BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Metode Problem Solving
1. Pengertian Metode Problem Solving
Problem solving adalah suatu proses pembelajaran yang
melakukan pemusatan pada pengajaran dan keterampilan pemecahan
masalah yang diikuti dengan penguatan keterampilan. Dalam hal ini
masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin dan
belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah
mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola,
aturan).13
Metode problem solving merupakan cara memberikan
pengertian dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan,
menelaah dan berfikir tentang suatu masalah untuk melanjutkan
menganalisis masalah tersebut sebagai upaya untuk memecahkan
masalah.14 Sedangkan menurut Syaiful metode problem solving
bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu
metode berfikir, sebab dalam problem solving dapat digunakan
13
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013
(Yogyakarta : Arruzz Media, 2014) hal 13
14
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi
Guru), (Bandung : PT. Remaja Rodakarya, 2011), 142
14
15
metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada
menarik kesimpulan.15
Secara bahasa problem solving berasal dari dua kata yaitu
problem dan solves. Makna bahasa dari problem yaitu “a thing that
is difficult to deal with or understand” (suatu hal yang sulit untuk
melakukannya atau memahaminya), dapat juga diartikan “a question
to be answered orsolved” (pertanyaan yang butuh jawaban atau jalan
keluar), sedangkan solve dapat diartikan “to find an answer to
problem” (mencari jawaban suatu masalah). Sedangkan secara
terminologi problem solving seperti yang diartikan Syaiful Bahri
Djamarah dan Aswan Zain adalah suatu cara berpikir secara ilmiah
untuk mencari pemecahan suatu masalah.16
Sedangkan menurut istilah Mulyasa problem solving adalah
suatu pendekatan pengajaran menghadapkan pada peserta didik
permasalahan sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar
tentang cara berpikir kritis dan keterampilan permasalahan, serta
untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi
pembelajaran.17
Menurut As’ari dalam Suyitno pembelajaran yang mampu
melatih peserta didik berpikir tinggi adalah pembelajaran yang
berbasis pemecahan masalah. Ditambahkan pula bahwa suatu soal
15
Syaiful Bahri, Strategi Balajar Mengajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), 91
16
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 102.
17
Mulyasa, E. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hal.11
16
dapat dipakai sebagai sarana dalam pembelajaran berbasis pemecahan
masalah, jika dipenuhi 4 syarat, yaitu: 1) Peserta didik belum tahu
cara penyelesaian soal tersebut 2) Materi prasyarat sudah diperoleh
peserta didik 3) Penyelesaian soal terjangkau oleh peserta didik 4)
Peserta didik berkehendak untuk memecahkan soal tersebut.18
Metode problem solving yang dimaksud adalah suatu
pembelajaran yang menjadikan masalah kehidupan nyata, dan
masalah-masalah tersebut dijawab dengan metode ilmiah, rasional
dan sistematis. Pembelajaran dengan problem solving ini dimaksud
agar peserta didik dapat menggunakan pemikiran (rasio) seluas-
luasnya sampai titik maksimal dari daya tangkapnya. Sehingga
peserta didik terlatih untuk terus berpikir dengan menggunakan
kemampuan berpikirnya.19
Pada umumnya siswa yang berpikir rasional akan menggunakan
prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab
pertanyaan dan masalah yang telah dihadapi saat itu juga. Dalam
berpikir rasional siswa dituntut menggunakan logika untuk
menentukan sebab-akibat, menganalisa, menarik kesimpulan, dan
bahkan menciptakan hukum-hukum (kaidah teoritis) dan ramalan-
ramalan yang sesuai.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, metode pemecahan
masalah (problem solving) adalah metode pembelajaran yang dapat
18
Shoimin, 68 Model Pembelajaran, …….Hal.136
19
Armei Arif, Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam. (Jakarta: Ciputat
Pers.2002), hal. 101
17
digunakan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan
kemampuan kognitif peserta didik melalui keaktifan berfikir untuk
menyelesaikan masalah. Melalui pendekatan pembelajaran yang
menggunakan permasalahan dunia nyata.
2. Tujuan Metode Problem Solving
Metode pembelajaran merupakan salah satu penunjang guru
dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Tujuan utama dari
penggunaan metode problem solving adalah : 20
1) Mengembangkan kemampuan berfikir, terutama didalam mencari
sebab-akibat dan tujuan suatu masalah. Metode ini melatih
peserta didik dengan pendekatan dan atau cara-cara mengambil
langkah- langkah apabila akan memecahkan suatu masalah.
