0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Pemanfaatan Pakan Lokal untuk Sapi NTT

Diunggah oleh

elisabethdjawa912
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Pemanfaatan Pakan Lokal untuk Sapi NTT

Diunggah oleh

elisabethdjawa912
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (Seri III): Pengembangan Peternakan

Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto September 2015. ISBN 978-602-1004-09-8
PEMANFAATAN PAKAN TERNAK LOKAL GUNA MENGEMBALIKAN KEJAYAAN NTT
SEBAGAI SALAH SATU SENTRA TERNAK SAPI POTONG DI INDONESIA
(UTILIZATION OF FEED LOCAL RETURNS TO ADVANCE NTT AS ONE OF BEEF
CATTLE CENTER IN INDONESIA)
Yusuf L. Henuk dan Maximilian M. J. Kapa
Fakultas Peternakan, Universitas Nusa Cendana,
Email: yusufhenuk62@[Link]

ABSTRAK
Pembangunan peternakan berperan penting dalam memecahkan persoalan kemiskinan yang melilit
rakyat Indonesia. Peran sapi potong sebagai penyumbang daging terbesar kedua setelah ternak
unggas baik secara nasional maupun pada tingkat regional (daerah) tidak dapat dipungkiri. Sehingga
usaha ternak sapi potong dalam hal ini ternak sapi Bali menjadi komoditas unggulan terutama di Nusa
Tenggara Timur (NTT) sebagai salah satu sentra ternak potong nasional. Hal ini cukup beralasan
apabila ditelusuri ternak sapi potong memainkan beberapa peran ekonomi utama yakni, (1) sebagai
penyuplai energi dan protein hewani bagi masyarakat, (2) sumber tenaga kerja, (3) sebagai tabungan,
dan (4) penyedia barang dan jasa non-food lainnya. Peran ini bertambah penting bertepatan dengan
dicanangkannya program swasembada daging sapi dan kerbau tahun 2014. Masalah umum yang
dihadapi di NTT saat ini adalah masih rendahnya produksi ternak yang diakibatkan oleh kurangnya
persediaan pakan baik jumlah maupun kualitas serta kekurangan air terutama selama musim kemarau
yang berlangsung sekitar 8 – 9 bulan. Oleh karena itu, perlu adanya upaya meningkatkan
produktivitas sapi potong melalui optimalisasi pemanfaatan sumber pakan lokal (berupa pohon
maupun tanaman perdu) dan limbah pertanian seperti jerami padi, jagung, kacang-kacangan, ubi kayu,
dan sebagainya yang tersedia disamping rumput lapangan.
Kata kunci: sapi potong, pakan lokal, limbah pertanian

ABSTACT
Livestock development plays an important role in solving the problem of poverty which are hindering
the people of Indonesia. The role of cattle as the second largest contributor to the meat after poultry,
both nationally and at the regional level (local) can not be denied. So the cattle business in this case
Bali cattle become the leading commodity, especially in East Nusa Tenggara (NTT) as one of the
centers of the nation's beef cattle supplier. It is quite reasonable to explore cattle plays some major
economic role that is, (1) as a supplier of energy and animal protein for the community, (2) a source
of labor, (3) as savings, and (4) non-providers of goods and services and other non-food. The
increasingly important role coincidently with the declaration of self-sufficiency programs of beef and
buffalo in 2014. A common problem encountered in NTT is still low livestock production caused by a
shortage of both quantity and quality of feed and water shortages, especially during the dry season
which lasts about 8 - 9 months. Therefore, efforts are needed to improve the productivity of beef cattle
by optimizing the utilization of local food resources (in the form of trees or shrubs) and agricultural
residues such as rice straw, corn, beans, cassava, and so on are available in addition to the grass land.
Keywords: beef, local food, agricultural residues

PENDAHULUAN
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar dalam kunjungannya ke kota
Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 10 Januari 2015, berkesempatan bertemu Rektor
Universitas Nusa Cendana (Undana) dan tim peneliti Undana membahas program kedaulatan pangan
daging sapi di NTT sekaligus mengharapkan provinsi tersebut kembali menjadi gudang ternak sapi
potong. Program ini merupakan tindak lanjut kunjungan Presiden Joko Widodo ke NTT pada 20
Desember 2014 ketika menghadiri perayaan HUT NTT ke-56 sekaligus telah mencanangkan NTT
sebagai Provinsi Ternak. Untuk mewujudkan hal itu, Kementerian LHK telah membahas
kemungkinan penyediaan lahan untuk lahan pengembalaan (grazeland) seluas minimal 50.000 hektar
yang merupakan kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Mutis Timau (Anonimous, 2015).

