Program Literasi SDN Babakan 01 2023-2024
Program Literasi SDN Babakan 01 2023-2024
Gerakan Literasi Sekolah yang digagas dan dikembangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah merupakan kepedulian atas rendahnya kompetensi peserta didik Indonesia dalam bidang
matematika, sains, dan membaca. Data penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia
dalam memahami bacaan berada di bawah rata-rata internasional. Melalui penguatan kompetensi literasi,
terutama literasi dasar, peserta didik diharapkan dapat memanfaatkan akses lebih luas pada pengetahuan
mengamati-menggambar) sudah selayaknya ditanamkan sejak pendidikan dasar, lalu dilanjutkan pada
jenjang pendidikan yang lebih tinggi agar peserta didik dapat meningkatkan kemampuan untuk
mengakses informasi dan pengetahuan. Selain itu, peserta didik mampu membedakan informasi yang
bermanfaat dan tidak bermanfaat. Hal itu karena literasi mengarahkan seseorang pada kemampuan
memahami pesan yang diwujudkan dalam berbagai bentuk teks (lisan, tulis, visual).
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi
Pekerti, salah satunya, mengenai kegiatan membaca buku nonpelajaran selama lima belas menit sebelum
waktu belajar dimulai. Kegiatan tersebut adalah upaya menumbuhkan kecintaan membaca kepada
peserta didik dan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus merangsang imajinasi.
Gerakan Literasi Sekolah perlu melibatkan para pemangku kepentingan secara terprogram dengan satu
tujuan agar peserta didik, terutama di tingkat pendidikan dasar, menjadi insan berbudaya literasi. Untuk
itu, perlu dibuatkan program kegiatan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar Negeri Babakan 01.
Program Kegiatan ini merupakan rujukan bagi pemangku kepentingan SDN Babakan 01 dalam
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada abad ke-21 ini, kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan
membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif.
Akan tetapi, pembelajaran di sekolah saat ini belum mampu mewujudkan hal tersebut. Pada tingkat
sekolah menengah (usia 15 tahun) pemahaman membaca peserta didik Indonesia (selain matematika dan
sains) diuji oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD—Organization for
Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment
(PISA).
PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor
rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat
ke-64 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496) (OECD, 2013). Sebanyak 65 negara berpartisipasi
dalam PISA 2009 dan 2012. Dari kedua hasil ini dapat dikatakan bahwa praktik pendidikan yang
dilaksanakan di sekolah belum memperlihatkan fungsi sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang
berupaya menjadikan semua warganya menjadi terampil Membaca untuk mendukung mereka sebagai
Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan gerakan literasi
sekolah (GLS) yang melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat
pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Selain itu, pelibatan unsur eksternal dan
unsur publik, yakni orang tua peserta didik, alumni, masyarakat, dunia usaha dan industri juga menjadi
Untuk melaksanakan kegiatan GLS, diperlukan suatu program kegiatan yang merupakan penjabaran
lebih lanjut dari Panduan Gerakan Literasi Sekolah Kemendiknas, melalui tahapan pembiasaan,
B. Pengertian
1. Pengertian Literasi
Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan
menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat,
GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai
organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum:
Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang
diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah melalui Leader’s Reading Challenge Kabupaten Bandung
2. Tujuan Khusus:
c. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah
d. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi
D. Ruang Lingkup
2. Lingkungan sosial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif seluruh warga sekolah).
3. Lingkungan akademik (program literasi yang menumbuhkan minat baca dan menunjang kegiatan
pembelajaran di SD)
Sasaran adalah pendidik, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan dan Peserta Didik di SDN Babakan
01
GLS di SD menciptakan ekosistem pendidikan di SD yang literat. Ekosistem pendidikan yang literat
1. Menyenangkan dan ramah peserta didik, sehingga menumbuhkan semangat warganya dalam belajar;
4. Memampukan warganya cakap berkomunikasi dan dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya;
dan
GLS dengan LEKSAM BEDAS di SDN Babakan 01 dilaksanakan secara bertahap dengan
mempertimbangkan kesiapan masing-masing sekolah pada saat sekarang. Kesiapan ini mencakup
kesiapan kapasitas fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga
sekolah (peserta didik, tenaga guru, orang tua, dan komponen masyarakat lain), dan kesiapan sistem
pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan).
Untuk memastikan keberlangsungannya dalam jangka panjang, LEKSAM BEDAS SDN Babakan 01
dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu tahap pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran.
2. Langkah-langkah kegiatan :
e. Pelibatan publik
berikut. :
5. Langkah-langkah kegiatan:
a. Membaca terpandu
b. Membaca bersama
c. Aneka karya kreativitas seperti Workbook, Skill Sheets (Triarama, Easy slit book,One sheet
e. Story-map outline
3. Mengorganisasikan material
5. Membuat jadwal
TAHAP PEMBIASAAN
Kegiatan pelaksanaan pembiasaan gerakan literasi pada tahap ini bertujuan untuk Menumbuhkan minat
1. Kecakapan Literasi
1. SD kelas rendah
2. SD kelas tinggi
1. SD kelas rendah
Membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati Buku cerita bergambar, buku tanpa
teks (wordless picture books), buku dengan teks sederhana, baik fiksi maupun nonfiksi
2. SD Kelas tinggi
Membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati buku cerita bergambar, buku
bergambar kaya teks, buku novel pemula, baik dalam bentuk cetak/ digital/ visual Sudut buku
a) Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku bacaan, bukan buku teks pelajaran.
b) Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik. Peserta didik
c) Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini tidak diikuti oleh tugas-tugas
d) Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini dapat diikuti dengan diskusi informal
tentang buku yang dibaca/dibacakan, atau kegiatan yang menyenangkan terkait buku yang dibacakan
apabila waktu memungkinkan. Tanggapan dalam diskusi dan kegiatan lanjutan ini tidak
dinilai/dievaluasi.
e) Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini berlangsung dalam suasana yang
santai dan menyenangkan. Guru menyapa peserta didik dan bercerita sebelum membacakan buku dan
4. Kegiatan membaca dan penataan lingkungan kaya literasi pada tahap pembiasaan
a) Membaca buku cerita/pengayaan selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan membaca
yang dapat dilakukan adalah membacakan buku dengan nyaring (read aloud) dan membaca dalam
c) Memfungsikan lingkungan fisik sekolah melalui pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah, antara
lain perpustakaan, sudut buku kelas, area baca, kebun sekolah, kantin, UKS, dll. Untuk
menumbuhkan minat baca warga sekolah, sarana prasarana ini dapat diperkaya dengan bahan kaya
literasi, serta pengadaan buku-buku koleksi perpustakaan dan sudut buku kelas.
5. Langkah-langkah Kegiatan
1) Membacakan nyaring
Tujuan
Tahap Membaca
Kegiatan
a) Memahami tujuan membacakan nyaring, yaitu menumbuhkan minat baca, memeragakan cara
c) Memilih buku yang berkualitas baik dan memiliki isi yang disesuaikan dengan jenjang dan minat
peserta didik;
1) mengetahui jalannya cerita, atau isi/pesan dalam setiap buku yang dibaca;
2) mengetahui letak tanda-tanda baca sehingga memungkinkan untuk mengatur intonasi suara agar
4) melakukan prediksi atau menghubungkan isi bacaan dengan topik lain yang relevan.
g) untuk anggota komunitas/kelompok membaca kegiatan membaca selain dilakukan di sekolah juga
dilakukan di rumah untuk mencapai target menyelesaikan membaca sebanyak 24 buah buku selama 1
tahun
Tahap Membaca
Kegiatan
a) Memulai dengan menyapa peserta didik dan menyebutkan alasan memilih bacaan tersebut.
b) Menunjukkan sampul buku cerita yang akan dibacakan dan menyampaikan gambaran singkat
cerita.
d) Menggali pengalaman peserta didik, misalnya dengan menanyakan: Apakah ada di antara mereka
yang pernah membaca buku tersebut? Apakah ada yang memiliki buku itu? Atau, apakah ada yang
e) Mulai menyusuri ilustrasi, apabila terdapat dalam buku atau bahan bacaan.
a) Suara dapat didengar seluruh peserta didik: tidak terlalu cepat,disertai intonasi, ekspresi, dan gestur
b) Bersikap ramah.
g) Mengajak peserta didik untuk menceritakan apa yang dibacakan dan apa yang dipikirkan (think
c) Meminta peserta didik untuk menceritakan ulang bacaan dengan kata-katanya sendiri.
d) Meletakkan buku atau materi bacaan di tempat yang mudah dilihat dan dijangkau oleh tangan
peserta didik.
Membaca dalam hati (sustained silent reading) adalah kegiatan membaca 15 menit yang diberikan
kepada peserta didik tanpa gangguan. Guru menciptakan suasana tenang, nyaman, agar peserta didik
Tujuan :
Tahap
a) Memahami tujuan membaca dalam hati, yaitu untuk menumbuhkan minat baca peserta didik.
b) Memastikan agar bacaan sesuai dengan tingkat keterampilan membaca peserta didik.
Tahap kegiatan
a) Menawarkan kepada peserta didik apakah mereka memilih sendiri buku yang ingin dibaca dari
b) Membebaskan peserta didik untuk memilih buku yang sesuai dengan minat dan
kesenangannya.
c) Memberi semangat kepada peserta didik bahwa ia harus membaca buku tersebut sampai selesai,
d) Membolehkan peserta didik untuk mencari buku lain apabila isi buku dianggap kurang
menarik.
3. Saat membaca dalam hati Peserta didik dan guru bersama-sama membaca buku masing-masing
Guru dapat menggunakan 5–10 menit setelah membaca untuk bertanya kepada peserta didik tentang
Sarana literasi mencakup perpustakaan sekolah, Sudut Baca Kelas, dan area baca. Perpustakaan
berfungsi sebagai pusat pembelajaran di SD. Pengembangan dan penataan perpustakaan menjadi
bagian penting dari pelaksanaan gerakan literasi SD dan pengelolaan pengetahuan yang berbasis pada
bacaan. Perpustakaan yang dikelola dengan baik mampu meningkatkan minat baca warga SD dan
mengkoordinasi pengelolaan Sudut Baca Kelas, area baca, dan prasarana literasi lain di SD.
1) Perpustakaan SD
a) Fungsi perpustakaan SD adalah sebagai pusat pengelolaan pengetahuan dan sumber belajar di SD
b) Perpustakaan SD dapat dikelola oleh tim perpustakaan yang terdiri atas tenaga yang terlatih di dalam
c) Perpustakaan SD sebaiknya dilengkapi oleh berbagai sistem dan aplikasi untuk mencatat pengunjung,
a) Sudut Baca Kelas adalah sebuah sudut di kelas yang dilengkapi dengan koleksi buku yang ditata
b) Sudut Baca Kelas adalah sudut di ruangan kelas yang digunakan untuk memajang koleksi bacaan dan
c) Sudut Baca Kelas berperan sebagai perpanjangan fungsi perpustakaan SD, yaitu pendekatkan buku
3) Area Baca
Area baca meliputi lingkungan sekolah (serambi, koridor, halaman, kebun, ruang kelas, tempat
ibadah, tempat parkir, ruang UKS, ruang kepsek, ruang guru, ruang tunggu orang tua, toilet dll.) yang
dilengkapi oleh koleksi buku untuk memfasilitasi kegiatan membaca peserta didik dan warga sekolah.
Untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah, ruang kelas perlu diperkaya dengan
1. karya-karya peserta didik berupa tulisan, gambar, atau grafik; Hasil Reviu Siswa Foto-foto Kegiatan
Siswa
2. poster-poster yang terkait pelajaran, poster buku, poster kampanye membaca, dan poster kampanye
3. dinding kata;
4. label nama-nama peserta didik pada barang-barang mereka yang disimpan di kelas (apabila ada);
[Link] buletin;
[Link] cerita, DVD, dan bahan digital/eletronik yang mendukung kegiatan literasi,
[Link] berkarya dan menulis seperti alat tulis, alat warna, alat gambar, kertas gambar, kertas
bekas, busa, kertas prakarya, surat, kertas surat, amplop, koran bekas, kertas sampul, dll;
[Link], balok-balok, kostum, dan permainan edukatif lain untuk digunakan dalam permainan peran
(menjadi dokter atau juru masak yang menulis resep, atau pelayan restoran yang menulis daftar
pesanan);
[Link] bahan dan alat harus disimpan di tempat yang mudah diraih oleh peserta didik dan perlu
dikelompokkan menurut fungsinya (alat gambar disimpan terpisah dari mainan, alat untuk bermain
peran, dan lain-lain); peserta didik perlu mengetahui di mana mereka dapat menemukan bahanbahan
SD kelas rendah
1) Peserta didik didampingi Guru Kelas / Guru Pendamping ketika memilih buku.
5) Buku mengandung pesan nilai-nilai sesuai dengan tahapan tumbuh kembang peserta didik
SD kelas tinggi
4) Buku dapat bergenre cerita rakyat yang sesuai dengan jenjang SD.
5) Buku mengandung pesan nilai-nilai sesuai dengan tahapan tumbuh kembang peserta didik
1. Pengembangan sarana literasi membutuhkan sumber daya yang memadai. Partisipasi komite sekolah,
orang tua, alumni, dan dunia bisnis dan industri dapat membantu memelihara dan mengembangkan
sarana sekolah agar capaian literasi peserta didik dapat terus ditingkatkan.
2. Dengan keterlibatan semakin banyak pihak, peserta didik dapat belajar dari figur teladan literasi yang
beragam.
3. Ekosistem sekolah menjadi terbuka dan sekolah mendapat kepercayaan yang semakin baik dari orang
4. Sekolah belajar untuk mengelola dukungan dari berbagai pihak sehingga akuntabilitas sekolah juga
akan meningkat.
1. Memulai dengan kalangan terdekat yang memiliki hubungan emosional dengan sekolah, misalnya
2. Melibatkan komunitas tersebut dalam perencanaan awal program dan membangun partisipasi dan rasa
3. Melibatkan Komite Sekolah, orang tua, dan alumni sebagai relawan membaca 15 menit sebelum
pelajaran.
5. Apabila kegiatan telah berjalan, sekolah perlu menyampaikan apresiasi dengan mencantumkan nama
donatur (misalnya, dalam properti prasarana seperti perabotan, buku, dan lain-lain atau buletin atau
majalah dinding sekolah) atau mengundang mereka dalam kegiatan dan seremoni sekolah.
6. Menjaga hubungan baik dengan alumni dan pelaku dunia bisnis dan industri melalui sosial media atau
Sekolah menggunakan beberapa indikator sebagai acuan pencapaian untuk mengetahui apakah prioritas
a. Membacakan nyaring
2 Kegiatan 15 menit membaca dilakukan setiap hari (di awal, tengah, atau menjelang akhir
pelajaran).
3 Buku yang dibacakan kepada atau dibaca oleh peserta didik dicatat judul dan nama pengarangnya
4 Guru, kepala sekolah,dan tenaga kependidikan lain terlibat dalam kegiatan 15 menit dengan
5 Ada perpustakaan sekolah atau ruangan khusus untuk menyimpan buku non-pelajaran.
7 Ada poster-poster kampanye membaca di kelas, koridor, dan area lain di sekolah.
9 Kebun sekolah, kantin, dan UKS menjadi lingkungan yangkaya literasi. Terdapat posterposter
kantin, dan UKS. Makanan di kantin sekolah diolah denganbersih dan sehat.
10 Sekolah berupaya untuk melibatkan publik (orang tua, alumni, dan elemen masyarakat lain) untuk
7) Ekosistem sekolah yang literat menjadikan guru literat dengan menunjukan ciri kinerja
sebagai berikut.
1. Gemar membaca sehingga dapat memilih bacaan yang baik dan disukai peserta didik.
3. Membantu peserta didik untuk mau membaca dengan menciptakan lingkungan yang kaya literasi.
5. Memperlakukan seluruh peserta didik dengan baik, tanpa takut dikritik dan disalahkan.
TAHAP PENGEMBANGAN
SD kelas rendah
• Peserta didik menggambar tokoh atau kejadian dalam cerita, atau menulis beberapa kata dalam cerita.
SD kelas tinggi
• Guru membacakan buku cerita bergambar atau buku cerita berilustrasi atau kutipan novel anak dengan
nyaring.
• Guru membaca buku bergambar atau buku berilustrasi bersama peserta didik (shared reading).
• Guru memandu peserta didik membaca buku cerita bergambar atau berilustrasi (guided reading).
• Peserta didik membaca buku berilustrasi atau novel anak dalam hati.
• Peserta didik mengisi peta cerita (story map/ graphic organizer untuk menanggapi bacaan.
• Peserta didik menuliskan tanggapan atau kesan terhadap bacaan dengan kalimat sederhana.
• Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik.
Peserta didik diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah.
• Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh tugastugas menggambar, menulis,
kriya, seni gerak dan peran untuk menanggapi bacaan, yang disesuaikan dengan jenjang dan
• Penilaian terhadap tanggapan peserta didik terhadap bacaan bersifat non-akademik dan berfokus pada
sikap peserta didik dalam kegiatan. Masukan dan komentar pendidik terhadap karya peserta didik
Guru membacakan buku/ bahan bacaan dan mengajak peserta didik untuk menyimak dan menanggapi
bacaan dengan aktif. Proses membacakan buku ini bersifat interaktif karena guru memeragakan
bagaimana berpikir menanggapi bacaan dan menyuarakannya (think aloud) dan mengajak peserta didik
untuk melakukan hal yang sama. Fokus kegiatan membacakan nyaring interaktif biasanya adalah untuk
a) Guru merancang tujuan membacakan nyaring, misalnya, untuk mengenalkan kosa kata tertentu.
d) Guru dan peserta didik menyuarakan proses berpikir saat menanggapi bacaan (think aloud).
f) Guru memilih bacaan dengan seksama, dengan memperhatikan perkembangan usia dan kemampuan
• Melakukan pra-baca dan membaca ulang buku yang akan dibacakan untuk:
– Mempelajari letak tanda-tanda baca untuk merencanakan intonasi suara dan jeda agar dapat
• Mulai dengan menyapa peserta didik dan menjelaskan mengapa memilih bahan bacaan tersebut.
• Menunjukkan sampul muka buku atau bacaan yang akan dibacakan dan menyebutkan ringkasan cerita.
• Mengajak peserta didik memperhatikan ilustrasi, apabila ada, untuk memahami alur cerita.
• Membacakan bacaan dengan volume suara yang jelas dan tempo yang baik.
(think aloud).
• Mengembangkan proses meta kognitif peserta didik (mereka membicarakan tentang/mencatat proses
berpikir mereka).
• Meminta peserta didik untuk menceritakan kembali cerita dengan kata-katanya sendiri.
• Menanggapi/mengembangkan cerita melalui kegiatan seperti bermain, berkreasi, mengisi catatan, atau
menggambar.
• Meletakkan buku bacaan ditempat yang mudah dijangkau peserta didik agar mereka dapat
• Guru dapat menjadikan kegiatan membacakan nyaring sebagai hadiah atas pencapaian peserta didik.
Guru memandu peserta didik dalam kelompok kecil (4-6 anak) dalam kegiatan membaca untuk
Fasilitas pendukung: buku untuk dibaca, alat tulis, kertas besar (flip chart) dan perekat, papan untuk
menempel kertas.
a. Guru menetapkan tujuan membaca terpandu, misalnya untuk mengenalkan strategi membaca tertentu.
c. Guru mendampingi proses peserta didik membaca untuk membantu mereka memahami bacaan dan
• Memilih buku yang baik, dengan konten yang disesuaikan dengan tema atau sub tema materi ajar.
• Menjelaskan tujuan membaca terpandu dan ringkasan isi bacaan secara singkat.
• Guru dapat mengajukan beberapa pertanyaan untuk menggali pengetahuan latar dan pengalaman
• Guru memeragakan membaca kalimat atau paragraf dan meminta peserta didik untuk menirukan atau
• Guru meminta peserta didik untuk mencatat kosakata baru, kalimat yang menarik, tokoh utama atau
• Guru mengajarkan strategi berpikir dan membaca untuk memahami bacaan, misalnya dengan
menggarisbawahi dan menebak arti kata-kata sulit, membaca ilustrasi, menemukan ide pokok paragraf,
mengetahui jenis paragraf, dll. Apabila perlu, guru dapat menuliskan proses berpikirnya atau peta
• Meminta peserta didik untuk menceritakan kembali isi bacaan dengan kata-katanya sendiri.
Guru mendemonstrasikan cara membaca kepada seluruh peserta didik di kelas atau kepada satu per satu
peserta didik. Guru dapat membaca bersama-sama dengan peserta didik, lalu meminta peserta didik
untuk membaca dengan nyaring dan meningkatkan kefasihan mereka. Dengan memeragakan cara
Fasilitas pendukung: buku besar (big book, apabila dibacakan kepada banyak peserta didik), buku
a. Guru memilih bacaan yang dapat dilihat dan menarik minat seluruh peserta didik.
b. Guru memastikan seluruh peserta didik memperhatikan bacaan dan ikut membaca.
• Mengetahui tahapan membaca peserta didik dan apa yang akan ditingkatkan.
• Memilih buku yang baik, dengan konten yang dapat disesuaikan atau mendukung tema atau sub tema
materi ajar.
a. Mengetahui jalannya cerita dan tanda baca sehingga dapat merencanakan intonasi suara saat membaca
agar menarik.
• Mengatur posisi duduk peserta didik agar semuanya dapat melihat buku yang dibacakan.
• Menjelaskan apa yang harus dilakukan peserta didik (misalnya, apakah mereka dapat langsung
• Menyebutkan judul, pengarang dan ilustrator atau menyebutkan sumber bahan bacaan.
• Dengan menunjuk sampul depan, minta peserta didik untuk menebaki isi bacaan.
• Guru dan peserta didik membaca materi bacaan (paragraf/ kalimat) yang sama.
• Guru berhenti membaca sejenak dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menebak alur
cerita selanjutnya.
• Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait konten buku, kosakata, tatabahasa atau tanda baca
• Guru dapat mengajak peserta didik untuk membuat daftar kosakata baru dan menuliskannya pada flip
chart.
• Guru dapat menjadikan kegiatan membaca bersama sebagai hadiah atas pencapaian peserta didik
Kegiatan membaca mandiri adalah peserta didik memilih bacaan yang disukainya dan membacanya
secara mandiri. Salah satu bentuk kegiatan membaca mandiri adalah membaca dalam hati (Sustained
Silent Reading).
a. Buku yang dipilih oleh peserta didik adalah buku yang digemari dan sesuai dengan jenjang usia dan
kemampuan membaca peserta didik. Untuk membantu peserta didik memilih bacaan yang baik dan tepat,
guru dan tenaga pendidik dapat memberikan daftar buku rekomendasi yang sesuai jenjang.
b. Kegiatan membaca mandiri dapat diikuti oleh kegiatan tindak lanjut seperti membuat peta cerita atau
• Menyiapkan daftar rekomendasi bacaan untuk membantu peserta didik memilih bacaan yang tepat dan
baik.
