0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan44 halaman

Program Literasi SDN Babakan 01 2023-2024

Gerakan Literasi Sekolah bertujuan meningkatkan kompetensi literasi peserta didik. Dokumen ini membahas program kegiatan Gerakan Literasi Sekolah di SDN Babakan 01 yang meliputi tujuan, sasaran, target pencapaian, dan tahapan pelaksanaan di tahap pembiasaan.

Diunggah oleh

anitaerwitasari49
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan44 halaman

Program Literasi SDN Babakan 01 2023-2024

Gerakan Literasi Sekolah bertujuan meningkatkan kompetensi literasi peserta didik. Dokumen ini membahas program kegiatan Gerakan Literasi Sekolah di SDN Babakan 01 yang meliputi tujuan, sasaran, target pencapaian, dan tahapan pelaksanaan di tahap pembiasaan.

Diunggah oleh

anitaerwitasari49
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGANTAR

Gerakan Literasi Sekolah yang digagas dan dikembangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan

Menengah merupakan kepedulian atas rendahnya kompetensi peserta didik Indonesia dalam bidang

matematika, sains, dan membaca. Data penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia

dalam memahami bacaan berada di bawah rata-rata internasional. Melalui penguatan kompetensi literasi,

terutama literasi dasar, peserta didik diharapkan dapat memanfaatkan akses lebih luas pada pengetahuan

agar rendahnya peringkat kompetensi tersebut dapat diperbaiki.

Kompetensi literasi dasar (menyimak-berbicara, membaca-menulis, berhitung memperhitungkan, dan

mengamati-menggambar) sudah selayaknya ditanamkan sejak pendidikan dasar, lalu dilanjutkan pada

jenjang pendidikan yang lebih tinggi agar peserta didik dapat meningkatkan kemampuan untuk

mengakses informasi dan pengetahuan. Selain itu, peserta didik mampu membedakan informasi yang

bermanfaat dan tidak bermanfaat. Hal itu karena literasi mengarahkan seseorang pada kemampuan

memahami pesan yang diwujudkan dalam berbagai bentuk teks (lisan, tulis, visual).

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi

Pekerti, salah satunya, mengenai kegiatan membaca buku nonpelajaran selama lima belas menit sebelum

waktu belajar dimulai. Kegiatan tersebut adalah upaya menumbuhkan kecintaan membaca kepada

peserta didik dan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus merangsang imajinasi.

Gerakan Literasi Sekolah perlu melibatkan para pemangku kepentingan secara terprogram dengan satu

tujuan agar peserta didik, terutama di tingkat pendidikan dasar, menjadi insan berbudaya literasi. Untuk

itu, perlu dibuatkan program kegiatan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar Negeri Babakan 01.

Program Kegiatan ini merupakan rujukan bagi pemangku kepentingan SDN Babakan 01 dalam

melaksanakan kegiatan literasi yang terintegrasi dan efektif.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 0


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada abad ke-21 ini, kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan

membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif.

Akan tetapi, pembelajaran di sekolah saat ini belum mampu mewujudkan hal tersebut. Pada tingkat

sekolah menengah (usia 15 tahun) pemahaman membaca peserta didik Indonesia (selain matematika dan

sains) diuji oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD—Organization for

Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment

(PISA).

PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor

rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat

ke-64 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496) (OECD, 2013). Sebanyak 65 negara berpartisipasi

dalam PISA 2009 dan 2012. Dari kedua hasil ini dapat dikatakan bahwa praktik pendidikan yang

dilaksanakan di sekolah belum memperlihatkan fungsi sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang

berupaya menjadikan semua warganya menjadi terampil Membaca untuk mendukung mereka sebagai

pembelajar sepanjang hayat.

Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan gerakan literasi

sekolah (GLS) yang melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat

pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Selain itu, pelibatan unsur eksternal dan

unsur publik, yakni orang tua peserta didik, alumni, masyarakat, dunia usaha dan industri juga menjadi

komponen penting dalam GLS.

Untuk melaksanakan kegiatan GLS, diperlukan suatu program kegiatan yang merupakan penjabaran

lebih lanjut dari Panduan Gerakan Literasi Sekolah Kemendiknas, melalui tahapan pembiasaan,

pengembangan, dan pembelajaran beserta langkah-langkah operasional pelaksanaan dan beberapa

contoh praktis instrumen penyertanya.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 1


Program kegiatan ini dibuat dan ditujukan bagi kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan untuk

membantu melaksanakan kegiatan literasi di SD.

B. Pengertian

1. Pengertian Literasi

Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan

menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat,

menyimak, menulis, dan/ atau berbicara.

2. Gerakan Literasi Sekolah

GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai

organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum:

Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang

diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah melalui Leader’s Reading Challenge Kabupaten Bandung

(LEKSAM BEDAS) agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

2. Tujuan Khusus:

a. Menumbuh kembangkan budaya literasi di sekolah.

b. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat.

c. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah

mampu mengelola pengetahuan.

d. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi

berbagai strategi membaca.

D. Ruang Lingkup

1. Lingkungan fisik sekolah (fasilitas dan sarana prasarana literasi).

2. Lingkungan sosial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif seluruh warga sekolah).

3. Lingkungan akademik (program literasi yang menumbuhkan minat baca dan menunjang kegiatan

pembelajaran di SD)

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 2


E. Sasaran

Sasaran adalah pendidik, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan dan Peserta Didik di SDN Babakan

01

F. Target Pencapaian Pelaksanaan GLS di SD

GLS di SD menciptakan ekosistem pendidikan di SD yang literat. Ekosistem pendidikan yang literat

adalah lingkungan yang:

1. Menyenangkan dan ramah peserta didik, sehingga menumbuhkan semangat warganya dalam belajar;

2. Semua warganya menunjukkan empati, peduli, dan menghargai sesama;

3. Menumbuhkan semangat ingin tahu dan cinta pengetahuan;

4. Memampukan warganya cakap berkomunikasi dan dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya;

dan

5. Mengakomodasi partisipasi seluruh warga sekolah dan lingkungan eksternal SD.

GLS dengan LEKSAM BEDAS di SDN Babakan 01 dilaksanakan secara bertahap dengan

mempertimbangkan kesiapan masing-masing sekolah pada saat sekarang. Kesiapan ini mencakup

kesiapan kapasitas fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga

sekolah (peserta didik, tenaga guru, orang tua, dan komponen masyarakat lain), dan kesiapan sistem

pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan).

Untuk memastikan keberlangsungannya dalam jangka panjang, LEKSAM BEDAS SDN Babakan 01

dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu tahap pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran.

Pembiasaan Pengembangan Pembelajaran

1. Kegiatan membaca dan penataan lingkungan kaya literasi di tahap pembiasaan.

2. Langkah-langkah kegiatan :

a. Membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai

b. Menata sarana dan lingkungan kaya literasi

c. Menciptakan lingkungan kaya teks

d. Memilih buku bacaan di SD

e. Pelibatan publik

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 3


3. Ekosistem sekolah yang literat menjadikan guru literat dengan menunjukan ciri kinerja sebagai

berikut. :

1. Menyediakan beragam pengalaman membaca

2. Warga sekolah gemar membaca

3. Warga sekolah gemar menulis

4. Memilih buku pengayaan fiksi dan nonfiksi

5. Langkah-langkah kegiatan:

a. Membaca terpandu

b. Membaca bersama

c. Aneka karya kreativitas seperti Workbook, Skill Sheets (Triarama, Easy slit book,One sheet

book, Flip flop book)

d. Mari berdiskusi tentang buku

e. Story-map outline

6. Indikator pencapaian di tahap pengembangan

1. Menyediakan pembelajaran terpandu berbasis literasi

2. Menata kelas berbasis literasi

3. Mengorganisasikan material

4. Melaksanakan literasi terpadu sesuai dengan tema dan mata pelajaran

5. Membuat jadwal

6. Asesmen dan Evaluasi

7. Konferensi literasi warga sekolah

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 4


BAB II

TAHAP PEMBIASAAN

I. PELAKSANAAN GLS DI TAHAP PEMBIASAAN

Kegiatan pelaksanaan pembiasaan gerakan literasi pada tahap ini bertujuan untuk Menumbuhkan minat

peserta didik terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca.

1. Kecakapan Literasi

Jenjang Komunikasi Berpikir Kritis

1. SD kelas rendah

 Mengartikulasikan empati terhadap tokoh cerita

 Memisahkan fakta Dan fiksi

2. SD kelas tinggi

 Mempresentasikan cerita dengan efektif

 Mengetahui jenis tulisan dalam media dan tujuannya

 Pembentukan kelompok/komunitas membaca dari kelas 4 dan kelas 5

2. fokus dan prinsip kegiatan di tahap pembiasaan

Kegiatan membaca yang dapat dilakukan pada tahap pembiasaan:

Sarana & Prasarana

1. SD kelas rendah

 Menyimak cerita untuk menumbuhkan empati

 Mengenali dan membuat inferensi, prediksi, terhadap gambar

 Membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati Buku cerita bergambar, buku tanpa

teks (wordless picture books), buku dengan teks sederhana, baik fiksi maupun nonfiksi

 Sudut buku kelas, perpustakaan, area baca

2. SD Kelas tinggi

 Menyimak (lebih lama) untuk memahami isi bacaan

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 5


 Memahami isi bacaan dengan berbagai strategi (mengenali jenis teks, membuat inferensi,

koneksi dengan pengalaman/ teks lain, dll).

 Membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati buku cerita bergambar, buku

bergambar kaya teks, buku novel pemula, baik dalam bentuk cetak/ digital/ visual Sudut buku

kelas, perpustakaan, area baca

3. Prinsip-prinsip kegiatan membaca

a) Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku bacaan, bukan buku teks pelajaran.

b) Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik. Peserta didik

diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah.

c) Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini tidak diikuti oleh tugas-tugas

menghafalkan cerita, menulis sinopsis, dan lain-lain.

d) Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini dapat diikuti dengan diskusi informal

tentang buku yang dibaca/dibacakan, atau kegiatan yang menyenangkan terkait buku yang dibacakan

apabila waktu memungkinkan. Tanggapan dalam diskusi dan kegiatan lanjutan ini tidak

dinilai/dievaluasi.

e) Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini berlangsung dalam suasana yang

santai dan menyenangkan. Guru menyapa peserta didik dan bercerita sebelum membacakan buku dan

meminta mereka untuk membaca buku.

4. Kegiatan membaca dan penataan lingkungan kaya literasi pada tahap pembiasaan

a) Membaca buku cerita/pengayaan selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan membaca

yang dapat dilakukan adalah membacakan buku dengan nyaring (read aloud) dan membaca dalam

hati (sustained silent reading/SSR).

b) Memperkaya koleksi bacaan untuk mendukung kegiatan 15 menit membaca.

c) Memfungsikan lingkungan fisik sekolah melalui pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah, antara

lain perpustakaan, sudut buku kelas, area baca, kebun sekolah, kantin, UKS, dll. Untuk

menumbuhkan minat baca warga sekolah, sarana prasarana ini dapat diperkaya dengan bahan kaya

teks (print-rich material).

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 6


d) Melibatkan komunitas di luar sekolah dalam kegiatan 15 menit membaca dan pengembangan sarana

literasi, serta pengadaan buku-buku koleksi perpustakaan dan sudut buku kelas.

e) Memilih buku bacaan yang baik (dipandu guru pembimbing).

5. Langkah-langkah Kegiatan

a) Membaca 15 Menit Sebelum Pelajaran Dimulai

1) Membacakan nyaring

Guru/pustakawan/kepala SD/relawan membacakan buku/bahan bacaan lain dengan nyaring.

Tujuan

a) memotivasi peserta didik agar mau membaca;

b) membuat peserta didik dapat membaca dan gemar membaca;

c) memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan;

d) membangun komunikasi antara guru dan peserta didik;

e) guru/pustakawan/kepala sekolah menjadi teladan membaca.

Tahap Membaca

Kegiatan

1. Persiapan yang perlu dilakukan

a) Memahami tujuan membacakan nyaring, yaitu menumbuhkan minat baca, memeragakan cara

membaca, dan menjadikan peserta didik lancar membaca.

b) Mengetahui tingkat kemampuan berpikir dan membaca peserta didik.

c) Memilih buku yang berkualitas baik dan memiliki isi yang disesuaikan dengan jenjang dan minat

peserta didik;

d) Melakukan kegiatan prabaca dan baca ulang dengan tujuan:

1) mengetahui jalannya cerita, atau isi/pesan dalam setiap buku yang dibaca;

2) mengetahui letak tanda-tanda baca sehingga memungkinkan untuk mengatur intonasi suara agar

menarik atau menentukan kapan harus jeda;

3) mengantisipasi pertanyaan yang ditanyakan oleh peserta didik;

4) melakukan prediksi atau menghubungkan isi bacaan dengan topik lain yang relevan.

e) Menulis pertanyaan-pertanyaan sebagai bahan diskusi.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 7


f) Melatih intonasi, volume suara, dan gerak tubuh agar dapat membacakan buku dengan menarik serta

ekspresi wajah yang mendukung penceritaan.

g) untuk anggota komunitas/kelompok membaca kegiatan membaca selain dilakukan di sekolah juga

dilakukan di rumah untuk mencapai target menyelesaikan membaca sebanyak 24 buah buku selama 1

tahun

Tahap Membaca

Kegiatan

1. Sebelum membacakan nyaring

a) Memulai dengan menyapa peserta didik dan menyebutkan alasan memilih bacaan tersebut.

b) Menunjukkan sampul buku cerita yang akan dibacakan dan menyampaikan gambaran singkat

cerita.

c) Menyebutkan judul, pengarang, dan ilustrator buku.

d) Menggali pengalaman peserta didik, misalnya dengan menanyakan: Apakah ada di antara mereka

yang pernah membaca buku tersebut? Apakah ada yang memiliki buku itu? Atau, apakah ada yang

dapat menduga isi buku itu?

e) Mulai menyusuri ilustrasi, apabila terdapat dalam buku atau bahan bacaan.

f) Membacakan buku dengan cara yang sangat menarik.

3. Saat membacakan nyaring

a) Suara dapat didengar seluruh peserta didik: tidak terlalu cepat,disertai intonasi, ekspresi, dan gestur

yang sesuai isi cerita.

b) Bersikap ramah.

c) Menanggapi komentar dan pertanyaan peserta didik.

d) Mengingatkan peserta didik untuk menyimak.

e) Membagi informasi dan berdiskusi selama membacakan buku.

f) Mengajak peserta didik aktif bertanya.

g) Mengajak peserta didik untuk menceritakan apa yang dibacakan dan apa yang dipikirkan (think

aloud) terkait bacaan.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 8


Tahap Kegiatan

4. Setelah membacakan nyaring

a) Meminta peserta didik mengajukan pertanyaan.

b) Guru mengajukan pertanyaan seandainya peserta didik tidak bertanya.

c) Meminta peserta didik untuk menceritakan ulang bacaan dengan kata-katanya sendiri.

d) Meletakkan buku atau materi bacaan di tempat yang mudah dilihat dan dijangkau oleh tangan

peserta didik.

e) Mencatat judul buku yang telah dibacakan (form My Reading Log).

2) Membaca Dalam Hati

Membaca dalam hati (sustained silent reading) adalah kegiatan membaca 15 menit yang diberikan

kepada peserta didik tanpa gangguan. Guru menciptakan suasana tenang, nyaman, agar peserta didik

dapat berkonsentrasi pada buku yang dibacanya.

Tujuan :

Menumbuhkan kebiasaan membaca pada peserta didik.

Tahap

1. Persiapan membaca dalam hati

a) Memahami tujuan membaca dalam hati, yaitu untuk menumbuhkan minat baca peserta didik.

b) Memastikan agar bacaan sesuai dengan tingkat keterampilan membaca peserta didik.

Tahap kegiatan

2. Sebelum membaca dalam hati dilakukan

a) Menawarkan kepada peserta didik apakah mereka memilih sendiri buku yang ingin dibaca dari

Sudut Baca Kelas atau membawanya sendiri dari rumah.

b) Membebaskan peserta didik untuk memilih buku yang sesuai dengan minat dan

kesenangannya.

c) Memberi semangat kepada peserta didik bahwa ia harus membaca buku tersebut sampai selesai,

dalam kurun waktu tertentu, bergantung pada ketebalan buku.

d) Membolehkan peserta didik untuk mencari buku lain apabila isi buku dianggap kurang

menarik.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 9


e) Membolehkan peserta didik untuk memilih tempat yang disukainya untuk membaca.

f) Menyediakan buku-buku dengan jenis dan judul yang variatif.

3. Saat membaca dalam hati Peserta didik dan guru bersama-sama membaca buku masing-masing

dengan tenang selama 15 menit.

4. Setelah membaca dalam hati

Guru dapat menggunakan 5–10 menit setelah membaca untuk bertanya kepada peserta didik tentang

buku yang dibaca.

b) Menata sarana dan lingkungan kaya literasi

Sarana literasi mencakup perpustakaan sekolah, Sudut Baca Kelas, dan area baca. Perpustakaan

berfungsi sebagai pusat pembelajaran di SD. Pengembangan dan penataan perpustakaan menjadi

bagian penting dari pelaksanaan gerakan literasi SD dan pengelolaan pengetahuan yang berbasis pada

bacaan. Perpustakaan yang dikelola dengan baik mampu meningkatkan minat baca warga SD dan

menjadikan mereka pembelajar sepanjang hayat. Perpustakaan SD idealnya berperan dalam

mengkoordinasi pengelolaan Sudut Baca Kelas, area baca, dan prasarana literasi lain di SD.

1) Perpustakaan SD

a) Fungsi perpustakaan SD adalah sebagai pusat pengelolaan pengetahuan dan sumber belajar di SD

yang dikelola oleh kepala SD.

b) Perpustakaan SD dapat dikelola oleh tim perpustakaan yang terdiri atas tenaga yang terlatih di dalam

pengelolaan bahan literasi.

c) Perpustakaan SD sebaiknya dilengkapi oleh berbagai sistem dan aplikasi untuk mencatat pengunjung,

dan aktivitas membaca, dan sarana literasi lain.

2) Sudut Baca Kelas

a) Sudut Baca Kelas adalah sebuah sudut di kelas yang dilengkapi dengan koleksi buku yang ditata

secara menarik untuk menumbuhkan minat baca peserta didik.

b) Sudut Baca Kelas adalah sudut di ruangan kelas yang digunakan untuk memajang koleksi bacaan dan

karya peserta didik.

c) Sudut Baca Kelas berperan sebagai perpanjangan fungsi perpustakaan SD, yaitu pendekatkan buku

kepada peserta didik.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 10


d) Sudut Baca Kelas dikelola oleh guru, peserta didik, dan orang tua.

3) Area Baca

Area baca meliputi lingkungan sekolah (serambi, koridor, halaman, kebun, ruang kelas, tempat

ibadah, tempat parkir, ruang UKS, ruang kepsek, ruang guru, ruang tunggu orang tua, toilet dll.) yang

dilengkapi oleh koleksi buku untuk memfasilitasi kegiatan membaca peserta didik dan warga sekolah.

c) Menciptakan lingkungan kaya teks

Untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah, ruang kelas perlu diperkaya dengan

bahan-bahan kaya teks.