18
Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (Seri III): Pengembangan Peternakan
Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto September 2015. ISBN 978-602-1004-09-8
Berdasarkan catatan sejarah di era 1970-1980-an NTT telah mengirim (ekspor) ternak sapi dan kerbau
ke luar daerah, kemudian di ekspor ke Hongkong, selain untuk memenuhi stok daging nasional.
Bahkan hingga era 1990-an, NTT merupakan salah satu gudang ternak nasional yang berada di urutan
kedua setelah Jawa Timur. Fakta sejarah ini telah diakui juga oleh Presiden Joko Widodo:
”Potensinya jelas di sini. Saya dengar, pada tahun 70-an, NTT ekspor daging ke Hong Kong.
Kejayaan seperti ini harus kita kembalikan,” katanya saat memberi sambutan pada HUT ke-56 NTT,
Sabtu (20/12/2014). Gebrakan Presiden Joko Widodo tersebut merupakan kelanjutan dari program
pemerintahan sebelumnya dimana mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada
kunjungan kerja di Kota Kupang dalam rangka Hari Pers Nasional bulan Februari 2011 menyatakan
bahwa NTT dijadikan salah satu daerah sentra pengembangan ternak sapi potong nasional dengan
harapan program swasembada daging sapi dan kerbau bisa terwujud pada Tahun 2014. Tindak lanjut
dari program tersebut adalah melalui pengalokasian dana pengembangan peternakan sebanyak Rp 5,1
triliun walaupun pada kenyataannya dana untuk pengembangan ternak sapi potong itu tidak pernah
muncul dan SBY lebih mengandalkan impor daging dari Australia ketimbang memberdayakan usaha
peternakan sapi potong domestik.
Sebaliknya, dibawah pemerintahan Presiden Joko Widodo upaya lebih nyata dilakukan dengan
kembali menstimulasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki sebagian besar petani/peternak di
Indonesia untuk usaha ternak sapi potong domestik. Upaya tersebut disambut baik oleh pemerintah
NTT dengan tekad khusus menjadikan NTT sebagai “Provinsi Ternak” dengan jenis ternak sapi yang
paling dominan adalah sapi Bali atau sering diperkenalkan “Sapi Timor” di Timor dan sapi Ongole
atau sapi Sumba Ongole (SO) di Sumba (Henuk, 2014b; Nulik, 2014).
Secara umum, pembangunan peternakan memainkan beberapa peranan ekonomi utama penting di
NTT, meliputi: (1) sebagai penyuplai energi dan protein hewani bagi masyarakat, (2) sumber tenaga
kerja, (3) sebagai tabungan, dan (4) penyedia barang dan jasa non-food lainnya seperti peran adat dan
budaya (custom and cultural roles). Sudah tidak dipertanyakan bahwa ternak masih sangat memegang
peranan dalam status sosial masyarakat NTT, misalnya untuk kepentingan perkawinan, pemakaman
maupun pesta adat lainnya. Penggunaan tenaga kerja ternak untuk pengolahan lahan pertanian belum
efisien, demikian pula pemanfaatan kotoran ternak belum banyak dipakai dalam usahatani dan
pembuatan biogas untuk menghasilkan listrik. Peranan ternak sebagai fungsi sosial secara berangsur-
angsur mulai beralih kepada fungsi ekonomi. Fakta selama ini menunjukkan usaha ternak di Indonesia
sebagian besar (90%) dikuasai tidak kurang dari 4 juta keluarga peternak di pedesaan yang sebagian
besar masih diusahakan secara sambilan dalam skala kecil. Namun selama ini harus diakui banyak
petani miskin dan gurem ini kesulitan mendapatkan pendanaan, karena ketiadaan skim kredit untuk
menciptakan skema usaha kemitraan yang menguntungkan. Usaha peternakan ini bisa distimulasi
sebagai penggerak ekonomi pedesaan yang menyerap tenaga kerja yang cukup banyak selain
menghindari pemotongan sapi betina muda, riset intensif untuk menemukan bibit (breed) lokal
unggul, sehingga bukan tak mungkin Indonesia bisa surplus daging sapi dalam kurun waktu beberapa
tahun mendatang. Sudah tidak dipungkiri juga bahwa sudah ada indikasi produktivitas ternak sapi di
daerah ini cenderung menurun (Kapa, 1994; Katipana dan Hartati, 2011; Henuk, 2014b). Menurut
Nulik (2014), kualitas padang penggembalaan di NTT cenderung terus menurun, oleh berbagai
permasalahan, seperti: konversi penggunaan lahan, invasi tanaman gulma (terutama Chromolaena
odorata), penggembalaan berat (terutama di daerah-daerah padat ternak), dan upaya perbaikan yang
minimal, bahkan boleh dikatakan tidak ada sama sekali. Pembahasan tulisan ini akan diarahkan pada
situasi peternakan sapi dan potensi masalah serta rancangan solusi bagi pengembangan peternakan
sapi potong berbasis pemanfaatan pakan lokal di NTT.

GAMBARAN UMUM PETERNAKAN SAPI DI NTT


NTT memang tepat dipandang cocok untuk pembibitan dan penggemukan sapi potong di Indonesia,
karena NTT memiliki wilayah yang secara topografi cocok untuk pengembangan ternak sapi. Secara
geografis, NTT merupakan wilayah kepulauan dibelahan selatan Indonesia dengan luas daratan
47.349,90 km2 yang mencakup tiga pulau besar (Flores, Sumba dan Timor) serta banyak pulau kecil
lainnya yakni Komodo, Rinca, Adonara, Solor, Lembata, Alor, Pantar, Rote dan Sabu yang secara
keseluruhannya berjumlah 1.192 buah pulau (Peta 1; Henuk, 2014b).

19
Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (Seri III): Pengembangan Peternakan
Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto September 2015. ISBN 978-602-1004-09-8
Propinsi NTT tergolong wilayah beriklim semi ringkai yang dicirikan oleh musim kemarau yang
panjang yakni berkisar antara 8-9 bulan dengan rata-rata curah hujan tahunan tidak lebih dari 1500
mm (Gambar 1). Dalam kondisi iklim seperti ini tanaman pangan tidak dapat berproduksi dengan
baik karena kondisi kering dan kurangnya ketersediaan air untuk kepentingan pertumbuhan tanaman
secara baik. Dengan kondisi agroekologi dan sosial budaya yang spesifik, maka yang paling cocok
untuk dikembangkan adalah usaha peternakan. Jenis ternak yang cocok adalah ternak sapi potong
yakni sapi Bali. Khusus Pulau Timor sebagai daerah dengan jumlah populasi ternak Sapi Bali
terbanyak merupakan daerah beriklim semi ringkai dengan luas wilayah sekitar 1,7 juta hektar.
Sekitar 41,18% dari luasan itu merupakan kawasan penggembalaan peternakan. Potensi inilah yang
mendukung meningkatnya produksi ternak sapi potong. Saat ini diperkirakan jumlah ternak sapi
potong adalah 778,2 ribu Unit Ternak (Animal Unit) dengan perkiraan daya dukung lahan 1,3 ha /AU.
(Mullik dan Jelantik, 2010).

Gambar 1. Rata-rata curah hujan bulanan di Pulau Timor (1979 – 2008).

Indonesia adalah negara dengan luas lahan dengan sistem produksi berbasis biomassa mencapai 50
juta ha, dan diperkirakan hampir 80% dapat dikonversi menjadi sumber pakan. Beberapa provinsi
seperti NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara tergolong wilayah yang sistem penyediaan
hijauan pakannya dikelola secara murah karena berbasis padang penggembalaan. Sistem pemeliharaan
ini terbukti hanya memerlukan biaya pakan 28-32% dari seluruh biaya produksi hingga menghasilkan
ternak sapi berumur 20 bulan, bandingkan dengan sistem pemeliharaan di Jawa Timur dan Jawa
Tengah yang memerlukan biaya pakan hingga 68-70%, karena suplai hijauan pakan kurang efisien
dibandingkan dengan sistem padang penggembalaan. Sistem integrasi ternak ruminansia yang
melibatkan hijauan pakan sebagai sumber utama pakan kini menjadi pilihan yang kompromistik dari
sektor perkebunan dan pertambangan, karena telah terbukti lebih efisien dalam mencapai target
produktivitas lahan (Jafrinur, 2014). Secara geogragis, pada area terbuka dengan cahaya matahari
penuh, curah hujan relatif rendah dan tanah yang kering merupakan habitat ideal bagi sebagian besar
rumput sebagai contoh: rumput Pennisetum macrostachyum Benth., Pennisetum polystachyon (L.)
Schultes dan Imperata cylindrica (L.) P. Beauv. Kondisi seperti ini banyak ditemui di daerah Timur
Indonesia, terutama NTT, NTB, Sulawesi dan Kepulauan Maluku. (Setiana, 2014).