• Apabila peserta didik memilih buku di luar daftar rekomendasi, mereka mendaftarkan buku yang akan
– Konten bacaan sesuai dengan usia peserta didik atau mendukung tema atau sub tema materi ajar.
– Membaca judul dan mempelajari ilustrasi sampul muka untuk dapat menebak isi bacaan.
• mencari informasi lebih lanjut tentang bacaan atau pengarang maupun ilustrator buku.
• meringkas isi bacaan dengan kata-kata sendiri, baik secara lisan, gambar, atau tertulis.
• Buku pengayaan memiliki elemen cerita, ilustrasi, dan bahasa yang ditulis untuk menarik minat peserta
didik.
• Buku pengayaan tersedia dalam berbagai topik dan tema yang dapat didiskusikan dengan peserta didik
• Buku pengayaan memiliki elemen cerita yang dapat meningkatkan apresiasi peserta didik terhadap
sastra.
Untuk dapat memahami elemen cerita dan konten pada bacaan, peserta didik membutuhkan buku
pengayaan yang baik. Kriteria berikut ini membantu guru dan tenaga kependidikan untuk memilih buku
c. Mendiskusikan cerita
Selain untuk meningkatkan pemahaman terhadap bacaan, kegiatan mendiskusikan cerita membantu
peserta didik untuk dapat menganalisis elemen cerita. Untuk mengembangkan pemahaman dan
Pemanfaatan perpustakaan dan sudut baca sekolah bertujuan untuk meningkatkan kecakapan literasi
a. Pengetahuan tentang fungsi perpustakaan sebagai sumber pengetahuan dan koleksi informasi yang
b. Kemampuan memilih bahan pustaka yang sesuai jenjang dan minat secara mandiri.
c. Pengetahuan tentang bahan pustaka sebagai produk karya penulisan yang diciptakan melalui proses
kreatif.
Alternatif bentuk-bentuk kegiatan untuk meningkatkan kecakapan literasi perpustakaan sesuai jenjang
Jenjang Kegiatan
Tujuan
SD kelas rendah
Tenaga perpustakaan menjelaskan jenis bahan pustaka (buku teks pelajaran, buku panduan pendidik,
SD kelas rendah
Peserta didik mencari bahan pustaka yang mereka sukai sesuai jenjang secara mandiri melalui katalog
Pustakawan/tenaga perpustakaan memperkenalkan nama penulis dan ilustrator ketika membacakan buku
di perpustakaan.
SD kelas tinggi
Pustakawan/tenaga perpustakaan menjelaskan perbedaan jenis bahan pustaka (buku teks pelajaran, buku
panduan pendidik, buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lain)
Pustakawan/tenaga perpustakaan menjelaskan jenis buku bacaan (buku bergambar, buku berilustrasi,
Pustakawan/tenaga perpustakaan menjelaskan ragam genre buku bacaan (cerita rakyat, fabel, fantasi,
biografi, dll).
Tujuan
SD kelas tinggi
Peserta didik memilih bahan pustaka yang sesuai jenjang dan minat secara mandiri.
Peserta didik dapat memilih buku secara mandiri dengan bantuan katalog atau sarana temu
Peserta didik mengenali nama penulis, ilustrator, dan editor buku secara mandiri.
Peserta didik mewawancarai penulis, ilustrator, dan editor buku untuk mengenal lebih jauh tentang
Peserta didik membuat buku bergambar/berilustrasi, atau cerita pendek, majalah anak dll secara
berkegiatan di perpustakaan.
Tujuan penilaian pada tahap pengembangan adalah untuk menumbuhkankecintaan dan sikap peserta
didik kepada bacaan dan kegiatan membaca, serta untuk mengetahui pemahaman mereka terhadap
Aspek capaian peserta didik yang diamati pada lembar pengamatan bergantung kepada tujuan kegiatan
membaca.
Contoh ceklis pengamatan pada kegiatan membacakan buku dengan nyaring Ceklis ini juga bertujuan
untuk memberikan masukan kepada pendidik terhadap kesesuaian buku yang dibacakan, waktu
Menghargai pencapaian literasi peserta didik menuntut guru dan tenaga kependidikan untuk
memperhatikan tumbuhnya minat peserta didik terhadap buku dan kegiatan membaca yang diukur
dengan indikator sikap, kesungguhan dan perilaku peserta didik sebagaimana dirinci pada lembar
pengamatan di atas. Penghargaan berbasis literasi ini menekankan kepada proses belajar dan membaca,
proses belajar peserta didik terbukti dapat menumbuhkan motivasi belajar dan memupuk semangat ingin
tahu mereka. Selanjutnya, motivasi ini dapat membantu kesuksesan akademik peserta didik dalam
jangka panjang dan menjadikan mereka pembelajar sepanjang hayat. Penghargaan berbasis literasi dapat
diberikan secara berkala setiap minggu (pada upacara Hari Senin), setiap bulan, atau setiap semester.
• Pemustaka teladan, bagi peserta didik yang paling rajin mengunjungi perpustakaan dan meminjam
buku perpustakaan.
• Duta perpustakaan, bagi peserta didik yang bersemangat membantu pengelolaan dan pengembangan
kegiatan perpustakaan.
• Pencerita bulan ini, bagi peserta didik yang dapat menceritakan ulang sebuah cerita dengan orisinil dan
kreatif.
• Penulis bulan ini, bagi peserta didik yang mampu menuliskan ulang sebuah cerita dengan orisinil dan
kreatif.
• Pembaca favorit, bagi peserta didik yang aktif membacakan nyaring atau membantu memandu
temannya membaca.