2) Memberikan kepada peserta didik pengetahuan dan kecakapan
praktis yang bernilai atau bermanfaat bagi keperluan hidup
sehari- hari.
3) Metode ini memberikan dasar-dasar pengalaman yang praktis
mengenai bagaimana cara-cara memecahkan masalah dan
kecakapan ini dapat diterapkan bagi keperluan menghadapi
masalah-masalah lainnya didalam masyarakat.
Menurut Resnick pembelajaran berdasarkan masalah memilki
implikasi:
1) Mendorong siswa untuk kerja sama dalam menyelesaikan tugas.
20
W. Gulo,Stategi Belajar Mengajar (Jakarta: Gramedia Widiasarana, 2002)
hal.104
18
2) Mendorong siswa untuk pengamatan dan dialog dengan orang
lain, sehingga secara bertahap siswa dapat memahami peran
orang yang diamati atau yang diajak dialog.
3) Melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri.
4) Menjadi pembelajar yang mandiri.
Dengan bimbingan guru yang secara berulang-ulang
mendorong dan mengarahkan mereka untuk mengajukan pertanyaan,
mencari penyelesaian terhadap masalah nyata oleh mereka sendiri,
siswa belajar untuk menyelesaikan tugas-tugas itu secara mandiri
dalam hidupnya kelak.21
3. Ciri – Ciri Metode Problem Solving
Metode problem solving merupakan suatu aktivitas
pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah
yang dihadapi. Terdapat 3 ciri utama dari pemecahan masalah.
Pertama, pemecahan masalah merupakan rangkaian aktivitas
pembelajaran artinya dalam implementasi pemecahan masalah ada
sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. Pemecahan masalah
tidak mengharapkan siswa hanya sekadar mendengarkan, mencatat,
kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui pemecahan
masalah siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah
data dan akhirnya menyimpulkan.
Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan
21
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, (Jakara : Kencana, 2010),
hal. 94-95
19
masalah. Pemecahan masalah menempatkan masalah sebagai kata
kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah maka tidak
mungkin ada proses pembelajaran.
Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan
pendekatan berfikir secara ilmiah. Berfikir dengan menggunakan
metode ilmiah adalah proses berfikir deduktif dan induktif. Proses
berfikir dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya
berfikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu,
sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan
pada data dan fakta yang jelas.22
Adapun menurut Abdul Majid metode problem solving
mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :23
1) Menyiapkan masalah yang jelas untuk diselesaikan. Masalah ini
harus tumbuh dari peserta didik sesuai dengan taraf
kemampuannya, juga sesuai dengan materi yang
disampaikannya. Serta ada dalam kehidupan nyata peserta didik.
2) Merumuskan penyelesaian masalah dengan berbagai pendekatan.
Mencari data atau keterangan yang dapat memecahkan masalah
tersebut. Misalnya dengan membaca buku, meneliti, bertanya,
atau pengalaman peserta didik sendiri.
3) Menyelesaikan masalah sesuai rencana. Melakukan pembuktian
22
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidkan, (Jakarta : Kencana Prenada Meda Group, 2009), hal 214-215
23
Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2013), hal. 213
20
atau pengecekan dari tiap tahap rencana penyelesaian masalah
yang telah dirumuskan. Kemudian menjelaskan tahap-tahap
penyelesaian dengan benar.
4) Menguji jawaban dan menarik [Link] jawaban
yang telah dilakukan dalam penyelesaian masalah. Kemudian
memberikan penekanan dan menarik kesimpulan atas
penyelesaian masalah.
4. Langkah–Langkah Pembelajaran dalam Metode Problem Solving
Menurut David Johnson mengemukakan ada 5 langkah dalam
metode problem solving melalui kegiatan kelompok yaitu :24:
1) Mendefinisikan masalah, merumuskan masalah dari peristiwa
tertentu yang mengandung materi yang menarik untuk dibahas,
sehingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji.
Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan
siswa tentang materi yang menarik untuk dibahas dan
dipecahkan.
2) Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya
masalah serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa
menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam
penyelesaian masalah.
3) Merumuskan alternatif strategi yaitu menguji setiap tindakan
yang telah dirumuskan. Pada tahapan ini setiap siswa didorong
24
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2009), h. 91
21
untuk berfikir mengemukakan pendapat dan argumentasi.
4) Menentukan dan menetapkan strategi pilihan yaitu pengambilan
keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
5) Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi
hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh kegiatan
pelaksanaan kegiatan, sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi
terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.