Contoh-contoh bahan kaya teks adalah:

1. karya-karya peserta didik berupa tulisan, gambar, atau grafik; Hasil Reviu Siswa Foto-foto Kegiatan

Siswa

2. poster-poster yang terkait pelajaran, poster buku, poster kampanye membaca, dan poster kampanye

lain yang bertujuan menumbuhkan cinta pengetahua dan budi pekerti;

3. dinding kata;

4. label nama-nama peserta didik pada barang-barang mereka yang disimpan di kelas (apabila ada);

5. jadwal harian, pembagian kelompok tugas kelas;

6. surat, resep, kupon, kliping, foto kegiatan peserta didik;

7. Label nama-nama pada setiap benda di ruang kelas;

8. komputer dan/atau perangkat elektronik lain yang mendukung kegiatan literasi;

9. buku dan sumber informasi lain (koran, majalah, buletin);

[Link] buletin;

[Link] dan mainan alfabet;

[Link] cerita, DVD, dan bahan digital/eletronik yang mendukung kegiatan literasi,

[Link] berkarya dan menulis seperti alat tulis, alat warna, alat gambar, kertas gambar, kertas

bekas, busa, kertas prakarya, surat, kertas surat, amplop, koran bekas, kertas sampul, dll;

[Link], balok-balok, kostum, dan permainan edukatif lain untuk digunakan dalam permainan peran

(menjadi dokter atau juru masak yang menulis resep, atau pelayan restoran yang menulis daftar

pesanan);

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 11


[Link] selamat datang dan kata-kata yang memotivasi di pintu kelas, lorong SD, dan tempat-tempat

lain yang mudah dilihat; dan

[Link] bahan dan alat harus disimpan di tempat yang mudah diraih oleh peserta didik dan perlu

dikelompokkan menurut fungsinya (alat gambar disimpan terpisah dari mainan, alat untuk bermain

peran, dan lain-lain); peserta didik perlu mengetahui di mana mereka dapat menemukan bahanbahan

yang mereka perlukan.

d) Memilih Buku Bacaan di SD

Jenjang Konten bacaan yang sesuai

SD kelas rendah

1) Peserta didik didampingi Guru Kelas / Guru Pendamping ketika memilih buku.

2) Buku mengandung informasi yang sederhana dan atau kejadian sehari-hari.

3) Cerita mengandung nilai optimisme, bersifat inspiratif, dan mengembangkan imajinasi.

4) Buku dapat bergenre fantasi dengan tokoh binatang (fabel).

5) Buku mengandung pesan nilai-nilai sesuai dengan tahapan tumbuh kembang peserta didik

dalam berbagai aspek, antara lain moral, sosial,kognitif.

6) Pesan moral cerita disampaikan dengan tidak menggurui.

7) Buku yang dibacakan dapat berukuran besar (big book).

SD kelas tinggi

1) Peserta didik dapat memilih buku secara mandiri.

2) Buku mengandung informasi yang kompleks.

3) Cerita mengandung nilai optimisme, bersifat inspiratif, dan mengembangkan imajinasi.

4) Buku dapat bergenre cerita rakyat yang sesuai dengan jenjang SD.

5) Buku mengandung pesan nilai-nilai sesuai dengan tahapan tumbuh kembang peserta didik

dalam berbagai aspek, antara lain moral, sosial, kognitif.

6) Pesan moral cerita disampaikan dengan tidak menggurui.

1) Ilustrasi memiliki alur yang baik dan dapat bersifat imajinatif.

2) Ilustrasi berfungsi melengkapi alur cerita (buku berilustrasi/ illustrated books).

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 12


e) Pelibatan Publik

Sekolah perlu melibatkan publik?

1. Pengembangan sarana literasi membutuhkan sumber daya yang memadai. Partisipasi komite sekolah,

orang tua, alumni, dan dunia bisnis dan industri dapat membantu memelihara dan mengembangkan

sarana sekolah agar capaian literasi peserta didik dapat terus ditingkatkan.

2. Dengan keterlibatan semakin banyak pihak, peserta didik dapat belajar dari figur teladan literasi yang

beragam.

3. Ekosistem sekolah menjadi terbuka dan sekolah mendapat kepercayaan yang semakin baik dari orang

tua dan elemen masyarakat lain.

4. Sekolah belajar untuk mengelola dukungan dari berbagai pihak sehingga akuntabilitas sekolah juga

akan meningkat.

Cara melibatkan publik

1. Memulai dengan kalangan terdekat yang memiliki hubungan emosional dengan sekolah, misalnya

komite sekolah, orang tua, dan alumni.

2. Melibatkan komunitas tersebut dalam perencanaan awal program dan membangun partisipasi dan rasa

memiliki terhadap program.

3. Melibatkan Komite Sekolah, orang tua, dan alumni sebagai relawan membaca 15 menit sebelum

pelajaran.

4. Membuat kegiatan-kegiatan untuk menyambut kedatangan alumni ke sekolah.

5. Apabila kegiatan telah berjalan, sekolah perlu menyampaikan apresiasi dengan mencantumkan nama

donatur (misalnya, dalam properti prasarana seperti perabotan, buku, dan lain-lain atau buletin atau

majalah dinding sekolah) atau mengundang mereka dalam kegiatan dan seremoni sekolah.

6. Menjaga hubungan baik dengan alumni dan pelaku dunia bisnis dan industri melalui sosial media atau

media interaksi sosial lainnya.

6. Indikator pencapaian pada tahap pembiasaan

Sekolah menggunakan beberapa indikator sebagai acuan pencapaian untuk mengetahui apakah prioritas

kegiatan di tahap pembiasaan literasi sudah dilaksanakan di sekolah.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 13


Setelah melaksanakan semua indikator dalam tahap pembiasaan, selanjutnya melangkah ke tahap

berikutnya, yaitu tahap pengembangan.

No Indikator Belum Sudah

1 Ada kegiatan 15 menit membaca:

a. Membacakan nyaring

b. Membaca dalam hati

2 Kegiatan 15 menit membaca dilakukan setiap hari (di awal, tengah, atau menjelang akhir

pelajaran).

3 Buku yang dibacakan kepada atau dibaca oleh peserta didik dicatat judul dan nama pengarangnya

dalam catatan harian.

4 Guru, kepala sekolah,dan tenaga kependidikan lain terlibat dalam kegiatan 15 menit dengan

membacakan buku atau ikut membaca dalam hati.

5 Ada perpustakaan sekolah atau ruangan khusus untuk menyimpan buku non-pelajaran.

6 Ada Sudut Baca Kelas di tiapkelas dengan koleksi buku nonpelajaran.

7 Ada poster-poster kampanye membaca di kelas, koridor, dan area lain di sekolah.

8 Ada bahan kaya teks di tiap kelas

9 Kebun sekolah, kantin, dan UKS menjadi lingkungan yangkaya literasi. Terdapat posterposter

tentang pembiasaan hidup sehat, kebersihan, dankeindahan di kebun sekolah,

kantin, dan UKS. Makanan di kantin sekolah diolah denganbersih dan sehat.

10 Sekolah berupaya untuk melibatkan publik (orang tua, alumni, dan elemen masyarakat lain) untuk

mengembangkan kegiatan literasi sekolah.

7) Ekosistem sekolah yang literat menjadikan guru literat dengan menunjukan ciri kinerja

sebagai berikut.

1. Gemar membaca sehingga dapat memilih bacaan yang baik dan disukai peserta didik.

2. Menjadi teladan membaca sehingga peserta didik pun gemar membaca.

3. Membantu peserta didik untuk mau membaca dengan menciptakan lingkungan yang kaya literasi.

4. Mengajar dengan antusias dan menjadikan kegiatan membaca menyenangkan.

5. Memperlakukan seluruh peserta didik dengan baik, tanpa takut dikritik dan disalahkan.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 14


6. Menyesuaikan kegiatan membaca dengan gaya belajar peserta didik yang unik.

7. Meningkatkan kapasitas diri dan profesionalisme dengan belajar tanpa henti.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 15


BAB III

TAHAP PENGEMBANGAN

Fokus Kegiatan Literasi pada Tahap Pengembangan.

Jenjang Fokus Kegiatan Media

SD kelas rendah

• Guru membacakan nyaring interaktif.

• Guru memandu anak untuk membaca buku bergambar (guided reading).

• Guru membaca buku bergambar. bersama peserta didik (shared reading).

• Membaca mandiri (independent reading).

• Peserta didik menggambar tokoh atau kejadian dalam cerita, atau menulis beberapa kata dalam cerita.

• Buku cerita bergambar.

• Buku cerita bergambar berukuran besar (big book).

Jenjang Fokus Kegiatan Media

SD kelas tinggi

• Guru membacakan buku cerita bergambar atau buku cerita berilustrasi atau kutipan novel anak dengan

nyaring.

• Guru membaca buku bergambar atau buku berilustrasi bersama peserta didik (shared reading).

• Guru memandu peserta didik membaca buku cerita bergambar atau berilustrasi (guided reading).

• Peserta didik membaca buku berilustrasi atau novel anak dalam hati.

• Peserta didik mengisi peta cerita (story map/ graphic organizer untuk menanggapi bacaan.

• Peserta didik menuliskan tanggapan atau kesan terhadap bacaan dengan kalimat sederhana.

• Buku cerita bergambar,

• Buku cerita berilustrasi,

• Buku besar (big book),

• Cerita rakyat yang sesuai jenjang SD.

• Novel anak sederhana.

• Puisi dan pantun sederhana.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 16


3. Prinsip-prinsip Kegiatan pada Tahap Pengembangan:

• Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku selain buku teks pelajaran.

• Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik.

Peserta didik diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah.

• Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh tugastugas menggambar, menulis,

kriya, seni gerak dan peran untuk menanggapi bacaan, yang disesuaikan dengan jenjang dan

kemampuan peserta didik.

• Penilaian terhadap tanggapan peserta didik terhadap bacaan bersifat non-akademik dan berfokus pada

sikap peserta didik dalam kegiatan. Masukan dan komentar pendidik terhadap karya peserta didik

bersifat memotivasi mereka.

• Kegiatan membaca/membacakan buku berlangsung dalam suasana yang menyenangkan.