• Pembaca bulan ini, bagi pembaca yang menunjukkan kemajuan paling pesat dalam membaca dengan
Pembaca buku terbanyak beserta reviunya diberikan penghargaan dan apresiasi pada setiap akhir
peringatan hari besar nasional/keagamaan. Beberapa contoh lomba berbasis literasi antara lain:
• Menulis surat kepada Kartini (pada hari Kartini) atau Ki Hajar Dewantara (pada Hari Pendidikan
Nasional).
• Menuliskan biografi tokoh proklamator secara kreatif pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Tim Literasi Sekolah (TLS) adalah Warga Sekolah atau tim khusus yang dibentuk dan yang
• Guru kelas, guru mata pelajaran bahasa, dan guru mata pelajaran non-bahasa.
• Relawan literasi atau elemen masyarakat lain yang membantu menggiatkan kegiatan literasi di sekolah.
• Memastikan ketersediaan koleksi buku pengayaan di perpustakaan dan sudut-sudut baca di sekolah.
• Mengawasi pengelolaan perpustakaan sekolah dan sudut-sudut baca di kelas dan area sekolah yang
lain.
• Memastikan keterlaksanaan kegiatan di perpustakaan sekolah minimal 1 jam dalam seminggu (dapat
dilaksanakan pada jam pelajaran yang relevan atau jam khusus literasi).
• Mengkoordinir penyelenggaraan festival literasi, minggu buku, atau perayaan hari-hari besar lain yang
berbasis literasi.
• Mengkoordinir upaya pengembangan kegiatan literasi melalui penggalangan dana kepada pelaku bisnis
pelatihan membacakan buku dengan nyaring, pelatihan keayahbundaan, dan promosi kegiatan
membaca di rumah.
• Mempublikasikan kegiatan literasi di sekolah di media cetak, audiovisual, dan daring agar memperoleh
• Berjejaring dengan pemangku kepentingan terkait literasi, TLS di sekolah lain, dan pegiat literasi untuk
Indikator Keberhasilan
2 Ada kegiatan menanggapi buku pengayaan pada jam pelajaran literasi atau jam kegiatan di
perpustakaan sekolah/ sudut baca kelas atau jam pelajaran yang relevan.
4 Ada kegiatan menanggapi bacaan melalui kegiatan membacakan nyaring interaktif, membaca
TAHAP PEMBELAJARAN
Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran bertujuan untuk mempertahankan minat peserta didik terhadap
bacaan dan terhadap kegiatan membaca, serta meningkatkan kecakapan literasi peserta didik melalui
1. Kecakapan Literasi di SD
Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran meningkatkan kemampuan berbahasa reseptif (membaca dan
menyimak) dan aktif (berbicara dan menulis) yang dijelaskan secara rinci dalam konteks dua kegiatan
utama di tahap ini, yaitu membaca dan menulis. Kemampuan membaca dan menulis dijenjangkan agar
peningkatan kecakapan di empat area berbahasa tersebut (membaca, menyimak, berbicara, dan menulis)
dapat dilakukan secara terukur dan berkelanjutan. Jenjang kemampuan membaca dan menulis dibagi
dalam tiga tingkatan: awal, pemula, dan madya, yang merentang dari SD kelas rendah ke kelas tinggi.
SD kelas rendah
Kemampuan Fonetik Dapat mengidentifikasi bunyi huruf-huruf. Belum dapat mengeja kombinasi huruf-
huruf.
memahami cerita.
Kemampuan Menginterpretasi dan Merespons Bacaan Dapat menjawab sebagian pertanyaan terkait
Kemampuan
pembaca, dll).
Perilaku Membaca Mendengar dan menyimak dengan baik hampir sepanjang waktu ketika
Jenjang kemampuan membaca dan menulis tersebut hendaknya dipertimbangkan dalam merancang
Beberapa alternatif kegiatan yang sesuai dengan jenjang kemampuan membacadan menulis disajikan
Awal
• Guru membacakan buku cerita bergambar dengan nyaring dan mengajak peserta didik untuk
• Peserta didik menggambar tokoh atau kejadian dalam cerita, atau menulis beberapa kata dalam
cerita.
Pemula
• Guru membacakan buku cerita bergambar atau buku cerita berilustrasi dengan nyaring.
• Guru membaca buku bergambar atau buku berilustrasi bersama peserta didik.
• Guru memandu peserta didik membaca buku cerita bergambar atau berilustrasi.
• Peserta didik menuliskan tanggapan atau kesan terhadap bacaan dengan kalimat sederhana.
Madya
• Guru meminta peserta didik untuk bergantian membaca buku dengan nyaring.
Kegiatan yang dapat dilakukan di tahap pembelajaran antara lain sebagai berikut.
1) Guru mencari metode pengajaran yang efektif dalam mengembangkan kemampuan literasi peserta
didik. Untuk mendukung hal ini, guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas.
2) Guru mengembangkan rencana pembelajaran sendiri dengan memanfaatkan berbagai media dan
bahan ajar.
3) Guru melaksanakan pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana literasi
4) Guru menerapkan berbagai strategi membaca (membacakan buku dengan nyaring, membaca terpandu,
membaca bersama) untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran.
a. Kegiatan membaca disesuaikan dengan kemampuan literasi (jenjang kemampuan membaca dan
Guru membacakan buku dengan nyaring Meningkatkan kesadaran fonetik, kosa kata, dan
membantu meningkatkan pemahaman peserta didik melalui gambar dan narasi dalam bacaan.
Peserta didik mandiri (membaca dalam hati atau membaca nyaring mandiri)
• Novel anak.
b. Kegiatan membaca bervariasi, dengan memberikan porsi yang seimbang untuk kegiatan membacakan
c. Guru memanfaatkan buku-buku pengayaan fiksi dan nonfiksi untuk memperkaya pemahaman peserta
d. Pengajaran berfokus pada proses, dan bukan pada hasil. Peserta didik berbagi dan Mendiskusikan
e. Kegiatan menanggapi bacaan mempertimbangkan kecerdasan majemuk dan keragaman gaya belajar
peserta didik.
