan terhadap penawaran, harga, dan tingkat
kenyamanan yang brand berikan.
2. Brand Equity
Brand equity menggambarkan prespektif pelanggan terhadap brand, bukan hanya
dari nilai produk atau layanan tapi keseluruhan brand. Sementara itu, brand equity
terdiri dari tiga elemen utama yakni, awareness, loyalty dan association. Berikut
penjelasannya:
[Link]
b. Brand loyalty: mengukur seberapa besar loyalitas pelanggan terhadap
brand Anda. Semakin tinggi loyalitas pelanggan, maka semakin tinggi
pula brand equity Anda.
c. Association brand: elemen-elemen yang mudah diingat dan diingat
orang ketika mereka memikirkan brand Anda biasanya berupa logo,
tagline, warna atau lainnya. Contoh association yang terkenal logo
ikonik “centang” dari Nike.
3. Retention Equity
Retention equity yang disebut juga sebagai relationship equity berfungsi untuk
mengukur sejauh mana suatu bisnis dapat mempertahankan pelanggan yang telah
membeli dari mereka sebelumnya.
4. Relationship equity yang tinggi menunjukkan bahwa pelanggan berulang kali memilih
bisnis yang sama daripada pesaing. Kemungkinan besar karena mereka memiliki rasa
suka dan kepercayaan pada bisnis tersebut.
Contoh perusahaan yang memiliki retention equity tinggi adalah Harley Davidson.
Perusahaan otomotif ini berhasil menjaga hubungan personal dengan pelanggannya,
sehingga pelanggan tetap melakukan pembelian berulang produk-produk mereka.
Dengan kata lain, retention equity mencerminkan tingkat loyalitas dan komitmen
pelanggan terhadap suatu bisnis. Pelanggan memilih untuk terus berhubungan dengan
bisnis sama meski banyak bisnis baru muncul.
[Link]
Sumber Referensi
Aprilatul Nafi’ah, “Analisis Hubungan Customer Satisfaction, Customer Trust dan Customer
Retention Pada Pengguna Sabun Mandi LUX di Wilayah Ngawi”, (Skripsi, IAIN
Surakarta, 2018), 18-19.
Donni Juni Priansa, Perilaku Pelanggan Dalam Persaingan Bisnis Kontemporer., 220.
Kotler, Philip, et al. 2016. "Marketing Management. Global Edition (Vol. 15E)." Global
Edition.
[Link]
Kotler, Philip, and Gary Amstrong. 2010. "Pemasaran." Jakarta: Erlangga
[Link]
Tjiptono, Fandy. 2019. "Pemasaran Jasa Edisi Terbaru." Yogyakarta: Penerbit Andi.
Vanessa Gaffar, CRM dan MPR Hotel, (Bandung: Alfabeta, 2007), 71-72.
[Link]