Peta 1. Luasan NTT ± 2,7% dari Luas Wilayah Indonesia

20
Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (Seri III): Pengembangan Peternakan
Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto September 2015. ISBN 978-602-1004-09-8
Provinsi NTT sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu penyuplai ternak sapi potong utama ke
Pulau Jawa. Berdasarkan data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian tahun
2013, NTT berada pada urutan keempat dari 10 daerah lumbung sapi terbesar di Indonesia: (1) Jawa
Timur : 4,7 juta ekor; (2) Jawa Tengah : 1,9 juta ekor; (3) Sulawesi Selatan : 984 ribu ekor; (4) NTT :
778,2 ribu ekor; (5) Lampung : 724,8 ribu ekor; (6) NTB : 685,8 ribu ekor; (7) Bali : 637,5 ribu ekor;
(8) Sumatra Utara : 541,7 ribu ekor; (9) D.I Yogyakarta : 376,3 ribu ekor; dan (10) Sulawesi Tengah :
231,4 ribu ekor (Henuk, 2014b).
Data peringkat ke-4 yang diduduki NTT sesungguhnya menunjukkan bahwa peranan ternak sapi
sangatlah penting bagi perekonomian wilayah ini. Perdagangan ternak sapi antar pulau masih
merupakan tulang punggung ekonomi pedesaan NTT. Selain itu, ternak sapi juga tergolong ternak
yang memiliki manfaat ekonomi lain yang penting seperti memenuhi kebutuhan akan daging, sumber
bibit dan tenaga kerja secara nasional maupun regional. Di samping manfaat tersebut, menurut
Hardjodipuro (1979) ternak sapi di Indonesia umumnya dan di NTT khususnya dipandang memiliki
nilai kerja dan nilai sosial yang tinggi dan juga mempunyai nilai ekonomi sebagai sapi pedaging yang
baik.
Manajemen pemeliharaan ternak sapi di NTT bervariasi dan sangat tergantung pada sistem usahatani
yang dijalankan. Sistem pertanian menetap di lahan kering di beberapa wilayah di NTT telah
dipadukan dengan usaha lamtoronisasi untuk pengembangan ternak sapi yang dikenal sebagai ”sistem
Amarasi” yang terdapat di Timor. Dalam sistem ini pemeliharaan ternak dilakukan secara intensif
dengan jalan mengikat ternak sapi serta memanfaatkan pakan hijauan lamtoro dengan cara ”cut and
carry”, dikenal sebagai “sistem paron”. Disamping itu, dikenal juga ”sistem Sikka” di Flores yakni
suatu sistem pertanian menetap di lahan kering pada topografi yang berbukit dan bergunung dengan
menanami lereng-lereng lahan dengan lamtoro menurut kontour lereng yang dikenal pula dengan
sistem pertanaman lorong (alley cropping). Selain itu, telah dimanfaatkan padang penggembalaan
dalam bentuk ” ranch” di Timor dan Sumba (Henuk, 2014b).
Pellokila dkk. (1991) juga mengklasifikasikan manajemen usaha ternak di NTT ke dalam dua sistem
pemeliharaan yakni sistem penggembalaan (sistem ekstensif) dan sistem paron (cut and carry
systems). Sistem pemeliharaan ekstensif masih terlihat dominan dilakukan oleh peternak di NTT
terutama di Pulau Timor bagian Barat. Pada sistem ini ternak digembalakan di padang penggembalaan
umum, atau di lahan kosong milik peternak. Pada sistem pemeliharaan secara ekstensif, sumber utama
makanan ternak sapi sepanjang tahun adalah rumput alam terutama pada musim hujan. Pada peralihan
musim hujan ke musim kemarau (April-Juli) saat setelah panen, peternak menggembalakan ternak
sapi di sawah untuk memanfaatkan jerami padi atau di ladang untuk jerami jagung dan limbah
tanaman pangan lainnya. Namun selama musim kemarau, sumber utama pakan berasal dari dedaunan
semak-belukar, hutan dan juga rerumputan di pinggir jalan (Kapa,1994).
Sistem pemeliharaan intensif (sistem paron) adalah model penggemukan ternak sapi potong dengan
cara diikat atau dikandangkan dan diberi makan secara teratur dan intensif dimana sapi bakalan
umumnya jantan berumur satu sampai dua tahun digemukan selama kurang lebih 12-18 bulan lalu
dijual. Pemberian pakan dilakukan dengan cara cut and carry. Peternak mencari dan memotong HMT
berupa rumput, dan daun-daunan seperti lamtoro, gala-gala dan sebagainya sebanyak kurang lebih 15
kg lalu diberikan pada ternak paron 2-3 kali sehari yakni pagi dan sore. Sebagai pengganti air,
peternak juga memberikan potongan batang pisang terutama pada siang hari (Kapa, 1994).
Pemeliharaan sapi sistem paron pada mulanya dilakukan petani di daerah Amarasi Kabupaten
Kupang. Namun saat ini, sistem paron telah dikenal luas dan menyebar seluruh NTT. Komponen
utama pakan pada musim kemarau adalah lamtoro dan dedaunan dari berbagai jenis pohon yang ada
di kebun dan di sekitar pekarangan. Sebaliknya, pada musim hujan pakan ternak didominasi oleh
rumput yang dicampur dengan dedaunan terutama lamtoro. Daun lamtoro (Leucaena leucocephala)
pakan berkualitas tinggi yang mengandung protein tinggi. Nulik (2014) menjelaskan bahwa
penggemukan dengan pola ― ikat palang merupakan praktek secara umum dalam pemeliharaan
ternak sapi potong di Amarasi dan sekitarnya. Lasimnya petani mulai mengikat palang ketika ternak
mencapai berat badan 200-225 kg untuk penggemukan selama 6-8 bulan. Namun saat ini banyak juga
petani yang mulai melakukan ikat palang dengan ternak yang lebih kecil, karena kemampuan beli dan