4. Kegiatan pada Tahap Pengembangan

a. Langkah-langkah membaca pada tahap pengembangan

• Membacakan nyaring interaktif (Interactive read aloud)

Guru membacakan buku/ bahan bacaan dan mengajak peserta didik untuk menyimak dan menanggapi

bacaan dengan aktif. Proses membacakan buku ini bersifat interaktif karena guru memeragakan

bagaimana berpikir menanggapi bacaan dan menyuarakannya (think aloud) dan mengajak peserta didik

untuk melakukan hal yang sama. Fokus kegiatan membacakan nyaring interaktif biasanya adalah untuk

memahami kosa kata baru.

Prinsip-prinsip membacakan nyaring interaktif:

a) Guru merancang tujuan membacakan nyaring, misalnya, untuk mengenalkan kosa kata tertentu.

b) Guru dan peserta didik berinteraksi selama buku dibacakan.

c) Guru dan peserta didik berperan aktif.

d) Guru dan peserta didik menyuarakan proses berpikir saat menanggapi bacaan (think aloud).

e) Guru dan peserta didik mencatat tanggapannya terhadap bacaan.

f) Guru memilih bacaan dengan seksama, dengan memperhatikan perkembangan usia dan kemampuan

membaca peserta didik.

Langkah-langkah membacakan nyaring interaktif (Interactive Read Aloud )

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 17


Persiapan membacakan nyaring

• Merencanakan tujuan membaca.

• Mengetahui tahapan membaca siswa.

• Memilih buku yang baik.

• Melakukan pra-baca dan membaca ulang buku yang akan dibacakan untuk:

– Mengetahui jalannya cerita,

– Mempelajari letak tanda-tanda baca untuk merencanakan intonasi suara dan jeda agar dapat

membacakan buku dengan menarik.

– Mengantisipasi pertanyaan yang mungkin ditanyakan peserta didik.

– Merencanakan pengembangan diskusi.

• Mencatat pertanyaan-pertanyaan untuk memancing interaksi dengan peserta didik.

• Berlatih membacakan dengan intonasi suara dan gestur yang menarik.

• Merencanakan langkah-langkah membacakan nyaring agar peserta didik memahami bacaan.

Sebelum membacakan nyaring

• Mulai dengan menyapa peserta didik dan menjelaskan mengapa memilih bahan bacaan tersebut.

• Menunjukkan sampul muka buku atau bacaan yang akan dibacakan dan menyebutkan ringkasan cerita.

• Menyebutkan judul bacaan, pengarang dan ilustratornya, apabila ada.

• Menggali pengetahuan latar dan pengalaman peserta didik.

• Mengajak peserta didik memperhatikan ilustrasi, apabila ada, untuk memahami alur cerita.

Langkah-langkah membacakan nyaring interaktif (Interactive Read Aloud )

Saat membacakan nyaring

• Membacakan bacaan dengan volume suara yang jelas dan tempo yang baik.

• Berinteraksi dengan peserta didik selama membacakan buku.

• Menanggapi komentar dan pertanyaan peserta didik.

• Mengajak peserta didik menyimak dan merasakan emosi cerita.

• Membagi informasi dan berdiskusi selama membacakan buku.

• Mengajak peserta didik membuat peta cerita (story map).

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 18


• Mengajak peserta didik mengungkapkan apa yang didengar atau dibacakan dan apa yang dipikirkan

(think aloud).

• Mengembangkan proses meta kognitif peserta didik (mereka membicarakan tentang/mencatat proses

berpikir mereka).

Setelah membacakan nyaring

• Meminta peserta mengajukan pertanyaan.

• Mengajukan pertanyaan seandainya peserta didik tidak bertanya.

• Meminta peserta didik untuk menceritakan kembali cerita dengan kata-katanya sendiri.

• Menanggapi/mengembangkan cerita melalui kegiatan seperti bermain, berkreasi, mengisi catatan, atau

menggambar.

• Meletakkan buku bacaan ditempat yang mudah dijangkau peserta didik agar mereka dapat

membacanya di lain waktu.

• Guru dapat menjadikan kegiatan membacakan nyaring sebagai hadiah atas pencapaian peserta didik.

• Membaca terpandu ( Guided Reading )

Guru memandu peserta didik dalam kelompok kecil (4-6 anak) dalam kegiatan membaca untuk

meningkatkan pemahaman mereka.

Fasilitas pendukung: buku untuk dibaca, alat tulis, kertas besar (flip chart) dan perekat, papan untuk

menempel kertas.

Prinsip-prinsip membaca terpandu:

a. Guru menetapkan tujuan membaca terpandu, misalnya untuk mengenalkan strategi membaca tertentu.

b. Peserta didik dikelompokkan menurut jenjang kemampuan membacanya.

c. Guru mendampingi proses peserta didik membaca untuk membantu mereka memahami bacaan dan

mengamati kemajuan membaca mereka dengan seksama.

Langkah-langkah membaca terpandu ( Guided Reading )

Persiapan yang perlu dilakukan

• Merencanakan tujuan membaca.

• Mengetahui jenjang kemampuan membaca peserta didik.

• Memilih buku yang baik, dengan konten yang disesuaikan dengan tema atau sub tema materi ajar.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 19


• Melakukan pra-baca dan baca ulang untuk:

– Mengetahui jalannya cerita.

– Merencanakan diskusi dan daftar pertanyaan terkait bacaan.

– Membuat daftar kata-kata sulit untuk didiskusikan dengan peserta didik.

Sebelum membaca terpandu

• Mengelompokkan peserta didik ke dalam kelompok-kelompok kecil.

• Menjelaskan tujuan membaca terpandu dan ringkasan isi bacaan secara singkat.

• Menjelaskan judul bacaan, penulis, ilustrasi atau penerjemah cerita.

Langkah-langkah membaca terpandu ( Guided Reading )

Saat membaca terpandu

• Guru dapat mengajukan beberapa pertanyaan untuk menggali pengetahuan latar dan pengalaman

peserta didik yang terkait isi bacaan.

• Guru memeragakan membaca kalimat atau paragraf dan meminta peserta didik untuk menirukan atau

meneruskan membaca secara bergiliran.

• Guru meminta peserta didik untuk mencatat kosakata baru, kalimat yang menarik, tokoh utama atau

tokoh lain yang menarik.

• Guru mengajarkan strategi berpikir dan membaca untuk memahami bacaan, misalnya dengan

menggarisbawahi dan menebak arti kata-kata sulit, membaca ilustrasi, menemukan ide pokok paragraf,

mengetahui jenis paragraf, dll. Apabila perlu, guru dapat menuliskan proses berpikirnya atau peta

ceritanya pada flip chart.

Setelah membaca terpandu

• Meminta peserta didik untuk menceritakan kembali isi bacaan dengan kata-katanya sendiri.

• Meminta peserta didik untuk membuat daftar kata-kata sulit.

• Meminta peserta didik untuk membuat peta cerita.

• Meminta peserta didik untuk mengevaluasi strategi membaca yang dilakukan.

• Membaca bersama ( Shared Reading )

Guru mendemonstrasikan cara membaca kepada seluruh peserta didik di kelas atau kepada satu per satu

peserta didik. Guru dapat membaca bersama-sama dengan peserta didik, lalu meminta peserta didik

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 20


untuk bergiliran membaca. Metode ini bertujuan untuk memberikan pengalaman kepada peserta didik

untuk membaca dengan nyaring dan meningkatkan kefasihan mereka. Dengan memeragakan cara

membaca, guru mengajarkan strategi membaca kepada peserta didik.

Fasilitas pendukung: buku besar (big book, apabila dibacakan kepada banyak peserta didik), buku

bacaan, kertas besar (flip chart) dan alat tulis.

Prinsip-prinsip membaca bersama:

a. Guru memilih bacaan yang dapat dilihat dan menarik minat seluruh peserta didik.

b. Guru memastikan seluruh peserta didik memperhatikan bacaan dan ikut membaca.

Langkah-langkah membaca bersama di dalam kelas (Shared Reading )

Persiapan yang perlu dilakukan

• Merencanakan tujuan membaca.

• Mengetahui tahapan membaca peserta didik dan apa yang akan ditingkatkan.

• Memilih buku yang baik, dengan konten yang dapat disesuaikan atau mendukung tema atau sub tema

materi ajar.

• Melakukan pra-baca dan baca ulang dengan tujuan:

a. Mengetahui jalannya cerita dan tanda baca sehingga dapat merencanakan intonasi suara saat membaca

agar menarik.

b. Merencanakan pengembangan diskusi saat dan setelah membaca.

c. Membuat daftar kosakata baru untuk didiskusikan dengan peserta didik.

Sebelum membaca bersama

• Mengatur posisi duduk peserta didik agar semuanya dapat melihat buku yang dibacakan.

• Menjelaskan apa yang harus dilakukan peserta didik (misalnya, apakah mereka dapat langsung

membaca bersama atau menunggu kalimat-kalimat dibacakan).

Langkah-langkah membaca bersama di dalam kelas (Shared Reading )

Saat membaca bersama

• Menyebutkan judul, pengarang dan ilustrator atau menyebutkan sumber bahan bacaan.

• Dengan menunjuk sampul depan, minta peserta didik untuk menebaki isi bacaan.

• Guru dan peserta didik membaca materi bacaan (paragraf/ kalimat) yang sama.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 21


• Guru dan peserta didik membaca ulang alinea atau paragraf yang dianggap penting.

• Guru berhenti membaca sejenak dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menebak alur

cerita selanjutnya.

Setelah membaca bersama

• Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait konten buku, kosakata, tatabahasa atau tanda baca

untuk meyakinkan bahwa peserta didik memahami jalannya cerita.

• Guru meminta peserta didik untuk menanggapi isi bacaan.

• Guru dapat mengajak peserta didik untuk membuat daftar kosakata baru dan menuliskannya pada flip

chart.