Guru dapat mencontohkan cara memahami bacaan dan cara mengeksplorasi gagasan untuk menulis.
Dengan memperagakan cara membaca dan berpikir untuk memahami bacaan, pendidik dapat:
2) Menunjukkan kepada peserta didik bahwa memahami bacaan merupakan suatu proses yang dialami
Pendampingan terhadap peserta didik dalam kegiatan literasi dapat dilakukan dalam bentuk:
1) Meminta peserta didik untuk berbagi draf karya dan mendiskusikan dengan teman satu kelompok.
3) Memberikan masukan terhadap draf karya peserta didik dengan merujuk kepada rubrik jenjang
kemampuan menulis.
terkait bacaan.
Usahakan untuk memberikan komentar dan masukan yang memotivasi dan detil pada karya peserta
didik. Sebutkan elemen dari karya yang telah dicapai, lalu tambahkan beberapa saran untuk
h. Setiap orang/kelompok peserta didik dapat mengerjakan tugas yang berbeda sesuai dengan jenjang
kemampuan literasinya.
i. Guru memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan latar peserta didik untuk memperdalam
Pada dasarnya, strategi membaca buku teks pelajaran sama dengan strategi untuk memahami buku
pengayaan, yaitu membacakan nyaring, membaca terpandu, membaca bersama, dan membaca mandiri.
Tujuan:
Tujuan:
• Buku pengayaan,
Guru memandu kelompok beranggotakan 4-6 peserta didik yang membaca buku/bahan bacaan
yang sama
Tujuan:
bahasa buku/tertulis.
Guru memandu kelompok beranggotakan 4-6 peserta didik yang membaca buku/bahan bacaan
yang sama
Media:
• Buku pengayaan.
• Beberapa alat pendukung seperti alat tulis, kertas dan perekat, serta papanuntuk menempel kertas/flip
chart.
Guru dan peserta didik bersama-sama membaca buku/bahan bacaan yang sama dalam kelompok
yang lebih besar, atau guru bersama satu per satu peserta didik membaca bacaan yang sama.
Tujuan
Media:
Peserta didik diberi waktu untuk membaca satu bahan bacaan berulangkali sambil menerapkan
Tujuan
Peserta didik diberi waktu untuk membaca satu bahan bacaan berulangkali sambil menerapkan
Media:
• Buku pengayaan dan teks pelajaran yang sesuai dengan jenjang peserta didik.
Beberapa elemen yang harus diperhatikan dalam memilih buku pengayaan untuk mendukung
pembelajaran adalah:
• Buku pengayaan harus sesuai dengan jenjang kemampuan membaca peserta didik.
• Buku pengayaan harus sesuai dengan tema atau sub-tema materi ajar pada mata pelajaran terkait.
Menggunakan buku pengayaan untuk kegiatan menulis kreatif (SD kelas tinggi)
Menulis cerita menjadi momok bagi kebanyakan peserta didik. Peserta didik membutuhkan jawaban dan
seperti apa yang baik untuk mengawali tulisan?” Buku cerita anak memiliki aspek literer yang baik
karena sudah melalui tahapan pengeditan bahasa dan konten cerita. Karenanya, buku bacaan anak dapat
menjadi teks model yang memandu anak untuk Mengembangkan struktur kisah (awal-tengah-akhir
Tokoh yang kuat adalah jiwa sebuah cerita. Anak-anak perlu memahami bahwa untuk membuat sebuah
cerita, langkah pertama yang harus mereka lakukan adalah membuat sosok tokoh yang unik, mudah
Contoh Diskusi:
- Sebelum membacakan “Lupi Si Pelupa,” guru mempelajari tokoh-tokoh yang terdapat dalam kisah ini.
- Setelah membacakan buku, guru meminta peserta didik untuk memberikan pendapat mereka terhadap
tokoh Lupi. Apa yang ia inginkan? Mengapa? Apa masalah yang dihadapinya? Minta peserta didik untuk
menjelaskan perubahan perasaan Lupi dengan bantuan ilustrasi cerita. Guru dapat menunjuk gambar
Lupi pada halaman tertentu dan menanyakan pertanyaan seperti, ‘Bagaimana perasaannya? Mengapa?’
- Guru meminta peserta didik untuk membuat dan menggambar tokoh dalam cerita mereka sendiri. Guru
mengajak peserta didik untuk membuat tabel yang sama dengan tabel Lupi di atas, dan meminta mereka
untuk menjelaskan apa keinginan tokoh dan apa motivasinya. Kemudian, guru meminta peserta didik
- Guru meminta peserta didik untuk menulis cerita pendek/menggambar cerita berdasarkan tabel tokoh
tersebut.
1) SD kelas rendah
Guru membuat cerita bersama anak dengan menyiapkan beberapa alternatif tokoh cerita, alternatif awal
cerita, tengah, dan akhir cerita. Minta peserta didik untuk memilih/menyepakati tokoh dan masalah yang
dihadapi tokoh. Lalu, ajak mereka bersama-sama menyusun alur cerita. Dengan menggunakan kertas
warna, daun, dan bunga kering, ajak mereka untuk melengkapi ilustrasi cerita dan menuliskan teks cerita
bersama-sama.
2) SD kelas tinggi
ilustrasinya dalam kertas besar. Pada sampul buku besar, minta peserta didik untuk menuliskan judul asli
Dua orang peserta didik memiliki jurnal bersama. Di dalam buku itu, mereka menulis kesan dan
pertanyaan-pertanyaan terhadap satu buku yang dibaca bersama. Peserta didik dapat saling menjawab
pertanyaan temannya tentang bacaan. Jurnal bersama ini juga dapat digunakan untuk projek menulis
cerita bersama.