21
Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (Seri III): Pengembangan Peternakan
Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto September 2015. ISBN 978-602-1004-09-8
kesulitan mendapat ternak bakalan. Ternak akan masuk ikat palang jika sudah mencapai berat 200-
225 kg atau 250 kg (umumnya 2 adik, atau 2 tahun). Jika pemberian pakan cukup ternak dapat
mencapai berat pasar dalam tempo 6 bulan (> 250 kg s/d 300), namun tidak jarang harus mencapai 8
bulan hingga 1 tahun akibat pemberian pakan yang tidak teratur, karena kesibukan atau memang
petani tidak mempunyai cukup pakan di kebunnya (ternak tidak mendapat porsi makanan sesuai
kebutuhannya). Henuk (2014b) melaporkan juga bahwa ternak sapi kehilangan berat badan selama
kemarau, sehingga kenaikan berat badan per tahun masih rendah (± 0,6 kg/ekor/hari); penggemukan
sapi memerlukan waktu lama 1-1,5 tahun); kematian anak sapi masih tinggi karena induk kekurangan
pakan; dan pendapatan petani masih rendah. Selama jangka waktu 3 tahun ternak sapi yang
dipelihara secara intensif mencapai bobot hidup 493 kg sedangkan yang dipelihara secara ekstensif
hanya mencapai berat 311 kg (Gambar 2). Hal ini diperkirakan karena adanya penurunan bobot badan
ternak selama musim kemarau sehingga rata-rata pertambahan bobot badan ternak menjadi kecil
setiap tahunnya. Mullik dan Jelantik (2010) melaporkan bahwa ternak sapi yang digembalakan akan
mengalami rata-rata pertambahan berat badan sebesar 0,3 – 0,6 kg/hari selama musim hujan, tetapi
kehilangan berat badan mencapai 0,35 kg/hari selama musim kemarau.

Gambar 2. Perbandingan pola pertumbuhan ternak Sapi Bali gembala dan diikat
di Pulau Timor (Mullik dan Jelantik, 2010: 43).

POTENSI DAYA DUKUNG DAN KENDALA PETERNAKAN SAPI POTONG DI NTT


Data dari Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT menunjukan penyebaran ternak sapi menurut
pulau, terlihat sebagian besar sapi potong terkonsentrasi di pulau Timor, diikuti Flores, Sumba dan
Alor. Meskipun Sumba Timur berpotensi sebagi daerah pengembangan sapi karena memiliki lahan
bahan pakan ternak yang berupa padang savanna luas, dan terdapat berbagai jenis rumput yang bergizi
tinggi, namun ternyata populasi sapi di Sumba Timur hanya mencapai 6,81 persen dari populasi sapi
potong di NTT dan menduduki peringkat kelima setelah Kabupaten TTS yang mencapai 21,55%
diikuti Kabupaten Kupang, Belu dan TTU. Secara umum, data Dinas Peternakan Propinsi NTT
menunjukan konsentrasi ternak sapi terbanyak adalah di pulau Timor (80,02%), pulau Flores
(10,90%), pulau Sumba (8,85%) dan terendah pulau Alor (0,23%). Kini program dari Ditjen
Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menetapkan kegiatan pengembangan peternakan di NTT
difokuskan pada tiga kabupaten yaitu Sumba Timur, Ngada dan Timor Tengah Selatan. Sedangkan
kegiatan yang direncanakan ada empat kegiatan, yaitu: (1) Pengembangan 39 ranch kelompok; (2)
pengembangan 6 klaster padang pengembalaan, (3) penyiapan lahan untuk investasi usaha
peternakan; dan (4) pengembangan kawasan padang penggembalaan di NTT selama setahun (Henuk,
2014b).
Secara umum, hal-hal yang menjadi potensi dan daya dukung pengembangan peternakan sapi di NTT
antara lain: daya dukung lahan, meskipun ditengarai terdapat variasi dalam hal luas dan sistem

22
Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (Seri III): Pengembangan Peternakan
Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto September 2015. ISBN 978-602-1004-09-8
penggunaan lahan antar pulau atau lokasi di NTT, tetapi ada kesamaan yakni ditemuinya lahan kering
yang relatif luas dan hampir merata di seluruh wilayah NTT, kecuali di Pulau Flores terutama Flores
bagian Barat yang relatif basah. Luas areal dan daya tampung ternak di Pulau Timor, Sumba dan
Flores memiliki lahan penggembalaan yang cukup bagi peningkatan produksi ternak sapi potong
(Tabel 1).

Tabel 1. Luas areal dan carrying capacity di NTT per-pulau


Lokasi Luas Areal (Ha) Padang Rumput (Ha) Unit Ternak (UT) Ha/UT
Timor Barat 1.699.060 705.040 537.110 1,3
Flores 1.909.499 406.170 129.630 3,1
Sumba 1.085.440 770.600 145.960 5.3
NTT 4.694.000 1.475.680 812.700 1,3
Sumber: Nulik dan Bamualim, 1998.
Beberapa hal yang bisa dirangkum dari Tabel 1 di atas adalah NTT memiliki potensi lahan kering
bagi usaha peternakan, dengan kata lain terdapat potensi penggembalaan yang cukup bagi
peningkatan produksi peternakan sapi potong. Disamping potensi yang tersedia ternyata menurut
Bamualim dkk. (1991) dan Nulik (2014), ternyata telah terjadi over grazing terutama sepanjang
musim kemarau, dibeberapa tempat di Timor Barat. Hal ini tentunya menjadi pembatas bagi
peningkatan populasi ternak sapi. Oleh karena itu, langkah-langkah serius perlu diambil untuk
mengatasi over grazing sekaligus memelihara kelestarian lahan penggembalaan sebagai tulang
punggung produksi peternakan sapi sekarang dan masa yang akan datang. Ketersediaan pakan, salah
satu ciri khas wilayah NTT adalah beriklim tropis kering dengan musim kemarau panjang. Musim
hujan hanya berlangsung 3-4 bulan namun intensitas curah hujannya cukup tinggi. Di saat itu pula
hijauan makanan ternak (HMT) terutama rumput melimpah. Namun ketika memasuki musim panas,
maka mutu dan ketersediaan HMT yang berasal dari lahan penggembalaan mengalami defisiensi
protein, mineral, energi dan juga produksinya menurun secara signifikan.