• Guru dapat menjadikan kegiatan membaca bersama sebagai hadiah atas pencapaian peserta didik

• Membaca Mandiri (Independent Reading )

Kegiatan membaca mandiri adalah peserta didik memilih bacaan yang disukainya dan membacanya

secara mandiri. Salah satu bentuk kegiatan membaca mandiri adalah membaca dalam hati (Sustained

Silent Reading).

Prinsip-prinsip membaca mandiri:

a. Buku yang dipilih oleh peserta didik adalah buku yang digemari dan sesuai dengan jenjang usia dan

kemampuan membaca peserta didik. Untuk membantu peserta didik memilih bacaan yang baik dan tepat,

guru dan tenaga pendidik dapat memberikan daftar buku rekomendasi yang sesuai jenjang.

b. Kegiatan membaca mandiri dapat diikuti oleh kegiatan tindak lanjut seperti membuat peta cerita atau

kegiatan lain untuk menanggapi bacaan.

Langkah-langkah siswa membaca mandiri ( Independent Reading )

Persiapan yang perlu dilakukan

• Menyiapkan daftar rekomendasi bacaan untuk membantu peserta didik memilih bacaan yang tepat dan

baik.

• Apabila peserta didik memilih buku di luar daftar rekomendasi, mereka mendaftarkan buku yang akan

dibaca dan guru melakukan pra-baca terhadap buku tersebut.

Sebelum membaca mandiri

• Guru mengetahui bacaan yang dipilih peserta didik agar:

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 22


– Bacaan sesuai dengan tingkat pemahaman peserta didik atau sedikit di atasnya.

– Konten bacaan sesuai dengan usia peserta didik atau mendukung tema atau sub tema materi ajar.

• Guru melakukan pra-baca untuk:

- Mengetahui ringkasan buku yang akan dibaca peserta didik.

- Dapat menjawab peserta didik apabila mereka bertanya.

- Mengembangkan diskusi dengan topik yang relevan.

Saat membaca mandiri

• Meminta peserta didik untuk membaca secara mandiri.

• Mengingatkan peserta didik untuk menerapkan strategi membaca, misalnya:

– Membaca judul dan mempelajari ilustrasi sampul muka untuk dapat menebak isi bacaan.

– Menebak kata-kata sulit dengan mempelajari ilustrasi atau konteks kalimat.

– Membuat daftar pertanyaan terkait bacaan.

Setelah membaca mandiri

Guru meminta peserta didik untuk:

• mencari informasi lebih lanjut tentang bacaan atau pengarang maupun ilustrator buku.

• membuat daftar kosakata baru.

• membuat peta cerita atau peta konsep isi bacaan.

• meringkas isi bacaan dengan kata-kata sendiri, baik secara lisan, gambar, atau tertulis.

• melakukan kegiatan lanjutan untuk menanggapi isi bacaan.

b. Memilih buku pengayaan fiksi dan nonfiksi

Buku pengayaan bermanfaat untuk menumbuhkan minat baca

• Buku pengayaan memiliki elemen cerita, ilustrasi, dan bahasa yang ditulis untuk menarik minat peserta

didik.

• Buku pengayaan tersedia dalam berbagai topik dan tema yang dapat didiskusikan dengan peserta didik

untuk meningkatkan kemampuan berpikir mereka.

• Buku pengayaan memiliki elemen cerita yang dapat meningkatkan apresiasi peserta didik terhadap

sastra.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 23


• Buku pengayaan dapat menjadi model untuk mengembangkan kemampuan menulis kreatif, baik dalam

genre fiksi maupun non-fiksi.

Untuk dapat memahami elemen cerita dan konten pada bacaan, peserta didik membutuhkan buku

pengayaan yang baik. Kriteria berikut ini membantu guru dan tenaga kependidikan untuk memilih buku

pengayaan yang baik.

Elemen Buku Kriteria

c. Mendiskusikan cerita

Selain untuk meningkatkan pemahaman terhadap bacaan, kegiatan mendiskusikan cerita membantu

peserta didik untuk dapat menganalisis elemen cerita. Untuk mengembangkan pemahaman dan

kemampuan analisis peserta didik

5. Pemanfaatan Perpustakaan dan Sudut Baca di Sekolah pada Tahap Pengembangan

Pemanfaatan perpustakaan dan sudut baca sekolah bertujuan untuk meningkatkan kecakapan literasi

perpustakaan (library literacy) peserta didik.

Kecakapan literasi perpustakaan meliputi:

a. Pengetahuan tentang fungsi perpustakaan sebagai sumber pengetahuan dan koleksi informasi yang

bermanfaat dan menghibur.

b. Kemampuan memilih bahan pustaka yang sesuai jenjang dan minat secara mandiri.

c. Pengetahuan tentang bahan pustaka sebagai produk karya penulisan yang diciptakan melalui proses

kreatif.

e. Pengetahuan tentang etika meminjam bahan pustaka dan berkegiatan di perpustakaan.

Alternatif bentuk-bentuk kegiatan untuk meningkatkan kecakapan literasi perpustakaan sesuai jenjang

adalah sebagai berikut:

Jenjang Kegiatan

Tujuan

SD kelas rendah

Tenaga perpustakaan menjelaskan jenis bahan pustaka (buku teks pelajaran, buku panduan pendidik,

buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lain)

Peserta didik mengetahui ragam bahan pustaka.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 24


Tanaga perpustakaan menjelaskan cara mencari bahan pustaka yang sesuai dengan jenjang peserta didik

melalui beberapa fitur bacaan:

• Proporsi teks dan gambar.

• Jenis buku (misalnya, komik belum sesuai untuk SD kelas rendah).

• Indikator jenjang buku, apabila ada.

• Tempat pemajangan buku.

Peserta didik mengetahui koleksi perpustakaan yang sesuai dengan jenjang.

Jenjang Kegiatan Tujuan

SD kelas rendah

Peserta didik mencari bahan pustaka yang mereka sukai sesuai jenjang secara mandiri melalui katalog

dan sarana temu kembali yang lain, apabila ada.

Pustakawan/tenaga perpustakaan memperkenalkan nama penulis dan ilustrator ketika membacakan buku

dan menjelaskan profesi keduanya.

Peserta didik memahami tentang buku dan proses kreatif pembuatannya.

Sekolah mengadakan acara jumpa penulis dan ilustrator.

Peserta didik membuat buku sederhana dan mengilustrasinya.

Pustakawan/tenaga perpustakaan menjelaskan etika menggunakan koleksi perpustakaan dan beraktivitas

di perpustakaan.

Peserta didik memahami ketika menggunakan perpustakaan.

SD kelas tinggi

Pustakawan/tenaga perpustakaan menjelaskan perbedaan jenis bahan pustaka (buku teks pelajaran, buku

panduan pendidik, buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lain)

Peserta didik memahami ragam bahan pustaka.

Pustakawan/tenaga perpustakaan menjelaskan jenis buku bacaan (buku bergambar, buku berilustrasi,

komik, majalah anak, novel anak, dll).

Pustakawan/tenaga perpustakaan menjelaskan ragam genre buku bacaan (cerita rakyat, fabel, fantasi,

biografi, dll).

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 25


Jenjang Kegiatan

Tujuan

SD kelas tinggi

Peserta didik memilih bahan pustaka yang sesuai jenjang dan minat secara mandiri.

Peserta didik mengetahui koleksi perpustakaan yang sesuai jenjang.

Peserta didik dapat memilih buku secara mandiri dengan bantuan katalog atau sarana temu

kembali yang lain.

Peserta didik memilih bahan pustaka secara mandiri.

Peserta didik mengenali nama penulis, ilustrator, dan editor buku secara mandiri.

Peserta didik memahami proses kreatif pembuatan buku/bahan perpustakaan.

Peserta didik mewawancarai penulis, ilustrator, dan editor buku untuk mengenal lebih jauh tentang

profesi mereka dan proses kreatif pembuatan buku.

Peserta didik membuat buku bergambar/berilustrasi, atau cerita pendek, majalah anak dll secara

individual atau kolaboratif.

Pustakawan/tenaga perpustakaan menjelaskan etika meminjam koleksi perpustakaan dan etika

berkegiatan di perpustakaan.

Peserta didik memahami ketika menggunakan perpustakaan.

6. Rubrik Penilaian Non-akademik pada Tahap Pengembangan

Tujuan penilaian pada tahap pengembangan adalah untuk menumbuhkankecintaan dan sikap peserta

didik kepada bacaan dan kegiatan membaca, serta untuk mengetahui pemahaman mereka terhadap

bacaan. Sumber penilaian pada tahap pengembangan ini adalah:

• Portfolio karya siswa dalam kegiatan menanggapi bacaan, dan

• Lembar pengamatan tenaga pendidik pada setiap kegiatan membaca.

Aspek capaian peserta didik yang diamati pada lembar pengamatan bergantung kepada tujuan kegiatan

membaca.

Contoh ceklis pengamatan pada kegiatan membacakan buku dengan nyaring Ceklis ini juga bertujuan

untuk memberikan masukan kepada pendidik terhadap kesesuaian buku yang dibacakan, waktu

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 26


membacakan, dan intonasi, suara, serta gestur pendidik ketika membacakan buku. Ceklis ini diisi seusai

pendidik membacakan buku.

Kemampuan Cek Komentar

7. Mengapresiasi Capaian Literasi Peserta Didik

Menghargai pencapaian literasi peserta didik menuntut guru dan tenaga kependidikan untuk

memperhatikan tumbuhnya minat peserta didik terhadap buku dan kegiatan membaca yang diukur

dengan indikator sikap, kesungguhan dan perilaku peserta didik sebagaimana dirinci pada lembar

pengamatan di atas. Penghargaan berbasis literasi ini menekankan kepada proses belajar dan membaca,

bukan pada keterampilan dan kualitas karya semata. Menghargai

proses belajar peserta didik terbukti dapat menumbuhkan motivasi belajar dan memupuk semangat ingin

tahu mereka. Selanjutnya, motivasi ini dapat membantu kesuksesan akademik peserta didik dalam

jangka panjang dan menjadikan mereka pembelajar sepanjang hayat. Penghargaan berbasis literasi dapat

diberikan secara berkala setiap minggu (pada upacara Hari Senin), setiap bulan, atau setiap semester.