Sedangkan menurut Nana mengemukakan bahwa langkah-
langkah metode problem solving ini antara lain:
1) Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus
tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.
2) Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah tersebut. Misalnya, dengan jalan membaca
buku- buku, meneliti, bertanya, berdiskusi, dan lain-lain.
3) Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan
jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah
diperoleh, pada langkah kedua di atas.
4) Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah
ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-
betul yakin bahwa jawaban tersebut betul-betul cocok. Apakah
sesuai dengan jawaban sementara atau sama sekali tidak sesuai.
Untuk menguji kebenaran jawaban ini tentu saja diperlukan
metode-metode lainnya seperti, demonstrasi, tugas diskusi, dan
22
lain-lain.
5) Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada
kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah yang ada. 25
Solso dalam Made Wena mengemukakan enam tahap
dalam pemacahan masalah yaitu :
1) Identifikasi permasalahan (identification the problem)
2) Representasi permasalahan (representation of the problem)
3) Perencanaan pemecahan (planning the pollution)
4) Menerapkan perencanaan (execute theplan)
5) Menilai perencanaan (evaluate the plan)
6) Menilai hasil pemecahan (evaluate the solution)26
5. Strategi Pembelajaran Problem Solving
Strategi pembelajaran metode problem solving dapat
diterapkan :
1) Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekadar
dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan
memahaminya secara penuh.
2) Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan ketrampilan
berfikir rasional siswa, yaitu kemampuan menganalisa situasi,
menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru,
mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat.
25
Nana Sudjana,. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2009), 85-86
26
Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer (Jakarta: Bumi
Aksara, 2010), hlm. 56.
23
3) Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk
memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
4) Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab
dalam belajarnya.
5) Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang
dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan
antara teori dan praktek).27
6. Kelebihan dan Kekurangan Metode Problem Solving
1) Kelebihan dari metode problem solving :
a) Dapat membuat peserta didik menghayati kehidupan sehari–
hari.
b) Dapat melatih dan membiasakan peserta didik untuk
menghadapidan memecahkan masalah secara terampil.
c) Dapat mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik
secara kreatif.
d) Peserta didik sudah mulai dilatih untuk memecahkan
masalahnya.
e) Melatih peserta didik untuk mendesain suatu penemuan.
f) Berfikir dan bertindak kreatif.
g) Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis.
h) Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
i) Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
27
Wina Sanjaya, ibid, hal 215
24
j) Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan
kehidupan, khususnya dunia kerja.28
2) Kekurangan dari metode problem solving :
a) Memerlukan cukup banyak waktu.
b) Melibatkan lebih banyak orang.
c) Dapat mengubah kebiasaan peserta didik belajar
dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru.
d) Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang
dibandingkandengan metode pembelajaran yang lain.
e) Kesulitan yang mungkin dihadapi.29
B. Hasil Belajar
1. Pengertian hasil belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku peserta didik
akibat belajar. Perubahan itu diupayakan dalam proses belajar
mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Hasil belajar dapat
dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu
“hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil menunjuk pada suatu
perolehan akibat dilakukan suatu aktivitas atau proses yang
28
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2009), hal. 91
29
Ibid., hal. 92
25
mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.30 Sedangkan
belajar adalah aktifitas mental/psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-
perubahan sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada
peserta didik yang mengikuti proses belajar mengajar. Hasil belajar
termasuk komponen pendidikan yang harus disesuaikan dengan tujuan
pendidikan,karena hasil belajar diukur untuk mengetahui
ketercapaian tujuanpendidikan melalui proses belajar mengajar.31
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah perubahan perilaku peserta didik akibat belajar.
Perubahan perilaku disebabkan karena ia mencapai penguasaan atas
sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar.
Pencapaian itu didasarkan atas tujuan pengajaran yang telah
ditetapkan.
Dalam sistem pedidikan nasional, hasil belajar yang akan
dicapai mengacu pada yang diklasifikasikan oleh Bloom yang secara
garis besar membagi pada tiga ranah yaitu:
1) Ranah Afektif, hasil belajar afektif dibagi menjadi lima tingkatan
yang berhubungan dengan sikap peserta didik selama proses
pembelajaran, yaitu, (a) penerimaan yaitu kesediaan menerima
rangsangan yang diterimanya, (b) partisipasi yaitu kesedian
30
Ibid…, hal. 139
31
Ibid…, hal. 42
26
memberikan respon dengan berpartisipasi dalam kegiatan untuk
menerima rangsangan, (c) penilaian yaitu kesediaan untuk
menetukan pilihan sebuah nilai dari rangsangan tersebut, (d)
organisasi yaitu kesediaan mengorganisasikan untuk menjadi
pedoman yang mantap dalam perilaku, (e) Internalisasi yaitu
menjadikan nilai-nilai yang diorganisasikan untuk tidak hanya
menjadi bagian dari pribadi dalam perilaku sehari-hari.