MASALAH PENGEMBANGAN SAPI POTONG POTENSI SOLUSI


Sapi potong adalah salah satu jenis ternak ruminansia penghasil daging utama di Indonesia.
Kebutuhan daging nasional banyak ditopang oleh daging sapi disamping unggas, tetapi sejauh ini
produksi daging sapi dalam negeri belum mampu mengatasi permintaan daging yang terus meningkat.
Hal ini disebabkan karena populasi dan produktivitas ternak sapi potong rendah. Pada umumnya,
peternakan di Indonesia memiliki peranan yang penting dalam pembangunan peternakan, karena
merupakan ujung tombak dalam pemenuhan pangan hewani. Saat ini ternak potong memberikan
kontribusi terbesar kedua setelah ternak unggas terhadap produksi daging di Indonesia, yaitu sapi
potong (beef) sebesar 19% setelah ternak unggas sebesar 65%. Dari kontribusi ternak unggas terbesar
tersebut sekitar 55% disediakan oleh ayam ras dan 10% ayam kampung disusul babi 8%, kambing
7%, sisanya jenis ternak lain 1% (Figur 2; Henuk et al., 2015). Secara umum, konsumsi daging sapi di
Indonesia masih sangat rendah, yakni 2,1 kg/kapita/tahun, masih jauh dibawah konsumsi daging di
negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia sudah mencapai 40 kg/kapita/tahun (Figur 2;
Hardiyanto, 2013). Bagi NTT ternak sapi merupakan produk pertanian andalan khususnya di Timor
Barat dimana 90% dari populasi sapi di NTT ada di wilayah ini. Propinsi NTT sebagai salah satu
daerah penghasil sapi potong terus berupaya untuk mengembangkan sektor peternakan sapi potong
sebagai salah satu komoditas unggulan wilayah yang dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan
kesejahteraan peternak dan peningkatan pendapatan daerah melalui pengatarpuluan ternak sapi.
Propinsi NTT merupakan satu dari empat daerah sentra sapi potong dimana sejak beberapa dekade
yang silam telah mengekspor sapi dalam jumlah besar dan bahkan kini NTT tetap berada pada urutan
keempat dari 10 daerah lumbung sapi terbesar di Indonesia. Data BPS Pusat menunjukan adanya
kenaikan populasi dari 803.450 ekor (2013) menjadi 839.600 ekor (2014). Data Dinas Dinas
Peternakan NTT menunjukan potensi ternak sapi potong di NTT pada tahun 2013 ini sebanyak
127.760 ekor yang terdiri dari jantan 65.128 ekor, betina majir 12.696 ekor, dan betina culling 49.936
ekor. Sedangkan potensi sapi potong lokal sebanyak 63.478 ekor, dan antar pulau sebanyak 63.478
ekor (Dwiyanto dan Priyanti, 2008; Henuk, 2014b).

23
Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (Seri III): Pengembangan Peternakan
Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto September 2015. ISBN 978-602-1004-09-8

Figur 2. Distribusi produksi daging di Indonesia dan per kapita konsumsi daging dunia
Kini jumlah pengeluaran sapi Bali dari NTT mengalami penurunan yang cukup drastis baik dari sisi
kualitas maupun kuantitasnya. Mulik dan Jelantik (2010) menengerai bahwa keadaan peternakan di
NTT cukup memprihatinkan karena sistem peternakan yang dipraktek di daerah ini masih bersifat
ekstensif tradisional dengan produktivitas yang sangat rendah. Namun demikian disisi lain jumlah
ternak yang di potong untuk kebutuhan lokal dan yang diperjual-belikan antar pulau juga cukup
tinggi. Akan tetapi, ternak tersebut dihasilkan dari sistem produksi peternakan yang kurang produktif
dan tidak efisien karena sistem pemeliharaan yang tradisonal. Akibat dari sistem produksi seperti ini
menyebabkan dua masalah yang serius yakni turunnya populasi dan mutu ternak. Namun disadari
bahwa keunggulan komparatif yang telah dimiliki wilayah NTT di bidang peternakan sekarang
menurun, karena dihadapkan kepada berbagai masalah yang bersifat mendasar seperti : kurang
tersedianya pakan ternak dan air terutama dimusim kemarau, populasi dan penyebaran ternak yang
tidak merata antar wilayah, penyakit hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, kecenderungan
menurunnya mutu genetik ternak, sistem pemeliharaan yang ekstensif, pemilikan yang tidak merata,
kerusakan terhadap lingkungan hidup seperti padang penggembalaan dan hutan, termasuk invasi
tanaman gulma (terutama Chromolaena odorata), penggembalaan berat (terutama di daerah-daerah
padat ternak), persaingan kebutuhan lahan antar sub sektor (tanaman pangan, perkebunan dan
peternakan), sarana dan prasarana ekonomi, tataniaga (pemasaran) dan lain sebagainya. Kondisi
geogragis, dan data tersebut di atas didukung fakta bahwa NTT telah ditetapkan masuk Koridor V dari
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011 – 2025.
MP3EI adalah program pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah Indonesia.
Pembangunan koridor ekonomi di Indonesia dilakukan berdasarkan potensi dan keunggulan masing-
masing wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia. Koridor Ekonomi Bali – Nusa Tenggara memiliki
tema pembangunan sebagai Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional” dengan fokus
dan kegiatan utama di NTT adalah Pariwisata, Peternakan, Perikanan (Henuk, 2014b; Nulik, 2014).
Bamualim dkk. (1991) juga melaporkan Bahwa faktor utama yang mendeterminasi keberhasilan
usaha ternak sapi potong adalah makanan. Pemberian pakan haruslah mencukupi kebutuhan ternak
baik untuk memenuhi hidup pokok maupun untuk pertumbuhannya. Menurut Nulik (2014),
pemeliharaan ternak, terutama sapi dan kerbau di NTT sangat bergantung pada keberadaan sumber
pakan hijauan. Karena hijauan merupakan sumber pakan murah yang dapat dijangkau oleh peternak
kecil di pedesaan NTT yang selama ini merupakan salah satu pemasok ternak sapi penting bagi
kebutuhan daging nasional.
Secara umum, ketersediaan hijauan rumput alam di NTT pada musim hujan (3-4 bulan) berada dalam
jumlah cukup bahkan berlebihan dan sebaliknya pada musim kemarau (8-9 bulan) ketersediaan
rumput alam masih cukup namun kualitasnya menurun drastis karena tingginya kandungan dinding
sel NDF (neutral detergent fiber). Rumput alam di NTT pada musim kemarau memiliki dinding sel
NDF sebesar 58%-80% dengan kandungan protein kasar sebesar 2-3% dan tingkat kecernaan
mendekati 42%. Rumput dengan kandungan NDF yang tinggi tersebut akan menurunkan kecernaan
dimana umumnya rumput di daerah tropis mengandung kadar lignin yang cukup tinggi sehingga sulit
terdegradasi oleh mikroba rumen. Rumput dengan kecernaan yang rendah akan menggangu produksi