Beberapa contoh penghargaan misalnya:

• Pemustaka teladan, bagi peserta didik yang paling rajin mengunjungi perpustakaan dan meminjam

buku perpustakaan.

• Duta perpustakaan, bagi peserta didik yang bersemangat membantu pengelolaan dan pengembangan

kegiatan perpustakaan.

• Pencerita bulan ini, bagi peserta didik yang dapat menceritakan ulang sebuah cerita dengan orisinil dan

kreatif.

• Penulis bulan ini, bagi peserta didik yang mampu menuliskan ulang sebuah cerita dengan orisinil dan

kreatif.

• Pembaca favorit, bagi peserta didik yang aktif membacakan nyaring atau membantu memandu

temannya membaca.

• Pembaca bulan ini, bagi pembaca yang menunjukkan kemajuan paling pesat dalam membaca dengan

fasih/menunjukkan kesungguhan membaca.

 Pembaca buku terbanyak beserta reviunya diberikan penghargaan dan apresiasi pada setiap akhir

bulan dan diberikan piagam penghargaan

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 27


Selain itu, penghargaan berbasis literasi dapat diberikan kepada juara-juara lomba literasi pada

peringatan hari besar nasional/keagamaan. Beberapa contoh lomba berbasis literasi antara lain:

• Menulis surat kepada Kartini (pada hari Kartini) atau Ki Hajar Dewantara (pada Hari Pendidikan

Nasional).

• Mewawancarai tokoh pahlawan secara imajiner pada peringatan Hari Pahlawan.

• Menuliskan biografi tokoh proklamator secara kreatif pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

8. Pembentukan Tim Literasi Sekolah

Tim Literasi Sekolah (TLS) adalah Warga Sekolah atau tim khusus yang dibentuk dan yang

bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah dan terdiri dari:

• Penanggung Jawab Tim : Kepala Sekolah – Teti Widiati, [Link].

• Ketua dan Sekretaris : Yuyun Yuningsih, [Link]

 Guru Pendamping dan Pembimbing : Anita Erwitasari

• Pustakawan dan tenaga kependidikan lainnya.

• Guru kelas, guru mata pelajaran bahasa, dan guru mata pelajaran non-bahasa.

• Relawan literasi atau elemen masyarakat lain yang membantu menggiatkan kegiatan literasi di sekolah.

Adapun peran TLS adalah:

• Memastikan keberlangsungan kegiatan 15 menit membaca setiap hari.

• Memastikan ketersediaan koleksi buku pengayaan di perpustakaan dan sudut-sudut baca di sekolah.

• Mengawasi pengelolaan perpustakaan sekolah dan sudut-sudut baca di kelas dan area sekolah yang

lain.

• Memastikan keterlaksanaan kegiatan di perpustakaan sekolah minimal 1 jam dalam seminggu (dapat

dilaksanakan pada jam pelajaran yang relevan atau jam khusus literasi).

• Mengkoordinir penyelenggaraan festival literasi, minggu buku, atau perayaan hari-hari besar lain yang

berbasis literasi.

• Mengkoordinir upaya pengembangan kegiatan literasi melalui penggalangan dana kepada pelaku bisnis

atau penyandang dana lain di luar lingkungan sekolah.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 28


• Mengkoordinir upaya promosi kegiatan literasi sekolah kepada orang tua/wali murid, misalnya melalui

pelatihan membacakan buku dengan nyaring, pelatihan keayahbundaan, dan promosi kegiatan

membaca di rumah.

• Mempublikasikan kegiatan literasi di sekolah di media cetak, audiovisual, dan daring agar memperoleh

dukungan yang lebih luas dari masyarakat.

• Berjejaring dengan pemangku kepentingan terkait literasi, TLS di sekolah lain, dan pegiat literasi untuk

bekerjasama mengupayakan Gerakan Literasi Sekolah yang berkelanjutan.

Indikator Keberhasilan

1 Ada kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran.

2 Ada kegiatan menanggapi buku pengayaan pada jam pelajaran literasi atau jam kegiatan di

perpustakaan sekolah/ sudut baca kelas atau jam pelajaran yang relevan.

3 Ada koleksi buku-buku pengayaan yang bervariasi.

4 Ada kegiatan menanggapi bacaan melalui kegiatan membacakan nyaring interaktif, membaca

terpandu, membaca bersama, dan membaca mandiri.

5 Ada kegiatan untuk mengapresiasi capaian literasi peserta didik.

6 Ada Tim Literasi Sekolah.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 29


BAB IV

TAHAP PEMBELAJARAN

PELAKSANAAN GLS PADA PEMBELAJARAN

Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran bertujuan untuk mempertahankan minat peserta didik terhadap

bacaan dan terhadap kegiatan membaca, serta meningkatkan kecakapan literasi peserta didik melalui

buku-buku pengayaan dan buku teks pelajaran.

1. Kecakapan Literasi di SD

Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran meningkatkan kemampuan berbahasa reseptif (membaca dan

menyimak) dan aktif (berbicara dan menulis) yang dijelaskan secara rinci dalam konteks dua kegiatan

utama di tahap ini, yaitu membaca dan menulis. Kemampuan membaca dan menulis dijenjangkan agar

peningkatan kecakapan di empat area berbahasa tersebut (membaca, menyimak, berbicara, dan menulis)

dapat dilakukan secara terukur dan berkelanjutan. Jenjang kemampuan membaca dan menulis dibagi

dalam tiga tingkatan: awal, pemula, dan madya, yang merentang dari SD kelas rendah ke kelas tinggi.

a. Jenjang Kemampuan Membaca di SD

Jenjang Kelompok Kemampuan Kemampuan

Pembaca Awal (emergent)

SD kelas rendah

Kemampuan Fonetik Dapat mengidentifikasi bunyi huruf-huruf. Belum dapat mengeja kombinasi huruf-

huruf.

Pemahaman Kosa Kata Memahami sebagian kata-kata.

Pemahaman Tata Bahasa Memahami arti intonasi ketika dibacakan cerita.

Kemampuan Menggunakan Konteks Untuk Memahami Bacaan Menggunakan ilustrasi untuk

memahami cerita.

Kemampuan Menginterpretasi dan Merespons Bacaan Dapat menjawab sebagian pertanyaan terkait

cerita yang telah dibacakan.

Jenjang Kelompok Kemampuan

Kemampuan

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 30


Dapat memberikan respons yang menunjukkan pemahaman (mengangguk, mata mengikuti gerak tangan

pembaca, dll).

Perilaku Membaca Mendengar dan menyimak dengan baik hampir sepanjang waktu ketika

Dibacakan Pembaca Pemula Sebagian SD kelas rendah dan tinggi

b. Jenjang Kemampuan Menulis di SD

Jenjang kemampuan membaca dan menulis tersebut hendaknya dipertimbangkan dalam merancang

kegiatan literasi pada tahap pembelajaran.

Beberapa alternatif kegiatan yang sesuai dengan jenjang kemampuan membacadan menulis disajikan

dalam tabel berikut ini.

Jenjang Kemampuan Membaca dan Menulis

Alternatif Kegiatan Media

Awal

• Guru membacakan buku cerita bergambar dengan nyaring dan mengajak peserta didik untuk

memperhatikan ilustrasi dan kata-kata dalam cerita.

• Guru membaca buku besar (big book) bersama peserta didik.

• Peserta didik menggambar tokoh atau kejadian dalam cerita, atau menulis beberapa kata dalam

cerita.

• Buku cerita bergambar.

• Buku cerita bergambar berukuran besar (big book).

Jenjang Kemampuan Membaca dan Menulis

Alternatif Kegiatan Media

Pemula

• Guru membacakan buku cerita bergambar atau buku cerita berilustrasi dengan nyaring.

• Guru membaca buku bergambar atau buku berilustrasi bersama peserta didik.

• Guru memandu peserta didik membaca buku cerita bergambar atau berilustrasi.

• Peserta didik membaca buku berilustrasi dalam hati.

• Peserta didik mengisi graphic organizer untuk menanggapi bacaan.

• Peserta didik menuliskan tanggapan atau kesan terhadap bacaan dengan kalimat sederhana.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 31


• Buku cerita bergambar.

• Buku cerita berilustrasi.

• Buku besar (big book).

• Novel anak sederhana.

• Buku teks pelajaran.

Madya

• Guru membacakan kutipan novel anak dengan nyaring.

• Guru meminta peserta didik untuk bergantian membaca buku dengan nyaring.

• Guru memandu peserta didik untuk membaca.

• Peserta didik membaca buku dalam hati.

• Peserta didik menuliskan tanggapan atau kesannya terhadap bacaan.

• Buku cerita berilustrasi.

• Novel anak/ remaja yang sesuai.

• Cerita pendek untuk anak.

• Cerita rakyat/ legenda/hikayat yang sesuai untuk jenjang SD.

• Puisi dan pantun yang sesuai dengan jenjang SD.

• Buku teks pelajaran

2. Fokus Kegiatan pada Tahap Pembelajaran

Kegiatan yang dapat dilakukan di tahap pembelajaran antara lain sebagai berikut.

1) Guru mencari metode pengajaran yang efektif dalam mengembangkan kemampuan literasi peserta

didik. Untuk mendukung hal ini, guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas.

2) Guru mengembangkan rencana pembelajaran sendiri dengan memanfaatkan berbagai media dan

bahan ajar.

3) Guru melaksanakan pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana literasi

untuk memfasilitasi pembelajaran.