2) Ranah Kognitif, hasil belajar kognitif adalah perubahan tingkah
laku yang terjadi akibat pengetahuan yang dimilikinya.
3) Ranah Psikomotorik, hasil belajar pada ranah ini berhubungan
dengan keterampilan motorik, manipulasi benda atau kegiatan
yang memerlukan koordinasi saraf dan koordinasi badan.32
2. Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi
berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik dari dalam diri (faktor
internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu.33
Faktor-faktor tersebut antara lain:
1) Faktor dari dalam peserta didik yang berpengaruh terhadap hasil
belajar diantaranya kecakapan, minat, usaha, motivasi, perhatian,
kelemahan, dan kesehatan, serta kebiasaan peserta didik. Salah
satu hal penting dalam belajar yang harus ditanamkan dalam diri
peserta didik bahwa belajar yang dilakukannya merupakan
32
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem PendidikanNasional, Jakarta: Citra Umbara
33
Ibid.,…… hal 47
27
kebutuhan dirinya.
2) Faktor dari luar peserta didik yang mempengaruhi hasil belajar
diantaranya adalah lingkungan fisik dan nonfisik (termasuk
suasana kelas dalam belajar, seperti riang gembira,
menyenangkan), lingkungan sosial budaya, lingkungan keluarga,
program sekolah (termasuk dukungan komite sekolah), guru,
pelaksanaan pembelajaran, teman sekolah.34
3. Indikator Keberhasilan Belajar
Untuk mengetahui indikator keberhasilan belajar dapat dilihat
dari daya serap siswa dan prilaku yang tampak pada siswa.
1) Daya serap yaitu tingkat penguasaan bahan pelajaran yang
disampaikan oleh guru dan dikuasai oleh siswa baik secara
individual atau kelompok.
2) Perubahan dan pencapaian tingkah laku sesuai yang digariskan
dalam kompetensi dasar atau indikator belajar mengajar dari
tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa dari tidak
kompeten menjadi kompeten.
C. Fiqh
34
Sri Anitah W, Strategi Pembelajaran di SD, (Jakarta: Universitas Terbuka,
2008),hal. 27
28
1. Pengertian Fiqh
Menurut bahasa “fiqh” berasal dari kata faqiha-yafqahu-fiqihan
yang berarti mengerti atau paham berarti juga paham yang
mendalam. Secara umum, fiqih ialah suatu ilmu yang mempelajari
bermacam- macam syariat atau hukum islam dan berbagai macam
aturan hidup bagi manusia, baik yang bersifat individu maupun
masyarakat sosial.
Jadi dapat disimpulkan bahwa fiqih adalah ilmu untuk mengetahui
hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik
yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-
dalil yang jelas (tafshili).35
Menurut pengertian Fuqoha’ (ahli fiqih), fiqih merupakan
pengertian dzanni (dugaan, sangkaan) tentang hukum syari’at yang
berhubungan dengan tingkah laku manusia. Kata “fiqih” secara
etimologi berarti “faham yang mendalam”. Bila “faham” dapat
digunakan untuk hal-hal yang bersifat lahiriyah, berarti fiqih berarti
“faham yang menyampaikan ilmu dhahir kepada ilmu batin”. Karena
itulah al Tirmidzi menyebutkan, “fiqih tentang sesuatu” berarti
mengetahui batinnya sampai kepada kedalamnya.36
Di lihat dari segi ilmu pengetahuan yang berkembang dalam
kalangan ulama Islam, Fiqih itu ialah pengetahuan yang
membicarakan/membahas/memuat hukum-hukum Islam yang
35
Syafi’I Karim, Fiqih Ushul Fiqih, Cet. 1, (Bandung: C.V Pustaka Setia,
1977), hal. 11
36
Amir Syarifudin. Ushul Fiqh, Cet.1, (Ciputat: Wahana Ilmu, 1977), hal. 2
29
bersumber pada Al Qur`an, Sunnah dan dalil-dalil Syari`ah yang lain:
setelah diinformasikan oleh para ulama dengan mempergunakan
kaidah-kaidah Ushul-fiqih.37
Fiqih Islam menurut istilah adalah ilmu pengetahuan tentang
hukum-hukum Allah atas perbuatan orang-orang mukallaf, hukum itu
wajib atau haram dan sebagainya. Tujuannya supaya dapat dibedakan
antara wajib, haram, atau boleh dikerjakan. 38
Ilmu fiqih, yaitu peraturan-peraturan yang mengatur hubungan
manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan
sesamanya. Ilmu fiqih mengandung dua bagian. Pertama, ibadah,
yaitu yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan manusia
dengan tuhannya. Ibadah tidak sah (tidak diterima) kecuali disertai
dengan niat. Contoh ibadah adalah sholat, zakat, puasa, dan haji.