24
Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (Seri III): Pengembangan Peternakan
Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto September 2015. ISBN 978-602-1004-09-8
ternak terutama karena ketersediaan protein khususnya nitrogen bagi mikroba rumen menjadi terbatas
dan ketersediaan zat-zatgizi yang lain juga akan berkurang (Henuk, 2014b).

PEMANFAATAN PAKAN LOKAL DI NTT


Dalam rangka mengatasi kejadian kekurangan pakan ternak pada musim kemarau sebenarnya terdapat
banyak potensi pakan local dengan kandungan nutrisi yang baik berasal dari sumber bisa
dimanfaatkan.
Beberapa sumber pakan hijauan yang dapat dijumpai baik yang sudah turun temurun dimanfaatkan
maupun yang akhir-akhir ini diintroduksikan ke wilayah NTT antara lain diperoleh dari: (i) Padang
Rumput Alam: terdiri dari komposisi rumput alam dan komponen jenis-jenis leguminosa herba
(herbaceous legumes) dan semak (shrub legumes). (ii) Legum Herba lokal: Desmodium spp.,
Alysicarpus spp., Macroptilium atropurpureum Siratro, Centrosema pubescens, Mucuna sp.,
Aeschynomene americana, (iii) Adaptive Introduced Herbaceous Legumes: Clitoria ternatea
(Millgarra), Centrosema pascuorum (Bundey dan Cavalcade), Lablab purpureus (Rongai dan
Highworth), Mucuna pruriens, Vigna luteola, Centrosema molle, Macroptilium bracteatum,
Stylosanthes guianensis, dan S. seabrana, (iv) Local Shrubs Legumes: Acacia villosa, dan
Desmanthus virgatus, (v) Leguminosa pohon: lokal dan introduksi. Lokal, seperti: Acacia
leucophloea, Acacia nilotica, Sesbania grandiflora (bunga merah dan bunga putih). Introduksi: Dwarf
hawaiian leucaena, Large Peru dan Hawaiian leucaena, dan Glirisidia sepium, (vi) Currently
Introduced LP: Leucaena leucocephala cv. Tarramba (vii) Adaptive Introduced Grasses:
Andropogon gayanus, Panicum maximum, Pennisetum spp., Brachiaria spp., Setaria spp., dan
Tripsacum laxum (Nulik, 2014).
Sudah tidak dipungkiri bahwa hijauan leguminose seperti lamtoro di NTT mempunyai peranan
penting dan telah lama dimanfaatkan sebagai sumber pakan bernilai gizi tinggi pada sistem
pemeliharaan secara intensif (sistem paron). Masalah timbul setelah adanya serangan hama kutu
loncat yang terjadi pada awal tahun 1986 menyebabkan tegakan lamtoro mati dan mengakibatkan
petani kesulitan mencari pakan terutama bagi petani yang mengusahakan penggemukan sapi (Kapa,
1994). Namun, adanya introduksi jenis lamtoro toleran kutu locat (Leucaena leucocephala
[Link], atau K363) makin mendorong kembali dipromosikan pengembangan yang lebih luas,
terutama dalam upaya perbaikan kapasitas tampung ternak padang pengembalaan dan pengembangan
kebun pakan. Akibatnya, lamtoro merupakan leguminosa pohon andalan lahan kering di NTT. Karena
kemampuan beradaptasi dan bertahan pada iklim dan perlakuan yang keras terhadapnya, seperti
kekeringan yang panjang (8-9 bulan), curah hujan yang tidak menentu, pemangkasan berulang,
renggutan oleh ternak gembala, maupun oleh kejadian kebakaran padang yang sering terjadi setiap
tahun. Di samping ketahanannya terhadap iklim kering dan perlakuan keras, tanaman lamtoro juga
mempunyai beberapa manfaat, seperti menyediakan kayu bakar, bahan kayu yang dimanfaatkan untuk
membuat mebeler sederhana (meja, kursi, daun pintu dan jendela, juga kusen pintu), bahan bagunan
sederhana (seperti kandang dan rumah pakan di pedesaan), dan terpenting menghasilkan pakan
hijauan berkualitas tinggi (protein kasar > 24%) yang dengan pengelolaan yang tepat dapat diperoleh
sepanjang tahun (bahkan hingga puncak kemarau di NTT; Nulik, 2014).
Kapa (1994) menyatakan pada sistem ekstensif peternak yang mengandalkan rumput lapangan yang
berasal dari padang penggembalaan umum, biasanya sebagai pakan tambahan, peternakan
memberikan beragam pakan lokal dari semak dan hutan. Dari hasil penelitian Kapa (1994) di Desa
Tuatuka Kecamatan Kupang Timur berbagai jenis dan sumber HMT yang berikan pada sistem
ekstensif disajikan pada Tabel 2. Sedangkan hasil penelitian Nulik (2014) menunjukkan perlu
diperhatikan pakan berimbang antara sumber protein, serat, dan suplemen enerji (putak atau ubi
kayu). Pertumbuhan sapi Bali Timor, misalnya, yang dilakukan mulai dari ternak disapih (berat < 95
kg, dengan umur 6-8 bulan) yang diikuti pertambahan berat badanya sampai mencapai > 250 kg
ternyata bahwa ternak yang mendapatkan tambahan pakan sumber energi (dalam hal ini ubi kayu)
memberikan kecepatan pertumbuhan atau pertambahan berat badan 2 x lebih cepat dibandingkan
dengan ternak yang hanya mendapat lamtoro saja atau lamtoro ditambah rumput. Pada sistem paron,
pakan utama adalah lamtoro dan rumput, pakan tambahan yang diberikan peternak yakni pakan lokal
yang tersedia dari berbagai sumber (Tabel 3).