4) Guru menerapkan berbagai strategi membaca (membacakan buku dengan nyaring, membaca terpandu,

membaca bersama) untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 32


3. Prinsip-prinsip Kegiatan pada Tahap Pembelajaran

a. Kegiatan membaca disesuaikan dengan kemampuan literasi (jenjang kemampuan membaca dan

menulis) peserta didik dan tujuan kegiatan membaca.

Jenis Kegiatan Membaca

Tujuan Kegiatan Jenis Bacaan

Guru membacakan buku dengan nyaring Meningkatkan kesadaran fonetik, kosa kata, dan

membantu meningkatkan pemahaman peserta didik melalui gambar dan narasi dalam bacaan.

Meningkatkan minat peserta didik terhadap konten bacaan.

• Buku cerita bergambar.

• Buku cerita berilustrasi.

• Buku cerita besar (big book).

• Kutipan novel anak atau buku teks pelajaran.

Jenis Kegiatan Membaca

Tujuan Kegiatan Jenis Bacaan

Peserta didik membaca buku dengan nyaring

• Meningkatkan kefasihan membaca.

• Melatih kemampuan menyimak bacaan.

• Buku cerita bergambar.

• Buku cerita berilustrasi.

• Kutipan novel anak.

• Buku teks pelajaran.

Guru dan peserta didik membaca bersama (shared reading)

• Meningkatkan kefasihan membaca dengan memperhatikan tanda baca dan intonasi.

• Buku cerita bergambar.

• Buku cerita berilustrasi.

• Kutipan novel anak.

• Buku teks pelajaran.

Guru memandu peserta didik membaca (guided reading)

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 33


Melatih kemampuan menyimak bacaan.

• Buku cerita bergambar.

• Buku cerita berilustrasi.

• Buku cerita berukuran besar.

• Buku teks pelajaran.

Peserta didik mandiri (membaca dalam hati atau membaca nyaring mandiri)

Meningkatkan kefasihan membaca dengan memperhatikan tanda baca dan intonasi.

• Buku cerita bergambar.

• Buku cerita berilustrasi.

• Novel anak.

• Buku teks pelajaran.

b. Kegiatan membaca bervariasi, dengan memberikan porsi yang seimbang untuk kegiatan membacakan

nyaring, membaca mandiri, membaca terpandu, dan membaca bersama.

c. Guru memanfaatkan buku-buku pengayaan fiksi dan nonfiksi untuk memperkaya pemahaman peserta

didik terhadap materi ajar dan buku teks pelajaran.

d. Pengajaran berfokus pada proses, dan bukan pada hasil. Peserta didik berbagi dan Mendiskusikan

draf pekerjaannya untuk mendapat masukan dari guru dan teman.

e. Kegiatan menanggapi bacaan mempertimbangkan kecerdasan majemuk dan keragaman gaya belajar

peserta didik.

f. Guru melakukan pemodelan dan pendampingan terhadap peserta didik.

Guru dapat mencontohkan cara memahami bacaan dan cara mengeksplorasi gagasan untuk menulis.

Dengan memperagakan cara membaca dan berpikir untuk memahami bacaan, pendidik dapat:

1) Menunjukkan cara menerapkan strategi memahami bacaan.

2) Menunjukkan kepada peserta didik bahwa memahami bacaan merupakan suatu proses yang dialami

oleh setiap orang.

3) Memberikan motivasi untuk membaca untuk memperoleh pengetahuan.

Pendampingan terhadap peserta didik dalam kegiatan literasi dapat dilakukan dalam bentuk:

1) Meminta peserta didik untuk berbagi draf karya dan mendiskusikan dengan teman satu kelompok.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 34


2) Melakukan kegiatan membacakan buku dengan nyaring, membaca terpandu, dan membaca bersama

peserta didik untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap bacaan.

3) Memberikan masukan terhadap draf karya peserta didik dengan merujuk kepada rubrik jenjang

kemampuan menulis.

4) Membantu peserta didik untuk mengeksplorasi gagasan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan

terkait bacaan.

Usahakan untuk memberikan komentar dan masukan yang memotivasi dan detil pada karya peserta

didik. Sebutkan elemen dari karya yang telah dicapai, lalu tambahkan beberapa saran untuk

meningkatkan kualitas karya.

g. Peserta didik dapat mengerjakan tugas secara individual atau berkelompok.

h. Setiap orang/kelompok peserta didik dapat mengerjakan tugas yang berbeda sesuai dengan jenjang

kemampuan literasinya.

i. Guru memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan latar peserta didik untuk memperdalam

pemahamannya terhadap bacaan.

4. Langkah-langkah Kegiatan di Tahap Pembelajaran

Pada dasarnya, strategi membaca buku teks pelajaran sama dengan strategi untuk memahami buku

pengayaan, yaitu membacakan nyaring, membaca terpandu, membaca bersama, dan membaca mandiri.

1. Membacakan nyaring (read aloud)

Dilakukan oleh guru Dilakukan oleh peserta didik

Tujuan:

• Mempertahankan minat baca peserta didik.

• Menjadikan guru teladan membaca.

• Memberikan dan menambah pemahaman atas kosa-kata maupun materi bacaan.

• Melatih peserta didik untuk bertanya dan menanggapi bacaan.

Tujuan:

• Peserta didik lancar membaca.

• Peserta didik memahami bacaan.

• Peserta didik mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait bacaan.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 35


Media:

• Buku pengayaan,

• buku teks pelajaran,

• daftar pertanyaan untuk memandu diskusi.

2. Membaca terpandu (Guided Reading )

Guru memandu kelompok beranggotakan 4-6 peserta didik yang membaca buku/bahan bacaan

yang sama

Tujuan:

• Meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap bahan bacaan.

• Melancarkan kefasihan membaca dan memajankan peserta didik kepada

bahasa buku/tertulis.

2. Membaca terpandu (Guided Reading )

Guru memandu kelompok beranggotakan 4-6 peserta didik yang membaca buku/bahan bacaan

yang sama

Media:

• Buku pengayaan.

• Buku teks pelajaran.

• Beberapa alat pendukung seperti alat tulis, kertas dan perekat, serta papanuntuk menempel kertas/flip

chart.

3. Membaca bersama ( Shared Reading )

Guru dan peserta didik bersama-sama membaca buku/bahan bacaan yang sama dalam kelompok

yang lebih besar, atau guru bersama satu per satu peserta didik membaca bacaan yang sama.

Tujuan

• Mendemonstrasikan cara membaca

• Memberi pengalaman anak terlibat dengan teks & membaca

• Menerapkan strategi membaca

Media:

• Buku pengayaan berukuran besar (big book).

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 36


• Kertas berukuran besar (flip chart).

4. Membaca mandiri intensif

Peserta didik diberi waktu untuk membaca satu bahan bacaan berulangkali sambil menerapkan

strategi yang berbeda di setiap kegiatan membaca.

Tujuan

• Memperdalam pemahaman terhadap bacaan;

• melancarkan kemampuan membaca;

• menambah kosa-kata bahasa buku/tulisan.

4. Membaca mandiri intensif

Peserta didik diberi waktu untuk membaca satu bahan bacaan berulangkali sambil menerapkan

strategi yang berbeda di setiap kegiatan membaca.

Media:

• Buku pengayaan dan teks pelajaran yang sesuai dengan jenjang peserta didik.

• Catatan/jurnal peserta didik untuk menggambar/menuliskan tanggapan terhadap bacaan.

Memilih buku pengayaan untuk pembelajaran

Beberapa elemen yang harus diperhatikan dalam memilih buku pengayaan untuk mendukung

pembelajaran adalah:

• Buku pengayaan harus sesuai dengan jenjang kemampuan membaca peserta didik.

• Buku pengayaan harus sesuai dengan tujuan kegiatan pembelajaran.

• Buku pengayaan harus sesuai dengan tema atau sub-tema materi ajar pada mata pelajaran terkait.

Menggunakan buku pengayaan untuk kegiatan menulis kreatif (SD kelas tinggi)

Menulis cerita menjadi momok bagi kebanyakan peserta didik. Peserta didik membutuhkan jawaban dan

bimbingan untuk pertanyaan-pertanyaan seperti, “Bagaimana memulai menulis?” “Kalimat pertama

seperti apa yang baik untuk mengawali tulisan?” Buku cerita anak memiliki aspek literer yang baik

karena sudah melalui tahapan pengeditan bahasa dan konten cerita. Karenanya, buku bacaan anak dapat

menjadi teks model yang memandu anak untuk Mengembangkan struktur kisah (awal-tengah-akhir

cerita) dan pilihan kata yang baik.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 37


Contoh kegiatan: Menulis cerita dengan tokoh yang menarik.

Tokoh yang kuat adalah jiwa sebuah cerita. Anak-anak perlu memahami bahwa untuk membuat sebuah

cerita, langkah pertama yang harus mereka lakukan adalah membuat sosok tokoh yang unik, mudah

diingat, sulit dilupakan, dan memikat.

Bahan Diskusi: Lupi si Pelupa (Clara Ng, Gramedia, 2006)

Waktu kegiatan: 2 jam pelajaran (90 menit)

Contoh Diskusi:

- Sebelum membacakan “Lupi Si Pelupa,” guru mempelajari tokoh-tokoh yang terdapat dalam kisah ini.

- Setelah membacakan buku, guru meminta peserta didik untuk memberikan pendapat mereka terhadap

tokoh Lupi. Apa yang ia inginkan? Mengapa? Apa masalah yang dihadapinya? Minta peserta didik untuk

menjelaskan perubahan perasaan Lupi dengan bantuan ilustrasi cerita. Guru dapat menunjuk gambar

Lupi pada halaman tertentu dan menanyakan pertanyaan seperti, ‘Bagaimana perasaannya? Mengapa?’