Kedua, muamalat, yaitu bagian yang menjelaskan tentang hukum-
hukum hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Ilmu fiqih dapat
juga disebut qanun (undang-undang).39
Menurut Mansyur, mendefinsikan bahwa : pelajaran fiqh adalah
proses membimbing dan mengarahkan dan membina perkembangan
ibadah peserta didik agar dapat hidup sesuai dengan ajaran-ajaran
agama Islam. Pendidikan fiqih juga di maksudkan untuk memberikan
arah pada kehidupan peserta didik agar mereka tidak terbawa arus
37
Zakiah Daradjad, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta:
PT. Bumi Aksara, 2004), 78
38
Mukni‟ah, Materi Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi Umum,
(Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2011), 93
39
Ibid.,… hal. 92
30
bid’ah yang mungkin di bawa oleh perkembangan zaman dan
peradaban manusia.40
Berdasarkan pendapat tersebut dapat di ambil pengertian bahwa
mata pelajaran fiqh merupakan serangkaian usaha membekali peserta
didik agar dalam beribadah sesuai dengan ajaran Islam dan mampu
mempraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari.
2. Fungsi Pembelajaran Fiqh
Secara umum, fungsi dari fiqh adalah sebagai rujukan setiap
mukallaf dalam bertingkah laku supaya sesuai dengan tuntunan
syariat Islam.41 Fiqh berfungsi sebagai sumber hukum yang dipakai
dalam bertingkah laku sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum
sehingga terbentuk masyarakat muslim yang sadar akan hak dan
kewajiban dalam kehidupan sehari-hari. Pendidik harus paham
mengenai fungsi fiqh supaya pendidikan dan pembinaan terhadap
peserta didik dapat terarah dan sesuai dengan harapan yang
ditentukan.
Sedangkan fungsi fiqh di madrasah antara lain:
a. Mendorong kesadaran peserta didik dalam beribadah kepada
Allah SWT.
b. Menanamkan hukum-hukum islam pada peserta didik.
c. Mendorong peserta didik untuk senantiasa mensyukuri nikmat
yang telah diberikan Allah SWT..
40
Mansyur,Pengantar Ilmu Fiqih,(Jakarta: Depag RI, 2000),h.28
41
Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqih, (Semarang: Dina Utama Semarang.
2014), hal. 27.
31
d. Membentuk perilaku yang taat dengan hukum yang berlaku di
masyarakat.
3. Tujuan Pembelajaran Fiqh
Pembelajaran fiqh diarahkan untuk mengantarkan peserta didik
dapat memahami pokok-pokok hukum Islam dan tata cara
pelaksanaannya untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehingga
menjadi muslim yang selalu taat menjalankan syariat Islam secara
kaffah. Pelajaran ini bertujuan membekali peserta didik agar dapat:
1) Memahami pokok-pokok hukum Islam dalam mengatur
ketentuan dan tata cara menjalankan hubungan manusia dengan
Allah yang diatur dalam fikih ibadah dan hubungan manusia
dengan sesama yang diatur dalam fikih muamalah.
2) Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan
benar dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan ibadah
sosial. Pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan ketaatan
menjalankan hukum Islam, disiplin dan tanggung jawab sosial
yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosial.42
4. Ruang Lingkup Fiqh
Ruang lingkup mata pelajaran fiqh meliputi ketentuan
pengaturan hukum Islam dalam menjaga keserasian, keselarasan, dan
keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah swt. dan
hubungan manusia dengan sesama.