25
Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (Seri III): Pengembangan Peternakan
Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto September 2015. ISBN 978-602-1004-09-8
Tabel 2. Jenis, Sumber dan Ketersediaan HMT pada Sistem Pemeliharaan Ekstensif
Jenis HMT Sumber Waktu pemberian
Agaretum conysoidez Pinggir jalan, lahan kosong* Januari – Mei
Imperata cylindrical Hutan, lahan kosong Juni-Agustus
Andropogon sp Pinggir jalan, lahan kosong Januari-Juli
Desmodium sp Padang rumput, lahan kosong Januari-Juli
Clotolaria linifolia Pinggir jalan, lahan kosong Januari-Juli
Clitoria ternatea Padang rumput, lahan kosong Januari-Juli
Centrosema sp Pinggir jalan, lahan kosong Januari-Juli
Corypha palm stem Hutan, lahan kosong Januari-Desember**
HMT yang tak teridentifikasi Hutan, lahan kosong, Agustus-September
(Sumber: Kapa, 1994) * Lahan kosong adalah kebun/ladang yang dibero atau lahan yag tidak digunakan. **
Bulan-bulan dimana pakan tersedia dalam jumlah yang banyak

Data pada Tabel 2 dan Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa sesungguhnya banyak ragam hijauan
makanan ternak yang bisa dimanfaatkan selain hijauan rumput. Pemberian HMT tambahan sangat
bermanfaat untuk mengeliminasi kekurangan nutrisi. Hasil Penelitian ini juga menjelaskan bahwa
komposisi pakan selama musim hujan adalah 89 persen lamtoro dan 21 persen lainnya adalah pakan
seperti pada Tabel 3. Menurut Setiana (2014), pemeliharaan ternak ruminansia yang baik memerlukan
hijauan pakan sebagai pakan utamanya. Kuantitas, kualitas dan kontinyuitas hijauan pakan menjadi
hal yang sangat penting. Peternak pada umumnya sangat kurang memperhatikan hal tersebut,
terutama kualitas. Konsumsi hijauan pakan ternak sapi, kerbau dan domba relatif sama dengan
dominasi rumputan. Sedangkan, kambing cenderung lebih pada kacangan dan rumbah. Kebutuhan
nutrisi di lapangan dengan melihat komposisi Rumputan : Kacangan/Rumbah, komposisi yang baik
40:60 sampai 60 : 40. Jika komposisi tersebut dapat dipenuhi secara konsisten, maka diharapkan
pertumbuhan ternak akan baik.
Tabel 3. Pakan Tambahan dari Berbagai Jenis dan Sumber pada Sistem Paron
Jenis Pakan Lokal Sumber Bulan Pemberian
Nama Lokal Nama Latin
Arbila Phaseolus sp Hutan, Ladang, Mamar Februari-Juni
Bafkenu Macaranga tanarius Hutan, Mamar Oktober-Desember
Busi Melocia umbellate Hutan-mamar Oktober-Desember
Haubinak Ficus ampleos Hutan Oktober-Desember
Kabesak Acacia leucoploa Hutan September-Desember
Koknaba Uvaria rufa Hutan Juni-September
Kapok Ceiba petandra Pekarangan, ladang, mamar Mei-September
Kosambi Schleisera oleosa Hutan, ladang, mamar Oktober-Desember
Loam Trema orientalis Hutan, ladang Agustus-Desember
Name Pipturus argenteus Hutan Agustus-Desember
Niko Grewia koordesia Hutan Oktober-desember
Nunuk Ficus sp Hutan Juni-Desember
Pasinat Albizia lebekiodes Hutan Oktober-Desember
Timok Timonius serideus Hutan Oktober-Desember
Waru Hibiscus tiliaceus Hutan Agustus-Desember
Nangka Artocorpus Pekarangan, mamar, ladang Januari-Desember
Pisang heterophylus Mamar, ladang, pekaranga Maret-Desember
Turi Musa sp Kebun, ladang, pekarangan Agustus-Februari
Sesbania grandiflora Mamar
(Sumber: Kapa,1994).

26
Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (Seri III): Pengembangan Peternakan
Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto September 2015. ISBN 978-602-1004-09-8
PENGGUNAAN LIMBAH PERTANIAN (CROP RESIDUES)
Peranan limbah tanaman berserat sebagai pakan ternak di Indonesia tidak dapat diabaikan begitu saja,
karena limbah tersebut merupakan komponen penting bagi ternak ruminansia terutama di daerah yang
luas padang penggembalaannya terbatas, atau dengan pastur yang ketersedian HMT bersifat musiman.
Carangal dan Calub (1987) menyatakan bahwa berbagai jenis limbah pertanian (crop residues)
merupakan salah satu sumber pakan penting terutama di daerah usahatani kecil (small farm). Limbah
pertanian yang paling banyak dijumpai adalah jerami padi, dedak dan sekam padi, klobot jagung,
tongkol jagung, jerami kacang tanah, jermai kacang hijau dan lain-lain dapat dimanfaatkan sebagai
pakan ternak.
Limbah Pertanian yang sering digunakan baik pada sistem ektensif maupun system intensif tidak
banyak ragamnya. Hasil penelitian Kapa (1994) menemukan bahwa pada sistem paron, peternak
hanya memberikan daun dan batang jagung, daun ubi kayu, dan kulit ubi kayu. Sedangkan, pada
sistem ekstensif ternak sapi juga memanfaatkan jerami padi, daun jagung, tongkol dan klobot jagung.
Akan tetapi Bamualim dkk. (1991) mengklaim bahwa sisa-sisa hasil pertanian seperti jerami padi dan
palawija merupakan sumber pakan yang cukup berarti, terutama selama musim kemarau. Namun
disadari bahwa data atau informasi tentang potensi pemanfaatan sisa-sisa hasil pertanian sebagai
pakan ternak belum tersedia secara luas.