- Guru meminta peserta didik untuk membuat dan menggambar tokoh dalam cerita mereka sendiri. Guru

mengajak peserta didik untuk membuat tabel yang sama dengan tabel Lupi di atas, dan meminta mereka

untuk menjelaskan apa keinginan tokoh dan apa motivasinya. Kemudian, guru meminta peserta didik

untuk menjelaskan alur cerita secara singkat;

apakah sang tokoh akan mendapatkan sesuatu yang diinginkannya?

- Guru meminta peserta didik untuk menulis cerita pendek/menggambar cerita berdasarkan tabel tokoh

tersebut.

Contoh-contoh kegiatan berkarya dengan teks (literacraft)

• Membuat buku besar (big book)

1) SD kelas rendah

Guru membuat cerita bersama anak dengan menyiapkan beberapa alternatif tokoh cerita, alternatif awal

cerita, tengah, dan akhir cerita. Minta peserta didik untuk memilih/menyepakati tokoh dan masalah yang

dihadapi tokoh. Lalu, ajak mereka bersama-sama menyusun alur cerita. Dengan menggunakan kertas

warna, daun, dan bunga kering, ajak mereka untuk melengkapi ilustrasi cerita dan menuliskan teks cerita

bersama-sama.

2) SD kelas tinggi

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 38


Secara berkelompok, peserta didik dapat mengubah atau memodifikasi suatu cerita dan membuat

ilustrasinya dalam kertas besar. Pada sampul buku besar, minta peserta didik untuk menuliskan judul asli

cerita yang mereka modifikasi dan nama penulisnya.

• Menulis interaktif (SD kelas tinggi)

Dua orang peserta didik memiliki jurnal bersama. Di dalam buku itu, mereka menulis kesan dan

pertanyaan-pertanyaan terhadap satu buku yang dibaca bersama. Peserta didik dapat saling menjawab

pertanyaan temannya tentang bacaan. Jurnal bersama ini juga dapat digunakan untuk projek menulis

cerita bersama.

• Konferensi penulis (SD kelas tinggi)

Peserta didik menyelesaikan tugas menulis (fiksi/liputan/hasil wawancara/ wawancara imajiner, dll)

secara individual lalu mempresentasikannya dalam kelompok. Anggota kelompok saling memberikan

pendapatnya terhadap draf tulisan tersebut.

• Menyelesaikan cerita (SD kelas rendah)

1) Guru menyiapkan gambar kartun dari internet atau majalah yang menggambarkan beberapa

anak/binatang sedang bercakap-cakap. Peserta didik kemudian diminta untuk menambahkan dialog antar

tokoh (dialog dapat ditulis dalam balon kata atau diceritakan kepada guru).

2) Guru menyusun kompilasi gambar-gambar menjadi sebuah rangkaian cerita. Peserta didik kemudian

diminta untuk menambahkan teks narasi atau dialog yang sesuai dengan setiap adegan pada gambar.

Berdiskusi dengan teman (think-pair-share)

Peserta didik mendiskusikan pertanyaan dari guru tentang bacaan dalam kelompok yang terdiri dari dua

orang.

5. Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah dan Sudut Baca untuk Pembelajaran.

salah satu tujuan pemanfaatan bahan pustaka adalah untuk meningkatkan kecakapan literasi informasi

peserta didik. Literasi informasi mencakup:

a) Kemampuan menggunakan fitur dalam isi bacaan (teks dan visual) untuk memilah informasi sesuai

dengan tujuan membaca dan kemanfaatannya.

b) Kemampuan menganalisis dan mengelompokkan informasi dalam bacaan sesuai dengan kecakapan

membaca dan daya nalarnya.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 39


c) Kemampuan membedakan fakta dan fiksi dalam bacaan.

d) Pemahaman bahwa karya memiliki hak cipta yang dilindungi secara hukum.

e) Kemampuan mengelola dan menggunakan informasi dari koleksi perpustakaan untuk memecahkan

masalah dan berkarya.

Bentuk-bentuk kegiatan untuk meningkatkan kecakapan literasi informasi:

Jenjang Kegiatan Tujuan

SD kelas rendah

Pustakawan/tenaga perpustakaan mengajak peserta didik untuk mengamati ilustrasi dan teks dalam

bahan perpustakaan untuk membedakan keterangan dan isi bacaan.

Peserta didik mampu memilah konten informasi dalam bahan perpustakaan.

Pustakawan/tenaga perpustakaan mengajak peserta didik berdiskusi tentang apakah cerita terjadi di masa

lalu, masa kini, atau masa depan.

Peserta didik dapat menganalisis konten bacaan secara sederhana.

Pustakawan/tenaga perpustakaan mengajak peserta didik berdiskusi tentang hal/ sifat baik dan yang

buruk dalam bacaan.

Dengan peta cerita sederhana, peserta didik memetakan tokoh, awalan, klimaks, dan akhir

cerita.

Secara sederhana, pustakawan/ tenaga perpustakaan menjelaskan bahwa menjiplak isi bahan

perpustakaan tanpa menyebutkan nama penulis adalah perbuatan curang dan tidak patut.

Peserta didik dapat memahami konsep sederhana tentang hak cipta.

Jenjang Kegiatan Tujuan

SD kelas tinggi

Peserta didik menggunakan fitur buku (teks, ilustrasi, grafik, tabel, sub-judul, dan fitur lain) untuk

mencari informasi tertentu dalam buku.

Peserta didik dapat memilah dan menganalisis konten informasi dalam bahan perpustakaan.

Peserta didik menganalisis dan memisahkan fakta dan fiksi dalam sebuah cerita.

Peserta didik membuat peta konsep untuk menganalisis perbedaan/persamaan karakter tokoh cerita, serta

mengidentifikasi nilai-nilai moral dalam bahan perpustakaan.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 40


Peserta didik membuat peta konsep atau mendiskusikan elemen cerita.

Peserta didik melakukan penelitian sederhana dan melakukan analisis terhadap beragam sumber

informasi untuk menjawab sebuah permasalahan tertentu, baik secara individual atau kolaboratif.

Peserta didik dapat menggunakan dan mengelola informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat.

Peserta didik menuliskan atau menyebutkan sumber informasi/ referensi dalam karya yang mereka buat.

Peserta didik menghargai hak cipta dan melakukan pengutipan sederhana.

6. Rubrik Penilaian Akademik pada Tahap Pembelajaran

Tujuan penilaian pada tahap pembelajaran adalah meningkatkan jenjangkemampuan literasi peserta

didik sesuai dengan tahapan yang tercantum dalam tabel penjenjangan kemampuan membaca dan tabel

penjenjangan kemampuan menulis. Penilaian dapat dilakukan oleh tenaga pendidik maupun oleh peserta

didik sendiri, atau antar peserta didik. Penilaian oleh dan antar peserta didik berfungsi sebagai penunjang

penilaian utama oleh tenaga pendidik. Sumber penilaian pada tahap pembelajaran ini dapat berupa:

• Portfolio karya siswa dalam kegiatan menanggapi bacaan, dan

• Lembar pengamatan guru pada setiap kegiatan membaca. Aspek capaian peserta didik yang diamati

pada lembar pengamatan bergantung kepada tujuan kegiatan membaca. Lembar pengamatan ini diisi

oleh guru dan peserta didik dalam bentuk penilaian diri dan teman.

Fokus penilaian untuk portfolio peserta didik

Penilaian portfolio peserta didik perlu didasarkan pada jenjang kemampuan menulis mereka. Rubrik

penilaian sesuai jenjang kemampuan menulis peserta didik dijelaskan dalam bagan berikut. Fokus

penilaian ini dapat menjadi rujukan tenaga pendidik ketika memberi masukan untuk meningkatkan

kemampuan menulis peserta didik.

Rubrik penilaian sesuai jenjang kemampuan menulis di tahap pembelajaran Penulis Awal

Penulis Madya Penulis Pemuda

1. Ekspresi dan eksplorasi gagasan terekspresikan dalam simbol gambar.

2. Terdapat kesesuaian simbol (gambar/huruf/kata) dengan makna/cerita yang ingin disampaikan.

Tulisan berbentuk paragraf-paragraf yang memenuhi konvensi bahasa tulis dengan kosa kata tulis, tanda

baca yang benar dan kalimat yang bervariasi

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 41


1. Terdapat kata-kata atau kalimat sederhana yang mengekspresikan ide pokok dari tulisan. Ide

pendukung/detil tulisan diekspresikan melalui gambar.

2. Tulisan masih berproses untuk memenuhi konvensi bahasa tulis (diksi, tata bahasa, struktur kalimat,

organisasi tulisan)

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 42


BAB V

PENUTUP

Program kegiatan di Sekolah Dasar Negeri Babakan 01 ini disusun guna memandu pelaksanaan

kegiatan literasi sekolah di SD yang efektif dan berkelanjutan.

Penumbuhan budaya literasi dalam diri peserta didik memang bukan hanya tugas sekolah semata, namun

juga merupakan tanggung jawab keluarga, pelaku bisnis dan media, pemangku kepentingan, dan elemen

masyarakat lain. Dalam fungsinya sebagai lembaga pendidikan yang berperan penting dalam kehidupan

peserta didik, sekolah dapat menghimpun sinergi antara pendidikan formal, pendidikan keluarga di

rumah, dan pendidikan literasi di masyarakat agar upaya penumbuhan budaya literasi dapat terjalin

dengan lebih optimal. Oleh karena itu,

Program kegiatan panduan ini dilengkapi dengan lampiran-lampiran sosialisasi dalam bentuk infografis

sebagai acuan sekolah dalam mewujudkan sinergi tersebut.

Tentunya Program Kegiatan ini tidak dimaksudkan untuk diterapkan dengan kaku, melainkan

menginspirasi upaya kreatif dan inovatif untuk menumbuhkan budaya literasi sekolah dengan lebih

sistematis dan efektif, dan tentunya masih banyak kekurangan yang membutuhkan penyempurnaan.

PROGRAM LITERASI SDN BABAKAN 01 (2023-2024 ) Page 43

Anda mungkin juga menyukai