42
Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor: 183 Tahun 2019
Tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada
Madrasah, Hal. 30-31
32
Adapun ruang lingkup mapel fiqh di Madrasah Tsanawiyah
meliputi:
1) Aspek fikih ibadah meliputi: tata cara bersuci dari najis dan
hadats, shalat fardlu lima waktu, shalat berjamaah, berdzikir dan
berdoa setelah shalat, shalat Jum'at, shalat jama' qashar, shalat
dalam berbagai keadaan tertentu, shalat sunnah mu'akkad dan
shalat sunnah ghairu mu'akkad, sujud sahwi, sujud tilawah, sujud
syukur, zakat, puasa wajib dan Sunnah, i'tikaf, sedekah, hibah
dan hadiah, haji dan umrah, halal-haramnya makanan dan
minuman, penyembelihan binatang, qurban dan aqiqah, dan
pemulasaraan jenazah.
2) Aspek fikih muamalah meliputi: tentang jual beli, khiyaar dan
qiraadl, riba, `aariyah dan wadii'ah, hutang-piutang, gadai dan
hiwaalah, sewa-menyewa, upah dan waris.43
5. Kurikulum Pelajaran Fiqh MTs
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.44
Pengembangan Isi kurikulum Fiqh di madrasah Tsanawiyah
43
Ibid., Hal 31
44
Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor: 183 Tahun 2019 Tentang
Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah,
Hal. 4
33
(MTs) merupakan kelanjutan dari kurikulum di MI, beberapa isi
kurikulum merupakan perluasan dan pendalaman dari kurikulum
sebelumnya. Dalam hal ini pendidik diharapkan dapat
mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan kompetensi inti
dan kompetensi dasar, sehingga peran semua unsur sekolah, orang
tua, peserta didik dan masyarakat sangat penting dalam mendukung
keberhasilan pencapaian tujuan tersebut.
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar merupakan kurikulum
hasil refleksi, pemikiran dan pengkajian dari kurikulum yang telah
berlaku sebelumnya. Kurikilum baru ini diharapkan dapat membantu
mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan di masa depan.
Standar kompetensi dan kompetensi dasar diarahkan untuk
memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam kondisi
yang penuh dengan berbagai perubahan, persaingan, ketidakpastian
dan kerumitan dalam kehidupan. Kurikulum ini diciptakan untuk
menghasilkan out put yang kompeten, cerdas dalam membangun
integritas sosial, bertanggung jawab, serta mewujudkan karakter
cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.45
Adapun Standar Kompetensi Lulusan Madrasah Tsanawiyah
(MTs) adalah sebagai berikut :
1) Sikap
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap: beriman dan
45
Ibid., hal. 5
34
bertakwa kepada Tuhan YME, berkarakter, jujur, dan peduli,
bertanggungjawab, pembelajar sejati sepanjang hayat, serta sehat
jasmani dan rohani, sesuai dengan perkembangan anak di
lingkungan keluarga, madrasah, masyarakat dan lingkungan
alam sekitar, bangsa, negara, dan kawasan regional.
2) Pengetahuan
Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan
metakognitif pada tingkat teknis dan spesifik sederhana
berkenaan dengan: ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan
budaya. Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks
diri sendiri, keluarga, madrasah, masyarakat dan lingkungan
alam sekitar, bangsa, negara, dan kawasan regional.
3) Keterampilan
Memiliki keterampilan berpikir dan bertindak: kreatif,
produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif melalui
pendekatan ilmiah sesuai dengan yang dipelajari di satuan
pendidikan dan sumber lain secara mandiri. 46
D. Penelitan Terdahulu
1. Penelitian Heni Nila Sari Mahasiswa IAIN Kudus dengan judul
“Penerapan Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan
Pemahaman Siswa Pada Mata Pelajaran SKI Di MA Nahdlatul
46
Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor: 183 Tahun 2019
Tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada
Madrasah, Hal. 16-17
35
Muslimin Tahun Pelajaran 2020/2021”. Fokus penelitian ini adalah
(1) Bagaiamana pelaksanaan penerapan metode problem solving
meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran SKI Di MA
Nahdlatul Muslimin (2) Apa saja faktor pendukung dan penghambat
yang dhadapi gru dalam penerapan metode problem solving
meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran SKI Di MA
Nahdlatul Muslimin (3) Upaya apa saja yang dilakukan guru dalam
mengatasi faktor penghambat dalam penerapan metode problem
solving meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran SKI Di
MA Nahdlatul Muslimin.47
2. Penelitian M. Akhsan Andari Mahasiswa Universitas Islam Sultan
Agung Semarang dengan judul “Implementasi Metode Problem
Solving Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMPN 2
Arut Selatan”. Fokus pada penelitian ini adalah (1) Bagaiamana
perencanaan implementasi metode problem solving dalam
iembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMPN 2 Arut Selatan (2)
Bagaiamana peaksanaan implementasi metode problem solving dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMPN 2 Arut Selatan (3)
Bagaimana evaluasi implementasi metode problem solving dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMPN 2 Arut Selatan.
