NAMA : DWI COP PASARIBU
NIM : 041129131
Tugas II
Akhir-akhir ini social media sering digemparkan dengan berbagai pendapat aktivis
politik maupun warga masyarakat dunia maya (nitizen) tentang berbagai macam topik
seperti seperti politik, SARA, maupun hal-hal yang sensitive bahkan tabu untuk
diperbincangkan didepan umum. Tidak sedikit dari penyampaian pendapat tersbut
menimbulkan pro kontra kegaduhan, aksi saling melaporkan bahkan rawan memicu
konflik social di masyarakat.
Analisalah fenomena di atas, dengan Langkah-langkah dibawah ini:
1. Identifikasilah jaminan hak atas kebebasan berpendapat dalam DUHAM, ICCPR,
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan UU No 39 Tahun 1999 tentang
Hak Asasi manusia!
Hak atas kebebasan berpendapat dijamin dalam berbagai instrumen hukum internasional
dan nasional, termasuk:
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM): Pasal 19 ayat (1) DUHAM
menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berpendapat, yang meliputi
kebebasan untuk mencari, menerima, dan menyebarkan informasi dan ide dengan cara
apa pun dan tanpa memandang batas-batas.
Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR): Pasal 19 ayat (2) ICCPR
mengulangi jaminan DUHAM tentang kebebasan berpendapat, dan menambahkan
bahwa hak ini hanya dapat dikenakan pembatasan yang ditentukan oleh undang- undang
dan yang diperlukan untuk melindungi keamanan nasional atau ketertiban umum, atau
untuk melindungi hak-hak dan kebebasan orang lain.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945): Pasal 28E
ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat
dan berkumpul, mengeluarkan pendapat, dan menyebarkan informasi.
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM): Pasal
28 ayat (2) UU HAM menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan untuk
menyatakan pendapat, baik lisan maupun tulisan, secara langsung maupun tidak
langsung, melalui media apa pun.
Pembahasan
Jaminan hak atas kebebasan berpendapat dalam instrumen hukum di atas memiliki
beberapa poin penting: Kebebasan ini bersifat universal: Artinya, setiap orang berhak
atas kebebasan berpendapat, tanpa memandang ras, agama, suku bangsa, jenis
kelamin, atau status lainnya. Kebebasan ini meliputi berbagai bentuk ekspresi:
Termasuk kebebasan untuk mencari, menerima, dan menyebarkan informasi dan ide,
baik secara lisan maupun tulisan, melalui media apa pun. Kebebasan ini dapat
dibatasi: Namun, pembatasan hanya dapat dilakukan dengan undang-undang dan
harus memenuhi persyaratan tertentu, seperti untuk melindungi keamanan nasional,
ketertiban umum, atau hak-hak orang lain. Penting untuk dicatat bahwa jaminan hak
atas kebebasan berpendapat tidak berarti bahwa setiap pendapat dapat diungkapkan
tanpa konsekuensi. Ada beberapa bentuk ekspresi yang tidak dilindungi, seperti ujaran
kebencian, hasutan kekerasan, dan pencemaran nama baik. Secara keseluruhan,
jaminan hak atas kebebasan berpendapat merupakan elemen penting dalam demokrasi
yang sehat. Hal ini memungkinkan individu untuk mengekspresikan diri mereka
dengan bebas, terlibat dalam debat publik, dan mempertanyakan kebijakan
pemerintah.
2. Berikan argumentasi saudara bagaimana seharusnya konstruksi hak kebebasan
berpendapat Ketika dihadapkan pada etika bermedia social terutama dalam
konteks menjaga kerukunan dalam berbangsa dan bernegara!
Argumentasi Konstruksi Hak Kebebasan Berpendapat dalam Etika Bermedia Sosial:
Hak atas kebebasan berpendapat harus diletakkan dalam konteks etika bermedia
sosial yang mencakup tanggung jawab individu dalam menggunakan platform
tersebut. Meskipun hak atas kebebasan berekspresi dijamin, namun individu harus
memahami bahwa kebebasan tersebut tidak berarti bebas dari konsekuensi.
Konstruksi hak kebebasan berpendapat di media sosial harus mencakup prinsip-
prinsip seperti menghormati pluralisme, menghindari penyebaran informasi palsu
atau fitnah, serta menghargai martabat dan hak-hak orang lain.
Dalam konteks menjaga kerukunan dalam berbangsa dan bernegara, individu harus
mempertimbangkan dampak dari setiap pendapat atau informasi yang mereka
sampaikan. Ini termasuk memastikan bahwa pendapat yang disampaikan tidak
menyebabkan konflik sosial atau merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
Pentingnya mengedepankan dialog yang konstruktif dan menghormati perbedaan
pendapat dalam kerangka yang menghormati nilai-nilai kebangsaan, seperti
Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, dalam menjaga harmoni sosial di media sosial.
Selain itu, individu juga harus sadar akan perlunya memperkuat literasi digital dan
kritis, sehingga dapat memfilter informasi yang diterima dan berpartisipasi dalam
diskusi yang bermakna tanpa terjebak dalam konten yang bersifat provokatif atau
berpotensi memicu konflik.
Pembahasan
Hak atas kebebasan berpendapat adalah salah satu hak asasi manusia yang
fundamental yang diakui secara universal. Hal ini tercermin dalam berbagai
instrumen hukum internasional maupun konstitusi negara-negara demokratis,
termasuk Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia dan Konvensi
Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. Di tingkat nasional, UUD Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 juga menegaskan hak tersebut dalam Pasal 28E
Ayat (3). Hak ini memberikan individu kebebasan untuk mencari, menerima, dan
menyampaikan informasi serta pendapat mereka tanpa takut akan represi atau
hambatan yang tidak sah. Namun, penting untuk diingat bahwa hak atas kebebasan
berpendapat tidak bersifat absolut. Dalam melaksanakan hak ini, individu harus
memperhatikan batasan- batasan yang diperlukan untuk melindungi hak-hak orang
lain, kepentingan umum, dan keamanan negara. Oleh karena itu, dalam konteks
penggunaan media sosial, individu juga harus mempertimbangkan dampak dari
pendapat dan informasi yang mereka sampaikan terhadap masyarakat dan stabilitas
sosial. Kehadiran teknologi digital dan media sosial telah memperluas ruang publik
untuk berpendapat, namun hal ini juga menuntut tanggung jawab yang lebih besar
dari setiap individu dalam menggunakan hak tersebut secara bertanggung jawab dan
etis.