Peserta didik menyelesaikan tugas menulis (fiksi/liputan/hasil wawancara/ wawancara imajiner, dll)
secara individual lalu mempresentasikannya dalam kelompok. Anggota kelompok saling memberikan
1) Guru menyiapkan gambar kartun dari internet atau majalah yang menggambarkan beberapa
anak/binatang sedang bercakap-cakap. Peserta didik kemudian diminta untuk menambahkan dialog antar
tokoh (dialog dapat ditulis dalam balon kata atau diceritakan kepada guru).
2) Guru menyusun kompilasi gambar-gambar menjadi sebuah rangkaian cerita. Peserta didik kemudian
diminta untuk menambahkan teks narasi atau dialog yang sesuai dengan setiap adegan pada gambar.
Peserta didik mendiskusikan pertanyaan dari guru tentang bacaan dalam kelompok yang terdiri dari dua
orang.
salah satu tujuan pemanfaatan bahan pustaka adalah untuk meningkatkan kecakapan literasi informasi
a) Kemampuan menggunakan fitur dalam isi bacaan (teks dan visual) untuk memilah informasi sesuai
b) Kemampuan menganalisis dan mengelompokkan informasi dalam bacaan sesuai dengan kecakapan
d) Pemahaman bahwa karya memiliki hak cipta yang dilindungi secara hukum.
e) Kemampuan mengelola dan menggunakan informasi dari koleksi perpustakaan untuk memecahkan
SD kelas rendah
Pustakawan/tenaga perpustakaan mengajak peserta didik untuk mengamati ilustrasi dan teks dalam
Pustakawan/tenaga perpustakaan mengajak peserta didik berdiskusi tentang apakah cerita terjadi di masa
Pustakawan/tenaga perpustakaan mengajak peserta didik berdiskusi tentang hal/ sifat baik dan yang
Dengan peta cerita sederhana, peserta didik memetakan tokoh, awalan, klimaks, dan akhir
cerita.
Secara sederhana, pustakawan/ tenaga perpustakaan menjelaskan bahwa menjiplak isi bahan
perpustakaan tanpa menyebutkan nama penulis adalah perbuatan curang dan tidak patut.
SD kelas tinggi
Peserta didik menggunakan fitur buku (teks, ilustrasi, grafik, tabel, sub-judul, dan fitur lain) untuk
Peserta didik dapat memilah dan menganalisis konten informasi dalam bahan perpustakaan.
Peserta didik menganalisis dan memisahkan fakta dan fiksi dalam sebuah cerita.
Peserta didik membuat peta konsep untuk menganalisis perbedaan/persamaan karakter tokoh cerita, serta
Peserta didik melakukan penelitian sederhana dan melakukan analisis terhadap beragam sumber
informasi untuk menjawab sebuah permasalahan tertentu, baik secara individual atau kolaboratif.
Peserta didik dapat menggunakan dan mengelola informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat.
Peserta didik menuliskan atau menyebutkan sumber informasi/ referensi dalam karya yang mereka buat.
Tujuan penilaian pada tahap pembelajaran adalah meningkatkan jenjangkemampuan literasi peserta
didik sesuai dengan tahapan yang tercantum dalam tabel penjenjangan kemampuan membaca dan tabel
penjenjangan kemampuan menulis. Penilaian dapat dilakukan oleh tenaga pendidik maupun oleh peserta
didik sendiri, atau antar peserta didik. Penilaian oleh dan antar peserta didik berfungsi sebagai penunjang
penilaian utama oleh tenaga pendidik. Sumber penilaian pada tahap pembelajaran ini dapat berupa:
• Lembar pengamatan guru pada setiap kegiatan membaca. Aspek capaian peserta didik yang diamati
pada lembar pengamatan bergantung kepada tujuan kegiatan membaca. Lembar pengamatan ini diisi
oleh guru dan peserta didik dalam bentuk penilaian diri dan teman.
Penilaian portfolio peserta didik perlu didasarkan pada jenjang kemampuan menulis mereka. Rubrik
penilaian sesuai jenjang kemampuan menulis peserta didik dijelaskan dalam bagan berikut. Fokus
penilaian ini dapat menjadi rujukan tenaga pendidik ketika memberi masukan untuk meningkatkan
Rubrik penilaian sesuai jenjang kemampuan menulis di tahap pembelajaran Penulis Awal
Tulisan berbentuk paragraf-paragraf yang memenuhi konvensi bahasa tulis dengan kosa kata tulis, tanda
2. Tulisan masih berproses untuk memenuhi konvensi bahasa tulis (diksi, tata bahasa, struktur kalimat,
organisasi tulisan)
PENUTUP
Program kegiatan di Sekolah Dasar Negeri Babakan 01 ini disusun guna memandu pelaksanaan
Penumbuhan budaya literasi dalam diri peserta didik memang bukan hanya tugas sekolah semata, namun
juga merupakan tanggung jawab keluarga, pelaku bisnis dan media, pemangku kepentingan, dan elemen
masyarakat lain. Dalam fungsinya sebagai lembaga pendidikan yang berperan penting dalam kehidupan
peserta didik, sekolah dapat menghimpun sinergi antara pendidikan formal, pendidikan keluarga di
rumah, dan pendidikan literasi di masyarakat agar upaya penumbuhan budaya literasi dapat terjalin
Program kegiatan panduan ini dilengkapi dengan lampiran-lampiran sosialisasi dalam bentuk infografis
Tentunya Program Kegiatan ini tidak dimaksudkan untuk diterapkan dengan kaku, melainkan
menginspirasi upaya kreatif dan inovatif untuk menumbuhkan budaya literasi sekolah dengan lebih
sistematis dan efektif, dan tentunya masih banyak kekurangan yang membutuhkan penyempurnaan.