Hasil penelitan menunjukan bahwa dengan menggunakan metode
problem solving sangat efektif dan mendukung belajar siswa serta
47
Heni Nila SarI Skripsi “Penerapan Metode Problem Solving Untuk
Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Mata Pelajaran SKI Di MA Nahdltul Muslimin
Tahun Pelajaran 2020/2021” (Kudus, 2021)
36
dapat mendorong motivasi belajar siswa secara langsung.48
3. Penelitian Afwah Nila Mahasiswa IAIN Kudus dengan judul “Model
Pembelajaran Problem Solving Pada Mata Pelajaran Matematika Di
Kelas 5 MI NU 05 Tamangede Kendal Jawa Tengah”. Fokus
penelitian terebut adalah (1) Bagaimana perencanaan penerapan
pembelajaran problem solving pada mata pelajaran matematika Di
Kelas 5 MI NU 05 Tamangede Kendal Jawa Tengah (2) Bagaimana
pelaksanaan penerapan pembelajaran problem solving pada mata
pelajaran matematika Di Kelas 5 MI NU 05 Tamangede Kendal Jawa
Tengah (3) Bagaimana evaluasi penerapan pembelajaran problem
solving pada mata pelajaran matematika Di Kelas 5 MI NU 05
Tamangede Kendal Jawa Tengah.49
4. Penelitian Fani Aditiawan Ramdani Mahasiswa Universitas Pamulang
Tangerang Selatan dengan judul “ Penerapan Metode Creative
Problem Solving unuk meningkatkan Hasil Belajar Pada Pembelajaran
PPKn Di SMK Sasmita Jaya 2”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pembelajaran creative problem solving dapat membantu
meningkatkan hasil belajar siswa dan repon siswa terhadap
pembelajaran creative problem solving sangat baik.50
48
M. Akhsan Andari Skripsi “Implementasi Metode Problem Solving Dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMPN 2 Arut Selatan” (Semarang, 2021)
49
Afwah Nila Skripsi “Model Pembelajaran Problem Solving Pada Mata
Pelajaran Matematika Di Kelas 5 MI NU 05 Tamangede Kendal Jawa Tengah” (Kudus,
2021)
50
Fani Aditiawan Ramdani Skripsi “ Penerapan Metode Creative Problem
Solving unuk meningkatkan Hasil Belajar Pada Pembelajaran PPKn Di SMK Sasmita Jaya
2”. (Tangerang, 2017)
37
Dari uraian penelitian terdahulu yang telah dipaparkan diatas,
maka peneliti akan mengkaji persamaan dan perbedaan antara penelitian
terdahulu, dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti. Untuk
mempermudah pemaparan persamaan dan perbedaan tersebut, akan
diuraikan dalam tabel berikut :
Tabel 2.1 Perbandingan Penelitian
No. Nama Judul Persamaan Perbedaan
Peneliti
Heni
1 Nila Penerapan Sama-sama 1. Lokasi
1. Sari Metode membahas penelitian
Problem tentang yang
Solving Untuk
penerpan berbeda
Meningkatkan
metode 2. Jenjang
Pemahaman pembelajaran pendidikan
Siswa Pada
dengan yang
Mata Pelajaran
problem diteliti
SKI Di MA solving dan 3. Mata
Nahdlatul dalam pelajaran
Muslimin penelitiannya yang
Tahun menggunakan diteliti
Pelajaran jenis
2020/[Link]
kualitatif.
2. M. Ahsan Implementasi Dalam Subyek dan lokasi
Andari Metode penelitiannya penelitian yang
Problem sama-sama berbeda, dimana
Solving Dalam menerapka pada penelitian
Pembelajaran metode terebut berlokasi
Pendidikan problem di SMPN 2 Arut
Agama Islam solving dalam Selatan,
Di SMPN 2 proses sedangkan peneliti
Arut Selatan pembelajaran berada di lokasi
MTs Assyafi`iyah
Gondang
3. Afwah Nila Model Model yang Jenjang kelas dan
Pembelajaran diterapkan mata pelajaran
Problem hampir sama, yang digunakan
Solving Pada yaitu metode untuk penelitian
38
Mata Pelajaran problem berbeda
Matematika Di solving
Kelas 5 MI (pemecahan
NU 05 masalah)
Tamangede
Kendal Jawa
Tengah
4. Fani Penerapan Sama-sama Terdapat variasi
Aditiawan Metode mengunakan metode yang
Ramdani Creative metode mampu
Problem problem menalarkan kratif
Solving unuk solvig yang siswa untuk
meningkatkan dapat berpikir kritis
Hasil Belajar membantu tentang
Pada pembelajaran permasalah
Pembelajaran menjadi pembelajarn
PPKn Di SMK efektif kewarganegaraan.