KESIMPULAN
1. Peternakan sapi potong memainkan peranan yang sangat sentral dalam pembangungan ekonomi
perdesaan, karena ternak sapi bukan saja berkontribusi pada penyediaan daging (protein dan
energi asal ternak) tetapi juga berperan dalam perekonomian nasional maupun regional.
2. Permintaan sapi antar pulau yang tinggi serta untuk keperluan domestik yang tidak diimbangi
dengan sistem manajemen pemeliharaan yang baik diperparah dengan adanya defisit ketersedian
pakan baik dalam jumlah maupun nilai nutrisinya, terlebih-lebih pada musim kemarau
berimplikasi pada kecenderungan menurunya produktivitas ternak sapi potong di daerah NTT.
3. Permasalahan kekurangan pakan bisa diatasi apabila peternak mencari dan memanfaatkan
beragam jenis pakan yang tersedia secara lokal yang tak kalah tinggi nilai nutrisinya
4. Kekurangan pakan pada musim kemarau dapat juga diatasi dengan pemanfaatan sisa-sisa
(limbah) pertanian seperti jerami padi dan palawija.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2015. Pemerintah-Akademisi Berupaya Kembalikan NTT Jadi Lumbung Ternak.
[Link], 12 Januari 2015. Tersedia: http:// news. metrotvnews. com/ read/ 2015/
01/12/344079/pemerintah-akademisi-berupaya-kembalikan-ntt-jadi-lumbung-ternak. Diakses
pada 10 April 2015.
Bamualim, A., R.B. Wirdahayati dan R.A. Smith. 1991. Penelitian Peternakan dalam Menunjang
Peningkatan Produksi Ternak di Nusa Tenggara Timur. Makalah disampaikan pada Simposium
Perencanaan Pembangunan Peternakan, di NTB, NTT, dan Timor Timur. Mataram, 20-23
Januari 1991.
Carangal, V.R. and A.D. Calub. 1987. Crop Residues and Fodder Crops in Rice-Based Farming
Systems. In Dixon, R.M. (Edt): Ruminant Feeding Systems Utilizing Fibrous Agricultural
Residues-1986. Pp: 3-23. International Development Program of Australian Universities and
Colleges. Canberra. Australia.
Dwiyanto, K. dan A. Priyanti. 2008. Keberhasilan Pemanfaatan Sapi Bali Berbasis Pakan Lokal
dalam Pengembangan Usaha Sapi Potong di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Peternakan. Bogor.
Hardiyanto, T. 2013. Prospek Bisnis Perunggasan. Seminar ISPI, 17 Januari 2013, Swiss Bell Hotel,
Jakarta.
Harjodipura, B. 1979. Masalah Populasi Sapi Bali, Pemeliharaan dan Reproduksinya. Media
Veteriner, 1: 35-43.

27
Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan (Seri III): Pengembangan Peternakan
Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto September 2015. ISBN 978-602-1004-09-8
Henuk, Y.L. 2014a. Swasembada Daging di Indonesia: “Lain SBY Lain Jokowi”. Kompasiana.
com, 21 Desember 2014, Tersedia: [Link] kompasiana. com/ agrobisnis/ 2014/ 12 /21/
[Link]. Diakses pada 10 April
2015.
Henuk, Y.L. 2014b. Mengembalikan Kejayaan NTT Sebagai Lumbung Ternak Sapi di Indonesia.
[Link], 27 Desember 2014. Tersedia:[Link]
agrobisnis/2014/12/27/mengembalikan-kejayaan-ntt-sebagai-lumbung-ternak-sapi-di-
[Link]. Diakses pada 10 April 2015.
Henuk, Y.L., J.F. Bale-Therik, G.A.K. Dewi, C.A. Bailey. 2015. Native chickens and their production
systems in Indonesia. An invited paper presented in The 1st International Cenference on Native
Chickens, February 23 – 25, 2015, Centara Hotel, Khon Kaen, Thailand, Khon Kaen Agr. J. 43
Suppl. 2: 20 – 24.
Jafrinur. 2014. Kata Pengantar Dekan Fakultas Peternakan Universitas Andalas. Dalam: Prosiding
Seminar Nasional III Himpunan Ilmuan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI), Halaman, 4 – 5,
Grand Rocky Hotel, 27 – 29 Oktober 2014, Bukittinggi, Sumatera Barat.
Kapa, M.M.J. 1994. A Comparison of Beef Cattle Production Systems in West Timor Indonesia.
Master Thesis. The University of Melbourne, Australia
Katipana, N.G.F. dan E. Hartati. 2011. Budi Daya Sapi Bali di Daerah Tropis Iklim Semi Kering. PT.
Penerbit IPB Press, Bogor.
Mulik, M. dan I.G.N. Jelantik. 2010. Strategi Peningkatan Produktivitas Sapi Bali pada Sistem
Pemeliharaan Ekstensif di Daerah Lahan Kering: Pengalaman Nusa Tenggara Timur. Prosiding
Seminar Nasional Pengembangan Sapi Bali Berkelanjutan dalam Sistem Peternakan Rakyat.
Mataram, 28 Oktober 2009, halaman 39 – 53. Small Agribusiness Development Initiative
(SADI), Mataram.
Nulik, J. 2014. Leguminosa pakan sebagai sumber hijauan berkualitas: lesson learned pengembangan
pakan murah di Nusa Tenggara Timur. Dalam: Prosiding Seminar Nasional III Himpunan
Ilmuan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI), Halaman, 34 – 45, Grand Rocky Hotel, 27 – 29
Oktober 2014, Bukittinggi, Sumatera Barat.
Nulik, J. dan A. Bamualim. 1998. Pakan Ruminansia Besar di Nusa Tenggara. BPTP, Naibonat dan
EIVSP AusAID.
Pellokila, S.C., U. Ginting, dan F.J.J. Nisnoni. 1991. Potensi Sumberdaya Alam dan Ternak serta
Permasalahannya dalam Pembangunan Peternakan. Makalah disampaikan pada Simposium
Perencanaan Pembangunan Peternakan di NTB, NTT, dan Timor Timor. Diselenggarakan atas
Kerjasama Biro Perencanaan Departemen Pertanian dengan Australian International
Development Assistance Bureau (AIDAB). Mataram, 20-23 Januari 1991.
Setiana, M.A. 2014. Peran Strategis Pakan Domestik. Dalam: Prosiding Seminar Nasional III
Himpunan Ilmuan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI), Halaman, 19 – 33, Grand Rocky
Hotel, 27 – 29 Oktober 2014, Bukittinggi, Sumatera Barat.

28

Anda mungkin juga menyukai