Sasmita Jaya 2 Lokasi yang di
ambil dalam
penelitian berbeda
Di dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai peneliti baru.
Meskipun antara peneliti dengan peeliti terdahulu menggunakan metode
yang sama yaitu metode pembelajaran problem solving, namun demikian
antara peneliti dengan peneliti-peneliti yang lain dalam penelitian terdahulu
tetaplah ada beberapa perbedaan. Adapun perbedaan tersebut terletak pada
lokasi, subyek, dan mata pelajaran yang diteliti.
E. Paradigma Penelitian
Menurut Sugiyono, paradigma penelitian merupakan pola pikir
yang menunjukan hubungan antar variable yang akan diteliti,
sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah atau fokus
39
penelitian yang perlu dijawab melalui penelitian.51 Paradigma penelitian juga
menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah di dalam penelitian.
Peneliti ini menghendaki adanya kajian yang menekankan pada aspek detail
yang kritis dan menggunakan pengamatan. Oleh karena itu pendekatan yang
dipakai adalah kualitatif.
Dari hasil observasi peneliti di MTs Assyafi`iyah Gondang
Tulungagung kelas VIII, terdapat beberapa kendala pada saat kegiatan belajar
mengajar berlangsung. Guru masih meggunakan metode konvensionl, yaitu
metode ceramah. Sebagian dari peserta didik ramai sendiri dan ada yang
mendengarkan penjelasan guru, akan tetapi tidak paham dengan materi yang
disampaikan. Banyak dari mereka yang merasa bosan akan penjeasan guru,
dan mengalihkan dengan cara mengajak teman sebangku untuk bermain.
Salah satu metode yang dapat digunakan dalam mata pelajaran fiqh
adalah metode pembelajaran problem solving. Metode ini dapat memberikan
motivai kepada pesera didik agar lebih aktif, kreatif dan berfikir kritis. Dengan
menerapkan metode problem solving, maka dapat menciptakan pembelajaran
yang menyenangkan dan peningkatan kualitas pembelajaran fiqh dapat
tercapai. Metode problem solving menekankan pada pemecahan masalah,
proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah juga memecahkan
masalah berdasarkan data dan informasi yang akurat. Sehingga peserta didik
dituntut aktif dan kreatif dalam mencari permasalahan yang ada dan
penyelesaianya dari masalah tersebut.
51
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendidikan Kuantitatif-Kualitatif dan R&D,
(Bandung : Alfabeta, 2015) hal. 6
40
Adapun fokus penelitian mengenai penerapan metode problem
solving untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran
fiqh adalah, bagaimana perencanaan penerapan metode problem solving
untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran fiqh,
pelaksanaan metode problem solving untuk meningkatkan hasil belajar peserta
didik pada mata pelajaran fiqh, hasil penerapan metode problem solving untuk
meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran fiqh.
Penerapan dari paradigma berfikir peneliti diatas dapat digambarkan
pada bagan berikut :
41
Penerapan metode probem solving untuk meningkatkan
hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran fiqh di MTs Assyafi`iyah
Gondang Tulungagung
Perencanaan penerapan Pelaksanaan penerapan Hasil penerapan metode
metode probem solving metode probem solving probem solving untuk
untuk meningkatkan hasil untuk meningkatkan hasil meningkatkan hasil belajar
belajar peserta didik pada belajar peserta didik pada peserta didik pada mata
mata pelajaran fiqh kelas mata pelajaran fiqh kelas pelajaran fiqh kelas VIII
VIII VIII
- Menyiapkan RPP - Daftar nilai siswa
Tahapan penerapan
- Sumber belajar metode problem solving : - Penilaian Kognitif
- Alat dan media -Mendefinisikan - Penilaian Psikomotorik
pembelajaran masalah - Peniaian Afektif
-Mendiagnosis masalah
-Merumuskan alternatif
strategi
-Menentukan dan
menerapak strategi
-Melakukan evaluasi
strategi
Gambar 2.2 Paradigma Peneliti